Docstoc

kapitalisme Global

Document Sample
kapitalisme Global Powered By Docstoc
					“GLOBALISASI” PROYEK BESAR KAPITALIS
The bourgeoisie, by the rapid improvement of all instruments of production, by the immensely facilitated means of communication, draws all nations, even the most barbarian, into civilization…. It compels all nations, on pain of extinction, to adopt the bourgeois mode of production; it compels them to introduce what it calls civilization into their midst, i.e., to become a bourgeois themselves. In a word, it creates a world after its own image1. Istilah 'globalisasi' memiliki beragam 'definisi', meskipun secara umum sering dikaitkan dengan 'ketersambungan antar-individu dan masyarakat secara global, baik di bidang ekonomi, politik dan sosial-budaya2. Leslie Sklair misalnya dalam karya tulisnya "Competing Conceptions of Globalization", dalam Journal of World-System Research mengidentifikasi setidak-tidaknya terdapat empat macam pendekatan terhadap globalisasi, yaitu pertama, pendekatan sistem-dunia, kedua, pendekatan budaya global, ketiga, pendekatan masyarakat global, dan keempat, pendekatan kapitalisme global3. Dari berbagai perspektif dalam melihat fenomena Globalisasi, selain pendekatan budaya global sebagai akibat revolusi dalam komunikasi dan informasi, mungkin pendekatan faktor ekonomilah (baca: kapitalisme global) yang menjadi kajian utamanya, hal ini setidaknya dikarenakan proyek besar tersebut tidak luput dari

Karl Marx dan Friedrich Engels. Manifesto of the Communist Party, diterjemahkan oleh Samuel Moore. Chicago: William Benton, 1952 yang jika diterjemahkan kurang lebih “Borjuasi, dengan perbaikan cepat dari segala alat produksi, dengan makin sangat dipermudahnya kesempatan menggunakan alat-alat perhubungan, menarik semua negara, sampai yang paling biadab pun, ke dalam peradaban …... Ia memaksa semuanegara, dengan ancaman akan musnah, cara produksi borjuis; ia memaksa mereka mengemukakan apa yang olehnya disebut peradaban itu ke tengah-tengah lingkungan mereka, yaitu, supaya mereka sendiri menjadi borjuis. Pendek kata, ia menciptakan suatu dunia menurut bayangannya sendiri. Disadur melalui internet http://www.marxist.com Ellen Meiksins Wood . "Unhappy Families: Global Capitalism in a World of NationStates." Monthly Review, vol. 51, no. 3, Juli-Agustus 1999. Diambil dari internet, http://www.monthlyreview.org/799wood.htm Leslie Sklair, "Competing Conceptions of Globalization", Journal of World-System Research, V, 2, Musim Semi 1999, diambil dari internet http://csf.colorado.edu/jwsr
3 2

1

kepentingan ekonomi global sebagai metamorfosis yang relatif lebih sempurna kapitalisme dalam cara kerjanya (kapitalisme global). Di dalam beberapa literatur mengenai globalisasi, pendekatan 'kapitalisme global4, 'ketersambungan global' ini berbeda dengan 'ketersambungan inter-nasional,' karena di dalam yang pertama 'ketersambungan atau sistem relasi sosial' tidak lagi didasarkan atas sistem negara-bangsa, sementara di dalam yang kedua, ketersambungan sosial masih didasarkan pada sistem negara-bangsa5. Pemahaman yang pertama juga ditandai dengan ditolaknya dualisme global-nasional, karena sebagian besar 'negara-bangsa' dianggap sudah menjadi 'transnasional6. Meskipun demikian tidak semuanya berpandangan bahwa realitas kontemporer sudah sedemikian 'universal'. Wood misalnya menyatakan bahwa kapitalisme global masih memiliki 'konstituen nasionalnya7. Yang jadi pertanyaan kita saat ini bagaimanakah sesungguhnya cara kerja dari kepitalisme yang relatif sempurna ini, maka setidaknya terdapat beberapa
Sklair menyebutkan salah satu ciri dari 'kelas kapitalis transnasional' adalah kepentingan ekonomi yang lebih berorientasi global daripada lokal atau domestik. Menurut penulis, kelas kapitalis yang berdomisili di wilayah yang menjadi 'identitas kebangsaannya secara formal', tetapi kepentingan dan praktek-praktek ekonominya sudah bersifat global, maka ia pun sudah termasuk ke dalam 'kelas kapitalis transnasional' dan tidak lagi 'kelas kapitalis nasional atau lokal'. Lihat Leslie Sklair, "Transnational Practice and the Analysis of the Global System", disampaikan pada seminar untuk Transnational Communities Program Seminar Series, 22 Mei 1998, diambil dari internet http://csf.colorado.edu/jwsr
5 4

Sklair, Leslie. "Competing Conceptions of Globalization." Op. cit.

Robinson, William I. "Capitalist Globalization and the Transnationalization of the State." Makalah untuk dipresentasikan pada Transatlantic Workshop, "Historical Materialism and Globalization", University of Warwick, 15-17 April, 1998. Diambil dari internet, http://webdev.maxwell.syr.edu/merupert/Research/HM%20workshop/Robinson.htm. Di sini kebijakan 'transnasional', merujuk kepada karakteristik 'transnasional' menurut Sklair, adalah kebijakan yang berorientasi global dan bukan lokal atau domestik. Kebijakan-kebijakan seperti mempromosikan pergerakan bebas dari modal, menciptakan dan memelihara pasar global, dsb., adalah sebuah kebijakan yang berorientasi global. Bahkan mengurung tenaga kerja di dalam batasbatas negara, agar bisa didisiplinkan oleh negara, menurut Robinson adalah kebijakan 'transnasional,' karena kebijakan itu berperan sebagai mekanisme pembagian persediaan tenaga kerja untuk berbagai wilayah negara di dunia, yang berarti juga melayani kepentingan dari kelas kapitalis global. Ibid.
7

6

fenomena kontemporer yang bisa kita lihat, pertama dengan maraknya badan usaha otonom yang bebas melakukan usaha dan lebih berpedoman kepada pasar dan berpihak kepada akumulasi modal, perusahaan trans-nasional saat ini taksegan lagi menjadikan kekuatan ekonominya untuk melakukan interfensi terhadap suatu negara (baca; kebijakan), maka dilema yang akan dihadapi oleh negara adalah investasi yang dicabut atau kepentingan nasional yang terabaikan. Namun yang biasa dikorbankan adalah kepentingan nasional yang hanya akan merugikan masyarakat dan menguntungkan penanam modal, hal inilah yang disebut Paul Krugman sebagai ketakutan pada ekonomi8. Kedua, dengan maraknya lembaga-lembaga keuangan trans-nasional, dan dalam kerjanya lebih banyak melakukan tindakan yang represif terhadap negara lain, utamanya terhadap negara-negara berkembang, sepertihalnya IMF, WTO, Paris Club dll. Kegiatan yang sangat represif ini terlihat semenjak terjadinya krisis ekonomi di Indonesia, para kapitalis global, yang salah satunya diwakili oleh Dana Moneter Internasional (IMF) sebagai institusi transnasional, berkali-kali melakukan tekanan terhadap negara Indonesia agar melakukan perubahan-perubahan ekonomi dan politik. Perubahan yang didesakkan oleh IMF ini seringkali berbenturan dengan kepentingan dan kebutuhan warganegara Indonesia, sehingga negara sering berada dalam situasi yang kontradiktif. Lebih parahnya lagi, negara menghadapi krisis yang berkepanjangan sebagai akibat ketergantungan terhadap lembaga trans-nasional yang sesungguhnya sangat eksploitatif. Dan ketiga, adalah dengan adanya lembaga keuangan transnasional yang melakukan tekanan terhadap pemerintah untuk menyerahkan kepada badan usaha yang berorientasi pasar dalam mengendalikan ekonomi negara, hal mengindikasikan peran perusahaan dalam meminimalisir peranan negara dalam mengantur ekonominya, hal sejalan dengan ide

Oscar Lafontaine. “Rancangan Globalisasi (Jawaban Kaum Sosial Demokrat)” dalam Ade Ma’ruf dan Anas S. Alimi (Editor). Shaping Globalisation. Yogyakarta : Jendela. 2000. hlm. 17

8

Laissez-faire, neoliberalim9, Teacherianisme di Inggris dan Reagonimics di Amerika serikat, yang menyerahkan sepenuhnya kekuasaan ekonomi kepada pasar dan melihat persaingan modal akan terbentuk dalam persaingan strategi yang jitu untuk melakukan akumulasi modal dan mengenyampingkan pemerataan dan kemakmuran bersama. Disinilah letak kontra-humanis pola pengembangan modal proyek kapitalisme yang hanya melihat manusia sebagai komoditi dan dijauhkan dari hasil karyanya, atau dalam istilah Marx alienasi serta akumulasi10. Dari berbagai permasalahan yang ditimbulkan oleh mode of production kapitalisme tersebut hal apakah yang seharusnya dilakukan, pertanyaan tersebut menjadi momok para ekonom dan politikus. Namun yang jelas hal yang pertama dilakukan ialah mengedepankan usaha yang lebih berorientasi kepada manusia, yaitu salah satunya dengan membuka lapangan kerja dan tidak hanya menjadi akumulasi sebagai nabinya, meminjam ungkapan Marx dalam tesisnya tentang kapitalisme. Kedua, mengenyampingkan doktrin kuat neoliberalisme tentang mekanisme pasar, menjadikan globalisasi dapat dievaluasi dan dikembalikan kepada bentuk yang sesungguhnya sebagai proses revolusi peradaban yang manusiawi11. Ketiga, ialah menjadikan negara sebagai kekuatan yang perpihak kepada rakyat, maka yang harus dilakukan ialah menjadikan kebijakan yang berorientasi kepada rakyat sebagai ide pokok. Keempat, Merestrukturisasi setiap kebijakan, baik ekonomi, politik, hukum pendidikan, sosial, budaya sebagai indikasi bergulirnya globalisasi yang telah merubah dunia.

Adam Smith dan David Richardo adalah tokoh doktrin ini yang menyatakan kesejahteraan masyarakat bisa diwujudkan dengan memberi kebebasan mereka untuk mencapai kepentingannya sendiri, Doyle Paul Johnson. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: Gramedia. 1994. p. 124
10

9

Chirs Harman “Globalisasi dan Perlawanan” dalam http://www.SuaraSosialis.com

Hal ini didasarkan pada kebutuhan akan sosialisasi, komunikasi serta kerjasama antar negara, ras, bangsa, budaya yang berbeda merupakan kebutuhan yang alamiah dan hal tersebut bisa jadi merupakan pembuanaan terhadap ciri khusus dari perbedaan itu, namun yang patut digaris bawahi adalah agenda kemanusiaan tetap dipegang teguh dalam prosesnya.

11

BIBLIOGRAPHY
Harman, Chirs. “Globalisasi dan Perlawanan” dalam http://www.SuaraSosialis.com Johnson, Doyle Paul. Teori Sosiologi Klasik dan Modern (Terj. M Z. Lawang). Jakarta: Gramedia. 1994 Lafontaine, Oscar. “Rancangan Globalisasi (Jawaban Kaum Sosial Demokrat)” dalam Ade Ma’ruf dan Anas S. Alimi (Editor). Shaping Globalisation. Yogyakarta : Jendela. 2000. hlm. 17 Marx, Karl dan Friedrich Engels. Manifesto of the Communist Party,

diterjemahkan oleh Samuel Moore. Chicago: William Benton, 1952 dalam http://www.marxist.org Robinson, William I. "Capitalist Globalization and the Transnationalization of the State." dalam http://webdev.maxwell.syr.edu/merupert/Research/HM%20workshop/Robin son.htm. Sklair, Leslie, "Competing Conceptions of Globalization", dalam http://csf.colorado.edu/jwsr _____________, "Transnational Practice and the Analysis of the Global System", dalam http://csf.colorado.edu/jwsr Wood, Ellen Meiksins. "Unhappy Families: Global Capitalism in a World of Nation- States." dalam http://www.monthlyreview.org/799wood.htm


				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:2196
posted:4/29/2009
language:Norwegian
pages:5