Dunia Bayi 2

					                MENATA KAMAR BAYI


                             Menata kamar bayi sebaiknya dilakukan dengan
                             pertimbangan, ruangan tersebut selain harus
                             sehat, aman, nyaman, dan indah, juga mampu
                             memberinya stimulasi positif. Inilah langkah-
                             langkah penataan kamar bayi ditinjau dari
                             manfaat praktis, psikologis dan kesehatan yang
                             meliputi desain serta feng-shuinya.

SEGI PRAKTIS DAN MANFAAT PSIKOLOGIS:

* Kamar dan perabotannya jangan menggunakan warna-warna mencolok,
karena warna-warna yang kelewat terang bisa melelahkan mata. Paling ideal
gunakan warna lembut. Warna menyejukkan adalah biru muda dan pink.
Pemilihan warna juga harus senada dan tidak terlalu ramai.

* Warna-warna mencolok bisa saja digunakan, tapi hanya untuk memperindah
atau aksentuasi saja. Sebagai hiasan dinding, bingkai, hiasan pada tirai, atau
sudut ruangan tempat bermain.

* Perhatikan tata cahaya. Gunakan elemen penerang yang tidak menyilaukan.
Sediakan pula lampu tidur yang cahayanya redup, seperti lampu duduk. Di
sekeliling lampu duduk dapat kita beri hiasan yang juga merupakan stimulus
bagi indra penglihatan bayi.

* Letakkan furnitur atau barang lainnya sedemikian rupa agar mudah dijangkau
tanpa menghilangkan keleluasaan bergerak. Misal, letak meja untuk mandi dan
mengganti pakaian jangan berjauhan dari boks bayi dan lemarinya. Begitu juga
dengan kursi menyusui, sangat baik jika berdekatan dengan boks bayi. Pilih
kursi yang tak memiliki sandaran lengan agar posisi ibu dan bayi tidak terbatasi.
Tempatkan kursi itu di sudut yang mendapat sinar dan bisa melihat
pemandangan luar.

* Kamar si kecil sangat baik jika tidak hanya menjadi tempat istirahat, tapi juga
jadi tempat menstimulasi. Tentunya harus disesuaikan dengan usia si kecil.
Untuk bayi baru lahir hingga usia 2 bulan, di mana kemampuan pendengaran
dan penglihatannya masih terbatas, maka stimulus yang baik adalah warna
putih dan hitam. Stimulus ini bertujuan merangsang indra penglihatan bayi
supaya ia belajar mengamati lingkungan.

Setelah lepas usia 2 bulan, karena penglihatannya sudah jauh makin baik,
pajangan yang merangsang indranya bisa ditambah dengan warna lain. Pilihlah
warna-warna cerah, seperti merah, biru, dan hijau. Gantilah warna-warna
tersebut 2-3 minggu sekali.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                         hal 1
Tak hanya warna, kita pun bisa memberikan rangsangan berupa bunyi-bunyian,
misalnya kerincingan. Namun jauhkan anak dari mainan yang berbunyi atau
bergerak saat dia tidur. Masukkan semua mainan tersebut dalam sebuah
tas/keranjang gantung berwarna. Ini pun bisa menjadi alat stimulasinya. Selain
membedakan warna, anak bisa mengambil mainan dari tempat tersebut jika
kemampuan motoriknya sudah bertambah.

* Tempat tidur bayi jangan terlalu banyak digantungi hiasan. Bagaimanapun,
rentang perhatian bayi masih terbatas, mereka sulit menangkap banyak
stimulus sekaligus. Kalau mau, pasanglah bergantian. Jangan lupa jagalah
selalu kebersihan benda-benda stimulus tersebut.

* Jika kita mau memberinya mainan, bisa dibuatkan semacam kain perca
dengan bentuk-bentuk geometris, seperti segitiga atau lingkaran berwarna
hitam dan putih. Mainan tersebut harus diletakkan dalam jarak yang tak terlalu
jauh, kurang lebih 50,8 cm dari mata bayi.

* Baik pula jika di kamar si kecil ditaruh fotonya dan foto kita bersamanya.

* Boks atau tempat menyimpan mainan anak bisa juga kita dwifungsikan
sebagai tempat duduk kala bercanda dengan anak. Mainan pun bisa
ditempatkan di rak dinding, sehingga bisa berfungsi sebagai hiasan pemanis
ruangan.

* Jika ingin berkreasi, tempat mainan bisa dibuat dari kain yang dibentuk
kantung bertali. Sehingga bisa digantungkan di dinding arena bermain.

* Dinding bisa kita hias dengan gambar-gambar kartun atau binatang yang lucu.
Malah bisa juga di dinding kita buatkan rangkaian cerita fabel dengan
mengambil lahan selebar 30 cm di sekelilingnya.

* Untuk tempat tidur bayi boleh kita hias dengan berbagai aksen pemanis,
kelambu diberi renda kain dengan warna dan gambar senada dengan dinding
kamar serta sprei, misalnya. Untuk bumper tempat tidur pilih bantalan dengan
gambar-gambar lucu dan rimpel/kerutan.

* Untuk dekorasi memang tergantung selera, tapi secara garis besar dekorasi
yang ditampilkan harus bisa membuat si kecil nyaman dan aman. Selama
mendekor, kita jangan terfokus pada satu sudut atau bidang tertentu,
melainkan lihatlah secara keseluruhan.

SEGI KESEHATAN:

* Lakukan pengecatan atau pemasangan wall paper jauh-jauh hari sebelum si
kecil lahir. Pasalnya, cat dan lem yang dipakai baunya cukup menyengat. Untuk
menghilangkannya butuh waktu cukup lama.

* Perhatikan faktor keamanan; untuk kain, pilihlah yang lembut. Untuk cat
tembok pilihlah yang tak beracun.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                            hal 2
* Untuk lantai, tidak dianjurkan memakai karpet atau permadani. Sekalipun
bisa memperindah ruangan, tekstur karpet dan permadani akan menyimpan
debu dan kuman penyakit yang tidak baik bagi kesehatan bayi. Ingat, bayi
sangat rentan terhadap penyakit.

* Sediakan ventilasi agar udara bersirkulasi dengan baik. Kalau perlu,
pasanglah exhaust fan. Untuk yang tinggal di daerah panas, bisa melengkapinya
dengan penyejuk ruangan.

* Kamar harus bisa dimasuki cahaya dengan baik, sehingga tidak lembap. Bisa
dari jendela yang selalu dibuka tirainya setiap pagi atau dari plafon fiber
glass/kaca yang bisa ditembus cahaya matahari.

* Sering-seringlah membersihkan ruangan si kecil. Lantai harus selalu disapu
dan dipel. Kita juga harus selalu melap semua perlengkapan dan peralatan di
kamar si kecil yang menjadi sarang debu.

* Pilihlah kasur yang mampu menyangga tulang bayi dengan baik, dari busa
dakron atau spring bed.

FENG SHUI KAMAR BAYI

Menurut Mas Dian, pakar feng shui, soal penataan kamar bayi memang harus
diperhitungkan matang-matang. "Bayi, seperti halnya orang dewasa,
mempunyai gaya medan magnetik. Begitu juga dengan rumah dan ruangan
yang ada di dalamnya. Kalau keduanya tidak sinkron, bayi akan mudah sakit
ataupun mudah kaget."

Sebelum menata kamar bayi, ia menganjurkan agar memperhatikan dulu feng
shui rumah yang menjadi lokasinya. Kalau tidak, sekalipun feng shui kamar bayi
sudah dibuat baik, tapi kalau feng shui rumahnya jelek, pasti akan terbawa
jelek pula. Inilah penataan kamar yang baik menurut feng shui secara umum:

* Tempat tidur bayi tidak boleh berhadapan langsung lurus 90 derajat dengan
pintu kamar. Baik posisi kepalanya ataupun posisi kakinya.

* Ujung tempat tidur yang menjadi tempat kepala bayi tidak boleh berada dekat
jendela.

* Dalam kamar bayi tidak baik kalau ada kamar mandi.

* Posisi kamar bayi tidak baik jika ada di belakang kamar lain atau berdekatan
dengan dapur. Terlebih jika dapur tersebut bersebelahan dan berhubungan
langsung dengan kamar mandi.

* Di hadapan bayi tidak boleh ada cermin, karena benda ini bisa menyerap
energi bayi. Kalau di samping atau belakang, tidak apa-apa.

* Sebaiknya lemari baju bayi tak menggunakan cermin.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 3
* Hindari furnitur yang bersudut lancip.

* Selain itu, perlu diperhitungkan tahun kelahiran si anak. Contoh, untuk anak
laki-laki yang lahir tahun 2000 (shio naga logam) posisi tidur yang paling baik
adalah kepala di sisi timur, sementara untuk perempuan kepalanya di barat
menghadap ke timur. Untuk bayi laki-laki yang lahir di tahun 2003, posisi yang
paling baik adalah kepala di barat menghadap ke timur. Untuk anak perempuan,
sebaliknya.

                     JIKA SEKAMAR DENGAN ORANG TUA

Jika si   kecil sekamar dengan kita, penting diperhatikan segi keamanannya.
Jangan     sampai si kecil tertimpa/tertindih tangan, kaki, atau badan kita saat
sedang     tidur. Oleh karena itulah, sekalipun satu kamar, jauh lebih baik jika
tempat    tidurnya terpisah.




                                       ***




                 "BOBO, DONG, SAYANG"

                      Si kecil selalu rewel ketika mau tidur? Jangan-jangan
                      justru karena kebiasaan yang diciptakan orang tua sendiri!

                      Kebiasaan seperti mengayun atau menimang bayi saat
                      mau tidur, memang bisa membuatnya lebih cepat terlelap.
                      Tapi dampak buruknya, anak jadi tergantung. Begitu tak
                      digendong atau diayun, ia rewel dan susah tidur. Repot,
                      kan? Karena itu, saran ahli, jangan biasakan cara itu.
                      Biarkan ia tidur secara alamiah. Toh, saat di rumah
                      sakit/bersalin,  ia    bisa   terlelap  tanpa     harus
                      digendong/diayun para suster.

                      Yang penting, tumbuhkan suatu rutinitas baru untuk
menghapus kebiasaan yang sudah terbentuk sebelumnya. Rutinitas adalah cara
jitu agar individu, termasuk bayi, bisa belajar sesuatu. Masalahnya, mengubah
kebiasaan memang bukan hal mudah. Diperlukan ketegasan dan sikap "tega"
orang tua karena dalam prosesnya, akan banyak diwarnai tangisan sebagai
bentuk protes anak. Tak salah jika keberhasilan perubahan ini selalu terkait
dengan kesiapan mental orang tua. Yang jelas, ketegaran sikap pasti
dibutuhkan karena orang tua bakal menghadapi masa-masa frustrasi dan stres.
Harus disadari, perubahan itu demi kebaikan si kecil, juga orang tua serta
seluruh keluarga.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                        hal 4
Tips berikut bisa dijadikan panduan untuk menerapkan rutinitas baru tidur si
kecil.

* Lakukan perubahan rutinitas saat jadwal orang tua tak ketat. Jadi, jangan
malah di saat-saat sibuk seperti ketika harus konsentrasi mengurus anak lain
yang sedang sakit atau pekerjaan kantor tengah menumpuk.

* Libatkan pasangan dan minta dukungan penuh darinya. Pasalnya, dalam
proses perubahan nanti, dukungan orang lain sangat dibutuhkan. Cobalah buat
daftar nama-nama anggota keluarga yang bisa memberi bantuan.

* Pastikan si kecil dalam keadaan sehat. Jangan ciptakanrutinitas tidur yang
baru bila ia tengah rewel akibat sakit.

* Siapkan kondisi kamar bayi sedemikian rupa untuk mempermudah tidurnya.
Lampu kecil, misalnya, agar si kecil merasa nyaman saat tidur dan jika
terbangun pun, ia masih dapat memperhatikan sekelilingnya.

* Jika memungkinkan, pisahkan ruang untuk tidur dan main. Bila sulit
diwujudkan, setidaknya saat menjelang tidur, singkirkan semua mainan dari
ranjang bayi.

* Pastikan si kecil dalam keadaan kenyang. Jadi, jika ia rewel atau menangis,
kita yakin penyebabnya bukan karena lapar.

* Pastikan juga popoknya tidak dalam keadaan basah.

* Perhatikan tanda-tanda kelelahan yang diperlihatkan bayi. Seperti mengucek
mata, tungkai dan lengan yang disentak-sentakkan atau bayi melengkungkan
punggungnya. Bayi yang terlalu capek sering lebih sulit ditenangkan. Namun
walau ia terlihat lelah, jangan tergoda untuk menimangnya.

* Agar berhasil, sering-seringlah menaruh bayi di tempat tidurnya selagi ia
masih terbangun. Dengan begitu diharapkan ia terbiasa dengan situasi
sekitarnya, hingga tak canggung lagi untuk tidur tanpa ditemani.

ANAK USIA 0-6 Bulan

* Bedong seluruh tubuh bayi, tapi jangan kelewat ketat. Ia akan merasa hangat
dan nyaman.

* Taruh si kecil di ranjangnya dengan posisi sedemikian rupa, hingga tak ada
kontak mata dengan Anda. Salah satu tujuannya adalah menghindarinya
menuntut kenyamanan dari Anda.

* Biarkan ia mencoba menenangkan dirinya sendiri. Beri batas waktu selama 15
menit. Kemungkinan besar, si kecil akan merasa ada sesuatu yang aneh. "Kok,
aku enggak digendong, ya?" Wajar kalau ia mulai menangis sebagai tanda
protes. Tak perlu diangkat. Cukup elus pundak atau tepuk-tepuk bokongnya
dengan lembut.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                        hal 5
* Jika setelah 15 menit ia terkesan tak mau berhenti protes, angkat dan
timang-timanglah. Tapi usahakan jangan sampai ia tertidur dalam gendongan
karena justru hal itu yang ingin dihindari.

* Saat sudah tenang, taruh perlahan di ranjangnya dengan posisi berbeda dari
sebelumnya. Namun upayakan tetap tidak ada kontak mata.

* Ulangi proses tadi dari awal setiap kali hendak tidur. Kalau ia mulai bisa
tenang, tak perlu menepuk-nepuknya lagi. Biarkan ia mencoba terlelap sendiri.

* Jika belum berhasil dan ia tetap menangis, angkat dan timang-timanglah
sampai tenang sebelum memulai kembali proses tadi. Kali ini kemungkinan
berhasilnya pasti akan lebih besar.

6-12 BULAN

* Taruh si kecil di tempat tidurnya dan katakan, "Sekarang sudah waktunya
kamu bobo." Kemudian tinggalkan ruangan dan berjagalah di dekat pintu
sekitar 2 menit.

* Biasanya, tatkala sadar ia sendirian, protes segera dilancarkannya. Biarkan
sekitar 2 menit. Jika dalam kurun waktu itu ia tetap menangis, masuk lagi ke
kamarnya.

* Ubah posisi tidurnya, lalu tepuk-tepuk pundak dan kakinya. Lakukan selama 2
menit. Katakan lagi dengan lembut. "Sekarang sudah waktunya bobo, ya,
Sayang!"

* Kalau ia protes, diamkan dulu dengan meninggalkan kamarnya. Intip untuk
melihat usahanya menenangkan diri sendiri. Kali ini selama 4 menit. Tak perlu
khawatir. Kalau si kecil malah mengamuk dengan menendang-nendang
selimutnya, kembalilah ke ruangan dan tenangkan dia.

* Ulangi proses di atas dengan waktu yang makin lama makin bertambah.
Setelah 4 menit, coba 6 menit, 8 menit sampai akhirnya 10 menit. Kalau 10
menit tetap tak mempan, angkat dan timang. Setelah tenang, tinggalkan si kecil
selema 10 menit lagi. Jika tetap menangis, timang lagi hingga ia tenang.

* Ingat, proses ini memang tak mudah dilalui. Tapi jika orang tua konsisten,
"betah" mendengar tangisan bayi tanpa harus segera menggendong atau
menimangnya, hasilnya akan terlihat dalam waktu sekitar 3 minggu. Ukuran
keberhasilan ini adalah tenggang waktu tangisan si kecil yang makin lama
makin berkurang. Dari 10 menit, jadi 5 menit, dan akhirnya ia bisa terlelap
tanpa menangis sama sekali dan tak pula harus digendong/ditimang.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 6
                           Kenali Ciri Khas Bayi

* Hingga usia 3 bulan, umumnya bayi akan tidur sendiri bila sudah merasa
kenyang.

* Setelah usia 3 bulan, bayi juga akan tidur sendiri bila ia sudah capek bermain.

* Sebaliknya, karena lingkungan merupakan barang baru baginya, ia tertantang
untuk menjelajah ke mana-mana. Jadi, kalau lingkungannya itu-itu saja, ia akan
bosan dan cenderung rewel. Apalagi jika ia sering digendong, hingga tak punya
kesempatan untuk beraktivitas fisik. Akibatnya, ia tak merasa capek dan jadi
lebih sulit tidur.

* Mulai usia 6 bulan ke atas, anak susah tidur karena:

- Rasa lapar.

- Takut ditinggal, terutama oleh ibu.

- Pengalaman trauma pada siang hari, misalnya sehabis jatuh atau muntah
setelah makan sesuatu.

- Diajak main terlalu lama, hingga masih terbayang-bayang ingin bermain lagi.

- Perubahan lingkungan. Misalnya, saat listrik mati hingga udara terasa panas.

- Ganti tempat tidur pun, sering bikin bayi rewel.




                                        ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                         hal 7
    RAGAM MASALAH KULIT PADA BAYI


                             Ini jelas bukan masalah sepele. Kalau dibiarkan
                             atau ditangani secara salah, bisa-bisa menjadi
                             lahan yang subur bagi tumbuhnya bakteri. Pada
                             gilirannya akan menyebabkan penyakit yang lebih
                             parah. Apa saja masalah kulit pada anak dan
                             bagaimana penanganannya? Berikut penjelasan
                             dari Dr. Susmeiati H. Sabardi, Sp.KK dari RSAB
                             Harapan Kita, Jakarta.




                               RUAM POPOK
Istilah kedokterannya eksim atau dermatitis popok, yaitu kelainan kulit yang
timbul akibat radang di daerah yang tertutup popok. Biasanya di sekitar daerah
kemaluan, lipatan paha, pantat, dubur, dan perut bagian bawah.

Ruam popok sering timbul pada bayi atau anak berusia di bawah 3 tahun yang
masih menggunakan popok. Gejalanya, bila ringan, hanya berupa kemerahan
pada kulit di daerah yang tertutup popok. Bila makin parah, timbul bintil-bintil
merah, lecet/luka, bersisik, kadang basah, dan bengkak. Bayi pun jadi rewel
karena merasa nyeri ketika buang air kecil atau buang air besar.

Ruam popok juga bisa mengakibatkan infeksi jamur kandida ataupun infeksi
bakteri. Tandanya, kulit makin merah dan basah, lebih bengkak, dan bernanah.

* Penyebab

- Iritasi kulit pada daerah yang tertutup popok karena cara pemakaiannya tak
benar.

- Tak segera mengganti popok setelah bayi/anak buang air kecil atau besar.
Urin dan feses (tinja) yang tidak segera dibersihkan akan membentuk amonia
dan meningkatkan keasaman (pH) kulit sehingga akhirnya menyebabkan iritasi.

- Terlalu lama tidak mengganti popok sekali pakai dapat membuat kulit jadi
lembab, panas, lebih rentan terhadap gesekan, serta mudah teriritasi.

- Popok kain tidak dibilas bersih setelah dicuci dengan deterjen atau bahan
pemutih. Sisa deterjen atau pemutih dapat menjadi penyebab iritasi.

* Pencegahan

- Kurangi kelembapan dan gesekan kulit dengan popok dengan segera
menggantinya. Terutama setelah buang air besar.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                        hal 8
- Ganti popok sekali pakai bila tampungan urin sudah penuh. Dapat dilihat bila
popok sudah terlihat berat dan tebal.

- Sering-seringlah memeriksa popok supaya tak terlambat diganti. Terutama
pada pemakaian malam hari.

- Sewaktu mengganti popok, bersihkan dulu daerah sekitar kemaluan secara
lembut dengan air hangat. Boleh juga gunakan sabun bayi yang lembut setelah
bayi buang air besar, kemudian bilas dengan guyuran air supaya kotoran larut
dan terlepas. Keringkan dengan handuk atau kain yang lembut, angin-anginkan
sebentar sebelum dipakaikan popok yang baru. - Bedak, krim, atau salep untuk
bayi, boleh digunakan sekadar mengurangi gesekan saja. Namun jangan
gunakan bedak atau salep bila kulit belum dibersihkan dan dikeringkan. Terlebih
saat masih basah oleh urin dan ada luka. Bedak atau salep justru akan
menggumpal di daerah yang basah dan akhirnya mempermudah timbulnya
infeksi jamur maupun bakteri.

- Biarkan bayi tidak memakai popok selama 2-3 jam sehari agar kulit bisa
"bernapas", tidak panas, dan lembap.

- Hindari penggunaan popok yang terlalu ketat, terbuat dari bahan yang kaku
dan tebal, terlalu menutup, atau bahkan yang terbuat dari plastik.

- Pilih popok yang baik, terbuat dari katun, serta lembut.

- Hindari popok sekali pakai yang mengandung parfum, pilih yang berdaya
serap tinggi, serta pas di tubuh anak.

* Penanggulangan

1. Stadium ringan

- Segera ganti popok tiap kali buang air kecil dan buang air besar. Bersihkan
dengan air hangat, bila perlu dengan sabun bayi yang lembut. Bilas dengan air
sampai bersih dan keringkan.

- Oleskan krim/salep khusus untuk melindungi kulit yang sedang radang.

- Bila luka membasah, kompres dengan air garam atau air formula PK selama
1/2- 1 jam sebanyak 2-3 kali sehari sampai kulit kering. Setelah itu, angin-
anginkan. Olesi luka dengan losion/krim yang mengandung air sebagai langkah
berikutnya.

2. Radang masih berlanjut & tambah parah

- Segera bawa ke dokter.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                       hal 9
                               KERAK KEPALA

Sering juga disebut sarap atau borokan. Dalam istilah kedokteran, disebut
craddle cap atau dermatitis seboroik, yaitu kelainan kulit pada kepala berupa
sisik berminyak, tebal, lengket, dan biasanya berwarna kemerahan.

* Penyebab

Tak diketahui secara pasti. Namun dari penelitian yang pernah dilakukan, kerak
kepala diketahui sebagai peradangan kulit di daerah yang berminyak (seboroik)
karena ada gangguan pada kelenjar minyak. Kelainan ini juga bersifat genetik
(diturunkan). Pada bayi baru lahir hal ini sering terjadi karena aktivitas kelenjar
sebasea yang meningkat oleh pengaruh stimulasi hormon androgen dari ibu
saat hamil. Biasanya mulai timbul pada usia 2-3 minggu (bulan pertama).

* Penanggulangan

- Bersihkan dengan hati-hati karena kulit kepala bayi masih halus dan tipis.

- Meski tak berbahaya, bila dibiarkan terkesan kotor dan tak enak dilihat. Bisa
pula menjadi sumber infeksi karena menjadi tempat tumbuhnya bakteri.

- Kerak kepala juga akan menghambat keluarnya keringat. Bila dibiarkan,
lapisan sel kulit yang mati akan makin banyak dan akhirnya timbul biang
keringat, bisul, atau abses di kepala. Dalam jangka panjang, dapat bertambah
berat dan meluas ke seluruh tubuh yang disebut entroderma yang pada bayi
dikenal sebagai penyakit lemier.

- Sebaiknya bawa ke dokter. Pasien biasanya akan diberi minyak kelapa yang
telah dicampur zat antiseboroik. Caranya, oleskan di kulit kepala yang berkerak
dan biarkan semalaman. Esok paginya bersihkan dengan sisir bergigi rapat,
lepaskan kerak pelahan-lahan dari kepala bayi. Setelah itu, keramasi dengan
sampo bayi, keringkan, lalu oleskan krim obat dari dokter yang biasanya berisi
steroid sebagai zat antiperadangan. Jika perawatan dilakukan dengan benar,
kerak kepala akan sembuh dalam hitungan hari.

- Agar tak muncul lagi, mandikan dan keramasi bayi dengan bersih dan rutin.

                             BIANG KERINGAT

Istilah kedokterannya miliaria. Awam sering menyebutnya keringat buntet atau
prickle heat. Merupakan kelainan kulit yang sering ditemukan pada bayi dan
balita, kadang orang dewasa. Hal ini disebabkan produksi keringat yang
berlebihan, disertai sumbatan pada saluran kelenjar keringat. Biasanya anggota
badan yang diserang adalah dahi, leher, kepala, dada, punggung, atau tempat-
tempat tertutup yang mengalami gesekan dengan pakaian.

Keluhan yang timbul biasanya berupa rasa gatal seperti ditusuk-tusuk, kulit
kemerahan dan disertai gelembung-gelembung kecil berisi cairan jernih seperti




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                         hal 10
kristal bening (1-2 mm). Gelembung bisa tersebar di seluruh permukaan kulit
atau berkelompok pada bagian tertentu saja.

* Penyebab

- Udara yang panas dan lembab pada ruangan dengan ventilasi kurang baik.

- Memakai pakaian yang terlalu tebal dan ketat. Tekanan dan gesekan pakaian
berpengaruh meningkatkan suhu tubuh.

- Aktivitas yang berlebihan pada anak kecil, misalnya ketika sedang bermain.

- Badan panas atau demam.

* Pencegahan

- Mandikan bayi secara teratur 2 kali sehari.

- Bila berkeringat, seka tubuhnya sesering mungkin dengan handuk, lap kering,
atau waslap basah. Jika dengan waslap basah,sesudahnya keringkan dengan
handuk lembut. Setelah itu, lipatan-lipatan tubuhnya boleh ditaburi bedak bayi
tipis-tipis. Lebih baik jika bedak khusus untuk biang keringat.

- Hindari pemakaian bedak berulang-ulang tanpa mengeringkan keringat
terlebih dahulu karena dapat memperparah penyumbatan dan memudahkan
terjadinya infeksi bakteri atau jamur.

- Sebaiknya kenakan pakaian katun untuk anak-anak. - Jangan mengonsumsi
makanan dan minuman yang masih panas.

* Penanggulangan

- Pada pripsipnya, tak perlu pengobatan khusus. Cukup dengan merawat kulit
bayi secara benar dan bersih.

- Bila biang keringat berupa gelembung kecil tanpa kemerahan pada kulit,
kering, dan tanpa keluhan, bayi cukup diberi bedak tabur/bedak kocok segera
setelah mandi.

- Jika biang keringat menjadi luka yang basah, jangandibedaki karena akan
timbul gumpalan-gumpalan yang memperparah sumbatan kelenjar keringat dan
menjadi sarang kuman yang dapat menyebabkan infeksi. - Untuk keluhan yang
parah, gatal, pedih, luka atau lecet, rewel dan sulit tidur, segera bawa ke dokter.

- Bila timbul bisul, jangan dipijit karenakuman akan menyebar dan meluas ke
permukaan kulit lainnya.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                        hal 11
                     BERUNTUS LEMAK/JERAWAT

Kelainan ini diturunkan dari orang tua tapi akan hilang dengan sendirinya tanpa
pengobatan (transient). Ada dua macam beruntusan/jerawat yang ditemukan
pada bayi:

* JERAWAT KOMEDO (akul neonatorum)

Sekitar 50 persen bayi mengalaminya, biasanya timbul pada usia 2-4 minggu,
dan dapat berubah jadi bernanah. Jerawat bisa bertahan sampai bayi berusia 8
bulan, setelah itu akan hilang sendiri tanpa pengobatan. Biasanya terdapat di
muka, dada, dan punggung.

Hingga kini belum diketahui penyebabnya. Diduga akibat kadar androgen yang
tinggi pada kelenjar sebasea (minyak) yang diperoleh bayi melaui plasenta (ari-
ari ibu). Pada kasus ringan, penanggulangan cukup dengan memandikan bayi.

* JERAWAT BATU (milia)

Ditemukan pada hampir 40 persen bayi. Bentuknya berupa bintil-bintil kecil 1-2
mm, berwarna putih seperti mutiara atau kekuningan. Jumlahnya bisa sedikit
atau banyak dan berkelompok. Biasanya terdapat di wajah, pipi, hidung, dagu,
dahi, kadang di badan bagian atas, tungkai kemaluan, atau selaput lendir dalam
rongga mulut.

Penyebabnya adalah adanya retensi keratin (zat-zat yang seharusnya
dikeluarkan dari tubuh namun terhambat) dan kelenjar sebasea pada lapisan
kulit bagian atas (superfisial). Milia tidak berbahaya sehingga tak memerlukan
pengobatan khusus. Bisa hilang spontan pada 3-4 minggu setelah muncul. Yang
harus diingat,jangan memencet-mencet untuk menghilangkannya karena bisa
menimbulkan luka dan kemudian infeksi kuman.




                                      ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 12
    KENALI WARNA DAN BENTUK FESES
                BAYI


                    Frekuensi yang sering bukan berarti pencernaannya
                    terganggu. Waspadai bila warnanya putih atau disertai
                    darah. Kegiatan buang air besar pada bayi kadang
                    membuat khawatir orang tua. Warna, bentuk dan polanya
                    yang berbeda dengan orang dewasa inilah yang kerap
                    menimbulkan kecemasan. Sebelum kita menjadi cemas,
                    berikut penjelasan dr. Waldi Nurhamzah, Sp.A, tentang
                    feses bayi.

WARNA

Umumnya, warna-warna tinja pada bayi dapat dibedakan menjadi kuning atau
cokelat, hijau, merah, dan putih atau keabu-abuan. Normal atau tidaknya
sistem pencernaan bayi, dapat dideteksi dari warna-warna tinja tersebut.

Kuning

Warna kuning diindikasikan sebagai feses yang normal. Kata Waldi, warna feses
bayi sangat dipengaruhi oleh susu yang dikomsumsinya. "Bila bayi minum ASI
secara eksklusif, tinjanya berwarna lebih cerah dan cemerlang atau didominasi
warna kuning, karenanya disebut golden feces. Berarti ia mendapat ASI penuh,
dari foremilk (ASI depan) hingga hindmilk (ASI belakang)."

Warna kuning timbul dari proses pencernaan lemak yang dibantu oleh cairan
empedu. Cairan empedu dibuat di dalam hati dan disimpan beberapa waktu di
dalam kandung empedu sampai saatnya dikeluarkan. Bila di dalam usus
terdapat lemak yang berasal dari makanan, kandung empedu akan berkontraksi
(mengecilkan ukurannya) untuk memeras cairannya keluar. Cairan empedu ini
akan memecah lemak menjadi zat yang dapat diserap usus.

Sedangkan bila yang diminum susu formula, atau ASI dicampur susu formula,
warna feses akan menjadi lebih gelap, seperti kuning tua, agak cokelat, cokelat
tua, kuning kecoklatan atau cokelat kehijauan.

Hijau

Feses berwarna hijau juga termasuk kategori normal. Meskipun begitu, warna
ini tidak boleh terus-menerus muncul. "Ini berarti cara ibu memberikan ASI-nya
belum benar. Yang terisap oleh bayi hanya foremilk saja, sedangkan hindmilk-
nya tidak." Kasus demikian umumnya terjadi kalau produksi ASI sangat
melimpah.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 13
Di dalam payudaranya, ibu memiliki ASI depan (foremilik) dan ASI belakang
(hindmilk). Pada saat bayi menyusu, ia akan selalu mengisap ASI depan lebih
dulu. Bagian ini mempunyai lebih banyak kandungan gula dan laktosa tapi
rendah lemak. Sifatnya yang mudah dan cepat diserap membuat bayi sering
lapar kembali. Sedangkan, ASI belakang (hindmilk) akan terisap kalau foremilk
yang keluar lebih dulu sudah habis. Hindmilk mengandung banyak lemak.
"Lemak ini yang membuat tinja menjadi kuning."

Nah, kalau bayi hanya mendapat foremilk yang mengandung sedikit lemak dan
banyak gula, kadang-kadang terjadi perubahan pada proses pencernaan yang
akhirnya membuat feses bayi berwarna hijau. Bahkan sering juga dari situ
terbentuk gas yang terlalu banyak (kentut melulu), sehingga bayi merasa tak
nyaman (kolik).

Mestinya yang bagus itu tidak hijau terus, tapi hijau kuning, hijau dan kuning,
bergantian. "Ini berarti bayi mendapat ASI yang komplet, dari foremilk sampai
hindmilk supaya kandungan gizinya komplet. Nah, ibu harus mengusahakan
agar bayinya mendapat foremilk dan hindmilk sekaligus."

Sayangnya, disamping ASI, ibu juga kerap memberikan tambahan susu formula.
Sebelum proses menyusunya mencapai hindmilk, anak sudah telanjur diberi
susu formula hingga kenyang. Akibatnya, ia hanya mendapat ASI foremilk saja.

Waldi menyarankan, "Berikan ASI secara eksklusif. Perbaiki penatalaksanaan
pemberiannya agar bayi bisa mendapat foremilk dan hindmilk." Kiatnya mudah;
susui bayi dengan salah satu payudara sampai ASI di situ habis, baru pindah ke
payudara berikutnya.

Merah

Warna merah pada kotoran bayi bisa disebabkan adanya tetesan darah yang
menyertai. Namun dokter tetap akan melihat, apakah merah itu disebabkan
darah dari tubuhnya sendiri atau dari ibunya.

Jika bayi sempat mengisap darah ibunya pada proses persalinan, maka pada
fesesnya akan ditemukan bercak hitam yang merupakan darah. Umumnya
bercak itu muncul selama satu sampai tiga hari. "Jadi, tinggal dites saja,
asalnya dari mana? Dari darah ibu atau darah bayi." Bila darah itu tetap muncul
pada fesesnya (bisa cair ataupun bergumpal), dan ternyata bukan berasal dari
darah ibu, maka perlu diperiksa lebih lanjut. Kemungkinannya hanya dua, yaitu
alergi susu formula bila bayi sudah mendapatkannya, dan penyumbatan pada
usus yang disebut invaginasi. Dua-duanya butuh penanganan. Kalau ternyata
invaginasi, bayi harus segera dioperasi.

"Darah ini sangat jarang berasal dari disentri amuba atau basiler, karena
makanan bayi, kan, belum banyak ragamnya dan belum makan makanan yang
kotor." Kalau penyakitnya serius, biasanya bayi juga punya keluhan lain, seperti
perutnya membuncit atau menegang, muntah, demam, rewel dan kesakitan.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 14
Putih/Keabua-abuan

Waspadai segera jika feses bayi yang baru lahir berwarna kuning pucat atau
putih keabu-abuan. Baik yang encer ataupun padat. Warna putih menunjukkan
gangguan yang paling riskan. Bisa disebabkan gangguan pada hati atau
penyumbatan saluran empedu. "Ini berarti cairan empedunya tidak bisa
mewarnai tinja, dan ini tidak boleh terjadi karena sudah 'lampu merah'." Waldi
menegaskan, bila bayi sampai mengeluarkan tinja berwarna putih, saat itu juga
ia harus dibawa ke dokter. Jangan menundanya sampai berminggu-minggu
karena pasti ada masalah serius yang harus diselesaikan sebelum bayi berumur
tiga bulan. Sebagai langkah pertama, umumnya dokter akan segera melakukan
USG pada hati dan saluran empedunya.

"Yang sering terjadi, ibu terlambat membawa bayinya. Dipikirnya tinja ini
nantinya akan berubah. Padahal kalau dibiarkan, dan bayinya baru dibawa ke
dokter sesudah berumur di atas tiga bulan, saat itu si bayi sudah tidak bisa
diapa-apakan lagi karena umumnya sudah mengalami kerusakan hati.
Pilihannya tinggal transplantasi hati yang masih merupakan tindakan
pengobatan yang sangat mahal di Indonesia."

BENTUK

Feses bayi di dua hari pertama setelah persalinan biasanya berbentuk seperti
ter atau aspal lembek. Zat buangan ini berasal dari pencernaan bayi yang
dibawa dari kandungan. Setelah itu, feses bayi bisa bergumpal-gumpal seperti
jeli, padat, berbiji/seeded dan bisa juga berupa cairan.

Feses bayi yang diberi ASI eksklusif biasanya tidak berbentuk, bisa seperti
pasta/krem, berbiji (seeded), dan bisa juga seperti mencret/cair. Sedangkan
feses bayi yang diberi susu formula berbentuk padat, bergumpal-gumpal atau
agak liat dan merongkol/bulat. Makanya bayi yang mengonsumsi susu formula,
kadang suka bebelan (susah buang air besar, Red), sedangkan yang mendapat
ASI tidak.

Bila bayi yang sudah minum susu formula mengeluarkan feses berbentuk cair,
hal itu perlu dicurigai. "Bisa jadi si bayi alergi terhadap susu formula yang
dikonsumsinya atau susu itu tercemar bakteri yang mengganggu usus."

Kesulitan mendeteksi normal tidaknya feses akan terjadi bila ibu memberikan
ASI yang diselang-seling susu formula. Misalnya, akan sulit menentukan apakah
feses yang cair/mencret itu berasal dari ASI atau susu formula.

"Kalau mencretnya karena minum ASI, ini normal-normal saja karena sistem
pencernaannya memang belum sempurna. Tetap susui bayi agar ia tidak
mengalami dehidrasi. Tapi bila mencretnya disertai keluhan demam, muntah,
atau keluhan lain, dan jumlahnya sangat banyak serta mancur, berarti memang
ada masalah dengan bayi. Ia harus segera dibawa ke dokter.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 15
FREKUENSI

Masalah frekuensi sering mencemaskan ibu, karena frekuensi BAB bayi tidak
sama dengan orang dewasa. Kalau ibu mungkin sehari cuma sekali, jadi kalau
anaknya sampai lima kali sehari, ini sudah membuat cemas."

Padahal frekuensi BAB setiap bayi berbeda-beda. Bahkan, bayi yang sama pun,
frekuensi BAB-nya akan berbeda di minggu ini dan minggu depannya. "Itu
karena bayi belum menemukan pola yang pas. Umumnya di empat atau lima
minggu pertama, dalam sehari bisa lebih dari lima kali atau enam kali. Enggak
masalah, selama pertumbuhannya bagus."

Bayi yang minum ASI eksklusif, sebaliknya bisa saja tidak BAB selama dua
sampai empat hari. Bahkan bisa tujuh hari sekali. Bukan berarti ia mengalami
gangguan sembelit, tapi bisa saja karena memang tidak ada ampas makanan
yang harus dikeluarkan. Semuanya dapat diserap dengan baik. Feses yang
keluar setelah itu juga harus tetap normal seperti pasta. Tidak cair yang disertai
banyak lendir, atau berbau busuk dan disertai demam dan penurunan berat
badan bayi.

"Jadi yang penting lihat pertumbuhannya, apakah anak tidak rewel dan
minumnya bagus. Kalau tiga hari belum BAB, dan bayinya anteng-anteng saja,
mungkin memang belum waktunya BAB."



                 Harus BAB Dalam 24 Jam Pertama

Bayi yang pencernaannya normal, akan BAB pada 24 jam pertama setelah
dilahirkan. BAB pertama ini disebut mekonium. Biasanya berwarna hitam
kehijau-hijauan dan lengket seperti aspal yang merupakan produk dari sel-sel
yang diproduksi dalam saluran cerna selama ia dalam kandungan.

BAB pertama dalam 24 jam penting artinya, karena menjadi indikasi apakah
pencernaannya normal atau tidak. "Ada penyakit yang bisa ditentukan dengan
melihat apakah BAB pertama dalam 24 jam terjadi atau tidak," kata Waldi.
Contohnya, penyakit Hirschsprung yang merupakan gangguan pengeluaran tinja
akibat tidak adanya syaraf tertentu pada usus sebelah bawah.

BAB ini juga bisa dijadikan patokan oleh dokter kalau bayi mengalami masalah
pencernaan di kemudian hari. Misalnya, kalau BAB tidak lancar di minggu
berikut. "Bila catatan menunjukkan bahwa si bayi melakukan BAB pada kurun
24 jam sesudah lahir, dokter akan mengesampingkan kemungkinan
Hirschsprung atau penyumbatan. Jika tidak, dokter akan memikirkan
kemungkinan-kemungkinan ini, dan biasanya jawabannya adalah operasi."

Itulah sebabnya, penting bagi para ibu yang habis bersalin untuk menanyakan
pada suster/bidan apakah bayinya sudah BAB dalam waktu 24 jam. Jangan lupa
mengingatkan suster/bidan untuk mencatatnya di buku anak, karena catatan ini
penting di kemudian hari.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                        hal 16
                   MAIN, YUK, SAYANG!
Peran orang tua sangat besar dalam membantu si kecil melatih keterampilan
berbagai motoriknya lewat bermain. Syaratnya, bantu dengan sabar, beri
semangat serta berbagai fasilitas penunjang berupa mainan. Berikut beberapa
mainan yang sesuai untuk si kecil yang berusia 0-12 bulan. Selain mainan yang
tersedia di toko, barang-barang di rumah juga bisa dimanfaatkan sebagai
mainan.

KEAMANAN & KEBERSIHAN

· Jauhkan benda-benda mungil yang mudah masuk ke mulut, hidung, atau
kuping si kecil. Benda-benda besar bukan berarti tak berbahaya, lo. Terlebih
yang mudah patah karena patahannya bisa juga termakan.

· Jangan tinggalkan ia bermain sendiri dengan benda seperti tali, pita, benang,
atau sejenisnya. Selain dapat membuatnya tercekik juga bisa melukai jemarinya.

· Hindari benda yang terlalu berat yang amat berpeluang membuatnya terluka
bila tertimpa.

· Jangan memberi benda-benda yang memiliki cat/tinta yang mudah luntur.
Semisal, surat kabar dengan kualitas tinta cetak yang buruk.

· Hindari memberi benda berujung tajam yang dapat menusuk/melukai
tubuhnya atau mencolok mata.

· Secara teratur, cuci dan rebus benda-benda yang akrab dipakai bermain si
kecil.

Faras Handayani. Foto: Vitri/nakita

                             Usia 0-6 Minggu

                 USIA 0-6 minggu

                 CATATAN PERKEMBANGAN

                 -Merespon benda berwarna cerah.

                 -Sadar akan suara yang ada di sekeliling.

                 CATATAN LAIN

Stimulasi dengan mainan warna cerah. Tujuannya:

- Menghibur

- Membantu mengenal berbagai benda.



Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 17
- Merangsang otot mata agar lebih terfokus.

Rangsang dengan sesuatu yang bisa mengeluarkan bunyi-bunyian untuk
didengar.

BENDA DI RUMAH YANG BISA UNTUK BERMAIN

- Wajah orang yang menggendongnya karena bayi sangat suka mengamati
wajah. Jadi, cobalah selalu tersenyum dan mengajaknya ngobrol.

- Peralatan dapur dari stainless steel.

- Kain-kain bermotif dengan warna cerah.

- Botol plastik yang diisi benda-benda kecil sehingga bisa menghasilkan bunyi.
Seperti klip, kancing, beras atau pasir.

CONTOH MAINAN

Mainan yang dapat mengeluarkan bunyi untuk menstimulasi pendengaran si
kecil.

                                 Usia 3 Bulan

USIA 3 Bulan

CATATAN PERKEMBANGAN

Senang menendang dan mengayunkan objek yang menggantung.

BENDA DI RUMAH YANG BISA UNTUK BERMAIN

Siapkan sebuah tali memanjang di boks. Gantung berbagai benda ringan warna
cerah. Misal, kaos kaki yang disumpal tisu, saringan teh, kancing-kancing yang
diuntai.

CONTOH MAINAN

Mainan gantung berwarna cerah

                               Usia 4-5 Bulan

USIA 4-5 bulan

CATATAN PERKEMBANGAN

Selalu berusaha menggapai sesuatu




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 18
CATATAN LAIN

Agar aman, aktivitas sebaiknya dilakukan di kursi dorongnya.

BENDA DI RUMAH YANG BISA UNTUK BERMAIN

Taruh gelas-gelas plastik berwarna cerah atau benda-benda lain dengan warna
jreng di meja kursi dorongnya.

CONTOH MAINAN

Pilih mainan yang dirancang untuk ditaruh di kursi bayi




                              Usia 6-7 Bulan

               USIA 6-7 bulan

               CATATAN PERKEMBANGAN

               Dapat duduk tanpa dibantu walau sebentar.

CATATAN LAIN

Memasukkan semua benda ke dalam mulut

BENDA DI RUMAH YANG BISA UNTUK BERMAIN

Untuk melatih duduk, sediakan sesuatu yang bisa dipukul. Misalnya panci dan
sendok kayu.

CONTOH MAINAN

Teether merupakan mainan yang dirancang aman untuk masuk mulut

                                Usia 8 Bulan

            USIA 8 bulan

            CATATAN PERKEMBANGAN

            Posisi merangkak, tapi belum bisa bergerak maju.

CATATAN LAIN

Untuk melatihnya merangkak, beri mainan yang bergerak.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                  hal 19
BENDA DI RUMAH YANG BISA UNTUK BERMAIN

Berikan wadah berbentuk tabung, hingga dapat menggelinding.

CONTOH MAINAN

Bola dapat mendorong si kecil untuk merangkak

                                Usia 9 Bulan

USIA 9 bulan

CATATAN PERKEMBANGAN

Dapat menggunakan jarinya untuk menjumput atau memutar telepon

CATATAN LAIN

Tengah mengembangkan komunikasi dengan belajar menyatukan beberapa
suara menjadi kalimat

BENDA DI RUMAH YANG BISA UNTUK BERMAIN

Untuk latihan menjumput dapat menggunakan roti, kentang, wortel atau buncis
yang dipotong kecil-kecil.

CONTOH MAINAN

Telepon-teleponan baik untuk mendorong si kecil mengoceh




                               Usia 11 Bulan

                USIA 11 bulan

                CATATAN PERKEMBANGAN

                - Senang mengisi dan mengosongkan suatu wadah.

                - Senang menjatuhkan barang.

                CATATAN LAIN

                Dapat berjalan dengan bantuan




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                  hal 20
BENDA DI RUMAH YANG BISA UNTUK BERMAIN

Untuk memenuhi keinginannya untuk selalu mengisi dan mengosongkan,
biarkan ia membongkar barang belanjaan.

CONTOH MAINAN

Alat bantu jalan.




                               Usia 12 Bulan

                          USIA 12 Bulan

                          CATATAN PERKEMBANGAN

                          Mengenal benda yang tergambar di buku.

                          CATATAN LAIN

Pilih gambar dengan warna cerah, besar dan sederhana.

BENDA DI RUMAH YANG BISA UNTUK BERMAIN

Majalah/buku bekas.

CONTOH MAINAN

Buku antirobek




                                      ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                hal 21
     PLUS MINUS PENGGUNAAN POPOK
             SEKALI PAKAI
                   Praktis, jelas. Tapi benarkah kaki anak jadi berbentuk X?
                   Bahkan, kelak setelah besar anak jadi impoten?

                   Memang banyak informasi simpang siur soal pemakaian
                   popok sekali pakai (pospak) yang bikin orang tua khawatir.
                   Untuk itu, dr. Soenanto Roewijoko, Sp.A.(k), dari
                   Fakultas Kedokteran UI mencoba meluruskannya.




                         Menyebabkan Impoten

Penggunaan pospak yang terlalu lama memang bisa menyebabkan suhu panas
di sekitar alat kelamin. Demikian juga pemakaian celana yang ketat. Akibatnya,
produksi sperma tidak optimal dan sel sperma pun tidak bisa hidup dalam
suasana seperti itu. Namun, hal tersebut hanya terjadi jika usianya sudah
melewati masa pubertas, bukan sebelumnya, apalagi bayi. Jadi, pemakaian
pospak dalam jangka waktu lama tidak akan menyebabkan gangguan
reproduksi kini ataupun kelak.

Selain itu, harus dibedakan antara impotensi dan gangguan reproduksi sperma.
Fungsi reproduksi menyangkut ketersediaan sperma dalam testis. Bisa saja
fungsi seksualnya normal, tapi karena tidak terdapat sperma, maka ia tidak bisa
membuahi sel telur. Sementara impotensi dikaitkan dengan gangguan fungsi
ereksi atau alat vital tidak bisa menegang. Akibatnya, memang tidak terjadi
pembuahan.

                  Kebiasaan Mengompol Berlanjut

Sebenarnya tidak ada hubungan antara pospak dan kebiasaan si kecil
mengompol. Anggapan ini ada karena anak yang memakai pospak umumnya
merasa aman jika buang air. Dia merasa ada wadah yang menampung,
sehingga ia tidak terbiasa untuk ke kamar kecil.

Itulah mengapa, orang tua hendaknya tak lupa mengajari si kecil BAB dan BAK
di toilet, sehingga ia pun bisa belajar mengatur waktu buang air. Tak perlu
khawatir jika si kecil ternyata lebih lama mengompol dibandingkan yang lain.
Ingat, kemampuan satu individu berbeda dengan individu lainnya. Selain itu,
ada juga beberapa penyakit yang membuat penderitanya kerap mengompol,
salah satunya diabetes pada anak




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 22
                 Berdaya Serap Tinggi Yang Terbaik

Popok berdaya serap tinggi dapat menghindarkan bayi dari kelembapan yang
cukup tinggi sehingga mengurangi kemungkinan iritasi. Namun, bukan itu satu-
satunya kriteria popok bagus, karena yang tak kalah penting adalah bahannya
tidak beracun dan tidak membuat kulit gampang luka. Cari yang mengandung
material penyerap cairan lebih banyak, sehingga kulit jadi kering dan bisa
mempertahankan pH kulit mendekati normal. Di pasaran juga telah beredar
pospak dengan permukaan bagian dalamnya dilapisi formula yang mengandung
petrolatum (vaselin) yang akan melekat pada kulit sehingga mengurangi
kelembapan serta gesekan pada kulit.

            Mengganggu Pertumbuhan Tulang Pinggul

Itu tak benar. Justru saat ini banyak orang berpendapat pospak sangat baik
untuk perkembangan tulang pinggul. Dengan pospak, bayi bisa lebih leluasa
bergerak. Apalagi desainnya bisa dipilih yang elastis. Kegiatan berjalan dan
pertumbuhan tulang pinggul dengan demikian tidak terganggu.

                Sama Saja, Kok, Dengan Popok Kain

Popok kain memungkinkan sirkulasi udara yang lebih baik bagi kulit bayi.
Namun, saat ini banyak pospak yang dibuat dari bahan sedemikian rupa,
sehingga sirkulasi udara tetap berlangsung sekaligus mengurangi kelembapan.
Selain itu, daya serap pospak yang berkualitas juga sangat baik, sehingga kulit
bayi tetap sehat dan tidak lembap. Meski demikian, tidak berarti kita boleh
bermalas-malasan mengganti popoknya. Bagaimanapun popok tersebut
memiliki kapasitas maksimum yang tidak boleh dilampaui. Setidaknya,
usahakan untuk mengganti popok setiap 6 jam sekali, meski belum terlalu
penuh. Sebaliknya, meski baru saja diganti, kalau sudah tampak penuh harus
segera dibuang.

Penting diketahui, bayi yang baru lahir bisa buang air rata-rata setiap 30 menit
sekali. Kalau Anda menggunakan popok kain dan tidak menggantinya secara
cepat, air seni malah akan membuat kulitnya basah dan tak bisa bernapas.

            Benarkah Pospak Akibatkan Ruam Popok?

Ruam popok merupakan iritasi yang disebabkan dekomposisi dari air seni.
Pemakaian pospak di atas 12 jam bisa menyebabkan ruam popok. Selain urin,
tinja pun bisa menyebabkan iritasi. Itulah yang menyebabkan adanya dugaan
pospak sering membuat bayi terkena ruam popok, karena popok sekali pakai
menampung air seni berjam-jam, sedangkan bila menggunakan popok kain,
adanya kotoran bisa langsung diketahui, sehingga dapat langsung diganti.

Namun kini, daya serap pospak yang beredar di pasaran sudah semakin bagus,
sehingga ruam popok bisa diminimalisir. Hasil penelitian atas studi
perbandingan antara pengguna pospak dan popok kain juga membuktikan, kulit
bayi yang mengenakan pospak jauh lebih sehat dibandingkan yang mengenakan
popok kain.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 23
Riset yang diadakan di 16 negara serta telah dipublikasikan di Pediatric
Dermatology, Journal of American Academy serta Journal of Pediatric Health
Care itu semuanya menunjukkan pospak berdaya serap tinggi mampu menjaga
kulit tetap kering, sehingga si kecil terhindar dari ruam popok. Walaupun begitu,
jangan tunggu terlalu lama untuk mengganti pospak yang sudah kotor.

Ada juga bayi yang kulitnya sangat sensitif terhadap bahan pospak tertentu
sehingga kerap teriritasi. Jika hal ini terjadi, hentikan pemakaian pospak, atau
cari pospak lain yang lebih cocok. Umumnya, setiap merek mempunyai bahan
yang sedikit berbeda dengan merek lain.

Kalau sudah cocok dengan satu merek, sebaiknya jangan mengganti dengan
yang lain, kecuali kalau memang susah dicari di pasaran. Namun bila memang
tidak cocok dengan banyak merek, pakailah popok dari bahan kain.

                   Mengganggu Pertumbuhan Kaki

Memang ada yang menduga pospak bisa membuat jarak kedua kaki semakin
lebar dan mengganggu pertumbuhannya. Setelah itu, diperkirakan cara berjalan
anak juga terganggu. Istilah awamnya ngegang. Mungkin anggapan tersebut
timbul akibat melihat tepi pospak yang sangat kaku. Apalagi jika dipakai secara
terus-menerus.

Hanya saja, kekhawatiran mengenai hal ini belum pernah dibuktikan secara
ilmiah. Selain itu, kalaupun terdapat kasus yang demikian, maka tak perlu
khawatir karena biasanya akan segera pulih dalam waktu yang cukup cepat.
Selain itu, cara jalan bayi dengan orang dewasa, kan, memang berbeda.
Seorang bayi masih dalam tahap pertumbuhan tulang sehingga tak jarang cara
berjalannya masih kurang sempurna. Baru saat menginjak umur 2 tahun, ia
bisa berjalan dengan sempurna.

     Ruam Popok Bisa Sembuh Dengan Memakai Pospak?

Pospak bukan menyembuhkan ruam popok, tapi menjadi bagian penting dari
perawatan ruam popok. Pospak yang berdaya serap tinggi mampu mengurangi
kebasahan, sehingga kulit tetap dalam keadaan kering. Pengobatan ruam popok
adalah dengan menggunakan salep (zinc oxide dan petroleum). Hati-hatilah bila
membersihkan kulit si kecil. Seka kulitnya dengan lembut karena jika terlalu
kasar justru bisa memperlambat proses penyembuhan.

     Berbedakah Pospak Anak Laki-Laki Dan Perempuan?

Sama saja, kok. Fungsi popok adalah untuk menampung urin dan tinja anak.
Tidak ada perbedaan antara kotoran bayi laki-laki dan perempuan. Tapi penting
diperhatikan, pilih popok yang sesuai dengan berat badan serta usia anak saat
itu. Untuk masa awal bayi, popok sekali pakai ini dirancang memiliki daya serap
yang tinggi sehingga selangkangan selalu kering. Sementara untuk yang sudah
berusia 2 tahun dirancang agar anak merasa tidak nyaman setelah buang air
atau kotoran. Ini dimaksudkan agar anak membiasakan diri untuk segera buang
air di tempatnya.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                       hal 24
     BAHAYA KEPALA BAYI TERBENTUR
Biasanya segala bayangan seram tentang dampak cacat akan segera
menghantui. Hal itu sebetulnya tak perlu terjadi kalau kita bisa mengenali gejala
gawat tidaknya cedera yang diakibatkan. Nah, apa saja yang harus dicermati,
dr. Irawan Mangunatmadja, SpA dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta
akan menjelaskannya berikut ini. Diharapkan, dengan langkah pencegahan yang
disarankan, peristiwa bayi jatuh tak sampai terjadi.

PENGARUH POSISI BENTURAN KEPALA BAYI

Selain dari ada tidaknya benjolan, posisi benturan di kepala juga menentukan
ringan        dan       beratnya       cedera.        Inilah    keterangannya:
- Benturan di bagian samping kepala, apakah kanan atau kiri, bisa berdampak
sangat serius. Di bagian yang disebut daerah epidural ini terdapat pembuluh
darah arteri yang menempel di tulang kepala. Kalau sampai terjadi retak/fraktur
di daerah tersebut, maka pembuluh darah itu ikut robek. Akibatnya, terjadi
perdarahan epidural yang biasanya sulit dihentikan karena robekan terjadi di
pembuluh                                darah                             besar.
- Benturan yang cukup kuat di daerah temporal atau di samping dekat telinga,
bisa               menimbulkan                 gejala             epilepsi/ayan.
- Benturan di bagian belakang kepala perlu diwaspadai. Di daerah ini tersimpan
fungsi-fungsi vital otak, seperti pusat penglihatan. Perhatikan apakah terjadi
perubahan pada fungsi mata bayi. Seharusnya, saat melihat suatu objek, bola
mata bayi terlihat fokus. Jika terjadi gangguan, bisa secara tiba-tiba bola
matanya bergerak ke mana-mana atau arahnya tidak fokus. Tanda lainnya, ia
tidak lagi tertawa atau tersenyum ketika melihat orang-orang dekatnya. Ini
berarti pusat penglihatannya terganggu atau bahkan dia tidak bisa melihat.
- Benturan di bagian belakang kepala agak ke sebelah bawah dapat
menyebabkan cedera pada otak kecil yang merupakan pusat keseimbangan.
Akibatnya timbul gangguan gerak yang meliputi kemampuan motorik kasar dan
halus. Misalnya saja, tangan bayi gemetaran saat memegang sesuatu.
- Benturan keras di kepala bagian bawah sekali atau tengkuk akan
menyebabkan kesadaran bayi menurun. Di daerah ini terdapat batang otak
yang kalau cedera dapat memicu gangguan pernapasan dan bahkan kematian.
Jika sampai terjadi retakan tulang di bagian itu, maka patahan tulangnya dapat
menembus jaringan otak dan melukai susunan saraf pusat. Cedera seperti ini
termasuk                              kategori                             berat.
Selain itu, bisa timbul perdarahan dari hidung atau keluar cairan dari telinga.
Mengatasinya harus dengan tindakan operasi. Jika tidak, perdarahan akan terus
menekan jaringan otak yang pada tahap ekstrem bisa mengakibatkan kecacatan
dan kematian.

                          Perhatikan Benjolan

Setelah terbentur, perhatikan apakah ada benjolan atau tidak. Raba kepala bayi
untuk memastikannya. Kalau ada, berarti jatuhnya cukup keras. Benjolan yang
muncul biasanya berwarna kebiruan. Itu mengindikasikan adanya perdarahan di
bawah kulit. Untuk mengatasinya, berikan kompres air dingin agar
perdarahannya terhenti. Selama kesadaran bayi masih bagus, tak ada gangguan




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                       hal 25
saraf seperti bola mata jadi miring, tidak muntah, tidak tidur terus, dan tidak
ada kejang, maka cederanya bisa dianggap ringan.

Perlu diketahui, walaupun benturannya keras, benjolan belum tentu muncul saat
itu juga. Bisa saja baru keesokan harinya, karena perdarahan yang terjadi
mungkin sedikit jumlahnya, atau benjolan itu tak begitu terasa dan terlihat
karena tertutup rambut. Jadi kalau setelah jatuh tak segera muncul benjolan,
belum tentu benturannya ringan. Benjolan dapat muncul kapan saja dalam 48
jam pertama.

Bila cederanya ringan, benjolan makin lama akan mengecil dengan sendirinya,
sebab setiap perdarahan akan diserap oleh tubuh. Kalau benjolannya makin
lama makin besar maka orang tua perlu mencurigainya. Bisa saja perdarahan
itu tak diserap tubuh tapi malah membentuk semacam selaput di otak. Lama
kelamaan selaput ini dapat menekan jaringan otak dan menghambat
perkembangannya. Perlu dilakukan tindakan operasi untuk mengeluarkan
bekuan darah dan selaput tersebut.

Ada atau tidak ada benjolan, bayi yang jatuh harus terus diamati selama 2x24
jam dan diobservasi setiap 2 jam untuk menentukan berat ringannya cedera
akibat jatuh. Bila dalam kurun waktu itu suhu badannya meningkat, muntah,
atau bahkan kejang, bawalah segera ke dokter. Ini berarti ada luka dalam yang
lebih serius.

                               Gejala Gawat

Bila terjatuh, sewajarnya bayi menangis kesakitan dan rewel. Namun, ada juga
yang diam saja, karena mungkin saat itu terjadi penurunan kesadaran akibat
perdarahan di otak. Selain itu ada yang muntah atau naik suhu badannya. Ini
berarti otak si bayi mengalami guncangan yang merangsang pusat muntah dan
panas pada batang otak.

Hati-hati jika muntah atau panas baru terjadi keesokan atau beberapa hari
selanjutnya. Ini menunjukkan proses keterguncangan otak cukup kuat atau
terjadi perdarahan di dalam otak. Jadi bisa saja gejala gawat itu muncul secara
lambat. Misalnya, pada kasus retak kepala. Awalnya mungkin tidak terjadi
benjolan dan kondisi anak baik-baik saja. Baru di hari kedua anak kejang-
kejang yang perlu dicurigai sebagai adanya perdarahan di otak.

Waspadai juga kalau setelah terjatuh bayi semakin lemas dan semakin menurun
kesadarannya. Itulah gejala gegar otak yang disebabkan perdarahan atau
pembengkakan sel saraf otak. Perdarahannya sendiri bisa terjadi di bawah kulit
kepala, di selaput otak, atau di dalam otak. Bila terjadi di dalam otak, perlu
tidaknya operasi akan tergantung pada jumlah perdarahannya.

Bila setelah jatuh bayi langsung tak sadarkan diri dalam waktu lama (sekitar 5-
10 menit), kepalanya memar, kejang-kejang, dan muntah-muntah, berarti
perdarahan itu tidak hanya terjadi di daerah kulit, tapi juga di dalam otak di
bawah tulang tengkoraknya. Waspadai bila gejala ini muncul, dan orang tua
harus segera membawa si bayi ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 26
                            Menghindari Jatuh

Lakukan pengamanan semaksimal mungkin di mana pun bayi berada; di tempat
bermain dan terutama di tempat tidur. Boks bayi yang berpagar dan bisa
dikunci biasanya sudah cukup aman.

Bila bayi tidur di tempat tidur biasa, sediakan kasur tambahan di lantai untuk
berjaga-jaga. Usahakan tempat tidurnya dibuat rendah, sehingga bila bayi
terjatuh, benturannya tidak keras atau tidak menyebabkan cedera.

Mintalah pada pengasuh atau keluarga lain yang kerap menggendongnya untuk
bersikap hati-hati dan segera memberitahu bila bayi terjatuh tanpa harus takut
dimarahi.

                           Perlukah Scanning?

Walaupun bayi tampak normal, observasi harus terus-menerus dilakukan
selama dua hari tanpa perlu men-scanning kepala bayi lebih dulu. Jika makin
lama benjolnya mengecil berarti sudah ada perbaikan. Namun kalau benjolnya
menetap, bahkan membesar, orang tua perlu membawanya ke dokter yang
biasanya menganjurkan pemeriksaan dengan CT Scan.

Jadi, perlu tidaknya scanning ditentukan oleh gejala klinis yang muncul setelah
benturan. Tak mesti hari itu juga bayi di-scanning, kecuali terjadi perdarahan
yang cukup berarti, atau kepalanya tampak retak semacam ada tulang yang
melesak ke dalam.

                        Akibat Benturan Kepala

Bila dalam 2x24 jam setelah terjatuh, bayi baik-baik saja, kesadarannya masih
bagus, tak mengalami gangguan saraf, tidak muntah, dan tidak kejang, maka
benturannya bisa dianggap ringan dan tak berakibat apa-apa. Lain hal bila
benturan berlangsung keras, ditandai dengan adanya memar, benjolan, muntah,
kejang, lemas, dan pingsan dalam kurun waktu 2x24 jam, maka bukan tak
mungkin cedera otak itu akan mengganggu perkembangan bayi untuk
selanjutnya, termasuk risiko mengalami kelumpuhan. Namun, kejadian ini
jarang terjadi kecuali telah terjadi perdarahan berat.

               Bagian Tubuh Yang Sering Terbentur

Celakanya, bagian tubuh yang paling sering terkena benturan lebih dulu adalah
kepala. Padahal, kepala adalah bagian tubuh yang sangat vital karena di
dalamnya tersimpan susunan saraf pusat atau otak.

                      Kapan Bayi Biasa Terjatuh

Setelah berusia 6 bulanan, bayi mulai bisa berguling-guling. Sejak saat itulah
bayi rawan jatuh. Biasanya jatuh dari tempat tidur ketika dia sedang tidak
ditunggui, jatuh dari gendongan, jatuh saat diayun, atau jatuh saat menjelang
usia berjalan.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 27
           ALAT-ALAT PENGAMAN BAYI
Penggunaannya boleh jadi tidak sering, tapi alat pengaman bayi bisa
mengantisipasi risiko terjadinya kecelakaan.

Kesadaran orang tua untuk menggunakan alat-alat pengaman bayi di rumah,
bisa dibilang masih jarang dimiliki. Padahal, sementara ia belum tahu bahaya,
usia bayi merupakan masa eksplorasi yang aktif secara motorik. "Jadi,
kemungkinan terjadinya kecelakaan cukup sering," kata dr. Jahja Zacharia,
SpA, dari RS Mitra Internasional Jatinegara, Jakarta.

Faktanya, rata-rata hanya orang tua yang pernah tinggal di luar negeri saja
yang memperhatikan segi keamanan anak ini. Kenapa? Karena umumnya
selama di luar negeri, mereka tidak menyediakan anggaran untuk
mempekerjakan pengasuh anak. Alhasil, alat-alat pengaman untuk anak di
rumah sangat diperlukan. Dengan begitu ayah/ibu bisa tetap melakukan
pekerjaan rumah, sementara anak pun terjamin keamanannya tanpa harus
ditunggui. Alasan lainnya, di negara-negara maju berlaku peraturan yang akan
menghukum orang tua yang lalai memperhatikan keamanan anak. Jika sampai
terjadi kecelakaan yang berulang pada anaknya, hak pengasuhan bisa diambil.

Sementara di Indonesia, keluarga besar dapat diandalkan untuk ikut menjaga
anak sepanjang hari. Menggaji tenaga pengasuh pun masih relatif terjangkau.
Oleh karena itu, meski tak ada angka statistiknya, angka kecelakaan di sini
relatif rendah. Tak heran jika alat-alat pengaman bayi relatif jarang digunakan
dan tak mutlak pula dimiliki.

"Namun demikian," lanjut Jahja, "tak ada salahnya pula bila orang tua
mempunyai alat-alat pengaman tersebut. Harganya memang cukup mahal
karena merupakan barang impor. Jadi belilah yang memang sangat dibutuhkan.
Kalau bisa, singkirkan furnitur berujung runcing, barang pecah belah, benda-
benda berat, dan sebagainya. Kalau tidak, maka diperlukan alat-alat pengaman
untuk antisipasinya.

Asal tahu saja, alat-alat ini pun tak selamanya dipakai. Tergantung dari
perkembangan anak. Ketika ia berusia 6 bulan dan sudah aktif merangkak maka
ibu bisa mulai memikirkan pagar untuk alat pengamannya agar dia tidak
beredar ke tempat-tempat berbahaya. Di usia batita, barulah ia bisa dikenalkan
pada hal-hal yang berpotensi membahayakan dan tak membutuhkan pagar
pengaman. Jadi, selama anak belum bisa menjaga diri dari kecelakaan, alat
pengaman ini sangat bermanfaat dalam meminimalisasi risiko. Kelak, bila anak
sudah bisa mengerti akan bahaya dan bisa berhati-hati, alat-alat ini bisa
disimpan kembali.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 28
                         Ragam Pengaman Bayi


                           Monitor

                           Alat ini terdiri atas monitor dan alat penerimanya.
                           Nyalakan tombol monitor pada saat akan digunakan.
                           Di ruang lain yang cukup jauh jaraknya, orang tua
                           bisa memantau keadaan anak. Apakah ia asyik
                           bermain sendiri, gelisah, atau menangis.

                        Lewat alat itu, orang tua bisa menyampaikan suara
                        untuk menenangkan bayinya. Masa pemakaian
biasanya berlangsung sampai usia 36 bulan.

                                    Pagar

                     Ketika bayi sudah mulai melakukan mobilisasi dan sudah
                     mulai aktif bereksplorasi, jauhkan dia dari tempat-tempat
                     yang bisa membahayakan, seperti dapur, tangga, kamar
                     mandi, gudang, dan sebagainya. Salah satunya, jika
                     sedang tak ditunggui oleh orang dewasa, pasanglah pagar
                     penghalang di pintu kamar anak. Bahannya ada yang
                     terbuat dari kayu ataupun plastik. Lebarnya dapat
                     disesuaikan dengan lebar pintu dan tingginya tak
                     terjangkau oleh si anak. Bisa digunakan ketika usianya
                     sekitar 6 bulan sampai usia batita.



                   Pengait/pengunci Pintu Lemari

                        Di rumah, biasanya terdapat lemari-lemari yang
                        memang tidak dipasangi kunci demi kepraktisan,
                        semisal lemari es, dan lemari serbaguna tempat
                        menyimpan deterjen, obat pel dan lain sebagainya. Ada
                        saatnya anak tertarik dengan kegiatan membuka dan
                        menutup lemari. Tangannya bisa terjepit, atau barang-
                        barang di dalam lemari itu dapat membahayakan
                        dirinya. Untuk menghindari hal yang tak diinginkan,
                        pasangi pintu-pintu lemari itu dengan alat pengaman ini.
                        Biasanya dengan mengkaitkan kedua handle/pegangan
                        pintu lemari.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 29
                         Penghalang Pintu Kaca


                        Pintu bisa menjadi elemen yang berbahaya karena dapat
                        menyebabkan anak terkunci di suatu ruangan atau
                        terjepit jari-jemarinya. Alat penahan pintu bisa
                        digunakan untuk mencegah kemungkinan tersebut sejak
                        bayi mulai belajar merambat/berdiri sampai usia batita.



                            Alat Pengaman Berjalan

                           Biasanya digunakan ketika bayi mulai belajar
                           berjalan. Dipakai di bagian bahu dan dada. Pada saat
                           ia belajar berjalan atau ditatih, orang tua
                           membimbingnya dengan memegang tali di bagian
                           belakang. Sebagai alternatif, orang tua bisa
                           menggunakan selendang/kain jarit.




                          Penyangga Bak Mandi

                              Biasanya ibu yang baru pertama kali mempunyai
                              anak belum berani memandikan sendiri bayinya di
                              minggu-minggu pertama. Gunakan penyangga
                              yang bisa menjaga bayi agar tak tergelincir dari
                              tangan ibu. Bayi pun akan merasa nyaman.
                              Aksesoris ini bisa digunakan sejak bayi lahir
                              sampai usianya 6 bulanan.



                         Pembatas Tepi Ranjang

                          Ketika ranjang bayi sudah terlalu sempit dan tidak lagi
                          bisa memberi kenyamanan, maka pindahkan si kecil
                          ke tempat tidur yang lebih luas. Hanya saja,
                          kemungkinan untuk jatuh sangatlah besar. Untuk
                          mencegahnya, gunakan penghalang. Namun, alat ini
                          hanya bisa dipasang di satu sisi ranjang. Sisi lainnya
                          harus menghimpit dinding kamar.

Bila ruang tidur cukup leluasa, lebih baik turunkan saja kasurnya ke lantai. Jadi
tidak terlalu tinggi dan sejajar dengan matras support-nya (bagian bawah
tempat tidur). Jaraknya ke lantai mungkin jadi sekitar 25 cm, dan akan lebih




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                        hal 30
baik lagi jika lantainya diberi alas. Kalau anak terjatuh, benturannya tidak akan
terlalu membahayakan.

                             Pelindung Listrik

Terkena aliran listrik dapat berakibat fatal. Amankan stop kontak yang terletak
di dinding sebelah bawah atau yang terjangkau anak dengan alat pengaman.

             Pengaman Sisi Meja Yang Runcing/tajam

Saat berekplorasi, kepala anak-anak sering terbentur karena kemampuan
kontrol dirinya yang masih kurang. Bahaya muncul jika kepala mereka
berbenturan dengan sudut-sudut furnitur yang menyiku. Hindari kemungkinan
ini dengan memasang pengaman yang tumpul di sudut-sudut furnitur. Alat ini
tidak bersifat merusak.



                               Bantalan Busa

Di bulan-bulan pertama usianya, bayi masih belajar tengkurap, membolak-balik
badan, dan belum bisa mengendalikan kepalanya. Jika ia sedang berada di
dalam boks, ada kekhawatiran kepalanya akan terbentur. Oleh karena itu,
pasangi sekelilingnya dengan bantalan atau bumper. Bila usia sudah memasuki
8 bulanan, bantalan ini tak perlu lagi digunakan. Bayi kini sudah bisa
mengendalikan diri. Kalau masih digunakan, ada kemungkinan bantalan itu
dipanjat olehnya, dan ada kemungkinan ia terjungkal jatuh ke luar boks.

                      Pengaman Di Mobil/Carseat

Di mobil, alat pengaman bagi anak juga sangat diperlukan. Di negara maju,
bahkan ada aturan yang melarang orang tua menaruh bayinya di kursi depan,
meskipun ia digendong oleh kita. Berbeda halnya dengan kebiasaan di sini.
Aturan itu sangat bijak, karena pada saat terjadi pengereman mendadak, bayi
bisa terpental dan terbentur dashboard atau kaca depan.

Menurut penelitian, walaupun bayi digendong dengan erat, daya dorong mobil
yang sangat kuat tak akan bisa ditahan. Karena itu, dibutuhkan alat pengaman
berupa baby carseat. Kursi ini diletakkan di kursi belakang, menghadap ke
belakang pula. Baby carseat dilengkapi tali penyangkut yang kuat dan juga
seatbelt bagi bayi.




                                       ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                        hal 31
          SERBA-SERBI SUSU FORMULA


                             Karena kandungan susu formula tak sesempurna
                             ASI, sering muncul keluhan manakala si kecil
                             mengonsumsinya. Inilah aneka keluhan yang kerap
                             disampaikan para ibu dan penjelasannya.

                             Diare

                             Mencret atau buang-buang air, tutur dr. Sandra
                             Rompas Darmawan, Sp.A dari RS Puri Cinere
                             Jakarta, merupakan keluhan yang paling banyak.
                             Gangguan ini biasanya merupakan reaksi bayi
                             pada saat ususnya beradaptasi terhadap susu
                             formula. Lama keluhan sekitar 3-4 hari, setelah itu
                             keluhan reda dengan sendirinya.

                             Bila susu tak cocok, mencret-mencret langsung
terjadi saat itu juga. Jika terus diberikan, keluhan akan menetap atau tak
sembuh-sembuh. Sebaiknya, ganti dengan susu formula lain. Terserah mau pilih
merek apa, yang penting anak suka dan tak ada keluhan apa pun.
"Kandungannya sama saja, kok. Yang beda hanya komposisi zat-zat gizinya."

Alergi

Keluhan ini juga cukup banyak. Selain mencret, gejala lainnya adalah gampang
batuk, bisulan, dan sebagainya. Jika muncul alergi, hentikan selama 1-2 minggu.
Ganti dengan susu formula dari bahan kedelai, karena susu jenis ini bersifat
nonalergenik. Bila keluhannya hilang, berarti si bayi memang alergi terhadap
susu formula berbahan susu sapi, boleh saja dicoba diberikan lagi untuk
memastikan benar-tidaknya bayi tahan pada susu sapi. "Tapi kalau tak mau
ambil risiko, ya, jangan berikan. Beri susu dari bahan kedelai saja," saran
Sandra.

Yang jelas, susu sapi dan susu kedelai punya kadar kalori yang sama. Hanya
saja pada susu kedelai, kandungan sifat proteinnya lebih ringan hingga lebih
mudah dicerna anak terutama yang mengalami gangguan enzim pencernaan.

Menolak Minum

Bayi yang sudah terbiasa mendapat ASI, biasanya menolak susu formula.
Akibatnya, asupan cairan yang masuk, berkurang jumlahnya. Umumnya karena
bayi yang biasa mengisap puting susu, kini harus mengisap dot botol susu.
Menyiasatinya, sendokkan susu ke mulut bayi. Jika umurnya sudah 8 bulanan,
gunakan gelas bercorong atau sedotan. Cara ini juga bisa dipakai jika bayi
hendak disapih di usia itu.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 32
Penolakan serupa akan terjadi pada kasus sebaliknya: yang biasa dikasih dot,
kini diberi puting ibu. Sebab mengisap puting memerlukan usaha lebih keras.

Di rumah sakit pun, bayi baru lahir yang belum pintar menyusu dari ibu,
sebaiknya minum dengan menggunakan sendok. Bukan dot. Dengan demikian,
bayi tak bingung puting.

Kenapa Harus Susu Formula?

Secara ilmiah, sudah terbukti, ASI lebih unggul dalam memberikan kekebalan
tubuh dan meningkatkan kecerdasan. Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif
selama 4-6 bulan di tahun pertama usianya, hampir tak pernah sakit.
Sayangnya, tak semua ibu bisa dan mau memberi ASI secara eksklusif. Tak
jarang pemberian ASI diselang-seling dengan susu formula. Atau cuma dapat
ASI sebentar lalu dialihkan ke susu formula.

Berikut alasan yang paling sering dari para ibu yang tak memberi ASI eksklusif.

* KURANG PERCAYA DIRI

Perasaan ini akan muncul kala ibu ragu menghadapi bayi baru lahirnya yang
menangis mencari minum, sementara ASI belum keluar. Bayi pun diberi susu
formula. Padahal, menurut Sandra, tak masalah jika bayi baru lahir dalam
waktu 3X24 jam, belum diberi ASI. Ia tak akan kekurangan gizi atau kalori.
Yang penting, ajari ia mengisap puting ibu setiap kali refleks isapnya bekerja.
Sayangnya, ibu kerap cemas duluan melihat bayinya menangis dan
menganggap harus cepat-cepat diberi minum.

Hal sama terjadi pada bayi menangis karena belum kenyang. Ibu tak yakin ASI-
nya mencukupi, lalu buru-buru menambahkan susu formula. "Yang tepat, beri
ASI lagi, meski cuma keluar sedikit ibu harus yakin benar ASI dapat mencukupi
kebutuhan bayi." Keyakinan ini tentu harus ditunjang dengan makan makanan
bergizi, banyak minum air, dan pikiran yang tenteram.

* SAKIT

Karena harus mengonsumsi obat-obatan tertentu yang bisa 'meracuni' ASI, ibu
yang sedang sakit harus berhenti menyusui bayinya sementara waktu. Kondisi
kesehatan yang buruk dan fisik yang lemah, mungkin juga membuat ibu tak
kuat lama menyusui. Mau tak mau, harus diselingi dengan susu formula.
Gunakan sendok agar bayi tak bingung puting.

Setelah pulih dari sakit, beri ASI lagi. Produksi ASI masih tetap bagus bila
selama sakit dan tak menyusui, ibu tetap mengeluarkan air susunya dengan
tetap memerasnya.

* HARUS KEMBALI BEKERJA

"Inilah alasan yang paling sering dikemukakan," ungkap Sandra. Masa cuti
bersalin selama 3 bulan, sering membuat ibu bingung mengingat pemberian ASI
eksklusif bisa sampai 6 bulan. Alhasil, anak diberi susu formula. Padahal, ibu




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 33
bekerja tetap bisa memberi ASI dengan cara memeras dan menyimpan ASI
dalam lemari pendingin, untuk diberikan pada bayi selama ibu tak ada di rumah.

* TERGIUR IMING-IMING

Ada yang beranggapan, susu formula mahal, sama atau mendekati mutu ASI.
Atau sekadar tertarik dengan iming-iming hadiah dan kemasan yang menarik.

* INGIN LANGSING

Ini juga kerap jadi alasan. Ibu ingin cepat langsing kembali lewat diet ketat,
mengurangi porsi makanan secara drastis, dan menghentikan ASI. Padahal,
seharusnya kepentingan anak harus didahulukan. Untuk mengembalikan bentuk
tubuh, saran Sandra, "Lakukan olahraga dan kurangi makanan berlemak."




                  Tata Cara Memberi Susu Formula

Memberi susu formula, kata Sandra, jangan lupakan tata caranya. Yaitu:
* Ikuti aturan pakai. Misalnya, 1 sendok takar dicampur 30 ml air. Kalau terlalu
encer, asupan gizinya berkurang. Sementara terlalu banyak, bisa mengganggu
usus     bayi.     Akibatnya,    bayi    mencret   atau     malah   sulit   BAB.
* Salah bila beranggapan memberi susu yang pekat/kental bisa membuat bayi
lebih kenyang. Menurut Sandra, kalau bayi belum kenyang, beri sebotol lagi
dengan takaran sesuai aturan pakai. Amati pula kapasitas lambung bayi. Ada
anak yang kapasitas isi lambungnya besar hingga bisa minum lebih banyak, ada
pula                                yang                             sebaliknya.
* Jangan pernah lupa memeriksa panas susu di botol. Teteskan dulu di
punggung          tangan       ibu      sebelum      diberikan     ke       bayi.
* Jika bayi jadi sulit BAB atau keras, caranya bukan dengan mengencerkan susu
formula melainkan harus juga diberi air putih yang cukup. Bayi di bawah usia 4
bulan memerlukan cairan lebih banyak dan lebih sering. Setelah usia itu, cairan
bisa didapat juga dari jus buah, bubur susu, dan lainnya. Anak perlu sekitar
150-250 cc/kg BB. Kalau beratnya 3 kg, berarti ia perlu 600 ml. Ini bisa
terpenuhi          dari       ASI,       susu      formula,       dan        air.
* Yang juga penting, jaga kebersihan botol. Botol yang tak dibersihkan dengan
baik, bisa menjadi sarang kuman penyakit dan akhirnya membuat anak
mencret-mencret. Yang benar, cuci dan gosok bersih tiap kali habis dipakai.
Kemudian disterilkan agar terbebas dari kuman. Caranya, masukkan dalam
panci tempat menanak nasi (seperti diuapkan) atau direbus dalam panci yang
berisi air selama sekitar 15 menit atau sampai air mendidih. Kini juga tersedia
alat sterilisasi yang menggunakan listrik.




                                      ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                       hal 34
       RAGAM KEBIASAAN SAAT TIDUR


                             Dalam tidurnya, bayi punya sejumlah kebiasaan
                             unik. Semua itu terjadi secara alami, karena pada
                             umumnya bayi membutuhkan rasa aman.

                             Seperti halnya manusia, tidur pun merupakan
                             sesuatu yang unik. Kalau diperhatikan, ada
                             kebiasaan tidur pada bayi yang mungkin berbeda
                             satu dengan lainnya. Ada yang tak bisa diam, tidur
sambil mengisap jempol, dan sebagainya. Menurut dr. Ellen R. Toruan, SpA,
dari RSUD Pasar Rebo, Jakarta Timur, "Kebiasaan-kebiasaan itu awalnya terjadi
secara alamiah karena ia perlu perasaan aman dan tenang."Apa saja kebiasaan
si kecil dan cara mengatasinya jika ternyata kebiasaan tersebut kurang baik?

* Mengisap Jari

Tiap bayi pasti melakukannya, terlebih bayi baru lahir hingga usia 3 bulan. Ini
berkaitan dengan refleks isap yang memang sudah dimilikinya sejak lahir.
Mengisap jari dimulai ketika bayi merasa kehilangan/kesepian. Misalnya, karena
ibu tak dapat mendampinginya sepenuh waktu, sementara bayi termasuk tipe
yang memerlukan waktu lebih lama untuk menyusu. Berhubung jari adalah
"benda" terdekat yang bisa dimasukkan ke mulutnya, maka itulah yang
diisapnya. Apalagi, proses pemuasan diri pada bayi berada dalam tahap oral.

Sebetulnya, refleks isap akan terpuaskan saat ia minum ASI. Dari kegiatan itu
terjalin kedekatan antara ibu dan bayi yang akan menghasilkan rasa aman.
Kedekatan merupakan salah satu syarat pertumbuhan anak dari segi psikologis.
Jika bayi sudah merasa aman, tentu ia akan tenang, senang dan nyaman.
Beberapa pakar mengatakan, bayi yang menyusu ASI akan lebih jarang
mengisap jari dibanding yang menyusu botol.

Sebetulnya, mengisap jari hanya berlangsung sementara waktu. Tapi pada bayi-
bayi tertentu, kebutuhan ini lebih kuat sehingga masih dapat ditolerir. Bahkan
sampai usia 7 bulan kebiasaan ini masih dianggap wajar.

Apalagi, mulut dan tangan merupakan bagian tubuh yang kepekaannya tinggi
terhadap sentuhan. Tak heran bila mengisap jari juga diasosiasikan dengan
pencarian rasa hangat dan aman. Saat melakukannya, bayi merasa tenang dan
mendapat kenikmatan hingga timbul rasa ngantuk dan akhirnya tertidur.
Dengan begitu ia dapat meredakan perasaan-perasaan negatifnya seperti bosan
kala sendirian.

Bila setelah usia itu kebiasaan ini masih juga berlanjut, perlu dicari
penyebabnya. Amati, kejadian apa yang dialami anak dan bagaimana perlakuan
kita terhadapnya. Sebab, ini terkait dengan pemenuhan kebutuhannya untuk
disayang, diperhatikan, dihargai, dan dipahami.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 35
Banyak hal merugikan dapat terjadi bila kebiasaan terus berlanjut hingga ia
besar. Bentuk jari dan struktur giginya menjadi tak bagus. Kesehatannya
mungkin terganggu jika kebersihan jarinya tidak terjamin. Kebisaan ini juga
akan memberi dampak yang tak baik bagi perkembangan kepribadian di
kemudian hari.

Mengatasinya, tentu tak bisa dipaksakan sehingga kebiasaan ini tak bisa
langsung dihentikan. Lebih baik alihkan pada hal lain seperti menimang atau
mengayun, mendongengkan menjelang tidur, mengelus-elus kepalanya,
mengajaknya bicara/berkomunikasi, atau memberi mainan yang berbunyi dan
bergerak.

* Menangis Malam Hari

Umumnya karena ia lapar. Lambungnya masih kecil, tak muat banyak, sehingga
tiap 3-4 jam harus diisi. Bisa juga ia terbangun karena popoknya basah atau
digigit nyamuk. Untuk mengatasinya, periksa apa penyebab dan carikan
solusinya. Popok basah, misalnya, ganti dengan yang bersih. Jika ia
sesenggukan, biasanya terjadi karena saat menangis, tak semua perasaannya
keluar sehingga terbawa dalam tidur. Mengatasinya, tepuk-tepuk perlahan
tubuh si bayi.

* Sering Kaget

Tak jarang saat tidur nyenyak, tiba-tiba tubuhnya bergerak seperti orang kaget,
meski tak terbangun. Ini disebut refleks Moro yang selalu ada pada bayi normal.
Fungsinya sebagai pertahanan diri dari sesuatu yang bisa membahayakan,
bersifat naluriah, dan spontan tanpa harus ada rangsangan dari luar. Bisa juga
karena ia kaget mendengar suara yang tiba-tiba muncul. Atasi dengan
menidurkan bayi di tempat yang tenang. Refleks Moro ini biasanya akan
menghilang di usia 5 bulan. Jika terus berlanjut, cari penyebabnya karena
mungkin terjadi sesuatu yang tidak normal pada dirinya.

* Lasak

Terlalu banyak melakukan aktivitas fisik di siang hari dapat membuat tidurnya
gelisah, lasak, atau tak bisa diam. Ini karena bayi banyak merekam kejadian
dalam memorinya sehingga di malam hari perasaannya menjadi tak nyaman.
Bisa juga karena kondisi lingkungan di sekitarnya gaduh.

Untuk mengatasinya, hindari bayi dari kegiatan yang melelahkan di siang hari.
Misalnya, tak membiarkan ia tertawa atau menangis terlalu lama. Sebagian
anak dengan autisme berat, tidurnya juga cenderung tak bisa diam, bahkan
sampai membentur-benturkan kepalanya. Hal ini tentu harus diatasi dengan
terapi.

* Main Dengan Rambut Ibu

Beberapa bayi suka memainkan rambut ibunya menjelang tidur. Tangannya
akan mencari-cari rambut ibu untuk dipegang-pegang atau bahkan dimasukkan
ke dalam mulut. Terkadang bukan hanya rambut, tapi juga tangan ibu.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 36
Kebiasaan ini memang sebetulnya untuk memperoleh rasa aman. Dengan
begitu dia merasa bahwa ibu masih bersamanya. Perilaku ini muncul karena
proses pemuasan diri pada bayi berada dalam tahap oral. Bisa juga karena rasa
laparnya belum terpenuhi. Untuk mengatasinya, tahan tangan si bayi dan elus
perlahan agar ia merasa tenang.

* Memilin Bantal/Selimut

Menjelang tidur, anak bisa terpaku pada satu hal saja seperti ujung selimut,
bantal, boneka, puting susu ibu, atau lainnya. Selain dipilin, objek itu kadang
diusap-usapkan ke hidung atau mulutnya. Hal ini dapat memenuhi kebutuhan
rasa aman dan nyaman si bayi.

Jeleknya, bayi jadi rewel jika benda-benda kesayangannya dicuci karena baunya
jadi lain. Padahal, teman tidur yang kotor dan kumal itu jadi sarang kuman
penyakit. Apalagi bila dimasukkan ke mulut bisa menimbulkan diare atau bila
kapuknya sampai keluar bisa membuat batuk kambuhan.

Agar tidak keterusan, alihkan kebiasaan ini. Sebelum tidur, misalnya, orang tua
mendongengkan atau memainkan jari-jemari tangannya sambil bercerita.
Jangan menghentikan perilaku itu dengan cara menarik tangannya secara kasar
karena hanya akan menimbulkan rasa bersalah dan trauma yang tak baik bagi
perkembangan psikologisnya di masa depan. Tarik perlahan-lahan dan alihkan
pada hal lain. Buatlah ia merasa nyaman, sehingga lama-lama ia akan lupa.

* Minta Diayun/Ditepuk

Ayunan dan tepukan menimbulkan rangsangan monoton yang amat disukai bayi.
Namun selama itu, bayi harus dalam keadaan kenyang, kering, dan suhu
ruangannya hangat. Mengayun-ayun dengan cara menggendong merupakan
salah satu cara untuk memberi rasa aman dan nyaman pada si kecil. Tapi
jangan keterusan. Lewat dari usia 6 bulan, bayi akan tergantung pada orang
yang menggendongnya. Tepukan pelan tak masalah dilakukan sampai usianya
cukup besar. Apalagi kalau seharian dia tidak bertemu ibunya. Toh, hanya
dilakukan sampai ia terlelap.

* Ngempeng

Seperti halnya mengisap puting susu ibu, ngempeng juga membuat bayi merasa
nyaman. Perilaku ini muncul karena proses pemuasan diri pada bayi berada
dalam tahap oral. Namun jangan jadikan kebiasaan ini sebagai cara untuk
menenangkan bayi. Sebab, jika keterusan, akan sulit dihentikan.

Kebiasaan ngempeng di usia balita bisa membuat gigi-geliginya jadi tak
beraturan, rahangnya maju ke depan, dan anak jadi tak belajar mandiri.
Sebaiknya, jangan beri empeng/dot kepada anak menjelang tidur. Tepuk-tepuk
badannya sebentar agar ia merasa tenang.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 37
* Mendengarkan musik

Aktivitas ini terjadi karena pembiasaan sebelumnya. Positifnya, musik bisa
memberikan ketenangan pada anak. Kita juga tahu musik klasik yang riang,
ringan, dan menenangkan sangat baik bagi pertumbuhan otak anak. Untuk itu,
boleh saja aktivitas ini terus dilakukan, tak hanya saat anak mau tidur, tapi juga
saat bermain atau melakukan aktivitas lain.

Kalau kebetulan aktivitas ini tak mungkin dilakukan, coba cara lain untuk
menenangkannya, seperti menepuk-nepuk bokongnya atau nina-bobokan
dengan menyanyikan lagu untuknya.



                                       ***




      KERAP DIGENDONG, BIKIN ANAK
                 MANJA
Kontak tubuh yang terjadi saat menggendong bayi dapat memberinya rasa
aman dan nyaman. Agar tak berdampak negatif, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan.

Menggendong terutama dilakukan saat kita hendak menidurkan, menenangkan,
atau menyusui bayi. Dalam gendongan yang merupakan kontak kulit dengan
orang tua, bayi akan merasa aman, nyaman, dan merasakan sentuhan kasih
sayang orang tua. "Memiliki rasa aman sangat berguna untuk perkembangan
anak yang akan datang. Kelak dia akan tahan secara psikis terhadap stres-stres
yang ada," kata dr. Asti Praborini, SpA, dari RS MH Thamrin Internasional,
Salemba Jakarta yang juga salah seorang pengurus IDAI Jaya.

Memang, lanjut Rini, "secara psikis ada hubungan antara kedekatan bayi
dengan orang yang sering menggendongnya. Antara lain, karena bayi dapat
mengenali aroma tubuh orang yang kerap menggendongnya. Sebaliknya orang
tua yang tidak pernah menggendong bayinya, tidak akan memiliki kedekatan
dengannya."

PERHATIKAN POSISI

Dalam menggendong bayi ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara
lain posisi menggendong. "Bila bayinya masih kecil sekali, mungkin di bawah 4
bulan, tentunya si bayi digendong dengan posisi terbaring. Bayi baru lahir
hingga usia 3 bulan belum mempunyai keseimbangan yang baik. Leher,
punggung dan kaki belum bisa dengan baik menyangga tubuhnya, sehingga
ketiga bagian ini harus mendapat topangan di saat kita menggendongnya.

"Sebaiknya, satu tangan dipakai untuk menahan bokong bayi dan tangan
lainnya menyangga punggung, leher, dan kepala. Kalaupun menggendongnya




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                        hal 38
dengan menggunakan jarit perlu sering-sering dilihat bayinya. "Dikhawatirkan,
posisi bayi berubah tanpa ketahuan sehingga membahayakan," kata Rini.

Biasanya, setelah usia bayi 3 bulan, leher dan punggung bayi sudah kuat dan
tegak, sehingga bayi siap digendong dengan posisi lain. "Orang tua bisa
menggendongnya di samping, sambil kaki si kecil melingkari pinggul ibu/ayah.
Biasanya cukup ditopang bagian pinggangnya, sebab kepala dan punggungnya
sudah kuat," ujar Rini.

Menggendong anak di pinggang dengan kaki mengangkang tak berbahaya, kok.
Juga tak ada hubungannya dengan kaki berbentuk X atau O. Kelainan bentuk
kaki seperti itu sudah didapat sejak lahir, bukan karena salah menggendong.
Hanya saja memang, kalau bayi memiliki kelainan tulang atau penyakit-
penyakit tulang khusus, semisal kerapuhan tulang, menggendong seperti ini
akan memperparah keadaannya. Begitu juga dengan cacat panggul bawaan."

MENGHINDARI "BAU TANGAN"

Yang jelas, digendong bisa jadi kebiasaan. Bukankah bayi merasa nyaman dan
aman. Orang mengistilahkannya "bau tangan", jika tak digendong, ia akan
rewel, tak bisa tidur atau gelisah. Masalah seperti ini, menurut Rini, umumnya
terjadi pada bayi-bayi yang tinggal dengan keluarga besar seperti nenek, kakek,
tante, om, dan sebagainya karena mereka sering ikut menggendongnya secara
bergantian.

Lain hal kalau bayi tinggal hanya dengan keluarga inti atau ayah ibu yang
keduanya bekerja. Biasanya, kepada pengasuh di rumah mereka mewanti-wanti
agar jangan membiasakan bayinya digendong terlalu lama. "Jadi, apakah
nantinya anak jadi manja, tak mandiri dan terbiasa digendong, sebetulnya
berpulang pada pola asuh keluarga itu sendiri," simpul Rini.

Ia pun menyarankan, agar anak tetap merasa aman dan nyaman meski tanpa
kebiasaan digendong, sebaiknya orang tua tidak melepaskan anaknya sama
sekali. Menggendong tetap bisa dilakukan pada saat-saat tertentu seperti
sedang rewel, menangis, mimpi buruk, atau sakit. Ini penting untuk
membangun rasa amannya, jadi jangan tidak pernah digendong sama sekali.
Sebaliknya, jangan juga terlalu memanjakan. Terutama kalau bayi sudah bisa
merangkak, orang tua tak perlu sering menggendongnya.

Menggendong dihentikan bila usia bayi sudah di atas 8 bulanan atau sudah bisa
berdiri dan belajar berjalan. Di usia ini pun berat badannya sudah mencapai 8
kg lebih sehingga gampang membuat kita lelah jika menggendongnya. Orang
tua juga bisa meminta pengasuh di rumah untuk mengurangi ketergantungan
anak dengan tidak menggendongnya ke mana-mana.

AKIBAT SELALU DIGENDONG

Lagipula, keseringan digendong bisa membuat bayi jadi malas bergerak. Malas
menggerakkan kaki dan pinggulnya untuk berjalan, misalnya. Tentu ini akan
menghambat pergerakan motorik anak.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 39
Secara psikologis, kebiasaan digendong, terutama setelah bayi berumur di atas
8 bulan akan mendorongnya menjadi anak yang manja. Apa yang dia inginkan
tinggal tunjuk dan orang yang menggendongnya akan mengambilkan. Bisa saja
ia menjadikan tangisan sebagai senjata agar digendong. Tentunya yang paling
banyak menggendong akan menerima akibatnya. Karena itu diperlukan sikap
yang tegas.

Untuk mengatasi ketergantungan digendong, ketika anak sudah bisa merangkak
taruhlah dia dalam boksnya. Kalau sudah besar coba dudukkan dengan nyaman.
Alihkan pada hal lain agar tak selalu minta digendong, mungkin dengan
mengajaknya bermain atau bercanda.

Kalaupun usianya sudah lebih besar, tak perlu digendong tapi bisa dengan cara
lain seperti memberinya pelukan atau mendekapnya sambil duduk dan
sebagainya. Meskipun kontak itu mungkin hanya dilakukan sebentar-sebentar
tapi skin to skin contact akan sangat berharga buat anak.



                   Serba-Serbi Alat Gendong Bayi

Menurut Rini, alat gendong yang dikenal selama ini tidak membawa pengaruh
berarti pada bayi. Orang tua tinggal memilih mana yang disukai, asalkan
memperhatikan hal-hal di bawah ini.
* Alat gendong berfungsi mengurangi beban tangan sehingga memungkinkan
kita melakukan pekerjaan lain.
* Alat gendong apa pun bebas digunakan asalkan kita berhati-hati. Jika tidak,
bayi bisa tercengklak.
* Perhatikan faktor usia bayi dan juga perkembangannya. Jika bayi belum bisa
duduk, jangan pilih gendongan ransel. Lalu ada jarit modern yang tak
sepanjang kain, lebih simpel tak usah diikat karena sudah ada ring pengikatnya
yang bisa mengatur panjang pendek kainnya. Umumnya para ibu muda
sekarang menyukai model jarit ini karena tampak modis.
* Perhatikan ketelitian dalam menalikan atau mengaitkan gendongan agar bayi
tak jatuh.

                              Mengayun Bayi

Umumnya, orang tua dulu mengayun bayinya dalam kain gendongan yang
diikat di kerangka plafon atau tiang rumahnya. Kebiasaan ini dilakukan agar
mereka bisa bekerja dengan tenang, dan tidak terganggu oleh kerewelan bayi.
Mengayun seperti ini memberikan kenikmatan tersendiri bagi bayi sehingga ia
dapat tidur nyenyak. "Hanya saja perlu hati-hati, agar ikatannya tidak lepas dan
balok tempat bergantungnya aman dan kuat. Kalau perlu, taruh kasur di
bawahnya. Kalau ayunan lepas, bayi tidak langsung jatuh ke lantai yang keras,"
kata Rini.

Selain itu perhatikan pula cara mengayunnya. Dorongan yang terlalu keras dan
mengguncang-guncang bisa membahayakan bayi. Ada kemungkinan bayi
terbentur, terjatuh atau risiko lainnya. Kalau bayi memiliki riwayat kelainan
pembuluh darah atau pembekuan darah, maka mengayun seperti itu akan
memperparah keadaannya. Bayi bisa dengan mudah mengalami perdarahan.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 40
Memang awam sendiri tak akan tahu apakah bayinya bermasalah atau tidak,
karena kasus ini sangat jarang terjadi.



                       Manfaat Metode Kanguru

Rini menambahkan, untuk bayi-bayi kecil atau prematur yang lahir dengan
berat badan di bawah 2 kg, dianjurkan untuk menggendongnya di dada,
sehingga terjadi kontak kulit dengan kulit (skin to skin contact). Cara ini
dinamakan dengan metode kanguru. Menggendong ala kanguru merupakan
salah satu cara mencegah bayi yang baru lahir menderita kedinginan.
Efektivitasnya juga jauh lebih baik daripada menghangatkan dengan
menggunakan lampu. Bayi digendong sepanjang hari atau 24 jam secara
bergantian sampai berat badannya mencapai sekitar 2500 gram, seperti halnya
bayi yang lahir normal.

Di samping efek skin to skin contact, metode ini akan membuat bayi lebih tahan
sakit daripada dengan digendong memakai jarit. Berat badannya pun akan
cepat sekali naik. Menggendong cara ini pada bayi normal yang sakit juga akan
membuatnya tenang dan lebih mudah cepat tidur. Cara ini juga efektif
menghangatkan bayi yang tinggal di daerah dingin atau pegunungan. Hanya
menggendongnya tidak secara terus menerus sepanjang hari, tapi hanya
beberapa jam saja.




                                      ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 41
     USIA TEPAT MENDAPAT MAKANAN
                 PADAT
Perhatikan dengan cermat usia tepat mendapat makanan padat. Terlalu dini
ataupun terlambat bisa membawa masalah.

Sebagian orang tua selalu mengira, bayi menangis karena dia lapar. Karena
kasihan, bayi usia sebulan pun diberi pisang yang dikerok. Padahal, seperti
dijelaskan, dr. Nuraini Irma Susanti, Sp.A dari SMF Anak RS Fatmawati-
Jakarta, tangisan tak selalu berarti bayi lapar. Kalaupun karena lapar, bayi di
bawah usia 4 bulan belum pas diberi pisang. "Cukup ASI," tandas Nuraini.

Hanya saja bayi prematur usia 4 bulan belum tentu bisa langsung diberi
makanan padat. "Harus dilihat dulu kondisi kesehatan dan berat tubuhnya. Jika
lahir prematur di usia 7 bulan dengan BB 1.800 gram, tentu masih harus
dirawat di RS sampai kondisinya kuat, organ tubuh serta refleks isapnya
berfungsi baik." Di usia 2 bulan, diharapkan kondisinya sama seperti bayi baru
yang lahir normal dengan BB normal pula. Paling tidak, di atas 2,5 kg.

Bila bayi tersebut bisa mengejar ketertinggalan berat badannya hingga usia 4
bulan, ia sudah bisa dikenalkan dengan makanan padat seperti halnya bayi yang
lahir cukup bulan. Makanan semipadat/padat yang diberikan bayi terlalu dini
atau sebaliknya, kelewat lambat, bisa menimbulkan sejumlah risiko.

JIKA TERLALU DINI

* Gangguan sistem penyerapan makanan
Jika bayi diberi makanan padat di usia yang lebih dini atau sebelum 4 bulan,
sistem pencernaannya akan terganggu karena fungsi saluran cerna dan
ginjalnya belum sempurna. Pada saluran cerna, produksi enzim pencernaan
belum mencukupi, sehingga makanan padat yang masuk belum dapat dicerna
dan diserap dengan sempurna. Keadaan ini dapat menimbulkan keluhan pada
saluran cerna.

* Diare
Gangguan ini mungkin terjadi pada bayi di bawah usia 4 bulan karena sebagian
makanan padat tersebut belum bisa dicerna dan juga karena pergerakan
ususnya jadi meningkat. Penyebab lainnya adalah akibat kontaminasi oleh
kuman penyakit. Misalnya, jika makanan padat maupun peralatan makannya
kurang bersih atau tangan orang yang memberi makanan tak bersih.

* Invaginasi
Di lain pihak, gerakan usus yang berlebihan juga bisa menimbulkan invaginasi
atau masuknya usus bagian atas ke dalam usus bagian bawah. Bila tidak
kembali ke posisi semula, di lokasi itu akan terjadi sumbatan. Biasanya perut
bayi menjadi kembung dan permukaannya tampak tegang serta keras. Keadaan
ini akan merangsang keluarnya isi lambung atau muntah-muntah berwarna
kehijauan, kesulitan buang air besar, dan adakalanya mengeluarkan darah
berlendir. Jika sampai terinfeksi, muncul pula panas pada tubuhnya. Tak ada




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 42
patokan waktu kapan proses invaginasi ini akan menunjukkan gejala. Bisa saja,
makanan padat diberikan sekarang, tetapi invaginasinya terjadi setelah 3-7 hari
kemudian.

Keadaan ini memerlukan pertolongan segera di rumah sakit. Bila ada tanda-
tanda sumbatan, harus dilakukan tindakan bedah untuk menyelamatkan nyawa
bayi. Sumbatan membuat banyak pembuluh darah di usus terjepit sehingga
menimbulkan nekrosis atau kerusakan usus.Jika usus yang rusak itu tidak
dibuang, kemungkinan besar akan muncul infeksi yang menjalar ke seluruh
tubuh dan menyebabkan kematian. Adakalanya sumbatan usus lepas dengan
sendirinya ke posisi semula setelah dilakukan perangsangan tertentu oleh
dokter ahli bedah.

* Tersedak
Sampai usia 4 bulan, bayi belum bisa mengunyah dan menelan dengan baik.
Pemberian makanan padat di usia yang lebih awal, sangat mungkin
membuatnya sering tersedak. Kalau sampai terjadi, akibatnya bisa menutupi
saluran pernapasannya dan bayi jadi berhenti bernapas.

* Kontak alergi lebih dini
Terlalu awal memberikan makanan semi padat/padat seperti bubur susu di usia
3 bulan, berarti pula memberikan kontak terhadap kemungkinan alergi secara
lebih dini. Bubur susu dengan bahan dasar yang berasal dari susu sapi dapat
menimbulkan alergi pada bayi yang alergi susu sapi. Walau reaksi alergi tak
selalu terjadi, tapi paling tidak kita sudah memaparkan atau memperkenalkan
zat alergen itu sejak dini. Akibatnya nanti, respon alergi pada bayi akan keluar
lebih sering. Pada bayi yang punya sifat dasar alergik, misalnya, akan timbul
dermatitis atopik dengan gejala gatal-gatal pada kulit atau sering batuk. Nah,
jika reaksi ini masih bisa dihindari, kenapa pula harus terjadi di usia dini?

LEWAT WAKTU

Berlawanan dengan pemberian makanan semi padat/padat yang terlalu dini,
ada juga orang tua yang malah menundanya hingga lewat waktu yang
dianjurkan. Biasanya disebabkan ketakutan dan kekhawatiran setelah melihat
anaknya tersedak. Bisa juga karena orang tua memang tak paham. Mereka jadi
mengandalkan ASI/PASI (pengganti ASI) sebagai pemasok nutrisi bagi anaknya,
misalnya sampai usia 1-2 tahunan, dan menganggap makanan lain tak begitu
penting.

Sebetulnya, kata Nuraini, ASI eksklusif sampai usia 6 bulan sangat baik, asalkan
produksi ASI dan kenaikan BB bayi bagus. Pemberian ASI pun masih boleh
berlanjut hingga usia 1-2 tahun, selama disertai asupan makanan lainnya.

Yang harus dihindari, pemberian ASI/PASI saja, kala produksi ASI tak
mencukupi lagi sementara usia bayi sudah memasuki bulan ke-4. Akibatnya,
BB-nya turun atau tak memenuhi syarat minimal usianya. Jika itu yang terjadi,
pemberian makanan tambahan/padat di usia ini sudah harus dimulai. Sebagai
patokan, paling tidak di 3 bulan pertama kehidupannya, kenaikan BB bayi yang
bagus adalah sekitar 500-1.000 gram. Selanjutnya, kenaikan BB ideal adalah
sekitar 350-500 gram per bulan. Jadi, saat usianya 6 bulan, BB-nya akan




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                       hal 43
menjadi 2 kali BB lahir, dan di usia 1 tahun beratnya akan menjadi 3 kali BB
lahir.

Pengenalan makanan semi padat, menurut Nuraini, paling lambat harus
dilakukan saat bayi berusia 6 bulan. Beri secara bertahap dari cair, lunak, semi
padat, dan padat, agar pencernaan bayi tidak kaget.

Pengenalan dilakukan sedikit demi sedikit sampai bayi bisa beradaptasi.
Mungkin tahapannya bisa dipercepat karena di usia ini sistem pencernaan bayi
dianggap sudah matur/matang. Jika bayi usia 6 bulan tidak juga dikenalkan
pada makanan padat, akan timbul masalah antara lain,

* Kurang gizi
Semakin bertambah usianya, bayi membutuhkan zat-zat lain dan juga
tambahan kalori dari makanan selain ASI/PASI. Kekurangan gizi bisa dilihat dari
BB bayi yang tak kunjung naik.

Hati-hati, mengenalkan makanan padat pada saat bayi sudah masuk dalam
kondisi gizi buruk, dapat membuat sistem penyerapan makanannya terganggu.
Misalkan, bayi usia 8 bulan seharusnya sudah bisa makan nasi tim kasar namun
karena BB-nya hanya 4,5 kg, kemampuan ususnya dalam menyerap makanan
terganggu dan dia jadi tak bisa menerima makanan tersebut.

Pada bayi dengan gizi buruk seperti itu, maka pemberian makanan
tambahannya harus disesuaikan dengan BB bayi, yang konsistensinya bertahap
mulai dari cair sampai padat. Kalau kemudian BB-nya bertambah, coba lagi
dengan makanan yang lebih padat. Jadi, pemberian makanan padat pun
tergantung pada kondisi bayi.

* Kurang suka makanan lain
Kalau kondisi gizi bayi baik, hingga berusia 6 bulan tak ada masalah dengan
pemberian ASI eksklusif. Setelah itu, bayi bisa dengan mudah menerima
makanan semi padat. Hanya saja, sering terjadi ia tak mau makanan lain selain
ASI. Memang seharusnya kalau pemberian makanan padat sudah dilakukan
sejak usia 4 bulan, diharapkan di usia 6 bulan bayi sudah pandai beradaptasi
dengan berbagai macam makanan, karena ia sudah mengenal aneka rasa dan
tekstur makanan.

Dengan kata lain, keterlambatan pemberian makanan padat berarti waktu
beradaptasi yang lebih panjang bagi bayi. Padahal, di usia itu seharusnya bayi
sudah mendapat asupan zat gizi lainnya di samping ASI/PASI. Kesulitan
beradaptasi ini pun mempengaruhi timbulnya masalah sulit makan pada anak.

                        Mencegah Bayi Tersedak

* Atur posisi agar tegak dengan cara dipangku.
* Gunakan sendok ukuran kecil dengan takaran 5 cc atau sendok teh, sesuai
ukuran mulut. Sendok ini bisa dipakai hingga bayi usia 8 bulan.
* Ketika menyuapi, sendok yang masuk ke mulutnya jangan mengarah ke atas
tapi agak turun ke bawah, sehingga makanan mudah masuk mengikuti anatomi
rongga mulut.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                        hal 44
* Jika makanan yang masuk dikeluarkan kembali dengan lidahnya, masukkan
kembali ke dalam mulut, beri air putih sedikit demi sedikit dan perlahan.
* Jika tersedak, balik badannya dan tepuk-tepuk perlahan punggungnya dengan
jari-jemari. Bukan dengan telapak tangan.
* Bila makanan tak kunjung keluar dan mengganggu jalan napasnya, segera
bawa ke dokter untuk dilakukan tindakan.



                          Tunda Protein Tinggi

Pemberian makanan tambahan atau padat biasanya sering menimbulkan alergi
pada bayi. Terutama yang mengandung protein tinggi seperti ikan laut. Alergi
bisa muncul berupa gatal-gatal di kulit, bintik kemerahan seperti biang keringat
tapi kering (eksim) di lipatan-lipatan tubuh, atau pulau-pulau kecil kemerahan
di pipinya. Ada juga yang terserang diare atau batuk-batuk.

Karena itu, saran Nuraini, bila dalam keluarga terdapat riwayat alergi seperti
asma atau gatal setelah makan ikan laut, pemberian makanan yang kira-kira
mengandung protein tinggi sebaiknya ditunda dulu. Jangan beri pada saat usia
bayi masih 6 bulan, tapi tunggu hingga usianya mendekati setahun. "Tanpa
riwayat alergi pun, pemberian makanan berprotein tinggi sebaiknya dilakukan
pada usia 8 bulan ke atas untuk menghindari alergi di usia dini seperti batuk-
pilek, gatal-gatal atau biduran."

Kalau dari kecil anak sudah sering terpapar alergi, tendensinya bisa ke arah
asma, batuk pilek yang berulang. Semua ini dapat mengganggu nafsu
makannya. Biasanya anak yang sering batuk pilek jadi sulit makan karena di
tenggorokannya banyak terdapat lendir dan mudah muntah. Akhirnya, asupan
makanannya tak mencukupi dan berat badannya tak kunjung naik.

Sebetulnya dengan bertambahnya usia, daya tahan tubuh anak terhadap zat
alergi semakin membaik. Alhasil, makin lama reaksi alerginya akan semakin
berkurang. Namun, ada juga sebagian kecil yang menetap walau tak sehebat di
masa kecil. Oleh karena itu, hindari alergi yang bisa muncul di usia dini.

                         Jangan Dicampur-aduk

Untuk bayi usia 4-6 bulan pemberian bubur susu sebaiknya dilakukan satu
persatu menurut jenis atau rasanya. Misalnya, minggu ini diberi bubur susu
beras merah saja, minggu depan bubur susu kacang hijau, lalu bubur susu
beras putih, biskuit susu, dan seterusnya.

Demikian pula dengan sari buah, sebaiknya dikenalkan pun satu per satu,
jangan langsung dicampur dengan sari buah lain. "Supaya anak belajar
mengenal rasa dan tekstur makanan seperti keadaan aslinya," jelas Nuraini.

Seringkali, karena mau praktis, nasi tim dan bahan makanan lainnya seperti
lauk dan sayurannya dicampur jadi satu. Menurut Nuraini, sebaiknya nasi tim
dipisah dari sayur dan lauknya. Dengan demikian, orang tua akan lebih mudah
mengetahui, mana makanan yang disukai anaknya. Apakah yang manis, asin,




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 45
atau mana yang menimbulkan alergi sehingga bisa dihindari dan diganti dengan
bahan makanan lainnya.




                                      ***




         MITOS BEDA BAYI LELAKI DAN
                       PEREMPUAN
                             Begitu banyak mitos seputar perbedaan bayi lelaki
                             dan perempuan yang berkembang di masyarakat
                             kita. Padahal, tak semuanya benar. Berikut
                             sejumlah mitos dan uraian medisnya yang
                             disampaikan dr. Julia Kadang, Sp.A. dari RS
                             Pluit Jakarta.

                             1. BAYI LELAKI LEBIH KUAT & BANYAK
                             MENGISAP ASI

Sedikit-banyaknya konsumsi susu tak dipengaruhi oleh jenis kelamin, melainkan
berat badan anak yang berpengaruh terhadap volume lambungnya. Jika berat
badannya besar, otomatis volume lambungnya pun besar pula. Dengan
demikian, daya konsumsi susunya pun tinggi. "Jika berat badan bayi perempuan
besar, otomatis mengisap susunya pun akan lebih banyak."

Selain itu, kondisi anak ikut berpengaruh. Jika anak menderita penyakit tertentu,
seperti flu atau demam, selera minum susunya pun menurun atau terlihat ogah-
ogahan.

Demikian pula kondisi psikologis. Jika hubungan kasih sayang antara ibu dan
anak cukup erat, anak akan merasa nyaman sehingga mengisap ASI banyak.
Namun bila yang menyusuinya selalu marah-marah, bisa jadi bayi merasa tak
nyaman sehingga minum susunya sedikit.

2. BAYI PEREMPUAN LEBIH CENGENG

Sebetulnya tidak. Mitos ini berkembang karena mungkin ada anggapan bayi
perempuan lebih lembut sehingga sedikit-sedikit menangis. Dalam banyak
kasus, boleh jadi anggapan itu benar. Tapi bukan berarti harus dijadikan
patokan. Tak sedikit bayi laki-laki yang memiliki sifat cengeng.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                       hal 46
Cengeng-tidaknya bayi, selain dipengaruhi oleh karakter, juga oleh keadaan
fisik. Mungkin saja kondisinya sangat lemah dan sering sakit-sakitan, yang
membuatnya sering menangis atau jadi kolokan. "Justru kalau bayi sering
menangis, perlu diteliti ada apa sebenarnya? Bisa karena kesakitan, popoknya
basah, dan lainnya. "Adalah wajar jika bayi sering menangis."

3. BAYI LAKI-LAKI LEBIH SERING NGOMPOL

Ini juga tak benar. Sering-tidaknya ngompol, tergantung dari volume air susu
yang ia minum. Bayi yang banyak minum susu, biasanya lebih sering ngompol
dibanding yang tidak. Ini wajar sekali. Pada bayi dengan penyakit tertentu
semisal diabetes, ia akan banyak ngompol.

4. BAYI LAKI-LAKI LEBIH KUAT TENDANGANNYA

Memang, laki-laki ditakdirkan memiliki otot-otot yang kuat. Dengan demikian,
tendangannya pun lebih kuat daripada perempuan. Namun demikian, bukan
berarti bayi perempuan juga tidak bisa menendang kuat, lo. Perkembangan otot,
selain karena alasan jender, juga dipengaruhi oleh faktor gizi dan rangsangan
motoriknya. Jika bayi perempuan diberi asupan makanan bergizi, ototnya akan
kuat meski tak sekuat lelaki. Selain itu, senam bayi juga sangat baik bagi
perkembangan otot bayi.

5. BAYI PEREMPUAN LEBIH RENTAN TERHADAP PENYAKIT

Rentan-tidaknya, tergantung dari kondisi tubuh bayi. Bukan pada jenis kelamin.
Jika bayi mengonsumsi makanan bergizi dan lingkungan mendukung, ia akan
lebih kebal terhadap bibit penyakit yang menyerang. Tak peduli apakah ia lelaki
ataupun perempuan.

6. BAYI LELAKI PALING KENCANG TANGISANNYA

Karena bayi lelaki terlihat lebih kuat, maka suaranya pun otomatis akan lebih
kencang. Bagaimanapun, pita suara laki-laki juga berbeda dengan perempuan.
Jadi, tak heran bila tangisannya lebih keras. Tapi hal itu tidak mutlak, karena
ada juga bayi perempuan yang tangisannya lebih nyaring. Terlebih lagi, pita
suara juga terbentuk saat seseorang memasuki usia puber.

7. BAYI LAKI-LAKI LEBIH AKTIF BERGERAK

Sudah bawaannya bayi laki-laki lebih aktif dan lincah dibanding perempuan.
Bayi laki-laki terlihat sudah merangkak ke sana-sini, sedangkan yang
perempuan pasif saja. Walau begitu, bukan berarti yang perempuan pun tak
bisa aktif. Banyak juga bayi perempuan yang aktif dengan syarat, ia diberi
rangsangan memadai. Misalnya sering diajak mendorong-dorong benda,
sehingga ia terbiasa aktif bergerak.

Selain itu, masing-masing karakter individu pun turut berpengaruh. Ada bayi
perempuan yang berkarakter aktif. Sebaliknya banyak juga laki-laki bersifat
pasif dan pendiam.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 47
8. ANAK PEREMPUAN LEBIH CEPAT BICARA

Bisa saja terjadi demikian karena dalam hal kecakapan, perempuan biasanya
lebih unggul. Termasuk kecakapan bicara. Sedangkan untuk kecakapan motorik
kasar, seperti duduk dan berjalan, laki-laki lebih unggul.

Meski begitu, orang tua tak perlu keburu khawatir karena kemampuan
komunikasi juga dipengaruhi oleh rangsangan dari luar. Kalau orang tuanya
suka membacakan dongeng atau mengajaknya bicara, anak pun akan lebih
terangsang berbicara. "Sudah banyak terbukti, anak yang mendengar dongeng
setiap hari atau lebih sering diajak bercakap-cakap, lebih banyak
perbendaharaan kosakatanya." Itu pentingnya orang tua selalu mengajak bicara
anak atau mengenalkan kosakata pada anak. Minimal nama benda-benda dalam
kamar si anak. Jangan lupa pula perdengarkan musik pada anak.

10. BAYI PEREMPUAN TIDURNYA LEBIH CEPAT TERUSIK

Sama saja, kok. Hal ini tak ada hubungannya dengan jenis kelamin bayi.
Melainkan tergantung dari seberapa besar pengaruh dari luar yang mengusik si
bayi. Selain itu, kondisi bayi juga turut mempengaruhi. Jika bayi sedang sakit,
ia akan mudah terusik oleh suara atau getaran-getaran dari luar. Ia juga akan
sering terbangun karena rasa sakitnya itu. Dengan demikian, lelap-tidaknya
tidur bayi juga tergantung pada kondisi kesehatannya.

11. ANAK LAKI-LAKI LEBIH CEPAT BESAR

Memang pertumbuhan bayi lelaki lebih cepat dibanding perempuan. Tapi harus
diingat juga, pertumbuhan dipengaruhi oleh faktor nutrisi. Jadi, jika gizinya
cukup dan seimbang, bayi itu (perempuan atau lelaki), akan tumbuh besar.

Berat bayi ketika lahir pun turut berpengaruh. Jika lahir besar karena faktor
keturunan, maka pertumbuhannya akan lebih besar dibanding bayi dengan
berat badan kecil saat lahir.

Kondisi kesehatan juga turut mempengaruhi. Jika ia sering sakit-sakitan, tentu
akan menghambat pertumbuhannya. Otomatis, berat badannya tak akan
berkembang secara optimal.

12. BAYI LELAKI TIDAK SABARAN

Ada pendapat, perempuan lebih halus dan karakter itu sudah tertanam sejak
bayi. Saat minta disusui, bayi perempuan bisa menahan untuk tidak menangis
dibanding bayi laki-laki.

Toh, hal ini tak sepenuhnya benar. Sebab, selain karakter, tingkat lapar juga
perlu diperhatikan. Jika sangat lapar, baik bayi lelaki maupun perempuan, akan
tidak sabar lagi menunggu ASI.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 48
13. ANAKLAKI-LAKI SULIT DISAPIH

Susah-tidaknya bayi disapih tergantung beberapa faktor. Antara lain, kedekatan
dengan si ibu. Semakin dekat dengan ibu, lebih susah juga untuk menyapihnya.
Faktor adaptasi ke makanan padat turut mempengaruhi. Semakin ia bisa
beradaptasi dengan baik dengan makanan barunya, makan lebih mudah ia
disapih.

Para ibu amat disarankan untuk memberi makanan bayi secara bertahap.
Misalnya, jangan langsung padat, tapi cair dahulu, lanjutkan ke semi padat, dan
seterusnya.




                                      ***




       PERTANYAAN FAVORIT TENTANG
           IMUNISASI DPT & BCG


                             Tahun pertama kehidupan seorang bayi akan
                             dipenuhi dengan kegiatan imunisasi. Tak heran
                             jika muncul banyak pertanyaan seputar masalah
                             ini. Berikut pertanyaan favorit para ibu baru yang
                             dijawab oleh dr. Alan R. Tumbelaka, Sp.A(K)
                             dari FKUI-RSUPNCM Jakarta.

                             SELUK BELUK IMUNISASI DPT

* Apakah jadwal imunisasi bayi prematur sama dengan anak lahir
cukup bulan?
Seharusnya sama. Namun imunisasi baru bisa dimulai pada saat kondisi bayi
prematur dianggap memadai untuk memberikan respons yang baik terhadap
imunisasi.

* Bagaimana kondisi bayi prematur yang dianggap siap untuk
diimunisasi?
Bukan tergantung pada usia saja, sebab berat badan (BB) juga menentukan.
Bayi yang lahir normal cukup bulan bisa langsung divaksinasi, sementara bayi
prematur harus menunggu waktu. Dengan imunisasi diharapkan tubuh bayi
dapat terangsang untuk membuat suatu zat anti, akan tetapi bayi prematur
seringkali belum mampu melakukannya. Untuk itu, diadakan penundaan
imunisasi pertama sekitar 1-2 bulan, di mana usianya dianggap sudah hampir
sama dengan bayi yang lahir cukup bulan. Selain itu, BB-nya sudah bagus,




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                       hal 49
sekitar 3 kg. Tentunya, siap-tidaknya bayi prematur tersebut diimunisasi,
tergantung pada pemeriksaan dokter sebelumnya.

* Biasanya imunisasi DPT menyebabkan demam. Mengapa bayi saya
tidak?
Reaksi pada anak bisa bermacam-macam. Demam-tidaknya, ditentukan banyak
faktor. Antara lain kondisi anak saat diimunisasi dan kondisi vaksin. Demam
atau panas disebabkan suntikan P (Pertusis) yang merupakan kuman yang
dilemahkan. Jika tubuh tak bereaksi terhadap kuman, berarti daya tahan tubuh
kurang memadai. Jadi, dengan suntikan DPT memang diharapkan timbul reaksi
panas/demam.

Kalau vaksinnya jelek, juga ada kemungkinan tak muncul reaksi panas. Dokter
apalagi awam tentunya tak akan tahu apakah vaksinnya bagus atau tidak.
Untuk menjamin vaksin yang berkualitas baik, dokter harus mendapatkannya
dari jalur resmi dan juga prosedur penyimpanannya harus sesuai dengan
ketentuan.

* Kalau anak tak demam, berarti imunisasi gagal?
Dalam usia setahun, imunisasi DPT dilakukan 3 kali, yaitu DPT I, II, dan III
sebagai imunisasi dasar. Berhasil-tidaknya imunisasi itu tidak bisa dilihat dari
sekali suntik saja, melainkan setelah 3 kali.

Lagi pula, tak ada vaksin yang bisa 100 persen melindungi atau menimbulkan
kekebalan. DPT misalnya, punya daya lindung sekitar 80-90 persen. Jadi masih
ada 10-20 persen yang tak terlindung. Di sisi lain, bukan berarti jika imunisasi
DPT I tidak menimbulkan demam lalu harus segera diulang lagi. Pengulangan
baru bisa dilakukan sekurang-kurangnya 1 tahun sejak pemberian terakhir DPT
dasar. Jadi, tetap harus melewati tahap DPT II dan III dulu. Baru kemudian di
usia antara 18 bulan sampai 2 tahun, diberi DPT IV. Lalu DPT V di usia 5 tahun.

Pengulangan imunisasi DPT diperlukan untuk memperbaiki daya tahan tubuh
yang mungkin menurun setelah sekian lama. Karena itu mestii diperkuat lagi
dengan pengulangan pemberian vaksin (booster).

Kalau sudah dilakukan 5 kali suntikan DPT, maka biasanya dianggap sudah
cukup. Namun di usia 12 tahun, seorang anak biasanya mendapat lagi suntikan
DT atau TT (tanpa P/Pertusis) di sekolahnya. Di atas usia 5 tahun, penyakit
pertusis jarang sekali terjadi dan dianggap bukan masalah. Jadi, suntikan P tak
perlu diberikan lagi.

* Adakah pengaruh buruk bila tak diberi vaksin DPT ulangan?
Tentu. Pada saat daya tahan tubuh menurun, kemungkinan terkena penyakit
DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus) lebih besar.

* Berapa lama anak demam akibat imunisasi? Berapa kisaran suhu
panasnya dan bagaimana mengatasinya?
Biasanya 1-2 hari. Malah kadang cuma sehari. Panas tubuh pada setiap anak
tidak sama karena daya tahan masing-masing tubuhnya berbeda. Jadi,
reaksinya berlainan dan sangat individual. Apalagi setelah suntikan pertama,
ada yang sekadar hangat, ada juga yang panas tinggi. Kisarannya di atas suhu




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                          hal 50
normal 37,5 derajat Celcius sampai 40 derajat Celcius. Mengatasinya dengan
obat penurun panas yang takarannya sesuai usia dan BB anak.

* Bolehkah bayi tidak diberi imunisasi DPT? Apa pengaruhnya bagi anak?
Imunisasi DPT, Polio, Hepatitis, Campak dan BCG diwajibkan pemerintah lewat
Program Pengembangan Imunisasi. Tujuannya untuk melindungi anak balita
dari penyakit tersebut. Meski wajib, bayi diimunisasi atau tidak, tergantung
pada orang tuanya. Seperti halnya asuransi, kalau mau ikut silakan, berarti ada
perlindungan, kalau tidak, ya, tak ada jaminan perlindungan.

* Apakah anak harus diimunisasi dengan urutan yang benar? Apa
alasannya?
Jelas harus. Karena itu dibuat urutan I hingga III. Ini berdasarkan angka
seringnya kejadian penyakit tersebut di usia yang tertentu pula. Misalnya,
vaksin DPT harus diberikan di usia 2, 3, dan 4 bulan, karena di usia itu penyakit
sudah bisa berjangkit.

* Bagaimana kalau tidak sesuai jadwal?
Yang sesuai jadwal saja, tak bisa 100 persen melindungi anak. Misalnya, 3 kali
suntikan imunisasi DPT, hanya bisa memberi perlindungan 90 persen. Jadi,
kalau hanya sekali saja dilakukan dan yang selebihnya tertunda, efek
perlindungannya pun semakin kecil. Mungkin hanya 30 persen saja. Alhasil,
kemungkinan terkena penyakitnya jadi cukup besar.Jadi, imunisasi tetap harus
diberi sesuai jadwal. Tak ada istilah hangus.

* Ibu yang pernah mengalami kejang di masa kecilnya, benarkah
bayinya hanya diimunisasi DT saja tanpa P (Pertusis) Mengapa?
Sebetulnya, bila dulu ibu pernah kejang demam, anaknya belum tentu
mengalami hal sama. Dengan kata lain, walau kemungkinan itu selalu ada,
selama si anak terbukti tak pernah kejang, suntikan DPT tetap bisa diberikan.
Kalau tidak, ia tak kebal pertusis.

Lain hal jika anak pernah mengalami kejang karena demam. Ia hanya akan
diberi suntikan DT atau DPT yang vaksin Pertusisnya tidak menimbulkan demam.
Namanya P Acelular. Bayi yang pernah kejang akan kembali kejang jika diberi
vaksin DPT yang vaksin P-nya utuh atau bisa menimbulkan panas. Risikonya
tentu saja tidak kecil. Kejang yang berlangsung lama bisa merusak otaknya.

SELUK-BELUK IMUNISASI BCG

* Apa ciri keberhasilan imunisasi BCG?
Suntikan BCG yang benar adalah yang ditanam di kulit, tidak dalam, dan tidak
masuk ke otot seperti halnya suntikan DPT. Setelah disuntik, permukaan kulit
yang menjadi lokasi suntikan akan melendung/membengkak karena
suntikannya menyusur kulit itu.

Dua bulan kemudian, di bekas suntikan tersebut terjadi luka kecil yang
melendung dan kadang bernanah. Itu pertanda bahwa vaksin BCG-nya "jadi"
dan luka itu nantinya akan mengering menjadi bentol kecil. Jadi, ciri imunisasi
BCG yang berhasil ada dua, yaitu kulit yang melendung jika penyuntikan




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                       hal 51
dilakukan dengan benar dan terjadinya luka kecil dua bulan kemudian jika
vaksinnya mencapai sasaran.

Sesuai konsensus nasional, agar mudah dilihat apakah seorang anak pernah
atau belum diimunisasi BCG, maka suntikan ini umumnya dilakukan di lengan
atas sebelah kanan.

* Apa artinya bila suntikan BCG tidak berbekas?
Mungkin kualitas vaksinnya tak bagus atau tubuh anak tak bereaksi. Pada anak
yang mengalami kurang gizi, suntikan BCG ini tak akan "jadi" karena daya
tahan tubuhnya kurang bagus. Anak yang kurang gizi biasanya tak akan
memberi reaksi terhadap vaksinasi apa pun. Agar berhasil, vaksinasi hanya bisa
diberikan pada anak dengan daya tahan tubuh baik. Kalau gizi atau daya tahan
tubuhnya jelek, maka tubuhnya tak mampu membuat zat-zat tertentu yang
dibutuhkan untuk membuat zat anti.

* Haruskah vaksinasi diulang dan kapan sebaiknya dilakukan?
Pengulangan memang perlu tapi tak perlu dilakukan saat itu juga. Idealnya,
harus dilakukan tes Mantoux dulu setelah 2 bulan. Tes ini akan menunjukkan
apakah tubuh sudah membentuk zat antinya atau belum. Kalau hasilnya positif
dan besarnya sudah mencapai 10 ml atau 1 cm, berarti sudah ada zat antinya.
Namun jika lebih dari 15 ml, berarti yang terbentuk adalah penyakit TBC-nya.
Bila hasilnya negatif, berarti tubuh tak membuat zat anti sama sekali. Berarti
vaksinasi yang diberikan gagal dan harus diulang. Kapan waktunya, akan diatur
oleh dokter.

* Apa akibatnya bila bayi mendapat imunisasi BCG pada usia 3 bulan
lebih?
Penyakit tuberkulosis sebetulnya mempunyai masa inkubasi sekitar 2 bulan atau
6-8 minggu. Jadi kalau imunisasi baru diberikan setelah umurnya lewat 2 bulan,
jangan-jangan dia sudah terkena kuman tuberkulosis itu. Entah ditularkan
orang tua atau lingkungannya. Maka itu, suntikan BCG akan lebih baik jika
diberikan lebih awal sebelum usia bayi 2 bulan.

* Bayi yang akan diimunisasi BCG pada usia lebih dari 3-4 bulan,
apakah harus dites Mantoux dulu untuk memastikan ia belum terkena
TBC?
Idealnya begitu. Namun tes Mantoux relatif mahal. Akibatnya, kadang-kadang di
puskesmas, suntikan BCG akan langsung diberikan walaupun usia bayi sudah
lewat dari 3 bulan. Kalau misalnya dilakukan tes mantoux dan hasilnya positif
TBC, maka suntikan BCG tak perlu diberikan. Tinggal penyakitnya itu saja yang
diobati. Setelah sembuh dari TBC, tubuh yang bersangkutan akan membuat zat
anti dan kemungkinan besar tidak akan terkena lagi.

* Katanya ada bayi yang kena TBC kulit akibat imunisasi BCG. Ada juga
yang di dada kanannya tumbuh jaringan lain. Mengapa bisa demikian?
Kalau cara menyuntiknya salah, hal itu bisa terjadi. Suntikan yang terlalu dalam
bisa menimbulkan reaksi berupa TBC kulit. Kadang, vaksin/kuman masuk ke
kelenjar di dada sehingga terjadi pembesaran. Untuk mengatasinya, kadang
harus dilakukan pengangkatan kelenjar dengan tindakan operasi.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 52
* Apakah suntikan BCG selalu disertai dengan benjolan di ketiak?
Tidak selalu. Benjolan di ketiak bisa terjadi kalau vaksin BCG masuk ke kelenjar
melalui cara penyuntikan yang salah. Kalau menyuntiknya benar belum tentu
benjolan terjadi. Itulah bahayanya kalau salah menyuntik. Anak malah terinfeksi
TBC karena vaksin BCG sebetulnya merupakan kuman yang dilemahkan.

Apakah bayi yang sudah mendapat imunisasi BCG masih mungkin
tertular TBC? Mengapa?
Ya, karena tak ada satu pun vaksinasi yang dapat menjamin perlindungan
seutuhnya. Namun, kalau anak terkena penyakit, hal itu sebetulnya sama
dengan mendapat vaksinasi. Hanya saja, vaksinasi adalah kuman yang
diberikan secara sengaja agar muncul zat anti dari tubuh. Sementara sakit
disebabkan oleh kuman yang didapat dengan sendirinya.




                                      ***




                 MENYUSUN "AGENDA"


                             Boleh-boleh saja, kok, menjadwal kegiatan si kecil
                             sepanjang penerapannya tak terlalu kaku.

                             Masih bayi sudah punya jadwal? Yang dimaksud
                             adalah pengaturan jadwal seluruh aktivitas yang
                             dilakukan si kecil. Dari minum susu, makan, BAK
                             dan BAB, sampai tidur, semua diatur sedemikian
                             rupa sesuai waktunya.

                                Konon, "agenda" alias jadwal seperti itu bisa
                                membuat bayi merasa lebih nyaman karena
                                membantunya menyadari, ada beberapa hal yang
                                juga bisa diantisipasi. Tapi jangan pula lupakan,
masa bayi merupakan masa penting bagi pembentukan basic trust. Penerapan
jadwal yang begitu ketat bisa membuatnya merasa tak aman (insecure).
Padahal, basic trust terbentuk bila si kecil merasa semua kebutuhannya bisa
terpenuhi. Jadi, yang terbaik, kombinasikan kegiatan bayi berdasar jadwal, di
samping juga berdasar permintaannya. Dengan begitu, ia tahu, dirinya yang
tetap jadi prioritas, bukan si jadwal.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                       hal 53
KENALI TANGISAN

Bayi memang belum bisa apa-apa selain menangis. Justru inilah yang harus
dikenali dan dipelajari orang tua bahwa tak selamanya ia menangis gara-gara
lapar. Jangan-jangan penyebabnya justru karena ngompol atau kedinginan. Bisa
juga karena butuh kenyamanan, hingga tak perlu diberi susu, melainkan cukup
dibelai-belai.

Penyebab lain (dan ini yang kerap tak disadari) adalah stimulasi berlebihan.
Contohnya, tatkala banyak orang yang mengelilinginya, ia jadi merasa tak
nyaman. Bisa juga karena ia kesakitan atau gatal gara-gara digigit serangga
kecil.

JADWAL SESUAI USIA

Jadwal kegiatan bayi hanya bisa disusun sesuai dengan usianya. Berikut
beberapa tahapan usia yang bisa dijadikan pegangan orang tua.

* 0- 4 BULAN

Minggu-minggu pertama kelahiran merupakan masa penyesuaian atau adaptasi
si kecil terhadap dunia barunya. Ada yang bisa beradaptasi dengan cepat, ada
pula yang perlu banyak dibantu.

Nah, jadwal pemberian minum/makan dan tidur yang teratur akan memberi
bayi "pengertian" mengenai waktu, hingga mengurangi kerewelannya. Yang
perlu diperhatikan adalah jam-jam minum susu dan jam terjaga si kecil. Dari
situ, jadwal rutinitas bisa mulai disusun. Idolanya, berputar sekitar 2,5 - 3,5
jam. Alasannya, semisal untuk makan, tenggang waktu itulah yang rata-rata
diperlukan organ-organ pencernaan untuk mengolah makanan. Jika sebelum
putaran waktu tadi tiba si kecil sudah rewel "minta" minum/makan, ya, harus
diberikan. Sekali lagi, utamakan si kecil dan bukan jadwalnya.

Sebagai informasi, ada saat-saat tertentu di mana bayi akan cepat lapar. Yakni
usia 10 hari, 4-6 minggu, 3 bulan, dan 5 - 6 bulan. Penyebabnya beragam.
Salah satunya, kebiasaan menyembur-nyemburkan makanan yang membuatnya
mudah lapar karena jumlah makanan yang masuk ke perutnya tak maksimal.

Walau kelihatan agak ruwet, jadwal kegiatan yang fleksibel ternyata memberi
lebih banyak dampak positif ketimbang bayi yang sama sekali tidak dijadwal.
Contohnya, dengan jadwal makan yang teratur, metabolisme si kecil pun
diharapkan akan lebih stabil. Alhasil, bayi usia 8 minggu yang kegiatannya
sudah terjadwal, biasanya akan lebih bisa tidur nyenyak sepanjang malam
ketimbang bayi yang tak dijadwal.

Dampak positif lainnya, jadwal yang fleksibel merupakan batu loncatan berbagai
kemampuan si kecil. Misalnya kemampuan menenangkan diri sendiri ataupun
menunda kepuasaan yang nanti diperlukan di masa balita.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 54
* 5-6 BULAN

Melewati usia 4 bulan, otomatis si kecil sudah punya kebiasaan tidur yang
terjadwal. Yakni sekitar 2 jam di pagi hari menjelang siang dan sejam di siang
menjelang sore hari. Jika jadwal tidur rutin semacam ini belum terbentuk,
berarti sudah saatnya orang tua memperkenalkannya pada si kecil. Caranya,
dengan menciptakan periode sunyi pada waktu-waktu tertentu tadi. Jadi, kala
jadwal tidurnya sudah tiba namun si kecil masih mau bermain, rebahkan ia di
ranjang sendirian. Pada situasi normal, kebanyakan bayi akan mengantuk
dengan sendirinya sekitar 15-20 menit kemudian.

Pengenalan pada makanan padat di usia ini pun membantu membentuk jadwal
tersendiri. Kebanyakan bayi di usia 6 bulan sudah memiliki pola makan 3 kali
sehari seperti orang dewasa. Yakni makan pagi, siang, dan malam diselingi
minum susu setiap menjelang tidur. Sebagai catatan, kebiasaan minum susu di
tengah malam pada usia ini sebenarnya sudah bisa dihentikan. Toh, tak akan
membuatnya kekurangan nutrisi. Menghapus kebiasaan ini malah bisa membuat
si kecil tidur pulas sepanjang malam, sekaligus meringankan kerja orang tua.
Oleh sebab itu, coba perkenalkan keterampilan self calming (menenangkan diri
sendiri) pada si kecil. Ketika ia merengek di tengah malam, biarkan dulu dan
jangan langsung menggendongnya. Bila rewelnya berkepanjangan, belaian
ringan di punggung atau mengubah posisi tidur biasanya bisa membuatnya
kembali terlelap.

* 9-12 BULAN

Di usia ini ia mulai lebih aktif dan cenderung ingin selalu bereksplorasi. Untuk
itulah, kata ahli, sudah saatnya rutinitas diubah menjadi ritual. Yang dimaksud
rutinitas di sini adalah perilaku yang telah terbentuk berdasar waktu-waktu
tertentu. Sedangkan ritual lebih pada bagaimana kita memberi makna pada
perilaku tersebut.

Umpamanya, pukul 20.00 merupakan jadwal tidur si kecil. Ini disebut rutinitas.
Nah, agar si kecil nyaman, orang tua biasanya melakukan beberapa kebiasaan
semisal bercerita sebelum tidur. Nah, inilah yang dimaksud ritual. Asal tahu saja,
bayi usia ini biasanya suka akan ritual.

Usia 9-12 bulan juga merupakan masa transisi mengingat banyaknya
perkembangan motorik yang mereka capai di usia ini. Salah satunya, dari
semula yang hanya dapat merangkak, kini ia sudah mulai belajar berjalan.
Dengan kegiatan eksplorasi yang dijalani, bayi pun mulai melihat dunia dengan
sisi pandang lain. Tak heran ada beberapa bayi yang sering rewel karena sulit
beradaptasi. Akhirnya, ia jadi sering menolak makan atau kerap terbangun di
tengah malam.

Nah, di sinilah pentingnya jadwal kegiatan karena dapat membentuk jam
biologis yang bersangkutan. Bila si kecil sudah terbiasa makan jam 12 siang,
contohnya, maka ketika sudah tiba waktunya, perut si kecil akan keroncongan.
Begitu juga dengan jadwal tidur. Kalau sudah terbiasa mengikuti jadwal untuk
tidur pada jam tertentu, maka di jam yang sama ia akan ngantuk dan tidur
dengan sendirinya tanpa banyak rewel.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                        hal 55
Hanya saja, tak ada satu keluarga pun yang memiliki rutinitas yang sama persis.
Keluarga yang ibunya bekerja tentu akan berbeda dengankeluarga yang ibunya
"berprofesi" ibu rumah tangga. Di sinilah pentingnya fleksibilitas. Sebab, si kecil
belum tahu soal waktu. Yang bisa ia rasakan hanyalah rutinitas. Nah, inilah
yang bisa diciptakan masing-masing orang tua untuk anaknya.




                                       ***




     MANA LEBIH DULU, TUMBUH GIGI,
          BICARA ATAU JALAN?
Jalan, tumbuh gigi, dan bicara, punya masa perkembangan tersendiri meski
kadang berjalan bersamaan.

Sering orang tua beranggapan, anak harus jalan dulu baru bisa bicara. Atau jika
giginya muncul duluan, berarti kemampuan berjalannya muncul belakangan.
Yang mana, sih, yang benar? "Ah, semua itu cuma mitos. Mungkin karena
kebetulan saja giginya tumbuh lebih awal, baru bisa jalan," kata Drg.
Rachmatiah B, dari RS Gatot Subroto Jakarta. Hal senada diungkapkan dr.
Waldi Nurhamzah, SpA dari FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta.
"Semua itu harusnya dikembalikan pada konsep perkembangan yang dilalui
anak."

Pada anak, tonggak-tonggak perkembangan yang penting terbagi dalam
beberapa bagian besar. Antara lain perkembangan bahasa, psikososial, dan
motorik. Perkembangan motorik dibagi lagi menjadi motorik kasar dan halus.
"Kelihatan, kan, bahasa dan berjalan merupakan perkembangan yang terpisah,
bukan dalam satu kelompok," kata Waldi.

Berjalan masuk perkembangan motorik kasar, seperti halnya perkembangan
berdiri, tegak dan melangkah. Jadi, kalau dibuat suatu garis perkembangan,
masing-masing kelompok punya rentang waktu perkembangan sendiri-sendiri.
Karena itulah tak bisa disimpulkan, jika kemampuan bicara muncul lebih dulu,
maka berjalannya belakangan atau sebaliknya. "Bisa saja keduanya
berlangsung berdekatan. Jadi, enggak bisa dikatakan, mana yang lebih dulu,
jalan atau bicara karena memang keduanya tidak bisa diperbandingkan."

Masing-masing berasal dari garis perkembangan berbeda dan punya tenggang
waktu sendiri-sendiri, yaitu kapan paling cepat dan kapan paling lambat. Misal
dalam hal bersuara riang, ada bayi yang di usia 1 bulan sudah dapat
melakukannya. Padahal, biasanya baru pada umur 7 minggu bayi bisa




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                        hal 56
melakukannya. Contoh lain, meraih barang rata-rata bisa dilakukan pada usia 5
bulan.

LEWAT WAKTU, BERARTI ADA MASALAH

Yang jelas, dalam setiap tonggak perkembangan terdapat perubahan fungsi-
fungsi otak. Yang tadinya belum bisa dilakukan oleh seorang anak, kini bisa.
Itulah yang membedakan apakah suatu perkembangan dianggap sebagai
tonggak atau bukan.

Menurut Waldi, berjalan dan bicara termasuk bagian dari tonggak
perkembangan. Tak demikian halnya dengan tumbuh gigi. Cepat-lambatnya
kemunculan gigi susu, tidak bisa dijadikan pedoman utama dalam melihat
perkembangan anak. Hanya saja umumnya peristiwa kemunculan gigi sering
dijadikan taksiran kasar usia anak. Misalnya, untuk anak usia 1 tahun, jumlah
minimal giginya 2 buah.

Bagi orang tua dan juga terutama dokter, yang penting diketahui adalah batas
akhir dari setiap perkembangan. Kalau lewat dari tenggang waktu yang
dianggap normal dan anak belum bisa berjalan atau bicara, berarti ada masalah.
"Makanya proses perkembangan ini harus dipantau oleh dokter dan juga orang
tua sejak awal. Tanyakan selalu perkembangan anak kepada dokter atau
petugas kesehatan yang berwenang. Saat ke klinik, jangan hanya untuk
imunisasi dan mengukur BB serta TB saja, tapi juga tahap perkembangannya,"
saran Waldi.

Meski berjalan dan bicara bukan dalam satu kelompok yang sama, tapi dalam
hal stimulasi, keduanya harus terus berjalan bersama sesuai dengan tahapan
masing-masing. Jika stimulasi dilakukan satu per satu, misalnya anak tak diajari
bahasa dan hanya motorik, "Mungkin nantinya dia terlambat bicara." Seorang
anak dikatakan mengalami keterlambatan bila dia belum mencapai suatu
kemampuan tertentu pada batas akhir dari range yang ditentukan. Untuk
keterlambatan bicara, bisa diketahui dari keterlambatan menyusun kata yang
bermula dari keterlambatan menguasai kata dan sebelumnya dari
keterlambatan mengeluarkan suara. Harusnya, di usia 12 bulan, rata-rata bayi
sudah bisa mengucapkan 5-10 kata. Stimulasi berbahasa ini sendiri sudah bisa
dilakukan sejak janin mampu mendengar.

Itulah, kata Waldi, pentingnya orang tua memahami range atau tenggang waktu
dari tiap perkembangan sehingga stimulasi bisa dilakukan di waktu yang sesuai.
Misalnya, tahu kapan anak bisa berdiri dan berjalan. Sebab, kalau dilakukan
sebelum waktunya akan sia-sia saja. Contohnya, usia berjalan memiliki range
sekitar usia 9-15 bulan.

Jika bayi dilatih sejak usia 2 bulan, maka mustahil membawa hasil. Bisa-bisa
pertumbuhan kakinya malah terganggu.

BABY WALKER & JINJIT

Masih soal perkembangan berjalan, anak tak selalu harus mengalami proses
merangkak sebelum bisa jalan. Sebab, kata Waldi, merangkak bukan




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 57
merupakan salah satu tonggak perkembangan seperti halnya tengkurap, duduk,
berdiri, dan berjalan. "Bisa saja bayi yang sudah masuk tahap duduk, langsung
masuk ke tahap berdiri. Merangkak itu pun tak perlu dilatih karena kemampuan
ini berkembang dari sikap telungkup dan gerakan keempat anggota tubuhnya
(lengan dan tungkai) untuk bisa membuat langkah terkordinasi."

Saat masuk usia berjalan, orang tua lebih disarankan menatih anak dibanding
menggunakan baby walker. Alat ini hanya membuat orang tua malas. Untuk
anak pun, tidak terlalu baik. Di baby walker, bayi mengayuh atau melangkahkan
kakinya sehingga tak bisa diramalkan, kapan bayi betul-betul bisa
mengayuhkan kakinya dengan kecepatan lambat atau cepat. Padahal, di
rentang usia berjalan dari 9-15 bulan itu, tak mungkin kita mengawasinya
setiap saat. Lalai beberapa detik saja, mungkin ia sudah "lari" dengan baby
walkernya lalu menabrak sesuatu dan terbalik. Kemungkinan terjadinya trauma
atau kecelakaan sangat besar. "Boleh saja pakai baby walker, tapi orang tua
harus tetap ada di samping anak sambil memegangi keretanya. Memang lebih
sulit dibanding menatih."

Selain itu, dengan baby walker anak jadi tidak menggunakan otot panggulnya
secara optimal, karena dia hanya mengayuh sambil duduk. Sementara untuk
berjalan, diperlukan keseimbangan otot-otot panggul. "Jadi, menatih lebih baik
untuk melatih anak berjalan." Caranya, bisa dengan menggunakan selendang
yang diikatkan seperti ransel di badannya agar orang tua bisa mengendalikan
gerakan anak. Bisa juga dengan memegang bagian bawah ketiaknya. Lalu lihat
perkembangannya. Jika anak semakin mampu, pegang lengan atasnya,
kemudian lengan bawah, dan tangannya, sampai kemudian bisa dilepas sendiri.
Tak ada patokan harus berapa lama menatih anak. Orang tua harus
memperhatikan sendiri pola perkembangan anaknya dari hari ke hari.

Hal penting lainnya, orang tua harus curiga jika di usia belajar jalan, si anak
ternyata masih jinjit. Seharusnya di usia 9 bulan, jinjit sudah menghilang.
Kemungkinan, ada gangguan di fungsi otaknya. Sementara otaklah yang
mengatur kemampuan motorik otot kaki agar seimbang.




                    Serba Serbi Pertumbuhan Gigi

Pertumbuhan gigi tak bisa dirangsang dengan obat-obatan. Apalagi jika
memang tidak ada benihnya. Sementara pada anak usia ini sangat tidak
dianjurkan menggunakan sinar X untuk mengetahui ada tidaknya benih itu.
"Lebih baik tunggu gigi muncul sampai usia berapa pun," saran Waldi.

Normalnya, gigi bayi mulai tumbuh di usia 6-7 bulan, yaitu 2 buah gigi depan
bawah. Beberapa bulan kemudian, 2 buah gigi depan atas. Setelah itu gigi
bawah di sebelahnya, kemudian bagian belakang. Sampai usia 1 tahun, jumlah
gigi bervariasi pada setiap bayi. Mungkin ada yang 4 buah atau 8 buah.
"Tergantung pada pola tumbuh gigi, faktor keturunan, serta gizi," jelas
Rachmatiah. Sampai usia 2 tahun, biasanya gigi anak sudah komplet sebanyak
20 buah, yaitu 10 di atas dan 10 di bawah.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 58
Tumbuhnya gigi dipengaruhi pula oleh faktor keturunan. Mungkin salah satu
orang tuanya punya sifat resesif atau tidak dominan dalam hal pola tumbuh gigi
yang lambat sehingga dalam satu keluarga, mungkin saja satu anak
memilikipertumbuhan gigi yang normal dan anak lainnya terlambat.

Sebetulnya, pembentukan gigi bayi sudah dimulai sejak dalam kandungan, yaitu
di usia kehamilan 6 minggu, berupa benih gigi. Bila orang tua ingin gigi susu
anaknya bagus, sewaktu hamil gizi ibu harus bagus. Ini bisa didapat dari
sumber makanan seperti susu, sayuran dan buah. Setelah bayi lahir, gizi yang
masuk tak berpengaruh lagi pada pertumbuhan gigi susunya karena sudah
terbentuk. Namun, gizi pasca lahir ini akan berpengaruh pada gigi tetapnya
nanti.

Anak yang sering sakit, pertumbuhan giginya lambat. Begitu pula jika bayi
malas mengisap karena gerakan otot mulut sebetulnya merangsang
pertumbuhan gigi. Andai gigi anak terlambat muncul sementara usianya
mengharuskan dia makan makanan padat, jangan hentikan pemberiannya.
Anak bisa mengunyah makanan lembut dengan gusi yang sudah beradaptasi.
Malahan, mengunyah makanan semi padat dan padat akan merangsang
pertumbuhan gigi anak, dengan catatan memang ada benih giginya. Yang
penting, ikuti saja proses alamiah kemampuan pencernaannya seiring
pertambahan usia.



                 Rewel & Demam Saat Gigi Muncul

Macam-macam reaksi bayi saat giginya tumbuh. Ada yang jadi rewel, ngeces
melulu, demam, atau biasa saja. Semua tergantung dari daya tahan tubuh
masing-masing anak. Kalau daya tahan tubuhnya kurang atau sensitif, anak
bisa demam dan rewel.

Yang terjadi pada saat gigi susu muncul adalah gusinya pecah dan menimbulkan
rasa sakit serta tak nyaman. Selama itu, gusi akan tampak sedikit kemerahan.
Belum lagi kalau kondisi mulutnya tidak bersih, bisa terinfeksi kuman sehingga
demamnya berlanjut atau bertambah. Tapi jika daya tahan tubuhnya baik,
kondisi mulutnya bersih, gusinya bagus, aktivitas mengunyahnya bagus, maka
anak tak akan mengalami gangguan berarti ketika giginya muncul.

Untuk memperkecil risiko gangguan itu, sudah semestinya orang tua menjaga
kebersihan mulut anak. Sehabis menyusui atau makan, bersihkan lidah dan
gusinya dengan kain kasa yang dibasahi air matang agar tak ada kuman atau
jamur yang tumbuh.

Bila anak demam dan orang tua meragukan penyebabnya adalah gigi yang akan
muncul, untuk pastinya bawa ia ke dokter anak. Kalau memang masalahnya
karena tumbuh gigi, biasanya dokter akan memberi obat penurun panas saja.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 59
                      Perkembangan Bicara Anak

Menurut psikolog Indri Savitri, perkembangan bahasa si kecil dimulai ketika
baru lahir. Mulanya ia berkomunikasi lewat tangisan. Usia 1,5-3 bulan, ia mulai
mengeluarkan bunyi-bunyi seperti, "au..." Di usia 6-10 bulan mulai babbling
dengan mengeluarkan suara berupa gabungan huruf mati dan hidup seperti,
"ma..." atau "ba..." Usia 10-14 bulan mulailah muncul kata, bermakna dan
bertujuan. Misalnya, ia akan mengucapkan, "Ma..!" sambil tangannya menunjuk
ke suatu objek. Nah, untuk menstimulasi kemampuan bicara ini, orang tua
harus rajin mengajaknya bicara, entah sambil bercanda kala menyusui atau di
kesempatan lainnya.



                   Mainan Gigit -Gigitan Tak Wajib

Bayi yang akan muncul giginya biasanya suka menggaruk atau menyentuh
bagian mulutnya. Hal itu disebabkan rasa tak nyaman dan mungkin juga rasa
gatal yang timbul. Untuk mengatasinya, bayi senang memasukkan apa saja ke
mulutnya. Apalagi kalau diberi mainan khusus untuk digigit-gigit sehingga
kegiatan itu merangsang pertumbuhan giginya.

Namun, sejauh mana rangsangan tadi berpengaruh, tidak dapat diprediksi. Jadi,
penggunaan mainan tadi tidak wajib. Bagaimanapun juga, pertumbuhan gigi
bayi tergantung pada pola tumbuhnya. Ada anak yang memang tidak terlalu
aktif memasukkan sesuatu ke mulutnya, tapi karena pola tumbuh giginya
normal atau cepat, maka giginya pun akan tumbuh dengan baik.



                                      ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 60
    OVERSTIMULASI JUSTRU BIKIN IBU
         DAN BAYI "FRUSTASI"


Merangsang anak boleh-boleh saja asal tak berlebihan. Soalnya, hasilnya bisa
sia-sia.

Sering, kan, kita dengar anjuran untuk mentimulasi anak sejak dini agar cerdas?
"Ya, boleh-boleh saja, asalkan tidak berlebihan atau overstimulasi," jelas
psikolog Dra. Mayke Tedjasaputra, MSi. Stimulasi berlebih, kata pengasuh
rubrik Tanya Jawab Psikologi nakita ini, adalah bila bayi belum bisa merespons
karena kemampuannya memang masih terbatas, tapi terus "dijejali' rangsangan
oleh orang tuanya.

Contohnya, secara motorik belum mampu meraih benda di hadapannya, terus
saja dilatih bahkan dipaksa. Jelas, bayi menolak. Ia pun seolah tidak diberi
waktu untuk istirahat atau bermain karena begitu banyak "tugas" yang
diberikan ayah/ibunya.

Kecenderungan seperti itu, kata Mayke, memang ada pada ibu zaman sekarang.
Selain karena pengaruh informasi yang luar biasa dari media massa, juga ada
pihak-pihak tertentu yang mencari keuntungan dengan membuka berbagai
kursus untuk bayi. Untungnya, ini cuma terjadi di kelas menengah atas yang
secara materi mampu dan tingkat pendidikan mereka lebih baik. "Bisa juga
karena orang tua berambisi menjadikan anak sebagai investasi masa depan.
Jadi, nilai anak bukan lagi sebagai anak yang perlu dibesarkan dengan bekal
kasih sayang." Padahal, lanjut psikolog dari UI ini, anak yang diharapkan
mampu bersaing di era globalisasi ini, akhirnya malah tak bisa apa-apa.

JADI TERASING

Stimulasi yang berlebihan pada bayi, jelas Mayke, bukan tak berdampak buruk.
Ia mengingatkan, mempercepat perkembangan anak, "Pada dasarnya sudah
melanggar hak anak. Anak nantinya bisa mengalami semacam keterasingan
dengan dirinya. Ia tak mengerti apa dan kenapa harus melakukannya."

Sebaliknya, ibu yang tak peduli dan sama sekali tak memberi rangsangan pada
tiap tahap perkembangan anak, juga tidak baik. "Bisa-bisa tahapan terpenting
dalam perkembangan anak terlewatkan begitu saja.

BAYI SIAP,ORANG TUA PEKA

Yang perlu diketahui saat memberi stimulasi adalah kesiapan si bayi. Meski ada
patokan umum yang perlu diperhatikan, jelas Mayke, tiap anak memiliki
kesiapan berbeda untuk belajar sesuatu. Misalnya, umur 3 bulan bisa tengkurap,
4-5 bulan mulai memasukkan benda ke mulut, dan seterusnya. Dengan
demikian, orang tua bisa memberi stimulasi sesuai tahapan perkembangan anak.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 61
Kendati begitu, tak semua anak mencapai tahap perkembangan di usia yang
sama. Bisa saja bayi A sudah bisa tengkurap di usia 3 bulan, sedang bayi B
lebih lambat atau malah beberapa hari lebih cepat. "Lebih lambat bukan berarti
si bayi mengalami keterbelakangan, lo. Bisa saja ia belum matang dari segi
motorik maupun saraf-saraf di otaknya yang mengatur perintah untuk
melakukan aktivitas tertentu."

Di sisi lain, tak mudah juga bagi orang tua mencari stimulasi yang pas. Orang
tua harus peka terhadap kesiapan bayinya untuk menerima rangsang. Caranya?
"Mau tak mau ia harus mengamati, bagaimana respons dan minat si bayi. Kalau
bayinya sudah menunjukkan kecenderungan melakukan suatu aktivitas, seperti
meraih benda, cobalah stimulasi dengan menaruh benda tersebut di
hadapannya. Jika anak belum menunjukkan minat, jangan dipaksakan."

Selain kemampuan dan tahap perkembangan yang tidak persis sama, kenali
pula minat dan reaksi bayi terhadap stimulasi yang diberikan. Ada yang terlihat
berminat pada hal tertentu sementara yang lain tidak. Ada yang minatnya luas,
namun ada pula yang terbatas. Saat bayi jelas-jelas terlihat tak berminat
karena ngantuk atau malah menangis, ya, stimulasi sebaiknya dihentikan.
Jangan karena si bayi belum mampu, orang tua lantas melampiaskan
kekecewaan atau frustrasi dengan tindakan fisik, semisal memarahi atau
membentak.

JUSTRU SIA-SIA

Agar tak memunculkan dampak kurang menguntungkan dari overstimulasi,
orang tua hendaknya mampu menciptakan kondisi alamiah yang memungkinkan
bayinya memperoleh basic trust. Inilah yang selanjutnya menjadi dasar bagi si
bayi kelak berhubungan dengan lingkungan sosialnya. Jika ia dipaksa padahal
sudah mengantuk atau memang belum mampu, misalnya, tak akan pernah
tumbuh    basic  trust.  Sementara     basic   trust  terkait erat   dengan
attachment/kelekatan pada orang tua.

Itu sebabnya di sepanjang setahun pertama usianya,bayi membutuhkan
kehangatan hubungan dengan orang tuanya. Lewat itulah ia bisa merasakan
ada sosok yang merawat sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman
padanya.

Nah, pada bayi yang mendapat stimulasi berlebih, besar kemungkinan akan
menjadi bayi sulit atau tak kooperatif, semisal lebih sering membangkang.
Kendati belum ada angka pasti mengenai hasil penelitian terhadap bayi-bayi
yang distimulasi berlebihan, Mayke sependapat dengan banyak ahli yang
mengatakan, overstimulasi tak baik bagi anak usia berapa pun.

Di pihak lain, berlanjut atau tidaknya emosi negatif dan masalah kelekatan
tersebut tergantung dari kesadaran si orang tua sendiri. Artinya, jika bayi jadi
amat rewel, seharusnya ibu instropeksi, jangan-jangan terlalu banyak
menstimulasi bayinya lalu mengubah sikap dan perilakunya. "Dengan begitu,
interaksi anak dengan orang tuanya bisa diperbaiki. Yang juga mesti diingat,
stimulasi berlebih justru akan sia-sia, kok!"




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 62
                             Pengaruh Buruk

Situmulus yang berlebih, jelas Mayke, bisa mempengaruhi sejumlah aspek
dalam perkembangan anak.

Motorik

Contohnya pada anak yang belum mampu berjalan, tapi sudah dipaksa berdiri
atau dititah. Akibatnya, struktur kaki anak bisa terganggu. Begitu pula anak
yang belum waktunya duduk tapi dipaksa, dikhawatirkan tulang punggungnya
yang belum kuat secara fisik jadi terganggu strukturnya.

Bahasa

Memberi stimulus bahasa dengan mengajak bayi bicara, menyanyi,
bersenandung, jelas penting dilakukan. Bila anak berespons positif lewat
senyum, matanya terlihat berbinar, atau mengeluarkan ucapan-ucapan
pralinguistik seperti mengoceh /berceloteh, berarti stimulasi itu pas baginya.
Respon seperti itu merupakan pertanda si bayi siap menerima rangsang.
Sebaliknya, kalau bayi terlihat acuh tak acuh atau uring-uringan, sebaiknya
hentikan dulu stimulasinya. Jangan lupa, cari tahu juga penyebabnya, apakah
karena sakit, mengantuk, atau sebab lain.

Kognitif

Tak sedikit orang tua yang sudah mengenalkan huruf maupun angka pada
bayinya. Salah satu caranya dengan mendudukkan bayi di depan cermin
kemudian si ibu mengucapkan huruf tertentu. Menurut Mayke,sungguh kasihan
bayi yang sudah diberikan bentukan huruf atau angka. Meski mungkin saja ada
anak yang berminat dan ada juga yang tidak.

Terlepas dari berminat atau tidak, sebetulnya sampai usia setahun, tak usah
dipaksakan. Karena bisa saja kognitifnya, yakni pusat untuk menerima
rangsang bentuk huruf dan sebagainya, belum siap. Kalau mau, lebih baik
kenalkan gambar-gambar karena bayi paling mudah belajar dari bentuk konkret.
Bisa juga mulai mengajarnya menyebut "mama" atau "papa", yang paling
mudah ditirunya. Sebab, kemampuan bahasa termasuk aspek kognitif.

Menurut Mayke, dalam beberapa literatur dikatakan pula, bayi perlu dikenalkan
pada bentuk-bentuk geometris dengan warna. Awalnya hitam-putih, kemudian
ditambahkan pola-pola berwarna. Namun bukan jaminan si bayi pasti akan
mengenali bentuk-bentuk geometris tersebut. Tapi paling tidak, membiasakan
anak melihatnya.

Begitu juga memperkenalkan bentuk atau miniatur benda tertentu, sebaiknya
jangan di-drill sedemikian rupa. Cukup kenalkan satu objek per hari. Jika
kebanyakan, hanya akan membuatnya bingung. Terlebih bila si bayi termasuk
anak yang memiliki respons dan daya tangkap lambat.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 63
Sosial

Ini pun terkait dengan aspek emosi karena stimulasi berlebih bisa membuat
anak merasa tak nyaman dan tak aman. Berarti, aspek sosialnya terganggu.
Meski efeknya muncul secara tak langsung, anak jadi mudah marah, sulit
bergaul dengan teman sebaya, atau perlu banyak waktu untuk beradaptasi.

Memberi stimulasi berlebih di sini di antaranya memaksakan anak yang sudah
ogah bersalaman dengan orang yang baru dikenalnya dengan harapan agar
anak berani. Kecemasan pada orang lain biasanya muncul di usia 6-8 bulan
bersamaan dengan kemampuan anak mengenali mana orang tuanya dan mana
yang bukan. Lakukan tahap demi tahap. Kalau anak masih tampak cemas,
sebaiknya dicoba lain kali dan jangan pernah dipaksa.

Bermain

Usia bayi adalah usia bermain dan lewat bermain pula orang tua bisa
menstimulasi bayinya. Namun mengajak bayi bermain ternyata bisa berlebihan.
Di sinilah pentingnya sikap peka/tanggap dari orang tua. Jadi, kalau bayinya
sudah menunjukkan tanda-tanda lelah, mengantuk dan bosan, ya, segera
hentikan. Toh, kalau diteruskan akan percuma dan malah mungkin menangis.

Ingat, yang terpenting dalam bermain adalah rasa senang. Jadi, meski
aktivitasnya bermain tapi anak tak senang, ya, namanya bukan bermain. Selain
itu, perhatikan pula jadwal saat anak bisa bermain sendiri. Entah memainkan
ludah atau sekadar mengamati tangannya. Beri kesempatan bayi melakukan
kegiatan bermain sendiri.




                                      ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                   hal 64
    KONDISI YANG TAK MEMBOLEHKAN
           IBU MEMBERI ASI
Pemberian ASI pada bayi jelas sangat dianjurkan sebab ASI makanan terbaik
bayi. Kecuali bila ibu mengalami sakit berat dan mengonsumsi obat-obatan
yang dikhawatirkan "mencemari" ASI.

Seperti kita ketahui,ASI banyak memberi manfaat pada bayi. Selain untuk
kecerdasan, di dalam ASI juga terkandung imunoglobulin atau antibodi yang
dapat mencegah bayi terkena infeksi. "Itu sebab bayi-bayi yang mendapat ASI
umumnya jarang sakit," terang dr. Suharyanti Kramadibrata, SpOG dari RS
Hermina, Jakarta.

Pada prinsipnya, lanjut Yanti, semua ibu boleh dan malah sangat dianjurkan
menyusui bayinya. Namun ada beberapa faktor yang menyebabkan ibu tak bisa
memberi ASI pada bayinya. Baik yang sifatnya sementara waktu kemudian bisa
dilanjutkan kembali, maupun yang berlangsung selama masa menyusui.
Lamanya penghentian ASI tergantung pada kondisi penyakit si ibu.

Sebetulnya, meski ibu menyusui dalam kondisi sakit, ASI tetap diproduksi. Yang
jadi masalah, apakah dalam kondisi seperti itu ibu boleh memberi ASI atau
tidak. Berikut penjelasan Yanti mengenai beberapa penyakit yang mesti
dicermati ibu untuk memutuskan menghentikan atau meneruskan pemberian
ASI.

Hepatitis B

Bila ibu terkena hepatitis selama hamil, biasanya kelak begitu bayi lahir akan
ada pemeriksaan khusus yang ditangani dokter anak. Bayi akan diberi antibodi
untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya agar tidak terkena penyakit yang
sama.

Sedangkan untuk ibunya akan ada pemeriksaan laboratorium tertentu berdasar
hasil konsultasi dokter penyakit dalam. Dari hasil pemeriksaan tersebut baru
bisa ditentukan, boleh-tidaknya ibu memberi ASI. Bila hepatitisnya tergolong
parah, umumnya tidak dibolehkan memberi ASI karena dikhawatirkan bisa
menularkan pada si bayi.

AIDS

Ibu yang positif mengidap AIDS belum tentu bayinya juga positif AIDS. Itu
sebabnya ibu yang mengidap AIDS, sama sekali tak boleh memberi ASI pada
bayinya karena bisa menularkannya lewat ASI.

Flu, Batuk, atau Diare

Jika sekadar sakit batuk dan pilek, pemberian ASI tak jadi masalah. Lagipula
jenis penyakit ini penularannya tidak lewat ASI, melainkan melalui udara atau
anggota tubuh yang tak bersih. Jadi, pemberian ASI sebaiknya tak dihentikan,




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 65
asal saat menyusui ibu menggunakan masker. Sebelum memegang bayi, amat
disarankan untuk mencuci bersih tangan.

Tak perlu pula menghentikan pemberian ASI hanya karena alasan sedang
minum obat-obat flu, batuk, atau diare ringan. Toh, hanya sebagian kecil saja
dari obat-obatan itu yang ikut terbawa ke ASI dan ini pun jarang berakibat
negatif pada bayi.

Diabetes

Sebaiknya pemberian ASI tidak dihentikan meski tetap perlu dimonitor kadar
gula darahnya. Tentu saja konsultasikan pada dokter mengenai boleh-tidaknya
pemberian ASI pada bayi dengan mempertimbangkan kondisi ibu serta jenis
obat-obatan yang dikonsumsi.

Kanker

Kalau semasa menyusui ibu ternyata harus menjalani pengobatan kanker,
disarankan menghentikan pemberian ASI. Menurut dr. Rudy Firmansjah B.
Rifai, SpA dari RSAB Harapan Kita Jakarta, obat-obatan antikanker yang
dikonsumsi, bersifat sitostatik yang prinsipnya mematikan sel. Jika obat-obatan
ini sampai terserap ASI lalu diminumkan ke bayi, dikhawatirkan mengganggu
pertumbuhan sel-sel bayi. Padahal, bayi tengah berada dalam masa
pertumbuhan yang sangat cepat.

Tuberkulosis

Ibu pengidap tuberkulosis aktif tetap boleh menyusui karena kuman penyakit ini
tak akan menular lewat ASI. Hanya saja, saran Rudy, agar tak menyebarkan
kuman ke bayi selama menyusui, ibu harus menggunakan masker. Tentu saja
ibu harus menjalani pengobatan secara tuntas.

Penyakit Jantung

Jika penyakit jantungnya tergolong berat, tak dianjurkan memberi ASI. Soalnya,
jelas Rudy, mekanisme menyusui dapat merangsang kelenjar oksitosin yang
bekerja pada otot polos. Sementara organ jantung bekerja di bawah pengaruh
otot polos. Jadi, menyusui dapat memunculkan kontraksi karena kelenjar
tersebut terpacu hingga kerja jantung jadi lebih keras. Akibatnya, bisa timbul
gagal jantung.

Gangguan Hormon

Bila ibu menyusui mengalami gangguan hormon dan sedang menjalani
pengobatan dengan mengonsumsi obat-obatan hormon, sebaiknya pemberian
ASI dihentikan. Dikhawatirkan obat yang menekan kelenjar tiroid ini akan
masuk ke ASI lalu membuat kelenjar tiroid bayi jadi terganggu.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 66
                       Dibuang Atau Dihentikan?

Sebetulnya, terang Suharyanti, pada kasus-kasus tertentu yang dialami ibu
semasa hamil, dokter sudah bisa mempertimbangkan boleh-tidaknya ia
memberi ASI. Kalau diketahui ibu tak boleh memberi ASI, maka begitu bayi
lahir, produksi ASI dihentikan dengan cara memberi obat-obatan tertentu
dengan dosis dan jangka waktu pengobatan yang sudah ditentukan dokter. ASI
sendiri umumnya terbentuk paling tidak 3 x 24 jam setelah bayi lahir.

Sedangkan pada prinsipnya, kalau selama masa menyusui ibu jatuh sakit dan
harus mengonsumsi obat-obatan tertentu, semisal antibiotika yang keras hingga
mengakibatkan efek samping, maka pemberian ASI dihentikan sementara waktu
sampai obat tak lagi dikonsumsi. Sedangkan jenis obat apa saja yang bisa
terserap ASI, seberapa banyak, dan bagaimana dampaknya secara gamblang,
belum ada penelitiannya.

Nah, bila sudah tidak mengonsumsi obat-obatan lagi, boleh saja rutinitas yang
sempat terputus tadi dilanjutkan kembali. Memang, penghentian sementara ini
bukan tanpa risiko. Soalnya, bukan tidak mungkin si bayi jadi tak mau menyusu
lagi atau malah menolak sama sekali karena sudah ada susu botol. Sementara
bila tak diisap bayi, lama-kelamaan produksi ASI jadi berkurang.

Itu sebabnya selama berhenti menyusui untuk sementara waktu dengan alasan
kesehatan, ibu harus rajin merangsang produksi ASI-nya. Caranya dengan tetap
memompa ASI tiap 3 jam sekali agar aliran susu tak terbendung lalu
membuangnya agar tidak terjadi peradangan atau gangguan penyakit lain pada
payudara.




                                      ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 67
     TAHAPAN PERKEMBANGAN SOSIAL
                 BAYI
                    Siapa bilang bayi tak mengerti apa-apa dan kerjanya cuma
                    makan dan tidur? Bayi pun sudah punya kesadaran sosial,
                    lo.

                    Karena ia memiliki kesadaran sosial, bayi tertarik pada
                    setiap orang dan segala hal di sekelilingnya. Sebenarnya,
                    kesadaran sosial ini sudah dimiliki sejak ia lahir. Terbukti,
                    bayi-bayi lebih tertarik pada suara manusia dibanding suara
                    lain. Selain itu, ia juga telah siap berkomunikasi, bahkan
                    sejak lahir.

                    Ia akan menggunakan suaranya, seperti tangisan, untuk
memberitahu bila ada hal-hal yang tak menyenangkan seperti lapar, ngompol,
dan lainnya.Tangisan merupakan bentuk komunikasi yang efektif tanpa kata-
kata.

TAHAP DEMI TAHAP

Berikut tahapan reaksi sosial yang ditujukan bayi pada orang-orang terdekatnya.

* 2 bulan: senyum pertama
Ia akan tersenyum sebagai respon terhadap senyum Anda atau tertawa keras
dan memekik karena gembira. Ia juga akan bereaksi terhadap berbagai suara
dengan berbagai cara, seperti refleks terkejut, menangis, atau terdiam.

* 3 Bulan: suka kebersamaan
Pada usia ini, bayi akan selalu mengawasi ibunya. Misalnya ketika ibu masuk ke
ruangannya atau berbicara dengannya. Bayi amat menikmati perhatian orang
lain dan menunjukkan kegembiraannya dengan senyum, tendangan kakinya
yang bersemangat, serta lambaian tangannya. Dia akan menangis jika ditinggal
sendiri terlalu lama. Pada usia ini, si kecil tak menunjukkan ia lebih menyukai
orang tertentu dibanding yang lainnya.

* 4-5 bulan: minta gendong
Ia sudah bisa tertawa keras dan menjerit gembira. Menoleh ke arah suara ibu
atau pengasuhnya. Juga menoleh ke arah suara-suara lainnya. Ia juga ingin
digendong oleh siapa saja yang mendekatinya. Namun ia akan memberikan
reaksi yang berbeda pada wajah-wajah yang tersenyum atau suara-suara yang
ramah dan suara-suara yang menunjukkan amarah.

* 6-7 Bulan: malu pada orang asing
Dia tersenyum, bahkan tertawa, ketika bermain dengan orang dewasa yang
sudah akrab dengannya. Namun sebaliknya, bila Anda baru pertama kali
dikenalnya tapi langsung ingin menggendongnya, dia akan langsung bersikap
"menjaga jarak" atau malah ketakutan. Kadang ia menunjukkan rasa malu
seperti mencoba menyembunyikan wajahnya ketika berada dekat orang asing.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                       hal 68
Konon inilah masa dimulainya keterikatan yang kuat antara bayi dengan ibu
atau pengasuhnya.

* 8-9 Bulan: berteman dengan bayi lain
Si kecil mulai mengagumi anak lain seusianya dan akan mencoba untuk
menyentuh bayi lain yang duduk di sebelahnya. Permainan seperti berkumpul
bersama atau bermain di taman akan menyenangkannya. Ia dapat memberi
respon dengan lambaian tangan atau bertepuk tangan, memberi perintah
dengan gerakan tubuhnya semisal, "Berikan itu!" dengan cara mengulurkan
tangannya. Ia juga mencoba meniru kata-kata, isyarat, dan gerakan-gerakan
sederhana dari orang lain.

* 12 Bulan: ekspresi perasaan
Ia akan melambaikan tangan mengatakan selamat tinggal dan barangkali
mengatakan "da-da" ketika ibunya pergi dan senang jika diberi atau menerima
ciuman. Di tahun pertama ini, dia juga lebih mampu mengekspresikan
perasaannya. Kalau kita melarang dengan berkata "Tidak!" atau "Jangan!", bayi
akan marah. Atau tertawa ketika ia merasa senang dan bahagia.

                     Reaksi Sosial Teman Sebaya

4-5 bulan: mencoba menarik perhatian
Ia akan mencoba menarik perhatian bayi atau anak lain dengan melambungkan
badan ke atas atau ke bawah, menendang, tertawa, atau bermain dengan ludah.
6-7 bulan: berminat pada tangisan lain
Bayi akan tersenyum kepada bayi lain dan menunjukkan minat terhadap
tangisannya.
9-13 bulan: meniru perilaku bayi lain
Si kecil akan mencoba meremas pakaian dan rambut anak lain, meniru tingkah
lalu dansuara mereka, juga main bersama meski cenderung bingung bila
temannya mengambil salah satu mainannya.**

            Saat Dan Cara Tepat Menanamkan Disiplin

Memang sulit mendisiplinkan anak usia di bawah 1 tahun, sebab ia belum
paham tentang baik-buruk dan benar-salah.Tapi jika hal itu menyangkut soal
keselamatannya, kita harus bersikap tegas. Baik lewat kata-kata maupun
bahasa tubuh.

Saat ia menyentuh pisau atau menarik taplak meja, misalnya, segera larang
dan jelaskan kenapa ia tak boleh melakukannya. Dengan demikian, anak akan
selalu ingat untuk tak melakukan hal sama di lain waktu. Barangkali ia akan
menangis. Tapi kita harus tetap menerangkan, dengan bahasa yang bisa
dimengerti anak, kenapa hal itu dilarang Jika kita tak pernah bosan
mengingatkannya, disiplin pun akan melekat dalam dirinya.




                                      ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 69
    MEWASPADAI KELEBIHAN HORMON
             PADA BAYI
                               Tak perlu khawatir karena biasanya akan hilang
                               dengan sendirinya. Lain hal bila dalam 4 bulan
                               tetap masih memperlihatkan tanda-tanda.

                               Ibu Dini, sebut saja begitu, amat bingung
                               menghadapi bayinya yang baru berusia hitungan
                               hari tapi dari buah dada bayi laki-lakinya keluar
                               cairan putih mirip ASI.Masalah seperti itu, jelas
                               Dr. Jose Rizal Batubara, Sp.A (K), memang
                               kerap terjadi dan sebetulnya gejala normal,
                               bukan akibat penyakit atau virus tertentu.
                               'Siapa pun bisa mengalaminya," jelas spesialis
anak dari Subbagian Endokrinologi FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo Jakarta.
"Toh, gejala itu akan hilang dengan sendirinya setelah kira-kira 2 bulan atau
malah lebih cepat."

JANGAN DIPENCET

Jika gejala ini muncul di bulan-bulan awal, penyebabnya adalah pengaruh
hormon estrogen ibunya, baik saat hamil maupun ketika menyusui. Gejala yang
dalam istilah kedokteran dinamai ginekomastia ini, pada bayi perempuan
biasanya ditandai dengan adanya bercak-bercak darah pada vaginanya. Mirip
menstruasi. Ada pula yang ditandai dengan keluarnya cairan bening seperti
keputihan yang akan hilang lebih cepat lagi, antara 2-3 minggu.

Bila gejala-gejala tersebut tetap menetap dalam waktu 4 bulan atau lebih,
"Segera konsultasikan dengan dokter terkait untuk mengetahui penyebab
pastinya. Apakah disebabkan kadar hormon ibunya, kelainan pada si anak, atau
malah penyakit berbahaya yang mesti secepatnya diobati."

Ironisnya, lantaran ketidaktahuan, si orang tua justru memencet-mencet
payudara. Mereka beranggapan, harus mengeluarkan susu yang tersimpan di
payudara bayi sampai habis sehingga payudara mengempis. Padahal, tegas Jose,
selain tidak efektif, memencet-mencet payudara bayi jelas akan menyebabkan
rasa sakit yang luar biasa. "Payudara anak bisa tambah bengkak sementara
anak pun trauma dibuatnya." Terlebih jika tangan ibu kotor, sehingga
memperbesar peluang terjadinya infeksi pada kulit maupun payudaranya.

                         Yang Mesti Diwaspadai

Menurut dr. Bambang Tridjaja, Sp.A dari bagian yang sama, jika gejalanya
menetap lebih dari empat bulan, beberapa kemungkinan berikut mesti
diwaspadai.
1. Pengaruh Luar
Pengaruh ini bisa disebabkan karena bayi masih menyusui. Jadi, apa yang
dikonsumsi ibu akan berdampak secara tidak langsung terhadap bayi. Nah, jika




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 70
si ibu rajinmengonsumsi jamu-jamuan atau obat-obatan yang mengandung
hormon, dapatdipastikan kandungan hormon tersebut akan "ditransfer" ke bayi,
hingga menimbulkan gejala-gejala ginekomastia. Bisa saja ketika lahir, bayi
tidak menampakkan gejala-gejala tersebut dan baru muncul setelah disusui
ibunya. Nah, bila ini yang terjadi, amat disarankan agar ibu menghentikan dulu
konsumsi jejamuan dan obat-obatan tersebut. Sama halnya bila ramu-ramuan
tradisional tertentu yang banyak mengandung hormon diberikan pada si bayi.
2. Tumor
Penyakit ini harus diwaspadai karena bisa menyebabkan dampak cukup fatal.
Soalnya, tumor yang umumnya menyerang alat-alat reproduksi seperti ovarium
dan indung telur atau testis pada pria, bisa mengakibatkan produk hormon
dalam tubuhanak sedemikian berlebih dan menyebabkan ginekomastia. Berat-
ringannya, tentu saja tergantung pada ganas-tidaknya tumor tersebut.
Pengobatannya lewat jalan operasi agar produksi hormon si bayi bisa normal
kembali.
3. Sindrom Klenefelter
Sindrom ini bisa diketahui ciri-cirinya secara kasat mata setelah si Buyung
beranjak dewasa. Di antaranya, bertubuh tinggi dan kurus namun payudaranya
membesar. Sindrom harus segera diobati dengan obat-obatan tertentu. Jika
tidak, sindrom ini dapat menyebabkan keganasan pada payudara dan dapat
berakibat fatal.
4. Gangguan Kelenjar Gonad
Gangguan pada kelenjar telur atau testis juga bisa jadi salah satu penyebabnya.
Meski merupakan kelainan bawaan, penderita bisa diobati dengan obat-obatan
tertentu untuk menghilangkan penyakit maupun gejala ginekomastianya.
5. Obat-obatan tertentu
Jangan salah, mariyuana dan morfin ternyata bisa menyebabkan gejala
ginekomastia, meski biasanya terjadi pada orang dewasa.
6. Hipertiroid
Merupakan gangguan kelenjar hormon yang bisa memunculkan gejala
ginekomastia, di samping menyebabkan penyakit gondok. Jika anak terkena
penyakit ini, harus lekas diobati. Soalnya, metabolisme tubuh akan terganggu.
Akibatnya, tubuh dipaksa kerja ekstra keras yang membuat yang bersangkutan
jadi gampang capek lalu akhirnya gampang sakit. "Ibarat mobil bermesin butut
yang dipaksa berjalan ratusan kilometer, mobil bisa mogok dan rusak berat,"
ujar Bambang memberi perumpamaan.


                                      ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 71
          KETIKA BAYI MENDADAK TAK
                  BERNYAWA

                             Tak sedikit terjadi, bayi tewas saat tidur.
                             Terutama dalam posisi tengkurap. Karena tak
                             terduga, tindak pencegahannya pun nyaris
                             mustahil.

                            Tak bisa dibayangkan bagaimana terpukulnya
                            perasaan orang tua yang baru dikaruniai bayi yang
tampak sehat dan normal namun mendadak menemukan bayinya dalam
keadaan biru tak bernyawa di dalam boksnya. Apa, sih, yang sebenarnya terjadi
pada bayi yang mengalami Sudden Infant Death Syndrome (SIDS)?

Sebetulnya, bicara masalah kematian pada bayi, jelas dr. Bambang
Supriyatno, Sp.A penyebabnya bisa karena tiga hal. Pertama, kematian karena
adanya kelainan bawaan semisal bayi lahir dengan kelainan jantung dan paru-
paru yang memungkinkan kejadian kematiannya diprediksi. Terlebih bila
kelainan tersebut merupakan salah satu faktor risiko. Kedua, kematian karena
penyakit yang didapat, semisal radang paru-paru atau pneumonia maupun
akibat suatu kecelakaan yang didapat di rumah, di jalan, atau di mana pun.

Sementara kematian berikut yang lebih dikenal dengan istilah SIDS, agak sulit
diprediksi. Sebab, kejadian kematian ini bersifat dadakan, hingga tak pernah
bisa diperkirakan apa penyebabnya dan bagaimana mengantisipasinya. Menurut
spesialis anak dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, angka kejadian SIDS
di Amerika cukup tinggi, meski tak ada angka pastinya. Sementara di Indonesia,
data mengenai berapa banyak kasus kejadiannya malah tak diketahui. Hanya
saja di beberapa negara, kejadian SIDS cenderung meningkat. Terutama pada
bayi yang terbiasa tidur dengan posisi tengkurap.

Sebetulnya, jelas Bambang, posisi tidur tengkurap bermanfaat untuk mencegah
terjadinya aspirasi/tersedak. Yakni, masuknya cairan muntahan ke dalam paru-
paru yang bisa membahayakan. Selain itu, baik pula untuk pergerakan otot
pernapasannya. "Tapi posisi tidur ini mesti dicermati bila bayi memiliki kelainan
neurologis semisal pergerakan kepalanya susah." Meski tak ada batasan waktu
yang baku, orang tua harus tetap mengawasi bila bayinya tidur dengan posisi ini
sekalipun bayi punya insting untuk membebaskan diri. Artinya, jika napasnya
susah, ia akan bergerak dengan sendirinya.




                              Berhenti Napas

Menurut Bambang, orang tua mestinya bisa mengetahui apakah bayinya sering
mengalami henti napas atau tidak karena adanya fase jeda sekitar 10 detik. Bila
kejadiannya sering, maka dalam satu menit bisa berhenti beberapa kali.
Sedangkan kalau cuma sekali, mungkin masih wajar-wajar saja.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                       hal 72
Nah, dari situ dokter akan mendeteksi, seberapa sering henti napasnya terjadi
dan tindakan apa yang dapat diberikan. Panjangnya henti napas ini juga
menentukan tingkat keparahannya. Bila henti napasnya terjadi satu menit saja,
sudah tergolong susah dan bisa meninggal.



                       Tindak Pencegahan SIDS

Sayangnya, seperti dituturkan Bambang, tindak pencegahan SIDS nyaris tak
ada. Yang dapat dilakukan hanyalah monitoring dari orang tua. Disinyalir ada
tindak pencegahan dengan obat-obatan tertentu yang konon bisa membantu
pernapasan bayi agar teratur. Seperti diketahui, pernapasan bayi masih tak
teratur, kadang cepat, pelan, atau sedemikian lambat akibat sistem
pernapasannya belum matang.

Pemberian obat,terutama ditujukan buat bayi yang memiliki riwayat berhenti
napas. Tapi itu pun harus dilakukan oleh dokter dan tak bisa dilakukan
sembarangan. Bila dianggap sudah matang yang antara lain bisa dilihat dari
perkembangan berat badannya, obat-obatan tersebut tak perlu dikonsumsi lagi.



                        Aneka Faktor Penyebab

Sebenarnya, ujar Bambang, ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi
kejadian SIDS. Di antaranya,
Faktor Ibu
Selama masa kehamilan, faktor diri ibu sangat berpengaruh. Ibu yang merokok,
minum minuman beralkohol, mengonsumsi obat-obatan secara bebas,
berpeluang memperoleh bayi yang pertumbuhannya terganggu. Hal ini bisa
menjadi risiko faktor penyebab terjadinya SIDS.
Kelahiran Prematur
Prematuritas juga bisa menjadi risiko terjadinya SIDS karena organ-organ
tubuhnya yang belum matang dan sempurna. Demikian juga dengan sistem
pernapasannya yang bisa menyebabkan gangguan pada sistem pernapasannya.
Sementara pada bayi yang tidak dilahirkan prematur, sistem pernapasannya
mulai bagus/matang di usia 8 bulanan. Itu sebabnya kasus SIDS jarang
dijumpai pada bayi atas usia 6 bulan.
Sulit Napas
Sesudah bayi lahir, ada kejadian yang dinamakan asfiksia. Yakni bayi
mengalami kesulitan bernapas. Biasanya akan menampakkan gejala biru, susah
bernapas, dan berkurangnya denyut jantung.
Disfungsi Pada Batang Otak
Usia terbanyak kejadian SIDS ditemui pada bayi usia 2-4 bulan. Sedangkan
mayoritas atau 95 persen, dijumpai pada bayi di bawah 6 bulan. Penyebabnya,
kemungkinan terjadi disfungsi atau gangguan pada batang otak. Gangguan ini
mengakibatkan berubahnya pola pernapasan si bayi. Dalam bahasa Inggris
istilahnya arousal, yang bisa digambarkan mirip orang yang kekurangan oksigen
selagi tidur. Ini membuatnya gelagapan dan terbangun, tapi kemudian bisa
tertidur lagi. Nah, pada bayi, tingkat kewaspadaan inilah yang terganggu
sementara ia tak mampu mengatasinya. Singkatnya, berawal dari fungsi otak
yang terganggu/berkurang tanpa diketahui penyebabnya. Proses arousal-nya




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 73
pun jadi kurang bagus yang diikuti dengan pola tidur dan kontrol kurang bagus
serta pola pernapasannya juga tak baik. Perubahan-perubahan tersebut
menyebabkan gangguan/perubahan denyut jantung dan peningkatan suhu
tubuh. Akibatnya, paru-parunya jadi kekurangan oksigen lalu menyebabkan
gangguan berhenti napas.
Posisi Tidur Tengkurap
Kejadian SIDS akibat posisi tidur tengkurap ternyata sekitar 3 kali lebih besar
dibanding posisi terlentang. Ini bisa dimengerti karena pergerakan kepala pada
pada bayi usia 2 bulan mestinya sudah kuat. Sedangkan bayi dengan gangguan
di otak umumnya tidak kuat mengangkat kepalanya. Akibatnya, posisi tidur
tengkurap memperbesar kemungkinan terjadinya SIDS. Belum lagi faktor kasur
yang sangat empuk atau lunak, yang menyebabkan kepalanya "terbenam" ke
dalam kasur. Akibatnya, bayi kesulitan mengangkat kepalanya mencari udara
bebas. Di lain pihak, sebetulnya kalau kondisi si bayi normal-normal saja (dalam
arti tak ada dasar gangguan otak), maka posisi tidur tengkurap tak memicu
terjadinya SIDS. Sayangnya, ada-tidaknya gangguan atau kelainan pada batang
otak bayi baru lahir, tidak mudah segera diketahui. Sementara dari hasil otopsi
pada bayi-bayi di luar negeri yang mengalami SIDS, ternyata kejadian ini
terutama terjadi pada bayi-bayi yang memiliki kelainan pada batang otak,
pembengkakan pada paru-paru, dan perdarahan pada daerah sekitar dada.
Semua itu dapat terjadi akibat kondisi asfiksia/kesulitan bernapas akibat
hipoksia atau kekurangan oksigen dalam jangka waktu cukup lama dalam
darahnya.
Dialami Ras Tertentu
Soal ras ternyata merupakan salah satu faktor munculnya kejadian SIDS yang
banyak terjadi pada kalangan kulit hitam. Namun, tandas Bambang, itu kejadian
di luar negeri, sedangkan di Indonesia belum ada penelitiannya.
Kurang Pengawasan
Bisa pula terjadi bayi tertutup selimut dalam keadaan tidur. Tentu saja risiko
SIDS tetap terbuka, terlebih bila dibarengi dengan kurangnya pengawasan
orang tua. Selama tetap diawasi dengan baik, menyelimuti bayi tak akan jadi
masalah. Selain itu, pernah pula dilaporkan bayi mengalami SIDS karena hidung
dan mulutnya tertutup payudara si ibu saat menyusui. Kemungkinan ini terjadi
bila ibu menyusui bayinya sambil tiduran, tapi kemudian tertidur karena capek.
Tertutupnya mulut dan hidung si bayi membuat bayi seperti dibekap.
Bedong Terlalu Kuat
Karena ingin anaknya merasa hangat, orang tua biasanya membedongnya kuat-
kuat. Padahal, mestinya orang tua tahu, bayi bernapas menggunakan dada dan
perut. Bayangkan, bayi yang dibebat kuat pasti napasnya kembang-kempis alias
susah payah.




                                      ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 74
                 BAHAYA BAYI KUNING


                              Jangan anggap remeh, ya, Bu-Pak. Segera
                              konsultasikan ke dokter agar tak berakibat fatal.

                               Sekitar 40-50 persen bayi lahir cukup bulan,jelas
                               dr.Purnamawati S. Pujiarto, SpA(K), MMPaed.,
                               mengalami kuning. "Biasanya kuningnya itu
disebut kuning fisiologis alias bukan karena kelainan atau penyakit melainkan
fungsi organnya, yaitu hati, belum matang." Yang seperti ini, lanjutnya,
biasanya tak berbahaya karena akan cepat teratasi dengan berjalannya waktu.

Bayi kuning, ungkap spesialis anak dari Bagian Hepatologi Anak RSUPN Cipto
Mangunkusumo Jakarta ini, disebabkan meningkatnya kadar bilirubin dalam
darah. Normalnya, secara berkala sel darah merahnya akan dipecah. Nah,
kandungan "sampah" dari proses pemecahan itu disebut bilirubin indirek.
Semasa janin, bilirubin indirek ini akan dibuang oleh plasenta dan masuk ke hati
ibu untuk selanjutnya diproses di hati menjadi bilirubin direk dan dibuang tinja.
Bilirubin indirek memang harus dibuang karena dalam kadar tinggi dapat
bersifat sebagai racun.

Segera setelah lahir, bayi harus mengolah sendiri bilirubin indirek di hatinya.
Tapi karena fungsi hatinya belum sempurna lantaran belum matang, "Proses
penghancuran dan pembuangan bilirubin jadi lambat, hingga bilirubin indireknya
tetap tinggi. Fungsi tersebut baru bisa berlangsung normal bila organ hatinya
sudah matang, yakni sekitar 3-4 hari setelah lahir." Saat itu hati sudah mampu
mengubah bilirubin indirek menjadi bilirubin direk, sekaligus membuangnya.
Makanya, bayi kuning fisiologis biasanya akan mulai terlihat di hari kedua dan
akan mencapai puncaknya pada hari ketiga sesudah lahir. "Mulanya kuning di
sekitar wajah lalu menjalar ke tubuh. Bayinya, sih, tetap terlihat aktif dan sehat.
Menyusu dan tangisnya juga kuat." Melewati hari ketiga, kadar bilirubin pelan-
pelan menurun dan umumnya di hari ke-7 bayi tak kuning lagi.

PATOKAN PENTING

Bayi kuning sebetulnya bisa dideteksi orang tua lewat warna mata bayi. Yang
perlu dipahami, kuningnya karena fisiologis atau akibat penyakit. Untuk itu, ada
sejumlah patokan yang patut dipelajari.
* Jika kuningnya timbul dalam 24 jam pertama setelah Jika dalam sehari kadar
bilirubin meningkat secara pesat atau progresif.
* Jika bayi tampak tidak aktif, tak mau menyusu, cenderung lebih banyak tidur,
disertai suhu tubuh yang mungkin meningkat atau malah turun.
* Jika bayi kuning lebih dari dua minggu.
* Jika air kencingnya berwarna tua seperti air teh.

Nah, bila itu yang terjadi, jangan buang waktu, segera bawa anak ke dokter
agar tak berakibat fatal. Sebab, seperti dijelaskan Wati, "Kadar bilirubin indirek




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                        hal 75
yang terlalu tinggi dapat merusak sel-sel otak hingga bayi mengalami kejang-
kejang dan di kemudian hari bisa memunculkan kelainan neurologis." Dalam
keadaan sehat dan normal, otak memiliki pelindung hingga tak sembarang zat
bisa menembusnya. Sementara pada bayi yang sakit berat, pelindung tadi ikut
terganggu fungsinya. Akibatnya, zat-zat yang bersifat toksik atau racun,
termasuk bilirubin indirek, bisa menembus dan masuk ke sel-sel otak. Dampak
jangka pendek, bayi akan mengalami kejang-kejang. Sementara jangka
panjang, anak bisa mengalami cacat neurologis.

Jadi, penting sekali mewaspadai keadaan umum si bayi. Kalau kondisinya baik,
tetap aktif, orang tua tak perlu cemas. Lain halnya bila bayinya tidur terus,
emoh menyusu, sering muntah, pasif, suhunya berubah (panas atau dingin),
"Bayi harus terus dimonitor secara ketat."

AKIBAT KOLESTASIS

Bilirubin direk juga bisa menyebabkan bayi kuning akibat organ hati
berkelainan/sakit. Kolestasis; apa pun kelainan pada hati atau sistem empedu
ini, jelas Wati, menyebabkan terganggunya proses pembuangan semua bahan
toksik yang seharusnya dibuang oleh hati dan saluran empedu ke tinja.
Akibatnya, bahan beracun tersebut menumpuk di hati dan menyebabkan
kerusakan sel-sel hati. "Bila keadaan ini berlangsung lama dan terus-menerus,
satu saat hati mengalami komplikasi berat yang disebut sirosis. Dalam hal ini
sel-sel hati diganti oleh jaringan ikat hingga hati menciut, keras, dan tak dapat
lagi menjalankan fungsinya yang sangat vital bagi kehidupan si individu.

Sekilas, gejala kolestasis sama dengan kuning fisiologis. "Tapi pada kolestasis,
umumnya air seni berwarna gelap akibat keluarnya bilirubin direk di urin. Yang
jelas, penyakit ini perlu segera ditangani dokter. Ketidaktahuan, kesalahan, atau
keterlambatan diagnosa dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan bayi,
penyakit hati yang berlangsung kronis, dan berkomplikasi sirosis yang ujungnya
berakhir dengan kematian."

Secara garis besar, kolestasis dibagi dua, yakni, akibat kelainan di dalam hati,
atau akibat kelainan saluran empedu di luar hati. Penyebab kolestasis di dalam
hati dibagi dua yaitu:
* Akibat infeksi virus, kuman/bakteri, parasit. Semua infeksi berat di
mana mikroorganisme tadi sudah memasuki peredaran darah, dapat
menyebabkan kolestasis, karena dibawa oleh darah ke hati dan merusak sel-sel
hati. Sebagian besar kolestasis pada bayi baru lahir yang disebabkan infeksi
virus akan berakhir dengan kesembuhan. Sedangkan yang diakibatkan infeksi
berat (sepsis), memerlukan terapi antibiotik yang tepat.
* Bukan disebabkan infeksi. Penyebabnya, antara lain, penyakit akibat
gangguan metabolisme (bisa karbohidrat, protein atau lemak maupun gangguan
metabolisme asam empedu). Penyebab lainnya adalah kelainan
bawaan/kongenital, gangguan pembentukan saluran empedu di dalam hati,
kerusakan hati akibat obat, sindrom down, atau kelainan hormonal seperti
hipotiroid, dan sebagainya.

Sementara gejala klinisnya, antara lain, air seni berwarna cokelat atau kuning
tua, warna tinja amat pucat atau selang-seling dengan warna kuning. Umumnya
terjadi gangguan pertumbuhan sejak bayi lahir (berat lahir kurang). Menurut




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                       hal 76
Wati, sepertiga dari kolestatis memerlukan upaya operasi, yang dilakukan
sebelum bayi berusia 2 bulan agar hasilnya optimal.




                          Kuning Yang Berisiko

Berikut faktor penyebab munculnya kuning yang bukan fisiologis dan berisiko
membahayakan bayi.
* Infeksi berat
Infeksi yang berat dapat meningkatkan proses pemecahan sel darah merah
hingga bayi tampak kuning. Infeksi berat yang dimaksud adalah infeksi di mana
kuman atau mikroorganisme penyebab infeksi tersebut sudah menyebar ke
seluruh tubuh melalui aliran darah. Jadi, bukan infeksi yang terbatas di satu
area saja, semisal di tenggorokan atau telinga.
* Kekurangan enzim G 6 PD (glukosa-6-fosfat dehidrogenase).
Enzim ini dibutuhkan oleh rangkaian reaksi yang berfungsi menghasilkan
sumber energi bagi sel darah merah agar bisa menjalankan fungsi
metabolismenya. Bila sel darah merah kekurangan enzim ini, energi pun
berkurang. Akibatnya, sel darah merah akan mudah pecah atau rusak.
* Beda golongan darah dengan ibu
Ketidakcocokan golongan darah dapat terjadi bila ibu rhesus negatif dan
anaknya rhesus positif atau bila ibu golongan darah O dengan bayi golongan
darah non-O. Namun demikian biasanya perbedaan ini sudah sejak awal
diketahui dokter kandungan hingga dapat dilakukan antisipasi yang diperlukan
guna mencegah terjadinya peningkatan bilirubin indirek yang drastis. Di lain
pihak, pada ketidakcocokan golongan darah O, bila perlu dokter
mempertimbangkan transfusi tukar/ganti darah (exchange transfusion).
* Penyakit genetik
Ada beberapa penyakit karena genetik di mana organ hati tak punya enzim
untuk mengubah bilirubin indirek menjadi bilirubin direk. Namun kondisi seperti
ini relatif jarang terjadi.

                 Batas Normal Bilirubin Dan Terapi

Pada bayi baru lahir, jelas Wati, pemeriksaan bilirubin umumnya sudah
termasuk dalam pemeriksaan rutin bayi baru lahir. "Dalam sekali pengambilan
darah, umumnya sudah termasuk untuk memeriksa golongan darah, hormon
tiroid gondok, dan enzim tertentu di darah yang biasa disebut G-6-PD.

Wati juga menyebutkan, batas normal bilirubin bayi baru lahir tak lebih dari 10
mg/dl. Lebih dari itu, biasanya akan diberi terapi sinar (blue light) saat berada
di rumah sakit. Terapi ini bertujuan mengubah bilirubin indirek yang toksik
menjadi zat yang tidak toksik. Lama-sebentarnya penyinaran berbeda pada
setiap bayi. Pada bayi kuning fisiologis yang lahir cukup bulan, dengan terapi
sinar sehari saja kadar bilirubinnya sudah turun. Sementara bayi lahir prematur
mungkin perlu waktu lebih lama lagi untuk menurunkan kadar bilirubinnya. Bayi
prematur memang termasuk rentan mengalami kuning karena organ tubuhnya
belum tumbuh sempurna.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                       hal 77
Sementara mengurangi kuning pada bayi dengan cara menjemurnya di
matahari pagi, menurut Wati, sudah harus ditinggalkan karena fungsinya
ternyata memang bukan membantu mengubah bilirubin indirek. "Boleh-boleh
saja menjemurnya di matahari pagi. Namun tujuannya semata agar bayi kena
sinar matahari, terutama untuk vitamin D yang diperlukan tulang. Sebaiknya
lakukan pagi hari dan tak perlu lama-lama."




                                      ***




         BAYIKU CERDAS, ENGGAK, YA?

                              Apa   saja ukuran kecerdasan buat bayi?
                              Bagaimana cara mengetahui dan melatihnya?

                              Menurut psikolog Evi Elviati dari Essa Consulting

                         Group,ukuran kecerdasan pada bayi beda dengan
                         dewasa. Tes IQ dan tes lain yang diterapkan pada
                         orang dewasa, tak bisa diberikan pada bayi.
                         "Biasanya diukur dengan mengamati aspek-aspek
                         perkembangannya.     Baik     motorik,   kognitif,
                         maupun panca inderanya." Ia lalu memberi
                         contoh, di usia 3 bulan, bayi hanya bisa
menggerak-gerakkan badannya. Lewat usia itu, bisa memegang benda,
memainkan, dan memasukkan ke mulutnya.

Yang juga penting diingat, perkembangan kecerdasan bersifat individual.
Bahkan tak sama antara si sulung dan si bungsu atau malah anak kembar
sekalipun. Jadi, jangan kelewat khawatir bila perkembangan anak tak sama
dengan anak lainnya, "Kok, anak saya belum bisa jalan seperti anak tetangga
sebelah?"

Dalam ilmu kedokteran pun, ada acuan berupa interval mengenai
perkembangan kecerdasan. Anak bisa berjalan umur 12 - 15 bulan, contohnya.
Kalau sampai 14 bulan belum bisa jalan, tak perlu khawatir dulu karena
mungkin ia baru bisa jalan umur 15 bulan. Tapi jika 15 bulan belum juga bisa,
orang tua harus segera memeriksakannya ke dokter. Jangan-jangan anak
mengalami gangguan fisik atau hanya kurang latihan.

Perkembangan tiap individu sangat unik. Ada yang bisa bicara lebih dulu
sementara jalan menyusul beberapa waktu kemudian. Bisa juga terjadi
sebaliknya. Yang jelas, agar bisa memantau perkembangan kecerdasan anak,




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                       hal 78
lanjut Evi, "Sejak dini, terutama di bulan-bulan pertama, orang tua harus benar-
benar mencermatinya. Lakukan sejumlah tes pada anak. Bunyikan suara di kiri
dan kanan tubuhnya, lalu amati apakah ia menengok ke arah datangnya suara
tersebut. Jangan sampai orang tua cuma adem ayem dan baru tahu anaknya
tuli setelah umurnya hampir 3tahun."

Begitu juga saat menguji penglihatan anak. Perlihatkan gambar di hadapannya
lalu gerakkan gambar tersebut ke kanan dan ke kiri. Amati apakah dia
menoleh/mengikuti ke arah gambar digerakkan. Bila anak tidak meresponsnya,
segera periksakan ke dokter dan atau psikolog untuk memastikan adakah
kelainan fisik ataupun bawaan. Bila gangguan perkembangan ini bisa dideteksi
sejak dini, "Terapinya pasti relatif mudah dengan hasil lebih optimal ketimbang
baru diketahui pada usia lebih lanjut."




                           Ragam Kemampuan

Bayi usia 6-12 bulan:
1. Pendengaran
Anak sudah bisa mengenali suara orang-orang di sekelilingnya, selain nama
dirinya. Makanya ia akan segera menengok jika namanya dipanggil. Ingatannya
mulai muncul.
2. Motorik
Ia bisa mengerjakan aktivitas yang berulang. Semisal saat diajari tepuk tangan,
pertama kali mungkin kita perlu memegangi tangannya. Namun di kesempatan
berikutnya ketika kita suruh tepuk tangan, ia langsung melakukannya. Demikian
pula ketika kita melakukan aktivitas lainnya, ia sudah pandai meniru. Saat
memegang sesuatu, awalnya mungkin belum pas, tapi selewat 6 bulan ia sudah
bisa memegang objek dan memukul-mukulnya. Tingkah-laku atau aktivitasnya
sudah bertujuan, tidak asal gerak.Ia pun sudah bisa merangkak. Atau kala
menemukan tembok, ia bisa berdiri dan berjalan merambat melalui dinding
tanpa dibantu, kendati untuk berjalan sendiri mungkin masih perlu dipegangi.
3. Bahasa
Ia sudah mahir mengucapkan kata-kata yang sama secara berulang, seperti
"Mama" dan "Papa". Ia pun sudah mampu memahami perintah dan larangan.
Semisal ketika hendak mengambil sesuatu dan kita bilang "jangan" sambil
mengacungkan telunjuk, ia segera mengurungkanniatnya. Begitu juga ketika
kita ucapkan kata "ambil" atau "buka", ia akan segera melakukannya.
4. Penglihatan
Ia sudah mengenal orang atau benda di sekelilingnya dan segera menangis
begitu ibunya terlihat akan pergi meninggalkannya. Ia sudah bisa membedakan
mana ibu, bapak, pengasuh, maupun orang lain yang kurang dikenalnya.



                       Penghambat Kecerdasan

Menurut Evi ada beberapa faktor yang menjadi penghambat kecerdasan anak.
Di antaranya:
* Gizi
Pasokan gizi yang kurang dari kualitas maupun kuantitas, baik ketika ibu hamil




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 79
maupun ketika anak berkembang, berpengaruh pada perkembangan motorik
anak. Anak yang kekurangan kalsium, besar kemungkinan tungkai kaki dan
tulang belulangnya akan lemah.
* Penyakit
Penyakit infeksi yang diderita ibu ketika hamil, seperti rubella, jika dibiarkan
akan berakibat fatal. Semisal menyebabkan keterlambatan perkembangan
kecerdasan maupun gangguan pendengaran dan penglihatan. Begitu juga
penyakit yang diderita anak. Si kecil yang mengidap penyakit berat atau bolak-
balik sakit meski sakitnya tergolong ringan, juga akan mengalami gangguan
perkembangan kecerdasan.
Kurang Stimulus/Rangsangan
Kecerdasan pun akan terhambat bila rangsangan yang diterimanya dari luar
minim. Mungkin saja karena orang tuanya tidak paham hingga tak melakukan
rangsangan apa pun. Pikirnya, kecerdasan dan kemampuan motorik anak akan
berkembang dengan sendirinya. Anak yang tidak mendapat stimulus dengan
semestinya, jelas Evi, tak akan optimal perkembangannya. Ibarat pelari yang
sebenarnya bisa berlari sejauh 100 meter, cuma mampu 50 meter karena tidak
mendapat rangsangan berupa pengarahan dan latihan. Rangsangan juga
bermanfaat bagi perkembangan kognitif atau daya rekam anak. Jika di usia ini
anak tidak diasah kecerdasannya, besar kemungkinan di usia dewasa, tingkat
kecerdasannya pun pas-pasan hingga ia tak percaya diri dan kurang baik
kontrol emosinya.
Kelainan Bawaan
Anak yang memiliki kelainan bawaan sindrom Down, misalnya, perkembangan
kecerdasannya jelas terlambat dibanding mereka yang tidak berkelainan
bawaan.



                    Kiat Melatih Kecerdasan Anak

Intinya, tambah Evi, ibu, bapak, maupun pengasuhnya, harus memberi
stimulus atau rangsangan sehingga anak mendapat banyak pengalaman yang
akan selalu diingatnya. Semakin banyak pengalaman, kemampuan otaknya
akan kian terangsang dan ini berpengaruh pada tingkat kecerdasannya.
1. Mengenalkan Bentuk dan Warna
Kenalkan berbagai bentuk benda pada anak semisal melalui perabaan. Dengan
menyodorkan sehelai kertas dan jam, contohnya. Biarkan anak mengambilnya
dan di saat bersamaan sebutkan nama benda-benda tersebut. Kelak,
perbendaharaan katanya akan semakin kaya. Jangan lupa sebutkan juga warna
dan ciri-ciri utama benda tersebut. Usahakan warna yang dikenalkan cukup
kontras, seperti merah, kuning, hijau, dan biru. Hindari pengenalan warna-
warna buram seperti abu-abu dan cokelat karena warna-warna ini kurang
menarik perhatiannya.
2. Mengenalkan Rasa
Untuk rasa manis, sodorkan madu, jeruk untuk rasa asam dan biskuit untuk
rasa asin. Kenalkan masing-masing rasa sambil menyebutkan benda yang
mewakilinya. "Ini madu. Manis, kan?" suatu saat anak akan paham akan aneka
rasa.
3. Mengenalkan Bunyi
Kenalkan pula bayi pada ragam bunyi, mulai alunan lembut sampai bunyi yang
keras. Begitu juga bunyi yang teratur seperti musik maupun yang tidak
beraturan semisal bunyi kaleng yang ditabuh secara asal.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                       hal 80
4. Mengasah Perabaan
Untuk perabaan, ada baiknya anak diajak "jalan" di atas berbagai permukaan.
Seperti tanah, pasir, bebatuan kecil dan rumput basah.
5. Rajin Berkomunikasi
Agar perbendaharaan kata anak semakin kaya, jangan malas mengajaknya
berkomunikasi. Mulailah dengan mengenalkan satu per satu individu penghuni
rumah. Sebutkan secara berulang, hingga anak bisa membedakan mana ibu,
bapak, kakak, dan kakek-neneknya. Sesibuk apa pun orang tua, biasakanlah
untuk selalu menjalin komunikasi dengan anak. Pun selagi ia masih bayi. Untuk
memperkaya kemampuannya berbahasa, bacakan juga dongeng menjelang
tidur. Ternyata anak yang sering dibacakan cerita akan memiliki kosa kata yang
lebih kaya dibanding mereka yang tidak dibacakan.




                                      ***




  PERKEMBANGAN MOTORIK BAYI USIA
            0-6 BULAN

                             Motorik kasar dan halus bayi memiliki "pola"
                             tersendiri. Bila tak sesuai dengan "pola" tersebut
                             berarti ada keterlambatan.

                              Sejak lahir, jelas dr. Rini Sekartini,Sp.A., bayi
                              sebetulnya     sudah      membawa     4    aspek
                              perkembangan.       Yakni   gross   motor    atau
                              gerakan/motorik      kasar,   fine  motor    atau
                              gerakan/motorik halus, aspek komunikasi-bicara,
                              serta aspek sosial dan kemandirian. Bahkan begitu
bayi lahir, aspek motoriknya sudah mulai berkembang.

Pada prinsipnya, tutur spesialis anak dari Subbagian Tumbuh Kembang FKUI-
RSCM, Jakarta, motorik kasar merupakan gerakan otot-otot besar. Yakni
gerakan yang dihasilkan otot-otot besar seperti otot tungkai dan lengan.
Misalnya gerakan menendang, menjejak, meraih dan melempar. Sedangkan
motorik halus merupakan koordinasi antara jari-jemari, telapak tangan dan kaki,
serta mata.

Masing-masing tahap perkembangan motorik kasar dan halus memiliki kurun
waktu/milestone perkembangan. Kurun waktunya pun berbeda antara tahap
perkembangan yang satu dengan lainnya. Mengangkat kepala sejauh 45 derajat,




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 81
contohnya, bisa dilakukan sampai bayi berusia 2,5 bulan. "Kalau dia belum bisa
juga melakukannya, orang tua harus curiga. Sebaiknya diperiksakan ke dokter
untuk mengetahui ada-tidaknya keterlambatan perkembangan."

Yang tak kalah penting, pesan Rini, lakukan stimulasi motorik kasar dan halus
secara sekaligus. Misalnya, sambil melatih bayi tengkurap, taruh mainan di
depannya hingga ia sekaligus belajar meraih benda di sekitarnya. Jangan
lupakan pula aspek bahasa, sosial, dan kemandiriannya. "Lakukan stimulasi
sesering mungkin. Toh, kita bisa menerapkannya sambil menyusui,
memandikan, atau saat beraktivitas lainnya."




                    Perkembangan Motorik Halus

Untuk mendeteksi gangguan/penyimpangan perkembangan, menurut Rini, bisa
dilakukan dengan alat skrining perkembangan Denver II. Di situ akan terlihat,
gerakan apa saja yang sudah dicapai untuk range usia tertentu. Berikut garis
besar skrining perkembangan motorik kasar menurut Denver II:

* Gerakan Seimbang (sejak lahir hingga 0,5 bulan)

- Gerakan seimbang bisa dilihat dari anggota geraknya, yakni tangan dan kaki.
Saat kaget, keempat anggota geraknya yang semula dalam posisi menekuk
seperti katak, mengalami ekstensi menjadi lurus secara bersamaan.
- Stimulasi yang disarankan, tarik selimutnya saat anak sedang tidur, baik
dalam posisi tengkurap atau telentang. Jika salah satu dari keempat anggota
geraknya tak simetris, semisal kaki kanannya tampak lemas/tak terangkat,
perlu dicermati sebagai tanda mencurigakan.

* Mengangkat Kepala (20 hari - belum genap sebulan).

- Dalam range waktu antara beberapa hari sejak lahir hingga usia 2,5 bulan,
anak sudah bisa mengangkat kepalanya sekitar 45 derajat.
- Selanjutnya, sekitar 1 bulan 10 hari-3,5 bulan, sudah bisa mengangkat kepala
sejauh 90 derajat.
- Cara stimulasi, posisikan anak tengkurap/telungkup. Jika tak ada kelainan,
secara spontan bayi akan berusaha mengangkat kepalanya sendiri. Lakukan di
bawah pengawasan orang tua.

* Duduk dengan Kepala Tegak (1,5 bulan - 3 bulan 3 minggu)

Cara stimulasi, pangku dan sandarkan anak pada tubuhnya hingga kepalanya
ikut tegak. Orang tua patut curiga jika kepala bayi tampak lemas, terjatuh, atau
menunduk.

* Menumpu Badan pada Kaki (1,2 bulan - 4 bulan 3 minggu)

Stimulasi yang disarankan, posisikan tengkurap. Perhatikan, tubuh bayi akan
terlihat bertumpu pada kakinya.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 82
* Dada Terangkat Bertumpu pada Lengan (2,5 bulan - mendekati 5
bulan)

- Cara stimulasi, balik/telungkupkan tubuhnya. Perhatikan kemampuannya
mengangkat    lengan    dan    dada,   hingga   posisi   lengannya  tegak.
- Untuk bisa bertumpu pada tangannya, ulurkan mainan yang bersuara atau
coba panggil namanya, hingga dia mencoba melihat ke arah suara dan
mengangkat kepalanya. Kadang ia terjatuh, dalam arti menundukkan kepalanya.

* Tengkurap Sendiri (1 bulan 3 minggu - 5,5 bulan)

Cara stimulasi,jangan sering menggendong bayi atau menaruhnya di ayunan
karena anak tak akan punya kesempatan belajar tengkurap. Sebaiknya taruh
anak di tempat tidur dengan posisi telentang. Kemudian sedikit demi sedikit
bantu ia membalikkan posisi tubuhnya.

* Ditarik untuk Duduk Kepala Tegak (2 bulan 3 minggu - 6 bulan)

Cara stimulasi, tidurkan anak dengan posisi telentang, lalu tarik perlahan kedua
lengannya. Perhatikan, apakah kepalanya sudah dapat mengikuti tubuh untuk
tegak atau tidak. Jika kepala tetap lunglai, besar kemungkinan ada kelainan
yang umumnya terjadi di susunan saraf pusat.

* Duduk Tanpa Pegangan (5 bulan 1 minggu - 7 bulan)

Bila sesudah ditarik kedua tangannya kepala bayi bisa tegak, coba lepaskan
kedua tangannya secara perlahan agar dia bisa duduk sendiri.

                Aneka Perkembangan Motorik Halus

Berikut tahapan beberapa perkembangan motorik halus seperti dijelaskan Rini.

* Mengikuti Objek ke Garis Tengah

- Dilakukan kira-kira ketika usia bayi 1 minggu dan sudah harus bisa sampai
usianya 1 bulan 2 minggu.
- Objeknya bisa berupa sinar/cahaya, suara dan benda. Biasanya objek yang
menarik perhatian karena memiliki warna-warna "menyala" seperti merah,
kuning, hijau.
- Cara stimulasi, gerakkan objek dengan warna terang tadi dari pinggir mata
sampai kira-kira ke arah garis tengah. Diharapkan bayi akan mengikuti objek
tersebut sampai ke garis tengah.

* Mengikuti Objek Lewat Garis Tengah (usia 3 minggu - 2 bulan 3
minggu)

Cara stimulasi, arahkan benda dari arah pinggir sampai lewat garis tengah.
Diharapkan mata bayi akan mengikuti gerakan benda tersebut.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 83
* Menggenggam (1 bulan 3 minggu - 3 bulan 1 minggu)

Cara stimulasi, beri mainan yang mengeluarkan bunyi dan memiliki pegangan
(kerincingan). Biarkan ia menggenggamnya.

* Kedua Tangan Bersentuhan (1,5 bulan - 3 bulan)

- Umumnya bayi suka sekali memainkan/mengamati tangannya. Di usia ini
kedua    tangannya    mulai   saling  menyentuh    atau   malah    menyatu.
- Cara stimulasi, gantungkan benda atau mainan di atas tempat tidurnya, agar
bayi berusaha meraihnya. Sebaiknya, objeknya jangan berputar karena
koordinasi matanya belum baik. Benda berputar juga membuat mata bayi tidak
terfokus pada satu objek.

* Mengikuti Objek 180 Derajat (1 bulan 3 minggu - sekitar 4 bulan)

Bayi mengikuti objek yang digerakkan oleh orang tuanya dari pinggir yang satu
sampai ke ujung pinggir mata lainnya.

* Meraih Benda (3 bulan 3 minggu - 5 bulan)

Orang tua dapat menaruh obyek atau mainan di dekatnya, biarkan bayi
mencoba meraihnya. Prinsipnya, di sini belum ada mobilisasi/perpindahan
benda. Jadi, hanya gerakan tangan yang meraih saja.

* Mencari Benda yang Dijatuhkan (4 bulan 1 minggu - nyaris 6 bulan)

- Stimulasi diberikan untuk menilai koordinasi gerakan benda yang berpindah
dan apakah bayi dapat melihat sekaligus mengikuti benda yang bergerak tadi.
- Cara stimulasi, buat gumpalan benang warna merah (bisa dari benang wol)
menjadi semacam pom-pom dengan diameter sekitar 4-5 cm. Taruh di atas
kepala anak lalu gelindingkan. Ia akan berusaha melihat gumpalan benang yang
berada di atas kepalanya itu. Begitu juga ketika benangnya dijatuhkan, dia akan
mencarinya.

* Menggaruk Manik-manik (4 bulan 3 minggu - 6 bulan)

- Jangan pilih manik-manik yang ukurannya kelewat kecil, karena bahaya bila
tertelan. Bukan pula makanan kecil yang tergolong keras seperti kacang, tapi
gunakan kismis. Dudukkan bayi dan taruh kismis di depannya. Ia akan
mengambilnya             menggunakan              kelima            jarinya.
- Kemampuan menggaruk ini nantinya akan berkembang menjadi kemampuan
menjumput di usia 9 bulanan.

* Memindahkan Kubus ke Tangan Lain (5 bulan 1 minggu - sekitar 8
bulan)

Cara stimulasi, beri sebuah kubus. Dia akan memegang kubus tersebut dengan
sebelah tangannya kemudian memindahkannya ke tangan lain. Pilih kubus yang
terbuat dari kain.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 84
* Mengambil 2 Kubus (5 bulan 3 minggu - 9 bulan 3 minggu)

Cara stimulasi, taruh beberapa kubus di hadapannya. Di range usia ini ia sudah
mulai bisa mengambil lebih dari satu kubus dengan menggunakan kedua
tangannya.




                                      ***




PERKEMBANGAN MOTORIK BAYI USIA
        6-12 TAHUN
                       Amati dengan cermat agar tahu persis, kapan harus
                       khawatir dan kapan perlu menstimulasi anak secara
                       intens.

                       Amati dengan cermat agar tahu persis, kapan harus
                       khawatir dan kapan perlu menstimulasi anak secara
                       intens.

                      Setiap tahap perkembangan, baik motorik kasar maupun
                      halus, jelas dr. Rini Sekartini, SpA, punya kurun waktu
                      tertentu. Meski tidak bersamaan waktu munculnya, bisa
                      saja saling tumpang tindih (overlapping), berdekatan,
                      dan berkelanjutan. Contohnya, bayi usia 5-7 bulan harus
sudah bisa duduk. "Namun di kurun waktu yang sama atau paling berselisih
hanya sebulan, dia juga sudah bisa menunjukkan perkembangan berdiri," kata
dokter anak dari Subbagian Anak FKUI RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Yang harus diwaspadai adalah bila dalam kurun waktu itu tonggak-tonggak
perkembangan belum juga muncul. Di kotak bawah ini, berikut perkembangan
motorik kasar dan halus bayi usia 6-12 bulan:




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 85
                               Motorik Kasar

* DUDUK TANPA PEGANGAN (5 bulan 1 minggu - 7 bulan)

Di usia ini bayi sudah mulai bisa duduk tanpa pegangan.

* BERDIRI DENGAN PEGANGAN (6,5 bulan - 8 bulan 3 minggu)

Setelah bisa duduk sendiri, orang tua bisa menstimulasinya dengan menaruh
anak di boks atau di lantai yang beralas. Kemudian letakkan kursi/meja kokoh
sebagai pegangan. Sedangkan bila di boks kayu, biasanya anak akan mencoba
berdiri sambil berpegangan pada tiang-tiang boks.

* BANGKIT UNTUK BERDIRI (7,5 bulan - 10 bulan)

Dari posisi duduk dan tangan memegang pegangan, bayi berusaha mencoba
bangkit untuk berdiri. Sebaiknya meja/kursi sebagai tempat pegangan harus
kokoh, hingga anak tidak mudah jatuh.

Selagi "dilepas" di lantai, sebaiknya jangan menggunakan kaos kaki karena licin
dan bisa membuatnya terpeleset lalu jatuh. Tentu saja pengawasan orang tua
sangatdiperlukan.

* BANGKIT LALU DUDUK (7 bulan 1 minggu - 10 bulan 1 minggu)

Semula bayi dalam posisi telungkup atau telentang. Kemudian ia akan bangkit,
mencoba merangkak dan mengangkat lengannya agar bisa tegak. Ia juga
mencoba mengangkat pantatnya, kemudian duduk. Orang tua bisa
membantunya dengan menarik atau memegang kedua tangannya. Agar bayi
terangsang melakukan kegiatan ini, sering-seringlah menaruhnya di tempat
tidur atau kasur di lantai.

* BERDIRI 2 DETIK (9 bulan 1 minggu - 12 bulan)

Bayi betul-betul sudah bisa lepas dari pegangan, bahkan orang tua bisa
menghitung dia berdiri dalam 2 detik. Setelah itu biasanya jatuh lagi karena
keseimbangannya belum begitu baik. Namun jatuhnya tidak tergeletak dengan
kepala terantuk ke lantai, melainkan dengan posisi terduduk. Karena itu, agar
jatuhnya enak, sebaiknya lantai diberi alas.

* BERDIRI SENDIRI (10 bulan 1 minggu - 13 bulan 3 minggu)

Anak sudah tidak berpegangan lagi ketika berdiri. Kini ia sudah memiliki
kestabilan, hingga tidak terjatuh.

* MEMBUNGKUK KEMUDIAN BERDIRI (11 bulan - 14 bulan)

Anak sudah bisa berdiri sekaligus dapat membungkuk menuju posisi jongkok,
kemudian berdiri tegak lagi. Orang tua bisa menstimulasinya dengan menaruh
mainan atau barang yang bisa menarik perhatiannya di lantai.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 86
* BERJALAN DENGAN BAIK (11 bulan - 15 bulan)

Sebelum bisa berjalan, biasanya orang tua mulai menitahnya. Bisa dengan
memegangi kedua tangannya atau kalau merasa khawatir bisa pegangi bagian
ketiaknya. Lama waktu menitah tak ada batasan. Di usia belajar berjalan ini
(sekitar 13 atau 14 bulan), anak masih takut-takut dan kadang jatuh.

Untuk menstimulasi anak agar mau belajar jalan, harus hati-hati. Jangan
sampai anak trauma dan akhirnya malah takut berjalan. Kalau sampai terjatuh
dan membuat anak merasa sakit sekali, umumnya membuat anak jadi trauma.
Sebaiknya, saat anak sedang belajar jalan, orang tua harus memperhatikan
lingkungan sekitarnya. Jangan sampai ada benda-benda kecil di lantai yang bisa
terinjak dan membuatnya kesakitan atau malah terpeleset dan jatuh.

Selain itu, tidak dianjurkan menggunakan baby walker karena tidak melatih bayi
melangkah atau mengangkat kakinya, hingga kemampuannya melangkah
kurang terasah. Soalnya, baby walker hanyalah menggeser anak berpindah
tempat dan bukan melangkah. Jauh lebih baik melatihnya dengan menitah anak.

Agar anak bisa cepat dilepas dari titah, harus ada dukungan dari orang tua.
Usahakan ada dua orang yang menstimulasinya belajar jalan. Seorang
memegangnya dan seorang lain berjaga di depannya dengan jarak yang
disesuaikan. Artinya, bila anak baru mampu berjalan selangkah dua langkah, si
penjaga ini berjarak selangkah dua langkah pula. Bila sudah mulai agak lancar,
jarak tersebut bisa semakin dijauhkan. Dengan demikian anak memiliki rasa
percaya diri. Ia tahu persis, kalaupun jatuh, ada orang yang berjaga di
depannya dan siap melindunginya.

* BERJALAN MUNDUR (12 bulan 1 minggu - 16 bulan)

Setelah kemampuan jalannya membaik, dengan sendirinya anak akan mulai
belajar mundur. Ini merupakan salah satu bentuk eksplorasinya. Kelak ia pun
akan belajar berjalan ke samping kiri-kanan, memutar, lalu belajar berlari.



                               Motorik Halus

Banyak orang tua, kata Rini, yang kurang memperhatikan kemampuan motorik
halus. Padahal, ini penting dan lebih bermakna karena mengarah pada
intelegensia anak. Dari sinilah nantinya akan terlihat kemampuan anak menulis.
"Anak yang selagi di playgroup atau TK belum bisa memegang pensil dengan
benar, ternyata di usia sekolah kemampuan menulisnya kurang baik." Berikut
perkembangan motorik halus bayi usia 6-12 bulan:

* MENGAMBIL 2 KUBUS (5 bulan 3 minggu - 9 bulan 3 minggu)

Ukuran kubus biasanya sekitar 1 inci atau 2,5 cm, tidak terlalu besar juga tak
kelewat kecil. Kalau terlalu kecil, sulit dipegang dan kelewat besar juga sulit
diraih. Gunakan kubus dari bahan kayu yang cukup aman yakni sudut-sudutnya
tidak lancip. Di usia ini bayi sudah mulai bisa mengambil satu per satu kubus
dengan jemarinya.



Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 87
* MEMEGANG DENGAN IBU JARI DAN TELUNJUK (7,5 bulan - 10,5 bulan)

Biasanya yang dijadikan parameter objeknya adalah kismis mengingat
ukurannya yang relatif kecil sekaligus aman jika termakan oleh anak. Taruh
kismis di hadapannya dan dia akan mengambilnya dengan cara menjimpitnya
menggunakan jari-jemarinya.

* MEMBENTURKAN 2 KUBUS (6 bulan 3 minggu - 11 bulan)

Anak sudah bisa memegang kubus-kubus yang digunakan di tahap
perkembangan sebelumnya. Dengan kedua tangannya, ia akan melakukan
gerakan membentur-benturkan kedua kubus tersebut.

* MENARUH KUBUS DI BAWAH (10 bulan - 14 bulan)

Ketika memegang kubus, anak sudah bisa menggunakan dua atau tiga jari
lainnya. Ia kemudian akan memasukkan kubus tersebut ke dalam wadah.

* CORAT-CORET (12 bulan - 16,5 bulan)

Meski belum bisa memegang alat tulis dengan benar, anak sudah bisa
mencoret-coret. Untuk mengakomodir kemampuan tersebut, beri kertas dan
pensil warna yang tak berujung lancip. Sebaiknya jangan pilih krayon atau
spidol karena biasanya menempel/membekas di tangan. Belum lagi anak
cenderung memasukkan segala sesuatu ke mulut (fase oral).

* MENGAMBIL & MENUNJUKKAN MANIK-MANIK (12,5 bulan - 19,5 bulan)

Orang tua bisa mengajarinya dengan menaruh kismis dalam botol. Lalu balikkan
botol sehingga isinya tumpah. Ambil kismisnya dan tunjukkan padanya. Minta
anak melakukan hal sama.

Leher maupun mulut botol sebaiknya tidak terlalu lebar ataupun terlalu kecil.
Kalau terlalu lebar anak cenderung akan mengambil kismisnya dengan
memasukkan seluruh tangannya dan bukan cuma jarinya. Sedangkan kalau
terlalu kecil, kismis akan susah keluar dari botol.




                                      ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 88
   KAGOK DAN KIKUK JADI AYAH BARU


Senang, sih, buah hati lahir dengan selamat. Tapi rasanya kikuk dan bingung
juga. Harus bagaimana, dong?

Berubahnya status dari suami jadi ayah, tentu memberi dampak psikologis
tersendiri pada seorang pria. Banyak yang merasa bingung dan bertanya-tanya,
"Mampu, enggak, sih, aku jadi ayah yang baik? Bagaimana, ya, caranya
mengasuh bayi?"

Keinginan untuk terlibat langsung mengasuh dan merawat bayi, "Otomatis
muncul. Tapi di sisi lain, ada juga rasa kikuk dan takut," kata Dra. M. Louise
M.M., Psi, dari Parent Education Program, RSAB Harapan Kita, Jakarta.

Semua pertanyaan itu mestinya tak muncul jika suami sudah menyiapkan
"mental"nya sejak awal kehamilan istri. Begitu tahu istri hamil, suami sudah
harus paham, sebentar lagi dia akan jadi bapak. "Tapi nyatanya, tak semua
suami menyadarinya. Baru setelah kehamilan istri masuk trimester kedua, di
saat perutnya makin membuncit, biasanya suami baru sadar."

DUKUNGAN ISTRI

Meski ia sadar sebentar lagi jadi bapak, tetap saja diperlukan sikap proaktif istri.
Ini juga penting untuk menyiapkan suami jadi ayah yang baik bagi bayi mereka.
Caranya, dengan mengajaknya mengelus dan merasakan gerakan bayi dalam
kandungan, misalnya. Sambil membiarkan sang calon ayah merasakan gerakan
janin, bisa juga katakan, "Ini, lo, Pa, anak kita." Ajaklah ia sering-sering
melakukannya, termasuk mengajak mengobrol si bayi.

Cara ini, kata Louise, memberi manfaat besar bagi janin maupun calon ayah.
"Buat sang bayi, sejak dalam kandungan sudah familiar dengan suara ayahnya.
Sementara bagi calon ayah, ia akan merasakan sensasi tersendiri dan perlahan-
lahan ia siap menyambut datangnya sang bayi. Mau tak mau, tumbuh pula
kesadaran dan rasa tanggung jawab baru terhadap si kecil."

Nah, bila proses ini bisa berjalan baik, ayah tak kaget atau mengalami masalah
psikologis lagi saat si kecil lahir. "Dia juga semakin terpacu memberi yang
terbaik demi membesarkan anaknya." Makanya, lanjut Louise, tak sedikit suami
yang berubah. Dari semula seakan kurang bertanggung jawab, berubah jadi
pribadi yang lebih bertanggung jawab karena berusaha memberi yang terbaik
untuk anaknya.

MALAH MELARIKAN DIRI

Mengasuh dan membesarkan anak adalah sebuah proses. Tak mungkin, kata
Louise, "Seorang ayah baru langsung bisa mengganti popok, memandikan,
membuatkan susu, dan sebagainya." Justru di sini pentingnya pengertian istri.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                          hal 89
Kala suami mencoba terlibat aktif merawat si kecil, "Kasih kesempatan dan
jangan bikin dia patah semangat. Namanya juga belajar." Ibaratnya, bila di awal
kehidupan bayi belajar mengembangkan kemampuan motoriknya, pada saat itu
pula ayah dan ibu belajar menjadi orang tua yang baik.

Jangan lupa pula, pada dasarnya kebanyakan pria memiliki ego yang kuat, yaitu
untuk menjadi ayah yang sebaik-baiknya. Alhasil, ia ingin langsung bisa. "Tak
perlu menyalahkan suami tapi dorong agar dia jadi lebih terampil." Soalnya,
kalau istri terkesan menolak dibantu, "Bisa-bisa si ayah mundur dan kapok
melibatkan diri lagi." Apalagi, tambah Louise, "Istri pun, kalau belum pernah
merawat bayi, sama kakunya dengan suami, kan?"

Perasaan ditolak atau malah takut terlibat mengurus anak, bisa juga
menyebaban ayah "melarikan diri" dari tanggung jawab mengurus anak di
rumah. Ia jadi suka pulang terlambat, misalnya. Juga patut diingat pengaruh
pola asuh keluarga saat si ayah masih kecil. Bila ia dibesarkan dengan pola asuh
di mana ayahnya terlibat aktif dan ini membekas dalam proses perkembangan
dirinya, otomatis dia akan melakukan hal sama. Begitu pula sebaliknya.

Toh, kata Louise, manusia bisa selalu belajar dan mengikuti perkembangan. Jadi,
walau dulu ia tidak merasakan diasuh oleh ayahnya, tidak berarti hal ini harus ia
tiru. "Kita harus pandai memilah-milah, mana kebiasaan orang tua dulu yang
perlu diteruskan dan mana yang sebaiknya diperbaiki," tegas Louise.




                       Kunci Jadi Ayah Yang Baik

*   Mau belajar dan tidak merasa paling benar.
*   Mau mendengar dan menerima masukan orang lain.
*   Tidak mau menang atau enak sendiri.
*   Mau sama-sama terlibat dalam seluruh aspek tumbuh kembang si kecil.
*   Melihat anak sebagai "anak kita", bukan sebagai "anakku" ataupun "anakmu".

                         Peran Kakek Dan Nenek

Dalam kehidupan sehari-hari, tak sedikit pasangan muda yang masih tinggal
bersama mertua atau orang tuanya sehingga saat istri kerepotan, kakek-nenek
si kecil langsung membantu. "Orang tua, secara naluriah pasti berusaha
membantu kalau melihat anaknya repot. Sebenarnya ini tidak apa-apa, asal
jangan sampai mengambil porsi peran sang ayah bayi tersebut," kata Louise.
Sebab, tidak jarang, karena kakek/nenek si kecil mengambil alih porsi
pengasuhan yang seharusnya dilakukan ayah, ia pun secara tak sadar akan
semakin menarik diri, merasa tersisih, dan akibatnya malah tidak mau terlibat
lagi.

Sebaiknya kakek dan nenek harus bisa membatasi diri untuk tidak ikut campur
terlalu banyak dan tetap memberikan ruang pada ayah baru untuk belajar
mengurus anaknya. "Di sisi lain, supaya kakek-nenek bisa menahan diri untuk
tidak turut campur, sebagai ayah yang baik tentu jangan sampai tampak seperti
orang kebingungan terus dan tidak tahu harus berbuat apa." Caranya? Ya,




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                       hal 90
dengan mempersiapkan diri tadi. Kalau perlu, ikut "sekolah" yang khusus
ditujukan bagi para calon orang tua. Banyak, kok, rumah sakit yang
menyelenggarakan sekolah macam ini.




                                      ***




  9 LANGKAH PENANGANAN BAYI BARU
               LAHIR
                          Apa saja yang dilakukan dokter pada bayi baru lahir?
                          Kok, rasanya lama sekali baru bisa diperlihatkan ke
                          ibu-bapak

                          Begitu dilahirkan, bayi segera ditangani tim medis
                          dalam ruang khusus sebelum dipertemukan lagi
                          dengan orang tuanya. Bisa cepat tapi bisa pula lama
                          karena penanganannya tak bisa disamaratakan.
                          Semua itu tergantung dari tingkat risiko. "Kalau ada
                          masalah dalam persalinan atau faktor risikonya besar,
                          tentu makan waktu lama," kata Prof. Dr. dr.
                          Nartono Kadri, Sp.A(K) dari Subbagian Perinatologi,
                          Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI, Jakarta.

Besar-kecilnya risiko, dipengaruhi tiga faktor utama, yaitu keadaan ibu, proses
persalinan, dan keadaan bayi. Misalnya, apakah ibu menderita infeksi,
persalinan lewat operasi atau spontan, dan bayi langsung menangis atau tidak
saat dilahirkan.

Penanganan tersebut bertujuan membantu bayi beradaptasi dari yang semula
bergantung penuh pada ibunya, menjadi "mandiri". Karena itulah, "Dalam
proses adaptasi ini, bayi harus diperiksa dan diawasi secara ketat sehingga bila
ada masalah bisa segera dideteksi dan ditangani segera," terang Nartono.

1. DILETAKKAN DI MEJA RESUSITASI

Selama di kandungan, bayi berada dalam lingkungan yang suhunya berkisar 36-
37 derajat Celcius. Karena itulah, langkah pertama adalah segera
menempatkannya di meja khusus, yaitu meja resusitasi yang bersuhu sekitar 36
derajat Celcius.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 91
2. ISAP LENDIR

Setelah diletakkan, lendir yang ada di rongga hidung dan mulut segera diisap
dan tubuhnya dikeringkan. Dalam keadaan normal, yaitu ketuban jernih dan
bayi menangis dengan baik, dilakukan pengisapan secukupnya karena sisa
lendir (jika masih ada), akan diresorpsi sendiri oleh tubuh.

Masalahnya, kadang bayi lahir dengan keadaan "tak normal", seperti ketuban
berwarna keruh, kehijauan, atau bercampur kotorannya selama di kandungan.
Dalam kasus ini diperlukan pengisapan lebih aktif. Jika tidak, antara lain, bisa
terjadi radang paru-paru.

3. NILAI APGAR

Bersamaan dengan proses pengisapan, dilakukan juga tes Apgar. Penilaian
dilakukan berdasar keadaan frekuensi denyut jantung, pernapasan, warna kulit,
refleks, dan tonus otot. "Nilai Apgar diambil pada menit pertama dan menit
kelima setelah tali pusat dipotong." Pada menit pertama, nilai Apgar berfungsi
untuk menentukan perlu-tidaknya tindakan resusitasi yang lebih aktif,
sedangkan pada menit kelima untuk menilai bagaimana prediksi masalah yang
akan ada selanjutnya.

Bila interpretasi nilainya antara 7-10, masuk kategori normal, 4-6 dianggap
medium atau sedang, dan di bawah 4, masuk kategori berat. Jika keadaannya
baik, bayi dibersihkan wajahnya lalu ditunjukkan sebentar pada sang ibu dan
kemudian dibawa lagi untuk perawatan selanjutnya.

4. DIMANDIKAN DAN DIBERSIHKAN

Bayi dibersihkan dengan air hangat dan kadang makan waktu cukup lama.
Adakalanya lapisan lemak pada kulit bayi baru lahir cukup tebal, sehingga lebih
sulit dibersihkan dan lama. Dulu ada pendapat lapisan lemak ini tak perlu
seluruhnya dibersihkan karena dapat berfungsi sebagai penghangat dan
pelindung kuman. Namun teori ini sekarang tak dipakai lagi.

5. DITIMBANG

Tahap selanjutnya, berat badan bayi ditimbang dan harus dilakukan kurang dari
setengah jam setelah kelahiran. Ini untuk mencegah pengukuran yang tidak
tepat karenatelah terjadi penguapan cairan pada tubuh bayi.

Berbeda dengan pengukuran BB lahir yang harus dilakukan segera, pengukuran
tinggi badan dan lingkar kepala justru tak mutlak perlu dilakukan pada saat itu
juga. Khususnya untuk pengukuran lingkar kepala. Sebab, bayi yang dilahirkan
spontan, kepalanya "mengecil" saat melewati jalan lahir.

Sebaliknya, jika lahir dengan bantuan vakum, biasanya kepalanya mengalami
penonjolan sementara di lokasi pemasangan vakum. Jadi, untuk mendapatkan
ukuran lingkar kepala yang lebih tepat, kadang perlu ditunggu setelah 24 jam.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 92
6. DIBERI SALEP MATA

Salep mata berisi antibiotik cukup penting diberikan untuk menghindari
terinfeksi dari jalan lahir. Dulu yang digunakan zat perak nitrat. Tapi karena
konsentrasinya makin hari makin tinggi dan jadi berbahaya, saat ini tak dipakai
lagi. Meski tujuan utamanya mencegah infeksi dari jalan lahir, pada persalinan
lewat operasi, tetap diberi.

7. PEMERIKSAAN SALURAN CERNA

Dokter akan memeriksa ada-tidaknya anus. Bisanya dengan cara memasukkan
ujung termometer yang tumpul ke dalam anus. Ini penting agar bila ada
gangguan/kelainan pada anusnya, dapat segera ditangani.

8. PENYUNTIKAN

Suntikan di pahanya, berisi vitamin K untuk mencegah kemungkinan terjadi
perdarahan otak. Semakin prematur si bayi, semakin besar risiko terjadi
perdarahan otak. Nah, dengan pemberian vitamin K1 ini, diharapkan risiko
mengecil.

9. PEMOTONGAN TALI PUSAT

Selanjutnya, tali pusat dipotong lebih pendek lagi, sekitar 5 cm dari pangkalnya.
Namun ada kalanya tali pusat dibiarkan lebih panjang. Terutama bila bayi
memiliki risiko tinggi. Gunanya untuk memudahkan jika diperlukan pemasangan
infus melalui tali pusat. Ujung tali pusat diikat tali atau dijepit dengan jepitan
khusus agar darah tak mengalir keluar. Bila ikatanatau jepitan tak kuat, akan
terjadi perdarahan dari tali pusat tersebut yang bisa berakibat fatal pada bayi.
Bagi orang dewasa, mungkin kehilangan 30 cc darah, tak akan berarti apa-apa.
Tak demikian pada bayi yang badannya masih kecil.

Langkah berikut, tali pusat dibersihkan dengan alkohol atau cairan antiseptik.
Tak perlu khawatir si kecil merasa sakit kala tali pusatnya dijepit kuat. Ia tak
akan merasakan apa pun karena dalam tali pusat tak ada persarafannya.
Kecuali bila tali pusat tersebut ditarik-tarik, sehingga pangkalnya di dinding
perut akan terasa sakit.




                             Penanganan Lain

Normalnya, bayi segera menangis setelah lahir. Jika tidak, bisa mengakibatkan
fungsi pernapasannya tidak berjalan dengan baik. Dalam keadaan seperti ini,
perlu tindakan resusitasi segera untuk merangsangnya agar ia menangis.
Pertama dilakukan rangsangan dengan cara menepuk-nepuk telapak kakinya
sambil terus diberikan stimulus, dilakukan juga pengisapan lendir di
tenggorokannya.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                        hal 93
Setelah 24 jam, bayi akan diperiksa dan dinilai lagi yang disebut penilaian
maturitas.Dalam pemeriksaan ini, yang dinilai adalah keadaan fisik dan
neurologis bayi. Sebab, walau berat badan lahir bayi sama, maturitasnya belum
tentu sama antara bayi satu dengan lainnya. Lewat penilaian ini bisa diketahui
ada-tidaknya gangguan pada pertumbuhan janin selama dalam kandungan.




                                      ***




          TUNG...TUNG...PERUT SI KECIL
                   KEMBUNG

                         Bukan hal aneh si bayi perutnya membuncit dan kala
                         diketuk terdengar bunyi "tung...tung...." Mengapa bisa
                         demikian? Normalkah ini?

                         Dalam keadaan normal saja, perut anak kadang
                         terlihat membuncit. Terutama bila ia ditidurkan
                         telentang, akan tampak perutnya seperti jatuh ke
                         samping dan melebar ke kiri/kanan. "Kondisi ini
                         normal, kok, karena otot dinding perut bayi belum
                         begitu kuat. Bentuk yang demikian, istilah medisnya
                         pot belly," kata dr. Fajar Subroto, Sp.A, dari Klinik
Anakku Cinere, Depok.

Toh, kita tetap harus waspada jika pembesaran perut bayi terjadi karena hal
yang tak normal atau distensi abdomen. Yang jelas, penyebab pembesaran
perut bisa diganti dalam 4 kelompok:

1.   Adanya udara di rongga perut
2.   Ada udara di dalam saluran (lumen) usus
3.   Ada cairan dalam rongga perut
4.   Ada tumor atau massa yang abnormal dalam perut

Yang sehari-hari terjadi, jelas Fajar, karena adanya udara dalam saluran usus
(meteorismus) atau biasa disebut kembung.Udara dalam rongga perut, jelas
Fajar, normalnya tidak ada. Namun karena terjadi kebocoran pada dinding
saluran usus, udara yang ada dalam saluran usus akhirnya masuk ke dalam
rongga perut.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 94
Kebocoran terjadi karena infeksi berat pada saluran usus yang mengakibatkan
rusaknya lapisan di dinding usus. Jika meradang dan makin terkikis, terjadi
kebocoran tempat udara masuk. Untuk menanganinya, perlu tindakan operasi.
Sedangkan cairan dalam rongga perut, banyak penyebabnya. Antara lain
kelainan pada hati dan jantung. Begitu pula tumor bisa membuat perut terlihat
menggembung. Yang paling sering, kata Fajar, tumor ginjal, limpa, dan hati.

PENYEBAB KEMBUNG

Normalnya, dalam saluran usus memang ada udara tapi tidak banyak dan bisa
dikeluarkan saat buang angin atau kentut. Akan tetapi ada beberapa keadaan
yang bisa menyebabkan udara lebih banyak dari biasanya dan menyebabkan
kembung.

* Pertama, karena menelan udara terlalu banyak (aerofagi). Ini bisa terjadi
pada anak yang sedang sesak napas sehingga frekuensi napasnya jadi lebih
cepat dari biasanya. Karena lebih cepat, ada sebagian udara yang tidak masuk
ke saluran napas, tetapi justru ke saluran cerna.

Bisa juga karena cara minum susu formula yang salah. Bayi terus mengisap
botol sementara isinya sudah habis. Alhasil, udara masuk dalam perut. Posisi
botol juga berpengaruh. Jika saat minum posisi botol kurang tinggi, ada udara
dari dalam botol yang ikut tertelan.

* Kedua, karena proses peragian, yaitu pembentukan gas dalam usus sebagai
akibat adanya gangguan pencernaan dan penyerapan makanan. Contoh
kejadian yang paling sering adalah akibat adanya intoleransi laktosa. Pada
keadaan normal, laktosa yang merupakan komponen terbesar dari susu akan
dipecah dan dicerna dalam usus dan kemudian diserap. Namun di saat tak
normal, proses pencernaan laktosa ini menghasilkan gas di dalam usus.

"Intoleransi laktosa sebenarnya mudah sekali dikenali. Ciri khasnya, bila minum
susu dengan kandungan laktosa, ia akan kembung, buang-buang air yang encer
dengan bau yang asam, dan dijumpai adanya kemerahan di sekitar anusnya
yang terjadi karena adanya iritasi kotoran bayi yang memiliki sifat asam pada
kulit sang bayi," jelas Fajar. Justru hal ini tak akan terjadi pada ASI.

Intoleransi laktosa juga bisa terjadi kala si kecil sedang diare, karena saat itu
terjadi peradangan pada usus yang mengakibatkanberkurangnya produksi
enzim pencernaan untuk laktosa. akibatnya, terjadi intoleransi laktosa selama
diare.

* Ketiga, adanya gangguan passage atau perjalanan makanan. Umumnya
disebabkan penyumbatan dalam saluran cerna yang menyebabkan terjadinya
penimbunan udara dalam usus.

Contohnya, bayi diberikan makanan padat (pisang) terlalu cepat. Akhirnya tak
bisa dicerna usus dan jadi sumbatan dalam saluran usus. Ini harus segera
ditangani karena bisa berakibat fatal. Bisa juga karena berkurangnya kalium
dalam darah saat terjadi diare berat yang membuat usus tak bergerak sama




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                       hal 95
sekali. Alhasil, terjadi penumpukan kotoran dan gas dalam saluran usus yang
mengakibatkan kembung.

* Keempat, walau jarang terjadi, karena faktor kelainan bawaan yang bisa
menyebabkan kembung. Di antaranya, tak lengkapnya pembentukan saluran
cerna yang membuat saluran buntu. "Untuk kelainan yang sifatnya bawaan,
sejak awal kelahiran biasanya sudah mulai ada tanda-tanda seperti sulit buang
air besar atau malah tidak pernah buang air besar," tegas Fajar.




                         Cara Deteksi Kembung

Untuk pemeriksaan medis, dilakukan dengan teknik perkusi, yaitu mengetukkan
jari secara perlahan pada dinding perut. Dari suara yang terdengar dapat dinilai
bagaimana keadaan di dalam perut. Sebagai patokannya, bila memang banyak
udara dalam perut, akan terdengar bunyi yang nyaring.Jika keadaannya
meragukan, kadang diperlukan foto rontgen pada daerah perut. Kalau memang
ada udara, akan terlihat dalam foto rontgen tersebut.

Sedangkan untuk orang awam, cara mudah mengetahuinya dengan melihat
perutnya memang tampak lebih besar dari biasanya, bayi jadi gelisah, rewel,
menangis terusatau tampak tidak nyaman. Ia baru akan tenang setelah bisa
kentut atau bersendawa. Bisa juga dengan mengetukkan jari untuk mendengar
bunyinya. Lakukan dengan perlahan dan lembut.




                              Kiat Menangani

Kembung biasa (tanpa kelainan) bisa ditangani di rumah. Caranya sebagai
berikut:

* Posisikan bayi setengah duduk. Bisa juga dipangku dengan posisi duduk agak
tegak. Lalu punggungnya ditepuk-tepuk ringan agar ia mudah bersendawa dan
lega.

* Tidurkan di bahu ibu dengan posisi menghadap sang ibu. Posisi lain yang bisa
dicoba adalah posisi menggendong si kecil dengan letak kepala lebih tinggi dan
tubuhnya tengkurap di tangan penggendong. Posisi ini membuat ia sedikit tegak
dan perutnya sedikit tertekan oleh berat badannya sendiri. Ini akan
memudahkan udara dari dalam saluran cerna keluar, baik dalam bentuk
sendawa atau kentut.

* Beri penghangat pada daerah perut sambil dipijat lembut. Tapi ingat, jangan
ditekan terlalu kuat karena anak bisa muntah atau kesakitan.

* Jika kembung berlangsung lama, anak tak bisa buang angin, buang air besar
(BAB), membuatnya sesak napas, dan disertari muntah terus-menerus dan
berwarna hijau, segera bawa ke dokter atau rumah sakit.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 96
               DIPANGGIL, KOK, CUEK?

                             Normalnya, bayi 4 bulan sudah bereaksi terhadap
                             suara. Tapi kenapa kadang ia terkesan cuek?
                             Kuncinya hanya satu, stimulasi!

                              Yang jelas, jangan buru-buru menganggapnya tak
                              normal. Seperti dijelaskan dr.tjhin Wiguna,
                              Sp.KJ., bayi punya range perkembangan yang
                              cukup lebar. "Memang, di usia 3-5 bulan, biasanya
                              sudah menunjukkan kontak sosial awal dengan
orang di sekitarnya, yaitu dengan cara menunjukkan senyum sosialnya. Ia akan
tersenyum jika diajak main atau berdekatan dengan ibu atau pengasuhnya."

Nah, tak semua anak memiliki tahapan perkembangan sebaik ini. Ada anak
yang sebenarnya normal tapi menjelang usia 7 bulan, baru ada kontak sosial
dengan lingkungannya. "Tergantung dari banyak-sedikitnya stimulasi yang
didapat anak. Inilah yang menentukan perkembangan anak," tegas psikiater
anak dari Bagian Psikiatri Anak dan Remaja, FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo,
Jakarta ini.

Artinya, bila bayi selalu diajak bicara, mendengarkan musik, atau stimulasi
pendengaran lainnya, respon pendengarannya pun akan lebih baik. Apalagi jika
di lingkungan kesehariannya banyak orang yang mau mengajaknya bicara,
"Biasanya kemampuan pendengaran dan komunikasinya jadi tambah baik.
Begitu pula sebaliknya."

KUNCINYA STIMULASI

Sayangnya, jelas Tjhin,banyak orang tua beranggapan, "Buat apa ngajak omong
bayi? Dia, kan, belum mengerti apa-apa." Padahal, sejak dalam kandungan,
bayi sudah punya kemampuan mendengar suara. Hanya saja, pada usia
beberapa bulan, ia belum bisa membedakan suara-suara tersebut atau
menangkap suara dengan baik. "Proses perkembangan kemampuan mendengar
akan berjalan seiring pertumbuhannya."

Jadi, kemampuan mengenali suara serta range kemampuan mendengarnya
masih belum sebaik anak yang agak lebih besar. "Nah, di sinilah pentingnya
stimulasi. Semakin sering ia distimulasi oleh suara-suara, akan semakin lebar
range desibel suara yang bisa ia dengar." Kalau ia rajin diajak bicara, "Bayi
mulai belajar mengenali suara. Makin sering diajak mengobrol, ia akan semakin
mengenal suara itu.

Jadi, tambah Tjhin, "Di sini letak masalah yang perlu dipahami orang tua. Siapa
yang lebih sering memberi stimulasi pendengaran dengan cara mengajaknya
bicara, dialah yang akan lebih direspon anak." Kalau pengasuhnya yang lebih
rajin, "Ya, jangan heran jika anak tak bereaksi saat dipanggil ibunya. Dia
cenderung merespon hanya pada suara yang dikenalnya.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 97
                    Kelewat Anteng Malah Bahaya

Banyak orang tua beranggapan, anak yang tenang di boks justru anak baik.
Malah dengan bangga berujar, "Kalau anak, saya, sih, manis. Bisa duduk diam
di boksnya sambil main sendiri." Padahal, ungkap Tjhin, justru hal seperti ini
yang harus diwaspadai. "Bisa saja merupakan sebuah tanda kurang baik dari
perkembangan komunikasi anak."

Makanya, jika ia menunjukkan tanda-tanda "cuek" seperti ini, segera cari
penyebab pastinya. "Apalagi kalau sampai usia 9 bulan komunikasi dengan
lingkungannya masih belum baik, harus dicurigai." Tentu saja komunikasi yang
dimaksud di sini masih dalam tahapan yang nonverbal, bukan komunikasi
seperti layaknya anak yang sudah pandai berkata-kata." Perlu diketahui,
normalnya anak usia 9 bulan sudah bisa berkomunikasi dengan cara mengoceh,
"Daa...daa...daa" atau menirukan suara yang didengarnya.

Orang tua juga bisa melakukan tes pendengaran anak. Caranya, perdengarkan
bunyi-bunyian     di   dekat   anak.    Normalnya,     kalau memang        fungsi
pendengarannya baik, ia akan menoleh mencari sumber suara tersebut. Tes ini
bisa dilakukan sejak bayi berusia 3 bulan. "Kalau ia tak memberi reaksi, jangan-
jangan ada gangguan di organ pendengarannya atau malah pada susunan saraf
pusatnya," jelas Tjhin.

                                 Aneka Tes

Bayi dengan kelainan pendengaran, biasa akan diperiksa lewat tes BERA (Brain-
stem Evoke Respond Audiometry), yaitu tes untuk melihat rangsangan otak
yang berhubungan dengan saraf pendengaran.

Jika hasil tes oke-oke saja tapi tetap tak memberi respon apa-apa, dokter akan
mencari kemungkinan lain. Misalnya, ada-tidaknya gangguan komunikasi dan
relasi,multiple system development disorder, atau malah kelainan neurologis
yang tak kalah beratnya seperti retardasi mental.




                    NGOBROL DAN MUSIK KLASIK

Berdasar pengalaman, kata Tjhin, anak yang pada saat lebih besar didiagnosa
menderita autisme, biasanya memiliki riwayat gangguan komunikasi saat masih
bayi. "Memang sebaiknya kita waspada akan kemungkinan ini. Tapi bayi yang
punya masalah komunikasi, tak selalu autis, lo," tegasnya. Karena itulah, ingat
Thjin, sesibuk apa pun orang tua, tetap harus meluangkan waktu untuk bayinya.
"Tingkatkan kualitas kontak komunikasi dalam waktu yang sempit itu." Sambil
memberi susu, misalnya, ajak si kecil bercanda atau mengobrol.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                       hal 98
Cara lain adalah memanfaatkan musik klasik yang dipercaya bisa berdampak
positif pada perkembangan pendengaran anak. "Sekaligus bikin anak relaks. Ini
yang disebut efek Mozart." Tidak sulit, kan?




                                      ***




      ETIKA MENGUNJUNGI BAYI BARU
                 LAHIR
Menengok bayi baru lahir memang sangat baik. Namun, tak jarang malah
berefek buruk buat si bayi. Itu lantaran para tamu tak paham etika
mengunjungi bayi baru lahir.

Jika masih di rumah sakit, tamu yang datang menengok memang relatif lebih
bisa diatur dengan adanya jam kunjungan yang sudah ditetapkan. Selain itu,
bayi pun lebih banyak dirawat di kamar bayi oleh perawat. Dengan demikian,
efek buruk relatif kecil. Namun bila sudah pulang ke rumah, otomatis perawatan
bayi sepenuhnya ada di tangan orang tuanya. Di sisi lain, yang datang
menengok pun tak bisa diatur dengan jam kunjungan, kan?

Nah, berikut ini 3 kebiasaan buruk para tamu yang mesti diwaspadai, seperti
dipaparkan dr. Nita Ratna Dewanti, Sp.A. dari RS Panti Nugraha, Jakarta
Selatan.

1. MENCIUM BAYI

Kebiasaan ini jelas tak menguntungkan si kecil. Masalahnya, bayi baru lahir
memiliki imunitas atau daya tahan yang sangat lemah, karena memang
pembentukan sistem kekebalannya belum selesai. Sedangkan kita tahu, banyak
sekali penularan penyakit yang terjadi melalui perantaraan butiran ludah halus
(droplet) yang terisap dan masuk ke saluran napas. Hingga, bila di antara para
tamu ada yang kurang sehat, semisal agak pilek sedikit, tentu si kecil bisa ikut
tertular dan akhirnya sakit. Padahal kalau bayi baru lahir sakit, mudah sekali
merembet ke organ lainnya.

Namun untuk melarang tamu agar tak menyentuh si kecil, tak mudah dilakukan.
Salah-salah malah dianggap sombong dan tak menghargai tamu. Apa boleh
buat, kita harus pintar-pintar menghadapinya. "Katakan dengan sopan,
sebaiknya ia tidak terlalu dekat dengan si bayi. Atau, bisa juga si ibu
menyediakan masker penutup mulut dan hidung, sehingga bila si tamu tetap
berkeinginan untuk berdekatan dengan si kecil, mintalah ia untuk menggunakan
masker tersebut."




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 99
2. MENGGENDONG

Tak jarang si kecil jadi "piala bergilir" yang digendong sana-sini. "Sebenarnya
kalau pakaian yang menggendong tidak kotor, ya, tidak masalah. Namun bila si
tamu habis bepergian ke tempat umum di mana-mana, tentu saja pakaiannya
jadi lusuh dan kotor. Padahal saat menggendong bayi, baju yang dikenakan
biasanya akan mengenai si bayi."

Selain dalam hal kebersihan, cara menggendong perlu juga diperhatikan. Kalau
yang sudah punya anak, biasanya tak jadi masalah karena mereka memang
punya pengalaman dan tahu cara menggendong yang benar. Yang perlu
diperhatikan, bila si penggendong belum biasa menggendong bayi baru lahir.
"Ini penting, sebab leher bayi yang usianya masih di bawah 3 bulan biasanya
belum sanggup menopang kepalanya sendiri. Jadi dalam menggendongnya,
kepala bayi harus selalu disangga." Nah, bila si tamu tampaknya belum biasa
menggendong bayi, ajarilah ia cara menggendong yang benar agar jangan
sampai si kecil jadi cedera.

3. MEMEGANG-MEGANG

Hampir dipastikan para tamu berkeinginan memegang tubuh si kecil, seumpama
di daerah pipi yang biasanya tampak sangat menggemaskan. "Dalam hal ini,
sekali lagi, kebersihan perlu diperhatikan. Jangan sampai tangan yang kotor
mengenai wajah bayi yang masih lemah ini. Karena itu, ada baiknya para tamu
diminta mencuci tangan dulu sebelum menyentuh bayi." Adakalanya malah
berlanjut dengan cubitan kecil. Kalau yang seperti ini sebaiknya dicegah, sebab
bisa jadi si kecil cedera. Bukankah kulitnya masih lembut sekali?




                              Mandikan Saja

Bila kita beranggapan si kecil banyak terpapar kuman atau jadi kotor lantaran
telanjur dipegang-pegang, digendong, atau dicium para tamu, menurut Nita,
tak ada salahnya bila si kecil dibersihkan dengan memandikannya.



                     Menanggapi Komentar Tamu

Rasanya hampir selalu para tamu akan menyampaikan berbagai pesan dan
komentar tentang cara merawat bayi. Terutama disampaikan oleh yang lebih
tua atau sudah memiliki anak. Apa yang disampaikan seringkali terasa sangat
bernuansa tradisional dan berdasarkan mitos tertentu, meski kadang ada juga
yang memang berdasarkan ilmu pengetahuan modern.

Menghadapinya, saran dr. Hendra G Widjanarko, Sp.OG, dari RS Rajawali,
Bandung, gunakan akal sehat. "Pada kenyataannya memang banyak mitos atau
nasehat-nasehat turun-temurun yang sebenarnya tak masuk akal dan bahkan
kerap merugikan. Contoh, larangan mencuci rambut atau keramas sampai 40
hari setelah melahirkan. Persis mencapai 40 hari, bisa-bisa kepalanya sudah




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 100
penuh dengan kutu rambut, bahkan mungkin sudah jadi korengan, terjadi
infeksi, dan kerusakan rambut," jelasnya.

Munculnya larangan tersebut, jelas Hendra lebih lanjut, disebabkan zaman dulu
kalau mau keramas pakai air dingin dan mungkin masih ditambah dengan
ramu-ramuan sehingga proses keramas berlangsung lama dan buntutnya si ibu
jadi kedinginan, lalu jatuh sakit. "Nah, kalau sekarang, kan, bisa mandi dengan
air hangat dan keramasnya pakai sampo, sehingga mencuci rambut bisa hanya
makan waktu 10 menit saja. Tentu ini tak akan membuat sakit." Bahkan saat ini
ada rumah sakit yang justru menyediakan sarana keramas atau creambath di
lingkungan rumah sakit untuk pasien rawat inapnya.

Contoh lain, "Ada juga yang menganjurkan untuk membalur tubuh dengan
berbagai ramuan dan tak boleh dibersihkan sampai berhari-hari. Ini, kan, malah
bisa membuat sakit dermatitis kontak," kata Hendra lagi.

Namun demikian, tentu saja ada juga nasehat yang sebenarnya bermanfaat.
"Salah satu contoh, larangan untuk berjalan melangkahi sesuatu bagi ibu yang
baru melahirkan," kata dr. Deradjat M. Sastrawikarta, Sp.OG, dari RS POLRI
Pusat Raden Said Sukanto, Jakarta Timur, yang dijumpai pada kesempatan
berbeda. "Ini sebenarnya memberikan manfaat agar ibu yang baru melahirkan
tidak berjalan ke sana ke mari dengan langkah terlalu lebar, yang bisa
menyebabkan luka pascamelahirkan di jalan lahir jadi tak sembuh-sembuh dan
terbuka lagi."

Dalam kaitan dengan anjuran tersebut, si ibu pun kerap dianjurkan memakai
kain atau gurita sampai ke lutut. "Sebenarnya ini berfungsi agar langkah si ibu
jadi kecil-kecil dan tak bisa terlalu lebar. Sehingga, walaupun mobilisasi sudah
banyak, di antaranya harus banyak meladeni para tamu yang berdatangan
menjenguk, tak sampai membuat luka terbuka kembali." Jadi sekali lagi, semua
nasehat tersebut sebaiknya dipikirkan baik-baik dengan mempergunakan
common sense dahulu.




                        Tamu Datang Mendadak

Adakalanya tamu datang mendadak dan pada saat-saat di mana si bayi
harusnya disusui atau dimandikan. "Tentu saja si ibu tetap harus menerima
kedatangan tamu dengan cara yang sopan, bukan malah menolaknya," ujar
Hendra.

Yang penting diingat, si ibu harus tegas dan jangan segan-segan mengundurkan
diri sejenak demi keperluan si bayi. Umpama, kalau memang waktunya untuk
menyusui atau mengganti popok, menceboki, memandikan, atau apa saja,
janganlah segan-segan minta waktu pada para tamu.

Nah, selama si ibu mengurus bayi, para tamu bisa ditemani sang ayah, saudara
yang ada, atau juga kakek-nenek si bayi. Tentu para tamu pun dapat
memahami hal ini. Bahkan, sebenarnya kalau memang tamunya adalah
saudara/kerabat yang cukup dekat, acara memandikan bayi yang sedang lucu-




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 101
lucunya ini bisa menjadi tontonan tersendiri, lo. "Tapi tentu saja, ini tergantung
dengan si ibu, ia merasa nyaman atau tidak dengan hal ini."



                        Jadilah Tamu Yang Baik

* Hindari berkunjung dengan cara mendadak.

Sebaiknya sebelum datang berkunjung, beri tahu dulu pada si ibu atau salah
satu anggota keluarganya. Paling tidak, sampaikan rencana kunjungan melalui
telepon sehari sebelumnya. Dengan demikian, si ibu dapat mengatur waktu dan
mempersiapkan diri dahulu.

* Hindari datang pada jam makan siang/malam.

Bila tamu datang saat jam makan, sebagai tuan rumah tentu akan merasa
"harus" mengajaknya makan. Padahal, belum tentu mereka punya makanan
untuk disuguhkan. Akibatnya, tuan rumah jadi kebingungan akan menyuguhkan
apa pada para tamunya.

* Jangan datang terlalu pagi/malam.

Biasanya pada pagi hari keluarga masih sibuk mengurus si kecil, entah
memandikan atau mengelapnya. Mereka pun biasanya sedang sibuk
membereskan rumah. Sebaliknya, jangan pula datang terlalu malam, sebab
sudah tentu mereka butuh waktu istirahat yang lebih banyak daripada biasanya.

* Hati-hati memberikan komentar mengenai sang bayi.

Adakalanya pandangan orang lain tak sama dengan pendapat kita, dan ini bisa
membuat jengkel si ibu. Contoh, memberi komentar, "Wah, coba seandainya
bayinya laki-laki." Bila si ibu melahirkan anak perempuan, tentu akan merasa
tak enak mendengarnya.

* Jika sedang sakit, jangan dekat-dekat dengan si bayi.

Jangan sampai malah membuat si bayi sakit dengan kedatangan kita.

* Beri kesempatan pada si ibu bila memang ia perlu waktu untuk
merawat bayinya.

Jika memang tampaknya si ibu sedang sibuk mengurus bayinya, tak usahlah
terlalu berlama-lama bertamu agar si ibu punya keleluasaan merawat bayinya.




                                       ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                       hal 102
       MITOS-MITOS PERAWATAN BAYI


                             Kendati sering bikin geli, banyak juga, lo, yang
                             mengikuti "anjuran" mitos-mitos.

                             Cukup banyak, kan, mitos seputar perawatan bayi
                             yang kita dengar? Entah itu warisan dari orang tua
                             maupun dari teman. Tapi, apa, sih, tanggapan
                             medis soal mitos-mitos perawatan bayi ini. Yuk,
                             kita ikuti pemaparan dr. Fajar Subroto, Sp.A
dari Klinik Anakku Cinere, Depok.

1. CABE UNTUK LESUNG PIPIT

Tak sedikit orang tua yang menginginkan anaknya memiliki lesung pipit. Apalagi
kalau anaknya perempuan. Nah, agar anak punya lesung pipit yang menarik,
konon, pada saat bayi, pipi si kecil harus ditekan sebentar atau dicolek dengan
cabe rawit yang masih utuh.

Padahal, terjadi tidaknya lesung pipit bukan disebabkan oleh "colekan" si cabe,
melainkan ditentukan oleh bagaimana susunan otot-otot di daerah wajah,
khususnya pipi. "Wajah seseorang memiliki banyak sekali otot, yang akan
berkontraksi kala kita berekspresi atau membuka mulut. Nah, pada orang
tertentu dan pada gerakan tertentu, susunan otot tersebut bisa saja
membentuk lekukan, sehingga terjadi lesung pipit."

2. BULU MATA DIGUNTING AGAR LENTIK

Konon, agar bulu mata anak, khususnya anak perempuan, menjadi lentik, maka
harus sering dipotong sedikit-sedikit kala masih kecil. Padahal, dalam
kenyataannya memotong bulu mata malah mengurangi kemampuan bulu mata
untuk melindungi matanya terhadap benda asing yang mengarah ke matanya.
Dengan dipotongnya bulu mata, mau tak mau, "perisai" dari mata akan semakin
pendek, sehingga jadi kurang fungsi protektifnya. Sedangkan untuk bisa jadi
panjang dan lentik atau tidak, sebenarnya lebih ditentukan oleh unsur bawaan.
Justru jika dipotong, bulu mata akan menjadi lebih kaku dari sebelumnya.

3. HIDUNG DITARIK-TARIK AGAR MANCUNG

Kerap dijumpai orang tua yang ingin anaknya berhidung mancung, maka
pangkal hidung si kecil setiap kali ditarik-tarik oleh ibunya. Sebenarnya,
mancung tidaknya hidung seseorang ditentukan oleh bagaimana bentuk tulang
hidungnya, dan ini sifatnya bawaan. "Jadi, walau hidungnya sering ditarik-tarik,
tapi kalau memang dalam garis keturunannya tak ada unsur hidung yang
mancung, ya, tak akan jadi mancung."




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 103
4. INJAK EMBUN PAGI AGAR JADI TINGGI

Rasanya tak ada orang tua yang tidak menginginkan anaknya memiliki tinggi
yang cukup, apalagi kalau anaknya laki-laki. Menurut mitos yang beredar, agar
anak tumbuh tinggi, maka setiap pagi harus diajak berjalan-jalan menginjak
embun. Makin banyak dan makin sering embun pagi diinjak, akan makin besar
kemungkinannya untuk menjadi tinggi nantinya.

Mitos ini jelas tidak benar, tapi ada juga unsur manfaatnya, lo! "Mengajak anak
jalan di pagi hari cukup bermanfaat karena udara pagi yang masih segar dan
sinar matahari pagi membantu metabolisme tubuh menjadi lebih baik." Seperti
diketahui, sinar matahari pagi baik untuk metabolisme vitamin D, yang berguna
bagi pertumbuhan tulang. Namun, tak bisa untuk meninggikan badan anak.
Sebab, tinggi seseorang ditentukan oleh faktor genetik, hormonal, dan nutrisi.
"Bila orang tuanya memang tinggi, maka besar kemungkinan anak juga akan
tinggi. Selain itu, faktor hormon pertumbuhan dan kecukupan gizinya pun cukup
menentukan."

5. TAKUT ANAK GENDUT? PAKAIKAN GURITA

Seringkali si kecil dipakaikan gurita terus-menerus oleh ibunya, karena sang ibu
khawatir anaknya jadi terlalu gemuk. Sebenarnya, pemakaian gurita tak
memberikan pengaruh pada gemuk tidaknya anak. Yang menentukan gemuk
atau tidaknya adalah asupan nutrisinya. Bahkan, pemakaian gurita yang terlalu
lama dan sering, bisa menghambat gerakan napas si kecil. Jangan lupa,
pertumbuhan bayi relatif cepat, lo.

6. AGAR ALIS LEBAT, OLESI DENGAN LUDAH IBU

Ini mitos yang sudah cukup lama dan ternyata hingga kini pun masih banyak
yang melakukannya. Namun demikian, sebenarnya ini tak ada dasar ilmiahnya
sama sekali. Seperti halnya pada rambut, alis pun yang lebih menentukan
adalah faktor bawaan dan nutrisi yang baik. Bahkan kalau diberikan ludah dan
alis tersebut jadi tak bersih, akan menyebabkan alis tak sehat dan mudah
rontok.

7. DITEMPELI KOIN AGAR TIDAK BODONG

Katanya, agar pusar anak tak menonjol alias bodong, maka harus ditempeli
dengan uang logam. Pusar pada bayi memang tampak lebih menonjol. Hal ini
dipengaruhi faktor otot dinding perut anak kecil yang memang masih lemah.
Normalnya, seiring usia bertambah dan makin kuatnya dinding perut, maka
pusar makin tidak menonjol. Walau demikian, adakalanya memang ada kelainan
pada lapisan otot perut si kecil, yang disebut hernia umbilicalis, yang
menyebabkan pusar tampak bodong. Akan tetapi kelainan ini penanganannya
harus dengan operasi.

8. JARI LENTIK DENGAN CARA DIURUT-URUT

Agar jari-jari tangan si kecil jadi lentik nantinya, harus sering diurut-urut ke
depan. Mitos ini biasanya diterapkan untuk bayi perempuan. Akan tetapi,




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 104
sesungguhnya mengurut jari tak akan memberikan dampak apa-apa pada jari si
kecil. Yang menentukan adalah faktor bawaan.

9. KEMERAHAN DI KULIT DIOLESI LUDAH IBU

Bayi yang baru lahir seringkali memiliki bercak kemerahan pada kulitnya. Nah,
agar bercak hilang, konon harus diolesi ludah ibu yang sudah basi.

Sebenarnya, bercak merah pada bayi baru lahir bisa disebabkan 2 hal, yaitu
memang ada tanda lahir atau bercak karena trauma lahir. Bercak karena tanda
lahir, misal, tahi lalat yang berwarna kemerahan, memang akan menetap
seterusnya, walaupun diolesi ludah setiap saat. Sebaliknya, bercak merah
karena memar akibat trauma persalinan, semisal karena tertekan kala bayi
melalui jalan lahir, akan hilang dengan sendirinya, walaupun sama sekali tak
diolesi ludah ibu.

Yang terpenting, Bu-Pak, mengoleskan ludah itu, bukan sesuatu yang bisa
dibenarkan dari sisi kebersihan dan higiene. Sebab, malah akan menyebabkan
kulit makin tak bersih.




                                      ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                  hal 105
    POLA ASUH DAN DAYA TAHAN BAYI

                             Bayi   memang kerap mengalami gangguan
                             kesehatan, karena sistem pertahanan tubuhnya
                             belum sempurna seperti anak yang sudah besar.
                             Namun, dengan pola asuh yang baik, hal tersebut
                             dapat diminimalisir.

                             Seperti dikatakan dr. Widodo Judarwanto, Sp.A,
                             dari RS Bunda, Jakarta, pola asuh yang baik akan
                             memberikan hasil daya tahan anak yang baik pula.
                             Dalam bidang kesehatan, pola asuh lebih
                             ditekankan pada pemenuhan kebutuhan fisik
                             biomedik, meliputi pemenuhan gizi dan kebutuhan
                             kesehatan dasar.

"Pemberian kebutuhan gizi ini tentu harus yang baik dan sesuai kebutuhannya.
Sedangkan pemenuhan kebutuhan kesehatan dasar, berupa pemberian
imunisasi yang tepat jadwal dan pemeriksaan tumbuh kembang yang rutin tiap
bulannya." Selain itu, pola asuh yang baik juga meliputi pemenuhan kebutuhan
sandang, papan, dan sebagainya.

Bila ternyata dalam pengasuhan sehari-hari, kebutuhan-kebutuhan ini tak
terpenuhi dengan baik, akan timbul berbagai masalah. Umpamanya, si kecil
kurang asupan gizi yang baik dan sesuai kebutuhan, maka tak heran bila daya
tahannya jadi tak baik juga, dan akhirnya ia mudah terinfeksi penyakit. Pun bila
nutrisi yang diberikan terlalu berlebihan, akan menimbulkan masalah kesehatan
lainnya.

POLA ASUH OVERPROTECTIVE

Hal lain yang perlu diperhatikan, tak jarang, dengan dalih sayang anak, orang
tua jadi overprotective terhadap bayinya. Misal, tak boleh diajak berjalan-jalan
di sekitar rumah, tak boleh bermain di lantai, tak boleh digendong orang lain,
dan sebagainya. "Pola asuh yang terlalu berlebihan memproteksi bayi atau
overprotective, sesungguhnya memiliki banyak segi negatif."

Bahkan ada pendapat yang justru menyatakan kalau anak jarang dibawa
beradaptasi ke "dunia luar", kemampuan beradaptasinya jadi tak bagus dan
lambat. Memang, pendapat ini masih banyak yang pro dan kontra karena belum
ada penelitiannya secara jelas. "Dalam praktek sehari-hari, sebaiknya kita lihat
saja, kalau anak keadaannya baik, ya, tak usah terlalu protektif. Sebaliknya,
kalau anak memang tampak kurang sehat, ya, sebaiknya beristirahat yang
banyak dahulu." Jadi, Bu-Pak, kalau takut anak sakit bukan berarti ia
"dipenjara" di rumah, ya?




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 106
                      Bukan Masalah Daya Tahan

Kebanyakan orang menganggap, semua penyakit yang menimpa si kecil
disebabkan daya tahannya yang kurang baik. Sehingga tak jarang, anak baru
sakit sedikit saja langsung diberikan obat antibiotik. "Padahal, kalau dalam hal
penyakit karena infeksi, memang benar daya tahan menentukan. Namun pada
kenyataannya, ada banyak masalah kesehatan pada bayi yang disebabkan
faktor alergi," papar Widodo.

Nah, kalau karena masalah alergi, tentunya pemberian antibiotik tak diperlukan.
Sehingga dalam keadaan ini, terjadi overdiagnosis dan overtreatment yang
sebenarnya tak perlu. Sebab, dalam kenyataannya, banyak kasus anak
mengalami sakit yang berulang bukan karena infeksi. "Justru dalam keadaan
seperti ini, pemberian antibiotik yang terus-menerus tak memberikan manfaat,
malahan bisa membuat efek negatif pada tubuh si kecil, termasuk dalam hal
daya tahannya."

Kalau penyakit tersebut dasarnya adalah alergi, sebenarnya terjadinya karena
respon imun yang berlebihan dari tubuh. "Jadi perlu diperhatikan bahwa kalau
penyebabnya adalah faktor alergi, tak berarti ia sakit-sakitan karena daya
tahannya lemah."



                   Yang Bisa Dilakukan Orang Tua

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu tercapainya
daya tahan tubuh bayinya. Berikut tips dari Widodo:

* Penuhi kebutuhan nutrisi si kecil sebaik mungkin. Pemberian nutrisi yang ideal
harus memperhatikan jenis, jumlah, dan jadwal. Jenis dan jumlah nutrisi harus
disesuaikan dengan kemampuan dan keadaan si kecil. Bila ia alergi pada suatu
jenis makanan, misal, meski makanan itu bergizi baik, tentu tak dapat kita
berikan padanya. Demikian juga jadwal pemberiannya, harus sesuai
kemampuan dan usianya. Misal, ia sudah diberikan makanan padat di usia
sebelum 4 bulan, tentu sistem pencernaannya belum siap menerimanya,
sehingga mudah terjadi gangguan kesehatan. Selain itu, pemberian makanan
tambahan yang terlalu cepat mengakibatkan pemberian ASI jadi lebih sedikit
dan tidak optimal.

* Berikan ASI dengan sebaik-baiknya. Dari berbagai penelitian sudah jelas
membuktikan, pemberian ASI meningkatkan daya tahan tubuh dan mengurangi
kemungkinan menderita alergi.

* Penuhi kebutuhan pemberian imunisasi bagi si kecil sesuai jadwal yang
dianjurkan. Dengan imunisasi, tubuh akan memiliki daya tahan yang baik
terhadap berbagai penyakit.

* Lakukan pemeriksaan secara rutin tiap bulan untuk memantau tumbuh
kembang dan kesehatannya. Tak jarang, melalui kontrol secara rutin ke dokter
ini dapat dideteksi adanya penyakit sejak dini. Semakin dini penyakit bisa




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 107
ditangani, tentu akan lebih baik. Bahkan tak jarang orang tua merasa anaknya
sehat saja, padahal kala diperiksa oleh dokter ternyata ada masalah.



                                      ***




                 MARI MENGENAL NICU


                             Tak jarang kita mendengar bayi baru lahir harus
                             dirawat di NICU. Sebenarnya apakah NICU itu?

                             ICU adalah singkatan dari Neonatal Intensive Care
                             Unit, merupakan tempat perawatan untuk bayi-
                             bayi baru lahir, yang usianya di bawah 28 hari,
                             atau istilah medisnya neonatus, yang mengalami
                             masalah kesehatan yang berat," terang dr. Yuli
                             Yafri Razak, Sp.A, penanggung jawab NICU RS
                             Bunda, Jakarta Pusat.

                           Yang paling utama membedakan dengan jenis
                           perawatan lainnya adalah jenis penyakitnya. "Bayi
                           yang dirawat di NICU, terutama bayi yang
mengalami penyakit yang sifatnya menyebabkan gangguan bernapas atau
bahkan sampai terjadinya gagal napas, dan dalam penanganannya memerlukan
bantuan alat pernapasan yang disebut ventilator."

Namun demikian, untuk menentukan apakah seorang bayi perlu dirawat di NICU
atau tidak, harus dilihat kasusnya secara individualistik. Setelah dilakukan
evaluasi oleh dokter anak, barulah ditentukan apakah perlu dirawat di NICU
atau tidak. "Sebagai contoh, bila seorang bayi lahir prematur, tapi tak memiliki
kesulitan bernapas, tentu tak perlu dirawat di NICU, cukup perawatan khusus
saja. Sebaliknya bila lahirnya cukup bulan, tapi ada gangguan pada paru-
parunya, maka bisa jadi ia perlu dirawat di NICU."

Selanjutnya, setelah dirawat di NICU beberapa saat dan ternyata sudah ada
perbaikan keadaan, maka bisa saja ia kemudian dipindahkan dari NICU dan
dirawat di unit perawatan khusus saja. Nah, bila memang keadaan sudah
menjadi baik kembali, barulah ia diizinkan pulang.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 108
              Tiga Tingkat Perawatan Bayi Baru Lahir

Perlu diketahui, perawatan bayi baru lahir atau neonatus terdiri atas 3 tingkat.
Tingkat pertama untuk perawatan tingkat biasa, yaitu perawatan neonatus yang
masalahnya relatif ringan, di mana tak ada gangguan bernapas dan tak
memerlukan pemasangan infus.

Selanjutnya, ada tingkat kedua atau tingkat perawatan sedang, yaitu bila
perawatan harus lebih serius dan sudah memerlukan terapi nutrisi parenteral,
yaitu pemberian nutrisi melalui saluran infus. "Untuk perawatan bayi tingkat
satu dan tingkat dua ini, kami menyebutnya dalam unit yang disebut Perawatan
Neonatal Khusus atau disingkat PNK."

Yang bisa menyebabkan seorang bayi harus dirawat di PNK tingkat dua,
misalnya infeksi pada bayi baru lahir yang berat, bayi kuning dengan derajat
bilirubin tinggi (bilirubin total di atas 15 mg/dl), bayi memiliki kelainan bawaan
seperti omfalokel (kelainan berupa penonjolan isi rongga perut ke arah luar di
sekitar umbilicus), gastroskizis atau kelainan pembentukan dinding perut
sehingga rongga perutnya ada yang tak tertutupi, kelainan jantung bawaan
yang berat, dan masih banyak lagi kelainan lainnya, jelas Yafri.

Untuk tingkat ketiga, di mana sudah memerlukan ventilator sebagai alat bantu
napas dan juga memerlukan penanganan lebih serius lagi, barulah ia masuk ke
NICU. Dalam prinsipnya, perawatan NICU adalah penanganan kegawatdaruratan
pada neonatus. "Jadi, selain menangani masalah gangguan pada saluran napas
secara langsung, juga termasuk menangani kelainan lainnya yang bisa
berakibat terganggunya proses bernapas," papar Yafri.

Beda Terapi dan Perawatannya.

Tentunya dalam hal terapi dan perawatan yang dijalankan, PNK dan NICU ini
berbeda. Sebagai contoh, dalam NICU tersedia alat bantu pernapasan untuk
bayi yang gagal napas dan terapi surfaktan untuk bayi yang mengalami
kekurangan surfaktan dalam parunya. "Surfaktan adalah zat yang diperlukan
paru-paru agar jaringan parunya tak sampai kolaps. Memang kadangkala bayi
yang lahir prematur belum cukup kadar surfaktannya, sehingga ia mengalami
kesulitan bernapas. Nah, sebagai salah satu penanganannya, ia perlu diberikan
tambahan surfaktan."

Selain berbeda dalam hal ketersediaan peralatan terapi, NICU juga berbeda
dalam hal perawatan sehari-hari. "Dalam NICU, perawatan dilakukan dengan
sangat ketat. Perawat yang bertugas di NICU pun maksimal hanya boleh
menangani 2 pasien, agar bisa memberikan observasi yang ketat dan optimal
setiap saatnya. Bahkan, selalu ada dokter anak yang berjaga di rumah sakit."
Perawat NICU pun memiliki kualifikasi yang tak sembarangan dan tak sama
dengan perawat biasa, sebab mereka memang telah dididik dan dipersiapkan
khusus untuk menangani pasien neonatus yang gawat. "Bahkan, dalam
prakteknya, dokter yang menangani pasien di NICU juga setiap kali akan
memberikan pengarahan dan petunjuk secara sangat spesifik tentang
penanganan neonatus setiap harinya."




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                       hal 109
                          Tak Boleh Ditunggui

Berbeda dengan perawatan biasa, bayi tak boleh selalu ditunggui di dalam
ruangan selama dirawat di NICU. "Ini berdasarkan pertimbangan bahwa bayi-
bayi tersebut dalam kondisi yang sangat rentan. Jika ia terlalu banyak
berhubungan atau berkontak dengan orang luar, tentu akan semakin besar
risikonya untuk terkena infeksi kuman bawaan dari luar. Inilah sebabnya, selain
tak boleh sembarangan ditunggui dalam ruangan, untuk masuk ke dalam NICU
pun harus mengenakan pakaian khusus," tegas Yafri.



                   Tak Semua Rumah Sakit Punya

Karena NICU memerlukan sumber daya manusia dan peralatan yang sifatnya
khusus, maka tak semua rumah sakit sanggup menyediakannya. "Memang
untuk rumah sakit yang besar, hampir selalu ada fasilitas NICU, tapi untuk
rumah sakit yang agak kecil, kadang belum dapat menyediakan fasilitas ini,"
ungkap Yafri.

Namun demikian, biasanya rumah sakit yang tak memiliki fasilitas NICU, bila
memang ada pasiennya memerlukan perawatan NICU, akan segera merujuknya
ke rumah sakit yang memiliki fasilitas NICU. "Tentu dalam proses perujukannya
harus ada komunikasi yang baik antara pihak rumah sakit yang mengirimkan
pasien dan pihak rumah sakit yang akan menerima pasien. Jadi, akan
dipertimbangkan dulu apakah memang rumah sakit rujukannya sanggup
menanganinya atau tidak."



                     Pediatric Intensive Care Unit

"Selain NICU, ada juga yang disebut PICU atau Pediatric Intensive Care Unit,"
jelas Yafri. Bila NICU diperuntukkan bagi bayi berusia di bawah 28 hari, PICU
diperuntukkan anak usia di atas 28 hari dan di bawah 5 tahun (atau ada juga
yang memberi batasan 14 tahun). PICU juga merupakan unit perawatan khusus,
digunakan untuk merawat anak dalam keadaan penyakit yang berat.



                               Terapi Musik

"Khusus di RS Bunda, kami juga memberikan stimulasi dini berupa terapi musik
pada bayi-bayi yang dirawat di NICU," kata Yafri. Seperti telah diketahui, musik
klasik ternyata memberikan dampak yang baik bagi bayi di kandungan. "Terapi
musik klasik ini ternyata juga bisa bermanfaat untuk bayi yang dalam
perawatan, diantaranya membuat pernapasan dan denyut jantung bayi jadi
lebih teratur."

Selain itu, stimulasi dini juga dilakukan dengan mengusahakan adanya kontak
dengan sang ibu secepat-cepatnya. "Jadi, selama keadaan memungkinkan,
selama dirawat selalu diupayakan agar ibu dapat berkontak secara langsung




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 110
dengan bayi, misalnya saat memberinya minum, saat mendoakannya, sambil
mengelus atau memijatnya."

"Dengan stimulasi-stimulasi dini ini, diharapkan bayi yang dirawat di NICU akan
dapat lebih cepat sembuh, sehingga bisa mengurangi waktu perawatan di NICU,
sekaligus terstimulasi kecerdasannya."




                                      ***




    BEDAH SESAR BISA MEMBUAT BAYI
                   SESAK NAPAS
                             Kendati tak selalu, tapi risiko ini patut
                             diperhatikan karena bisa menyebabkan kematian.

                             Perlu diketahui, selama bayi berada di kandungan,
                             pertukaran gas terjadi di plasenta. Hal ini akibat
                             paru-parunya yang belum berfungsi. Pada saat itu,
                             jaringan paru masih terisi oleh cairan ketuban.

                           Setelah bayi dilahirkan, barulah ia mulai bernapas.
                           Pernapasannya yang pertama ini terjadi sebagai
akibat adanya rangsangan mekanik, termis, dan kimiawi pada proses
persalinannya. Selanjutnya, segera udara akan mengisi rongga alveolus
(kantong udara paru-paru).

Rangsangan mekanik terjadi kala ia melewati jalan lahir, yaitu kala rongga
dadanya tertekan jalan lahir. Rangsangan kimiawi terjadi kala tubuh bayi
merasakan perlunya pasokan udara yang baru untuk metabolismenya.
Sedangkan rangsangan termis terjadi kala tubuh bayi merasakan adanya
perubahan suhu antara saat di kandungan dengan saat sesudah lahir.

"Masalahnya, kadangkala proses pernapasan ini tak berlangsung dengan mulus.
Adakalanya bayi baru lahir tampak mengalami sesak napas," papar dr. Rulina J.
Suradi Sp.A(K), salah seorang staf senior di Sub Bagian Perinatologi, Bagian
Ilmu Kesehatan Anak, FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, dalam
seminar Kapita Selekta 2, Iluni FK Dwikora '64 di Hotel Borobudur, Jakarta,
beberapa waktu lalu.

Penyebabnya yang tersering ialah wet lung syndrome atau yang kerap diberi
nama Transient Tachypnea of the Newborn (TTN). "Pada kelainan ini, paru-paru
bayi masih terisi cairan sehingga ia mengalami kesulitan untuk bernapas."

Nah, dalam persalinan normal, saat kontraksi rahim sudah timbul, cairan dalam
paru ini akan terperas keluar. Demikian pula saat ia melalui jalan lahir. "Jika




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 111
bayi dilahirkan secara per vaginam atau normal, sebagian besar cairan dalam
paru ini akan terperas keluar karena dada janin mengalami kompresi oleh jalan
lahir. Sedangkan cairan sisanya akan dibatukkan atau diserap ke dalam
pembuluh darah kapiler dan pembuluh limfe paru-paru dalam waktu singkat."

Tak demikian halnya pada bayi yang dilahirkan dengan cara bedah sesar, tentu
saja dadanya tak mengalami kompresi oleh jalan lahir. "Inilah salah satu hal
yang bisa menghambat pengeluaran cairan dari paru dan pada akhirnya dapat
menyebabkan terjadinya kelainan ini."

Tentunya, tak semua bayi yang dilahirkan dengan bedah sesar pasti akan
mengalami hal ini, sebab masih ada faktor-faktor lain yang juga ikut berperan,
misalnya ada-tidaknya kontraksi rahim sebelum operasi dilakukan, dan baik
tidaknya penanganan bayi segera setelah ia dilahirkan.




                     Penyebab Lain Sesak Napas

Selain wet lung syndrome atau TTN, ada pula penyakit lain yang juga bisa
menyebabkan gangguan napas pada bayi lahir. Berikut ini penjelasan Rulina
tentang kelainan-kelainan tersebut.

Penyakit Membran Hialin

Pada kehamilan yang cukup bulan, alveolus (bagian paru tempat pertukaran
udara) dalam paru sudah matang dan mampu berkembang baik setelah bayi
dilahirkan. Sel dalam alveolus akan menghasilkan surfaktan, yaitu zat yang
mencegah kolapsnya alveolus pada saat akhir mengeluarkan napas. Adanya
surfaktan membuat bayi dapat bernapas secara baik dengan usaha yang
minimal.

Sebaliknya, pada bayi prematur dan paru-parunya belum matang, tidak
memiliki surfaktan dalam jumlah cukup. Akibatnya, alveolus akan kolaps pada
akhir fase mengeluarkan napas dan sulit untuk mengembang lagi kala hendak
mengambil napas. Hingga, akan menimbulkan sesak napas pada bayi baru lahir
yang dikenal dengan penyakit membran hialin. Makin muda usia kehamilan,
makin tinggi risiko terjadinya gangguan ini.

Sindrom Aspirasi Mekonium

Bila janin mengalami gangguan suplai oksigen (hipoksia), secara refleks bayi
akan mengeluarkan mekonium (kotoran dalam usus bayi selama di kandungan).
Mekonium ini bercampur dengan air ketuban dan dapat masuk ke saluran napas
atas bayi. Bila saluran napas atas ini tak segera diisap dan dibersihkan dengan
baik saat kepala lahir, maka saat ia aktif bernapas, mekonium akan tersedot
masuk ke jaringan paru dan menimbulkan kerusakan yang lebih berat. Selain
akan menyebabkan sumbatan, mekonium ini juga mengandung enzim yang
dapat merusak sel epitel di bronkus dan bronkiolus (saluran napas bawah).




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 112
Pada kelainan ini, gejala yang dapat dilihat adalah adanya ketuban yang
bercampur mekonium yang berwarna hijau tua, bayi tampak sesak napas
dengan dada membusung, dan kadangkala didapatkan kulit bayi berwarna
kehijauan.

Pneumonia

Pneumonia atau radang paru dapat terjadi pada bayi baru lahir sebagai
komplikasi dari radang selaput janin (korioamnitis). Terutama pada bayi
prematur, pneumonia dapat juga terjadi karena penyebaran infeksi dari orang
tua atau perawat yang kurang bersih.




                   Gejala TTN Dan Penanganannya

Selain lantaran bedah sesar, kelainan TTN juga bisa terjadi bila janin mengalami
hipoksia (gangguan oksigenisasi pada janin), ibu mengalami sedasi, atau bila
terdapat polihidramnion (cairan ketuban yang berlebihan). Bayi-bayi yang
mengalami kelainan TTN ini, akan tampak dadanya agak membusung dan sesak
napas pada saat atau segera setelah lahir. "Awalnya, kadang kelainan ini mirip
dengan penyakit membran hialin (Lihat boks, Red.), sebuah penyakit gangguan
napas pada bayi baru lahir lainnya," jelas Rulina. Untuk membedakannya,
dokter yang menangani akan melakukan pemeriksaan tambahan, di antaranya
dengan membuat foto radiologi dari paru-parunya.

Dalam penanganannya, dokter akan memberikan oksigen pada si kecil agar
jangan sampai suplai oksigennya kurang. Gejala klinis ini biasanya akan segera
membaik secara bertahap dalam 24 jam pertama kehidupannya dan akan
menghilang dalam 72 jam, bila kondisi bayi bisa segera ditangani dengan baik.
Umumnya oksigen diperlukan selama 2-3 hari saja.

Bila si kecil ditangani dengan baik, selanjutnya ia akan tumbuh seperti anak lain
yang normal. Sebaliknya, bila penanganannya kurang baik atau terlambat, bisa
saja terjadi kerusakan pada jaringan otak akibat kekurangan suplai oksigen. Bila
sampai terjadi kerusakan otak, tentu akan banyak masalah selanjutnya.

                Disebut Gangguan Sesak Napas Bila

Sesak napas pada bayi baru lahir merupakan kegawatan yang perlu ditangani
dengan baik, agar tak terjadi kematian atau kecacatan. Itu sebab, dokter
spesialis anak yang membantu proses persalinan harus tahu betul akan tanda-
tandanya, yakni bila sesaat setelah lahir, bayi memberikan gejala berupa
tachypnea (laju napas lebih dari 60 kali per menit), sianosis sentral (lidah
tampak berwarna kebiruan pada suhu kamar), retraksi (adanya tarikan pada
sela iga dan dadanya kala ia menarik napas), dan grunting (suara merintih yang
terdengar pada saat ia mengeluarkan napas). "Bila didapatkan 2 saja dari gejala
ini, maka bayi sudah bisa dinyatakan mengalami gangguan sesak napas," kata
Rulina.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 113
                           Dua Jenis Kelainan

Menurut Rulina, ada banyak penyakit pada bayi baru lahir yang akan
memberikan gejala kesulitan bernapas. Namun, berdasarkan letak kelainannya
bisa dibagi 2, yaitu kelainan dalam paru dan kelainan di luar paru. Nah, wet
lung syndrome merupakan salah satu penyebab kelainan dalam paru. Sebab lain
adalah penyakit membram hialin, sindroma aspirasi mekonium, dan pneumonia.
Sedangkan penyebab di luar paru, misalnya karena kelainan jantung, anemia,
dan hipotermia.




                                      ***




                 ASI TAK PERNAH BASI


                             Jangan percaya mitos tentang ASI basi. Selama
                             berada di payudara, ASI tak pernah basi. Apalagi
                             mitos lainnya seputar ASI?

                             Ada anjuran, tiap kali hendak menyusui di waktu
                             pagi (setelah bangun tidur), semburan pertama
                             harus dibuang dulu karena dianggap basi. Padahal,
                             seperti ditegaskan dr. Utami Roesli, Sp.A, MBA,
                             CIMI, IBCLC (International Board Certified
                             Lactation Consultant), tak ada istilah ASI basi
selama ASI ada di payudara ibu. "ASI dianjurkan untuk tidak diberikan lagi
kalau berada di luar payudara ibu lebih dari 8 jam," katanya.

Cairan ASI, terang Ketua Lembaga Peningkatan Penggunaan ASI RS. Sint
Carolus, Jakarta, ini, bukan seperti air, tapi sama halnya seperti darah yang
mengandung mikroorganisme hidup. "Bila berada di udara terbuka lebih dari 8
jam, makhluk hidup ini akan mati, yang menyebabkan ASI menjadi basi dan tak
layak lagi dikonsumsi. Tapi selama masih ada di payudara ibu, kapan pun ibu
akan memberikan, ASI selalu tetap steril dan segar."

Dalam kaitan dengan ini, anjuran untuk membuang semburan pertama seusai
bepergian ke luar rumah, juga cuma mitos. "ASI selalu bersih dan steril,
sekalipun ibu baru selesai melakukan kegiatan membersihkan rumah atau
berjalan-jalan di mal, misal." ASI, jelas Utami, terus memperbarui dirinya
sendiri. Hingga, jika ASI tak terminum, akan terserap oleh tubuh dan akan
terbentuk ASI baru yang diberikan pada si kecil. Lagi pula, sebelum ASI
diproduksi di "pabrik"nya, ada pelindung dari bakteri dan debu dari luar. Misal,




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 114
dari lemak dan otot. Payudara tak begitu saja mudah ditembus oleh bakteri dan
debu.

Jadi, sungguh disayangkan, ya, Bu, jika ASI semburan pertama harus dibuang.
Apalagi, komposisi ASI berbeda dari setiap semburan yang keluar. Semburan
pertama, yang keluar selama lima menit pertama disebut foremilk, yang lebih
encer dengan kadar lemak lebih rendah. Selanjutnya, semburan berikut sampai
menit-menit terakhir adalah hindmilk yang mengandung lemak lima kali lebih
banyak dibandingkan foremilk. Jadi, secara alamiah sudah disiapkan, semburan
pertama berkomposisi lebih ringan untuk menyiapkan pencernaan bayi sebelum
menerima ASI dengan lemak yang lebih tinggi.

Boleh saja ibu mengeluarkan setetes atau dua tetes setiap kali hendak
menyusui. Ini malah dianjurkan. Namun bukan untuk dibuang, melainkan
gunakan tetesan ini untuk membersihkan puting. "Cara ini lebih higienis
dibanding menggunakan air hangat." Caranya, oleskan ASI di sekitar aerola
mamae dan puting. Di samping membersihkan, juga berfungsi sebagai apettizer,
hidangan pembuka, yang baunya dapat mengundang si kecil untuk segera
menyusu.




                         Aneka Mitos Seputar ASI

* ASI Yang Seperti Santan Lebih Bagus

"Soal warna dan kejernihan, jangan harapkan ASI sama putih dan bagusnya
seperti susu kaleng," kata Utami. Jadi, bila ASI encer, keruh dan kuning, bukan
berarti kualitasnya jelek, ya, Bu. Rasa ASI juga sepet-sepet dan bayi tetap saja
mengisapnya karena refleks. Bayi belum mengerti soal taste/rasa sehingga dia
tak akan memilah-milah apakah ASI enak atau tidak.

Warna ASI tergantung pula dari apa yang dimakan ibu. Jika ibu banyak makan
protein, memang warnanya agak sedikit keruh, tapi tak apa-apa. Dalam hal
makanan, bagi ibu tak ada pantangan. Misal, tak ada kepercayaan kalau ibu
banyak makan cabe nanti bayinya mencret. Yang mencret bukan bayinya tapi
ibunya.

* ASI Bisa Merusak Kulit Bayi

Jangan percaya, Bu! Pada bayi memang ada penyakit kulit atopik dermatitis
atau sering disebut milk dermatitis. "Biasanya menyerang daerah pipi, tapi
penyebabnya bukanlah ASI atau hasil kontak kulit dengan cairan susu.
Melainkan memang sudah ada kelainan kulit pada si bayi tersebut." Kelainan
kulit ini berkaitan dengan kepekaan bawaan bayi yang disebut atopi. Biasanya
terjadi pada anak yang berasal dari keluarga yang memiliki riwayat eksim dan
alergi di hidung yang ditandai sering bersin (rinitis). Bila tak segera diobati, kulit
akan menghitam dan mengeras.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                           hal 115
Di beberapa tempat, semisal Amerika Selatan, ASI justru berfungsi sebagai obat.
Di pedalaman Mexico, bila mata bayi belekan, langsung ditetesi dengan ASI
karena cairan ASI mengandung antibiotik pembunuh kuman.

* ASI Tak Boleh Mengenai Alat Kelamin Bayi

Ini terutama mitos bagi mereka yang mempunyai bayi laki-laki, sebab konon,
tetesan ASI kelak dapat membuat impoten. Hal ini sama sekali tak benar,
karena ASI adalah cairan yang sangat berharga untuk bayi dan tetap yang
paling baik. ASI tak akan menimbulkan penyakit atau kendala apa pun bagi si
bayi.

"Di negara-negara maju, pada saat menyusui, bayi justru dianjurkan
bertelanjang supaya kulitnya dapat bersentuhan langsung dengan kulit ibu. Ibu
dianjurkan untuk mengelus-elus seluruh tubuh bayi, terutama di pancaindra
untuk melatih sensitivitas indra-indra tersebut." Jadikan kegiatan menyusui
sebagai saat intimate time bersama si kecil. Penelitian menunjukkan, ibu yang
menyusui sambil mengelus-elus tubuh bayinya, tanpa disambi mengerjakan hal
lain, hanya terfokus pada bayi, dapat meningkatkan antibodi si kecil sampai 80
puluh persen!

* ASI Hari pertama Mesti Dibuang

Salah, Bu! Jangan sampai dibuang karena ASI yang keluar pada hari pertama
sampai hari ke lima-tujuh disebut kolostrum/susu jolong- mengandung zat
putih telur (protein) yang kadarnya tinggi, terutama kandungan zat anti
infeksi/daya tahan tubuh (imunoglobulin). Sedangkan kadar laktosa (hidrat
arang) dan lemaknya rendah sehingga mudah dicerna. Jadi, jika kolostrum yang
berwarna jernih kekuningan ini dibuang, bayi tidak atau kurang mendapatkan
zat-zat yang melindunginya dari infeksi.

* ASI Membuat Anak Jadi Obesitas

Bayi yang mendapatkan ASI dengan benar, umumnya memang lebih besar
dibanding yang mendapatkan PASI, terutama pada 6 bulan pertama, tapi bukan
berarti ia mengalami kegemukan atau malah obesitas. Jadi, teruskan pemberian
ASI eksklusif sampai usia 6 bulan.

Jika bayi obesitas, menurut Utami, bukanlah mengurangi asupan makanan.
"Bayi dan anak masih mengalami tumbuh-kembang yang memerlukan semua
zat gizi dalam jumlah yang sesuai dengan usia serta komposisi yang seimbang."
Untuk mencegah terjadinya obesitas pada bayi, antara lain dengan cara
memberikan pendamping ASI mulai 6 bulan, membiasakan mengonsumsi
makanan selingan berupa buah-buahan, tak membiasakan pemberian PASI
(susu formula) yang dikentalkan atau ditambah serelia.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 116
                           Benarkah Tak Boleh

1. Jangan Minum Es/Panas

Beberapa orang percaya, ibu menyusui tak boleh menikmati minuman panas
atau dingin karena ASI-nya akan ikut dingin/panas. "Itu tidak benar. Ibu
menyusui boleh saja minum es ataupun minuman panas. Sebab jika ibu minum
es, misal, setelah masuk ke tubuh tak akan berbentuk es lagi, tapi akan mencair
dan sudah disesuaikan suhu tubuh," ungkap Utami. Begitu pula minuman atau
makanan yang dimakan ibu, karena di dalam payudara, ada semacam
"saringan". Dengan demikian, bukannya semua yang dimakan, masuk ke usus,
langsung ke payudara lalu menjadi ASI. Paling tidak, dari usus, lalu ke darah,
mengalir ke payudara, baru menjadi ASI.

Jadi, makanan dan minuman apa pun yang tak mengandung alkohol boleh
dimakan, karena ASI sifatnya individual. Ada anak yang tahan, ada yang tidak.
Mudahnya dengan ASI, ibu bisa langsung mendeteksi bila bayinya mencret.
Misal, lantas memikirkan, "Kemarin makan apa ya?", jadi si ibu bisa
menghentikan dulu makanan atau minuman tersebut.

2. Jangan Berenang/Mandi

Berenang selama menyusui akan membuat ASI menjadi dingin cumalah mitos.
Justru berenang merupakan olahraga yang amat dianjurkan bagi ibu menyusui
tentu setelah kondisi ibu pulih - karena tergolong ringan.

Baik berenang ataupun mandi/keramas, tak akan membuat ASI jadi dingin.
Meski suhu di luar sangat dingin atau panas/gerah, suhu ASI akan tetap sama.
Itulah keuntungan ASI karena bisa diberikan kapan saja dan di mana saja, tak
perlu dihangatkan atau didinginkan. Sebegitu hebatnya ASI, sehingga kalau
ibunya malas mandi sekalipun, sedang kedinginan atau kepanasan, tak akan
mempengaruhi kualitas ASI-nya.

3. Jangan Berolahraga Karena Keringat Membuat ASI jadi Asam.

Ini juga mitos, Bu! Soalnya, kelenjar ASI berbeda dengan kelenjar keringat.
"Keringat itu, kan, diproduksi di tempat lain. Sedangkan di sekitar area puting
yang disebut areola mammae, tak banyak kelenjar keringatnya. Jadi, keringat
tak akan mengganggu produksi ASI." Proses metabolisme tubuh melindungi ASI
sampai ASI ini menjadi ASI yang tetap sama suhunya, dengan kualitas yang
sama. Bukan terpengaruh oleh suhu tubuh atau kegiatan fisik yang dilakukan si
ibu. Jadi, ibu menyusui dapat mulai berolahraga setelah masa nifas berakhir,
tapi olahraganya yang ringan.

4. Jangan Menyusui Saat Magrib

Menurut kepercayaan sebagian suku di Indonesia, menyusui di waktu Maghrib
dilarang. Sebab, konon yang meminum ASI-nya bukan si bayi tapi makhluk
halus. Seram, kan? "Ini jelas bertentangan dengan prinsip menyusui yang
disebut on demand. Artinya bayi harus siap disusui kapan pun dia
membutuhkan. Tak peduli jam berapa pun. Yang penting, jaga kebersihan




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 117
payudara dan tangan ibu, serta ciptakan suasana yang tenang agar ibu dan bayi
merasa relaks," kata Utami.




                                      ***




                  OBESITAS PADA BAYI
Jika bukan lantaran kelebihan makan, berarti ada penyakit lain. Namun, jangan
buru-buru menurunkan BB-nya.

Menurut dr. Soepardi Soedibyo, Sp.A(K), dari Subbagian Gizi dan Metabolik,
Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta,
dalam menentukan seorang bayi mengalami obesitas atau tidak, selain dilihat
dari ukuran BB-nya, juga harus diperhatikan ada-tidak tanda-tanda kegemukan.
Ini untuk membedakan apakah ia memang obese atau masih dalam kategori
gizi lebih. "Pada keadaan yang disebut gizi lebih, meski berat lebih dari nilai,
tapi tak ada tanda-tanda kegemukan, seperti adanya lipatan di dagu, lipatan di
leher, muka tampak bulat, pipi tampak tembem, ada pembesaran payudara,
perut tampak buncit dan berlipat-lipat," paparnya.

PENYEBAB

Ada pun penyebab obesitas pada bayi, bisa bersifat primer, yaitu murni karena
kelebihan makan; bisa juga sekunder, yakni karena ada penyakit lain, bukan
masalah gizi. "Untuk yang sekunder ini ada banyak macamnya. Biasanya karena
ada kelainan hormonal dan metabolik, seperti hipotiroid dan sindrom Cushing."
Namun, dari seluruh kasus, kira-kira 90 persen karena penyebab primer,
sedangkan yang karena penyakit lain hanya kira-kira 10 persen.

PENANGANAN

Kita harus lebih memberikan toleransi dan tak segera melakukan
penurunan/penyesuaian BB. "Sebab, mereka sedang dalam tahap pertumbuhan
dan membutuhkan asupan nutrisi yang baik. Bila dilakukan pengurangan
makanan tanpa pertimbangan yang baik, tentu mengakibatkan ada gangguan
pada perkembangan si bayi, khususnya sistem saraf pusatnya." Karenanya,
kegemukan pada bayi tak dilakukan terapi atau intervensi apaapa sampai ia
berusia 2 tahun, kecuali memang sudah superobese atau ada komplikasi serius.

Bukan berarti bayi-bayi yang sudah kelebihan berat ini, khususnya yang agak
berat, lantas dibiarkan saja, lo. "Tetap harus dilakukan penyesuaian diet sesuai
kebutuhan sehari-harinya." Sedangkan untuk yang ada komplikasi, jika pun
hendak dilakukan terapi, harus disesuaikan kondisinya. Prinsipnya, pada bayi-




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 118
bayi ini kecepatan pertambahan BB-nya dikurangi, tapi asupannya tak boleh
sampai kurang dari kebutuhannya.




                        Dampak dan Komplikasi

Mengorok saat tidur merupakan salah satu dampaknya. Yang lebih parah, ia jadi
sering terkaget-kaget dan terbangun karena merasa kesulitan bernapas kala
tidur. "Ini terjadi karena pada bayi yang obesitas kerap mengalami sumbatan
pada saluran napasnya," ujar Soepardi yang juga berpraktek di RS MMC,
Jakarta Selatan. Tentunya, kalau si kecil mengalami gangguan dalam tidurnya,
proses pertumbuhannya jadi tak optimal. Selain itu, walau masih kecil, mereka
juga akan mengalami perlemakan pada hatinya.

Sementara komplikasi jangka panjang, obesitas yang berkelanjutan berpotensial
menyebabkan gangguan di masa dewasa, semisal pada jantung dan pembuluh
darahnya, atau bahkan bisa menimbulkan penyakit diabetes. Belum lagi bila
dalam riwayat keluarganya ada yang pernah mengalami sakit jantung, stroke
atau diabetes, maka risiko komplikasi ini semakin besar terjadi pada si kecil
nantinya.

                                Deteksi Dini

Sebenarnya, kegemukan pada bayi bisa dideteksi sejak dini bila ia memang
secara rutin diperiksakan ke dokter. "Bukankah semasa bayi, idealnya ia dibawa
ke dokter setiap bulan?" ujar Soepardi. Nah, melalui grafik pertumbuhan, akan
terpantau bagaimana pertambahan BB-nya. "Pertumbuhan yang baik akan
memberikan gambaran grafik dengan pertambahan berat yang sejajar garis
pertumbuhan normal."

Bila sampai terjadi penurunan dalam grafik, berarti ada masalah dalam
pertumbuhannya. Sebaliknya bila ada pertambahan BB yang berlebihan
cepatnya. Dengan demikian, bisa sejak dini dilakukan penyesuaian dalam pola
makannya, misal, dengan perubahan komposisi makanan. Hingga, kelebihan BB
bisa direm tanpa harus mengorbankan kebutuhan untuk pertumbuhannya.




                  Susu Formula Sebabkan Obesitas

Ternyata, obesitas lebih sering terjadi pada bayi-bayi yang banyak mendapat
susu formula daripada yang mendapat ASI eksklusif. Sebab, kadar lemak susu
formula relatif sama dari waktu ke waktu. Jadi, tandas Soepardi, jika bayi
hanya mendapat ASI, jarang bisa sampai mengalami obesitas. "Kandungan
lemak dalam ASI ini memang sudah diatur sedemikian rupa oleh Sang Pencipta
agar semakin hari semakin sesuai dengan tingkat kebutuhan si kecil yang juga
makin berkurang."




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                   hal 119
                          Mudah Terjadi Ruam

Pada anak yang mengalami obesitas, kerap dijumpai kulit yang berlipat-lipat
terutama di daerah leher, ketiak, serta daerah paha dan selangkangannya.
"Akibatnya, mudah terjadi gesekan-gesekan dan akhirnya menyebabkan terjadi
iritasi," kata Soepardi. Tak heran bila kemudian gampang terjadi ruam dan bau
pada bayi yang obese.




                                      ***




  NORMALKAH BILA SI KECIL TAK MAU
             DUDUK?
Jangan dulu keburu khawatir, Bu-Pak, bisa jadi memang fase duduknya sangat
singkat.

Dalam tahapan perkembangan motorik, bayi biasanya sudah mampu duduk di
usia 6 sampai 9 bulan. Jadi, bila sampai usia 9 bulan, bayi belum bisa duduk
dengan baik, berarti ada sesuatu yang tak beres. "Bisa jadi karena ia tidak kuat
menyangga badannya atau tidak bisa bertahan pada posisi yang stabil," ungkap
dr. Irawan Mangunatmadja, Sp.A(K), dari Subbagian Saraf Anak, Bagian
Ilmu Kesehatan Anak, FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Penyebabnya, bisa karena ada kelainan pada sistem otot dan tulangnya
(neuromuskular), semisal spinal muscular atropi (terjadi gangguan berupa
kelumpuhan pada otot-otot tubuh, sehingga tak bisa menyangga tubuh dengan
baik). Dampaknya, anak jadi tak bisa duduk atau berdiri. Biasanya pula,
tahapan perkembangan motoriknya memang sudah terlambat dari awal.

Sebab lain, kelainan tulang. Contoh, ada kelainan pada tulang panggulnya,
sehingga tak bisa duduk pada posisi yang stabil dan nyaman. Namun, kelainan
ini jarang terjadi dan biasanya sudah bisa terlihat sejak awal.

Dengan demikian, tak heran bila si kecil akan bergerak-gerak terus kala
didudukkan karena ia hendak jatuh ke salah satu sisi. "Lain hal bila ia
tampaknya seperti tak bisa duduk tenang karena ia memang ingin banyak
bergerak, bukanlah masalah yang perlu dikhawatirkan." Pada anak usia 10
bulan, contohnya, tentu akan sulit membuatnya duduk tenang karena ia pasti
akan berusaha bergerak ke sana-ke mari, semisal mencoba berdiri atau
merangkak, atau meraih sesuatu benda lainnya. "Pada keadaan ini, yang terjadi
sebenarnya adalah si kecil bukannya tak bisa duduk, tapi tak mau duduk diam
karena ia ingin melakukan sesuatu yang lain."




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 120
Bila demikian, saran Irawan, kita tak usah khawatir. "Justru sebaiknya kita
membantunya berlatih dan belajar berjalan." Apalagi, bila anak sudah mulai
bisa berdiri sedikit-sedikit, ia akan makin bersemangat untuk mencobanya lagi
setiap kali ada kesempatan.

Kemungkinan lain, si kecil relatif singkat fase duduknya. "Karena memang ada
bayi yang relatif singkat menjalani fase duduknya. Jadi belum lama bisa duduk,
tapi ia sudah bisa berdiri. Bahkan biasanya, anak setelah mampu duduk, lalu
merangkak, baru berdiri. Nah, kadangkala tahap merangkak ini terlompati dan
ia langsung pada tahap berdiri." Fase duduk yang terasa singkat ini biasanya
bila anak awalnya agak terlambat duduknya. Misal, baru pada 8 bulan ia bisa
duduk dan di usia 9 bulan dia sudah bisa berdiri, sehingga terasa singkat saja
fase duduknya.




                Latih Ia Duduk Sejak Usia 2-3 Bulan

Sebenarnya, tutur Irawan, bayi sudah dapat mulai dilatih duduk sejak usia
sekitar 2-3 bulan. "Tentunya dengan masih diberikan penyangga atau penopang
pada punggungnya."

Melatih duduk ini, lanjutnya, sangat penting sebagai stimulasi perkembangan
bayi. Jadi, jangan lantas si kecil didiamkan saja, tak dilatih duduk. "Kalau usia 4
bulan baru mulai dilatih, sebenarnya malah sudah agak terlambat."

Kita bisa menilai sudah siap atau belumnya si kecil dari kemampuannya
mengangkat kepalanya. "Bila ia sudah tampak bisa mengangkat kepalanya dan
tampak bisa mempertahankan posisinya dengan baik, maka ia sudah bisa
diajarkan duduk," kata Irawan.

Caranya, bisa dengan mendudukkannya dan memberikan topangan pada
punggungnya. Awalnya memang akan jadi miring, cenderung jatuh ke depan,
dan tidak stabil, tapi bila dilakukan dengan baik dan hati-hati, tidak apa-apa.
"Justru sebenarnya hal ini dianjurkan untuk dilakukan oleh para orang tua,
dengan tujuan agar anak mendapat stimulasi yang baik untuk perkembangan
motoriknya."

Hanya saja, kebanyakan orang tua takut-takut dalam melatih bayinya duduk.
Yang dikhawatirkan biasanya soal tulang punggung si kecil akan bengkok
karena dilatih duduk. Tentunya ini tak beralasan asalkan melatihnya/
melakukannya tak dipaksakan dan disesuaikan dengan kemampuan si bayi.

Berapa lama ia didudukkan, sesuaikan saja dengan kemampuannya. Sebab,
pada tiap anak bisa berbeda-beda. Yang penting dilihat bagaimana keadaan
kemampuan si kecil. "Tentunya makin lama, ia akan makin bisa duduk dengan
lama dan juga dengan posisi yang makin baik. Pada posisi yang sudah baik,
akan tampak kepala bisa tegak dan lurus dengan tulang belakang."

Biasanya, bayi masih perlu ditopang duduknya sampai usia 4 bulan dan bisa
mulai dilepas pada usia 6 bulan. "Kemampuan duduk dengan baik pada bayi ini




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                        hal 121
dipengaruhi oleh kekuatan pada otot punggungnya. Bila otot punggungnya
sudah kuat, tentu posisi tulang belakangnya akan stabil dan mampu menyangga
tubuh dengan baik." Jadi jelas, kekuatan otot punggung ini penting, yaitu
sebagai alat penyangga berat tubuh agar bisa berdiri tegak. Karenanya, bila ia
belum bisa duduk dengan baik, sudah tentu ia tak akan mampu berdiri dengan
baik juga.

                              Maunya Ngesot

Kadang anak maunya mengesot (maju berangsur-angsur dengan menggeserkan
pantat) saja kalau didudukkan. "Ngesot bisa merupakan pertanda ada
ketidaknormalan, tapi bisa juga tidak apa-apa," tegas Irawan. Jadi, ada ngesot
yang tak normal, ada juga yang normal. Salah satu ciri yang tidak normal,
ngesot-nya tidak simetris; miring pada salah satu sisi. Tentu saja menilai hal ini
perlu keahlian. "Jadi, kalau ragu, sebaiknya diperiksakan ke dokter."




                                       ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                       hal 122
          "DOK, KAKI BAYI KAMI, KOK,
                  BENGKOK?'
Kelainan kaki pada bayi bisa merupakan variasi normal, bisa juga kelainan yang
perlu diatasi.

Seringkali ibu-ibu kebingungan melihat kaki bayinya yang tak seperti biasanya
atau memiliki bentuk kaki yang agak berbeda dengan anak lain. Mereka pun
lantas berpikir, "Jangan-jangan kaki bayiku tak normal, ya?" Benarkah demikian?

Perlu diketahui, ujar dr.Sumono Handoyo, Sp.BO, FICS, sendi-sendi pada
bayi memang masih sangat lentur. "Karenanya seringkali terkesan bisa
menekuk ke segala arah. Ini disebabkan ligamen-ligamennya, yaitu 'pengikat'
yang menghubungkan satu tulang dengan tulang lainnya masih sangat lentur,"
papar dokter ahli bedah orthopedi (bedah tulang) dari RS Omni Medical Center,
Pulomas, Jakarta ini.

Akibat sendi yang masih lentur sekali ini, tak jarang memang kita dibingungkan
dengan kondisi kaki si kecil yang tampak seperti tak normal, misal, terlihat
"tertekuk" atau "terlipat".

NORMAL & KELAINAN BAWAAN

"Sebenarnya, bentuk kaki bayi yang tak seperti biasanya ini bisa disebabkan
dua hal. Pertama, karena ada variasi normal, dan yang kedua karena memang
terdapat kelainan bawaan," lanjut Sumono yang juga berpraktek di RS
Persahabatan, Jakarta.

Bila memang karena variasi normal, tak perlu khawatir, kok, Bu-Pak, karena
seiring waktu berjalan, makin lama ligamen-ligamen ini akan menjadi lebih kaku
dengan sendirinya. "Kelainan bentuk kaki jenis ini nantinya akan dapat sembuh
sendiri secara spontan, walaupun tidak dilakukan terapi apa-apa." Hanya saja
tiap anak berbeda-beda. Ada yang menjadi kuat hanya dalam hitungan bulan,
tapi ada yang lebih lama lagi, hingga 2-3 tahun.

Ada pun yang dimaksud variasi normal, adalah variasivariasi bentuk kaki yang
dianggap masih dalam batas-batas normal. Salah satu penyebabnya, posisi bayi
saat di kandungan, yaitu terlipat ke arah dalam atau ke arah luar. Nah, posisi
kaki dan telapak kaki yang agak tertekuk ini akan tetap tampak kala ia
dilahirkan. "Untuk kelainan yang ini, kita tak perlu khawatir, sebab biasanya
dalam 1-2 minggu kemudian akan kembali pada posisi normal."

Sedangkan yang kelainan bawaan, penanganannya biasanya dengan tindakan
operasi. Silakan simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                   hal 123
                        Dua Jenis Variasi Normal

1. Hipermobilitas Sendi (mobilitas yang berlebihan)

Pada kondisi ini, ligamen-ligamen yang mengikat persendian sangat lentur.
Akibatnya, sendi-sendi jadi mudah bergerak, tapi kurang memiliki kekuatan.
Biasanya baru tampak jelas saat si kecil belajar jalan. "Namun seiring usia
bertambah, ligamen akan makin kaku dan kuat, sehingga hipermobilitas pada
sendi kakinya akan menghilang," papar Sumono.

Walau begitu, ada juga hipermobilitas sendi kaki yang menetap, terutama bila
hipermobilitasnya memang dari awal agak berat. "Contohnya pada variasi
normal bentuk kaki yang disebut flexible flat feet, di mana bagian dalam dari
telapak kakinya rata dan menapak seluruhnya." Bukankah biasanya telapak kaki
bagian tengah agak melengkung ke atas dan tak menapak seluruhnya?

Telapak kaki yang rata ini disebabkan ligamen yang mengikat tulang-tulang di
telapak kaki tak cukup kaku dan kuat untuk mempertahankan posisi tulang
telapak kaki yang seharusnya agak melengkung ke atas membentuk arkus
(berbentuk lengkung). "Sebagai konsekuensinya, biasanya anak yang memiliki
telapak kaki rata tak begitu kuat dalam aktivitas yang sifatnya berjalan jauh
atau olahraga yang memerlukan kekuatan pada kaki."

Akan tetapi, bukan berarti ia akan mengalami keterlambatan dalam
perkembangan kemampuannya berjalan, lo. Kalau "kelainan" ini sifatnya ringan
dan tak menyebabkan masalah, biasanya tak perlu terapi khusus. "Lain hal
kalau tampak berat dan tak ada tanda-tanda membaik, perlu dibantu dengan
sepatu khusus, yaitu sepatu yang diberikan bantalan di bagian telapak kaki sisi
sebelah dalamnya, yang disebut sponge rubber arch support." Namun tentu saja
terapi dengan sepatu khusus ini tak serta-merta selalu dilakukan, melainkan
tergantung kasusnya secara individual. "Kebanyakan malahan hanya diobservasi
dulu hingga usia 2 tahun."

Untuk anak-anak dengan bentuk kaki seperti ini, ada baiknya si kecil juga sering
diajak berjalan-jalan di atas permukaan yang kasar, seperti pasir di pantai atau
karpet yang kasar. Hal ini berguna untuk melatih otot-otot di telapak kakinya
agar jadi lebih kuat.

Selain pada telapak kaki, hipermobilitas sendi juga bisa terjadi pada sendi lutut.
"Hipermobilitas pada sendi lutut menyebabkan bentuk tungkai bawah yang
disebut knock knee atau dalam bahasa medis disebut genu valgum, yaitu saat ia
berdiri akan tampak kedua lututnya akan bersinggungan di tengah, sehingga
bentuk kakinya agak seperti huruf X." Hal ini dikarenakan kelenturan dari
ligamen di sendi lutut sisi sebelah dalam.

Dengan bentuk tungkai yang seperti ini, anak biasanya akan lebih senang duduk
dengan posisi kaki dilipat ke arah samping kiri dan kanan, sedangkan kedua
lututnya ke arah depan. Istilahnya, duduk dengan cara television position. Tentu
saja, hal ini tak boleh dibiarkan, karena akan menambah parah "kelainan".
Bahkan jika sampai berlanjut, akan terjadi juga putaran ke arah dalam (rotasi
internal) pada sumbu tulang panggul dan tulang paha, yang akan berakibat




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                       hal 124
anak berjalan seperti bebek, dengan bokong tampak lebih menonjol ke
belakang.

"Kebiasaan duduk dengan television position ini bisa terjadi pada saat bayi baru
belajar duduk. Oleh karenanya, kalau orang tua mendapatkan bayinya hendak
duduk dengan posisi ini, harus segera dicegah." Posisi duduk yang baik adalah
posisi bersila, atau istilahnya Buddhist position.

Untuk keadaan yang berat atau tak membaik walau sudah dibiasakan duduk
dengan cara Buddhist position, bisa dilakukan terapi dengan menggunakan
sepatu khusus yang sol sisi sebelah dalamnya ditinggikan, disebut inside heel
wedge.

2. Twisting Sumbu Tulang (putaran sumbu pada tulang panjang kaki)

Terputarnya sumbu tulang ini banyak terjadi karena posisi bayi saat di
kandungan. Putaran ini bisa ke arah dalam atau ke luar. Akibat putaran ini,
posisi kaki dapat menjadi toeing-out, yaitu telapak kaki pada posisi membuka
ke arah samping, atau toeing-in, yaitu telapak kaki pada posisi menutup ke arah
dalam. Toeing-out disebabkan adanya putaran ke arah luar (external rotation),
sedangkan toeing-in disebabkan putaran ke arah dalam (internal rotation).

Jika terjadi pada tungkai bawah, dapat dijumpai bentuk kaki yang disebut bow
leg atau genu varum, yaitu kaki tampak melengkung seperti huruf O, sehingga
tampak kedua tumit jadi berdekatan, tapi kedua lututnya saling menjauh. Hal
ini dikarenakan putaran ke arah luar pada sumbu tungkai atas dan putaran ke
arah dalam pada tungkai bawah. "Keadaan ini akan makin jelas kala si kecil
berdiri, dan pada saat ia berjalan akan tampak jalannya jadi mengangkang."
Sedangkan kalau dilakukan pemeriksaan terhadap kemampuan gerakan kaki,
akan ditemukan keterbatasan gerakan putaran kaki ke arah dalam.

Walau terjadinya bow leg ini terutama karena posisi bayi saat di kandungan,
tapi biasanya diperparah oleh kebiasaan posisi tidur bayi yang tengkurap
dengan kedua kaki mengangkang dan sendi lutut yang tertekuk atau tidur
dengan posisi seperti kodok. Itulah mengapa dikatakan posisi tidur bayi yang
baik adalah posisi telentang.

Namun demikian, tak perlu terlalu cemas. "Kebanyakan kasus, posisi kaki akan
menjadi normal dengan seiring waktu." Namun bila kelainan berat, kadang
diperlukan intervensi, berupa penggunaan brace (penguat) atau splint pada
malam hari. "Tentunya penggunaan brace atau splint ini perlu dipertimbangkan
baik-baik dahulu, sebab anak juga sedang dalam masa pertumbuhan, termasuk
pertumbuhan tulangnya."




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 125
                     Knock-knee                 Bow-leg




                      Toeing out               Toeing in


                            Kelainan Bawaan

Pada kelainan bawaan, tutur Sumono, faktor yang dominan berperan adalah
genetika. Selain, ditunjang pula oleh faktor lingkungan. Contoh, bila saat hamil
sang ibu minum obat-obatan tertentu, seperti talidomid, sehingga mengganggu
perkembangan janinnya. "Tak jarang juga, kelainan ini sebagai akibat dari
usaha menggugurkan kandungan dengan cara minum macam-macam obat atau
jamu tertentu, yang kemudian tidak berhasil."

Kelainan timbul karena ada gangguan pada pembentukan saat di kandungan.
Hanya saja, kelainan tak selalu terlihat pada saat baru lahir. Bahkan, kadang
ada yang baru terlihat atau disadari setelah si anak berusia 1 tahun.

KELAINAN TERLOKALISIR

Lebih jauh dijelaskan Sumono, kelainan kongenital pada tulang ada banyak
macam dan terjadinya pun tak terbatas pada kaki. Ada yang sifatnya terlokalisir
pada kaki atau pada tulang lain, ada juga yang general, yaitu pada banyak
tulang di seluruh tubuhnya.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 126
Kelainan tulang yang terlokalisir bisa bersifat aplasia, yaitu ada tulang yang tak
terbentuk; bisa juga berupa hipoplasia, yaitu terbentuk tapi sepotong saja,
hingga panjangnya jadi berbeda. Ada pula yang sifatnya displasia, yaitu tulang
tumbuh tak seperti normal, misalnya bengkok atau melengkung. Selain ada
juga yang hipertrofi atau local gigantism, seperti salah satu jari kakinya lebih
besar dari jari lain yang normal. Sementara dari segi jumlah jarinya, kadang
ditemukan kelainan berupa jumlah jari yang berlebih, yaitu polydactyily. Ada
juga yang jarinya berdempetan jadi satu atau syndactyly.

"Untuk kelainan-kelaian ini, terapinya hampir selalu dengan cara dioperasi,"
kata Sumono. Walaupun kadang tak sampai menimbulkan gangguan fungsi, tapi
biasanya operasi tetap dilakukan dengan alasan segi kosmetisnya.

TELAPAK MENEKUK KE DALAM

Ada juga kelainan bawaan yang disebut club foot atau talipes equinus varus,
yaitu telapak kaki tampak menekuk ke arah dalam, sampai-sampai mata kaki
bagian luar dan sisi atas telapak kaki yang menapak di tanah.

"Kelainan ini merupakan bentuk kelainan bawaan pada kaki yang paling sering
ditemukan," kata Sumono. Kelainan ini mudah dikenali sejak baru lahir, tapi
sulit untuk ditangani. Dasar terjadinya kelainan ini disebabkan pertumbuhan
yang tak seimbang dari kaki bagian dalam dan luar, di mana bagian dalamnya
tertinggal atau kalah cepat.

Untuk kasus ini, pada tahap pertama biasanya dilakukan terapi konservatif dulu,
yaitu dilakukan serial plaster, di mana sebisa mungkin telapak kaki diposisikan
ke posisi normal, lalu dipasang gips untuk mempertahankannya. Beberapa
minggu kemudian, gips dilepas, lalu dipasang lagi. "Prosedur ini dilakukan
sampai beberapa kali, karena prinsipnya adalah memperbaiki sedikit demi
sedikit." Jika ternyata kurang berhasil, biasanya dilakukan tindakan operasi.



                      Harus Segera Diperiksakan

Sumono menegaskan, untuk kelainan bawaan yang agak berat, biasanya orang
tua dapat langsung mengetahuinya kala melihatnya. Sedangkan untuk kelainan
yang ringan atau variasi normal, memang sulit untuk menilainya. Biasanya baru
terlihat kala si kecil berdiri atau berjalan.

"Tak jarang pula, orang tua malah kebingungan dan menjadi ragu-ragu, apakah
kondisi kaki bayinya ini normal atau tidak?" Lebih repot lagi kalau yang
sebenarnya tak normal disangka normal, sebab berarti akan terlambat ditangani.
Padahal, makin cepat ditangani, diharapkan makin kecil dampaknya dan juga
lebih mudah penanganannya.

Oleh karena itu, bila ada keraguan akan normal tidaknya kaki si kecil, saran
Sumono, lebih baik diperiksakan saja segera ke dokter ahli bedah orthopedi
atau dokter anak. "Dokter dapat menilai, apakah bentuk kakinya masih masuk
dalam kategori normal atau sudah perlu untuk dilakukan penanganan khusus
oleh dokter orthopedi."




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                       hal 127
   Baby Walker Dan Bedong Mengakibatkan Kelainan Kaki

Meski belum banyak dilakukan penelitian, tapi ada kecurigaan penggunaan baby
walker dan bedong bisa mengakibatkan kelainan kaki pada si kecil. "Salah satu
dasar pemikirannya adalah, pada pemakaian baby walker, posisi duduk bayi
seringkali menyebabkan terjadinya putaran keluar pada tulang paha.
Berdasarkan pemahaman inilah, beberapa ahli menduga penggunaan baby
walker dapat menyebabkan anak berjalan seperti bebek, agak mengangkang,"
papar Sumono.

Sebaliknya, pada bayi-bayi yang dibedong, seringkali terjadi putaran sumbu
tulang ke arah dalam, sehingga posisi kedua lutut jadi saling bertemu di tengah.
Apalagi kalau dibedongnya terlalu kuat dan lama. "Namun demikian, adakalanya
pembedongan ini justru dianjurkan sebagai bentuk terapi kelainan bentuk kaki."




                                      ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 128
    TETAPLAH MENYUSUI KENDATI IBU
                SAKIT

Yang kerap terjadi, penyusuan dihentikan dengan alasan ibu sakit. Padahal ibu
masih bisa terus menyusui, lo. Hanya bisa dihentikan bila penyakitnya memang
tergolong berat.

"Aduh, lagi pilek, nih. Aku jadi harus berhenti dulu menyusui bayiku. Takut nanti
bayiku jadi ikut-ikutan sakit." Begitu, kan, yang sering kita dengar dari para ibu
yang tengah menyusui.

Padahal, jelas dr. Rudy Firmansyah B. Rifai, Sp.A,"Tak semua penyakit
ditularkan melalui ASI." Semisal, pilek, batuk, diare tidaklah tergolong penyakit
yang menular lewat ASI. Jadi, tentu saja keputusan ibu berhenti menyusui -
karena takut menularkan - sangatlah tidak tepat. "Justru risikonya akan lebih
besar bila ibu malah buru-buru memberikan susu formula dibandingkan bila bayi
terus menyusu dari ibu yang sakit," tandas dokter spesialis anak dari RSAB
Harapan Kita, Jakarta ini.

Bukankah pada prinsipnya ASI adalah yang terbaik buat bayi? Ingat, lo, Bu,
setiap bayi berhak mendapat ASI. Oleh sebab itu, ibu menyusui yang sakit tetap
boleh menyusui. Toh, kemungkinan tertularnya penyakit tersebut lewat ASI
sangat kecil.

Yang justru harus dikhawatirkan orang tua, tandas Rudy, infeksi atau sakitnya si
ibu lebih sering ditularkan melalui tangan, udara, atau percikan darah, bukan
dari ASI langsung." Misalnya, saat ibu sedang pilek,pakailah selalu masker dan
cuci tangan yang bersih sebelum memegang bayi untuk menyusui. Sebab,
sering tanpa disadari, ibu membasuh hidung yang pilek, atau bersin tanpa
sengaja di dekat anak. Tentu saja kuman akan beterbangan atau menempel,
selanjutnya pindah ke bayi. "Begitu pula jika ibu sedang diare, bersihkan tangan
dengan teliti setiap kali selesai cebok. Pastikan tangan sudah benar-benar
bersih sebelum memegang bayi," jelas Rudy.

MINUM OBAT BEBAS

Lalu, sering juga terjadi - akibat informasi yang kurang atau enggan bertanya
ke dokter - ibu pun segera berhenti menyusui bayinya dengan alasan sedang
meminum obat-obatan untuk sakitnya, seperti obat flu, obat batuk, atau obat
diare. Alasannya karena khawatir obat tersebut dapat mengganggu bayinya.

Kekhawatiran ini pun tak berasalan. Obat-obat untuk influensa,       batuk, atau
diare yang banyak dijual bebas dengan berbagai merek bisa, kok,      dikonsumsi.
Begitu juga berbagai jenis vitamin dan suplemen. "Jadi, bila ibu     sedang flu,
misalnya, ingin minum obat influensa yang dijual bebas di apotik,    boleh-boleh
saja. Umumnya hanya sebagian kecil obat yang masuk ke ASI            dan jarang
berakibat negatif pada bayi," jelas Rudy.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                       hal 129
Satu hal penting, pilih saja obat bebas yang mencantumkan aman untuk ibu
hamil dan menyusui. "Tapi bila ibu ragu-ragu, tak ada salahnya menghubungi
ahli kebidanan atau dokter anak langganan." Dengan demikian, ibu jadi lebih
mantap sebelum mengonsumsi obat. Mungkin akan lebih baik bila meminta obat
resep dokter. "Tentu dokter akan memperhitungkan kondisi ibu menyusui,
sehingga memberi obat-obatan yang aman untuk ibu menyusui." Karena itu,
jangan lupa untuk memberi informasi pada dokter bahwa ibu sedang menyusui.

Jadi, jelas pilihan untuk tidak mengonsumsi obat juga tidak tepat. "Kalau ibu tak
minum obat, sembuhnya lama, dan bayinya justru malah bisa ketularan, lewat
udara, tangan atau percikan ludah," tambah Rudi.

JADWAL DAN DOSIS OBAT

Menurut Rudy, karena menyusui sifatnya on demand, artinya kapan pun bayi
meminta, ASI tetap harus diberikan dan tak perlu bertabrakan dengan jadwal
minum obat. "Kalau memang obat itu harus diminum tiga kali sehari, ya
dilakukan saja. Boleh saja diminum segera setelah menyusui." Bila dokter tahu
ibu sedang menyusui, biasanya akan dipilihkan obat yang penggunaannya
pendek dan dicarikan alternatifnya yang tidak banyak terserap oleh ASI dan
berdampak pada bayi.




                       Buat Ibu Yang Sakit Berat

Sakit Hepatitis

Virus Hepatitis B tak dapat ditularkan melalui ASI, sehingga bayi tak perlu
dilarang mendapat ASI. Tapi bila ibu mendapat Hepatitis selama hamil, maka
80-90 persen bayi telah mendapat infeksi intra-uterin. "Karena itulah,
dianjurkan dalam 24 jam pertama, bayi mendapat Imunoglobulin spesifik
Hepatitis B dan dilanjutkan dengan pemberian vaksinasinya," jelas Rudy.

Pengidap HIV/AIDS

Boleh tidaknya menyusui bagi ibu pengidap HIV/AIDS masih berada dalam grey
area. Artinya, ada yang setuju, ada yang tidak. "Tapi pada prinsipnya, ASI
adalah yang terbaik untuk bayi, dan setiap bayi berhak memperoleh ASI," kata
Rudy.

Menurut penelitian WHO, bayi dari ibu pengidap HIV/AIDS sudah terinfeksi HIV
kurang lebih 20 persen dari darah yang mengalir lewat plasenta. Penularan
melalui ASI akan bertambah sebanyak kurang lebih 14 persen. Karenanya, di
negara maju dengan angka kematian dan kesakitan bayi yang tidak mendapat
ASI sudah rendah, dianjurkan agar ibu tidak menyusui bayinya. Namun, di
negara berkembang, di mana tidak memberikan ASI dapat menimbulkan
morbiditas dan mortalitas yang masih tinggi, dianjurkan untuk tetap memberi
ASI.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 130
"Bila ibu diketahui mengidap HIV, ada beberapa alternatif yang diberikan.
Selanjutnya apa pun yang menjadi keputusan ibu, perlu kita dukung." Kalau
ibunya memilih tidak memberikan ASI, maka ibu harus diajarkan memilih dan
memberikan makanan alternatif yang benar. Sebaiknya, bila ibu ingin tetap
memberikan ASI, ibu harus hati-hati bila putingnya luka karena darahnya dapat
masuk ke bayi lewat mulut.

Sedangkan bila ibu sudah divonis mengidap AIDS tentu agak sukar untuk
menyusui karena biasanya ibu sudah lemah dan sakit-sakitan. "Yang lebih
penting kalau ibu HIV/AIDS menyusui, lakukan pemeriksaan berkala juga
terhadap bayi," lanjut Rudy.

Penyakit Kejiwaan

Ibu dengan penyakit kejiwaan pun masih bisa dianjurkan menyusui. Bayinya
tetap berhak mendapatkan ASI karena penyakit kejiwaan tidak menular melalui
ASI. "Asalkan ada orang yang mengawasi pada saat ibu menyusui. Sebab
dikhawatirkan jiwanya terguncang atau kambuh saat menyusui. Umpamanya,
dia bengong atau mengamuk, seringkali si ibu tidak sadar ada anak kecil yang
sedang dipangkunya. Bisa-bisa anaknya terlepas dari pangkuan. Nah, kalau
bayinya jatuh, akibatnya, kan, bisa fatal," tutur Rudy.

Bila ibu harus meminum obat depresi karena faktor kejiwaan tersebut, bila
dokter tahu si ibu sedang menyusui, dokter juga akan memberikan obat-obat
yang tak berpengaruh terhadap ASI. "Dokter akan mencari obat-obatan dari
daftar obat, mana yang aman untuk ibu dan tak berpengaruh pada bayi."

Pengguna NAZA

Mereka yang tetap mengonsumsi narkotika dan zat adiktif lainnya (NAZA)
selama kehamilan ibaratnya dapat membunuh bayinya perlahan-lahan. Bukan
saja bayi ikutan "teler" tapi ibu juga membuat anak jadi ketagihan sejak masih
bayi. "Karena sejak di kandungan, darah si bayi sudah terkontaminasi oleh
darah ibu, lewat aliran darah ke plasenta. Oleh sebab itu, pada waktu menyusui,
ibu harus benar-benar menghentikan mengonsumsi narkoba, karena bisa
memperburuk keadaan bayi yang sudah ikut ketagihan. Meski kadar obat yang
ada di ASI sedikit, karena si bayi sudah ketagihan, malah membuat
ketagihannya berlanjut," terang Rudy.

Masalahnya, karena sifatnya yang membuat ketagihan, obat-obatan ini masih
kerap dikonsumsi sembunyi-sembunyi. Yang perlu dilakukan adalah memberi
penerangan yang baik kepada si ibu, sekaligus memberikan terapi yang dapat
menghilangkan ketergantungan bagi ibu dan si bayi.

Ibu dengan gangguan hormon.

Penyusuan dihentikan pada ibu yang memiliki gangguan hormon, semisal
hipertiroid. "Dikhawatirkan obat yang bertujuan untuk menekan kelenjar
tiroidnya, bila sampai masuk ke ASI, akan membuat kelenjar tiroid si bayi yang
normal jadi terganggu."




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 131
Pengidap Kanker

Begitu juga bagi ibu penderita kanker yang harus menjalani terapi, untuk
sementara waktu tidak memberikan ASI-nya. "Obat-obat anti kanker, bersifat
sitostatik yang prinsipnya mematikan sel. Jika obat-obatan ini terserap ASI lalu
diminum bayi, dikhawatirkan malah bisa mengganggu pertumbuhan sel-sel bayi.
Bayi ini, kan, justru sedang dalam masa pertumbuhan," jelas Rudy.

Penderita Jantung

Nah, untuk penderita sakit jantung yang berat, menyusui dapat merangsang
kelenjar oksitosin yang bekerja pada otot polos. "Organ jantung termasuk otot
polos. Kalau jantung sudah mempunyai kelainan, menyusui dapat menimbulkan
kontraksi, karena kelenjar oksitosin terpacu, membuat kerja jantung jadi lebih
keras, akhirnya malah bisa mengakibatkan gagal jantung." Jadi, memang
dianjurkan untuk tidak menyusui.

Pengidap TBC

Ibu yang mengidap TBC aktif masih boleh menyusui. Pasalnya, kuman TBC tidak
ditularkan melalui ASI. "Tapi ibu tetap perlu diobati secara benar dan diajarkan
cara mencegah penularan kepada bayi, yaitu dengan menggunakan masker.
Bila TBC-nya aktif, sebaiknya bayi jangan diberi imunisasi BCG dulu." Setelah
masa pengobatan ibu selesai dan ibu sudah tidak menularkan lagi, maka bayi
diuji lewat tes Mantoux. Bila hasilnya negatif, bayi dapat diberi vaksinasi BCG.

Penderita Diabetes

Sedangkan bayi dari ibu yang mengidap diabetes, sebaiknya ASI tetap diberikan,
namun perlu dimonitor kadar gula darahnya.




                       Bila Terpaksa Rawat Inap

Bila karena sakitnya ibu memerlukan penanganan khusus yang membuatnya
harus menjalani rawat inap di rumah sakit, maka, asalkan diijinkan dokter yang
merawat, bukan penyakit infeksi, dan fasilitas memungkinkan, "Dianjurkan agar
bayinya ikut dirawat, supaya proses menyusuinya tidak berhenti," kata Rudy.
Ibu memang perlu istirahat selama menjalani rawat inap, tapi dengan dorongan
dan bantuan pihak keluarga serta tenaga medis, ibu dapat dianjurkan untuk
tetap menyusui. Berikan keyakinan agar ibu percaya diri, meski sakit ia tetap
dapat memberikan yang terbaik bagi anaknya.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 132
AYAH PUN BERPERAN DALAM MERAWAT
              BAYI
Pak, jika ingin si kecil kelak memiliki rasa kedekatan dengan Anda, mulailah
sejak sekarang. Apalagi, merawat si kecil bukan hanya tanggung jawab ibu,
melainkan ayah juga.

"Sesungguhnya, Tuhan memberikan kelahiran bayi sebagai anugerah untuk istri
dan suami, sehingga jelas sekali bahwa merawat dan membesarkan anak harus
dilakukan berdua secara bersamaan," kata dr. Utami Roesli, Sp.A, MBA,
IBCLC. Terlebih lagi, seorang anak tak bisa hanya dibesarkan oleh ibunya saja.
"Ayah juga memiliki tanggung jawab yang sama besarnya, akan menjadi apa
anaknya kelak," tambah Ketua Lembaga Peningkatan Penggunaan Air Susu Ibu
RS Sint Carolus, Jakarta ini.

Lagi pula, Pak, anak membutuhkan kedekatan emosional yang lengkap; ia juga
memerlukan rasa dekat dengan ayahnya, selain dengan ibunya. Kedekatan
emosional ini, jelas dra.Triesna Wacik, Psi., psikolog dari ForelVi-21, Jakarta
Selatan, pada anak lebih dirasakan melalui kontak fisik langsung, semisal
dengan sentuhan dalam kehidupan sehari-harinya. "Dari sinilah ia akan
merasakan ada dua orang yang selalu hadir di sekitarnya, yang akan selalu
melindunginya," urainya kala dijumpai pada kesempatan berbeda.

Hal itu terjadi lantaran kontak fisik sangat membuka peluang untuk
berkomunikasi walaupun sifatnya nonverbal. Ingat, bahkan sejak di kandungan,
anak sudah dapat merasakan lingkungannya. Apalagi setelah dilahirkan, tentu
saja ia akan dapat membedakan antara sosok ayah dan ibunya. Saat besar, ia
pun akan tumbuh dan berkembang dengan lebih baik karena memiliki rasa
percaya diri, perasaan aman, dan perasaan didukung.

Jadi, bila kita terlibat langsung, misal, mengganti popok si kecil, menimang-
nimangnya sebelum tidur, mengajak bermain, dan sebagainya, "pasti
memberikan efek yang sangat positif bagi anak, khususnya dalam hal
kedekatan emosi," tegas Triesna. Contohnya, bayi akan tampak senang bila
didekati atau hendak digendong oleh ayahnya. "Ini reaksi yang hanya bisa
terjadi kalau bayi memiliki kedekatan emosional yang baik dengan ayahnya."
Dalam bahasa lain, kedekatan emosional anak tak bisa tidak harus dengan
sentuhan langsung dan komunikasi setiap hari sejak anak lahir. Apalagi bagi
anak, kedekatan memang lebih bisa dirasakan secara fisik.

YANG BISA DILAKUKAN AYAH

Lantas, apa saja yang harus dilakukan seorang ayah? Banyak, kok, Pak! Seperti
dipaparkan Utami, setelah bayi dilahirkan, ayah dapat membantu sang ibu saat
menyusuinya. Ayah juga dapat membentuk jalinan kedekatan dengan anak
melalui pijat bayi, memandikan, memakaikan baju, membersihkan kotorannya
kala buang air besar/kecil, menggantikan popok, dan mengajaknya berjalan-
jalan.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 133
Dalam hal membantu istri menyusui bayi, suami bisa mengupayakan
ketenangan agar istri dapat menyusui dengan baik. Selain itu, pada bayi baru
lahir, saat ia bangun tengah malam dan gelisah karena lapar, ayah bisa
membantu dengan menepuk-nepuk dan menimangnya dulu agar ia menjadi
lebih tenang sebelum disusui oleh ibu.

Bila si bayi sudah lebih besar, misalnya 6 bulan dan sudah mendapatkan susu
formula, ayah juga dapat membuatkan dan memberikan susu kepada si bayi.
"Dengan pemahaman seperti ini, masalah menyusui dan memenuhi kebutuhan
bagi bayi tidak hanya menjadi masalah berdua antara ibu dan bayinya, tetapi
masalah bertiga antara ibu, bayi dan ayah. Bila hal ini bisa berjalan dengan baik,
bayi pun akan merasakan langsung bahwa ayahnya berperan dalam pemenuhan
kebutuhannya," urai Utami.

Contoh lain yang juga mudah dilakukan oleh ayah adalah memijat bayinya.
"Sekian lama kebanyakan pijat bayi dilakukan oleh ibu, padahal seharusnya
ayah juga terlibat langsung." Kalau saja memijat bayi biasa dilakukan sejak
awal, sehingga menjadi hal yang rutin sehari-hari, misal 10-15 sebelum mandi,
tentu tak akan terasa sebagai hal yang merepotkan si ayah.

Tentu saja, masih banyak lagi yang bisa dilakukan seorang ayah untuk anaknya.
Yang jelas, tandas Utami, ayah memiliki kekuatan sangat besar yang berperan
penting dalam membesarkan seorang anak. "Jadi, jangan sia-siakan
kesempatan untuk memberikan yang terbaik bagi si kecil sejak awal!" Kalau
tidak, jangan heran bila kelak anak hanya mau berkomunikasi dengan ibunya
untuk urusan apa pun, tak berani langsung berhadapan dengan ayahnya. Itu
merupakan efek dari kurangnya komunikasi sejak bayi yang terbawa sampai
besar alias tak ada kedekatan dengan ayah. Kalau sudah telanjur seperti ini,
untuk mendekatkannya lagi akan sulit walaupun tiap hari bertemu. Nah, tentu
kita tak ingin mengalami hal tersebut, kan, Pak?




              Harusnya Dimulai Sejak Di Kandungan

"Walaupun masih ada di kandungan, sebenarnya bayi sudah dapat mengetahui
dan merasakan lingkungannya," ungkap Utami. Ini berarti, peran ayah
harusnya sudah ditunjukkan sejak konsepsi atau sejak kehamilan. "Memang
kadang ada yang kurang mau menerima hal ini, tapi kenyataannya demikian.
Bahkan ada contoh di mana bayi baru lahir tampak jelas mengenal suara
ayahnya karena si ayah setiap kali menyempatkan diri untuk berbicara dengan
lembut kepada bayinya yang masih di kandungan."

Sebaliknya, bayi juga dapat merasakan hentakan atau suara yang keras di
sekitarnya yang akan membuatnya merasa tak nyaman. "Idealnya, ya, jangan
sampai ada yang marah-marah di dekat ibu hamil ataupun bayi. Kalau perlu,
bila ayah atau suami mau marah, ya, dipendam sendiri saja, demi sang bayi,"
pesan Utami.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 134
                        "Takut " Dibilang Banci

Sungguh keliru bila di jaman kini masih ada yang menganggap bahwa tugas
seorang ayah hanyalah mencari nafkah untuk membiayai keluarganya,
sedangkan tugas membesarkan anak menjadi urusan ibu semata. Bukankah
sudah terjadi pergeseran pandangan bahwa peran ayah pun amat dibutuhkan
secara nyata di kehidupan sehari-hari dalam keluarga? Pergeseran ini, menurut
Triesna, sama saja dengan mengubah pola pikir lama yang kadang memang
tak mudah dilakukan oleh para suami/ayah. "Tapi bagi keluarga yang terpelajar,
seharusnya perubahan peran ini tidak terlalu asing lagi. Paling tidak, kan,
mereka bisa melihat bahwa peran serta ayah adalah hal yang memang baik dan
sudah biasa dilakukan di negara maju," katanya.

Triesna melihat, kesulitan mengubah pandangan seperti itu sering terjadi, baik
disadari ataupun tidak, karena umumnya kaum pria memiliki chauvinism atau
sifat patriotik yang berlebihan. "Perasaan bahwa ayah adalah pemberi nafkah
dan motor di keluarga, membuat ia beranggapan bahwa perannya sudah cukup
sampai di situ. Ia tak mau terlibat lagi dalam mengurus anaknya karena itu
adalah tugas istri."

Selain itu, jika ikut terlibat dalam perawatan anak, muncul "ketakutan" pada
kaum pria bahwa dirinya akan dianggap banci atau kehilangan maskulinitasnya.
Ini terjadi karena ia masih menghayati perannya sebagai ayah dengan memakai
konsep tradisional di mana laki-laki harus menjalani peran maskulin, yang di
dalamnya tak ada keharusan untuk membesarkan anak. Sebaliknya, ibu secara
sadar ataupun tidak, mengambil peran feminin yang di dalamnya ada fungsi
merawat dan membesarkan anak. "Padahal sesungguhnya konsep peran saat ini
tidak seperti itu lagi. Justru mengurus anak masuk ke dalam peran maskulin
dan feminim, tak dipisahkan lagi." Bukankah anak membutuhkan kehadiran
ayah dan ibunya sekaligus, bukan hanya salah satu?

Nah, sebagai ayah yang baik, harusnya kita tak perlu pusing dengan apa kata
orang bila ikut mengasuh anak. Apalagi, anak jelas membutuhkan hubungan
emosional dengan ayah. Iya, kan?




                           Istri Justru Bangga

Bagi para suami, sebetulnya tak ada alasan untuk merasa "takut" kehilangan
wibawa di hadapan istrinya bila ia ikut repot mengurus anak. Justru pada
kenyataannya, para istri yang dibantu suami dalam merawat anak semakin
bangga dan respek terhadap suaminya.

"Bagi istri, secara psikologis ia sangat merasakan bahwa anaknya adalah anak
mereka berdua, bukan anaknya sendiri," beber Triesna. Sebagai dampak
keterlibatan ayah, proses nurturing (pengasuhan, pemeliharaan, dan perawatan
anak) akan dirasakan sebagai milik bersama, tanggung jawab bersama, dan
masing-masing memiliki peranan yang sama sebagai orang tua. Relasi antar
suami dan istri pun semakin erat.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                   hal 135
Jadi, seperti ditegaskan Triesna, kekhawatiran akan kehilangan maskulinitas
dan wibawa sebenarnya sangat tak beralasan lagi. "Kekhawatiran seperti ini
tampaknya diciptakan para suami sendiri dalam bayang-bayang pikirannya."

             Perlu Komunikasi Dan Pembagian Tugas

"Namun, para istri juga perlu menyadari, bila suami tetap memiliki tanggung
jawab untuk bekerja pada esok hari," tutur Triesna. Khususnya kala anak baru
lahir dan ia sering bangun tengah malam. Jadi, tetap perlu dipikirkan juga
pembagian waktunya.

Jangan mentang-mentang suami sudah mau terlibat langsung, lalu istri
menuntut suami secara berlebihan untuk selalu ikut bangun di tengah malam.
Bisa-bisa nanti suami tak dapat konsentrasi di kantor karena kurang tidur.
Sebaliknya, untuk suami juga jangan mentang-mentang esoknya harus bekerja
lalu sama sekali tak peduli. Hal yang utama di sini adalah komunikasi dan
pembagian tugas, sesuai bagaimana keperluan bekerja esok harinya.

Nah, untuk ibu yang berkarir, tentu pengaturannya juga disesuaikan dengan
masa cuti melahirkannya. Misal, di masa cuti melahirkan itu bisa dimaklumi jika
ibu berperan lebih banyak. Baru jika istri mulai bekerja lagi, suami harus
menambah peranannya agar seimbang porsinya.




                                      ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 136
       INFEKSI PADA BAYI BARU LAHIR


Karena mengalami infeksi, bayi baru lahir
biasanya akan tinggal lebih lama di rumah sakit.
Bagaimana infeksi ini bisa mengenainya?

Dalam seluruh tahapan kehidupan seseorang,
masa bayi baru lahir merupakan masa yang paling lemah atau berbahaya. "Bayi
baru lahir ini jauh lebih rentan mengalami infeksi dibandingkan dengan anak
yang sudah agak besar atau orang dewasa," ujar dr. Rinawati Rohsiswatmo,
Sp.A dari Sub Bagian Perinatologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI/RSUPN
Cipto Mangunkusumo. "Apalagi kalau bayi tersebut adalah bayi yang lahir
kurang bulan, atau memiliki berat lahir yang rendah."

Saat baru lahir, bayi harus beradaptasi dengan lingkungan barunya di luar
kandungan. Ia harus mulai bernapas sendiri, minum sendiri, dan sebagainya.
Organ-organ tubuhnya pun mulai berfungsi walau belum sempurna. "Saat ini
fungsi-fungsi organ tubuhnya masih dalam proses tumbuh dan berkembang.

Termasuk sistem kekebalan tubuhnya pun masih berkembang dan belum
sempurna," lanjut Rina. "Jadi jelas ia berada dalam kondisi yang paling lemah
dan rentan infeksi dibanding masa lain dalam kehidupannya."

BISA VERTIKAL BISA HORIZONTAL

Secara garis besar, terang Rina, infeksi pada bayi baru lahir terjadi melalui 2
cara, yakni:

1. Secara Vertikal

Infeksi didapat dari ibunya saat bayi berada di kandungan ataupun saat
melewati jalan lahir. Infeksi secara vertikal bisa terjadi manakala di masa
kehamilannya sang ibu terinfeksi suatu penyakit. "Apakah penyakit yang
bersifat sistemik seperti demam tifoid, demam berdarah, toksoplasmosis, dan
sebagainya, maupun infeksi lokal atau setempat seperti infeksi saluran kemih
dan keputihan."

Repotnya, walaupun ibu tak menunjukkan keluhan atau gejala yang terasa
mengganggu, tapi tak demikian dengan bayi di kandungan. Ia malahan bisa
mengalami infeksi yang berat.

2. Secara Horizontal

Infeksi didapat dari lingkungan sekitarnya setelah ia dilahirkan. Misal, terjadi di
kamar perawatan bayi. "Bayi baru lahir yang dirawat bersama-sama bayi-bayi
lain yang juga baru lahir justru lebih mudah mengalami infeksi. Ia bisa saja
tertular karena adanya kontaminasi kuman dari bayi lain, yang kebetulan sakit."




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                        hal 137
Memang sudah seharusnya setiap rumah sakit atau rumah bersalin memiliki
standar pelayanan yang baik, sehingga penularan secara horizontal ini rendah
kemungkinannya. "Walaupun begitu, bukan tak mungkin infeksi terjadi. Oleh
karenanya, cara paling baik untuk menekan kemungkinan terjadi infeksi secara
horizontal adalah dengan metode rawat gabung, atau istilahnya rooming in."

Rawat gabung adalah cara perawatan ibu sehabis melahirkan dan bayi baru lahir
dalam satu ruangan bersama. "Jadi, bayi selalu berada berdekatan dengan ibu,
tidak dirawat bersama bayi-bayi lainnya. Cara perawatan seperti ini
sesungguhnya banyak dilakukan di negara-negara maju dan terbukti
menurunkan risiko infeksi pada bayi baru lahir."

KONDISI KLINIS

Ada 2 hal yang bisa digunakan sebagai patokan kondisi bayi baru lahir, yaitu
kemampuan minumnya dan pertambahan berat badannya. Bayi yang sedang
sakit tak akan bisa mengisap atau minum dengan baik sehingga terkesan malas.
Berat badannya pun tak akan bertambah sehingga perlu dicari penyebabnya.

Selain itu, penampakan bayi baru lahir yang terinfeksi juga berbeda dari bayi
yang sehat. "Bayi ini memiliki tingkah laku dan tangisan yang berbeda, selain
kemampuan minumnya yang kelihatan tidak normal." Suara tangis bisa jadi
terdengar melengking atau dalam istilah medisnya disebut high pitch cry. Atau
dapat juga malah seperti merintih pelan saja. Jika demikian, dokter yang
menangani persalinan akan langsung curiga bahwa sang bayi mengalami
masalah.

Kelainan juga dapat terlihat dari aktivitasnya. "Sekecil apapun bayi yang baru
lahir, bila dalam keadaan sehat, otot-ototnya akan berada dalam keadaan fleksi
atau lentur, memiliki tonus yang baik dan bergerak aktif. Kalau otot-ototnya
tampak lemas atau lunglai, dan gerakannya tampak tidak aktif, pasti ada
kelainan pada si bayi."

Gejala lain, bisa berupa kelainan pada sistem pernapasan. Misal, napas jadi
lebih cepat atau bisa juga terkesan enggan bernapas. Sementara soal demam,
"Ini yang kadang kurang dipahami orang tua," bilang Rina.

"Kadang ada yang berpikir si bayi tidak apa-apa hanya karena ia tidak demam.
Perlu diingat, demam tidak bisa dijadikan patokan ada tidaknya infeksi pada
bayi. Karena, bayi memang biasanya tidak menunjukkan demam walaupun
sudah terkena infeksi." Justru tak jarang yang terjadi adalah kebalikannya, yaitu
suhu badannya di bawah normal, yang disebut hipotermi.

PENANGANAN SECARA DINI

Jika sedikit saja muncul kecurigaan klinis akan adanya infeksi, maka bayi harus
segera mendapat penanganan dan pemantauan infeksi yang ketat, termasuk
terapi antibiotik melalui saluran infus. "Apalagi kalau dalam kehamilan dan
persalinannya ada faktor risiko yang besar, seperti bila ibunya demam
menjelang melahirkan, ketubannya keruh dan berbau, atau ketubannya sudah
pecah 18 jam sebelum melahirkan," tutur Rina.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 138
Kalau misalnya dalam 3 hari keadaan klinisnya membaik, tak ada tanda infeksi
lagi, dan secara laboratoris pun tak terbukti infeksi, maka terapi akan
dihentikan. Bayi pun bisa pulang. Sedangkan kalau tanda infeksinya tetap ada,
terapi akan diteruskan sampai ia sembuh. Berapa lamanya, tergantung tingkat
keparahannya dan keadaan bayi, misalnya berapa berat badannya. Lama
perawatan tak bisa disamakan pada setiap bayi. Kalau berat, mungkin saja ia
dirawat sampai 2-3 bulan lamanya, tapi kalau ringan, cukup 1-2 minggu.

Infeksi dikatakan sembuh, antara lain jika penyakit sudah bisa diatasi, tanda
klinis tak ada lagi, bayi sudah aktif minum, dan berat badannya bertambah.
"Yang juga tak kalah penting adalah kesiapan ibu untuk merawat bayi di rumah.
Sebab, tak jarang ibunya malah belum siap. Kalau begini, tentu ibu perlu
disiapkan dulu." Jika infeksi bisa ditangani secara dini dan baik, bayi selanjutnya
dapat tumbuh dan berkembang seperti anak normal.

Kecuali bila infeksinya parah, misalnya terjadi radang selaput otak (meningitis)
hingga akhirnya anak mengalami cerebral palsy. "Kalau keadaannya seperti ini,
bayi memerlukan penanganan lanjutan yang baik, seperti terapi dan
pemantauan secara teratur."

Sebaliknya, bila infeksi tak ditangani dengan baik, maka kondisi bayi akan
semakin parah. Yang awalnya ringan, apalagi kalau daya tahan bayi tak baik,
bisa berkembang menjadi meningitis, sepsis (infeksi berat seluruh tubuh), dan
bahkan kematian.




                            Tindak Pencegahan

1. Secara Vertikal

Ibu hamil harus selalu menjaga kesehatan dan rajin melakukan pemeriksaan ke
dokter. Jika pun sampai terkena infeksi, tentunya akan segera dapat ditangani
oleh dokter, hingga tidak keburu menjadi parah. "Setiap trimester kehamilan
memiliki bahaya sendiri-sendiri. Kalau infeksi terjadi pada awal kehamilan,
biasanya bayi akan meninggal di kandungan atau mengalami cacat. Sedangkan
kalau infeksi terjadi saat trimester akhir, biasanya bukan kematian atau cacat
yang terjadi, akan tetapi bayi bisa terinfeksi dan kualitasnya pada saat
dilahirkan tidak begitu baik," papar Rina.

Pemantauan kehamilan yang baik, semestinya diikuti pula oleh proses
persalinan yang baik. Nah, agar persalinan dapat berjalan lancar, tentu perlu
dilakukan berbagai persiapan untuknya. Misal, dengan memilih tempat bersalin
yang baik, dan tentu saja menyiapkan biayanya jauh-jauh hari. "Sayangnya, di
Indonesia kejadian bayi baru lahir terinfeksi ini masih banyak, karena keluarga
kurang siap menghadapi persalinan dan kemungkinan komplikasinya, terutama
dari segi pembiayaan."




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                        hal 139
2. Secara Horizontal

Pencegahan bisa dilakukan bila keluarga, kerabat, dan teman-teman orang tua
si bayi paham bahwa masa bayi baru lahir merupakan masa berbahaya.
"Mereka dapat berperan dalam mencegah agar si kecil tidak terpapar kuman
penyakit. Salah satunya, jika di antara mereka sedang kurang sehat maka tak
usah dekat-dekat dahulu dengan si bayi."

Kadang memang muncul kekhawatiran dalam benak ibu, bayinya akan terpapar
kuman dari pengunjung yang datang menengok. "Kenyataannya, infeksi pada
bayi tak akan terjadi asalkan orang tua bisa membatasi agar tamu-tamu tidak
berada terlalu dekat dengan bayi, apalagi kalau sedang kurang sehat."

                       Kadang Perlu Dipuasakan

Bila bayi sedang mengalami infeksi dan dirawat di rumah sakit, kadang ia perlu
dipuasakan dahulu. "Ini perlu dilakukan bila infeksi yang menyerangnya cukup
berat, sehingga fungsi saluran cernanya pun bisa terganggu," ungkap Rina.
Justru bila ia dipaksa minum, maka mungkin terjadi kerusakan atau perlukaan
pada saluran cerna, yang berakibat kebocoran di usus. Jadi, bila memang si
kecil harus dipuasakan demi kesembuhannya, orang tua tak perlu khawatir.
Bayi tetap mendapat asupan nutrisi melalui infus yang dipasang dan diatur
sesuai kebutuhan.

                    Nilai Apgar Baik Tak Menjamin

Ada kalanya orang tua heran, bayinya lahir dengan nilai APGAR yang baik,
misalnya 9 atau bahkan 10, tapi, kok, tetap terinfeksi. "Di sini perlu dipahami
tentang kegunaan nilai APGAR yang sebenarnya," tukas Rina. Nilai APGAR
adalah nilai keadaan bayi baru lahir dengan cara perhitungan tertentu, yang
tujuannya melihat apakah bayi baru lahir perlu mendapat resusitasi (bantuan
napas) atau tidak. "Jadi sesungguhnya memang tak ada kaitan dengan bayi
mengalami infeksi atau tidak."

Bahkan, bukan tak mungkin seorang bayi lahir dengan nilai APGAR yang baik,
tapi kemudian mengalami infeksi berat. Pada keadaan tertentu memang
mungkin saja nilai APGAR-nya menjadi tidak baik akibat ada infeksi. Namun ini
hanya terjadi bila infeksinya berat sekali.




                                      ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 140
     KELAMAAN NGEMPENG BIKIN GIGI
               TONGGOS


Jika perhatiannya tak dialihkan, bayi bisa sangat tergantung pada empengnya.
Semakin lama ia mengempeng, akan semakin sulit menghentikannya.

"Sebenarnya kebiasaan memasukkan sesuatu ke mulut bagi bayi atau anak bisa
bermacam-macam bentuknya. Bisa berupa kebiasaan mengisap empeng,
mengisap jari-jari tangan, mengisap kain, dan sebagainya," beber Prof. DR.
drg. Ismu Suharsono Suwelo, Sp.KGA, dari Bagian Ilmu Kedokteran Gigi
Anak, Fakultas Kedokteran Gigi UI, Jakarta. Terutama jika bayi sedang gelisah,
cemas, atau tidak tenang yang ditunjukkan dengan sikap rewel sampai tak bisa
tidur.

Melihat hal itu, biasanya orang tua mencari jalan keluar dengan memberikan
empeng atau pacifier kepada bayi. Jika cara itu dianggap berhasil, tak jarang
orang tua sedikit-sedikit akan memberikan empeng untuk menenangkan
anaknya. Nah, sebetulnya, apakah bayi betul-betul memerlukan empeng
sebagai obat gelisahnya? Tidakkah hal ini akan menjerumuskannya pada
kebiasaan yang berakibat buruk?

SEMATA-MATA PSIKOLOGIS

Menurut Ismu, kebutuhan akan mengempeng sebenarnya lebih dikarenakan
faktor psikologis saja. Sedangkan dari sisi medis, "penggunaan empeng itu
sesungguhnya tak bermanfaat. Bahkan bisa dikatakan, tidak mengempeng pun
tak akan jadi masalah bagi kesehatan anak," tandas Ismu.

Memang ada pendapat bahwa dengan mengempeng, maka daerah rahang akan
mendapat tekanan sehingga terjadilah stimulasi pada pertumbuhan gigi bayi.
Namun, harus diketahui bahwa empeng bukanlah satu-satunya alat penstimulus.
Lebih baik gunakan mainan gigit-gigitan atau teether yang tidak didesain untuk
nyaman diisap terus-menerus. Jadi tidak mutlak harus dengan empeng, kan?

Jika dipakai dalam masa yang tidak terlampau lama, empeng memang tak akan
menimbulkan masalah pada bentuk rahang anak. Lain hal jika kebiasaan itu
berlangsung terus hingga usianya menjelang 2 tahun. "Penggunaan empeng
yang berlebihan bisa mengubah bentuk rahang dan posisi gigi," kata Ismu.

Selama mengisap empeng, terangnya, rahang atas anak cenderung maju ke
depan, sedangkan rahang bawahnya cenderung masuk. Sebagai dampaknya,
gigi pun jadi tonggos. Keadaan ini juga akan diperparah bila posisi tumbuh gigi
cenderung miring ke depan. Dengan demikian, akibat mengempeng ini dapat
terjadi pula perubahan posisi gigi susu yang akan diikuti dengan gigi tetapnya.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 141
"Mengempeng memang tak akan menyebabkan kerusakan pada bentuk gigi
(misalnya, menimbulkan karies, red.), tapi posisinya jelas bisa berubah,"
sambung Ismu. "Yang repot lagi, nantinya bentuk bibir juga akan mengikuti
bentuk rahang, sehingga bibirnya pun bisa jadi monyong atau tampak maju ke
depan." Sebagai kelanjutannya, biasanya anak jadi punya kebiasaan mengisap-
isap bibir bawah yang tentunya akan memperparah bentuk rahang yang sudah
maju.

ALIHKAN PERHATIANNYA

Karenanya, segala macam kebiasan memasukkan benda ke mulut ini memang
sebaiknya dihentikan atau paling tidak dikurangi. Namun demikian, orang tua
tak perlu menunjukkan ketakutan yang berlebihan. Ingat, kelainan bentuk
rahang dan posisi gigi biasanya baru terjadi bila empeng digunakan terlalu lama,
misal sampai 2 tahun. "Kalau kurang dari itu, masih bisa diharapkan terjadi self
correction (koreksi dengan sendirinya, red.) pada bentuk rahang dan posisi
giginya ini," hibur Ismu.

Lebih dari itu, misalnya sudah lewat dari 2 atau 3 tahun, kelainan bentuk
rahang dan posisi gigi akan sulit dipulihkan. Di samping, kebiasaan kurang baik
yang dibiarkan lama akan menimbulkan keterikatan yang semakin rumit.
Semakin lama dibiarkan, anak biasanya malah akan semakin sulit melepaskan
kebiasaan mengempengnya.

Oleh karena itu, untuk menghentikannya diperlukan pendekatan yang hati-hati.
Sebab, sering kali anak yang tak dibiarkan mengempeng akan mengalihkan
kebiasannya dengan mengisap ibu jari tangan. Hal ini perlu diperhatikan para
orang tua. "Mengisap-isap ibu jari ternyata memberikan efek yang serupa
dengan mengempeng, malahan tingkat kerusakan atau gangguan yang
ditimbulkannya bisa lebih berat. Di saat anak mengisap-isap ibu jari, biasanya ia
juga akan memainkan giginya, mendorong-dorongnya ke arah depan. Akibatnya
gigi akan lebih tonggos lagi," urai Ismu.

FASE ORAL

Kebijakan sangat diperlukan dalam mengatasi kebiasaan mengempeng pada
bayi. Bagaimanapun, kebutuhannya untuk mengisap-isap benda merupakan
refleks paling utama dari bayi. Hal ini disampaikan oleh psikolog, Ike R.
Sugianto, dari Psychological Practice, Jakarta.

"Jadi, mereka memang akan merasakan suatu kepuasan kalau ada rangsangan
di mulutnya. Rangsangan ini akan terasa apabila ia mengisap-isap atau
menggigit-gigit. Nah, inilah yang akan didapat bila ia mengempeng." Jadi,
kepuasan yang dicari bayi memang merupakan fase oral dari tahapan
perkembangan anak menurut teori terkenal yang disampaikan Sigmund Freud,
tokoh psikoanalisa.

"Normalnya, fase oral berlangsung dari usia 0 tahun dan akan selesai di usia 1
tahun," lanjut Ike. Dalam fase ini, anak senang sekali mengisap apa saja, bisa
empeng, jari tangan, atau benda-benda lainnya. "Kalau giginya sudah tumbuh,
selain dengan mengisap-isap, bisa juga dengan menggigit-gigit."




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 142
MENCEGAH FIKSASI

Bila selama menjalankan fase ini timbul masalah, maka bisa terjadi keadaan
fiksasi atau perasaan terikat pada sesuatu secara berlebihan. Dalam fiksasi fase
oral ini, ia akan terus mencari pemuasan lewat mulut, walaupun sebenarnya
dari segi umur ia sudah melewati fase itu, yakni di atas usia 1 tahun. "Proses
selesainya fase oral ini, merupakan suatu proses yang berjalan alami, tetapi
tentunya di sini juga ada unsur pembelajarannya," kata Ike. Maksudnya,
walaupun merupakan proses alami, tak berarti si kecil boleh memasukkan apa
saja ke mulutnya secara terus-menerus. Sedangkan untuk memberi rangsangan
pada pertumbuhan giginya, berikan saja mainan gigit-gigitan yang umumnya
terbuat dari karet.

Untuk menghindari fiksasi, Ike juga menganjurkan orang tua agar selalu
memiliki kedekatan dan mencurahkan perhatiannya kepada sang bayi. Ajaklah
ia bermain-main atau beraktivitas bersama. Dengan begitu, perhatian anak
akan terus terisi dan ia tak lagi memikirkan empengnya. Jadi, untuk
mengalihkan keterikatannya pada empeng harus dicarikan tingkah laku
penggantinya. Dengan demikian ia tidak terfokus lagi pada kepuasan oralnya
yang diperoleh dengan cara mengempeng.

"Di samping itu, orang tua juga perlu mengamati, kapan 'kebutuhan' untuk
mengempeng ini menjadi kuat sekali pada anak. Misalnya, apakah pada saat
tertentu saja ketika ia sedang mengalami kecemasan, atau pada keadaan
lainnya," kata Ike. Dengan demikian, akan lebih mudah untuk mengetahui
kapan saat tepat mengajarinya meninggalkan kebiasan mengempeng. Selain itu,
pemberian ASI yang baik, kehangatan hubungan orang tua dan anak, disiplin
yang pada tempatnya misalnya, dengan tak merebut atau melarang anak
mengempeng secara kasar-, menurutnya, akan memberikan hasil yang lebih
baik.

Jika sampai anak mengalami fiksasi pada fase oral, harus dicari tahu mengapa
terjadi demikian. "Bisa jadi, salah satu penyebabnya adalah perasaan tidak
aman pada si kecil untuk bertambah dewasa dan masuk ke fase berikutnya di
usia 1-3 tahun, yaitu fase anal." Jadi di sinilah peran dari orang tua agar ia
tetap merasa aman dan bisa meninggalkan fase oralnya untuk melangkah ke
fase berikutnya.




                       Jaga Kebersihan Empeng

"Melarang sama sekali anak untuk tidak menggunakan empeng memang tak
mudah, sehingga ada kalanya empeng mau tak mau diberikan juga," kata Ismu.
Namun, ia berpesan agar faktor kesehatan anak tak dilupakan, yaitu untuk
selalu menjaga kebersihan empeng yang diisap bayi.

"Jadi jika empengnya habis jatuh ke tanah, jangan langsung diberikan lagi ke
anak. Bersihkan dulu dengan dicuci," lanjut Ismu. Sebab, tak jarang, lo, karena
mengisap empeng yang kotor, si kecil terserang kuman diare yang menempel di
situ.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 143
                    BELAJAR BERJALAN
Kapan seorang anak bisa berjalan, tidak mesti sama waktunya. Yang penting ia
mendapat cukup stimulus dan melewati hampir seluruh fase perkembangan
motoriknya yang normal.

Pada usia 12 bulan, seorang anak biasanya sudah bisa berjalan. Namun, perlu
diingat bahwa fase perkembangan motorik kasar ini variasinya cukup lebar.
Artinya, pada beberapa anak usia tersebut, bisa saja kemampuannya baru
sampai tahap berdiri tanpa ditopang. Jika demikian halnya, biasanya ia pun baru
bisa duduk sendiri di usia 10 bulan. Keadaan ini bisa dianggap sebagai suatu
variasi normal karena, seperti dikatakan dr.Fajar Subroto,Sp.A, dari Klinik
Anakku, Cinere, Depok, proses belajar berjalan pada bayi bisa berlangsung
sampai usia 18 bulan.

Tentu saja, agar anak memiliki kemampuan berjalan pada waktunya, ia
membutuhkan stimulus atau rangsangan. Sayangnya, tak jarang orang tua
justru tak acuh karena beranggapan, toh, cepat atau lambat anak akan bisa
berjalan dengan sendirinya. Padahal, "Pada anak yang tidak banyak mendapat
perhatian dari orang tua atau pengasuhnya, maka biasanya ia pun tidak banyak
mendapat stimulasi untuk aktif bergerak, dan ini bisa membuat
perkembangannya kemampuan jalannya jadi lebih lambat," sesal Fajar.

PENTINGNYA STIMULASI

Namun perlu disadari, perhatian saja tidak cukup bila tak disertai dengan
pemberian kesempatan. "Contohnya, anak yang selalu digendong sepanjang
hari, tentu tak punya banyak kesempatan untuk bergerak atau mencoba
berjalan, kan?"

Jadi biar bagaimanapun, anak harus diberi stimulus dan kesempatan untuk
belajar jalan. "Jangan karena tidak mau repot mengawasinya, bayi selalu
digendong ke mana-mana terus-menerus dan tidak diberi kesempatan untuk
mencoba berjalan sendiri," tambah Fajar.

Stimulus yang bisa diberikan oleh orang tua, misalnya, dengan menatih anak.
Hal itu bisa dilakukan begitu anak sudah bisa berdiri dan merambat. Mengapa
harus menunggu sampai sebesar itu? Karena maksud menatih hanyalah untuk
membantu menjaga keseimbangannya. Sementara berat badannya harus bisa
ditopang oleh kekuatan kakinya sendiri. Dengan begitu ia akan mendapat
stimulasi yang baik untuk belajar berjalan.

Sebaliknya, kalau acara tatih dipaksakan pada saat kaki anak belum bisa untuk
berdiri atau menopang berat badannya sendiri, hal ini akan berakibat kurang
baik bagi perkembangan selanjutnya. "Selain itu, bila ia sampai terjatuh cukup
keras, pengalaman ini bisa membuat anak jadi takut untuk mencoba berjalan,"
ungkap Fajar.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 144
Selama menatih, ajaklah anak bermain-main dengan berpegangan pada tangan
kita. Tarik badannya hingga ia berdiri. Bisa juga dengan mengajaknya
berpegangan pada pinggiran boks tempat tidur, atau pada kursi. Setelah itu,
ajaklah ia untuk mencoba melangkah sedikit-sedikit dari pegangan kita ke arah
orang lain, atau bisa juga dengan merambat mengelilingi tepi tempat tidurnya.
Jika memang ia belum mau mencoba berjalan, ajaklah ia bermain jongkok-
berdiri dulu, agar otot kakinya menjadi lebih kuat dan lebih siap sebelum ia
mencoba berjalan lagi.

Pada intinya, berilah kesempatan sebanyak-banyaknya pada anak untuk
mencoba berjalan di lantai. Jadi, jangan sampai ia terlalu lama didudukkan di
kursi atau boks tempat tidurnya. Juga selama menatihnya, biarkan ia
bertelanjang kaki tanpa sepatu. Sebab, tidak jarang sepatu yang masih baru
dan kaku malah akan membuat kakinya sakit saat mencoba berjalan.

Jika anak enggan latihan berjalan, bisa jadi hal itu disebabkan oleh kurangnya
rasa percaya diri. "Misalnya saja, ia pernah jatuh agak keras dan merasa sakit,
sehingga takut mencoba berjalan lagi," kata Fajar.

Untuk mengatasinya, pancing semangat anak dengan sikap gembira yang
ditunjukkan orang tua/pengasuhnya. Kalau perlu, gunakan mainan yang
menarik agar anak mau mendatanginya. Letakkan mainan itu agak di sebelah
atas sehingga ia perlu berdiri untuk menjangkaunya.

Dengan begitu, sedikit demi sedikit, ia akan tergerak untuk berani mencoba
berjalan sendiri, tanpa ditatih atau berpegangan, misalnya. Kalaupun sampai
terjatuh, jangan tunjukkan sikap panik di hadapannya. Perhatikan apakah ia
perlu ditolong saat itu juga atau bisa dibiarkan bangkit sendiri. Sikap panik
orang tua/pengasuh akan membuat rasa percaya diri anak terkikis.

BABY-WALKER TAK DIANJURKAN

Untuk mengasah kemampuan berjalan pada anak, sebetulnya cukup dengan
menatihnya kapanpun anak mau. Tak usah menggunakan baby-walker karena
sebenarnya penggunaan alat ini malah bisa memperlambat perkembangan
kemampuan berjalan. "Hanya saja hal ini kadang kurang dipahami orang tua,"
ujar Fajar.

Penggunaan baby-walker yang terlalu sering akan membuat perkembangan
motorik kasar, dalam hal ini duduk dan berdiri tanpa ditopang, menjadi
terlambat. Seperti yang terlihat, dengan baby-walker posisi duduk anak selalu
tersangga sehingga ia tidak cukup terlatih untuk menopang dirinya sendiri.
Selain itu, penggunaan baby-walker yang berlebihan juga dapat mengakibatkan
anak jalan berjingkat atau jinjit. Hal ini mungkin terjadi, karena ia terbiasa
bergerak maju sambil mendorong keretanya.

"Tapi bila memang tetap ingin menggunakan baby-walker, sebenarnya bisa saja
asalkan orang tua memperhatikan beberapa hal," pesan Fajar. Yang pertama,
baby-walker itu kuat menahan berat badan sang bayi. Juga, lihat apakah ada
bagiannya yang bisa membahayakan, misalnya pada konstruksi besi-besi




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 145
penyangga. Perhatikan bagaimana kestabilan baby-walker tersebut, jangan
sampai saat dipakai malah melipat sendiri dan membuat si kecil terjepit.

Jadi, penting sekali untuk mewaspadai kemungkinan terjadi kecelakaan dalam
menggunakan baby-walker. "Biasanya kecelakaan juga terjadi karena bayi
berusaha memanjat keluar. Akibatnya ia terjatuh bersama baby-walker itu."

Tak jarang pula, baby-walker terjatuh karena ada sesuatu yang
menyandungnya, seperti anak tangga atau permukaan lantai yang tidak rata.
Jadi, Bu-Pak, kalau, toh, mau menggunakan baby-walker, jangan pernah
tinggalkan si kecil sendirian tanpa pengawasan.




                     Fase Perkembangan Motorik

Kemampuan berjalan merupakan satu bagian dari perkembangan motorik kasar
pada bayi. Perkembangan motorik sendiri sebenarnya terdiri dari perkembangan
motorik kasar dan motorik halus. Perkembangan motorik kasar akan menjadi
dasar dari perkembangan motorik halus, dan secara garis besar perkembangan
motorik kasar itu meliputi tahapan-tahapan sebagai berikut:

1. Kemampuan telentang dari posisi tengkurap pada usia sekitar 3,5 bulan.
2. Kemampuan tengkurap dari posisi awal telentang pada usia sekitar 4-4,5
bulan.
3. Bisa duduk dengan ditopang punggungnya sendiri pada usia sekitar 5,5 bulan.
4. Bisa merayap pada usia sekitar 6 bulan.
5. Bisa duduk sendiri pada usia sekitar 7-8 bulan.
6. Bisa merangkak pada usia 8-9 bulan.
7. Bisa berdiri dengan berpegangan dan berjalan merambat pada usia 9-10
bulan.
8. Bisa berjalan tanpa berpegangan pada usia 12 bulan.
9. Bisa berjalan mundur pada usia 14 bulan.

Namun demikian, menurut Fajar, ada anak-anak yang mengalami "lompatan"
fase dalam tahap perkembangan motorik kasarnya. Misal, dari fase merayap,
seorang bayi bisa langsung berdiri, tidak melalui fase bisa duduk sendiri dulu.

Kalau memang ada fase yang terlompati, sebaiknya si kecil diperiksakan juga ke
dokter. Ini perlu untuk mencari tahu apakah ada sesuatu yang menyebabkan
fase itu terlompati, atau memang perkembangannya lebih cepat dari biasanya.
Contoh kelainan yang bisa menimbulkan lompatan fase, misalnya, gangguan
pada otot-otot punggungnya, atau tulang sekitar pinggul.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 146
  BILA UBUN-UBUN MENUTUP TERLALU
               CEPAT
Sekian lama orang tua khawatir kalau-kalau ubun-ubun bayinya tak kunjung
menutup. Malah ada yang berpikir makin cepat makin baik, padahal sebenarnya
proses menutup yang terlalu cepat bisa lebih berbahaya.

Sampai beberapa bulan setelah dilahirkan, tulang-tulang kepala bayi sebetulnya
belum menyambung satu sama lain. Namun letaknya telah tersusun
berdampingan secara rapi. Keadaan ini memungkinkan jaringan otak
berkembang menjadi lebih besar, karena terdapat ruang yang bisa mengikuti
besarnya otak.

Perlu diketahui, kepala bayi dibentuk oleh beberapa lempeng tulang, yaitu 1
buah tulang di bagian belakang (tulang oksipital), 2 buah tulang di kanan dan
kiri (tulang parietal), dan 2 buah tulang di depan (tulang frontal). Di antara
tulang-tulang yang belum bersambung itu terdapat celah yang disebut sutura.
Sutura-sutura ini ada yang membujur dan ada pula yang melintang. Nah, titik
silang celah-celah itulah yang membentuk ubun-ubun depan (besar) dan ubun-
ubun belakang (kecil).

"Ubun-ubun dan sutura-sutura ini normalnya menutup antara usia 6-20 bulan,"
kata dr. Irawan Mangunatmaja, Sp.A(K) dari Sub-Bagian Saraf Anak, Bagian
Ilmu Kesehatan Anak, FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Jadi, kalau
ternyata di bawah usia 6 bulan sutura tulang tengkoraknya sudah menutup,
bisa dikatakan menutup terlalu cepat. Jika masing-masing tulang sudah
bersambungan satu sama lain, biasanya ubun-ubun juga ikut menutup. Istilah
medis untuk penutupan sutura ini, craniosynostosis, berasal dari kata cranio
yang berarti tulang tengkorak, syn yang berarti bergabung, dan ostosis yang
artinya tulang.

Secara kasat mata, akibat proses penutupan tulang tengkorak yang kelewat dini
bisa dilihat melalui bentuk kepala yang tak normal. Ketidaknormalan ini terjadi
karena pertumbuhan kepala cenderung mengarah ke tulang yang suturanya
menutup belakangan. Ketidaknormalan bentuk itu tentu saja tampak berbeda-
beda, tergantung sutura mana yang menutup lebih dulu. "Sebagai contoh, kalau
sutura bagian depan sudah menutup lebih dulu, pertumbuhan kepala akan lebih
mengarah ke belakang, dan akibatnya kepala jadi panjul."

DETEKSI KELAINAN

"Sutura atau ubun-ubun yang sudah menutup bisa mulai diketahui dari
pemeriksaan yang dilakukan saat bayi baru lahir." Dokter yang menolong
persalinan biasanya dengan mudah bisa melihat kelainan itu. Ia akan curiga bila
kepala bayi tampak lebih kecil dibandingkan badan. Yang normal, kepala bayi
justru terlihat lebih besar daripada bagian tubuh lainnya karena keliling lingkar
luar kepalanya sama dengan keliling dadanya.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 147
"Inilah letak pentingnya mengukur lingkar kepala bayi pada saat ia lahir,"
tandas Irawan. Dengan begitu, bisa segera diketahui bila sudah ada
kecenderungan ubun-ubun menutup terlalu cepat. Pengukuran ini tentu saja
tidak hanya sekali, tapi terus dilakukan setiap bulan bersamaan dengan
pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Untuk mengetahui apakah ukuran lingkar kepala bayi normal atau tidak, dokter
berpatokan pada grafik lingkar kepala berdasarkan umur yang disebut grafik
Nellhaus. Dengan grafik ini, adanya kelainan pada ukuran lingkar kepala dan
proses pertumbuhannya bisa terdeteksi, baik jika kepala terlalu besar (misalnya
karena hidrosefalus) atau terlalu kecil, misalnya karena craniosynostosis.

"Selain itu, pemeriksaan bisa dilakukan dengan meraba ubun-ubun besar bayi,
apakah ukurannya normal atau tidak. Diameter ubun-ubun besar yang normal
berkisar antara 0,63,6 cm dan bila diraba akan terasa berdenyut karena
memang ada pembuluh darah di bawahnya," kata Irawan.

Pemeriksaan ubun-ubun dan lingkar kepala ini sebenarnya tidak sulit. Orang tua
pun bisa melakukannya di rumah. Lain hal dengan perabaan terhadap sutura
kepala bayi yang biasanya agak lebih sulit. Bagaimanapun, celah antar tulang
ini memang tak sebesar ubun-ubun.

Jika dari pemeriksaan ukuran dan perabaan kepala dicurigai ubun-ubun
menutup terlalu cepat, dokter akan memeriksanya lebih jauh dengan CT Scan.
Alat ini bisa memberi gambaran yang lebih jelas.

PENYEBAB DAN DAMPAK

Jika pada saat dilahirkan ubun-ubun bayi sudah menutup, maka kemungkinan
penyebabnya bisa merupakan kelainan bawaan atau infeksi selama kehamilan.
Di samping itu, craniosynostosis antara lain bisa juga disebabkan gangguan
perkembangan jaringan otak dan kelainan tulang seperti osteopetrosis
(pertumbuhan dan kepadatan tulang yang berlebihan).

Namun pada kebanyakan kasus, kelainan tulang hanya merupakan salah satu
dari beberapa kelainan yang ditemukan dalam sindrom-sindrom tertentu. Oleh
karena itu, dokter juga akan melihat, apakah kelainan pada ubun-ubun dan
tulang kepala ini merupakan satu-satunya kelainan, atau merupakan bagian dari
berbagai kelainan dalam sindrom tertentu. Kalau ternyata ada kelainan pada
organ lain, tentunya akan dilihat juga, bagaimana penanganannya secara
keseluruhan, tidak hanya kelainan di tulang tengkoraknya ini.

Sudah pasti, ubun-ubun yang menutup terlalu cepat akan menghambat
perkembangan otak bayi dan menimbulkan gangguan. Dengan kata lain, sel-sel
otak yang yang seharusnya berkembang malah tertahan oleh tulang
tengkoraknya sendiri. "Biasanya gangguan yang muncul berupa cerebral palsy,
atau kelumpuhan yang sifatnya kaku," tutur Irawan.

Kalau saja, penutupan yang terlalu cepat itu terjadi pada usia yang tidak jauh
dari batas normal (6-20 bulan), tentu kelainannya tak terlalu berat. Begitu pula
jika ubun-ubun yang menutup itu tak diikuti dengan penutupan sutura-sutura




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 148
lainnya, maka gangguan yang terjadi tentu akan lebih ringan daripada bila
ubun-ubun dan suturanya sama-sama sudah menutup.

Beda halnya jika proses penutupan tulang tengkorak berlangsung sejak ia baru
lahir atau berada di kandungan, proses keterhambatan perkembangan otaknya
tentu lebih lama sehingga gangguan yang timbul akan lebih banyak dan berat.
Artinya, manifestasi gangguan tumbuh kembang pada bayi yang bersangkutan
bisa berbeda-beda, tergantung pada bagian otak sebelah mana yang
perkembangannya terhambat, dan kapan terjadinya proses penghambatan atau
penutupan itu.

HARUS OPERASI

Jika memang diketahui suturanya sudah menutup, maka perlu dilakukan
tindakan operasi oleh dokter bedah saraf untuk melepas lagi sambungan
tersebut. Dengan begitu, diharapkan otaknya tetap bisa terus tumbuh dan
berkembang. "Ini satu-satunya cara untuk mencegah gangguan makin parah."
ujar Irawan. "Hanya saja, kadangkala walau sudah dioperasi, tulangtulang itu
bisa cepat menyambung lagi."

Pertimbangan untuk mengambil tindakan operasi, juga bergantung pada apakah
si bayi mengalami peningkatan tekanan intra kranial (dalam kepala). Jika
memang terdapat tanda-tanda peningkatan tekanan dalam kepala, maka
tindakan operasi harus segera dilakukan.

Tekanan bisa terjadi bila sutura kepala dan ubun-ubun sudah menyatu
sementara jaringan otak di bawahnya tetap berkembang dan bertambah besar
sehingga dalam rongga otak tak lagi tersedia ruang. Desakan yang terus-
menerus bahkan bisa sampai menimbulkan herniasi, yaitu ada bagian otak yang
terdorong keluar dari rongga otak ke arah dasar kepala. Pada anak, gejala
peningkatan tekanan dalam kepala ini bisa berupa muntah, lemas tak bertenaga
(letargi), dan matanya melotot. "Bahkan kalau sudah berat keadaannya, bisa
ada gangguan kesadaran," demikian Irawan memberi gambaran.

Sebaliknya, bila diketahui bahwa jaringan otak bayi yang bersangkutan tidak
lagi berkembang dan karenanya tak terjadi peningkatan tekanan intra kranial,
maka tindakan operasi tak dilakukan. "Manfaatnya tidak akan besar,"
komentarnya, "bahkan bisa jadi sutura di kepala dan ubun-ubun itu menutup
lebih cepat karena memang otaknya tak dapat tumbuh dan berkembang dengan
baik." Jika memang demikian yang terjadi, maka upaya penanganan harus
difokuskan pada terapi untuk mengatasi kerusakan atau gangguan
perkembangan yang telah terjadi.




                                      ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                 hal 149
  PEMBERIAN ASI : MENYEHATKAN IBU
Sekian lama masyarakat hanya tahu manfaat pemberian ASI untuk bayi.
Padahal, ibu pun banyak mendapat manfaat

Ya, besarnya manfaat ASI bahkan telah dikampanyekan oleh UNICEF (United
Nations Children's Fund) melalui Pekan Menyusui Sedunia atau World
Breastfeeding Week yang diselenggarakan setiap tanggal 1-7 Agustus.
Kampanye itu antara lain mengajak masyarakat di seluruh dunia, terutama
kaum ibu, untuk memberikan manfaat ASI kepada bayi serta mengenal manfaat
pemberian ASI bagi dirinya sendiri.

Barangkali, sebagian besar dari kita sudah menyadari bahwa secara garis besar,
bayi akan mendapat empat manfaat terpenting dari ASI, yaitu memberi nutrisi
terbaik, meningkatkan daya tahan tubuh, meningkatkan kecerdasan, dan tentu
saja sangat berguna dalam meningkatkan jalinan kasih sayang. Namun
sebaliknya, pengetahuan tentang manfaat menyusui bagi ibu belum banyak
yang tahu. Padahal, keyakinan ibu yang mantap akan manfaat ASI bagi bayi
dan dirinya sendiri akan menciptakan motivasi yang kuat. Dengan motivasi itu,
diharapkan ibu mau ngebela-belain menyusui anaknya.

SYARAT MENDAPATKAN MANFAAT

Ibu yang menginginkan manfaat optimal dari pemberian ASI, pertama-tama
harus paham bahwa untuk itu diperlukan dua syarat utama. Seperti dijelaskan
dr.Utami Roesli, Sp.A, MBA, IBCLC, yang juga Ketua Lembaga Peningkatan
Penggunaan Air Susu Ibu RS. Sint. Carolus, Jakarta, syarat pertamanya adalah
pemberian ASI harus dilakukan dengan baik sehingga terjadi keberhasilan
menyusui. Kedua, pemberian ASI harus dilakukan secara eksklusif paling sedikit
selama 4 bulan dan lebih baik lagi jika sampai 6 bulan.

Pemegang gelar konsultan laktasi, International Board Certified Lactation
Consultant (IBCLC) ini lantas menerangkan bahwa pemberian ASI yang baik
adalah yang sesuai kebutuhan bayi. Istilahnya on demand. "Kalau ASI diberikan
pada saat anak sudah menangis, sebenarnya itu sudah terlambat, karena sudah
kelamaan," katanya.

Jadi, keberhasilan menyusui harus diawali dengan kepekaan terhadap waktu
tepat saat pemberian ASI. Kalau diperhatikan dengan baik, sebelum sampai
menangis, bayi sudah bisa memberikan tanda-tanda kebutuhannya akan ASI.
Antara lain, berupa gerakan-gerakan memainkan mulut dan lidah atau
memainkan tangan di mulut.

Namun demikian, ketepatan waktu saja tidak cukup. Buktinya, tak jarang
kegagalan dalam menyusui masih terjadi. Jika hal itu terjadi, ibu jangan lekas
putus asa. Harus dipahami, kegagalan biasanya disebabkan teknik dan posisi
menyusui yang kurang tepat, bukan karena produksi ASI-nya yang sedikit. "ASI
sendiri sebenarnya tak pernah kurang, karena produksinya akan disesuaikan
dengan kebutuhan bayi. Bahkan, ada ibu yang produksi ASI-nya bisa sampai 2
liter per hari."




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                   hal 150
Kegagalan teknis menyusui bisa terjadi, misalnya karena bayi yang
bersangkutan penah menggunakan dot. Bagaimanapun, cara minum ASI secara
langsung dengan menggunakan dot berbeda sekali. "Dengan dot, susu sudah
akan keluar walau hanya ujungnya saja yang diisap. Sementara kalau menyusu
pada ibunya, bayi harus membuka mulut lebar-lebar. Nah, menyusui pada ibu
dengan cara seperti mengisap dot tak akan bisa mengeluarkan ASI dengan
baik," ungkap Utami.

Di luar itu, keadaan psikologis ibu juga harus menunjang karena pengaruhnya
terhadap keberhasilan atau kegagalan menyusui sangat besar. "Sering, kan,
dijumpai keadaan ibu yang terlalu khawatir bahwa dirinya tidak akan bisa
menyusui?" Padahal, sebenarnya dia tidak bermasalah. "Justru karena ia terlalu
khawatir, proses menyusui itu tidak berhasil. Padahal kalau ia yakin dirinya
dapat menyusui, tak akan ada masalah."

Tak jarang juga ibu merasa gagal karena bayinya hanya minum sedikit. Dalam
hal itu Utami mengingatkan, "Sebenarnya harus dilihat dulu, bagaimana
keadaan si bayi. Sebab pada keadaan tertentu ia memang tidak terlalu lapar,
hanya haus sedikit. Nah, pada saat ini tentunya ia tidak membutuhkan banyak
susu."

MENGHENTIKAN PERDARAHAN

Jika ibu dilanda kecemasan seperti itu, contoh akibatnya yang jelas antara lain
hormon oksitosin ibu tidak akan keluar. Padahal hormon ini merupakan salah
satu hormon yang berperan dalam proses produksi ASI. "Sebaliknya kalau ibu
merasa tenang, hatinya senang, hormon oksitosin bisa keluar dan bekerja
dengan baik."

Oksitosin berpengaruh dalam proses pengeluaran ASI dari kelenjar susu.
Adanya hormon ini akan membuat otot saluran ASI berkontraksi, sehingga ASI
dalam kelenjar susu bisa keluar ke ujung salurannya untuk kemudian diisap
bayi dengan mudah. Sebaliknya, selama ASI digunakan, produksi oksitosin pun
akan berlangsung terus.

Bagi ibu, manfaat oksitosin ini juga nyata. Selain mengerutkan otot-otot saluran
untuk pengeluaran ASI, hormon ini juga mengakibatkan otot-otot polos rahim
berikut pembuluh darahnya mengkerut. Efek ini akan bekerja maksimal jika
setelah melahirkan, ibu langsung mulai menyusui bayinya.

Dengan begitu, penyempitan pembuluh darah yang terbuka saat melahirkan
bisa dipercepat. "Hal ini jelas berdampak positif, karena perdarahan di rahim
bekas proses persalinan akan cepat terhenti. Kalau otot-otot di rahim
mengkerut, otomatis pembuluh darah yang terbuka itu akan terjepit sehingga
perdarahan akan segera berhenti," urai Utami.

Khusus di Indonesia, angka kematian ibu saat melahirkan sangat tinggi dan
salah satu penyebabnya adalah perdarahan setelah melahirkan. Padahal,
sebenarnya kalau ibu melakukan pemberian ASI dengan baik, kejadian
perdarahan bisa dikurangi dan risiko kematian bisa diperkecil. Pun, jika




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 151
perdarahan setelah melahirkan semakin cepat berhenti, risiko kekurangan darah
yang menyebabkan anemia pada ibu akan berkurang.

MENCEGAH KANKER DAN KEHAMILAN

Jika manfaat sebelumnya, yaitu peningkatan hormon oksitosin didasari oleh
keberhasilan menyusui, maka manfaat berikutnya, yaitu penurunan risiko
kanker pada ibu yang memberikan ASI secara eksklusif. "Bagaimana
mekanisme pemberian ASI ini bisa sampai mengurangi risiko kanker memang
belum bisa dipahami secara pasti," aku Utami, "Tetapi dari penelitian yang
dilakukan, didapat kenyataan yang jelas bahwa ibu yang memberikan ASI
secara eksklusif memiliki risiko terkena kanker payudara dan kanker ovarium
25% lebih kecil dibanding daripada yang tidak menyusui secara eksklusif."

Ada lagi manfaat pemberian ASI eksklusif, yaitu sebagai alat kontrasepsi
alamiah. Bahkan, seperti ditegaskan Utami, kemungkinannya untuk mencegah
kehamilan bisa mencapai 99 persen. Namun, untuk itu ibu harus betul-betul
memberikan ASI-nya secara eksklusif. Maksudnya, ASI diberikan kepada bayi
secara murni, tidak dicampur-campur atau bayi tidak diberi tambahan cairan
lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, maupun makanan lain
seperti pisang, bubur susu, biskuit, dan lainnya. ASI eksklusif ini diberikan
setidaknya selama 4 bulan, dan lebih baik sampai 6 bulan kalau memungkinkan.
Pun, fungsi kontrasepsi ini baru efektif bila selama memberikan ASI eksklusif
ibu juga belum mengalami menstruasi. Bila memang ibu sudah mengalaminya
setelah melahirkan, ya, acara menyusui ini tak lagi efektif mencegah kehamilan
berikut.

Sebetulnya, jika kedua persyaratan itu terpenuhi akan berlangsung mekanisme
di mana terjadi perubahan hormon reproduksi pada ibu yang mengakibatkan
terhentinya proses ovulasi atau pelepasan sel telur ke arah rahim. Jika tak ada
sel telur yang dilepaskan, tentunya proses pembuahan oleh sel sperma dari
pasangan tak akan bisa terjadi.

IBU LEBIH CEPAT PULIH

Begitu pula, ibu yang menyusui secara eksklusif ternyata lebih mudah dan lebih
cepat kembali ke berat badan semula seperti sebelum hamil. "Pada saat hamil,
badan bertambah berat, selain karena ada janin, juga karena penimbunan
lemak pada tubuh," papar Utami.

Cadangan lemak ini sebetulnya memang disiapkan sebagai sumber tenaga
dalam proses produksi ASI. Nah, dengan menyusui, tubuh akan menghasilkan
ASI lebih banyak lagi sehingga timbunan lemak yang berfungsi sebagai
cadangan tenaga akan terpakai. Logikanya, jika timbunan lemak menyusut,
berat badan ibu akan cepat kembali ke keadaan seperti sebelum hamil.

Jadi, banyak sekali, kan, manfaat menyusui yang bisa dipetik ibu selain bayinya?
Belum lagi, seperti dibilang Utami, dengan menyusui rahim akan lebih cepat
kembali ke posisi semula. Tentu saja hal ini menandakan pemulihan fisik ibu
yang nyata. So, mau tahu, apa yang bisa dilakukan jika fisik ibu sudah pulih?




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 152
Salah satunya, tentu saja hubungan seksual suami istri bisa cepat kembali
seperti sebelum hamil. Nah, menyenangkan, bukan?

                        Pijat Bayi Dan Lapar ASI

Pijat bayi, yang belakangan ini semakin diketahui manfaatnya, ternyata bisa
memperbanyak produksi ASI. Bagaimana hubungannya? Penelitian terhadap
bayibayi yang dipijat 2-3 kali setiap hari selama 10-15 menit menunjukkan
bahwa mereka mengalami penyerapan makanan yang lebih baik. Dengan begitu,
mereka lebih cepat lapar dan menyusu lebih sering.

Peningkatan konsumsi ASI oleh bayi pada akhirnya akan merangsang produksi
ASI menjadi lebih baik lagi. Selain itu, Utami mengatakan bahwa dengan
memijat bayi secara rutin, orang tua akan terlatih membaca bahasa tubuhnya
sehingga tahu saat yang tepat memberikan ASI. Saat terapi dilakukan dan bayi
merasa senang, ibu pun akan ikut merasa tenang. Ketenangan ini akan
membantu peningkatan produksi ASI pula.




                                      ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                 hal 153
          PENYAKIT JANTUNG BAWAAN


Salah satu tandanya bila saat menangis wajah si
kecil membiru. Atau, ia terlihat kelelahan saat
menyusu.

Orang tua sering salah duga jika melihat wajah
bayinya membiru saat menangis. Dipikirnya, si
kecil kelewat "bersemangat" menangis. Padahal,
itu pertanda kemungkinan anak menderita
penyakit jantung.

Secara garis besar, penyakit jantung pada anak dibagi dua. Yaitu penyakit
bawaan dan yang didapat. Bawaan karena penyakit sudah ada sejak bayi lahir
maupun ketika di kandungan. "Cuma manifestasinya tak selalu muncul sejak
lahir, kecuali kalau kelainannya tergolong berat," jelas dr. Najib Advani
Sp.A(K), MMed.Paed. dari Sub. Bagian Jantung Anak, Bagian Ilmu Kesehatan
Anak, FK Universitas Indonesia/RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

TAK SELALU BISA TERDETEKSI SEGERA

Yang jadi masalah, kelainan jantung ringan seringkali tak terdeteksi pada saat
bayi baru lahir dan baru ketahuan saat dikontrol ke dokter. Orang tua pun
bingung, "Kok, jadi begini? Waktu lahir, anak saya enggak apa-apa." Salah satu
contoh adalah kelainan sekat bilik jantung Ventricular septal defect atau VSD),
yang kadang baru ketahuan setelah bayi berusia 1-2 bulan.

Bahkan, kelainan jantung bawaan yang bisa langsung diketahui saat bayi lahir,
menurut Najib, tidak sampai separuhnya. "Pada saat anak baru lahir, seteliti
apa pun dokter memeriksa, kelainan pada bunyi jantung memang belum bisa
terdengar. Setelah usia 1-2 bulan, baru terdengar."

Penyebabnya sendiri, kata Najib, "Mayoritas tidak diketahui secara pasti."
Sebagian kecil memang sudah bisa diketahui. Misalnya kelainan yang disebut
sindrom Rubella, yaitu cacat bawaan berupa kelainan jantung, tuli, dan buta
karena katarak pada saat lahir (kongenital). Sindrom Rubella diakibatkan oleh
infeksi Rubella (campak jerman) yang dialami ibu saat hamil. Kelainan jantung
yang biasanya diderita adalah VSD atau PDA (patent ductus arteriosus).

Penyebab lainnya, walau agak jarang di Indonesia, biasanya karena kebiasaan
minum alkohol yang dilakukan ibu. Sebutannya fetal alcohol syndrome, di mana
bayi lahir kecil dengan disertai kelainan jantung bawaan. "Penggunaan obat-
obat tertentu juga bisa mengakibatkan kelainan jantung bawaan. Misalnya obat
anti kejang golongan trimetadion," lanjut Najib.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 154
GANGGUAN PERTUMBUHAN

Akan halnya kelainan jantung yang berat, sebagian bisa dideteksi langsung oleh
dokter saat bayi baru lahir. Namun kalau gejalanya tidak jelas, bisa saja
kelainan itu tak terdeteksi pada pemeriksaan pertama. Baru setelah di rumah,
orang tua menemukan tanda-tanda kelainannya. "Misalnya, orang tua curiga
ketika mengetahui detak jantung bayinya terdengar lebih keras dan lebih cepat
dibanding bayi lain."

Gejala lain yang kerap ditemukan ibu adalah bayi cepat lelah saat menyusu.
Bayi normal bisa menyusu langsung selama 5-10 menit. Sedangkan bayi
dengan kelainan jantung, baru 2-3 menit sudah berhenti untuk istirahat dulu.
Kecurigaan lain bisa timbul jika wajah dan jari-jari bayi gampang membiru.
Terutama kalau ia sedang menangis.

Kelainan jantung yang sampai mengganggu aliran darah, sudah tentu akan
mengakibatkan pertumbuhan tubuh tidak optimal. Apalagi jika kelainannya
berat. "Besar-kecilnya gangguan pertumbuhan, tergantung pada seberapa berat
kelainannya. Kalau ringan, gangguan pertumbuhan bisa tak tampak," jelas Najib.

Sebagai contoh, kelainan berupa VSD yang kecil, mungkin tak banyak
menimbulkan masalah. Tapi jika lubangnya besar, masalah pun jadi berat.
"Bahkan kadang kelainan jantung VSD ringan, baru diketahui saat umur anak
sudah belasan tahun dan selama itu tidak ada keluhan apa-apa."

TAHAP PEMERIKSAAN

Untuk mendiagnosa penyakit jantung bawaan, dokter perlu melakukan
beberapa tahapan pemeriksaan. Yang pertama, tentu saja pemeriksaan fisik
secara teliti pada jantungnya. Bila ada kecurigaan awal,dilakukan pemeriksaan
foto rontgen dada untuk melihat gambaran bentuk jantungnya. Bila diperlukan,
dilanjutkan dengan pemeriksaan EKG (Elektrokardiografi). "Untuk lebih
memastikannya, yang paling penting dilakukan adalah pemeriksaan dengan EKG.
Orang biasa menyebutnya USG untuk jantung."

Penanganan yang dilakukan dokter juga berbeda-beda, tergantung jenis
kelainannya. Untuk yang ringan semisal ASD dan VSD yang lubangnya kecil,
kadang malah bisa menutup sendiri. Untuk kasus seperti ini dokter biasanya
akan mengobservasi kemungkinan itu.

Sedangkan untuk kelainan letak pembuluh darah aorta yang disebut transposisi
arteri besar, begitu lahir bayi sudah langsung biru. Untuk kasus yang berat
seperti ini, jantung harus segera dioperasi. Bila tidak, biasanya dalam beberapa
hari bayi akan meninggal. "Yang kadang membuat keadaan lebih sulit adalah
bila kelainan jantung terlambat ditangani, hingga sudah terjadi gagal jantung.
Penanganannya jadi lebih kompleks," urai Najib.

Keadaan ini sering terjadi karena orang tua pasien tak memeriksakan anak ke
dokter atau tak mau menjalani pengobatan meski sudah tahu penyakit anaknya.
"Bahkan ada orang tua pasien yang tak mau percaya karena melihat anaknya
sehat-sehat saja."




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 155
TERAPI SEBELUM SUNAT

Jika anak diketahui punya kelainan jantung, selain perlu mengikuti petunjuk
pengobatan dari dokter, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Antara lain,
tingkat aktivitas sehari-hari. Anak dengan kelainan jantung yang agak berat, tak
boleh beraktivitas sampai lelah. Ini penting agar jantungnya tidak dipaksa
bekerja berat.

Patut pula diperhatikan risiko terkena infeksi kuman pada jantungnya. Oleh
karena itu, bayi dan anak yang memiliki kelainan jantung, bila akan menjalani
tindakan medis atau operasi kecil (tindik kuping atau disunat) harus diberi
terapi antibiotik dulu. Gunanya untuk mencegah masuknya kuman ke aliran
darah yang bisa memperparah risiko infeksi di bagian dalam jantung
(endokarditis). Jantung yang terinfeksi amat berbahaya, pengobatannya pun
mahal dan lama.

            Macam-Macam Kelainan Jantung Bawaan

Jantung normal terdiri dari 4 ruangan yang terpisah. Yaitu serambi kanan, bilik
kanan, serambi kiri, dan bilik kiri. Bilik kiri dan bilik kanan letaknya
bersebelahan,dipisahkan oleh dinding yang disebut septum. Demikian pula
serambi kiri dan kanan.

Pada keadaan normal, aliran darah kotor dari pembuluh darah balik (vena),
masuk ke serambi kanan jantung.Kemudian akan diteruskan ke bilik kanan
jantung dan dipompakan ke paru-paru melalui arteri pulmonalis untuk ditukar
dengan darah yang bersih yang banyak oksigennya. Dari paru-paru, darah
kembali ke jantung melalui vena pulmonalis, masuk ke serambi kiri, lalu ke bilik
kiri. Dari bilik kiri, darah yang bersih ini akan dipompakan ke seluruh tubuh
melalui aorta.

"Dari seluruh bayi yang lahir hidup, sekitar 0,8% - 1 %. mengidap penyakit
jantung bawaan. Dilihat dari kelainannya, kurang lebih terdapat 50 macam
penyakit jantung bawaan" terang Najib.

Yang paling sering adalah penyakit jantung yang disebut VSD, ASD, dan
tetralogi fallot. Berikut sedikit penjelasan tentang beberapa kelainan jantung
bawaan yang dikutip dari buku Ilmu Kesehatan Anak.

* Ventricular Septal Defect (VSD)

Kelainan jantung bawaan ini merupakan yang terbanyak dijumpai, mencapai 25
% dari seluruh kasus. Pada kelainan ini, terjadi kebocoran sekat pemisah
(septum) bilik kanan dan kiri.Akibatnya, sebagian darah yang dipompa dari bilik
kiri masuk kembali lagi ke bilik kanan. Walaupun sudah ada sejak lahir, kelainan
aliran darah ini biasanya tidak terjadi segera setelah lahir, melainkan setelah
minggu-minggu pertama kelahiran.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 156
* Atrial Septal Defect (ASD)

Kelainan jantung ini mirip seperti VSD, tetapi letak kebocoran di septum antara
serambi kiri dan kanan. Kelainan ini menimbulkan keluhan yang lebih ringan
dibanding VSD.

* Tetralogi Fallot

Ini merupakan kelainan jantung yang kompleks, terdiri atas 4 kelainan.
Kelainannya meliputi kebocoran septum antara bilik kanan dan kiri (ventricular
septum defect), penyempitan arteri pulmonalis (stenosis pulmonalis), posisi
pangkal pembuluh darah aorta yang ada di dekat septum bocor, dan penebalan
dinding bilik kanan. Kelainan bentuk jantung ini mengakibatkan darah yang
dipompakan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah aorta tercampur antara
darah kotor dan bersih. Akibatnya,penderita mudah membiru karena
kekurangan suplai darah bersih.

* Patent Ductus Arteriosus (PDA)

Pada kelainan jantung ini, didapatkan hubungan antara arteri pulmonalis dan
pembuluh darah aorta. Pada saat dalam kandungan, saluran ini memang ada,
tetapi seharusnya menutup saat bayi dilahirkan.

* Transposition of Great Arteries (TGA)

Posisi pembuluh darah aorta dan arteri pulmonalis terbalik, sehingga terjadi
kekacauan pertukaran darah kotor dan bersih dalam tubuh. Kelainan jantung
jenis ini sangat berbahaya dan 80 % menyebabkan kematian pada bayi. Untuk
menanganinya perlu dilakukan operasi segera.

                               Deteksi Pada Bayi

Untuk mendeteksi adanya kelainan jantung bawaan pada anak, menurut Najib
ada beberapa hal yang bisa diperhatikan dan menjadi kecurigaan awal orang
tuanya, yaitu:
- Bila bayi tampak tidak kuat menyusu. Normalnya bayi bisa menyusu 5-10
menit sekaligus. Pada bayi dengan kelainan jantung, biasanya lebih sebentar
dari itu, karena sudah keburu lelah.
- Perhatikan juga bila pada bibir dan ujung jari-jari bayi ditemukan warna
kebiruan. Warna kebiruan ini biasanya akan tampak makin jelas bila ia sedang
menangis.
- Bila detak jantung bayi terasa lebih keras/berdebar-debar dan lebih cepat dari
bayi lainnya.
- Bila ada tanda-tanda seperti itu, sebaiknya periksakan bayi ke dokter anak
atau sebaiknya ke dokter jantung anak, agar dapat ditangani segera sebelum
keadaan bertambah parah.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 157
                                Pencegahan

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko kelainan jantung
bawaan pada bayi. "Khusus untuk kelainan jantung karena Sindrom Rubella
sebenarnya bisa dicegah bila di saat kecilnya si ibu pernah diimunisasi MMR,"
kata Najib. Dengan imunisasi tersebut, seseorang diharapkan kebal terhadap
gondongan (mumps), campak (measles), dan campak jerman (rubella). Jika
sudah kebal, pada saat hamil nanti ia tidak akan terkena campak jerman, yang
bisa membuat cacat janinnya.

Pencegahan lain adalah menjaga kesehatan saat hamil. Jangan makan obat-
obatan sembarangan, hindari minuman beralkohol, dan lakukan pemeriksaan
kehamilan yang teratur. "Khususnya pada usia kehamilan trimester pertama,
saat sedang terjadi proses pembentukan organ-organ tubuh si bayi," pesan
Najib.

                         Yayasan Jantung Anak

Penyakit jantung bawaan pada anak, tidak jarang memerlukan tindakan
pengobatan berupa operasi jantung. Menurut Najib, di Indonesia sebenarnya
sudah cukup banyak dilakukan operasi jantung pada anak. Sayangnya, biaya
operasi masih cukup mahal dan belum banyak fasilitas kesehatan yang sanggup
menangani kasusnya. Padahal, sebenarnya banyak sekali pasien yang sangat
memerlukan pertolongan operasi.

Untuk mengatasi masalah ini, didirikan Yayasan Jantung Anak. Melalui yayasan
yang bertempat di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta ini, dilakukan pengumpulan
dana untuk membantu penderita yang membutuhkan bantuan biaya pengobatan.
Namun bantuan dana dari donatur yang dapat disalurkan yayasan ini masih
sangat kurang.




                                      ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                  hal 158
      BAYI BESAR BELUM TENTU SEHAT

Banyak orang beranggapan bayi yang lahir besar
pasti sehat dan gizinya baik. Padahal belum tentu,
lo.

"Berapa berat lahir si kecil, Bu?" "Empat koma
sepuluh kilo. Kecil-kecil sudah berat sekali dia."
"Wah hebat amat. Waktu hamil, makannya bagus,
ya, Bu. Enggak ada hambatan?"

Begitulah bunyi percakapan yang biasa berlangsung seputar berat lahir bayi
(BLB). Jika mencapai di atas 4000 gram, si kecil dianggap bayi super. Adapun di
dunia medis, seperti diterangkan dr.Rulina Suradi Sp.A(K), dari Sub-Bagian
Neonatologi, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI/RSCM, Jakarta, bayi dengan
berat lahir lebih dari 4000 gram disebut bayi besar. Istilah ini dipakai tanpa
memandang berapa usia kehamilan sang ibu saat ia dilahirkan.

BISA NORMAL BISA TIDAK

Menurut Rulina, bayi besar secara garis besar dibedakan menjadi dua, yaitu
yang normal dan tak normal. Disebut bayi besar normal jika berat tubuh yang di
atas rata-rata itu memang disebabkan ada faktor keturunan atau genetik.
Contoh, dalam garis keturunan keluarga terdapat beberapa anggota yang besar-
besar postur tubuhnya.

Sedangkan yang disebut tak normal jika peningkatan bobot tubuhnya
disebabkan ada beberapa gangguan. Paling sering karena ibunya mengidap
penyakit gula selama kehamilan. Namun, yang dimaksud di sini adalah penyakit
gula atau diabetes melitus yang tak terkontrol. Penyebab lain ada tapi jarang,
misal, karena kelainan bawaan, seperti ada tumor sejak di kandungan, atau
kelainan metabolisme lainnya. Pada keadaan ini, kelainan biasanya terjadi di
beberapa organ atau sistem tubuh sekaligus, hingga sifatnya kompleks sekali.

Bayi besar dari ibu hamil dengan kadar gula tinggi, terjadi karena aliran darah
ibu yang banyak mengandung gula itu mencapai tubuh janin melalui plasenta.
Namun, hormon insulin ibu yang bertugas mengolah gula darah ternyata tak
bisa melewati plasenta. Akibatnya, kadar gula dalam darah janin ikut tinggi.
Sebagai proses adaptasi terhadap kadar gula yang tinggi ini, tubuh bayi akan
secara otomatis memproduksi hormon insulin dalam kadar yang juga tinggi
hingga bisa diolah menjadi asupan kalori yang tinggi. Tak heran, tubuh bayi pun
tumbuh lebih besar dari biasanya.

RISIKO KOMPLIKASI

Meski disebabkan faktor keturunan, ukuran janin yang besar pada saat
kelahirannya akan menghadapi banyak risiko. "Yang jelas, persalinan jadi lebih
sulit," kata Rulina. Biasanya prosesnya memerlukan tindakan medis tertentu.
Misal, perlu dibantu dengan menggunakan alat dan cara khusus berupa




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 159
ekstraksi cunam (forsep) atau ekstraksi vakum. Bahkan seringkali juga harus
dilakukan persalinan dengan operasi sesar. Nah, dengan ada tindakan
tambahan dalam persalinan ini, termasuk operasi sesar sekalipun, maka terjadi
peningkatan risiko komplikasi dalam persalinan.

Kalau bayi besar ini dilahirkan melalui jalan lahir biasa (per vaginam),
komplikasi yang perlu diwaspadai adalah gangguan kemajuan proses persalinan
karena ia tak bisa melewati jalan lahir. Proses persalinan bisa jadi macet, dan
ini berbahaya bagi si bayi. Kalau persalinan terpaksa dilakukan dengan tindakan
ekstraksi vakum, risiko komplikasi yang mungkin adalah terjadi kerusakan kulit
kepala atau kalau parah bisa terjadi perdarahan pada kepala bayi.

Sedangkan kalau persalinan dilakukan dengan bantuan ekstraksi cunam, risiko
komplikasi yang mungkin, misal, terjadi perlukaan di wajah si bayi. Pada
keadaan yang parah, bahkan bisa terjadi gangguan persarafan di wajahnya,
karena saraf yang ada di wajah tertekan ekstraktor cunam.

Karena berbagai risiko komplikasi inilah, kalau memang bayinya sudah diketahui
besar dan keadaannya memungkinkan, proses melahirkan dianjurkan melalui
cara operasi saja. Namun, tak berarti risikonya tidak ada, lo, sebab cara ini pun
sebenarnya bisa mengundang komplikasi juga.

BISA HIPOGLIKEMIA

Khusus pada bayi besar dari ibu yang menderita penyakit gula saat hamil, ada
keadaan khusus yang perlu diwaspadai. Seperti sudah dijelaskan tadi, sejak
menjadi janin ia terbiasa dengan asupan darah berkadar gula tinggi dari ibunya.
Bahkan, ia juga beradaptasi dengan menghasilkan hormon insulin ekstra.

"Nah masalahnya, setelah dilahirkan ia tak lagi mendapat aliran darah dari
ibunya, bersamaan dengan diputusnya tali pusat. Padahal, tubuhnya sudah
terbiasa membentuk insulin yang tinggi," ungkap Rulina. Keadaan ini akan
mengakibatkan hipoglikemia, yaitu bayi mengalami kekurangan gula darah.
Keadaan ini berbahaya bagi keselamatan bayi. Karena itulah, bayi besar yang
baru lahir perlu dipantau secara ketat kadar gula dalam darahnya. Jika
kadarnya agak rendah, dokter yang menangani biasanya akan memberikan
infus gula dalam bentuk glukosa.

Selain hipoglikemia, bayi besar dari ibu yang menderita sakit gula juga sering
mengalami gangguan pernapasan saat baru lahir. Penyebabnya bisa trauma
saat dilahirkan, atau fungsi paru-paru yang belum benar-benar matang. Kadar
gula dan insulin yang tinggi pada saat bayi di kandungan diduga punya
hubungan dengan terhambatnya proses produksi hormon surfaktan. Sementara,
hormon inilah yang bertugas mengatur pematangan fungsi paru-paru itu.

Dokter kandungan biasanya juga menganjurkan agar bayi besar dilahirkan
sebelum masa kehamilan mencapai 38 minggu. Berdasarkan penelitian, bila
kandungan bayi besar ditunggu sampai benar-benar cukup bulan (40 minggu),
maka risiko terganggunya keselamatan si bayi malah makin tinggi.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 160
Kekurangsempurnaan fungsi organ paru menyebabkan gangguan penyaluran
oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Sebagai konsekuensinya, ada beberapa
organ yang tak berfungsi normal, contohnya, organ saluran cerna. Hal ini tentu
saja akan mempengaruhi proses adaptasi pascalahir sang bayi.

Jika diberikan asupan melalui mulut, sementara saluran cernanya tak dapat
bekerja dengan baik, maka bisa terjadi komplikasi berupa perlukaan dan
peradangan saluran cerna (necrotizing entero colitis). Oleh karena itulah, bayi
besar yang baru lahir biasanya dipuasakan dahulu selama 1-2 hari untuk
menilai bagaimana fungsi ususnya. Bila memang baik, tak ada masalah,
pemberian asupan susu melalui mulut bisa dilakukan.

"Jadi secara garis besar, bayi ini pada hari-hari pertamanya harus diawasi
secara ketat," ujar Rulina. Jika semuanya bisa berfungsi dengan baik, dan kadar
gula dalam darahnya bisa dibuat stabil, baru ia boleh dibawa pulang.

Jadi, Bu-Pak, bayi yang lahir dengan ukuran besar belum tentu sehat-sehat saja,
lo. Justru harus ekstra hati-hati dengan berbagai kemungkinan penyebab dan
komplikasinya.

CENDERUNG DATAR

"Setelah pulang dari rumah sakit, idealnya bayi besar kontrol lagi ke dokter
paling tidak seminggu kemudian. Sesudah itu 1 kali sebulan, kecuali jika ada hal
khusus yang perlu diperhatikan," pesan Rulina. Jadi jangan kalau mau
divaksinasi saja baru kontrol ke dokter lagi.

Harap diketahui, kenaikan berat badan bayi besar lazimnya lebih lambat
dibanding bayi dengan BLB normal. "Jadi kalau dilihat grafik pertumbuhannya,
akan terlihat garis yang lebih mendatar daripada grafik pertumbuhan bayi lain.
Bahkan, pada suatu waktu nanti, berat badannya akan jadi sama saja dengan
anak lain yang berat lahirnya lebih rendah."

Hal itu disebabkan asupan gula darah yang tinggi sudah berhenti sejak bayi
lahir, dan kadar insulin di tubuhnya lama-lama akan menyesuaikan lagi dengan
keadaan normal. Lamanya adaptasi ini kurang lebih 1-2 minggu. Jadi untuk
selanjutnya, besar badan anak akan biasa saja. Jika memang ada yang jadi
lebih besar, sebenarnya faktor keturunanlah yang lebih berperan.

Di samping itu, bayi besar juga memiliki pola makan yang tak berbeda dengan
bayi atau anak lain yang normal. Memang, kadang muncul kekhawatiran dari
sebagian ibu, bahwa kebutuhan makanan bayi seperti ini tak akan tercukupi
hanya dengan ASI. "Sebenarnya soal kecukupan makanan ini tak perlu
dikuatirkan, sebab tetap akan terpenuhi oleh ASI yang diberikan," sanggah
Rulina.

ASI yang diberikan sudah pasti cukup, karena sebenarnya jumlah produksi ASI
akan menyesuaikan dengan jumlah ASI yang diisap si bayi. "Bahkan ternyata,
menyusui ini berguna pula dalam pengontrolan kadar gula darah ibu yang
menderita penyakit gula. Ini bisa terjadi karena proses produksi ASI ternyata
mengeluarkan energi yang cukup besar."




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 161
                Periksa Kehamilan Dan Kontrol Gula

Dokter kandungan biasanya bisa mengetahui apakah ukuran bayi termasuk
besar, misal, melalui pemeriksaan USG. "Kalau sejak kehamilan hal itu sudah
bisa diketahui, maka bisa dilakukan persiapan-persiapan kelahiran dengan lebih
baik sehingga risiko komplikasi bisa diminimalkan," papar Rulina.

Yang penting juga, tambahnya, adalah pemeriksaan gula darah pada saat
kehamilan. Jikapun tak ada riwayat penyakit gula, pemeriksaan sebaiknya tetap
dilakukan. Tanpa pemeriksaan ini, seorang ibu sulit mengetahui bahwa bayinya
berisiko menjadi besar. Di sinilah pentingnya kontrol ke dokter selama
kehamilan.

Perlu diingat, penyakit gula pada ibu hamil, ada dua macam. Pertama, yang
memang sudah ada sebelum hamil. Kedua, yang baru muncul pada saat
kehamilan atau disebut gestational diabetes melitus. Keduanya memiliki
prosedur penanganan yang sama. Sebab, walaupun ibu menderita penyakit gula,
tapi kalau kadarnya bisa dikontrol dengan baik, janinnya akan tumbuh normal,
dan tak mengalami komplikasi apa-apa.

                   Pengkategorian Berat Lahir Bayi

Bayi baru lahir, berdasarkan berat badannya, dapat dibagi menjadi 3 kategori.
Ia masuk kategori bayi normal, jika saat dilahirkan berat badannya berkisar
antara 2500-4000 gram. Jika beratnya kurang dari 2500 gram, ia masuk
kategori bayi dengan berat lahir rendah. Sementara jika beratnya lebih dari
4000 gram, ia masuk kategori bayi besar.

Pengkategorian bayi baru lahir juga bisa dilakukan berdasarkan masa kehamilan.
Ia disebut bayi kurang bulan jika lahir di saat umur kehamilan kurang dari 37
minggu. Kalau kelahirannya berlangsung pada umur kehamilan antara 37-41
minggu, barulah ia disebut bayi cukup bulan. Lebih dari 42 minggu, maka ia
masuk kategori bayi lebih bulan.

Nah, berdasarkan usia kehamilan ini, berat badan bayi akan dicocokkan dengan
berat badan normal menurut kurva Lubchenko yang merupakan hasil penelitian
selama lebih dari 30 tahun. Dari situ bisa didapat lagi 3 kategori berat pada tiap
kategori usia kehamilan. Kategorinya adalah kecil untuk masa kehamilan, sesuai
masa kehamilan, dan besar untuk masa kehamilan. "Jadi kalau melihat unsur
usia kehamilan dan berat badannya akan ada 9 kategori," kata Rulina.

Sebagai contoh, bila bayi dilahirkan dalam usia kehamilan 36 minggu, dan berat
badannya 3500 gram, ia dikategorikan "bayi kurang bulan, besar untuk masa
kehamilan". Disebut begitu karena ia lahir pada saat umur kehamilan kurang
dari 37 minggu, sedangkan karena beratnya mencapai 3500 gram, ia termasuk
besar untuk masa kehamilan. Yang normal, pada usia kehamilan 36 minggu itu
beratnya berkisar antara 2000-3250 gram.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                       hal 162
 MENGENAL BRONKIOLITIS PADA BAYI


Saat si bayi sakit batuk dan pilek, perhatikan
apakah napasnya sesak dan cepat. Jika ya, besar
kemungkinan ia terkena bronkiolitis.

Saat si bayi sakit batuk dan pilek, perhatikan
apakah napasnya sesak dan cepat. Jika ya, besar
kemungkinan ia terkena bronkiolitis.

Bronkiolitis adalah peradangan pada bronkiolus, yaitu cabang saluran napas
yang paling kecil dan paling ujung, yang bersambungan dengan alveolus
(jaringan paru). "Biasanya, bronkiolitis didahului infeksi saluran napas atas akut,
misal, batuk pilek biasa. Proses perjalanan dari batuk pilek biasa hingga
menjadi bronkiolitis memakan waktu antara 3-10 hari," papar dr. Darmawan
B.S. Sp.A, dari Sub-Bagian Pulmonologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak
FKUI/RSUPN CM, Jakarta.

Menyoal penyebab bronkiolitis, berdasarkan referensi ilmu kedokteran,
dikatakan, utamanya adalah virus. Adapun yang paling banyak menyerang
adalah Respiratory Syncytial Virus atau biasa disingkat RSV. Di Indonesia,
ungkap Darmawan, pernah dilakukan studi untuk mengetahui secara persis
kuman yang paling sering menyebabkan bronkiolitis. Namun karena
kemampuan diagnostik di sini terbatas, belum dapat diambil kesimpulan secara
akurat.

MIRIP PNEUMONIA

Sayangnya, kita tak mudah mengenali apakah si kecil menderita bronkiolitis
atau tidak. Terlebih, penyakit ini pun sulit dibedakan dengan pneumonia
(radang paru). "Bahkan, dokter saja sering kesulitan membedakannya," ujar
Darmawan.

Masalahnya, sistem pernapasan merupakan satu kesatuan; dari hidung hingga
jaringan paru (dari hidung, faring, laring, trakea, bronkus, bronkiolus, dan
alveolus). Hingga, infeksi di suatu tempat, biasanya akan membuat daerah
sekitarnya terkena juga.

Pada pneumonia, yang terkena infeksi adalah adalah alveolus. Nah, di dekat
jaringan paru ini terdapat ujung dari saluran napas yang kecil sekali, namanya
bronkiolus. Karena letaknya sangat berdekatan, tentunya bila salah satu
meradang, sebelahnya akan terkena juga. Inilah yang menyebabkan gejalanya
jadi sulit dibedakan.

Yang jelas, pada bronkiolitis terdapat gejala khusus, yakni timbul mengi dan
waktu yang diperlukan untuk mengeluarkan napas jadi lebih panjang. Istilah




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                       hal 163
medisnya, ekspirasi memanjang. Selain itu, dari segi umur juga dapat
dibedakan, yakni bronkiolitis hanya terjadi pada bayi atau anak yang masih
sangat kecil. Perbedaan lain, pneumonia bisa disebabkan virus, bisa juga bakteri.

NAPAS CEPAT DAN SESAK

Untuk itu, saran Darmawan, yang penting orang tua harus memperhatikan jika
bayinya sakit batuk pilek dengan disertai demam; apakah napasnya tampak jadi
sesak atau frekuensinya jadi cepat? "Kalau ya, harus segera dibawa ke dokter
untuk diperiksa lebih lanjut."

Adapun cara mengetahui cepat-tidak frekuensi napas si kecil, "Kita bisa
menghitung apakah dalam satu menit penuh frekuensinya sudah melebihi batas
normal." Sebagai patokan, bayi di bawah 2 bulan, tarikan napasnya 60 kali per
menit; antara 2 bulan sampai 1 tahun, frekuensinya 50 kali per menit; di atas 1
tahun menjadi 40 kali per menit. Jadi, bila si kecil berusia antara 2 bulan-1
tahun dan frekuensi napasnya 60 kali per menit, harus diwaspadai kemungkinan
infeksi saluran napas bawah (bronkiolitis atau pneumonia).

Sementara, napas yang sesak bisa dilihat dari cuping hidung si kecil yang
tampak kembang kempis. Atau yang lebih jelas, saat bernapas, dinding dadanya
tertarik ke dalam (dalam bahasa medis disebut retraksi subkostal atau chest
indrawing). Gangguan napas ini tak boleh dianggap sepele. Sebab, kalau
kondisinya berat, bayi bisa jadi biru. Malah yang parah bisa berakibat kematian.

Itulah mengapa, bayi yang menderita bronkiolitis biasanya harus dirawat
sampai sekitar 1 minggu. Si kecil boleh pulang dari rumah sakit bila sesak dan
demamnya tak ada lagi, dan ia pun bisa makan seperti sedia kala.

"Dalam perawatannya ini, karena dokter pun sulit membedakan antara
pneumonia dengan bronkiolitis, maka sulit pula membedakan apakah
penyebabnya bakteri atau virus. Karena itu, dalam terapinya diberikan pula
antibiotik." Terapi lain yang juga penting adalah yang bersifat menunjang, misal,
pada saat akut, anak yang kekurangan oksigen akan segera diberi oksigen. Jika
ia panas tinggi, tentu diberikan obat penurun panas.

SAAT TEPAT KE DOKTER

Umumnya, bronkiolitis dapat disembuhkan dengan tuntas asalkan penderita
segera dibawa ke dokter sebelum infeksinya meluas dan menjadi berat. Di
sinilah pentingnya kewaspadaan orang tua bila anaknya sakit batuk pilek.

Lantas, kapan saat tepat membawa si kecil ke dokter? "Bila sakit batuk-pileknya
tak sembuh-sembuh juga dalam 2-3 hari, setelah dicoba diobati sendiri. Kecuali,
jika baru 1 hari sudah ada tanda-tanda seperti demam tinggi, lalu napasnya
sesak atau cepat, ya, jangan ditunda lagi," papar Darmawan.

Akan halnya demam, perlu dipahami bahwa walaupun biasanya ada, demam ini
tak selalu muncul. Demam, kan, sebenarnya merupakan respon tubuh saat
melawan infeksi yang terjadi. Nah, ketika tubuh terlalu lemah untuk melawan




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 164
infeksi, bisa saja tak terjadi demam. Ini terutama dialami bayi-bayi yang masih
sangat kecil, yang daya tahannya memang masih sangat lemah.




                           Tindak Pencegahan

Menurut Darmawan, sampai saat ini belum ditemukan upaya spesifik untuk
mencegah bronkiolitis, misal, dengan vaksinasi tertentu. "Jadi, paling tidak,
pencegahannya sama saja dengan mencegah penyakit lain secara umum."
Antara lain:

1. Tingkatkan daya tahan tubuh.

Yang pertama dan paling penting adalah dengan upaya meningkatkan daya
tahan tubuh seoptimal mungkin. Apalagi jika penyakitnya memang disebabkan
virus, maka kunci penyembuhan ada pada daya tahan tubuh sendiri. Tak lain,
karena infeksi virus biasanya bersifat self-limiting (sembuh sendiri).

2. Jauhi orang sakit.

Jangan biarkan bayi berdekatan atau bersentuhan dengan orang yang sedang
sakit. Bagi orang dewasa, batuk pilek ringan bisa jadi tak terlalu mengganggu.
Namun ia lupa penyakitnya bisa menulari orang di sekitarnya, terutama bayi.
Jadi, ingat, ya, Bu-Pak, kalau sedang batuk pilek, jauh-jauh dulu dari si kecil.
Untuk ibu, jika harus menyusui, pakailah masker penutup hidung dan mulut.

3. Hindari bepergian ke tempat umum.

Tak jarang orang tua mengajak bayinya berjalan-jalan ke mal, pertokoan, atau
tempat umum lainnya. Sebenarnya, kegiatan ini seperti "cari penyakit" saja bagi
si kecil. Masalahnya, di tempat-tempat umum seperti mal atau pertokoan
terdapat banyak kuman penyakit. Dengan demikian, si bayi bisa saja tertular
dari orang dewasa yang tak tampak sakit atau sakitnya ringan.

Perlu diketahui, penularan RSV yang melalui udara disebarkan ketika orang
yang terinfeksi bersin-bersin. Saat itu penderita menyemburkan butiran air liur
halus (droplet) yang mengandung virus, lalu virusnya berterbangan di udara
yang kemudian bisa terhirup oleh bayi. Jadilah si kecil terpapar oleh infeksi
kuman tersebut.

Jadi, Bu-Pak, jika ingin jalan-jalan ke tempat umum, lebih baik si bayi tak
dibawa serta. Jika tak ada pengasuh di rumah, titipkan sementara ke orang tua
atau saudara lain yang tak sedang terinfeksi penyakit menular. Lagi pula, si bayi
belum bisa menikmati acara jalan-jalan ke mal, kan?

                          Tak Hanya Pada Bayi

Ternyata, bronkiolitis juga bisa diderita oleh anak yang agak besar atau bahkan
dewasa. Hanya saja, bronkiolitis pada mereka biasanya tak memberikan




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 165
keluhan. Pun pada orang dewasa yang mengalami radang paru hampir pasti
mengalami bronkiolitis, tapi tak tampak gejalanya secara khusus. "Ini terjadi
karena saluran napas mereka relatif besar, hingga saat meradang pun masih
bisa dilalui udara pernapasan," jelas Darmawan. Berhubung tak terjadi
penyumbatan, maka tak ada keluhan khusus. Beda dengan bayi, karena dia
masih sangat kecil, bila bronkiolusnya meradang, akan terjadi penyumbatan
aliran udara. Inilah yang menyebabkan mengi dan ekspirasi memanjang.




                                      ***




    ANEKA KESALAHAN SAAT MEMBERI
            MAKANAN BAYI

Mungkin orang tua tak menganggapnya sebagai hal penting. Padahal, jika
tahapan pemberian makan tak dijalankan secara benar, bisa membuat anak
sakit.

Saat baru lahir, bayi belum bisa makan karena ia baru belajar dan organ
pencernaannya belum siap untuk mencerna makanan biasa. Karena itu,
memberinya makanan harus melalui tahapan tertentu. Misal, 4 bulan pertama
kehidupannya, ia hanya memperoleh nutrisi dari ASI, plus susu formula jika
memang diperlukan. "Baru setelah itu, ia diperkenalkan dengan makanan padat,
dari bubur susu lalu makin lama makin meningkat sampai nasi setelah ia
berusia setahun," kata dr. Budi Purnomo, Sp.A, yang berpraktek di RSAB
Harapan Kita, Jakarta.

Toh, pada kenyataannya, masih banyak orang tua yang kurang paham akan hal
tersebut meski sudah dijelaskan dokter. Yang diterapkan justru pola yang ada
dalam keluarga dan sudah turun-temurun dilakukan. Padahal, risikonya tak
sedikit jika bayi diberi makanan tanpa melalui tahapan yang seharusnya.
Berikut sejumlah kesalahan yang sering dilakukan orang tua.

1. TERLALU CEPAT MEMBERI MAKANAN PADAT

Harusnya, baru di usia 4 bulan bayi mulai diberi makanan padat. Yang banyak
terjadi, belum lagi umur 4 bulan, bayi sudah diberi makanan padat semisal
pisang atau nasi. Padahal, "Bisa menyebabkan gangguan di usus. Misal,
ususnya tersumbat atau melintir."

Budi menjelaskan, dinding dalam usus berisi jonjot-jonjot usus yang di
dalamnya berisi enzim dengan fungsi mengolah makanan yang masuk ke dalam




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                  hal 166
saluran usus. "Bayi usia 4 bulan biasanya masih sedikit enzimnya. Jonjotnya
juga belum sempurna." Alhasil, makanan padat yang masuk tak diolah. "Cuma
memberi rasa kenyang tapi tak diserap, karena enzim yang bertugas mencerna
masih kurang."

Nah, kalau keadaannya parah, bisa terjadi perforasi alias kebocoran usus.
Bahkan, bisa pecah karena makanan padat menumpuk dan tak bisa hancur di
usus.

2. DIBERI SUSU MELULU

Yang juga banyak terjadi, anak hanya diberi susu karena tak mau makan.
Padahal, menunda pemberian makanan padat jika memang sudah waktunya,
tak baik bagi sistem pencernaan anak. Bisa bisa, jonjot-jonjot ususnya tak
terangsang untuk berkembang.

Padahal, kalau kurang dirangsang, lapisan jonjot akan tetap tipis bahkan
mungkin "gundul". "Masalahnya, lapisan jonjot-jonjot usus yang tipis ini akan
mempengaruhi ketahanan anak. Kalau ususnya terkena infeksi, akan mudah
habis dan makin terkikis."

Patut juga diingat, jika anak sudah besar hanya diberi susu, kecukupan gizinya
tak akan terpenuhi dengan baik. Makin besar bayi, kebutuhan asupan
makanannya juga makin besar, bukan?

3. SALAH MEMBERIKAN SUSU

Secara garis besar, susu formula dibagi dalam 2 jenis, yaitu susu formula
pemula (starting formula) dan lanjutan (follow-up formula). Susu formula
pemula sebenarnya hanya diberikan kepada anak-anak yang tak mendapat ASI.
Bisa karena ASI tidak keluar atau sang ibu memiliki masalah lain. Namun yang
terbaik tetaplah ASI.

Apa efeknya bila susu formula untuk anak di atas usia setahun diberikan pada
bayi? Yang jelas, kandungannya berbeda. Umumnya berupa susu full cream
yang banyak mengandung laktosa. Sementara tubuh bayi baru menghasilkan
enzim untuk mencerna laktosa mulai usia 4 bulan. Alhasil, susu tak tercerna
dengan baik dan bisa membuat si kecil diare. Sebaliknya, kalau di atas usia
setahun masih diberi susu pemula, asupan gizi jadi kurang karena susu pemula
adalah susu formula yang diencerkan.

4. JALAN PINTAS VITAMIN

Orang tua pasti ingin memberi gizi terbaik bagi anaknya. Yang terjadi, sebagai
jalan pintas, anak diberi aneka vitamin. Begitu juga kalau anak tak punya nafsu
makan, dijejali macam-macam vitamin. Padahal, vitamin tak mutlak diberi jika
makannya sudah cukup. "Kalau asupannya dirasa kurang, boleh-boleh saja
dikasih vitamin," kata Budi.

Kendati boleh memberi vitamin sebagai penambah nafsu makan, "Tetap harus
dicari penyebabnya, kenapa anak tak doyan makan. Jangan terus-terusan




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 167
dikasih vitamin." Masalahnya, anak, apalagi bayi, sulit makan karena berbagai
penyebab.

Bayi usia 4 bulan yang baru dikenalkan makanan padat, misal, tentu perlu
waktu lama untuk beradaptasi. Belum lagi pencernaannya juga baru belajar
mencerna makanan dan si bayi juga baru belajar mengunyah serta menelan.
"Jadi, teliti dulu, benarkah ia tak nafsu makan atau karena ada masalah lain
yang berhubungan dengan proses mencernanya. Misal, ia memang belum
terampil menelan atau tak suka rasa makanannya."

Pemberian vitamin yang berlebihan memang tak memberi efek samping yang
buruk. Toh, kelebihan itu akan dibuang secara otomatis jika tubuh sudah
merasa kebutuhannya tercukupi. "Tapi tetap saja harus hati-hati. Soalnya,
kebanyakan vitamin bisa membuat bayi diare," ingat Budi.

5. MEMAKAI BUMBU TAMBAHAN

Kalau jumlahnya tak terlalu banyak, masih bisa ditolerir asal tujuannya
mengenalkan aneka rasa pada anak. Kaldu dan kecap juga boleh diberikan agar
ia mengenal berbagai rasa. Tentunya setelah Si kecil usia 6-7 bulan, atau
setelah ia boleh mengkonsumsi nasi tim.

6. PEMBERIAN TELUR MENTAH

Banyak orang tua meyakini, telur mentah bisa menambah daya tahan bayi.
Padahal, justru berisiko, lo. Masalahnya, kita tak tahu persis, seberapa bersih
telur. Jangan-jangan malah sudah terkontaminasi banyak kuman. "Untuk bayi
dan anak, sebaiknya rebus telur sebelum diberikan. Daya tahan anak kecil
masih rentan untuk melawan kuman," ungkap Budi.

7. MENU TAK SEIMBANG

Ini juga amat sering terjadi. Mentang-mentang anak suka bubur, orang tua
memberinya terus-menerus tanpa variasi. Padahal, seperti dijelaskan Budi,
antara karbohidrat, lemak, protein, buah, dan sayuran harus diberikan secara
seimbang. Variasi makanan juga penting agar si kecil mengenal berbagai rasa
dan tekstur makanan.

8. TAK BERSIH

Masalah yang satu ini juga sering dianggap enteng. Padahal, daya tahan tubuh
bayi/anak masih rentan. Mereka perlu makanan dan alat makan yang
bersih/steril agar tubuhnya tak kemasukan kuman penyakit. Gara-gara
kebersihan tak terjaga, gangguan saluran cerna anak jadi terganggu. Diare,
misal.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 168
                          Tahapan Yang Benar

"Sejak lahir hingga bisa makan layaknya anak besar, bayi perlu melalui
beberapa tahapan. Melalui tahapan-tahapan itulah bayi belajar mengunyah,
menelan, dan mencerna makanan dengan baik," jelas Budi. Berikut garis besar
tahapannya:

*Baru Lahir-4 bulan

Berikan ASI pada bayi sedini mungkin (begitu ia lahir). Waktu dan lama
menyusui disesuaikan kondisi serta kebutuhan bayi. Ingat, ASI adalah makanan
terbaik bagi anak.

Agar pemberian ASI memberi hasil maksimal, perlu"manajemen laktasi" yang
dilakukan sejak kehamilan, saat melahirkan, dan sesudah melahirkan.
Manajemen ini meliputi persiapan ibu yang sehat, makanan tambahan yang
cukup, motivasi serta niat yang kuat, perawatan payudara, dukungan dari
keluarga, pengetahuan tentang pentingnya ASI, serta teknik menyusui yang
baik dan benar.

Bila pemberian ASI berjalan baik, "pabrik" akan berproduksi dengan baik.
Begitu dikosongkan (diisap si kecil), tubuh segera memproduksi lagi.Di minggu
pertama (4 -6 hari), payudara menghasilkan kolostrum, yaitu ASI awal berupa
cairan kekuningan yang mengandung zat-zat kekebalan yang sangat penting
untuk melindungi bayi dari infeksi saluran pencernaan.

Jika ASI mencukupi, bayi tak perlu diberi makanan tambahan sampai ia
berumur 4 bulan (ASI eksklusif). Jika ternyata tak cukup, bisa diberi susu
formula. Susu formula yang tepat adalah yang disukai bayi, yang membuat
beratnya bertambah, tak menyebabkan muntah, kembung, dan diare, serta tak
menimbulkan alergi.

*4-6 bulan

Mulai usia 4 bulan bayi dapat diberi buah-buahan seperti pisang dan pepaya
dengan cara dikerok ataupun dibuat jus. Makanan padat bayi pertama, yaitu
makanan lumat, juga bisa diperkenalkan, semisal bubur susu dari tepung. Ia
pun dapat diberikan biskuit lunak. Baik makanan padat maupun buah, berikan 1
kali sehari.

Penting diingat, makanan ini bukan pengganti ASI, melainkan tambahan selain
ASI/susu formula.ASI tetap diberikan selama beberapa waktu, bahkan selama
mungkin hingga suatu saat makanan keluarga dapat sepenuhnya menggantikan
peran ASI untuk memenuhi kebutuhan zat gizi anak.

*6-7 bulan

Saat ini bayi dapat diberi nasi tim yang merupakan makanan lunak campuran
dan mengandung nutrien lengkap. Disebut lengkap karena terdiri dari beras,
bahan makanan sumber protein hewani (hati, daging cincang, telur, ikan), dan




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                  hal 169
bahan makanan sumber protein nabati (tempe, tahu), sayuran hijau, buah,
serta wortel.

Selama periode ini, nasi tim disaring lebih dulu untuk memudahkannya menelan
serta tak banyak mengandung serat yang dapat mempersulit pencernaan.

*8-12 bulan

Mulai usia ini, nasi tim dapat menggantikan bubur susu sepenuhnya, yaitu
sebagai makan pagi, makan siang, dan makan malam. Sedangkan di atas usia
12 bulan, anak boleh diberi makanan sama seperti anggota keluarga lainnya.
Tentu saja, dipilih yang lunak dulu.

                               Ekstra Sabar

Siapa bilang gampang memberi makanan pada bayi? Si kecil, kan, baru belajar
mengunyah dan menelan. Tak heran jika makannya lama. Konsekuensinya,
orang tua mesti ekstra sabar dan telaten.

Perhatikan pula kasar-lembutnya makanan yang diberikan, sesuai tahapan usia
serta perkembangannya. Hal penting lainnya, "Beri makanan yang bergizi,
seimbang, serta bervariasi," kata Budi.




                                      ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                 hal 170
  ANEKA FAKTA MENGENAI IMUNISASI
Setelah si kecil diimunisasi, sudah pastikah ia aman dari penyakit? Pada kondisi
apa imunisasi harus ditunda?

"Buat apa, sih, vaksinasi MMR, Tifoid, dan sebagainya? Zaman dulu juga enggak
ada vaksinasi macam-macam dan terbukti sehat-sehat saja!" Pendapat seperti
ini, tentu saja tidak benar. Memang, mungkin anak yang tidak diimunisasi tak
kena penyakit. "Tapi kemungkinan besar lebih karena si anak tak terpapar
kuman penyakit itu," jelas dr. Hartono Gunardi, Sp.A, dari Sub-Bagian
Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM,
Jakarta.

Sementara anak-anak lain, bila tak diimunisasi bisa jadi sakit. Kalau memang
penyakit tersebut ada vaksinnya danbisa dicegah, kenapa tak kita cegah?
Imunisasi HiB, misal, untuk mencegah infeksi kuman Haemophilus Influenzae
tipe B. Kalau tak diberikan dan si anak kecil terkena infeksi kuman HiB hingga
terjadi meningitis (radang selaput otak), bisa fatal akibatnya.

Jadi, kalau memang penyakit tersebut sudah ditemukan vaksinnya, ya, lebih
baik divaksinasi, kan? Memang, imunisasi tak 100 persen menjamin anak
terbebas dari penyakit. Tapi minimal, kalau sampai kena pun, tak bakal separah
seperti mereka yang tidak diimunisasi. Lagi pula, sekarang ini ilmu kedokteran
sudah semakin maju. Tak ada salahnya dimanfaatkan untuk keluarga tercinta,
bukan?

TINGKAT KEKEBALAN

Yang jelas, imunisasi, seperti kita ketahui, akan menimbulkan kekebalan. "Ia
bisa mencegah penyakit sampai 96 persen ke atas." Dengan kata lain, tak ada
imunisasi yang bisa menjamin 100 persen kebal. Bahkan, aku Hartono, tingkat
96 persen ke atas saja, sudah bagus sekali.

Walaupun kecil kemungkinannya, kegagalan imunisasi tetap bisa terjadi. Misal,
karena penyimpanan vaksin yang tak baik. Suhu tempat penyimpanannya tak
sesuai dengan yang seharusnya. Faktor lain, potensi vaksin sudah berkurang,
tanggal kadaluarsa terlampaui, dan respon tubuh yang kurang membentuk zat
anti. Memang sebagian besar penyebab tadi dapat dicegah bila semua prosedur
dijalankan petugas kesehatan dengan baik.

Jadi, apa yang harus kita lakukan? Jika jadwal imunisasinya tak teratur, kadar
zat kekebalan yang ditimbulkan jadi lebih sedikit dan tak optimal. "Nah, inilah
pentingnya orang tua mengikuti jadwal imunisasi agar tak terjadi kegagalan dan
supaya responnya optimal," pesan Hartono.

Yang harus dipahami, ada 3 faktor yang berperan dalam masalah sakit-tidaknya
anak, yaitu daya tahan tubuh anak, lingkungan, dan kuman. Kalau anak kuat,
daya tahannya bagus, status gizi baik, lalu terinfeksi kuman yang jumlahnya
sedikit dan tak begitu ganas, "Kemungkinan dia tak akan jatuh sakit. Nah, kalau
anak sudah diimunisasi, kekebalan sebenarnya sudah ada dan daya tahan tubuh




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 171
jadi lebih baik. Meski sakit pun, akan lebih ringan dibanding jika tak pernah
diimunisasi."

BERLEBIH TAK MASALAH

Hal lain yang perlu diperhatikan, orang tua kerap lupa imunisasi ulang. Padahal,
ada beberapa imunisasi yang perlu diulang agar responnya sesuai harapan.
Salah satunya, imunisasi DPT, yang perlu diulang antara usia 18 bulan-2 tahun,
kemudian diulang lagi saat usia masuk 1 SD atau umur 5 tahun, dan terakhir di
usia 10-12 tahun (hanya DT saja). Demikian pula imunisasi polio dan campak
yang juga perlu diulang. Jika imunisasi ulangan tak diberikan, daya tahan tubuh
jadi tak terlalu baik. Alhasil, imunisasi jadi kurang berhasil.

Orang tua juga kerap khawatir anak kelebihan imunisasi, saat ia
memperolehnya di sekolah lewat program BIAS. "Tak perlu khawatir karena tak
akan memberi efek samping. Yang terjadi justru daya tahan anak akan terpacu
lagi dan meningkat." Kalau toh ada efek sampingnya, jelas Hartono, "Hanya
efek vaksinnya. Misal, bercak kemerahan atau demam ringan." Ia juga
menjelaskan, saat dokter ragu akan riwayat imunisasi anak, "Biasanya dokter
akan memberi vaksinasi." Jadi, tak perlu khawatir, Bu-Pak!

                          Kapan Harus Ditunda

Dalam keadaan khusus, dokter kerap menyarankan menunda imunisasi. Misal,
saat anak panas tinggi. Tujuannya, agar imunisasi memberi respon optimal dan
mencegah komplikasi yang tak diinginkan. "Tapi kalau sakitnya hanya pilek-
pilek sedikit, bukan halangan untuk imunisasi," bilang Hartono.

Contoh lain, sakit asma yang mendapat pengobatan yang bisa menurunkan
kekebalan tubuh. Pada kasus seperti ini, pemberian imunisasi dengan vaksin
hidup sebaiknya ditunda. Tapi jika penyakit asmanya hanya diobati dengan obat
pelonggar saluran napas, "Tak ada halangan untuk imunisasi." Jadi, penting
untuk memberi tahu dokter mengenai kondisi anak sebelum melakukan
imunisasi, ya, Bu-Pak!

             KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi)

Ada pendapat, sehabis disuntik imunisasi, akan timbul reaksi yang menandakan
keberhasilan imunisasi tersebut. Misal, habis disuntik vaksinasi DPT (difteri-
pertusis-tetanus), anak jadi demam. Menurut Hartono, "Ini sebenarnya efek
samping vaksin. Istilahnya KIPI, yaitu Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi. Setiap
vaksin ada KIPI-nya. Ada yang ringan dan berat."

Pada imunisasi DPT, misal, bisa terjadi bengkak dan kemerahan di bekas
suntikan atau badan jadi panas. Memang, biasanya muncul panas setelah 24
jam pertama. "Tapi tak selalu 100 persen memunculkan reaksi. Jadi, tak selalu
timbul." Contoh lain, imunisasi campak yang juga bisa menimbulkan KIPI.
Reaksinya, demam ringan pada hari ke-6 atau 7, selama 1-2 hari, demam tak
tinggi, juga efek kemerahan selama sekitar 3 hari (dimulai pada hari ke-7). Efek
samping kemerahan akan hilang sejalan dengan waktu. Kemerahannya
memang seperti campak tapi jauh lebih ringan. "Untuk mengatasinya, bisa




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 172
dengan minum yang banyak, pakai baju tipis, dan minum obat penurun panas,"
terang Hartono. Yang jelas, tegas Hartono, "KIPI tak selalu terjadi dan juga
bukan patokan berhasil-tidaknya imunisasi."

                            Boleh Beda Merek

Menggunakan vaksin dengan merek berbeda, kata Hartono, tak masalah,
sepanjang jenisnya sama. "Misal, untuk imunisasi hepatitis B, yang pertama
memakai tipe recombinant vaccine, yang selanjutnya gunakan tipe sama.
Jangan yang tipe plasma derived vaccine, misal." Tipe yang digunakan ini
biasanya ditulis di buku catatan pasien.

Begitu juga soal tempat, sama saja. Baik di puskesmas, tempat praktek dokter,
dan lainnya. Bedanya, di puskesmas harganya lebih murah karena memperoleh
subsidi dari pemerintah. Jadi, tak benar kalau dibilang mutunya jelek karena
harganya jauh lebih murah. "Memang ada beberapa vaksin yang tak ada di
puskesmas. Tapi untuk vaksin yang sama, mutunya sama saja," terang Hartono.

Vaksin yang ada di puskesmas adalah vaksin untuk imunisasi yang diwajibkan
pemerintah, yaitu BCG, Hepatitis B, Campak, DPT, dan Polio. Sedangkan untuk
imunisasi lainnya, seperti MMR, HiB, Hepatitis A, Tifoid, dan lainnya, belum ada
subsidi dari pemerintah hingga tak tersedia di puskesmas dan biayanya pun jadi
lebih mahal.

                           Tanda Keberhasilan

Tanda khusus keberhasilan imunisasi, menurut Prof. Dr. dr. Sri Rezeki S.
Hadinegoro, Sp.A(K), hanya bisa dilihat pada imunisasi BCG dan Hepatitis B.
"Pada vaksinasi BCG, keberhasilan suntikan imunisasi memang bisa dilihat dari
adanya jaringan parut di bekas suntikan. Tapi pada imunisasi-imunisasi lainnya,
tak didapatkan tanda-tanda klinis yang bisa dijadikan patokan." Sedangkan
Hepatitis B dilihat dengan cara pemeriksaan darah.

Untuk menjaga keberhasilan imunisasi, Sri juga mengingatkan para orang tua
akan pentingnya mematuhi jadwal imunisasi yang sudah ditetapkan. Jika
jadwalnya berantakan, tentu hasilnya tak begitu optimal, kan?




                                      ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 173
          ATASI SEGERA BILA SI KECIL
                  TERSEDAK

Pasalnya, bisa berbahaya bila akibat tersedak,
muntahannya masuk ke paru-paru.

"Tersedak terjadi bila ada sesuatu, baik cairan
atau benda padat yang masuk ke jalan napas,"
terang dr. H Adi Tagor, SpA, DPH dari RS
Pondok Indah, Jakarta. Umumnya, tersedak sering
terjadi pada bayi-bayi di bawah usia 6 bulan.
Sebab, setelah usia 6 bulan, refleks menelannya
sudah lebih baik. "Rongga napasnya juga sudah
lebih besar, hingga sudah bisa mengatur jalannya
udara, cairan atau makanan padat yang masuk ke mulut. Makanya, mereka
jarang terkena tersedak."

Reaksi dari tersedak, lanjut Adi, bisa memancing muntah pada bayi. Awalnya
disertai batuk-batuk untuk mengeluarkan sesuatu dari jalan napas, yang
akhirnya menimbulkan refleks muntah. Nah, karena muntah ini, bayi bisa
tersedak berkali-kali.

PENYEBAB

Ada sejumlah penyebab bayi tersedak, yaitu:

1. Bayi tak disendawakan

Pemberian makan atau minum yang dilakukan secara terus-menerus tanpa bayi
disendawakan dengan baik, apalagi kadang orang tua ingin agar makanan si
bayi cepat habis, dapat membuat bayi tersedak. "Sering terjadi, karena di
tenggorokannya penuh dengan makanan sementara gerak otot-otot lehernya
belum terkoordinasi dengan baik, bayi jadi bingung dan panik, hingga terjadilah
tersedak."

Sayangnya, seringkali orang tua menganggap sepele mengenai sendawa ini.
Padahal dengan sendawa, makanan yang masuk ke mulut bayi akan dibantu
untuk cepat turun ke lambung, hingga terhindarkan dari tersedak.

2. Salah posisi saat menyusui/memberi makan.

"Harusnya bila makan, posisi bayi dalam keadaan tegak, jangan sambil tidur."
Jikapun menyusui sambil berbaring miring, posisi bayi agak ditegakkan 30-45
derajat. Dengan kata lain, si bayi dibuat agak tinggi posisinya, tidak rata
horisontal, entah kepalanya sambil dialasi bantal atau dalam posisi dipangku.

Lagi pula, bila si bayi disusui dalam posisi berbaring, ada kemungkinan ia akan
tersedak dan muntah tapi muntahnya tidak keluar dari mulut ataupun hidung,




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 174
melainkan masuk ke telinga. Umumnya kejadian ini tak diketahui oleh orang tua.
Padahal, bisa mengakibatkan terjadi radang telinga. Pun bila di tenggorokan ada
peradangan dan muntahan dari lambung "naik" ke saluran Eustachii (tabung
penghubung antara tenggorok dan telinga tengah) melalui penjalaran
peradangan, maka bisa terjadi radang telinga tengah.

3. Dipaksa minum susu selagi tidur.

Bila ibu memaksa memberi susu kala si bayi sedang tidur, dapat membuatnya
tersedak. Pasalnya, dalam keadaan tidur, refleks menelannya tak bagus. Hingga
kalau dia terjaga dari tidur, sementara mulutnya penuh susu, bisa tersedak.
"Toh, kalaupun bayi lapar, dia akan bangun dan menangis dengan sendirinya."

Bila memberi susu dengan botol, sebaiknya menggunakan botol susu yang
memakai semacam regulator anti sedak. Hingga bila terjadi tersedak, jumlah
yang masuk ke dalam jalan napas tak banyak.

4. Tersedak air liurnya sendiri kala ia tidur.

Biasanya ini terjadi karena air liur si bayi sangat kental alias ia sebenarnya
kekurangan cairan. "Kalau air liurnya encer, akan tertelan dengan sendirinya."

Bila karena tersedak air liurnya dan bayi batuk-batuk, maka miringkan sedikit
tubuhnya dan pukul-pukul punggungnya. Karena itulah, saran Adi, posisi tidur
yang paling baik adalah miring atau tengkurap. Asal orang tuanya sering
menengoknya kalau bayinya tidur tengkurap.

5. Faktor kelainan bawaan.

Pada bayi-bayi dengan kelainan tertentu atau kelainan bawaan, kadang juga
membuatnya sering tersedak. Terutama bila kelainan tersebut pada refleks
menelannya. "Nah, kalau hal ini yang terjadi, biasanya ia tetap akan sering
tersedak sampai ia besar. Hanya saja kasus ini sangat jarang."

Jika si bayi memang ada gangguan pada refleks sarafnya, harus lebih hati-hati
dalam merawatnya. "Pemberian makanan juga berbeda, mungkin ada
keterlambatan dalam usia pemberian makanan padatnya. Karena itu, dokter
harus lebih teliti bila bayi sering tersedak apalagi di usia awal setelah
kelahirannya. Jangan-jangan karena ada gangguan di refleks menelannya."

DARI RINGAN SAMPAI BERAT

Jika bayi tersedak, biasanya akan timbul refleks batuk. Celakanya, kadang
orang tua tak melihat refleks tersebut."Mungkin karena memang refleks
batuknya tak bagus, hingga tak ketahuan kalau bayinya tersedak."

Begitu juga kalau orang tua tak menyaksikan sendiri si anak tersedak atau yang
memberi makan si bayi tak melaporkan kejadian tersedak, tentunya orang tua
tak akan tahu bayinya tersedak. Tahu-tahu bila sudah dilakukan pemeriksaan
foto rontgen, akan tampak paru-parunya ada gambaran yang pekat sekali.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 175
Tentunya gambaran pekat di paru-paru ini terjadi kalau tersedaknya berat,
hingga sampai ke jaringan paru-paru. Selain juga bendanya berbentuk padat,
hingga bisa terjadi radang paru atau pneumonia, yang dikenal sebagai
pneumonia aspirasi atau radang paru karena tersedak. Gejalanya seperti
pneumonia biasa, yaitu ada panas tubuh pada bayi dan bunyi napasnya mengi
seperti orang asma, serta batuk-batuk.

Nah, karena bayinya sering batuk dan lama sembuhnya atau tiba-tiba dalam
beberapa hari setelah tersedak, tubuhnya panas dan ada sesak napas, bahkan
mungkin sampai tubuhnya membiru inilah yang membuat orang tua akhirnya
melakukan foto rontgen.

Aspirasi tersedak bisa dari makanan yang belum masuk lambung atau dari
mulut. Bisa juga oleh makanan yang sudah masuk lambung tapi lalu keluar lagi,
hingga bayi tersedak. "Bila tersedak oleh makanan yang sudah masuk ke
lambung, ini paling berbahaya, dibanding makanan yang belum masuk
lambung." Pasalnya, yang sudah masuk lambung akan asam dan bisa melukai
paru-paru. Akibatnya, terjadi peradangan pada parunya dan bayi pun akan
mengalami radang paru.

Bila kejadian tersedaknya hanya ringan, maka di paru-parunya tak ada
gambaran yang bermakna. Pada yang ringan ini, mungkin hanya masuk sedikit
cairan ke jalan napas atas, hingga tubuh dapat menyerapnya kembali. Biasanya
gejalanya hanya berupa batuk-batuk.

MENGATASI TERSEDAK

Tentunya, jika bayi tersedak, makanan dan minuman yang masuk harus
dihentikan. Kemudian pukul-pukul punggung bayi, istirahatkan sebentar, lalu si
bayi disendawakan. Sebaiknya, beri si bayi air putih pakai sendok atau botol
untuk membersihkan saluran menelannya hingga tak ada lagi makanan yang
akan masuk ke dalam pipa napas.

"Kalau masih batuk juga, istirahatkan dulu sebentar, jangan dipaksakan supaya
makanannya cepat habis." Sebab, kalau orang dewasa, dengan berdehem saja,
makanan atau minuman yang ada di ujung jalan napas itu bisa dikeluarkan dari
jalan napas. Pada bayi tentunya hal ini tak bisa dilakukan.

Bila tersedaknya berat atau sampai masuk ke paru-paru atau ada benda padat
yang besar sekali, maka dilakukan tindakan dengan menggunakan bronkoskopi.
Alat ini dimasukkan lewat hidung ke paru-paru, lalu paru-parunya dibersihkan.
Istilahnya, pipa napasnya dicuci (bronchowash). Cuma bahayanya, bisa terjadi
refleks macet, karena bila pipa napas dimasukkan benda asing bisa kram,
kejang, dan bisa biru atau tak bisa napas. Ini bisa berakibat fatal, bisa
menimbulkan kematian. "Oleh karena itu, tindakan ini harus dilakukan di rumah
sakit besar yang fasilitas alatnya cukup lengkap."




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                   hal 176
                      Muntah Keluar Dari Hidung

Menurut Adi, muntah yang keluar dari hidung memang tak perlu dikhawatirkan.
"Itu pertanda muntahnya keluar. Yang berbahaya bila muntahannya masuk ke
paru-paru."

Namun demikian, pada bayi kecil, muntah lewat hidung cukup berbahaya.
Soalnya, bayi kecil (di bawah 6 bulan) masih bersifat nose breather, belum bisa
napas mulut sebagai alternatif saat hidung tersumbat. Bila terlambat
dibebaskan jalan napas hidungnya, maka cairan/makanan dapat terisap ke jalan
napas/paru-paru. Akibatnya, terjadi iritasi pipa napas dan jaringan paru yang
berbahaya karena kemudian menjadi radang saluran napas atas dan bawah
(broncho pneumonia).

Untuk itu, pada bayi yang masih kecil, bila muntah keluar dari hidung, maka
tutup salah satu lubang hidungnya, lalu lubang yang satunya diisap oleh ibunya.
Lakukan hal yang sama pada lubang satunya lagi. Setelah itu, bersihkan
hidungnya kiri-kanan dengan cotton bud yang diberi air hangat. "Jangan sampai
ibu panik dan tanpa melakukan tindakan apa-apa sebelum membawa anaknya
ke dokter dengan hidung yang penuh cairan muntah, karena bisa keburu masuk
ke paru-paru. Setelah ibu memberi pertolongan pertama, barulah si bayi segera
dibawa ke dokter.

                    Pemberian Air Putih Pada Bayi

Orang tua hendaknya tak takut memberikan ekstra air minum pada bayi. Sebab,
terang Adi, hal ini berguna agar air liurnya tak kental atau ia kekurangan cairan.
"Apalagi di negara kita yang tropis ini, di mana banyak terjadi penguapan tubuh
dengan jalan berkeringat, hingga harus banyak minum.Tubuh sendiri dapat
mengatur keseimbangan cairan yang ada dalam tubuh."

Pemberian air putih pada bayi sebaiknya dilakukan 1 jam sebelum jadwal
minum susunya. "Orang tua bisa menawarkannya pada bayi. Bila bayinya
menolak berarti dia tak haus, tapi mungkin dia lapar dan ingin minum susu."

Seberapa besar jumlahnya, menurut Adi, bayi yang akan menentukan sendiri.
"Kalau dia haus sekali, maka dia akan minum banyak. Kalau tidak, maka dia
akan menolaknya. Orang tua harus tahu isyarat-isyarat bayi tersebut, kapan dia
lapar dan haus." Selain untuk mengencerkan lendir, air juga membantu fungsi
kerja ginjal dan memperlancar metabolisme tubuh.




                                      ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 177
     MENGENAL DAN MENANGANI BAYI
           BERESIKO TINGGI

Dengan mengetahui si bayi berisiko tinggi sejak
dini, banyak manfaat yang bisa didapat demi
tumbuh-kembangnya di kemudian hari.

Walau tak ada satu orang tua pun yang
menginginkan, nyatanya tak semua bayi lahir
dalam keadaan sehat. Beberapa di antaranya
justru lahir dengan gangguan yang kerap dikenal
dengan istilah bayi berisiko tinggi. "Yaitu yang
punya kemungkinan lebih besar untuk mengalami
hambatan tumbuh-kembang selanjutnya," jelas dr. Irawan Mangunatmadja,
Sp.A, dari Klinik Anakku, Cinere, Bogor.

Bagaimana mendeteksi bayi berisiko tinggi dan tidak? Salah satunya dengan
melihat riwayat sebelumnya. Adakah kejadian atau masalah kesehatan
sebelumnya yang meliputi:

1.MASA KEHAMILAN
* Adanya infeksi saat kehamilan, misalnya TORCH (Toksoplasma,
Sitomegalovirus, Rubella, Herpes, Sifilis, HIV/AIDS) atau infeksi lainnya.
* Gangguan saat kehamilan seperti muntah yang berlebihan (hiperemesis),
gangguan emosi, cairan ketuban yang berlebihan (hidramnion), anemia,
ketuban pecah dini.
* Kehamilan pertama pada usia di atas 35 tahun.
* Kehamilan kembar, riwayat keguguran berulang.
* Minum obat-obatan dalam jangka lama semisal obat antiasma, antiepilepsi,
narkoba, obat untuk menggugurkan kandungan atau obat lainnya.
* Kebiasaan merokok dan minum alkohol.
* Kehamilan yang tidak dikehendaki.

2. PROSES PERSALINAN
* Bayi lahir tak langsung menangis/asfiksia berat.
* Bayi lahir dengan nilai APGAR kurang dari 5 pada menit pertama.
* Bayi lahir dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu atau lebih dari 42
minggu.
* Berat lahir bayi kurang dari 2.500 gram atau lebih dari 4.200 gram
* Lahir dengan tindakan, seperti ekstraksi vakum.
* Mengalami trauma persalinan, misalnya terjadi perdarahan otak.

3. USAI PERSALINAN
* Bayi menderita kelainan bawaan.
* Bayi menjadi kuning.
* Bayi yang perlu perawatan intensif, penggunaan ventilator.
* Bayi pernah menderita sepsis, infeksi otak, perdarahan otak atau kejang.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 178
Nah, jika ada riwayat seperti disebutkan di atas, entah beberapa poin atau
hanya 1, sudah bisa dianggap bahwa ia bayi yang berisiko tinggi.

BERBAGAI KOMPLIKASI

Dengan kondisi seperti itu, bayi bisa mengalami berbagai gangguan tumbuh-
kembang. Di antaranya, gangguan pertambahan berat dan tinggi badan serta
lingkar kepala. Akibat yang terjadi, misalnya, postur anak menjadi kurang atau
tak normal. Anak jadi pendek postur tubuhnya lebih kecil dari yang seharusnya.
Demikian pula lingkar kepala tidak normal, misalnya besar jaringan otak jadi
lebih kecil dari yang seharusnya (mikrosefali). Atau bisa juga otak malah
menjadi lebih besar namun sebagian besar isinya hanya cairan (hidrosefalus).
Akibatnya, fungsi otak berada di bawah normal, terutama fungsi kognitifnya.

Perkembangannya juga bisa terganggu. Entah gangguan pada motorik
kasar/halus, gangguan penglihatan, pendengaran, serta psikososial. Komplikasi
lain yang sering menyertai bayi dengan risiko tinggi di kemudian hari adalah
gangguan penglihatan. Anak jadi buta, misalnya. Atau menjadi tuli karena saraf
pendengarannya terganggu. Sedangkan gangguan psikososial, anak menjadi
hiperaktif, atau mengalami retardasi mental. Komplikasi lain yang sering pula,
berupa epilepsi dan kejang demam.

DETEKSI KELAINAN YANG TIMBUL

Karena itulah, menurut Irawan, penting sekali melakukan pemantauan secara
ketat terhadap bayi berisiko tinggi setelah deteksi dilakukan. "Jadi, kita bisa
memperkirakan gangguan apa yang bakal muncul selanjutnya. Kalau kelainan
itu bisa dikenali sejak dini lalu segera ditangani, hasilnya akan lebih optimal."
Sayangnya, banyak orang tua justru baru mulai curiga begitu melihat anaknya
banyak tertinggal dibanding anak lain seusianya. Padahal, "Idealnya, begitu ada
gangguan sedikit saja, harus segera distimulasi sedini mungkin. Jangan ditunda-
tunda lagi. Kalau telanjur, misalnya umur 3 tahun baru mulai ditangani, ya,
lebih susah menyembuhkannya."

                        Periksakan Secara Rutin

Menurut Irawan, karena komplikasinya yang sangat bervariasi, biasanya
diperlukan penanganan multidisiplin untuk bayi dengan risiko tinggi.
Keterlibatan multidisiplin bisa meliputi dokter anak (dokter saraf anak), dokter
rehabilitasi medis beserta tim terapisnya, dokter mata, dokter THT, psikiater
anak, psikolog anak, dan lain-lain. "Siapa saja yang akan terlibat dalam tim ini,
tergantung dari kelainan apa saja yang dialami bayi," jelas Irawan.

Jika anak mengalami keterlambatan perkembangan motorik, ia akan diperiksa
juga oleh dokter rehabilitasi medik dan akan dibuatkan program terapi latihan
fungsi motorik secara khusus untuk mengejar ketertinggalan perkembangan
motoriknya.

Sementara kalau mengalami gangguan penglihatan, dokter mata akan ikut serta
menangani anak tersebut. Dokter anak, khususnya dokter saraf anak, yang




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 179
akan melakukan evaluasi awal dan mengkoordinir tim yang menangani sesuai
kebutuhan si kecil.

Dalam pemeriksaan biasanya diperlukan beberapa pemeriksaan khusus.
Pemeriksaan meliputi CT scan dan MRI (Magnetic Resonance Imaging) untuk
mendeteksi adanya perdarahan dalam kepala atau kelainan bentuk jaringan
otak, Elektroensefalografi (EEG) untuk mendeteksi ada-tidaknya epilepsi atau
gangguan fungsi otak, Brainstem Auditory Evoked Potential (BAEP) untuk
melihat ada-tidaknya gangguan pendengaran, Visual Evoked Potential (VEP) dan
Elektroretinografi (ERG) untuk mendeteksi kelainan penglihatan, Elektromiografi
(EMG) untuk mendeteksi gangguan pada sistem persarafan otot, Somatosensori
Evoked Potential (SSEP) untuk mendeteksi gangguan sensibilitas, pencitraan
tulang untuk melihat kelainan hormonal (seperti pada kasus perawakan pendek),
serta laboratorium.

Selain untuk mendiagnosa, pemeriksaan tadi sekaligus berfungsi untuk melihat
perkembangan anak setelah terapi dijalankan."Tentu saja anak tak harus
menjalani semua pemeriksaan. Tergantung kebutuhannya saja." Yang jelas, apa
pun terapinya, tetap harus dijalankan juga di rumah. Sebab, di tempat terapi
waktunya terbatas dan sebetulnya hanya bertujuan memberi stimulasi cepat
dan gambaran pada orang tua, apa yang harus dilakukan untuk terapi sehari-
hari di rumah.

Idealnya, papar Irawan, bayi yang memang masuk kategori risiko tinggi,
minimal tiap bulan diperiksakan ke dokter anak untuk dipantau secara ketat
perkembangannya. "Jangan hanya dibawa ke dokter bila hendak imunisasi
saja," pesan Irawan.

                          Yang Perlu Dipantau

Apa saja pemantauan yang perlu dilakukan orang tua?

1. Pertumbuhan Anak:

Perhatikan berat, tinggi, dan lingkar kepala anak. Bayi normal tiap bulan
bertambah berat, tinggi, dan lingkar kepalanya. Bayi usia 5 bulan, misalnya,
beratnya 2 kaliberat lahir dan usia 12 bulan 3 kali berat lahir. Panjang bayi
cukup bulan, saat lahir sekitar 50 cm, dan usia 12 bulan 75 cm. Ukuran lingkar
kepala bertambah 7 cm pada usia 6 bulan dan 12 cm pada usia 12 bulan.

Biasanya ukuran lingkar kepala jarang diperhatikan orang tua. "Mereka cuma
peduli pada berat badan anak. Padahal, lingkar kepala juga penting untuk
dipantau," tegas Irawan.

Pemantauan pertambahan ini berpatokan pada kurva yang digunakan sebagai
standar tinggi dan berat badan, yaitu kurva NCHS (National Center for Health
Statistic). Sedangkan untuk lingkar kepala digunakan kurva Nellhaus.
Pemantauan minimal dilakukan tiap bulan hingga usia 1 tahun. Pertambahan
yang tak sesuai kurva, perlu segera diwaspadai dan dicari penyebabnya.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 180
2. Motorik Kasar

Perhatikan juga perkembangan motorik kasar, mulai dari kepala hingga kaki.
Memang, tiap anak punya perkembangan berbeda-beda dan tidak ada yang
persis sama walau usianya sama. Kendati demikian, orang tua harus segera
memeriksaan anak bila di usia 4 bulan ia belum bisa mengangkat kepala dan
telapak tangan masih tergenggam. Lalu di usia 8 bulan belum dapat tengkurap
dan pada usia 12 bulan belum bisa duduk.

3. Penglihatan, Pendengaran, Bahasa

Sejak lahir, bayi juga sudah melihat, dan usia 2-3 bulan sudah dapat mengikuti
benda yang digerakkan di depan mata. Pendengaran bayi dapat mulai dinilai
pada usia 3 bulan dengan adanya reaksi terkejut terhadap suara keras, tertawa
mengeluarkan suara, dan pada usia 12 bulan dapat mengikuti perintah. Orang
tua sudah harus curiga bila di usia 2 bulan mata tampak selalu bergerak-gerak
(nistagmus) atau juling (strabismus), di usia 4 bulan sewaktu menyusui jarang
menatap mata ibunya, umur 6 bulan tidak berceloteh bila diajak bicara, atau
usia 12 bulan tidak dapat mengikuti perintah, bicara masih monoton.

4. Psikososial

Perkembangan psikososial bayi dimulai pada usia 1-2 bulan dengan
memperlihatkan rasa senang-nyaman bila berdekatan dengan orang yang
dikenal, usia 4-7 bulan memberi respon emosional terhadap kontak sosial, dan
di usia 1 tahun tampak interaktif dengan ibu atau pengasuhnya. Nah, bila
ternyata perkembangan si kecil tak sesuai dengan uraian di atas, maka
stimulasi dini bisa diterapkan agar hasilnya bisa optimal. Stimulasi bisa
melibatkan tenaga profesional, meliputi fisioterapi, terapi okupasi, wicara,
bermain, pijat, suara, latihan persepsi motorik, psikoterapi, dan edukasi.




                                      ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                   hal 181
                      BINGUNG PUTING
Hal ini pasti terjadi bila sebelum usia 4 minggu, ibu telah memberikan dot atau
empeng pada bayinya. Bagaimanapun, proses menyusu ASI berbeda dengan
menyusu pakai dot.

Mungkin bagi ibu yang baru punya anak, istilah ini membingungkan. Seperti,
apa, sih, yang dinamakan bingung puting itu? Apa betul-betul ada yang
namanya bingung puting? Demikian biasanya pertanyaan yang muncul.

Menurut dr. Utami Roesli, Sp.A dari RS Sint. Carolus, Jakarta, bayi dikatakan
bingung puting bila ia tak bisa menyusu ASI dengan baik. Jadi, ketika diberikan
puting susu ibunya, ia menolak puting itu dengan cara mendorong atau
mengeluarkannya dengan lidah.

Bingung puting terjadi sebelum usia si bayi sebulan. Biasanya terjadi karena si
ibu telah memberikan dot/empeng pada si bayi sebelum usianya 4
minggu/sebulan. "Biasanya kalau hal ini terjadi, bayi pun akan sangat sulit
untuk kembali menyusu pada ibunya."

Lain hal bila ia diberi dot setelah usia di atas 4 minggu, biasanya tak bingung
puting lagi. Jikapun mengalami kesulitan menyusu ASI, akan gampang
diperbaikinya.

KARENA PROSES MENYUSU BERBEDA

Bingung puting bisa terjadi karena proses menyusu yang berbeda. Bukankah
bila menyusu pakai dot, maka dot hanya menempel di bagian ujung depan
lidahnya saja, hingga lidah tak berfungsi sama sekali? Hanya dengan isapan
pelan, susu pun mengalir ke mulut.

Beda dengan menyusu ASI. Pada proses menyusu ASI, bayi akan membuka
lebar mulutnya, lalu payudara masuk secara penuh ke dalam mulutnya, gusinya
akan menekan "gudang susu"nya atau daerah di areola, dan lidah akan
bergerak maju-mundur, berfungsi seperti memerah atau memeras susu.

Karena anak biasa menyusu pakai dot inilah, kala ia mengisap puting susu
ibunya, dilakukannya seperti kala mengisap/mengempeng dot. Akibatnya, anak
pun mengalami bingung puting. "Jadi, memang ada istilah bingung puting itu.
Bagaimana seorang anak yang minum dengan dot bisa dengan benar menyusu
pada puting susu ibunya? Karena prosesnya memang sama sekali lain."

Dot hanya diisapnya di bagian depan, "Sedangkan kalau menyusu dari puting
susu ibu, maka anak harus mengeluarkan susu dari 'gudang'nya, mau tak mau
payudara ibu harus masuk secara penuh, harus ditekan dan diperah agar
susunya keluar. Tentunya kalau pakai dot tak mungkin badan botolnya masuk
ke mulut bayi, kan?"

Karena posisi menyusu yang salah inilah, yaitu dilakukan seperti halnya
mengisap dot/empeng, biasanya yang terjadi, puting susu si ibu pun lecet.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 182
LANGSUNG DISUSUI

Agar tak terjadi bingung puting, bayi yang baru lahir, 30-60 menit pertama
harus bersama ibunya. "Jangan dimandikan atau dipisahkan dulu, tapi bayi
bersama ibunya dulu lalu disusui. Bukan untuk diminum, tapi yang penting, saat
itu adalah masa window period. Maksudnya, refleks isap si bayi sangat kuat,
hingga dengan bayi segera menyusu di payudara ibu, maka seolah si bayi
sebagai pembuka pintu yang keras. Dengan isapannya yang kuat, akan
mengakibatkan perangsangan ASI lebih cepat keluar."

Karena itu, setelah melahirkan mintalah pada suster agar bayinya bersama ibu.
"Ini sangat menolong dalam rangka menyusu ASI ekslusif nantinya." Sayangnya,
kadang bayi baru lahir sudah diberikan susu formula karena dianggap ASI
ibunya belum keluar. Tentunya ini menganggu pemberian ASI nantinya. "Jadi,
walaupun dikatakan dalam 24 jam pertama bayi tak perlu cairan. Tapi tetap 30
menit setelah melahirkan bayi harus disusui."

Jikapun terpaksa sekali bayi diberikan susu formula, misal, ada sesuatu yang
terjadi pada si ibu, mintalah pada perawat untuk tak menggunakan dot dalam
memberikan susu formula tersebut. "Pakailah sendok atau cup feeding atau
gelas khusus untuk bayi dari bahan plastik yang ujungnya seperti moncong dan
bisa dikecilkan." Begitu pula bila tiba saatnya si ibu harus kembali bekerja dan
meninggalkan bayi, sebaiknya pemberian ASI dilakukan dengan menggunakan
sendok atau cup feeding tadi.

BILA SUDAH TERJADI

Bila sudah kadung si bayi mengalami bingung puting, harus segera diperbaiki
dengan minta pertolongan ahli atau konsultan dari klinik laktasi. Sebab, yang
harus diperhatikan dalam menyusui bayi, bukan hanya posisi menyusui atau
bagaimana badan bayi dan ibu saja, tapi juga bagaimana posisi puting susu dan
mulut bayi.

"Puting harus sedikit diangkat ke atas, ke arah langit-langit mulut bayi."
Pastikan tidak hanya puting, tapi seluruh aerola dan puting masuk ke mulut bayi.
Karena kalau bayi hanya mengisap bagian puting, maka kelenjar-kelenjar susu
tak akan mengalami tekanan, hingga tak merangsang "gudang susu" untuk
mengosongkan tempatnya. Selain itu, juga dapat menyebabkan puting nyeri
dan pecah-pecah.

Biasanya, bila bayi mengalami bingung putingnya baru saja, maka dalam waktu
2-3 bulan sudah diatasi. Caranya, dengan tak menggunakan dot lagi, melainkan
sendok. "Lalu si ibu dapat datang ke klinik laktasi terdekat untuk belajar
mengenai posisi menyusui yang tepat."

Pada kasus bayi susah menyusu dengan benar kembali setelah ia mengalami
bingung puting, tak perlu dipaksakan. Gunakan saja alat yang disebut supply
line, semacam selang di mana ASI dimasukkan dalam botol dan dialirkan lewat
selang yang ujungnya direkatkan ke puting susu ibu. Jadi, bayi tetap seperti
menyusui lewat puting, tapi mendapatkan ASI dari selang tersebut. Biasanya
alat ini digunakan untuk bayi-bayi prematur yang tak bisa menyusu langsung ke




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 183
ibunya dalam waktu lama. "Sebetulnya, tak ada ibu yang tak bisa menyusui,
yang ada adalah kurang mengerti manajemen laktasi," tandas Utami.

                       Posisi Bayi Saat Menyusui

                                        1. Duduklah tegak dengan
                                        punggung menyangga dengan
                                        baik. Dekap bayi dengan baik
                                        dan menghadap badan ibu.
                                        Posisi bayi di bawah payudara
                                        ibu.


        2. Rapatkan bayi ke payudara
        ibu dengan menekan sedikit
        punggungnya, bukan
        kepalanya. Pastikan dada bayi
        dan payudara ibu menyentuh.
        Posisikan puting susu ibu di
        atas bibir atas bayi



                                        3. Tekan lembut bibir bawah
                                        bayi dan dagunya dengan
                                        menggunakan payudara dan
                                        areola




        4. Tunggu respon bayi dengan
        membuka lebar mulutnya dan
        meletakkan lidahnya
        sedemikian rupa di bawah
        areola



                                        5. Kini bibir bawah bayi
                                        menekuk sedemikian rupa dan
                                        melahap 3-4 cm sesudah
                                        puting, kemudian lidah bayi
                                        akan bergerak maju mundur
                                        memeras ASI




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 184
        Saluran-saluran ASI ("gudang susu") yang ada dalam areola
        akan terpompa oleh gerakan menjepit antara bibir atas dan
        bawah bayi. Sementara ujung puting harus mencapai langit-
        langit mulut agar otot-otot rongga mulut bisa melakukan
        gerakan memompa.




                                      ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                 hal 185
      SEPERTI APA, SIH, REAKSI EMOSI
                PADA BAYI

Jangan salah, bayi pun bisa menunjukkan emosinya. Entah yang baik maupun
tidak. Asalkan ditangani dengan baik, reaksi emosi yang jelek tak bakalan
menetap hingga besar.

Sering, kan, melihat bayi menangis kala ia lapar. Sebelum diberikan susu, ia tak
akan berhenti menangis, bahkan tambah keras. Tapi bila kebutuhannya segera
dipenuhi, akan berhenti tangisnya.

Nah, menangis pada bayi, selain sebagai salah satu bentuk komunikasi
prabicara untuk memberitahukan kebutuhan/keinginannya, juga untuk
menunjukkan reaksi emosinya terhadap suatu keadaan yang tak menyenangkan.
Reaksi emosi bayi yang demikian, menurut Dra. Dewi Mariana Thaib,
sebetulnya masih wajar, karena si bayi bereaksi terhadap suatu keadaan yang
tak menyenangkan, yaitu lapar. "Hanya saja, kalau reaksinya berlebihan,
semisal menangis terus, meski sudah diberikan susu, berarti ada sesuatu pada
dirinya. Apakah dia sakit atau ada suatu kelainan pada sarafnya," terang
psikolog dari RS Bunda, Jakarta ini.

Sangat penting bagi orang tua untuk mengetahui dan mengenal reaksi emosi
bayinya. Sebab, reaksi emosinya ini akan berpengaruh pula nantinya pada
kehidupan si anak, terutama pada penyesuaian pribadi dan sosialnya. "Di usia
satu tahun pertama ini, bayi sedang beradaptasi dengan udara, makanan, dan
lingkungan sekitarnya. Di usia ini pulalah emosinya mulai berkembang." Itulah
mengapa, orang tua harus memperhatikan betul kebutuhan fisik dan mentalnya,
sampai sekecil apa pun.

DAPAT DIBEDAKAN

Pada awalnya, terang Dewi lebih lanjut, saat lahir, reaksi emosi bayi masih
sederhana,     yaitu  hanya  mengungkapkan       emosi    kesenangan   dan
ketidaksenangan. "Ia akan bereaksi senang bila kebutuhan menyusunya
terpenuhi, dengan mengeluarkan suara yang tampak puas. Sebaliknya, ia akan
bereaksi tak senang dengan menangis bila popoknya basah."

Yang pasti, pada bulan-bulan pertama, ia tak memperlihatkan reaksi secara
jelas, yang menyatakan keadaan emosinya yang spesifik. Misal, marah. Semua
rasa ketidaksenangan akan diekspresikan dengan tangisan. "Nah, pada bulan-
bulan pertama ini, respon orang tua terhadap bayi pun akan berpengaruh
nantinya. Misal, jika pemberian susunya terlambat sementara bayi sangat lapar
atau popoknya basah didiamkan saja, maka bayi akan merasa tak nyaman.
Meski dia hanya bisa bereaksi dengan menangis, tapi bibit-bibit emosi rasa
kecewa dan marah mulai timbul."

Mulai usia dua bulan bayi bisa bereaksi tersenyum bila dirinya merasa senang
atau gembira. Usia tiga bulan mulai bisa bereaksi dengan mengeluarkan bunyi-




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 186
bunyi yang mengungkapkan kekesalan, bila dirinya kesal atau marah, semisal,
dia tak bisa menggapai mainannya. Kadang juga diungkapkan dengan tangisan
dan jeritan.

Usia 6-9 bulan sudah mengenal rasa takut. Bukankah saat itu ia sudah
mengenal orang-orang di sekitarnya? Hingga, kalau ia ditinggal oleh orang
tuanya, ia akan merasa takut dan mulai mengeluarkan suara-suara ketakutan
atau menangis.

"Pokoknya, makin usia bayi meningkat, reaksi emosinya makin dapat dibedakan
dan bertambah. Sebab, sejalan dengan bertambahnya umur dan semakin
matangnya sistem saraf serta ototnya, bayi pun mengembangkan berbagai
reaksi emosinya." Misal, kalau di usia 2 bulan emosi kegembiraannya
diungkapkan dengan tersenyum saja, maka makin lama dia bisa
mengekspresikan kegembiraannya dengan mengeluarkan suara-suara ataupun
tertawa kala diajak bicara oleh orang tuanya. Bahkan, ketika dia sudah bisa
jalan dan berlari, bila ada timbul rasa gembira, dia bisa melonjak-lonjak atau
berlari-lari.

Demikian pula dengan emosi takut. Biasanya bayi takut dengan kamar gelap,
binatang, berada sendirian, serta orang yang asing baginya. Mungkin awalnya,
kalau takut ia hanya bereaksi dengan menangis. Seolah dirinya tak berdaya dan
seperti meminta tolong. Makin bertambah usia dan motoriknya pun berkembang,
ia bisa bersembunyi di balik tubuh ibunya atau memeluk ibunya, menarik
selimut untuk menutupi wajahnya, atau berlari menghindar dari sesuatu yang
membuatnya takut.

Akan halnya rasa marah, misal, di usia 6 9 bulan, kala bayi sudah bisa
melempar benda atau menghentak-hentak kakinya, ketika emosi marahnya
terangsang, bisa saja reaksinya dengan melempar. Ketika reaksi tersebut dirasa
menyenangkan dan dapat memuaskan emosinya, maka akan diulang kembali.
"Nah, untuk mengetahui apakah si bayi memang betul-betul dalam emosi
marah atau hanya ingin mencoba-coba melempar benda dalam arti dirinya
sedang bereksplorasi, tentunya orang tua harus melihat, apakah memang ada
kebutuhannya yang tak dipenuhi atau ada sesuatu yang membuatnya marah
ataukah tidak."

MASIH BISA DIUBAH

Jadi, orang tua harus mengetahui dan mengenal reaksi emosi bayinya, entah
yang baik maupun tidak. Jangan sampai, reaksi emosi yang jelek berlanjut
sampai si bayi besar. Pasalnya, nanti anak akan belajar menggunakan reaksi ini
sebagai alat untuk mencapai tujuannya. Apalagi di masa-masa emosi sulit, yaitu
usia 0 hingga balita. Bukankah tak jarang kita lihat, anak kecil yang kalau
marah tiduran di lantai, duduk menghentak kaki, memukul, atau melempar
segala macam benda?

"Sebetulnya, bila baru berusia sampai setahun, emosi bayi masih bisa berubah
karena baru muncul dan baru akan berkembang," kata Dewi. Itulah mengapa,
orang tua harus tetap waspada dengan emosi bayinya. "Jika ada reaksi
emosinya yang kurang baik, paling tidak, kita bisa menekannya atau




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                   hal 187
meminimalkannya." Dengan kata lain, orang tua harus melatih pengendalian diri
anak sejak dini.

Tapi melatihnya harus dengan konsekuen, lo. Misal, bila bayi ingin minum susu
dan menangis tak sabar, maka ibu harus segera meresponnya. Kalaupun harus
membuatkan dulu susu botol, maka buatlah di dekat si bayi sambil
mengajaknya bicara. Misal, "Iya, sabar, ya, sayang. Ini Ibu sedang buatkan
susunya. Ibu tahu, kok, kalau Adek lapar."

Bila si bayi sudah bisa merangkak dan kita lihat tampaknya dia kesal karena
sulit menggapai mainan yang diinginkan, maka kita bantu untuk memudahkan
dengan cara mainannya didekatkan. Ketika dia sudah bisa meraihnya, kita beri
pujian, "Hore! Pintar anak Mama. Capek, ya? Ayo, kita duduk dulu."

Begitu juga kalau si bayi sudah mulai banyak motoriknya, seperti bisa jalan atau
lari. Bila reaksi marahnya dengan cara fisik, seperti menendang, melempar,
atau memukul, maka kita harus selalu memberi pengertian. "Kalau kamu marah,
tidak boleh seperti itu. Nanti kaki kamu jadi sakit kalau menendang kursi itu.
Kenapa kamu marah? Bilang, dong, sama Ibu." Jadi, anak dilatih untuk dapat
mengendalikan fisiknya. Hingga nantinya kalaupun dia marah, mungkin tak
sampai bereaksi berbahaya dengan fisiknya. Mungkin hanya mimik mukanya
saja yang tampak memerah.

Menurut Dewi, biasanya seiring usia bertambah, reaksi emosi dengan
menggunakan gerak fisik/otot makin berkurang. Apalagi ketika anak sudah bisa
bicara, maka reaksi emosinya akan diwujudkan dengan reaksi bahasa yang
meningkat.

JANGAN BANYAK LARANG

Namun, dalam melatih atau mendidik emosi anak, disarankan tak banyak
larangan karena akan menimbulkan rasa takut pada anak. Misal, "Adek, jangan
main ke situ, ada kecoa, lo. Nanti digigit!"

Sebetulnya, papar Dewi, usia bayi belum menyadari ada tidaknya bahaya bagi
dirinya, tapi karena mimik muka ibunya dan nada suaranya menakutkan, maka
mengkondisikan si bayi akan rasa takut. "Larangan boleh saja kalau memang
ada yang membahayakan. Kalau tidak, sebaiknya dihindari." Namun, dalam
memberitahukannya harus dengan bahasa dan mimik muka yang baik.

Yang jelas, bila sejak bayi dilatih pengendalian emosi dengan baik, maka reaksi
emosinya bisa ditanganinya dengan baik pula. Meski mungkin sifat jeleknya
tetap ada, tapi tak terlalu menonjol. "Jadi, ini merupakan tindak pencegahan
pula dari reaksi emosi negatif yang tak diinginkan."

Ingat, lo, bila tak sejak dini kita melatihnya, maka akan sulit mengubahnya
ketika anak bertambah usianya. Bahkan mungkin saja reaksi emosi tersebut
akan menetap sampai si anak dewasa. Tentunya kita tak menginginkannya
demikian, kan, Bu-Pak?




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 188
                 Faktor Keturunan Dan Lingkungan

Reaksi emosi yang berlebihan, misal, kalau gembira sampai melonjak-lonjak,
kalau marah sampai melempar barang, dan sebagainya, menurut Dewi,
sebenarnya dipengaruhi juga oleh sifat emosi aslinya. "Biasanya ada pengaruh
dari faktor keturunan. Misal, saat hamil, si ibu bermental pemarah atau penakut;
atau dalam keluarga, orang tuanya termasuk yang emosinya selalu meluap-luap
kalau marah. Nah, anaknya ada kemungkinan reaksi emosinya seperti itu."

Ada juga yang karena pengaruh lingkungan. "Cara ibu memperhatikan dan
memperlakukan bayinya, sangat mempengaruhi emosi si bayi. Misal, ibu atau
pengasuhnya tidak care. Ketika si bayi lapar atau popoknya basah, didiamkan
saja berlama-lama atau tak segera direspon, ataupun si ibu bersikap kasar,
cuek, atau marah-marah, hingga bayinya jadi takut atau merasa tak aman. Ia
juga akan merasa dirinya tak diterima. Nantinya ia pun bisa tak percaya pada
lingkungannya."




                                      ***




               SAYANG, MAU APA SIH ?
Tak usah bingung menanggapi apa maunya si kecil di tahun pertama
kehidupannya. Meski ia belum mampu mengungkapkan secara verbal apa yang
ia butuhkan, bukan berarti ia tak bisa berkomunikasi, lo.

Selama tahun pertama kehidupannya, anak mengembangkan bentuk
komunikasi prabicara untuk mengungkapkan keinginan dan perasaannya. Salah
satunya yang paling kerap digunakan ialah tangisan, di samping celoteh dan
ekspresi wajah.

Jadi, terang Dra. Zamralita, MM, Psi., ketiga bentuk komunikasi prabicara itu
merupakan kode, tanda, atau bahasa bayi saat membutuhkan sesuatu dari
orang tuanya. Misal, saat lapar, lelah, pedih, dan keadaan tubuh yang tak
menyenangkan lainnya, serta untuk memenuhi keinginan diperhatikan.

TANGISAN

Biasanya di bulan-bulan pertama pascalahir, tangisan merupakan cara bayi
memberitahukan kebutuhannya kepada seseorang. Makin keras dan makin lama
tangisannya, makin kuat kebutuhannya. Gerakan tubuh yang menyertai tangis
dapat membantu kita lebih memahaminya.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 189
Umumnya, papar Pudek II Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, Jakarta
yang kerap dipanggil Lita ini, para ibu sering mengartikan tangisan bayi sebagai
pertanda lapar. Padahal, menangis tak selalu berarti lapar, bukan?

Dalam hal-hal tertentu, di mana bayi dapat melakukan sendiri kebutuhannya,
seperti bernapas, dia tak perlu menangis. Sebenarnya, saat bayi buang air
besar/kecil pun, dapat dilakukan sendiri. Tetapi efek dari buang air besar/kecil
yang membuat pakaiannya basah dan menimbulkan rasa tak nyaman di
tubuhnya itulah yang membuatnya menangis.

BERCELOTEH

Sama halnya dengan menangis, berceloteh merupakan cara bayi berkomunikasi
dengan orang tuanya. "Namun, biasanya sedikit sulit bagi orang tua untuk
memahami arti celotehan bayinya."

Pada dasarnya, bayi berceloteh kalau dirinya merasa senang. Misal, bayi senang
dengan suasana di pagi hari, dia pun berceloteh. Namun kalau dia telah merasa
gerah atau kepanasan, dia pun mulai gelisah dan menangis, karena merasa tak
nyaman lagi.

Saat bayi berceloteh, bila mendapat stimulasi atau ditanggapi oleh orang tuanya,
seolah-olah ibu-bapaknya mengerti isi celotehannya itu, anak akan tampak
bersemangat untuk berceloteh.

Lewat berceloteh, sebenarnya bayi mulai dapat belajar akan rasa aman atau
percaya pada lingkungannya. Misal, saat dia berceloteh lalu ditanggapi atau
mendapat dukungan dari orang tuanya, selain merasa senang dia pun belajar
dan merasa yakin dirinya mampu berkomunikasi.

EKSPRESI WAJAH

Akan halnya ekspresi wajah, dapat berupa mimik muka atau senyuman.
Ekspresi wajah biasanya menunjukkan kalau dirinya merasa senang, tak
nyaman, takut atau kesal.

Saat bayi tersenyum, misal, biasanya bila dia mendapatkan atau merasakan
sesuatu yang menyenangkan dirinya. Seumpama, bayi diberikan mainan oleh
orang tuanya. Dia tersenyum karena senang mendengar bunyi atau melihat
bentuk dari mainan itu yang lucu.

Contoh lain, saat bayi berusia 6-7 bulan, biasanya bila melihat orang tuanya
datang atau saat dipanggil namanya, anak pun tersenyum. "Ini menandakan dia
merasa bahagia dengan kehadiran orang tuanya."

ORANG TUA HARUS PEKA

Nah, agar orang tua dapat memahami apa yang dikomunikasikan oleh bayinya,
dibutuhkan kepekaan. Tentunya, kepekaan itu tak otomatis tumbuh dalam diri
orang tua, tapi perlu proses belajar untuk melatihnya. Hingga, nantinya dapat
memahami apa yang dikomunikasikan bayinya.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 190
Adapun bentuk komunikasi prabicara yang pertama kali harus dipahami orang
tua adalah tangisan. Bukankah begitu lahir dan di bulan-bulan pertama
kehidupannya, satu-satunya bentuk komunikasi bayi hanyalah lewat tangisan?

Secara umum, tangisan bayi untuk menyatakan rasa tak senang, ketidakinginan,
dan ketidaknyamanan. Makin bertambah usia bayi, tentunya tangisan pun
mengandung arti berbeda. Jadi, tak melulu tangisan itu diartikan lapar atau
haus.

Biasanya seorang ibu yang peka akan mudah memahami maksud tangisan
anaknya. Misal, kalau tangisannya sangat melengking, mungkin anak
mengalami sakit karena terjatuh. Namun, kalau merasa dirinya tak nyaman
atau karena popoknya basah, tangisannya mungkin hanya sebentar, tidak keras
atau melengking.

Tangisan bayi pun tak melulu sebagai bentuk komunikasi. Tapi bisa berubah
menjadi ungkapan ekspresi atau emosi. "Hal ini sering terjadi karena tak jarang
dalam usaha memenuhi keinginan anak, orang tua sering menebak-nebak arti
tangisan anaknya. Kalau tebakannya tepat, tangisan bayi pun mereda.
Celakanya kalau ternyata tebakan orang tua salah, tangisan anak malah tambah
menjadi-jadi. Di sinilah perlunya kepekaan orang tua dalam mengartikan
tangisan, agar tak selamanya hanya menebak-nebak."

Bila tangisan bayi makin menjadi-jadi karena kebutuhannya tak dapat dipenuhi
oleh orang tuanya, hal ini bukan bentuk komunikasi lagi, melainkan bentuk
ekspresi atau ungkapan dari emosi anak, seperti rasa jengkel, kesal dan marah
karena keinginannya tak terpenuhi. Biasanya tangisannya melengking dan tak
mau berhenti.

TAK PERCAYA LINGKUNGAN

Bila orang tua tak pernah paham apa yang diinginkan anak, tentunya akan
berdampak buruk bagi diri si anak. Anak bisa menjadi frustrasi. "Jangankan bayi,
orang dewasa saja kalau keinginannya tak terpenuhi akan menjadi frustrasi,
sebab ada tujuan yang tak tercapai."

Frustrasi yang berkepanjangan dapat menimbulkan kemarahan atau agresi yang
berdampak pada perkembangan jiwa dan mental anak. Apalagi bila hal ini
terjadi di usia 0-12 bulan, di mana anak masih sangat terbatas kemampuannya.
Kalau orang tua tidak peka atau orang di sekitarnya tak bisa menangkap
keinginannya, anak dapat menjadi tak percaya pada lingkungannya.

Agar keinginan bayi dapat tercapai, orang tua harus punya waktu untuk
mengamati perkembangan bayinya. "Jadi, jangan seluruh waktu dan
perkembangan bayi diserahkan kepada babysitter atau pengasuh." Sebab,
untuk dapat memahami keinginan anak yang masih menggunakan bahasa
nonverbal sebagai bahasa pengantar sehari-hari, membutuhkan proses belajar
tidak hanya pada bayinya, tapi juga orang tua.

Kalau orang tua mengikuti perkembangan anaknya dari hari ke hari, diharapkan
orang tua tahu setiap tahapan perkembangannya. "Tapi kalau orang tua tak




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 191
pernah hadir secara fisik dan emosi, maka tak akan tahu perkembangannya dari
hari ke hari."

Nah, kalau orang tuanya peka,tanpa bayi harus sampai menangis pun, orang
tua dapat menangkap apa yang diinginkan. "Kepekaan tersebut hanya dapat
terwujud kalau tercipta kedekatan antara orang tua dan anak."

Selain itu, orang tua pun harus dapat menumbuhkan keyakinan dalam diri
anaknya, karena amat penting untuk proses belajarnya kelak. Namun kalau bayi
sudah belajar komunikasi lalu dicuekin lantaran orang tuanya sibuk atau tak
peduli, dia pun tak mendapat penguat bahwa dirinya mampu berkomunikasi.




                   Isyarat                            Artinya
        Mengeluarkan makanan dari       Kenyang atau tak lapar
        mulut
        Mencebik                        Tak senang
        Mendorong puting susu dari      Kenyang atau tak lapar
        mulut dengan lidah
        Mendorong benda jauh-jauh       Tak menginginkannya
        Menjangkau benda                Ingin memilikinya
        Menjangkau seseorang            Ingin ditimang/digendong
        Mengecapkan bibir atau          Lapar
        mengeluarkan lidah
        Tersenyum dan mengacungkan Ingin digendong
        tangan
        Bersih berlebihan               Basah dan dingin
        Bergeliat dan bergetar          Dingin
        Menggeliat, meronta, dan        Tak suka adanya suatu
        menangis selama berpakaian      pembatasan kegiatan
        dan mandi
        Menolehkan kepala dari puting   Kenyang atau tak lapar
        susu




                      Jangan Berikan Waktu Sisa

Penting diingat oleh para orang tua, pesan Lita, jangan memberikan waktu sisa
untuk anak. "Orang tua harus menyediakan waktu khusus bagi anak-anaknya,
karena hal ini merupakan konsekuensi dari memiliki anak."

Bagi orang tua yang kedua-duanya dituntut bekerja, mereka pun bisa
mencarikan pengasuh yang dapat dipercaya bagi anak-anaknya. Sedangkan
pada saat libur, mereka dapat menggunakan waktu yang ada untuk anak.



Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                  hal 192
Saat pagi atau sore sepulang kantor adalah saat tepat untuk bersama anak.
"Jadi walaupun bekerja, tetap dapat memantau perkembangan anak. Hingga,
seandainya ada sesuatu yang berbeda dalam diri anak, seperti anak murung
atau biasanya dia berceloteh, namun diam saja saat orang tuanya pulang kantor,
orang tua yang peka dapat mengetahui perubahan yang terjadi."




                                      ***




                SAKIT MATA PADA BAYI
Jangan anggap enteng sakit mata pada bayi. Meski awalnya ringan, kalau tak
ditangani, bisa bertambah parah.

Akhir-akhir ini Jakarta mulai terkena wabah sakit mata lagi. Bisa saja penyakit
ini menimpa bayi kita. Bila menimpa bayi, tak jarang membuat hati ini waswas.
Bagaimana pengobatannya yang tepat, itulah yang kerap membingungkan para
orang tua. Apakah berbeda dengan pengobatan penyakit mata pada anak-anak
yang lebih besar?

Penyakit mata, papar dr. Enny Ridwan, SpM., yang ditandai mata berair,
merah-merah, dan ada kotorannya, dapat disertai gatal-gatal dan rasa silau.
Bisa pada satu bagian saja atau bahkan keduanya, bisa ringan-ringan saja,
walaupun ada juga yang makin hari, makin parah. Yang ringan, terang spesialis
mata dari RSAB Harapan Kita, Jakarta, ini, bisa saja karena alergi. "Biasanya
kalau karena alergi, intensitas merahnya sering terjadi, rasa gatalnya hebat,
mata berair dan terasa silau. Gejalanya suka hilang-timbul. Biasanya terjadi
pada pergantian musim."

Bila karena alergi, tambahnya, penyakit ini tak perlu diapa-apakan. Sebab,
penyakit ini tak menular. "Alergi ini bisa disebabkan karena udara/polusi.
Tentunya udara yang kotor dapat membuatnya merah." Hanya saja, kalau mata
merah karena alergi ini sering dikucek, akan terjadi infeksi dan menyebabkan
radang mata.

Selain itu, secara teoritis, alergi tak bisa dihilangkan. Kadang anak juga punya
riwayat penyakit alergi lain, seperti sering pilek atau bersin bila kena debu,
misal. "Makin besar usia anak biasanya akan lebih kuat.

Tapi tentunya pada setiap anak berbeda-beda kadarnya." Namun orang tua
umumnya tak tahu apakah bayinya bermata merah karena alergi atau bukan.




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                     hal 193
Itu sebab, saran Enny, orang tua perlu menjaga kebersihan dengan selalu
mencuci tangan bila hendak memegang bayi.

TIGA PENYEBAB

Jika sakit matanya bertambah parah, harus segera datang ke dokter. Sebab,
banyak kemungkinan bisa terjadi. Menurut Enny, yang paling sering karena
penyakit gonorrhea, sumbatan saluran air mata, dan radang mata biasa.

Pada ketiga sakit mata tersebut, gejala awal yang terjadi sama. Akan tampak
bagian putih mata (konjunctiva) memerah, ada air mata, dan kotoran. Selain itu,
bayi jadi lebih rewel dari biasanya karena merasa sakit dan tak nyaman.

Jika sakit mata ini makin hari bertambah parah dan tak diobati, kumannya akan
masuk ke bagian lebih dalam dari mata, yaitu ke kornea (daerah mata yang
berwarna hitam) yang merupakan area penglihatan. Kuman tersebut bisa
menyebabkan luka dan menimbulkan borok di bagian mata ini. "Jika kornea
sudah terkena, maka harus hati-hati karena sudah mulai kritis. Jika tak
ditangani, infeksi bisa masuk lebih dalam lagi, yaitu ke jaringan mata. Mata
akan membusuk dan kemudian menciut, jadi tak berfungsi lagi dan harus
dibuang." Kemungkinan lain, kumannya bisa menjalar ke otak karena letaknya
berdekatan. Hingga, terjadilah meningitis dan ensefalitis.

1.Radang Mata Karena Gonorrhea

Penyakit ini disebabkan si ibu menderita penyakit kelamin, yaitu gonorrhea atau
kencing nanah. Mungkin si ibu tertular di trimester ketiga kehamilannya. "Bayi
tertular karena waktu lahir melewati jalan lahir. Pada jalan lahir yang banyak
kuman ini, mata bayi bisa terinfeksi. Kalau kumannya ganas dan banyak,
bayinya cepat terkena," papar Enny.

Biasanya bila bayi terkena penyakit ini, dalam sehari sudah tampak sakit
matanya. Walau ada juga yang baru tampak di 3-4 hari setelah pulang dari RS.
Ini karena masa inkubasi kumannya (mulai masuknya kuman sampai timbulnya
gejala) sekitar 7 hari. Jadi, bisa saja sakit matanya baru tampak di hari kelima.

Gejalanya, kelopak mata dan konjunctiva (bagian putih mata) bengkak sekali
dan berwarna merah. Kotoran mata banyak sekali dan mengandung nanah.
Selain juga biasanya disertai demam. "Kalau matanya dibuka akan tampak
belekan itu agak cair dan bisa juga mengering. Kualitas jumlah kotorannya lebih
banyak dari sakit mata biasa. Mungkin dalam waktu sehari saja sudah kelihatan.
Biasanya semakin hari semakin parah."

Pengobatannya dengan pemberian obat tetes mata atau salep. Sebelum
memberikan obat mata, ibu harus sering membuang kotoran mata si bayi.
Bersihkan dengan menggunakan kapas yang diberi air hangat. Caranya,
usapkan kapas tersebut secara perlahan.

Selain dengan salep dan obat tetes, kini juga tersedia pengobatan dengan cara
suntikan. "Bisa dibilang cara ini lebih ampuh. Biasanya dengan sekali suntik saja,
penyembuhannya cepat. Minggu depannya sudah hilang. Juga bisa sembuh




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                      hal 194
sempurna dan kembali bersih." Tapi kalau sudah terjadi borok di mata, maka
bayi harus dirawat.

Hanya saja, kalau sakit mata karena penyebab gonorrhea ini tak ditangani atau
diobati, bisa berakibat parah dan menimbulkan kebutaan. Untuk memastikan
gejala ini karena penyebab gonorrhea, maka dilakukan pemeriksaan
laboratorium.

Selain bayi yang menjalani pengobatan, si ibu pun ditangani. Bukankah ibu
yang jadi sumber penyakitnya? "Biasanya si ibu akan dikirim ke bagian kulit dan
kelamin."

2.Sumbatan Pada Saluran Air Mata

Waktu bayi baru lahir, organ-organnya sudah komplet dan sudah siap untuk
hidup di dunia ini. Demikian pula saluran-saluran dalam matanya sudah harus
cukup besar. "Cuma yang sering terjadi, salurannya belum tumbuh atau masih
terlalu kecil. Bahkan ada katup yang harusnya sudah hilang, masih ada. Nah,
semua ini jadi penyebab mata bayi berair terus," terang Enny.

Air mata yang dihasilkan kelenjar air mata harusnya mengalir ke pangkal
tenggorok. Tapi karena jalannya terhambat, air matanya akan membludak dan
banjir di bola matanya. Banjir air mata ini menyebabkan kuman yang sudah ada
dan tak bermasalah di bola mata jadi beranak pinak. Apalagi air mata itu
rasanya asin dan suhunya hangat karena suhu tubuh. "Keadaan ini menjadi
tempat yang nyaman untuk kuman berkembang biak dan menimbulkan infeksi
di mata." Akibatnya, timbullah belekan pada mata dan si bayi mengalami sakit
mata.

Pengobatan dilakukan dengan pemberian antibiotika dan obat mata, baik salep
atau obat tetes. Setelah itu dengan pemijatan pada kantung saluran air mata
yang terletak di ujung bola mata dekat pangkal hidung. Geraknya secara lurus
atau memutar, tergantung sebelah mana yang sakit. Upaya ini membantu
melancarkan aliran air mata. "Jadi, kalau ada kotoran di dalam saluran matanya,
tak menganggu. Juga, supaya membantu pertumbuhan saluran air matanya jadi
lebar."

Umumnya, papar Enny, dengan pemijatan akan sembuh. Jika belum kunjung
sembuh ditunggu sampai usia 9-10 bulan untuk dilakukan tindakan. "Bila perlu
dilakukan "probing" (penusukan) saluran air mata."

3.Radang Mata Biasa

Umumnya, sakit mata ini paling sering ditemui pada usia bayi, anak, dan
dewasa, yang disebut konjungtivitis atau radang mata. Penyebabnya, kuman.
Bisa juga berawal dari alergi debu, lalu anak menguceknya, hingga terjadi
infeksi kuman. "Sifat sakit mata ini menular lewat sentuhan atau senggolan.
Bukan lewat pandangan mata seperti anggapan kebanyakan orang




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 195
Gejalanya: mata merah di bagian putih bola matanya, ada belekan, disertai
gatal-gatal dan merasa silau. Kadang belekan sedemikian banyak, hingga
kelopak mata sulit dibuka, terutama waktu bangun pagi.

Karena sakit mata ini menular, saran Enny, kalau dalam satu keluarga ada
anggota keluarga yang terkena radang mata, harus diisolasi supaya tak
menularkan pada yang lain. "Jangan mencium-cium atau pegang-pegang bayi,
nanti bisa ketularan. Ibu yang mengobati bayinya harus selalu cuci tangan,
seperti halnya prinsip umum memegang bayi. Karena penularan yang terjadi
bisa lewat sentuhan." Jadi, pencegahannya bukan dengan obat tetes mata, tapi
dengan menjaga kebersihan, ya, Bu-Pak.

                  Tak Asal Memberikan Obat Mata

Jika tampak bayi sakit mata, saran Enny, sebaiknya orang tua tak mengobati
sendiri, misal, dengan membeli obat bebas untuk sakit mata. Meski memang
ada obat-obat khusus untuk sakit mata yang banyak dijual bebas di pasaran.
"Karena usia bayi sangat rentan, apalagi jaringan mata itu sangat lunak dan
peka. Agar lebih aman, perlu diagnosa dulu. Jadi, sebaiknya ke dokter anak,
dokter mata atau dokter umum."

                Gizi Diperlukan Untuk Kesembuhan

Menurut Enny, kesembuhan sakit mata bayi tergantung pula dari gizinya. Jika
gizinya buruk, sakitnya mungkin akan lebih buruk. Karena si bayi tak punya
daya tahan tubuh. "Tapi kalau gizinya baik, bisa membantu penyembuhan
dengan cepat. Karena anak punya daya tahan untuk melawan sakitnya. Serta
dapat membuat penyerapan obat-obatan antibiotik jadi lebih efektif." Karena itu,
biasanya dalam pengobatan sakit mata ini, dokter mata bekerja sama pula
dengan dokter spesialis anak.

                              Fungsi Air Mata

Air mata dikeluarkan oleh kelenjar air mata yang berada di dalam tulang mata
sebelah atas. Fungsinya, untuk membasahi bola mata agar tak kering. "Bola
mata memang harus selalu dalam keadaan basah. Untuk mendapatkan cairan
itu, harus dengan berkedip. Karena dengan berkedip dapat memompa kelenjar
air mata mengeluarkan air mata," terang Enny.

Lapisan air mata ini, lanjutnya, sebetulnya fungsinya banyak. Selain sebagai
pelembab bola mata, juga memberi makan pada mata karena mengandung
protein. Selain juga ada desinfektan atau anti kumannya. "Jadi, kalau kumannya
ringan-ringan saja, bisa diusir oleh air mata."

Jika bola mata kering, akan mudah terjadi luka dan borok serta bagian hitam
bola matanya jadi putih. Dikhawatirkan jika menimbulkan gejala sisa, bisa
menyebabkan gangguan penglihatan. "Walaupun untuk buta atau tidaknya,
tergantung kedalaman boroknya."




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                    hal 196
Karena itu kalau terjadi kekeringan bola mata, biasanya akan dibuatkan air
mata buatan. "Biasanya kekeringan ini karena ada kelainan kelenjar, misal tak
ada kelenjar. Tapi pada anak, hal ini jarang terjadi, karena umumnya semua
kelenjarnya masih oke."

                 Tak Disarankan Mengobati Sendiri

Di masyarakat kita juga sering ada tradisi untuk mengobati penyakit mata anak
dengan obat tradisional yang diturunkan nenek moyang kita. "Ketika bayinya
tampak sakit mata, biasanya eyangnya akan menganjurkan resep-resep
tertentu. Karena mereka punya pengalaman baik untuk itu." Hanya saja, pesan
Enny, mesti diingat, walau ada pengalaman membuahkan hasil yang baik pada
jaman si nenek dulu, tak semuanya akan memberikan reaksi yang sama pada
setiap anak. Sebab, kepekaan setiap anak tentunya berbeda. "Jadi, tak semua
pengalaman itu akan berhasil pada setiap orang." Berikut beberapa tradisi yang
banyak ditemui pada orang tua dalam mengobati sakit mata pada bayinya.

* Bunga teleng

Ada yang mengatakan sakit mata pada bayi bisa sembuh dengan menggunakan
daun bunga teleng. Caranya, bunga teleng dimasukkan ke dalam air hangat,
lalu mata si bayi ditetesi air tersebut. Namun, Enny agak sangsi dengan
pengobatan ini. "Saya tak tahu seperti apa bunga ini dan tak tahu persis juga
apa khasiatnya." Yang dikhawatirkan Enny adalah masalah kebersihan dan
kesterilan dalam pembuatannya. Apalagi bunga ini termasuk bunga liar yang
dapat ditemui di sembarang tempat.

* Air rebusan daun sirih

"Daun sirih memang bagus, ada desinfektannya, jadi bisa untuk
menghanyutkan kuman," papar Enny. Hanya saja, mungkin konsentrasinya
harus diperhatikan, misal, daunnya berapa lembar dan jumlah airnya berapa
banyak. "Jadi, bukannya daun sirih itu jelek. Hanya saja ukuran pastinya tidak
tahu, sementara jaringan mata itu halus sekali." Itu sebab, Enny tak
menganjurkannya untuk pengobatan mata anak, apalagi bayi. Apalagi,
paparnya, yang sudah-sudah ditemui, malah bayinya jadi radang mata.

* Pakai ludah pagi hari

Begitupun dengan ludah. Memang, bilang Enny, ludah mengandung zat-zat
pembunuh kuman. Sebelum masuk ke perut, kuman sudah ditangkis dulu di
mulut. "Jadi, sudah ada alat atau benteng-bentengnya. Kalau kumannya kecil,
tak berpengaruh apa-apa karena sudah terbunuh air liur. Tapi, jangan lupa,
banyak juga kuman yang berasal dari gigi, dari makanan yang menyelip di gigi.
Jadi, bagaimana pula kalau dimasukkan ke mata. Bisa-bisa malah tambah sakit
matanya."

* Menggunakan air kencingnya

Enny mengakui keberadaan teori mengenai pemakaian urin untuk mengobati
penyakit. "Tak bisa dibilang bahwa air kencing jelek, karena ada juga




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                   hal 197
literaturnya dan ahli yang mendalaminya." Hanya saja, Enny tak menyarankan
air kencing ini untuk pengobatan mata bayi. "Terus terang, saya sendiri tak
mendalami masalah itu, lagi pula masalah ini masih banyak pro dan kontranya.
Jadi, untuk lebih amannya, sebaiknya berobat ke dokter, tidak mengobatinya
sendiri."

* Ditetesi ASI

Ada juga anak sakit mata ditetesi ASI. "Memang dalam ASI ada penangkal
kuman juga." Tapi Enny tak menganjurkannya untuk pengobatan mata anak.
"Karena tak semua anak tahan terhadap ASI. Apalagi mata merupakan jaringan
lunak yang peka. Jadi, sangat sulit untuk tahu kepekaannya. Mungkin saja,
pernah ada pengalaman ibunya dulu tak bermasalah. Tapi begitu bayinya yang
sekarang diobati dengan ASI, malah bermasalah. Karena alergi pada setiap
anak, kan, tidak sama."




                                      ***




Dunia Bayi II –diedit oleh Endah Josita Sari Rahaju                 hal 198

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:8346
posted:10/5/2010
language:Indonesian
pages:198