Docstoc

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Document Sample
Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Powered By Docstoc
					PRINSIP DASAR

PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI

Oleh Dr.Ir. HIKMAT RAMDAN, M.Si

LABORATORIUM EKOLOGI HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS WINAYA MUKTI Agustus, 2004

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Cara Kutipan yang disarankan dari Buku ini : Ramdan, H. 2006. Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Laboratorium Ekologi Hutan, Fakultas Kehutanan Universitas Winaya Mukti. Jatinangor.

1

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

PRINSIP DASAR PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI
  Pendahuluan   Daerah  Aliran  Sungai  (DAS)  merupakan  wilayah  yang  dikelilingi  dan  dibatasi oleh topografi alami berupa punggung bukit atau pegunungan, dimana  presipitasi  yang  jatuh  di  atasnya  mengalir  melalui  titik  keluar  tertentu  (outlet)  yang  akhirnya  bermuara  ke  danau  atau  laut.  Batas‐batas  alami  DAS  dapat  dijadikan  sebagai  batas  ekosistem  alam,  yang  dimungkinkan  bertumpang‐tindih  dengan  ekosistem  buatan,  seperti  wilayah  administratif  dan  wilayah  ekonomi.  Namun  seringkali  batas  DAS  melintasi  batas  kabupaten,  propinsi,  bahkan  lintas  negara.  Suatu  DAS  dapat terdiri dari beberapa sub DAS, daerah Sub DAS kemudian dibagi‐ bagi lagi menjadi sub‐sub DAS.     Komponen‐komponen  utama  ekosistem  DAS,  terdiri  dari  :manusia,  hewan,  vegetasi,  tanah,  iklim,  dan  air  (Gambar  1).  Masing‐masing  komponen  tersebut  memiliki  sifat  yang  khas  dan  keberadaannya  tidak  berdiri‐sendiri,  namun  berhubungan  dengan  komponen  lainnya  membentuk  kesatuan  sistem  ekologis  (ekosistem).  Manusia  memegang  peranan yang penting dan dominan dalam mempengaruhi kualitas suatu  DAS. Gangguan terhadap salahsatu komponen ekosistem akan dirasakan  oleh  komponen  lainnya  dengan  sifat  dampak  yang  berantai.  Keseimbangan ekosistem akan terjamin apabila kondisi hubungan timbal  balik  antar  komponen  berjalan  dengan  baik  dan  optimal.  Kualitas  interaksi  antar  komponen  ekosistem  terlihat  dari  kualitas  output  ekosistem  tersebut.  Di  dalam  DAS  kualitas  ekosistemnya  secara  fisik  terlihat  dari  besarnya  erosi,  aliran  permukaan,  sedimentasi,  fluktuasi  debit, dan produktifitas lahan.     Prinsip keberlanjutan (sutainability) menjadi acuan dalam mengelola DAS,  dimana  fungsi  ekologis,  ekonomi,  dan  sosial‐budaya  dari  sumberdaya‐ sumberdaya  (resources)  dalam  DAS  dapat  terjamin  secara  berimbang  (balance).     Di dalam mempelajari DAS, biasanya DAS dibagi menjadi hulu, tengah,  dan  hilir.  DAS  bagian  hulu  sebagai  daerah  konservasi,  berkerapatan 
2

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

drainase  tinggi,  memiliki kemiringan  topografi  besar,  dan  bukan  daerah  banjir.  Adapun  DAS  bagian  hilir  dicirikan  sebagai  daerah  pemanfaatan,  kerapatan  drainase  rendah,  kemiringan  lahan  kecil,  dan  sebagian  diantaranya  merupakan  daerah  banjir.  Daerah  aliran  sungai  tengah  merupakan  transisi  diantara  DAS  hulu  dan  DAS  hilir.  Masing‐masing  bagian  tersebut  saling  berkaitan.  Bagian  hulu  DAS  merupakan  kawasan  perlindungan,  khususnya  perlindungan  tata  air,  yang  keberadaannya  penting bagi bagian DAS lainnya. Contoh keterkaitan antara bagian hulu  dengan  hilir  diantaranya  adalah  :  (a).  bagian  hulu  mengatur  aliran  air  yang dimanfaatkan oleh penduduk di bagian hilir, (b). erosi yang terjadi  di  bagian  hulu  menyebabkan  sedimentasi  dan  banjir  di  hilir,  dan  (c).  bagian  hilir  umumnya  menyediakan  pasar  bagi  hasil  pertanian  dari  bagian hulu.   

3

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Abiotic Components Watershed Components

Biotic Components

Soil

Flora/Vegetartion

Climate Fauna Water Principlely, Watershed Management is how to manage all watershed component sustainably ?

Human-Being

Ecology

Precipitation as major source

INPUT

PROCESSING

OUTPUT

Balance
Sustainable Balance

Sound Watershed a. High Productivity of Land b. Natural Resources Sustainability c. Equity and Resiliences d. Strong Institution

Economy

Social-culture

Unbalance

Symptoms of Unbalanced Watershed Management : • Resources destruction (erosion, water pollution, climate change,etc.) • Human quality decrease • Resources conflicts • End of civilization

Criterias and Indicators : a. Bio-physics : soil loss, land productivity, sedimentation, other soil problems, water supply and demand, water use index, natural assimilation functions, groundwater, flood, drougt, precipation, climate(change), landuse, landuse ratio, abundance and diversity of species, extinct rate, biological conservation b. Economy-Social : sustainable use, income, economic growth, manpower, land tenure, direct benefit-cost of projects, undirect benefit-costs of projects, wealth distribution, investments, incentives systems, population growth, demographic status, attitude change, land management system, technology adoption, local people empowerment, conflicts resolution, resources management.

 

  Gambar 1. Interaksi Antar Komponen dalam DAS         
4

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

 Perbedaan karakteristik DAS Hulu dan Hilir disajikan pada Tabel 1.    Tabel  1.  Perbandingan  Faktor  Biofisik  dan  Sosial  Ekonomi  Antara  DAS  di  Bagian Hulu dan Hilir (FAO and IRRI, 1995)    Daerah Hilir  Daerah Hulu  Faktor Biofisik    ‐ Topografi datar  ‐ Bergelombang, berbukit, gunung  ‐ Erosi yang terjadi kecil  ‐ Rawan terhadap terjadinya erosi  ‐ Penutupan lahan bukan hutan  ‐ Didominasi oleh hutan  ‐  Tanah  umumnya  subur  (akibat  ‐ Tanah umumnya marjinal  sedimentasi)  ‐  Pengolahan  tanah  intensif  dan  ‐  Pengolahan  tanah  masih  ekstensif  umumnya telah beririgasi baik  dan merupakan lahan kering      Faktor Sosial Ekonomi    ‐ Infrastruktur baik  ‐ Infrastruktur jelek  ‐ Aksesibilitas tinggi  ‐ Aksesibilitas rendah  ‐ Tingkat pendidikan tinggi  ‐ Tingkat pendidikan rendah  ‐ Berorientasi pasar  ‐ Orientasi masih subsisten  ‐ Lahan banyak dimiliki pribadi  ‐ Lahan banyak milik pemerintah  ‐ Adanya percampuran budaya  ‐ Jarang terjadi percampuran budaya   ‐ Tenaga kerja upahan  ‐ Tenaga kerja berasal dari keluarga  ‐ Tingkat kesejahteraan relatif tinggi  ‐ Tingkat kesejahteraan rendah  ‐ Teknologi sudah kompleks  ‐ Teknologi masih sederhana  ‐ Keterlibatan LSM*) sedikit  ‐ Keterlibatan LSM banyak  *) LSM adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (non government organization)    Bagaimana komponen‐komponen penyusun DAS, seperti sumberdaya tanah  dan  air,  harus  dikelola  dan  dimanfaatkan  dengan  baik  adalah  inti  dari  konsep  pengelolaan  DAS.  Sumberdaya  penyusun  DAS  harus  dikelola  berdasarkan kapasitasnya, sehingga gejala‐gejala degradasi lingkungan dapat  diminimalkan.    Pengelolaan  DAS  adalah  pengelolaan  sumberdaya  alam  dan  buatan  yang  ada  di  dalam  DAS  secara  rasional  dengan  tujuan  untuk  mencapai  keuntungan  yang  maksimum  dalam  waktu  yang  tidak  terbatas  dengan  resiko  kerusakan  seminimal  mungkin.    Dalam  konteks  yang  lebih  luas  pengelolaan  DAS  dapat  dipandang  sebagai  suatu  sistem  sumberdaya,  satuan pengembangan sosial ekonomi, dan satuan pengaturan tata ruang 
5

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

wilayah.  Pengelolaan  DAS  juga  ditujukan  untuk  produksi  dan  perlindungan sumberdaya air termasuk di dalamnya pengendalian erosi  dan banjir.       Pengelolaan DAS dijalankan berdasarkan prinsip kelestarian sumberdaya  (resources  sustainability)  yang  menyiratkan  keterpaduan  antara  prinsip  produktifitas  dan  konservasi  sumberdaya  (sustainabilty  =  productivity  +  conservation of resources) di dalam mencapai beberapa tujuan pengelolaan  DAS, yaitu : (a) terjaminnya penggunaan sumberdaya alam yang lestari,   seperti  hutan,  hidupan  liar,  dan  lahan  pertanian;  (b).  tercapainya  keseimbangan ekologis lingkungan sebagai sistem penyangga kehidupan;  (c).terjaminnya  jumlah  dan  kualitas  air  yang  baik  sepanjang  tahun;  (d).mengendalikan aliran permukaan dan banjir; (e).mengendalikan erosi  tanah, dan proses degradasi lahan lainnya.     Pengelolaan  DAS  mencoba  menyeimbangkan  tujuan  ekonomi  sumberdaya alam dengan tujuan konservasi dalam suatu kawasan DAS.  Tujuan  produksi  menitikberatkan  untuk  mengoptimumkan  pendapatan  dan  produksi,  sedangkan  tujuan  konservasi  lebih  menekankan  pada  upaya meminimalkan terjadinya degradasi sumberdaya alam. Ekosistem  DAS yang baik dicirikan oleh beberapa parameter sebagai berikut :    a. Produktifitas sumberdaya lahan tinggi Produktifitas sumberdaya lahan secara langsung dapat dilihat dari  hasil panen untuk setiap komoditas yang diusahakan. Hasil yang  diperoleh  harus  dapat  memenuhi  kebutuhan  hidupnya  dan  mampu  mendesain  masa  depannya;  dalam  hal  ini  pendapatan  yang  diperoleh  selain  mencukupi  kebutuhan  primernya  akan  pangan,  sandang,  dan  papan,  juga  kebutuhan  lainnya,  seperti  pendidikan  dan  kesehatan  sebagai  bekal  dalam  mendesain  masa  depannya  yang  lebih  baik,  juga  untuk  melaksanakan  aktifitas  sosialnya. Untuk mencapai tingkat produktifitas yang diharapkan  digunakan  teknologi  (agroteknologi)  yang  juga  menjamin  kelestarian sumberdaya alam yang diupayakannya.  Pendapatan yang diperoleh hendaknya mencapai 3 ‐ 4 kali standar  batas miskin. Garis kemiskinan berdasarkan pendekatan Sayogyo  adalah  320  kg  beras/kapita/tahun;  adapun  menurut  Bank  Dunia  garis  kemiskinan  untuk  daerah  pedesaan  US$  50  dan  untuk  daerah perkotaan sebesar US $ 75.   
6

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

b. Kelestarian Sumberdaya Alam terjamin Sumberdaya  tanah,  air,  vegetasi,  dan  fauna  dalam  kawasan  DAS  harus terjamin kelestariannya, misalnya laju erosi yang lebih kecil  dari  laju  erosi  yang  diperkenankan,  distribusi  hasil  air  merata  sepanjang  tahun,  kualitas  air  terjaga,  sedimentasi  dan  kadar  lumpur  dalam  aliran  air  kecil,  keanekaragaman  hayati  tinggi,  prosentase  penutupan  lahan  oleh  vegetasi  tinggi,  polusi  lingkungan rendah, dan sebagainya.      c. Kelenturan dan Pemerataan Pembangunan Kelenturan  (resilience)  merupakan  ketahanan  ekosistem  terhadap  setiap guncangan (ekologis dan ekonomi) yang terjadi dalam DAS.  Suatu  DAS  yang  baik  akan  memiliki  tingkat  kelenturan  yang  tinggi  terhadap  gejolak  yang  timbul,  sehingga  ekosistem  tersebut  tetap  bertahan  dan  kembali  ke  bentuk  semula.  Pemerataan  pembangunan  antara  bagian  hulu  dan  hilir  masih  menjadi  masalah  dalam  pengelolaan  DAS.  Masyarakat  di  bagian  hulu  dengan tingkat kesejahteraan, infrastruktur, dan aksesibilitas yang  lebih  rendah  dari  bagian  hilir  cenderung  mengeksploitasi  lahannya  dengan  sangat  intensif,  sehingga  menurunkan  kualitas  air  di  hilirnya  akibat  erosi.  Di  bagian  hilir  masyarakat  banyak  yang  tidak  menyadari  arti  pentingnya  bagian  hulu  dalam  menjamin  infrastrukturnya,  sehingga  pembangunan  di  bagian  hulu  dinomorduakan.  Oleh  karena  itu  pemikiran  dalam  menyisihkan  sebagian  pajak  masyarakat  di  bagian  hilir  untuk  pengelolaan lingkungan dan pembangunan di bagian hulu dalam  bentuk  subsidi  silang  (cross  subsidy)  perlu  ditindaklanjuti,  sehingga  terjadi  proses  pemerataan  antara  kedua  bagian  wilayah  DAS tersebut.    Daerah aliran sungai merupakan suatu megasistem, yang dikelompokkan  menjadi sistem fisik, biologis, dan human system (Gambar 2). Setiap sistem  dan sub‐sistem ‐ sub sistem di dalamnya saling berinteraksi.   

7

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

WATERSHED MEGASYSTEM

PHYSICAL SYSTEM

BIOLOGICAL SYSTEM

HUMAN SYSTEM

ATMOSPHERIC SUB SYSTEM
• Radiant Energy of The Sun • Evaporation • Precipitation • Micro-climate

AQUATIC SUB SYSTEM
• Benthos • Phyoplankton • Zooplankton • Fish • Aquatic Vertebrates • Disease Vectors • Aquatic Food Chains

PRODUCTION SUB SYSTEM
• Agriculture • Fishing • Wildlife • Recreation &Tourism • Energy • Manufacturing • Health • Navigation

HYDROLOGICAL SUBSYSTEM
• Precipitation • Surface Runoff • Water discharge • Groundwater • Evapotranspiration • Sediments, Nutrients • Turbidity • Salinity and Alkalinity

TERESTERIAL SUB SYSTEM
• Flora and Fauna on submerged land and drawshore zone • Same on Flood free-zone • Soil nutrients • Vegetation cover on soil

ADMINISTRATIVE SUB SYSTEM
• Structure of authority • Staff and line functions • Budgetting • Appropriation of Funds • Legislative control • Public participation

PHYSIOGRAPHIC SUBSYSTEM
• Soil cover • Rock structure • Terrain gradient • River Profile • Earthquake

SOCIO-POLITICAL SUB SYSTEM
• Political power structure • Social pressure group • Land tenancy • Ownership of assets • Social justice and redistribution

LEGAL SUB SYSTEM
• Planning legislation • Environmental Legislation

Gambar 2. Megasistem Daerah Aliran Sungai
(Source : Saha and Barrow (1981) in Mc Donald and D. Kay (1988) Water Resource : Issues and Strategies. Longman. New York

 

8

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Karakteristik Fisik DAS Bentuk DAS  Bentuk  DAS  dapat  dibagi  dalam  empat  bentuk,  yaitu  :(a).  berbentuk  bulu  burung;  (b).  radial;  (c).  paralel;  dan  (d).  kompleks.  Karakteristik  masing‐masing bentuk ditampilkan dalam Tabel 2.     Pola Aliran Sungai  Pola aliran sungai apabila dilihat dari atas tampak menyerupai beberapa  bentuk,  seperti  menyerupai  percabangan  pohon  (dendritik),  segi  empat  (rectangular),  jari‐jari  lingkaran  (radial),  dan  trellis.  Pola  aliran  ini  dapat  merupakan petunjuk awal tentang jenis dan struktur batuan yang ada.  a. Pola  dendritik  :  umumnya  terdapat  pada  daerah  dengan  batuan  sejenis  dan  penyebaran  yang  luas,  misalnya  kawasan  yang  tertutup  endapan  sedimen  yang  terluas  dan  terletak  pada  bidang  horizontal,  seperti di dataran rendah bagian timur Sumatera dan Kalimantan.  b. Pola  rectangular  :  Umumnya  terdapat  di  daerah  berbatuan  kapur,  seperti di kawasan Gunung Kidul, Yogya.  c. Pola  radial  :  umumnya  dijumpai  di  daerah  lereng  gunung  berapi,  seperti G. Semeru, G. Ijen, G. Merapi.  d. Pola  trellis  :  dijumpai  di  daerah  dengan  lapisan  sedimen  di  daerah  pegunungan lipatan, seperti di Sumatera Barat dan Jawa Tengah                           

9

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Tabel 2. Karakteristik Bentuk DAS      Tipe  Karakteristik  Bulu  Jalur  anak  sungai  di  Burung  kiri‐kanan sungai utama  mengalir menuju sungai  utama, debit banjir kecil  karena waktu tiba banjir  dari  anak‐anak  sungai  berbeda‐beda.  Banjir  berlangsung agak lama. 

Gambar   

Laut

 

Radial 

Paralel 

Bentuk  DAS  menyerupai  kipas  atau  lingkaran,  anak‐anak  sungai  berkonsentrasi  ke  suatu  titik  secara  radial,  banjir  besar  terjadi  di  titik  pertemuan  anak‐anak  sungai.  Bentuk  ini  mempunyai  corak  dimana  dua  jalur  aliran  sungai  yang  sejajar bersatu di bagian  hilir,  banjir  terjadi  di  titik  pertemuan  anak  sungai 

Laut

 

Laut

 

Kompleks 

Memiliki beberapa buah  bentuk  dari  ketiga  bentuk di atas. 

 

   

10

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

    Gambar 3. Pola Aliran Sungai (Microsoft,2002)    Morfometri  Sungai.  Morfometri  sungai  mengkaji  jaringan  fisik  DAS  secara  kuantitatif  yang  meliputi  :  luas  DAS,  panjang  sungai,  lebar  DAS,  orde/tingkat  percabangan  sungai,  kerapatan  sungai,  dan  kemiringan  sungai.  a. Luas  DAS  dapat  diukur  di  atas  peta  menggunakan  alat  planimeter.  Batas  DAS  merupakan  punggung  bukit  atau  pegunungan  yang  memungkinkan  prespitasi  yang  jatuh  menjadi  aliran  air  mengalir  melalui  saluran  sungai  di  dalamnya  yang  terpisah dari kawasan DAS lainnya. Semakin kecil luas DAS yang  diamati  memerlukan  peta  topografi  dengan  skala  yang  semakin  besar.  b. Panjang  sungai  dihitung  sebagai  jarak  datar  dari  muara  sungai  (oulet) ke arah hulu sepanjang sungai induk. Adapun lebar sungai  merupakan pembagian antara luas DAS dengan panjang sungai.           
11

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Tabel 3. Penggunaan Peta Topografi dalam Pengukuran Luas DAS  (Puslitbang Pengairan, 1986 dalam Soewarno, 1991)   
Skala Peta  1 : 250.000  1 : 250.000  1 : 100.000  1 : 50.000  1 : 25.000  1 : 20.000  1 : 10.000  Luas DAS minimal (km2)  40  25  7  1,6  0,4  0,25  0,07  Interval Kontur (m)  50  40  25  25  12,5  10  5 

 

c. Orde atau tingkat percabangan sungai adalah posisi percabangan 
alur sungai di dalam urutannya terhadap induk sungai dalam satu  DAS  (Soewarno,  1991).    Alur  sungai  paling  hulu  yang  tidak  memiliki  cabang  disebut  orde  pertama,  pertemuan  dua  orde  pertama  disebut  orde  kedua,  pertemuan  orde  pertama  dengan  orde  kedua  disebut  orde  kedua,  dan  pertemuan  dua  orde  kedua  disebut  orde  ketiga,  begitu  seterusnya.  Secara  umum  dapat  dinyatakan bahwa pertemuan dua orde yang sama menghasilkan  nomor  orde  satu  tingkat  lebih  tinggi,  sedangkan  pertemuan  dua  orde  sungai  yang  berbeda  memberikan  nomor  orde  yang  sama  nilainya  dengan  nomor  orde  tertinggi  diantara  kedua  orde  yang  sungai yang bertemu.   
1 1 1 1 1 1 2 2 2 3 2 1 2 2 3 1 1 2 11 1 1

4

    Gambar 4. Urutan Nomor Orde Sungai   

12

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

d. Kerapatan  sungai  adalah  angka  indeks  yang  menunjukkan 
banyaknya  anak  sungai  di  dalam  suatu  DAS.  Indeks  tersebut  dihitung dengan persamaan :    D = L/A    D  adalah  indeks  kerapatan  sungai  (km/km2),  L  adalah  jumlah  panjang  seluruh  alur  sungai  (km),  dan  A  adalah  luas  DAS  (km2).  Tabel  5  menunjukkan  kriteria  indeks  kerapatan  sungai.  Horton  (1949)  menyebutkan  bahwa  kerapatan  sungai  berhubungan  dengan sifat drainase DAS. Sungai dengan kerapatan kurang dari  0,73  umumnya  berdrainase  jelek  atau  sering  mengalami  penggenangan, sedangkan sungai dengan  kerapatan antara 0,73 ‐  2,74  umumnya  memiliki  kondisi  drainase  yang  baik  atau  jarang  mengalami penggenangan.      Tabel 4. Indeks Kerapatan Sungai (Soewarno, 1991)  No  Indek Kerapatan Sungai (km/km2)  Kriteria  1  Kurang dari 0,25  Rendah  2  0,25 ‐ 10  Sedang  3  10   ‐  25  Tinggi  4  Di atas 25  Sangat  Tinggi    e. Kemiringan  sungai  utama  adalah  rasio  perbedaan  tinggi  antara  titik  tertinggi  (di  bagian  hulu)  dengan  titik  terendah  (di  bagian  hilir) dari sungai utama dibagi dengan panjang sungai utama.    Siklus Hidrologi dan Neraca Air   Siklus hidrologi merupakan suksesi tahapan‐tahapan yang dilalui air dari  atmosfir ke bumi dan kembali lagi ke atmosfer (Seyhan, 1993). Perjalanan  air  di  bumi  membentuk  siklus  melalui  beberapa  proses,  misalnya  evaporasi menguapkan air dari laut, permukaan bumi, dan badan air ke  atmosfer,  uap  air  mengalami  kondesasi  dan  kemudian  jatuh  menjadi  presipitasi,  air  kemudian  terakumulasi  di  dalam  tanah  dan  badan  air,  selanjutnya  dengan  proses  evaporasi  air  diuapkan  kembali  ke  atmosfir.  Secara global siklus air yang terjadi membentuk sistem tertutup, dimana  selama masa sekarang hampir tidak ada penambahan jumlah volume air  yang  berarti  di  luar  sistem  biosfir  yang  ada.  Volume  air  di  bumi 
13

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

diperkirakan  mencapai  1,4  milyar  km3,  dan  terdistribusi  sebagai  air  laut  (97,5  %),  air  daratan  berbentuk  es  (1,75  %),  0,73  %  air  di  darat  (sungai,  danau, air tanah, dan sebagainya), dan 0,001 % berada sebagai uap air di  udara.  
Clouds & water vapor Clouds & water vapor E P ET P ET P P P
soil moisture

ET

P

P P

R
tree/ vegetation

E E E E

I
tree/ vegetation

I

lake

water table G Saturation Zone
ocean/sea

The Hydrologic Cycle : P, precipitation; ET, evapotranspiration E, evaporation; R, surface runoff; I, Infiltration; G, groundwater, S, storage Water Balance : INPUT = OUTPUT P=E+R+G+S

 

  Gambar 5. Siklus Hidrologi    Di  dalam  siklus  hidrologi,  air  mengalami  perubahan  bentuk  mulai  dari  cair,  uap,  kemudian  menjadi  cair  (hujan)  dan  padat  (salju).  Berjalannya  siklus  hidrologi  memerlukan  energi  panas  matahari  yang  cukup  untuk  mengevaporasikan  uap  air  dari  lautan  atau  badan‐badan  air  (seperti  :  sungai, danau, vegetasi, dan tanah lembab) ke atmosfir. Di atmosfir uap  air mengalami kondensasi berupa butiran hujan atau kristal es berbentuk  awan. Sampai ukuran tertentu butiran air tersebut turun ke bumi menjadi  presipitasi  baik  dalam  bentuk  cair  (hujan)  atau  padat  (salju).  Namun  di  daerah  tropika  basah  bentuk  presipitasi  pada  umumnya  berupa  hujan,  sehingga  dalam  pembahasan  selanjutnya  istilah  hujan  menggantikan  istilah presipitasi.  
14

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Tabel 5. Distribusi Air di Bumi (Black, 1996)   
Lokasi  Simpanan  (Location of Storage)    Total air di bumi  Laut  Total air tawar  Es dan glasier  Air tanah dalam  Air tanah dangkal  Danau  Biosfir  Kelembaban tanah  Atmosfir  Sungai  Jumlah Air  (Total Water)  dalam acre‐foot    1.033 x 1015 1.000 x 1015 3.314 x 1013 2.475 x 1013 4.62 x 10 12 3.63 x 1012 9.9 x 1010 8.1 x 10 10 1.98 x 1010 1.155 x 1010 9.9 x 109 Persentase dari Air Tawar  (Percentage of Freshwater)  dalam %  Total  Air Tawar  100    96.8    3.2  100    75    14    11    0.3    0.24    0.06    0.035    0.003  Lama Simpanan  (Residence Time)  dalam Tahun        6977  5210  973  764  21  17.1  4.17  2.43  2.1 

  Sebagian  hujan  yang  jatuh  sebelum  mengenai  tanah  terlebih  dulu  mengenai  vegetasi,  bangunan,  atau  penutup  permukaan  tanah  lainnya.  Hujan yang diintersepsi oleh vegetasi kemudian dievaporasikan kembali  ke  atmosfir.  Setiap  vegetasi  memiliki  kemampuan  menyimpan  air  (intersepsi)  yang  berbeda.  Misalnya  vegetasi  hutan  memiliki  kapasitas  intersepsi  yang  lebih  besar  dibandingkan  dengan  rumput.  Bagian  hujan  lainnya yang jatuh ke bumi ada juga yang langsung masuk ke lautan atau  badan‐badan air dan kembali diuapkan ke  atmosfir.     Air  hujan  yang  lolos  dari  intersepsi  selanjutnya  mencapai  permukaan  tanah  melalui  batang  tumbuhan  (stemflow)  atau  jatuh  langsung  (throughfall)  dari  bagian  atas  (daun).  Di  permukaan  tanah  air  mengisi  simpanan  depresi  (depression storage)  dan  setelah  pori  tanah  terisi,  aliran  air  kemudian  mengikuti  gaya  gravitasi  air  terus  masuk  ke  dalam  tanah  (infilitrasi). Dalam tahap ini kemampuan tanah menyerap air tergantung  dari  permeabilitas  tanah  dan  vegetasi  yang  ada  di  atasnya.  Di  bawah  permukaan  tanah  air  terakumulasi  dan  membentuk  aliran  bawah  permukaan,  selanjutnya  pada  titik  tertentu  akan  keluar  sebagai  aliran  bawah  permukaan  (subsurface  runoff)  dan  masuk  ke  dalam  sungai.  Apabila  air  terus  menembus  semakin  dalam  lapisan  tanah,  aliran  air  dapat mencapai air tanah (groundwater recharge) yang merupakan lapisan  bawah  tanah  yang  kurang  permeabel.  Setelah  mencapai  simpanan  air  tanah,  air  bergerak  mengikuti  permukaan  air  tanah  yang  merupakan  wilayah  tekanan,  dan  selanjutnya  aliran  air  tanah  keluar  dan  masuk  ke  dalam  sungai.  Laju  aliran  air  tanah  yang  keluar  tergantung  kepada 
15

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

struktur  geologi  wilayah,  permeabilitas  tanah,  dan  lapisan  bawah  permukaan. 

P

Atmosfir

-IC

Tajuk

=T+S

Ruang Bidang

Pn
- If
Serasah

Pe
Tanah Mineral

F
Keterangan  :    P=  Prespitasi  total;  IC  =  Intersepsi  tajuk;  T=Throughfall;  S  =Stemflow  (aliran  batang);  Pn= Presipitasi bersih; If = Intersepsi  oleh serasah; Pe = Presipitasi efektif; F= Kapasitas infiltrasi   

 

Gambar 6. Distribusi Presipitasi ( Lee, 1990)    Apabila intensitas hujan melebihi kapasitas infiltrasi, maka air hujan yang  jatuh  akan  menjadi  aliran  permukaan  (surface  runoff)  dan  kemudian  menuju  sungai  atau  badan  air  terdekat.  Aliran  permukaan  ini  juga  merupakan  salah  satu  energi  yang  dapat  menggerus  partikel  tanah  di  permukaan  dan  menyebabkan  erosi.  Aliran  permukaan  semakin  besar  dengan semakin tingginya intensitas hujan, lereng yang semakin curam,  semakin  berkurangnya  kekasaran  permukaan  tanah,  dan  semakin  kecilnya kapasitas infiltrasi (Gambar 7).     Komposisi  aliran  air  di  dalam  sungai  terdiri  dari  aliran  permukaan  (surface runoff), aliran bawah permukaan (sub surface runoff), dan aliran air  tanah  (groundwater).  Di  dalam  aliran  air  yang  mengalir  senantiasa 

16

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

membawa  bahan  dan  mineral  yang  dapat  larut  dan  tidak  larut.  Bahan  yang dibawa aliran air kemudian diendapkan secara selektif.     Untuk  menafsirkan  secara  kuantitatif  siklus  hidrologi  dapat  dicapai  dengan  persamaan  umum  yang  dikenal  dengan  persamaan  neraca  air,  yaitu bahwa dalam selang waktu tertentu, masukan air total pada suatu  ruang  tertentu  harus  sama  dengan  keluran  total  ditambah  perubahan  bersih  dalam  cadangan  (Seyhan,  1993).  Neraca  hidrologi  dari  suatu  wilayah dapat ditulis sebagai berikut :    Perolehan (Input) = Keluaran (output) + simpanan    P = (R ‐ G ‐ E ‐ T) + ∆S    dimana  :  peubah  P  adalah  presipitasi  (hujan),  R  adalah  aliran  permukaan, G adalah air tanah, E adalah evporasi, T adalah transpirasi,  dan    ∆S  adalah  perubahan  simpanan.  Persamaan  inilah  yang  dikenal  sebagai persamaan dasar hidrologi.   

17

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

H o rto n fo rm u la o f In filtra tio n : f = f c + (f o - f c )e -k t
w h e re : f = in filtra tio n c a p a c ity (in /h )

fo = in itia l in filtra tio n c a p a c ity fc = c o n s ta n t in filtra tio n

R1 fo f : in filtra tio n ra te R : ra in fa ll f R2 fp R3 R4 fc

T2

Tp

T3

4 o p tio n a l c o n d itio n s : a . R 1 > fo : In filtra tio n , flo o d in g (o v e rflo w in g ), ru n o ff b . R 2 < f : ra in fa ll s to p s b e fo re fp < R 2 (T 2 ), a ll ra in fa ll in filtra te d c . fc < R 3 < fo : ra in fa ll in filtra te d u n til R 3 = T p , th e n in filtra tio n le s s , o v e rflo w in g a n d ru n o ff d . R 4 < f c : a ll ra in ffa ll in filtra te d

fo a : o v e rflo w in g /flo o d in g b : ru n o ff

R a b

fc tp
R
infiltration

tR O
R u n o ff s u rfa c e s o il
flooding

 

  Gambar 7. Mekanisme infiltrasi dan runoff    Persamaan neraca air dapat digunakan untuk menentukan besarnya nilai  proses  hidrologi  yang  tidak  diketahui.  Misalnya  besarnya  evapotranspirasi  (ET)  yang  terjadi  di  suatu  DAS  yang  besar  tidak 
18

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

diketahui,  karena  peralatan  untuk  pengukurannya  tidak  ada.  Namun  data hujan (P), aliran permukaan (R) , air tanah (G) dan simpanan air (S)  untuk  DAS  tersebut  terukur.  Dengan  demikian  besarnya  nilai  ET  dapat  ditentukan dengan mengurangi P dengan R, G, dan S (atau ET = P ‐ R ‐ G  ‐ S).    Pengaruh Manusia terhadap Siklus Hidrologi DAS Manusia merupakan komponen ekosistem DAS yang berpengaruh besar  dan  dominan  terhadap  keseimbangan  mekanisme  kerja  sistem  ekologis  yang  berlangsung,  termasuk  mempengaruhi  daur  hidrologi.  Dengan  teknologi yang dikuasainya ia mampu mengelola sumberdaya alam dan  ekosistem  di  sekitarnya  disesuaikan  dengan  keinginannya.  Perubahan  keseimbangan  ekosistem  yang  tidak  terkendali  menjadi  sumber  utama  munculnya degradasi sumberdaya alam yang serius, dan pada akhirnya  menurunkan kualitas hidup.     Pengaruh  manusia  dalam  daur  hidrologi  dapat  terjadi  sepanjang  aliran  DAS, baik di bagian hulu, bagian tengah, dan atau di bagian hilir; dengan  sifat  pengaruh  ada  yang  langsung  atau  tidak  langsung.  Tindakan  manusia  yang  berpengaruh  terhadap  proses  siklus  hidrologi  banyak  menyangkut  alokasi  penggunaan  lahan,  pembuatan  bangunan  air  di  dalam  DAS,  pengelolaan  vegetasi,  pengelolaan  tanah,  tindakan  konservasti tanah dan air, pemanfaatan air tanah, dan masuknya polutan  ke dalam siklus hidrologi. Berikut ini disajikan beberapa contoh tindakan  manusia dan pengaruhnya terhadap siklus hidrologi.    Penggunaan  lahan  hutan  dengan  tingkat  intersepsi  hujan  tinggi  dan  memiliki  sifat  infiltrasi  tanah  yang  baik, akan  mengurangi  jumlah aliran  permukaan.    Namun  dengan  terjadinya  konversi  hutan  menjadi  lahan  pertanian  intensif,  bahkan  menjadi  kawasan  industri  dan  pemukiman,  menyebabkan  terganggunya  proses  hidrologi.    Terbukanya  permukaan  tanah  menyebabkan  kapasitas  intersepsi  hujan  menurun  drastis,  hujan  yang  jatuh  langsung  memukul  permukaan  tanah  dan  memecahkan  matriks  tanah  menjadi  partikel  tanah  yang  kecil‐kecil.  Sebagian  dari  partikel  tanah  menutup  pori  tanah  dan  memadatkan  permukaan  tanah,  sehingga menurunkan kapasitas infilitasi. Dengan menurunnya kapasitas  infiltrasi maka jumlah aliran permukaan meningkat dan jumlah aliran air  yang  menuju  ke  bawah  permukaan  untuk  mengisi  air  tanah  berkurang.  Aliran  permukaan  menjadi  energi  yang  dapat  menggerus  partikel  tanah 
19

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

di  permukaan  dan  mengangkutnya  ke  tempat  lain  sebagai  bagian  dari  proses erosi.    

    Gambar 8. Fungsi Tegakan Hutan (Microsoft,2002)    Di  daerah  perkotaan  yang  umumnya  merupakan  bagian  hilir  DAS,  permukaan tanah banyak ditutupi oleh bangunan permanen yang kedap  air.  Akibat  dari  semakin luasnya  lapisan  kedap air di  permukaan  tanah,  hujan  yang  jatuh  sebagian  besar  tidak  dapat  diinfiltrasikan  ke  dalam  tanah  dan  menimbulkan  genangan  atau  banjir.  Pemikiran  banyak  orang  tentang  banjir  di  bagian  hilir  semata‐mata  hanyalah  diakibatkan  oleh  kiriman  banjir  dari  bagian  hulu  tidak  sepenuhnya  benar,  karena  banjir  yang  terjadi  di  bagian  hilir  akan  tetap  terjadi  walaupun  hujan  di  hulu  kecil  jika  air  y  hujan  dan  aliran  permukaan  yang  masuk  ke  hilir  tidak  mampu  dialirkan  ke  dalam  tanah  atau  ke  badan  air  dengan  baik.  Kasus  DAS  Ciliwung  yang  berhulu  di  daerah  Puncak  Bogor  dan  berhilir  di  Jakarta  menunjukkan  bahwa  banjir  yang  terjadi  di  Jakarta  tidak  selamanya  akibat  kiriman  air  dari  Bogor,  dimana  Jakarta  pernah  banjir 
20

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

pada  saat  Bogor  tidak  terjadi  hujan.    Penulis  menduga  dengan  semakin  banyaknya  bangunan  dan  infrastruktur  permanen  dibanguan  memperluas  lapisan  kedap  air  di  atas  permukaan  tanah,  sehingga  menjadi salah satu sumber masalah utama banjir di Jakarta.    Pembuatan  teras  dalam  pengelolaan  lahan  dapat  meningkatkan  laju  infiltrasi dan menurunkan aliran permukaan.  Vegetasi yang ditanam dan  serasah  yang  dihasilkannya  akan  meningkatkan  kekasaran  permukaan  tanah,  sehingga  menurunkan  laju  aliran  permukaan  dan  akhirnya  menurunkan  energi  gerusannya  terhadap  tanah.  Penurunan  laju  aliran  permukaan akan menurunkan jumlah erosi yang terjadi.    Pembuatan  waduk  atau  dam  untuk  mengendalikan  banjir  dapat  mengancam kelestarian biota air. Aliran air yang masuk ke dalam waduk  dan  membawa  hara  mineral  akibat  erosi  di  bagian  hulu  sungai,  dapat  meningkatkan kandungan hara dalam waduk.  Peningkatan hara mineral  akan  memacu  pertumbuhan  ganggang  yang  menimbulkan  peristiwa  etrofikasi  dan  pada  akhirnya  mengancam  kelestarian  biota  perairan  tersebut.  Penjelasan  tentang  etrofikasi  dibahas  dalam  bagian  konservasi  tanah dan air.    Air  tanah  banyak  dimanfaatkan  untuk  keperluan  rumah  tangga  dan  industri.  Pemanfaatan  oleh  industri  jauh  lebih  besar  daripada  untuk  rumah  tangga.  Eksploitasi  air  tanah  tanpa  kendali  akan  menurunkan  muka air tanah, dan menimbulkan rongga di dalamnya. Adanya rongga  kosong  ini  menyebabkan  terjadinya  penurunan  permukaan  tanah  (sois  subsidense). Gejala tanah yang mengalami subsidensi tampak dari adanya  retak‐retak  pada  dinding  bangunan  akibat  berubahnya  pondasi  bangunan dalam tanah.  Pada kondisi tanah subsiden parah, permukaan  tanah anjlok diikuti dengan runtuhnya bangunan.    Evaluasi Sumberdaya Lahan   Lahan (land) dalam pengelolaan DAS berperan penting, dan hampir tidak  ada  aktifitas  yang  dilakukan  tanpa  dukungan  lahan.    Lahan  secara  definisi bermakna lebih luas dari tanah (soil), yaitu lingkungan fisik yang  terdiri  dari  tanah,  iklim,  relief,  air,  vegetasi,  dan  benda  yang  ada  di  atasnya  sepanjang  berpengaruh  terhadap  penggunaan  lahan,  sedangkan  tanah  sendiri  merupakan  benda  alami  berdimensi  tiga  (panjang,  lebar,  dan tinggi) yang terletak di bagian atas permukaan atas kulita bumi dan  memiliki  sifat  yang  berbeda  dengan  lapisan  di  bawahnya  sebagai  hasil 
21

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

kerja  interaksi  antara  iklim,  kegiata  organisme,  bahan  induk,  dan  relief  selama masa tertentu (Arsyad, 1989).    Kebutuhan  akan  lahan  naik  sebagai  konsekuensi  meningkatnya  jumlah  populasi  dan  pembangunan  fisik  selama  beberapa  dasawarsa  terakhir.  Jumlah  lahan  yang  tetap  dibandingkan  dengan  tingginya  kebutuhan  menimbulkan masalah pembangunan yang menyangkut beragam aspek,  mulai dari ekologis, ekonomi, sosial, budaya, bahkan stabilitas. Tingginya  konversi  lahan  hutan  menjadi  non  hutan,  sawah  menjadi  kawasan  industru  dan  pemukiman  adalah  contoh  bagaimana  posisi  sumberdaya  lahan  selama  ini  yang  rentan  untuk  dialihfungsikan.  Tindakan  konversi  lahan  dan  pilihan  pengelolaan  lahan  yang  tidak  tepat  serta  tidak  memperhatikan  aspek  kemampuan  dan  kesesuaian  lahan  itu  sendiri,  sehingga  mengancam  kelestariannya  dan  mempercepat  terjadinya  degradasi  lahan.  Gejala  degradasi  lahan  merupakan  tanda  kemunduran  lahan untuk mampu berproduksi sesuai dengan yang diharapkan.     Pada  dasarnya  lahan  yang  ada  memiliki  keterbatasan‐keterbatasan  yang  secara  alamiah  akan  menjadi  pembatas  untuk  menghasilkan  komoditas  sesuai dengan jumlah dan mutu yang ditentukan. Hampir setiap lahan di  berbagai  tempat  yang  berbeda  memiliki  karakteristik  yang  berbeda  sebagai  akibat  hasil  interaksi  antar  komponen  yang  mempengaruhinya  berbeda pula.  Perbedaan karakteristik lahan di setiap wilayah menuntut  adanya  perbedaan  dalam  melakukan  manajemennya.  Lahan  yang  tidak  cocok  untuk  pertanian  yang  sangat  intensif  tidak  akan  mampu  dipaksakan  dikelola  untuknya,  dan  apabila  dipaksakan  dengan  dalih  adanya dukungan teknologi tentunya akan memberikan biaya dan resiko  kerusakan  lingkungan yang besar.    Seringkali pilihan penggunaan lahan tidak memperhatikan potensi lahan,  kesesuaian  lahan,  dan  tindakan  pengelolaan  yang  diperlukan  untuk  setiap  areal  lahan  yang  penting  sebagai  pegangan  pengelola  lahan.  Dampak  dari  ketidaktepatan  pilihan  dalam  penggunaan  lahan  menimbulkan  degradasi  lahan  yang  menyebabkan  adanya  lahan  kritis  (critical  land),  yaitu  lahan  yang  sudah  tidak  memiliki  kemampuan  berproduksi sesuai dengan yang diharapkan.    Upaya  pelestarian  sumberdaya  lahan  dapat  dilakukan  dengan  memanfaatkan  lahan  sesuai  dengan  kemampuannya,  dan  kesesuainnya  untuk  komoditas  tertentu.    Dengan  demikian  perlu  dilakukan  kegiatan  evaluasi lahan untuk mengkaji potensi lahan dan tingkat kesesuaiannya.  
22

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Sitorus (1985) mendefinisikan evaluasi sumberdaya lahan (land evaluation)  sebagai proses untuk menduga potensi sumberdaya lahan untuk berbagai  penggunaan  tertentu.  Evaluasi  lahan  memberikan  pengertian  tentang  hubungan‐hubungan  antara  kondisi  lahan  dan  penggunaan  lahan  serta  memberikan  kepada  perencana  dan  pengguna  lahan  berbagai  alternatif  pilihan  penggunaan  lahan  yang  dapat  diharapkan  berhasil.    Manfaat  dasar  dari  kegiatan  ini  adalah  menilai  kemampuan  (capability)  dan  kesesuaian  (suitability)  untuk  suatu  penggunaan  lahan  dan  memprediksi  konsekuensi‐konsekuensi  dari  perubahan  penggunaan  lahan yang akan digunakan.    Kerangka  dasar  dalam  evaluasi  lahan  adalah  membandingkan  persyaratan‐persyaratan yang diperlukan untuk suatu penggunaan lahan  tertentu  dengan  sifat  sumberdaya  (lahan)  yang  ada  di  tempat  itu.  Keterangan‐keterangan  yang  dibutuhkan  dalam  evaluasi  lahan  mencakup keterangan‐keterangan tentang lahan, penggunaan lahan, dan  aspek  sosial  ekonominya.    Dengan  demikian  kegiatan  evaluasi  lahan  merupakan  kegiatan  interdisiplin  untuk  mengetahui  potensi  dan  karakteristik suatu lahan, sehingga dalam prakteknya diperlukan tenaga  ahli  tanah,  hidrologi,  pertanian,  kehutanan,  geologi,  sosiolog,  ekonom,  dan pakar lain yang terkait.    Di  dalam  evaluasi  lahan  dikenal  dua  cara,  yaitu  cara  langsung  dan  cara  tidak  langsung.  Cara  evaluasi  lahan  langsung  dilakukan  melalui  percobaan,  pengumpulan,  dan  pengolahan  data  hasil  tanaman  atau  pengukuran komponen produktifitasnya. Misalnya menanam komoditas  A  pada  lima  jenis  tanah  berbeda,  dan  kemudian  membandingkan  hasilnya  diantara  kelima  jenis  tanah  tersebut.  Data  hasil  produksi  pun  dapat  dikumpulkan  melalui  beberapa  sumber,  seperti  petak  percobaan,  pengujian  pot,  produksi  tanaman  di  lapangan,  catatan  petani,  dan  statistika  pertanian  lainnya.    Evaluasi  lahan  secara  langsung  dalam  penggunaannya  sangat  terbatas  jika  tidak  disertai  oleh  data  yang  cukup  banyak.    Hal  ini  menyebabkan  kegiatan  evaluasi  lahan  sebagian  besar  dilakukan secara tidak langsung.    Evaluasi  lahan  dilakukan  untuk  menjawab  pertanyaan‐pertanyaan  berikut ini (FAO, 1970) :  * . Bagaimana pengelolaan lahan sekarang, dan apa akibatnya apabila cara  tersebut terus dilaksanakan.  *   Perbaikan  apa  yang  perlu  dilaksanakan  terhadap  cara  pengelolaan  sekarang; 
23

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

*  Penggunaan‐penggunaan  lain  yang  secara  fisik  memunginkan  dan  relevan dari sosial ekonomi;  *   Penggunaan  yang  mana  diantara  penggunaan  lahan  tersebut  yang  memungkinkan produksi lestari dan keuntungan‐keuntungan lainnya;  *   Pengaruh  buruk  yang  mungkin  timbul  dari  masing‐masing  penggunaan lahan, baik secara fisik, sosial, dan ekonomi;  *  Input  apa  yang  diperlukan  untuk  mendapatkan  produksi  yang  diinginkan dan meminimalkan pengaruh buruknya;  *  Apa keuntungan dari masing‐masing penggunaan lahan tersebut.    Prinsip  dasar  dalam  melakukan  evaluasi  lahan  meliputi  hal‐hal  sebagai  berikut :  1. Evaluasi  lahan  harus  didasarkan  atas  penggunaan  lahan  untuk  tujuan  tertentu,  karena  penggunaan  yang  berbeda  memerlukan  syarat  yang  berbeda  pula.    Misalnya  tanah  alluvial  di  dataran  banjir  sangat  baik  untuk  padi  sawah,  tetapi  sangat  buruk  untuk  tanaman palawija dan kehutanan;  2. Diperlukan  perbandingan  antara  biaya  dan  keuntungan  dalam  penggunaan lahan yang ditentukan;  3. Evaluasi  lahan  memerlukan  pendekatan  interdisiplin,  lahan  mencakup aspek yang sangat luas dan tidak cukup ditangani oleh  satu disiplin ilmu saja, melainkan memerlukan keterlibatan pakar  lain yang terkait;  4. Evaluasi  lahan  harus  relevan  dengan  kondisi  fisik,  ekonomi,  dan  sosial  dari  daerah  yang  dievaluasi.    Hasil  evaluasi  lahan  harus  applicable  untuk  kondisi  sosial  dan  ekonomi  setempat.    Dengan  demikian  pilihan  evaluasi  lahan  harus  mampu  menggambarkan  kondisi sosial dan ekonomi setempat;  5. Berdasarkan  atas  penggunaan  untuk  waktu  yang  tidak  terbatas  (sustain  basis),  jangan  sampai  di  masa  mendatang  menyebabkan  degradasi  lingkungan.  Evaluasi  lahan  harus  memperhatikan  dampak ekologis dari penggunaan lahan dalam jangka panjang;  6. Evaluasi lahan menyangkut perbandingan lebih dari satu macam  penggunaan  lahan,  misalnya  membandingkan  keuntungan  penggunaan  lahan  antara  pertanian  dan  kehutanan,  antara  dua  cara bercocok tanam, atau antara jenis‐jenis tanaman.    Dalam  melaksanakan  evaluasi  lahan  dapat  dilakukan  dengan  dua  pendekatan, yaitu (a). pendekatan dua tahap, dan (b). pendekatan paralel.   Pendekatan  dua  tahap  dilakukan  secara  berjenjang,  dimulai  dari  kajian 
24

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

fisik kemudian sosial ekonominya. Tahap pertama dalam pendekatan ini  merupakan  evaluasi  lahan  secara  fisik  dan  kualitatif,  dan  tahap  kedua  terdiri  dari  analisi  ekonomi  dan  sosial  untuk  penggunaan‐penggunaan  tertentu,  misalnya  untuk  pertanian  secara  umum.  Pendekatan  ini  biasanya  digunakan  dalam  evaluasi  perencanaan  penggunaan  lahan  secara  umum  pada  tingkat  sesuai  tinjau.    Keuntungan  pendekatan  ini  adalah metodeloginya langsung dengan urutan aktifitas dan pengawasan  staf efisien.    Pendekatan paralel dalam evaluasi lahan dilakukan dimana lahan secara  fisik  dan  sosial  ekonomi  dievaluasi  dalam  waktu  yang  sama.  Biasanya  diterapkan  untuk  evaluasi  lahan  secara  detil.    Keuntungan  dari  pendekatan  ini  adalah  kemungkinan  adanya  kerjasama  kelompok  interdisiplin antara pakar bidang fisik lingkungan, sosial, dan ekonomi.      Konservasi Tanah dan Air Sumberdaya  tanah  dan  air  secara  substantif  adalah  modal  berjalannya  pembangunan.  Dukungan  kedua  sumberdaya  tersebut  secara  langsung  terkait  dengan  kualitas  pembangunan  dan  peradaban  suatu  bangsa.  Sejarah mencatat perjalanan bangsa‐bangsa besar di masa lampau dengan  tingkat peradaban dan kebudayan tinggi di jamannya terletak di daerah  aliran  sungai  yang  memiliki  sumberdaya  tanah  dan  air  yang  melimpah.  Keadaan  masyarakat  di  Lembah  Nil,  Mesopatamia,  Indus,  dan  daerah  Sungai Kuning di daratan Cina yang menjadi pusat kebudayaan terletak  di  aliran  sungai  mencapai  kebudayaannya  secara  baik,  begitu  pula  dengan  kemegahan  kebudayaan  suku  bangsa  India  Maya,  Inca,  dan  Aztec.  Namun  tingginya  peradaban  yang  telah  dicapai  kemudian  memudar  dan  hilang  sejalan  dengan  rusaknya  sumberdaya  tanah,  air,  vegetasi dan lingkungan  lainnya. Manusia  sering  memperlakukan  tanah  sebagai objek, sehingga usaha yang dilakukannya masih didominasi oleh  pemikiran  bagaimana  menghasilkan  produksi  setinggi‐tingginya  tanpa  berpikir  lebih  lanjut  akibat  dari  tindakannya.  Lahan  yang  awalnya  tertutup  vegetasi  berubah  menjadi  lahan  kritis  dan  padang  pasir  yang  luas,  dan  menyebabkan  penduduk  yang  mendiami  pusat‐pusat  kebudayaan  itu  tidak  mampu  lagi  mempertahankan  kebudayaaanya  karena kondisi lingkungan hidup yang tidak lagi nyaman untuk didiami.  Kenyataan  sejarah  ini  telah  membuktikan  bagaimana  pentingnya  sumberdaya  alam  dalam  menopang  kualitas  hidup  suatu  bangsa  dan  peradabannya. 
25

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

  Tanah  (soil)  adalah  suatu  benda  alami  heterogen  yang  terdiri  dari  komponen‐komponen  padat,  cair,  dan  gas  yang  mempunyai  perilaku  dinamik  (Arsyad,  1989).    Tanah  terbentuk  sebagai  hasil  interaksi  antara  iklim  (i),  jasad  organik  (o)  terhadap  batuan  induk  (b)  yang  dipengaruhi  relief tempat terbentuk (r) dan waktu (t), atau dirumuskan bahwa : T = ∫ (   i , o, b, r, t).  Tanah sebagai sumberdaya alam, untuk pertanian, memiliki  dua fungsi pokok, yaitu sebagai sumber hara bagi tumbuhan dan matriks  tempat  akar  tumbuhan  berjangkar  dan  air  tanah  tersimpan,  dan  tempat  unsur‐unsur  hara  dan  air  ditambahkan  (Arsyad,  1989).  Kedua  fungsi  pokok  tersebut  dapat  hilang  yang  disebut  degradasi  atau  kerusakan  tanah.  Kerusakan  pada  fungsi  yang  pertama  dapat  dipulihkan  dengan  pemupukan,  tetapi  kerusakan  pada  fungsi  kedua  memerlukan  waktu  yang  panjang  karena  terkait  dengan  proses  pembentukan  tanah  (soil  formation).  Arsyad  (1989)  menyebutkan  bahwa  kerusakan  tanah  dapat  terjadi oleh  a. Kehilangan  unsur  hara  dan  bahan  organik  dari  daerah  perakaran.  Kerusakan  bentuk  ini  terjadi  akibat  perombakan  bahan  organik  dan  pelapukan  mineral  serta  pencucian  unsur  hara  yang  berlangsung  cepat di bawah iklim tropika panas dan basah, dan kehilangan unsur  hara terangkut melalui panen tanpa usaha untuk mengembalikannya.  Perbaikan tanah dapat ditempuh dengan pemupukan.  b. Terkumpulnya  garam  di  daerah  perakaran  (salinisasi).  Kerusakan  tanah  ini  sering  terjadi  di  daerah  kering  atau  dekat  pantai.  Pada  musim  kemarau  terkumpul  sejumlah  Natrium  di  permukaan  tanah  yang  dapat  menghambat  pertumbuhan  atau  mematikan  tumbuhan.  Kerusakan  dapat  hilang  pada  musim  kemarau  dengan  tercucinya  garam‐garam tersebut.  c. Penjenuhan  tanah  oleh  air  (waterlogging).  Penjenuhan  tanah  oleh  air  menyebabkan  terjadinya  perubahan  proses  kimia  tanah  yang  merubah  lingkungan  tanah  di  daerah  tersebut.  Spesies  tumbuhan  yang  tidak  mampu  beradaptasi  akan  terganggu  pertumbuhannya  atau mati.  d. Erosi. Kerusakan tanah akibat erosi baik melalui media air atau angin  telah  berdampak  luas  terhadap  keberlanjutan  sistem  kehidupan.  Pokok kerusakan akibat erosi inilah yang selanjutnya menjadi bahan  pembahasan utama kuliah Konservasi Tanah dan Air ini.     Masalah erosi di Indonesia telah diperhatikan sejak pertengahan abad ke‐ 19, jauh sebelum survei tanah pertama kali dilakukan di Amerika Serikat  tahun  1934.  Hal  tersebut  terkait  dengan  dibukanya  sebagian  hutan  di 
26

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Pulau  Jawa  menjadi  perkebunan  di  daerah  hulu  DAS  besar  di  Pulau  Jawa, sehingga mengakibatkan banjir besar di Bengawan Solo, Ciliwung,  dan  Citanduy.    Pada  tahun  1844  pemerintah  kolonial  Belanda  memberlakukan  undang‐undang  yang  mengatur  tentang  pembukaan  lahan  dengan  maksud  untuk  mencegah  terjadinya  banjir.  Dalam  prakteknya undang‐undang tersebut tidak dijalankan dengan baik karena  kebutuhan  komoditas  perkebunan  untuk  ekspor  semakin  tinggi.  Akibat  pembukaan  lahan  yang  berlebihan  menyebabkan  laju  erosi  tinggi,  dan  tanah menjadi rusak seperti yang dilaporkan adanya Tanah Mati Maja di  DAS  Cimanuk  oleh  Rutten  tahun  1917,  juga  adanya  endapan  di  Sungai  Serayu dan Cilutung.    Erosi mulai nampak jelas di Pulau Jawa setelah penduduk meningkat dan  banyak  menetap  di  daerah  bukit  dan  pegunungan  sebagai  daerah  hulu  DAS  yang  banyak  mengubah  penggunaan  lahan  dari  vegetasi  alami  (hutan)  menjadi  daerah  pertanian  dan  pemukiman.  Dregne  (1992)  menyebutkan  bahwa  Pulau  Jawa  sebagai  pulau  utama  di  Indonesia  adalah  wilayah  dengan  tingkat  erosi  tertinggi  di  Asia.    Lebih  dari  8  %  lahan  pertanian  mengalami  erosi  hebat.    Kehilangan  tanah  dari  lahan  pertanian  diperkirakan  mencapai  50  mm  per  tahun  yang  menyebabkan  hampir  4  %  dari  hasil  pertanian  total  untuk  seluruh  Jawa  hilang  setiap  tahunnya  akibat  erosi 1 .    Dalam  hal  ini  intervensi  manusia  melalui  perubahan  penggunaan  lahan  berhubungan  langsung  dengan  laju  erosi  yang terjadi.  Gintings dan A. Syam (1997) mencoba membandingkan laju  erosi pada beberapa penggunaan lahan di hutan alam dan hutan tanaman  industri (HTI), dimana laju erosi di hutan alam berkisar antara 0.21 ‐ 0.426  ton/ha/tahun dan untuk HTI yang ditanami Acacia mangium laju erosinya  meningkat  hampir  dua  kalinya  menjadi  0.51  ‐  0.798  ton/ha/tahun.  Kegiatan  penebangan,  praktek  budidaya  pertanian,  dan  penggembalaan  berat  yang  tidak  mengindahkan  praktek  konservasi  tanah  menjadi  penyebab terjadinya erosi yang hebat di kawasan tropika.    Perhatian  terhadap  masalah  erosi  pada  masa  perang  kemerdekaan  terlupakan.  Baru  pada  tahun  1970  perhatian  terhadap  erosi  timbul  kembali setelah banyak banjir melanda daerah‐daerah di Jawa, Sumatera,  dan  Kalimantan.  Pada  saat  itu  pula  mulai  banyak  dibangun  bendungan  besar di Pulau Jawa, seperti Jatiluhur (di DAS Citarum), Karangkates (di  Kali  Berantas),  Gajah  Mungkur  (di  Bengawan  Solo),  dan  sebagainya.  Untuk  menjamin  umur  pakai  waduk  yang  optimal  maka  pengendalian 
1

Erosi tanah yang terjadi di Cina mempengaruhi areal seluas 1,79 juta Ha menyebabkan kehilangan tanah sebesar 5 milyar ton/tahun yang ekuivalen dengan kehilangan pupuk sebesar 50 juta ton/tahun.

27

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

sedimen  sebagai  hasil  lanjutan  proses  erosi  perlu  dilakukan  dengan  tindakan konservasi tanah dan air di bagian hulu sungai. Kerugian  akibat  erosi  berdampak  luas  sepanjang  aliran  DAS.  Kerugian  dan  kerusakan  dapat  dialami  di  daerah  dimana  erosi  terjadi  (daerah  hulu), daerah yang dilewati aliran sedimen (daerah tengah), dan juga di  bagian hilir2.  Misalnya erosi yang terjadi di daerah Puncak Bogor (hulu  sungai Ciliwung) akan menyebabkan dampak yang juga akan dirasakan  oleh masyarakat di Jakarta sebagai daerah hilirnya. Selain menimbulkan  kerugian  secara  fisik,  erosi  menimbulkan  kerugian  secara  ekonomi  dan  sosial.    Terbawanya  hara  mineral  dari  daerah  pertanian  akan  menurunkan  kandungan  hara  daerah  yang  tererosi,  sehingga  untuk  memperoleh produksi tanaman yang sama diperlukan input pupuk yang  lebih banyak untuk mengganti hara yang hilang.  Penambahan pupuk ini  akan meningkatkan biaya usahatani.      Tabel 1.  Dampak Erosi Tanah (Arsyad, 1989)   
Bentuk  Dampak  Langsung  Dampak di Tempat Kejadian Erosi  • Kehilangan  lapisan  tanah  yang  baik  bagi berjangkarnya akar tanaman.  • Kehilangan unsur hara dan kerusakan  struktur tanah.  • Peningkatan penggunaan energi untuk  produksi.  • Kemerosotan  produktifitas  tanah  atau  bahkan  menjadi  tidak  dapat  digunakan untuk produksi.  • Kerusakan  bangunan  konservasi  dan  bangunan lainnya.  • Pemiskinan  petani  penggarap/pemilik  lahan  • Dampak di Luar Tempat  Kejadian  atau  Pelumpuran  pendangkalan  waduk,  sungai,  saluran,  dan  badan  air lainnya.  Tertimbunnya  lahan  pertanian,  jalan,  dan  bangunan lainnya.  Menghilangnya mata air dan  memburuknya kualitas air.  Kerusakan  ekosistem  perairan  (tempat  bertelur  ikan, terumbu karang, dsb)  Kehilangan nyawa dan harta  oleh banjir.  Meningkatnya frekuensi dan  masa kekeringan. 

•

• •

• •  

 

2

Keterkaitan hulu dan hilir misalnya : pergerakan penduduk (urbanisasi), bagian hulu mengatur tata air bagian hilir, erosi di hulu menyebabkan sedimentasi dan pendangkalan di hilir, hilir menyediakan pasar untuk komoditas hulu.

28

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Lanjutan Tabel 1.  Tidak  • Berkurangnya  alternatif  penggunaan  Langsung  tanah.  • Timbulnya  dorongan/tekanan  untuk  membuka lahan baru.  • Timbulnya  keperluan  akan  perbaikan  lahan dan bangunan yang rusak. 

• Kerugian  oleh  memendeknya  umur  waduk3.  • Meningkatnya frekuensi dan  besarnya banjir.   

  Untuk  mengatasi  terjadinya  degradasi  lahan,  terutama  erosi,  harus  dilakukan  upaya  konservasi  tanah  dan  air  (KTA).  Pemikiran  KTA  pada  awalnya  difokuskan  pada  proses  yang  berkaitan  dengan  erosi,  seperti  pengaruh erosi secara fisik terhadap lahan, vegetasi, dan pertanian secara  luas,  serta  akibat  lanjutan  dari  erosi  yang  menyangkut  ekonomi,  sosial,  dan kesejahteraan masyarakat. Namun dalam perkembangan selanjutnya  konsep  KTA  diperluas  dan  lebih  komprehensif  sebagai  berikut  (Sinukaban, 1989) :  a. Melindungi/mencegah  tanah  supaya  tidak  rusak  secara  fisik  atau  kimia  karena  kehilangan  kesuburan  tanah  akibat  alam  atau  kegiatan manusia;  b. Memelihara  tanah  supaya  tidak  menurun  kualitas  produktifitasnya  baik  karena  faktor  alam  atau  kegiatan  manusia  dengan  cara  mengkombinasikan  metode  pengelolaan  dan  penggunaan lahan yang tepat.    Berdasarkan  konsep  yang  berkembang,  KTA  mencakup  pelestarian  tanah‐tanah  yang  masih  baik  kualitasnya  dan  merehabilitasi  tanah  yang  sudah rusak.    Penggunaan tindakan KTA dapat dilakukan secara fisik‐mekanis, kimia,  dan vegetatif. Namun perlu diperhatikan bahwa tidak ada agroteknologi  atau  teknik  KTA  yang  dapat  menumbuhkan  tanaman  dengan  baik,  jika  kondisi  tanahnya  sendiri  tidak  cocok  atau  tidak  sesuai  untuk  jenis  komoditas  yang  ditanam.  Dengan  demikian  penggunaan  lahan  yang  cocok  atau  sesuai  adalah  langkah  pertama  menuju  sistem  pengelolaan  lahan  yang  baik  dan  teknik  KTA  yang  sesuai.  Dalam  hal  ini  kegiatan  evaluasi lahan dan KTA memiliki hubungan erat.    Seperti  dikemukakan  sebelumnya,  dampak  erosi  berlangsung  sepanjang  aliran sungai dan dirasakan oleh penduduk yang mendiami setiap bagian 
3

Berkurangnya fungsi waduk sebagai reservoir air yang digunakan untuk PLTA dapat mengganggu jalannya generator listrik, sehingga pasokan listrik terganggu. Pasokan listrik yang terganggu menyebabkan terganggunya kegiatan ekonomi dengan nilai kerugian sangat besar.

29

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

dari  DAS  tersebut.  Dengan  demikian  masalah  KTA  adalah  tanggung‐ jawab  bersama,  sehingga  wajar  semua  pihak  berperan‐aktif  dalam  program  KTA.  Dalam  hal  ini  dukungan  masyarakat  hilir  untuk  membantu program KTA di bagian hulu sangat berarti, misalnya dengan  memberikan  sebagian  pajaknya  untuk  pembangunan  daerah  hulu  agar  berjalan  mengikuti  kaidah‐kaidah  KTA  merupakan  langkah  bijak  yang  harus dilakukan untuk menjamin lestarinya sumberdaya tanah dan air di  DAS tersebut.    Erosi  adalah  peristiwa  pindah  atau  terangkutnya  tanah  atau  bagian‐ bagian  tanah  dari  suatu  tempat  ke tempat lain  oleh  media alami,  baik  oleh  hujan  maupun  angin.    Di  Indonesia  kerusakan  lahan  banyak  disebabkan  oleh  terhanyutnya  tanah  atau  bagian‐bagian  tanah  oleh  air.   Kerusakan  tanah  akibat  erosi  akan  mempengaruhi  sifat‐sifat  fisik  dan  kimia tanah yang dapat menurunkan produktifitas lahan.  Dampak erosi  di  bagian  hilir  dapat  berupa  pendangkalan  sungai,  banjir,  menurunnya  kualitas  air,  memperpendek  umur  ekonomis  bendungan  dan  saluran  irigasi,  serta  menimbulkan  kerusakan  lainnya  yang  mengancam  kelestarian lingkungan hidup.       
E xpanded C ultivation Increased R uno ff

O ve rg razing

D efo re stratio n

R educed W ood P rod uction
D roughts

S hortage of F eed

S O IL E R O S IO N

D a m ag e to roa ds, othe rs

R educed Livestock P roduction

Fuelw ood S ho rtag e

R educed F ertility

S hortage of M a nure

U nstable, Low P roductivity

P O V E R TY

   Gambar 9. Dampak Negatif Erosi di Bagian Hulu DAS   

30

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Tipe  erosi  dibedakan  menjadi  erosi  geologi  (geologic  erosion)  dan  erosi  dipercepat  (accelarated  erosion).    Erosi  geologi  yang  terjadi  merupakan  ukuran  besarnya  tanah  hilang  yang  terjadi  secara  alami,  sedangkan  tipe  erosi yang dipercepat banyak dipengaruhi oleh aktifitas manusia di atas  suatu lahan.  Masalah erosi yang dipercepat telah menjadi masalah serius  yang perlu dikendalikan. Bagian permukaan tanah yang hilang oleh erosi  umumnya bagian tanah yang subur, mengandung banyak hara tanaman,  humus,  dan  pupuk  lainnya  yang  diperlukan  untuk  pertumbuhan  tanaman.  Tanah  yang  telah  mengalami  degradasi  hebat  oleh  erosi  akan  sulit  diolah,  karena  tanahnya  relatif  keras,  bergumpal  dan  kemampuan  menyerap air berkurang, sehingga tanah tersebut tidak sesuai lagi untuk  budidaya.    Erosi dipengaruhi oleh hujan, aliran permukaan, jenis tanah, kemiringan  lahan,  vegetasi  penutup,  dan  ada  atau  tidaknya  teknik  konservasi  yang  dilakukan.  Kesemua  faktor  tersebut  dikelompokkan  menjadi  tiga  kelompok, yaitu energi, ketahanan tanah, dan perlindungan (Gambar 2).   Besarnya  erosi  yang  terjadi  adalah  hasil  kerja  interaksi  antara  ketiga  kelompok  tersebut.  Kelompok  energi  yang  penting  adalah  kemampuan  potensial dari hujan untuk menimbulkan erosi (erosivitas).    

31

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

R endah R endah D a ta r L a nd a i P e nd e k P e nd e k -

E r o s ivita s H uja n A lir a n P e r m u k a a n B e ntuk P e rm uk a a n K e m e re ng a n L e re n g P a nja ng L e re n g P e m e nd e k a n L e re ng

- T ing g i - T ing g i - B e rle re ng - C u ra m - P a nja n g - P a nja n g

R e nd a h - E ro d ib ilita s - T ing g i R e nd a h - K a p a sita s Infilitra si - T ing g i B a ik - P e ng e lo la a n T a na h - B uruk (P e ng g una a n p up uk , p e ng e lo la a n ta n a h )

R e nd a h - K e p a d a ta n P e nd ud uk - T ing g i (T e k a na n p a d a la ha n) R apat - T a na m a n P e nutup - T id a k a d a (T a na m a n, rum p ut, p e ng g e m b a la a n,huta n) R e nd a h D a ya P ik a t T ing g i (T e k a n a n p a d a p e ng g una a n) B a ik - P e ng e lo la a n L a ha n B uruk

B a ik - F A K T O R P E R L IN D U N G A N - B u r uk

B a ik - F A K T O R E N E R G U - B u r uk

B a ik - F A K T O R K E T A H A N A N - B u r uk

T id a k T e r ja d i - E R O S I - T e r ja d i

   Gambar 10. Faktor‐Faktor yang Mempengaruhi Erosi     Selain  itu  komponen  lainnya  berupa  faktor  yang  secara  langsung  mempengaruhi  kekuatan  penyebab  erosi,  seperti  pengurangan  panjang  saluran  aliran  permukaan  dengan  pembuatan  teras.    Faktor  terpenting  dalam  kelompok  ketahanan  adalah  erodibilitas  tanah  yang  besarnya  sangat  tergantung  pada  sifat  fisik  dan  kimia  tanah.    Faktor‐faktor  yang  menurunkan  aliran  permukaan  dan  meningkatkan  infilitrasi,  dapat  menurunkan  erodibilitas  tanah.  Dengan  demikian  pengolahan  tanah  dapat  menurunkan  erodibilitas  tanah  bertekstur  liat,  tetapi  dapat  juga  meningkatkan  erodibiltas  tanah  bertekstur  pasir.    Kelompok  perlindungan  bertumpu  pada  faktor  yang  berkaitan  dengan  tanaman  penutup  yang  melindungi  permukaan  tanah.  Dengan  mengintersepsi  hujan  yang  jatuh  dan  mengurangi  aliran  permukaan,  tanaman  penutup 
32

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

mampu  melindungi  tanah  dari  erosi.  Setiap  tanaman  memiliki  tingkat  perlindungan  yang  berbeda  terhadap  erosi.  Sinukaban  (1989)  menyebutkan  bahwa  laju  erosi  dari  hutan  alam  (primer)  dengan  kemiringan lahan curam mencapai 0,028 ton/ha/tahun, sedangkan erosi di  lahan pertanian berkisar antara 4,0 ‐ 150 ton/ha/tahun.    Erosi  bervariasi  menurut  tempat  dan  waktu.  Dalam  hal  ini  erosivitas  hujan  dan  perubahan  penutupan  lahan  oleh  manusia  mempengaruhi  frekuensi  dan  jumlah  dari  erosi.    Variasi  erosi  secara  regional  terkait  dengan  iklim,  secara  lokal  erosi  dipengaruhi  oleh  topografi,  dan  di  tingkat lapangan erosi merupakan pencerminan dari perbedaan tanaman,  lereng, dan penerapan teknik KTA.    Tabel 2. Faktor yang Mempengaruhi Erosi pada Berbagai Skala4  
Makro  Iklim  Iklim  Iklim  Skala  Meso  Litologi  Relief  Litologi  Relief  Ketinggian  tempat  Relief    Mikro    Iklim‐Mikro  Litologi (tanah)    Keterangan    Hasil  Sedimen Sungai  Kerapatan  drainase  density)  Studi laju erosi  (drainage‐

Iklim 

Penutupan‐ Tanaman  cover) 

(Plant‐

Studi  kehilangan  tanah  dari  daerah pegunungan (hillslope) 

Dalam skala makro unsur iklim berperan penting terhadap erosi, namun makin ke arah skala  mikro maka tanah dan vegetasi makin penting peranannya terhadap terjadinya erosi. 

  Erosi berdasarkan bentuknya terdiri dari erosi lembar (sheet/splash/interrill  erosion),  erosi  alur  (rill  erosion),  erosi  parit  (gully  erosion),  erosi  tebing  sungai, dan longsor (landslides).    Air hujan yang jatuh di permukaan tanah dan diikuti dengan  terjadinya  aliran  permukaan  menghilangkan  lapisan  tanah  bagian  atas.  Erosi  percikan  atau  erosi  lembar  (splash/sheet  erosion)  tidak  langsung  segera  nampak  karena  pengangkutan  lapisan  tanah  yang  terjadi  merata  tebalnya.  Percikan  hujan  dan  aliran  permukaan  penyebab  erosi  ini.  Percikan  hujan  selain  memecahkan  matriks  tanah,  juga  memanpatkan  tanah  yang  dikenainya  dan  terlihat  dengan  adanya  lapisan  kerak  di 

4

Morgan, RPC. 1986. Soil and Water Conservation. Longman. Essex.

33

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

permukaan.  Dampak  erosi  ini  baru  dapat  dirasakan  apabila  produksi  tanaman pada jangka waktu tertentu mulai menurun.    Erosi  alur  sebagaimana  erosi  lembar  bersifat  sementara,  dimana  bekas  alur  akibat  hujan  seringkali  hilang  oleh  hujan  berikutnya  yang  membentuk  alur  baru.    Erosi  ini  terjadi  akibat  terkonsentrasinya  aliran  permukaan  yang  mengalir  pada  tempat‐tempat  di  permukaan  tanah.  Erosi  alur  terbentuk  di  bagian  bawah  lereng  pada  jarak  tertentu dimana  aliran  permukaan  mulai  terkonsentrasi.    Kekuatan  aliran  yang  terkonsentrasi  semakin  besar  menggerus  alur,  maka  alur  akan  semakin  lebar.    Alur‐alur  yang  terjadi  masih  dangkal,  sehingga  dengan  pengolahan  tanah  biasa  dapat  dihilangkan.  Arsyad  (1989)  menyebutkan  bahwa  erosi  ini  biasanya  terjadi  pada  tanah  yang  ditanami  dengan  tanaman  yang  ditanam  berbaris  menurut  lereng,  pengolahan  tanah  menurut lereng, dan bekas penyaradan kayu.    Erosi  parit  selalu  terbentuk  di  bagian  bawah  lereng,  paling  merusak  lahan,  dan  tampak  jelas.  Proses  terjadinya  erosi  ini  sama  seperti  erosi  alur,  tetapi  saluran  yang  terbentuk  sudah  dalam  sehingga  tidak  memungkinkan  dihilangkan  dengan  pengolahan  tanah  biasa.  Pada  erosi  parit  yang  baru  terbentuk  lebarnya  mencapai  40  cm  dengan  kedalaman  25  cm,  sedangkan  erosi  parit  lanjut  dapat  mencapai  kedalaman  30  m  (Arsyad,  1989).  Berdasarkan  penampakannya,  bentuk  erosi  parit  ada  yang  menyerupai  huruf  V  atau  U,  dan hal  ini  tergantung  dari  kepekaan  erosinya.    Tanah  dengan  matriks  yang  mudah  lepas  dan  berasal  dari  batuan sedimen cenderung membentuk erosi berbentuk U.    Pengikisan tebing sungai oleh air yang mengalir dari atas atau terjangan  aliran sungai menyebabkan terjadinya erosi tebing sungai. Berkurangnya  vegetasi penutup tebing memperbesar erosi ini.    Tanah  longsor  atau  erosi  massa  ditandai  dengan  bergeraknya  sejumlah  massa  tanah  secara  bersama‐sama.  Meluncurnya  massa  tanah  diakibatkan adanya lapisan agak kedap air yang jenuh. Lapisan tersebut  umumnya  memiliki  kandungan  liat  tinggi  dan  setelah  jenuh  berubah  menjadi lapisan peluncur. Arsyad (1989) menyebutkan tiga kondisi untuk  terjadinya  longsor,  yaitu  (a).lereng  yang  cukup  curam  dan  memungkinkan tanah bergerak ke bawah, (b).adanya lapisan tanah yang  kedap  air  yang  bertindak  sebagai  lapisan  peluncur,  dan  (c).adanya  air  dalam  tanah  yang  cukup  sehingga  lapisan  tanah  yang  tepat  di  atas  lapisan luncur jenuh. 
34

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Erosi  oleh  air  melalui  beberapa  fase,  yaitu    (a).pemecahan  (dispersion),  (b).pengangkatan (entrainment), (c).pengangkutan (transportation), dan (d).  pengendapan (deposition). Pada fase pertama, partikel tanah dipecah dari  matriks  tanah  oleh  pukulan  butiran  hujan  yang  jatuh  atau  kekuatan  gerusan dari aliran permukaan.  Butiran hujan yang jatuh memiliki energi  kinetik  (E  =  0,5  mv2,  dimana  m  adalah  massa  materi  dan  v  adalah  kecepatan) yang memecah matriks tanah menjadi partikel‐partikel tanah  kecil.  Proses  pemecahan  ini  merupakan  fungsi  dari  mudah  tidaknya  tanah  dipecah  dan  kapasitas  dari  energi  hujan  yang  terjadi.  Fase  kedua  atau  fase  pengangkatan  partikel  tanah  terdispersi  dilakukan  segera  setelah  proses  pemecahan  matriks  tanah  selesai.  Dalam  fase  ini  tanah  dapat dipindahkan ke bagian lain dari permukaan tanah. Setelah partikel  tanah  diangkat,  kemudian  fase  pengangkutan  dimulai  dengan  aliran  permukaan  menjadi  sarana  transportasinya.  Dengan  semakin  terkonsentrasinya  dan  terjadinya  turbulensi  aliran  permukaan  maka  kapasitas  mengangkut  partikel  tanah  akan  meningkat.  Dalam  fase  keempat,  partikel  tanah  yang  terangkut  diendapkan.  Deposisi  partikel  tanah dapat terjadi pada setiap titik sepanjang lintasan aliran permukaan.   Partikel  tanah  dideposisikan  apabila  kapasitas  mengangkut  aliran  permukaan  berkurang  sampai  titik  dimana  aliran  tidak  mampu  mengangkut lagi partikel tanah tersebut. Proses deposisi pun akan terjadi  apabila  kecepatan  aliran  permukaan  mencapai  nol  (diam).    Penurunan  kapasitas  angkut  aliran  permukaan  dipengaruhi  oleh  kemiringan  lahan  yang  berkurang,  meningkatnya  vegetasi  penutup  tanah  dan  kekasaran  tanah, dan adanya depresi kecil di permukaan tanah. Partikel tanah yang  berukuran  besar  (misalnya  pasir)  akan  dideposisikan  lebih  cepat  dari  partikel  yang  berukuran  kecil  (misalnya  liat).    Dalam  hal  ini  partikel  tanah  berukuran  liat  akan  tersuspensi  dalam  aliran  untuk  waktu  yang  lebih  lama.    Partikel  tanah  yang  diendapkan  menjadi  sedimen  dimana  partikel tersebut terdeposisi.     

35

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Presipitasi

Entrainment

Presipitasi atau hujan merupakan energi utama terjadinya erosi. Titik hujan yang datang memiliki energi kinetik hujan sebesar : E = 0.5 mv2 yang memukul permukaan tanah, lalu memecahkan partikel tanah yang ditumbuknya.

Detachment

Transportation

Deposition Runoff

Deposition atau sedimentasi terjadi apabila kecepatan aliran air (runoff) yang membawa partikel tanah tererosi mendekati nol. Kondisi ini biasanya terjadi di daerah dengan relief datar

    Gambar  11. Fase‐Fase Erosi Tanah    Apabila  kecepatan  aliran  permukaan  yang  membawa  partikel  tanah  akibat  erosi  melambat  dengan  kondisi  topografi  relatif  datar,  maka  bahan‐bahan  tanah  yang  dibawa  oleh  aliran  air  akan  diendapkan  di  tempat  tersebut.    Tanah  dan  bagian/partikelnya  yang  terangkut  dari  suatu tempat tererosi disebut sedimen.  Sebagian partikel tanah masuk ke  sungai  dan  terangkut  keluar  dari  wilayah  sungai.    Nisbah  jumlah  sedimen  yang  keluar  dari  DAS  terhadap  jumlah  tanah  yang  tererosi  di  lokasi  asalnya  disebut  nisbah  pelepasan  sedimen  (sedimen  delivery  ratio,SDR).  Besarnya nilai SDR merupakan fungsi dari luas DAS (Arsyad,  1989).     Partikel tanah yang diendapkan dapat mendangkalkan bangunan air dan  saluran  air  di  DAS.    Akibat  pendangkalan  yang  terjadi  dapat  memperpendek  umur  pakai  dari  bendungan,  waduk,  juga  dapat  meningkatkan kemungkinan terjadinya bahaya banjir di hilir sungai.     
36

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Proses  sedimentasi  terkait  dengan  proses  erosi  sebelumnya.    Bagian‐ bagian tanah yang telah dihancurkan oleh energi hujan yang menerpanya  akan  diangkut  ke  suatu  tempat  yang  elevasinya  lebih  rendah  dengan  bantuan  aliran  permukaan.  Bagian‐bagian  tanah  yang  terangkut  dan  diendapkan di bagian hilir sungai dapat dijadikan pula indikasi besarnya  erosi  di  bagian  hulu,  sehingga  dengan  semakin  tingginya  erosi  di  hulu  sungai akan meningkatkan jumlah sedimen di hilir sungai.      Contoh dampak erosi terhadap danau atau bendungan adalah terjadinya  peristiwa  eutrofikasi  (eutrophication).  Dalam  danau  yang  tidak  terpolusi,  suplai  karbon  (C),  Posfor  (P),  dan  nitrogen  (N)  cukup  sedikit  untuk  membatasi produksi alga. Tetapi apa yang akan terjadi jika jumlah C, P,  N  berlebih  masuk  ke  dalam  ekosistem  danau  ?  Ketiga  unsur  tersebut   larut  dalam  aliran  air  yang  masuk  ke  danau  sebagai  akibat  dari  erosi  yang  terjadi  di  hulunya.    Kelebihan  suplai  hara  akan  meningkatkan  pertumbuhan  alga  secara  tidak  terkendali.  Apabila  alga,  ikan,  dan  zooplankton  kemudian  mati,  maka  akan  jatuh  ke  dasar  danau  dan  menjadi  sumber  karbon  lain  untuk  bakteri.    Bakteri  aerobik  akan  menggunakan  oksigen  terlarut  (DO)  yang  tersedia  dalam  mendekomposisi material tersebut dan menggunakan pula oksigen yang  cukup untuk mengurangi DO tersedia, sehingga tercipta kondisi anaerob.  Semakin  banyak  alga  diproduksi  di  permukaan  air  (epilimnion),  bakteri  yang  ada  di  bagian  bawah  danau  akan  memanfaatkan  semakin  banyak  oksigen,  sehingga  semakin  mempercepat  terbentuknya  keadaan  yang  anaerob. Semua kegiatan biologis aerob berada di permukaan air danau,  dan  hal  ini  mengakibatkan  turbiditas  air  meningkat.  Dengan  demikian  penetrasi cahaya yang masuk ke dalam air berkurang dan menyebabkan  berbagai aktifitas biologis alga terhambat, sehingga DO berkurang. Secara  perlahan  lapisan  permukaan  danau  pun  akan  menjadi  anaerob,  dan  apabila  kondisi  ini  terjadi  maka  semua  komponen  biotik  aerob  akan  lenyap.  Pertumbuhan  alga  (algal  blooms)  inilah  yang  menjadi  fenomena  dari peristiwa eutrofikasi.    Pengukuran  erosi  dilakukan  untuk  mengetahui  besarnya  erosi  yang  terjadi di suatu lahan dalam periode waktu tertentu. Dalam menentukan  erosi yang terjadi dikenal dua pendekatan, yaitu pengukuran langsung di  lapangan dan pendugaan erosi dengan menggunakan persamaan tertentu  (misalnya  metode  USLE,  Universal  Soil  Loss  Equation).    Pada  bagian  ini  akan  dibahas  tentang  metode  pengukuran  erosi  secara  langsung,  dan  mungkin  dilaksanakan  di  dalam  pertanaman  tanaman  semusim,  perkebunan, wanatani, atau lahan hutan. 
37

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

  Beberapa metode pengukuran langsung di lapangan adalah :  a. Metode pengendapan tanah terangkut.  b. Metode pengukuran perubahan elevasi tanah.  c. Metode pengambilan sampel sedimen dalam aliran.    Metode Pengendapan Tanah Terangkut Pengukuran  erosi  dengan  metode  ini  pada  dasarnya  menampung  seluruh  tanah  yang  terangkut  oleh  aliran  permukaan  dari  suatu  petak  pengukuran  tertentu.  Bentuk  erosi  yang  dapat  diukur  adalah  erosi  lembar  dan  erosi  alur.    Untuk  menampung  aliran  permukaan  yang  berisi  sedimen  tanah  diperlukan  fasilitas  kolektor  yang  diletakan  di  bagian  keluar  (oulet)  dari plot yang diamati.   Plot  pengukuran  dengan  ukuran  tertentu  dibatasi  dengan  pembatas  tepi, sehingga air yang masuk ke dalamnya tidak bocor keluar. Bahan untuk  pembatas plot dapat terbuat dari seng, pasangan batu, dan sebagainya. Luas  plot  misalnya  22  x  8  m,  22  x  4  m,  atau  10  x  2  m,  dalam  hal  ini  disesuaikan  dengan  jenis  tanaman  yang  diamati.  Misalnya  untuk  tanaman  tahunan  dengan jarak tanam renggang memerlukan luas plot pengamatan yang lebih  luas dibandingkan untuk tanaman semusim yang ukurannya kecil.  Pengamatan dilakukan untuk setiap kejadian hujan yang terjadi.  Alat‐ alat yang dibutuhkan terdiri dari meteran, botol sampel, slang dan penguras  air,  dan  lain‐lain.    Kolektor  terbuat  dari  drum  bekas  atau  dibangun  bak  penampung.  Pengukuran  dilakukan  dengan  cara  mengukur  volume  limpasan  dan  tanah  terangkut,  serta  mengambil  sampel  muatan  terlarut  (suspensi)  dan  muatan  dasarnya  (bed  load).  Sampel  muatan  tersuspensi  dan  muatan  dasar  dianalisis  di  laboratorium.  Kadar  bahan  tersuspensi  ditentukan  dengan  cara  meyaring  material  tersebut  menggunakan  kertas  saring,  kemudian  dikeringkan  dalam  oven  pengering.  Kadar  bahan  diperoleh  dengan  mengurangkan berat kertas saring yang ada bahan tersuspensi dengan kertas  saring  awal,  lalu  dibagi  dengan  volume  sampel  (dalam  satuan  berat  per  volume).  Besarnya  erosi  yang  diukur  berdasarkan  metode  ini  dihitung  dengan persamaan :  n n A = ∑ K b n .V n + ∑ K sn .V sn  
n =1 n =1

dimana  A  = total tanah tererosi per satuan luas,dalam satuan berat  Kb  = kadar beban dasar, dalam satuan berat/volume  Vb  = volume beban dasar, dalam satuan volume  Ks  = kadar beban suspensi, dalam satuan berat/volume 
38

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Vs  = volume beban suspensi, dalam satuan volume  n  = jumlah kolekstor yang digunakan    Erosi  yang  tertampung  dalam  kolektor  adalah  erosi  dari  luas  plor  pengukuran,  sehingga  untuk  menyajikan  erosi  dalam  ton/ha  maka  perlu  dilakukan konversi lebih lanjut.    Metode Perubahan Elevasi Permukaan Tanah Pada  prinsipnya  metode  ini  adalah  melihat  perubahan  elevasi  tanah  akibat  pengikisan  oleh  erosi,  misalnya  menonjolnya  perakaran  pohon  atau  tonggak‐tonggak pohon yang semakin tinggi.   Pengukuran  dengan  metode  ini  menggunakan  tongkat  yang  telah  diberikan  ukuran  atau  dapat  pula  menggunakan  pin  berbentuk  paku  besar.  Tongkat yang panjangnya 1 m ditancapkan ke dalam tanah sampai kira‐kira  tinggal  20  cm  yang  muncul  di  permukaan  tanah.  Penancapan  tongkat  dilakukan  secara  tegaklurus  terhadap  kemiringan  tanah.Dengan  semakin  banyaknya  tongkat  yang  ditanam  pada  berbagai  bentuk  permukaan  lahan  yang  diamati  akan  memberikan  nilai  rataan  yang  cukup  akurat.  Perubahan  elevasi  permukaan  tanah  untuk  jangka  waktu  tertentu  dicatat,  misalnya  terjadi  penurunan  tanah  sebesar  0,5  mm  akibat  hujan  yang  terjadi  selama  sebulan.  Metode  ini  sangat  sederhana  dan  mudah  dilakukan,  tetapi  dibandingkan  dengan  metode  pengukuran  lainnya  kurang  akurat.  Namun  cara ini penting sebagai identifikasi awal terjadinya erosi, seperti erosi lembar  yang tidak segera nampak.    Metode Pengambilan Sampel Sedimen dalam Aliran.  Jumlah sedimen yang keluar dari suatu daerah tangkapan merupakan  proses lanjutan erosi.  Dengan demikian peristiwa sedimentasi didahului oleh  terjadinya  erosi.    Prinsip  keterkaitan  erosi  dan  sedimen  dalam  suatu  daerah  tangkapan melandasi metode ini.  Pengambilan  sampel  dilakukan  di  hilir  tempat  aliran  keluar  (outlet).  Dalam  prakteknya  diperlukan  kurva  lengkung  debit.  Perhitungan  sedimen  terangkut dilakukan melalui persamaan berikut ini :  Sd = Qw x ∆T x Cs dan  A = 
     

Sd   SDR

dimana :  Sd  = total sedimen terangkut, dalam satuan berat  Qw  = debit aliran, dalam satuan volume per waktu 
39

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

  ∆T  = interval waktu pengamatan, dalam satuan  waktu    A  = total erosi di daerah tangkapan, dalam satuan berat    SDR  = rasio pengangkutan sedimen (sediment delivery ratio).    Nilai SDR nerupakan fungsi dari luas DAS (Tabel 3)    Tabel 3. Nilai SDR untuk Luas DAS tertentu (Arsyad, 1989)    No  Luas DAS (km2)  SDR (%) 
1  2  3  4  5  6  7  8  9  10  0,1  0,5  1,0  5,0  10,0  50,0  100,0  200,0  500,0  26000,0  53,0  39,0  35,0  27,0  24,0  15,0  13,0  11,0  8,5  4,9 

   

  Metode‐metode  pengukuran  erosi  secara  langsung  yang  telah  dikemukakan  di  atas  masih  bersifat  umum,  sehingga  perlu  dilakukan  penyesuaian  berdasarkan  kondisi  lapangan.  Misalnya  besarnya  plot  pengukuran  dan  kolektor  yang  akan  dibuat  disesuaikan  dengan  kondisi  jenis tanaman yang diamati, biaya, waktu, dan tenaga kerja yang tersedia.  

  Pencegahan Erosi. Tujuan dari pencegahan erosi adalah : mengontrol laju  erosi supaya berada di bawah erosi yang dapat ditoleransikan, sehingga  mampu  melestarikan  produktifitas  lahan.  Erosi  tanah  umumnya  terjadi  akibat  energi  pukulan  hujan  dan  aliran  permukaan  tanah  yang  menggerus partikel‐partikel tanah. Untuk mencegah erosi agar terkontrol  diperlukan teknik yang dapat meminimumkan pukulan hujan yang jatuh  di atas permukaan tanah dan memperlemah kekuatan menggerus aliran  permukaan dengan mengurangi kecepatan dan terkonsentrasinya aliran.    Upaya penggunaan dan pengelolaan lahan yang berkonservasi dilakukan  dengan  memperhatikan  laju  erosi  yang  masih  diperkenankan  (tolerable  soil  loss).  Secara  teoritis,  tingkat  kelestarian  sumberdaya  lahan  akan  terjadi  apabila  laju  erosi  masih  berada  di  bawah  erosi  yang  masih 

40

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

diperkenankan. Erosi yang dapat diperkenankan dapat dihitung dengan  persamaan (Sinukaban, 1989) :        ET   =   [DE‐ DMin]  +  PT                 PT   dimana :  ET  = laju erosi yang dapat ditoleransikan (mm/tahun)      DE  = kedalaman tanah ekivalen (mm)      DMin  = kedalaman tanah minimum (mm)      MPT  = masa pakai tanah (tahun)      PT  = laju pembentukan tanah (mm/tahun)    Besarnya laju pembentukan tanah di daerah tropika sebanyak 0.55 mm  per tahun atau 6 ton/ha/tahun (Wood and Dent, 1983 dalam Sinukaban,  1989).       

41

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

T= (DE-DMin)/ MPT + PT
Perhatikan suatu daerah pertanian/usaha tani

1. Hitung Erosi Potensialnya (EP) a. Hitung indeks erosi hujan (R) b. Tentukan nilai K, untuk tanah yang dominan dari peta tanah atau anaisis tanah (K) c. Tentukan faktor lereng (LS) d. EP = RKLS

2. Tentukan besarnya erosi yang dapat ditoleransikan T (ton/ha/tahun)

3. Hitung Indeks Bahaya Erosi (IBE) dan CPM (CP-maksimal) a. IBE = EP/T b. CPM = T/EP

Pertimbangkan keempat kelompok pilihan teknik konservasi berikut dalam memilih teknik konservasi yang tepat

YA

4. Apakah IBE > 0

Tidak

Tidak ada masalah erosi

5. Untuk pertanaman berbaris. Pilih semua sistem pengeolaan tanaman yang mempunyai nilai C yang sesuai untuk tanah dan iklim setempat.

6. Pembuatan kontur Apakah topografi lapangan cocok untuk pembuatan kontur (perhatikan bentuk dan kemiringan lereng)

7. Penanaman dalam strip. Apakah penanaman dengan rotasi dapat dilaksanakan ?

8. Pembuatan teras. Dapatkan nilai Pt yang cocok/sesuai

YA
Pilih nilai Ps yang sesuai
Bagikan nilai CPM dengan nilai Pt yang sesuai

Tidak

Ya
Bagikan nilai CPM dengan nilai Ps; CPM/Ps
Pilihkan semua sistem pengelolaan tanaman yang nilai C-nya lebih kecil daripada nilai CPM/Pt dan cocok/sesuai dengan kondisi tanah dan iklim setempat

Ya
Lanjutkan ke langkah 7 & 8

Apakah panjang lereng melebihi batas yang dapat ditoleransikan ?

Tidak
Tentukan nilai P yang cocok untuk pembuatan kontur
Pilihkan semua sistem pengelolaan tanaman termasuk rotasi dengan rumput atau tanaman penutup tanah yang nilai Ps-nya lebih kecil dari CPM/Ps

Bagikan nilai CPM dengan Pk; CPM/Pk

Pilih semua teknik konservasi yang nilai Cnya lebih kecil dari nilai CPM/Pk dan cocok untuk tanah dan iklim setempat

9. Daftarkan semua alternatif sistem pengelolaan tanah serta teknik konservasi tanahyang dapat diterima dari keempat kelompok pilihan di atas dan berikan catatan masalah yang mungkin timbul akibat pilihan tadi

 
Gambar  12. Diagram Alir Identifikasi Masalah Erosi dan Pemilihan Teknik KTA  

  Volume aliran permukaan dapat dikurangi dengan :  1. Laju infiltrasi ditingkatkan. 

42

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Misalnya : teknik budidaya yang menghasilkan tanaman penutup  tanah  yang  rapat,  sisa/serasah  yang  banyak,  kandungan  bahan  organik tinggi, dan struktur tanah yang baik.  2. Tahanan  dan  simpanan  permukaan  ditingkatkan,  sehingga  memberi  kesempatan  bagi  air  lebih  lama  berinfiltrasi  ke  dalam  tanah.  Misalnya  :  teras,  saluran  diversi,  teras  guludan  dan  salurannya, penanaman dalam strip, grass waterways, dsb.  3. Intersepsi  hujan  oleh  vegetasi  dan  penutup  tanah  (mulsa)  ditingkatkan.    Metode KTA dapat dikelompokkan menjadi 3 :  a. Metode vegetatif.  b. Metode teknik‐sipil.  c. Metode kimia.    Teknik KTA yang dapat diterapkan :  a. Penanaman tanpa olah tanah pada pertanaman sebelumnya.  b. Pengolahan tanah minimum.  c. Rotasi dengan tanaman penutup tanah.  d. Peningkatan kesuburan tanah.  e. Sistem penanaman yang bersamaan dengan pengolahan tanah.  f. Pembuatan kontur/guludan.  g. Penanaman dalam strip menurut kontur.  h. Teras, teras guludan, dan teras bangku.  i. Saluran pembuangan air berumput (grass waterways).  j. Penanaman dalam guludan.  k. Strip penyangga mengikuti kontur.  l. Perubahan penggunaan lahan.  m. Teknik lain.    Pada  kenyataannya  implementasi  KTA  memiliki  hubungan  yang  kompleks  (complex‐relations)  yang  menyangkut  hubungan  antara  aspek  fisik,  ekonomi,  dan  sosial  yang  harus  dapat  berjalan  secara  baik.  Dalam  mendesain Program KTA untuk suatu daerah ketiga aspek tersebut perlu  dikaji  secara  matang  dan  mendalam,  sehingga  hasilnya  harus  menunjukkan  pola  yang  sinergi  dan  seimbang  diantara  ketiga  aspek  tersebut.  Oleh  karena  implementasi  KTA  harus  terpadu,  komprehensif,  dan interdisiplin (Gambar 5).   

43

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Tanah, air, iklim,  vegetasi, dsb.  Fisik

KTA
Kredit, harga  komoditas,   pasar, insentif, dsb.  Ekonomi  Sosial Individu, sistem  sosial, tenaga kerja,  pendidikan,  ketrampilan 

• • • • •

Integrated Programs  Soil  & Water Conservation  Agroforestry  Social‐Forestry  Ecofarming  Watershed Management 

    Gambar 13. Hubungan Kompleks dalam Implementasi KTA    Permasalahan Sumberdaya Air   Perubahan  dalam  salah  satu  komponen  ekositem  DAS  akan  menyebabkan  terjadinya  perubahan  dari  sistem  DAS,  yang  mengarah  kepada timbulnya masalah sumberdaya air.    Masalah sumberdaya air yang mengarah pada degradasi sumberdaya air  lebih  banyak  dipengaruhi  oleh  aktifitas  pembangunan  dan  manusia  di  dalam  penggunaan  air  dan  pencemaran  lingkungan  akibat  aktifitas  ekonomi  yang  dilakukannya.  Berbagai  kalangan  masyarakat,  baik  orang  kaya  dan  miskin  sama‐sama  menimbulkan  kerusakan  di  sungai.  Kalangan  orang  kaya  mencemari  badan‐badan  air  dengan  limbah  industri dan yang miskin menimbuni dengan sampah.  Walaupun sungai  memiliki  kemampuan  untuk  membersihkan  dirinya  sendiri  (self‐ purification)  karena  di  sungai  tersedia  bakteri  pengurai,  namun  karena  banyaknya  limbah  yang  tidak  terurai  dan  adanya  zat‐zat  beracun  yang 
44

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

membunuh  bakteri  pengurai  tersebut  pencemaran dan pendangkalan sungai.    

sehingga 

menimbulkan 

Pergerakan  air  yang  mengikuti  siklus  hidrologi  (air)  menentukan  kehidupan  di  bumi,  sehingga  pencemaran  air  yang  terjadi  di  suatu  tempat  dapat  menyebar  ke  tempat  lain  di  dunia.  Hampir  dipastikan  akibat  degradasi  sumberdaya  air  mengarah  kepada  penurunan  kualitas  hidup  yang  mengancam  keberlanjutan  kehidupan  di  bumi.  Beberapa  contoh dampak atau akibat dari degradasi sumberdaya air adalah sebagai  berikut :  a. Kualitas dan kuantitas air menurun tidak terjamin dengan baik.  b. Kesehatan  manusia  terganggu  akibat  menurunnya  sanitasi  lingkungan.  c. Kehidupan  flora  dan  fauna  terutama  yang  hidup  di  air  tergangggu.  d. Habitat dan ekosistem rusak.  e. Banjir dan kekeringan   

45

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

P ertum buhan P enduduk dan P em bangunan

P erubahan E kosistem danP enggunaan Lahan

M AS AL AH S U M B E R D AY A AIR
P erubahan Iklim -N aiknya suhu

P enggunaan dan E ksploitasi A ir B erlebihan

K uantitas A ir

K ualitas A ir

D istribusi S pasial
P encem aran A ir

D istribusi W aktu

N ilai M utu tidakS esuai dengan S tandar K esehatan

D eg ra d asi S u m b e rd a ya A ir

D AY A D U K U N G L IN G K U N G AN M E R O S O T , P E M B AN G U N AN T E R G AN G G U

• B anjir •K ekeringan •P enurunan m uka tanah ( land s ubsidence ) • W ater borne-diseases : diare, kolera •K egagalan pertanian •K egiatan industri m acet •K esejahteraan m anusia m enurun •E kosistem dan habitat rusak •K onflik sosial

S T R A T E G I P E LE S T A R IA N S U M B E R D A Y A A M odel pendekatan D A S • IR • T erpadu, kom prehensif, lintas sektoral • P enataan ruang yang sesuai • K erjasam a antar w ilayah, antar negara • P engendalian pencem aran air • T ransfer teknologi • P enelitian • K onservasi daerah resapan air • E fisiensi penggunaan air dan pengurangan pengam bilan air tanah • E tika dalam pengelolaan sum ber-sum ber air • M engurangi dam pak proyek terhadap sum ber-sum ber air

    Gambar 14. Masalah Sumberdaya Air    Penyebab  terjadinya  masalah  sumberdaya air antara lain  :  pertumbuhan  penduduk  dan  aktifitas  pembangunan,  perubahan  ekosistem  dan  penggunaan lahan, perubahan iklim (global), penggunaan air berlebihan,  dan  pencemaran  air.  Strategi  untuk  melestarikan  sumberdaya  air  antara  lain :  a. Menerapkan pelaksanaan tata guna lahan secara konsisten.   b. Menerapkan  sistem  insentif  dan  disinsentif  dalam  pengelolaan  sumberdaya air. 
46

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

c. d. e. f.

Pengendalian dan pencegahan pencemaran air  Menekan aktifitas yang merugikan iklim global  Konservasi  zona resapan air  Pengembangan  sumberdaya  manusia  dan  teknologi  pengelolaan  sumberdaya air  g. Pengelolaan DAS terpadu  h. Pengendalian pertumbuhan penduduk  i. Peningkatan  peranan/partispasi  masyarakat  dalam  pengelolaan  sumberdaya air    Banjir dan Mitigasi Banjir   Banjir  sebagai  output  hidrologis  dari  suatu  DAS  dipengaruhi  oleh  karakteristik  fisik  DAS  dan  hujan  sebagai  input  sistemnya,  serta  intervensi manusia terhadap sistem DAS.    Faktor penyebab banjir dibedakan menjadi dua kelompok (Sutopo, 1996),  yaitu :  a. Persoalan  banjir  yang  ditimbulkan  oleh  kondisi  dan  peristiwa  alam :  • Curah  hujan  yang  tinggi  melebihi  kapasitas  infiltrasi  tanah dan alur sungai yang menampungnya  • Air  hujan  yang  jatuh  ke  permukaan  tanah  sulit  mengalami infilitrasi dan perkolasi karena lapisan tanah  yang  kedap  air,  sehingga  sebagian  besar  air  hujan  menjadi surface run‐off.  • Kondisi daerah berada di dataran banjir (floodplain) yang  bertopografi  cekung,  sehingga  menyulitkan  air  untuk  mengalir ke sungai atau laut.  • Aliran  anak  sungai  tertahan  oleh  aliran  sungai  induk,  sehingga air sungai melimpas.  • Terjadinya  debit  puncak  banjir  sungai  induk  dan  anak  sungai  pada  pertemuan  sungai‐sungai  tersebut  dalam  waktu bersamaan.  • Terjadinya  pembendungan  muara  sungai  akibat  air  pasang dari laut.  • Terjadinya  penyempitan  aluran  sungai  yang  menimbulkan pembendungan muka air sungai.  • Adanya  hambatan‐hambatan  terhadap  aliran  sungai  yang  disebabkan  oleh  faktor‐faktor  geometris  alur 
47

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

•

sungai,  misalnya  meander  dan  bentuk  muara  sungai  pada sungai.  Terjadinya  agradasi  dasar  sungai  yang  disebabkan  oleh  timbulnya perubahan keseimbangan antara daya angkut  sungai  terhadap  sedimen  dan  besarnya  angkutan  sedimen atau terjadinya pengurangan debit sungai.  

 

b. Persoalan banjir yang disebabkan oleh aktifitas penduduk sebagai 
berikut :  • Tumbuhnya  daerah‐daerah  pemukiman,  industri,  dan  pusat‐pusat ekonomi di daerah dataran banjir.  • Penimbunan  daerah  rawa/situ  atau  reklamasi  pantai  untuk pemukiman, industri, dan pusat ekonomi lainnya,  sehingga  daerah  tersebut  menjadi  lebih  tinggi  daripada  daerah di belakangnya.  • Alur  sugai  semakin  menyempit  akibat  adanya  pemukiman di sepanjang sempadan aliran sungai.  • Perubahan  tataguna  lahan  mempengaruhi  debit  sungai  (puncak  banjir)  untuk  periode  ulang  tertentu  menjadi  lebih  besar  dibandingkan  sebelumnya.  Penurunan  persentase  penutupan  lahan  di  bagian  hulu  dapat  memperbesar  run‐off,  memperkecil  resapan,  sehingga  volume penampungannya berkurang.  • Pemeliharaan  bangunan  pengendali  banjir  tidak  memadai dan tidak berfungsi dengan baik.  • Kesadaran  penduduk  untuk  menjaga  sungai  rendah,  misalnya membuang sampah ke dalam sungai.  • Pengendalian  pemukiman  di  sepanjang  sempadan  sungai tidak dilaksanakan dengan baik.      Penanganan  banjir  dilaksanakan  secara  structural  method  yaitu  dengan  pembuatan  bangunan‐bangunan  penahan  banjir,  dan  non‐structural  method  yaitu  berupa  pengaturan  pengelolaan  DAS  secara  terpadu,  holistik, interdisiplin, dan partnership.. Kajian pengelolaan DAS ini dapat  dilihat pada Gambar 11.           
48

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Tabel kriteria tingkat kerawanan banjir (Kurniawan, 1996)    Tabel 6. Kriteria tingkat kerawanan banjir   
Tingkat  Kerawanan  Tidak  Rawan  Rawan  Kriteria  Tidak terlanda banjir  • • • • • • • • • • • • • • • • Topografi landai‐datar  Material aluvial  Tekstur tanah halus  Struktur tanah masif  Drainase lambat  Terlanda banjir  Penggenangan < 1 hari  Frekuensi  genangan  1‐2  tahun  Topografi datar‐ledok  Material aluvial  Tekstur tanah halus  Struktur tanah masif  Drainase sangat lambat  Terlanda banjir  Penggenangan > 1 hari  Frekuensi  genangan  <  1  hari    Sekali dalam  1‐2 tahun  (sedang)      Sekali dalam  72 tahun  (rendah)    Setiap tahun  sekali dalam   1‐2 tahun  Frekuensi  Banjir  Lama Genangan    0,5 bulan          0,25 bulan 

Sangat  Rawan 

0,5 ‐ 4 bulan  (tinggi)      4 ‐ 12 bulan  (sangat tinggi) 

 

49

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

C riteria & Indicators
G oal : S ustainable D evelopm ent
W atershed as B io-R egion • U pper region • M iddle region • Low land region

P aradigm s of developm ent

W A TE R S H E D M A N A G E M E N T

O bjects/S ystem s

A pproaches

Instrum ents

P hysical S ystem

• B iodiversity • P ollution C ontrol • Land & w ater sustainability • etc

Interdisciplinary

E cologic
C ontrol-C om m and

Biological System

Integrated & C om prehensive

E conom ic
Incentive-B ased

H um an S ystem s
S ystem A nalysis
S ocial and Institutional
• • • • S ocial capital S tructure of W M Institutional S ystem etc.

P artnerships

R elating S ciences : • H ydrology • C lim atology • E cology • S oil S ciences • S oil & W ater C onservation • A griculture • Forestry • C oastal resources • E nvironm ental M anagem ent • S ystem A nalysis and M odelling • S tatistics • M athem atics • P hysics • C hem istry • E conom ics • A nthropology • S ociology • E nvironm ental Law • E nvironm ental E conom ics • P olicy analysis • etc

P LA N S O F W A TE R S H E D MANAGEMENT PROGRAMS

P olicy P rocesses

E valuation

Im plem entation of P rogram s
M onitoring

O utputs

E ffects-Im pacts

P rogram s Im provem ents

  Gambar 15. Kajian Pengelolaan DAS         
50

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

  Monitoring dan Evaluasi Pengelolaan DAS Kegiatan  pengelolaan  daerah  aliran  sungai  (DAS)  sebagaimana  kegiatan  pembangunan  atau  proyek  lainnya  memerlukan  dukungan  sistem  monitoring  dan  evaluasi  (monev).  Tugas  merancang  sistem  monev  dalam  suatu  kegiatan  proyek/program  perlu  dimulai  sejak  tahap persiapan dan apraisal, bukan setelah proyek disetujui dan siap  untuk  dilaksanakan.  Sistem  monev  yang  dirancang  secara  tepat  sejak  tahap  perumusan  kegiatan  akan  memperjelas  fungsi  monev  dalam  mendukung  keberhasilan  program.  Adanya  monev  akan  mendorong  pemikiran yang lebih mendalam untuk melahirkan pernyataan tujuan‐ tujuan,  asumsi‐asumsi,  dan  kegiatan  proyek  secara  lebih  tajam  dan  lebih  jelas.  Secara  umum  fungsi  monev  adalah  untuk  memonitor  implementasi  kemajuan  proyek  (project  progress)  dan  mengevaluasi  keberhasilan  proyek,  termasuk  mengidentifikasi  masalah‐masalah  yang  dapat  menghalangi  tercapainya  tujuan  proyek.  Oleh  karena  itu  monev menjadi bagian integral dari kegiatan pengelolaan DAS.    Kegiatan  monev  penting  untuk  memonitor  kinerja  (performance)  proyek/program yang akan, sedang, dan telah dilaksanakan, sehingga  kegiatan  monev  dapat  dikaitkan  dengan  pengembangan  program/kegiatan  pengelolaan  DAS  (Gambar  1.).  Pawitan  dan  Murdiyarso  (1995)  menyebutkan  peran  monev  lainnya  adalah  menghubungkan hasil yang dicapai proyek dengan sasaran dan tujuan  proyek, dalam hal masukan, luaran, pengaruh, dan dampak proyek.  Beberapa langkah yang diperlukan dalam melakukan monev, yaitu :  a. Penyusunan  hierarki  tujuan  proyek  dan  penetapan  kegiatan‐ kegiatan  pokok,  proses,  input  dan  output.  Pelaksana  monev  perlu  mempelajari  dan  menganalisa  rancangan  proyek  untuk  mengidentifikasi  hierarki  tujuan  proyek  dan  hubungannya  dengan  kegiatan‐kegiatan yang dilaksanakan.  b. Penetapan  informasi  yang  dibutuhkan  dan  penetapan  indikator‐ indikator.  Informasi  yang  dibutuhkan  bersifat  yang  paling  penting  saja  untuk  menjawab  pertanyaan  :  (1).  Siapa  yang  memerlukan  informasi  tersebut;  (2)  Untuk  maksud  apa;  (3).  Informasi  macam  apa  (umum  atau  terinci);  dan  (4).  Bagaimana  intensitasnya  (frekuensi  penyampaian  informasi).  Data  dan  informasi  yang  ditelaah  secara  cermat  tentang  :  isinya  (data  dan  indikator  yang  digunakan),  format, dan frekuensi pelaporan.   
51

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

       
MONITORING & EVALUASI PENGEMBANGAN PROGRAM DAS

Evaluasi

Rencana Program

Pelaksanaan Program

Input/Aktifitas

Monitoring
Output

Evaluasi
Efek/Dampak

Evaluasi
Pengembangan Program Dampak Jangka Panjang

Gambar 1. Hubungan Monev dengan Pengembangan Program DAS (Ngadiono, 1985)

 

c. Survei  sumber‐sumber  informasi  sekunder  dan  pengumpulan 
data primer.   d. Analisa  Data.  Langkah  ini  sebenarnya  merupakan  tugas  utama  dalam monev, yaitu mengumpulkan dan menganalisa data input  dan  output  yang  dicapai  untuk  memantau  perkembangan  proyek/program,  serta  mengidentifikasi  kendala,  kekurangan, 
52

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

atau  permasalahan  yang  diperkirakan  akan  timbul  dan  memerlukan tindakan korektif.   e. Mengkomunikasikan hasil temuan monev dan rekomendasinya.  Komunikasi  dapat  dilakukan  secara  lisan  dan  atau  tulisan.  Laporan secara tertulis dibuat ringkas, padat, dan langsung pada  permasalahannya.  Pusat  perhatian  diarahkan  kepada  hasil‐hasil  temuan  dan  rekomendasi  penting.  Metodologi  pengkajian  dan  sumber data harus diikutsertakan.    Kegiatan monev perlu memperhatikan hal‐hal sebagai berikut :  a. Fasilitas  fisik  dan  infrastruktur,  misalnya  :  apakah  jadwal  waktu,  biaya, dan target telah sesuai dengan rencana.  b. Aspek  kelembagaan,  misalnya  :  pengaturan  staf,  hubungan  antar  instansi,  koordinasi  dan  kerjasama  intern  dan  ekstern,  komunikasi  dengan kelompok sasaran.  c.  Sistem  pelayanan (delivery system),  misalnya :  cara  penyaluran  dan  biaya sesuai dengan rencana, cakupan wilayah, jangkauan terhadap  kelompok sasaran.  d. Hasil‐hasil  yang  dicapai,  yaitu  output  dan  efek  dari  tujuan  yang  dapat  dicapai  untuk  jangka  waktu  tertentu,  misalnya  :  hasil  produksi, pengendalian erosi, peningkatan partisipasi.     Proses  monev  didasarkan  atas  kerangka  berpikir  logis (logical framework)  dari  suatu  kegiatan,  mulai  dari  identifikasi,  persiapan,  dan  penilaian  kinerja. Perspektif kerangka logis dalam monev antara lain : result‐oriented  management,  basic  scientific  method,  system  analysis,  contract  law,  dan  cause  and effect. Perspektif yang dibangun berpengaruh terhadap desain proyek  yang akan ditetapkan. Keterkaitan antar komponen dalam sistem proyek  dan  output  yang  dihasilkan  perlu  dipahami  secara  jelas.  Ketidakmengertian  tentang  hubungan  antar  komponen  dan  outputnya  dengan  target  yang  diinginkan  dapat  menggagalkan  pencapaian  tujuan  proyek/program.     Indikator Monev    Untuk  melaksanakan  monev  dibutuhkan  sejumlah  indikator  yang  akan  digunakan  untuk  mengukur  perubahan‐perubahan  yang  terjadi  dalam  situasi  tertentu.  Indikator  menjadi  alat  untuk  memantau  dan  mengevaluasi  efek‐efek  atau  dampak‐dampak  dari  suatu  kegiatan.  Indikator dirancang untuk menyediakan suatu standar sebagai alat ukur  kemajuan  suatu  kegiatan  dibandingkan  dengan  target,  baik  input  yang 
53

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

digunakan  (indikator  input),  output  yang  dihasilkan  (indikator  output),  maupun  tujuan  yang  dicapai  (indikator  efek  dan  dampak).  Indikator  monev  secara  luas  digunakan  untuk  berbagai  kegiatan,  misalnya  :  perencanaan strategis, performance accounting, forecasting and early warning,  measuring  program  results,  program  marketing  and  public  relations,   benchmarking, dan manajemen mutu (quality management).   Indikator  monev  bukanlah  target 5 ,  tetapi  indikator  adalah  tanda  kemajuan  ke  arah  pencapaian  tujuan  jangka  menengah  atau  jangka  panjang.  Indikator  sebaiknya  ditetapkan  berdasarkan  hakekat  tujuan,  efek, serta dampak yang dikehendaki proyek/program. Penetapan tujuan  untuk  setiap  jangka  waktu  tertentu  perlu  didefinisikan  secara  jelas.Batasan  indikator  yang  dibuat  adalah  obyektif  dan  spesifik.  Secara  ideal indikator perlu memenuhi kriteria berikut ini :  a. Valid : mengukur apa yang sebenarnya harus diukur  b. Reliabel  :  dapat  dipercaya.  Kesimpulan  yang  diambil  berdasarkan  indikator‐indikator yang dibuat relatif sama walaupun diukur oleh  orang yang berbeda.  c. Relevan : selaras dan sesuai dengan tujuan‐tujuan program/proyek.  d. Sensitif  :  peka  terhadap  perubahan‐perubahan  pada  situasi  yang  diamati.  e. Spesifik  :  didasarkan  atas  data‐data  yang  tersedia  menurut  objek  yang dievaluasi.  f. Timely : pengumpulan data dapat dilakukan secara cepat.  g. Dapat  terukur  (measurable)  :  indikator  dapat  tercatat  baik  secara  kuantitatif dan atau kualitatif.  h. Konsisten : tidak berubah untuk jangka waktu lama  i. Tepat (precise) : didefinisikan sama oleh semua orang.    Pemilihan  dan  penetapan  indikator  memerlukan  pengertian  dan  pemahaman  yang  menyeluruh  (holistik)  tentang  informasi  yang  diperlukan.  Pertimbangan  teknis  yang  mempengaruhi  pemilihan  indikator  adalah  :  (1)  Tingkat  pelaksanaan  pengumpulan  data;  (2).  Pembatasan  indikator  hanya  pada  hal‐hal  yang  paling  penting;  (3).  Indikator mempertimbangkan kategori kelompok sasaran yang tepat.    Pengelolaan  DAS  pada  prinsipnya  merekayasa  secara  terencana  faktor‐ faktor lingkungan alami dan non‐alami untuk mencapai perubahan yang 
5

Target adalah hasil-hasil yang spesifik dalam jumlah atau waktu (biasanya keduanya), tetapi hasil-hasil tersebut dapat dikaitkan dengan input, output, efek atau dampak.
54

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

diinginkan dalam memanfaatkan sumberdaya alam yang ada dalam DAS  secara berkelanjutan. Perubahan yang terjadi harus dapat dimonitor dan  dievaluasi untuk meminimalkan dampak dan ekternalitas negatif lainnya  yang  mungkin  terjadi.  Kerangka  pemikiran  monev  DAS  dilaksanakan  secara  logis,  sistemik,  holistik,    komprehensif,  dan  interdisiplin.  Pendekatan DAS pun memandang wilayah DAS sebagai keterpaduan bio‐ region yang saling terkait, misalnya kerusakan ekosistem hutan di bagian  hulu DAS akan meningkatkan sedimentasi di bagian hilir DAS.  Konsep  kelestarian  (sustainability)  mewarnai  tujuan  pengelolaan  DAS.  Secara  praktis  prinsip  kelestarian  akan  menempatkan  setiap  kegiatan  pengelolaan  sumberdaya  alam  (SDA)  dalam    DAS  sesuai  dengan  kapasitas  SDA  tersebut  untuk  memperbaharui  dirinya,  misalnya  erosi  yang  terjadi  harus  di  bawah  erosi  yang  ditoleransikan.  Prinsip  sustainability  development  dijadikan  dasar  dalam  pengembangan  sistem  monev DAS.     Tahapan  Penyusunan  sistem  monev  DAS  perlu  memperhatikan  hal‐hal  berikut ini :  a. Menetapkan  tujuan  dari  kegiatan  pengelolaan  DAS  secara  jelas.  Tujuan  pengelolaan  DAS  pada  prinsipnya  adalah  terciptanya  pengelolaan  sumberdaya dalam DAS, baik hayati, non‐hayati, manusia dan lingkungan  di  dalamnya  secara  berkelanjutan.  Tiga  dasar  yang  melandasi  tujuan  pengelolaan  DAS,  yaitu  :  (a).ecological‐based  development,  (b).human‐based  development,  dan  (c).  natural  resources  conservation.  Ketiga  dasar  tersebut  diletakkan  dalam  posisi  seimbang.  Ketidakseimbangan  antar  tiga  dasar  akan mempersulit tercapai tujuan pengelolaan DAS berkelanjutan.   Paradigma pengelolaan sumberdaya alam selama ini yang lebih berfilsafat  :  resources  belongs  to  us  diduga  berperan  dalam  meningkatkan  deplesi  sumberdaya  alam  dan  lingkungan.  Alam  dan  lingkungan  dieksploitasi  saja,  sehingga  menimbulkan  kerusakan  dimana‐mana.  Dengan  demikian  penulis  memandang  bahwa  penetapan  tujuan  pengelolaan  DAS  harus  mengubah paradigma tersebut menjadi paradigma baru : human belongs to  nature. Paradigma ini menekankan perlunya keselarasan antar komponen  dalam  lingkungan  semesta.  Tujuan  harus  dapat  dimengerti  oleh  semua  stakeholders  dan  dapat  dipersepsikan  sama.  Ketidaksamaan  persepsi  tentang  tujuan  menjadi  faktor  yang  menentukan  kegagalan  pengelolaan  DAS.  Tujuan  harus  dapat  dijelaskan  dengan  bahasa  yang  dimengerti  secara  baik  oleh  masyarakat.  Idealnya  implementasi  tujuan  diikuti  oleh  masyarakat dan kelompok sasaran lainnya secara partisipatif.    
55

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

b. Menginventarisir  komponen‐komponen  DAS  (biofisik  dan  sosial‐
ekonomi)  yang  mempengaruhi  tujuan  kegiatan  pengelolaan  DAS,  termasuk menjelaskan hubungan antar komponen dalam sistem DAS.   Mc  Donald  and  Kay  (1988)  memandang  DAS  sebagai  megasistem,  yang  terdiri dari :  b.1. Sistem Fisik   • Sub  sistem  atmosfer  (misal  :  energi  radiasi  dari  matahari,  evaporasi, presipitasi, iklim mikro)  • Sub  sistem  hidrologis  (misal  :  presipitasi,  surface runoff,  debit  air,  air  tanah,  evapotranspirasi,  sedimen,  hara,  turbiditas,  salinitas,  dan alkalinitas)  • Sub  sistem  fisiografis  (misal  :  penutupan  tanah,  struktur  batuan,  terrain gradient, profil sungai)  b.2. Sistem Biologis  • Sub  sistem  aquatik  (misal  :  bentos,  plankton,  ikan,  vektor  penyakit, rantai makanan akuatik, dsb).  • Sub sistem teresterial (misal : flora dan fauna daratan, hara tanah,  penutupan vegetasi)  b.3. Sistem Manusia  • Sub  sistem  produksi  (misal  :  pertanian,  perikanan,  kehutanan,  energi, rekreasi, kesehatan, navigasi, manufaktur, dsb).  • Sub  sistem  administratif  (misal  :  struktur  kekuasaan,  anggaran,  kontrol legislatif, partisipasi publik).  • Sub  sistem  sosio‐politik  (misal  :  struktur  kekuatan  politik,  kelompok  penekan  (social  pressure  groups),  penguasaan  aset  dan  lahan, keadilan dan redistribusi).  • Sub  sistem  legal/hukum  (misal  :  peraturan  pengelolaan  lingkungan, tata ruang wilayah, dsb).     c. Mendefinisikan  maksud  dari  monev  dan  menetapkan  kategori  apa  saja  yang  harus  di‐monev.  Maksud  monev  dalam  kegiatan  pengelolaan  DAS  perlu  ditetapkan  secara  jelas  dan  spesifik,  dengan  mempertimbangkan  masalah  fisik  dan  infrastruktur,  aspek  kelembagaan,  sistem  pelayanan  terhadap  target  sasaran,  waktu,  dan  hasil‐hasil  yang  dicapai  baik  output  dan  efeknya.  Kategori  monev  DAS  meliputi  aspek  biofisik  dan  aspek  ekonomi‐sosial.  Monev  biofisik  difokuskan  untuk  mengkaji  efek  dan  dampak dari adanya kegiatan proyek terhadap perubahan perilaku sistem  biofisik.  Adapun  monev  ekonomi‐sosial  difokuskan  untuk  mengkaji  perubahan ekonomi dan sosial akibat dari adanya proyek.   
56

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

d. Mengidentifikasi  indikator‐indikator  monev  DAS  menurut  kategorinya. 
Indikator  ditetapkan  secra  participated  untuk  mengukur  perubahan‐ perubahan yang terjadi dalam sistem DAS, baik terhadap input sistem dan  output  sistemnya.  Beberapa  indikator  potensial  untuk  kegiatan  monev  disajikan pada Tabel 1.     Tabel 1. Indikator Potensial untuk Kegiatan Monev DAS 
Kategori  BIO‐FISIK  • Parameter  Lahan  • • • •   • Air  • • • • • • •   • Iklim dan  Hidrologi  • • Indikator  Kehilangan  tanah  (erosi)  Produktifitas lahan  Sedimentasi  Masalah tanah  lainnya : siltation  Jumlah air  Distribusi air  Kualitas air  Indeks  penggunaan  air  Fungsi  assimilasi  alami  Air tanah  (groundwater)  Banjir dan  kekeringan  Hujan (presipitasi)  Suhu dan evapo‐ transpirasi  Iklim mikro  Sifat iklim lainnya.  Perubahan iklim  Hutan  Pertanian  Pemukiman  Industri  Kawasan  lindung  &  konservasi  Rasio  penutupan  lahan  Kelimpahan dan  diversitas spesies  Laju kepunahan  Sumber kehidupan  masyarakat  57 • Keterangan  Data  diperoleh  dari  hasil  observasi  dan  penelitian.  

• •

•

Rasio debit  maks  dan debit‐min  Ketersediaan air  cukup memenuhi  demand  Kualitas air sesuai  dengan standar  baku air. 

•

Terkait dengan  lahan dan aktifitas  di atasnya 

 

•

• • • Penutupan  • • &  • pengguna • an lahan  • •

•

Dampak  penggunaan lahan  terhadap  kelestarian DAS. 

 

•

Flora &  Fauna 

• • •

 

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

EKONOMI‐ SOSIAL 

•

Ekonomi  

• • • • • • • • • • • • •

 

•

Sosial dan  kelembaga an 

• • • • •

• • • •

Konservasi biologi.  Pemanfaatan lestari  Pendapatan    masyarakat  Produktifitas lahan  Laju pertumbuhan  ekonomi  Jumlah tenaga kerja  Kepemilikan lahan  Manfaat langsung  proyek  Manfaat tidak  langsung proyek  Distribusi manfaat  untuk masyarakat  Investasi  Kemiskinan  penduduk  Akses terhadap  pasar  Jumlah penduduk    Status demografi :  pendidikan  Perubahan perilaku  sesudah proyek  Pengelolaan lahan  Adopsi terhadap  teknologi  konservasi  Institusi lokal dan  kelembagaan lokal  Pemberdayaan  masyarakat lokal  Potensi konflik  Manajemen SDA  secara komprehensif 

 

e. Menentukan  teknik  evaluasi  untuk  menilai  efektifitas  kinerja  dari 
indikator  tersebut,  misalnya  untuk  mengevaluasi  erosi  tanah  umumnya  digunakan  metode  USLE  (Universal  Soil  Loss  Equation)  yang  merupakan  metode empiris dengan rumusan berikut ini :  A = R.K.(L.S).CP  dimana :       A   = Kehilangan tanah         R  = Indeks erodibilitas tanah 
58

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

      LS  = Indeks lereng dan panjang lereng        C  = Faktor tanaman penutup        P  = Faktor tindakan konservasi/pengelolaan    Dengan mengubah nilai dari C dan atau P, dapat diketahui juga efektifitas  dari  upaya  konservasi  tanah  dan  air  yang  dilakukan.  Evaluasi  laju  erosi  kemudian didasarkan pada tingkat bahaya erosi (TBE), yaitu : TBE sangat  ringan  jika  laju  erosi  kurang  dari  15  ton/ha/tahun,  kurang  (16‐40  ton/ha/tahun), sedang (41‐120 ton/ha/tahun), berat (121‐240 ton/ha/tahun),  dan  sangat  berat  (  >  241  ton/ha/tahun)  (Ditjen  RRL,  1989).  Hasil  penelaahan  dijadikan  data  dasar  untuk  memonitor  dan  mengevaluasi  kondisi  erosi  di  DAS  tersebut  yang  dikaitkan  dengan  pengembangan  program selanjutnya.   Pengembangan  teknik  evaluasi  indikator  diupayakan  sesederhana  mungkin.  Selain  itu  teknik  evaluasi  indikator  perlu  memperhatikan  kemajuan‐kemajuan  sains  dan  teknologi  yang  terkait.  Sebagai  contoh  perkembangan  teknologi  komputer  dan  sistem  informasi  geografis  (SIG)  telah  memungkinkan  dilakukannya  pemodelan  DAS  secara  spasial  (distributed)  yang  lebih  komprehensif  daripada  evaluasi  terhadap  satu  point atau wilayah dalam DAS.    f. Hasil  monev  didokumentasikan  dalam  bentuk  laporan.  Laporan  monev  DAS  dibuat  secara  objektif    dan  komprehensif  oleh  tim  interdisiplin.  Konsultasi  publik  perlu  dilakukan  dalam  penyusunan  draft  monev  DAS  sebagai  upaya  menggali  hal‐hal  penting  lainnya  yang  belum  tercakup  dalam draft hasil monev.    g. Hasil  monev  harus  dapat  diinterpretasikan  secara  baik  dan  tepat  oleh  setiap  pengguna  (publik).  Interpretasi  yang  salah  terhadap  hasil  monev  dapat  merugikan  pengembangan  program  pengelolaan  DAS,  misalnya  inefisiensi  dalam  mengalokasikan  kegiatan  dan  anggaran  program  selanjutnya.  Oleh  karena  itu  suatu  monev  yang  baik  tidak    akan  menimbulkan  kata  :  misperception,  misdirection,  atau  poor  guidelines  dalam  implementasinya.    Kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) adalah bagian integral dalam  pengelolaan  DAS  yang  lazim  dilakukan.  Kesalahan  monev  sering  menjadi  faktor  penentu  kegagalan  dalam  mencapai  tujuan  pengelolaan  DAS.    
59

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Indikator monev DAS dikategorikan dalam aspek bio‐fisik dan ekonomi‐ sosial.  Walaupun  indikator  relatif  bersifat  tetap,  namun  pelaksanaan  monev  bersifat  dinamik  sesuai  dengan  perkembangan  kondisi  fisik  dan  sosial ekonomi, serta perkembangan teknik/metode pengukuran evaluasi.  Hasil  monev  harus  dapat  diinterpretasikan  secara  jelas  dan  tepat  oleh  setiap stakeholder dalam DAS, sehingga tidak terjadi kesalahan persepsi. 

Penutup : Menuju Pengelolaan DAS Berkelanjutan Pengelolaan  DAS  pada  prinsipnya  ditujukan  untuk  mengelola  sumberdaya  alam  (SDA)  dan  sumberdaya  lainnya  dalam  wilayah  DAS  secara  berkelanjutan,  dengan  menyeimbangkan  kepentingan  ekonomi  dan  ekologis  serta  meminimalkan  terjadinya  degradasi  lingkungan.  Prinsip produktifitas dan konservasi menjadi dasar dalam merencanakan,  mendesain, dan mengimplementasikan program pengelolaan DAS.      Peranan  SDA  dan  lingkungan  banyak  menyangkut  kepentingan  publik.  Sifat  intrinsik  dalam  SDA  sebagai  barang  publik  yang  dalam  pengusahaannya  berdampak  kepada  kepentingan  masyarakat  (publik)  perlu  diatur  dengan  kebijakan  publik.  Kebijakan  publik  dibuat  melalui  proses  penyusunan  kebijakan  publik  secara  partisipatif  melibatkan  stakeholders  dengan  memperhatikan  kebutuhan  dan  kondisi  riil  di  masyarakat.    Kebijakan  pengelolaan  DAS  memerlukan  dukungan  institusi  yang  memadai dan sesuai dengan paradigma pengelolaan DAS berkelanjutan.  Ikatan institusi yang kuat akan menjamin pelaksanaan pengelolaan DAS  secara  baik.  Selain  institusi  yang  kuat,  kebijakan  pengelolaan  DAS  akan  efektif  apabila  didukung  oleh  sistem  legal.  Legislasi  sebagai  alat  hukum  dapat bersifat memaksa orang atau publik untuk mentaati kebijakan yang  dibuat.  Lemahnya  aspek  institusi  dan  legal  (hukum)  menjadi  faktor  penghambat  dalam  keberhasilan  pengelolaan  DAS  di  Indonesia.  Oleh  karena  itu  reformasi  institusi  dan  hukum  lingkungan  (termasuk  DAS)  perlu segera dilakukan.    Untuk  mencapai  pengelolaan  DAS  berkelanjutan  diperlukan  upaya‐ upaya sebagai berikut   a. Meningkatkan keterpaduan dalam pengelolaan DAS.  b. Ketersediaan dana dan insentif.  c. Pengembangan teknologi DAS dan penyuluhan. 
60

Prinsip Dasar Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

d. Peningkatan partisipasi masyarakat (pemberdayaan).  e. Adanya  kebijakan  pemerintah  dan  dukungan  legislatif  dalam  pengelolaan DAS berkelanjutan.    Ukuran efektifitas kebijakan pengelolaan DAS yang perlu diperhatikan  adalah :  a. Efisiensi.  Kebijakan  dalam  pengelolaan  DAS  harus  mampu  meningkatkan  efisiensi  penggunan  sumberdaya  alam  (SDA)  dalam  DAS  secara  optimal.  Kebijakan  pengelolaan  DAS  yang  tidak  mencerminkan  efisiensi  dapat  menimbulkan  degradasi  lingkungan.  b. Fair (adil). Bobot kebijakan harus ditempatkan secara adil, dimana  kepentingan  publik  tidak  terabaikan.  Sebagai  contoh  rusaknya  hutan  tropis  Indonesia  disebabkan  oleh  tidak  tercerminnya  rasa  keadilan  publik.  Masyarakat  lokal  selama  32  tahun  rejim  orde  baru  tidak  mendapatkan  kesempatan  untuk  menikmati  langsung  hutan  yang  berada  di  lingkungannya.  Kebijakan  konsensi  hutan  yang tidak fair dalam prakteknya telah memperkaya sekelompok  pengusaha  (pusat)  dan  memiskinkan  masyarakat  lokal.  Ketidakadilan ini menyebabkan konflik sosial.  c. Mengarah  kepada  insentif.  Perbaikan  lingkungan  adalah  tanggung‐jawab  bersama  karena  SDA  ini  prinsipnya  obligasi  bersama  yang  harus  dijaga.  Namun  untuk  menciptakan  attitude  diperlukan insentif. Oleh karena itu kebijakan dalam pengelolaan  DAS harus mengarah kepada insentif untuk merangsang tindakan  dalam perbaikan lingkungan.  d. Penegakan  hukum  (enforceability).  Kebijakan  tidak  akan  efektif  berjalan  dalam  kondisi  disorder  dan  poor  law  enforcement.  Penegakan  hukum  akan  memaksa  setiap  anggota  masyarakat  untuk mentaati kebijakan yang ditetapkan.   e. Diterima  oleh  publik  (public  acceptability).  Kebijakan  pengelolaan  DAS  selalu  menyangkut  kepentingan  publik.  Dengan  demikian  kebijakan yang baik harus dapat diterima oleh publik.  f. Moral.  Moral  adalah  aspek  normatif  yang  sangat  penting  dalam  menjamin aspek positif dari suatu kebijakan. Moral menjadi spirit  of soul  dalam  pengelolaan  SDA.  Oleh  karena  itu  terjadinya  moral  hazard menjadi titik awal kerusakan SDA dan lingkungan.       
61


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:19987
posted:4/24/2009
language:Indonesian
pages:62