materi-agama-islam

					                             PENDAHULUAN



      Pada hakekat Pendidikan Agama Islam merupakan bagian dari pada Pendidikan
      Nasional dalam menbentuk peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada
      Allah SWT (Hablumminallah) dan berakhlak karimah (hablumminannas) serta
      memiliki sumber daya manusia yang handal (ulil albab).


      Mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak hanya mengantarkan peserta
      didik (mahasiswa) untuk menguasai berbagai hal dalam ajaran Islam, tetapi yang
      terpenting adalah bagaimana peserta didik (Mahasiswa) dapat mengamalkan
      ajaran Islam itu dalam kehidupan sehari – hari bahkan dapat digandengkan dengan
      Jurusan (Prodi)yang ditempuhnya.


I. Karakteristik Masa Kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI)


      A. Prinsip Dasar pendidikan adalah mengoptimalkan keutuhan dan keterpaduan
         antara ranah kognitif, psikomotor dan afektif. Prinsip dasar pendidikan itu
         akan lebih bermakna apabila diletakan dalam tiga kerangka dasar ajaran Islam,
         yaitu akidah, syariah dan akhlak.


      B. Akidah merupakan penjabaran dari prinsip iman, syariah merupakan
         penjabaran dari konsep Islam dan akhlak merupakan penjabaran dari konsep
         ihsan. Dari ketiga prinsip dasar itulah berkembang berbagai kajian keislam,
         kajian sains danteknologi yang sangat dibutuhkan oleh umat Islam khususnya,
         dan umat lain pada umumnya.


      C. Tujuan akhir dari Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah terbentuknya peserta
         didik (mahasiswa) yang memiliki akhlak mahmudah (mulia) yang relevan
         dengan misi utama diutusnya Nabi Muhammad Saw. Dengan demikian akhlak
         yang baik adalah jiwa atau roh dari Islam.




                                         1
                             Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
II. GBPP Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI)


      Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) Merupakan mata pelajaran
      interdisipliner yang penjabarannya didukung oleh banyak disiplin ilmu, seperti :
      filsafat, ilmu hukum, sejarah, medis, budaya, politik dan banyak lagi ilmu lain.
      Namun dalam penjabaran dan pengembangannya tetap berpijak kepada Al-Quran,
      hadits dan Ijtuhad para ulama.


      Sehubungan dengan itu, agar prestasi proses pembelajaran serta tingkat
      keberhasilan mahasiswa dapat diwujudkan dengan baik sangat diperlukan
      pedoman atau rambu-rambu yang disebut GARIS-GARIS BESAR PROGRAM
      PEMBELAJARAN(GBPP) yang materinya berpedoman kepada Keputusan Dirjen
      Dikti Depdiknas RI tahun 2006 Nomor 43/Dikti/Kep/2006.




                                         2
                             Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
                  KARAKTERISTIK PENDIDIKAN ISLAM (PAI)



      A. Dasar atau Landasan PAI
      B. Tiga Kerangka dasar PAI
      C. Sasaran yang diinginkan dari PAI
      D. Struktur Kajian PAI




A. Dasar atau Landasan PAI


   Dalam mempelajari Agama Islam yang baik dan benar harus berpedoman kepada 3
   (tiga) sumber hukum Al-Quran, Hadits, dan Ijtihad. Al – Quran Nur Kariim
   merupakan wahyu Allah yang mutlak, benar dan mutlak pasti tentang isi dan ajaran
   yang terkandung didalamnya.


   Sikap seorang muslim dalam mempelajari dan memahami ajaran Islam agar tidak
   ragu maka Al – Quran dijadikan sebagai pedoman dan pusat rujukan yang pertama
   dan utama. Setelah Al-Quran sebagai rujukan atau pedoman pertama maka seorang
   muslim sangat dianjurkan pula untuk memahami hadits sebagai sumber hukum islam
   yang ketiga.


   Dalam mempergunakan ketiga sumber hukum tersebut perlu dipatuhi dan dipedomani
   secara baik dan berurutan.
   Firman Allah dalam surat Al-Isra‟(17):9, artinya:
   “ Sesungguhnya Al – Quran ini memberikan petunjukan yang lebih lurus dan
   memberikan kabar gembira kepada orang-orang mu‟min yang mengerjakan amal
   sholeh bahwa mereka ada pahala yang besar “




   Hadits Rasullah SAW yang artinya :



                                            3
                                Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
    “ Kutinggalkan untuk umat ku dua pusaka tidaklah kamu akan tersesat selama-
   lamanya, selama kamu masih berpegang kepada kedua pusaka itu, yaitu kitabullah
   dan sunah Rasul - Nya”.


B. Tiga Kerangka Dasar PAI


   Begitu banyaknya isi ajaran islam yang mengatur hubungan manusia dengan Allah,
   hubungan manusia dengan dirinya dan hubungan manusia dengan manusia lain.
   Bahkan mengatur hubungan manusia dengan alam serta dengan              lingkungannya,
   namun dari semuanya itu dapat dikelompokan kepada tiga kelompok (Tiga Kerangka
   Dasar) yaitu tentang ajaran dari Akidah dan Syariat serta tentang akhlak.


   Seorang Islam yang baik, tiga hal ini harus melekatkan pada dirinya dan dilahirkan
   dalam bentuk perbuatan atau katifitas sehari-hari. Kualitas islamnya seseorang sangat
   ditentukan oleh keyakinan (Akidah)yang kuat, kokh dalam mengakui dan
   mempercayai Allah SWT adalah penguasa mutlak,penentu mutlak, pemberi mutlak
   kepada alam ini termasuk umat manusia. Allah adalah tuhan yang wajib disembah dan
   wajib dipatuhi perintah dan larangan-Nya. Tidak boleh ada dalam diri seorang
   muslim, tuhan yang wajib disembah kecuali Allah SWT.


   Kualitas Islamnya seseorang juga ditentukan oleh kerangka dasar yang kedua yaitu
   mematuhi secara sadar, sabar dan ikhlas hukum dan aturan yang ada dalam islam.
   Yang mana bersumber kepada Al-Quran, Hadits, dan Ijtihad. Kualitas keislaman
   seseorang tidak kalah penting nya dari keimanan dan kemampuan dalam menumbuh
   kembangkan sifat-sifat yang baik, prilaku yang baik, baik sebagai hamba Allah,
   maupun sebagai makhluk individu bahkan sebagai makhluk bermasyarakat
   (bersosialisasi). Nilai Keislaman seseorang menurut tiga kerangka dasar diatas, Allah
   jelaskan dalam firmannya surat Ali Imran (3) : 102 – 104 :




                                          4
                              Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
C. Sasaran yang ingin dicapai dari PAI


   Dalam mempelajari agama Islam, sasaran yang ingin dicapai adalah meningkatnya
   pengetahuan dalam bidang kognitif baik ilmu tentang Islam dan juga dalam bidang
   ilmu umum lainnya. Masyarakat Islam harus mampu memahami dan menguasai
   tentang ilmu untuk kebutuhan hidup di dunia dan akhirat.


   Ajaran Islam mencakup berbagai dimensi kehidupan manusia, ada dimensi
   keduniawian, dan dimensi tauhid dan akhirat yang tidak dapat dipisahkan serta tidak
   mungkin dipertentangkan asal prinsip-prinsip pokok yang orisinal (Al-Quran dan
   Hadist) tidak dilanggar dan diabaikan. Firman Allah SWT dalam surat Al-Anbiya
   (55) : 30-33.


   Sasaran berikutnya dalam mempelajari agama Islam adalah terjadinya perubahan
   perilaku dari yang tidak baik menjadi baik dari, dari yang tidak bermanfaat kepada
   yang bermanfaat, dari perilaku yang salah kepada perilaku yang benar sehingga
   menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari (akhlak karimah). Firman Allah
   dalam surat Ali Imran (3) : 110.


D. Struktur Kajian PAI


   Mempelajari agama Islam yang dapat mengantarkan pada pemahaman yang baik
   ditentukan oleh konteks dan substansi yang jelas. Ilmiah dan mengacu pada referensi
   terpercaya serta memahami historis agama Islam dengan baik. Selanjutnya jadikan
   Islam sebagai prescriptive (membimbing) kita dalam pola pikir (jalan pemikiran).
   Perilaku (sifat yang ada) dan pola tindak (sikap) yang diambil sehingga dapat
   dirasakan bahwa agama Islam adalah agama rahmat bagi manusia.




                                          5
                              Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
                             PERTEMUAN KEDUA


          AGAMA DAN PENGERTIANNYA DALAM BERBAGAI BENTUK




       A. Pengertian Agama
       B. Unsur – unsur Penting yang Terdapat Dalam Agama
       C. Tiga Persoalan Pokok Dalam Sebuah Agama
       D. AD-DIENUL Islam


A. PENGERTIAN AGAMA


    1. Ad-Dien (bhs Arab)
    a. Menurut bahasa : Ad-Dien dari kata kerja Daa, yadinu, artinya :
            Pembahasan, perhitungan (jaza) (QS. Alfatihah : 3 QS. Adz Dzariyaat : 6,
              QS. Infithor : 17, QS. Al-Waqi‟ah : 56, Qs. Shaad : 78)
            Ibadah atau penyembahan (QS. Al-A‟roof : 29, QS> Az-Zumar : 2-3)
            Hukum dan Undang-undang (QS. Yusuf : 76)
            Taat atau patuh (QS. An-Nahl : 52)
            Nasehat (Hadits Nabi “ Agama itu ialah nasehat”)
            Bermasyarakat (empati) (Hadits Nabi “Ad-Dien itu ialah bermasyarakat”)
            Millah atau agama (QS. Al-Kafiruun : 6, QS. Al-An‟am : 156)


    b. Menurut Definisi (Ta‟rif) Ad-Dien adalah :


       Ad-Dien :
       1) Suatu undang-undang atau peraturan yang lengkap yang diturunkan oleh Allah
           kepada para Nabi (Rasul) untuk mengatur kehidupan manusia, lahir bathin,
           dunia akhirat.




                                           6
                               Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
            2) Undang-undang atau peraturan Allah yang diturunkan oleh para Rasul dengan
               perantaraan wahyu yang sudah dikumpulkan dalam bentuk kitab suci yang
               isinya untuk mengatur kehidupan dan penghidupan manusia lahir bathin, dunia
               akhirat. QS. Asy-Syuaro : 13
Artinya :
“Allah telah mensyariatkan untuk kamu ad-dien sebagai yang telah ditetapkan-Nya kepada
Nuh dan juga yang telah kami (Allah) wahyukan kepada Muhammad, dan juga yang telah
Kami (Allah) wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa. Hendaklah kamu menegakkan ad-
dien itu dan janganlah kamu berselisih pendapat tentangnya (Ad-Dien).”


“Kemudian Kami jadikan kamu tetap berada diatas hukum Allah dan Rasul dalam setiap
urusan, maka ikutilah hukum Allah dan Rasul itu, dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu
orang-orang yang tidak mengenal Allah dan Rasul”. (QS. ...........................)


Definisi Ad-Dien Islam yang Esensial


1)    Informasi atau undang-undang yang datang dari Allah tentang alam beserta
      kedudukannya yang ditunjukkan kepada manusia melalui para Nabi atau Rasul yang
      dibukukan menjadi kitab suci (Al-Quran) sebagai acuan atau pedoman dalam sikap
      aktifitas hidup manusia.
                Informasi / perintah Allah (agama)
                Disampaikan kepada manusia oleh Rasul
                Untuk menuntun, pedoman bagi setiap aktifitas manusia (Al-Quran)
                Untuk keselamatan, kebahagiaan, lahir bathin, dunia akhirat manusia
                  (Hablum Munallah wahablum minannas)


      “Maka barang siapa yang hendak dikehendaki Allah diberikan petunjuk kepadanya
      niscaya Allah akan membukakan pintu hatinya untuk memeluk Agama Islam. Dan
      siapa yang disesatkan Allah niscaya Allah jadikan hatinya sempit lagi keluh kesah,
      sesak, seolah-olah dia mendaki ke langit.




                                                7
                                    Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
     Demikianlah Allah menjadikan hati-hati yang kotor bagi orang-orang yang tidak
     beriman” (QS. Al-Am : 125).
2)   Dinul Islam adalah agama yang berhak dan benar serta diakui oleh Allah SWT (QS.
     At-Taubah : 29 dan 33, QS. Ali Imran : 85, QS. Al-Maidah : 23).
3)   Dinul Islam namanya diberikan langsung dari Allah bukan nama yang diberikan oleh
     Nabi Muhammad (QS. Ali Imran : 19)


Definisi tentang Ad-Dien mengandung makna sebagai berikut :
     a. Membentuk manusia tunduk dan patuh kepada Allah (perintah dan larangan Allah
        SWT)
        “Berpegang teguhlah kamu kepada ajaran Allah SWT”. (QS. Ali Imran : 102)
     b. Kemampuan mengenal Allah akan melahirkan kemampuan mengerjakan ajaran
        agama utuh (bulat) Kaffah, Integral.
     c. Menyadarkan manusia bahwa kehidupan ini ada rambu-rambu petunjuk-Nya
        dalam QS. (tentang Tuhan dan alam).
     d. Menterjemahkan bahwa kewajiban dan kepatuhan yang dilaksanakan akan ada
        ganjaran/balasannya dari allah SWT.
     e. Suatu proses alih nilai (transfer of value) yang dikembangkan dalam rangka
        perubahan perilaku dlam mewujudkan manusia insane kamil bercirikan : punya
        daya fikir (Trought Processes) kuat analisis atau penalaran akal, daya dzikir
        (Feeling Life) mengoptimalkan hati nurani (Sanubariyum), daya cipta imajinasi
        dan daya karir (Behavior) meningkatkan sumber daya manusia, mutu, kwalitas
        sebagai makhluk yang actual dan berakal.


 2. Agama Dalam Bahasa Sangskrit
     a. Pengertian menurut bahasa
           A = Tidak     Gama = Pergi
           A = Tidak     Gama = Kacau/Chaos
           Agama berarti aturan/peraturan, tuntunan dan tidak berantakan.


     b. Definisi Agama
             Agama adalah peraturan-peraturan ang merupakan hukum yang harus
               dipatuhi oleh manusia


                                           8
                               Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
           Agama adalah ikatan-ikatan yang harus dipegang teguh dan dipatuhi oleh
             manusia yang mana ikatan itu berasal dari kekuatan ghaib atau kekuatan
             yang lebih tinggi dari manusia. Lebih menonjolkan soal tradisi.


3. Agama Dalam Bahasa Latin (Religi)
   a. Pengertian menurut bahasa : mengumpulkan, membaca, mengingat
   b. Menurut definisi :
           Religi adalah kumpulan cara-cara mengabdi kepada Tuhan yang
             diterangkan dalam kitab suci (rutinitas ritual atau acara sakral).
           Religi adalah mengikat manusia dengan Tuhan yang harus diutamakan
             dalam kehidupan sehari-hari melalui sosialisasi kemanusiaan.
           Religi adalah kekuatan yang lebih tinggi dan tidak bisa ditanggap dengan
             panca indra karena bersifat ghaib atau subjektif (dokma).




                                          9
                              Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
Kesimpulan :
1. Ad-Dien Islam :
    Peraturan-peraturan (hukum) yang harus dipatuhi oleh manusia, guna untuk
      keselamatan hidup manusia lahir bathin, dunia kahirat, yang disebut wajib, sunnat,
      halal dan haram.
    Mewajibkan seseorang untuk tunduk dan patuh kepada Tuhan dengan mengamalkan
      segala perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan sebagai wujud kepatuhan
      dan eksistensi atau statusnya sebagai manusia.
    Kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan dan akan dipertanggung jawabkan
      baik langsung atau tidak langsung (akhirat).
    Berisikan perintah dan larangan yang selalu ada balasannya dari Allah SWT
      (Basiron) untuk orang Islam, (Nadziron) untuk orang kafir.
    Berisikan perintah untuk mempercayai yang ghaib dengan segala bentuk peristiwa
      dan keadaan.
    Bukan sebatas agama diikutinya.


2. Agama
    Berisikan ajaran untuk mempercayai adanya Tuhan dan melaksanakan perintah dan
      larangan-Nya.
    Perintah dan larangan akan tetap ada balasannya.
    Berisikan perintah untuk berbuat baik kepada Tuhan, sesama manusia dan alam
      sekitarnya.
    Menonjolkan soal tradisi.


3. Religi
    Berisikan ajaran-ajaran tentang hubungan manusia dengan Tuhan.
    Berisikan ajaran bahwa tuhan adalah kekuatan yang lebih dan tidak dapat ditangkap
      dengan panca indra.
    Ajaran yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama manusia dan
      dengan alam lingkungan.
    Meyakini dan mematuhi hal-hal yang abstrak/ghaib (misterius fascinas).
    Tidak terdapat pada Injil.
    Lebih menonjolkan ikatan manusia dengan keompoknya dan dengan dirinya.


                                             10
                                  Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
B. UNSUR-UNSUR PENTING YANG TERDAPAT DALAM AGAMA
    1. Kekuatan Ghaib
    a. Manusia merasa dirinya lemah, maka kekuatan ghaib dijadikan tempat meminta
        pertolongan.
    b. Hubungan baik antara manusia dengan kekuatan ghaib harus dibuktikan dengan
        mematuhi perintah dan larangan yang datang dari kekuatan ghaib.


    Dalam memahami dan meyakini kekuatan ghaib masing-masing pemeluk agama
    mempunyai diferensiasi (perbedaan kemampuan memahami) tentang kekuatan ghaib.
    Diferensiasi itu mengalir dari perasaan (emosional) dan pikiran (rasional).


    2. Keyakinan manusia bahwa kekuatan ghaib akan atau sangat menentukan
       kebahagiaan dan kegagalan hidup manusia itu sendiri, baik dunia atau akhirat
       akan melahirkan ketarisasi (pembersihan jiwa) karena ingat diujung kehidupan
       ditunggu oleh kematian (momentomori) they will be done (pengadilan Allah akan
       berlaku).


    3. Respon yang bersifat emosional dari manusia terhadap kekuatan ghaib/Tuhan.
       a. Dalam bentuk perasaan Takut :
          Banyak terdapat dalam agama Primitive (D, A, P)
       b. Dalam bentuk perasaan Cinta :
          Banyak terdapat dalam agama Monoteisme
       c. Dalam bentuk Penyembahan :
          Agama Primitive (D, A, P)
       d. Dalam bentuk Pemujaan :
           Agama Monoteisme


    Respon itulah yang memberikan cara dan corak hidup tertentu bagi masing-masing
    pemeluk agama (salah satu ciri ajarannya). Respon ini akan mengantarkan para
    pemeluk agama berusaha Adjusmen (menyesuaikan diri) dengan ajaran agamanya,
    kadangkala sudah mengantarkan pemeluknya pada tingkat Habitforming (menjadi
    kebiasaan.


                                           11
                                Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
    Paham tentang adanya yang KUDUS (Sacred) yang suci dalam bentuk kekuatan
    ghaib, tempat-tempat yang ghaib/suci yang kadang kala disebutkan dalam kitab suci.
    Sacred (Kudus) bagi pemeluk agama akan dapat mempengaruhi prilaku emosional
    dan rasional (Impact) yang di wujudkan dalam do‟a (To unite in prayer). Sacred
    (Kebebasan Sang Pencipta) dianggap legih mendatangkan rasa tentram pada manusia.




C. TIGA PERSOALAN POKOK DALAM SEBUAH AGAMA
    1. Isi Ajaran Agama
    a. Keyakinan (credial)
       Keyakinan kepada kekuatan Supranatural (ghaib) yang mengatur dan menciptakan
       alam ini.
    b. Peribadatan (Ritual)
       Tingkah laku manusia dalam berhubungan dengan kekuatan Supranatural
       merupakan wujud konsekuensi “Pengakuan dan Ketundukan”
    c. Sistem Nilai, Transfer nilai, yang mengatur :
            Hubungan manusia secara Vertical
            Hubungan manusia secara Horizontal
            Hubungan manusia dengan alam, lingkungan, dsb


    2. Ditinjau dari Sumbernya, agama dapat dibagi dua :
       a. Agama Wahyu / Samawi
           Yang diterima oleh manusia dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril
           disampaikan dan disebarkan oleh Nabi/Rasul-Nya yang dituangkan dalam
           kitab suci kepada umat manusia.


       b. Agama Non Wahyu
           Hasil olah fikir, rekayasa manusia yang dianggap memiliki pengetahuan yang
           lengkap dan mendalam pada semua aspek kehidupan.




                                          12
                               Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
     3. Ditinjau dari misi penyebarannya, agama dapat dibagi :
           a. Agama Misionaris
               Menuntut penganutnya untuk menyebarkan ajarannya kepada manusia lain
               (Agama Islam)
               “Sampaikanlah olehmu walaupun satu ayat”.


           b. Agama Non Misonaris
               Ajaran agamanya disampaikan kepada, dalam lingkungan masyarakat tertentu.
               “Saat sekarang agama sudah mulai pada bentuk Missionaries”.


     4. Pencarian manusia terhadap agama
           a. Akal yang sempurna senantiasa menuntut :
                Kepuasan berfikir
                Pemenuhan kepuasan dari distorsi kebenaran (Nabi Ibrahim)
                Transformasi     pencerahan       dari   agama   dalam   kehidupan   manusia
                  (individual dan komunal)


           b. Pengakuan hati nurani yang dibelokkan oleh : keraguan, keberpura-puraan
           yang sifatnya temporal dan aksidental.


           “Dan Dia (Allah) mendapati sebagai seorang yang bingung lalu Allah memberi
            petunjuk (AD. Duhaa, 93 : 7)”,




D. AD- DIENUL ISLAM
     MJ : Apa yang dikatakan Islam itu ya Muhammad ?
     NM :
     a).     Islam itu didirikan diatas lima pondasi / dasar yang kokoh “ Aku bersaksi tiada
             Tuhan selain dari Allah, dan Aku bersaksi Muhammad adalah Rasul Allah, dan
             dirikan shalat, bayarkan zakat, dan mengerjakan puasa Ramadhan dan
             mengerjakan Haji ke Baitullah”


     Islam itu ditata atas lima dasar → Disebut juga Rukun Islam


                                              13
                                  Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
 1. Dua kalimat syahadat (Syahadatain)
 2. Mendirikan Shalat lima waktu (Maktubah dan Nafilah)
 3. Zakat (wajib mengeluarkan zakat maal dan zakat fitrah)
 4. Wajib puasa pada bulan Ramadhan (Maktubah dan Nafilah)
 5. Wajib Haji ke Baitullah (Mekkah dan Madinah, Arafah)


b).   Pengertian Islam :


  Etimologi, Harfiah : “Islam berasal dari kata :”
      Aslama                    : Tidak tercela
      Salima                    : Sejahtera
      Salam                     : Patuh kepada ajaran Islam
      Muslim                    : Patuh kepada ajaran Islam dan patuh
                                 menyelamatkan diri dan orang lain karena Allah
  Terminologi
      “Agama yang diturunkan Allah dengan perantaraan RasuNya, dituangkan dalam
      kitab suci dan disampaikan dengan perantaraan Rasul untuk kelangsungan dan
      kebahagiaaan hidup manusia dunia dan akhirat.”


 Syarat-syarat agama dikatakan lengkap/sempurna :
 1. Datang dari Allah (Agama Samawi)
 2. Mempeunyai kitab suci (Bukti otentik semua peristiwa dan kebenaran)
 3. Mempunyai Rasul (Panutan dan Uswatun Hasanah)
 4. Untuk diamalkan oleh manusia (Pertanggung Jawab)
 5. Dapat menyelamatkan kehidupan manusia (perorangan, kelompok masyarakat,
      urusan dunia dan akhirat menjadi pegangan yang komit dan kosisten)




 c). Tujuan Dan Peranan Islam
        Mengatur hubungan :




                                         14
                              Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
                                     ALLAH




                                    MANUSIA




                                                              MANUSIA
DIRINYA
                                                               LAIN




      Antara manusia dengan Allah
          → Hubungan Vertikal
          → Hubungan langsung
          → Hablum Minallah


      Antara manusia dengan dirinya
          → Tidak merusak diri dengan perbuatan salah, dosa
          → Meningkatkan ilmu dan kemampuan (SDM)
          → Kebutuhan dan makanan yang baik, halal


      Antara sesama manusia
          → Saling menghormati
          → Hablum Minannas


     Nilai keislamam seseorang terletak pada ke tiga hal diatas dan tidak bisa
     dipisahkan → Tiga kordinat penting




                                         15
                              Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
          Islam agama yang mengandung ibadat dan syari‟at :
          1.Dapat menumbuhkan dan mempertahankan kesucian jasmani dan rohani
          2.Setiap aktifitas jasmani dan rohani berpedoman/berdasarkan syari‟at Islam
          3.Cinta berbuat baik/Ma‟ruf dan mampu meninggalkan yang tidak baik / Mungkar


Kesimpulan :
   1. Rukun Iman menuntun manusia berfikir berdasarkan ratio dan Aqidah
       Rukun Islam menuntun manusia berbuat, bertindak berdasarkan hukum manusia dan
       hukum Allah
   2. Islam menuntun penganutnya mempertahankan keseimbangan dan keserasian akal
       dan nafsu, Brain dan Input, Kognitif dan Efektif.
   3. Islam mengingatkan kesalahan adalah virus jiwa yang dapat melemahkan kekuatan
       jiwa seseorang
   4. Islam mengajarkan keberhasilan dan kebahagiaan kehidupan dunia harus diupayakan
       dengan baik dan kerja keras. Mengingatkan agar persiapan untuk akhirat jangan
       dilupakan/ tidak dipentingkan.




   Konsep Islam :


Dunia adalah lahan akhirat
“Islam itu tinggi dan tidak ada satupun konsep yang dapat menandingi atau
mengalahkannya.”


   Tiga kordinat penting/tiga keserasian penting :
   1. Daya fikir → membangun kekuatan penalaran akal
   2. Daya Dzikir → Penggugah rasa dan jiwa
   3. Daya cipta/imajinasi → kemampuan penerawangan akal kealam mikro dan
       makrokosmos




                                             16
                                  Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
               TUJUAN MASING-MASING RUKUN ISLAM


1. SYAHADATAIN / DUA KALIMAT SYAHADAT
  a. Mengikis khurafat/tahyul, macig, irrasio
  b. Kesaksian, pengakuan Islamnya seseorang
     Fondasi/dasar Islam → harus kuat


2. SHALAT → MAKTUBAH DAN NAFILAH
  a. Induk dan tata cara ibadat
  b. Tolak ukur iman, Islam dan Ihsan
  c. Pertanggung jawaban pertama utama
     Tiang Agama : Shalat wajib tiang utama
                     Shalat sunat tiang penyangga


3. ZAKAT → ZAKAT MAAL, FITRAH
  a. Mensucikan harta → Harta milik Allah (Tauhid, Rubbubi)
  b. Menumbuhkan rasa syukur → Allah akan tambah
  c. Menumbuhkan rasa sosial → mengurangi kemiskinan dan patologi sosial
  Jendela agama → Sirkulasi


4. PUASA → WAJIB DAN SUNAT
  a. Mensucikan jiwa dan harta
  b. Disiplin dan bertanggung jawab
  c. Hidup sederhana, kebersamaan
  d. Meningkatkan kesehatan
  Dinding agama, perisai, junnah, benteng


5. HAJI KEBAITULLAH
  a. Mentaqarrubkan diri kepada Allah
  b. Menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah
  c. Memperkaya cakrawala ilmu, politik, sejarah, teknologi, ekonomi dan lain-lain




                                         17
                              Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
        Atap/payung agama. Harus dapat menaungi/memayungi diri, keluarga dan orang lain
        sesuai dengan ajaran Islam


1.   MENGUCAPKAN SYAHADATAI → QS.7 (Al Araf) Ayat 158


“Katakanlah : Hai manusia sesungguhnya Aku utusan Allah kepadamu sekalian. Kepunyaan-
Nya kerajaan langit dan bumi. Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Allah yang menghidupkan dan
mematikan, sebab itu berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya Nabi yang ummi, yang
beriman kepada Allah dan firman-Nya. Dan ikutlah Rasul mudah-mudahan kamu mendapat
petunjuk”


      Ikrar Syahadatain
      Syahadat Tauhid
        1)   Alam ini milik Allah
        2)   Allah yang menghidupkan dan mematikan sesuatu
      Syahadat Rasul
        Rasul ummi, tidak pernah merekayasa perintah Allah.
        Mematuhi perintah Rasul salah satu jalan untuk mendapat petunjuk dari Allah


2.   SHALAT → QS.29 (Al-Ankabut) Ayat 45


“Bacakanlah ya Muhammad yang telah diwahyukan kepadamu dari alkitab dan dirikanlah
shalat, sesungguhnya shalat itu dapat mencegah manusia dari perbuatan yang keji dan yang
mungkar. Sesungguhnya mengingat Allah lebih besar manfaatnya dan Allah mengetahui apa
saja yang kamu kerjakan”.


      Shalat wajib dikerjakan
      Shalat dapat mencegah manusia dari yang keji dan mungkar
      Shalat salah satu cara yang terbaik dalam mengingat Allah, maka :




                                                18
                                     Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
     a. Shalat harus dikerjakan dengan baik, dan dibiasakan atau dimulai pada usia dini (7
         tahun)
     b. Moment dalam upaya mengenalkan kesadaran ke Tuhanan / Aqidah
     c. Anak suci bersih (Teori Tabularasa) usia 10 tahun adalah penanaman dan pengawasan
         secara kontinu, sehingga lahir kebiasaan mengerjakan shalat dan akan terhindar dari
         pengaruh yang negatif dan membahayakan.


“Suruh shalat anakmu apabila usianya 7 tahun dan apabila sudah usia 10 tahun tidak
mengerjakan shalat maka pukullah dan pisahkan kamar tidur mereka “.


      Shalat jangan sekedar rutinitas ritual saja, sebab tidak akan menjauhkan kita dari
         perbuatan keji dan mungkar.


“Akan datang suatu saat nanti dimana orang-orang Islam telah mengerjakan shalat padahal
mereka belum shalat”.


      Shalat, amal/Ibadah manusia yang pertama diperiksa Allah


“Amalan yang pertama kali yang diperlihatkan pada hari kiamat nanti adalah shalat. Jika
shalatnya baik maka amalan yang lain akan diperlihatkan, Jika shalatnya tidak baik maka
amalan lainnya tidak akan diperlihatkan lagi”.


3.    ZAKAT → QS. 9 (At-Taubah) Ayat 60
     “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang :
     1) Fakir
     2) Miskin
     3) Pengumpul / Panitia zakat
     4) Para mualaf
     5) Memerdekakan budak
     6) Orang-orang yang berhutang untuk jalan allah
     7) Orang-orang perjalanan bukan untuk maksiat yang memerlukan pertolongan
     8) Fisabilillah




                                               19
                                    Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
         Zakat mensucikan harta yang bersih, halal dan haram
         Zakat salah satu cara mensyukuri rahmat dan niikmat Allah
         Memperkecil patologi sosial, memupuk kepedulian sesama
         Memperkecil angka kemiskinan


4.   PUASA RAMADHAN → QS. 2 (Al-Baqarah) Ayat 183


     “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah
     diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu. Mudah-mudahan kamu akan bertaqwa”.


      Puasa Ramadhan wajib, yang mendapat dispensasi ada beberapa
                Sakit yang membahayakan
                Dalam perjalanan jarak jauh
                Orang yang mampu tapi ada resiko yang lebih berat (hamil, menyusui)
      Puasa Ramadhan yang digugurkan satu hari tanpa ada alasan menurut agama, maka
        wajib diganti 2 bulan berturut-turut.
      Puasa memberikan hal yang positif kepada manusia → Islahu Anfus
                Emosi
                Kejujuran dan ikhlas
                Kesehatan lahir bathin
                Kebersamaan / sosialisasi
      Puasa menghidupkan kesucian
                Tazkiyatu Rohani
                Tazkiyatu Qolbi / Emosional
                Tazkiyatu Maal
      Puasa Ramadhan
                Penting
                Urusan
                Amal
                Shaum
                Anda


                Rahmat


                                                20
                                    Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
                 Allah
                 Membebaskan
                 Anda
                 Dari
                 Hukum
                 Api
                 Neraka
      Hal-hal yang harus dikerjakan pada bulan Ramadhan
                 Shalat wajib
                 Puasa yang baik / apik
                 Tadarus, Zikir/Shalat Sunnat
      Ramadhan adalah kesempatan yang terbaik untuk mengerjakan Pahala → Lailatul
        Qadar
      Melahirkan kepercayaan diri yang mandiri/kuat
        “Al Iktimaadu „Alan Nafsi Asasunnajah”
        Kepercayaan diri adalah dasar keberhasilan dan kemenangan”.


5.   HAJI →QS. 3 (Ali Imran) Ayat 97


     “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah yaitu bagi orang-orang
     yang sanggup mengadakan perjalanan kepada-Nya”.


         Haji wajib bagi orang yang mampu
         Haji mentaqarrubkan diri kepada Allah/shalatnya
         Haji harus dapat melindungi/orang yang sudah haji
        Harus dapat memelihara diri, keluarga, orang lain dari perbuatan salah/Haji mabrur
        bukan haji Mardud


Penjabaran ayat :
  1. Haji wajib satu kali selama hidup
  2. Kondisi harus prima/sehat
  3. Keamanan dan ketenangan keluarga yang ditinggal
  4. Keuangan yang cukup


                                             21
                                  Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
Rukun Haji :
 1. Memakai pakaian ihram 2 helai kain yang suci tanpa jahit → kepala terbuka (laki-laki)
 2. Berada di arafah (wukuf di arafah)
 3. Tawaf 7 x disekitar Ka‟bah
 4. Sa‟i 7 x antara bukit Shafa dan Marwa
 5. Menggunting / mencukur rambut


Sumber Hukum Islam


   1.Al-Quran → Kitab UUD, ringkas, umum, mutlak
   2.Hadits/Sunnah Rasul → Pengolah/penafsir Al-Quran, rinci, jelas
       Sunnah Qauliyah / Lisan
       Sunnah Fi‟liyah / Tingkah laku
       Sunnah Takririyah / Sikap
   3.Ijtihad → Produk akal manusia berdasarkan QS yang belum rinci
            → Konvensi, tidak boleh bertentangan dengan QS.




                                            22
                                 Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
]


                          PERTEMUAN KETIGA


                             TEOLOGI DAN TAUHID


    A. Tuhan Dalam Pengertian Umum
    B. Manusia Membutuhkan Tuhan dan Proses Pencariannya
    C. Tuhan Dalam Islam (Tauhid)
    D. Ruang Lingkup Tauhid (Tiga Prinsip Keesaan Allah)
    E. Cara Mentauhidkan Allah




    A. Tuhan Dalam Pengertian Umum
    1. Pembahasan tentang Tuhan ada dalam Teologi dan Tauhid
       a. Teologi awalnya muncul dalam agama Kristen “Ketuhanan Nabi Isa” (Tri
           Tunggal)
       b. Pengertian Teologi. Toe (Theos) = Tuhan, Logos = Ilmu
          Teologi = Ilmu ketuhanan dalam bahasa Arab disebut “Ilmu illahiyah”


    2. Eksistensi dan keberadan Tuhan
       a. Masalah ketuhanan, masalah yang sudah tua, aktual dan tidak pernah out of
           date dalam perjalanan hidup manusia.
       b. Masalah ketuhanan adalah masalah yang paling prinsipil bagi manusia
           karena terkait dengan ketentuan dan menentukan arah hidup setiap manusia
           (indiviidu)
       c. Dalam menyatakan pilihan/keyakinan tentang Tuhan setiap orang akan
           berbeda-beda atau freedom of choice (kebebasan memilih)
       d. Tuhan dalam pengetian umum


                                            23
                                 Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
           Satu kekuatan yang ada diluar kekuatan manusia
           Kekuatan yang dapat mengeluarkan manusia dari masalah
      e. Tuhan dalam pengertian aliran
          1). Theismus dan Deismus
             “Mengakui bahwa Tuhan itu ada dan berwujud” namun ada perbedeaan
             pendapat antara keduanya.


Perbedaannya :
              Theismus : Tuhan itu ada, Tuhan yang menciptakan alam dan Tuhan
                 pula yang memelihara dan mengatur alam ini seluruhnya.
              Deismus : Tuhan itu ada, Tuhan yang menciptakan alam namun
                 Tuhan tidak ikut memelihara dan mengaturnya.
Berarti : “Tuhan dalam faham Theismus/Teistis sangat aktif, sedangkan Tuhan dalam
faham Deismus/deistis pasif.


          2). Atheisme
             “Tidak mempercayai adanya Tuhan”
      Argumennya :
              Alam ini ada bukan karena Tuhan tetapi sudah terjadi karena proses
                 evolusi yang teratur
              Manusia gagal dan berhasil bukan karena Tuhan, akan tetapi
                 ditentukan oleh kemampuan manusia itu sendiri
              Hidup dan matinya manusia bukanlah karena Tuhan, akan tetapi
                 semata-mata karena dimakan usia/masa atau sakit
              Hidup, manusia, roh, alam ini merupakan materi yang sudah ada
              Manusia hidup bukan karena adanya roh, melainkan manusia itu
                 hidup maka roh itu ada


          3). Agnocticitis (Agnoctic)
              Faham yang tidak mau tau dengan Agama dan Tuhan



                                           24
                                Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
         Dianut oleh kaum cendekiawan barat yang sibuk dengan IPTEK dan
            urusan keduniaan




B. Manusia Membutuhkan Tuhan dan Proses Pencariannya


  1. Manusia Membutuhkan Tuhan
     a. Keterbatasan kemampuan manusia.
     b. Untuk        mendapatkan      perlindungan      dan   dikeluarkan     dari
        masalah/musibah.
     c. Karena memiliki fitrah ketuhanan (mono religius).


  2. Proses Pencarian Manusia Tentang Tuhan
     a. Melalui proses filsafat (Pemikiran, Ilmu Pengetahuan).
     b. Melalui proses tektual (Kitab suci + sumber dalil naqli) daya fikir (arena
        otak).
     c. Melalui proses Intuitif (keyakinan, keimanan) daya rasa (arena qalbu).


     Harus dilakukan secara aporteori (kritis, ada bukti dan argumen yang benar)
     serta kritis – diaktis yang pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahin AS. Tokoh
     pemikir kritis Diaktis Nabi Ibrahim As bukan Socrates lihat QS. Al-An‟am
     (6) : 75 : 79


C. Tuhan Dalam Versi Islam (Tauhid)


  1. Pengertian Tauhid (Ketuhanan)
     a. Tauhid secara Etimologi
        Tauhid berasal dari akar kata wahada = sesuatu itu satu
        Wahada, Yuwahida, Tauhidan (Tauhid). Proses pemikiran mengesakan
        Allah menjadi satu kesimpulan mutlak (ketuhanan Yang Maha Esa).



                                      25
                           Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
     b. Tauhid Secara Terminologi
        Ilmu pengetahuan yang mempelajari, membahas tentang hal-hal yang
        wajib (mesti ada), mustahil (tak mungkin ada), dan Jaiz (boleh ada dan
        tiada) pada Allah (zat, sifat, af‟al-Nya).


     c. Ilmu Tauhid disebut
         Ushuluddin (dasar-dasar agama) ►Berbicara tentang dasar-dasar
            agama.
         Aqaid/Akidah ►Berbicara tentang keyakinan dalam Islam.
         Teologi/Ketuhanan ►Berbicara tentang keesaan, Maha Kuasa Allah.


  2. Tuhan Dalam Islam
     a. Allah pencipta dan pengatur alam semesta secara tepat dan akurat
        (Orbitasi dan rotasi) planet yang ada QS. Yasin (36) : 38-40
     b. Berkuasa tanpa batas dan tanpa bantuan (tidak ada sekutu bagi-Nya) QS.
        Ar-Rahman (55) : 27
     c. Allah kekal dan memiliki kebesaran dan kemuliaan QS Ikhlas (112) : 1-
        4




D. Ruang Lingkup Tauhid (Tiga Prinsip Keesaan Allah)


  1. Esa dalam dan dari segi zat-Nya
     a. Tidak berawal dan tidak berakhir
     b. Zat yang kekal dan abadi
     c. Tidak ada yang mengatasi, melampaui, menyamai-Nya


  2. Esa dalam dan dari segi sifat-Nya
     a. Keabadian-Nya menyatu dalam zat-Nya
     b. Sifat-sifat Allah tidak sama dengan sifat makhluk



                                      26
                           Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
 Pembagian sifat-sifat Allah :
  1) Sifat-sifat yang wajib bagi Allah (jumlah 20)
      Wujud, Qidam (tidak berawal dan tidak berakhir) Baqa = Kekal, Kaumuhu
      Sami‟an = (selalu berada dalam keadaan mendengar)


  2) Sifat-sifat yang mustahil bagi Allah (jumlah 20)
      Al-“Adam = Mustahil bagi Allah tidak ada
      Al-Huduts = Mustahil bagi Allah bahaya
      Al-Fana‟ = Mustahil bagi Allah lenyap
      Jahlu = Mustahil bagi Allah bodoh


  3) Sifat Jariz bagi Allah (hanya 1 sifat)
      Jariz bagi Allah berbuat atau tidak berbuat terhadap sesuatu yang mungkin
      ada atau mungkin tidak ada.


  3. Esa dalam Af‟al-Nya (Esa dari segi perbuatan-Nya)
      Kejadian apapun yang terjadi di alam ini bersumber dari keinginan dan
      kehendak Allah.


      QS. Az-Zumar : 61 “Allah pencipta segala sesuatu dan Allah yang
      memelihara segala sesuatu”
      QS. As-Syura‟ : 12 “Allah yang memiliki kunci-kunci langit dan bumi”


E. Cara Mentauhidkan Allah


  1. Dasar atau cara yang dapat ditempuh
       Dasar Dalil Naqli (surat dan ayat)
         Banyak     ayat-ayat    Al-Quran      yang      menjelaskan   tentang   cara
         mentauhidkan Allah antara lain terdapat dalam surat :
          Al-An‟aam ayat 74 – 83
             Yang menjelaskan tentang cara Nabi Ibrahim mengajarkan Tauhid.

                                       27
                            Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
    Ali Imran ayat 64
      Yang menjelaskan tentang ajakan kembali kepada Tauhid.
    Al Jin ayat 20
      Yang menjelaskan tentang pernyataan Tauhid Nabi Muhammad
    Al Baqarah ayat 133
      Yang menjelaskan tentang semua Nabi bertauhid
    Ash Shaffaat ayat 35 – 37
      Yang menjelaskan tentang menyombongkan diri
    Al Anbiyaa ayat 92, Al Mukminuun ayat 53, Ar Ruun ayat 32
      Yang menjelaskan tentang memecah agama Tauhid
    Al Anbiyaa ayat 92, Al Mukminuun ayat 52
      Yang menjelaskan tentang agama Tauhid, agama Allah
    Al Baqarah ayat 83
      Yang menjelaskan tentang ajaran Tauhid untuk Bani Israil
    Az Zukhruf ayat 28 – 30
      Yang menjelaskan tentang ajaran Tauhid diwariskan Nabi Ibrahim


 Dasar Dalil Aqli (Rasio dan Nalar)
    Melalui nalar manusia, pengalaman dan daya nalar manusia,
      akhirnya pada hakikah yang diterangkan Al-Quran dan Hadist.
    Dasar Dalil Aqli ini kebanyakan menjadi methode penerimaan
      kalangan filsuf, pemikir, juga intelektual. Adakalanya pemahaman
      upaya ini lebih kritis yang hasilnya cukup meyakinkan.


 Wijdan (Renungan)
    Dengan renungan, kita dapat mengetahui bahwa tidak ada yang bisa
      memberi rizki, menyembuhkan segala penyakit, menolak segala
      macam     marabahaya,       memberikan       segala   macam   manfaat,
      membahagiakan, menyengsarakan, menjadikan seseorang miskin
      dan kaya, yang menghidupkan, yang mematikan, yang meluluskan
      seseorang dari segala macam ujian, yang menaikan dan menurunkan

                                 28
                      Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
         pangkat dan jabatan seseorang, kecuali Allah. Semua ini menuntut
         kita agar hanya meminta kepada Allah semata dan tidak kepada
         selain-Nya.


2. Sebutan Ilmu Tauhid
    Tauhid Rububiyah
      Tauhid Rububiyah atau kekuasaan Tuhan yakni mempercayai dan
      mengakui bahwa hanya Allah dengan menggunakan nama Rabb satu-
      satunya yang memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur,
      memelihara serta menjaga seluruh alam semesta dan Allah yang
      menentukan hidup, mati serta rezeki manusia.


    Tauhid Uluhiyah
       Tauhid Uluhiyah atau ibadah yakni keyakinan kita kepada Allah
         mutlah menjadi Illahi (Tuhan) kita, dan tidak ada yang lain selain itu
         bahwa hanya kepada Allah setiap ibadah dialamatkan, dan hanya
         Allah semata yang layak disembah.
       Maksud Tauhid Al-Uluhiyah ialah kita mentauhidkan Allah dalam
         peribadatan atau persembahan.


    Tauhid Asmaa‟wash Shifaat
       Yakni keyakinan kita kepada Allah dengan nama-nama-Nya,
         demikian juga dengan sifat-sifat-Nya yang sempurna.
       Dalam hal ini menurut Al-Quran terdapat beberapa nama Allah yang
         menjadi sifat-Nya dan Ia sandangkan sendiri pada diri-Nya dalam
         kitab-Nya atau melalui lisan Rasulullah, yaitu dengan menetapkan
         apa yang ditetapkan Allah dan meniadakan apa yang ditiadakan-Nya
         dengan tanpa tahrif (mengubah), ta‟thil (menafikan), takyif
         (menanyakan bagaimana), juga tanpa tasybih (menyerupakannya
         dengan makhluk).



                                    29
                         Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
3. Simbiosis Mutualisme Mentauhidkan Allah


   Tatanan Mentauhidkan Allah

   1. Segala sesuatu milik Allah (Tauhid Rububiyah) QS. Al-Bagarah 284
      “Apa yang ada di bumi dan dilangit milik Allah”
           Allah yang menentukan dan menetapkan siapa yang akan diberi
             dan ditolak oleh Allah
           Allah yang mengambil dan mencabut rizki dan nikmat dari diri
             manusia.
           Allah penggerak dan pusat kesadaran bagi makhluk manusia



   2. Kepada Allah manusia menyembah dan minta pertolongan (ibadat dan
      istianah/doa) ►Tauhid Ilahiyah

           Allah yang wajib disembah dan dipuja
           Allah yang wajib tempat manusia meminta bukan kepada yang
             lain


   Syarat ibadat diterima Allah :

      a. Memiliki/mencintai ibadat (Hubb) karena Allah
      b. Tunduk karena Allah (Khudu‟)


   Syarat istianah diterima Allah :

      a. Berserah diri karena Allah (Tsiqqoh) atau Ikhlas karena Allah
      b. Menggantungkan harapan / optimisma kepada Allah (I‟timad)
     Ibadat dan istinah dwi tunggal ibadat yang mulia di sisi Allah

                                      30
                         Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
3.   Selalu    memperbanyak       komunikasi        dengan   Allah   ►   Tauhid
     Asma‟wasshifa‟

      Dengan menyebut nama Allah Asmaul Husna Allah (99) sesuai
        dengan pokok/sub stansi masalah
         Berarti manusia tidak terpaksa dalam perbuatannya melainkan
              diberi kebebasan oleh Allah dalam mengambil dan memiliki
              keputusan. QS An-Najm : 35 : “Sesungguhnya manusia tidak
              mendapat apa-apa kecuali yang telah diusahakan nya”
         Determinisme dengan kebebasan manusia




                                  31
                       Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
                            PERTEMUAN KE EMPAT

                                   IMAN DAN TAQWA
      A.
                                   PENGERTIAN IMAN




  1. ETIMOLOGI                                            2. TERMINOLOGI / DEFINISI

KEYAKINAN                                             Tasydiqu bil qalbi, Iqraarun billisan,
                                                      ‘amal bin jawarih
  -    Tidak terlepas dari
       proses psikologis                              Tasydiqu bil qalbi
  -    Kadar (Kuat, Lemahnya
                                                          -   Dibenarkan / diakui oleh jiwa
       iman sangat dipengaruhi
                                                              secara ikhlas
       oleh kondisi internal
                                                          -   Tidak ada paksaan dari siapa pun.
       &eksternal
                                                      Iqraarun bil lisan

                                                          -   Ikrar / Ucapan yang komit dan
                                                              konsekuwen apa yang
                                                              dibenarkan.

                                                      ‘Amal bil Jawarih

                                                          -   Diamalkan, diaplikatifkan dengan
                                                              sadar & utuh.




                                            32
                                 Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
- Iman bersifat abstrak dan selalu berada dalam diri seseorang (is to believe in one‟s self).

- Iman sangat menentukan aksist (nilai kemanusiaan seseorang).




B.
                                PROSES LAHIR IMAN




       1. TASYDUQU BIL                                               2. IQRAARUN BIL
             QALBI                                                         LISAN
 - Proses Afektif                                                Proses Kognitif (Brain)

 - Pengakuan hati secara Ikhlas,                                 - Diucapkan dengan penuh

     Kaffah atau integral                                         kesadaran

                                                                 - Dapat dipertanggung jawabkan

                                                                  keyakinan tersebut




                                        3. ‘AMAL BIN
                                          JAWARIH
                                 Proses Psikomotorik

                                 - Diamalkan secara continue

                                 - Membawa perubahan kepada
                                 pribadi




                                               33
                                    Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
 C.
                      1. Membentuk kepribadian yang ulet, semangat
                      pantang

                         menyerah ;

                      - Tidak takut pada cobaan, ujian, tantangan hidup.

                      - Selalu siap berkompetitif, bersaing secara sehat



                     2. Menumbuhkan kekuatan / inner self (jiwayang
                     kuat,

                        bersih)

KEUNTUNGAN /         - Berbuat didasarkan pada baik, buruk, dosa dan
 KEGUNAAN            pahala

MEMILIKI IMAN          bahkan untung rugi.
 YANG BAIK           - Memperkecil / menghilangkan keberadaan tabiat
                     yang

                       baik (dosa penghalang berpikir)

                     - Menyeimbangkan dua konstruksi yang berbeda :

                              Antara keinginan dan kebutuhan
                              Antara kepuasan dan kebaikan
                              Antara kesengajaan dan kealfaan

                     - Dapat menanggulangi konflik kejiwaan




                      3. Mendorong orang berpikir secara ideal dan idealis

                          -        Berpikir maju dengan mempertahankan
                                   akhlak, moral, norma, hukum.
                          -        Berbuat secara logis, terencana, terukur.
                          -        Bukan berspekulasi (Untung – untungan).
                          -        Bukan tahayul, syirik, magic.
                              34
                Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
D. YANG MERUSAK IMAN & CARA MEMPERBAIKINYA

 (Iman bisa fluktuatif)   Hadist : “ Al – Manu Yazid Wayanqus”

 Iman itu bisa bertambah dan berkurang

                                                     1. Melakukan perbuatan maksiat dan
                                                        dosa
  YANG MERUSAK IMAN
                                                     2. Mencintai kesenangan dunia dan
                                                        melupakan akhirat

                                                     3. Tidak pandai bersyukur kepada Allah


                                                    1. Berupaya meninggalkan / menjauhkan
                                                       diri dari yang tidak baik / tidak
   CARA MEMPERBAIKI                                    bermanfaat (Tathohiru an nafsi
    KERUSAKAN IMAN
                                                    2. Membiasakan diri hidup disiplin
                                                       (komit dengan waktudan tugas)
                                                       (Dhawa bitu an nafsi)

                                                    3. Mengoptimalkan kemauan / cita – cita
                                                       dengan optimisme, positif thinking
                                                       (Tarbiyatul al Iradah)

                                                    4. Bergaul dengan baik, tidak kuper,
                                                       egois, selalu komunikatif dan empati
                                                       (Al Atifahul diniyah)

                                                    5. Berusaha yang teerbaik dalam
                                                       kelompok dan menjadi tauladan oleh
                                                       orang lain (Al Qudwatun al Hasanah)




                                           35
                                Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
 E. KRISIS IMAN DAN DAMPAKNYA




                                  1. Muncul orang-orang kufur Jahli

                                           -   Kufur / keterbelakangan karena
                                               kebodohan (tingkat pendidikan)

                                  2. Muncul orang-orang kufur hukmi

                                           -   Tidak mengakui adanya Allah

                                           -   Hanya mengakui kemampuan IPTEK

                                  3. Munculnya orang-orang kufur Hukmi

                                           -   Suka melanggar aturan agama (Allah)

                                           -   Suka melanggar hukum yang berlaku
                                               (Dhomir)
KRISIS IMAN DAN
 DAMPAKNYA                        4. Munculnya orang-orang kufur Amali

                                           -   Enggan berbuat baik

                                           -   Enggan beribadah sesuai Islam

                                  5. Munculnya orang-orang yang kufur Nikmat

                                           -   Tidak pandai bersyukur

                                           -   Rakus

                                           -   Tamak

                                           -   Pelit / medit

                                  6. Munculnya orang-orang kufur Nifaq

                                           -   Berpura-pura islam, prilaku tidak islam

                                           -   Benci dan alergi terhadap agama/ajaran
                                               islam

                                   36
                        Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
F. SISTEMATIS DAN IMPLEMENTASI ARKANUL IMAN

1. Beriman Kepada Allah

   a. Keyakinan dan ketundukan hanya kepada Allah

   b. Allah yang menentukan segala sesuatu tanpa ada campur tangan kekuasaan lain

   c. Dari Allah alami ini dan Allah pula yang menentukan batasannya

2. Beriman kepada Malaikat

   a. Meyakini ada makhluk gaib yang bernama malaikat dengan tugas yang telah
      digariskan Allah

   b. Kehadiran malaikat sangat berlaitan dengan kelangsungan hidup manusia / alam ini

3. Beriman kepada Rasul Allah

   a. Meyakini pesuruh Allah diatas bumi ini hanya Rasul Allah yang dibimbing oleh
      wahyu

   b. Mentauladani dan mengikuti petunjuknya yang sangat benar dan sangat pasti

4. Beriman kepada kitab Allah

   a. Meyakini keberadaan wahyu / Firman Allah yang ditulis dalam kitab agama samawi

   b. Kitab agama samawi kebenara isi dan tulisasnnya itu adalah mutlak dari Allah

   c. Isinya hanya dengan ilmu pengetahuan ibadat, syariat dan muamalah

5. Beriman kepada Hari kiamat

   a. Meyakini dibalik kehidupan fana (dunia)ini ada lagi kehidupan yang abadi dan kekal

   b. Adanya pertanggung jawaban dari manusia kepada Allah

   c. Adanya pembagian temapt dan kedudukan bagi manusia nantinya yang sesuai dengan
      ibadah dan amalannya.

                                            37
                                 Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
 6. Beriman kepda Qada Dan Qadar

          a. Dalam kehidupan ini tetap ada campur tangan Allah (genggaman kekuasaan)

          b. Usaha dan perjuangan manusia sangat bersinergi dengan kasih sayang allah




             A.                                    TAQWA



                                         PENGERTIAN TAQWA




1. Taqwa berasal dari kata Waqa, Yaqi,                     2. TERMINOLOGI
Wiqayah, yang berarti :
                                                             “ Sikap memelihara yang diwujudkan
      -     Takut    : Memelihara                          dalam pengalaman ajaran islam secara utuh
      -     Menjaga : Melindungi                           dengan konsisten sehingga merasa dekat
                                                           kepad Allah”.

                                                           Seorang yang bertaqwa disebut :

                                                           Muttaqin :

                                                               -      Menjaga hubungan dengan Allah

                                                               -      Menjauhkan diri dari perbuatan yang
                                                                      tidak baik dan merugikan




                                         INDIKATOR TAQWA
 B.


              Meliputi :

                           1. Aspek keyakinan yang mencerminkan nilai-nilai Islam

                           2. Aspek ucapan yang mencerminkan nilai-nilai Islam

                           3. Aspek perbuatan yang mencerminkan nilai-nilai Islam


                                                    38
                                         Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
                                    KEDUDUKAN TAQWA


C.
     Merupakan nilai yang mendasar dan sangat mulia yang harus dimiliki oleh seseorang
     muslim

        1. Ukuran jauh dekatnya seseorang dengan Allah. Orang yang mulia disisi Allah
           adalah orang yang bertaqwa (Al – Hujarat : 13)

        2. Merupakan bekal yang paling baik (Al – Baqarah : 197)

        3. Pakaian yang paling baik yang harus dipakai oleh manusia ( Al – „Araf : 26)

        4. Kekasih / disayangi Allah (Yunus : 62 – 63)

        5. Amalan orang yang taqwa diterima Allah (Al-maidah : 27)

                                        MENTALITAS TAQWA

         1. Tawadlu‟ = rendah hati / tidak sombong (Al – Araf : 6-7)

         2. Qonaah = merasa cukup dengan yang dititipkan Allah

         3. Wara = menjauhi yang haram dan subbut

         4. Yakin = Optimisma

         5.




                                           39
                                Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
                              RUANG LINGKUP TAQWA

     1. Menjaga hubungan dengan Allah
D.
           -   Melaksanakan ibadah wajib dan sunnah dengan tulus ikhlas dan sabar

           -   Meninggalkan apa yang dilarang Allah (Islam)

           -   Selalu ingin / zikir kepada Allah dimana berada

     2. Menjaga hubungan dengan sesama manusia

           -   Hidup bermanfaat bagi diri dan orang lain

           -   Komit dan konsekuen pada kebenaran / keadilan

           -   Memegang teguh amabah / janji

     3. Hubungan dengan diri sendiri

           -   Sabar pada ketentuan, ujian Allah

           -   Berusaha dan berdoa

           -   Berani kompetitif dan ingin maju

           -   Pandai berterima kasih dan bersyukur

     4. Hubungan dengan lingkungan hidup

           -   Dapat memanfaatkan alam dengan baik dan benar

           -   Jangan merusak alam / lingkungan, karena dapat membahayakan
               kelangsungan hidup makhluk dan manusia




E. IMAN DAN TAQWA MELAHIRKAN TAWAKKAL

                                         Berserah diri kepada dan karena Allah

        TAWAKKAL                         Berupaya dan berusaha karena Allah


                                         40
                              Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
                                            Menerima dengan sabar dan ikhlas karena Allah




                          PERTEMUAN KE LIMA

                      MANUSIA DAN PENYEBUTANNYA
                                DALAM AL-Quran


A. Kejadian Manusia

B. Sebutan Lain Manusia Dalam Al – Quran

C. Missing Link Teori Evolusi dengan Teori Al – Quran




A. Kejadian Manusia

   1. Menurut Teori Evolusi
      Menurut evolusi Darwin yang dideskripsikan oleh Timan dkk ( 1984 : 12-16 )
      manusia itu berasal dari makhluk (binatang) yang berevolusi dari reptile menjadi jenis
      kera, dan seterusnya berubah menjadi manusia. Teori ini ditolak karena terdapat
      perbedaan yang sangat prinsip antara binatang dengan hewan (manusia).

   2. Menurut Teori Desedensi (keturunan)
      Manusia    adalah   makhluk    ciptaan     Tuhan.       Tuhan   menginformasikan     atau
      menerangkan asal usul manusia terdiri dari 2 bagian yaitu jasmani dan      rohani.

      a. Asal Usul Jasmani
         Tuhan menginformasikan bahwa jasad manusia berasal dari tanah yang terdapat
         dalam Al-Quran, Qs. Sajadah (32-7) “Yang membuat segala sesuatu yang Dia
         ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah”

      b. Asal Usul Rohani


                                            41
                                 Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
       Roh adalah sesuatu yang gaib yang pasti ada dalam setiap diri manusia, karena
       dapat dirasakan tetapi tidak dapat di katakan dimana letaknya. Menurut Islam roh
       adalah sesuatu yang gaib yang ditiupkan Tuhan kedalam janin sewaktu masih
       dalam rahim ibunya. Dalam Qs. Sajadah (32-9) “Kemudian Dia menyempurnakan
       dan meniupka kedalam (tubuh) nya, roh (ciptaan) Nya dan Dia jadikan bagi kamu
       pendengaran, penglihatan dan hati : (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”.




   Inilah hakekat manusia yang sebenarnya.




3. Menurut Islam
   Proses Terwujudnya Manusia

   Tuhan berbuat sekehendak-Nya dari tidak ada menjadi ada melalui proses sebagai
   berikut :

       a. Manusia yang terwujud (ada) tanpa Ibu dan Bapak
           Kekuasaan Tuhan melebihi segalanya, tanpa Ibu dan Bapak, manusia dapat
           diciptakan Tuhan langsung dari tanah. Manusia inilah yang disebut manusia
           pertama yaitu Adam. Dalam Qs. Al-An‟aam : “Dialah yang menciptakan
           kamu dari tanah sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi
           sesuatu ajal yang ditentukan untuk bangkit, yang ada pada sisinya (dia
           sendirilah yang mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang
           berbangkit itu)”.

       b. Manusia yang terwujud (ada) tanpa Ibu
           Maha suci Tuhan yang menciptakan segala yang ada di dunia ini berpasang-
           pasangan, ada siang ada malam, ada laki-laki ada perempuan. Tuhan
           menciptakan teman hidup untuk Adam yang diberi nama Hawa yang berasal
           dari tulang iga Nabi Adan as. Keistimewan Hawa ialah selain ia sebagai
           perempuan yang pertama diciptakan, ia juga seorang perempuan yang
           terwujud (ada) tanpa Ibu.

       c. Manusia yang terwujud (ada) tanpa Bapak


                                          42
                               Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
          Tuhan berkuasa atas segalanya, dapat menciptakan manusia ini dengan
          berbagai cara yang diinginkan-Nya. Tanpa adanya Bapak hanya dengan Ibu
          saja, Tuhan sanggup menciptakan manusia, itulah Nabi Isa as, anak dari
          Maryam.

      d. Manusia yang terwujud (ada) dari sepasang laki-laki dan perempuan Manusia
          terjadi dari pasangan laki-laki dan perempuan adalah manusia yang banyak
          seperti kita sekarang ini dan kejadian tersebut dijelaskan dalam Qs. Al-
          Mujarat : 13 “ Hai, manusia Kami ciptakan untuk kamu dari sepasang laki-laki
          dan perempuan, serta Kami jadikan bersuku-suku, dan berbangsa-bangsa,
          supaya kamu saling mengenal satu dengan yang lainnya”.



4. Pandangan Ilmu tentang Hakekat Manusia
   Beberapa Pandangan Ilmu Tentang Hakekat Manusia Secara Umum. Para pemikir
   (pakar) Barat memisahkan antara ilmu dengan agama, kehidupan dunia dengan
   kehidupan akhirat harus dipersiapkan dan dikelola secara terpisah. Pakar di dunia
   barat tentang hakekat manusia akan diuraikan sebagai berikut :




   Pandangan Psiko Analitik

          Psiko Analitik adalah suatu aliran dalam ilmu jiwa yang mencoba menganalisa
          kejiwaan manusia atas bagian-bagiannya. Menurut Freud, kejiwaan manusia
          dapat dianalisa sebagai berikut :

          a) Id (di otak kanan)
             Id adalah suatu aspek kejiwaan manusia yang berfungsi sebagai sumber
             kekuatan dan penggerak dari tingkah laku manusia.




          b) Ego
             Ego adalah bagian dari kepribadian (kejiwaan) manusia menjembatani
             antara dunia luar dengan individu manusia.




                                         43
                              Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
Pandangan Islam Tentang Hakekat Manusia

Manusia Menurut Pandangan Islam

      a) Makhluk yang paling sempurna / aktual (lima kebaikan) Qs. At-Tien ayat
         4
         Artinya :”Sesungguhnya kami jadikan manusia sebaik-baik bentuk”.

         Ahsan  The Best Didudukan dalam

         Taqwin  Susunan Anatomi yang indah harkat dan martabat

                    yang indah/cantik

         Qs. ayat : 7- 8

         Artinya : “Allah telah menciptakan kamu, kemudian menyempunakan
         kejadianmu dan menegakkan bentuk dan susunan kejadianmu sehingga
         harmonis, padahal dalam bentuk dan rupa bagaimanapun Allah dapat
         susun kejadian itu”.




      b) Kesempurnaan manusia itu terletak pada 3 (tiga) kekuatan Internal  Tri
         Chotomi
              Akal                   pikiran
              Jiwa / rohani          keimanan (di dada / fitrah)
              Nafsu                  keinginan (syahwat / perut)



         Butir 2 dan 3 terikat dengan kehidupan jasmaniah, maka manusia
         berkembang menurut waktu dan tempat.Perkembangan / kemajuan sangat
         ditentukan oleh kemampuan :

              Kapasitas              kemampuan semenjak lahir / IQ
              Abilitas               kemampuan karena proses belajar
                                         Mengajar




                                      44
                           Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
B. Sebutan Lain Manusia Dalam Al - Quran

   1. Penyebutan Nama Manusia Dari Berbagai Aspek

    1)   Dari aspek Historis penciptaannya, manusia disebut Bani Adam (Qs. Al-A‟raf :
         31). Kronologis penciptaan manusia titik awalnya dari air (Qs. An-Nur : 45) “Dan
         Allah telah meniciptakan semua jenis hewan dan air”. Secara Organisasi
         morfologis (bentuk kata) kegiatan manusia melalui urutan-ururan tertentu.




         (Qs.Al-Hijj : 28-29)
         Ketika Allah berfirman kepada para Malaikat “Aku” (Allah) hendak membentuk
         seorang manusia dari lempeng, dari lumpur yang di acu. Bila Aku telah
         membentuknya secara selaras dan meniupkan kedalamnya Ruh-Ku, maka
         sujudlah kepada-Nya.




    2)   Dari aspek Biologis kemanusiaannya (sifat fisik, kimia, biologisnya) disebut
         Basyar. Manusia dibentuk dari komponen-komponen yang dikandung di dalam
         tanah, dengan berbagai nama :
          Juraeb (tanah gemuk)
             Qs. Al-Kahfi : 37

             Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya, sedang ia bercakap-cakap
             dengannya “ Apakah kamu kafir kepada Tuhan yang menciptakan kamu dari
             tanah (Turaeb). Kemudian dari setetes aiar mani lalu Allah menjadikan kamu
             soerang laki-laki yang sempurna.

          Tiin (tanah lempeng)
             Qs. AS-Sajadah : 7

             Tuhan memulai penciptaan manusia dari tanah lempeng.

          Shalshalin min hamaain (lempeng dari lumpur yang dicetak)
             Qs. Al-Hijj : 26


                                             45
                                  Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
             “Dan sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat
             kering yang berasal dari lumpur hitam yang dibentuk”.




3)        Dari aspek Kecerasannya disebut Insan (makhluk yang berakal, berilmu
          pengetahuan) Insan dengan ilmunya akan berada diantara dua Jauhar yang agung
          dan hina.
          Qs. Ar-Rahman : 3 – 4

          “Allah menciptakan manusia (Insan), mengajarnya pandai berbicara”.




4)        Dari aspek Sosiologi disebut Annas (makhluk bermasyarakat)  Zoon Politikon.
          Qs. Al-Baqarah :21

          “Wahai manusia sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan orang-orang
          sebelum kamu, agar kamu menjadi orang yang bertaqwa”.




5)        Dari aspek Posisi disebut Abdun (hamba Allah)
          Qs. As-Saba‟ : 34

          “Sesungghnya pada yang demikian itu benar-benar bukti kekuasaan Allah bagi
          setiap hamba yang pasti kembali kepada-Nya”.




2. Keunggulan Manusia Dari Makhluk Lain

     a.      Manusia (makhluk nyata) aktual, dinamis, sempurna
              Memiliki pisik, jasad         pelaksana
              Memiliki roh, jiwa            ditektor, generator
              Memiliki nafsu                generator
              Memiliki akal                 penggagas
              Memiliki agama                pembimbing / netralisir




                                             46
                                  Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
      b.    Manusia dapat menyeimbangkan antara kebutuhan rohani, akal, nafsu
           dan agama.

                Keseimbangan       Egosentris (diri sendiri) Nafsu Lauwamah

                                   Palemos (emosional) Nafsu Amaroh

                                   Eros (seksual) Nafsu Sufiah

                                   Religius (agama) Nafsu Mutmainah




      Agama dibutuhkan agar nafsu ini tidak berkembang / digunakan dalam bentuk
      destructive

      Kegagalam mempertahankan keseimbangan perangkat internal akan melahirkan
      manusia yang ikhtilaf atau deviasi (penyimpangan) dalam bentuk :

                     Membelakangi Allah
                     Rakus dan tamak
                     AIDS, HIV
                     Sahabat syaitan dan derajat yang lebih rendah dari binatang



     Kemudian kami jadikan manusia sehina-hinanya kedudukan (Qs. At-Tien ayat : 5)

     Keseimbangan kebutuhan hidup di dunia dan akhirat (Realisasi interaktif).

     Mempertanggung jawabkan kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia dalam
     bentuk mempertahankan kebenaran dan menyembah yang sudah dibenarkan Allah.

     Inti kebenaran itu hanya satu datang dari Tuhanmu (kebenaran hakiki) maka jangan
     kamu tergolong orang-orang yang ragu.




c.   Pemenuhan Kebutuhan Manusia Didasarkan Kepada :
      1. Rasa Intelek
           • Meransang pikiran untuk menyusun IPTEK



                                           47
                                Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
              Membuka rahasia alam dengan ilmu secara terus menerus (Rasihun fil ilmi)
              orang yang mendalami ilmu (missing link) untuk kehidupan dunia berarti
              menyiapkan kebutuhan akhirat.

      2. Rasa Sosial
          • Mendorong manusia hidup bermasyarakat dan bekerjasama dengan sasaran
              hablum minanas (realisasi interaktif). Qs. Al-Hujurat ayat : 11 – 13)




      3. Rasa Etika
          • Mendorong manusia tuntuk dan patuh kepada norma, hukum, aturan baik
              (berpegang teguhlah kamu dengan aturan Allah). Di sini letak perbedaan
              manusia dengan binatang.

      4. Rasa Estetika
          • Mendorong manusia mencintai dan memelihara keindahan, mampu
              menciptakan bentuk yang menyenangkan dengan tidak berlawanan dengan
              norma hukum Islam. (sesungguhnya Allah cinta kepada yang indah).

      5. Rasa Agama Religi
          • Mendorong manusia untuk mengakui dan menyakini Allah (the will be done)
              kehendak Tuhan akan tetap berlaku.



d.   Hubungan Pikiran dan Perasaan
      1. Rohlah yang akan memberikan pertanggung jawaban atas laku perbuatan
          manusia. Hakekat manusia itu terletak pada rohaninya (Sir Alexis karel,
          Amerika)
      2. Pikiran dan perasaan yang dijalin dengan baik akan melahirkan kemauan,
          kemauan akan melahirkan laku perbuatan . Perbuatan yang tidak didasarkan
          kepada agama akan menimbulkan kekecauan dan ancaman terhadap kelasungan
          hidup manusia (Sir Herbert Samuel).
      3. Kemuliaan manusia terletak pada keseimbangan rohani dimana dalam
          memberikan keseimbangan akal dan nafsu berpijak kepada ajaran agama seperti
          :


                                             48
                                  Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
                Tidak menekan kebebasan akal
                Tidak menekan kebebasan nafsu
     Berarti mengendalikan akal dan nafsu secara baik dan seimbang.

     Hakekat hidup manusia terletak pada bagaimana mengoptimalkan status dan
     eksistensi manusia itu sendiri (menyembah Allah dan mencari rezki berjalan dengan
     baik dan seimbang). Allah telah mendorong manusia agar mengoptimalkan internal
     yang dimilikinya.




     “Dan sesungguhnya kami jadikan untuk isi neraka jahaman kebanyakan dari jin dan
     manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami
     ayat-ayat Allah, mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat
     tanda-tanda kekuasaan Allah, mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan
     untuk mendengar ayat-ayat Allah, mereka itu hidup seperti binatang ternak, bahkan
     mereka itu lebih hina lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (Qs. Al-A‟raf ayat :
     179).

                   Tidak menyadari status sebagai manusia
                   Tidak menyadari eksistensi sebagai manusia
                   Tidak berimbangnya fungsi akal, jiwa dan nafsu



C. MISSING LINK TEORI EVOLUSI DENGAN TEORI AL-QURAN

  Manusia berdasarkan Al-Quran

  Kata Allah : “Aku hendak menciptakan khalifah di bumi” yang memiliki jasad, akal, dan
  rohani.

  Sedangkan teori Darwin manusia nenek moyangnya berasal dari kera atau sejenisnya
  (teori evolusi)




                                            49
                                 Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
                         PERTEMUAN KE ENAM

                      Misi dan Fungsi Penciptaan Manusia



A. Misi Penciptaan Manusia

B. Fungsi Penciptaan Manusia

C. Tanggung Jawab Manusia

D. Martabat Manusia




A. Misi Penciptaan Manusia

      1. Penyembahan dan Penghambaan kepada Allah
         a. Dalam bentuk ritual seperti sholat (pengertian sempit)
            Qs. Az-zaariyat : 56 -58

            “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
            menyembah-ku. Aku tidak mengharapkan rezeki sedikitpun dari mereka dan
            Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya
            Allah maha pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh”

            Qs. Al-Bayyinah : 5

            “Dan mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan
            memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus
            dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang
            demikian itulah agama yang lurus”




                                             50
                                  Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
         b. Dalam bentuk ketaatan dan ketundukan manusia kepada Hukum-hukum Allah
             (pengertian luas) dan bermanfaat
             Qs. Al-Anbiya‟ : 107

             “Dan tiadalah kami (Allah) mengutus kamu malainkan untuk menjadi rahmat
             bagi semesta alam”

             Beribadat, berbuat amar ma‟ruf nahi mungkar




      2. Penyembahan dan ketaatan untuk terwujudnya tatanan kehidupan yang baik,
         harmonis dan diredhoi oleh Allah SWT ( adil, ikhlas, sabar, bermanfaat )
      3. Memperjelas tugas dan status sebagai manusia



B. Fungsi Penciptaan Manusia

      1. Khalifatan fil ardhi (pemimpin) atau wakil Allah di bumi

        Qs. Al-Baqarah : 30

         “Ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada para Malaikat sesungguhnya Aku
         (Allah) hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”

      2. Menjalankan dan menegakan perintah dan larangan Allah, karena manusia adalah
         makhluk bidimesional (roh, jasad) dan pengetahuan, sedang makhluk lain bersifat
         unidimensional dan minus pengetahuan.

C. Tanggung Jawab Manusia

      1. Kepada dirinya
      2. Kepada keluarganya
      3. Kepada masyarakat dan lingkungan
      4. Kepada Allah
         Lihat pada materi Martabat Manusia (point 3)

D. Martabat Manusia

      a. Pengertian martabat


                                             51
                                  Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
       Harga diri / nilai diri
       Derjat yang paling tinggi / baik yang membedakannya dengan yang lain



b. Pembagian martabat manusia

   1. Martabat manusia secara umum

         Baik dan sempurna kejadiannya
          -    Memiliki jasmani yang lengkap dan teratur, kuat (Hard Ware)
          -    Memiliki Rohani yang utuh dan komplit (Soft Ware)
          -    Memiliki Nafsu, Akal dan Agama
          Qs. At-Tiin : 4 “ Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia itu sebaik-
          baiknya kejadian”

         Termulia atau terhormat
              Qs. Al-Isra : 70

              “Dan sesungguhnya telah Kami (Allah) muliakan anak-anak Adam
              (manusia) dan Kami (Allah) beri mereka kendaraan di darat dan di laut
              dan Kami (Allah) beri mereka rizki yang baik-baik dan kami (Allah)
              muliakan mereka (manusia) dari kebanyakan makhluk yang telah kami
              (Allah) ciptakan”

         Terpandai, terpintar
          -    Lulusnya Adam dari 3 perserta ujian yang diadakan oleh Allah Qs. Al-
               Baqarah : 31-33 (Adam, Malaikat dan Iblis)
          -    Lulusnya Nabi Sulaiman dalam ujian yang diikuti oleh Jin
               Qs. An-Naml : 38-40

         Terpercaya, pengemban amanah
          - Amanah dalam menyampaikan risalah Allah, gunung, bumi tidak
              sanggup menerimanya. Akhirnya dipercayakan tugas menyiarkan risalah
              Allah kepada manusia. Qs. Al-Ahdzab : 72

         Tersayang dan disayangi
          Allah berikan kepada manusia :


                                        52
                             Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
            -     Perlengkapan hidup yang komplit (hard ware, Soft ware dan piranti
                  kejiwaan lainnya)
            -     Diutusnya Rasul sebagai penuntun dan sumber informasi yang baik
            -     Dipercaya untuk menguasai dan mengelola alam dengan baik
            -     Diberi tempat disurga sesuai dengan amal ibadatnya



2. Martabat manusia secara khusus (orang yang beriman)
          a. Paling tinggi derjadnya diantara manusia
                Qs. Ali-Imran : 139 ”dan engkaulah manusia (manusia

            beriman) yang paling tinggi derjatnya jika engkau

            beriman”

          b. Paling mulia diantara manusia

            Qs. Al-Munafiquun :8 “Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi

                rasulnya dan bagi orang-orang mukmin”

         c. Martabat manusia menurut penelitian
            Manusia adalah makhluk tertinggi, ini menurut :

            1. Kaum Evolusionis : Manusia adalah tingkat evolusi yang tertinggi
            2. Karl Marx : Manusia adalah makhluk tertinggi dari makhluk lainnya.
            3. Prof. Dr. Alexis Carrel : Manusia menjadi ukuran segala sesuatu yang
                  ada.
         d. Penyebab merosotnya, rusaknya martabat manusia
            1. Menurut para pakar (umum)
             Prof. Dr. Alexis Carrel (sarjana AS, pemenang nobel th 1948)
                  Kemajuan ilmu dan teknologi mendorong manusia kepada kebiadaban

             T.S. Elliot (penyair terkenal abad moderen)
                  Semua ilmu pengetahuan membuat kita semakin dekat kepada
                  kebodohan dan makin dekat dengan kematian bukan makin dekat
                  kepada Tuhan Yang Maha Kuasa

             Liwis Mumford

                                         53
                              Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
          Kebudayaan barat yang terpampangdihadapan kita sekarang adalah
          busuk




       Z.A Syuib
          Manusia rusak karena nafsu bahinuriyah nya (kebinatangan) dan nafsu
          sabuwiyah     nya    (kepuasan)      saja,   dan   hanya   sedikit   sekali
          mempertahankan nafsu insaniyah nya (nafsu yang baik)

       Huizina (Belanda)
          Jatuh atau rusaknya martabat manusia karena manusia telah
          meninggalkan agama




2. Menurut Al-Quran

 Manusia harus memperbaiki dan meningkatkan hubungan nya dengan Allah
   dan manusia (Vertikal Oriented Horizontal oriented)
   Qs. Ali-Imran : 112 “Ditimpakan kehinaan kepada manusia dimana saja
   mereka berada, kecuali bila mereka mempunyai hubungan baik dengan Allah
   dan dengan manusia”

 Selalu berbuat baik, beriman dan mempertahankan kebenaran
   Qs. Al-„Ashr : 1-3

   “ Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
   kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan saling menasehati
   dalam mantaati kebenaran dan mengedepankan kesabaran”




3. Tanggung Jawab Manusia

   a. Kepada dirinya

   - Menjaga dan merawat diri dan berakhlah mahmudah

   - Mempejuangkan kehidupan dunia dan akhirat dengan baik, optimal


                                   54
                        Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
- Meningkatkan Iman, Ibadat dan amal saleh




b. Kepada keluarga

 Menciptakan keluarga sakinah, mawadah, warahmah dan menunaikan antara
 hak dan kewajiban oleh masing-masing individu dalam keluarga Qs. Ar-
 Rum : 21

c. Kepada masayarakat

- Memelihara hubungan harmonis dalam bermasyarakat,

 persatuan dan Kesatuan. QS. Al-Hujurat : 10-13

- Tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan

 Qs. Al-Maidah : 2

- Empati kepada kelompok the have not (dhua‟fa)

 Qs. At-Taubah : 60

d. Kepada lingkungan (alam)

Memanfaatkan dan melestarikan SDA dengan baik tepat guna, tepat sasaran
dan tepat waktu. Qs. Al-Anbiya‟ : 107




e. Kepada Allah

- Beibadat (menyembah, meminta tolong kepada Allag)

 Qs. Al-Fatihah

- Melaksanakan ibadat Mahdhoh dan Ibadat Chairu Mahdoh

 Ibadat. Qashiroh (untuk pribadi) maupun Muta‟adiyah (sosial)

                                55
                     Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
        J.F. Dullar (AS)
            Merosotnya martabat manusia karena manusia tidak ada Iman




        Larol Montgoineri (Inggiris)
            Rusaknya martabat manusia karena manusia tidak tahu lagi akan hakekat
            agama, atau tidak lagi melaksanakan hakekat Agama




2. Menurut Al-Quran

  Qs. At-Tiin : 5 “Kemudian Kami jatuhkan dia (manusia) kederajat yang serendah-
   rendahnya “ anrata lain :

  a.   Karena ingkar kepada kebenaran Allah
       Qs. Al-Anfal : 22 “Sesungguhnya makhluk yang seburukburuknya pada sisi

       Allah ialah orang-orang yang tidak mau memikirkan dan memahami

       kebenaran”

  b.   Karena menuruti kehendak nafsu
       QS. Al-Mukminun : 71 “Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu

       mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini dan semua yang ada di dalamnya”

  c.   Karena menuruti rayuan syaitan
       Qs. Al-Maidah : 91 “ Kehendak syaitan itu hanya agar kamu satu sama lain

       bermusuhan dan bermarahan”




  d.   Karena mengikuti pendapat, aliran , kepercataan, faham yang sesat Qs. Al-
       Am‟am :116 “Dan jika kamu menuruti orang-orang yang dimuka bumi
       niscaya mereka akan menyesatkan mu dari jalan Allah. Mereka tidak lain
       hanyalah mengikuti persangkaan belaka dan juga mereka itu mendustakan


                                       56
                            Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
              kebenaran Allah”




         e.   Cara mempertahankan martabat manusia

              1. Menurut Arnold Tombee (inggiris)

                 - Manusia harus kembali kepada Agama yang benar dan peradaban Islam

               - Di dunia ini ada 3 macam peradadan : Eropa (Yunani, Romawi, Cina, dan
                   Islam
               - Peradaban Eropa kurun waktu 50 tahun sudah 2 kali membakar dunia
               - Peradaban cina tidak mampu membenahi negaranya apalagi untuk
                   membenahi dunia
               - Peradaban Islam satu-satunya yang mampu menyelamatkan dunia sebab
                   masih asli dan kuat


2. Menurut Al-Quran
   Manusia harus memperbaiki dan meningkatkan hubungan nya dengan Allah dan
      manusia (Vertikal Oriented Horizontal oriented)
      Qs. Ali-Imran : 112 “Ditimpakan kehinaan kepada manusia dimana saja mereka
      berada, kecuali bila mereka mempunyai hubungan baik dengan Allah dan dengan
      manusia”
     Selalu berbuat baik, beriman dan mempertahankan kebenaran
      Qs. Al-„Ashr : 1-3
      “ Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali
      orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan saling menasehati dalam mantaati
      kebenaran dan mengedepankan kesabaran”


3. Tanggung Jawab Manusia
      a. Kepada dirinya
              - Menjaga dan merawat diri dan berakhlah mahmudah
              - Mempejuangkan kehidupan dunia dan akhirat dengan baik, optimal
              - Meningkatkan Iman, Ibadat dan amal saleh

                                             57
                                  Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
b. Kepada keluarga
        Menciptakan keluarga sakinah, mawadah, warahmah dan menunaikan antara
        hak dan kewajiban oleh masing-masing individu dalam keluarga Qs. Ar-
        Rum : 21


c. Kepada masayarakat
      - Memelihara hubungan harmonis dalam bermasyarakat,
        persatuan dan Kesatuan. QS. Al-Hujurat : 10-13
      - Tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan
        Qs. Al-Maidah : 2
      - Empati kepada kelompok the have not (dhua‟fa)
        Qs. At-Taubah : 60


d. Kepada lingkungan (alam)
      Memanfaatkan dan melestarikan SDA dengan baik tepat guna, tepat sasaran
      dan tepat waktu. Qs. Al-Anbiya‟ : 107


e. Kepada Allah
      - Beibadat (menyembah, meminta tolong kepada Allag)
        Qs. Al-Fatihah
      - Melaksanakan ibadat Mahdhoh dan Ibadat Chairu Mahdoh
        Ibadat. Qashiroh (untuk pribadi) maupun Muta‟adiyah (sosial)




                                       58
                            Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
                        PERTEMUAN KE TUJUH
                                      HUKUM



A. Kesadaran Taat Hukum
B. Fungsi Profetik Agama dalam Hukum



A. Kesadaran Taat Hukum

     1. Pengertian Taat Hukum

           Umum
        -   Patuh terhadap aturan perundang-undangan, ketetapan dari pemerintah,
            pemimpin yang dianggap berlaku oleh untuk orang banyak.
        -   Mematuhi    aturan perundang-undangan untuk        menciptakan kehidupan
            berbangsa bernegara dan bermasyarakat yang berkeadilan.
           Islam
            Melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan yang telah ditetapkan oleh
            Al-Quran dan hadits serta Ijma‟ Ulama dengan sabar dan ikhlas.

     2. Asas Hukum

        a. Pengertian Asas Hukum

               Kebenaran yang dipergunakan sebagai tumpuan berfikir dan berpendapat.
               Kebenaran itu bertujuan dalam penegakan dan pelaksanaan hukum.
        b. Asas Hukum Secara Umum

               Asa kepastian hukum


                                           59
                                Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
            Tidak ada satu perbuatan dapat dihukum kecuali atas kekuatan hukum dan
            perundang-undangan yang berlaku untuk perbuatan itu.




           Asas keadilan
            Berlaku adil terhadap semua orang tanpa memandang status sosial, status
            ekonomi, ras, keyakinan, agama dan sebagainya.

           Asas kemanfaatan
            Mempertimbangkan asas kemanfaatan bagi pelaku dan bagi kepentingan
            negara dan kelangsungan umat manusia.




c. Asas Hukum Secara Islam
          Asa kepastian hukum
           Tidak ada satu perbuatan dapat dihukum kecuali atas kekuatan hukum dan
           perundang-undangan yang berlaku untuk perbuatan itu.
           Qs. Bani Israil : 15 dan Qs. Al-Maidah : 95
          Asa keadilan
           Berlaku adil terhadap semua orang tanpa memandang status sosial, status
           ekonomi, ras, keyakinan, agama dan sebagainya.
           Qs. Shad : 26
           “Allah memerintahkan para penguasa, penegak hukum sebagai khalifah di
           bumi ini menegakan dan menjalankan hukum sabaik-baiknya tanpa
           memandang status sosial, status ekonomi dan atribut lainnya”.
           Qs. An-Nisa‟ : 135 dan Qs. Al-Maidah : 8
           Intinya : “Keadilan adalah asas titik tolak, proses dan sasaran hukum dalam
           Islam”


           “Siapa yang tidak menetapkan sesuatu dengan hukum yang telah ditetapkan
           Allah itulah orang-orang yang aniaya”
          Asa kemanfaatan


                                        60
                             Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
               Mempertimbangkan asas kemanfaatan bagi pelaku dan bagi kepentingan
               negara dan kelangsungan umat manusia.
               Qs. Al-Baqarah : 178
               “Manfaat bagi kepentingan palaku dan kepentingan masyarakatnya”.




              Asa kejujuran dan kesukarelaan
               QS. Al-Mudatsir : 38
               “Setip individu terikat dengan apa yang ia kerjakan dan setiap individu tidak
               akan memikul dosa orang (individu) lain”.



B. Profetik Agama Dalam Taat Hukum


  a. Pengertian Profetik Agama Dalam Taat Hukum
        1. Hal-hal yang digambarkan, dan dinyatakan oleh Agama memalui yang
              dicontohkan Nabi Muhammad saw.
        2. Agama yang diajarkan atau dicontohkan oleh para Nabi/ Rasulullah
        3. Contoh atau tauladan yang telah digariskan / dicontohkan Rasulullah saw
  b. Fungsi Profetik Agama
        1. Dalam Mengatasi Krisis Kebudayaan dan Kemanusiaan
                  a.   Menjelaskan dan mengubah fenomena-fenomena sosial masyarakat
                       yang salah atau kurang baik seperti :
                         Dalam Deideologisasi yang tidak sehat dan merugikan tatanan
                            masyarakat (Politik atau paham yang tidak sehat)
                         Dalam keamanan dan kebebasan yang nyaris menabrak rambu-
                            rambu hukum dan norma serta nilai yang ada
                         Dalam Reduksionisme (penurunan kwalitas ilmu pengetahuan)
                            Ijazah ilegal dan aspal
                         Dalam Materialisme (kebendaan), pamer, glamour, poya-poya
                            dsb
                         Dalam Ekologi (lingkungan) ketidakseimbangan kehidupan
                            dalam masyarakat (Imbalance), baik materi dan non materi,
                            baik lahir maupun bathin

                                             61
                                  Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
                  Dalam Kultural (kebudayaan, peradaban) seperti Globalisasi
                     (Ends of Pluralisme)




   Intinya :
   1) Dalam berpolitik, seperti :
              Enthnocenterisme = Pemerintahan ditangan satu orang
   2) Dalam Materialisme, seperti :
              Ekonomi kapitalisme
   3) Dalam Ekologi, seperti :
              Materialisme, Sekularisme (pemisahan antara pendidikan umum dan
              pendidikan moral, memisahkan pemerintahan negara dengan Agama).
              Agama terasing dari persoalan kehidupan manusia
   4) Dalam Reduksionisme, seperti :
              Penurunan nilai, akhlak, kebenaran, kwalitas ilmu pengetahuan
   5) Dalam Kultural atau Budaya, seperti :
              Hedonisme (hanya memburu dan mengejar kesenangan dunia)


2. Dalam Mengatasi / Merevitalisasi Keberagaman Dalam Menjalankan Agama
   Dengan Back to Qur‟an and Sunnah
         a.     Menjadikan Al-Quran dan Sunnah
                Sebagai sumber dan payung hukum dalam memahami dan
                   mengamalkan ajaran Islam
                Sebagai sumber rujukan dalam menyelesaikan dan memutuskan
                   suatu hukum -> QS.Al-Maidah : 48 – 49 QS. An-Nisa‟ ; 59 dsb
         b.     Permasalahan yang ada bila tidak didapatkan dalam QS boleh
                melakukan Istimbat hukum dengan tetap merujuk kepada QS.
                QS.Isra‟ : 15 dan Taqrir yang dikeluarkan Rasulullah saw.
         c.     Tidak menjadikan paham, mazhab, aliran sebagai keputusan final
                yang Undervartable. Paham, aliran, mazhab tidak termasuk Tasyri‟
                hanya bayan liat-tasyri‟


                                     62
                          Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
              d.   Memperbolehkan Ikhtilaf, namun hanya pada masalah Ijtihadiyah
              e.   Tidak memandang hal-hal yang bersifat keduniaan yang tidak
                   ditentukan oleh QS, namun tetap mengacu pada sifat Basyariah
                   Rasulullah sebagai syari‟at -> “antum a‟lamubi umuri dunyakum”


              f.   Suatu hukum dari Ijtihad bersifat debatable (yang dapat dibantah,
                   debat) bukan merupakan keputusan final


c. Tujuan Profetik Agama Dalam Taat Hukum
      1. Mendorong seseorang (manusia) berperilaku dan berbuat sesuai dengan aturan
         hukum dan perundang-undangan yang sah serta sesuai QS, sehingga tercipta
         suatu kondisi masyarakat yang sadar dan taat hukum.


      2. Mendorong seseorang berperilaku yang baik dengan mentauladani pribadi
         Rasulullah, agar manusia selamat dan bahagia dunia dan akhirat (antara
         manusia dengan manusia, antara manusia dengan Allah serta dengan alam
         lingkungan).


      3. Mengeluarkan manusia dari miopik (cara pandang yang sempit) dan
         Primordial dan Formalisme sempit yang akan melahirkan berbagai konflik
         sosial, politik bahkan menjurus kepada perpecahan dan perperangan




                                       63
                            Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
                            PERTEMUAN KE DELAPAN

                             Sumber Hukum Dalam Islam


1. Al - Quran
      a. Sumber hukum yang pertama dan utama (Al-Quranul Karim)
               Firman Allah yang mutlak benar, mutlak pasti, mutlak abadi
               Diturunkan secara berangsur-angsur baik di Mekkah maupun di Madinah
               Memiliki ayat-ayat Muhkamat dan ayat-ayat Mutasyabihat
               Dirutunkan dalam bahasa arab terdiri dari 6.236 ayat, 77.934 kata dan 323.621
                huruf


      b. Nama lain dari Al-Quran
               Al-Furqon               = Penjelas antara yang hak dan yang batil        dan
                lainnya
               Al-Kitab                = Ditulis dan dicatat
               Adz-Dzikru              = Peringatan baik secra Afirmasi maupun Warning
               At-Tanzil               = Tidak bercampur dengan pemikiran manusia
               Al-Quran                = Bacaan


      c. Sifat Al-Quran
               Nur                          = Pencerahan / Pencahayaan
               Mubin                        = Penjelas / Penjelasan
               Huda                         = Petunjuk
               Sifa‟                        = Obat Rohani / Penyejuk
               Rahmah                       = Kasih Sayang Allah


                                              64
                                   Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
      Mau‟izhoh                      = Masihat yang berubtun dan bermutu, tepat
                                        guna
      Basyir                         = Kabar gembira agar manusia berpacu dengan
                                        keberhasilan
      Nazhir                         = Peringatan
      Mubarrok                       = Pemberi berkat




d. Kebenaran isi Al-Quran
      Tentang akidah atau keimanan
      Tentang syariat atau hukum
      Akhlak dan moral atau etika
      Ilmu pengetahuan
      Kisah atau sejarah
      Informasi tentang alam gaib
      Janji baik dan buruk (wa‟ad wa‟id)
      Berisi terapi dan hidayah


e. Keistimewaan Al-Quran dari kitab lain
      Unggul dari sudut bahasa dan sastra
      Unggul dalam fakta sejarah, budaya umat manusia
      Unggul dari segi kebenaran informasi (mutlak, pasti dan fakta)
      Sanggup menjelaskan peristiwa yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan
       yang akan terjadi
      Dapat dijadikan referensi dalam keilmuan dunia dan untuk akhirat
      Kitab yang paling banyak dan dihafal oleh manusia


f. Komitmen seorang muslim terhadap Al-Quran
      Meyakini, mengimani Al-Quran adalah mutlak kalamullah
      Selalu membacanya
      Mempelajari dan menghayati isinya
      Mengamalkan kandungan isi Al-Quran




                                       65
                            Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
      g. Otoritas Al-Quran sebagai sumber hukum dalam Islam
               Al-Quran bukanlah tulisan hukum, namun di dalam Al-Quran terkandung ±
                500 perintah Allah yang ada kaitannya dengan hukum.
               Kasifikasi aturan terkait dengan hukum :
                1. The concise injunctions
                    Perintah Allah dalam ayat Al-Quran namun tidak ditemui penjelasan
                    tentang tata cara pelaksanaannya (shalat, puasa, zakat)
                2. The concise and detailed injuctions
                    Perintah Allah sangat jelas tertulis dalam Al-Quran, sedangkan penjelasan
                    ayat-ayat tersebut diperoleh dari Hadits atau sumber lainnya (aturan
                    mengenai hubungan muslim dengan non muslim)


               3. The detailed injunctions
                  Perintah Allah yang sangat jelas dalam Al-Quran dan tidak diperlukan lagi
                  suatu penjelasan tambahan (hukum hadd / hudud = hukuman)


               4. Fundamental principles of guidance
                  Prinsi-prinsip yang ada penjelasan pasti, rinci (clear cut) maka untuk
                  menentukan hukum atas hal-hal tersebut diambilkan dari proses Ijtihad


               Otoritas Al-Quran sebagai sumber hukum
                1. Sebagai sumber hukum yang pertama dan utama (kaedah hukum yang
                    fundamental)
                2. Sebagai payung hukum dalam amarma‟ruf nahi mungkar
                3. Sebagai sumber pengembangan ilmu pengetahuan disegala bidang
                    (resource of theoritical construction) valid dan universal
                4. Sebagai pedoman dan pegangan hidup bagi seorang muslim dalam
                    mewujudkan keselamatan hidup di dunia dan di akhirat


2. Hadits atau Sunnah sumber hukum yang kedua dalam Islam setelah Al-
  Quran.
      a. Pengertian Hadits atau sunnah
           Segala perkataan, perbuatan dan sikap dari Rasulullah


                                                66
                                     Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
b. Pembagian Hadits / sunnah
         Perkatan Nabi (Sunnah Qauliyah )
         Perbuatan Nabi ( Sunnah Fi‟liyah )
         Sikap Nabi ( Sunnah Taqririyah/Sunnah Sukutiyah )
c. Perkataan atau penyebutan sunnah
         Sunnah dalam istilah sunnatullah
          Hukum atau ketentuan Allah mengenai alam semesta dalam dunia ilmu
          pengetahuan disebut hukum alam (natural law)
         Sunnah dalam istilah Sunnatur Rasul
          Perkataan, perbuatan dan sikap Nabi Muhammad sebagai rasul yang
          menjadi sumber hukum dalam Islam
         Sunnah atau sunnat hubungannya dengan lima hukum (al-ahkam
          alkhamsah) berupa anjuran. Dikerjakan berpahala ditinggalkan tidak
          berdosa
         Sunnah dalam ahlus sunnah wal jama‟ah
          Golongan umat Islam yang berpegang teguh kepada Sunnah Rasul
          (Muhammad)
         Sunnah dalam beramal atau beribadat
          Beribadat, beramal sesuai dengan yang dicontohkan Nabi


d. As-Sunnahyang dikumpulkan dan dikodifikasikan disebut Hadits
         Hadits dibagi kepada 3 bagian :
          - Hadits Mutawatir : sumbernya dari Rasulullah dan di
                                    riwayatkan oleh beberapa sahabat
          - Hadits Masyhur : sumbernya dari Rasulullah dan di
                                    riwayatkan oleh beberapa sahabat
          - Hadits Ahad         :      sumbernya dari Rasulullah dan di
                                    riwayatkan oleh beberapa sahabat
         Integritas dan kwalitas peran (sahabat yang meriwayatkan) ada 3
          klasifikasi yaitu :
          - Hadits Sahih : diriwayatkan oleh perawi yang adil, jujur, benar dan tidak
                                      pernah melakukan perbuatan terlarang, teliti, cermat



                                          67
                            Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
                   - Hadits Hasan :          hadits yang di riwayatkan oleh   perawi yang adil,
                                             jujur tetapi kurang valid pemeliharaannya
                   - Hadits Da‟if/Hadits lemah            : di riwayatkan oleh pewari yang tidak
                                             memiliki perawi pada Hadits Sahih dan Hasan




                  Kelengkapan sebuah Hadits yang baik
                   - Ada sanad /isnad, rangkaian dan runtutan orang yang merawikan secara
                       turun temurun atau dari generasi kegenerasi, dari orang per orang dalam
                       bentuk lisan.
                   - Matan atau Matin. Materi atau isi Hadits


       e. Otoritas Sunnah dan Hadits
                  Sebagai alat penafsiran yang komplementer terhadap Al-Quran
                  Dengan mempelajari Hadits atau Sunnah seorang muslim dapat mengenal
                   isi Al-Quran dan melakukan ibadat
                  Sebagai sumber pengetahuan yang monumental tentang Islam
                  Sebagai pegangan hidup bagi seorang muslim




3. Ijtihad atau Ar-ra‟yu (akal fikiran) sebagai sumber hukum yang 3 dalam
  Islam setelah Al-Quran dan Sunnah.
       a. Pengertian Ijtihad
           Daya upaya akal dalam melahirkan hukum yang berdasarkan kepada Al-Quran
           dan Sunnah atau Hadits dengan syarat : yang ada (Qs.An-Nisa‟ : 59)


       b. Metoda Ijtihad
           -   Ijma‟
               Kesesuaian pendapat para ahli mengenai suatu masalah pada suatu tempat di
               suatu masa (poligami Qs. An-Nisa‟ : 3).
           -   Qiyas




                                                  68
                                       Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
       Menyamakan hukum sesuatu hal yang ketentuannya tidak terdapat dalam Al-
       Quran dan Sunnah, tetapi dilihat dari sudut hukumnya atau membandingkan
       sesuatu hal dengan yang lain.
   -   Istidhal
       Menarik kesimpulan dari adat istiadat, hukum agama yang belum dihapus oleh
       Syariat Islam.
   -   Masalih al-Mursalah
       Hukum guna kemaslahatan masyarakat atau kepentingan umum yang
       ketentuannya tidak terdapat pada Al-Quran dan Sunnah atau Hadits.
   -   Istihsan
       Menentukan hukum yang tepat menurut suatu keadaan (pencabutan hak milik
       seorang atas tanahnya untuk pelebaran jalan).
   -   Istisab
       Melaksanakan hukum yang ada sebelum ada hukum yang baru untuk
       membatalkannya (kawin secara sah kemudian meninggalkannya tanpa proses
       perceraian).
   -   Urf (Adat Istiadat)
       Kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat yang tidak bertentangan dengan
       Islam, hanya berlaku pada muamalah (kehidupan sosial)
       (melamar wanita pakai tanda sebagai pengikat, mahar tunai atau utang atas
       kesepakatan kedua belah pihak).


c. Dilihat dari jumlah pelakunya
      Ijtihad fardi (individu)
       Ijtihad yang dilakukan oleh 1 orang Mujtahid


      Ijtihad Jama‟i (kolektif)
       Ijtihad yang dilakukan oleh banyak ahli tentang persoalan hukum tertentu


d. Objek / lapangan Ijtihad
      Hanya berlaku pada hal hukum yang zhanni
      Ketentuan hukumnya tidak ada dalam Al-Quran dan hadits
      Ada masalah baru yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat


                                         69
                              Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
e. Syarat-syarat berijtihad (Mujtahid)
      Memahami Al-Quran dan Hadits serta paham bahasa arab
      Mengetahui isi dan sistem Al-Quran dan ilmu yang berkaitan dengan Al-
       Quran
      Mengetahui Hadits-hadits hukum dan ilmu Hadits yang berkaitan dengan
       pembentukan hukum
      Menguasai sumber hukum Islam dan cara menarik garis hukum dari sumber
       hukum Islam
      Mengetahui, menguasai kaedah-kaedah fikih
      Mengetahui rahasia dan tujuan hukum Islam
      Jujur dan Ikhlas
      Menguasai ilmu sosial dan ilmu lainnya
      Dilaksanakan secara kolektif


f. Otoritas Ijtihad sebagai sumber hukum
      Sebagai komplemen hukum dalam Islam
      Berdasar kepada Al-Quran dan Hadits
      Untuk kemaslahatan umum
      Hanya pada kasus-kasus tertentu (pengembangan)
      Kondisional masyarakat




                                         70
                            Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
                        PERTEMUAN KESEMBILAN
                              MORAL DAN AKHLAK



A. Moral
B. Akhlak
C. Akhlak Mulia Melahirkan Individu Berkualitas


A. Moral
   a. Pengertian Moral
            Bahasa Latin = Mores, jamak dari kata mos = Adat kebiasaan
            Bahasa Indonesia = Ajaran baik, buruk yang berlaku dan diterima umum yang
              menyangkut perbuatan, sikap dan kewajiban.
            Qalbu atau Fu‟ad = Aktifitas manusia dengan ketentuan baik atau buruk, benar
              atau salah.
           Jadi Moral = Tingkah laku yang baik dan buruk, perbuatan atau tingkah laku baik
           dan buruk.


   b. Kesadaran Moral
      Erat kaitannya dengan hati nurani = conscience, gewissen
      Moralitas = kualitas perbuatan manusia
      1. Moralitas Instrinsik.
           Menentukan perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk berdasarkan
           hakekatnya, terlepas dari perintah atau larangan hukum positif (gotong royong,
           tidak boleh merugikan orang lain, berbuat yang terbaik).


                                             71
                                  Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
   2. Moralitas Ekstrinsik
       Perbuatan itu baik atau buruk, benar atau salah sesuai dengan larangan perintah
       atau hukum positif (larangan menggugurkan kandungan).


c. Pembagian Moral
       1. Moral murni = Hati nurani yang terdapat pada setiap manusia, suatu
          pengejawantahan dari pancaran Illahi.
       2. Moral terapan = Moral yang didapat dari filsafat, adat dan agama yang
         mempengaruhi perilaku manusia.


d. Jenis Moral ( Tinjauan Ensiklopedi Filsafat )
       1. Moral Realism = Moral berdasarkan kondisi yang nyata atau realitas
       2. Moral Luck = Moral yang dipengaruhi oleh faktor keberuntungan
       3. Moral Relativitism = Moral yang bersifat relatif
       4. Moral Rasional = Moral berdasarkan akal sehat atau rasionalitas
       5. Moral Scepticim = Moral yang tidak ada dasar penilaian logika/ragu-ragu
       6. Moral Personhood = Moral yang berdasarkan pertimbangan hak dan
         Kewajiban


e. Ruang Lingkup Moral
       1. Bersifat kemanusiaan (hablumminannas)
       2. Temporer / Aksiden = terbatas atau dibatasi oleh ruang, waktu dan
          tempat, suasana.
       3. Penilaiannya hanya dari sudut akal atau perasaan
   Berarti :
       Moral adalah suatu nilai atau sistem tatanan hidup yang berlaku atau diberlakukan
       dalam    masyarakat   dalam     mewujudkan       ketentraman,   keharmonisan   dan
       kebahagiaan.


f. Agama Sumber Moral
       1. Ajaran agama sangat relevan dengan fitrah manusia (kemanusiaan)
       2. Ajaran agama sangat mampu menciptakan Nation Character Building
         (semangat membangun karakter bangsa)  lihat konsep Emile Durkheim


                                          72
                               Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
            1925 :
             Karena agama merupakan pemimpin, rambu-rambu dalam setiap perilaku
             Karena agama merupakan koridor hukum yang lurus dan jelas
             Agama bukan sekedar mandor moral akan tetapi juga penasehat moral


  g. Persoalan kenapa Agama belum menjadi inspirasi moral dinegeri kita ini ? dan kenapa
     moral belum menjadi pemimpin bagi individu para pemimpin (KKN, PAPG).
     Kenapa Agama belum terdapat hubungan positif dengan moral, banyak orang pintar,
     banyak orang alim akan tetapi perilakunya sangat Demoralis.
     Jawab :
         1. Agama tidak diajarkan secara benar dan baik serta tepat
         2. Agama belum dijadikan kompas, garda oleh individu dalam berperilaku
         3. Dominannya pengaruh kekuasaan, materi pada diri seseorang




B. Akhlak
  a. Pengertian Akhlak
     1. Linguistic (Kebahasaan)
         Akhlak, Yukhliku, Ikhlaqun = tingkah laku, tabiat, kebiasaan, agama
     2. Terminologik (Per-istilahan)
         a) Ibnu Maskawih
             Sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan
             perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
         b) Imam Al-Ghazali. Terkenal sebagai Hujjatul Islam (Pembela Islam)
             Sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan
             dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
         c) Abdul Karim Zaidan
             Nilai dan sifat yang tertanam dalam jiwa, sehingga seseorang dapat menilai
             perbuatan baik dan buruk, kemudian memilih melakukan atau menolak,
             meninggalkan perbuatan itu.
         d) Ahmad Amin
             Membiasakan kehendak




                                           73
                                Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
b. Lima Ciri Yang Ada Dalam Akhlak
   1. Perbuatan itu tertanam kuat / sudah mendarah daging dalam diri seseorang (ciri
      khas kepribadian seseorang).
   2. Perbuatan itu dilakukan dengan mudah (kebiasaan) tanpa pertimbangan
      pemikiran, bukan berarti gila, tidak sadar, tidur dan sebagainya.
   3. Perbuatan itu timbul dari dalam diri orang yang mengerjakan tanpa ada paksaan,
      tekanan dari eksternalnya (kemauan dan keputusan pelaku).
   4. Perbuatan itu dilakukan dengan sungguh bukan pura-pura, bukan main-main
      bukan pula sandiwara atau dalegan.
   5. Perbuatan itu dilakukan secara ikhlas karena Allah. Tidak ingin pujian, sanjungan,
      penghargaan, balasan. (ini khusus Akhlak Mahmudah).


c. Perbedaan dan Persamaan Moral dan Akhlak
   1. Perbedaan Moral dan Akhlak :
      a) Konsep baik dan buruk menurut Moral bersumber kepada akal dan
          kebudayaan serta kebiasaan masyarakat.
         Konsep baik dan buruk menurut Akhlak bersumber kepada wahyu dan Sunnah.
      b) Standar baik dan buruk bagi Moral berdasarkan kesepakatan, kelaziman yang
          dibuat oleh masing-masing masyarakat, sedang Akhlak standar baik buruknya
          adalah Al-Quran dan Sunnah.
      c) Ranah Moral itu bersifat lokal dan temporal (sempit), sedangkan Ranah
          Akhlak itu bersifat abadi dan universal (luas).
      d) Moral merupakan cerminan pribadi yang labil dan sulit untuk dipercayai dan
          dipertanggungjawabkan,      sedangkan       Akhlak      permanen    dan    dapat
          dipertanggungjawabkan (objektivitas dan subjektivitasnya selaras).
      e) Moral      pertanggungjawabannya      kepada       manusia,   sedangkan    Akhlak
          pertanggungjawabannya kepada Allah.
      f) Moral hanya bersentuhan dengan baik dan buruk, tetapi Akhlak tidak saja
          bersentuhan dengan baik dan buruk juga bersentuhan dengan halal dan haram,
          bathil.
          QS. Al-„Araf : 96  “Siksaan Allah datang kepada manusia dalam bebagai
          bentuk, disebabkan oleh perbuatan yang tidak baik dari manusia”.




                                         74
                              Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
       2. Persamaan Moral Dan Akhlak Dari Fungsi Dan Peranannya
              a) Sama-sama menentukan hukum atau nilai dari suatu perbuatan manusia
                  baik atau buruk.
              b) Sama-sama menghendaki terwujudnya kehidupan inter dan antar individu
                  (masyarakat) yang baik, teratur, damai sejahtera lahir bathin.




d. Intisari Uraian Akhlak, Etika, Moral
  1. Akhlak
     Sikap yang melekat pada diri seseorang secara spontan diwujudkan dalam tingkah laku
     atau perbuatan.
  2. Etika
     Sikap seseorang terhadap nilai dalam tataran konsep.
  3. Moral
     Prilaku seseorang yang sudah dilakukan (tataran terapan), susila.




e. Intisari Perbuatan Manusia
  1. Perbuatan yang bersifat Tempramental
     Reaksi seseorang terhadap berbagai rangsangan yang datang dari dalam diri manusia
     atau yang datang dari luar dirinya/lingkungan sangat terkait dengan biopsikologi
     seseorang. Tempramen sangat sulit dirobah/dihilangkan dari diri seseorang.


  2. Perbuatan yang bersumber kepada karakter / kepribadian
     Tingkah laku seseorang baik atau buruknya ditentukan oleh tolak ukuran, aturan
      kaedah yang ada dalam masyarakat. Karakter seseorang terbentuk melalui pengalaman
      hidup seseorang, maka karakter dapat dirubah.


f. Agama Sebagai Sumber Akhlak
   1. Sangat relevan dengan akal dan fitrah manusia.
   2. Banyak mengandung nila,i norma hukum, adat, kondisi masyarakat.
   3. Sifatnya permanen dan universal  Cocok dengan pidato Rasul
      waktu dilantik oleh Allah.


                                                75
                                     Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
g. Ruang Lingkup Akhlak
   1. Menurut Muh. Abdullah Daraz (kitab Dustur Al-Akhlak Fi‟al-Islam)
          a) Al-Akhlak Al Fardiyah (Akhlak Pribadi)
             Sesuatu yang diperintahkan, dilarang, diperbolehkan dan dalam keadaan
             darurat.


          b) Al-Akhlak Al-Usairiyah (Akhlak berkeluarga)
             Hak dan kewajiban timbal balik antara orang tua dengan anak, suami istri dan
             karib kerabat.


          c) Al-Akhlak Al-Ijtima‟iyyah (Akhlak bermasyarakat)
             Sesuatu yang diperintahkan, dilarang dan kaedah-kaedah adab.


          d) A-Akhlak Ad-Daulah (Akhlak bernegara)
             Hak dan kewajiban antara pemimpin dan rakyat secara timbak balik.


          e) Al-Akhlak Ad-Diniyyah (Akhlak beragama)
             Tugas dan kewajiban manusia terhadap Allah SWT.




      2. Menurut Jumhur Ulama
        a). Hablumminallah (Vertical Oriented) yang bersifat Prima Causa
              Mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya secara
                 ikhlas, sabar, tawadhu‟, tawakal.
              Terpelihara dari kejahatan, kesalahan.
        b). Hablumminannas (Horizontal Oriented)
                Mengembangkan gaya hidup yang serasi, selaras, seimbang dengan
                   norma hukum, adat, susila dan norma Agama.
                Memberikan kontribusi yang baik kepada masyarakat.


        c). Hubungan manusia dengan alam / lingkungan




                                            76
                                 Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
                  Memelihara,       memanfaatkan         lingkungan   untuk     kemakmuran,
                    kenyamanan, keamanan, keindahan.
                  Mendayagunakan alam lingkungan secara ramah, terencana, terukur
                    sehingga tidak menimbulkan bencana.




C. Akhlak Mulia Melahirkan Individu Berkualitas
  a. Pengertian Akhlak Mahmudah (yang baik)
    1. Pengertian Akhlak Mahmudah (yang baik)
        “Perbuatan spontan yang baik menurut akal dan Agama Islam”
        “ Perbuatan yang dilakukan berdasarkan Akidah dan Syariat”
        Jadi :
        a) Akhlak yang baik merupakan cerminan dari kejiwaan dan keimanan seseorang
            yang ditampilkan dalam prilaku nyata sehari-hari.
        b) Akhlak yang baik pada hakekatnya adalah Akumulasi Akidah dan Syariat yang
            menyatu secara utuh dalam diri dan perbuatan seseorang


    2. Ciri-Ciri Akhlak Yang Mahmudah (yang baik)
        a. Akhlak kepada Allah SWT
                 1. Beribadah kepada Allah dengan ikhlas, sadar, sabar, dan penuh disiplin.
                 2. Berzikir kepada Allah dalam berbagai sikon baik zikir Qolbi, zikir lisan,
                    zikir ilmu, zikir perbuatan dan sikap.
                 3. Berdoa kepada Allah dalam setiap waktu dengan doa yang baik, yang
                   berkaitan dengan tugas hidup dan aktivitas hidup muslim, doa dapat
                   menembus kekuatan akal manusia.
                 4. Tawakal kepada Allah (berserah diri kepada dan karena Allah).
                   Menunggu hasil dari pekerjaan dan aktifitas atau mentaati, rela menerima
                   akibat, ganjaran dari suatu keadaan.
                 5. Tawadhuk (rendah hati) dihadapan Allah. Tidak AIDS dan IFH


        b. Akhlak kepada diri sendiri

                                              77
                                   Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
1) Sabar
    Tabah menghadapi dan menerima hal-hal yang tidak diinginkan dan
      yang diinginkan karena Allah.
    Sabar dalam mewujudkan tekad yang baik / tinggi.
      Sabar ada 3 macam :
      1. Sabar dalam menerima musibah dalam bentuk ujian,
           teguran dan azab
      2. Sabar dalam beribadah dan ketaatan serta aturan
      3. Sabar dalam menjauhi maksiat dan godaan


   Antara bencana dengan kadar Iman seseorang tersimpan :
    Musibah atau mencana diturunkan Allah kepada orang-orang yang saleh
      taat kepada Allah disebut Ujian QS.2 : 155
    Musibah atau bencana diturunkan oleh Allah kepada orang-orang yang
      suka merusak, berbuat salah disebut Teguran (kerja baik dan buruk
      sama-sama jalan) QS. Ar-Rum 41. Shalat rajin, korupsi rajin, beribadah
      rajin, maksiat jalan terus.
    Musibah atau bencana diturunkan Allah kepada orang-orang kafir
      disebut Azab QS,2 : 12


2) Percaya diri dan optimisme
   Memiliki semangat juang dan penuh percaya diri, kokoh dan kukuh dalam
   memegang prinsip.
3) Berilmu (pandai)
   Untuk keberhasilan hidup di dunia harus dengan ilmu dan untuk
   kebahagiaan di akhirat juga dengan ilmu. Ilmu merupakan nur (cahaya) yang
   mampu menerangi kegelapan bathin seseorang.
    Iman tanpa ilmu gundul
    Islam tanpa iman dan ilmu tumpul
    Ilmu tanpa iman dan Islam mandul
   Amal Mardud (ditolak) apabila amal tidak didasari ilmu IMTAQ + IPTEKS.
   QS.Az-Zumar : “ Katakanlah, tidak sama orang yang berilmu dengan orang
   yang tidak berilmu”.


                                    78
                      Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
   4) Teliti
      Mengerjakan sesuatu dengan cermat, hati-hati, efektif dan efisien.
   5) Komunikatif
      Salah satu interaksi hubungan timbal balik antara seseorang dengan orang
      lain. Tidak kuper, nafsi-nafsi, cuek.
   6) Kooperatif
       Kerjasama dalam hal-hal yang positif
       Meringankan persoalan yang dihadapi
       Banyak mendapat masukan, solusi dan kiat
       Amunisi dalam aktifitas
          QS. Al-Maidah 2 : “Bertolong-tolongan atas kebaikan”.
   7) Produktif
       Aktifitas yang berguna dan menghasilkan, hidup akan lebih bermakna
       Dapat menularkan kebaikan kepada orang lain.
   8) Konpetitif (musabaqah)
       Mensegerakan pekerjaan yang baik
       Memperbanyak terobosan dan eksperimen, inovasi, kreasi
   9) Ikhlas
       Semata-mata karena Allah
       Dikerjakan dengan rasa tanggungjawab, tepat waktu, menjaga kwalitas
      Sabda Rasul : “Allah tidak akan menerima sedikitpun amal seseorang
      kecuali dikerjakan dengan ikhlas dan hanya mengharapkan keredhaan Allah
      SWT” (H.R. Ibnu Majah)
   10) Pandai bersyukur, berterima kasih, balas jasa
       Bisa dengan materi
       Bisa dengan tenaga
       Bisa dengan ilmu pengetahuan
       Bisa dengan doa


c. Akhlak kepada keluarga, khususnya Ibu dan Bapak
    Saling menghormati dan memuliakan
    Saling menumpahkan kasih sayang tanpa melihat sikon
    Tahu posisi dan kedudukan, serta tanggungjawab


                                    79
                         Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
           Melindungi, membela, mengangkat harkat dan martabat keluarga


      d. Akhlak kepada lingkungan (Environment)
           Bertanggungjawab terhadap lingkungan
           Mengelola dan memanfaatkan lingkungan dengan baik
           Memperhatikan lingkungan secara Ihyatul Mawat (konservasi alam)




b. Ciri-Ciri Akhlak Mazmumah (tercela)
   Akhlak Mazmumah “Akhlak yang berasal dari dorongan hawa nafsu atau tidak dalam
   kontrol ilahiyah yang berdampak negatif dan Destruktif”.
          1) Takabur (sombong)
          2) Berprasangka buruk / negatif
          3) Sadis dan berkianat
          4) Loba dan tamak
          5) Rakus dan bakhil
          6) Dusta dan gombal
          7) Kufur dan ingkar
          8) Malas dan putus asa


c. Bahaya Akhlak Mazmumah
          1) Merusak akidah (lahir berbagai bentuk syirik)
          2) Merusak akal dan jiwa (prilaku diluar akal dan jiwa sehat)
          3) Merusak tatanan dan ketentraman (suka melanggar norma,
            aturan, hukum)
          4) Menghalangi hidayah Allah (tidak pernah menyesal malah bangga dengan
             kesalahan)


d. Manfaat Akhlak Mahmudah
          1) Membentuk individu yang berkualitas (Agent of Change)
          2) Membentuk masyarakat yang aman, damai sejahtera
          3) Membentengi para pejabat dan pemimpin dari hal-hal yang merugikan
             dirinya, masyarakat dan bangsanya


                                           80
                                Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
         4) Tuhan kucurkan rezki, nikmat, hidayah dan makhfirah kepada individu,
             masyarakat, bangsa dan negara (Baldatum Thoiyibatun Warabbun Chafur)


e. Al-Quran dan Sunnah Sumber Akhlak
         1) Rambu-rambu hukumnya fundamental dan permanen serta universal
         2) Sangat relevan dengan fitrah manusia sekalipun berbeda Ras, Agama
         3) Mendorong setiap individu berbuat baik dan menjaga serta membela
             kebaikan



                     PERTEMUAN KESEPULUH
                                       IPTEKS


 A. Agama dan Iptek merupakan satu kesatuan
 B. Hubungan Agama dengan Iptek
 C. Keutamaan Iptek dalam Islam
 D. Keutamaan menuntut ilmu
 E. Keutamaan mengamalkan Iptek


 A. Agama Dan Iptek Merupakan Satu Kesatuan
    a. Manusia makhluk yang memiliki otak, akal dan fikiran yang prima dan luar biasa
        bila dibandingkan dengan makhluk Allah lainnya.
    b. Manusia pencipta kebudayaan, Kebudayaan menghasilkan peradaban.
    c. Produk peradaban adalah Saintek. Saintek bertujuan untuk kemakmuran dan
        kesejahteraan hidup manusia.


    Iptek itu netral dan tidak bebas nilai (punya aturan, kaedah, norma). Iptek hanya
    sebatas memproses Sunnatullah (Ilmu Kauriah) bukan mutlak menciptakan
    Sunnatullah yang baru, alasan :
    a. Manusia sebagai pencipta kebudayaan
    b. Pemikiran kebudayaan hasil dari informasi agama (QS)
    c. Kebudayaan menghasilkan peradaban
    d. Sainteks merupakan wujud peradaban manusia

                                          81
                               Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
   Iptek dilihat dari dua sisi :
           1. Sisi Negatif (mudharat)
           a. Dapat merusak prilaku individu (akhlak dan akidah)
           b. Dapat merusak masyarakat bangsa dan negara (kehancuran masyarakat,
               bangsa dan negara).


       Pada hakekatnya Iptek itu baik dan sangat dibutuhkan dalam mewujudkan
       kemajuan, kemandirian, kesejahteraan manusia, masyarakat, bangsa dan negara.
       Sisi negatif dari iptek ini karena salah dalam menempatkan, dan salah dalam
       penggunaannya.


           2. Sisi Positif (manfaat)
           a. Iptek dapat mempermudahdan memperpendek jarak dan tempat.
           b. Iptek dapat menghemat tenaga, waktu, biaya dan fikiran.
           c. Iptek dapat memberikan kontribusi untuk menemukan bukti, fakta dan
               kenyataan seperti membuka fasilitas google earth.




B. Hubungan Agama Dengan Iptek
   Agama dan Iptek berada dalam satu kesatuan yang utuh dalam memahami
   realita kehidupan. Saintek dapat memecahkan segala persoalan hidup apabila
   agama (QS) yang dijadikan pedoman dan petunjuk (ilmu Tanziliyyah dan ilmu
   Kauriyyah).


   Intinya :
       a. Agama dan Sainteks saling bersatu
       b. Agama menggunakan intuisi (hati) Saintek menggunakan akal. Hati dan
           akal harus inter aksi secara berimbang agar tidak terjadi konflik.
       c. Saintek mengembangkan akal, agama mengembangkan hati (jiwa).
       d. Wilayah kajian agama dan saintek mencakup masalah kehidupan dan
           realita.


                                              82
                                   Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
      e. Agama sebagai pendorong pengembangan Saintek.


C. Keutamaan Iptek / Saintek Dalam Islam


   Al-Quran banyak sekali menjelaskan keutamaan Iptek / saintek.
    QS Ali-„Imran : 18 “Allah sudah menyaksikan bahwa tiada Tuhan melainkan
    Dia sendiri, juga malaikat dan orang-orang yang berilmu pengetahuan
    menyaksikan yang sedemikian itu, bahkan Allah itu Maha berdiri sendiri
   dengan adil”


     Perhatikanlah ayat diatas, bukankah untuk kesaksian itu dimulainya dengan
     Dirinya sendiri. Menomor duakan golongan Malaikat, sedang sebagai nomor
     tiganya ialah orang-orang yang berilmu pengetahuan. Ini saja sudah cukup
     sebagai hal yang menunjukan kemuliaan dan keutamaan mereka itu.


     QS. Mujadalah : 11 “Allah mengangkat orang-orang yang beriman dari
     golonganmu semua dan juga orang-orang yang dikaruniai ilmu pengetahuan
     hingga beberapa derajad”.


     QS. Az-Zumar 9 : “Katakanlah : Adakah sama orang-orang yang berilmu
     pengetahuan dengan orang-orang yang tidak berilmu pengetahuan”.


     QS. Fathir : 28 “Hanyasanya yang takut kepada Allah dari golongan hamba-
     hambanya itu adalah orang-orang yang berilmu pengetahuan”.


     QS. An-Nisa‟ : 83 “Andaikata mereka mengembalikan berita itu kepada
    Rasul, juga kepada orang-orang yang memegang pemerintahan, pastilah
    berita itu sudah dimengerti, kenyataannya oleh orang-orang yang benar-
    benar meneliti hal yang demikian tadi dari golongan mereka itu sendiri”.




                                       83
                            Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
Jadi mengenai hukumnya dalam segala kejadian yang berlangsung, senantiasa
dikembalikan kepada orang-orang yang berilmu pengetahuan, bahkan
martabat mereka itu disusulkan setingkat kemudian sesudah martabat para
Nabi dalam mengkasyafkan hukum Allah SWT.


Adapun hadits-haditsnya yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan itu
diantaranya adalah sabda Rasulullah SAW : “Barang siapa yang dikehendaki
baik oleh Allah, maka ia dipintarkan dalam hal keagamaan dan diilhami
oleh-Nya kepandaian dalam hal itu”.


Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dan tambahan kata-kata “diilhami
oleh-Nya kepandaian” itu diriwayatkan oleh Thabrani.


Juga sabda Rasulullah SAW : ”Para alim ulama adalah pewaris para Nabi”
diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban.


Sudah jelas bahwa tiada lagi pangkat yang lebih tinggi diatas pangkat
kenabian itu dan tiada kemuliaan yang lebih tinggi diatas pangkat sebagai
pewaris beliau-beliau itu.


Rasulullah SAW bersabda yang diriwayatkan oleh Abu Na‟im dan Ibnu
Abdilbarr :
” Apabila aku didatangi oleh sesuatu hari dan aku tidak bertambah ilmuku
pada hari itu yang dapat mendekakan diriku kepada Allah ‟azza wa jalla,
maka tidak adake berkahan untukku dalam terbitnya matahari pada hari
itu”.


Dalam penjelasan bahwa ilmu pengetahuan itu lebih utama dari pada ibadat
dan penyaksian, Rasulullah SAW bersabda yang diriwayatkan oleh Tirmidzi :




                                   84
                        Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
    ”Keutamaan seorang alim diatas seorang „abid (orang yang beribadat)
    sebagaimana keutamaanku diatas serendah-rendah orang dari golongan
    sahabat-sahabatku”.


    Cobalah perhatikan dengan seksama, betapa nilainya ilmu pengetahuan itu
    dipersamakan    seiring     dengan        derajad      kenabian   dan   betapa   pula
    kerendahannya sesuatu amalan yang sunyi dari ilmu pengetahuan, sekalipun
    yang beramal ibadah itu tentunya tidak terlepas dari pengetahuan cara ibadah
    yang senantiasa dikekalkan mengerjakannya, sebab andaikata tanpa
    pengetahuan perihal cara peribadatan itu pastilah bukan ibadah namanya.


    Juga sabda Rasulullah SAW diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi, Nasa‟i
    dan Ibnu Hibban :
    ”Keutamaan orang yang berilmu diatas orang yang beribadah itu seperti
    keutamaan bulan purnama diatas seluruh bintang-bintang lainnya”.


    Salah satu diantara berbagai wasiat yang disampaikan oleh Lukman Kepada
    putranya adalah :
    “Hai anakku, pergaulilah para alim ulama dan rapatilah mereka itu dengan
    kedua lututmu, sebab sesungguhnya Allah itu menghidupkan hati dengan
    cahaya mikmat sebagaimana Dia menghidupkan bumi dengan hujan lebat
    dari langit”.


D. Keutamaan Menuntut Ilmu Dalam Islam
    Ayat-ayat yang berhubungan dengan keutamaan belajar itu, diantaranya ialah
    firman Allah QS. Taubat : 122 “Mengapa tidak ada sekelompokpun dari
    setiap golongan mereka itu yang berangkat untuk mencari pengertian dalam
    ilmu keagamaan”.
    QS. Nahl : 43 “Maka tanyalah para ahli ilmu pengetahuan apabila kamu
    semua tidak mengerti”.



                                         85
                              Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
   Adapun hadits-hadits yang menerangkan keutamaan menuntut ilmu
   diantaranya :
       Hadits riwayat Muslim
         “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu
         pengetahuan, maka dengan sebab kelakuan itu Allah akan
         menempuhkan suatu jalan untuknya guna menuju surga”.
       Hadits riwayat Ibnu Abdilbarr “Niscayalah andaikata engkau
         berangkat, kemudian engkau belajar satu bab dari ilmu pengetahuan,
         maka hal itu adalah lebih baik dari pada kamu bersembahyang
         sunnah seratus rakaat”.
       Hadits riwayat Ibnu Abdilbarr
         “Mencari ilmu pengetahuan adalah wajib atas setiap muslim”.


   Cara mendapatkan ilmu :
       Pembelajaran
       Penelitian, Pengamatan
       Pengalaman


E. Keutamaan Mengamalkan Ilmu Pengetahuan Dalam Islam


   Beberapa ayat-ayat yang bersangkutan dengan keutamaan mengamalkan ilmu
   pengetahuan diantaranya:
        1. Firman Allah SWT dalam QS Taubah : 122
          “Hendaklah mereka itu memberi peringatan kepada kaumnya (setelah
           belajar ilmu keagamaan), yakni diwaktu mereka telah kembali
           ketempat kaumnya tadi. Barangkali kaumnya itu menjadi hati-hati
           karenanya”.
   Yang dimaksud dengan memberi peringatan dalam ayat diatas adalah
   memberikan pelajaran dan petunjuk ke jalan yang baik.


        2. Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah : 146

                                    86
                         Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
         “Ada sebagian golongan dari mereka yang menyembunyikan
          kebenaran, padahal mereka mengetahui”.
Ayat     diatas   adalah    kebalikan      yang     sebelumnya   yakni   haramnya
menyembunyikan ilmu pengetahuan atau enggan mengajarkannya kepada
orang lain.


       3. Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah : 283
        “Barang siapa yang menyembunyikan kesaksian itu, maka berdosalah
         hatinya”.


       4. Firman Allah dalam QS. Al-Baqarah : 151
         “dan mengajarkan kepada mereka itu kitab dan kebijaksanaan”.


Diriwayatkan oleh Ahmad, Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan
hadits pada saat beliau menyabdakannya kepada Ali r.a “Barang siapa yang
mengetahui suatu ilmu, kemudian menyembunyikannya                    (tidak suka
mengajarkannya), maka oleh Allah ia akan diberi mendali pada hari kiamat
nanti dengan mendali dari api neraka”.


Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi dan lain-lain. Rasulullah juga
bersabda “Sesungguhnya Allah SWT juga Malaikat serta para penghuni
langit dan bumi, sampai-sampai semut yang didalam lubangnya dan ikan hiu
yang ada di lautan, semuanya memohon rahmat bagi orang yang
mengajarkan kebaikan pada orang banyak”.


Rasulullah juga bersabda yang diriwayatkan oleh Muslim :
“Apabila seseorang anak Adam meninggal dunia, maka putuslah amalannya
melainkan dari tiga hal, yaitu shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat dan
anak yang shaleh yang mendoakan untuknya”.


Ada lagi sabdanya :

                                      87
                           Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
“Rahmat Allah bagi seluruh penganti-penggantiku”.
Rasulullah ditanya : “Siapakah penganti-penganti tuan itu ?”
Beliau lalu bersabda :
“Mereka itu ialah orang-orang yang menghidupkan sunahku dan
mengajarkannya kepada hamba-hamba Allah”. Diriwayatkan oleh Ibnu
Abdilbarr.


Perihal keterangan-keterangan dari para sahabat yang berhubungan dari
persoalan diatas, diantaranya ialah ucapan Mua‟adz :
“Belajarlah ilmu pengetahuan, sebab belajarnya itu dengan karena Allah
merupakan tanda taqwa padaNya, mencarinya merupakan ibadah,
menelaahnya sebagai bertasbih, menyelidikinya adalah sebagai jihad,
mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahuinya adalah sebagai
sedekah, menyampaikannya kepada ahlinya adalah kebaktian”.


Ilmu pengetahuan adalah :
    Kawan diwaktu sendirian
    Sahabat diwaktu sunyi
    Petunjuk jalan kepada agama
    Pendorong ketabahan disaat dalam kekurangan dan kesukaran


Allah meninggikan pangkat suatu kaum karena ilmu pengetahuan yang
mereka miliki. Kemudian Allah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin,
penghulu dan pembimbing yang diikuti petunjuknya, mereka juga sebagai
penunjuk jalan kebaikan, sepak terjangnya dicontoh, kelakuannya ditiru dan
diteladani.


Dengan ilmu pengetahuan pulalah seseorang hamba itu dapat menduduki
tempat orang-orang yang berbakti dan pangkat-pangkat yang tinggi.




                                    88
                         Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
Memikirkan ilmu sama pahalanya dengan berpuasa, menelaah ilmu sama
dengan bangun sholat malam, dengan menggunakan ilmu akan menjadi benar
cara berbakti kepada Allah SWT.


    Dengan ilmu Allah dipuja dan disembah
    Dengan ilmu Allah di Maha Esakan dan di Agungkan
    Dengan ilmu seseorang menjadi wara‟ dan sangat taqwa kepada Allah
    Dengan ilmu dieratkannya tali persaudaraan
    Dengan ilmu dapat diketahui apa yang halal dan haram


Ilmu pengetahuan adalah pemimpin segala amalan, dan amalan itu hanyalah
sebagai pengikutnya belaka. Yang diilhami dan dikaruniai ilmu adalah benar-
benar orang-orang yang berbahagia dan yang terhalang atau tidak diberi ilmu
adalah benar-benar celaka.


Al-Hassan Rahimahullah berkata :
“Andai kata tidak ada para alim ulama, pastilah manusia seluruhnya akan
menjadi sebagai binatang”.


Maksudnya ialah bahwa dengan sebab adanya pelajaran yang mereka berikan
itu, lalu seluruh manusia dapat keluar dari batas pengertian kebinatangan dan
memasuki batas kemanusiaan.




                                  89
                       Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
                      PERTEMUAN KESEBELAS
               KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA




A.   Lahirnya Istilah Pluralisme
B.   Pengertian Pluralitas dalam beragama dan ruang lingkup
C.   Kebersamaan dalam Pluralitas beragama
D.   Agama sebagai faktor perekat dan konflik di masyarakat
E.   Kerukunan antar umat beragama
F.   Pandangan Islam terhadap Pluralitas dalam beragama


A. Wacana Pluralitas
   1. Digulirkan oleh Ernest Troelstch seorang Teolog Jerman adab 20.
   2. Sikap Pluralis ini dikedepankannya karena berkembangnya konflik inter dan antar
      agama, baik agama kristen atau agama lainnya.
   3. Pluralisme awal mulanya ada dalam adat istiadat gereja pada abad pertengahan
      (seorang pastru sekaligus sebagai politikus atau sebagai pedagang).

B. Pengertian Pluralitas Dalam Beragama
   1. Pluralisme adalah toleransi dalam beragama / kesetaraan semua agama.
   2. Pluralitas dalam beragama adalah koeksistensi (kondisi hidup bersama) antar
      agama dengan mempertahankan ciri-ciri spesifik ajaran agama masing-masing.
   3. Pluralisme agama berasal dari bahasa Inggiris “Religious Pluralisme” dalam
      bahasa Arabnya “Al-ta‟addudiyyah al-diniyyah”.

     Religious Pluralisme mengandung arti :
                a. Pengertian kegerejaan
                   Orang yang memegang lebih dari satu jabatan dalam struktur
                    kegerejaan.
                b. Pengertian filosofis
                   Sistem pemikiran yang berdasarkan lebih dari satu.


                                          90
                               Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
             c. Pengertian sosio-politis
                Suatu sistem yang mengakui koeksistensi (kondisi hidup bersama)
                dalam keberagaman kelompok, ras, suku, dan partai dengan tetap
                menjunjung tinggi karakteristik, ciri-ciri diantara kelompok tersebut.

   Ruang lingkup Pluralitas dalam beragama :
      a. Hanya dalam hal kemanusiaan (sosial) dan urusan duniawi.
      b. Tidak dalam ibadat, Akidah, Kitab Suci dan karakteristik atau ciri-ciri khas
          agama yang ada.

C. Kebersamaan Dalam Pluralitas Beragama
   1. Konsep Insaniah (Horizontal Oriented)
       Memiliki rasa empati, kasih sayangt terhadap semua insan tanpa melihat latar
          belakang agama dan kepercayaan.
       Rasa empati ini sangat cocok dengan ajaran agama yang ada secara universal.
       Setiap insan / manusia adalah makhluk Allah yang memiliki rasa kasih sayang,
          tolong menolong.
       Pengakuan hak kesetaraan dalam memilih dan menjalankan ajaran agama
          yang dianut.
      Q.S Yunus : 99 “Jika Allah berkenan tentu semua mereka yang ada dimuka bumi
      ini beriman”.

   2. Konsep Dalam Era Globalisasi
       Era globalisasi munculnya tuntutan toleransi antar pemeluk agama yang lebih
         elegan.
       Era globalisasi menuntut pemeluk agama untuk membagi ilmu pengetahuan
         kepada pemeluk agama lain tanpa mengganggu kemerdekaan umat / agama
         lain.

   3. Konsep Vertikal Oriented (Konsep Islam)
       Islam mengakui prinsip-prinsip pluralisme beragama yang isinya toleransi
         kepada setiap agama, menghormati hak dan keberadaan agama dan orang lain.
       Islam menjunjung tinggi kebebasan beragama, itu adalah misteri Illahi yang
         harus diterima.
      Q.S Al-Baqorah : 26 “Tidak ada paksaan untuk memeluk Islam”
      Q.S Al-Kafirun : 6 “Untukmu agamamu dan untukku agamaku”



D. Agama Sebagai Faktor Perekat dan Konflik di Masyarakat

   A. Agama Sebagai Faktor Perekat atau Pemersatu
      (integrative factor)
   Agama semestinya tidak menimbulkan kekerasan atau pertentangan, apabila kita
   menyadari fungsi agama secara baik.

   Fungsi agama adalah :
   1. Untuk mengatasi persoalan yang timbul dalam masyarakat yang tidak dapat
      dipecahkan secara emperis, karena keterbatasan kemampuan dan ketidak pastian.


                                        91
                             Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
2. Medorong manusia untuk saling tolong menolong, hormat menghormati harkat
   dan martabat manusia sebagai makhluk sosial dan individu seperti :
    Saling menjaga kebersamaan, kerukunan
    Saling mengucapkan selamat kepada yang berbeda agama

3. Agama adalah jalan untuk mengenal hakekat Tuhan dan untuk memenuhi ekspresi
   rasa kesucian yang tidak dapat disalurkan oleh filsafat.

Agar tidak terjebak dalam pengertian sempit pemaknaan agama, kita simak penegasan
Nabi Muhammad SAW :”Sebaik-baiknya agama disisi Allah adalah al-hanifiyyah al-
samhah “ (agama yang bersemangat kebenaran dan lapang, terbuka untuk menolong
manusia).



B. Agama Sebagai Sumber Konflik di Masyarakat
   (disintegrative factor)

   Ada hal yang sangat paradoks dalam beragama (berwajah ganda). Disatu sisi
   agama dipandang oleh pemeluknya sebagai sumber moral dan nilai, sementara
   disisi lain agama dianggap sebagai sumber konflik. Sumber utama penyebab
   konflik adalah manusia.

  Al-Quran mengindikasikan bahwa faktor konflik itu sesungguhnya berawal dari
  manusia. QS.Yusuf : 5. Kerusakan (kerusuhan, demonstrasi, dan lain-lain)
  diakibatkan oleh ulah manusia.

   QS. Ar-ruum : 41 Penyebar konflik sesungguhnya adalah manusia. Ayat Al-Quran
   tersebut diatas menjelaskan secara tegas bahwa konflik itu berawal dari manusia
   yang selalu berusaha menarik dan mengarahkan dirinya menyimpang dari nilai
   dan ajaran Illahi.


C. Penyebab Konflik Dalam Beragama
1. Agama dipahami sebagai suatu dokrin dan ajaran (rendahnya pemahaman agama)
2. Agama dipahami sebagai aktualisasi dari dokrin dan ajaran


Sayyad Hoessein Nasr menyebutnya “ Islam ideal dan Islam realita”
Contoh :
Dalam dokrin agama untuk menuju keselamatan harus mengerjakan amar ma‟ruf nahi
mungkar,
sedangkan dalam aktualisasi dokrin (realita) adanya kesenjangan antara pengamalan
ajaran agama dan dokrin yang ada dalam agama.




                                     92
                          Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
   Dua hal diatas akan melahirkan konflik dengan :
   1. Tidak adanya toleransi antar umat beragama (Double frame)
   2. Tiap agama menganggap ajaran agama lain buruk atau tidak benar (Truth claim)
   3. Kurangnya rasa persatuan yang berlandaskan persatuan berbangsa bernegara
        (kuatnya unsur politis diatas kebenaran agama)


   Akibat konflik agama :
   1.   Masing-masing agama saling menjatuhkan (Fundamentalisme kekerasan)
            Absolutisme     = kesombongan Intelektual
            Fanatisme       = kesombongan Emosional
            Ekstrimisme = over atau arogan dalam bersikap
            Agresifme      = over atau anarkis dalam tindakan


   2.   Akan terjadinya perang antar agama
   3.   Tidak adanya kenyamanan, ketentraman dalam masyarakat, berbangsa dan
        bernegara
   4.   Tersendatnya kemajuan masyarakat, bangsa dan negara


D. Faktor Penghambat Pluralisme Agama
   1. Pluralisme dianggap identik dengan Sinkretisme
        Pluralisme agama, menuntut keyakinan yang bebas menurut keyakinan masing-
        masing atau bebas pindah agama.
        Sedangkan Sinkretisme adalah mencampur adukan ajaran agama.
   2. Sikap psikologis pemeluk agama yang labil
        a. Mutual Suspect (sikap saling curiga) masing-masing pemeluk agama
        b. Mutual Mistrust (tidak saling percaya)
        c. Sectarian Pride (kesombongan)
        d. Mutual Enklusiveness (saling menutup diri)
        e. Dilanggarnya kerangka rule of law hak dan kewajiban setiap penganut agama


   3. Sikap Eksternalis
        a. Prejudis (mudah tersulut / terpancing)
        b. Vandalistik dan Destruktif (tipisnya sikap toleran)


                                           93
                                Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
       Padahal setiap agama mengajarkan Language of mercy dan sikap Internalis
       (membuka diri untuk menyerap pengalaman dan ilmu) tanpa melihat dimana, dari
       mana, oleh siapa.


E. Mencegah atau Menghindari Konflik Akibat Pluralisme
1). Peran tokoh agama atau Para Misionaris
   Bicara dan diamnya tokoh agama sangat menentukan dan berpengaruh kepada
   masyarakat, umat, bangsa dan negara.


   Tokoh Agama
   Tokoh agama bukan saja mengajarkan kebenaran agama kepada pribadi umat akan
   tetapi juga menghormati kebijakan Ulul Amri sepanjang tidak diskriminatif dan
   menghormati prinsip-prinsip kebebasan beragama.


   Tokoh agama kadangkala berada pada Trouble Maker. Penyampaian kebenaran ajaran
   agama tidak tepat, menghasut, radikal, persepsi yang keliru.


   Memperkecil Trouble Maker tokoh agama :
   1. Tokoh agama / Misionaris agama tidak akan berbicara tentang agama lain apabila
       tidak memiliki referensi dan ilmu pengetahuan yang cukup tentang agama lain.
       Jauhkan prejudis, prasangka.


   2. Para tokoh agama / Misionaris agama harus memegang prinsip “Jika kamu tidak
       mau dianiaya, disakiti orang lain, maka jangan kamu berbuat aniaya, menyakiti
       orang lain “.


   3. Para tokoh agama / Misionaris agama bersikap, berprilaku bijak, hikmah,
       keteladanan (muzhah hasanah) membuka diri (jadal bil ahsan) dan lebih
       memperhatikan isu-isu kemanusiaan yang tepat.




                                          94
                              Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
   4. Para tokoh agama / Misionaris agama lebih mengedepankan pencerahan spritual,
       agidah, mental, jauhkan ranah rumor politik praktis dan memvonis agama atau
       kelompok lain.


   5. Para tokoh agama / Misionaris agama mampu bersikap arif, komprehensif,
       kontekstual dalam menyampaikan teks-teks / kitab suci keagamaan bukan secara
       parsial apalagi untuk alat legitimasi kebencian.




   6. Tokoh agama sadar betul arti kemajemukan dan tidak menutup diri terhadap
       kebaikan, kebenaran sekalipun datang dari agama berbeda.


2). Pola pikir dan perilaku umat beragama yang masih rendah (pemikiran kontra Pluralis)
3). Penafsiran isi kitab suci secara parsial, harfiyyah, tekstual (Islam, seperti idiom jihad,
   kafir)


F. Langkah-Langkah Dalam Mewujudkan Pluralisme Beragama
   1. Pedagogi Perdamaian (Pendidikan Perdamaian)
        Ciptakan perdamaian dalam menjaga ketenangan, keamanan (peace keeping)
        Ciptakan program-program dan teknik resolusi dalam mengatasi konflik
        Membangun kesadaran cinta damai, rukun, empati
   2. Optimalkan prinsip-prinsip berbasis ketuhanan
        Prinsip kebebasan beragama
        Prinsip toleransi
        Prinsip aksiologi (zat pencipta) dijadikan rujukan
        Prinsip kompetisi dan kebaikan yang sehat, adil, jujur, ikhlas
   3. Dialokh antar kitab suci (dialokh lintas agama) karena agama yang ada memiliki
       keterkaitan histori, asal jangan debat kusir, emosi, apriori
   4. Dialog antar tokoh, imam agama (munazharah) yang broadminded (pandangan
       luas)




II. Kerukunan Antar Umat Beragama


                                           95
                                Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
       1. Diatur dalam UUD 1945 Pasal 29 ayat 1 dan 2
       2. Kerukunan inter umat beragama, kerukunan antar umat beragama dan kerukunan
          inter dan antar umat beragama dengan Pemerintah, yang masih diperlukan
          bagaimana seharusnya interaksi itu dilaksanakan, perlu ada rambu-rambu yang
          jelas dan penanggung jawab yang tegas.




                      PERTEMUAN KETIGA BELAS
                                        BUDAYA


A. Budaya Akademik

B. Etos Kerja



A. BUDAYA AKADEMIK
   a. Pengertian Budaya Akademik
      “Cara hidup masyarakat ilmiah yang majemuk, multikultural yang bernaung
       dalam sebuah institusi yang mendasarkan diri pada nilai-nilai kebenaran ilmiah
       dan objektifitas”.

       Berarti budaya akademik :
          1. Mahasiswa yang terlibat dalam berbagai bidang studi dan keahlian
             (disiplin ilmu).
         2. Bernaung dibawah Institusi Educative (Perguruan Tinggi).
                      Akademi
                      Universitas
                      Sekolah Tinggi
                      Institut, dll
          3. Memfokuskan diri pada kajian Ilmu, Penelitian, Penemuan dan
             sebagainya secara ilmiah.
           4. Untuk pengembangan ilmu baru dan bermanfaat bagi kehidupan
              masyarakat atau Perguruan Tinggi yang mendorong mahasiswa

                                             96
                                  Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
          melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian dan
          Pengabdian Masyarakat).

  b. Prinsip Dasar Budaya Akademik atau Standar Suasana Akademik Yang
     Kondusif.
     1. Prinsip kebebasan berfikir (kebebasan dalam ilmiah)
     2. Prinsip kebebasan berpendapat

    Prinsip kebebasan mimbar akademik yang dinamis, terbuka dan ilmiah, sesuai
    dengan yang diamanatkan dalam UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan
    Nasional.




   Dalam implementasinya :

   1. Harus dibangun suasana akademik dengan prinsip :
      a. Interaksi mahasiswa dengan dosen harus dalam bentuk mitra bukan dalam
         bentuk in-loco parentis (Dosen otoritas, superior, Mahasiswa kerdil dan tidak
         ada apa-apa).
      b. Secara bersama-sama dosen dan mahasiswa punya hak yang sama dalam
         keilmuan dan penelitian, diciptakan secara terencana, sistematis, kontinu,
         terbuka, objektif, ilmiah.
      c. Harus diciptakan suasana Perguruan Tinggi yang kondusif yang dapat
         memberikan ketenangan, kenyamanan, keamanan dalam proses belajar
         mengajar (kegiatan akademik).

   2. Visi dan misi Perguruan Tinggi yang khas spesifik sampai eksklusif.
   3. Mengarah kepada prinsip-prinsip good govermance sesuai dengan kebutuhan use,
      stakeholders.

C. Meningkatkan Budaya Akademik / SDM Mahasiswa

  1. Menitik beratkan pada Plan, Do, Check, Action (PDCA)
       Plan = rencana yang tepat, matang dalam setiap aktifitas
                   proses belajar mengajar
       Do        = dilaksanakan secara optimal, maksimal dan
                   berkesinambungan
       Check = ada upaya komperatif, sinergi dan sinkronisasi yang di
                   inginkan dan tujuan
       Action = ada evaluasi dan gambaran yang logis, ilmiah sehingga
                   dijadikan tolak ukur keberhasilan dan kegagalan

  2. Adanya Interaksi kegiatan kurikuler yang terstruktur tepat, baik pada

                                          97
                               Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
       beban kurikulum dan jumlah serta bobot SKS mata kuliah.
    3. Model manajemen yang baik dan terstruktur yang mampu
       mensinkronisasikan antara tujuan pribadi (mahasiswa) dengan visi, misi
       dan tujuan Perguruan Tinggi, pangsa pasar.
    4. Tersedianya sarana, prasarana dan sumber daya (dosen, karyawan) yang
       memadai.



   Kesimpulan :
   Budaya akademik yang harus dijunjung tinggi oleh mahasiswa dalam bentuk :
      1. Meningkatkan mutu dan kualitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

      2. Meningkatkan kuantitas dan kwalitas penelitian dan mensosialisasikannya ke
         forum ilmiah.

      3. Memperbanyak pengabdian kepada masyarakat sebagai wujud pengembangan
         keilmuan dan skill.

      4. Dapat membentuk prilaku skalas (terus belajar) bagi dosen dan mahasiswa.

B. ETOS KERJA YANG BAIK
   A. Pengertian Etos Kerja Secara Umum

             1. Etika kerja, sikap mentalitas kerja atau budaya kerja.
             2. Sikap dasar manusia terhadap diri dan nilai atau kualitas kerja.
             3. Etos berisi aspek evaluatif yang akan memberi warna nilai sesuatu.
                Kerja berisi aspek landasan motivasi diri apakah kerja itu hanya
                sebagai beban atau aktualisasi, eksistensi diri.

      3(Tiga) unsur konsep etos kerja, yaitu :

      Etos kerja merupakan roh keberhasilan yang di dalamnya ada 3 unsur :
         1. Etos mencetak prestasi dengan motivasi superior.
             Satu orang memiliki motivasi superior dari 100 lulusan dan pekerja, maka
             dialah yang akan berhasil.
         2. Etos, relevan dengan pembangunan masa depan kepemimpinan visioner yang
             tidak terbatas pada organizational leadership, tetapi difokuskan pada self
             leadership.
         3. Etos menciptakan nilai baru dengan inovasi kreatif.

      Berarti tiga unsur penting dalam etos kerja adalah :
         1. Adanya motivasi superior.
         2. Adanya peningkatan dari organizational leadership kepada self leadership.
         3. Adanya nilai baru dengan inovasi kreatif.

      Jansen menyebutnya “Tri Darma Mahardika, dalam bahasa sangskerta tiga jalan
      keberhasilan”.



                                             98
                                  Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
B. Pengertian Etos Kerja Menurut Jansen
   Etos kerja atau budaya kerja adalah prilaku kerja yang berakar pada kesadaran,
   keyakinan dan integral.

   Etos kerja menurut Jansen :
      1. Kerja adalah Rahmat dari Tuhan sebagai tanda cinta Tuhan kepada manusia
          sehingga menjuhkan orang dari putus asa.
      2. Kerja adalah Amanah, untuk itu bekerja dengan tekun, benar, bertanggung
          jawab dan mendatangkan manfaat pada diri dan orang banyak.
      3. Kerja adalah Panggilan, untuk iut bekerja penuh integritas dan tuntas..
      4. Kerja adalah sebagai aktualisasi diri, bekerja keras, ulet.


      Beda orang pekerja keras dengan orang kecanduan kerja. Orang yang kecanduan
      kerja akan menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan untuk :
                Mendapatkan rasa aman dari ketidak pastian hidup.
                Tempat pelarian diri dari suatu masalah, sehingga ada indikasi untuk
                  menghindar dari tanggung jawab hidup lainnya.

      5. Kerja adalah suatu kecintaan , kerja adalah ibadah tentu selalu mengarah
         kepada yang terbaik, bermanfaat.
      6. Kerja adalah seni, kerja melahirkan kegairahan yang dapat mendorong
         lahirnya kreasi, inovasi, gagasan, cipta yang produktif/karya yang unggul.
      7. Kerja adalah kehormatan, berkarya murni dengan kemampuan sendiri yang
         berkualitas
      8. Kerja adalah pelayanan, bekerja mendatangkan ketentraman dan kepuasan
         batin, suka cita

C. Enam Etos Kerja Menurut Islam (6 prinsip kerja seorang muslim)

   1. Kerja adalah perwujudan rasa syukur atas rahmat dan nikmat Allah. QS.Saba‟,34 :
      13 “Bekerjalah untuk bersyukur kepada Allah, dan sedikit sekali dari hamba-
      hambaku yang bersyukur”.

   2. Kerja berorientasi hasil yang baik (hasanah) dunia dan akhirat
      QS. Al-baqarah,2 : 202 “Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari
      apa yang mereka usahakan”.

   3. Kerja berdasarkan realibility (kuat fisik dan mental) dan integrity (jujur, amanah).
      Perpaduan emosional, intelektual dan spritual. QS.Al-Qashash, 28 : 26 “
      Sesungguhnya oarng yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja ialah
      orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.

   4. Kerja berdasarkan semangat dan kerja keras pantang menyerah. Pekerja keras
      tidak mengenal kata gagal.

   5. Kerja cerdas, memanfaatkan dan mengoptimalkan sumber daya yang ada secara
      tepat (pengetahuan), terampil dan terencana, akurat.


                                         99
                              Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
   6. Kerja Ikhlas, merupakan amal dan ibadat yang perlu dihayati, bukan sekedar
      membayar kewajiban atau tanggung jawab (kesalehan individual dan komunal,
      fastabiqul khairat).


D. Janji Allah Bagi Etos Kerja Yang Baik

1. Allah hamparkan jalan untuk menuju sukses
   QS.Ath-Tholak, 65 : 3 “Allah berikan rezki dari segala arah tanpa disangka-
   sangka”.

2. Allah jamin kehidupan yang sehat sejahtera
   QS. Al-„Araf, 7 :95-96 “Allah ganti kesusahan dengan kesenangan, Allah beri berkah
   dari langit dan dari bumi”.

3. Allah beri balasan untuk dunia dan akhirat




                 PERTEMUAN KEEMPAT BELAS

            ISLAM RAHMAT ALLAH UNTUK MANUSIA




A. Pengertian Islam
B. Nama Islam
C. Islam Merupakan Rahmat Allah Untuk Manusia
D. Islam Agama yang sesuai Dengan Fitrah Manusia
E. Islam Agama yang Menghimpun Semua Kebenaran
F. Islam Agama Yang Mampu Mengangkat Derajat Manusia
G. Islam Agama Perdamaian dan Dapat Menyatukan Umat Manusia Dalam satu
   Persaudaraan
H. Islam Agama yang Meluruskan Kesalahan dan Menjelaskan Ajaran yang Benar
I. Islam Agama yang Dapat Menjanjikan Kebahagiaan di dunia dan Akhirat
J. Tujuan dan Peranan Islam




A. Pengertian Islam


                                         100
                              Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
    1. Etimologi
          Aslama                  = Tidak tercela
          Salima                  = Sejahtera
          Salam                   = Selamat
          Muslim                  = Menyelamatkan diri dan orang lain


    2. Terminologi
      Agama yang diturunkan Allah dengan perantaraan Rasul dan dituangkan dalam
      kitab suci (Al-Quran) untuk keselamatan dan kebahagiaan manusia di dunia dan
      akhirat.




B. Nama Islam
    1. QS. Ali-„Imran : 19 dan 85
      Nama Islam bukanlah hasil pemikiran dan gagasan dari Nabi Muhammad atau
      pengikutnya akan tetapi langsung dari Allah SWT.


    2. QS. Al-Maidah : 4
      Islam adalah Agama yang dapat memberi manfaat dan nikmat kepada         manusia
      dan ditetapkan Allah.


C. Islam Merupakan Rahmat Allah Untuk Manusia
      1. Islam agama yang diredhai oleh Allah SWT (QS. Al-Maidah : 4)
      2. Allah menolak pilihan manusia kecuali memilih Islam
        (QS. Ali-„Imran : 85)
      3. Islam adalah Ajaran yang lurus dan tidak sesat dan menyesatkan manusia
        (QS.      Al-Fatihah : 6 -7)


D. Islam Agama Yang Sesuai Dengan Fitrah Manusia
      1. Sangat cocok dengan kemajuan ilmu pengetahuan, bukan Agama dogmatis
      2. Islam sangat dibutuhkan oleh manusia dalam mencari jati diri manusia yang


                                           101
                                Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
       baik yang selalu mengacu kepada Iman, Ilmu dan Amal
     3. Islam agama yang dapat menuntun manusia dalam mencari hakekat Allah HR.
       Ibnu Syahin (Iman dan amal itu bagaikan dua bersaudara dalam berteman,
       Allah tidak akan menerima satu dari keduanya, kecuali dengan kawannya)


E. Islam Agama Yang Menghimpun Semua Kebenaran
     1. Menuliskan semua kebenaran yang diajarkan oleh para Nabi sebelum Nabi
       Muhammad SAW untuk diyakini dan diamalkan (QS.98 Al-Baiyinah : 3)
       Kebenaran isi Taurat, Zabur dan Injil yang murni. Nabi Isa As hanya menyuruh
       umatnya menyembah Allah SWT. Hal ini dipertegas oleh QS. 5 Al-Maidah :
       73, 75 “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan Allah salah satu
       dari yang tiga, padahal Tuhan itu Esa” Nabi Isa dan ibunya Maryam adalah
       manusia biasa.


     2. Dalam kitab Taurat, Nabi Musa melarang umatnya memakan darah, minum
       minuman keras dan makan daging babi (Imamat,3 : 17, 17:12 ; 10 : 8 :; 11 : 17).
       Quran memperjelas (QS.2 Al-Baqarah :173) “Allah haramkan memakan
        bangkai, babi dan binatang yang disembelih tidak membaca Bismillah,
        meminum darah dan lain-lain”


     3. Arak dan judi, berhala dan panah undian adalah yang tidak baik, itu adalah
       perbuatan Syetan (QS.5 Al-Maidah : 90 – 91)


F. Islam Agama Yang Mampu Mengangkat Derjat Manusia
     1. Islam tidak apriori terhadap kemajuan dan perobahan serta tidak selalu menolak
       ajaran agama lain
     2. Memotivasi manusia selalu bersikap kritis, selektif, sebagai saksi yang adil
       berdasarkan ketaatan kepada Allah. (QS.2 Al-Baqarah : 143)


G. Islam Agama Perdamaian dan Dapat Menyatukan Umat Manusia Dalam Satu
  Persaudaraan
     1. Islam agama cinta damai, keadilan suka keindahan
     2. Islam agama yang mendorong umatnya militansi (berani menegakan nilai-nilai


                                        102
                             Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
            Islam) yang dihiasi dengan kesungguhan (Jiddiyah), hamasah (semangat),
          disiplin (dhawabit), Istiqomah bukan dengan kekerasan, Anarkis, dan lain-lain.


H. Islam Agama Yang Meluruskan Kesalahan dan Menjelaskan Ajaran Yang Benar
   Setiap     persoalan   dunia    dan    akhirat   agar       tetap   jelas   dan   murni   harus
   mengembalikannya kepada Maqashidus Syari‟ah (tujuan syari‟at) yang tercantum
   dalam hukum wajib, haram, sunnah, mahruh dan mubah.




   Tujuan Syariat (Maqashidus Syari‟ah) untuk kesejahteraan dan keselarasan manusia
   dunia dan akhirat
    a.     Lihifdziddin (menjamin kebenaran beragama atau memaksa memeluk salah satu
          agama QS. 2 Al-baqarah : 256, QS Al-Kafirun : 6)
    b.     Hifdzinnafs (memelihara hidup) dilarang membunuh, bunuh diri. QS. 4 An-
          nisa‟ : 93 “Seseorang yang membunuh seorang mu‟min dengan sengaja maka ia
          dicampakan kedalam neraka jahannam dan kekal didalamnya untuk selama-
          lamanya”
    c.     Hifdzil-„aql (menjaga kesehatan akal dan kebebasan berfikir)
          QS. Al- Maidah : 90
    d. Hifdzil „irdlwannas (memelihra keturunan) larangan berzina
          QS.17 Isra‟ : 32
    e.     Hifdzil maal (memelihara harta) larangan mencuri, korupsi
          QS. 2 Al-baqarah : 188


I. Islam Agama Yang Dapat Menjanjikan Kebahagiaan di Dunia dan Akhirat
         1. Orang yang suka berbuat baik Allah berikan pahala, surga kepadanya QS.2 :
            110 -112
         2. Gambaran surga itu adalah :
          Apabila ia menghadapi waktu sekarang, hatinya merasa berkecukupan
          Apabila ia menatap masa yang akan datang, hatinya tidak cemas, khawatir dan
             was-was




                                             103
                                  Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
       Apabila ia mengingat masa lalu, hatinya dihindarkan dari rasa susah QS.2 :
           110 – 112
      3. Orang yang mencintai Allah dan mengorbankan apa-apa yang ia miliki akan
          Allah ganti dengan surga Adn (QS.98 Al-Baiyinah : 7 -8)


      4. Orang-orang yang sadar dan mempersiapkan diri untuk menghadap Allah
          SWT, Allah akan berikan dua surga (surga didunia dan surga diakhirat) QS.55
          Ar-Rahman : 46




J. Tujuan dan Peranan Islam


                  Mangatur tiga hubungan koordinat yang penting


                                   Allah




                                 Manusia




Dirinya                                                             Lingkungan
                                                                     Manusia




                                         104
                              Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI
Hubungan vertikal ( Hablumminallah )
           Langsung dan kontiniutas
           Ibadat wajib dan sunat
           Perintah dan meninggalkan larangan-Nya


Hubungan Horizontal ( Hablumminannas )
           Silaturahmi , tolong-menolong
           Empati dan sabar, adil, benar


Hubungan pada dirinya
           Memelihara diri
           Meningkatkan ilmu (SDM)
           Memilah dan memilih Halalan dan Toiyib




                                     105
                          Drs. H. Nizom Zaini, M.PdI

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:15090
posted:10/10/2010
language:Indonesian
pages:105