Docstoc

Makalah Pernikahan

Document Sample
Makalah Pernikahan Powered By Docstoc
					                         MAKALAH


       SYARIAT ISLAM TENTANG PERNIKAHAN

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam
             Dosen pengampu : Yuliana Habibi, M.S.I




                     NAMA : M. HISYAM
                     NPM : 10.0523.I




        PRODI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
   FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
              UNIVERSITAS PEKALONGAN
                            2010
                               PENDAHULUAN


       Makalah ini berusaha menyajikan secara sederhana mengenai syariat
islam tentang pernikahan. Masalah dibatasi pernikahah menurut segi etimologi
dan dilaksanakan menurut aturan agama islam.
       Jelas bagi kita bahwa pernikahan diadakan untuk menyelamatkan moral
kebudayaan, sehingga prilaku seksual menyimpang dapat dikikis. Budaya
freeseks yang sedang menjadi perhatian orang banyak merupakan budaya barat
yang sangat merugikan secara hukum pada perempuan atau anak yang
dikandungnya, karena pembelaan hak-hak anak dan istri menurut hukum diakui
berdasarkan adanya pernikahan. Jika mereka tidak memiliki akta pernikahan,
maka akan hilang begitu saja hak-haknya.
       Menurut kajian ilmu hukum pencatatan adalah wajib, hal ini karena
pencatatan menjadi alat pembuktian, yaitu pembuktian secara otentik.
Sedangkan   menurut norma       agama      pencatatan   merupakan   kesunatan,
keberadaanya bukan menjadi syarat sahnya perkawinan akan tetapi menjadi
wajib apabila sudah menjadi undang-undang.
                                    NIKAH


A. Pengertian Nikah dan Tujuan Nikah
          Kata (nikah) berasal dari bahasa Arab , yang secara etimologi berarti:
   (bercampur) dalam bahasa Arab, lafadh "nikah" bermakna berakad,
   bersetubuh dan bersenang-senang, (Mustafa al-Khin dkk, Al-Fiqh al-Manhaji :
   11).
          Al-Qur’an menggunakan kata "nikah" yang mempunyai makna
   "perkawinan", disamping     secara majazi (metaphoric) diartikan dengan
   "hubungan seks". Selain itu juga menggunakan kata zauj yang berarti
   "pasangan" untuk makna nikah. Ini karena pernikahan menjadikan seseorang
   memiliki pasangan.(M. Quraish Shihab, 1997: 191).
          Secara lugawi, nikah berarti bersenggama atau bercampur, sehingga
   dapat dikatakan terjadi perkawinan antara kayu-kayu apabila kayu-kayu itu
   saling condong dan bercampur antara yang satu dengan yang lain. Dalam
   pengertian majazi, nikah disebutkan untuk arti akad, karena akad merupakan
   landasan bolehnya melakukan persetubuhan. Dengan akad nikah suami
   memiliki hak untuk memiliki. Namun hak milik itu hanya bersifat milk al-
   Intifa’ (hak milik untuk menggunakan), bukan milk al-muqarabah (hak milik
   yang bisa dipindah tangankan seperti kepemilikan benda) dan bukan pula
   milk al-manfa’ah (kepemilikan manfaat yang bisa dipindahkan). (Abdul Basit
   Mutawally, Muhadarah fi al-Fiqh al-Muqaran : 120).


   Tujuan Pernikahan dalam Islam
   1. Untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang asasi.
   2. Untuk membentengi ahlak yang luhur.
   3. Untuk menegakkan rumah tangga yang islami.
   4. Untuk meningkatkan ibadah kepada Allah.
   5. Untuk mencari keturunan yang shalih dan shalihah.
   Menurut Ir. Drs. Abu Ammar, MM (http://sigeulis.blogspot.com, 2008)
B. Pra-Nikah
          Menurut hadis, wanita dinikahi karena empat hal, yaitu : pertama,
   hartanya, karena dengan harta yang cukup lelaki tidak terbebani dengan
   nafkah dan lainnya yang berada di atas kemampuannya. Kedua, kemuliaan,
   pada dasarnya kemuliaan ini terletak pada kemuliaan orang tua dan
   keluarganya. Ketiga, kecantikan. Salah satu faktor yang selalu dicari dalam
   segala hal termasuk     wanita sebagai teman pendamping atau teman
   berbaring (Muhammad Fuad al-Baqi, 1994: 392). Keempat, agama, karena
   agama dapat mempengaruhi akhlaq orang yang menganutnya termasuk
   dalam pernikahan (Muhammad ibn Isma’il as San’any, 1991 : 216).
          Hadis tersebut diakhiri dengan ungkapan yang berarti hidup
   seseorang tidak akan bahagia jika ia menikahi wanita yang tidak beragama
   dan berakhlaq (Muhammad Fuad al-Baqi, 1994 : 392).


   Hal-Hal Yang Perlu Dilakukan Sebelum Menikah
   1. Minta Pertimbangan
      Bagi seorang lelaki sebelum ia memutuskan untuk mempersunting
      seorang wanita untuk enjadi isterinya, hendaklah ia juga minta
      pertimbangan dari kerabat dekat wanita tersebut yang baik agamanya.
      Mereka hendaknya orang yang tahu benar tentang hal ihwal wanita yang
      akan dilamar oleh lelaki tersebut, agar ia dapat memberikan
      pertimbangan dengan jujur dan adil. Begitu pula bagi wanita yang akan
      dilamar oleh seorang lelaki, sebaiknya ia minta pertimbangan dari kerabat
      dekatnya yang baik agamanya.
   2. Shalat Istikharah
      Setelah mendapatkan pertimbangan tentang bagaimana calon isterinya,
      hendaknya ia melakukan shalat istikharah sampai hatinya diberi
      kemantapan oleh Allah Taala dalam mengambil keputusan. Shalat
      istikharah adalah shalat untuk meminta kepada Allah Taala agar diberi
      petunjuk dalam memilih mana yang terbaik untuknya. Shalat istikharah
   ini tidak hanya dilakukan untuk keperluan mencari jodoh saja, akan tetapi
   dalam segala urusan jika seseorang mengalami rasa bimbang untuk
   mengambil suatu keputusan tentang urusan yang penting. Hal ini untuk
   menjauhkan diri dari kemungkinan terjatuh kepada penderitaan hidup.
   Insya Allah ia akan mendapatkan kemudahan dalam menetapkan suatu
   pilihan.
3. Khithbah (peminangan)
   Setelah seseorang mendapat kemantapan dalam menentukan wanita
   pilihannya, maka hendaklah segera meminangnya. Laki-laki tersebut
   harus menghadap orang tua/wali dari wanita pilihannya itu untuk
   menyampaikan kehendak hatinya, yaitu meminta agar ia direstui untuk
   menikahi anaknya. Adapun wanita yang boleh dipinang adalah bilamana
   pada       waktu dipinang tidak ada     halangan-halangan    syari   yang
   menyebabkan laki-laki dilarang memperisterinya saat itu.
4. Melihat Wanita yang Dipinang
   Islam adalah agama yang hanif yang mensyariatkan pelamar untuk
   melihat wanita yang dilamar dan mensyariatkan wanita yang dilamar
   untuk melihat laki-laki yang meminangnya, agar masing- masing pihak
   benar-benar mendapatkan kejelasan tatkala menjatuhkan pilihan
   pasangan hidupnya.
   Adapun ketentuan hukum yang diletakkan Islam dalam masalah melihat
   pinangan ini di antaranya adalah:
   1. Dilarang berkhalwat dengan laki-laki peminang tanpa disertai
       mahram.
   2. Wanita yang dipinang tidak boleh berjabat tangan dengan laki- laki
       yang meminangnya.
   Menurut Salmah Machfoedz (http://taaruf.multiply.com : 2008)
C. Proses pernikahan menurut islam
   1. Adanya suka sama suka dari kedua calon mempelai
   2. Aqad Nikah
   3. Adanya ijab qabul
      Ijab artinya mengemukakan atau menyatakan suatu perkataan. Qabul
      artinya menerima. Jadi Ijab qabul itu artinya seseorang menyatakan
      sesuatu kepada lawan bicaranya, kemudian lawan bicaranya menyatakan
      menerima. Dalam perkawinan yang dimaksud dengan "ijab qabul" adalah
      seorang wali atau wakil dari mempelai perempuan mengemukakan
      kepada calon suami anak perempuannya/ perempuan yang di bawah
      perwaliannya, untuk menikahkannya dengan lelaki yang mengambil
      perempuan tersebut sebagai isterinya. Lalu lelaki bersangkutan
      menyatakan menerima pernikahannya itu.
   4. Adanya Mahar (mas kawin)
      Islam memuliakan wanita dengan mewajibkan laki-laki yang hendak
      menikahinya menyerahkan mahar (mas kawin). Islam tidak menetapkan
      batasan nilai tertentu dalam mas kawin ini, tetapi atas kesepakatan kedua
      belah pihak dan menurut kadar kemampuan. Islam juga lebih menyukai
      mas kawin yang mudah dan sederhana serta tidak berlebih-lebihan dalam
      memintanya (Al-Albani , Shahih Al-Jamius Shaghir : 3279)
   5. Adanya Wali
      Wali yang mendapat prioritas pertama di antara sekalian wali-wali yang
      ada adalah ayah dari pengantin wanita. Kalau tidak ada barulah kakeknya
      (ayahnya ayah), kemudian saudara lelaki seayah seibu atau seayah,
      kemudian anak saudara lelaki. Sesudah itu barulah kerabat-kerabat
      terdekat yang lainnya atau hakim (Syaikh Al-Albani, Shahih Sunan Abi
      Dawud : 1836)
   6. Adanya Saksi-Saksi
      Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
      "Tidak sah suatu pernikahan tanpa seorang wali dan dua orang saksi yang
      adil." (HR. Al-Baihaqi dari Imran dan dari Aisyah).
      Menurut sunnah Rasul shallallahu alaihi wa sallam, sebelum aqad nikah
      diadakan khuthbah lebih dahulu yang dinamakan khuthbatun nikah atau
      khuthbatul hajat (Al-Albani , Shahih Al-Jamius Shaghir : 7557).
   7. Walimah
             Walimatul Urus hukumnya wajib. Dasarnya adalah sabda
      Rasulullah shallallahu alaih wa sallam kepada Abdurrahman bin Auf :
      "....Adakanlah walimah sekalipun hanya dengan seekor kambing." (HR.
      Abu Dawud )
      Adapun Sunnah yang harus diperhatikan ketika mengadakan walimah
      adalah sebagai berikut:
      a. Dilakukan selama 3 (tiga) hari setelah hari dukhul (masuknya).
      b. Hendaklah mengundang orang-orang shalih, baik miskin atau kaya.
      c. Sedapat mungkin memotong seekor kambing atau lebih, sesuai
          dengan taraf ekonominya.
          (Al-Albani, Shahih Sunan Abu Dawud : 1854)


D. Hikmah Pernikahan
   Perkawinan yang disyariatkan oleh Islam mempunyai hikmah tertentu,
   antaranya ialah:
   1. Untuk memenuhi tuntutan fitrah dzahir dan batin manusia, yaitu fitrah
      semula, jadi seluruh manusia yang memerlukan pasangan hidup dan jiwa
      yang bersih dan salih.
   2. Untuk menyalurkan tuntutan nafsu seks dengan cara yang diharuskan
      oleh syara'.
   3. Perkawinan merupakan suatu sunnah dan ibadah.
   4. Dapat mengatur kehidupan yang lebih baik, kemas dan teratur.
   5. Hidup seseorang mempunyai sistem dan sentiasa menjalankan tanggung
      jawab terhadap diri dan keluarga dengan sempurna.
6. Perkawinan dapat membendung serta dapat membenteras penyakit
   sosial, berdua-duasan tanpa ikatan perkawinan, perzinaan, dan seks
   bebas.
7. Dapat mengadakan perbincangan dan berkasih sayang antara pasangan
   suami isteri.
8. Berkah antara pasangan suami dan isteri mewarisi harta antara satu sama
   lain apabila mati salah seorang.
9. Untuk membentuk sebuah keluarga yang bahagia serta pembentukan
   jiwa yang sah di sisi syara'.
10. Menghubungkan tali persaudaraan sesama Islam.
11. Mengukuhkan ekonomi bagi pasangan yang bekerja.
   (http://organisasi.org, 2008)
                                    PENUTUP


      Agama pada umumnya dan islam pada khususnya dewasa ini semakin
dituntun peranannya untuk menjadi pemandu dan pengarah kehidupan manusia
agar tidak terperosok kepada keadaan yang merugikan dan menjatuhkan
martabatnya sebagai mahluk mulia.
      Demikianlah makalah ini saya buat yang membahas mengenai syariat
islam tentang pernikahan. Semoga Allah Taala memberikan kelapangan bagi
orang- orang yang ikhlas untuk mengikuti petunjuk yang benar dalam memulai
hidup berumah tangga dengan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaih wa
sallam. Mudah-mudahan mereka digolongkan ke dalam hamba-hamba yang
bertaqwa.
                               DAFTAR PUSTAKA


Baqi, Muhammad Fuad al-, al-Lu’lu’ wa al-Marjan, Riyadh : Maktabah Dar as-
       Salam, 1994.
Mutawally, Abdul Basit, Muhadarah fi al-Fiqh al-Muqaran, Mesir: t.p.,t.t
Muhammad ibn Isma’il as San’any, Subul as-Salam syarh Bulug al-Maram, Beirut:
       Dar al-Fikr, 1991.
Shihab, M. Quraish, Wawasan al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan
       Umat, cet. ke-6 Bandung: Mizan, 1997, hlm. 191.
http://taaruf.multiply.com/journal/item/2/Artikel_Pra_Nikah, 2008.
http://sigeulis.blogspot.com/2008/10/ditulis-oleh-ir-drs-abu-ammar-mm-
       agama.html, 2008.
http://organisasi.org/hikmat-perkahwinan-hikmah-perkawinan-sesuai-ajaran-
       agama-islam, Sen, 23/06/2008 - 4:56pm.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:36695
posted:10/2/2010
language:Indonesian
pages:10