Docstoc

Aspek Hukum Dalam Penagihan Pajak

Document Sample
Aspek Hukum Dalam Penagihan Pajak Powered By Docstoc
					          DIKLAT TEKNIS SUBSTANTIF
         SPESIALISASI JURU SITA PAJAK




MODUL
Aspek Hukum dalam
Penagihan Pajak

                   Oleh :
            Ida Zuraida, SH, LLM.
     Widyaiswara Madya Pusdiklat Pajak




 DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
             PUSDIKLAT PAJAK
                  2009
            Lisensi Dokumen :
      Copyright 2010, Pusdiklat Pajak

 Modul ini dipergunakan untuk kepentingan
     internal pendidikan dan pelatihan di
  lingkungan Departemen Keuangan. Tidak
diperbolehkan mengutip sebagian atau seluruh
 dokumen kecuali mendapatkan ijin terlebih
         dahulu dari Pusdiklat Pajak.
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                            IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



                        KATA PENGANTAR
         KEPALA PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK




      Jurusita Pajak adalah pelaksana tindakan penagihan pajak yang meliputi
tindakan penagihan seketikan dan sekaligus, pemberitahuan Surat Paksa,
penyitaan dan penyanderaa menurut Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997
tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000. Tugas pokok Jurusita Pajak
adalah melakukan tindakan penagihan pajak yang sekaligus memberikan
kontribusi yang besar terhadap tugas pokok Direktorat Jenderal Pajak
menghimpun penerimaan Negara dari sektor pajak. Dalam pelaksanaan
tugasnya seorang Jurusita Pajak sering bersentuhan dengan bidang hukum lain
di luar ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Penguasaan
pengetahuan dan keahlian dari para Jurusita pajak tidak saja meliputi ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan, namun juga pengetahuan lain
khususnya di bidang hukum menjadi hal yang amat sangat membantu dalam
pelaksanaan tugasnya.
      Berkaitan dengan hal         diatas, kiranya Modul “Aspek Hukum dalam
Penagihan Pajak” yang disusun saudara Ida Zuraida patut disambut dengan
gembira sebagai bahan pembelajaran dalam Diklat Teknis Substantif Spesialisasi
Jurusita Pajak”
      Last but not least, semoga kiranya modul ini bermanfaat sebagai bekal
bagi peserta diklat dalam mengemban tugas sebagai pegawai di lingkungan
Direktorat Jenderal Pajak.

                                                        Jakarta,     2009
                                                        Kepala Pusdiklat Pajak



                                                        Chaizi Nasucha
                                                        NIP.060061509




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                   i
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                             IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



                                KATA PENGANTAR




      Modul “Aspek Hukum dalam Penagihan Pajak” untuk Diklat Teknis
Substantif Spesialisasi Jurusita Pajak”, disusun berdasarkan Surat Tugas Kepala
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pajak Nomor ST–432/PP.4/2009 tanggal 16
Oktober 2009 Mengingat jumlah pertemuan untuk mata pelajaran Aspek Hukum
dalam Penagihan Pajak yang relatif singkat (enam jam latihan), maka materi ini
dituangkan dalam bentuk bahan ajar yang bersifat teoritis dengan mengutip dari
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang menjadi pedoman
bagi para Jurusita pajak dalam melaksanakan tugasnya, ditambah dengan
himpunan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan tugas dan fungsi
seorang Jurusita Pajak dalam melakukan penagihan pajak, serta dilengkapi pula
dengan kasus penagihan yang pernah dihadapi oleh Jurusita Pajak maupun
Kepala Kantor Pelayanan Pajak pada saat dan setelah tindakan penagihan
dilakukan.
      Besar harapan kami, modul sederhana ini dapat memenuhi materi yang
dinginkan oleh peserta diklat, dan sumbang saran positif untuk penyempurnaan
modul ini sangat kami hargai.




                                                        Jakarta,                2009
                                                        Penyusun




                                                        Ida Zuraida
                                                        NIP. 060080749




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                    ii
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
   PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                                            IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



                                          DAFTAR ISI

Kata Pengantar Kepala Pusdiklat ............................................................              i
Kata Pengantar .....................................................................................     ii
Daftar Isi …………………………………………………………..............                                                         iii
Petunjuk Penggunaan Modul ………………………………………….                                                            vi
Peta Konsep Modul ………………………………………………………                                                                vii
ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK
A. Pendahuluan ……………………………………………………………..                                                                1
     1. Deskripsi Singkat ……………………………………………………                                                          1
     2. Prasyarat Kompetensi……………………………………………….                                                         2
     3. Standar Kompetensi (K) dan Kompetensi Dasar (KD)………….                                           2
     4. Relevansi Modul …………………………………………………….                                                           3
B. KEGIATAN BELAJAR
1. Kegiatan Belajar 1
   PENGANTAR HUKUM PAJAK
    1.1. Judul ……………………………………………………………….                                                                4
    1.2. Indikator …………………………………………………………..                                                             4
    1.3. Uraian, Contoh dan Non Contoh. ………………………………                                                    4
        A. Hukum Pajak ……………………………………………..…….                                                           4
        B. Kedudukan Hukum Pajak dalam Sistem Hukum
            di Indonesia …………………………………………………...                                                         5
        C. Hukum Pajak Material dan Hukum Pajak Formal ………….                                            7
     1.4. Latihan……………………………………………………………                                                                9
     1.5 Rangkuman………………………………………………………                                                                 9
     1.6 Tes Formatif………….…………………………………………..                                                           10
     1.7 Umpan Balik dan Tindak Lanjut ………………………………                                                    13
3.Kegiatan Belajar 2
            BENTUK USAHA WAJIB PAJAK
      3.1 Judul ……………………………………………………………..                                                              14
      3.2 Indikator ………………………………………………………….                                                            14



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                                   iii
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                  IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



     3.3 Uraian, Contoh dan Non Contoh ………………………………                        14
       A. Pengertian Wajib Pajak atau Penanggung Pajak …………               14
       B. Orang Pribadi ………………………………………………….                               17
       C. Bentuk Usaha Tetap ………………………………………….                             21
       D. Persekutuan Komanditer dan Firma ………………………..                     23
       E. Yayasan……………………………………………………….                                    26
       F. Koperasi        …………………………………………………..                            28
       G. Perseroan Terbatas …………………………………………                              29
     3.4 Latihan …………………………………………………………..                                  34
     3.5 Rangkuman …………………………………………………..                                   34
     3.6 Tes Formatif …………………………………………………..                                41
     3.7 Umpan Balik dan Tindak Lanjut ……………………………                         43
4.Kegiatan Belajar 3
     TINDAKAN PENAGIHAN PAJAK
     4.1 Judul …………………………………………………………….                                    45
     4.2 Indikator ………………………………………………………….                                 45
     4.3 Uraian, Contoh dan Non Contoh …………………………….                        45
         A. Pengertian Utang Pajak ………………………………….                          45
         B. Tindakan Penagihan Pajak ………………………………                          47
         C. Surat Paksa ………………………………………………..                               48
         D. Penyitaan Aset WP/PP ……………………………………                            49
         E. Pengumuman Lelang………………………………………                               52
         F. Pelaksanaan Lelang ……………………………………….                            53
         G. Pencegahan ……………………………………………….                                 53
         H. Penyanderaan ………………………………………………                                54
     4.4. Latihan …………………………………………………………                                   56
     4.5 Rangkuman ……………………………………………………                                    56
     4.6 Tes Formatif …………………………………………………….                                58
     4.7 Umpan Balik dan Tindak Lanjut ……………………………..                       60




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                        iv
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                            IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



5. Kegiatan Belajar 4
   SISTEM HUKUM DI INDONESIA SELAIN HUKUM PAJAK
    5.1 Judul ……………………………………………………………..                                             61
    5.2 Indikator ………………………………………………………….                                           61
    5.3 Uraian, Contoh dan Non Contoh …………………………….                                  61
        A. Hukum Perikatan …………………………………………..                                       61
        B. Hukum Kepailitan …………………………………………                                        63
        C. Kepailitan dan Hak Mendahulu Utang Pajak ………….                           68
        D. Hukum Pertanahan ……………………………………….                                        71
        E. Hukum Tata Usaha Negara……………………………….                                     75
        F. Hukum Pidana………………………………………………                                           77
    5.4 Latihan …………………………………………………………..                                            82
     5.5 Rangkuman…………………………………………..................                               82
     5.6 Tes Formatif ……………………………………………………                                         85
     5.7 Umpan Balik dan Tindak Lanjut ..........................................  87
6. Kegiatan Belajar 5
   UPAYA HUKUM WAJIB PAJAK/PENANGGUNG PAJAK ATAS
    TINDAKAN PENAGIHAN PAJAK
     6.1 Judul ……………………………………………………………                                             88
     6.2 Indikator ………………………………………………………..                                         88
     6.3 Uraian, Contoh dan Non Contoh ……………………………                                 88
         A. Pengadilan Pajak ………………………………………….                                     88
         B. Pengadilan Negeri ………………………………………..                                    91
         C. Pengadilan Tata Usaha Negara……………… ………...                              92
     6.4 Latihan…………………………………………………………                                             94
     6.5 Rangkuman…………………………………………..............                                   95
     6.6 Tes Formatif ………………………………………………….                                         96
     5.6 Umpan Balik dan Tindak Lanjut.........................................    98
Tes Sumatif …………………………………………………………….                                               99
Penutup …………………………………………………………………                                                 100
Daftar Kepustakaan …………………………………………………..                                          104




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                   v
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                        IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



                           PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL


      Dalam mempelajari modul, hal-hal yang harus diperhatikan antara lain :
  1) Proses pembelajaran di kelas diatur dengan berbagai variasi metode,
      sehingga akan dicapai hasil yang diharapkan. Untuk mempermudah
      memahami modul ini dapat menggunakan metode ceramah singkat,
      diskusi, dan simulasi.
  2) Peralatan berupa pensil, bollpoin dan penghapus, LCD proyector, papan
      tulis, laptop dll.
  3) Waktu 6 jam latihan.
  4) Setelah mempelajari modul peserta diklat dipersilakan melakukan latihan,
      tes formatif, dan tes sumatif.
  5) Untuk meningkatkan kompetensi materi maka peserta diklat harus
      memahami terlebih dahulu ketentuan perpajakan terkait dengan penagihan
      pajak dan ketentuan hukum lain yang terkait dengan penagihan pajak.
  6) Widyaiswara menerangkan, menjawab pertanyaan, dan diskusi.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                              vi
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                  IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



                      PETA KONSEP
           ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK




                            UPAYA HUKUM WAJIB PAJAK




                          TINDAKAN PENAGIHAN PAJAK




             SISTEM HUKUM DI INDONESIA SELAIN HUKUM PAJAK




                          BENTUK USAHA WAJIB PAJAK




                        PENGANTAR HUKUM PAJAK




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                        vii
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                       IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



           ASPEK HUKUM DALAM TINDAKAN PENAGIHAN PAJAK




A. PENDAHULUAN.
1. Deskripsi Singkat

              Penagihan Pajak berdasarkan Pasal 1 angka 9 Undang-Undang
    Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa (UU
    PPSP) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomo 19 Tahun
    2000 adalah serangkaian tindakan agar Penanggung Pajak melunasi utang
    pajak dan biaya penagihan pajak dengan menegur atau mengingatkan,
    melaksanakan penagihan seketika dan sekaligus, memberitahukan Surat
    Paksa, mengusulkan pencegahan, melaksanakan penyitaan, melaksanakan
    penyanderaan, menjual barang yang telah disita. Penjualan barang yang
    telah disita biasanya dilakukan melalui pelelangan, kecuali untuk aset-aset
    tertentu seperti surat berharga, piutang, dan penyertaan modal pada
    perusahaan lain.

               Jurusita Pajak adalah pelaksana tindakan penagihan pajak yang
    meliputi penagihan seketika dan sekaligus, pemberitahuan Surat Paksa,
    penyitaan dan penyanderaan. Mengingat kewenangan untuk melaksanakan
    tindakan penyitaan, penyanderaan, dan penjualan barang yang telah disita
    merupakan tugas dan kewenangan Jurusita Pajak sehingga setiap tindakan
    penagihan harus melalui proses sebagaimana diatur dalam ketentuan
    peraturan perundang-undangan perpajakan. Apabila dalam pelaksanaan
    penagihan tidak sesuai dengan ketentuan tersebut mengakibatkan Wajib
    Pajak atau Penanggung Pajak dapat melakukan upaya hukum yang
    bertujuan untuk memberikan perlawanan atas setiap tindakan atau upaya
    Jurusita Pajak dalam melaksanakan penagihan pajak.

               Upaya hukum Wajib Pajak atau Penanggung Pajak tersebut dapat
    berupa pengajuan gugatan atau sanggahan ke Pengadilan atau bahkan
    membuat laporan pengaduan kepada pihak yang berwajib atas dugaan
    adanya tindak pidana umum.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                              1
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                             IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



               Setiap Jurusita Pajak diharapkan memiliki pengetahuan dan
    pemahaman yang memadai tidak saja berpedoman pada ketentuan
    peraturan perundang-undangan perpajakan namun juga hukum positif yang
    mungkin berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab Jurusita Pajak dalam
    melaksanakan tugasnya.

              Hukum positif adalah hukum yang berlaku saat ini di Indonesia.
    Hukum positif ini dapat berupa hukum perdata, hukum pidana, hukum
    pertanahan, hukum kepailitan dan hukum tata usaha negara. Pengetahuan
    dan pemahaman Jurusita Pajak terhadap aspek hukum pajak maupun
    hukum lainnya tersebut tidak saja melindungi Jurusita Pajak dari resiko
    hukum yang muncul seperti gugatan atau perlawanan dari Penanggung
    Pajak atau pihak ketiga, namun juga untuk melindungi Jurusita Pajak dalam
    melaksanakan tugasnya.

 2. Prasyarat Kompetensi

               Sebelum mempelajari modul ini, para peserta diklat telah
    memahami Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Penetapan
    Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2008
    Tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983
    tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan Menjadi Undang-
    Undang dan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan
    Pajak dengan Surat Paksa (UU PPSP) sebagaimana telah diubah dengan
    Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 beserta peraturan pelaksanaannya.

 3. Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD)

   a.     Modul ini disusun bagi Peserta Diklat Jurusita Pajak dalam lingkungan
          Direktorat Jenderal Pajak.

   b.     Mengingat mutasi yang terjadi dalam organisasi begitu cepat,
          memungkinkan adanya peserta yang baru diangkat menjadi Jurusita
          Pajak belum mengetahui tugas dan fungsi seorang Jurusita Pajak dan
          konsekuensi hukum         yang    mungkin     akan   terkait    pada      saat

 dilakukannya tindakan penagihan pajak. Peserta Diklat harus memiliki Standar
 Kompetensi dan Kompetensi Dasar sebagai berikut:




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                    2
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                                IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



              Tabel 1. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar


             Standar Kompetensi                          Kompetensi Dasar


      1. Pemahaman Aspek Hukum               1.1   memahami pengantar hukum
        dalam Penagihan Pajak                      pajak.
                                             1.2   memahami hukum positif terkait
                                                   bentuk usaha Wajib Pajak
                                             1.3   memahami sistem hukum di
                                                   Indonesia
                                             1.4   memahami tindakan penagihan
                                                   pajak
                                             1.5   memahami upaya hukum Wajib
                                                   Pajak atas tindakan penagihan



4. Relevansi Modul

   a.    Setelah   mempelajari     modul    diharapkan      peserta      diklat    mampu
        melaksanakan tugas sebagai Jurusita Pajak secara lebih profesional
        mengingat dalam pelaksanaan tugasnya, jurusita pajak dituntut tidak saja
        harus melaksanakan ketentuan yang berlaku dalam penagihan pajak tapi
        juga harus memperhatikan ketentuan lain yang terkait dengan penagihan
        pajak di luar ketentuan perpajakan yang berlaku.

 b.     Di samping mempelajari modul ini, peserta diklat disarankan untuk dapat
        menambah pengetahuan lain di bidang hukum seperti literatur, majalah,
        atau bahan bacaan lain yang berhubungan dengan bidang hukum.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                       3
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                           IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



B. KEGIATAN BELAJAR
1. Kegiatan Belajar 1.


  1.1. PENGANTAR HUKUM PAJAK
  1.2. Indikator
       Setelah mempelajari materi ini diharapkan peserta diklat memahami
       sistem hukum di Indonesia dan kedudukan hukum pajak dalam sistem
       hukum di Indonesia.
  1.3. Uraian, Contoh dan Non Contoh
      A. Hukum Pajak
                 Pengertian pajak menurut R. Santoso Brotodihardjo, S.H., (Surojo:
      9) adalah keseluruhan dan peraturan-peraturan yang meliputi wewenang
      pemerintah, untuk mengambil kekayaan seseorang dan menyerahkannya
      kembali kepada masyarakat dengan melalui Kas Negara, sehingga ia
      merupakan bagian dari Hukum Publik, yang mengatur hubungan-hubungan
      hukum antar negara dan orang-orang atau badan-badan (Hukum) yang
      berkewajiban membayar pajak (selanjutnya disebut Wajib Pajak)”.
                 Prof. DR. H. Rochmat Soemitro, S.H., (Surojo: 9) menyatakan
      bahwa “Hukum Pajak ialah suatu kumpulan peraturan-peraturan yang
      mengatur hubungan antara pemerintah sebagai pemungut pajak dan rakyat
      sebagai pembayar pajak”.
                 Dalam Pasal 1 UU KUP ternyata pengertian pajak tersebut
      dicantumkan bahwa pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang
      terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa
      berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara
      langsung.
                 Berdasarkan definisi tersebut pajak memiliki karakteristik sebagai
      berikut:
      a. pungutan secara paksa oleh Negara;
      b. yang bersangkutan tidak mendapatkan prestasi langsung; dan
      c. digunakan untuk membiayai pengeluaran umum.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                  4
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                       IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



               Dengan demikian, di samping mempunyai fungsi budgetair yaitu
      sarana untuk menarik dana dari masyarakat; fungsi reguleren adalah
      sebagai alat pendorong atau penghambat untuk mencapai tujuan di luar
      bidang keuangan Negara, misalnya untuk menarik investor pemerintah
      memberikan fasilitas perpajakan.
               Pasal 23A Amandemen ke empat Undang-Undang Dasar Negara
      Republik Indonesia 1945 diatur bahwa “pajak dan pungutan lain yang
      bersifat memaksa untuk keperluan Negara diatur dengan undang-undang”
      Dengan demikian setiap pungutan pajak harus berdasarkan pada undang-
      undang sebagaimana telah diamanatkan oleh UUD 1945.
               Setelah reformasi perpajakan tahun 1983 terjadi perubahan yang
      sangat mendasar dalam sistem perpajakan di Indonesia karena sebelum
      tahun 1983 sistem perpajakan di Indonesia menganut sistem official
      assessment berubah menjadi sistem self assessment.
               Prinsip self assessment menurut UU KUP artinya memberikan
      kepercayaan secara penuh kepada Wajib Pajak untuk menghitung,
      memperhitungkan, membayar dan melaporkan pajak yang terutang sesuai
      dengan perhitungan Wajib Pajak. Prinsip self assessment ini tercermin
      dalam ketentuan Pasal 12 ayat (1) UU KUP yang mencantumkan bahwa
      “Setiap Wajib Pajk wajib membayar pajak yang terutang sesuai dengan
      ketentuan peraturan perundangan-undangan perpajakan, dengan tidak
      menggantungkan pada adanya surat ketetapan pajak”.
               Berdasarkan ketentuan tersebut, Direktorat Jenderal Pajak tidak
      berkewajiban untuk menerbitkan surat ketetapan pajak atas semua Surat
      Pemberitahuan yang disampaikan Wajib Pajak. Penerbitan suatu surat
      ketetapan pajak hanya terbatas pada Wajib Pajak tertentu yang
      disebabkan oleh ketidakbenaran dalam pengisian Surat Pemberitahuan
      atau karena ditemukannya data fiskal yang tidak dilaporkan oleh Wajib
      Pajak.


      B. Kedudukan Hukum Pajak dalam Sistem Hukum di Indonesia
               Secara umum hukum terbagi dalam 2 (dua) bagian (Surojo: 10)
      yaitu Hukum Publik dan Hukum Perdata. Hukum Publik terdiri dari Hukum
      Pidana dan Hukum Tantra yang meliputi Hukum Tata Negara dan Hukum



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                              5
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                            IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



      Tata Usaha Negara. Hukum Perdata meliputi Hukum Perdata arti sempit
      (B.W. = Burgerlijke Wetboek voor Indonesie) dan Hukum Dagang (W.v.K =
      Wetboek van Koophandel).
               Hukum Publik adalah hukum yang mengatur hubungan hukum
      antara Pemerintah dengan warganya, sedangkan Hukum Perdata adalah
      hukum yang mengatur hubungan hukum antara perorangan di dalam
      masyarakat tersebut.
               Hukum Tata Usaha Negara atau Hukum Administrasi Negara
      adalah kumpulan peraturan hukum yang mengatur segala cara kerja dan
      pelaksanaan wewenang yang langsung dari lembaga-lembaga negara
      serta aparaturnya dalam melaksanakan tugasnya masing-masing.
            Hukum pajak merupakan bagian dari Hukum Tata Usaha Negara,
      namun Prof. Adriani menghendaki bahwa Hukum Pajak berdiri sendiri
      mengingat hukum pajak mempunyai tugas yang bersifat lain daripada
      hukum administratif pada umumnya, yaitu hukum pajak juga digunakan
      sebagai alat untuk menentukan politik perekonomian dan mempunyai
      istilah-istilah tersendiri di bidang perpajakan. Namun kemandirian Hukum
      Pajak, umumnya dirasakan kurang tepat karena seolah-olah menyatakan
      bahwa Hukum Pajak berdiri terlepas dari hukum-hukum lainnya, padahal
      Hukum Pajak mempunyai hubungan dengan hukum lain seperti Hukum
      Perdata, Hukum Pidana. Prof. Adriani menyatakan bahwa Hukum Pajak
      mendasarkan tafsirannya atas bagian-bagian lainnya dari Ilmu Hukum,
      tetapi ia tidak berdiri di bawah telapak kakinya (Surojo: 9-12).




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                   6
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                            IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



     Tabel 2. Kedudukan Hukum Pajak dalam Sistem Hukum di Indonesia


                                              HUKUM




                 Hukum Perdata                             Hukum Publik
                   (Arti Luas)


                  Hukum Perdata (BW)
                                                        Hukum Tata Negara


                 Hukum Dagang (W.V.K)                   Hukum Tata Usaha Negara


                                                        Hukum Pajak


                                                        Hukum Pidana


C. Hukum Pajak Material dan Hukum Pajak Formal
           Pembagian Hukum Pajak dibagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu Hukum
   Pajak Material dan Hukum Pajak Formal, seperti halnya Hukum Pidana,
   hukum formalnya dituangkan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara
   Pidana sedangkan hukum materialnya dituangkan dalam Kitab Undang-
   Undang Hukum Pidana. Selanjutnya, hukum formalnya Hukum Perdata
   dituangkan dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Perdata sedangkan
   hukum materialnya dituangkan dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
   Setelah reformasi undang-undang perpajakan sejak tahun 1984 Hukum Pajak
   Material dan Hukum Pajak Formal terpisah dan diatur dalam undang-undang
   tersendiri.


      Hukum Pajak Material
                 Hukum Pajak Material adalah Hukum Pajak yang memuat norma-
      norma yang menerangkan keadaan-keadaan, perbuatan-perbuatan dan
      peristiwa-peristiwa hukum yang harus dikenakan pajak, siapa-siapa yang



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                   7
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                         IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



      harus dikenakan pajak, berapa besarnya pajak atau dapat dikatakan pula
      segala sesuatu tentang timbulnya, besarnya, dan hapusnya utang pajak
      dan hubungan hukum antara pemerintah dan Wajib Pajak.
               Hukum pajak material diatur dalam peraturan perundang-
      undangan sebagai berikut:
      1. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan
         sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-
         Undang Nomor 36 Tahun 2008;
      2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai
         dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa
         kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009.
      3. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan
         Bangunan.
      4. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Materai.
      5. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak
         atas Tanah dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-
         Undang Nomor 20 Tahun 2000.


   Hukum Pajak Formal
               Hukum Pajak Formal ialah Hukum Pajak yang memuat peraturan-
   peraturan mengenai cara-cara hukum pajak material menjadi kenyataan.
   Hukum ini memuat cara-cara pendaftaran diri untuk memperoleh NPWP, cara-
   cara pembukuan, cara-cara pemeriksaan, cara-cara penagihan, hak dan
   kewajiban Wajib Pajak, cara-cara penyidikan, macam-macam sanksi, dan lain-
   lain. Undang-undang Pajak yang termasuk Hukum Pajak Formal ialah:
   1. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009             tentang Penetapan Peraturan
      Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2008 tentang
      Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang
      Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
   2. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 sebagaimana teah diubah dengan
      Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 tentang Penagihan Pajak dengan
      Surat Paksa.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                8
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                          IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



 1.4. Latihan


      1. Jelaskan pengertian hukum pajak.
      2. Sebutkan karakteristik pajak.
      3. Jelaskan perbedaan hukum perdata dan hukum publik.
      4. Buatkan skema kedudukan hukum pajak dalam sistem hukum di
         Indonesia.
      5. Jelaskan perbedaan antara hukum pajak material dan hukum pajak
         formal


 1.5. Rangkuman


       Pengertian pajak menurut R. Santoso Brotodihardjo, S.H., (1986: 1)
      adalah keseluruhan dan peraturan-peraturan yang meliputi wewenang
      pemerintah, untuk mengambil kekayaan seseorang dan menyerahkannya
      kembali kepada masyarakat dengan melalui Kas Negara, sehingga ia
      merupakan bagian dari Hukum Publik, yang mengatur hubungan-hubungan
      hukum antar negara dan orang-orang atau badan-badan (Hukum) yang
      berkewajiban membayar pajak (selanjutnya disebut Wajib Pajak)”.
                 Pasal 1 UU KUP memberikan definisi pajak adalah kontribusi
      wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang
      bersifat    memaksa      berdasarkan     Undang-Undang,     dengan         tidak
      mendapatkan imbalan secara langsung.
                 Secara umum hukum terdiri dari Hukum Publik dan Hukum
      Perdata. Hukum Publik ialah hukum yang mengatur hubungan hukum
      antara     Pemerintah dengan warganya, sedangkan Hukum Perdata ialah
      hukum yang mengatur hubungan hukum antara perorangan di dalam
      masyarakat.
                 Pembagian Hukum Pajak dibagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu
      Hukum Pajak Material dan Hukum Pajak Formal. Hukum Pajak Material,
      ialah Hukum Pajak yang memuat norma-norma yang menerangkan
      keadaan-keadaan, perbuatan-perbuatan dan peristiwa-peristiwa hukum
      yang harus dikenakan pajak, siapa-siapa yang harus dikenakan pajak,
      berapa besarnya pajak atau dapat dikatakan pula segala sesuatu tentang



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                 9
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                      IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



      timbulnya, besarnya, dan hapusnya utang pajak dan hubungan hukum
      antara pemerintah dan wajib pajak.
               Hukum Pajak Formal ialah Hukum Pajak yang memuat peraturan-
      peraturan mengenai cara-cara hukum pajak material menjadi kenyataan.
      Hukum ini memuat cara-cara pendaftaran diri untuk memperoleh NPWP,
      cara-cara pembukuan, cara-cara pemeriksaan, cara-cara penagihan, hak
      dan kewajiban Wajib Pajak, cara-cara penyidikan, macam-macam sanksi,
      dan lain-lain.


 1.6. Tes Formatif
      Lingkarilah pernyataan yang paling benar diantara empat pernyataan
      dibawah ini:


      1. Secara umum hukum terbagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu:
         a. hukum perdata dan hukum publik
         b. hukum tata usaha Negara dan hukum perdata
         c. hukum publik dan hukum tata usaha Negara
         d. hukum perdata dan hukum pidana
      2. Pada prinsipnya hukum perdata mengatur:
        a. hubungan antara anggota masyarakat dengan pemerintahnya.
        b. hubungan antara individu dengan masyarakatnya.
        c. hubungan individu dengan individu lainnya.
        d. hubungan antara Negara dengan warga negaranya.
      3. Hukum publik adalah hukum yang mengatur:
        a. hubungan antara anggota masyarakat dengan pemerintahnya.
        b. hubungan antara individu dengan masyarakatnya.
        c. hubungan individu dengan individu lainnya.
        d. hubungan antara Negara dengan warga negaranya.
      4. Hukum pajak adalah bagian dari hukum:
        a. hukum perdata
        b. hukum publik
        c. hukum dagang
        d. hukum pidana




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                           10
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                               IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



      5. Ciri-ciri pajak adalah kontribusi wajib kepada Negara, yang bersifat
         memaksa, yang bersangkutan tidak mendapatkan prestasi langsung,
         dan…
         a. digunakan untuk membiayai pengeluaran umum.
         b. digunakan untuk kepentingan pengusaha
         c. digunakan untuk kepentingan individu
         d. digunakan untuk kesejahteraan penguasa.
      6. Ketentuan    mengenai      pajak   harus   diatur   dalam     undang-undang
         dicantumkan dalam:
         a. Pasal 23A Amandemen ke empat UUD Negara RI 1945
         b. Pasal 23B Amandemen ke empat UUD Negara RI 1945
         c. Pasal 23C Amandemen ke empat UUD Negara RI 1945
         d. Pasal 23D Amandemen ke empat UUD Negara RI 1945
      7. Sistem perpajakan di Indonesia menganut:
         a. sistem self assessment saja
          b. sistem official assessment saja
         c. gabungan sistem self assessment dan official assessment
         d. pernyataan a, b, dan c tidak ada yang tepat.
      8. Hukum pajak formal mengatur antara lain mengenai:
         a. tata cara pendaftaran diri untuk memperoleh NPWP
         b. tata cara pengenaan sanksi
         c. tata cara pemeriksaan
         d. pernyataan a, b, dan c tepat
      9. Hukum pajak material mengatur mengenai:
        a. peristiwa-peristiwa hukum yang harus dikenakan pajak,
        b. siapa-siapa yang harus dikenakan pajak,
        c. berapa besarnya pajak
        d. pernyataan a, b, dan c tepat
      10. Hukum pajak material diatur dalam:
          a. UU PPSP
          b. UU PPh
          c. jawaban a dan b benar
          d. jawaban a dan b salah




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                    11
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                     IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



 11. Di dalam KUP memuat:
      a. aturan pidana
      b. aturan perdata
      c. jawaban a dan b benar
      d. jawaban a dan salah
 12. Pengertian pajak dicantumkan dalam:
     a. UU PPh
     b. UU KUP
     c. UU PPSP
     d. UU PBB
 13. Ketentuan dalam UU KUP merupakan:
     a. bagian dari hukum pajak formal
     b. bagian dari hukum pajak material
     c. bagian dari hukum administrasi pajak
     d. bagian dari hukum formal dan material.
 14. Hukum pidana pajak diatur dalam:
     a. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
     b. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
     c. UU KUP
     d. UU PPh
 15. Pilihlah pernyataan yang tepat di bawah ini:
     a. Hukum Pajak tidak ada kaitannya dengan hukum perdata.
     b. Hukum Pajak tidak ada kaitannya dengan hukum pidana.
     c. Hukum Pajak ada kaitannya dengan hukum perdata dan hukum pidana.
     d. Pernyataan a, b, dan c tidak ada yang tepat.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                          12
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                           IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



 1.7. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
              Cocokkanlah jawaban anda dengan Kunci Jawaban yang terdapat
        dibagian akhir Modul. Hitunglah jawaban Anda yang benar. Kemudian
        gunakan rumus dibawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda
        terhadap modul ini.


        Rumus :
                       Jumlah soal yang benar
        Nilai =          ____________________      x 100 %
                          Jumlah soal


 Dengan hasil penghitungan itu dapat dilakukan klasifikasi penilaian, yaitu :
   a.         Bila > 80 % nilai sangat baik
   b.         Bila 70 % - 79 % baik
   c.         Bila 60 % - 69 % cukup
   d.         Bila < 60 % kurang
                  Bila Anda mencapai penguasaan diatas 70 % atau lebih, Anda dapat
        meneruskan ke Kegiatan Belajar 2. Apabila belum supaya memperdalam
        terlebih dahulu Kegiatan Belajar 1. Kunci Jawaban terletak dibagian
        terakhir.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                13
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                                IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



 2. Kegiatan Belajar 2
   2.1.    BENTUK USAHA WAJIB PAJAK


    2.2. INDIKATOR
               Setelah mempelajari kegiatan belajar ini diharapkan peserta
          diklat dapat menjelaskan pengertian Wajib Pajak dan perbedaan
          bentuk usaha Wajib Pajak yang dapat berupa Bentuk Usaha Tetap,
          Persekutuan Komanditer, Persekutuan Firma, Yayasan, Koperasi,
          Perseroan Terbatas.


    2.3. Uraian, Contoh dan Non Contoh
           A. Pengertian Wajib Pajak atau Penanggung Pajak


               Berdasarkan Pasal 1 angka 2 UU KUP Wajib Pajak adalah orang
          pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan
          pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan
          sesuai      dengan      ketentuan      peraturan     perundang-undangan
          perpajakan. Selanjutnya pengertian badan adalah sekumpulan orang
          dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan
          usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan
          terbatas,     perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha
          milik negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam
          bentuk apa pun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan,
          perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik,
          atau organisasi      lainnya,     lembaga   dan    bentuk    badan       lainnya
          termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.
               Pada prinsipnya semua Wajib Pajak yang telah memenuhi
          persyaratan subjektif dan objektif sesuai           dengan           ketentuan
          peraturan perundang-undangan perpajakan berdasarkan sistem self
          assessment, wajib mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal
          Pajak untuk dicatat sebagai Wajib Pajak dan sekaligus untuk
          mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                     14
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                            IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



               Nomor Pokok Wajib Pajak tersebut merupakan suatu sarana
      dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda
      pengenal diri atau identitas Wajib Pajak.
               Persyaratan subjektif adalah persyaratan yang sesuai dengan
      ketentuan mengenai subjek pajak dalam Undang-Undang Pajak
      Penghasilan 1984 dan perubahannya. Persyaratan objektif adalah
      persyaratan bagi subjek pajak yang menerima atau memperoleh
      penghasilan      atau     diwajibkan    untuk      melakukan     pemotongan/
      pemungutan       sesuai    dengan      ketentuan    Undang-Undang          Pajak
      Penghasilan 1984 dan perubahannya.
               Oleh karena itu, kepada setiap Wajib Pajak hanya diberikan
      satu Nomor Pokok Wajib Pajak. Selain itu, Nomor Pokok Wajib Pajak
      juga dipergunakan untuk menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak
      dan    dalam     pengawasan       administrasi     perpajakan.    Dalam        hal
      berhubungan dengan dokumen perpajakan, Wajib Pajak diwajibkan
      mencantumkan Nomor Pokok Wajib Pajak yang dimilikinya.
               Menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang
      Pajak Penghasilan (UU PPh) sebagaimana telah beberapa kali diubah
      terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 dicantumkan
      bahwa Pajak Penghasilan dikenakan terhadap Subjek Pajak atas
      Penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam tahun pajak.
               Selanjutnya, dalam Pasal 2 ayat (1) UU PPh dijelaskan bahwa
      yang menjadi subjek pajak dalam Pajak Penghasilan adalah antara lain
      Orang Pribadi. Penjelasan Pasal 2 ayat (1) mengatur bahwa Orang Pribadi
      sebagai Subjek Pajak dapat bertempat tinggal di Indonesia, atau pun tidak
      bertempat tinggal di Indonesia.
               Pengusaha menurut UU PPN adalah orang pribadi atau Badan
      yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang,
      mengimpor barang, mengekspor barang, melakukan usaha perdagangan,
      memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar Daerah Pabean, melakukan
      usaha jasa, atau memanfaatkan jasa dari luar Daerah Pabean.


               Subyek pajak menurut UU PBB adalah orang atau badan yang
      secara nyata mempunyai suatu hak atas bumi, dan/atau memperoleh



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                 15
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                             IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



      manfaat atas bumi, dan/atau memiliki, menguasai,dan/atau memperoleh
      manfaat atas bangunan. Selanjutnya UU BPHTB mengatur bahwa bea
      perolehan hak atas tanah dan bangunan adalah pajak yang dikenakan atas
      perolehan hak atas tanah dan atau bangunan, yang selanjutnya disebut
      pajak. Perolehan hak atas tanah dan atau bangunan adalah perbuatan
      atau peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah
      dan atau bangunan oleh orang pribadi atau badan.
                Pasal 1 angka 4 UU KUP menjelaskan pengertian badan adalah
      sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang
      melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi
      perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan
      usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan
      dalam bentuk apa pun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun,
      persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi
      sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan
      lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.
                Mengingat     UU     KUP    memberikan    pengertian      sedemikian
      detailnya terhadap badan maka pengetahuan terhadap bentuk usaha
      juga harus dipahami.. Uraian mengenai beberapa bentuk usaha Wajib
      Pajak badan akan dibahas satu persatu dengan mendasarkan pada
      ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
                Dalam UU KUP diatur pula mengenai Penanggung Pajak
      sesuai Pasal 1 angka 28 UU KUP yaitu orang pribadi atau badan yang
      bertanggung jawab atas pembayaran pajak, termasuk wakil yang
      menjalankan hak dan memenuhi kewajiban Wajib Pajak sesuai dengan
      ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
                Pasal   32    ayat   (1)    UU   KUP    mengatur     bahwa       dalam
      menjalankan hak dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan
      perundang-undangan perpajakan, Wajib Pajak diwakili dalam hal:
      a.    badan oleh pengurus
      b.    badan yang dinyatakan pailit oleh kurator
       c.   badan dalam pembubaran oleh orang atau badan yang ditugasi
            untuk melakukan pemberesan.
      d.    badan dalam likuidasi oleh likuidator



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                  16
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                          IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



        e. suatu warisan yang belum terbagi oleh salah seorang ahli warisnya,
             pelaksana wasiatnya atau yang mengurus harta peninggalannya,
             atau
        f.   anak yang belum dewasa atau orang yang berada dalam
             pengampuan oleh wali atau pengampunya.
  (2) Wakil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung jawab secara
         pribadi dan/atau secara renteng atas pembayaran pajak yang
         terutang, kecuali apabila dapat membuktikan dan meyakinkan Direktur
         Jenderal Pajak bahwa mereka dalam kedudukannya benar-benar tidak
         mungkin untuk dibebani tanggung jawab atas pajak yang terutang
         tersebut.
  (4) Termasuk dalam pengertian pengurus sebagaimana dimaksud pada
         ayat (1) huruf a adalah orang yang nyata-nyata mempunyai wewenang
         ikut menentukan kebijaksanaan dan/atau mengambil keputusan dalam
         menjalankan perusahaan.
  Penjelasan:
  (4)    Orang-orang       yang   nyata-nyata   mempunyai     wewenang        dalam
         menentukan kebijaksanaan dan/atau mengambil keputusan dalam
         rangka menjalankan kegiatan perusahaan, misalnya berwenang
         menandatangani cek, dan sebagainya walaupun orang tersebut tidak
         tercantum namanya dalam susunan pengurus yang tertera dalam akte
         pendirian maupun akte perubahan, termasuk dalam pengertian
         pengurus. Ketentuan pada ayat ini berlaku pula bagi komisaris dan
         pemegang saham mayoritas atau pengendali.


 B. Orang Pribadi


                    Dalam hukum, perkataan orang (persoon) berarti pembawa hak
        atau subyek di dalam hukum. Dalam suatu asas hukum perdata dinyatakan
        bahwa kekayaan seseorang akan menjadi tanggungan dalam rangka
        memenuhi kewajibannya. Berlakunya seseorang pembawa hak, mulai dari
        saat orang tersebut dilahirkan dan berakhir pada saat orang tersebut
        meninggal. Namun, jika diperlukan, dapat dihitung surut hingga mulai orang
        tersebut masih berada dalam kandungan, asal saja kemudian orang



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                               17
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                           IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



      tersebut dilahirkan hidup. Hal ini berkaitan dengan warisan walaupun mana
      orang itu masih berada dalam kandungan (Subekti : 19)
               Secara umum WP Orang Pribadi yang menjalankan usaha disebut
      “sole proprietorship” (perusahaan perseorangan) yang dalam kamus
      diartikan (Garner : 582) sebagai: “A sole proprietorship also known as a
      sole trader, or simply proprietorship is a type of business entity which is
      owned and run by one individual and where there is no legal distinction
      between the owner and the business. All profits and all losses accrue to the
      owner (subject to taxation). All assets of the business are owned by the
      proprietor and all debts of the business are their debts and they must pay
      them from their personal resources. This means that the owner has
      unlimited liability. It is a "sole" proprietorship in the sense that the owner
      has no partners (partnership)”.
               Di Indonesia kegiatan ini sering dikenal dalam kehidupan
      masyarakat Indonesia dengan Perusahaan Dagang (PD) atau Usaha
      Dagang (UD).
               Klasifikasi perusahaan perseorangan ini mempunyai ciri khas
      bahwa perusahaan dipimpin, diurus, dan dioperasikan sendiri oleh pemilik.
      Pemegang kendali hanya dilakukan oleh pemilik dan tanggung jawabnya
      menjadi tidak terbatas. Mengingat dalam suatu asas hukum perdata
      dinyatakan bahwa semua kekayaan seseorang menjadi tanggungan untuk
      segala kewajibannya. Berdasarkan uraian di atas beberapa kerugian dan
      keuntungan untuk perusahaan perseorangan adalah:


        Tabel 3. Keuntungan dan Kerugian Perusahaan Perseorangan


                       KEUNTUNGAN                              KERUGIAN
                   Menikmati seluruh laba           Menanggung semua kerugian
             Pengenaan pajak lebih rendah                 Keterbatasan modal
                     Kemudahan formasi                      Keterbatasan skill
                     Pengawasan penuh                   Kewajiban tidak terbatas




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                18
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                                    IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



                 Berdasarkan       Peraturan         Menteri       Keuangan             Nomor
      20/PMK.03/2008 tanggal 6 Pebruari 2008 Tentang Waktu Pendaftaran dan
      Pelaporan Kegiatan Usaha, Tata Cara dan Penghapusan Nomor Pokok
      Wajib Pajak, serta Pengukuhan dan Pencabutan Pengukuhan Pengusaha
      Kena Pajak, Wajib Pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan
      objektif antara lain diatur sebagai berikut:
     1. Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau melakukan
         pekerjaan bebas, wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor
         Pokok Wajib Pajak paling lama 1 (satu) bulan setelah saat usaha mulai
         dijalankan.
     2. Wajib Pajak orang pribadi yang tidak menjalankan usaha atau tidak
         melakukan pekerjaan bebas, apabila jumlah penghasilannya sampai
         dengan suatu bulan yang disetahunkan telah melebihi Penghasilan
         Tidak Kena Pajak, wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor
         Pokok Wajib Pajak paling lama pada akhir bulan berikutnya.
                 Undang-Undang KUP mengenal istilah Wajib Pajak Orang Pribadi
      yang menjalankan pekerjaan bebas yaitu pekerjaan yang dilakukan oleh
      orang pribadi yang mempunyai keahlian khusus sebagai usaha untuk
      memperoleh penghasilan yang tidak terikat oleh suatu hubungan kerja
      seperti misalnya dokter, notaris, pengacara atau agen asuransi.
                 UU KUP mengatur bahwa bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang
      telah memenuhi persyaratan subjektif dan persyaratan objektif, wajib bagi
      mereka untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak. Dengan demikian,
      segala hak dan kewajibannya sebagai WP Orang Pribadi menjadi
      tanggungannya.
                 Di     samping   Wajib     Pajak    Orang      Pribadi     tersebut      wajib
      mendaftarkan diri dan memperoleh NPWP, sesuai UU KUP kewajiban
      mendaftarkan diri berlaku pula terhadap wanita kawin yang dikenai
      pajak secara terpisah karena hidup terpisah berdasarkan keputusan
      hakim      atau    dikehendaki      secara    tertulis   berdasarkan         perjanjian
      pemisahan penghasilan dan harta. Dengan demikian wanita kawin
      tersebut    mempunyai       kewajiban        perpajakan     yang      sama       dengan
      suaminya.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                         19
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                           IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



                Kemudian, UU KUP mengatur bahwa wanita kawin selain
      tersebut di atas (yaitu wanita kawin yang hidup terpisah karena
      keputusan     hakim    atau    ada    perjanjian   pemisahan    harta)    dapat
      mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak atas
      namanya sendiri agar wanita kawin tersebut dapat melaksanakan hak
      dan memenuhi kewajiban perpajakannya terpisah dari hak dan
      kewajiban perpajakan suaminya.
                Berdasarkan BAB VII Perjanjian Kawin (berlaku bagi golongan
      Tionghoa) Pasal 139 KUH Perdata diatur bahwa para calon suami istri,
      dengan perjanjian kawin dapat menyimpang dari peraturan undang-
      undang mengenai harta bersama, asalkan hal itu tidak bertentangan
      dengan tata susila yang baik atau dengan tata tertib umum. Perjanjian
      kawin ini dibuat dengan akta notaris sebelum pernikahan berlangsung
      dan akan menjadi batal bila tidak dibuat secara demikian. Perjanjian
      kawin ini mulai berlaku pada saat pernikahan dilangsungkan dan tidak
      boleh ditentukan saat lain untuk itu. Dengan demikian undang-undang
      memperkenankan calon suami dan istri untuk membuat perjanjian pisah
      harta dalam hal:
      1. dibuat dalam akta notaris sebelum pernikahan dilangsungkan, dan
      2. tidak boleh bertentangan dengan tata susila dan ketertiban umum.


                Demikian pula dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974
      tentang Perkawinan khususnya Pasal 29 diatur bahwa pada waktu atau
      sebelum     perkawinan        dilangsungkan,   kedua    belah    pihak      atas
      persetujuan bersama dapat mengadakan perjanjian tertulis yang
      disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan, setelah mana isinya
      berlaku juga terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut.
                Dengan demikian terhadap wanita kawin yang melakukan
      perjanjian pemisahan harta dengan suaminya akan menjadi WP
      tersendiri terpisah dengan kewajiban perpajakan suaminya, sehingga
      semua pemenuhan hak dan kewajiban dari wanita kawin tersebut
      adalah menjadi tanggung jawabnya.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                20
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                            IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



  C. Bentuk Usaha Tetap


               Pasal 2 ayat (5) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983
      sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-
      Undang Nomor 36 Tahun 2008 dijelaskan bahwa pengertian Bentuk
      Usaha Tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang
      pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau yang berada di
      Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan atau badan
      yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia untuk
      menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia, dapat berupa:
      a. tempat kedudukan manajemen;
      b.   Cabang Perusahaan;
      c.   Kantor Perwakilan;
      d.   Gedung Kantor;
      e.   Pabrik;
      f.   Bengkel;
      g.   Gudang;
      h.   Ruang untuk promosi dan penjualan;
      i.   Pertambangan dan penggalian sumber alam;
      j.   Wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi;
      k.   Proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan;
      l.   Pemberian jasa dalam bentuk apapun oleh pegawai atau orang lain,
           sepanjang dilakukan lebih dari 60 (enam puluh) hari dalam jangka
           waktu 12 (dua belas) bulan;
      m. Orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya
           tidak bebas;
      n.   Agen atau pegawai perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan tidak
           bertempat kedudukan di Indonesia yang dapat menerima premi
           asuransi atau menanggung resiko di Indonesia; dan
      o.   Komputer, agen elektronik, atau peralatan otomatis yang dimiliki,
           disewa, atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk
           menjalankan usaha melalui internet.
            Penjelasan Pasal 2 ayat (5) UU tentang Pajak Penghasilan
      menyatakan bahwa suatu bentuk usaha tetap mengandung pengertian



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                 21
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                                 IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



      adanya suatu tempat usaha (”place of bussiness”), yaitu fasilitas yang
      dapat berupa tanah dan gedung termasuk juga mesin-mesin, peralatan,
      gudang dan komputer atau agen elektronik atau peralatan otomatis
      (automated equipment), yang dimiliki, disewa, atau digunakan oleh
      penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan aktivitas usaha
      melalui internet. Tempat usaha tersebut bersifat permanen dan digunakan
      untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan dari orang pribadi yang
      tidak bertempat tinggal atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat
      kedudukan di Indonesia.
               Pengertian Bentuk Usaha Tetap mencakup pula orang pribadi
      atau badan selaku agen yang kedudukannya tidak bebas yang bertindak
      untuk dan atas nama orang pribadi atau badan yang tidak bertempat
      tinggal atau tidak bertempat kedudukan di Indonesia.
               Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan yang tidak
      didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia, tidak dapat
      dianggap mempunyai bentuk usaha tetap di Indonesia, apabila orang
      pribadi atau badan dalam menjalankan usaha, atau melakukan kegiatan di
      Indonesia, menggunakan         broker        atau perantara   yang      mempunyai
      kedudukan     bebas,    asalkan       agen    atau   perantara    tersebut      dalam
      kenyataannya      bertindak    sepenuhnya         dalam   rangka       menjalankan
      perusahaannya sendiri.

               Perusahaan asuransi yang didirikan dan bertempat kedudukan di
      luar Indonesia dianggap mempunyai Bentuk Usaha Tetap di Indonesia,
      apabila perusahaan asuransi tersebut menerima pembayaran premi
      asuransi di Indonesia, atau menanggung resiko di Indonesia melalui
      pegawai atau perwakilan atau agennya di Indonesia. Menanggung resiko di
      Indonesia tidak berarti bahwa peristiwa yang mengakibatkan resiko
      tersebut terjadi di Indonesia. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa pihak
      tertanggung bertempat tinggal, atau berada atau bertempat kedudukan di
      Indonesia.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                      22
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                       IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



      D. Persekutuan Komanditer dan Firma

         Persekutuan Komanditer (CV)


               Persekutuan komanditer adalah suatu persekutuan yang terdiri
         dari seseorang atau beberapa pesero yang tidak ikut campur dalam
         mengurus atau memimpin persekutan, tetapi hanya memberikan suatu
         modal saja. Pesero yang tidak turut campur dalam mengurus
         persekutuan tetap mendapat bagian dari setiap keuntungan dan
         kerugian yang diperoleh persekutuan. Tanggung jawab pesero ini
         terbatas pada jumlah modal yang dimasukkan dalam persekutuan.
         Apabila kerugian melebihi modal yang ditanam, yang bersangkutan tidak
         dapat dimintakan pertanggungjawaban.
               Pesero yang tidak ikut dalam persekutuan disebut persekutuan
         komanditer, sedangkan pesero yang memimpin dan bertindak ke luar
         dinamakan pesero pengurus atau pesero pemimpin.
               Dalam Pasal 19 KUHD diatur bahwa “persekutuan dengan jalan
         meminjam uang atau disebut juga persekutuan komanditer, diadakan
         antara seorang sekutu atau lebih yang bertanggung jawab secara
         pribadi dan untuk seluruhnya dengan seorang atau lebih sebagai
         peminjaman uang”.
               Persekutuan komanditer atau limited partnership terdapat satu
         atau beberapa orang sekutu komanditer. Sekutu komanditer hanya
         menyerahkan uang, barang atau tenaga sebagai pemasukan pada
         persekutuan komanditer. Sekutu komanditer hanya meminjamkan modal
         kepada persekutuan dan sekutu tersebut tidak turut campur tangan
         dalam pengurusan dan penguasaan dalam persekutuan. Sekutu
         komanditer tidak ikut terlibat dalam mencampuri pengurusan dan
         pengelolaan persekutuan komanditer.
               Berdasarkan uraian di atas, terdiri dari 2 (dua) macam
         persekutuan komanditer, yaitu:
         1. sekutu pengurus atau sekutu komplementer yang bertindak sebagai
            pesero pengurus dalam persekutuan komanditer.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                            23
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                       IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



         2. sekutu komanditer disebut juga sekutu tidak kerja, statusnya hanya
            sebagai pemberi modal atau pemberi pinjaman.
                 Sesuai Pasal 20 KUHD diatur mengenai tanggung jawab sekutu
            komanditer tidak mencampuri pengurusan perusahaan, hanya
            menyediakan modal atau uang untuk mendapatkan keuntungan atau
            laba dari perusahaan, kerugian persekutuan komanditer yang
            ditanggung sekutu komanditer terbatas hanya sebesar jumlah modal
            yang ditanamkan, dan nama sekutu komanditer tidak boleh diketahui
            (silent partner).
                 Dalam hal sekutu komanditer meninggal dunia atau pailit maka
            kelangsungan persekutuan komanditer tidak terpengaruh, namun
            kalau yang meninggal adalah sekutu komplemen (anggota pengurus)
            maka persekutuan komanditer berakhir dan bubar dan selanjutnya
            harus diadakan pemberesan.


            Persekutuan Firma


                  Bentuk usaha Firma sering disebut juga dengan Persekutuan
            Firma. Perkataan “Firma” merupakan suatu nama yang dipakai oleh
            beberapa orang bersama untuk berusaha. Menurut Prof. Subekti
            (1953) undang-undang menyebutkan suatu persekutuan firma ialah
            suatu “bedrijf” dengan memakai suatu nama bersama. Perkataan
            Firma juga lazim dipakai jika yang dimaksudkan perkumpulan dagang
            yang memakai nama itu. Dalam suatu perseroan Firma tiap pesero
            (firmant) yang namanya tercantum di dalam akte pendirian (tidak
            dikecualikan) berhak untuk melakukan pengurusan dan bertindak
            keluar atas nama perseroan. Segala perjanjian yang dibuat oleh
            seorang pesero, mengikat juga teman-teman pesero lainnya. Segala
            apa yang diperoleh oleh seorang pesero menjadi benda kepunyaan
            Firma yang berarti kepunyaan semua pesero bersama.
                 Dengan demikian Firma sebagai persekutuan adalah kerja sama
            diantara orang yang bersifat pertemanan atau perkawanan ataupun
            persekutuan. Unsur-unsur yang harus terpenuhi dalam usaha Firma
            adalah:



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                            24
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                          IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



            1. faktor individu sangat memegang peranan penting, namun yang
               dominan diatur adalah kesatuan kerja samanya.
            2. kesatuan kerja sama lebih memegang peranan penting dibanding
               individu-individu pesertanya.
            3. persekutuan kerja sama antara anggota sekutu atau peserta
               difokuskan pada kesatuan bentuk kerja sama, sehingga yang
               tampak keluar adalah bentuk kerja sama itu sendiri sebagai satu
               perusahaan.
            4. Firma bertindak sebagai satu perusahaan yang bernaung di bawah
               satu nama.


                 Setiap sekutu atau persero berwenang untuk berbuat dan
            bertindak keluar atas nama Firma. Tindakan atau perbuatan tersebut,
            mengikat sekutu atau anggota Firma yang lain untuk memenuhi
            kewajiban yang timbul atas tindakan kepada pihak ketiga. Dalam hal
            bertindak keluar, setiap anggota Firma tidak memerlukan kuasa dari
            anggota lain, namun semua anggota Firma bertanggung jawab
            sepenuhnya secara tanggung renteng kepada pihak ketiga.
                 Pada dasarnya Firma mempunyai modal yang terpisah dari
            kekayaan para anggotanya. Penerapan tanggung jawab terhadap
            pihak ketiga tidak hanya terbatas pada kekayaan Firma, tetapi
            melibatkan sampai kekayaan pribadi anggotanya. Dengan demikian,
            kreditor dapat meminta pertanggungjawaban tidak saja pada harta
            kekayaan firma, tetapi sampai pada harta kekayaan pribadi para
            anggota firma tersebut.
                 Ketentuan tersebut sejalan dengan ketentuan Pasal 18 KUHD
            bahwa      “di   dalam   persekutuan   dengan   firma   setiap    sekutu
            bertanggung jawab secara pribadi dan untuk seluruhnya bagi
            perikatan-perikatan persekutuan.”
                 Proses      untuk mendirikan persekutuan Firma adalah sebagai
            berikut:
           1. Harus dengan akta notaris sesuai Pasal 22 KUHD mensyaratkan
               bahwa persetujuan tertulis dalam bentuk akta notaris, namun
               ketentuan ini tidak mengandung sanksi bahwa apabila Firma



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                               25
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                         IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



               didirikan dengan akta notaris maka Firma tersebut tidak sah.
               Dengan demikian tidak adanya akta notaris untuk pendirian Firma
               tidak boleh dijadikan alasan untuk merugikan pihak ketiga.
            2. Didaftarkan pada kepaniteraan pengadilan.
            3. Wajib diumumkan dalam berita Negara.
                  Persekutuan firma berakhir sebagaimana ditentukan dalam
            Pasal 31 KUHD dalam hal:
            1. waktu berlakunya firma berakhir;
            2. terjadi kesepakatan untuk menghentikan firma;
            3. salah seorang anggota meninggal, keluar atau dibawah perwalian;
               atau
            4. tujuan firma tercapai.
                 Sehubungan dengan pembubaran firma, Pasal 32 sampai
            dengan Pasal 35 KUHD mengatur mengenai pemberesan dan
            penyelesaian terhadap kekayaan firma. Anggota yang mengurus
            firma harus melakukan tindakan berupa:
           1. menyelesaikan semua persetujuan yang masih berjalan dengan
               pihak terkait.
            2. menagih, membayar, mengembalikan barang atau uang kepada
               yang berhak.


         E. Yayasan
               Berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang
         Yayasan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 28
         Tahun 2004 dicantumkan dalam Pasal 1 angka 1 pengertian yayasan
         yaitu badan hukum yang terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan
         diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu di bidang sosial,
         keagamaan, dan kemanusiaan, yang tidak mempunyai anggota.
               Yayasan didirikan oleh satu orang atau lebih dengan memisahkan
         sebagian harta kekayaan pendirinya, sebagai kekayaan awal. Pendirian
         yayasan sesuai Pasal 9 dilakukan dengan akta notaris dan dibuat dalam
         bahasa Indonesia. Yayasan memperoleh status badan hukum setelah
         akta pendirian disahkan oleh Menteri Hukum dan HAM. Akta pendirian




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                              26
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                              IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



         yang telah disahkan tersebut harus diumumkan dalam Tambahan Berita
         Negara RI.
               Kekayaan yayasan berasal dari sejumlah kekayaan yang
         dipisahkan dalam bentuk uang atau barang. Selain kekayaan tersebut
         dapat diperoleh dari:
         - sumbangan atau bantuan yang tidak mengikat;
         - wakaf;
         - hibah;
         - hibah wasiat; dan
         - perolehan lain yang tidak bertentangan dengan anggaran dasar
            yayasan dan/atau peraturan perundang-undangan yang berlaku.
               Setiap yayasan mempunyai organ yang terdiri dari Pembina,
      pengurus,     dan   pengawas.     Pembina    adalah   organ     yayasan       yang
      mempunyai kewenangan yang tidak diserahkan kepada pengurus atau
      pengawas berdasarkan undang-undang yayasan atau anggaran dasar.
      Kewenangan Pembina antara lain:
      1. keputusan mengenai perubahan anggaran dasar;
      2. pengangkatan dan pemberhentian anggota pengurus dan anggota
         pengawas;
      3. penetapan kebijakan umum yayasan berdasarkan anggaran dasar;
      4. pengesahan program kerja dan rancangan anggaran tahunan yayasan;
         dan
      5. penetapan keputusan mengenai penggabungan atau pembubaran
         yayasan.
               Pengurus      adalah     organ     yayasan   yang        melaksanakan
      kepengurusan yayasan. Sebagaimana diatur dalam Pasal 31 sampai
      dengan Pasal 39 UU Yayasan. Pengurus yayasan bertanggung jawab
      penuh atas kepengurusan yayasan serta berhak mewakili yayasan baik di
      dalam maupun di luar pengadilan. Ini berarti setiap pengurus menjalankan
      tugas dengan iktikad baik, dan penuh tanggung jawab untuk kepentingan
      dan tujuan yayasan. Dalam menjalankan tugasnya tersebut, pengurus tidak
      harus melakukannya sendiri, pengurus yayasan dapat mengangkat dan
      memberhentikan pelaksana kegiatan yayasan. Untuk keperluan itu, maka
      segala ketentuan yang berhubungan dengan syarat dan tata cara



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                   27
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                               IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



      pengangkatan dan pemberhentian pelaksana kegiatan yayasan harus
      diatur dalam Anggaran Dasar Yayasan. Pengurus tidak boleh merangkap
      sebagai Pembina atau pengawas. Sedangkan pengawas adalah organ
      yayasan yang bertugas melakukan pengawasan serta memberi nasehat
      kepada pengurus dalam menjalankan kegiatan yayasan.


               Pengurus      adalah      organ   yayasan      yang       melaksanakan
      kepengurusan yayasan.           Selanjutnya, yang dapat diangkat menjadi
      pengurus adalah orang perseorangan yang mampu melaksanakan
      perbuatan hukum. Pengurus dalam hal ini tidak boleh merangkap sebagai
      Pembina atau pengawas.
               Yayasan berdasarkan Pasal 62 dibubarkan dalam hal:
      1. jangka waktu yang ditetapkan dalam anggaran dasar berakhir;
      2. tujuan yayasan yangditetapkan dalam anggaran telah tercapai atau tidak
         tercapai;
      3. putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap
         berdasarkan alasan:
         - yayasan melanggar ketertiban umum dan kesusilaan;
         - tidak mampu membayar utangnya setelah dinyatakan pailit; atau
         - harta kekayaan yayasan tidak cukup untuk melunasi utangnya setelah
            pernyataan pailit dicabut.


       F. Koperasi


               Berdasarkan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 25 Tahun
       1992 tentang Perkoperasian diatur bahwa koperasi adalah badan usaha
       yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi dengan
       melandaskan kegiatannya           berdasarkan    prinsip   koperasi     sekaligus
       sebagai gerakan ekonomi rakyat berdasar atas asas kekeluargaan.
               Pembentukan koperasi dilakukan dengan akta pendirian yang
       memuat anggaran dasar. Koperasi memperoleh status badan hukum
       setelah akta pendiriannya disahkan oleh pemerintah. Pengesahan akta
       pendirian harus diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia
       sebagai syarat asas publisitas.



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                    28
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                              IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



               Perangkat organisasi koperasi terdiri dari:
       a. rapat anggota;
        b. pengurus; dan
       c. pengawas.
               Rapat anggota merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam
      koperasi. Rapat anggota dihadiri oleh anggota yang pelaksanaannya diatur
      dalam anggaran dasar. Pengurus dipilih dari dan oleh anggota koperasi
      dalam rapat anggota. Pengurus merupakan pemegang kuasa rapat
      anggota. Masa jabatan pengurus adalah 5 (lima) tahun.Pengawas bertugas
      melakukan      pengawasan     terhadap   pelaksanaan      kebijaksanaan         dan
      pengelolaan koperasi dan membuat laporan tertulis tentang hasil
      pengawasannya.
               Pembubaran koperasi dapat dilakukan berdasarkan keputusan
      rapat anggota atau keputusan pemerintah. Keputusan pembubaran oleh
      pemerintah dilakukan apabila terbukti bahwa koperasi tersebut tidak
      memenuhi       ketentuan    undang-undang         perkoperasian,     kegiatannya
      bertentangan     dengan     ketertiban   umum      dan/atau    kesusilaan       dan
      kelangsungan hidupnya tidak dapat dipertahankan.


      G. Perseroan Terbatas

              Perseroan Terbatas menurut Pasal 1 angka 1 Undang-Undang
      Nomor 1 Tahun 2007 adalah badan hukum yang merupakan persekutuan
      modal, didirikan berdasar perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan
      modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi
      persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini serta peraturan
      pelaksanaannya.
              Sesuai ketentuan dalam Pasal 7 ayat (1) UU PT bahwa “Perseroan
      didirikan oleh 2 (dua) orang atau lebih dengan akta notaris yang dibuat
      dalam bahasa Indonesia”. Dengan demikian syarat sahnya mendirikan
      perseroan pendirinya adalah paling sedikit 2 (dua) orang atau lebih. Hal
      tersebut sejalan pula dengan Pasal 1313 KUH Perdata bahwa suatu
      perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana seseorang atau lebih




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                   29
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                          IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



      mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih. Dalam Pasal 1320
      KUH Perdata agar perjanjian Perseroan itu sah harus memenuhi syarat
      adanya kesepakatan, kecakapan, untuk membuat suatu perikatan,
      mengenai suatu hal tertentu dan suatu sebab yang halal.
               Dalam Pasal 7 ayat (2) UU PT diatur bahwa Perseroan
      memperoleh status badan hukum pada tanggal diterbitkannya Keputusan
      Menteri mengenai pengesahan badan hukum Perseroan. Dengan demikian
      keberadaannya sebagai badan hukum dibuktikan berdasarkan Akta
      Pendirian yang didalamnya tercantum Anggaran Dasar Perseroan. Apabila
      Anggaran Dasar telah mendapat “pengesahan” Menteri, Perseroan menjadi
      “subjek hukum korporasi”.
               Perseroan sebagai makhluk atau subjek hukum disahkan oleh
      Negara menjadi badan hukum yang tidak bisa dilihat dan tidak dapat
      diraba. Akan tetapi, eksistensinya riil ada sebagai subjek hukum yang
      terpisah dan bebas dari pemilik atau pemegang saham maupun dari
      pengurus dalam hal ini Direksi Perseroan. Secara terpisah dan independen
      Perseroan melalui pengurus dapat melakukan perbuatan hukum seperti
      melakukan kegiatan dan atas nama Perseroan membuat perjanjian,
      transaksi, menjual asset dan menggugat atau digugat serta dapat hidup
      dan bernafas sebagaimana layaknya manusia selama jangka waktu
      berdirinya yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar belum berakhir.
      Membayar pajak atas namanya sendiri. Namun tidak bisa dipenjarakan,
      akan tetapi dapat menjadi subjek perdata maupun tuntutan pidana dalam
      bentuk hukuman denda. Utang perseroan menjadi tanggung jawab dan
      kewajiban Perseroan, dalam kedudukan dan kapasitasnya sebagai badan
      hukum atau entitas yang terpisah dan independen dari tanggung jawab
      pemegang saham (M Yahya Harahap : 38).
               Dalam Pasal 1 angka 2 UU PT disebutkan organ Perseroan terdiri
      dari:
      1. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
      2. Direksi, dan
      3. Dewan Komisaris.
               Direksi sesuai Pasal 1 angka 5 adalah organ perseroan yang
      berwenang dan bertanggung jawab penuh atas “pengurusan” Perseroan



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                               30
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                         IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



      untuk menjadi kepentingan Perseroan. Pasal 92 ayat (1) Direksi
      menjalankan pengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan.
               Pada prinsipnya setiap anggota Perseroan berwenang mewakili
      Perseroan, kecuali ditentukan lain dalam Anggaran Dasar. Hal ini sejalan
      dengan Pasal 98 ayat (2) UU PT apabila anggota Direksi terdiri lebih dari 1
      (satu) orang maka setiap anggota Direksi berwenang mewakili Perseroan.
               Berdasarkan Pasal 1 angka 6 UU PT Dewan Komisaris adalah
      organ perseroan yang bertugas melakukan pengawasan secara umum
      dan/atau khusus sesuai dengan anggaran dasar serta member nasihat
      kepada Direksi.
               Tugas utama Dewan Komisaris dalam Pasal 108 ayat (1) dan ayat
      (2) adalah melakukan pengawasan terhadap kebijaksanaan pengurusan
      perseroan yang dilakukan Direksi dan jalannya pengurusan pada
      umumnya.
               Pertanggungjawaban yuridis anggota Dewan Komisaris atas
      kesalahan atau kelalaian menjalankan tugas pengawasan dan pemberian
      nasihat diatur dalam Pasal 114 ayat (3) UU PT. Prinsip hukum yang
      ditegakkan adalah apabila anggota Dewan Komisaris salah atau lalai
      menjalankan tugas pengawasan dan pemberian nasihat dan atas
      kesalahan atau kelalaian tersebut Perseroan mengalami kerugian maka
      setiap anggota Dewan Komisaris bertanggung jawab secara pribadi atas
      kerugian dimaksud.
               Mengenai pertanggungjawaban pribadi anggota Dewan Komisaris
      dipertegas dalam Penjelasan Pasal 114 ayat (3) walaupun kerugian yang
      dialami oleh Perseroan karena pengurusan yang dilakukan oleh Direksi,
      namun anggota Dewan Komisaris tetap ikut memikul tanggung jawab
      secara pribadi apabila kerugian tersebut akibat dari kelalaian pengawasan
      Dewan Komisaris.
               Berdasarkan Pasal 1 angka 4 Rapat Umum Pemegang Saham
      adalah organ Perseroan yang mempunyai wewenang yang tidak diberikan
      kepada Direksi atau Dewan Komisaris, namun dalam batas yang
      ditentukan dalam undang-undang PT dan/atau Anggaran Dasar Perseroan
      sesuai Pasal 75 ayat (1). Dengan demikian, kewenangan apa saja yang




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                              31
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                             IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



        tidak diberikan kepada Direksi dan/atau Dewan Komisaris menjadi
        kewenangan RUPS.
                 Sesuai dengan Pasal 5 ayat (1) UU PT tempat kedudukan
        Perseroan dalam wilayah Republik Indonesia dan hal ini harus ditegaskan
        dalam Anggaran Dasar. Dalam penjelasan pasal tersebut ditegaskan
        bahwa    kedudukan     perseroan    sekaligus   merupakan     Kantor      Pusat
        Perseroan. Apabila hal ini dikaitkan dengan Pasal 76 ayat (1) UU PT maka
        agar RUPS sah dilangsungkan harus dilakukan di tempat kedudukan
        Perseroan atau di tempat Perseroan melakukan kegiatan usahanya yang
        utama sebagaimana ditentukan dalam anggaran dasar. Namun dalam
        Pasal 76 ayat (3) UU PT disyaratkan tempat RUPS harus terletak                 di
        wilayah negara Republik Indonesia
                 Dalam Pasal 1 angka 7 terdapat pengertian Perseroan Terbuka
        adalah Perseroan Publik atau Perseroan yang melakukan penawaran
        umum saham, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di
        bidang   pasar   modal.    Selain   Perseroan    Terbuka    maka       UU     PT
        memungkinkan adanya Perseroan Tertutup.


        Perseroan Tertutup
                 Perseroan pada dasarnya adalah badan hukum yang memenuhi
        syarat dalam Pasal 1 angka 1 UU PT. Perseroan merupakan persekutuan
        modal yang terbagi dalam saham. Didirikan berdasarkan perjanjian di
        antara pendiri atau pemegang saham, serta melakukan kegiatan usaha
        dan harus dikukuhkan dengan keputusan pengesahan dari Menteri Hukum
        dan HAM.


                 Ciri-ciri khusus perseroan tertutup antara lain (Harahap : 38-39):
  a.     pemegang sahamnya terbatas dan tertutup.
         Hanya terbatas pada orang yang masih kenal mengenal atau pemegang
         sahamnya hanya terbatas di antara mereka yang masih ada ikatan
         keluarga dan tertutup bagi orang luar.
   b.    saham perseroan ditetapkan dalam anggaran dasar hanya sedikit
         jumlahnya dan dalam anggaran dasar sudah ditentukan dengan tegas
         siapa yang boleh menjadi pemegang saham.



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                  32
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                              IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



   c.    sahamnya juga hanya atas nama atas orang-orang tertentu secara
         terbatas.


  Perseroan Terbuka
             Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 22 Undang-Undang Nomor 8
        Tahun 1985 tentang Pasar Modal diatur (Harahap : 41) bahwa:
    a. perseroan publik yang telah memenuhi ketentuan Pasal 1 angka 2
         Undang-Undang tentang Pasar Modal yaitu memiliki pemegang saham
         sekurang-kurangnya 300 (tiga ratus) orang dan modal disetor sekurang-
         kurangnya Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar)
    b. perseroan yang melakukan penawaran umum saham di bursa efek
         (menjual saham atau efeknya kepada masyarakat luas).
        Menurut ketentuan dalam Pasal 1 angka 22 Undang-Undang Nomor 8
        Tahun 1985 tentang Pasar Modal diatur bahwa perseroan yang menjadi
        perseroan publik harus memenuhi syarat sebagai berikut:
        a. saham perseroan dimiliki sekurang-kurangnya 300 pemegang saham
        b. memiliki modal disetor sekurang-kurangnya Rp3.000.000.000,00
        c. suatu jumlah pemegang saham dengan jumlah modal disetor yang
           ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah.


  Perseroan Grup (Group Company).
         Pada masa sekarang, banyak perseroan yang memanfaatkan prinsip
 limited     liability   atau   pertanggungjawaban      terbatas.    Dalam        rangka
 memanfaatkan limited liability, sebuah perseroan dapat mendirikan perseroan
 anak atau subsidiary untuk menjalankan bisnis perseroan induk (parent
 company). Dengan demikian, sesuai dengan prinsip keterpisahan dan
 perbedaan yang dikenal dengan istilah separate entity, sehingga asset
 perseroan induk dengan perseroan anak terisolasi terhadap kerugian potensial
 yang akan dialami oleh satu diantaranya (Harahap : 49).




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                   33
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                              IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



 2.4. Latihan


      1. Jelaskan yang dimaksud dengan sole proprietorship.
      2. Jelaskan yang dimaksud dengan pengertian badan menurut UU KUP.
      3. Bagaimana perlakuan perpajakan untuk wanita kawin yang tidak
         melakukan perjanjian pemisahan harta.
      4. Jelaskan perbedaan persekutuan komanditer dan Firma.
      5. Bagaimana pertanggungjawaban komisaris menurut UU PT dan UU
         KUP .

2.5. Rangkuman

              Dalam suatu asas hukum perdata dinyatakan bahwa semua
      kekayaan seseorang menjadi tanggungan untuk segala kewajibannya.
      Secara umum WP Orang Pribadi yang menjalankan usaha disebut sole
      proprietorship    (perusahaan         perseorangan).   Klasifikasi   perusahaan
      perseorangan ini mempunyai ciri khas bahwa perusahaan dipimpin, diurus,
      dan dioperasikan sendiri oleh pemilik. Pemegang kendali hanya dilakukan
      oleh pemilik dan tanggung jawabnya menjadi tidak terbatas.
                UU KUP mengatur bahwa bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yang
      telah memenuhi persyaratan subjektif dan persyaratan objektif, wajib bagi
      mereka untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak.


                Sesuai UU KUP kewajiban mendaftarkan diri berlaku pula
      terhadap wanita kawin yang dikenai pajak secara terpisah karena hidup
      terpisah berdasarkan keputusan hakim atau dikehendaki secara tertulis
      berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta. Dengan
      demikian terhadap wanita kawin yang melakukan perjanjian pemisahan
      harta dengan suaminya akan menjadi WP tersendiri terpisah dengan
      kewajiban perpajakan suaminya, sehingga semua pemenuhan hak dan
      kewajiban dari wanita kawin tersebut adalah menjadi tanggung
      jawabnya.
                Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
      khususnya dalam Pasal 29 diatur bahwa pada waktu atau sebelum
      perkawinan dilangsungkan, kedua belah pihak atas persetujuan



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                   34
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                            IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



      bersama dapat mengadakan perjanjian tertulis yang disahkan oleh
      pegawai pencatat perkawinan, setelah mana isinya berlaku juga
      terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut. Dengan
      demikian undang-undang memperkenankan calon suami dan istri untuk
      membuat perjanjian pisah harta dalam hal:
      1. dibuat dalam akta notaris sebelum pernikahan dilangsungkan, dan
      2. tidak boleh bertentangan dengan tata susila dan ketertiban umum.
                Pasal 2 ayat (5) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang
      Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
      dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 dijelaskan bahwa
      pengertian      Bentuk   Usaha        Tetap   adalah   bentuk   usaha       yang
      dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di
      Indonesia atau yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam
      jangka waktu 12 bulan atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat
      kedudukan di Indonesia untuk menjalankan usaha atau kegiatan di
      Indonesia, dapat berupa:
      a. tempat kedudukan manajemen;
      b. Cabang Perusahaan;
      c. Kantor Perwakilan;
      d. Gedung Kantor;
      e. Pabrik;
      f.   Bengkel;
      g. Gudang;
      h. Ruang untuk promosi dan penjualan;
      i.   Pertambangan dan penggalian sumber alam;
      j.   Wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi;
      k. Proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan;
      l. Pemberian jasa dalam bentuk apapun oleh pegawai atau orang lain,
           sepanjang dilakukan lebih dari 60 (enam puluh) hari dalam jangka waktu
           12 (dua belas) bulan;
     m. Orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak
           bebas;




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                 35
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                              IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



      n. Agen atau pegawai perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan tidak
         bertempat kedudukan di Indonesia yang dapat menerima premi asuransi
         atau menanggung resiko di Indonesia; dan
     o. Komputer, agen elektronik, atau peralatan otomatis yang dimiliki, disewa,
         atau   digunakan     oleh   penyelenggara      transaksi   elektronik      untuk
         menjalankan usaha melalui internet.
            Berdasarkan penjelasan Pasal 2 ayat (5) UU PPh, menyatakan
      bahwa suatu bentuk usaha tetap mengandung pengertian adanya suatu
      tempat usaha (”place of bussiness”), yaitu fasilitas yang dapat berupa
      tanah dan gedung termasuk juga mesin-mesin, peralatan, gudang dan
      komputer atau agen elektronik atau peralatan otomatis (automated
      equipment), yang dimiliki, disewa, atau digunakan oleh penyelenggara
      transaksi elektronik untuk menjalankan aktivitas usaha melalui internet.
      Tempat    usaha     tersebut   bersifat   permanen    dan     digunakan       untuk
      menjalankan usaha atau melakukan kegiatan dari orang pribadi yang tidak
      bertempat tinggal atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat
      kedudukan di Indonesia.


                Persekutuan komanditer adalah suatu persekutuan dimana
      seseorang atau beberapa pesero tidak ikut campur dalam mengurus atau
      memimpin persekutan, tetapi hanya memberikan suatu modal saja. Pesero
      yang tidak turut campur juga turut mendapat bagian dari setiap keuntungan
      dan kerugian yang diperoleh persekutuan, namun tanggung jawab pesero
      ini terbatas pada jumlah       modal yang dimasukkan dalam persekutuan.
      Apabila kerugian melebihi modal yang ditanam, yang bersangkutan tidak
      dapat dimintakan pertanggungjawaban.
                Berdasarkan uraian di atas, terdiri dari 2 (dua) macam
      persekutuan komanditer, yaitu:
      1. sekutu pengurus atau sekutu komplementer yang bertindak sebagai
         pesero pengurus dalam persekutuan komanditer.
      2. sekutu komanditer disebut juga sekutu tidak kerja, statusnya hanya
         sebagai pemberi modal atau pemberi pinjaman.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                   36
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                        IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



               Firma sebagai persekutuan adalah kerja sama diantara orang
      yang bersifat pertemanan atau perkawanan ataupun persekutuan. Dengan
      demikian unsur-unsur yang harus terpenuhi dalam usaha Firma adalah:
      1. faktor individu sangat memegang peranan penting, namun yang
         dominan diatur adalah kesatuan kerja samanya.
      2. kesatuan kerja sama lebih memegang peranan penting dibanding
         individu-individu pesertanya.
      3. persekutuan kerja sama antara anggota sekutu atau peserta difokuskan
         pada kesatuan bentuk kerja sama, sehingga yang tampak keluar adalah
         bentuk kerja sama itu sendiri sebagai satu perusahaan.
      4. Firma bertindak sebagai satu perusahaan yang bernaung di bawah satu
         nama.
               Setiap sekutu atau persero berwenang untuk berbuat dan
      bertindak keluar atas nama Firma. Tindakan atau perbuatan tersebut,
      mengikat sekutu atau anggota Firma yang lain untuk memenuhi kewajiban
      yang timbul atas tindakan kepada pihak ketiga. Dalam hal bertindak keluar,
      setiap anggota Firma tidak memerlukan kuasa dari anggota lain, namun
      semua anggota Firma bertanggung jawab sepenuhnya secara tanggung
      renteng kepada pihak ketiga.
               Dengan demikian Firma sebagai persekutuan adalah kerja sama
      diantara orang yang bersifat pertemanan atau perkawanan ataupun
      persekutuan. Dengan demikian unsur-unsur yang harus terpenuhi dalam
      usaha Firma adalah:
      1. faktor individu sangat memegang peranan penting, namun yang
          dominan diatur adalah kesatuan kerja samanya.
      2. kesatuan kerja sama lebih memegang peranan penting dibanding
         individu-individu pesertanya.
      3. persekutuan kerja sama antara anggota sekutu atau peserta difokuskan
         pada kesatuan bentuk kerja sama, sehingga yang tampak keluar adalah
         bentuk kerja sama itu sendiri sebagai satu perusahaan.
      4. Firma bertindak sebagai satu perusahaan yang bernaung di bawah satu
         nama.
               Setiap sekutu atau persero berwenang untuk berbuat dan
      bertindak keluar atas nama Firma. Tindakan atau perbuatan tersebut,



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                             37
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                              IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



      mengikat sekutu atau anggota Firma yang lain untuk memenuhi kewajiban
      yang timbul atas tindakan kepada pihak ketiga. Dalam hal bertindak keluar,
      setiap anggota Firma tidak memerlukan kuasa dari anggota lain, namun
      semua anggota Firma bertanggung jawab sepenuhnya secara tanggung
      renteng kepada pihak ketiga.
               Setiap yayasan mempunyai organ yang terdiri dari Pembina,
      pengurus,     dan   pengawas.     Pembina    adalah   organ     yayasan       yang
      mempunyai kewenangan yang tidak diserahkan kepada pengurus atau
      pengawas berdasarkan undang-undang yayasan atau anggaran dasar.
      Kewenangan Pembina antara lain:
      1. keputusan mengenai perubahan anggaran dasar;
      2. pengangkatan dan pemberhentian anggota pengurus dan anggota
         pengawas;
      3. penetapan kebijakan umum yayasan berdasarkan anggaran dasar;
      4. pengesahan program kerja dan rancangan anggaran tahunan yayasan;
         dan
      5. penetapan keputusan mengenai penggabungan atau pembubaran
         yayasan.
               Pengurus      adalah     organ     yayasan   yang        melaksanakan
      kepengurusan yayasan. Sebagaimana diatur dalam Pasal 31 sampai
      dengan Pasal 39 UU Yayasan. Pengurus yayasan bertanggung jawab
      penuh atas kepengurusan yayasan serta berhak mewakili yayasan baik di
      dalam maupun di luar pengadilan. Ini berarti setiap pengurus menjalankan
      tugas dengan iktikad baik, dan penuh tanggung jawab untuk kepentingan
      dan tujuan yayasan. Dalam menjalankan tugasnya tersebut, pengurus tidak
      harus melakukannya sendiri, pengurus yayasan dapat mengangkat dan
      memberhentikan pelaksana kegiatan yayasan. Untuk keperluan itu, maka
      segala ketentuan yang berhubungan dengan syarat dan tata cara
      pengangkatan dan pemberhentian pelaksana kegiatan yayasan harus
      diatur dalam Anggaran Dasar Yayasan. Pengurus tidak boleh merangkap
      sebagai Pembina atau pengawas. Sedangkan pengawas adalah organ
      yayasan yang bertugas melakukan pengawasan serta memberi nasehat
      kepada pengurus dalam menjalankan kegiatan yayasan.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                   38
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                              IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



               Pengurus      adalah     organ     yayasan   yang        melaksanakan
      kepengurusan yayasan.           Selanjutnya, yang dapat diangkat menjadi
      pengurus adalah orang perseorangan yang mampu melaksanakan
      perbuatan hukum. Pengurus dalam hal ini tidak boleh merangkap sebagai
      Pembina atau pengawas.
               Setiap yayasan mempunyai organ yang terdiri dari Pembina,
      pengurus,     dan   pengawas.     Pembina    adalah   organ     yayasan       yang
      mempunyai kewenangan yang tidak diserahkan kepada pengurus atau
      pengawas berdasarkan undang-undang yayasan atau anggaran dasar.
      Kewenangan Pembina antara lain:
      1. keputusan mengenai perubahan anggaran dasar;
      2. pengangkatan dan pemberhentian anggota pengurus dan anggota
         pengawas;
      3. penetapan kebijakan umum yayasan berdasarkan anggaran dasar;
      4. pengesahan program kerja dan rancangan anggaran tahunan yayasan;
         dan
      5. penetapan keputusan mengenai penggabungan atau pembubaran
         yayasan.
               Pengurus      adalah     organ     yayasan   yang        melaksanakan
      kepengurusan yayasan. Sebagaimana diatur dalam Pasal 31 sampai
      dengan Pasal 39 UU Yayasan. Pengurus yayasan bertanggung jawab
      penuh atas kepengurusan yayasan serta berhak mewakili yayasan baik di
      dalam maupun di luar pengadilan. Ini berarti setiap pengurus menjalankan
      tugas dengan iktikad baik, dan penuh tanggung jawab untuk kepentingan
      dan tujuan yayasan. Dalam menjalankan tugasnya tersebut, pengurus tidak
      harus melakukannya sendiri, pengurus yayasan dapat mengangkat dan
      memberhentikan pelaksana kegiatan yayasan. Untuk keperluan itu, maka
      segala ketentuan yang berhubungan dengan syarat dan tata cara
      pengangkatan dan pemberhentian pelaksana kegiatan yayasan harus
      diatur dalam Anggaran Dasar Yayasan. Pengurus tidak boleh merangkap
      sebagai Pembina atau pengawas. Sedangkan pengawas adalah organ
      yayasan yang bertugas melakukan pengawasan serta memberi nasehat
      kepada pengurus dalam menjalankan kegiatan yayasan.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                   39
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                         IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



               Berdasarkan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 25 Tahun
    1992 tentang Perkoperasian diatur bahwa koperasi adalah badan usaha
    yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi dengan
    melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai
    gerakan ekonomi rakyat berdasar atas asas kekeluargaan.
               Pembentukan koperasi dilakukan dengan akta pendirian yang
    memuat anggaran dasar. Koperasi memperoleh status badan hukum setelah
    akta pendiriannya disahkan oleh pemerintah. Pengesahan akta pendirian
    harus diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia sebagai syarat
    asas publisitas.
               Perangkat organisasi koperasi terdiri dari:
      a. rapat anggota;
      b. pengurus; dan
      c. pengawas.
               Rapat anggota merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam
      koperasi. Rapat anggota dihadiri oleh anggota yang pelaksanaannya diatur
      dalam anggaran dasar. Pengurus dipilih dari dan oleh anggota koperasi
      dalam rapat anggota. Pengurus merupakan pemegang kuasa rapat
      anggota. Masa jabatan pengurus adalah 5 (lima) tahun.Pengawas bertugas
      melakukan      pengawasan     terhadap   pelaksanaan   kebijaksanaan       dan
      pengelolaan koperasi dan membuat laporan tertulis tentang hasil
      pengawasannya.

              Perseroan Terbatas menurut Pasal 1 angka 1 Undang-Undang
      Nomor 1 Tahun 2007 adalah badan hukum yang merupakan persekutuan
      modal, didirikan berdasar perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan
      modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi
      persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini serta peraturan
      pelaksanaannya.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                              40
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                        IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



2.6. Tes Formatif

Lingkarilah jawaban yang paling tepat a, b, c, atau d.


1. Keuntungan dari perusahaan perseorangan adalah:
   a. menikmati seluruh laba
   b. pengenaan pajak lebih rendah
   c. pengawasan penuh
   d. jawaban a, b, dan c benar.
2. Pilihlah pernyataan yang paling tepat di bawah ini:
  a. wanita kawin harus memenuhi kewajiban perpajakan melalui NPWP
      suami
  b. wanita kawin yang melakukan perjanjian pemisahan penghasilan dan
      harta wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP
  c. wanita kawin harus mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP
  d. pernyataan a, b, dan c tidak ada yang benar.
3. Pernyataan yang benar terkait perjanjian kawin adalah:
  a. perjanjian kawin harus dibuat dengan akta notaris dan dibuat sebelum
      pernikahan berlangsung.
  b. perjanjian kawin dapat dibuat berdasarkan kesepakatan dan dapat dibuat
      setiap saat.
  c. pernyataan a dan b benar.
  d. tidak ada jawaban yang benar.

4. Pernyataan yang benar terkait BUT adalah:
  a. Termasuk pengertian badan menurut UU KUP
  b. bentuk usaha yang tidak bertempat tinggal di Indonesia tidak lebih dari 183
      hari dalam jangka waktu 12 bulan
  c. badan yang tidak didirkan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia
      untuk menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia
  d. seluruh pernyataan benar
5. Bentuk Usaha Tetap dapat berupa, kecuali:
  a. anak perusahaan
  b. kantor perwakilan
  c. cabang perusahaan
  d. jawaban b dan c benar.



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                             41
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                        IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



6. Perlakuan asuransi yang didirikan dan bertempat kedudukan di luar Indonesia
   dianggap mempunyai BUT di Indonesia apabila:
   a. perusahaan tersebut menerima pembayaran premi asuransi di Indonesia
   b. menanggung resiko di Indonesia melalui pegawai atau perwakilan di
       Indonesia
   c. peristiwa yang mengakibatkan resiko harus terjadi di Indonesia.
   d. hanya jawaban a dan b benar
7. Karakteristik CV (persekutuan komanditer) adalah:
  a. terdiri dari seseorang atau beberapa pesero
  b. semua pesero harus turut campur dalam pengurusan CV
  c. semua pesero aktif bertanggung jawab secara renteng
  d. pernyataan a dan b yang benar
8. Pernyataan yang tepat terkait persekutuan komanditer:
  a. sekutu komanditer tidak mencampuri pengurusan perusahaan.
  b. sekutu komanditer hanya menyediakan modal atau uang
  c. kerugian persekutuan komanditer ditanggung sekutu komanditer tidak
      terbatas.
  d. semua pernyataan benar.
9. Karakteristik Persekutuan Firma adalah:
  a. Segala perjanjian yang dibuat oleh seorang pesero, mengikat juga teman-
      teman pesero
  b. semua yang diperoleh orang seorang pesero menjadi milik Firma
  c. jawaban a dan b tidak ada yang benar
  d. jawaban a dan b benar
10. Pernyataan terkait yayasan:
   a. yayasan bukan merupakan badan hukum
   b. mempunyai anggota
   c. jawaban a dan b benar
   d. tidak ada jawaban yang benar
11. Karakteristik koperasi:
  a. merupakan badan hukum
  b. perangkat koperasi adalah rapat anggota dan pengurus
  c. jawaban a dan b benar
  d. tidak ada jawaban yang benar



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                             42
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                          IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



12. Perseroan Terbatas adalah:
      a. badan hukum yang dibuktikan dengan Anggaran Dasar dan disahkan oleh
         Menteri Hukum dan HAM
      b. subjek hukum korporasi
      c. organ PT adalah RUPS dan Direksi
      d. semua pernyataan tidak ada yang benar
13. Penanggung Pajak menurut UU KUP:
      a. badan diwakili oleh Pengurus
      b. komisaris termasuk pengertian pengurus
      c. pemegang saham terbesar merupakan pengurus
      d. jawaban a, b, dan c benar
14. Syarat sahnya mendirikan perseroan sesuai UU PT adalah:
      a. minimal 2 (dua) orang atau lebih;
      b. minimal 1 (satu) orang atau lebih;
      c. minimal 3 (tiga) orang atau lebih;
      d. tidak ada jawaban yang benar.
15. Pengertian Perseroan Terbatas adalah:
      a. badan hukum
      b. didirikan berdasarkan perjanjian
      c. jawaban a dan b benar semua
      d. jawaban a dan b tidak benar


2.7. Umpan Balik Dan Tindak Lanjut
              Cocokkanlah jawaban anda dengan Kunci Jawaban yang terdapat
        dibagian akhir Modul. Hitunglah jawaban Anda yang benar. Kemudian
        gunakan rumus dibawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda
        terhadap modul ini.
        Rumus :
                    Jumlah soal yang benar
        Nilai =        ____________________       x 100 %
                        Jumlah soal


 Dengan hasil penghitungan itu dapat dilakukan klasifikasi penilaian, yaitu :
 a.        Bila > 80 % nilai sangat baik



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                               43
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                      IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



 b.      Bila 70 % - 79 % baik
 c.      Bila 60 % - 69 % cukup
 d.      Bila < 60 % kurang
             Bila Anda mencapai penguasaan diatas 70 % atau lebih, Anda dapat
      meneruskan ke Kegiatan Belajar 3. Apabila belum supaya memperdalam
      terlebih dahulu Kegiatan Belajar 2. Kunci Jawaban terletak dibagian
      terakhir.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                           44
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                         IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



3. Kegiatan Belajar 3

   3.1. TINDAKAN PENAGIHAN PAJAK



   3.2. Indikator

       Setelah mempelajari kegiatan belajar ini diharapkan peserta diklat dapat
       menjelaskan tindakan penagihan pajak yang terdiri dari tindakan
       penerbitan Surat Teguran, Surat Paksa, pelaksanaan penyitaan, lelang,
       pencegahan dan penyanderaan.

   3.3. Uraian, Contoh dan Non Contoh.

     A. Pengertian Utang Pajak.
               Utang pajak menurut Pasal 1 angka 8 UU PPSP adalah pajak
       yang masih harus dibayar termasuk sanksi administrasi berupa bunga,
       denda atau kenaikan yang tercantum dalam surat ketetapan pajak atau
       surat        sejenisnya   berdasarkan    peraturan   perundang-undangan
       perpajakan.
               Dalam Pasal 4 Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia
       Nomor 24/PMK.03/2008 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penagihan
       dengan Surat Paksa dan Pelaksanaan Penagihan Seketika dan Sekaligus
       dijelaskan bahwa utang pajak adalah pajak yang masih harus dibayar
       termasuk sanksi administrasi sebagaimana ditetapkan dalam Surat
       Tagihan Pajak (STP), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB),
       Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT), Surat
       Tagihan Pajak Pajak Bumi dan Bangunan (STPPBB), Surat Tagihan Bea
       Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (STB), Surat Ketetapan Bea
       Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (SKBKB), Surat Ketetapan Bea
       Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Tambahan (SKBKBT), Surat
       Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding,
       atau Putusan Peninjauan Kembali yang menyebabkan jumlah pajak yang
       harus dibayar bertambah.

               Pengertian Penanggung Pajak menurut Pasal 1 angka 3 UU
      PPSP adalah orang pribadi atau badan yang bertanggung jawab atas




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                              45
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                             IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



      pembayaran pajak, termasuk wakil yang menjalankan hak atau memenuhi
      kewajiban Wajib Pajak menurut ketentuan peraturan perundang-undangan
      perpajakan.
               Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 1 angka 6 UU PPSP diatur
      pula bahwa pelaksanaan tindakan penagihan pajak dilakukan oleh Jurusita
      Pajak   yang    meliputi   tindakan   penagihan   seketika     dan     sekaligus,
      pemberitahuan Surat Paksa, penyitaan, penyanderaan. Lebih lanjut
      penagihan pajak selain diatur dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun
      1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa sebagaimana telah
      diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000, diatur pula dalam
      Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata
      Cara Perpajakan (UU KUP) sebagaimana telah beberapa kali diubah
      terakhir dengan Undang-undang Nomor 28 Tah un 2007, Undang-Undang
      Nomor 8 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan (UU PBB)
      sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun
      1994, Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak
      atas Tanah dan Bangunan (UU BPHTB) sebagaimana telah diubah dengan
      Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 serta Undang-undang Nomor 28
      Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (UU PDRD).
               Pasal 18 ayat (1) UU KUP menyebutkan bahwa “Surat Tagihan
      Pajak, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, serta Surat Ketetapan Pajak
      Kurang Bayar Tambahan, dan Surat Keputusan Pembetulan, Surat
      Keputusan Keberatan, Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan
      Kembali, yang menyebabkan jumlah pajak yang masih harus dibayar
      bertambah, merupakan dasar penagihan pajak”.
               Pasal 12 UU PBB menyebutkan bahwa “Surat Pemberitahuan
      Pajak Terhutang (SPPT), Surat Ketetapan Pajak (SKP), dan Surat Tagihan
      Pajak (STP) merupakan dasar penagihan pajak”.
               Pasal 14 ayat (1) UU BPHTB menyebutkan bahwa “Surat
      Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan Kurang
      Bayar (SKBKB), Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
      Bangunan Kurang Bayar Tambahan (SKBKBT), Surat Tagihan Bea
      Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (STB), dan Surat Keputusan
      Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan maupun Putusan Banding yang
      menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah, merupakan
      dasar penagihan pajak”.
               Pasal 102 ayat (1) UU PDRD menyebutkan bahwa “pajak yang
      terutang berdasarkan SPPT, SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, STPD, Surat
      Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, dan Putusan Banding
      yang tidak atau kurang dibayar oleh Wajib Pajak pada waktunya dapat
      ditagih dengan Surat Paksa”.



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                  46
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                                       IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



 B. Tindakan Penagihan Pajak

                Tindakan      penagihan         pajak    merupakan         rangkaian       proses
      penagihan yang telah diatur dalam undang-undang dengan proses sebagai
      berikut (Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan Pajak, Direktorat Jenderal
      Pajak, ”Pedoman Penagihan Pajak Edisi 2008”, halaman 3):

                                                                                        WAKTU
         No.         JENIS TINDAKAN                        ALASAN
                                                                                   PELAKSANAAN
          1.    Penerbitan Surat Teguran        Penanggung Pajak tidak           Setelah 7 (tujuh) hari
                atau Surat Peringatan atau      melunasi utang pajaknya          sejak saat jatuh
                surat lain yang sejenis         sampai dengan jatuh tempo        tempo
                (Pasal 8 sampai dengan
                Pasal 11 Peraturan Menteri
                Keuangan               Nomor:
                24/PMK.03/2008)
          2.    Penerbitan Surat Paksa           Penanggung Pajak tidak          Setelah lewat 21 hari
                (Pasal 7 UU No.19/2000 dan       melunasi utang pajaknya         sejak diterbitkannya
                Pasal 15 sampai Pasal 23         dan      kepadanya      telah   Surat Teguran atau
                Peraturan Menteri Keuangan       diterbitkan Surat Teguran       Surat Peringatan atau
                Nomor: 24/PMK.03/2008)           atau Surat Peringatan atau      surat    lain   yang
                                                 surat lain yang sejenis         sejenis
          3.    Penerbitan Surat Perintah        Penanggung Pajak tidak          Setelah lewat 2x24
                Melaksanakan      Penyitaan      melunasi utang pajaknya         jam Surat Paksa
                (Pasal 12 UU No.19/2000)         dan     kepadanya     telah     diberitahukan kepada
                                                 diberitahukan Surat Paksa       Penanggung Pajak

          4.    Pengumuman Lelang               Setelah       pelaksanaan        Setelah lewat waktu
               (Pasal 26 Peraturan Menteri      penyitaan          ternyata      14 (empat belas) hari
               Keuangan            Nomor:       Penanggung Pajak tidak           sejak        tanggal
               24/PMK.03/2008)                  melunasi utang pajaknya          pelaksanaan
                                                                                 penyitaan
          5.    Penjualan/Pelelangan              Setelah     pengumuman         Setelah lewat waktu
                Barang Sitaan                     lelang           ternyata      14 (empat belas) hari
               (UU No.19/2000 Pasal 26)           Penangung Pajak tidak          sejak Pengumuman
               Pasal 28 Peraturan Menteri         melunasi utang pajaknya        Lelang
               Keuangan              Nomor:
               24/PMK.03/2008)


               Tindakan penagihan pajak dimulai dengan penerbitan Surat
      Teguran, Surat Peringatan, atau surat lain yang sejenis. Surat Teguran,
      Surat Peringatan, atau surat lain yang sejenis diterbitkan apabila
      Penanggung Pajak tidak melunasi utang pajak sampai dengan tanggal
      jatuh tempo.
               Melakukan prosedur penagihan pajak secara bertahap sesuai
      ketentuan perpajakan yang berlaku kecuali dalam kondisi tertentu. Evaluasi




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                            47
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                       IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



      terhadap setiap tindakan penagihan harus dilakukan oleh Jurusita untuk
      mengurangi resiko kesalahan dalam pelaksanaan tugas. Kesalahan
      prosedur sedapat mungkin diminimalisir dalam rangka menghindari
      permasalahan dengan Wajib Pajak atau Penanggung Pajak.


C. Surat Paksa
              Surat Paksa adalah surat perintah membayar utang pajak dan biaya
    penagihan pajak. Surat Paksa mperdata yang telah mempunyai kekuatan
    hukum tetap. Berdasarkan Pasal 7 UU PPSP, Surat Paksa mempunyai
    kekuatan eksekutorial dan memberikan kedudukan yang sama dengan
    grosse akte yaitu putusan pengadilan perdata yang telah mempunyai
    kekuatan hukum tetap. Dengan demikian, Surat Paksa langsung dapat
    dilaksanakan tanpa bantuan putusan pengadilan lagi dan tidak dapat
    diajukan banding.
              Pemberitahuan Surat Paksa dilakukan oleh Jurusita dengan
    pernyataan dan penyerahan Surat Paksa kepada Penanggung Pajak.
    a. Wajib Pajak Orang Pribadi
       Terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi Surat Paksa diberitahukan kepada:
         · Penanggung Pajak di tempat tinggal, tempat usaha, atau di tempat
            lain yang memungkinkan;
         · Orang dewasa yang bertempat tinggal bersama ataupun bekerja di
            tempat usaha Penanggung Pajak, apabila Penanggung Pajak yang
            bersangkutan tidak dapat dijumpai;
         · Salah seorang ahli waris atau pelaksana wasiat atau yang mengurus
            harta peninggalannya, apabila Wajib Pajak telah meninggal dunia
            dan harta warisan belum dibagi.
         · Para ahli waris, apabila Penanggung Pajak telah meninggal dunia
            dan harta warisan telah dibagi.


      b. Wajib Pajak Badan
          Terhadap Wajib Pajak badan Surat Paksa diberitahukan kepada:




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                            48
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                       IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



          · Pengurus, pemegang saham, dan pemilik modal baik di tempat
             kedudukan badan yang bersangkutan, di tempat tinggal mereka
             maupun di tempat lain yang memungkinkan; atau
          · Pegawai tingkat pimpinan di tempat kedudukan atau tempat usaha
             badan yang bersangkutan apabila Jurusita tidak dapat menjumpai
             salah seorang di atas.

      Apabila Wajib Pajak dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga, Surat Paksa
      diberitahukan kepada Kurator atau Balai Harta Peninggalan dan Hakim
      Pengawas yang ditetapkan. Sedangkan terhadap Wajib Pajak Badan yang
      dinyatakan bubar atau dalam likuidasi, Surat Paksa diberitahukan kepada
      orang atau badan yang dibebani untuk melakukan pemberesan, atau
      Likuidator, atau Penerima Kuasa.

      Dalam keadaan khusus, apabila Surat Paksa tidak dapat diberitahukan
      kepada Wajib Pajak orang pribadi atau badan sebagaimana disebutkan di
      atas, Surat Paksa disampaikan melalui aparat Pemda sekurang-kurangnya
      setingkat Sekretaris Kelurahan atau Sekretaris Desa di mana Wajib Pajak
      bertempat tinggal atau melakukan kegiatan usahanya.

 D. Penyitaan Aset Wajib Pajak/Penanggung Pajak
     1. Penyitaan atas tanah dan bangunan:
         Sebelum melaksanakan penyitaan, Jurusita harus menyiapkan dokumen
         dan peralatan, saksi-saksi dari KPP dan Pemda, serta berkoordinasi
         dengan kepolisian setempat untuk bantuan pengamanan sesuai dengan
         situasi dan kondisi lapangan yang dihadapi.
         Dalam hal Penanggung Pajak menolak untuk menandatangani Berita
         Acara Pelaksanaan Sita, Jurusita tetap dapat melanjutkan penyitaan
         dan membuat Berita Acara Pelaksanaan Sita, menandatanganinya
         bersama-sama 2 (dua) orang saksi dengan menuliskan adanya
      Penyitaan tetap dapat dilaksanakan walaupun Penanggung Pajak tidak
      hadir, dengan syarat salah seorang saksi yang turut menandatangani
      Berita Acara Pelaksanaan Sita berasal dari Pemda setempat serendah-


      rendahnya setingkat Kepala Kelurahan/ Kepala desa/Pegawai Negeri Sipil
      golongan II/a.



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                            49
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                              IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



   2. Penyitaan Harta Kekayaan Penanggung Pajak yang Tersimpan pada Bank.


      a. Harta kekayaan Penanggung Pajak yang tersimpan pada bank meliputi
         rekening, simpanan dan bentuk simpanan lain yang lazim dalam praktek
         perbankan.
      b. Penyitaan harta kekayaan Penanggung Pajak yang tersimpan pada
         bank dilaksanakan dengan pemblokiran terlebih dahulu.
         Pemblokiran adalah tindakan pengamanan harta kekayaan milik
         Penanggung Pajak yang tersimpan pada bank dengan tujuan agar
         terhadap harta kekayaan dimaksud tidak terdapat perubahan apapun,
         selain penambahan jumlah atau nilai.
    c. Prosedur Penyitaan:
       Jurusita    Pajak     setelah    menerima        berita   acara     pemblokiran
       memerintahkan kepada Penanggung Pajak untuk memberi kuasa kepada
       bank agar memberitahukan saldo kekayaannya yang tersimpan pada
       bank tersebut kepada Jurusita Pajak.
       Dalam hal Penanggung Pajak tidak memberi kuasa kepada bank, Kepala
       KPP     meminta      Gubernur BI     melalui      Menteri    Keuangan untuk
       memerintahkan bank memberitahukan saldo kekayaan Penanggung
       Pajak yang tersimpan pada bank dimaksud kepada Kepala KPP.


    3. Penyitaan Kekayaan Penanggung Pajak Berupa Piutang
       Penyitaan kekayaan berupa piutang sesuai Peraturan Menteri keuangan
       Republik Indonesia       Nomor 23/PMK.03/2006 tentang perubahan atas
       Keputusan Menteri Keuangan Nomor 85/KMK.03/2002 tentang Tata Cara
       Penyitaan Kekayaan Penanggung Pajak Berupa Piutang Dalam Rangka
       Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa dilakukan dengan cara:
       a. Jurusita Pajak melakukan inventarisasi dan membuat rincian tentang
          jenis dan jumlah Piutang yang disita dalam suatu daftar yang
          merupakan lampiran Berita Acara Pelaksanaan Sita;
       b. Jurusita Pajak membuat Berita Acara Pelaksanaan Sita;
       c. Jurusita Pajak membuat Berita Acara Persetujuan Pengalihan Hak
          Menagih Piutang dari Penanggung Pajak kepada Pejabat, dan




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                   50
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                                 IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



          salinannya disampaikan kepada Penanggung Pajak dan pihak yang
          berkewajiban membayar utang;
       d. Dalam Penanggung Pajak menolak untuk menandatangani Berita
          Acara Persetujuan Pengalihan Hak Menagih Piutang dari Penanggung
          Pajak kepada Pejabat, Wajib Pajak atau Penanggung Pajak tidak
          diketahui tempat tinggal, tempat usaha atau tempat kedudukannya,
          atau Wajib Pajak dan atau Penanggung Pajak patut diduga melakukan
          tindak    pidana      di    bidang   perpajakan,     penyitaan      tetap    dapat
          dilaksanakan dan Jurusita Pajak membuat Berita Acara Pelaksanaan
          Sita.


       4. Penyitaan terhadap Surat Berharga
       a. Penyitaan terhadap obligasi, saham yang diperdagangkan di Bursa
          Efek dilaksanakan sebagai berikut:
         § Direktur Jenderal Pajak atau Pejabat yang ditunjuk, menyampaikan
            permintaan tertulis kepada Ketua BAPEPAM untuk memblokir
            Rekening     Efek        Penanggung    Pajak     pada    Kustodian,       dengan
            menyebutkan nama Penanggung Pajak, Nomor Rekening, dan
            alasan perlunya pemblokiran.
         § Ketua BAPEPAM menyampaikan perintah tertulis pemblokiran
            kepada Kustodian.
         § Berdasarkan perintah tertulis Ketua BAPEPAM, Kustodian melakukan
            pemblokiran dengan membuat Berita Acara Pemblokiran dan Berita
            Acara Pemberian Keterangan.
         § Kustodian menyampaikan Berita Acara Pemblokiran dan Berita Acara
            Pemberian Keterangan kepada Direktur Jenderal Pajak, dan
            salinannya disampaikan kepada Ketua BAPEPAM dan Penanggung
            Pajak    selambat-lambatnya        2   (dua)     hari   setelah   pemblokiran
            dilaksanakan.
         § Jurusita Pajak melaksanakan penyitaaan atas efek dan atau dana
            dalam Rekening Efek pada Kustodian segera setelah menerima
            Berita Acara Pemblokiran dan Berita Acara Pemberian Keterangan.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                      51
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                          IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



         § Jurusita Pajak yang melakukan penyitaan harus membuat Berita
            Acara Pelaksanaan Sita yang ditandatangani oleh Jurusita Pajak,
            Penanggung Pajak dan saksi-saksi.
         § Dalam hal Penanggung Pajak tidak hadir, Berita Acara Pelaksanaan
            Sita ditandatangani oleh Jurusita Pajak dan saksi-saksi.
      b. Penyitaan terhadap obligasi, saham, dan surat berharga lainnya yang
         tidak diperdagangkan di Bursa Efek dilaksakan sebagai berikut:
         § Melakukan inventarisasi dan membuat perincian tentang jenis, jumlah
            dan nilai nominal atau perkiraan nilai lainnya dari surat berharga yang
            disita dalam suatu daftar yang merupakan lampiran Berita Acara
            Pelaksanaan Sita.
         § Membuat Berita Acara pelaksanaan Sita.
         § Membuat berita acara pengalihan hak surat berharga atas nama dari
            Penanggung Pajak kepada Pejabat.
 E. Pengumuman Lelang
      a. Pengumuman lelang dilakukan setelah ditentukan hari, tanggal, dan jam
         lelang
      b. Kepala Kantor mengumumkan lelang paling singkat 14 hari setelah
         penyitaan, melalui surat kabar harian, selebaran atau tempelan yang
         mudah dibaca oleh umum dan atau media elektronik termasuk internet
         di wilayah kerja Kantor Lelang tempat barang yang akan dijual
      c. Pengumuman lelang untuk barang bergerak dilakukan 1 kali.
      d. Pengumuman lelang barang tidak bergerak dilakukan 2 kali. Jangka
         waktu pengumuman pertama dengan kedua sekurang-kurangnya 15
         hari, serta diatur agar pengumuman kedua tidak jatuh pada hari
         libur/besar. Pengumuman lelang pertama diperkenankan tidak melalui
         surat kabar harian, tetapi dengan cara melalui selebaran, tempelan yang
         mudah dibaca oleh umum dan atau media elektronik termasuk internet.
         Pengumuman kedua harus dilakukan melalui surat kabar harian dan
         dilakukan    sekurang-kurangnya     14   (empat   belas)   hari    sebelum
         pelaksanaan lelang.
      e. Pengumuman lelang barang tidak bergerak yang akan dilelang
         bersama-sama dengan barang bergerak, maka pengumumannya




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                               52
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                                 IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



         dilakukan sebagai berikut:
         - Pengumuman pertama dilakukan untuk barang bergerak dan barang
            tidak bergerak.
        -   Pengumuman kedua dilakukan hanya untuk barang tidak bergerak.
        -   Pengumuman lelang untuk barang dengan nilai paling banyak
            Rp20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah) tidak harus diumumkan
            melalui    media   massa,       tetapi   dapat   melalui    selebaran       atau
            pengumuman yang ditempelkan di tempat umum misalnya di Kantor
            Kelurahan atau di papan pengumuman di KPP.


 F. Pelaksanaan Lelang
      a. Penjualan secara lelang terhadap barang yang disita dilaksanakan
         paling singkat 14 hari setelah pengumuman lelang melalui media massa
      b. Kepala Kantor bertindak sebagai penjual barang yang disita mengajukan
         permohonan lelang kepada Kantor Lelang sebelum pelaksanaan lelang
      c. Kepala Kantor menentukan nilai limit dan diserahkan kepada Pejabat
         Lelang selambat-lambatnya pada saat akan dimulainya pelaksanaan
         lelang.


G. Pencegahan
    Pencegahan        adalah   larangan      yang     bersifat   sementara        terhadap
    Penanggung Pajak tertentu untuk keluar dari wilayah Negara Republik
    Indonesia berdasarkan alasan tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan
    perundang-undangan.

    Pencegahan Penanggung Pajak bepergian ke luar negeri yang merupakan
    salah satu tindakan penagihan aktif ini harus dilaksanakan secara sangat
    selektif dan hati-hati. Oleh karena itu, agar tidak dilakukan sewenang-
    wenang, diberikan syarat-syarat tertentu bagi pelaksanaan pencegahan baik
    syarat yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif.

    Pencegahan hanya dapat dilakukan terhadap Penanggung Pajak yang
    mempunyai         jumlah    utang       pajak     sekurang-kurangnya           sebesar
    Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) sebagai syarat kuantitatif. Ditambah




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                      53
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                                  IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



    syarat kualitatif pelaksanaan pencegahan yaitu diragukan itikad baiknya
    dalam melunasi utang pajak.

    Pencegahan terhadap Penanggung Pajak tidak mengakibatkan hapusnya
    utang pajak dan terhentinya pelaksanaan penagihan pajak. Sekalipun
    terhadap    Penanggung      Pajak       telah   dilakukan    pencegahan,        tindakan
    penagihan tetap dilakukan.

    Pencegahan dilaksanakan berdasarkan peraturan perundang-undangan
    yang berlaku, dalam hal ini adalah Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992
    tentang Keimigrasian

    Pencegahan hanya dapat dilakukan berdasarkan keputusan pencegahan
    yang diterbitkan oleh Menteri Keuangan atas permintaan Pejabat atau
    atasan Pejabat yang bersangkutan. Hal tersebut sesuai dengan ketentuan
    yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang
    Keimigrasian yang antara lain menentukan bahwa wewenang dan tanggung
    jawab atas pencegahan dilakukan oleh Menteri Keuangan sepanjang
    menyangkut urusan piutang negara.

    Jangka waktu pencegahan atau penangkalan harus secara tegas ditentukan
    dalam keputusan pencegahan atau penangkalan.1Keputusan pencegahan
    tersebut    disampaikan     kepada       Penanggung         Pajak   yang     dikenakan
    pencegahan, Menteri Kehakiman (Menteri Hukum dan HAM), Pejabat yang
    memohon pencegahan, atasan Pejabat yang bersangkutan, dan Kepala
    Daerah setempat.

    Tindakan pencegahan ini dapat dilakukan terhadap beberapa orang sebagai
    Penanggung Pajak Wajib Pajak Badan atau ahli waris. Jangka Waktu
    Pencegahan paling lama 6 (enam) bulan dan dapat diperpanjang untuk
    selama-lamanya 6 (enam) bulan.

H. Penyanderaan

    Penyanderaan dalam rangka penagihan pajak dengan Surat Paksa di
    Indonesia merupakan salah satu upaya penagihan pajak yang wujudnya
    berupa pengekangan sementara waktu terhadap kebebasan Penanggung




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                       54
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                                 IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



    Pajak dengan menempatkannya di tempat tertentu, yaitu rumah tahanan
    negara yang terpisah dari tahanan lain.

    Agar tidak dilakukan sewenang-wenang dan tidak bertentangan dengan rasa
    keadilan bersama, maka seperti pada pencegahan, diberikan syarat-syarat

    tertentu bagi pelaksanaan penyanderaan baik syarat yang bersifat kuantitatif
    maupun yang bersifat kualitatif.

    Mengingat hakekat penyanderaan adalah pengekangan sementara waktu
    kebebasan Penanggung Pajak dengan menempatkannya di rumah tahanan
    negara, hal ini mirip atau hampir sama dengan penahanan tersangka pelaku
    tindak pidana, maka penyanderaan Penanggung Pajak dilaksanakan secara
    sangat selektif, hati-hati, dan merupakan upaya terakhir penagihan pajak.

    Sebagaimana pada pencegahan, penyanderaan Penanggung Pajak tidak
    mengakibatkan hapusnya utang pajak             dan     terhentinya       pelaksanaan

    penagihan pajak. Sekalipun terhadap Penanggung Pajak telah dilakukan
    penyanderaan, tindakan penagihan tidak terhenti dan tetap dilakukan.
    Penyanderaan tetap dapat dilaksanakan terhadap Penanggung Pajak yang
    telah dilakukan pencegahan.
    Kriteria Penanggung Pajak yang Akan Disandera:
    a.   Mempunyai      utang    pajak      sekurang-kurangnya         Rp100.000.000,00
         (seratus juta rupiah) yang meliputi seluruh jenis pajak dan tahun pajak.
         Jumlah     tersebut    merupakan      syarat    kuantitatif     dan     sekaligus
         menunjukkan bahwa penyanderaan tidak ditujukan kepada Penanggung
         Pajak yang berpenghasilan kecil;
    b.   Diragukan itikad baiknya dalam melunasi melunasi utang pajak, yang
         merupakan syarat kualitatif;
    c.   Tidak melunasi utang pajak setelah lewat jangka waktu 14 (empat belas)
         hari terhitung sejak tanggal Surat paksa diberitahukan kepada
         Penanggung Pajak; dan
    d.   Telah mendapat izin tertulis dari Menteri Keuangan Republik Indonesia.
    Penyanderaan terhadap Penanggung Pajak hanya dapat dilaksanakan
    berdasarkan Surat Perintah Penyanderaan yang diterbitkan oleh Pejabat
    setelah memperoleh izin tertulis dari Menteri Keuangan.



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                      55
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                            IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



    Persyaratan izin penyanderaan dari Menteri Keuangan dimaksudkan agar
    penyanderaan dilakukan secara sangat selektif dan hati-hati. Oleh karena
    itu, sebelum mendapat izin tertulis tersebut, Pejabat tidak boleh menerbitkan
    Surat Perintah Penyanderaan.
    Permohonan izin penyanderaan diajukan oleh Kepala KPP kepada Menteri
    Keuangan melalui Direktur Jenderal Pajak u.p. Direktur Pemeriksaan dan
    Penagihan dalam bentuk Surat Permohonan Izin Melakukan Penyanderaan
    dan tembusan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak yang
    bersangkutan.
    Masa       penyanderaan    paling   lama   6 (enam)   bulan    terhitung      sejak
    Penanggung Pajak ditempatkan dalam tempat penyanderaan dan dapat
    diperpanjang untuk selama-lamanya 6 (enam) bulan.

3.4. Latihan

    1. Jelaskan yang dimaksud dengan utang pajak
    2. Sebutkan urutan tindakan penagihan pajak
    3 Jelaskan perbedaan pengumuman lelang untuk barang bergerak dan
      barang tidak bergerak.
    4. Jelaskan perbedaan pencegahan dan penyanderaan.
    5. Jelaskan tahapan penyitaan atas harta kekayaan Penanggung Pajak yang
       tersimpan pada Bank.


3.5. Rangkuman
    Utang pajak menurut Pasal 1 angka 8 UU PPSP adalah pajak yang masih
    harus dibayar termasuk sanksi administrasi berupa bunga, denda atau
    kenaikan yang tercantum dalam surat ketetapan pajak atau surat sejenisnya
    berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan.
    Tahapan tindakan penagihan adalah sebagai berikut:
    1. Penerbitan Surat Teguran atau Surat Peringatan atau surat lain yang
       sejenis dilakukan setelah 7 (tujuh) hari sejak saat jatuh tempo.
    2. Penerbitan Surat Paksa setelah lewat 21 hari sejak diterbitkannya Surat
       Teguran atau Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                 56
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                           IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



    3. Penerbitan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan setelah lewat 2x24
       jam Surat Paksa diberitahukan kepada Penanggung Pajak.
    4. Pengumuman Lelang setelah lewat waktu 14 (empat belas) hari sejak
       tanggal pelaksanaan penyitaan.
    5. Penjualan/Pelelangan Barang Sitaan setelah lewat waktu 14 (empat
       belas) hari sejak Pengumuman Lelang.
    Tindakan penyitaan terhadap aset Wajib Pajak atau Penanggung Pajak
    dapat dilakukan terhadap:
    1. Tanah dan bangunan
    2. Harta kekayaan yang tersimpan pada bank
    3. Kekayaan berupa piutang
    4. surat berharga.
    Pencegahan       adalah    larangan     yang   bersifat   sementara     terhadap
    Penanggung Pajak tertentu untuk keluar dari wilayah Negara Republik
    Indonesia berdasarkan alasan tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan
    perundang-undangan.

    Penyanderaan dalam rangka penagihan pajak dengan Surat Paksa di
    Indonesia merupakan salah satu upaya penagihan pajak yang wujudnya
    berupa pengekangan sementara waktu terhadap kebebasan Penanggung
    Pajak dengan menempatkannya di tempat tertentu, yaitu rumah tahanan
    negara yang terpisah dari tahanan lain.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                57
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                              IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



3.6. Tes Formatif

     Lingkarilah pernyataan yang paling tepat di bawah ini:

     1. B - S       Utang pajak adalah pajak yang masih harus dibayar termasuk
                    sanksi administrasi berupa bunga, denda atau kenaikan yang
                    tercantum dalam surat ketetapan pajak atau surat sejenisnya
                    berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan.

     2. B - S       Pengertian Wajib Pajak dan Penanggung Pajak adalah orang
                    pribadi atau badan yang bertanggung jawab atas pembayaran
                    pajak, termasuk wakil yang menjalankan hak atau memenuhi
                    kewajiban     Wajib     Pajak   menurut     ketentuan     peraturan
                    perundang-undangan perpajakan.
    3. B - S        Utang pajak yang dapat ditagih hanya berupa Surat Tagihan
                    Pajak (STP), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB),
                    Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT),
                    tetapi tidak termasuk Surat Tagihan Pajak Pajak Bumi dan
                    Bangunan (STPPBB), Surat Tagihan Bea Perolehan Hak atas
                    Tanah dan Bangunan (STB), Surat Ketetapan Bea Perolehan
                    Hak atas Tanah dan Bangunan (SKBKB), Surat Ketetapan Bea
                    Perolehan     Hak     atas   Tanah   dan   Bangunan      Tambahan
                    (SKBKBT).
    4. B - S        Kewenangan jurusita pajak meliputi tindakan penagihan
                    seketika dan sekaligus, pemberitahuan Surat Paksa, penyitaan,
                    pencegahan dan penyanderaan.
    5. B - S        Surat Teguran diterbitkan dalam jangka waktu 7 hari apabila
                    WP/PP tidak melunasi utang pajaknya sampai dengan jatuh
                    tempo.
    6. B - S        Surat    Paksa      mempunyai    kekuatan      eksekutorial       dan
                    memberikan kedudukan yang sama dengan grosse akte,
                    sehingga      dalam     pelaksanaannya      diperlukan      bantuan
                    pengadilan.
    7. B - S        Surat Paksa adalah surat perintah membayar utang pajak, tidak
                    termasuk biaya penagihan pajak.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                   58
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                               IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



    8. B - S      Jurusita pajak memberitahukan dan membacakan isi Surat
                  Paksa kepada Penanggung Pajak.
    9. B - S      Penyitaan tetap dapat dilaksanakan walaupun Penanggung
                  Pajak tidak hadir.
   10. B - S      Penyitaan harta kekayaan Penganggung Pajak yang tersimpan
                  pada bank diikuti dengan pemblokiran.
   11. B - S      Penyitaan     terhadap    surat    berharga       dilakukan     dengan
                  menyampaikan permintaan tertulis kepada Ketua BAPEPAM
                  untuk memblokir Rekening Efek Penanggung Pajak pada
                  Kustodian.
    12. B - S     Pengumuman Lelang untuk barang bergerak dan barang tidak
                  bergerak dilakukan 2 (dua) kali
    13. B - S     Pelaksanaan lelang terhadap barang yang disita dilaksanakan
                  paling singkat 14 hari setelah pengumuman lelang melalui
                  media massa.
    14. B - S     Pencegahan adalah larangan yang bersifat tetap terhadap
                  Penanggung Pajak untuk keluar dari wilayah negara Republik
                  Indonesia.
    15. B - S     Penyanderaan         terhadap      Penganggung         Pajak        tidak
                  mengakibatkan        hapusnya     utang   pajak     dan    terhentinya
                  pelaksanaan penagihan pajak.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                    59
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                          IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



3.7. Umpan Balik Dan Tindak Lanjut
            Cocokkanlah jawaban anda dengan Kunci Jawaban yang terdapat
      dibagian akhir Modul. Hitunglah jawaban Anda yang benar. Kemudian
      gunakan rumus dibawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda
      terhadap modul ini.
      Rumus :
                     Jumlah soal yang benar
      Nilai =          ____________________       x 100 %
                        Jumlah soal
 Dengan hasil penghitungan itu dapat dilakukan klasifikasi penilaian, yaitu :
         a. Bila > 80 % nilai sangat baik
         b. Bila 70 % - 79 % baik
         c. Bila 60 % - 69 % cukup
         d. Bila < 60 % kurang
                Bila Anda mencapai penguasaan diatas 70 % atau lebih, Anda dapat
      meneruskan ke Kegiatan Belajar 4. Apabila belum supaya memperdalam
      terlebih dahulu Kegiatan Belajar 3. Kunci Jawaban terletak dibagian
      terakhir.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                               60
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                         IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



 4. Kegiatan Belajar 4.


    4.1.    SISTEM HUKUM DI INDONESIA SELAIN HUKUM PAJAK
    4.2.     Indikator
                 Setelah mempelajari materi ini Peserta Diklat dapat menjelaskan
           mengenai pengertian hukum perikatan, hukum tata usaha negara,
           hukum kepailitan, hukum pertanahan, dan hukum pidana dalam sistem
           hukum di Indonesia.
    4.3. Uraian, Contoh dan Non Contoh.
      A. Hukum Perikatan
                 Hukum menurut Prof. DR. R. Wirjono Prodjodikoro, SH dalam
      bukunya Asas-asas Hukum Perjanjian (CV. Mandar Maju, 2000: hal. 7)
      adalah rangkaian peraturan-peraturan mengenai tingkah laku orang-orang
      sebagai anggota suatu masyarakat dan bertujuan mengadakan tata tertib
      diantara anggota-anggota masyarakat itu. Dengan demikian hukum baru
      dapat dianggap ada, apabila suatu tingkah laku seseorang sedikit banyak
      menyinggung atau mempengaruhi tingkah laku dan kepentingan orang lain.
                 Lebih lanjut, hukum perikatan diartikan sebagai suatu hubungan
      hukum (mengenai kekayaan harta benda) antara dua orang, yang memberi
      hak pada yang satu untuk menuntut barang sesuatu dari yang lainnya,
      sedangkan orang lainnya ini diwajibkan memenuhi tuntutan itu. Adapun
      barang sesuatu yang dapat dituntut dinamakan ”prestasi” yang menurut
      undang-undang dapat berupa:
      1. menyerahkan suatu barang;
      2. melakukan suatu perbuatan;
      3. tidak melakukan suatu perbuatan.
                 Suatu perikatan dapat lahir dari suatu persetujuan (perjanjian)
      atau dari undang-undang. Dengan demikian apabila terdapat seseorang
      berutang tidak memenuhi kewajibannya menurut bahasa hukum ia
      melakukan ”wanprestasi” yang menyebabkan ia dapat digugat di depan
      hakim.
                 Pasal 1365 KUHPerdata mengatur bahwa tiap perbuatan yang
      melanggar hukum dan membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                              61
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                           IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



      orang yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya untuk
      mengganti kerugian tersebut.
                Namun     dalam    perkembangan    berikutnya,   suatu    perbuatan
      dikatakan melanggar hukum apabila perbuatan itu tidak saja bertentangan
      dengan hukum pada umumnya, namun juga melanggar juga aturan-aturan
      hukum tidak tertulis, yang harus ditaati dalam hidup bermasyarakat.
                Dengan demikian suatu perbuatan dikatakan melawan hukum
      harus memenuhi unsur sebagai berikut:
      a.     adanya tindakan yang melawan hukum (termasuk di dalamnya
             pengertian melanggar kaidah tata susila atau asas kepatutan dalam
             kehidupan bermasyarakat
      b.     adanya tindakan yang melawan hukum.
      c.     ada kesalahan pada pihak yang melakukan;
      d.     ada kerugian yang diderita.
                Pihak yang merasa dirugikan atas perbuatan yang menurutnya
      melawan hukum dapat mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri dan
      biasanya disertai dengan tuntutan ganti rugi kepada pihak yang
      menyebabkan terjadinya kerugian tersebut. Dalam praktek tuntutan ganti
      rugi ini menjadi diperluas dengan adanya tuntutan ganti rugi secara
      material dan immaterial.
                Direktorat Jenderal Pajak sebagai pihak yang mempunyai
      kewenangan menurut undang-undang untuk mengeluarkan surat ketetapan
      pajak atau surat sejenisnya atau melaksanakan penagihan pajak menjadi
      pihak yang bisa diajukan gugatan perdata di Pengadilan Negeri dengan
      mendasarkan pada ketentuan Pasal 1365 KUH Perdata.
                Gugatan yang diajukan kepada Direktur Jenderal Pajak atas
      pelaksanaan penagihan pajak maupun penerbitan surat ketetapan pajak
      adalah tidak tepat mengingat hal-hal sebagai berikut:
      a. Hukum pajak adalah hukum publik dan bukan domain hukum perdata.
      b. Mengingat pajak adalah kontribusi wajib tiap warga negara terhadap
           negaranya yang dalam pelaksanaannya dapat dipaksakan maka dalam
           hal masyarakat Wajib Pajak tidak mematuhi kewajiban perpajakannya
           Negara dapat melakukan upaya paksa sampai pada penyitaan, lelang,




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                62
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                          IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



         pencegahan dan bahkan penyanderaan tanpa bantuan pengadilan
         dalam pelaksanaannya.
      c. Pelaksanaan penagihan pajak maupun penerbitan surat ketetapan pajak
         atau surat sejenisnya oleh Direktur Jenderal Pajak merupakan
         kewenangan yang diberikan oleh undang-undang.
               Dalam hukum perdata apabila Debitor yang terikat perjanjian
      dengan Kreditor tidak memenuhi kewajibannya maka harus meminta
      perantaraan Pengadilan untuk memaksa Debitor memenuhi kewajibannya.
               Berbeda halnya dengan pajak, maka perikatan yang muncul
      adalah antara Negara dengan warga negaranya yang tidak memerlukan
      suatu persetujuan sebagaimana halnya perikatan perdata. Hukum pajak
      merupakan bagian dari hukum publik. Apabila Wajib Pajak tidak memenuhi
      kewajibannya maka negara dapat menagih Wajib Pajak melalui mekanisme
      tindakan penagihan pajak tanpa memerlukan perantaraan Pengadilan.


 B. Hukum Kepailitan


               Apabila seseorang atau suatu badan hukum memperoleh
      pinjaman dari pihak lain (orang lain atau badan hukum lain) maka pihak
      yang memperoleh pinjaman disebut dengan Debitor sedangkan pihak yang
      memberikan pinjaman disebut dengan kreditor.
               Pada prinsipnya pemberian pinjaman oleh Kreditor kepada Debitor
      karena Kreditor percaya bahwa Debitor akan mengembalikan pinjaman itu
      pada    waktunya.    Dengan     demikian   faktor   pertama   yang    menjadi
      pertimbangan bagi Kreditor untuk bersedia memberikan pinjaman adalah
      iktikad baik dari Debitor untuk mengembalikan utangnya itu. Tanpa adanya
      kepercayaan dari Kreditor kepada Debitor maka Kreditor tidak akan
      memberikan pinjaman tersebut.
               Dalam hukum pinjam meminjam diberlakukan suatu asas bahwa
      apabila Debitor karena suatu alasan tertentu pada waktunya tidak melunasi
      utang kepada Kreditor, maka harta kekayaan Debitor menjadi jaminannya
      atau agunannya yang dapat dijual oleh Kreditor sebagai jaminan pelunasan
      dari pinjamannya. Hal tersebut sejalan dengan Pasal 1131 Kitab Undang-
      Undang Hukum Perdata bahwa segala harta kekayaan Debitor, baik yang



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                               63
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                           IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



      bergerak maupun yang tak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang
      baru akan ada di kemudian hari, menjadi jaminan untuk segala perikatan
      Debitor.
                 Pengertian kepailitan menurut Pasal 1 angka 1 Undang-Undang
      Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban
      Pembayaran Utang (UU PKPU) adalah sita umum atas semua kekayaan
      Debitor Pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh Kurator
      di bawah pengawasan Hakim Pengawas.
                 Kepailitan terjadi ketika Debitur tidak mampu lagi membayar
      utangnya, adapun ketentuan lengkap tentang syarat kepailitan diatur dalam
      Pasal 2 ayat (1) UU PKPU bahwa “Debitor yang mempunyai dua atau lebih
      Kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh
      waktu dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan Pengadilan, baik
      atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih
      kreditornya”.
                 Dengan demikian, syarat yuridis untuk kepailitan adalah:
      1. Adanya utang
      2. Minimal satu utang sudah jatuh tempo dan dapat ditagih
      3. Adanya Debitur
      4. Adanya Kreditur (lebih dari satu)
      5. Permohonan pernyataan pailit
      6. Pernyataan pailit oleh Pengadilan Niaga.
      Berdasarkan Undang-Undang             para pihak yang    dapat mengajukan
      permohonan kepailitan adalah:
      1. Debitur
      2.   Kreditur
      3.   Kejaksaan demi kepentingan umum
      4.   Bank Indonesia
      5.   Badan Pengawas Pasar Modal dalam hal Debitor adalah Perusahaan
           Efek, Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, Lembaga
           Penyimpanan dan Penyelesaian..
      6.   Menteri Keuangan dalam hal Debitor adalah Perusahaan Asuransi,
           Perusahaan Reasuransi, Dana Pensiun, atau Badan Usaha Milik
           Negara yang bergerak di bidang kepentingan publik.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                64
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                            IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



 Langkah-langkah yang ada dalam kepailitan, yaitu :
 1. Permohonan pailit diajukan dengan persyaratan sebagaimana diuraikan di
    atas. Jangka waktu permohonan pailit sampai pada keputusan pailit
    berkekuatan tetap adalah 60 hari.
 2. Rapat verifikasi, adalah rapat pendaftaran utang-piutang, pada langkah ini
    dilakukan pendataan berapa jumlah utang dan piutang yang dimiliki oleh
    debitur. Verifikasi utang merupakan tahap yang paling penting dalam
    kepailitan karena akan ditentukan urutan pertimbangan hak dari masing-
    masing kreditur. Rapat verifikasi dipimpin oleh hakim pengawas dan dihadiri
    oleh :
      (a) Panitera (sebagai pencatat),
      (b) Debitor
      (c) Kreditor atau kuasanya
      (d) Kurator.
   3. Perdamaian
      Apabila perdamaian diterima maka proses kepailitan berakhir, jika tidak
      terjadi perdamaian maka akan dilanjutkan ke proses selanjutnya. Proses
      perdamaian harus diupayakan dan diagendakan. Ada beberapa perbedaan
      antara    perdamaian     yang   terjadi   dalam   proses   kepailitan    dengan
      perdamaian yang biasa. Perdamaian dalam proses kepailitan meliputi :

      (a)    mengikat semua kreditur kecuali kreditur separatis, karena kreditur
             separatis telah dijamin tersendiri dengan benda jaminan yang
             terpisah dengan harta pailit umumnya.
      (b)    terikat formalitas,
      (c)    ratifikasi dalam sidang homologasi,
      (d)    jika pengadilan niaga menolak adanya hukum kasasi,
      (e)    ada kekuatan eksekutorial, apa yang tertera dalam perdamaian,
             pelaksanaanya dapat dilakukan secara paksa.
      Tahap-tahap dalam proses perdamaian antara lain :
      (a) pengajuan usul perdamaian,
      (b) pengumuman usulan perdamaian,
      (c) rapat pengambilan keputusan,
      (d) sidang homologasi,
      (e) upaya hukum kasasi,
      (f) rehabilitasi.



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                 65
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                              IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



   4. Homologasi akur, yaitu permintaan pengesahan oleh Pengadilan Niaga, jika
      proses perdamaian diterima.
   5. Insolvensi, yaitu suatu keadaan dimana debitur dinyatakan benar-benar
      tidak mampu membayar, atau dengan kata lain harta debitur lebih sedikit
      jumlahnya dengan hutangnya.
      Insolvensi ini sangat menentukan nasib debitur, apakah akan ada eksekusi
      atau terjadi restrukturisasi hutang dengan damai. Saat terjadinya insolvensi
      (pasal 178 UU PKPU) yaitu: (a) saat verifikasi tidak ditawarkan
      perdamaian,     (b)   penawaran       perdamaian   ditolak,   (c)    pengesahan
      perdamaian ditolak oleh hakim maka harta pailit segera dieksekusi dan
      dibagi kepada para kreditur.
   6. Pemberesan/likuidasi, yaitu penjualan harta kekayaan debitur pailit, yang
      dibagikan kepada kreditur konkuren, setelah dikurangi biaya-biaya.
   7. Rehabilitasi, yaitu suatu usaha pemulihan nama baik kreditur, akan tetapi
      dengan catatan jika proses perdamaian diterima, karena jika perdamaian
      ditolak maka rehabilitasi tidak ada. Syarat rehabilitasi adalah : telah terjadi
      perdamaian, telah terjadi pembayaran utang secara penuh.
   Dalam suatu kepailitan ada beberapa istilah terkait dengan kreditur yaitu:
   1. kreditur separatis yaitu kreditur pemegang hak jaminan kebendaan. Hak
      jaminan kebendaan yang dimiliki oleh kreditor pemegang jaminan
      kebendaan tersebut memberikan kewenangan bagi kreditor tersebut untuk
      menjual lelang kebendaan yang dijaminkan tersebut. Hak jaminan tersebut
      terdiri dari:
      a. Gadai diatur dalam Bab XX Buku III KUHPerdata, untuk kebendaan
         bergerak dengan cara melepaskan kebendaan yang dijaminkan tersebut
         dari penguasaan pihak yang memberikan jaminan kebendaan berupa
         gadai tersebut;
      b. Hipotek diatur dalam Bab XXI Buku III KUHPerdata dan menurut Pasal
         314 KUH Dagang berlaku untuk kapal yang memiliki ukuran minimal 20
         meter kubik isi kotor, yang dapat didaftarkan di Syahbandar Direktorat
         Jenderal Perhubungan Laut Departemen Perhubungan.
      c. Hak Tanggungan menurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996.
      d. Jaminan fidusia sesuai Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                   66
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                         IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



      Dalam Pasal 3 UU tentang Jaminan Fidusia menegaskan bahwa jaminan
      fidusia tidak berlaku terhadap:
      a. Hak Tanggungan yang berkaitan dengan tanah dan bangunan
         sepanjang peraturan perundang-undangan yang berlaku menentukan
         jaminan atas benda tersebut wajib didaftarkan. Namun, bangunan di
         atas tanah milik orang lain tidak dapat dibebani Hak Tanggungan
         berdasarkan UU HT dapat dijadikan objek Jaminan Fidusia.
     b. Hipotek atas kapal yang terdaftar dengan isi kotor berukuran 20 (dua
         puluh) meter kubik atau lebih.
      c. Hipotek atas pesawat terbang
      d. Gadai.


   2. Kreditor preferens adalah kreditor pemegang hak istimewa yang disebut
       dalam Pasal 1139 dan Pasal 1149 KUHPerdata.
       Pasal      1139   KUHPerdata     mengatur   bahwa   piutang-piutang     yang
       diistimewakan terhadap benda-benda tertentu antara lain:


        a.   biaya perkara yang semata-mata disebabkan suatu penghukuman
             untuk melelang suatu benda bergerak maupun benda tidak bergerak.
        b. uang-uang sewa dari benda-benda tidak bergerak
        c.   harga pembelian benda-benda bergerak yang belum dibayar
   Pasal 1149 KUHPerdata mengatur bahwa piutang-piutang yang diistimewakan
   atas semua benda bergerak dan tak bergerak pada umumnya ialah yang
   disebutkan di bawah ini, piutang-piutang mana dilunasi dari pendapatan
   penjualan benda-benda itu menurut urutan sebagai berikut:
   a. biaya perkara yang semata-mata disebabkan karena pelelangan dan
      penyelesaian suatu warisan, biaya-biaya ini didahulukan daripada gadai
      dan hipotek.
   b. biaya penguburan dengan tidak mengurangi kekuasaan hakim                 untuk
      menguranginya, jika biaya ini terlampau tinggi.
3. kreditor konkuren yaitu kreditor biasa atau kreditor pada umumnya (selain hak
   jaminan kebendaan atau hak istimewa). Kreditor konkuren berhak untuk
   mengajukan diri secara pari passu dan prorata (sesuai Pasal 60 ayat 3 UU
   PKPU).



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                              67
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                              IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



   Selama proses kepailitan, peran seorang kurator sangat penting karena
   kurator bertindak sebagai pengelola aset. Beberapa hal yang harus
   diperhatikan oleh kurator dalam menjalankan tugasnya antara lain :

   ·    Kewenangan hukum
   ·    Pertimbangan ekonomi dan bisnis berkaitan dengan likuidasi aset
   ·    Keterlibatan pihak lain (hakim pengawas)
   ·    Prosedur yang berkaitan dengan tindakan hukum tertentu (rapat
        verifikasi).
   ·    Kebiasaan dan tatacara yang layak menurut hukum dalam tindakan
        tertentu.


       Dalam     menjalankan     kewenangannya,         kurator   juga      mempunyai
       tanggungjawab hukum. Salah satu           pasal    yang    mengatur tentang
       tanggungjawab hukum kurator dalam UU PKPU adalah dalam pasal 72
       yang menyebutkan :
       “kurator bertanggungjawab terhadap kesalahan dan kelalaiannya dalam
       melaksanakan      tugas    pengurusan     dan     atau     pemberesan        yang
       menyebabkan kerugian terhadap harta pailit”
       Berdasarkan Pasal 72 UU PKPU maka terhadap kurator dapat dibebani
       pertanggungjawaban pribadi. Jika akibat kesalahan atau kelalaiannya
       menimbulkan kerugian pada harta pailit.


 C. Kepailitan dan Hak Mendahulu Utang Pajak


       Berdasarkan Pasal 21 ayat (1) UU KUP, negara mempunyai hak
       mendahulu untuk utang pajak atas barang-barang milik Penanggung Pajak.
       Dengan demikian menurut UU KUP maka negara mempunyai kedudukan
       sebagai kreditur preferen yang dinyatakan mempunyai hak mendahulu atas
       barang-barang milik Penanggung Pajak yang akan dilelang di muka umum.
       Lebih lanjut ditegaskan dalam penjelasan Pasal 21 ayat (1) bahwa
       pembayaran kepada kreditur lain diselesaikan setelah utang pajak dilunasi.
       Utang pajak tersebut menurut Pasal 21 ayat (2) UU KUP meliputi pokok




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                   68
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                           IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



      pajak, sanksi administrasi berupa bunga, denda, kenaikan dan biaya
      penagihan pajak
      Pengecualian terhadap hak mendahulu untuk utang pajak melebihi segala
      hak mendahulu lainnya kecuali terhadap (Pasal 21 ayat 3 UU KUP):
      1.   biaya perkara yang semata-mata disebabkan oleh suatu penghukuman
           untuk melelang suatu barang bergerak maupun barang tidak bergerak;
      2.   biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkan suatu barang;
           dan/atau
      3.   biaya     perkara   yang   semata-mata   disebabkan   pelelangan        dan
           penyelesaian suatu warisan.
      Dalam hal Wajib Pajak dinyatakan:
      1.   pailit,
      2.   bubar, atau
      3.   dilikuidasi,
      maka kurator, likuidator, atau orang atau badan yang ditugasi untuk
      melakukan pemberesan dilarang membagikan harta Wajib Pajak dalam
      pailit, pembubaran atau likuidasi kepada pemegang saham atau kreditur
      lainnya sebelum menggunakan harta tersebut untuk membayar utang pajak
      Wajib Pajak tersebut.
      Namun, hak mendahulu menurut UU KUP dibatasi jangka waktunya,
      sesuai Pasal 21 ayat (4) UU KUP dengan perlakuan sebagai berikut:
      sebelum Tahun 2008
      Hak mendahulu itu hilang setelah lampau waktu 2 (dua) tahun sejak
      tanggal diterbitkan:
      1. Surat Tagihan Pajak,
      2. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar,
      3. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, dan
      4. Surat Keputusan Pembetulan,
      5. Surat Keputusan Keberatan,
      6. Putusan Banding
      yang menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah, kecuali
      apabila dalam jangka waktu 2 (dua) tahun:
      1. Surat Paksa untuk membayar itu diberitahukan secara resmi, atau
      2. diberikan penundaan pembayaran.



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                69
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                       IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



      Untuk Utang Pajak Tahun 2008 dan seterusnya hilang setelah melampaui
      waktu 5 (lima) tahun sejak tanggal diterbitkan:
      1. Surat Tagihan Pajak,
      2. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar,
      3. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan,
      4. Surat Keputusan Pembetulan,
      5. Surat Keputusan Keberatan,
      6. Putusan Banding, atau
      7. Putusan Peninjauan Kembali yang menyebabkan jumlah pajak yang
         harus dibayar bertambah.
      Ketentuan tentang hak mendahulu tersebut diatur dalam Pasal 21 ayat (4)
      UU KUP) jo. Pasal 19 ayat (6) UU PPSP.
      Penegasan dan pengakuan adanya Hak Mendahulu dari Kas Negara dan
      lain-lain badan umum yang dibentuk pemerintah, juga secara eksplisit
      diatur dalam Pasal 1137 KUH Perdata.


      Perhitungan Jangka Waktu Hak Mendahulu Utang Pajak sebelum
      Tahun 2008
      Dalam hal Surat Paksa untuk membayar diberitahukan secara resmi,
      jangka waktu 2 (dua) tahun dihitung sejak tanggal pemberitahuan Surat
      Paksa, atau dalam hal diberikan penundaan pembayaran jangka waktu 2
      (dua)   tahun tersebut ditambah dengan jangka waktu penundaan
      pembayaran.
      Perhitungan Jangka Waktu Hak Mendahulu Utang Pajak Tahun 2008
      dan seterusnya
      1. dalam hal Surat Paksa untuk membayar diberitahukan secara resmi,
         maka jangka waktu 5 (lima) tahun dihitung sejak pemberitahuan Surat
         Paksa; atau
      2. dalam hal diberikan penundaan pembayaran atau persetujuan angsuran
         pembayaran, maka jangka waktu 5 (lima) tahun dihitung sejak batas
         terakhir.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                            70
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                       IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



D. Hukum Pertanahan.
   Kitab Undang-Undang Hukum Perdata secara sistematika terbagi atas 4
   (empat) buku, yaitu:
 Buku I, yang berjudul ’Perihal Orang” memuat hukum tentang diri sendiri dan
   Hukum Keluarga;

   ·   Buku II yang berjudul ”Perihal Benda” memuat hukum perbendaan dan
       Hukum Waris;

   ·   Buku III berjudul ”Perihal Perikatan” memuat hukum kekayaan yang
       mengenai hak dan kewajiban yang berlaku terhadap orang atau pihak
       tertentu;

   ·   Buku IV berjudul ”Perihal Pembuktian dan Lewat Waktu (Daluwarsa)
       memuat perihal alat-alat pembuktian dan akibat-akibat lewat waktu
       terhadap hubungan hukum.
       Suatu benda digolongkan menjadi 2 (dua) bagian yaitu benda bergerak
   dan benda yang tak bergerak. Namun Prof. Subekti dalam bukunya Pokok-
   Pokok Hukum Perdata menyatakan bahwa suatu benda dapat tergolong
   dalam golongan benda tidak bergerak, pertama karena sifatnya, kedua karena
   pemakaiannya dan ketiga karena memang demikian ditentukan oleh undang-
   undang.
       Adapun benda yang tak bergerak karena sifatnya ialah tanah, termasuk
   segala sesuatu yang secara langsung atau tidak langsung, karena perbuatan
   alam atau perbuatan manusia, digabungkan secara erat menjadi satu dengan
   tanah itu. Contoh sederhana adalah sebidang pekarangan, beserta segala
   apa yang terdapat di dalam tanah itu dan segala apa yang dibangun di situ
   secara tetap (rumah, pabrik) dan yang ditanam di situ (pohon). Sifat dari
   tanah tidak bergerak karena tujuan pemakaiannya ialah segala apa yang
   dimaksudkan untuk mengikuti tanah atau bangunan itu untuk waktu yang agak
   lama, yaitu misalnya mesin dalam pabrik.
       Berdasarkan uraian di atas, maka asas horisontal adalah suatu asas yang
   harus mendasari ketika seorang jurusita melakukan penyitaan atas aset Wajib
   Pajak berupa tanah maka penyitaan tersebut adalah termasuk segala sesuatu
   yang melekat di atas tanah tersebut baik akibat perbuatan manusia




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                            71
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                         IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



   (bangunan, pabrik, mesin yang ditanamkan di atas tanah) atau bukan akibat
   perbuatan manusia (tanaman yang tumbuh di atasnya).
       Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-
   Pokok Agraria (UUPA) bertujuan mengadakan hukum agraria nasional yang
   berdasarkan atas hukum adat tentang tanah. Dengan dikeluarkannya
   undang-undang ini tercapai suatu uniformitas (keseragaman) mengenai
   hukum tanah, sehingga tidak ada lagi hak atas tanah menurut hukum barat
   maupun hak atas tanah menurut hukum adat.
       Berdasarkan Pasal 16 ayat (1) UUPA hak-hak atas tanah adalah:
   1. Hak Milik
   2. Hak Guna Usaha
   3. Hak Guna Bangunan
   4. Hak Pakai
   5. Hak Sewa
   6. Hak Membuka Tanah
   7. Hak Memungut Hasil Hutan

  8. Hak-hak lain yang tidak termasuk dalam hak-hak di atas yang akan
      ditetapkan dengan undang-undang.
       Setelah keluarnya UUPA pada tahun 1960, pada tahun 1985 dikeluarkan
   Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun. Pengertian
   rumah susun adalah bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu
   lingkungan, yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara
   fungsional dalam arah horisontal maupun vertikal dan merupakan satuan-
   satuan yang masing-masing dapat dimiliki dan digunakan secara
      terpisah, terutama untuk tempat hunian, yang dilengkapi dengan bagian
   bersama, benda bersama dan tanah bersama.
       Rumah susun berikut tanah tempat bangunan itu berdiri serta benda
   lainnya yang merupakan satu kesatuan dengan tanah tersebut dapat dijadikan
   jaminan hutang dengan:
   a. dibebani hipotek, jika tanahnya tanah hak milik atau hak guna bangunan
   b. dibebani fidusia, jika tanahnya tanah hak pakai atas tanah negara.



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                              72
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                          IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



   Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 diatur mengenai Hak
   Tanggungan atas Tanah Beserta Benda-Benda yang Berkaitan dengan
   Tanah.
       Hak Tanggungan sesuai Pasal 1 angka 1 UU HT adalah hak jaminan
   yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam
   Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 (UUPA), berikut atau tidak berikut
   benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu, untuk
   pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan
   kepada kreditor tertentu terhadap kreditor lain.
       Pemberi Hak Tanggungan adalah orang perseorangan atau badan hukum
   yang mempunyai kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap
   obyek hak tanggungan yang bersangkutan. Pemegang Hak Tanggungan
   adalah orang perseorangan atau badan hukum yang berkedudukan sebagai
   pihak yang berpiutang. Pemberian Hak Tanggungan dilakukan dengan
   pembuatan akta pemberian Hak Tanggungan oleh PPAT.
       Pemberian Hak Tanggungan wajib didaftarkan pada kantor pertanahan
   (sesuai Pasal 13 UUPA) selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah
   penandatanganan Akta Pemberian Hak Tanggungan               dan PPAT wajib
   mengirimkan Akta Pemberian Hak Tanggungan dan warkat lain yang
   diperlukan kepada Kantor Pertanahan.
       Sebagai tanda bukti adanya Hak Tanggungan, kantor pertanahan
   menerbitkan Sertifikat Hak Tanggungan yang didalamnya memuat irah-irah
   ”Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”, sehingga sertifikat
   tersebut mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan
   pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap.

       Berdasarkan definisi mengenai Hak Tanggungan dalam Pasal 1 angka 1
   UUHT dapat diketahui bahwa hak tanggungan memberikan kedudukan yang
   diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap kreditor-kreditor lain. Pengertian
   kedudukan yang diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap              kreditor-
   kreditor lain tidak ditemukan dalam penjelasan dari Pasal
   tersebut, namun dalam Penjelasan Umum angka 4 terdapat penjelasan
   sebagai berikut: ”Hak tanggungan adalah hak jaminan atas tanah untuk




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                               73
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                           IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



   pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan diutamakan kepada
   kreditor tertentu terhadap kreditor-kreditor lain. Dalam arti, bahwa jika debitor
   cidera janji, kreditor pemegangan Hak Tanggungan berhak menjual melalui
   pelelangan umum tanah yang dijadikan jaminan menurut ketentuan peraturan
   perundang-undangan yang bersangkutan, dengan hak mendahulu daripada
   kreditor-kreditor yang lain. Kedudukan diutamakan tersebut sudah barang
   tentu tidak mengurangi preferensi piutang-piutang Negara menurut ketentuan-
   ketentuan hukum yang berlaku”.
       Dengan demikian UU HT memberikan kewenangan bahwa kreditur
   separatis (sebagai pemegang HT) kedudukannya lebih rendah dibandingkan
   dengan piutang negara. Hal tersebut sejalan dengan UU KUP khususnya
   ketentuan dalam Pasal 21 ayat (4) yang memberikan kewenangan kepada
   negara untuk melunasi utang pajak WP tersebut terhadap kreditur lainnya.
       Pasal 4 UU HT mengatur bahwa hak atas tanah yang dapat dibebani Hak
 Tanggungan adalah:
 1. Hak Milik

 2. Hak Guna Usaha
 3. Hak Guna Bangunan
 4. Hak Pakai atas tanah negara
 5. Hak Pakai atas tanah milik.

       Dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang
 Jaminan Fidusia menjelaskan pengertian fidusia yaitu pengalihan hak
 kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa
 benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan
 pemilik benda.

       Selanjutnya, jaminan Fidusia adalah hak jaminan atas benda bergerak
 baik yang berwujud maupun yang tidak bewujud dan benda tidak bergerak
 khususnya Bangunan yang tidak dapat dibebani Hak Tanggungan, yang tetap
 berada dalam penguasaan Pemberi Fidusia. Jaminan fidusia ini digunakan
 sebagai agunan bagi pelunasan uang tertentu dan memberikan kedudukan
 yang diutamakan kepada Penerima Fidusia terhadap kreditor lainnya.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                74
    BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
    PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                             IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



         Obyek dari perjanjian penyerahan hak milik secara kepercayaan (FEO)
   adalah barang bergerak yang dijadikan jaminan untuk pelunasan utang.
   Pemberi FEO adalah pemilik asli dari barang yang diagunkan, sedangkan
   pemegang FEO adalah pemberi pinjaman atau kreditur. Dalam akta FEO
   pemilik asal sebagai debitur menyerahkan hak miliknya secara kepercayaan
   kepada kreditur, misalnya bank, namun pada umumnya barang tidak bergerak
   tersebut misalnya kendaraan atau mesin pabrik yang diserahkan secara
   kepercayaan tersebut secara fisik masih tetap dipegang, dikuasai, dan
   digunakan atau dijalankan oleh pemilik asal sebagai debitur, akan tetapi hanya
   sebagai peminjam pakai dari kreditur.

         Hak mendahulu tagihan pajak melebihi hak mendahulu kreditur
   pemenang hak tanggungan dan fiducia, hal tersebut selain diatur dalam Pasal
   21 ayat (4) UU KUP dan Pasal 19 ayat (6) UU PPSP juga dipertegas dalam
   Penjelasan Umum butir 4 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak
   Tanggungan.

E. Hukum Tata Usaha Negara

         Direktorat   Jenderal    Pajak       dalam   melaksanakan   fungsinya       untuk
   mengumpulkan penerimaan pajak mempunyai kewenangan untuk menerbitkan
   keputusan     (beschikking)    sebagai       pejabat   Tata   Usaha    Negara       dan
   mengeluarkan peraturan (regelling).
   Keputusan Pejabat Tata Usaha Negara berdasarkan ketentuan dalam
   Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan
   Tata Usaha Negara (PTUN) sebagaimana telah diubah dengan Undang-
   Undang Nomor 9 Tahun 2004 adalah suatu penetapan tertulis yang
   dikeluarkan oleh badan atau pejabat tata usaha negara yang berdasarkan
   peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang bersifat konkret,
   individual, dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau
   badan hukum perdata.

         Keputusan Tata Usaha Negara adalah keputusan yang bersifat konkrit
   (obyek yang dikeluarkan berwujud dan dapat ditentukan), individual (tidak
   ditujukan untuk umum) dan final (sudah definitif dan dapat menimbulkan akibat




  MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                  75
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                       IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



 hukum). Keputusan Tata Usaha Negara yang dapat dijadikan obyek gugatan di
 Peradilan Tata Usaha Negara menurut UU PTUN adalah sebagai berikut:
 1.   harus menimbulkan akibat hukum yang merugikan kepentingan seseorang
      atau badan hukum perdata sesuai Pasal 53 ayat (1) UU PTUN.
 2.   bertentangan dengan perundang-undangan yang berlaku dan bertentangan
      dengan asas-asas umum pemerintahan yang baik sesuai Pasal 53 ayat (2)
      UU PTUN Yang dimaksud dengan asas-asas umum pemerintahan yang
      baik adalah meliputi asas:
         - kepastian hukum;
         - tertib penyelenggaraan negara;
        - keterbukaan;
        - proporsionalitas;
        - profesionalitas;
        - akuntabilitas,
      sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999
      tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi,
      Kolusi, dan Nepotisme.
      Contoh:
      Wajib Pajak Zainudin mengajukan gugatan atas penerbitan SKPKB PPh
      Badan tahun 2008 yang menyatakan pajak yang masih harus dibayar
      sebesar Rp100.000.000,00 ke Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta
      dengan alasan berdasarkan Pasal 1 angka 3 UU PTUN. SKPKB tersebut
      adalah keputusan Pejabat TUN sebagaimana diamanatkan Pasal 1 angka
      3 UU PTUN karenanya yang berwenang menangani perkara tersebut
      adalah PTUN.
                Apabila mendasarkan pada ketentuan dalam Pasal 1 angka 3 UU
      PTUN maka maka Keputusan Direktur Jenderal Pajak (berupa surat
      ketetapan pajak, keputusan Direktur Jenderal Pajak atas keberatan,
      pelaksanaan Surat Paksa, Sita dan Pengumuman Lelang) bukan
      merupakan keputusan yang dapat digugat di Pengadilan Tata Usaha
      Negara dengan alasan sebagai berikut:
      1. suatu keputusan DJP berupa surat ketetapan pajak untuk dikatakan
          sebagai keputusan TUN harus bersifat konkrit, individual, dan final.
          Bersifat konkret dan individual (jelas mencantumkan identitas dan



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                            76
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                             IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



          alamat WP), namun tidak bersifat final karena menurut Pasal 25 ayat
          (1) UU KUP atas surat ketetapan pajak yang dikeluarkan Direktur
          Jenderal Pajak, Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan kepada
          Direktur Jenderal Pajak. Dengan demikian, semua surat ketetapan
          pajak yang diterbitkan DJP belum bersifat final sebagaimana
          diamanatkan oleh UU PTUN.
        2. Surat ketetapan pajak juga bukan merupakan keputusan TUN yang
          dapat digugat di PTUN karena belum bersifat final, karena sesuai
          Pasal 27 ayat (1) UU KUP keputusan keberatan diajukan banding ke
          Pengadilan Pajak.
               Kedudukan Pengadilan Pajak berdasarkan Pasal 9A UU PTUN
       dimungkinkan mengingat Pengadilan Pajak merupakan Pengadilan
       khusus di lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara.
               Peradilan Tata Usaha Negara adalah salah satu pelaku
       kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan terhadap sengketa
       tata usaha negara sesuai Pasal 4 UU PTUN. Sengketa TUN adalah
       sengketa yang timbul dalam bidang Tata Usaha Negara antara orang
       atau badan hukum perdata dengan Badan atau Pejabat Tata Usaha
       Negara, baik di pusat maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya
       Keputusan Tata Usaha Negara, termasuk sengketa kepegawaian
       berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.



F. Hukum Pidana
               Hukum     pidana    adalah   hukum       yang   mengatur     perbuatan-
      perbuatan yang dilarang oleh undang-undang dan membawa konsekuensi
      hukum bagi yang melanggar akan dikenakan hukuman apabila memenuhi
      unsur-unsur perbuatan yang disebutkan dalam undang-undang pidana.
      Misalnya perbuatan yang dilarang dalam Kitab Undang-Undang Hukum
      Pidana, Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi, Undang-Undang HAM
      dan sebagainya
               Dengan demikian seseorang akan dipidana apabila perbuatan
      yang bersangkutan memenuhi unsur perbuatan yang diatur dalam undang-
      undang pidana. Apabila tidak dipenuhi satu unsur membawa konsekuensi




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                  77
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                         IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



      seseorang tidak dapat dipidana begitu saja. Misalnya, Pasal 362 KUHP
      mencantumkan “barangsiapa mengambil suatu barang, yang seluruhnya
      atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk memilikinya
      secara melawan hukum, diancam karena pencurian dengan pidana penjara
      paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus
      rupiah”.
                 Berdasarkan Pasal 362 KUHP tersebut maka suatu perbuatan
      termasuk dalam delik pencurian harus memenuhi unsur sebagai berikut:
      1. barangsiapa mengambil suatu barang
      2. yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain
      3. dengan maksud untuk memilikinya secara melawan hukum
      Dengan demikian untuk dikatakan suatu perbuatan masuk dalam delik
      pencurian harus memenuhi tiga unsur tersebut di atas. Apabila salah satu
      unsur tersebut tidak terpenuhi maka perbuatan tersebut tidak dapat masuk
      dalam delik pencurian.
                 Dengan demikian apabila Jurusita pajak melakukan penyitaan
      terhadap aset Wajib Pajak/Penanggung Pajak tidak dapat dikatakan
      melakukan pencurian, karena Jurusita pajak ketika melakukan penyitaan
      tidak bermaksud untuk memiliki aset tersebut secara melawan hukum
      sehingga tidak terpenuhinya delik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 362
      KUHP.
                 Dalam hukum pidana dikenal, 2 (dua) jenis perbuatan yaitu
      kejahatan dan pelanggaran, kejahatan ialah perbuatan yang tidak hanya
      bertentangan dengan undang-undang tetapi juga bertentangan dengan
      nilai moral, nilai agama dan rasa keadilan masyarakat, misalnya perbuatan
      mencuri, membunuh, berzina, dan sebagainya. sedangkan pelanggaran
      ialah perbuatan yang hanya dilarang oleh undang-undang, seperti tidak
      menolong orang yang sedang dalam bahaya, mabuk di jalan umum dan
      sebagainya.
                 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana terdiri dari 3 buku, yaitu:
      § Buku I tentang ketentuan umum (Pasal 1 sampai dengan Pasal 103).
      § Buku II tentang kejahatan (Pasal 104 sampai dengan Pasal 488).
      § Buku III tentang pelanggaran (Pasal 489 sampai dengan Pasal 569).




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                              78
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                          IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



      Hukum pidana dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
      § hukum pidana materiil berisi peraturan-peraturan tentang perbuatan yang
       diancam dengan hukuman, pertanggungjawaban terhadap hukum pidana,
       hukuman yang dijatuhkan terhadap subyek hukum yang melakukan
       perbuatan yang bertentangan dengan hukum (misalnya Kitab Undang-
       Undang Hukum Pidana)
      § hukum pidana formil yaitu sejumlah peraturan yang mengandung cara-
       cara negara mempergunakan haknya untuk mengadili serta memberikan
       putusan terhadap subyek hukum yang diduga melakukan tindak pidana
       (misalnya Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana).
               Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) UU KUHP diatur bahwa suatu
      perbuatan tidak dapat dipidana, kecuali berdasarkan ketentuan perundang-
      undangan pidana yang telah ada sebelumnya atau dikenal dengan istilah
      “Nullum delictum, nulla poena sine praevia lege poenali” artinya tiada delik,
      tiada hukuman tanpa suatu peraturan yang terlebih dahulu ada menyebut
      perbuatan yang bersangkutan sebagai suatu delik dan yang memuat suatu
      hukum yang dapat menjatuhkan delik tersebut.
               Delik adalah perbuatan yang melanggar Undang-Undang dan
      perbuatan itu bertentangan dengan Undang-Undang yang dilakukan
      dengan       sengaja       oleh       orang   yang     dapat      dimintakan
      pertanggungjawabannya.
               Berdasarkan rumusan Pasal 1 ayat (1) UU KUHP terdapat 3 (tiga)
      prinsip yaitu:
      1. aturan hukum pidana harus tertuils;
      2. larangan berlaku surut; dan
      3. larangan menggunakan analogi.
               Larangan berlaku surut tersebut ditegaskan dalam Pasal 28I
      Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 yaitu “…hak untuk
      tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi
      manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun.
               Ketentuan tersebut sejalan pula dengan Undang-Undang Nomor
      39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia khususnya dalam Pasal 18
      ayat (2) yaitu “setiap orang tidak boleh dituntut untuk dihukum atau dijatuhi




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                               79
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                        IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



      pidana, kecuali berdasarkan suatu peraturan perundang-undangan yang
      sudah ada sebelum tindak pidana tersebut dilakukan”.
                 Selanjutnya dalam Pasal 1 ayat (2) UU KUHP diatur bahwa jika
      ada perubahan dalam perundang-undangan sesudah perbuatan dilakukan
      maka terhadap terdakwa diterapkan ketentuan yan paling menguntungkan
      baginya.
                 Pada dasarnya tujuan hukum Pidana mencakup 2 (dua) hal yaitu:
      1. Upaya mencegah, untuk membatasi agar setiap orang jangan sampai
         melakukan perbuatan yang tidak baik.
      2. Upaya mendidik, seseorang yang pernah melakukan perbuatan tidak
         baik menjadi baik dan dapat diterima kembali dalam kehidupan
         bermasyarakat
                 Namun demikian, KUHP sebagai aturan materiil juga mengatur
      hal-hal yang dapat menghapuskan atau mengurangi pidana. Hal tersebut
      diatur untuk menampung keadaan atau kondisi yang menyebabkan
      seseorang “terpaksa” melakukan suatu perbuatan pidana karena sesuatu
      hal.
                 KUHP mengatur hal tersebut dalam Pasal 44 sampai dengan
      Pasal 51. Salah satu contoh pasal yang memuat tidak berlakunya pidana
      kepada seseorang karena orang yang melakukan perbuatan pidana
      tersebut ternyata jiwanya cacat dalam pertumbuhan atau terganggu karena
      penyakit (Pasal 44 ayat (1) KUHP). Dalam Pasal 45 penuntutan pidana
      terhadap orang yang belum dewasa yang berumur di bawah enam belas
      tahun, hakim dapat menentukan supaya yang bersalah dikembalikan
      kepada orang tuanya. Demikian pula ketentuan dalam Pasal 47 dalam hal
      hakim menjatuhkan pidana kepada anak di bawah enam belas tahun maka
      pidana pokok dikurangi sepertiga. Selanjutnya dalam Pasal 48 diatur
      barangsiapa melakukan tindak pidana karena pengaruh daya paksa tidak
      dipidana.
                 Kemudian Pasal 50 KUHP mencantumkan bahwa orang yang
      melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undang-undang,
      tidak boleh dipidana dan Pasal 51 ayat (1) mengatur bahwa orang yang
      melakukan perbuatan untuk melaksanakan perintah jabatan yang diberikan
      oleh penguasa yang berwenang tidak boleh dipidana.



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                             80
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                      IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



                Dalam Pasal 310 KUHP mengatur mengenai delik pencemaran
      nama baik, yaitu:
      (1) Barangsiapa sengaja menyerang kehormatan atau nama baik
          seseorang dengan menuduhkan sesuatu hal, yang maksudnya tentang
          supaya hal itu diketahui umum, diancam karena pencemaran denggan
          pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling
          banyak empat ribu lima ratus rupiah.

      (2) Jika hal itu dilakukan dengan tulisan atau gambaran yang disiarkan,
          dipertunjukkan atau ditempel di muka umum, maka diancam karena
          pencemaran tertulis dengan pidana penjara paling lama satu tahun
          empat bulan atau pidana denda paling banyak empat ratus ribu lima
          ratus rupiah.

      Contoh:
      Saudara Miftah adalah Jurusita di KPP Pratama X yang sedang
      melaksanakan penyitaan terhadap salah satu aset penunggak pajak.
      Dalam melaksanakan penyitaan tersebut, Saudara Miftah menempel kertas
      segel sita pada objek sita milik WP. Wajib Pajak melaporkan Saudara
      Miftah ke Polda Metro Jaya dengan delik pencemaran nama baik sesuai
      Pasal 310 KUHP.
                Atas pengaduan Wajib Pajak, Saudara Miftah tidak dapat
      dikatakan melakukan pencemaran nama baik mengingat penempelan
      kertas segel sita tersebut merupakan salah satu prosedur yang harus
      dilakukan oleh jurusita dalam penyitaan. Adapun tujuan yang dimaksud
      dengan menempel kerta segel sita adalah agar masyarakat umum maupun
      WP/PP mengetahui bahwa objek tersebut ada di bawah pengawasan KPP
      dan WP/PP dilarang memindahtangankan objek yang telah disita tersebut.
      Di samping itu ketentuan dalam Pasal 50 maupun Pasal 51 ayat (1) KUHP
      ini menjadi pasal yang melindungi jurusita pajak pada saat pelaksanaan
      tugasnya.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                           81
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                         IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



 4.4 Latihan


      1. Jelaskan perbedaan perlakuan apabila debitor wanprestasi terhadap
         kewajibannya dalam perjanjian utang piutang dan pajak.
      2. Apakah surat ketetapan pajak merupakan salah satu contoh keputusan
         TUN? Jelaskan.
      3. Apa yang dimaksud negara mempunyai hak mendahulu dibandingkan
         dengan kreditur yang lain.
      4. Apakah perbuatan jurusita pajak menempelkan kertas segel sita pada
         objek sita WP/PP termasuk delik pencemaran nama baik menurut Pasal
         310 KUHP. Jelaskan!
      5. Jelaskan perbedaan kreditur preferen dan kreditur separatis.


4.5. Rangkuman.


               Hukum menurut Prof. DR. R. Wirjono Prodjodikoro, SH adalah
    rangkaian peraturan-peraturan mengenai tingkah laku orang-orang sebagai
    anggota suatu masyarakat dan bertujuan mengadakan tata tertib diantara
    anggota-anggota masyarakat itu. Dengan demikian hukum baru dapat
    dianggap ada, apabila suatu tingkah laku seseorang sedikit banyak
    menyinggung atau mempengaruhi tingkah laku dan kepentingan orang lain.
               Hukum perikatan diartikan sebagai suatu hubungan hukum
    (mengenai kekayaan harta benda) antara dua orang, yang memberi hak
    pada yang satu untuk menuntut barang sesuatu dari yang lainnya,
    sedangkan orang lainnya ini diwajibkan memenuhi tuntutan itu. Adapun
    barang sesuatu yang dapat dituntut dinamakan ”prestasi” yang menurut
    undang-undang dapat berupa:
    1. menyerahkan suatu barang;
    2. melakukan suatu perbuatan;
    3. tidak melakukan suatu perbuatan.
               Pasal 1365 KUHPerdata mengatur bahwa tiap perbuatan yang
    melanggar hukum dan membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan
    orang yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya untuk mengganti
    kerugian tersebut.



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                              82
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                         IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



               Dengan demikian suatu perbuatan dikatakan melawan hukum
    harus memenuhi unsur sebagai berikut:
      a.    adanya tindakan yang melawan hukum (termasuk di dalamnya
            pengertian melanggar kaidah tata susila atau asas kepatutan dalam
            kehidupan bermasyarakat
      b.    adanya tindakan yang melawan hukum.
      c.    ada kesalahan pada pihak yang melakukan;
      d.    ada kerugian yang diderita.
               Pengertian kepailitan menurut Pasal 1 angka 1 Undang-Undang
    Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban
    Pembayaran Utang (UU PKPU) adalah sita umum atas semua kekayaan
    Debitor Pailit yang pengurusan dan pemberesannya dilakukan oleh Kurator
    di bawah pengawasan Hakim Pengawas.
    Dengan demikian, syarat yuridis untuk kepailitan adalah:
      1. Adanya utang
      2. Minimal satu utang sudah jatuh tempo dan dapat ditagih
      3. Adanya Debitur
      4. Adanya Kreditur (lebih dari satu)
      5. Permohonan pernyataan pailit
      6. Pernyataan pailit oleh Pengadilan Niaga
               Berdasarkan Pasal 21 ayat (1) UU KUP, negara mempunyai hak
      mendahulu untuk utang pajak atas barang-barang milik Penanggung Pajak.
      Dengan demikian menurut UU KUP maka negara mempunyai kedudukan
      sebagai kreditur preferen yang dinyatakan mempunyai hak mendahulu atas
      barang-barang milik Penanggung Pajak yang akan dilelang di muka umum.
      Lebih lanjut ditegaskan dalam penjelasan Pasal 21 ayat (1) bahwa
      pembayaran kepada kreditur lain diselesaikan setelah utang pajak dilunasi.
      Utang pajak tersebut menurut Pasal 21 ayat (2) UU KUP meliputi pokok
      pajak, sanksi administrasi berupa bunga, denda, kenaikan dan biaya
      penagihan pajak.
               Sebelum tahun 2008, hak mendahulu itu hilang setelah lampau
      waktu 2 (dua) tahun sejak tanggal diterbitkan Surat Tagihan Pajak, Surat
      Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Keputusan Pembetulan, Surat
      Keputusan Keberatan, Putusan Banding yang menyebabkan jumlah pajak



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                              83
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                       IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



      yang harus dibayar bertambah, kecuali apabila dalam jangka waktu 2 (dua)
      tahun:
      1. Surat Paksa untuk membayar itu diberitahukan secara resmi, atau
      2. diberikan penundaan pembayaran.
               Untuk Utang Pajak Tahun 2008 dan seterusnya hilang setelah
      melampaui waktu 5 (lima) tahun sejak tanggal diterbitkan Surat Tagihan
      Pajak, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak
      Kurang Bayar Tambahan, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan
      Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali yang
      menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah.
               Hak Tanggungan sesuai Pasal 1 angka 1 UU HT adalah hak
   jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam
   Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 (UUPA), berikut atau tidak berikut
   benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu, untuk
   pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan
   kepada kreditor tertentu terhadap kreditor lain.
               Sebagai tanda bukti adanya Hak Tanggungan, kantor pertanahan
   menerbitkan Sertifikat Hak Tanggungan yang didalamnya memuat irah-irah
   ”Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”, sehingga sertifikat
   tersebut mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan
   pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap.


       Undang-Undang mengenai Hak Tanggungan (UU HT) memberikan
   kewenangan bahwa kreditur separatis (sebagai pemegang HT) kedudukannya
   lebih rendah dibandingkan dengan piutang negara. Hal tersebut sejalan
   dengan UU KUP khususnya ketentuan dalam Pasal 21 ayat (4) yang
   memberikan kewenangan kepada negara untuk melunasi utang pajak WP
   tersebut terhadap kreditur lainnya.

            Jaminan Fidusia adalah hak jaminan atas benda bergerak baik yang
 berwujud maupun yang tidak bewujud dan benda tidak bergerak khususnya
 Bangunan yang tidak dapat dibebani Hak Tanggungan, yang tetap berada
 dalam penguasaan Pemberi Fidusia. Jaminan fidusia ini digunakan sebagai




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                            84
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                         IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



 agunan bagi pelunasan uang tertentu dan memberikan kedudukan yang
 diutamakan kepada Penerima Fidusia terhadap kreditor lainnya.

             Keputusan Pejabat Tata Usaha Negara berdasarkan ketentuan
 dalam Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang
 Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) sebagaimana telah diubah dengan
 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 adalah suatu penetapan tertulis yang
 dikeluarkan oleh badan atau pejabat tata usaha negara yang berdasarkan
 peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang bersifat konkret, individual,
 dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum
 perdata.

             Hukum pidana adalah hukum yang mengatur perbuatan-perbuatan
 yang dilarang oleh undang-undang dan membawa konsekuensi hukum bagi
 yang melanggar akan dikenakan hukuman apabila memenuhi unsur-unsur
 perbuatan yang disebutkan dalam undang-undang pidana. Misalnya perbuatan
 yang dilarang dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Undang-Undang
 Tindak Pidana Korupsi, Undang-Undang HAM dan sebagainya. Dengan
 demikian seseorang akan dipidana apabila perbuatan yang bersangkutan
 memenuhi unsur perbuatan yang diatur dalam undang-undang pidana. Apabila
 tidak dipenuhi satu unsur membawa konsekuensi seseorang tidak dapat
 dipidana begitu saja.


4.6. Tes Formatif
    Lingkarilah huruf “B” apabila pernyataan benar dan “S” apabila pernyataan
    salah.
    1. B - S     Setiap surat ketetapan pajak yang diterbitkan oleh KPP adalah
                 kewenangan Pengadilan Negeri untuk menyelesaikannya.
    2. B - S     Persyaratan pailit adalah adanya minimal satu utang pajak yang
                 sudah jatuh tempo, adanya debitur, adanya kreditur, dan
                 permohonan pailit.
    3. B - S     Dalam hal WP pailit maka kewajiban perpajakannya dilakukan
                 oleh Kurator.
    4. B - S     Semua kapal dengan ukuran minimal 20 meter kubik isi kotor
                 diperlakukan sebagai barang tidak bergerak.



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                              85
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                           IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



    5. B - S     Berdasarkan UU KUP, hak mendahulu untuk Tahun Pajak
                 sebelum 2008 hilang setelah lampau waktu 2 (dua) tahun sejak
                 tanggal diterbitkannya surat ketetapan pajak.
    6. B - S     Hukum Pertanahan di Indonesia menganut asas horizontal
                 sehingga tanah dan segala sesuatu yang ada di atasnya
                 merupakan satu kesatuan.
    7. B - S     Semua hak atas tanah tanpa kecuali dapat dibebani Hak
                 Tanggungan.
    8. B - S     Pengertian fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan atas dasar
                 kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang                     hak
                 kepemilikannya dialihkan tetap penguasaan pemilik benda.
    9. B - S     Sebagai    tanda    bukti   adanya     Hak   Tanggungan,       kantor
                 pertanahan menerbitkan Sertifikat Hak Tanggungan yang
                 didalamnya memuat irah-irah ”Demi Keadilan Berdasarkan
                 Ketuhanan Yang Maha Esa”, sehingga sertifikat tersebut
                 mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan
                 pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap.
   10. B - S     Objek jaminan fidusia adalah hak jaminan atas benda bergerak
                 baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan benda
                 tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani
                 hak tanggungan.
   11. B - S     Kriteria keputusan TUN adalah memenuhi unsur kongkret,
                 individual dan menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau
                 badan hukum perdata.
   12. B - S     Hak mendahulu tagihan pajak melebihi hak mendahulu kreditur
                 pemegang hak tanggungan dan jaminan fiducia.
   13. B -S     Delik adalah perbuatan yang melanggar Undang-Undang dan
                 perbuatan itu bertentangan dengan Undang-Undang yang
                 dilakukan dengan sengaja oleh orang yang dapat dimintakan
                 pertanggungjawabannya.
   14. B - S     Surat keputusan keberatan merupakan salah satu contoh
                 keputusan Pejabat Tata Usaha Negara dan karenanya dapat
                 diajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                86
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                          IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



   15. B - S       Hukum pidana adalah hukum yang mengatur perbuatan-
                   perbuatan yang dilarang oleh undang-undang dan membawa
                   konsekuensi hukum bagi yang melanggar akan dikenakan
                   hukuman apabila memenuhi unsur-unsur perbuatan yang
                   disebutkan dalam undang-undang pidana.


4.7. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
            Cocokkanlah jawaban anda dengan Kunci Jawaban yang terdapat
      dibagian akhir Modul. Hitunglah jawaban Anda yang benar. Kemudian
      gunakan rumus dibawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda
      terhadap modul ini.
      Rumus :
                     Jumlah soal yang benar
      Nilai =          ____________________       x 100 %
                        Jumlah soal




 Dengan hasil penghitungan itu dapat dilakukan klasifikasi penilaian, yaitu :
 a. Bila > 80 % nilai sangat baik
 b. Bila 70 % - 79 % baik
 c. Bila 60 % - 69 % cukup
 d. Bila < 60 % kurang


                Bila Anda mencapai penguasaan diatas 70 % atau lebih, Anda dapat
 meneruskan ke Kegiatan Belajar 5. Apabila belum supaya memperdalam
 terlebih dahulu Kegiatan Belajar 4. Kunci Jawaban terletak dibagian terakhir.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                               87
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                            IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



5. Kegiatan Belajar 5
  5.1. UPAYA HUKUM WAJIB PAJAK ATAU PENANGGUNG PAJAK ATAS
       TINDAKAN PENAGIHAN PAJAK
   5.2. Indikator
       Setelah      mempelajari materi      ini   diharapkan peserta diklat      dapat
   memahami dan menjelaskan upaya hukum apa saja yang dapat dilakukan
   oleh Wajib Pajak atau Penanggung Pajak apabila jurusita pajak melakukan
   tindakan penagihan pajak.


   5.3. Uraian, Contoh dan Non Contoh
       Semakin meningkatnya jumlah Wajib Pajak dan pemahaman akan hak
   dan kewajibannya dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan
   perpajakan akan membawa dampak bahwa semua pegawai DJP dalam
   melaksanakan tugas harus memperhatikan setiap prosedur pelaksanaan
   tugas sesuai dengan ketentuan perpapajakan yang berlaku.
       Upaya hukum yang disediakan oleh undang-undang tersebut salah
   satunya diselesaikan di lembaga peradilan melalui upaya gugatan atau
   sanggahan yang dilakukan oleh WP/PP. Lembaga peradilan yang menangani
   masalah pelaksanaan keputusan perpajakan dalam prakteknya adalah:
   1. Pengadilan Pajak
   2. Pengadilan Negeri
   3. Pengadilan Tata Usaha Negara.


   A. Pengadilan Pajak
               Sengketa Pajak adalah sengketa yang timbul dalam bidang
      perpajakan antara Wajib Pajak atau Penanggung Pajak dengan pejabat
      yang berwenang sebagai akibat dikeluarkannya keputusan yang dapat
      diajukan Banding atau Gugatan kepada Pengadilan Pajak berdasarkan
      peraturan perundang-undangan perpajakan, termasuk Gugatan atas
      pelaksanaan penagihan berdasarkan Undang-undang Penagihan Pajak
      dengan Surat Paksa.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                 88
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                           IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



            Gugatan adalah upaya hukum yang dapat dilakukan oleh Wajib Pajak
      atau penanggung Pajak terhadap pelaksanaan penagihan Pajak atau
      terhadap keputusan yang dapat diajukan Gugatan berdasarkan peraturan
      perundang-undangan perpajakan yang berlaku.
            Badan Peradilan Pajak yang dimaksud dalam UU KUP adalah
      Pengadilan Pajak, yang juga merupakan Badan Peradilan sebagaimana
      dimaksud     dalam Undang-undang      Nomor       14   Tahun   1970     tentang
      Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman sebagaimana telah
      diubah dengan Undang-undang Nomor 35 Tahun 1999.

            Pengadilan Pajak adalah badan peradilan yang melaksanakan
      kekuasaan kehakiman bagi Wajib Pajak atau penanggung Pajak yang
      mencari keadilan terhadap Sengketa Pajak. Kedudukan Pengadilan Pajak
      adalah di ibukota Negara.

            Keberadaan Pengadilan Pajak sebagai salah satu pengadilan khusus
      di lingkungan badan peradilan dituangkan dalam Pasal 15 UU Nomor 14
      Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman yang menyatakan bahwa
      pengadilan khusus hanya dapat dibentuk dalam salah satu lingkungan
      peradilan yang diatur dengan undang-undang. Dalam penjelasannya
      disebutkan bahwa pengadilan khusus dalam ketentuan Pasal 15 ini, antara
      lain di lingkungan Peradilan Umum: Pengadilan Anak, Pengadilan Niaga,
      Pengadilan Hak Asasi Manusia, Pengadilan Tindak Pidana Korupsi,
      Pengadilan Hubungan Industrial, dan di lingkungan Peradilan Tata Usaha
      Negara adalah Pengadilan Pajak.

            Dimasukkannya Pengadilan Pajak sebagai Pengadilan Khusus di
      lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara juga diatur dalam Pasal 9A
      Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-
      Undang Nomor 5 Tahun 1986 yang menyatakan bahwa di lingkungan
      Peradilan Tata Usaha Negara dapat diadakan pengkhususan yang diatur
      dengan undang-undang. Penjelasan Pasal 9A menyebutkan bahwa yang

      dimaksud dengan pengkhususan adalah deferensiasi atau spesialisasi di
      lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara misalnya Pengadilan Pajak.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                89
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                           IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



                Putusan Pengadilan Pajak merupakan putusan pengadilan khusus
      di lingkungan peradilan tata usaha Negara sebagaimana disebutkan dalam
      Pasal 27 ayat (2) UU KUP. Berdasarkan Pasal 23 ayat (2) UU KUP,
      gugatan Wajib Pajak atau Penanggung Pajak terhadap:
            a. pelaksanaan Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan,
               atau Pengumuman Lelang;
            b. keputusan pencegahan dalam rangka penagihan pajak;
            c. keputusan    yang    berkaitan   dengan   pelaksanaan      keputusan
               perpajakan, selain yang ditetapkan dalam hal pengajuan keberatan
               dan proses penyelesaian keberatan; atau
            d. penerbitan surat ketetapan pajak atau Surat Keputusan Keberatan
               yang dalam penerbitannya tidak sesuai dengan prosedur atau tata
               cara yang telah diatur dalam ketentuan peraturan perundang-
               undangan perpajakan,
            hanya dapat diajukan kepada badan peradilan pajak.

       Gugatan Penanggung Pajak atas Pelaksanaan Penagihan
       Gugatan Penanggung Pajak terhadap pelaksanaan Surat Paksa, Surat
       Perintah Melaksanakan Penyitaan, atau Pengumuman Lelang:

       1.    diajukan kepada Pengadilan Pajak dalam jangka waktu 14 (empat
             belas) hari sejak Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan
             Penyitaan, atau Pengumuman Lelang dilaksanakan;

       2.    dalam hal gugatan tersebut dikabulkan, Penanggung Pajak dapat
             memohon pemulihan nama baik dan ganti rugi sebesar paling banyak
             Rp5.000.000 (lima juta rupiah) kepada Pejabat.

             Hal ini dimaksudkan untuk memberikan hak kepada Penanggung
       Pajak untuk mengajukan gugatan kepada badan peradilan pajak dalam
       hal Penanggung Pajak tidak setuju dengan pelaksanaan penagihan pajak
       yang meliputi pelaksanaan Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan
       Penyitaan, atau Pengumuman Lelang.
             Jangka waktu 14 hari untuk mengajukan gugatan dianggap memadai
       dan telah sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang
       Pengadilan Pajak.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                90
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                           IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



         Jangka Waktu untuk Mengajukan Gugatan atas Pelaksanaan
         Penagihan
         Jangka waktu 14 hari untuk mengajukan gugatan terhadap:
         1.    Surat Paksa, dihitung sejak pemberitahuan kepada Penanggung
               Pajak;
         2.    Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan dihitung sejak pembuatan
               Berita Acara Pelaksanaan Sita;
         3.    Pengumuman Lelang dihitung sejak Pengumuman Lelang.
               Dengan demikian, lelang tidak boleh dilaksanakan sebelum lewat 14
      hari sejak Pengumuman Lelang. Apabila dalam jangka waktu dimaksud
      Penanggung Pajak tidak mengajukan gugatan, maka hak Penanggung
      Pajak untuk menggugat dinyatakan gugur.


B. Pengadilan Negeri

         Dalam praktek di lapangan, Direktorat Jenderal Pajak menghadapi upaya
perlawanan dari WP/PP berupa pengajuan gugatan atas penerbitan surat
ketetapan pajak atau surat sejenisnya yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal
Pajak.

         Dasar gugatan dari WP/PP tersebut umumnya Pasal 1365 KUHPerdata
terkait dengan perbuatan melawan hukum sebagaimana telah dijelaskan dalam
kegiatan belajar sebelumnya.

         Wajib Pajak atau Penanggung Pajak dapat mengajukan upaya hukum
berupa gugatan atau sanggahan ke Pengadilan Negeri hanya sebatas yang
diperkenankan dalam Undang-undang perpajakan, yaitu:

1. Sanggahan Pihak Ketiga terhadap Kepemilikan Barang yang Disita.

   Sanggahan pihak ketiga terhadap kepemilikan barang yang disita hanya
   dapat diajukan ke Pengadilan Negeri. Dalam hal Pengadilan Negeri menerima
   surat      sanggahan   dari   pihak   ketiga   maka   Pengadilan   Negeri     akan
   memberitahukan secara tertulis kepada Pejabat dalam hal ini Pejabat yang
   melaksanakan penyitaan. Setelah menerima pemberitahuan tersebut, Pejabat




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                91
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                            IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



   menangguhkan pelaksanaan penagihan hanya terhadap barang yang
   disanggah kepemilikannya sejak menerima pemberitahuan dari Pengadilan
   Negeri tersebut. Sanggahan pihak ketiga terhadap kepemilikan barang yang
   disita tidak dapat diajukan setelah lelang dilaksanakan (Pasal 38 ayat (4) UU
   PPSP).

         Pada dasarnya pihak ketiga dapat mengajukan gugatan terhadap
    kepemilikan barang yang disita oleh Jurusita melalui proses perdata. Namun,
    apabila Pejabat lelang telah menunjuk seorang pembeli sebagai pemenang
    lelang dalam proses lelang yang sedang berlangsung, maka gugatan tidak
    dapat diajukan lagi terhadap kepemilikan barang yang telah terjual tersebut.
    Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum dan melindungi
    kepentingan pembeli lelang, karena kepada pihak ketiga telah diberikan
    kesempatan yang cukup untuk mengajukan gugatan sebelum lelang
    dilaksanakan.

 2. Gugatan Penanggung Pajak terhadap Pelaksanaan Penyanderaan
    § Penanggung Pajak yang disandera dapat mengajukan gugatan terhadap
        pelaksanaan penyanderaan hanya kepada Pengadilan Negeri.
    §   (seratus ribu rupiah) setiap hari atas masa penyanderaan yang telah
    § Apabila gugatan Penanggung Pajak tersebut dikabulkan dan putusan
        pengadilan telah mempunyai kekuatan hukum tetap, Penanggung Pajak
        dapat memohon rehabilitasi nama baik dan ganti rugi sebesar Rp100.000
    § dijalaninya. Perubahan besarnya nilai ganti rugi tersebut ditetapkan oleh
        Menteri Keuangan.
    § Penanggung        Pajak    tidak      dapat   mengajukan   gugatan     terhadap
        pelaksanaan penyanderaan setelah masa penyanderaan berakhir.


C. Pengadilan Tata Usaha Negara
               Gugatan berdasarkan Pasal 1 angka 5 UU PTUN adalah
   permohonan yang berisi tuntutan terhadap Badan atau Pejabat Tata Usaha
   Negara dan diajukan ke Pengadilan untuk mendapatkan putusan. Gugatan
   dalam perkara di PTUN diajukan hanya dalam tenggang waktu 90 (sembilan




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                 92
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                       IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



   puluh) hari terhitung sejak diterimanya atau diumumkannya keputusan pejabat
   TUN sesuai Pasal 55 UU PTUN.

       Namun, dalam hal pejabat TUN tidak mengeluarkan keputusan yang
   menjadi kewajibannya dan peraturan perundang-undangan ternyata pejabat
   tersebut tidak mengeluarkan keputusan, maka setelah lewat jangka waktu
   empat bulan sejak diterimanya permohonan, Pejabat TUN tersebut dianggap
   telah mengeluarkan keputusan penolakan (sesuai Pasal 3 ayat 1 UU PTUN).

       Mengingat banyak kasus yang ditangani DJP bahwa semua keputusan
   Direktur Jenderal Pajak menurut UU PTUN adalah keputusan yang dapat
   diajukan gugatan ke PTUN (lihat kegiatan belajar sebelumnya) maka setiap
   pegawai DJP harus memperhatikan bahwa dalam proses pemeriksaan di
   PTUN harus melalui tahapan sebagai berikut:

   1. Gugatan dari Penggugat

   2. Pemeriksaan Dismissal

   3. Pemeriksaan Persiapan

   4. Surat Kuasa Khusus

   5. Jawaban oleh Tergugat

   6. Replik oleh Penggugat

   7. Duplik oleh Tergugat

   8. Pembuktian baik oleh Penggugat maupun Tergugat

    9. Kesimpulan baik oleh Penggugat maupun Tergugat

   10. Putusan Hakim.

       Secara umum proses beracara di PTUN hampir sama dengan proses
    beracara di Pengadilan Negeri. Namun, proses pemeriksaan persiapan dan
    pemeriksaan dismissal tidak dikenal di Pengadilan Negeri.      Pemeriksaan
    Dismissal sebagaimana diatur dalam Pasal 62 ayat (1) UU PTUN adalah
    proses pemeriksaan yang dilakukan oleh Ketua Pengadilan dalam rapat
    permusyarawatan. Ketua Pengadilan berwenang memutuskan dengan suatu
    penetapan yang dilengkapi dengan pertimbangan-pertimbangan bahwa
    gugatan yang diajukan itu dinyatakan tidak diterima atau tidak berdasar,
    dalam hal:



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                            93
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                         IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



    a. pokok gugatan tersebut nyata-nyata tidak termasuk dalam wewenang
       Pengadilan;
    b. syarat-syarat gugatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 tidak
       dipenuhi oleh penggugat sekalipun ia telah diberi tahu dan diperingatkan;
    c. gugatan tersebut tidak didasarkan pada alasan-alasan yang layak;
    d. apa yang dituntut dalam gugatan sebenarnya sudah terpenuhi oleh
       Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat;
    e. gugatan diajukan sebelum waktunya atau telah lewat waktunya


    Pemeriksaan persiapan sebagaimana diatur dalam Pasal 63 UU PTUN
    bertujuan untuk melengkapi gugatan yang kurang jelas. Dalam pemeriksaan
    persiapan, Hakim:


    a. wajib memberi nasihat kepada penggugat untuk memperbaiki gugatan
       dan melengkapinya dengan data yang diperlukan dalam jangka waktu tiga
       puluh hari;
    b. meminta penjelasan kepada Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang
       bersangkutan.



 5.4. Latihan

      1.   Jelaskan pengertian Pengadilan Pajak adalah salah satu pengadilan
           khusus di lingkungan peradilan khusus di lingkungan peradilan tata
           usaha negara.

      2. Sebutkan objek gugatan di Pengadilan Pajak!

      3. Jelaskan perbedaan gugatan dan sanggahan menurut UU PPSP.

      4. Sebutkan persyaratan gugatan atas pelaksanaan penagihan di
           Pengadilan Pajak.

      5.   Apakah keputusan keberatan merupakan salah satu contoh keputusan
           TUN dan karenanya dapat digugat di PTUN? Jelaskan!




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                              94
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                           IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



5.5. Rangkuman
                Sengketa Pajak adalah sengketa yang timbul dalam bidang
    perpajakan antara Wajib Pajak atau Penanggung Pajak dengan pejabat
    yang berwenang sebagai akibat dikeluarkannya keputusan yang dapat
    diajukan Banding atau Gugatan kepada Pengadilan Pajak berdasarkan
    peraturan    perundang-undangan         perpajakan,   termasuk   Gugatan      atas
    pelaksanaan penagihan berdasarkan Undang-undang Penagihan Pajak
    dengan Surat Paksa.
            Gugatan adalah upaya hukum yang dapat dilakukan oleh Wajib Pajak
    atau Penanggung Pajak terhadap pelaksanaan penagihan pajak atau
    terhadap keputusan yang dapat diajukan Gugatan berdasarkan peraturan
    perundang-undangan perpajakan yang berlaku.

            Keberadaan Pengadilan Pajak sebagai salah satu pengadilan khusus
    di lingkungan badan peradilan dituangkan dalam Pasal 15 UU Nomor 14
    Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman yang menyatakan bahwa
    pengadilan khusus hanya dapat dibentuk dalam salah satu lingkungan
    peradilan yang diatur dengan undang-undang. Dalam penjelasannya
    disebutkan bahwa pengadilan khusus dalam ketentuan Pasal 15 ini, antara
    lain di lingkungan Peradilan Umum: Pengadilan Anak, Pengadilan Niaga,
    Pengadilan Hak Asasi Manusia, Pengadilan Tindak Pidana Korupsi,
    Pengadilan Hubungan Industrial, dan di lingkungan Peradilan Tata Usaha
    Negara adalah Pengadilan Pajak.
           Berdasarkan Pasal 23 ayat (2) UU KUP, gugatan Wajib Pajak atau
    Penanggung Pajak terhadap:
    a. pelaksanaan Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, atau
       Pengumuman Lelang;
    b. keputusan pencegahan dalam rangka penagihan pajak;
    c. keputusan yang berkaitan dengan pelaksanaan keputusan perpajakan,
       selain yang ditetapkan dalam hal pengajuan keberatan dan proses
       penyelesaian keberatan; atau
    d. penerbitan surat ketetapan pajak atau Surat Keputusan Keberatan yang
       dalam penerbitannya tidak sesuai dengan prosedur atau tata cara yang
       telah diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan,




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                95
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                             IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



    hanya dapat diajukan kepada badan peradilan pajak.
          Kewenangan Pengadilan Negeri untuk memeriksa dan memutus
    gugatan terkait dengan pelaksanaan keputusan perpajakan adalah:
    1. Sanggahan oleh pihak ketiga terhadap kepemilikan barang yang disita.
    2. Gugatan atas pelaksanaan penyanderaan kepada WP/PP.
          Gugatan berdasarkan Pasal 1 angka 5 UU PTUN adalah permohonan
    yang berisi tuntutan terhadap Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dan
    diajukan ke Pengadilan untuk mendapatkan putusan. Gugatan dalam
    perkara di PTUN diajukan hanya dalam tenggang waktu 90 (sembilan puluh)
    hari terhitung sejak diterimanya atau diumumkannya keputusan pejabat TUN
    sesuai Pasal 55 UU PTUN.

           Namun, dalam hal pejabat TUN tidak mengeluarkan keputusan yang
    menjadi kewajibannya dan peraturan perundang-undangan ternyata pejabat
    tersebut tidak mengeluarkan keputusan, maka setelah lewat jangka waktu
    empat bulan sejak diterimanya permohonan, Pejabat TUN tersebut dianggap
    telah mengeluarkan keputusan penolakan (sesuai Pasal 3 ayat 1 UU PTUN).


5.6. Tes Formatif.
    Lingkarilah huruf “B” apabila pernyataan Benar dan “S” apabila pernyataan
    Salah.


    1. B - S Salah satu objek gugatan di Pengadilan Pajak sesuai Pasal 23
               ayat (2) UU KUP adalah pelaksanaan lelang.
    2. B - S Gugatan atas pelaksanaan pencegahan adalah kewenangan
               Pengadilan Negeri.
    3. B - S Jangka waktu pengajuan gugatan atas pelaksanaan Surat Paksa
               adalah 14 (empat belas) hari sejak pelaksanaan Surat Paksa.
    4. B - S Pengadilan Pajak adalah salah satu peradilan khusus di
               lingkungan peradilan tata usaha Negara, karenanya WP/PP boleh
               mengajukan gugatan ke PTUN dalam hal diterbitkan keputusan
               atas keberatan WP.
    5. B - S Sanggahan pihak ketiga terhadap kepemilikan barang yang disita
               tidak dapat diajukan setelah lelang dilaksanakan.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                  96
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                            IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



    6. B - S Gugatan dalam perkara di PTUN harus             diajukan hanya dalam
               tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari.
    7. B - S Apabila penerbitan Surat Keputusan Keberatan tidak sesuai
               prosedur, WP dapat mengajukan banding ke Pengadilan Pajak.
    8. B - S Pengadilan Pajak adalah badan peradilan yang melaksanakan
               kekuasaan kehakiman bagi Wajib Pajak atau penanggung Pajak
               yang mencari keadilan terhadap Sengketa Pajak.
    9. B - S Dalam hal pihak ketiga melakukan sanggahan atas penyitaan ke
               Pengadilan Negeri, maka tindakan penagihan tetap dilanjutkan.
   10. B - S Gugatan         atas    pelaksanaan        penyanderaan       merupakan
               kewenangan Pengadilan Tata Usaha Negara.
   11. B - S Pengadilan Pajak merupakan peradilan khusus di lingkungan
               Peradilan Tata Usaha Negara.
   12. B - S Jangka waktu pengajuan gugatan atas pelaksanaan Surat
               Perintah Melaksanakan Penyiataan adalah 14 (empat belas) hari
               dihitung sejak pembuatan Berita Acara Pelaksanaan Sita.
   13. B - S Penanggung         Pajak       dapat   mengajukan   gugatan     terhadap
               pelaksanaan penyanderaan setelah masa penyanderaan berakhir.
   14. B - S Gugatan menurut Undang-Undang Pengadilan Pajak adalah
               upaya hukum yang dapat dilakukan oleh Wajib Pajak atau
               penanggung Pajak terhadap pelaksanaan penagihan Pajak atau
               terhadap keputusan yang dapat diajukan Gugatan berdasarkan
               peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.
   15. B - S Proses pemeriksaaan dismissal dilakukan baik di Pengadilan
               Negeri maupun di Pengadilan Tata Usaha Negara.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                 97
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                          IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



5.7. Umpan Balik Dan Tindak Lanjut
            Cocokkanlah jawaban anda dengan Kunci Jawaban yang terdapat
      dibagian akhir Modul. Hitunglah jawaban Anda yang benar. Kemudian
      gunakan rumus dibawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda
      terhadap modul ini.
      Rumus :
                    Jumlah soal yang benar
      Nilai =         ____________________        x 100 %
                       Jumlah soal
 Dengan hasil penghitungan itu dapat dilakukan klasifikasi penilaian, yaitu :
 a. Bila > 80 % nilai sangat baik
 b. Bila 70 % - 79 % baik
 c. Bila 60 % - 69 % cukup
 d. Bila < 60 % kurang
                Bila Anda belum mencapai penguasaan diatas 70 % atau lebih,
      Anda diminta supaya memperdalam terlebih dahulu Kegiatan Belajar 5.
      Kunci Jawaban terletak dibagian terakhir.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                               98
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                      IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



                                     PENUTUP


               Penagihan Pajak adalah serangkaian tindakan agar Penanggung
    Pajak melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak dengan menegur
    atau mengingatkan, melaksanakan penagihan seketika dan sekaligus,
    memberitahukan Surat Paksa, mengusulkan pencegahan, melaksanakan
    penyitaan, melaksanakan penyanderaan, menjual barang yang telah disita.
    Penjualan barang yang telah disita biasanya dilakukan melalui pelelangan,
    kecuali untuk aset-aset tertentu seperti surat berharga, piutang, dan
    penyertaan modal pada perusahaan lain.
               Tindakan penagihan pajak dilakukan oleh Jurusita Pajak dalam
    rangka penegakan hukum terhadap Wajib Pajak atau Penanggung Pajak
    agar mau melunasi utang pajak yang telah jatuh tempo. Dalam setiap
    melakukan penagihan pajak kepada para Jurusita Pajak dituntut untuk
    bertindak hati-hati dan bekerja secara profesional sesuai dengan ketentuan
    peraturan perundang-undangan perpajakan. Dengan tetap memperhatikan
    semua prosedur yang telah ditentukan akan mengurangi setiap resiko
    hukum yang mungkin akan dilakukan oleh Wajib Pajak atau Penanggung
    Pajak.
               Di samping tetap memperhatikan prosedur, setiap Jurusita Pajak
    juga tetap harus meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya di bidang
    hukum mengingat tindakan penagihan pajak sering berhubungan dengan
    hukum lalin di luar hukum pajak. Perubahan setiap peraturan perpajakan
    maupun ketentuan lain di bidang perpajakan akan banyak membantu
    Jurusita Pajak dalam melakukan upaya penagihan pajak.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                           99
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                            IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



                                   TES SUMATIF
           Setelah mempelajari modul ini anda diminta untuk menjawab
      pertanyaan dibawah ini:
 I.    Soal Pilihan Ganda
       Pilihlah jawaban yang Saudara anggap paling benar, dengan cara
       melingkari jawaban a, b, c, atau d pada naskah soal ini.
       1) Perseroan Terbatas harus didirikan minimal oleh:
            a. Satu orang
            b. Dua orang
            c. Dua orang atau lebih
            d. Jawaban a, b, dan c tidak ada yang benar.
       2) Direksi adalah organ Perseroan Terbatas yang bertanggung jawab:
            a. Mengurus perseroan
            b. Melakukan pengawasan
            c. Memberi nasihat
            d. Jawaban a, b, dan c tidak ada yang benar
       3) Bentuk Usaha Tetap dapat berupa:
            a. Cabang perusahaan
            b. Pabrik
            c. Ruang untuk promosi dan penjualan
            d. Semua jawaban benar
       4) Unsur dari perbuatan melawan hukum sesuai Pasal 1365 KUH Perdata
          adalah:
            a. Perbuatan melanggar hukum
            b. Menimbulkan kerugian bagi orang lain
            c. Adanya kesalahan
            d. Semua jawaban benar.
       5) Apabila ada perbuatan melawan hukum maka pihak yang merasa
          dirugikan dapat mengajukan gugatan ke:
            a. Pengadilan Pajak.
            b. Pengadilan Negeri.
            c. Pengadilan Tata Usaha Negara.
            d. Jawaban a, b dan c tidak ada yang benar.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                100
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                            IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



      6) Gugatan Wajib Pajak atau Penanggung Pajak kepada Pengadilan
          Negeri meliputi:
           a. Pelaksanaan penyanderaan,
           b. Pengumuman Lelang
           c. Keputusan pencegahan
           d. Tidak ada jawaban yang benar
      7) Gugatan Wajib Pajak atau Penanggung Pajak ke Pengadilan Pajak
          meliputi:
           a. Keputusan pencegahan
           b. Keputusan penyanderaan
           c. Pelaksanaan lelang
           d. Tidak ada jawaban yang benar
      8) Syarat yuridis untuk kepailitan adalah:
           a. Adanya utang, minimal satu utang sudah jatuh tempo dan dapat
               ditagih, adanya debitor, cukup satu kreditor,
           b. Adanya utang, minimal satu utang sudah jatuh tempo dan dapat
               ditagih, adanya dua debitor, harus lebih dari satu kreditor,
           c. Adanya utang, minimal satu utang sudah jatuh tempo dan dapat
               ditagih, adanya debitor, harus lebih dari satu kreditor,
           d. Jawaban a, b, dan c tidak ada yang benar.
      9) Pengertian homologasi akur adalah:
          a.   Permintaan pengesahan oleh Pengadilan Niaga, jika proses
               perdamaian diterima.
          b.   Keadaan dimana debitur dinyatakan tidak mampu membayar.
          c.   Keadaan penjualan atas harta kekayaan debitur pailit.
          d.   Tidak ada jawaban yang benar.
      10) Contoh hak jaminan kebendaan adalah:
          a. gadai
          b. hipotek
          c. Jawaban a dan b benar
          d. jawaban a dan b tidak benar




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                101
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
   PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                          IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



 II.   Soal Pilihan Ganda Asosiasi
 Pilih A, bila 1, 2, 3 benar                    Pilih C, bila 2 dan 4 benar
 Pilih B, bila 1 dan 3 benar                    Pilih D, bila semua jawaban benar


       11)   ABCD        Penagihan Pajak adalah serangkatain tindakan agar
                         Penanggung Pajak melunasi utang pajak dan biaya
                         penagihan pajak dengan:
               1. Menegur
               2. Melaksanakan penagihan seketika dan sekliagus
               3. Memberitahukan Surat Paksa
               4. Melaksanakan pencegahan.
       12)   ABCD        Hak-hak atas tanah adalah:
               1. Hak Milik
               2. Hak Pakai
               3. Hak Guna Bangunan
               4. Hak membuka tanah
       13)   ABCD        Hak atas tanah yang dapat dibebani hak tanggungan
                         adalah:
               1. Hak Milik
               2. Hak Guna Usaha
               3. Hak Guna Bangunan
               4. Hak Pakai atas tanah milik
       14)   ABCD        Pengertian keputusan Pejabat TUN adalah:
               1. Penetapan tertulis
               2. Dikeluarkan oleh badan atau pejabat TUN
               3. Bersifat konkret, individual dan final
               4. Menimbulkan akibat hukum hanya bagi badan hukum perdata
       15)   ABCD        Surat Ketatapan Pajak Kurang Bayar dapat digugat di
                         PTUN karena
               1. Tidak bersifat konkret, individual dan final
               2. Bersifat konkret, individual, dan final
               3. Bukan kewenangan PTUN
               4. Pengadilan Pajak merupakan peradilan khusus di lingkungan
                   PTUN.



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                               102
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                       IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



            KUNCI JAWABAN TES FORMATIF DAN TES SUMATIF




No.         KB 1           KB 2         KB 3       KB 4     KB 5       SUMATIF
 1.           A              D              B           S    S              B
 2.           C              B              B           B    S              A
 3.           D              A              S           B    B              D
 4.           B              D              S           B    S              D
 5.           A              A              S           B    B              B
 6.           A              D              S           B    S              A
 7.           C              C              S           S    S              A
 8.           D              B              B           B    B              C
 9.           D              D              B           B    S              A
10.           B              D              B           B    B              C
11.           B              A              B           S    B              D
12.           B              B              S           B    B              A
13.           A              D              B           B    S              D
 14           C              A              S           S    B              A
15.           C              B              B           B    S              C




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                           103
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                               IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



                                 DAFTAR PUSTAKA




 Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
      1945.
 ________________, Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan
      Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah beberapa kali
      terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009.
 ________________,        Undang-Undang      Nomor      19   Tahun      1997      tentang
      Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa sebagaimana telah diubah dengan
      Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000.
 ________________, Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan
      Fidusia.
 ________________, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan
      Tata Usaha Negara sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
      Nomor 9 Tahun Tahun 2004.
 _______________, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak
      Tanggungan.
 _______________,        Undang-Undang      Nomor       9    Tahun      1992      tentang
      Keimigrasian.
 ________________, Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan
      dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.
 ________________, Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah
      Susun.
 ________________,        Undang-Undang      Nomor      14   Tahun      2002      tentang
      Pengadilan Pajak.
 ________________, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 tentang Pasar
      Modal.
 ________________, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983                      tentang Pajak
      Penghasilan (UU PPh) sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
      dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008
 ________________, Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan
         sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun
         2004.



MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                                   104
  BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
  PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PAJAK                           IDA ZURAIDA, S.H., LL.M



 ________________,        Undang-Undang      Nomor      25   Tahun   1992     tentang
         Perkoperasian.
 ________________, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2007 tentang Perseroan
         Terbatas.
 ________________, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK.03/2008
      tanggal 6 Pebruari 2008 Tentang Waktu Pendaftaran dan Pelaporan
      Kegiatan Usaha, Tata Cara dan Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak,
      serta Pengukuhan dan Pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak.
 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang
 Harahap, M Yahya, Hukum Perseroan Terbatas, Jakarta, Sinar Grafika, 2009.
 Mulyadi, Kartini dan Gunawan Widjaja, Hak Tanggungan, Jakarta, Kencana
      Prenada Media Group, 2006.
 Prodjodikoro, Wirjono. Asas-Asas Hukum Perjanjian, Bandung, CV Mandar
      Maju, 2000.
    Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Jakarta: PT Intermasa, Cetakan
    XXXII, 2005.




MODUL ASPEK HUKUM DALAM PENAGIHAN PAJAK@DTSS JURUSITA                               105

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:4606
posted:10/8/2010
language:Indonesian
pages:114