; kumpulan naskah
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

kumpulan naskah

VIEWS: 2,737 PAGES: 83

  • pg 1
									                                                IB U B UMI


                                                  Karya:


                                          Candra B arong Harjanto


Suasana panggung leng ang, kasur kapas diteng ah panggung. Seseorang (perempuan bijaksana setengah tua)
menaruh lilin/lampu minyak pada posisi depan, pojok -pojok panggung, sambil menyebar bung a.


Seseorang:   Aku mul ai dari sini, Tanah…………. Air,…………….. Udara.


Aku mul ai dari sini, Tanah…………. Air,…………….. Udara.


Aku mul ai dari sini, Tanah…………. Air,…………….. Udara.


Aku mul ai dari sini, Tanah…………. Air,…………….. Udara.


Aku mul ai dari sini, Tanah…………. Air,…………….. Udara.


Aku mul ai dari sini, Tanah…………. Air,…………….. Udara.


Aku mul ai dari sini, Tanah…………. Air,…………….. Udara.


Aku mul ai dari sini, Tanah…………. Air,…………….. Udara.


Aku mul ai dari sini, Tanah…………. Air,…………….. Udara.


Tiga orang masuk lalu-lal ang, berkata: tanah……air,……… udara……. tanah……air,……… udara…….
tanah……air,………         udara…….     tanah……air,………           udara…….    tanah……air,………        udara…….
tanah……air,……… udara…….(semakin lama semakin cepat. Seseorang mendekati kasur, membersihkan
kasur, merapikan, kemudi an menariknya pel an-pelan. )


Seseorang: tanah…… kembalilah ke tanah.air…..kembalilah ke air, udara………kembalilah ke udara.{di
ulang 3 kali }tanah,air,udara.kembalikan aku kepadanya,sang penci pta.


Tiga orang   :Bolehkah aku bertanya?


                1:       eeeeee…..bo…..bo…..bolehkah aku bertanya, siapa kamu, ada sesuatu yang indah,
                sangat menarik dari mi.


                  2:       Dari manakah kamu?
                3 :       Aku melihat orang-orang lalu lalang, tanpa tegur sapa. Seperti berhala-berhala
                yang minta di puja-puja, apa itu yang disebut keramahan?


                1:        Aku merindukan keteduhan ji wa.


                2:        Aku mencarinya, berhari-hari, bulan, tahun, dan berabad-abad


                3:        Siapa kamu, aku melihat sesuatu nasihat yang terukir dari surga,nasihat cinta


              1:       Apakah kamu tanah………


              2:       Kamukah air………


              3:       B arang kali kamu tanah, air, udara, semuanya ada padamu


Seseorang    : Aku cinta, aku dari cinta, tempat kamu barasal dan akan kembali


Tiga orang   : Aku cinta, aku dari cinta, tempat aku berasal dan akan kembali


                Seseorang      :      Orang -orang mulai l upa, dari mana mereka berasal dan kemana akan
                kembali. Orang-orang tinggalkan agama, orang-orang lupa Tuhannya.


Tiga orang   : Aku cinta, aku cinta, betapa indah aku, aku cinta, akulah makna….


Seseorang    : Ya, Bila cinta adalah nafasmu


Aku ingin melarutkan diri di etiap detak jantung


Di saat hel aan nafas sedi h dan gembiramu


Aku ingin mengenang, bahwa udara mengawali cinta


Entah apa, di mana, bag ai mana?


Aku ingin mengikuti jejak yang kau sunting lewat tanah


Menyemai benih kerinduan


Bila aku penguasa cinta


Akan aku berikan kasih dan sayang pada orang
Yang tulus memaknainya dengan keabadi an


Agar yang terberai bisa bersatu


                  1:         Kamukah perempuan yang ku cari?


                  2:         Aku selalu mengenang dan merindukanmu


                  3:         Kamukah perempuan itu, perempuan makna yang kucari?


Bila cinta adal ah nafasmu


Aku ingin melarutkan diri disetiap detak jantung


Disaat helaan nafas sedih dan gembiramu


Aku ingin mengenang, bahwa udara mengawali cinta


Entah apa, di mana, bag ai mana?


Aku ingin mengenang, bahwa udara mengawali cinta


Entah apa,di mana,bagai mana?


Aku ingin mengikuti jejak yang kau sunting lewat tanah


Menyamai benih kerinduan.


Bila aku penguasa cinta,


Yang tulus memaknainya dengan keabadi an


Agar yang terberai bisa bersatu.


    1,2,3   : kamuk ah perempuan itu? apakah kamu i bundaku?


    Seseorang (keluar dari panggung sambil berkata)


    Kamu pernah aku lindungi


    Akulah negaramu,aku bundamu
Aku adal ah cinta,perempuan itu


1,2,3   : apak ah kamu i bundaku?


LAMPU MATI


A,B,C Sudah di panggung,berlalu lal ang sambil mendorong kereta bayi.


A,B,C   : jang an menangis,lekas tidur sayang…ti durlah yang nyenyak,jangan


gelisah,aku    selalu    menjagamu.ayo       sayang,mi num      yang     banyak,jang an    nakal,jangan
ngompol,cup…cup…cup…ayo nak,belajarl ah menggenggam,bel ajarlah merai h mainanmu,belajarlah
berjal an,jangan    pernah    bersedih,ini   mainanmu.aduuuh..anaku        ng ompol    lagi,ayo   mandi
dulu…tersenyuml ah nak,itu bapak sudah datang,jangan nangis ya….


A,B,C   : lekas ti dur, malam sudah larut


Lekas ti dur, malam sudah larut (lal u di a mematung)


Seseoarang keluar menarik kasur,di atasnya banyak sekali boneka,ada beberapa boneka yang digendong
sambil membawa l ampu tepl ok atau sambil menyapu jalan.boneka diletakkan di kereta bayi atau di bagi -
bagikan,tersenyum.


A,B,C    : jang an menangis,lekas tidur sayang…. Ti dur yang nyenyak, jangan gelisah, aku slalu menjaga
mu. Ayo sayang mi num yang banyak, jangan nakal, jangan ngompo cup..cup..cup.. ayo nak, belajar
mengenggam. Belajar      mearaih    mainan    mu,   belajar   berjalan, jang an   pernah bersedih, i ni
mainanmu,aduh anak ku ng ompol lagi, ayo mandi dulu,itu bapak sudah datang,jangan nangis ya…


Seseorang : jadil ah apa yang kamu ingingkan (masih membagi-bagikan boneka)


Kamu berhak memilih jal an yang terbentang di depanmu


Aku adal ah busur dan kau adalah panah milik sang hi dup


Jadilah dirimu sendiri,jadilah penentu jalanmu


Hi dup adal ah pilihan


Kamu berhak memilih sukses atau g agal,untuk bahagia atau berduka
    Untuk berbagi atau kau miliki sendiri,pilihanmu adalah hak mu


    Dan kau bertanggung jawab terhadap setiap pilihan dan tindakanmu.


    A,B,C menirukan kata-kata seseorang saat mendapatkan boneka…


    Seseorang : aku dari tanah,dan akan kembali lagi ketanah.aku yang pernah menjadi rumah
    kehidupanmu,melindungimu dengan cinta,dengan rasa,bil aperlu aku berikan jantungku,nafas untuk mu
    agar kamu lebih baik anak-anaku…akulah tanah airmu,akulah darahmu,yang pernah merasai detak
    jantung dan aliran darahmu saat dirahi mku…seperti kau telah merasai detak jantung dan aliran
    darahku.


    A,B,C      : Kamukah i bundaku? Kamukah perempuan cinta?


    Seseorang : Ya, akulah i bundamu.perempuan cinta yang memberi ci nta.melebihi cinta di atas cinta yang
    pernah ada.


    A          : Kaulah jantungku.


    B          : Kaul ah nafasku.


    C          : Kaulah gerakku.


    B          : Aku akan melebihi cinta, seperti cintamu pada anak -anakku.


    Seseorang : Akulah i bundamu, tanah airmu…rumah kehi dupanmu..


    1,2,3      : Kamukah i bundaku? Tanah airku?


    Seseorang : Ya, akulah i bu bumi yang selalu disebut-sebut,akul ah tanah airmu.


    Akulah orang yang mengajari mu mengenal tuhan.


Akulah darahmu, tanah air tercinta.


    1,2,3      : Kamukah yang selalu disebut-sebut i bu bumi?


    Seseorang : Ya, akulah perempuan itu.i bu bumi,i bunda tanah air tercintamu.


    Akulah i bundamu.
    Akulah perempuan yang selalu disebut-sebut dal m setiap lembaran sejarahkehi dupan,akulah
    prasastimu yang akan selalu kau kenang.


    Akulah i bundamu…


    SELESAI.LAMPU MATI PERLAHAN.




NAS KAH DRAMA:
BADAI S EPANJANG MALAM
Karya MAX ARIFIN


Para Pelaku:
1.Jamil, seorang guru SD di Kl aulan,Lombok S elatan,berumur 24 tahun
2.Saenah,istri Jamil berusia 23 tahun
3.Kepal a Desa,suara pada flashback

Setting :
Ruangan depan sebuah rumah desa pada mal am hari.Di di nding ada l ampu
minyak menyala.Ada sebuah meja tulis tua. Di atasnya ada beberapa buku
besar.Kursi tamu dari rotan sudah agak tua.Dekat dinding ada balai bal ai .Sebuah radi o transistor juga
nampak di atas meja.

Suara :
Suara jangkerik.suara burung malam.gonggongan anjing di kejauhan.Suara Adzan subuh.

Musik:
Sayup sayup terdengar l agu Asmaradahana,le wat suara sendu seruling

Note:
Kedua suami istri memperlihatkan pol a kehi dupan kota.deng an kata lain,mereka berdua memang berasal
dari kota.tampak pada cara dan bahan pak aian yang mereka kenakan pada mal am hari itu.mereka jug a
memperlihatkan sebag ai orang yang baik baik.hanya i delisme yang menyala nyala yang menyebabk an
mereka berada di desa terpencil itu.

01.Begitu layar tersingkap, nampak jamil sedang asyik membaca.Kaki nya ditelusurkan ke atas kursi di
depannya.Sekali sekali ia memijit mijit keningnya dan membaca lagi.Kemudi an i a mengangkat
mukanya,memandang jauh ke depan,merenung dan kembali lagi pada bacaannya.Di kejauhan terdengar
salak anjing melengking sedih.Jangkerik juga menghi asi suasana mal am itu. Di kejauhan terdengar seruling
pilu membawakan Asmaradahana.
Jamil menyambar rokok di atas meja dan menyulutnya.Asap berekepul ke atas.Pada saat i tu istrinya muncul
dari balik pintu kamar.

02.Saenah :
Kau belum ti dur juga?kukira sudah l arut mal am.Beristirahatl ah,besok kan hari kerja?
03.Jamil:
Sebentar,S aenah.Seluruh tubuhku memang sudah lelah,tapi pikiranku masih saja mengambang ke sana
kemari.Biasa, kan aku begini malam mal am.

04.saenah:
Baiklah.tapi apa boleh akuketahui apa yang kaupikirkan malam ini?

05.jamil:
Semuanya,semua apa yang kupikirkan selama ini sudah kurekam dal am buku hari anku,Saenah.Perjal anan
hi dup seorang guru muda-yang di tempatkan di suatu desa terpencil-seperti Kl ulan ini kini merupakan
lembaran lembaran terbuk a bagi semua orang.

06.Saenah:
Kenapa kini baru kau beritahukan hal itu padaku? Kau seakan akan menyimpan suatu rahasia.Atau
memang rahasia?

07.Jamil:
Sama sekali bukan rahasia ,sayangku! Malam malam di tempat terpencil seakan memanggil aku untuk
di ajak merenungkan sesuatu.Dan jika aku tak bisa memenuhi ajakannya aku akan mengal ami semacam
frustasi.Memang pernah sekali,suatu mal am yang mencekam,ketika aku sudah ti dur dengan nyenyak,aku
ti ba pada suatu persimpang an jalan di mana aku ti dak boleh memilih.Pasrah saja.Apa yang bisa k aulakukan
di tempat yang sesunyi ini?[Dia menyambar buk u hariannya yang terletak di atas meja dan membalik
balikkannya] Coba kaubaca catatanku tertanggal…[sambil masih membolak balik]..ini tanggal 2 oktober
1977.

08.Saenah:
[Membaca] “Sudah setahun aku bertugas di Kl aul an.Suatu tempat yang terpacak teg ak seper ti karang di
tengah lautan,sejak desa ini tertera dalam peta bumi.Dari jauh di a angker,ti dak bersahabat:panas dan debu
melecut tubuh.Ia kering kerontang,gersang.Apakah aku akan menjadi bagi an dari alam yang ti dak
bersahabat ini? Menjadi penonton yang diombangkan ambi ngkan oleh…barang tontonannya.Setahun tel ah
lewat dan selama itu manusia ditelan oleh alam”.[Pause dan Saenah mengeluh;memandang sesaat pada
Jamil sebelum membaca l agi].”Aku belum menemukan kejantanan di sini.Orang orang seperti sulit
berbicara tentang hubung an dirinya dengan alam.Sampai di mana kebisuan ini bisa di derita?Dan apakah
akan diteruskan oleh generasi generasi yang setiap pagi kuhadapai?Apakah di sini ti dak dapat dikatakan
adanya kekejaman.”[Saenah berhenti membaca dan langsung menatap pada Jamil]

09.Jamil:
Kenapa kau berhenti?jangan tatap aku seperti itu,Saenah.

10.Saenah:
Apakah tulisan i ni ti dak keterlaluan?Bisakah ditemukan kejujuran di dalamnya?

11.Jamil:
Kejujuran kupertaruhkan di dalamnya,Saenah.Aku bisa mengatakan,kita kadang-kadang dihi nggapi oleh
sikap sikap munafik dalam suatu pergaul an hi dup.Ada ikatan ikatan yang mengharuskan kita berkata “ Ya!”
terhadap apa pun,sekalipun dal am hati kecil kita berkata”Ti dak”.Kejujuranku mendorong aku
berkata,”Ti dak”,karena aku melatih diri menjadi orang yang setia kepada nuraninya.Aku juga tahu, masa
kini yang dicari adalah orang orang yang mau berkata” Ya”.Yang berkata “Ti dak” akan disisihkan.[Pause]
Memang sulit,Saenah.Tapi i tulah hi dup yang sebenarnya terjadi.Kecuali kal au kita mau melihat hi dup i ni
indah di l uar,bobrok di dalam.Itulah masalahnya.[Pause.Suasana itu menjadi hening sekali.Di kejauhan
terdengar salak anjing berkepanjangan]

12.Saenah:
Aku ti dak berpikir sampai ke sana. Pikiranku sederhana saja.kau masih ingat tentunya,ke tika kita pertama
kali tiba di sini,ya setahun yang l alu.Tekadmu untuk berdiri di depan kelas,mengajar generasi muda itu agar
menjadi pandai.Idealismemu menyal a nyala.Waktu itu kita disambut oleh Kepala Desa dengan pi dato
selamat datangnya.[S aenah lari masuk.Jamil terkejut.tetapi sekejap mata S aenah muncul sambil membawa
tape recorder!] Ini putarl ah tape ini.Kaurekam peristi wa itu.[Saenah memutar tape itu,kemudian
terdengarl ah suara Kepala Desa]‟…Kami ucapkan selamat datang kepada Saudara Jamil dan istri.Inilah
tempat kami .Kami harap saudara betah menjadi guru di sini.Untuk tempat saudara berlindung dari panas
dan angin,kami telah menyedi akan pondok yang barangkali ti dak terlalu baik bagi saudara.Dan apabila
Anda memandang bangunan SD yang cuma tiga kelas itu.Dindi ngnya telah robek,daun pintunya telah
copot,lemari lemari sudah reyot,lonceng sekolah bekas pacul tua yang telah tak terpakai
lagi.Semunya,semuanya menjadi tantangan bagi kita bersama.Selain i tu,kami perkenalkan dua orang guru
lainnya yang sudah lima tahun bekerja di sini.Yang ini adal ah Saudara Sahli,sedang yang berkaca mata i tu
adalah Saudara Hasan.Kedatangan Saudara ini ak an memperkuat tekad kami untuk membi na generasi
muda di sini.Harapan seperti ini menjadi harapan Saudara Sahli dan S audara Has an tentunya.”[S aenah
mematikan tape.Pause,agak lama.Jamil menunduk,sedang Saenah memandang pada J amil.Pelan pelan J amil
meng angkat mukanya.Mereka berpandangan]

13.Saenah:
Semua bicara baik-baik saja waktu itu dan semuanya berjal an wajar.

14.Jamil:
Apakah ada yang ti dak wajar pada diriku sekarang ini ?

15.Saenah:
Ki ni aku yang bertanya:jujurkah pada nuranimu sendiri?Penilaian terakhir ada pada hati mu.dan
mampukah kau membuat semacam pengadilan yang ti dak memihak kepada nurani mu sendiri?Karena
bukan mustahil sikap keras kepal a yang berdiri di belakang semuanya itu.Terus terang dari hari ke hari kita
seperti terdesak dal am masyarakat yang kecil ini.

16.Jamil:
Apakah masih harus kukatakan bahwa aku tel ah berusaha berbuat jujur dalam semua tindakanku?Kau
menyalahkan aku karena aku terlalu banyak bil ang”Ti dak” dalam setiap di alog dengan sekitarku.Tapi
itulah hatiku yang ikhlas untuk ikut gerak langkah masyarakatku.Ti dak,Saenah.Mental masyarakat seperti
katamu itu ti dak terbatas di desa saja, tapi juga berada di kota

17.Saenah:
Kau ti dak memahami masyarakatmu.

18.Jamil:
Masyarakat itulah yang ti dak memahami aku.

19.saenah:
siapa yang salah dalam hal ini.

20.Jamil:
Masyarakat.

21.Saenah:
Yang menang ?

22.Jamil:
Aku
23.Saenah:
Lalu ?

24.Jamil:
Aku mau pi ndah dari sini.[Pause. Lama sekali mereka berpandangan.].

25.Saenah:
[Deng an suara rendah]Aku kira itu bukan suatu penyelesaian.

26.Jamil:
[Keras] Sementara memang i tulah penyelesaiannya.

27.Saenah:
[Keras]Ti dak! Mesti ada sesuatu yang hilang antara kau dengan masyaraka tmu.Selama ini kau
membanggakan dirimu sebag ai seorang i dealis.Idealis sejati,malah.Apalah arti kata i tu bil a kau sendiri ti dak
bisa dan ti dak mampu bergaul akrab deng an masyarak atmu.[Pause]

[Lemah diucapkan]Aku terkenang masa itu,ketika kau membujuk aku agar aku mu datang
kemari[Fl ashback dengan mengubah warn cahaya pelan pel an.Memakai potenti ometer.Bisa hijau muda atau
warna lainnya yang agak kontras dengan warna semula.Musik sendu mengalun]

28.Jamil:
Aku mau hi dup jauh dari kebisingan,Saenah.Aku tertarik deng an kehidupan sunyi di desa,deng an
penduduknya yang polos dan sederhana.Di sana aku ingin melihat manusia seutuhnya.Manusia yang belum
di poles sikap sikap munafik dan pulasan bel aka.Aku harap k au menyambut keinginanku ini deng an
gembira,dan kita bersama sama kesana.Di sana tenag aku lebih di perlukan dari pada di kota.Dan tentu
banyak yang dapat aku l akukan.

29.Saenah:
Sudah kaupikirkan baik baik? Perjuangan di sana berarti di luar jangkauan perhatian.

30.Jamil:
Aku bukan orang yang membutuhkan perhatian dan publikasi.Kepergianku ke sana bukan deng an harapan
untuk menjadi g uru teladan.Coba bayangkan,siapa pejabat yang bisa memikirkan kesulitan seorang guru
yang bertugas di Sembalun,umpamanya?Betul mereka meneri ma gaji tiap bulan.Tapi dari hari ke hari
dicekam kesunyian,deng an senyum secercah terbayang di bi birnya bila menghadapi anak bangsanya.dengan
alat al at serba kurang mungkin kehabisan kapur,namun hatinya tetap di sana.Aku bukan orang yang
membutuhkan publikasi,tapi ukuran ukuran dan nilai nilai seorang guru di desa perlu direnungkan
kembali.Ini bukan ilusi atau igauan di mal am sepi,Saenah.Sedang teman teman di kota mempunyai
kesempatan untuk hal hal yang sebaliknya dari kita ini.Itulah yang mendorong aku,mendorong hatiku untuk
melamar bertugas di desa i ni.

31.Saenah:
Baiklah, Sayang.Ketika aku melangkahkan kaki memasuki gerbang perkawinan kita,aku sudah tahu macam
suami yang kupilih itu.Aku bersedia mendampi ngimu.Aku tahu,apa tugas utamaku disamping sebag ai
seorang i bu rumah tangga.Yai tu menghayati tugas suami dan menjadi pendorong utama karirnya.Aku
bersedia meninggalkan kota yang ramai dan aku sudah siap mental menghadapi kesunyi an dan kesepian
macam apa pun.Kau tak perlu sangsi.[Pause senbentar.Pelan pel an lampu kembali pada cahaya semula]

32.Saenah:
Ki ni aku menjadi sangsi terhadap diri mu.Mana i dealisme yang dul u itu? Tengoklah ke kanan.apakah
jejeran buku-buku itu bel um bisa memberikan jawaban pada keadaan yang kauhadapi sekarang?Di sana
ada jawaban yang di berikan oleh Leon Iris,Erich Fromm,Emerson a tau Al vin Toffler.Ya,mal am malam aku
sering melihat k au membuka-buka buku-buku Erich Fromm yang berjudul The Sane Society atau Future
Shock nya Al vin Toffler itu.

33.Jamil:
Apa yang kau kauketahui tentang Eric Fromm dengan bukunya itu? Atau Toffler?

34.Saenah:
Ti dak banyak.Tapi yang kuketahui ada orang-orang yang mencari kekuatan pada buku -bukunya.Dan dia
ti dak akan mundur walau kehi dupan pahit macam apa pun dosodorkan kepadanya.karena i a mempunyaai
integritas diri lebih ti nggi dri orang-orang yng menyebabk an kepahitan hi dupnya.apakah kau menyerah
dalam hal ini? Ketika k au mel angkahkan kakimu memasuki desa ini terlal u bnyak yang akan kausumbngkan
padanya,ini harsus kauakui.Tapi kini-akuilah-kau menganggap desa ini terlalu banyak meminta
diri mu.Inilah resiko hi dup di desa.Seluruh as pek kehidupan kita disorot.Smpai sampai soal pri badi kita
di jadikan ukuran mampu ti daknya kita bertug as.Dan aku tahu hal itu.Karena aku kenal kau.[Suasana
menjadi hening sekali.Pause]
Aku sama sekali tak menyal ahkan kau.malah di m di am menghargai kau, dan hal itu sudah sepantasnya.Aku
ti dak ingin kau tenggelam begitu saja dal am suatu msyarakat atau dal am suatu sistem yang jelek namun
telah membudaya dal am masyarakat itu.Di mana pun kau berda.juga sekiranya kau bekerja di kantor.Kau
pernah dengan penuh semang at menceritakan bag aimana novel karya Leon Uris yang berjudul QB VII.Di
sana Uris menulis,katamu bahwa seorang manusia harus sadar kemanusiaannya dan berdiri tegak antara
batas kegilaan lingkungannya dan kekuatan moral yang seharusny a menjadi pendukungnya.Betapapun kecil
kekuatan itu.Di sanal ah manusia itu diuji.Ini bukan kuliah.Aku tak menyetujui bil a kau bicara soal kal ah
menang dalam hal ini.Ti dak ada yang kal ah dan ti dak ada yang menang.Di alog yang masih kurang.

34.Jamil:
Aku mungkin mulai menyadari apa benda yang hilang yang kaukatakan tadi.generasi sekarang meng alami
kesulitan dal am masalah hubungan.Hubungan antar sesama manusia.Mereka mengalami apa yang disebut
kegaguan intelektual.kita makin cemas,kita seakan akan mengal ami kemiskinan artikulasi.Disementara
sekolah di banyak sekolah malah,mengarang pun bukanl ah menjadi pelajaran utama l agi,sementara makin
banyak gagasan yang harus di beritahukan ke segala sudut.Pertuk aran pikiran makin di butuhkan.

35.Saenah:
Ya,seperti pertukaran pikiran mal am ini.Ki ta harus yakin akan manfaat pertukaran .Ada gejala dalam
masyarakat di mana orang kuat dan berkuasa segan bertukar pikiran.Untuk apa ,kata mereka.Kan aku
berkuasa.

36.Jamil;
Padahal nasib suatu masyarakat terg antung pada hal-hal itu.Dan kita jang an mel upakan kenyataan bahwa
masyarakat itu bukan saja berada dalam konflik dengan orang -orang yang mempunyai sikap yang ti dak
sosial tetapi sering pul a konflik dengan sifat sifat manusia yang paling di butuhkan,yang justru ditekan oleh
masyarakat itu sendiri.

37.Saenah:
Itu kan Erich Fromm yang bilang.

38.Jamil:
Memang aku menguti p di a.[Dari kejauhan terdengar suara bedug subuh kemudian adzan]

39.Saenah:
Aduh,kiranya sudah subuh.Pagi ini anak-anak menunggumu,generasi muda yang sang at membutuhkan kau.

40.Jamil:
Aku ak an tetap berada di desa ini,sayangku.
41.Saenah:
Aku ak an tetap bersamamu.Yakinl ah.[Jamil menuntun istrinya ke kamar ti dur.Musik melengking keras lalu
pel an pelan,sendu dan akhirnya berhenti].

Catatan:
Naskah ini pernah di muat dalam buku Kumpul an Drama Remaja, editor A.Rumadi .Penerbi t PT Gramedi a
Jakarta,1988,halaman 25-33.

“AKU MASIH PERAWAN”


SKENARIO:
AKU MAS IH PERAWAN
Babak 1
Pemain : Raja William B oth Peri Ngatan
Ratu Eliserbet Peri Gosip
Pangeran Dustin Peri Ngisan
Tuan Wor – wor Peri Jahat
Properti : Dua buah kuris Tahta Kerajaan
Sebuah Microphone
3 buah Mahkota Kerajaan
4 buah tongkat ajai b Pakai an Kerajaan
Latar : Di Perayaan Turun Tahta Istana Parahi yangan
Teks :
Disebuah Pegunungan Hi mala yuuuuk, berdirilah sebuah istana Parahiyang an yang di huni seorang Raja
William B oth dan Ratu Eliserbet beserta putranya yaitu Pangeran Dustin.
Tampak mereka sedang mengadakan pesta turun tahta, di mana Raja William Both menurunkan tahta pada
Pangeran Dustin, dan pesta i tu dihadiri oleh seluruh rakyat di Negeri Itu beserta peri-peri kayangan, namun
Raja lupa ti dak mengundang salah satu peri. Penasaran…….???? Yuuuuk!!!!
•
Roman Picisan Mukadi ma / Dewa
Raja : Bagai mana putraku, apak ah ananda sudah siap meneri ma tahta
dari ayahanda ini?
Pangeran : B aiklah ayahanda, ananda akan berusaha sekuat tenaga ananda Ratu : Ananda, i ngatl ah bahwa
engkau adalah penerus tahta Kerajaan
ini. So don‟t worry, be Happy.
(Akhirnya Pangeran meninggalkan Raja dan Ratu dan membaur dengan para tamu, sesaat kemudi an
beberapa peri datang antara lain : peri gossip, peri ngisan, dan peri ngatan)
Tn Wor-wor : Woro-woro, Peri ngisan, Peri Gosip, Peri Ng atan,
segera memasuki arena
• (Peri-peri menari kemudi an menghampiri Pangeran)
Semua Peri-peri: Hai..!!!
Peri Ngisan : Hai Pangeran hi…hi…hi…gi mana kabarnya???hi…hi…hi
tambah cakep aja hi…hi…hi…
Peri Gosip : Gosipnya ni h, bakal an ada Raja baru nich!!!
Peri Ngatan : Ing at!!! Harus adil, Ing at!!! Harus bijaksana, Ingat!!!
Haruuss…
Pangeran : lya.. .ya.. .ya… oke deh
(lain peri-peri meni nggalkan pangeran dan menghampiri Raja dan Ratu) Raja : Selamat datang para peri -
peri
Semua Peri : Terima kasih Paduka Raja
Ratu : Kalian tampak ceria sekali hari ini
Peri Ngisan : Hi…hi…hi… tentu saja Ratu hi..hi..hi..khan Pangeran
mau naik tahta hi ..hi..hi
Peri Gosip : Gosipnya ni h, masak Pangeran naik tahta, BB M ikut
juga?!
Peri Ngatan : Ing at!!! kagak nyambung !
(beberapa menit kemudi an, acara penyerahan tahta dilaksanakan)
Tn Wor-wor : Upacara penyerahan tahta kerajaan segera
di mulai… B aginda. Raja dan Pangeran menyi apkan diri masing-masing……
Raja : Siapkah ananda menerima tahta ini?
Pangeran : Siap…..ayah…..a…..n…..d….a
Peri Jahat : Hentikan!!! Semua!!!
Semua Peri : Yuuu…kk!!!
Peri Jahat : Apa kalian yak.. .yuk.. .yak.. .yuk…?!
Namaku bukan Yayuk
Hai….Raja!!!Kau sudah menghina aku !
Mengapa kau ti dak mengundangku?!
Raja : Maaf Peri, aku l upa ti dak meng undang mu
Peri Jahat : Aku ti dak mau TAHU tapi , kal au tempe.. ..yuuuk.. …
Peri Gosip : Gosipnya nich, TAHU ada formalinnya looh….
Peri Ngatan : Ing at !!! Formalin berbahaya Ing at!!!ti dak baik untuk
kesehatan
Peri Ngisan : hi…hi…hi…bener looh….hi…hi…hi…
Peri Jahat : Aku ti dak teri ma!!! Sekarang aku akan meng utuk mu
Pangeran. Akan kubuat kau terti dur selama 100 tahun
Peri Ngatan : Ing at!!! Marah dapat menyebabk an gangguan jantung,
impotensi, gangguan kehamilan dan janin
Peri Jahat : Ya sudah deh karena lagi big sale, aku kasih diskon 50 %
jadi …. 50….tahun
Ha…ha…ha dengan kekuatan dunia lain….akan
meng utuk mu.. ..cliii.. ..ng
• Raja & ratu : Anakku,?!


Babak II:
Remain : Raja William Both Peri Ngatan Minten
Ratu Eliserbet Peri Gosip Britney S prit Pangeran Dastin Peri Ngisan Mrs. Rock
Tn Wor Peri Jahat Puja
Properti : Dua buah kursi tahta Kerajaan
Sebuah microphone
3 buah Mahkota Kerajaan
4 buah tongkat ajai b
Pakaian Kerajaan & sesuai karakter
Seperangkat jamu, tongkat
Gi tar dan papan bertuliskan “2 hari kemudian” & “sensor”
Latar : Di dal am Istana Parahyang an
Teks : “2 hari kemudi an”
•
Roman Picisan Mukadi ma / Dewa
Raja & Ratu marah, sedih atas tindakan peri jahat, oleh karenanya mereka meng adakan sayembara bagi
seluruh perawan diseluruh pelosok negeri untuk dapat membangunkan pangeran dari ti durnya dan sebagai
imbalannya ak an di jadikan pendamping hi dup Sang Pangeran
Tn.Wor-wor : Pengumunan-pengumuman bagi seluruh perawan di buk a
lowongan menjadi pendampi ng hi dup Pangeran asalkan dapat membangunkan Pangeran dari ti durnya
(Datanglah berduyun-duyun seluruh perawan dari seluruh pelosok negeri)
•
Mal am Pertama / Rossa
Tn.Wor-wor : B aiklah, peserta pertama….kita tampilnya….perawan J awa
dari Negeri Babatan. Inilah.. ..Sri.. ..Min.. .ten.. ..
Sri Minten : Kulo nyuwun kaleh ewu,eh…nyuwun sewu!!! Izinkan
saya membangunkan Pangeran deng an jamu saya. S aya punya jamu :jamu awet muda, awet tua, sampe‟
awet melle‟ tanpa bahan pengawet
Ratu : Silahkan Sri Minten !!!
Sri Minten : (sambil menjejcdkanjamunyapada Pangeran)
Ayo.. .di mi num jamunya bi ar cepet melle‟ ayo.. .ayo.. to…
(Pangeran belum berhasil di bang unkan)
Sri Minten : Maaf Raja & Ratu hamba ti dak mampu membangunkan Pangeran. . .hamba menyerah….! da..
.da…
(pergi meninggalkan ruangan)
•
Ndang Muliho Sri
Tn. Wor-wor : karena peserta pertama g agal, maka kita tampilnya peserta
kedua…dari Ameriki Sirikit. Inilah….Britney S priit
•
Toxic / Britney Spears
Britney S prit : Hai g ood morning !! Raja the raja, Ratu the ratu. I jauh-
jauh datang dari Ameriki Sirikit naik air plane, kelas
ekonomi kesini untuk merayu Pangeran, dengan jogetan
saya yang aduhai….
Ratu : Silahkan Britney….??? Siapa yach… ? Oh Britney S prit…
•
Toxic / Britney Spears
( Briney menari diiringi lagu, seluruh keluarga kerajaan menutup hi dungnya karena “B URKET”)
Seluruh anggota Kerajaan: Hiii…Burket
Britney S prit : Ih i‟m sorry, Pm malu sekali….! ga‟ pake‟ rexona rong on, I
hanya pake” setengah on. I want g o to home bye-bye….
Tn Wor-wor : Dikarenakan peserta kedua “B URKET” dan menyebabkan
pencemaran udara, maka ia dieliminasi….Dan kita tampilnya peserta ketiga Mrs. Rock!!!
•
Rocker j uga manusia / Seriues
Mrs. Rock : Permizi…Rajaa…(sambil memetalkan tang an) izinkan saya men yanyikan l agu “judi” karena
lagu judi dil aknat oleh ALLAH, saya akan menyanyikan lagu “lari pagi” karena hari sudah siang ti dak
di perkenankan untuk lari siang….B agai mana kalau kita “ begadang” karena begadang ti dak baik untuk
kesehatan, dengan demikian saya ti dak jadi menyanyi “summah na‟udubillah”….Karena saya adalah rocker
tobat (Mrs. Rock berjal an menuju sisi Pangeran) Pangeran…. bang un…..(menggaruk kepal a karena
berketombe)
Woooiiin….(memetalkan tang an) Bangun….!!! Ah sudahl ah ti dak bisa bangun, gue pul ang aja l ah….
(sambil memai nkan gitar, menuju keluar lapangan)
Tn Wor-wor : Selanjutnya kita tampilnya peserta keempat, gadis manis
dari India. Acca.. .Acca.. .Acca
•
Khavi olin Kacaman / Various Artist
Pooja : Perkenalkan he…nama saya puja he…saya suka wedang
jahe….acca…acca…acca…saya kesini he…bawa air suci he…dari sung ai gangga he…untuk Pangeran
he…(Pooja membangunkan Pangeran dengan memercikkan air sungai gangga di wajah Pangeran) B angun
he…pangeran he… Acca…acca…Ayo bangun acca.. .acca.. .Aduh maaf Raja he.. .saya pulang aja he..
pangeran jelek he…mendi ng Shahrukh Khan he….(pooja pergi meninggalkan ruangan)
Raja : Meng apa ti dak ada yang bisa membangunkan putra kita
Ratu???
Ratu : Hanya peserta terakhirlah harapan kita ….
Tn Wor-wor : Selanjutnya.. .kita tampilnya peserta.. ..ada deh.. ..
•
Aku Perawan
Peri Jahat : He..he..he…meskipun tua-tua gini, aku masih perawan ting…ting… l agi…
(sambil berbicara pada penonton )
Peri Jahat : padahal mereka ti dak tahu aku adal ah peri jahat yang
meng utuk Pangeran. Aku menyesal Pangeran sangat tampan sekali ha…ha…3x dan aku pasti bisa
membangunkannya. Dengan dua jurus andalanku
•
Mbah Dukun / Alam
(Perijahat menjampi-jampi Pangeran)
Peri Jahat : Karena jurus pertamaku ti dak ampuh dan ti dak
mempan…untuk membangunkan Pangeran….kalo begitu akan ku….keluarkan jurus pamungkasku
(Perijahat mencium pangeran “SENSOR” Pangeran bangun)
Pangeran : Aduh.. ..ada apa ini? Bi birku masam sekali
Peri Jahat : Hee….hee….ha….ha…berhasil ~ berhasil….hore..
Pangeran kamu akan jadi suamiku….karena aku satu-satunya orang yang bisa membang unkanmu
Pangeran : Apa…???!!! Ti dak…. (pangeran berlari….)
Peri Jahat : Pangeran… .Aku masih perawaa.. .nnnn
Aku Perawan / Krisdayanti


D. KONS EP PENYUTRADARAAN
1. Konsep Cerita
Cerita “Aku masih Perawan” menggunakan konsep k omedi kontemporer yang di angkat dari dongeng
“SLEEPING B EA UTY” yang tel ah di modi flkasi baik konsep cerita, setting, musik maupun zaman. Konsep
cerita ini mengandung as pek budaya, sosial, humanisme di mana cerita ini menggambarkan budaya dari
masing-masing daerah sedangkan unsur sosial dan unsur humanisme yang menggambarkan harmonisnya
keluarga Istana serta kerukunan antar budaya yang berbeda.
Cerita “Aku masih Perawan” mengisahkan tentang pangeran yang disihir oleh peri jahat, k arena peri jahat
ti dak di undang oleh keluarga istana dalam pesta turun tahta, alhasil Pangeran terti dur pulas. Terdapat tiga
peri yaitu Peri Ng atan, Peri Gosip, Peri Ngisan dari ketiga peri tersebut ti dak ada satupun yang dapat
menggunakan sihirnya untuk membangun Pangeran. Melihat keadaan tersebut Raja meng adakan
sayembara bagi perawan di negeri manapun yang dapat membangunkan Pangeran dari lelapnya sihir maka
akan dijadikan Permaisuri bagi Pangeran. Perawan -perawan dari seluruh pelosok negeri berdatang an g una
mengikuti sayembara, antara l ain: Gadis Jawa dari Indonesia, Britney S prit dari Ameriki Sirikit, cewek
rocker dan Pooja dari India namun usaha mereka sia-sia bel aka dan pada akhirnya peri jahat mengikuti
sayembara untuk membangunkan Pangeran karena ia menyesal ternyata Pangeran yang disihir tampan
sekali, hingga akhirnya Pangeran terbangun dan ia lari terbirit-birit karena ti dak mau menikahi peri jahat
yang sudah tua dan keriput namun peri jahat yang sudah tua dan keriput tetap mengejar dan meneriakkan
“AKU MASIH PERAWAN”.


2. Konsep Panggung / Latar
Menggunakan Properti sebag ai berikut:
a. Gorden yang diletakkan sebag ai background
b. 2 kursi yang dihi as sebag ai Singgasana Raja & Ratu 13
c. Tangga kayu
d. Karpet
e. Tempat ti dur Pangeran dilapisi spray
f. Tiga buah tanaman hias
g. Gambar kubah di karton
h. Mic yang diletakkan di dekat pintu masuk dan Singgasana


3. Konsep Busana
Menggunakan busana Kerajaan dan sebagian disesuaikan dengan karakter masing -masing tokoh,
di antaranya:
• Raja : Baju Raja + sabuk
• Ratu : Rok Canda + B aju hem
• Pangeran : Hem putih + Celana putih + Rompi emas
• Tn Wor-wor : Celana hitam + Hem putih + Rompi hitam + Mahkota
• Peri-peri : Sayap peri + rok canda + mahkota sti ver + kaos putih
• Sri Minten : Sewek, kebaya, keramjang, selendang, ember
• Peri Jahat : Tongkat hitam, topi kerucut, jubah hi tam, rok hitam
• Britney : Casual, celana panjang, rok mini, kaos, kunciran
• Rocker : Kaos tang an hitam, cel ana hitam, kaos hitam, gitar
• Pooja : Wig, kerudung, jari


4. Konsep Musik
Menggunakan konsep musik modern dan tradisional yang disesuaikan deng an karakter masing-masing
tokoh, yakni:
• Mukadi mah Roman Picisan / Dewa
• Crazy Frog Random / Motorol a
• Snaggle / Motorola


• Yen ing tawang / Ci pt. Anjarany• Toxic / Britney Spears14
• Rocker juga manusia / Seurius Band
• Khavi olin kacaman / Vari ous artist
• Aku Perawan / KD


• Mbah Dukun / Al am
• Pemain Pendukung:


EPISODE DAUN KERING


Sebuah drama monolog oleh Zulfikri Sasma
ADAPTASI DARI CERPEN KARYA LARSI DE IS RAL


Panggung adalah ruangan kosong yang hanya di isi oleh sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu.
Lampu panggung tampak temaram. Sarjun, seorang lelaki muda (kira -kira berusia 24 tahun) dengan
menyandang sebuah ransel di punggungnya, tampak melangkah lemas memasuki panggung. Ribuan rasa
kecewa menghias di wajahnya. Lelaki itu kemudian duduk di atas bangku dan menaruh ransel di sampingnya.
Ia tertunduk lesu dan kemudian mengangkat wajahnya.


SARJ UN


Saudara-saudara, sampai hari i ni, saya masih mempercayai Tuhan deng an segala skenario -Nya. Pergantian
siang dan malam. Kehi dupan dan kemati an. Untung dan rugi. Marah dan cinta. Di dal am semua itu kita
melingkar, menjalar bahkan kadang terpaku tanpa daya. Berag am kisah dilakoni dengan bermacam rasa
yang terkadang menjelma benang kusut. Di butuhkan kesabaran untuk mengurainya. Dan, manakala
kesabaran yang kita miliki kian meni pis atau sama sekali sirna, adakah orang l ain akan datang menawarkan
pertol ong an? Memberi kesejukan pada pikiran dan perasaan seperti benang kusut?


Teramat berat bagi saya untuk berbagi kisah ini.


Kisah yang saya sebut sebagai episode daun kering!


Sarjun tertunduk, kecewa berkecamuk di dadanya. Tak lama, ia kembali mengangkat wajahnya dan
melanjutkan ucapannya.
SARJ UN


Bukan! Bukan karena menyangkut s isi hidup saya yang gelap, bukan saudara-saudara! Akan tetapi, hal ini
meli batkan keluarga saya yang tinggal dua orang: Papa dan Al pin, adik saya…


Sarjun merubah posisi duduknya, memandang langit, tatapannya kosong.


SARJ UN


Sejak kematian i bu, saya melanjutkan kuliah di Padang sedang Al pi n kuliah di Medan. Sejak itulah Papa
tinggal sendiri di Payakumbuh. Saya mengerti benar makna kesepian bagi orang seusia Papa. Karena itu
saya mengunjunginya tiap bulan. Al pin pun saya kira begitu. Namun karena Medan dan Pay akumbuh
terbentang jarak yang ti dak dekat, maka ia hanya pul ang tiap liburan semester.


Tetapi saudara-saudara, kepulang an saya kali ini, sungguh-sungguh membuat saya hampir putus asa!
Betapa ti dak? Baru saja saya sampai di teras depan rumah, ti ba-ti ba saya mendengar teriakan “ti dak” yang
sangat begitu keras. Saya yakin, i tu adalah suara Papa. Saya jadi tertegun mendengarnya, lalu menginti pnya
lewat lubang kunci.


Sarjun beranjak dari tempat duduknya, berdiri dan melangkah ke depan panggung sambil tersenyum m engejek


SARJ UN


Saudara-saudara, saudara-saudara tahu apa yang saya lihat? Sungguh di luar dugaan, saya menyaksikan
Papa berdiri disamping meja telepon deng an kepala tertunduk dan wajah kuyu! Sempoyongan ia menuju
sofa. Kecewa, marah, sedih dan entah makna apa lagi yang dapat di baca dari raut wajahnya.


Kesal, lelaki itu kembali duduk di bangku


SARJ UN


Heran, ti dak mungkin Papa begitu! Ti dak mungkin! Papa saya bukan lelaki yang rapuh. Ia lelaki paling
tegar yang pernah saya kenal. Ia cerdas meski terkadang sangat egois. Masih terlalu jelas dalam ingatan saya
ketika ia memutuskan berburu babi sebagai olahraga pengisi kesendiriannya.


Sarjun kembali menatap langit. Kali ini tatapannya tajam.


SARJ UN
Waktu itu papa duduk di sofa. Ia membaca Koran, kelihatan santai, saya datang dan mengambil tempat di
sofa l ain.


SARJ UN


Oke! Silahkan Papa buru babi . Tapi, membeli anjing? Apal agi seharga dua juta lebih? Saya ti dak setuju! Itu
haram, Pa!


PAPA


Hehehehe… jika ti dak di beli Papa dapat anji ng dari mana? Mana ada anjing kurap yang bisa buru babi?
Atau anjing jadi yang di bagi-bagi secara gratis? Nak, membeli anjing itu ti dak apa-apa asal tujuannya baik.
Nah, menyelamatkan tanaman petani dari hama babi kan perbuatan mulia? B anyangkan babi -babi yang
temok itu di buru deng an anjing kurap, heh, heh… i a akan tetap merdeka melahap tanaman petani. Dan,
petani ti dak akan makan, kamu rel a petani mati kelaparan?


SARJ UN


Tapi Tuhan ti dak pernah menghal alkan sesuatu dari yang haram


PAPA


Bukan Tuhan namanya kal au sekaku itu. Buk ankah kamu sering bilang: adh-d haruratu tunbihul mahzhurat?


SARJ UN


Apakah kondisi seperti itu sudah darurat?


PAPA


Menurutmu, keselamatan manusia bukan ukuran darurat?


SARJ UN


Anji ng adal ah anjing. Babi adal ah babi. Najis tetap najis dan haram tetap haram!


PAPA


Tuhan itu cerdas, nak. Ia ti dak akan ci ptakan tanah kalau memang kita dilarang menyentuh benda bernajis.
Hehehehe…
Kesal Sarjun seperti memuncak. Ia berdiri dan melangkah menuju belakang bangku


SARJ UN


Bah! Banyak sekali alasan Papa untuk membenarkan keinginan dan perbuatannya.


Sarjun menggeleng-gelengkan kepalanya


SARJ UN


Nah, saudara-saudara, bukankah apa yang saya saksikan di rumah tadi ti dak masuk akal?


Seseorang yang selama ini tegar tertunduk lesu dan kuyu? Ini ti dak masuk akal!


Apalagi setelah i tu saya lihat Papa menangis! Menangis? Papa menangis? Heh? Ti ba-ti ba saya dorong daun
pi ntu yang ternyata ti dak terkunci. Papa terkejut melihat kedatangan saya. Segera Papa memburu saya.
Lalu saya di peluknya erat-erat. Begitu erat saudara-saudara!


Sarjun berhenti sejenak. Ia kembali duduk dan kemudian menunduk dengan kedua tangan menutup wajah.
Keadaan jadi hening. Lama ia baru bersuara, tapi kali ini suaranya serak. Matanya kelihatan basah.


SARJ UN


Dal am pel ukan saya, tangis papa ti ba-ti ba tumpah. Saya jadi kikuk. Setelah agak lama, Papa saya ajak
duduk. Papa masih menangis terisak-isak. Saya ti nggalkan Papa di sofa, dan mengambil segelas air putih ke
bel akang.


Papa menangis? Sungguh tak masuk akal.


Sarjun diam sebentar, menghapus air mata yang menetes di pipinya. Berdiri lalu bergerak ke depan panggung.


SARJ UN


Sampai malam itu, saya masih menganggap Papa sosok yang tegar, ti dak rapuh apalagi cengeng. Saya punya
banyak al asan untuk anggapan ini.


Pernah suatu ketika saya iseng-iseng mengikuti papa buru babi. Maksud saya untuk menemukan sebuah
titik lemah sehingga Papa berhenti membeli anjing yang konon di datangkan dari Jawa. Tetapi yang saya
temukan bukan titik lemah, melai nkan noda hitam yang dicapk an kepada Papa. Ah, sa ya ti dak tahu
bagai mana mengatakan bagian ini. Papa ternyata seorang kriminal! Di hutan itu ia menanam ganja. Dan,
buru babi rupanya hanya kedok buat mengelabui saya!


Ketika itu saya ingin lari ke tempat tak bernama dan entah di mana. Saya bingung. Tetapi darah muda saya
berkata lain. Lawan! Ya, saya mesti mel awan! Saya ambil beberapa helai daun jahanam yang tengah di
jemur oleh anak buah Papa untuk saya linti ng. Saya kemudian mencari Papa.


Saya temukan Papa sedang merintih kesakitan, katanya diseruduk babi hutan. Ia hanya merintih, ti dak
menangis. Rasa i ba ti ba-ti ba menjal ar di dada saya, namun rasa benci telah meruang. Iba ti ba-ti ba tehal au
oleh benci.


Seperti ti dak tejadi apa-apa, saya menyalakan linti ngan tadi, menghisapnya dal am-dal am dan
meng hempuskan asapnya ke arah Papa. Papa mencari-cari bau, lalu berdiri dan meng ayunkan tamparan
keras ke arah saya.


PAPA


Buang ! Buang kataku! Aku menanam ganja-ganja itu bukan untuk anak-anakku. Melaink an untuk anak-
anak orang l ain. Aku hanya butuh uang untuk-anak-anakku!


SARJ UN


Hmmm, aku bangga jadi anak orang yang ti dak memikirkan anak -anak orang l ain. Aku bangga! Aku
bangga Pa!


Sarjun kembali terdiam dan duduk di bangku kayu. Keadaan kembali hening.


SARJ UN


Saudara-saudara, sekarang Papa menangis, terisak-isak. Betul-betul ti dak masuk akal. Saya lalu menaruh
segelas air putih di atas meja dan mempersilahkan Papa untuk meminumnya. Tetapi Papa tetap saja
terisak-isak bersama tangisnya. Ti ba-ti ba, Papa menyebut-nyebut nama Al pi n. Tentu saja saya terkesiap
olehnya. Al pin? Ada apa dengan Al pin? Saya jadi bi ngung saudara -saudara! Heran!


Sarjun kembali menunduk, ia seperti menahan emosinya


SARJ UN
Saudara-saudara, ternyata yang menyebabkan Papa saya menangis terisak -isak adalah karena Al pin. Al pin
adik saya. Ia di tahan polisi. Al pin tertangkap basah menghisap daun jahanam itu. Daun yang ditanam orang
lain yang ti dak rela anaknya menghisap g anja!


Mendengar itu saya betul-betul kesal! Saat itu jug a, saya ambil ransel dan segera melangkah menuju pintu.
Waktu itu saya dengar suara papa memanggil nama saya, tapi tak lagi saya hiraukan. Saya muak! Sungguh-
sungguh muak!


Sarjun makin menunduk, emosinya betul-betul memuncak, setelah merasa reda, barulah ia angkat kepalanya


SARJ UN


Begitulah saudara-saudara, saya terpaksa kembali ke Padang malam itu jug a. S aya tak sanggup menghadapi
kenakalan orang tua seperti itu. Apalagi orang tua itu Papa saya sendiri. Telah saya putuskan untuk ti dak
menemui Papa l agi. Bahkan mungkin di hari pemakamannya kelak, saya takkan hadir. S ay a tak bisa
memberi nya maaf. Saya tak bisa. Tetapi…hah…entahl ah. Mungkin suatu ketika saya bisa. Mungkin…
sebab, sampai saat ini saya masih mempercayai Tuhan dan segala skenariomya.


Sarjun berdiri, menyandang ranselnya kemudian berjalan keluar panggung. Be bannya berat


* *   *


SELESAI


KONS EP PEMENTASAN


Drama ini diilhami dari cerita ” Legenda Batu Menangis ” yang bersal dari Sulawesi Utara, karena kami
meng anggap bahwa dal am cerita tersebut banyak terdapat nilai – nilai kemanusiaan yang dapat kita
tanamkan untuk anak tingkat sekolah dasar, misalnya sikap untuk ti dak durhaka terhadap orang tua, sikap
untuk ti dak berbohong, dan menunjukkan bahwa kasih sayang orang tua ti dak akan pernah lekang sampai
kapanpun.


Dal am drama ini k ami telah mel akukan banyak peru bahan – perubahan tokoh dari cerita yang sebenarnya
dan kami telah memodifikasi cerita ini hi ngga hampir mirip dengan kisah – kisah kehidupan nyata seperti
sekarang ini.


SINOPSIS CERITA


Ada sebuah keluarga sederhana yang tinggal di suatu desa . keluarga tersebut terdiri dari seorang Ibu dan
dua orang anaknya yaitu Joko dan Anik . Meskipun hi dup dalam keluarga yang sangat sederhana, Joko
tingkah laku Joko setiap harinya seperti orang k aya . Tak jarang terjadi pertengkaran dirumah tersebut
hanya g ara – g ara lauk pada saat makan. Namun Ibu Joko dan Anik (kakak Joko) selalu bersabar
meng hadapi tingkah laku J oko, hal itu dikarenakan Joko merupakan anak laki -laki satu-satunya dalam
keluarga tersebut, apalagi setiap kali beradu mulut Joko selalu mengancam akan perg i dari rumah apabil a
keinginannya ti dak dituruti oleh Ibunya .


Joko mempunyai seorang pacar anak orang k aya yaitu anak jurag an sapi dari desa sebelah. Hal tersebut
diceritakan Joko terhadap Ibunya . Betapa terkejutnya sang Ibu pada saat Ibunya mendengar dari Jok o
bahwa di a telah berbohong deng an mengatakan bahwa dia adal ah anak orang kaya untuk mendapatkan
gadis tersebut . Dan yang lebi h menyakitkan l agi Joko menyuruh sang Ibu untuk memanggil Joko tuan pada
saat J oko bersama dengan sang kekasih, namun sang Ibu masih dapat bersabar .


Suatu hari pacar Joko memi nta J oko untuk melamarnya dan J okopun menyanggupinya deng an segala
syarat yang diajukan oleh sang pacar yaitu Joko harus menyerahk an uang sebesar Rp.20.000.000,- kepada
calon mertuanya . kejadian ini membuat Joko bi ngung dan kembali Joko mendesak Tbunya untuk
menyedi akan uang tersebut dal am waktu dua hari. Dan J oko ti dak mau tahu bagai mana caranya sampai -
sampai Jok o menyuruh Ibunya Untuk menjual tanah warisan dari bapaknya . dan lagi -l agi sang Ibu ti dak
kuasa untuk menol ak karena Joko mengancam ak an pergi dari rumah apabila keinginannya ti dak segera di
penuhi .


Dan sesuai deng an wak tu yang tel ah disepakati, Jokopun melamar pacarnya dengan memenuhi syarat yang
telah diajukan. Pada saat melamar J oko membawa sang Ibu yang telah disuruh untuk mengaku sebag ai
pembantunya . dan pada saat pelamaran tersebut sang calon mertua Joko bertanya kepada Joko tentang
orang tua Joko dan Jok o menjawab bahwa orang tua l aki-lakinya tel ah meninggal duni a pada saat Joko
masih kecil. Calon mertuanya bertanya kembali tentang Ibu J oko, J oko pun kebi ngungan untuk menjawab,
dan setelah ditanya beberapa k ali oleh calon mertuamya maka Jokopun menjawab bawwa Ibunya telah
meni nggal dunia . seketika itupun Ibu Joko ti dak dapat menahan kesa baran l agi dan secara ti dak sengaja
meng utuk Jok o menjadi patung .


                                                  KARMA


Ada sebuah keluarga yang terdiri dari seorag Ibu dan dua orang anaknya yang bernama Anik dan Joko.
Mereka hi dup dal am keadaan yang sangat sederhana .


Mbok : (sambil membawa nasi) ” Anik, l auknya bawa kesini, itu tadi yang Mbok letakkan di dek at kompor .”


Anik : (sambil membawa lauk) ” Iya Mbok ” .
Mbok : (sambil menata makanan) ” Ayo ditata dulu mak anannya setelah itu panggil adikmu Joko, kita
sarapan bersama. “


Anik : ” J oko masih mandi, Mbok “


Sesaat kemudian Jokopun datang dan duduk di antara Mbok dan Anik


Joko : ” Sarapannya apa, Mbok ? “


Mbok : ” ya seperti bi asanya toh J ok, tahu sama tempe . “


Joko : (dengan suara keras) ” Apa tahu clan tempe lagi kata Mbok ? Aku kan bosan mbok, tiap hari makan
tempe dan tahu . Pokoknya aku nggak mau. “


Anik : ” Sudahlah Jok di akan saja . Yang kita punya kan cuma ini . “


Joko : ” Mungkin Mbak bisa makan seperti ini setiap hari, tapi aku nggak bisa Mbak. “


Mbok : ” Kamu ini mbok ya ngerti toh , Mbok ini kerjanya apa ? Mbokkan Cuma buruh tani . Kamu juga
tahu sendiri kalau beberapa hari ini sawahnya kebanjiran. “


Joko : ” Mbokkan bisa cari kerja yang lain, nyuci baju orang kek, jadi buruh pabrik kek, atau yang l ainnya .
“


Mbok : ” Kamu iti gi mana toh Jok, memang cari kerja itu gampang.”


Joko : ” Ya sudah Aku makan tapi Aku nggak mau kal au besok lauknya tahu dan tempe lagi “


Akhirnya merekapun sarapan bersama. dan tiga puluh meni t kemudi an …….


Mbok : ” Anik, tol ong piring-piring nya bawa kedal am . “


Anik : ” B aik Mbok “


Mbok : ” J ok, Mbok perhatikan pagi-pagi seperti ini kamu sudah rapi , mau kemana ? “


Joko : ” Itu Mbok pacarku mau kesini, Mbok ! “


Mbok : ” jadi kamu punya pacar toh . Anak siapa ? “


Joko : ” Itu lho, anaknya juragan sapi dari kampung sebelah. “
Mbok : (sambil terkejut) Apa ….. ? Kamu pacaran sama anaknya juragan sapi itu. Memang di a mau
pacaran sama kamu yang anaknya buruh tani ?


Joko : (bi ngung ) ya aku ti dak ngomong kalau aku ini anaknya buruh tani . Aku bilang aku adal ah anaknya
orang kaya. “


Mbok : (sambil mengelus dada) Astaghfirullah Joko. kenapa kamu berbohong seperti i tu ? “


Joko : (deng an nada ag ak kerat) “ Mbok, aku lakukan i ni demi kita Mbok. Memangnya, Mbok nggak senang
kalau Mbok punya memantu orang kaya?”


Mbok : “ Ya, Mbok senang punya menantu orang kaya tapi jangan begitu caranya. Nati kalau pacarmu tahu
kalau kamu orang miskin bagai mana terus bag aiaman?”


Joko : “ Ya, aku ngggak tahu”


Mbok : “ Kamu itu bagai mana toh J ok?”


Joko : “ Oh ya nanti pacarku mau datang ke sini, dan aku mau Mbok jangan memanggil aku “anak” tapi
Mbok harus memanggil aku “tuan” dan Mbok harus mengaku sebagai pembantuku.”


Mbok : (terkejut) “ Masya Allah J oko, kamu kok tega sama Mbok, Mbokkan orang tua kamu, masak kau
menyuruh Mbok memanggil kamu tuan.”


Joko : (Sambil berdiri) “aku nggak mau tahu pokoknya Mbok harus seperti itu, kal au Mbok nggak lebih
baik aku pergi dari sini. Aku sudah bosan hi dup sebagai orang miskin, rumah yang sempit dan nggak punya
apa-apa”


Mbok : (sambil memeg ang tangan J oko) ” Ya sudah , ya sudah nnti kal au pacar kamu datang Mbok akan
berpura – pura menjadi pembantu kamu, tapi kamu j angan pergi kamu kan anak laki -laki Mbok satu-
satunya . Ya sudah Mbok ti nggal ke dapur dulu . “


Joko modar-mandir menanti kedatangan sang pacar dan sesaat k emudi an pacar J okopun datang .


Ariska : (dengan nada manja) ” Sayang, tahu nggak aku sudah nunggu lama disana . Untung tadi aku
ketemu sama Joni teman kamu. Katanya kamu suruh aku kesini . Ini rumah siapa sich sayang ?”


Joko : ” Oh ……….. ini rumah pembantuku, aku kesini menjenguk anaknya yang sedang sakit. “


Ti ba-ti ba i bunya J oko keluar
Mbok : ” Oh …… ada tamu toh .


Ariska : ” Eh !Di a siapa sayang ?


Joko : ” Oh ini ! dia adal ah pembantuku yang aku ceritakan tadi


Mbok : ” Iya, saya adalah pembantu tuan J ok o . Tuan kesini menjenguk anak saya yang sedang sakit . “


Joko : ” Oh ya ! sayang kamu mau minum apa ? “


Ariska : ” E…. ada orange jus gak yang ?”


Joko : ” Aduh sayang di rumah pembantu masak ada orange j us!”


Mbok : ” Benar Non! Saya ini kan hanya orang kampungyang ada Cuma air putih.”


Ariska : ” Ya udah deh air putih aja.”


Joko : ” Cepat Mbok ambilkan!”


Mbok : ” B aik Tuan.”


Setelah Si Mbok masuk, Joko dan Ariska berbincang – bincang di depan rumah.


Ariska : ” Ng omong – ng omong aku harus duduk di mana?”


Joko : ” Di sini aja ya Yang?”( Sambil menunjuk tikar)


Ariska : ” Apa??? Masak aku disuruh duduk di tempat yang kotor ini?”


Joko : “ Makluml ah Yang, ini k an rumahnya pembantu jadi umtuk sementara duduk di sini aja!”


Ariiska : ” Ya dah deh kalau begitu.”


Si Mbok keluar dangan membawa dua gelas air putih.


Mbok : ” Ini Non airnya, silahkan di minum.”


Joko : ” teri makasih Mbok . ya sudah silakan Mbok masuk kedal am . “


Setelah Mbok masuk kedalam, Joko dan Ariska melanjutkan kembali percakapannya.
Ariska : ” Yang, kita kan sudah lama pacaran. Kapan sayang melamar aku ? Mami sudah sering tanya. “


Joko : (sambil berfikir) ” E… B agai mana kalau bulan depan ? “


Ariska : ” Tapi Yang, Mami kan mau pergi keluar negeri . “


Joko : ” bagai mana kalau minggu depan ? “


Ariska : ” begini Yang, kata Mami 2 hari lagi Sayang harus melamar aku. “


Joko : (dengan terpaksa jokopun menyetujui nya ) ” ya sudah, 2 hari lagi aku mel amar kamu. “


Ariska : ” Tapi Yang, kata Mami ada syaratnya. “


Joko : ” Apa syaratnya Sayang ? “


Ariska : ” Saat mel amar, sayang harus membawa uang sebesar Rp. 20.000.000,-”


Joko : (terkejut)” a…… pa ? dua puluh juta ?”


Ariska : ” Sayang kenapa kok terkejut ! uang dua pul uh juta kan kecil buat sayang


Joko : (berpura – pura ) ” Ah , siapa yang terkejut . kal au hanya uang dua puluh juta itu kecil buat aku . “


Ariska : ” Jadi bag ai mana Yang ? Sayang jadi kan melamar aku ?”


Joko : ” Ya pasti dong sayang “


Ariska : ” Ya udah ya , aku pulang dulu Yang . Aku masih ada j anj i sama teman – teman mau pergi ke
Mall. Da……… (sambil melambaikan tang an)


Joko : (sambil mel ambaikan tangan) ” hati – hati dijalan ya. “


Setelah Ariska pul ang, J oko masuk kedal am rumah dengan perasaan yang bingung. Melihat joko yang
seperti itu si mbok juga ikut bingung.


Mbok : “ Ada apa to jok, kok mbok lihat sepertinya kamu bi ngung sekali ?”


Joko : ” Gini mbok, orang tua Ariska minta aku mel amar Ariska dua hari lagi”


Mbok : “ Kamu mau mel amar pakai apa jok ? kamu kan belum kerja”.
Joko : “ Mamanya Ariska juga minta uang Rp.20 juta buat melamar anaknya”.


Mbok : “Apa??? 20juta??? Kita dapat uang sebesar i tu dari mana ? kita kan hanya orang miskin, buat
makan saja kita susah. Apalagi 20 juta !”


Joko : “Pokoknya aku gak mau tahu. Dalam dua hari mbok harus menyiapkan uang 20 juta untuk mel amar
pacarku”.


Mbok : “ Masyaallah jok, ya gak mungkin toh mbok dapat uang 20juta dalam dua hari”.


Joko : “Tapi kita kan masih punya tanah peninggalan bapak yang ada di bel akang rumah itu mbok”.


Mbok : “Jok, itu kan peninggalan bapak mu satu -satunya. Masak kamu tega nyuruh mbok menjualnya”.


Joko : “Sudahlah mbok jual saja. Kalau mbok gak mau jual lebih baik aku pergi saja dari rumah”.


Mbok : “Jangan gitu toh nak, kita kan sudah g ak punya apa-apa lagi”.


Joko : “Pokoknya aku g ak mau tahu, lebih baik aku minggat kalu mbok gak mau menjualnya”.


Mbok : ” Ya udah jok, nanti mbok pikir-pikir dulu. “


Joko : “ Kal au gitu aku keluar dulu”.


Karena mendengar keri butan antara mbok dan adiknya, Anik pun keluar.


Anik : “ Ada apa toh mbok aku dengar dari dal am kok rebut saja”.


Mbok : “Adikmu ini lho, katanya di a mau melamar pacarnya dan calon mertuanya minta uang sebesar 20
juta. mbok bingung harus cari uang di mana. Mal ahan di a nyuruh mbok jual tanah peninggalan bapak mu”.


Anik : “ Terus mbok mau ?”.


Mbok : “Lha gimana lagi nik, adik mu ng ancam mau minggat dari rumah kalau mbok gak jual tanah. Dia
kan anak-anak laki-laki mbok satu-satunya”.


Anik : (deng an nada kesal) “ Mbok sih selalu saja menuruti keinginan joko”.


Mbok : “ Mbok sudah gak punya cara l agi nik. Mbok bi ngung ! !”.


Anik : “ Ya sudah, terserah mbok saja. Anik masuk dulu mau nyuci piring mbok”.
Dengan merasa terpaksa sekali, maka i bu jokopun menjual tanah peninggal an al marhum suaminya. Ibu
joko akhirnya pergi kerumah Bu Anis jurag an k aya di desanya yang bi asa membeli tanah.


Bu Anis : “Jeng…..aku baru beli kalung berlian lho bagus banget !”


Bu Hefni : “Iya to bu….., mana aku pengen lihat ! aku kemarin juga baru di beliin cincin permata sama
suamiku dari Korea Selatan”.


Ibu jok o : “Permisi Bu Anis….., kulonuwun ?!”.


Bu Anis : “Oh …monggo, lho! B u Joko, mari masuk bu. Silahkan duduk, silahkan bu !”.


Ibu jok o : “ Iya bu…terimakasih”.


Bu Anis : “ Kok tumben bu joko. Ada perlu apa ? ndak biasanya l oh i bu main kerumah saya…”.


Ibu joko : “Oh …i ya bu, begini…. maksud kedatang an saya kemari tadi pertama mau silaturrahmi dan yang
kedua mau…. anu…..saya dengar i bu bi as membeli tanah, dan saya bermaksud akan menawarkan tanah
saya di belakang rumah itu untuk saya jual kepada i bu”.


Bu Anis : “ Iya ta bu… i bu apa bawa surat-surat tanahnya ?”.


Ibu jok o : “ Ini bu !” (sambil menyerahkan surat-surat tanah)


Bu Anis : “ Iya, saya periksa dulu ya bu !” (memeriksa surat-surat tanah). Terus ibu mau menjual tanah i ni
berapa bu ?”.


Ibu jok o : “ Emmm…… kalau Rp.25.000.000 bagai mana bu ?”.


Bu Anis : “ Kok Rp.25.000.000 to bu! Kalau Rp.18.000.000 bagai mana?”.


Bu joko : “ Kok Rp.18.000.000to bu, ya udah kalau Rp.20.000.000 saja bagai mana bu… yang penting jangan
kurang dari Rp.20.000.000 ya bu…. bag aimana?”.


Ibu Hefni : “Sudahl ah jeng…. iya saja !”.


Ibu Anis : “ Ya sudah bu…baiklah, saya beli Rp.20.000.000. sekarang saya ambilkan uang dulu kedal am ya
bu !”.
Ibu Hefni : ” B u…. kok tanahnya di jual, memangnya ada keperluan apa to bu! Kelihatannya mendadak
sekali!”.


Bu j oko : ” Hemmm… iya bu, ada keperluan keluarga. Hem…”


Ibu Anis : (keluar dari kamar) ” Ibu joko, ini uangnya Rp.20.000.000, coba dihitung dulu bu !”.


Bu joko : “ Ndak bu…. saya percaya kok sama i bu. Terimakasih….kalau begitu saya pamit dulu ya bu.
Teri makasih…….”.


Bu Anis : “Oh iya bu, kok tergesa-gesa, baiklah bu…. saya juga terimakasih. Nanti kalau saya butuh surat-
surat keterangan yang lain bolehkan saya main kerumah i bu ?”.


Bu joko : “Oh iya…. silahkan bu. Ndak apa-apa ! B u Hefni juga boleh main kegubuk saya yang reot itu. Ya
sudah bu… saya pamit dulu, teri makasih. Mari…….. “.


Bu Anis : “ Iya mari-mari…..hati-hati ya bu !”.


Sementara itu, suasana dirumah Ariska pacar Joko begitu si buk mempersiapkan acara lamaran. Para
pembantu sibuk bersih-bersih dan menata rumah.


Yu : “ Aduh…..kerja kok terus, sampek coklek pinggangku ini rasanya. Eh nem nem, sini…..tak kasih tahu!”.
(kemudi an duduk)


Nem : “Ada apa to Yu…..kok semang at banget”. (sambil meletakkan sapunya dan ikut duduk).


Yu : ” Eh kamu tahu ndak, non ariska itu hari ini mau dil amar juragan kaya katanya guuuuanteng l ho!”.


Nem : “ Masak sih Yu! Aku kok ndak tau !”.


Yu : “iya! Kamu ini bag aimana to nem nem, masa sama yang terjadi pada juragan kita kamu ndak tahu?
Wong tetangga-tetangga yang beli sayur tadi semua membicarak an i tu k ok ! katanya sih, wajahnya seperti
davi d Beckham pemain sepak bola itu lho nem”.


Nem : “Da….. Davi d Beckham itu sopo to Yu !”.


Yu : “ Gusti allah nem nem, makanya kamu itu j adi orang mbok ya nonton TV. Walau kita pembantu tapi
mbok yo yang sedikit modern gitu po‟o. kaya aku i ni !”. (sambil berpose lenggak -lenggok)
Ibu Ariska : “Aduh,duh,duh,duh…… wong disuruh kerja kok ya ngerumpi ! Kalian berdua itu pi ye to Yu,
Nem! Ayo coba kamu Nem dah siap pa belum makananya di dapur ?”


Nem : “Belum ndoro putri…..(sambil ketakutan)


Ibu Ariska : “ Kok belum piye to Nem, lihat ini sudah jam berapa ? cal on besanku tuh mau dating. Ayo cepat
sana kamu siapk an makanannya! Dan kamu Yu, bersih-bersih di depan sana. Nanti kalau tamunya dating
kasih tau saya ya”.


Yu & Nem : “Inggih ndoro putri……..”.


Ida : “ Ada apa to ma…..k ok rebut aja sendiri dari tadi, k ok ngomel-ngomel terus ida perhatikan”.


Ibu Ariska : “itu loh Yu sama Nem, wong disuruh kerja kok mal ah ngerumpi”.


Ida : “ Iya tuh ma, pembantu kita itu senangnya ngegosi p melul u. Malah kemarin i tu yang namanya Nem itu
malah pacaran di pasar. Bukannya beli sayur malah kencan sama tukang ojek di depan itu loh ma”.


Ibu Ariska : “Oh iya i da , coba kamu lihat mbakmu dikamar. Dandannya udah selesai apa belum, dari tadi
dandan kok belum selesai juga. Ayo sana….”.


Ida : “ Iya-iya ma…..(sambil ag ak sewot)


Ariska : ” Mama…..aduh mamaaku udah kelihatan lebih cantik belum ma? Tu bajuku…. antingku juga
bagus kan ma?”


Ibu Ariska : “Iya-iya…. anak mama cuuanntik sekali, memang sudah s aatnya dil amar. Mbak mu cantik kan
ida ? “.


Ida : “ Iya cantik!”. (sambil cemberut karena sewot & iri)


Yu : “ Maaf ndoro putri……. diluar tamunya sudah datang”.


Ibu Ariska : “ Kamu itu piye to yu, kalau tamunya datang ya disuruh masuk to ! ayo cepat suruh masuk !”.


Yu : “ Inggih…inggih ndoro putri, inggih!” Setelah tamunya masuk…….


Ariska : “Sayang……. kamu sudah datang ya. Kami semua udah l ama nunggu kamu, k ok telat sihhh…”.


Joko : “Iya sayang maaf…… maklum Surabaya, macet!”.
Ariska : “Oh…. begitu. oh ya ma ini loh yang namanya joko pacarnya riska”.


Ibu Ariska : “Oh…. ini to yang namanya nak jojko, silahkan duduk nak joko! (sambil berjabat tangan
kemudi an menyilahkan tamunya duduk) , lho, ini siapa nakjoko?”.


Joko : “ Ehmm…ini..ini pembantu saya ma..”.


Ariska : “Iya ma, ini pembantunya sayang joko yang Riska ceritakan kemarin wak tu anaknya sakit. Mama
masih ingat kan ?”.


Ibu Ariska : “Ohh…. iya mama inget”.


Joko : “Iya ma…..betul sekali. Ma, maksud kedatangan saya kemari mau mel amar Riska ma… “.


Ibu Ariska : “Oh… i ya. Ibu sih ndak apa-apa, tapi apa k amu sudah membawa persyaratannya?”.


Joko : “Iya sudah…ini ma!” (sambil memi nta uang kepada i bunya yang disuruh berpura -pura jadi
pembantunya lalu menyerahkannya kepada calon mertuanya)


Ibu ariska : “Sebentar i bu hitung dulu ya nak! …..aduh, udah wis i bu percaya. Ayo i da kamu saja yang
hitung dikamar mama”.


Ida : “ Iya ma.. . !”. Ibu Ariska : “ Yu… Nem… !” Yu & Nem: “ Inggih ndoro putri….”


Ibu ariska : “ayo kamu buatkan minum 3 jus jeruk dan camilannnya bawa kesini ya. Cepat!”


Yu & Nem: ” kok 3 ndoro, terus yang itu bagai mana?”(sambil menunjuk pada i bunya joko)


Ibu Ariska : “udah cepet sana! Kalau disuruh itu gak usah banyak Tanya -tanya!” Yu & Nem: “Inggih
ndoro..”


Ibu ariska : “Oh iya…orang tuanya nak joko kemana? Kok ndak ikut, mama kira mereka ikut. Kok malah
pembantunya yang diajak”.


Joko : “Oh…. papa saya sudah meninggal ma… !” Ibu Ariska : “Oh sudah meninggal, maaf ya nak joko!”


Yu dan Nem masuk keruang tamu sambil membawa mi numan dan camil an. Kemudi an i bu ariska, ariska
dan joko menikmati hi dangan yang disajikan sementara i bu joko di bi arkan duduk dil antai tanpa menikamti
apapun jug a.
Ibu Ariska : “ Lalu mamanya nak joko sekarang di mana?”


Joko : “ Ehm…. mama …mama …(sambil melihat i bunya deng an bi ngung), mama saya juga sudah
meni nggal ma…”


Ibu joko : (l angsung berdiri dan menghadap pada joko) jok o! Joko anakkku! Mbok masih sehat dan
sekarang masih berdiri di hadapanmu kamu bil ang mbok sudah meninggal. Astaghfirullah…joko. Aku
mbok mu joko, yang mengandung kamu, melahirkan kamu dan sekarang di hadapanmu kamu bil ang sudah
mati joko !”


Ariska : (saat joko kebingung an) sebentar…. sayang ini siapa sich! Kamu bilang pembantu kamu, tapi kok
di a bil ang di a ini i bunya kamu. Lalu yang benar yang mana?”


Joko : “Tenang sayang ….yang benar ini bukan i buku tapi pembantuku. Dan i buku sudah meni nggal”.


Ibu jok o : “Durhaka kamu joko !ini balasan kamu joko. Aku mbokmu joko!”


Joko : “ Enak saja !kamu bilang kamu ini i buku ?” (sambil mendorong i bunya hingga jatuh tersungkur
kelantai)


Ibu joko : (sambil berusaha berdiri dan membel akangi Joko) Durhaka kamu joko! benar-benar k amu anak
durhaka! Ini balasan kamu pada i bumu sendiri ? dari pada mbok melihat anak seperti kamu lebih baik mbok
melihat patung !»


Joko   :    (ti ba-ti ba   saja   jok o   terjatuh   dan   kakinya   ti dak   bi as   digerakkan)   “Aduh   kakiku!
mbok…mbok…ampun mbok…ampun, maafkan joko mbok…”.


Ariska : (sambil menangis melihat joko) “Ada apa sayang, kamu kenapa? Kakimu kenapa ? ma …i ni
bagai mana ma…?”


Ibu ariska : “sudahlah nak…mama juga nggak tahu”


Ibu joko : “Sekarang kamu mau mengakui aku sebagai mbok mu di hadapan mereka ! sekarang kamu mau!
(sambil marah karena sakit hati )


Joko : (sambil memohon-mohon) “Ampun mbok…ampun!”


Ibu joko : ” ti dak joko, i bu ti dak akan memaafkan k amu. Ibu sudah terlanjur sakit hati! Ini memang karma
yang harus kamu teri ma!”
Dan akhirnya J okopun menjadi patung.


Ibu Joko : (berbalik menghadap Joko) ” Jok , Jok, Jok kamu kenapa nak! Ayo bicaralah pada i bu , ya Allah
Joko ! mengapa kamu jadi seperti ini nak? astag hfirullah apa yang telah aku katakan, aku tel ah mengutuk
anakku sendiri.


Dan Ibu J okopun hanya dapat bersimpuh menangis menyaksikan anaknya yang menjadi patung


Sinopsis


Pagi itu sebelum berangkat kekampus Yulia menemui kakeknya yang sedang duduk santai sambil membaca
koran. Yulia mencoba merayu kakeknya agar hari ulang tahunnya sabtu ini dirayakan, dan di a pun berhasil.
Kakek mengijinkan perayaan hari ulang tahun Yulia itu namun Di ah, sepu[u yulia ti dak menyetujui hal itu
karena di a merasa iri dengan Yulia.


Hari ul ang tahun Yulia pun ti ba, semua orang sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang di butuhkan. Tamu-
tamu mulai berdatangan dan Yulia tampak anggun deng an gaunnya. Pestanya pun meriah. Namun ti ba-ti ba
terdengar suara g aduh dan suasana menjadi hening. Semua mata yertuju pada kak ek yulia yang
menggelepar -gelepar dil antai. Cairan putih pun keluar dari mulutnya. Melihat hal itu Yulia l angsung
berteriak sambil berlari mendek ati kakeknya. Tak sepatah kata pun sempat keluar dari mulut kakeknya,
karena detak jantungnya telah berhenti.


Detektif Patricia dan kapten yang kebetulan hadir di pesta itu segera mengamankan lokasi dan mengusut
kasus tersebut. Karena i nsting dan kecerdasan detektif patricia, pel aku pembunuhan Kakek Yuli a pun
terungtkap.


Pelaku pembunuhan itu ti dak l ainadalah Wulan, kakak yulia. Yang juga adal ah cucu kakek itu sendiri.
Konon alasan wul an membunuh kakek adal ah karena wulan ti dak sengaja tel ah menemukan buku harian
ayahnya. Disana tetulis bahwa kakaknya telah merebut harta kekayaan yang seharysnya di miliki keluarga
wulan. Bahkan bi ‟Inah pembantu keluarg a sasto itu sebenarnya adal ah adaik kandung wulan yang ti dak
di akui keberadaannya karena cacat dikakinya. Namun yang ada di pikiran wul an itu salah. Sebelum acara
ulang tahun itu kakeknya telah merubah surat wasiatnya. Disana tertulis bahwa seluruh harta kekayaan
keluarga sastro akan jatuh ketang an Bi Inah sebagai pewaris tunggal. Sedangakn yang l ainnya hanya
mendapatkan rumah dan mobil.


Setelah mengetahui hal itu Wul an pun sangat menyesal atas perbuatannya. Namun apalah y ang bisa ia
lakukan , Ia hanya bisa menangis dan meyesali segala perbuatannya itu dal am Penjara.


1. TEKNIK PENYUTRADARAAN
a) Naskah Drama


Naskah drama yang berjudul “Sesal” ini adal ah merupak an gubahan dari naskah drama yang berjudul “
Pembunuh”


Babak I


Dal am babak pertama ini menceritakan sedikit karakter tokoh -tokoh yang di tampilkan dan di babak
pertama i ni pul a di tampakkan suasana di rumah keluarga Sastro.


Babak II


Dal am babak kedua ini adalah inti dari cerita drama ini. Konflik,tangis, penyesalan, dan tawa ri ang ada di
dalamnya sehingga karakter-k arakter yang berl awananpun tampak.


Keluarga Sastro adal ah salah satu keluarga yang terpandang di Bandung. Selain rumah yang meg ah,
keluarga saaastro juga mempunyai perusahaan yang tersebar di pulau jawa. Dirumah meg ah itu hanya
tinggal seorang kakek, tiga cucunya dan seorang pembantu yang selalu setia meng abdi dikeluarga tersebut.
Namun kehi dupan dal am keluarg a itu ti daak semeg ah dan seindaah rumahnya. Pertengkaran, rasa iri dan
dendam selalu menyeli muti kehi dupan mereka….


Babak 1

Pagi itu….., sebelum yulia berangkat ke kampus, dia menemui kakeknya yang sedang duduk di ruang tamu
sambil membaca koran


Yulia      agi kek…….. gi mana kabar kakek hari ini? Baik kan?


Kakek….. kakek hari i ni keliahatan seger banget, pasti…….. kakek lagi seneng ya?


(sambil bejalan mendekati kakek)


Kakek :Cucu kesayang an kakek yang satu ini , kalau udah ngerayu pasti ada maunya, ya kan?


Yulia :Kakek kok gitu sich, nggak suka kalau Yulia nemeni k akek disini, ya sudah….. kalo gitu yulia pe rgi
aja. (sambil berpaling akan meninggalkan kakek)


(Kakek meletakkan koran sambil menarik tangan Yulia)
Kakek :E…e…e…e, kok ngambek gitu? Iya-i ya kakek ngaku salah. B aiklah, untuk menbus kesalahan k akek
kamu boleh mi nta apa aja asalkan kakek bisa memenuhinya.


Yulia :Bener kek? (dengan nada terkejut sambil menatap kakek)


Kebetul an donk kek, sabtu besuk kan Yulia ulang tahun. Gi mana kal au pesta ulang tahun Yulia dirayain,
nanti yang kita undang hanya keluarga deket sama staff kantor aja, gi mana kek? (sambil memegang tangan
kakek)


Kakek :Boleh-boleh (sambil mengangguk-angguk)


Diah yang kebetulan mendengar pembicaraan mereka l angsung keluar dari kamar menuju ruang tamu
dengan wajah cemberut tanda tak setuju


Diah :Ti dak bisa!!! Dirumah ini ti dak ak an pesta apapun! Terutama ulang tahunmu Yulia! ( sambil menunjuk
Yulia).


Kakek!!!


Cucu kakek kan bukan diah aja, k akek yang adil dong, jangan pilih kasih


(dengan nada membentak)


Kakek      iah!!! Berperilakulah sopan sedikit pada orang tua,


membentak-bentak, apa itu yang diajarkan orang tuamu?


(sambil berdiri dengan nada agak tinggi)


Diah :Tapi kek…


Kakek :Ah sudahlah, kakek capek mendengarkanmu!


Bi‟ Inah ambilkan kopi !


(sambil berdiri)


Bi‟ Inah :Baik tuan


Yulia :Eh kek, pestanya jadi kan?
Kakek :Iya, nanti akan kakek atur deng an kakakmu Wulan. Sekarang, kamu berangkatlah ke kampus, nanti
telat.


Yulia :Baik kek….. Yulia berangkat ya…..


Da kakek …….


Diah :Kek, lalu bag ai mana dengan aku?


Kakek :Kamu ada masal ah apalagi sih?


Diah :Gi ni kek, sekarang kan l agi ngetrend nih kuliah di luar negeri, nah Diah juga pi ngin kek?


Kakek :Jadi kamu mi nta dikuliahk an ke luar negri, gitu?


Kenapa ti dak minta sama bapak mu?


Diah :Kakek ….. kakek tahu sendiri kan, papa tuh kerjanya nggak menentu, kadang ada job k adang nggak.


Wulan memasuki ruang an ….


Wulan     agi kek…. Kakek memanggil saya?


Kakek :Oh iya, begini aku i ngin kamu atur pesta ulang tahun adik mu Yuli a sabtu ini .


Wulan :B aik kek, siapa saja yang kita undang?


Kakek :Semua staff kantor dan jang an lupa detektif Patricia, karene ada yang ingin aku bicarakan
dengannya. Sudah jelas?


Wulan :Iya kek, kakek tidak sarapan? Ayo kita sarapan sekalian


Kakek :Ya.….ya


Kakek dan Wulan berl alu memasuki ruang an dan meninggalkan Diah


Diah :Kakek, lalu aku bag ai mana? Kakek….. kakek…..


Huh … sebel, semua orang disini menyebalkan! Yulia….. awas kamu!!! Tunggu saja, pesta ul ang tahunmu
pasti kacau! Kakek sudah pilih kasih, aku pasti akan membalas sakit hati ini!
(dengan raut muka marah)


Lalu Diah pun pergi meninggalkan ruangan.


Babak 2


Acara yang ditunggu-tunggu tel ah ti ba, semua orang sibuk mempersiapkan pelaaaaksanaan acara itu. Yulia
tampak anggun deng an gaun yang dikenakannya.Senyum keceriaan yang terpancar dari bi birnya
menambah elok wajah g adis itu….


Mal am itu … mul ai para undangan mulai berdatangan dan mereka mengucapk an selamat pa Yulia


Pengiring….


Tamu :Selamat ulang tahun Yulia


Yulia :Makasih, makasih (sambil berjabat tangan)


Tika :Met ul tah ya book…. Semoga panjang umur, sehat selalu, dan aku doain you cepet married sama pak
GM


Yulia :Thanks ya Tik…. Kamu baik deh, ntar aku bak al inget ma kamu pas aku bulan madu ke Amrik, oke!


Tika :Kamu tahu aja mau gue. Eh…. Denger-denger cal on suami sohi b gue ini naksir ama kak Wul an ya?


Yulia :Ah kamu, jangan ngomongin itu l agi deh, bosen aku ngomonginnya.


Tika :Iya deh…..


Eh lihat-lihat, siapa cewek i tu? Anggun banget…. B oleh nih kenal an, kesana dulu ah…. B ye Yulia, muach
muach…..


Tika meng hampiri detektif Patricia bermaksud untuk memperkenalkan diri


Tika :Malem nona detektif, selamat datang di ul ang tahun temen saya, Yulia.


Anda pasti detektif terkenal yang sering muncul di TV itu kan?


Pasti ti dak salah lagi, dilihat dari ujung kepal a sampai ujung kaki, nona adal ah sosok yang ti dak mudah
dilupakan.
Patricia :Anda tepat sekali, sayalah orang yang disebut-sebut sebag ai detektif terkenal itu. Anda tau, kasus -
kasus seperti pencurian berlian sampai pencuri an ayam, sayal ah yang memecahkannya. B ahkan seperti
kasusnya Rafli kemarin, anda tahu siapa yang ada di balik pengacara Ruh ut Sitompul?


Tika    asti anda kan nona detektif?


Patricia :Bukan…… karena pada masalah ini kasus yang di angkat adal ah laki -laki yang sudah menikah, jadi
…. Saya ti dak begitu tertarik


Tika :J adi intinya, anda hanya menang ani kasus artis -artis muda dan keren donk


Patricia :Ya….. boleh di bil ang begitu.


Satu persatu tamu berdatang an mengucapkan selamat pada Yulia, tetapi hanya dyah yang ti dak
meng uccapk an selamat…


GM :Selamat ul ang tahun ya sayang…..


(sambil bersalaman)


Tika :Cieh….. mesra banget, jadi ngiri nih ngeliatnya!


(sambil tersenyum-senyum)


GM :Bisa aja kamu


Nungguin siapa Yang, kok acaranya belum di mulai?


Tika :Gi mana sih! Ya nunggin sang pangeran donk…!


Yulia :Ya… ya


Nana kamu buka acaranya sekarang aja, kan temen-temen dah pada dateng.


Nana :Oke deh….. (sambil berjalan ke tengah ruangan)


Selamat malem teman-teman makasih ya, dah dateng di pesta temen kita Yuli a yang ke 20 tahun. Sambil
nunggu temen-temen yang lain, kita saksikan dulu penampil an yang berikut ini.


[Musik + dance, Ti ba-ti ba …., Pyaaarrrr!!!]
Yulia :Kakek…!!!


(sambil mendekati kakeknya yang tergeletak dil antai)


Para tamu pun mel onggok kaget


Patricia :Tunggu…..!!!


Jangan ada yang menyentuh tuan Sastro!


Letnan tol ong kumpulkan para tamu diluar dan panggil penyi dik untuk mengetahui penyebab kematian Pak
Sastro.


Letnan :Baik!


Secepatnya penyi dik ak an ti ba disini.


Pasukan periksa para tamu!!!


[Setibanya penyi dik dilokasi kejadian ….]


Penyi dik :Letnan, menurut hasil laboratorium Tuan Sastro meninggal karena zat arsen dalam mi numan ini.
(sambil menunjukkan hasil lab)


Yulia :Arsen… ??


Apa itu?


Penyi dik :Zat arsen adalah zat racun berbahaya yang dapat mematikan dalam wak tu beberapa menit saja.
Dan zat i ni biasa digunakan untuk campuran racun tikus


Diah :Bi‟Inah ….!!!


Bi‟ Inahlah pelakunya…!!


Bi‟Inah kan yang biasanya buati n kakek minum!


Bi‟Inah :Non, wal aupun saya orang miskin, saya nggak pernah ada niat membunuh tuan besar, bagi saya
bisa bekerja dirumah ini saja , saya bersyukur sekali.


Sumpah non…. !
Saya nggak membunuh tuan besar. (mengatakan sambil menagis)


Diah :Aa…lah….!!!


Jangan sok cengeng deh,


Heh!! Kamu pikir air matamu itu bisa meng hapus bukti-bukti yang bisa memberatkanmu.


Yulia    iah!!!! (sambil menampar diah)


Tutup mul utmu !!


Kamu jang an sembarangan kalo ng omong!


GM :Sudahlah…. Kalian jang an bertengkar sendiri,


Disini ada detektif patricia dan letnan yang akan mengusut siapa pembunuh pak sastro.


Ti ba- ti ba wulan datang sambil berl ari menuju jenazah k akek.


Wulan :Kakeeeek….!!! (sambil menangis)


GM :Wulan, sudahlah… Tuan Sastro sudah ti dak ada.


Sabarlah…. (sambil mendekati wulan)


Wulan :Ti dak…!


Kakeeek!


Siapa yang membunuh kakek….?!!


Siapa…??! (sambil mengoyak-ngoyak badan GM)


Letnan :Nona Wulan,


Tenangkan diri anda, kami akan mengusut k asus pembunuhan ini.


Patricia :Bi‟Inah, J am berapa tuan minum obat?


Bi‟inah :Setiap pukul 19.30, tuan harus sudah minum obat.
Tapi, tadi pukul 19.00 tuan sudah minum obat.


Patricia :Kapan anda menyi apkan air ini un tuk minum obat?


B1‟Inah :Air ini sudah saya siapkan sejak pukul 18.00


Tadi non Yulia tahu kok, saya mengambil air dari botol yang bi asa tuan mi num.


Yulia :Itu bener nona detektif,


Saya tahu dan saya pun sempet mi num air dari botol yang sama.


Patricia :Nona Wul an, dari mana anda barusan?


Wulan :Saya baru datang dari giant.


Patricia     ukul berapa anda pergi ke giant? Dan untuk apa anda pergi kesana?


Wulan :Saya pergi keGi ant untuk mengambil kaca mata Yulia dan membelikan Es krim dan coklat. Saya
berangka pukul 18.00


Patricia     Mengangguk-angguk)


Pengiring….


Setelah semua barang bukti dikumpulkan dan para saksi dimi nta keterangan akhirnya detektif patricia
menemukan siapa pelakunya


Patricia : Berdasarkaj ali bi masing-masing orang yang ada disini, aku sudah menemukan siapa pelakun ya .
Iya………..kamulah pel aku utama yang telahy membunuh Pak Sastro (menunjuk Dyah)


Dyah :Eh….nona Patricia, anda jangan sembarang an menuduh, anda bisa saya tuntut karena merusak nama
baik saya.


Anda i ni sebenarnya detektif g adungan atau detektif gedongan sich……..???


(sambil menunjuk kearah Patricia).


Patricia :Nona Dyah …..!!! aku ti dak menuduh anda, tapi aku menunjuk orang yang berdiri di belakang
anda. Kamu, iya………….kamu wulan
(sambil menunjuk kewulan).


Wulan :Aku……..!!! (dengan ekspresi terkejut)


Nona detektif, anda jang an menuduh sembarangan, jel as -jelas saya tadi sudah bil ang kalau saya pergi ke
Gi ant untuk mengambil k acamata yuli a dan membelikan eskrim dan coklat.


Partricia :Wulan ……….!!!Kamu jangan melucu seperti itu


(sambil tersenyum sinis).


Memang jarak rumah ini ke Giant membutuhkan waktu ½ jam. Jadi kal au PP kurang lebih 1 jam baru
sampai. Sedangkan berbelanja coklat, es krim dan meng ambil kacamata membutuhk an waktu kurang lebih
15 menit. Dan kalau di jumlahkan waktu yang di perlukan kurang lebih 1 jam 15 menit. Tapi, bag ai mana
kalau seandainya kamu telah mengambil kacamata itu, membelikan coklat dan kue kering pada wak tu siang
tadi , apa itu juga termasuk salah satu hitung an ? Yuli a, apa es krim yang kamu pesan ada?


Yulia :Kata kak Wul an sich…..!!! hari ini semua eskrim di s walayan itu di pesan sama pemilik showroom
mobil untuk pesta ultah anaknya. Jadi ti dak ga ada eskrim yang tersisa.


Patricia :Kenapa ti dak menyuruh kak akmu untuk membelikan di tempat lain ?


Yulia :Karena aku ti dak begitu suka dengan eskrim selain dari toko sakura i tu, toko sakura kan terkenal
eskrimnya dan kak wulan tahu ini.


Patricia :Wulan, sebenarnya eskrim itu sudah kamu belikan, tapi berhubung eskrim itu mencair kamu lalu
panik dan membuat al asan itu. Kamu sebenarnya ingin menaruh eskrim itu di lemari es,tetapi kamu takut
yulia akan mengetahui eskrim itu, l alu akan mengetahui semua rencanamu. Dan satu hal lagi, usahamu
untuk menyal akan AC mobil ti dak bisa membantu mendi nginkan sebungkus eskrim. Ali bi mu tentang
membeli eskrim dan kue kering dan meng ambil kacamata hanya al asan yang justru akan memberatkanmu
pada masal ah yang kau ci ptakan sendiri. Kamu ri dak bisa menyangkal kamul ah pembunuh Tuan Sastro. Air
yang di minum Pak Sastro telah kau beri racun, saat semua orang telah mengira kamu pergi ke Giant.


Letnan :Jadi bungkus racun arsen ini ada pada si pel aku.


Patricia : Iya


Letnan : Petugas cepat periksa Wulan….!!!


Petugas :Ti dak ada Bu (setelah memeriksa Wulan)
Patricia :Coba buka sepatumu


(Melihat kedalam sepatu Wulan dan mengambil bungkusan yang ada di dal amnya)


Letnan :Jelas sudah. Penyi dik. Periksa bungkusan ini ….!!!


Penyi dik :Benar B u, ini adal ah bubuk arsen


Wulan :Ha..ha..ha.. (sambil tertawa getir)


Bisa juga rencanaku diketahui olehmu nona detektif. Memang akulah yang membunuh kakek. Ini aku
lakukan karena aku ti dak sengaja menemukan diary ayah di l aci kakek. Disitu tertulis bahwa kakek telah
meng ambil hak keluarg a kami. Bi‟ Inah yang sudah bekerja selama bertahun-tahun disini, sebenarnya
adikku yang ti dak diinginkan keberadaannya, karena dia cacat. Ibuku telah disumpah oleh kakek, kalau
rahasia ini terbongkar maka tak sepeserpun warisan kakek akan jatuh ke tangan kami.


Patricia :Wulan, tindakanmu terlalu gegabah. Sebenarnya kakekmu sebelumnya telah membuat surat
wasiat, yang mana surat i tu, isinya adal ah semua harta keluarg Sastro dan aset-asetnya di berikan kepada Bi‟
Inah sebag ai pewaris tunggal. Sedangkan yang l ainnya hanya mendapatkan sebuah rumah dan mobil.


Bi‟ Inah :Non, wal aupun semua orang mengira kakek jahat, sebenarnya beliau adalah orang yang baik,
beliau ti dak pernah membentak ataupun memarahiku. Beliau selalu bercerita, kenapa keluarg a ini ti dak
pernah rukun. Beliau sang at mengharapk an sebuah keluarga yang harmunis.


Wulan :Kakek………..kakek………..!!! (sambil memeluk kakek)


Maafkan aku kek, maafkan aku ……………..


(dengan tangis isak penyesalan)


Letnan     etugas!!! borgol dia!!!


Petugas :B aik Bu


Penyesalan memang selalu datang di akhir, isaak tangis, jerit hati dan rasa i ba pun tak mampu kembalikan
apa yang tel ah terjadi. Wul an hanya bisa menangis. Ia menyesal tel ah mel akukan kejahatan itu. Namun
apalah yang bisa ia lakukan,, i a hanya bisa menangis dan meratapi segala perbuatannya itu di dalam
penjara.


Kisah cinta dan lai n-lain
Sebuah sandi wara pendek


Karya: Arifin C. Noer


MEWAH, MUS IK S EB UAH RUANG TENGAH DARI S EB UAH RUMAH YANG SANGAT S EPI.


PINTU KAMAR ITU TERTUT UP, RUANG LENGANG


OTONG LEWAT.


PINTU KAMAR ITU TERB UKA: TUAN MANTO DAN DOKTER X MUNCUL


1. Tuan             : Tak ada jalan lain, dokter?


2. Dr.X            : (menggeleng)


3. Tuan             : Mungkin ada, mungkin ada dokter l ain yang bisa menol ong?


4. Dr.X            : Hasilnya ak an sama. Ini bukan semata penyakitnya yang memang sang at parah, tapi
juga usianya yang sudah sangat tua. Dan l agi dia tak punya sedikitpun semang at dan kemampuan untuk
hi dup.


5. Tuan             : B arangkali saya yang salah. Kami agak terl ambat menghubungi barangkali


6. Dr.X            : Saya kira tuan dan nyonya sudah cuku p berusaha seperti jua saya. Nah tuan, saya kira
sudah wak tunya saya pergi. Saya harap tuan dapat menghi bur hati nyonya supaya tabah.


7. Tuan             : Teri ma kasih dokter


8. Dr.X            : Selamat sore tuan


9. Tuan             : Selamat sore


Dr.X DAN TUAN MANTO EXIT.


PINTU TERB UKA NYONYA MUNCUL DALAM TANGIS , TUAN MUNCUL LALU MENGHAMPIRI


10. Tuan            : Sudahlah


11. Nyonya          : Kau harus dapat menyembuhkan. Kau tau saya sangat sayang kepadanya.
12. Tuan              : Apalagi yang harus saya perbuat?


13. Nyonya           : Saya ti dak peduli


14. Tuan              : Sudah dua orang dokter


15. Nyonya           : Bila perlu seluruh dokter hewan yang ada. Saya ti dak perduli dengan apa yang akan
kau perbuat ( di am ). Kau jangan di am saja.


16. Tuan              : (meledek). Apa saya banti ng saja di a?


17. Nyonya           : Kasarnya (menjerit, menangis) (lalu exit)


18. Tuan              : Maar saya bingung (menghampiri exit)


WEKER MENUNJ UKKAN JAM 16:30. OTONG MEMUTAR JAM ITU LALU EXIT


PINTU TERB UKA, DOKT ER Y. MUNCUL LALU EXIT, LALU TUAN DAN NYONYA MUNCUL


19. Nyonya           : dia memang dokter paling bodoh yang ada di J akarta ini. Kenapa kau panggil dokter
pandir itu?


20. Tuan              : Siapa lagi kenalan kita? Professor Marjo?


21. Nyonya           : Ya, orang tua itu pasti bisa menol ong nyawanya, apa Nyonya : Di a memang dokter
paling bodoh yang ada di J akarta ini. Kenapa kau panggil kau percaya pada mulut dokter s wasta tadi?
Bahwa umurnya tinggal satu jam


22. Tuan              : Tak tau lah ( exit )


TERDENGAR S UARA TUAN MANTO MENGHUB UNGI PROFESSOR MARJO LEWAT TELEPHON


23. Nyonya           : Willem !


24. Willem            : (muncul) ya, nyonya


25. Nyonya           : Buatkan bubur, sop sudah masak?


26. Willem            : Sudah nyonya.


27. Nyonya           : Dagingnya sudah hancur?
28. willem    : Dagingnya jug a sudah, nyonya


29. Nyonya    : Bawa saja sup i tu kekamar dulu. J uga susunya


30. Willem    : Saya nyonya (exit)


TUAN MUNCUL


31. Nyonya    : Bagai mana?


32. Tuan      : Sebentar l agi dia datang


33. Nyonya    : Di a pasti datang


34. Tuan      : (memotong deng an keras). Otong!


35. Otong     : (muncul) ya, Tuan.


36. Tuan      : Siapa yang mematikan AC itu?


37. Otong     : Saya tuan


38. Tuan      : Bangsat!!


39. Nyonya    : Saya yang nyuruh


40. Tuan      : Udara begini panas


41. Nyonya    : Saya tau


42. Tuan      : Lal u kenapa harus di matikan AC itu?


43. Nyonya    : Saya ti dak tau. Tadi saya ingin AC itu mati. Sekarang ti dak lagi


44. Tuan      : Hi dupkan otong!


45. Otong     : Saya tuan (exi t)


46. Nyonya    : Profesor itu pasti bisa menyembuhkanya.


47. Tuan      : Jangan berharap berlebihan nanti kau terlalu kecewa
WILLEM MUNCUL MEMB AWA S UP DAN S US U MAS UK KEDALAM KAMAR


48. Nynya             : Saya yakin sekali. Sangat yakin entah apa. Tapi sekarang ti dak jug a professor


itu ti dak sanggup menyembuhkanya lebih. Ia berhanti saja memberikan kuliah -kuliah(ti ba-ti ba). Tuhan apa
dosa saya maka kau sakiti hati saya ?


49. Tuan               : Otong!


50. Otong              : (muncul) ya, tuan


51. Tuan               : Sambut kedatangan Professor Marjo di Muka


SUARA MOB IL FADE IN-S TOP


52. tuan               : itu dia. saya kira, segera.


53. otong              : saya tuan (exit)


PINTU TERB UKA WILEM MAS UK


54. wilem             : di a tak mau makan nyonya


55. nyonya            : taruh saja makanan itu di sana


56. wilem             : saya nyonya


57. nyonya            : lalu sediak an teruntuk tuan professor


58. wilem             : saya tuan


WILEM MAS UK KE KAMAR PINTU KEMBALI TERTUTUP, OTONG MAS UK MEMB AWA TAS.


MAS UK KE DALAM KAMAR B ERPAPASAN DENGAN WILEM.


59. tuan & nyonya : selamat sore pak professor


60. professor   : selamat sore, di mana ?


61. tuan               : di dal am prof
62. nyonya           : silakan masuk prof


MER EKA MAS UK KEDALAM B ERPAPASAN DENGAN OTONG DAN OTONG MENUT UP PINTU.


63. otong            : kasihan di a, tapi memang sudah tua


WILEM MUNCUL


64. otong            : bagai mana menurut kau ?


65. wilem            : ndak tahu


66. otong           : makin parah ?


67. wilem            : ndak tahu. Tapi tetap saja saya kira, seperti kemarin, ya gusti orang macam apa


di a ?


68. otong            : kenapa kau


69. wilem            : saya takut nyonya jadi gila


70. otong            : mana mungkin nyonya jadi gila hanya k arena binatang


71. weilem           : kenapa ti dak mungkin ?


72. otong            : lumrah orang mencintai anji ng kesayangannya


73. wilem            : memang tapi saya belum pernah melihat laku yang berbeda seperti itu, saya belum
pernah melihat nyonya bertindak miri p seperti orang gila dan sedemikian rupa menjadikan kota J akarta ini
repot karena mencintai anjng kecuali nyonya saya yang sekarang. Lalu saya menyangka nyonya pantao
adalah majikansaya yang paling kranji ngan oleh anjingnya tapi rupanya ti dak.ada nyonya l aen yang
melebihi.


Kau lihat sendiri sejak kemarin rumah ini begitu sibuk hanya disebabk an anjing nyonya


74. sementara tak sepicing pun mata memperhatikan ketika kau kena mal aria begitu ?


75. wilem            : bukan. Saya hanya kuatir nyonya jadi ti dak beres. Saya yakin sebentar l agi seluruh
Jakarta ak an si buk hanya karena anjing itu. Memang nyonya kita i ni nyonya seorang pemuka yang amat
terkenal. Yang amat berpengaruh, seorang peng arang besar, seorang wartawan besar, seorang pemi mpin
partai, pendeknya seorang sang at berwi bawa. B ahkan ia adal ah seorang jutawan deng an perusahaan-
perusahaan dagangnya yang besar- besar. Tapi saya sampai tak habis piker, bahkan ketika saya belajar
di bangku SKKA dul u di sol o, saya belum pernah membaca cerita seperti ini, sungguh ajai b bahwa kesibukan
ini hanya disebabkan yang sudah sang at tua deng an moncong nya yang sang mi njijikan.


76. otong             : Nyonya saya yang dulu . nyonya frita selalu ti dur dengan anjingnya setip mal am.


77. wilem            : Gila , suaminya ??


78. otong             : seperti bi asa selalu ti dur dikamar kerjanya


PINTU TERB UKA , PROPES OR MUNCUL, KERAS B ERFIKIR,,, LALU TUAN DAN NYONYA


79. tuan              : fatal, prof..?


80. nyonya           : bagai mana prof ? (ti dak ada jawaban) masih ada harapan bukan.?


81. professor         : selalu saya bekata begitu , tetapi yang sering terjadi selalu yang sebaliknya
(terbangun dari renung anya) ya, kenapa ti dak? Masih ,selalu- selalu . kenapa?


82. nyonya           : kalau begitu tuan dapat menyembuhk annya bukan?


83. professor         : saya kira saya ti dak . tapi pantang buat saya mengatakan fatal terhadap setiap
pasien saya. Ya, setidak-ti daknya begitulah , seti dak-ti daknya kita harus mempercayai harapan.
Ya,,barangkali kita sendiri cemas sang at cemas itu sudah wajar.. tuan dan nyonya harus percaya
bahwa……………. Anjing itu akan sembuh. Seprti saya juga harus percaya penyakit istri saya yang hamper
selama usianya ini akan hilang. Tapi juga saya harus jujur bahwa saya ti dak mampu mengobatinya . jangan
cemas tabah. Nyonya tahu bahwa herder saya baru saja mel ahirkan ? anjing kecil yang mungil itu ak an
saya bawa kemari . nyonya tentu sangat suka.


84. tuan                      : artinya prof ??


85. professor         : artinya kal au tuan dan nyonya percaya kepada tuhan lebih baek semuanya
di pasrahk an pada-Nya . jel as sudah bahwa di a dapat ber buat apa saja. Sembuh mungkin ?ti dk sembuh
mungkin ..saya kira ini kata-kata yang paling tepat (kepada tuan) tuan harus pandai-pandai menghi bur
hatinya. Di a menci ntai anjingnya itu seperti mencintai paru-paru kita. Lumrah ..ini bukan peristi wa yang
aneh adal ah sangat lumrah, kalau tuan menganggapnya aneh itu hanya menandakan bahwa tuan belum
memahami dengan baik apa itu ci nta .(ketawa) saya pernah membunuh (ketawa) nyonya yang manis , besok
pagi herder saya kecil akan bertamu kemari agar nyonya dapat memul ai percintaan yang baru (exi t)
86. tuan                     : otong


87. otong             : (muncul) ya , tuan


88. tuan                     : antarkan professor marjo


89. otong             : saya tuan (exit)


90. tuan                     : lebih baik kamu mandi dulu (istrina diam) paling ti dak mau istirahat


91. nyonya            : aku ti dak capek ti dak lelah aku hanya ingin kesembuhan tony


92. tuan                     : tentu, tentu. Tapi tudurlah kau.


93. nyonya            : kenapa, coba kenapa?


94. tuan                     : sayang, kau harus


95. nyonya            : kau selalu ti dak peduli. Selalu. Aku memang ti dak mungkin melahirkan anak tapi
ti dak perlu kau selalu cemberut dan kesal begitu.


96. otong             : (muncul) pak dukun sudah datang tuan?


97. tuan                     : siapa?


98. otong             : pak dukun dari kampung melayu


99. nyonya            : bawa masuk, bawa masuk.


100. tuan           : kenapa pul a kau?


101. nyonya        : kal au perlu dukun sulap di panggil asal dapat menyembuhkan tony sayang(pada otong).
Bawa masuk dia. Beri makan dulu, atau ti dak, ti dak usah. Nanti saja kalau sudah pasti dan dapat
menyembuhk an tony


102. otong         : saya nyonya (exit)


103. nyonya        : wilem


104. wilem         : (muncul) ya, nyonya.
105. nyonya   : dupa


106. wilem    : baik nyonya


107. nyonya   : kembang-kembang jangan lupa


108. wilem    : semuanya sudah siap, nyonya


109. nyonya   : segera bawa kemari


110. wilem    : saya nyonya (exit)


MUNCUL OTONG DAN DUKUN.


SELAMA ADEGAN INI TUAN MUNDAR-MANDIR


111. Dukun    : selamat mal am nyonya.


112. nyonya   : selamat mal am. Pasti sembuh buk an?


113. dukuk    : Allahua‟l am bissawab. Tuhan yang tau. Saya ini Cuma perantara dan bersifat coba-
coba.


114. nyonya   : silahkan


115. dukun    : di mana yang sakit nyonya?


116. nyonya   : di dal am masuklah


117. dukun    : anak nyonya?


118. nyonya   : anjing saya, tapi sama saja. Masuklah


119. dukun    : anjing?


120. nyonya   : ya, kenapa?


121. Dukun    : maaf saya belum bisa


122. nyonya   : l alu ?
123. dukun        : Baik, saya coba ?


DUKUN DAN NYAONYA MAS UK KAMAR LALU MUNCUL KEMBALI.


124. Dukun       : Lebi h baik diluar saja nyonya.


125. nyonya      : kenapa ?


126. dukun        : perasaan saya mengatakan yang menunggu ada diruang an ini.


127. nyonya      : siapa?


128. Dukun       : yang menunggu, eh maksud saya itu yang mengganggu, itu makhluk,          eh…


129. nyonya      : Saya mengerti


WILEM MUNCUL MEMBAWA DUPA DAN KEMB ANG DALAM STOPLES


130. Dukun       : J ang an di atas meja. Di bawah.


131. Nyonya      : jendel a perlu di buka


132. dukun        : Ti dak, ti dak perlu


133. Nyonya      : J angan ada suara ?


134. Dukun       : sebaiknya begitu


135. nyinya       : semuaya tenang


136. dukun       : Terlebih dahul u, nyonya, maafkan saya, saya ingin meng ajuk an pertanyaan-pertanyaan
kepada nyonya, saya harap nyonya


137. nyonya      : baik


138. Dukun       : Selama ini ada musuh nyonya ?


139. Nyonya      : Musuh ?


140. Dukun       : maksud saya, eh yang ti dak suka pada nyonya
141. Nyonya        : O, banyak, tapi umumnya mereka ti dak mengganggu


142. Dukun         : Atau yang benci kepada anjing itu ?


143. Nyonya        : ti dak, ti dak ada: semua orang sangat menyukainya berapa ornag nyonya i ngin
memilikinya. Oh, saya tentu saja ti dak memberikannya pada nyonya-nyonya itu. Ti dak setiap orang bisa
meladeninya.


144. dukun         : teri ma kasih nyonya, permisi.


DUKUN MULAI B EKERJ A


145. nyonya        : jangan ada suara. Kalau mau batuk pergi dari sini.


146. dukun         : ma‟af, nyonya, saya sedang mul ai


147. nyonya        : permisi


DUKUN MULAI B EKERJ A KEMBALI DI DEPAN ASAP DUPA IA B ERKOMAT -KAMIT


148. dukun         : (ngedan) disini?-disana?-disini?-kenapa? Saya mohon-(terpukul) ma‟af-saya-kasar
ma‟af saya mohon ma‟af-di mana saja, (dukun menjerit, setelah menjerit ia terpel anti ng dukun jatuh seperti
pi ngsan)


149. nyonya        : Kenapa di a? Otong, wilem, ambil the!


150. dukun         : ti dak usah nyonya. Saya ti dak apa-apa. Memang luar sini


151. nyonya        : bag ai mana pak dukun?


152. dukun         : ma‟af, biarl ah saya istirahat dulu


153. nyonya        : silahkan, oh, saya g ugup sekali


TERDENGAR S UARA ANJ ING


154. Nyonya        : i a bersuara


155. otong         : Bukan nyonya, itu suara si bi ma anjing tuan broto


156. nyonya        : bag ai manapun saya harap ia akan bisa bersuara. B agai mana pak dukun?
157. dukun          : (berat) menyesal sekali nyonya, saya harus meng atakan bahwa musuh saya ti dak
sepadan dengan saya. Ia luar bi asa kuatnya bukan saja badan tapi rohnya. Dan saya sangat menyesal sekali
harus meng atakan kepada nyonya bahwa nyonya rupanya mempunyai saingan yang sangat kuat.


158. nyonya         : maksud bapak?


159. dukun          : nyonya mencintai anjing itu buk an?


160. nyonya         : saya mencintai tony seperti saya mencintai hi dup saya sendiri.


161. dukun          : anjing maksud saya nyonya


162. nyonya         : ya,


163. dukun          : nyonya mencintainya?


164. nyonya         : di a bahkan berhak minta apa saja kepada saya


165. dukun          : dan sebaliknya


166. nyonya         : di a pun mencintai saya seperti di a mencintai keanggunannya sebagai bull dog


167. dukun          : tapi nyonya yoh bisa mengetahui bahwa selama beberapa hari ini anjing itu telah jatuh
hati kepada yang l ain


168. nyonya         : siapa? Nyonya situmorang? Mana mungkin.


169. dukun          : buk an, nyonya. Maksud saya makluk lain yang ghai b.


170. nyonya         : ti dak mungkin. Tony tak akan mungkin bisa mencintai siapapun kecuali saya. Dia tak
akan mulupakan bag aimana suatu malam hujan i a saya pungut dari pekarangan. Seekor anjing yang kecil,
kehujanan, sendirian dan lapar. Ti dak. Ti dak mungkin.


171. dukun          : ma‟af nyonya. Tapi bag ai manapun juga seperti apa yang saya katakana tadi saingan
nyonya sangat berat. Ia yang ghai b i tu ketat memeluknya dan tak hendak mau melepaskanya. Saya sendiri
telah berusaha merenggutnya tapi dia sangat kuat dan bahkan ia dengan kakinya sebesar kaki gajah
menendang saya.


172. nyonya         : bangsat ( menangis)
PAUZE


173. Nyonya       : jadi bapak juga


174. dukun        : ma‟af nyonya, saya sudah berusaha, berichti ar sekuat tenaga saya, semampu ilmu yang
saya punyai namun Tuhan mempunyai kemauan yang bertentangan dengan saya dan karena saya Cuma
manusia maka saya harus meneri ma apa saja akhir lak on yang dikehendakiNya.


175. nyonya       : Tak ada yang bisa menolong saya


176. dukun        : hanya Tuhan yang punya wewenang nyonya.


NYONYA MENJATUHKAN DIRI KEATAS SOFA DAN MENANGIS, TUAN MENGHAMPIRINYA,
LALU TUAN MENGHA MPIRI DUKUN DAN MENYERAHKAN B EB ERAPA LEMB AR UANG. OTONG
MENGANTAR DUKUN EXIT


177. Tuan         : wilem, bawa masuk barang-barang i tu.


WILEM MEMB AWA MAS UK DUPA DLL, NYONYA TIBA -TIBA MAS UK KEKAMAR DAN LALU
KEL UAR LAGI


178. nyonya       : wilem


179. wilem        : (muncul) saya nyonya


180. nyonya       : otong


181. otong        : (muncul ) saya nyonya


182. nyonya       : pap


183. tuan         : Ya, sayang


184. nyonya       : benar seperti kata pak dukun tadi, s atu-satunya jalan yang ada hanyalah kita mohon
kepada Tuhan untuk kesembuhan tony (kepada otong) otong


185. otong        : saya nyonya


186. nyonya       : wilem


187. wilem        : saya nyonya
188. nyonya         : masing-masing deng an cara agamanya. Ki ta semua sekarang harus berdo‟a


untuk kesembuhan tony. Kita mulai pap


UPACARA B ERDO‟A DIMUALAI. B EB ERAPA SAAT KEMUDIAN TERDENGAR MUS IK MIS TERIUS
DAN S UARA ANJ ING


189. Nyonya         : di a mulai bersuara


190. wilem          : itu suara sibi mo, anjing tuan broto, nyonya


191. nyonya         : gila k amu, bagai mana mungkin saya ti dak dapat membedakan suara anjing saya


dengan anji ng orang l ain


TERDEGAR LAGI S UARA ANJ ING


192. nyonya         : di a bersuara lagi. Makin semangatlah kalian berdo‟a. Tuhan mul ai mendengar


do‟a kita. Tuhan memang maha adil


193. tuan           : sayang


194. nyonya         : kau harus berdo‟a juga pap. Lebih dari biasanya


TERDENGAR LAGI S UARA ANJING


195. nyonya         : ( berbisik ) tony sayang. ( berdo‟a ) Tuhan, Tuhan, Tuhan, jangan tinggalkan


saya. Tuhan dengan apa saya harus laksanakan persembahan saya kepada Mu agar l ahir cahaya rahmatMu
bagi kesembuhan tony-Tuhan-Tuhan-Tuhan jangan ti nggalkan saya, saya ti dak mau kesepian lagi.


TERDENGAR LAGI S UARA ANJING DAN MAKIN J ELAS


196. nyonya         : (meledek) di a bangun


197. tuan           : sayang


198. nyonya         : ada apa pap. Rupanya sejak tadi k au ti dak berdo‟a. k au kejam pap. Kau ti dak


punya rasa kasihan. Kau ti dak punya rasa peri kemanusiaan. Rupanya
199. tuan          : mam, kau jang an sal ah faham


200. nyonya        : kau sungguh-sungguh kejam.apa beratnya permintaan ini.


201. tuan          : sayang,sekali lagi saya bilang kau jangan salah teri ma.terus terang saya ti dak


tega melihat kau semakin berduka.wajahmu begitu kusut hanya karena memikirkan tiny


202. nyonya        : hanya karena?kau anggap tony i tu apa?oo, kau sungguh-sungguh


kejam.sungguh-sungguh kau tak punya hati.ya tuhan ampuni di a.apa yang menyebabkan dadaku dingin
seprti baja i tu?saya sungguh ti dak percaya kau akan bisa berubah seperti ini .dua puluh tahun yang lalu aku
selalu membayangkan k au seorang lelaki yang paling romantic.tuhan saya mersa betul-betuk
kehilngan.di mana kau?lelaki yang romantic itu,lelaki yang hang at i tu kemana pap?semakin jauh rasanya
jarak antara saya dan lelaki itu.dan selam dua puluh tahun jarak itu semakn lebar,dan setiap kusadari
semakin meng anga,mengerikan bag ai mulut seekor


hari mau.(deng an nada lai n),wilem kau harus selalu berdoa juga kau otong


203. Ot dan Wi     : ya,nyonya


204. Nyonya        : sudahl ah,sudahlah habis waktu kita.apa kau bilang tadi?hanya karena ka u


anggao tony itu apa?kau sungguh-sungguh robot.k au sungguh-sungguh batu.kau sungguh-sungguh
berubah.hanya karena?kau anggapa apa di a?apa k au tak pernah berpikir bahwa tony juga punya rasa
sakit? Punya nyawa? Kal au kau pernah memandang matanya kau tak aka n pernah tega mengucapakna
kalimat sekasar itu.dan di mana pul a rasa keimananmu?jangan gegabah ,pap.bahk an mawarpun punya ji wa.


TERINGAT LAGI S UARA ANJ ING, MUS IK MIS TERIUS


205. nyonya        : di a mulai menangis lagi. Ayol ah kau berdo‟a pap.


TERDENGAR LAGI S UARA ANJING


206. Nyonya        : di a tertawa l agi sekarang. Tuhan tol onglah kami, tolonglah kami kal aupun ada


dosa yang melekat kapada kami janganlah kau menghukum tony. Tuhan tony begitu bersih dan setia. Tony
begitu begitu setia, begitu bersih. Tuhan tolonglah k ami. Amin.Amin. Ami n. Maha besar Kau Tuhan. Maha
penyembuh Kau Tuhan. Kal au kau tak menol ong siapa pula yang akan menolong.
Tuhan saya begitu mencintai tony dan saya tak dapat berbuat lain kecuali mencintai tony. Tuhan. Tuhan.
Tuhan


TERDENGAR MUS IK YANG MAKIN MEMUNCAK DAN S UARA ANJING PUN MAKIN MEMUNCAK


207. Nyonya        : makin keras suaranya. Makin keras serunya. Tuhan.


NYONYA B ERGEGAS MAS UK KEKAMAR TUAN LALU PINTU KEMUDIAN DITUTUP OTONG DAN
WILEM TETAP DALAM DO‟A


208. Otong         : (setelah agak lam) kau nampaknya ti dak sungguh-sungguh berdo‟a.


209. wilem         : ngapai n?


210. otong         : kelihatan pada matamu. Seperti kucing.


211. wilem         : memangnya saya mesti berdo‟a untuk bi natang itu? Kamu bag ai mana?


212. otong         : saya berdo‟a . sungguh-sungguh berdo‟a.


213. wilem         : ngapai?


214. otong         : nggak tau. Tapi saya sungguh-sungguh. B arangkali saja terkabul/nggak taulah.


Tapi saya kita bel um pernah saya begitu khusyuk berdo‟a selama ini kecuali tadi nggak taul ah


215. wilem         : ya, semul a saya jug a ingin berdo‟a sungguh-sungguh tapi aku selalu terganggu


setiap kali


216. otong         : kenapa?


217. wilem         : moncongnya yang ngece itu selalu membayang


218. otong        : ngomong-ngomong bag ai mana deng an pacarmu?


219. wilem         : (genit) ah, Tanya i tu l agi


PINTU TERB UKA DAN MUKA NYONYA NONGOL


220. nyonya        : ngapain kalian? Berdo‟a, anjing?
221. wilem         : (Setelah agak lama) kamu sungguh-sungguh?


222. otong         : Sssst


223. wilem         : (setelah ag ak lama) matamu sekarang seperti kucing


224. otong         : diam ti dak, ntar saya cium lagi seperti tempo hari


225. wilem         : (genit) ah


226. otong         : (setelah ag ak lama) he, bag ai mana pacarmu?


227. wilem         : ngapai n ah.


228. otong         : al ah, pura-pura k ayak perawan saja.


229. wilem         : memangnya saya janda?


230. otong         : lho jang an marah. Maksud saya kenapa kau malu setiap kali saya Tanya begitu


231. wilem         : kamu kadang-kadang menyakitkan


232. otong         : kadang-kadang ti dak, ing at ti dak. Ayo dulu, ingat ti dak di dalam mobil? Di


garasi? Ing at ti dak? Digudang kau kehilang an peniti? Ayo pura-pura.


233. wilem         : kamu nakal


234. otong         : kamu mau


235. wilem         : ah (diam) kamu ti dak kasihan sama bini mu?


236. otong         : kamu juga


237. wilem         : Ah


238. otong         : (ti ba-ti ba) astaga


239. wilem         : ada apa?


240. otong         : saya baru ingat sekarang. Astaga
241. wilem        : apa?


242. otong        : anak saya


243. wilem        : kenapa?


244. otong        : astaga, saya baru ingat l agi sekarang


245. wilem        : yang mana? Eh kenapa?


246. otong        : sakit


247. wilem        : yang mana?


248. otong        : yang terkecil. Yang bayi


249. wilem        : apa sakitnya?


250. otong        : mul ai tadi pagi kejang


251. wilem        : kenapa k amu ti dak mi nta izin pulang siang tadi?


252. otong        : ti dak diizinkan


253. wilem        : kenapa ti dak memaksa saja?


254. otong        : aki batnya?


255. wilem        : iya, ya


256. otong        : saya bisa saja memaksa atau minggat sebentar tapi kalau nyonya cari bisa


berabe. Kalau saya sampai dikeluarkan dan rumah i ni apa yang akan terjadi saya ti dak bisa bayangkan.
Anak saya bukan dia seorang empat


PAUZE


257. wilem        : terlalu dia


258. otong        : al ah sudahlah
259. wilem            : kau bilang l agi saja sekarang


260. otong            : nanti saya coba


261. wilem            : sudah di bawa kedokter?


262. otong            : keklinik maksudmu?


263. wilem            : iya


264. otong            : sudah saya kira. Istri saya yang bawa. Untung masih ada uang sisa. Tapi


di……..ti dak mahal!


265. wilem            : tapi kamu harus cepat pulang sekarang


266. otong            : ya, tapi nyonya menghendaki hari ini saya sampai mal am. Nglembur k atanya.


Sewaktu-wak tu mobil di perlukan


267. wilem            : tapi saya kira, kamu harus pul ang sekarang. Kasihan anak itu, kamu harus mi nta


ijin dul u sekarang


268. otong            : tapi apa kata nyonya?


269. wilem            : al ah coba saja dulu


270. otong            : (setelah di am) (lalu mengetuk pintu)


271. tuan             : (nong ol) ada apa?


272. otong            : begini tuan, saya lebih dulu minta ma‟af, karena saya harus mi nta izin pulang


berhubung anak saya yang masih bayi sakit keras.


273. tuan             : tapi betul?


274. otong            : buat apa saya bohong tuan?. S aya kira selama tiga tahun saya bekerja disini saya


ti dak pernah rewel . Setiap waktu tuan dan nyonya bisa mempergunakan tenaga saya.
275. wilem        : bayinya kejang-kejang tuan


276. wilem         : bayinya kejang-kejang tuan


277. tuan          : sekarang jam berapa? (melihat arloji ) baiklah. Tapi kalau ternyata anak mu sudah


sembuh sebaiknya kau kembali lagi kesini. Sewaktu -waktu mobil di butuhkan.


278. nyonya        : (nong ol) kau jang an sembarangan, pap. Sewaktu -waktu mobil di perlukan setiap


saat mobil harus siaga. Kau sudah tua ti dak mungkin kau sempurna mengemudikan mobil itu.


NYONYA MAS UK DIIRINGI TUAN DAN PINTU DI TUTUP.


279. Otong         : saya jug a yang salah. Dulu saya pernah bohong


TIB A-TIB A MUS IK MENGEJ UT TERDENGAR S UARA ANJING B ERTENGKAR. S ETELAH S UARA-
SUARA ITU TERDENGAR S UARA NYONYA MENANGIS KERAS


280. Otong         : Ada apa?


281. wilem         : saya kira mati anjing itu


282. otong         : kamu kira begitu?


283. wilem         : apa lagi?


284. otong         : kalau benar tony mati, kasihan tony. S aya sendiri terus -terang suka pada anjing


itu. Dia memang sudah tua sekali. Saya juga kasihan kepada nyonya.


285. wilem         : saya juga kasihan


286. otong         : sayang tony bukan betina. Kalau betina seti dak -ti daknya bisa mel ahirkan anak


dan itu ag ak dapat menghi bur hati nyonya


DARI DALAM TERDENGAR S UARA NYONYA MENANGIS


287. tuan          : (dari dalam) di aml ah sayang
SEJ ENAK KEMUDIAN PINTU TERB UKA NYONYA MENANGIS DAN TUAN MEMB UJ UK. NYONYA
TERUS MENANGIS DAN DUDUK DIATAS SOFA


288. Otong         : tuan , toni


TUAN HANYA MENGANGGUK


289. Tuan          : (meng hampiri nyonya ) kal au terus menangis bgitu tak baik untuk tony. Kau tadi


menasehati papi supaya beri man sempurna.nah, di am sayang ,. Sebagai orang yang soleh kau harus iklas
terhadap segala kejadi an. Tuhan kini tlah meng ucapk an firmannya ,.nah, kau harus menurut segala
perintahnya , kau harus relakan tony.


NYONYA TETAP MENANGIS DAN PERGI KEKURS I. DAN TUAN MENGHAMPIRI


290. tuan          : diaml ah sayang (diam) sayang (di am) di am sayang


291. nyonya        : (dalam tangis) tony


292. tuan          : E ,, kau lupa kata profesor sumarjo. Besok herder kecilnya akan bertamu kemari.


Beliau akan menawarkan anjing kecil itu agar dapat menggantikan tony


293. nyonya        : saya mau diam tapi kau harus melakukan permi ntaanku


294. tuan          : apa saja, apa saja asal kau mau diam.


295. nyonya        : betul ??


296. tuan          : asal kau di am sayang


297. nyonya        : tapi kau mau berjanji akan meluluskan apa saja pintaku?


298. tuan          : Ti dak ada alasan untuk ti dak mengabulkan segal permintaanmu.


299. Nyonya       : Saya sudah diam sekrang, kau harus mel akukan apa saja yang kukatkan


(suaminya mengangguk) pertama kau harus mengabarkan kemalangan kita ini kepa da tetangga-tetangga
dan beberapa kenalan kita jang an lupa undang beberapa wrtawan mal am ini.


300. Tuan          : Tapi sayang
301. Nyonya       : Kedua kau harus mengucapk an pi dato pada waktu mereka dtang dan wktu


upacara penguburan


302. Tuan          : Tapi sayang, itu semua


303. Nyonya       : Akan menjadikan suatu lelucon, begitu? Dan kau anggap apa Tony?


304. Tuan          : Seekor anjing apa lgi?


305. Nyonya       : Lalu kau buang saja i a s perti kaleng susu? Kejam kau! Ti dak kau harus belajar


meng hormati seluruh makhluk hi dup. Atau kau mengharap aku bunuh diri ?


306. Tuan          : (berseru) Otong ! MAKALAH MUNCUL OTONG


307. Tuan          : (berseru wilem)    MAKALAH MUNCUL WILEM


308. Tuan          : Segera kabarkan kepada tetangga-tetangga kemalangan ini jangan lupa nyonya Linda


309. Wilem        : Baik, tuan


310. Tuan          : Otong segera susul beberarapa wartawan kenal an kita. Jang an lupa mengisi bensin.


311. Otong        : Saya Tuan. Sekarang tuan?


312. Nyonya              : Apa kau kira lusa ?


313. Otong        : Saya nyonya


314. Otong        : saya berangkat tuan (exit)


315. wilem        : saya berangkat tuan (exit)


SEJ AK ITU TUAN JADI LAIN, TERDENGARLAH S UARA DER U MOB IL PERGI


316. Nyonya              : kenapa kau ti ba-ti ba berubah? (suaminya di am saja) kau jadi (suaminya tetap
di am)


pap., (tak ada jawaban) pap
317. tuan          : ada apa?


318. nyonya        : kenapa kau?


319. tuan          : kenapa bag ai mana?


320. nyonya        : kau di am saja tadi? Agak aneh


321. Tuan          : saya sedang menyusun pi dato nanti


322. nyonya        : betul?


323. tuan          : kenapa? Kau anggap tony itu apa?


324. nyonya        : betul? Kau sedang menyusun pi dato?


325. tuan          : nah, saya telah mendapatkan kalimat yang pertama. Tuan-tuan dan nyonya-nyonya
yang


kami muliakan. Pertama kami menyampaikan rasa teri makasih kami yang luar biasa atas kehadiran tuan-
tuan dan nyonya-nyonya yang telah dengan rela membuang waktu untuk hadir disini menyaksikan peristi wa
yang sangat bersejarah dalam keluarga kami yaitu wafatnya tony sayang anjing kami yang tercinta


326. nyonya        : (bertepuk) bag us sekali. Bagus sekali. Terusnya pap. Terusnya


327. tuan          : tuan-tuan dan nyonya-nyonya hanya ada dua peristi wa yang paling penting dalam


sejarah hi dup kita yaitu kelahiran dan kematian(menangis) tuan-tuan dan nyonya- nyonya i a adalah tony
adalah seekor anjing…..(menangis)


328. nyonya        : (menangis) mengharukan sekali, pap. Meng harukan sekali, terusnya pap terusnya


329. tuan          : sekalipun demikian (menangis) sekalipun demikian………..ia adal ah………..ia


adalah………..mengharukan…….(menangis)


330. nyonya        : terusnya, pap………terusnya………terusnya……..


331. tuan          : istri saya……… istri saya……….sedemikian mencintainya………. Sehingga peristi wa


ini merupakan petir di siang hari
332. nyonya         : (menangis) tony….. tony…….


333. nyonya         : betul-betul petir, pap


WILLEM B ERS AMA NYONYA A MUNCUL KEMUDIAN B EB ERAPA TAMU LAINYA


334. wilem          : nyonya broto, nyonya…………


335. Nyonya         A        : jadi tony……….(menangis dan keduanya berpelukan)


336. Tuan     B      : ikut berduka cita tuan


337. tuan     C     : Ikut berduka cita tuan atas meninggalnya anjing tuan


338. tuan           : teri makasih…….teri makasih


PEREMPUAN MUNCUL


339. perempuan       : saya mencari otong, nyonya(yang lainya tak peduliz) Dia janji mau mengawi ni saya.


(tetap yang l ainya tak peduli) kalau bayi ini lahir, saya taruh di mana?


NYONYA YANG LAIN TERUS B ERTANGISAN DAN MENGOB ROL


SEMUANYA MENANGIS


340. Nyonya                  : anjing itu memang….(menangis)


OTONG DAN WARTAWAN MUNCUL


341. otong          : cuma tuan alex, tuan. Wartawan-wartawan yang lai n sedang mengunjungi upacara


kematian anjing yang lai n


342. wartawan       : ikut berduka cita tuan


343. nyonya         : tuan alex, jangan lupa menyebutkan dalam Koran bahwa tony pernah kencing di sepatu


saya. Dan tuan tau apa yang terjadi pada diri saya waktu itu. Saya bahagia sekali bahwa    ada juga yang
mengenci ngi sepatu saya.
344. perempuan     : Kang otong……….!


345. otong         : kenapa kau kemari?


KED UANYA OUT OF FRAME


346. Tuan     D    : nyonya saya ti dak menyangka…….


347. tuan     E    : kejadi an yang tak terdug a-duga nyonya…….


348. nyonya        : saya sendiri ti dak menyangka bahwa suami saya yang terakhir ini akan secepat ini


meni nggalkan saya……….(menangis parah)


349. nyonya A      : tabahkan hati nyonya. Semog a tony mendapat tempat yang layak di akherat


350. semuanya      : Amin


351. nyonya        : suami saya yang masih hi dup , sejak dua puluh tahun hanya ri but deng an cita -


citanya…..(menangis) setiap pagi, setiap saya bangun setelah malamnya ti dur deng an      berbag ai mi mpi
buruk……… setiap pagi saya hanya menjumpai ton y dan tony, tony yang l ain, seperti bi asa dengan setia
rebah di kaki saya. Tuan alex dia juga suka menjilat-jilat betis saya dan sekarang…… tony…… tony….


SEMUANYA MEMB UJ UR


SEORANG PEMUDA MUNCUL


352. Pemuda                 : saya mencari otong. Di mana otong. Anaknya meninggal


353. nyonya A      : anjing itu lucu sekali


354. nyonya B      : ti dak Cuma lucu……….


SEMUANYA MENGOMENTARI


KEMUDIAN MUNCUL PROFESOR MARJO


355. Profesor      : nah, nyonya sekarang nyonya harus merelakan semuanya. Tapi jang an khawatir, besok


pagi herder saya akan segera bertamu kamari
356. Pemuda             : saya mencari otong. Anaknya meninggal


357. profesor    : tuan saya ikut bela sungkawa


358. nyonya      : sekarang kau harus pi dato, pap, pi dato.


359. tuan        : tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang kami muliakan betapa terimakasih kami atas


hadiran tuan-tuan dan nyonya-nyonya untuk memberikan penghormatan kepada……..,          kepada…………
yang tercinta………. Tony anji ng kami, yang tel ah………(menangis) semua ini bag ai……..


360. nyonya      : petir di siang hari, pap


361. tuan        : ya, petir disiang hari…….(menangis)


362. nyonya      : di a betul-betul terharu…..singkat saja, pap. Lanjutkan sebelum kau pingsan


363. tuan        : singkatnya dengan ini kami mengharapk an kehadiran tuan -tuan dan nyonya-nyonya


besok pada upacara penguburan tony sayang di kebun……


SEMUA ORANG MENYAMPAIKAN RASA DAN CITANYA SAMB IL B ERJ ABAT TANGAN DAN
MENINGGALKAN RUMAH ITU, S EMENTARA ITU:


364. Pemuda             : saya mencari kang otong. Anaknya meni nggal sore tadi


365. nyonya A    : tabahkan hati nyonya


366. nyonya      : terimakasih tetapi siapa yang akan saya jumpai kalau besok saya bangun pagi?


367. nyonya      : nyonya…..(mereka berpelukan)


368. Pemuda             : saya mencari otong……. Di mana otong………. Otong. Anak mu
meni nggal…………(lempu perl ahan-lahan meredup)


MER EKA B ERPELUKANLAH, S EJ ENAK KEMUDIAN TURUNKANLAH TAKB IR ATAU LAMPU
GELAP-GELAP YANG INI B ERARTI SANDIWARA INI TELAH S ELESAI S UDAH SAMA S EKALI


SELESAI………………………………………………………………….


SELESAI DIKETIK ULANG “ teater getar”
SALATIGA, 02-01-08


“SEMANGAT ORANG-ORANG YANG TERLUPAKAN DI PERS IMPANGAN MUS IM


Gambar Cinta dari Atjeh


Naskah Lakon R. Ti mur B udi Raja


4 Pengubur Mayat


Kami kuburkan i a. Semoga selamat sampai ke alamatMu. Semoga diteri ma di tanah yang lebih luas, dan tak
ada penderi taan di hati mu. Saudara-saudara kami yang lahir, hi dup dan mati lantaran penderitaan. Kami
kuburkan i a, semog a tersenyum di sana, di tanah lapang yang tak ada penderitaan.


Pengubur 1


“Seperti kami, 50 tahun usianya dihi dupi penderitaan, darah, kematian, orang -orang yang di buru dan
di bantai oleh nasib buruk, ia melihat semuanya, seperti kami, ia pun pernah menjadi bagian dari orang -
orang yang di buru itu. Matanya yang jernih tak mampu menahan genangan air mata yang ingin jatuh jadi
gerimis.


Pengubur 2


(meletakkan cangkul)


Tapi itu penderitaan yang berbeda! Itu adal ah pertikai an yang di mulai dari kejahatan janji. Tentara pusat
datang dan mencoba membungkam teriakan k ami. Mereka ingin kami tak menagih janji itu. Tapi kami tak
mampu menahan rasa sakit. Lalu mereka memberikan bencana. Mereka ti dak memperbolehkan kami
berkelompok dan berbeda pandangan dan memilih untuk ti dak hi dup bersama mereka. Ya, bersama
mereka! Neg ara telah membuat mereka tak mengenal kami sebag ai saudara yang harus memilih jalan lain.


Pengubur 3


Kemudi an mereka menculik seluruh kaum l aki-laki di sini. Mereka bawa ke suatu tempat, dan sejak itu
kami tak pernah melihatnya lagi. Kampung ini jadi sepi, perempuan kehilangan sua minya, anak-anak gadis
di perkosa, dan laki-laki yang l ain harus pergi ke hutan-hutan.


Pengubur 4
Sudahl ah! Tak baik kita mengingatnya lagi. J angan kita kotori upacara kepergian dirinya, saudara kita ini,
menuju halamanNya yang suci. Ia telah memanggil saudara kita dengan cara yang lain, yang mungkin lebih
baik.


Pengubur 2


Ti dak! Aku mulai mempertanyakan, kenapa harus selalu tanah i ni? Kenapa penderitaan selalu datang dan
bertubi? Tanah yang kita jaga, tanah yang kita sayang dan kasih. Oh,….(Tuhan?), aku ja di sangsi!


Pengubur 1


Tutup mul utmu! J angan bi arkan pikiranmu kotor, akank ah terus kau pertanyakan. Kau mempersoalkan
keadil an Tuhan.


Pengubur 3


Ya! Aku pun sepakat dengannya. Kenapa bencana ini harus terjadi disini, di tanah ini? Bertahun -tahun kita
tenggelam dalam penderitaan ini.


Pengubur 4


Kau gila. Kalian berdua gila!


Pengubur 2 & 3


Ya, kami memang gila! Kami mul ai sangsi, kami mulai ti dak percaya terhadap apa-apa dan siapapun.
Bahkan, terhadap Tuhan yang kau banggakan! Maafkan kami bila harus menghiana ti kepercayaan kami


Pengubur 1


Cukup! Musi bah i ni tel ah terjadi , lebi h baik kita kuburkan mayat -mayat saudara kita i ni. Apakah akan kita
bi arkan mayat saudara-saudara kita membusuk, lantaran kalian terlalu banyak cakapnya?


4 Pengubur Mayat


Kami kuburkan i a. Semoga selamat sampai ke alamatMu. Semoga diteri ma di tanah yang lebih luas, dan tak
ada penderi taan di hati mu. Saudara-saudara kami yang lahir, hi dup dan mati lantaran penderitaan. Kami
kuburkan i a, semog a tersenyum di sana, di tanah lapang yang tak ada penderitaan.


                                                                                    Bangkalan-Sumenep, 2004
PANGGUNG KOSONG TERLIHAT DEKORASI DENGAN NUANSA PEDESAAN. TERDENGAR MUS IK
GENDING JAWA. MBOK MENAH MAS UK DENGAN MEMBAWA TAMPAH B ERIS I B ERAS,
KEMUDIAN MEMPERKENALKAN DIRI KEPADA PENONTON.


Mbok Menah :”Para penonton, perkenalkan nama saya Mbok Menah. Saya i ni, simboknya para klenting.
                 Perlu saudara-saudara ketahui bahwa saya sang at bangga mempunyai anak yang cantik -
                 cantik, pinter -pinter, sehat-sehat, berbakti pada orang tua, penurut l agi. Pokoknya ti dak
                 ada yang menandi ngi mereka di seluruh desa ini. Sudah banyak para pemuda desa yang
                 melamar mereka. Eh, sudah ya penonton, saya permisi mau masak dulu. Soalnya anak -anak
                 saya belum sarapan.


KEMUDIAN MBOK MENAH KELUAR PANGGUNG. TERDENGAR MUS IK B ERIRAMA KERAS,
MENGIRINGI MAS UKNYA PARA KLENTING. KEMUDIAN MER EKA MEMPERKENALKAN DIRI.


K.Abang :”Assalamu‟alaikum…para penonton…perkenalkan…k ami adalah para klenting anak Mbok
                 Menah. Nama saya Klenting Abang, saya ini yang tertua lho…!”


K.Ijo :”Nama saya Klenting Ijo.”


K.Biru :” Kal au saya Klenting Biru.”


K.Ungu :” Kal au saya Klenting Ungu”


K.Abang :”Para penonton, kami ini sangaaat menyayangi si mbuk kami. Karena si mbok kami itu
                 memberikan kebebasan buat k ami. Itu artinya simbok kami mempercayai kami . Betul‟kan
                 adik-adikku?”


K.Ijo :”Benar sekali penonton! Kami-k ami ini „kan masih muda. Usia muda harus kita manfaatkan dengan
                 sebaik-baiknya, hi dup Cuma satu kali jangan disia-siakan … hi … hi …hi …”


K.Abang :” Eh,adik-adikku!sudah, ayo kita masuk, kitaharus membantu simbok masak!ayo!”


KLENTING-KL ENTING AKAN KELUAR PANGGUNG, TETAPI TIBA -TIBA DATANG KL ENTING
KUNING.


K.Kuning :”Permisi…permisi…kolonuwun…spada…”


KLENTING-KL ENTING B ERB ALIK ARAH MENUJ U KLENTING KUNING. KLENTING ABANG
MEND EKATI KLENTING KUNING.
K.Abang :” Ada apa, mau ketemu siapa?”


K.Kuning :”Saya…saya…saya ini pengembara yang ti dak memiliki rumah. S aya juga ti dak punya orang tua.
                Saya memohon jadikanl ah saya saudara kalian…please…”


K.Ijo :”Apa? Mau numpang disini?sorry! sudah nggak ada tempat.”


K.Ungu :”Iya! Lebih baik kamu cari tempat lain saja! Disini tempatnya sudah penuh! Ayo pergi sana !”


K.Kuning :”Please… saya mohon… saya mau disuruh apa saja deh… please…”


K.abang :”Pl as plis plas plis!ngomongnya saja aneh-aneh sudah sana pergi saja! Nggak level!”


TETAPI KLENTING KUNING TETAP MEMAKSA SAMPAI TERJADI KERIB UTAN. MBOK MENAH
DATANG DARI ARAH DALAM.


Mbok Menah :”Anak-anaku…ada apa toh ini, kedeng arannya ri but-ri but!ada apa?”(Kemudian Mbok
                Menah menghampiri Klenting Kuning)


“Lho… siapa ini? Cantik sekali kamu nduk…?”


K.Kuning :” Mbok…saya ini seorang penggembara…saya ti dak punya orang tua ti dak punya rumah…saya
                hi dup sebatang k ara…jadi tol onglah mbok, saya ingin menjadi keluarga disini, please……”


Mbok Menah :”Plis…? Plis iku opo to nduk?”


        (Mbok Menah bertanya pada anak-anaknya)


K.Abang :” Alaah…sudahlah mbok! Ti dak ada gunanya menanggapi di a.”


K.Ungu :”Iya l agian rumah kita …khan sudah penuh dengan wani ta mbok, kamarnya sudah pas !”


Mbok Menah:”Sudah-sudah, jang an ri but! Si mbok tambah bi ngung nih. (men unju ke arah Klenting
                Kuning) Nduk Cah Ayu …Simbok ijinkan kamu tinggal di sini .Tapi kamu harus bantu-
                bantu disini ya?”


K.Kuning :”Wuah…! Teri ma kasih … teri ma kasih mbok!” (sambil mencium tangan si mbok berkali -kali
                dan klenting yang lain meras risih)


Mbok Menah:” Iya…i ya…iya…eh, tapi ng omong-ng omong siapa namamunduk?”
K.Kuning :”Saya nggak tahu !” (K. Kuning tampak bingung)


Mbok Menah:” Ya sudah…sudah …(tempo) mmm…karena pakai anmu kuning -kuning jadi kamu kuberi
               nama…Klenting Kuni ng.”


PARA KLENTING YANG LAIN MERASA S EWOT, TETAPI KLENTING KUNING MERASA
GEMB IRA.


Mbok Menah:”Nah kamu sekarang bergabubg deng an saudara-saudaramu.Ayo sana!”


K.Kuning :”B aik mbok……”


MUS IK GENDING JAWA/ CAMPUR SARI. MBOK MENAH DAN PARA KLENTING KUNING KELUAR
PANGGUNG.


Adegan II


PANGGUNG KOSONG,KLENTING KUNING MAS UK SAMB IL MENYAPU.


K.Kuning :”Para penonton, saya sangaaaat bersyukur, karena saya sekarang mempunyai rumah,tetapi
               saudara-saudara saya itu ti dak menjag kebersihan rumahnya alias jorok. Walaupun saya
               di perl akukan seperti pembantu, ti dak apa-apa, asalkan tujuan saya untuk menemukan
               Kakang INU KERTAPATI tersampai.Tapi yang saya herankan penonton, kakak -kakak
               saya tingkah lakunya aneh-aneh.Pada saat saya membersihkan kamar mereka, say
               menemukan puntung rokok.Kemarin mal am, saya menemukan botol-botol birdi k amar
               mereka,dan mereka sering pulang mal am.Tetapi Mbok menah ti dak tahu hal ini.Pasti ini
               akibat salah pergaulan.


TIB A-TIB A TERDENGAR MUS IK KERAS, PARA KLENTING MAS UK PANGGUNG DENGAN CIRI
KHAS MAS ING-MAS ING. ADA YANG MEROKOK, MEMB AWA BOTOL B IR SAMB IL B ERJALAN
SEMPOYONGAN.


K.Abang :” Heh, Klenting Kuning! Si Mbok mana?” (berkata ketus)


K.Kuning :“ Ada di dalam…”


K.Abang :” Ya…sudah!”
PARA KL ENTING KEL UAR PANGGUNG DIIRINGI MUS IK KERAS. KLENTING KUNING
MEN ERUS KAN MENYAPUNYA. KEMUDIAN MB OK MENAH DATANG MEMBANTU KL ENTING
KUNING. KEMUDIAN DATANGLAH S EORANG PENYIAR TV MEMBAWA PENGUMUMAN.


Py.TV : “Pengumuman-pengumuman…….B arangnya siapa yang merasa perempuan dan memenuhi
                 persyaratan,seorang pemuda dari dusun seberang mencari jodoh untuk          dijadikan
                 pendampi ng hi dupnya.”


Mbok Menah:”Wuah! Ini baru kabar gembira! (tempo) anak -anakku! Klenting Abang…Klenting
                 Ijo…Klenting Ungu…Klenting Biru…! Ayo semuanya kesini!”


PARA KL ENTING MAS UK PANGGUNG.


Koor :” Ada apa Mbok?”


Mbok Menah:”Dengar Nduk…Cah Ayu! B aru saja disiarkan di TV lewat sekilat info,bahwa Si Ande -ande
                 Lumuten,eh salah….Ande -ande Lumut yang g agah perkasa sedang mencari istri. Ini
                 peluang untuk kalian! Ayo cepat! Kalian segera berangkat! Nanti pendaftarannya keburu
                 tutup! Ayo cepat berangkat!”


SEMUA KLENTING NAMPAK SANGAT GEMB IRA.


K.Kuning :” Mbok ,bagai mana dengan saya?”


K.Abang :” Heh, kamu di rumah saja! Sama simbok!”


K.Ijo :” Iya, lagian nggak level! Ande -ande lumut ti dak ak an menerima kamu, ngerti!”


Mbok Menah :” Iya nduk…, Kamu di rumah saja, sama simbok.


KLENTING KUNING MENGGERUT U.


K.Abang :” Ya sudah mbok, kami berangkat ya!”


K.Ungu :” Mohon doa restu, Mbok !”


Mbok Menah:” Ya sudah, sana berangkat!”


PARA KL ENTING KELUAR PANGGUNG DIIRINGI MUS IK KERAS.PANGGUNG KOSONG.
Adegan III


YUYU KANGKANG MAS UK PANGGUNG SAMB IL B ERJOGET-JOGET,DIIRINGI MUS IK CAMPUR
SARI “PERAHU LAYAR”. DITENGAH DIA B ERJOGET, TERJ ADI PANTATNYA TERJ EPIT
SUPITNYA S ENDIRI.


Yuyu K       logat madura)


“Aduh… aduh…Oh…pantesan! Rupanya pantatku kejepit supitku sendiri.” (tempo).Kemudi an yuyu
                 kangkang duduk di pinggir panggung sambil celingak -celinguk. “ Kok sepi ya, tumben, dari
                 pagi sampai siang belum ada penglarais!”


KEMUDIAN PARA KLENTING MAS UK PANGGUNG.


K.Abang :”Wah…kok sepi, mana perahunya?”


SEMUA KLENTING JADI RIB UT MENCARI PERAHU,TIBA-TIBA DATANG YUYU KANGKANG
MENAWARKAN J ASA.


Yuyu K :”Duh kanak…nona-nona yang cantik-cantik ini mau kemana ta iya?”


K.Ijo :”Wah…kebetulan ada yuyu kangkang. (menuju ke arah yuyu kangkang) Yuyu kangkang yang baik
                 dan cakep, tol ong dong! Kami-kami ini disabrangkan ke desa sebrang, soalnya kami mau
                 menemui Ande -ande Lumut.”


Yuyu K :”Oh … Mau ke Desa Dadapan. Mau menemui Nde-Ande Lumuten ta iya? B oleh-boleh asalkan saya
                 di bayar 1 juta tiap orang, bagai mana? (sambil berekpresi cuek)


K.Abang :”Wah,mahal sekali,kami ti dak punya uang sebanyak itu.”


Yuyu K :”Waah…kalau nggak mau ya sudah, tak ti nggal pergi saja!”


SEMUA KLENTING NAMPAK KEB INGUNGAN.


K.Abang :” Eh…eh!Tunggu dulu!” (mendekati yuyu kangkang dan merayunya) Yuyu kangkang…kamu kan
                 baik dan g anteng! Tolong dong …kami di bantu, sekali-kali gratis kan ti dak apa-apa.”


YUYU KANGKANG YANG S EMULA GR KARENA DIRAYU J ADI KAGET DAN MARAH.
Yuyu K :” Apa?!! Gratis?!! Duh…aduh…jaman sekarang nggak ada yang gratis dek, sampeyan jangan
                seenaknya bilang begiti sama saya!”


YUYU KANGKANG B EREKPRES I B ERPIKIR , PARA KLENTING T ERLIHAT B INGUNG DAN
KEC EWA.


Yuyu k :” Mmm…yak! Saya punya jalan keluarnya, dek.


Koor :”B agai mana…bagai mana….???”


Yuyu K :”Begini jalan keluarnya.”(para klenting mendekati yuyu kangkang) setelah sampai di seberang …
                saya minta disun sama sampeyan semuanya. Bag ai mana?”


PARA KLENTING MERAS A KAGET DAN B INGUNG KEMUDIN MEREKA MENGADAKAN RAPAT
SINGKAT.


K.Abang :” Ya sudah, kami setuju. Pokoknya kami segera sampai disana!”


Yuyu K :” oke…oke.”


TERDENGAR MUS IK CAMP UR SARI “PERAHU LAYAR”. YUYU KANGKANG DAN PARA
KLENTING KELUAR PANGGUNG. YUYU KANGKANG MAS UK PANGGUNG LAGI.


Yuyu K : “Wuah … ci umannya dasyat!”


KEMUDIAN MAS UK KLENTING KUNING DENGAN B INGUNG MENCARI PERAHU.KEMUDIAN
YUYU KANGKANG LANGS UNG MENAWARKAN JASA.


Yuyu K :” Hei …! Nona cantik! Sampeyan pasti mau nyebrang ya? Sudah nggak ada perahu disini, semua
                perahu k aram ke dasar l aut! Bag ai mana kalau saya sebrangkan? Tapi upahnya cium pi pi
                kanan kiri, bag ai mana?”


KLENTING KUNING B INGUNG S EJ ENAK, KEMUDIAN MENYET UJ UIN YA.


K .Kuning :”Baiklah saya setuju.”


Yuyu K :”Oke…!Oke…!”
TERDENGAR LAGU CAMPUR SARI “PERAHU LAYAR”, TETAPI S EB EL UM S AMPAI DITUJ UAN,
KLENTING      KUNING        CEPAT-CEPAT      MENGOLES I      WAJ AH        DAN   TANGANNYA      DENGAN
KOTORAN, S EHINGGA MEMB UAT YUYU KANGKANG MERASA RIS IH.


Yuyu K :” Duh kanak bau apa i ni? (menoleh kearah klenting kuni nng) duh…aduh rupanya sampeyan yang
                bau. Sudah pergi sana! Pusing saya!”


YUYU KANGKANG KELUAR PANGGUNG S AMB IL B ERLARI.KLENTING KUNING TERTAWA
CEKIKIKAN KEMUDIAN KE LUAR PANGGUNG J UGA.


Adegan IV


ANDE-ANDE LUMUT MAS UK PANGGUNG B ERS AMA MBOK RONDO DAN ASIS TENNYA YANG
MEMB AWA MAP DAN PENS IL B ESAR.


A.Lumut :” Mbok … bagai mana ? Sudah berapa wanita yang mendaftarkan diri?”


M.Rondo :”Aduh…Le,simbok yo nggak tahu,tanyak saja sama asisten. Aku sudah bayar m ahal-mahal, 1
                semester Rp 1.500.000,- kok ngasih informasi nggak bisa.


Asisten :” Mbok… jang an korupsi kenapa sih, bayaranku hanya Rp 100.000,- bilang Rp 1.500.000,-Biar
                dikira kuaya gitu ta.Masalah i nformasi l amaran …sampai hari ini, sudah ada 999 peserta
                jurag an.


A.Lumut :”Wuah…cukup buanyak juga ya….B agai mana dengan hari ini.”


Asisten :”Sampai detik ini , kita masih menunggu.”


M.Rondo :” Kowe iki wis kebelet tenan ta, sabar sedikit kenapa sih, kita tunggu sampai banyak gadis -gadis
                yang melamar.”


TIB A-TIB A TERDENGAR MUS IK CAMPUR SARI, PENGIRING PARA KLENTING DATANG


Koor :” Kulonuwun… s pada…”


M.Rondo :”Sana, Ten. Coba dilihat,mungkin…itu yang mau melamar.


Asisten :” Ya mari-mari silakan masuk pasti nona-nona cantik ini mau melamar juragan Ande -ande lumut.


K.Abang :”Benar sekali asisten, kami mau mendaftar.”
Asisten :”Boleh…boleh…tapi ada beberapa persyaratan , syaratnya apa mbok?”


M.Rondo :” Kamu ini gi mana sih,Ten. Wong catatan sudah lengkap di foto copy dan di perkecil lagi,masa
                 kamu lupa….waktu UAS kemaren kan kamu pakai untuk ngrepek.”


Asisten :” Oh ya mbok saya ing at ada di saku baju,eh… ngomong -ngomong masalah ngrepek kelas sebelah
                 iku lho mbok, pernah ketahuan dosen Pak Nur Wachi d,kan mal u ya mbok ya…”


M.Rondo :” Eh…iku rahasia,sudah baca saja persyaratannya.”


K.Ungu :”Lho kok pakai persyaratan segala kayak ngelamar pekerjaan saja.”


K.Abang :” Tuan asisten…anda jangan meraguk an kami dong….Apa k ami kuranbg cantik?”


Asisten :”Heh…! Jangan cerewet ya….! Kal au nggak mau pergi saja dari sini!”


Koor :” Eh iya…iya…! Kami berjanji ak an mematuhi semua persyaratannya!”


SEMUA KLENTING RIB UT


Asisten :” Eh … semuanya, dengarkan baik-baik ya..”


Syarat 1: Harus cantik,dan lulus PPL I acc dari Pak Pri.


Syarat 2: Harus bersuara merdu alias bisa menyanyi dan nilai A


Syarat 3: Harus mengikuti test kesehatan, bisa lari 100 m tanpa bernapas dan nilai A dari Pak Mungit.


Syarat4: Bi bir harus lengkap dan ti dak sumbi ng,artikulasi harus jel as. Biar kal au di apa -apai n bisa enak.


Gi mana sudah jalas persyaratannya. Saya panggil peserta 1 klenting Abang….


SEMUA KLENTING MAJ U SATU PER SATU DI TES OLEH MBOK RONDO DADAPAN.


Asisten :”Saatnya Pengumuman!”


SEMUA KLENTING – KLENTING RIB UT , MERASA DIRINYA YANG TERPILIH KEMUDIAN
DATANG KLENTING KUNING DENGAN B ERSAHAJA.


K.kuning :” Kulonuwun…s pada…permisi…saya…mau mendaftarkan diri.”
Asisten :” Silakan…silakan…,tapi seperti peserta lai n, nona harus memenuhi beberapa persyratan seperti
                 peserta lain, persyaratannya s bb:


Syarat 1: Harus cantik,dan lulus PPL I acc dari Pak Pri.


Syarat 2: Harus bersuara merdu alias bisa menyanyi dan nilai A


Syarat 3: Harus mengikuti test kesehatan, bisa lari 100 m tanpa bernapas dan nilai A dari Pak Mungit.


Syarat4: Bi bir harus lengkap dan ti dak sumbi ng,artikulasi harus jel as. Biar kal au di apa -apai n bisa enak.


Mbok i ni ada gadis yang mau melamar l agi, tapi i ni lain mbok bau nya mak nyoss…Apa kamu siap.”


KEMUDIAN MB OK RONDO MELAKUKAN TES TERHADAP KLENTING KUNING.


M.Rondo :” Aduh bau apa ini, nduk lihat k akimu, mungkin kamu nginjak tahi kucing, eh ternyata baumu
                 yang nggak enak.”


KEMUDIAN MBOK RONDO , AS ISTEN DAN ANDE-ANDE LUMUT RAPAT, GADIS MANA YANG
AKAN DIPILIH ANDE-ANDE LUMUT.


Asisten :”Saatnya pengumuman,berdasarkan hasil rapat segitiga antara saya,mbok rondo dan juragan ande -
                 ande lumut, maka hasil keputusannya adalah…….


Klenting abang : Dari hasil pengetesan, kamu terkena virus HIV.


Klenting Biru : Dari hasil pengetesan kamu sering merokok dan mi num -mini man keras, aki bat salh
                 perg aulan.


Klenting Ijo : Dari hasil pengetesan , dan…sudah terlihat dari fisik kamu yang kurus dan paerutmu
                 besar,k amu terkena penyakit cacingan.


Klenting Ungu : Dari hasil pengetesan, kamu terkena anemi a…. Dan terlihat dari wajahmu yang pucat.


Jadi kesimpul annya, semua ti dak bisa menjaga kesehatan,jadi semuanya ti dak bisa diteri ma dan pi pinya
                 terlihat bekas sun yuyu kangkang.


Klenting kuning… dari hasil pengetesan kamu bebas penyakit, jadi kamulah yang terpilih.”


KLENTING KUNING LANGS UNG B ERDIRI DIS AMB UT OLEH ANDE-ANDE LUMUT.
A. lumut :”Di ajeng…akhirnya kau kutemuk an.


TERDENGAR MUS IK GENDING JAWA.


TEATER GETAR SAKATIGA

jl. tentara pelajar no. 02 stain salatiga kode pos 50714



DAFTAR NAS KAH
B ERDASAR ABJ AD J UDUL
NO JUDUL                                             PENGARANG                  KET ERANGAN
1    Aduh                                            Putu Wijaya
2    Anak-Anak Panah (Permainan B aru)               Chandra B arong Harjanta
3    Badai Sepanjang Mal am                          Max Arifin
4    Bah                                             Widyo Leksono
5    Balad (B oleh disebut Wilayah atau Negeri)      Widyo Leksono
6    Ben Go Tun                                      Saini K.M.
7    Berbi ak dal am Asbak                           Zak Sorga
8    Berita Hari Ini                                 Andhi Kephix
9    Berita Keselamatan                              Noname
10   Biadab (Suku Pemberontak)                       Chandra B arong Harjanta
11   Blong                                           Noname
12   Bom Waktu                                       N. Rianti arno             Satu dari trilogi Opera Kecoa
13   Bubar (Nyanyi an Pi nggir Kali)                 Chandra B arong Harjanta
14   Dag – Dig – Dug                                 Putu Wijaya
15   Dhemit                                          Heru Kesawa Murti          Adaptasi oleh Yoko “Jambul”
16   Dhol                                            Hani ndawan
17   Di Lampu Merah                                  Ahmad Budi Sul aiman
18   Dialog B urung -Burung                          R.W. A. Dyaksa VIII
19   Dua Cinta Satu Gantung an                       Ali Hamzah
20   Duka B umi (B umi Berduk a)                     Chandra B arong Harjanta
21   Front                                           Putu Wijaya
22   Gempa                                           B. Soelarto
23   Godl ob                                         Danarto
24   Ibu B umi                                       Chandra B arong Harjanta
25   Isyu                                            Heru Kesawa Murti
26   Jagon                                           Noname
27   Jaka Tarub                                      Akhudi at
28   Jalan Pencuri                                   Tengsoe Tjahjono
29   Jodoh                                           Lin Yutang                 Adaptasi dari Matri moni Inn
30   Kamu-ku                                         Nontin
31   Kapai-Kapai                                     Arifin C. Noer
32   Ki dung Pi nggir Lurung                         Udyn U. Pe. We.
33   Kisah Cinta dan Lain-Lai n                      Arifin C. Noer
34   Krempyeng                                       Noname
35   Kucak-Kacik                                     Arifin C. Noer
36   Lampu-lampu                                     L.H. Haki m
37   Laron                              Gepeng Nugroho
38   Lelembut                           Noname
39   Lembar Terakhir (dan Aku Pergi)    Retno S ayekti Lawu
40   Macbeth                            Rendra                     Translate by Vahet Kenarang & Ami n Kamil
41   Mal am Jahanam                     Motinggo Busye
42   Marsinah Menggugat                 Ratna Sarumpaet
43   Mastodon dan B urung Kondor        Rendra
44   Mata Kaca                          Chandra B arong Harjanta
45   Membaca Calon Arang                Hani ndawan
46   Memburu Manusia (Guli pat)         Hani ndawan
47   Nahkoda Lapuk                      Gepeng Nugroho
48   Opera Kecoa                        N. Rianti arno
49   Orang Gil a                        Chandra B arong Harjanta
50   Orang Kasar                        Anton P. Chekov
51   Orde Mangab                        Untung Erha
52   Pengejaran                         Emil Sanossa
53   Peradilan Bawah Tanah              Mulyani M. Noor
54   Perahu Nuh II                      Aspar
55   Perahu Retak                       Emha Ainun Nadji b
56   Perempuan tanpa Orgasme            Chandra B arong Harjanta
57   Perjalanan Kehilangan              Noorca Marendra Massardi
58   Pinang an                          Anton P. Chekov
59   Pinggir-Pinggir Pawang Malam       Bles van Ede
60   Pintu Mati                         Chandra B arong Harjanta
61   Puti Bungsu (Wanita Terakhir)      Wisran Hadi
62   Rah (Hujan Datang Ti ba-Ti ba)     Andhi Kephix
63   RT-Nol / RW-Nol                    Iwan Simatupang
64   Rumah Buat Lisa (Terbuang)         A.F. Sinatra
65   Sebuah Peristiwa                   Yustinus Popo
66   Sekarat                            Catur Wi dya Prag oapati
67   Sengketa (Anak-Anak Pergolak an)   Chandra B arong Harjanta
68   Senja dengan Dua Kelelawar         Kirdjomulyo
69   Setan dal am B ahaya               Taufi q Al-Hakim
70   Terdampar                          Slawomir Mrozek
71   Tjendera Mata                      R.S. Palindih
72   Topeng                             Ikranag ara
73   Topeng Kayu                        Kuntowijoyo
74   Umang-Umang                        Arifin C. Noer
75   Utopi an Train Blues               Noname
76   Wartawan                           Anton P. Chekov
77   Wot (Atawa Jembatan)               Yudhistira Ardi Nugraha
78   Zoo Story                          Edward Al bee
79   kumpulan naskah (sampul merah)     banyak
80   Nang                               Nontin
81   Qobul                              Afi q Sudrajat             Teater Sopo
82   Tarub                              Hendro                     Teater Sopo
83   Biarkan Aku Mencari                Rudyaso Febri adhi         Teater Sopo
84   Monol og; “Senja…”                 Puji Wi dodo               Teater Sopo
85   Dua Pemerkosa                      Wafaudin Zaki              Teater Sopo (ti dak lengkap)
86   Kumpulan Naskah                    Getar

								
To top
;