Docstoc

Reproduksi

Document Sample
Reproduksi Powered By Docstoc
					                            BAB I
                        PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
    Sistem dalam tubuh merupakan kesatuan dari berbagai jaringan
yang mempunyai spesialisasi yang berbeda, dalam hal ini spesialisasi
bentuk, ukuran namun memiliki tujuan yang sama yaitu mendukung
berlangsungnya kerja dari satu sistem organ tubuh. Sistem-sistem
dalam tubuh yang saling berkoordinasi akan dapat mempertahankan
keseimbangan dalam tubuh atau homeostasis dalam tubuh sehingga
suatu organisme dapat bertahan hidup.
    Sistem pencernaan merupakan sekumpulan organ yang saling
berkoordinasi untuk melaksanakan proses pencernaan sehingga
tubuh dapat memperoleh energi dari proses metabolisme. Sistem
perncernaan pada manusia dimulai dari mulut hingga tempat
pembuangan feses yaitu anus. Menurut Dellmann (1992), system
pencernaan memiliki serangkaian organ berbentuk buluh dengan
kelenjarnya yang melaksanakan fungsi untuk memecah makanan
yang masuk menjadi unti-unit kecil, agar dapat diserap jaringan
untuk mempertahankan kehidupan organisme. Sistem reproduksi
merupakan suatu sistem yang pada dasarnya berfungsi untuk
menghasulkan keturunan, sehingga suatu generasi dapat
dipertahankan dan tidak punah. Sistem reproduksi pada pria dan
wanita berbeda, namun keduanya menghasilkan hormon seks dan sel
gamet yang berfungsi pada saat fertilisasi.
    Sistem pencernaan dan sistem reproduksi disusun atas berbagai
jaringan yang mengandung berbagai macam sel yang mendukung
jaringan tersebut. Pengetahuan dan pemahaman tentang jaringan
penyusun ini dapat membantu mengatasi berbagai masalah tentang
kerusakan suatu jaringan agar dapat disembuhkan dan segera
mengalami recovery sebelum mengalami kerusakan yang lebih parah
serta dapat membantu dalam proses adaptasi dan pembentukan
jaringan, serat atau lapisan pada organ yang baru mengalami
transplantasi.
    Praktikum pengamatan jaringan penyusun sistem pencernaan dan
sistem reproduksi pada preparat mikroskopis dilatarbelakangi oleh
kurangnya pengetahuan dan pemahaman praktikan tentang struktur
dan perbedaan dari setiap jaringan, sehingga dapat digunakan
sebagai bekal dalam aplikasi ilmu selanjutnya.
1.2 Tujuan
   Tujuan pelaksanaan praktikum “Jaringan Penyusun Sistem
Pencernaan dan Sistem Reproduksi” adalah untuk mengetahui
struktur sel dan jaringan penyusun sistem pencernaan dan sistem
reproduksi, serta mengetahui perbedaan antara jaringan-jaringan
penyusun sistem tersebut satu dengan lainnya.

1.3 Rumusan Masalah
   Rumusan masalah pada praktikum “Jaringan Penyusun Sistem
Pencernaan dan Sistem Reproduksi”antara lain :
  1. Bagaimana struktur sel dan jaringan penyusun sistem
     pencernaan dan sistem reproduksi?
  2. Apakah perbedaan diantara jaringan jaringan penyusun sistem
     pencernaan dan sistem reproduksi

1.4. Manfaat
    Melalui praktium ini diharapkan praktikan dapat mengetahui
struktur dan perbedaan sifat diantara setiap sel dan jaringan
penyusun sistem pencernaan dan sistem reproduksi sehingga dapat
diaplikasikan selanjutnya dalam mengembangkan ilmu kedokteran
yang dapat membantu dalam proses pengobatan dan recovery
jaringan yang rusak. Selain itu, pengetahuan ini juga dapat
bermanfaat bagi proses adaptasi dan penyusunan jaringan-jaringan
pada organ yang baru ditransplantasi sehingga dapat
terkoordinasikan dengan baik dalam tubuh.
                            BAB II
                      TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sistem Pencernaan
   Sstem percernaan jika dilihat dari histologinya dimulai dari
lumen sampai ke permukaan terdiri atas:
   1. Tunika mucosa (lapisan lendir), dengan bagian: epitel,
       lamina propia, dan muscularis mucosa
   2. Tunika submucosa
   3. Tunika muscularis (lapisan otot) dengan bagian: sirkuler,
       (melingkar) dan longitudinal (memanjang.)
   4. Tunika adventitia (atau tunika serosa).
   Tiap bagian pencernaan pada umumnya mengandung kelenjar
   yang menggetahkan lendir. Lendir itu berisi enzim untuk
   mencernakan makanan secara kimia. Kelenjar itu ada dalam
   tunica mucosa, ada pula dalam tunica submucosa (Junquiera
   dkk,1998).

    2.1.1. Usus halus (Intestinum tenue)
   Usus halus disebut juga dengan intestine atau intestinum tenue.
Terdiri dari 3 daerah yaitu duodenum, jejenum dan ileum. Seperti
halnya lambung, histologi usus halus juga terdiri dari 4 lapisan yaitu
tunika mukosa, tunika submukosa, tunika muscularis, dan tunika
serosa. Permukaan dalam usus juga diperluas dengan adanya
tonjolan-tonjolan dalam sirkuler (plica sirkulares). Tonjolan ini
memiliki jonjot halus yang disebut villus (jamak: villi). Satu villus
mengandung percabangan halus pembuluh darah dan pembuluh
limfa. Tunika mukosa pada usus halus terdiri dari sel goblet dan sel
batang. Sel goblet berbentuk bulat gembung seperti kendi atau
lonceng, menggetahkan lendir tanpa mengandung enzim. Sel batang
bermikrovilli, yang berfungsi untuk mengasorpsi makanan. Tunika
submukosa tersusun atas serat kolagen, elastis dan retikulosa, banyak
mengandung pembuluh darah dan simpul saraf Meissner. Pada
lapisan ini, pada daerah duedenum terdapat kelenjar Bunner. Tunika
muscularis terdiri dari dua lapisan otot polos. Sebelah luar letaknya
longitudinal, sebelah dalam sirkuler. Diantara kedua lapisan ini
terdapat simpul Auerbach.Tunika serosa terdiri dari mesothelium
serta jaringan ikat, sebagai penerusan lapisan perithoneum (Marieb,
2004).
   Daerah duodenum, villi membentuk daun menjari yang berlapis-
lapis. Di daerah jejenum, villi lebih pendek daripada di daerah
duodenum. Pada ileum villi paling pendek dan membentuk jari. Pada
bagian ini terdapat banyak nodul limfa dan membentuk kelompok
yang disebut bercak Peyer (Yatim, 1990).

      2.1.2. Usus Besar
  Usus besar atau intestinum crassum terdiri dari 4 bagian yaitu
caecum (usus buntu), appendiks (umbai cacing), colon (usus besar)
dan rektum (poros usus). Pada persambungan antara usus halus dan
usus besar terdapat suatu empang berbentuk cincin. Jaringan
penyusun usus besar terdiri dari Tunika mucosa yang tidak memiliki
villi. Jaringan epitel terdiri atas sel-sel batang yang pada puncaknya
terdapat banyak microvilli. Membran sel ke arah lumen diselaputi
oleh kutikula. Kelenjar yang terdapat pada usus besar yaitu kelenjar
Lieberkuhn. Kelenjar ini berbentuk panjang dan banyak mengandung
sel goblet. Kelenjar pada usus besar mengandung sel goblet, sel
Paneth, dan sel APUD. Namun yang dominan adalah sel goblet. Sel
Paneth sukar ditemukan. Sedangkan sel APUD terdapat cukup
banyak. Pada usus besar, terdapat banyak lamina propia yang
mengandung nodul limfa dan menerobos masuk menuju ke tunika
submukosa (Marieb, 2004).
    Lapisan muscularis-mucosa mengandung dua lapis otot polos,
longitudinal dan sirkuler. Fungsi alat ini ialah absorpsi air, vitamin
hasil sistesa simbiosis dengan bakteri colon, dan pembentukan tinja.
Tunika submucosa, mengandung terobosan nodul limfa. Tunika
muscularis terdiri dari dua lapisan otot, tetapi, lapisan longitudalnya
membentuk tiga gumpal otot seperti pipa, disebut teniae coli. Tunika
serosa memiliki tonjolan jaringan lemak (Kerr, 1998).

2.2. Sistem Reproduksi
   2.2.1. Sistem Reproduksi Pria
    2.2.1.1. Testis
     Sistem reproduksi pria terdiri dari testis, pembuluh (epididymis,
urethra), kelenjar (prostat, vesicula seminalis, bulbourethralis,
Littre), dan penis. Testis adalah alat kelamin utama, penghasil gamet
berupa spermatozoa. Testis adalah kelenjar penghasil gamet, sedikit
cairan mani dan hormon. Karena itu, alat ini disebut kelenjar utama.
Testis disebut juga buah pelir. Berbentuk bulat lonjong, sepasang kiri
kanan dan berada dalam scrotum. Alat ini tergolong kelenjar tubuler
majemuk. Dilapisi oleh kapsul yang terdiri jaringan ikat yang disebut
tunika albuginea. Kapsul dibagian posterior menebal, disebut
mediastinum testis. Pada mediastinum terletak puncak sekat (septula)
yang membagi testis menjadi banyak ruang yang disebut lobuli testis
yang terdiri dari 250 ruang. Sekat tidak tertutup sempurna, sehingga
ada hubungan dengan lobuli sebelahan. Tiap lobulus mengandung
lilitan tubulus seminiferus. Di dalam tubulus, dihasilkan spermatozoa
serta hormon inhibin, ABP (androgen binding protein), dan estrogen.
Diantara lobuli pada tiap septa diisi oleh jaringan antara, atau
jaringan interstisial. Jaringan antara ini mengandung sel Leydig,
penghasil hormon androgen. Semua tubuli seminiferus bermuara
pada suatu labirin saluran yang disebut rete testis (Cormack, 1994)

   2.2.2. Sistem Reproduksi Wanita
   Sistem reproduksi pada wanita terdiri dari indung telur (ovarium),
saluran telur (tuba), rahim (uterus), lobang sanggama (vagina),
kelamin luar (vulva) dan kelenjar susu (mammae) (Junquiera dkk,
1998).
    2.2.2.1. Ovarium
    Indung telur ovarium berjumlah sepasang, kiri dan kanan,
bentuknya lonjong agak gepeng. Berada dalam rongga peritoneum,
menggantung pada ligament besar oleh selaput peritoneum sendiri,
disebut mesovarium. Menggantung pula pada uterus oleh ligamen
ovarium. Lapisan terluar ovarium terdiri dari epitel germinal, selapis
sel bentuk kubus yang berasal dari selaput peritoneum. Ovarium
terdiri dari dua bagian, yaitu korteks dan medulla. Korteks adalah
bagian kulit ovarium, di bawah epitel germinal. Terdiri dari jaringan
ikat interstisial, yang disebut stroma. Diantara stroma terdapat
banyak folikel . Folikel mengandung sel telur (oosit) dalam berbagai
tingkat pertumbuhan. Setiap oosit diselaputi oleh sel folikel.
Berbatasan dengan epitel germ inal, stroma memadat membentuk
lapisan, disebut tunca albuginea. Stroma banyak mengandung serat
retikuler dan sel bentuk gelendong mirip fibroblast (Cormack, 1994).
    Medulla adalah bagian sumsum ovarium. Batas korteks dan
medulla tidak tampak. Medulla terdiri atas jaringan ikat. Bagian ini
banyak mengandung pembuluh darah, sehinga sumsum disebut juga
zona vasculosa (Marieb, 2004).
    Dalam srtoma terdapat banyak folikel. Flikel sudah terbentu pada
masa embrio, dan waktu wanita akil baligh jumlah folikel dalam
sebelah ovarium sejumlah 20.000 butir. Ketika usia lanjut, folikelnya
kian susut dan menagalami degenerasi yang disebut atresia. Ketika
atresia, mitosis folikel terhenti, dan sel-sel lepas dari susunannya
menyelaputi oosit. Oosit sendiri jadi mati dan autolysis. Tempat
folikel yang atresia itu diisi oleh jaringan stroma (Kerr, 1998).
    Sekitar 0.25% saja folikel yang mengalami pertumbuhan sesuai
dengan oosit yang dikandung. Terdapat tiga tahap pertumbuhan
folikel yaitu (Yatim, 1990):
     1. Folikel primordial
    Terdiri dari satu oosit primer yang diselaputi oleh selapis sel
folikel yang gepeng. Oosit I tumbuh dari mitosis oogonium, disusul
dengan meiosis I sampai tingkat profase saja. Kemudian berhenti
kemudian folikel itu menjadi dormant. Folikel tersebut akan tumbuha
jika wanita telah dewasa.
     2. Folikel tumbuh
     Folikel primordial yang tumbuh             menjadi folikel matang,
kemudian terjadi ovulasi. Pertumbuhan itu terdapat tiga tahap,
sehingga folikel tumbuh dibagi menjadi folikel primer, folikel
sekunder dan folikel tertier.
     3. Folikel Graaf
     Folikel Graaf disebut juga folikel matang. Oosit dengan selaput
sel folikel yang terdiri dari beberapa lapis yang berada dalam
cumulus oophorus, satu tonjolan stratum granulosum ke antrum.
Antrum kini menjadi satu dan lebih luas daripada folikel tertier.
Rongganya berisi cairan yang disebut liquor folliculi. Lapisan sel
folkel yang menyelaputi oosit disebut corona radiata.

   2.2.2.2. Tuba Fallopi
   Tuba fallopi disebut juga tuba uterina atau oviduk. Bagian
kelamin ini menampung telur yang ovulasi, tempat terjadinya
pembuahan, kemudian menyalurkan oosit yang sudah dibuahi ke
dalam uterus. Tuba sepasang kiri dan kanan, sesuai dengan ovarium
yang sepasang. Bagian ujung yang menampung oosit disebut
infundibulum dan tonjolannya yang menjarimembentuk penadah,
disebut fimbriae (Yatim, 1990).
   Dinding saluran ini terdiri dari tiga lapisan yaitu tunika mucosa.
Tunika muscularis dan tunika serosa. Tunika mucosa, terdiri atas
jaringan epitel, yang selnya selapis bentuk batang, atau berlapis
semu. Sel epitel dapat dibedakan atas dua macam, yaitu sel bersilia
dan sel penggetah. Sel bersilia untuk mengayuhkan bahan yang ada
dalam lumen yang berisi lendir. Sel penggetah befungsi untuk
menghasilkan lendir, sebagai media bagi oosit atau spermatozoa. Sel
bersilia lebih rendah daripada sel penggetah. Sel penggetah
mengandung banyak granula sekresi (Marieb, 2004).
    Tunika mucosa membentuk tonjolan bercabang. Tonjolan itu
membentuk beberapa alur longitudinal, yang diduga untuk
melancarkan penyaluran spermatozoa atau oosit yang sudah
dibuahi..Tunika muscularis terletak di bawah tunika mucosa,
keduanya dibatasi oleh lapisan jaringan ikat yang tipis. Tunika ini
terdiri atas serat otot polos yang terdiri dari dua lapis, sirkuler
sebelah dalam, longitudinal sebelah luar. Lapisan otot ini berperan
untuk kontraksi tuba, yang perlu untuk melancarkan transport
spermatozoa atau oosit. Tunika serosa adalah penerusan selaput
peritonium, terdiri atas jaringan ikat, dan disebelah luar dilapisi
olewh sel mesotel yang gepeng (Cormack, 1994).

   2.2.2.3. Uterus
    Rahim atau uterus berada ditengah atau hanya ada satu. Pada
bagian anteriornya bermuara tuba sepasang kiri dan kanan, dan ke
bagianposteriornya bermuara vagina. Seperti pada tuba fallopi,
dinding uterus juga terdiri dari tiga lapisan yaitu tunika mucosa,
tunika muscularis dan tunika serosa. Tunika mucosa dikenal sebagai
endometrium. Terdiri atas jaringan epitel dan lamina propia. Sel
epitel berbentuk batang dan dibedakan menjadi sel bersilia dan sel
penggetah. Di bawah lapisan epitel terdapat lamina propia yang
mengandung banyak kelenjar yang mengetahkan lendir. Sel lebih
banyak daripada serat dalam lapisan ini, sehingga disebut
endometrium yang serupa dengan mesenkhim (jaringan ikat embrio).
Dalam endometrium ditemukan banyak arteri yang melilit.Tunika
muscularis terletak dibawah tunika mucosa, lebih dikenal dengan
sebutan myometrium. Terdiri dari jaringan otot polos dan sedikit
jaringan ikat. Lapisan ini sangat tebal, hingga mencapai 2-3 cm.
Dapat dibedakan menjadi empat strata, yaitu stratum submucosum,
stratum vaskulare, stratum supravasculare, dan stratum subserosum.
Tunika serosa terdiri dari serat kolagen dan fibroblast. Terkadang
juga ditemukan serat elastis dan retikulosa. Bagian terluarnya dilapisi
mesotel yang merupakan terusan peritoneum (Yatim, 1990).




                 Gambar 1.Jaringan penyusun uterus
           (http://www.lab.anhb.uwa.edu.au/mb140/.)
   2.2.2.4. Vagina
    Vagina disebut juga lubang sanggama. Lubang ini
menghubungkan rahim dengan vulva. Jaringan penyusunnya terdiri
dari tunika mucosa, tunika muscularis dan tunika adventitia. Tunika
mucosa mengandung jaringan epitel berlapis dan mengelupas. Tidak
ada kelenjar lendir pada vagina. Lendir yang berada di vagina berasal
dari serviks. Pada lamina propia terdapat banyak serat elastik dan
limfosit. Terkadang juga ditemukan nodul limfa. Tunika muscularis
terletak diluar tunika mucosa, mengandung serat otot polos dua lapis,
sesuai dengan letak seratnya itu sirkuler dan longitudinal (Marieb,
2004).




                Gambar 2.Jaringan penyusun vagina
        (http://www.lab.anhb.uwa.edu.au/mb140/,2008)
                             BAB III
                     METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat
  Praktikum “Jaringan Penyusun Sistem Pencernaan dan Sistem
Reproduksi” dilaksanakan pada 2 Juni 2008 pukul 11.00 – 13.00
WIB, di Laboratorium Fisiologi Hewan, Jurusan Biologi, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya,
Malang.

3.2 Alat dan Bahan
   Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mikroskop
cahaya biasa dengan perbesaran 10X, 40X, dan 100X, kertas A4
untuk menggambar, pensil, penghapus dan pensil warna. Sedangkan
bahan yang dibutuhkan dalam praktikum ini adalah preparat jaringan
penyusun sistem pencernaan yaitu preparat jaringan penyusun (usus
halus) duodenum dan usus besar (colon) serta sistem reproduksi,
yaitu jaringan penyusun testis, ovarium, uterus, tuba fallopi, uterus
dan vagina.

3.3 Metode kerja
   Langkah pertama dalam pelaksanaan praktikum ini adalah
mengamati preparat mikroskopis sistem organ dari suatu jaringan
yang disediakan, antara lain preparat jaringan penyusun sistem
pencernaan dan sistem reproduksi. Pengamatan dilakukan diawali
dengan perbesaran lemah lensa objektif lemah (10X), kemudian
diperjelas dengan perbesaran kuat (40X dan 100X). Selanjutnya,
hasil pengamatan digambar pada kertas A4, dan diberi warna sesuai
dengan pengamatan dibawah mikroskop.
                         BAB IV
                 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.1. Analisa Prosedur
    Praktikum histologi menggunakan preparat beberapa jaringan
dalam tubuh manusia sebagai bahan utamanya. Hal ini bertujuan agar
para praktikan mengetahui strukutr, warna dan perbedaan pada setiap
jaringan dalam tubuh. Jaringan pada preparat diamati menggunakan
mikroskop cahaya yang sumber cahayanya bersumber dari aliran
listrik. Seluruh jaringan diamati dengan menggunakan perbesaran
yang berbeda, mulai dari perbesaran 100X, 400X hingga 1000X. Hal
ini disebabkan karena penyusun jaringan ini sangat kompleks dan
kecil, sehingga penggunaan satu perbesaran saja, tidak akan
mendapatkan pengamatan yang terperinci pada semua preparat.
Selain itu, sebelum praktikan menggambar jaringan ke kertas
gambar, hendaknya preparat jaringan diamati dahulu dengan
menggesernya ke kanan dan kiri. Hal ini bertujuan agar praktikan
tidak salah dalam menggambar dan dapat menghasilkan gambar
jaringan yang utuh mulai dari lapisan teratas hingga lapisan
dasarnya.. Hasil pengamatan digambar dan diberi warna sesuai
dengan pengamatan dibawah mikroskop. Pemberian warna
dimaksudkan agar praktikan dapat membedakan bagian-bagian
dalam preparat tersebut sehingga dapat mengetahui seluruh bagian
dari setiap jaringan dengan baik.
Analisa Hasil
SISTEM PENCERNAAN
4.1.2. Duodenum (Usus Halus)
   Perbesaran (100X)




        Gambar 4.1. Pengamatan jaringan penyusun colon
    Keterangan:
       1 Tunika mukosa
       2 Vili
       3 Tunika submuskosa
       4 Glandula Brunner
       5 Tunika muskularis

    Berdasarkan gambar 4.1. diketahui bahwa jaringan penyusun usus
halus (duodenum) terdiri dari beberapa lapisan, yaitu lapisan yang
paling atas, yang berbentuk seperti puncak dan lembah yang disebut
lapisan mukosa. Setiap satu puncak disebut 1 vili. Vili terdiri dari
sel-sel epitelial berbentuk silinder sebaris dan diantara sel-sel
epitelial tersebut terdapat sel goblet; lamina propia yang berada
ditengah vili dan kelenjar Lieberkhun Dibawahnya terdapat lapisan
submukosa yang mengandung deretan kelenjar berbentuk bulat yang
disebut kelenjar Brunner serta pembuluh darah. Menurut Junquiera
(1987), kelenjar ini berbentuk tubular bercabang dan mengeluarkan
sekresi yang bersifat alkalis untuk mentolerir HCl pada lambung.
Lapisan yang terletak dibawahnya adalah tunika muskularis yang
berbentuk panjang-panjang.
    Permukaan dalam usus halus diperluas oleh tonjolan yang
berbentuk sirkuler (plica circularies). Tonjolan ini memiliki jonjot
halus yang disebut villi. Satu villi mengandung percabangan halus
pembuluh darah dan pembuluh limfa, dan titempat inilah terjadi
penyerapan makanan. Tunika mukosa dibalut oleh epitel permukaan,
lamina propia dengan kelenjar, dan lamina muskulais mukosa.
Menurut Marieb (2004), kelenjar usus yang bermuara dalam alur
(cript) antara dasar vili, menembus selaput lender sejauh lamina
muskularis mukosa. Kelenjar berbentuk tubulus sederhana yang
disebut glandula intestinales atau kelenjar Lieberkhun. Epitel
silinder sebaris pada vili disisipi oleh sel mangkok atau disebut juga
sel goblet. Sel ini tersebar diantara sel epitel. Jumlah sel goblet pada
ujung vili semakin berkurang dan kepekatannya adalah dua sampai
tiga kali lebih besar di daerah kaudal usus halus daripada daerah
kranial. Di dekat kripta usus, terdapat sel Paneth, yang berbentuk
piramid dengan butir bersifat asidofil dan bulat yang terletak diantara
inti dan apeks. Berfungsi sebagai penghasil enzim dan diduga
menghasilkan peptidase dan lisozim, suatu senyawa yang bersifat
bakterisida. Sel Argentaffin terdapat pada bagian dasar tunika
mukosa. Sel ini sukar untuk ditemukan, namun banyak ditemukan
pada pangkal duodenum. Sel ini mensekresikan hormon yang
berfungsi untuk merangsang pengerutan lapisan otot polos dinding
usus (Kerr, 1998).
    Lamina propia berbentuk jaringan ikat longgar yang merupakan
pusat dari vili dan mengelilingi kelenjar usus, terdiri dari serabut
kolagen dan elastik dalam jalinan serabut retikuler. Di dalam jalinan
ini terdapat pembuluh darah, pembuluh limfe, leukosit, fibrosit, otot
polos, sel mast dan sel plasma. Pleksus basal merupakan jalinan
pembuluh limfe yang mengitari ujung kelenjar serta folikel getah
bening. Otot polos berfungsi memompa limfe keluar dari pembuluh
khil ke dalam pleksus limfatikusyang ada di bawahnya. Lamina
muskularis mukosa pada tunika mukosa terdiri dari otot polos, lapis
dalam melingkar, dan lapis luar memanjang. Tunika submukosa
terdiri atas serat kolagen, elastis dan retikulosa, banyak mengandung
pembuluh darah dan simpul saraf Meissner. Pada lapisan ini, khusus
di daerah duodenum, terdapat kelenjar Brunner. Getahannya ialah
lendir. Kelenjar ini menghasilkan enzim pencernaan yaitu peptidase
dan amilase (Dellmann, 1992).




                                            Gambar 4.2.Istestinum
                                                  tenue
                                          (lab.anhb.uwa.edu.au,
                                                  2008)


   Tunika muskularis terdiri atas lapisan yang tersusun melingkar
dari dalam dan lapis luar yang tersusun memanjang. Lapisan ini
mengandung otot polos. Diantara kedua lapis otot polos terdapat
jaringan ikat longgar dan mengandung pleksus mienterikus atau
gangliion pleksus dari Auerbach. Daerah duodenum, villi
membentuk daun menjari yang berlapis-lapis. Di daerah jejenum,
villi lebih pendek daripada di daerah duodenum. Pada ileum villi
paling pendek dan membentuk jari. Pada bagian ini terdapat banyak
nodul limfa dan membentuk kelompok yang disebut bercak Peyer
(Yatim, 1990).

4.1.3. Colon (Usus Besar)
   Perbesaran (100X)




                                             Gambar 4.3.
                                          Pengamatan jaringan
                                            penyusun colon
Keterangan:
   1. Mukosa
   2. Submukosa
   3. Muskularis
   4. Taeniacoli
   5. Mikrovili
   6. Sel goblet

Perbesaran (1000X)




                                             Gambar 4.4.
                                          Pengamatan jaringan
                                            penyusun colon
Keterangan:
     1 Epitel
     2 Sel goblet
     3 Lamina propia
     Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui bahwa jaringan
penyusun usus besar (colon) tersusun atas tiga lapisan yang memiliki
struktur yang berbeda. Gambar 4.3. menunukkan hasil pengamatan
preparat. Nampak pada gambar lapisan yang terdiri dari banyak
bulatan yang berderetan rapat berwarna merah muda dan terletak
paling atas disebut dengan mukosa. Setiap bulatan itu disebut villi.
Diantara villi terdapat sel-sel yang mengisi ruang antar villi, yang
dikenal sebagai sel goblet. Lapisan yang terletak di bawah lapisan
mukosa adalah lapisan submukosa. Lapisan ini membatasi antara
lapisan mukosa dan lapisan muskuliris. Lapisan ini ditandai dengan
warna biru tua. Lapisan muskularis merupakan lapisan yang berada
di bawah lapisan submukosa. Lapisan ini berwarna merah muda,
seperti serat pada daging sapi yang di dalamnya terdapat serat-serat
ototnya. Lapisan paling bawah pada colon yaitu taenia coli yang
berupa merah tua. Lapisan ini lebih tipis dari lapisan taenia coli,
yang juga dibatasi oleh serat otot polos pada bawah lapisan tersebut.
Berdasarkan gambra 4.4. diketahui bahwa pada perbesaran 1000X,
bagian colon yang dapat diamati adalah mikrovili, sel epitel, yang
terletak disamping mikrovili, sel goblet yang berupa bulatan yang
melekat pada lapisan epitel dan lamina propia yang merupakan
tempat sel goblet dan terletak pada sisi luar lapisan epitel.
     Menurut Dellmann (1992), lapisan tunika mukosa colon tebal,
karena kelenjar usus lebih panjang jika dibandingkan dengan usus
halus. Lapisan ini tidak memiliki vili. Pada lapisan ini hanya terdapat
kelenjar Lieberkhun yang berbentuk panjang-panjang dan banyak
sekali mengandung sel goblet. Epitel pelapis kelenjar ini adalah
silindris dan sel-selnya memiliki mikrovili pendek dan tidak teratur,.
Organ ini berfungsi untuk penyerapan air, vitamin hasil sisa
simbiosis dengan bakteri colon dan pembentukan tinja. Lapisan
lamina propia banyak mengandung nodul limfa yang meluas hingga
lapisan submukosa. Lapisan submukosa mengandung banyak nodul
limfa dan limfosit yang berfungsi mengikat bakteri dalam usus besar.
Tunika muskularis mengandung untaian otot longitudinal dan
sirkuler. Lapisan luar dari muskularis sekum dan colon membentuk
pita otot yang besar, mengandung serabut elastik dan disebut taenia
coli (Yatim, 1990).
    Usus besar (intestinum crassum) terdiri dari sekum, colon,
rektum dan anus. Usus kasar merupakan tempat aktivitas mikroba
yang berreaksi pada ingesta, penyerapan air, vitamin, elektrolit serta
sekresi lendir. Banyak terdapat variasi dalam bentuk makroskopik
serta fungsinya dalam rangka kebutuhan memcah massa bahan yang
mengandung selulosa bagi herbivora dan ruminansia (Kerr, 1998).




                                             Gambar 4.4.Istestinum
                                                  crassum
                                        (lab.anhb.uwa.edu.au, 2008)


SISTEM REPRODUKSI
     Sistem reproduksi Pria
4.1.4. Testis
   Perbesaran (400X)




                                                Gambar 4.5.
                                             Pengamatan jaringan
                                               penyusun testis
    Keterangan:
       1 Jaringan interstisial
       2 Tubulus seminiferus
   Perbesaran (1000X)




                                                    Gambar 4.6.
                                                 Pengamatan jaringan
                                                   penyusun testis

    Keterangan:
       1 Sel leydig
       2 Spermatogonia
       3 Sel Sertoli
       4 Spermatid matang
       5 Spermatosit primer

    Berdasarkan gambar pengamatan gambar 4.5., diketahui bahwa
pada perbesaran 400X, penampang jaringan penyusun testis hanya
terlihat bulatan-bulatan berwarna orange yang dipisahkan oleh
beberapa saluran yang bertemu pada membentuk segitiga yang
disebut jaringan interstisial. Bulatan-bulatan tersebut dikenal sebagai
tubulus seminiferus. Menurut Dellmann (1992), bila testis diangkat
dari skrotum, maka tunika vaginalis tetap melekat pada skrotum,
sedangkan lapis viseralis, pembalut peritoneum tetap melekat pada
kapsula testis dibawahnya, yaitu tunika albugenia. Lapisan ini terdiri
dari jaringan ikat padat tidak teratur, yang materi utamanya serabut
kolagen dan sedikit serabut elastik. Tunika albugenia berlanjut
menuju trabekula yang disebut septula testis, yang arah susunannya
memusat ke mediastinum testis.Trabekula ini terdiri dari serabut
kolagen, mengandung pembuluh darah dan saraf, yang membagi
testis menjadi beberapa lobulus yang masing-masing mengandung
satu sampai empat tubuli konvoluti Tiap lobuli konvoluti
mengandung lamina basalis yang membalut setiap tubulus
seminifrus. Septula ini kemudian berlanjut pada jaringan ikat
intralobularis atau jaringan interstisial. Jaringan interstial terdiri dari
pembuluh darah dan limfe, fibrosit, sel-sel mononuklear bebas dan
sel-sel interstisial endokrin (sel Leydig).
   Jaringan penyusun testis pada perbesaran 1000X, nampak struktur
tubulus seminiferus dan jaringan interstisial lebih detail. Tubulus
seminiferus terdiri dari banyak sel-sel yang berada di dalamnya,
antara lain sel spermatosit primer yang berbentuk bulat yang berada
di tepi tubulus seminiferus; sel sertoli yaitu suatu sel berinti yang
berbentuk lonjong yang berada di tepi tubulus seminiferus;
spermatogonia yang berbentuk kumpulan bulatan kecil yang berada
di tepi; sedangkan bentuk yang tampak pada gambar 4.6. sebagai
struktur berbentuk panjang-panjang yang memenuhi bagian tengah
tubulus seminiferus adalah spermatid matang. Diantara satu tubulus
seminiferus dengan lainnya, dipisahkan oleh jaringan ikat yang
berupa jaringan interstisial yang mengandung sel-sel Leydig.




               Gambar 4.7. jaringan penyusun testis
                   (lab.anhb.uwa.edu.au, 2008)
   Spermatogonia (tunggal spermatogonium)merupakan sel benih
induk, yang berada paling dasar epitel germinalis, persis di atas
membrana basalis. Sel ini relatif kecil, bergaris tengah sekitar 12μm,
dan intinya mengandung kromatin pucat. Pada keadaan kematangan
kelamin, sel ini mengalami sederetan mitosis dan sel-sel yang baru
dibentuk dapat mengikuti satu dari dua jalur: sel-sel tersebut dapat
berlanjut, setelah satu atau lebih pemebelahan mitosis, sebagai sel
induk atau spermatogonium A, atau sel tersebut akan
berdiferensiasi selama siklus mitotik yang progresif menjadi
spermatogonium tipe B. Spermatosit berada pada lapisan sebelah
dalam spermatogonia, yang menurut kejadiannya, dibedakan atas:
spermatosit primer dan spermatosit sekunder. Spermatosit primer
berasaal dari spermatogonia B, spermatosit sekunder berasal dari
meiosis spermatosit primer. Spermatid terletak lebih ke atas lagi
dibanding spermatosit sekunder, dan berasal dari meiosis spermatosit
sekunder.      Spermatid     dapat    dibedakan    menurut     tahap
spermatogenesis, dan tahap akhir terletak paling dekat ke lumen.
Spermatozoa adalah sel spermatogenik yang paling akhir terbentuk,
dan telah memiliki struktur yang sempurna.             Berasal dari
spermiogenesis spermatid. Letaknya, pada mula terbentuk di puncak
sel Sertoli, kemudian tersusun dalam lumen (Marieb, 2004).
    Sel sertoli terletak pada membrana basalis, terletak berselang-
seling dengan spermatogonia. Puncaknya mencapai lumen tubulus,
karena itu tinggi sel ini adalah setebal epitel germinal. Sel ini
berfungsi untuk memelihara dan memberi nutrisi sel spermatogenik,
melindungi sel spermatogenik dari gangguan luar yang dibawadarah:
antigen, antibodi, toksin, radiasi, bahan kimia; menghasilkan bahan
inhibin, ABP dan melakukan steroidogenesis bersama sel leyig dan
menghasilkan faktor penentu pertumbuhan testis dari “genital ridge”
masa embrio (Kerr, 1998).
    Sel Leydig menghasilkan hormon androgen testikular (testoteron
dan juga banyak mengandung hormon estrogen. Sel Leydig tersusun
dalam kelompok atau berbentuk tali, sehingga setiap sel tidak
berdekatan dengan kapiler. Diantar sel-sel yang berbatasan tersebut,
terdapat kanalikuli interseluler serta gap junction. Kadar hormon
steroid yang tinggi terdapat dalam jaringan terstikular dan limfe.
Bentuk sel leydig tidak teratur, sel-selnya polihedral dengan inti
bulat dengan kandungan kromatin perifer. Sel ini berfungsi sebagai
pensekresi steroid (Yatim, 1990).
        Gambar 4.8.Sel-sel penyusun Tubulus seminiferus
             (http://www.lab.anhb.uwa.edu.au, 2008)
SISTEM REPRODUKSI
     Sistem reproduksi Wanita
4.1.5. Ovarium
   Perbesaran (100X)




       Gambar 4.9. Pengamatan jaringan penyusun ovarium

   Keterangan:
      1 Lumen
      2 Oosit
         3 Camulus oophorus
         4 Zona pelusida
         5 Sel granulosa
         6 Antrum
         7 Sel theca interna
         8 Sel theca externa
         9 Satu folikel
    Berdasarkan gambar 4.9. yaitu berupa jaringan penyusun
ovarium, dapat diketahui bahwa ovarium berbentuk bulat yang tidak
teratur, yang pada bagian tengahnya terdapat folikel-folikel, yang
nampak pada gambar adalah salah satu folikel yang telah matang
(folikel De Graff) yang berupa satu bulatan yang didalamnya
terdapat lumen, yang terdiri dari sel theca interna yaitu sel yang
berbentuk pipih yang berada pada pada bagian tepi dalam folikel, sel
granulosa yaitu sel-sel yang berbentuk bulat yang berderet sepanjang
folikel yang letaknya dekat dekat dengan sel theca interna. Zona
pelusida nampak sebagai suatu bulatan yang berada pada bagian
anterior dalam folikel yang didalamnya mengandung oosit yang
hanya nampak sebagai bulatan hitan. Zona pelusida dikelilingi
olehsekelompok bulatan kecil yang disebut camulus oophorus. Pada
bagian tengah folikel terdapat ruang kosong yang tidak berwarna
yang disebut dengan antrum. Sel theca externa berbentuk pipih yang
berada pada tepi luar dari folikel.
    Menurut Marieb (2004), ovarium merupakan bagian dari sistem
reproduksi pada wanita yang mempunyai bentuk buah kenari dengan
panjang sekitar 3 cm, lebar 1,5 cm, dan tebal 1 cm. Ovarium terdiri
dari bagian korteks dan bagian medulla. bagian korteks terdiri dari
folikel ovarium yang mengandung oosit. Bagian medulla
mengandung jalinan vaskular luas di dalam jaringan ikat seluler
longgar.
    Folikel-folikel ovarium tertanam di dalam stroma korteks. Dapat
dibedakan tiga jenis folikel yaitu folikel primordial, folikel yang
sedang tumbuh dan folikel Graaf. Folikel primer yang masih muda
disebut folikel primordial yang terdiri dari oosit primer, berdiameter
sekitar 20μm yang dikelilingi oleh epitel pipih selapis. Sel folikel
gepeng saling melekat melalui desmosom. Sebuah lamina basal
terdapat di bawah folikel dan merupakan batas antara folikel folikel
avaskular dan stroma sekitarnya. Folikel yang sedang tumbuh terdiri
dari epitel banyak lapis dari sel-sel granulosa berbentuk polihedral
dan mengitari oosit primer. Rongga yang berisi cairan belum
terbentuk diantara sel-sel folikel. Folikel yang sedang tumbuh
ditandai dengan berkembangnaya 3 samapai 5 μm lapis glikoprotein
tebal, disebut zona pelucida, mengitari membran plasma oosit.
Terdapat penetrasi parsial di daerah ini oleh mikrovili permukaan
oosit. Zona pelucida dihasilkan oleh sel-sel granulosa yang langsung
mengitari oosit dan sebagian oosit itu sendiri. Lapisan vaskular yang
terdiri sel-sel bentuk kincir disebut sel teka, mulai terbentuk
mengitari lapis sel-sel granulosa pada tahap akhir folikel yang
sedang tumbuh (Junquiera,. 1998.).




             Gambar 4.10. jaringan penyusun ovarium
             (http://www.lab.anhb.uwa.edu.au, 2008)

    Folikel yang matang atau folikel De Graff, ditandai dengan
perkembangan rongga sentral yang disebut folikel antrum. Antrum
terbentuk bila cairan pengisi celah antara sel-sel granulosa pada
folikel yang sedang tumbuh bergabung untuk membentuk satu
rongga besar yang menyimpan cairan folikel. Karena folikel antrum
mualai membesar dengan meningkatnya cairan folikel, oosit
bterdesak ke arah tepi. Sel-sel dari lapisan granulosa lebih banyak
berkumpul pada satu bagian dinding folikel dan membentuk bukit
kecil sel-sel yang disebut kumulus ooforus.Pada folikel matang, sel-
sel granulosa membentuk lapisan folikel parietal yang disebut
strutum granulosum yang menopang membran basal. Stratum
granulosum dikitari oleh lapis sel teka, dimana folikel matang
berdiferensiasi menjadi dua lapis, yaitu teka interna dengan
pembuluh darah dan teka eksterna disebelah luar sebagai penunjang.
Sel-sel teka interna berbentuk kincir dan terletak pada jalianan
serabut retikuler halus. Teka interna terdiri dari lapis jaringan ikat
longgar tipis, tersusun konsentrik mengitari teka eksterna. Pembuluh
darah teka eksterna mensuplai kapiler ke dalam teka interna.

4.1.5. Oviduk
   Perbesaran (100X)




        Gambar 4.11. Pengamatan jaringan penyusun oviduk
    Keterangan:
       1 Sel serosa
       2 Sel Muskularis

   Berdasarkan hasil pengamatan jaringan penyusun oviduk pada
perbesaran 100X, hanya nampak sebuah struktur dengan bentuk yang
terdiri dari suatu membran yang ke arah dalam terdapat banyak
juluran-juluran bersilia yang berwarna merah muda. Membran yang
melapisi juluran-juluran tersebut dikenal sebagai sel serosa,
sedangkan juluran-juluran yang terdapat di dalam membran disebut
sel muskularis. Menurut Cormack (1994), oviduk atau tuba uterina
merupakan sebuah saluran yang berliku-liku yang menjulur dari
daerah ovarium ke kornua uterina dan menyalurkan ovum,
spermatozoa, dan zigot. Epitel tuba uterina berbentuk silinder sebaris
atau berlapis banyak dengan silia aktif pada epitel bagian terbesar.
Tanda morfologik dari aktivitas bersekresi hanya tampak pada sel
yang tidak memiliki silia. Mukosa langsung berhubungan dengan
submukosa pada saluran reproduksi wanita, karena lamina
muskularis mukosa tidak ada. Pada tuba uterina, propia-submukosa
terdiri dari jaringan ikat longgar dengan banyak sel plasma, sel mast,
dan leukosit eosinofil. Tunika muskularis terutama terdiri dari berkas
otot polos melingkar, memanjang dan miring. Lapisan otot tersebut
memberikan jalur radial untuk memasuki mukosa. Pada
infundibulum dan ampula, tunika muskularis yang tipis dan tersusun
oleh lapisan dalam melingkar dan sedikit berkas memanjang di
sebelah luar terdiri dari otot polos. Terdapat lapisan atau tunika
serosa yang terdiri dari jaringan ikat yang mengandung pembuluh
darah dan saraf. (Dellmann, 1992)




              Gambar 4.12. Jaringan penyusun oviduk
              (http://www.lab.anhb.uwa.edu.au, 2008)
4.1.6. Uterus
   Perbesaran (400X)




        Gambar 4.13. Pengamatan jaringan penyusun uterus
    Keterangan:
         1 Endometrium
         2 Kelenjar uterina
         3 Myometrium
   Berdasarkan gambar 4.13. diatas yaitu jaringan penyusun uterus
pada perbesaran 400X, nampak bahwa dinding uterus tersusun atas
lapisan endometrium, myometrium yang terdapat di bagian bawah
endometrium dan bulatan-bulatan yang disebut dengan kelenjar
uterina. Menurut Dellmann (1992), dinding uterus disusun oleh tiga
lapisan yang berbeda, yaitu tunika mukosa-submukosa atau
endometrium, tunika muskularis atau miometrium dan tunika serosa
atau perimetrium. Pada pengamatan, tidak nampak perimetrium.
Perimetrium tidak nampak kemungkinan karena perbesaran objektif
yang digunakan tidak cukup jelas untuk menampilkan seluruh
lapisan pada uterus atau karena kesalahan praktikan yang tidak
menggeser ke kanan dan ke kiri, sehingga yang diamati hanya
tampilan yang ada pada mikroskop.




               Gambar 4.14. Jaringan penyusun uterus
              (http://www.lab.anhb.uwa.edu.au, 2008)

   Endometrium terdiri dari dua daerah yang berbeda dari bangun
dan fungsinya. Zona ini terdiri dari epitel yang berbentuk silindris ,
namun terkadang nampak seperti kubus. Bangun serta tinggi sel
epitel berkaitan dengan sekresi hormon ovarium sepanjang daur.
Bagian superfisial, langsung di bawah epitel zona fungsional, terdiri
dari jaringan ikat longgar yang mengandung banyak pembuluh darah
dan sel-sel jaringan ikat. Miometrium terdiri dari lapis otot dalam
tebal yang umumnya tersusun melingkar, dan lapis luar memanjang
terdiri dari sel-sel otot polos yang mampu meingkatkan jumlah serta
ukurannya selama kehamilan berlangsung. Diantara dua lapis
tersebut terdapat lapis vasikular yang mengandung arteri besa, vena
serta pembuluh limfe. Pembuluh darah tersebut memberikan darah
pada endometrium. Perimetrium atau tunika serosa, terdiri dari
jaringan ikat longgar yang dibalut oleh mesotel atau peritoneum. Sel-
sel otot polos terdapat pada perimetrium. Banyak pembuluh darah,
pembuluh limfe dan saraf (Cormack, 1994.) .

4.1.7. Vagina
   Perbesaran (100X)




         Gambar 4.15. Pengamatan jaringan penyusun vagina
     Keterangan:
         1 Tunika mukosa
         2 Tunika muskularis
         3 Lamina propia
         4 Tunika adventitia
    Berdasarkan gambar 4.15. diketahui bahwa jaringan penyusun
vagina terdiri atas 3 lapisa, yaitu tunika mukosa, tunika muskularis
dan tunika adventitia. Tunika mukosa nampak berwarna merah tua
yang berada paling atas atau lapisan terluar dari vagina. Pada lapisan
ini terdapat lamina propia. Dibawahnya terdapat lapisan muskularis
yang berwarna lebih terang dan lebih tebal dari lapisan mukosa.
Lapisan paling bawah dari vagina adalah tunika adventitia.
    Tunika mucosa mengandung jaringan epitel berlapis dan
mengelupas. Tidak ada kelenjar lendir pada vagina. Lendir yang
berada di vagina berasal dari serviks. Pada lamina propia terdapat
banyak serat elastik dan limfosit. Terkadang juga ditemukan nodul
limfa. Tunika muscularis terletak diluar tunika mucosa, mengandung
serat otot polos dua lapis, sesuai dengan letak seratnya itu sirkuler
dan longitudinal (Marieb, 2004).




              Gambar 4.16. Jaringan penyusun vagina
              (http://www.lab.anhb.uwa.edu.au, 2008)
                             BAB V
                            PENUTUP

    Kesimpulan
    Jaringan merupakan sejumlah sel yang mempunyai struktur dan
fungsi yang sama dan merupakan penyusun dari sebuah sistem
organ. Untuk mengamati suatu jaringan dibutuhkan mikroskop dan
zat kimia tertentu untuk memberi warna pada sel yang diamati. Pada
pengamatan yang dilakukan, diketahui bahwa dalam jaringan
penyusun sistem pencernaan, khususnya berupa usus besar dan usus
halus mempunyai beberapa lapisan yang menyusun jaringan dari
organ tersebut, yang terdiri tunika mukosa, submukosa dan
muskularis. Pada Duodenum ditemukan kelenjar Brunner yang
berfungsi sebagai pentoleransi kadar HCl dalam lambung. Sistem
reproduksi pada manusia berbeda antara pria dan wanita. Namun
keduanya menghasilkan hormonh seks dan sel kelamin pada tiap
organnya. Berdasarkan praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan
bahwa jaringan penyusun setiap sistem organ dalam tubuh berbeda
sesuai dengan struktur dan fungsinya masing-masing dalam rangka
menjaga homeostasis atau keseimbangan dalam tubuh.

5.2. Saran
     Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, hendaknya pada
praktikum selanjutnya hasil pengamatan yang telah digambar oleh
praktikan dan yang telah di setujui oleh asisten dijelaskan terlebih
dahulu, sehingga dalam proses selanjutnya yaitu pengerjaan laporan
praktikan tidak akan mengalami kesalahan dalam menentukan nama
dari bagian jaringan tertentu.
                      DAFTAR PUSTAKA

Cormack, D. H. 1994. HAM Histologi Edisi 9. Penerbit Binarupa
   Aksara, Jakarta.

Dellmann, H. D., Esther M.B. Diterjemahkan oleh R. Hartono.1992.
   Buku Teks Histologi II. Penerbit Universitas Indonesia.
   Jakarta..

Junquiera, L C., Jose C dan Robert O. K. 1998. Histologi Dasar
         Edisi ke-8. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta


Kerr, J. B. 1998. Atlas of Functional Histology. Mosby: London.

Marieb, E. H. 2004. Human Anatomy and Physiology. Pearson
   Education Inc: San Francisco.

Slomianka, L. 2006. Blue Histology Gastrointestinal and
      Reproduction System. The University of Western
      Australia- School of Anatomy and Human Biology.
      http://www.lab.anhb.uwa.edu.au/mb140/.
Yatim, W. 1990. Biologi Modern Histologi. Penerbit Tarsito:
   Bandung

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:4336
posted:10/9/2010
language:Indonesian
pages:28