MANUSIA DAN KRISIS EKOLOGI SAAT INI

Document Sample
MANUSIA DAN KRISIS EKOLOGI SAAT INI Powered By Docstoc
					MANUSIA
DAN

KRISIS EKOLOGI SAAT INI

Oleh Ir. HIKMAT RAMDAN, M.Si

GARUT, 25 AGUSTUS 2003

MANUSIA DAN KRISIS EKOLOGI SAAT INI
oleh HIKMAT RAMDAN Manusia adalah makhluk hidup yang dibedakan dari makhluk hidup lainnya, karena manusia memiliki akal (Homo sapiens). Manusia dengan akal yang dimilikinya telah mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) sebagai instrumen dalam memanfaatkan sumberdaya alam (SDA). Dengan menguasai Iptek manusia memiliki kemampuan yang hampir tiada batas dalam mengeksplorasi dan mengeksploitasi SDA untuk berbagai kepentingannya. Sehingga dalam pandangan ekologi, posisi manusia sangat penting terhadap berbagai perubahan yang terjadi dalam sistem ekologi, yaitu hampir semua perubahan di dalam biosfir ini melibatkan manusia. Berbagai perubahan di biosfir ini sering diawali oleh intervensi manusia sebagai bentuk interaksinya dengan sistem lingkungan1. Pandangan ekologi manusia melihat bahwa hubungan sistem ekologis (ekosistem) saling mempengaruhi dengan sistem sosial. Adanya aliran massa, energi, dan informasi yang menghubungkan ekosistem dan sistem sosial, menyebabkan kualitas ekosistem dapat dipengaruhi oleh sistem sosial atau sistem sosial pun dipengaruhi oleh kondisi ekologis. Perubahan yang terjadi dalam salah satu sistem dapat mempengaruhi keberlangsungan sistem lainnya. Perubahan tatanan sosial lebih dinamis daripada ekosistem. Perubahan yang disebabkan oleh intervensi manusia sering berjalan tanpa menghiraukan ambang batas ekosistem dimana perubahan terjadi, sehingga perubahan ekosistem sering melampaui kemampuan ekosistem untuk dapat merehabilitasi dirinya secara alami. Perubahan ekosistem (lingkungan) selalu bersifat dinamis yang dapat berdampak positif atau negatif sebagai konsekuensi interaksi sistem sosial dan ekosistem. Perubahan yang berdampak negatif mengarah kepada terjadinya krisis ekologi. Krisis ekologi dapat terjadi apabila sistem ekologis dalam lingkungan tersebut tidak mampu mendukung berjalannya sistem kehidupan secara optimal dan berkelanjutan. Indikator ketidakberlanjutan ini dapat dicermati dari terganggunya pola
1

Lingkungan merupakan suatu ruang yang mengandung makhluk hidup (biotis) dan benda mati (abiotis), serta tatanan (sistem) interaksinya secara menyeluruh (holistik).

Manusia dan Krisis Ekologi Saat Ini

1

ekologis, seperti jaringan makanan (food web). Unsur-unsur ekosistem berfungsi tidak optimal, karena aliran materi, energi, dan informasi tidak berjalan seimbang antar komponen penyusun ekosistem dengan sistem sosial. Sistem sosial mempengaruhi lingkungan, dan lingkungan pun menjadi salah satu pembatas sistem sosial. Intervensi manusia dalam mengeksploitasi SDA yang ada membuat perubahan kondisi lingkungan yang dikenal sebagi dampak (impacts). Sebaliknya perkembangan sistem budaya manusia dipengaruhi oleh kondisi lingkungan hidup di sekitarnya sebagai bentuk adaptasi manusia atas karakteristik geografi dimana mereka berada. Dalam hal ini suku bangsa yang bermatapencaharian sebagai pemburu akan memiliki kebiasaan dan budaya yang berbeda dengan suku bangsa yang sudah mengenal pertanian menetap, misalnya perbedaan dalam teknologi yang digunakan dan bentuk pemukiman penduduk. Berdasarkan uraian tersebut, perubahan ekologis yang mengarah kepada krisis ekologi terjadi sebagai konsekuensi hubungan antara ekosistem dan sistem sosial yang berkembang dalam lingkungan tersebut. Pandangan atas krisis ekologi dilihat para ahli ekologi manusia (human ecology) sebagai akibat dari tatanan sistem sosial, ekonomi, dan politik yang dipakai (Ife, 1995), sedangkan Kotari (1990) memandang bahwa krisis ekologi saat ini berawal dari masalah etika lingkungan yang lemah. Diskursus tersebut pada dasarnya memiliki kesamaan, yaitu bahwa krisis ekologi yang tengah terjadi sama-sama berasal dari peran manusia dalam interaksinya dengan lingkungan. Krisis ekologi yang terjadi berkembang sejalan dengan dinamika sosial, ekonomi, dan politik yang tengah terjadi di masyarakat, serta bagaimana etika lingkungan diterapkan. Secara umum krisis ekologi dapat terjadi di dalam kondisi sistem sosial, ekonomi, dan politik, serta praktek etika lingkungan yang tidak dapat senafas dengan model pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Krisis ekologi adalah sebagian dari konsekuensi hubungan sistem sosial terhadap ekosistem yang tidak sustainable. Sistem sosial, politik, dan ekonomi yang tidak mencerminkan terlaksananya prinsip-prinsip ekologis menyebabkan krisis ekologi. Pembangunan yang berlandaskan prinsip-prinsip ekologis mencerminkan pendekatan yang bersifat holistik, keberlanjutan (sustainability), keragaman (diversity), dan keseimbangan (equilibrium). Apabila salah satu dari keempat prinsip ekologis tersebut terabaikan, maka krisis ekologi akan terjadi. Sistem sosial, ekonomi, dan politik yang berkembang di tengah masyarakat cenderung tidak menguntungkan keberlanjutan ekosistem. Sistem sosial yang banyak

Manusia dan Krisis Ekologi Saat Ini

2

menganut sistem patriaki (patriachy) cenderung memunculkan karakteristik yang penuh dengan dominansi, tindasan (oppression), dan pengawasan (control) yang sering terpusat, sehingga menyebabkan masyarakat yang kompetitif (competetive), serakah (acqusitive), dan eksploitatif (exploitative). Pola kompetitif, acqusitive, dan eksploitatif menyebabkan pembangunan berjalan tidak berkelanjutan (unsustainable

development) yang diindikasikan dengan terjadinya krisis ekologi. Sumberdaya alam
dieksploitasi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara maksimal untuk mencapai tingkat pertumbuhan tertentu. Sistem politik yang lebih tersentralisasi tidak banyak mendukung prinsip kelestarian ekologis. Praktek politik terpusat yang dijalankan pemerintahan orde baru di Indonesia selama tiga dasawarsa lebih, telah banyak menghancurkan lingkungan hidup dan krisis ekologi yang terjadi dimana-mana, misalnya akibat penurunan luas kawasan hutan telah menimbulkan banjir dan kekeringan di berbagai daerah di Indonesia. Padahal konsep diversitas lebih menekankan penggunaan prinsip desentralisasi dalam pembangunan berwawasan lingkungan. Sistem ekonomi yang dijalankan di berbagai negara umumnya masih banyak yang berpijak pada kaidah pembangunan (developmentalism). Prinsip

developmentalism memiliki sasaran utama kepada pencapaian pertumbuhan ekonomi
semaksimal mungkin dengan pola produksi dan konsumsi yang bersifat sangat eksesifmaterialistis (Keraf, 2002). Sementara itu tolok ukur kemajuan tiap bangsa sering dinyatakan dalam bentuk tingkat pertumbuhan ekonomi (economic growth) yang kemudian diidentikkan secara dangkal sebagai tingkat peradaban bangsa. Akibat dari masih kuatnya paradigma developmentalism ini, setiap negara berupaya mengikuti jalan yang ditempuh oleh negara-negara maju karena takut dikategorikan sebagai terbelakang. Dengan dasar inilah semua aspek kehidupan ditempatkan di bawah imperatif ekonomi, sehingga konsekuensinya semua kelembagaan sosial didesain untuk menjawab dan melayani kepentingan ekonomi dengan tujuan utama pertumbuhan ekonomi semaksimal mungkin. Dalam hal ini semua aspek kehidupan, termasuk lingkungan dikorbankan untuk kepentingan ekonomi. Hasil dari developmentalism tanpa memperhatikan aspek kepentingan ekologis adalah kehidupan yang tetap memprihatinkan di berbagai negara berkembang, misalnya terciptanya kehancuran lingkungan hidup, pemusatan ekonomi pada sekelompok masyarakat kaya yang menciptakan perbedaan kesejahteraan dalam masyarakat, penurunan kualitas hidup, dan terabaikannya budaya masyarakat lokal.

Manusia dan Krisis Ekologi Saat Ini

3

Dalam skala global, kekayaaan negara berkembang telah dieksploitasi oleh negara maju yang secara ekonomi dan politik jauh lebih kuat di atas negara berkembang. Kekayaan SDA akhirnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan negara maju, tetapi bagi negara berkembang hanyalah meninggalkan kemiskinan, kerusakan SDA dan lingkungan, pencemaran dan degradasi lingkungan, dan utang luar negeri yang makin besar. Utang luar negeri negara berkembang dijadikan alat politik dan ekonomi untuk menekan negara berkembang agar mematuhi keinginan negara maju yang umumnya negara pemberi pinjaman. Namun masalah utang luar negeri dapat juga menjadi alat tawar negara berkembang untuk meminta negara maju mau membantu perbaikan lingkungan hidupnya. Hal yang lebih penting dalam menciptakan lingkungan global yang lebih baik adalah berupaya menata tata dunia yang lebih adil. Tata lingkungan dunia yang lebih adil akan tercapai apabila setiap negara tidak menggunakan standar ganda dalam menjalankan program pengelolaan dan penyelamatan lingkungan hidup, misalnya tidak digunakannya keunggulan ekonomi dan politik dari negara maju untuk melindungi kinerja lingkungan yang buruk dari perusahaan multinasional yang dimilikinya. Jadi, setiap krisis ekologi yang terjadi dikarenakan desain sistem sosial, politik, dan ekonominya tidak selaras dengan prinsip ekologis yang mengedepankan pendekatan prinsip holistik, keberlanjutan, diversitas, dan keseimbangan. Diskursus krisis ekologi selain diakibatkan oleh kondisi sosial, politik dan ekonomi juga menyangkut etika lingkungan. Etika (ta etha) yang berasal dari Bahasa Yunani berarti adat kebiasaan, sehingga etika dapat bermakna nilai-nilai dan norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau kelompok dalam mengatur tingkah lakunya (Bertens, 2000). Dalam makna inilah perilaku individu atau masyarakat baik ekonomi, sosial, maupun politik ditentukan oleh seberapa kuat tingkat etika lingkungan yang dapat diterapkannya. Interaksi antara etika lingkungan dan krisis ekologi sebenarnya tidak terlepas dari pandangan sebelumnya yang menggambarkan krisis ekologi sebagai akibat dari tatanan ekonomi, sosial, dan politik yang tidak berkelanjutan. Etika mendasari perilaku masyarakat dalam merancang sistem ekonomi, sosial, dan politiknya, dengan kata lain sistem dalam masyarakat dapat dilihat dari etika sosial dan moralitas yang diterapkannya. Nilai moral yang berkembang senantiasa berkaitan dengan subyek yaitu tanpa subyek maka tidak ada nilai, subyek ingin membuat sesuatu, dan nilai timbul sebagai tambahan pada sifat-sifat yang dinilai objektif.

Manusia dan Krisis Ekologi Saat Ini

4

Moral dan etika (lingkungan) harus dipandang sebagai bentuk tanggung-jawab kita terhadap lingkungan. Pengetahuan dan teknologi yang berkembang dan dimanfaatkan untuk mengelola SDA tidak selamanya menguntungkan. Eksploitasi SDA yang tidak terkendali dalam jangka pendek akan menguntungkan, namun dalam tahap waktu selanjutnya menciptakan penderitaan panjang bagi masyarakat. Contoh dari pemanfaatan SDA tidak terkendali adalah pengusahaan hutan yang sangat intensif dan eksesif di Indonesia selama beberapa dasawarsa telah menciptakan penderitaan rakyat, misalnya terjadinya banjir dan kekeringan yang secara langsung mempengaruhi tingkat produktifitas masyarakat dan kualitas hidupnya. Jadi, pembangunan tanpa etika lingkungan yang baik hanyalah menciptakan kehancuran lingkungan. Visi moral lingkungan mendasari pembangunan agar tetap berada dalam koridor pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu kita harus sepakat bahwa kita harus berubah untuk mengintegrasikan aspek lingkungan dalam gerak pembangunan secara nyata, jika tidak krisis ekologi yang sekarang di depan mata akan menebas peradaban yang selama ini kita coba tegakkan. Sebagai penutup, mungkin ratapan orang Indian ini pantas untuk kita renungkan :

only after the last tree has been cut down, only after the last river has been poisoned, only the last fish has been caught, only then will you find that money can not be eaten (hanya setelah pohon terakhir ditebang, hanya setelah sungai terakhir diracuni, hanya setelah ikan terakhir ditangkap, kemudian setelah itu kita baru menyadari bahwa uang yang kita kumpulkan ternyata tidak dapat dimakan).

۩
Ir. Hikmat Ramdan, M.Si. Staf Pengajar Fakultas Kehutanan Universitas Winaya Mukti, Jatinangor.

Manusia dan Krisis Ekologi Saat Ini

5


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:6623
posted:4/24/2009
language:Indonesian
pages:6