Optimalisasi Potensi Anak Usia Dini

Document Sample
Optimalisasi Potensi Anak Usia Dini Powered By Docstoc
					Mengoptimalkan Potensi Anak pada Lima Tahun Pertama
Minggu, 31 Agustus 2008 15:23 - Terakhir Diperbaharui Selasa, 10 November 2009 15:45




 PENDAHULUAN




SERING orang tua bertanya, mengapa watak, kemampuan, dan perilaku  anaknya yang
sekarang sekolah di  SMA ”tiba-tiba” tampak berbeda dengan teman-teman lainnya, padahal ia
mengalami masa kecil yang sama dengan teman-teman pada umumnya? ”Bukankah anakku
juga minum susu, makan nasi, daging, juga buah dan sayur, plus ice cream, bahkan multi
vitamin?”

   Pertanyaan itu terus berlanjut. Mengapa anak tetanggaku jadi anak penurut sedang anakku
sangat pemberang, anak tetanggaku selalu tersenyum sedang anakku selalu cemberut, anak
tetanggaku bisa sangat bandel sedangkan anakku mudah menangis, anak tetanggaku bisa
menyanyi dengan suara merdu sedang anakku bersuara sumbang, anak tetanggaku bisa pintar
melukis sedang anakku suka mebuat grafiti di tembok rumah? Anak tetanggaku selalu menjadi
juara kelas sementara anakku suka tawuran? Apakah ini karena takdir? Kalau begitu mengapa
takdir baik selalu jatuh pada orang lain, sementara takdir jelek selalu pada diri saya?
Pertanyaan gugatan di atas mencerminkan, bahwa kita  lebih suka melihat kepada hasil yang
dicapai daripada proses. Kita sering tidak peduli pada proses karena maunya cepat jadi atau
ingin instan, maka yang ditempuh adalah jalan pintas. Hasilnya adalah anak seolah-olah bisa;
padahal yang terjadi adalah sesuatu yang semu, palsu dan lebih pada ambisi orang tua, bukan
kebutuhan anak.




 Seperti apa anak setelah dewasa, atau ketika memasuki masa belajar di SMA, SMP bahkan
masih di SD, sesungguhnya amat bergantung pada bagaimana orang tua mengasuh anak pada
usia lima tahun pertama. Masa ini adalah masa kegemilangan ruang intelektual, emosi, spiritual
dan motorik anak, sehingga para ahli anak menyebutnya sebagai masa golden age. Para
peneliti menyimpulkan pembentukan intelegensia seorang indivisu 50 % berlangsung pada usia
1-4 tahun, hingga usia 8 tahun menjadi 80 % dan mencapai 100 % pada usia 18 tahun.


PANDANGAN TENTANG ANAK




                                                                                         1 / 11
Mengoptimalkan Potensi Anak pada Lima Tahun Pertama
Minggu, 31 Agustus 2008 15:23 - Terakhir Diperbaharui Selasa, 10 November 2009 15:45




Ada beberapa pandangan dasar tentang anak. Pertama, pandangan lama yang menganggap
bahwa anak lahir dengan membawa takdir yang tidak bisa diubah berupa bakat dan
kemampuan yang tak bisa diubah. Jangan paksa anak untuk melukis atau menyanyi atau
menari, karena melukis-menyanyi-dan menari adalah bakat yang dibawa sejak lahir, begitulah
kira-kira aliran ini melihat anak.
 Konsekuensinya, untuk apa upaya manusia mengembangkan anak, sebab bukankah anak
sudah ditakdirkaan dalam bakat-bakat tertentu? Pendidikan tidak akan mampu mengubah
bakat, pengasuhan tidak akan mengubah takdir. Pada saatnya, secara alamiah bakat anak
akan muncul, tanpa jasa dari orang tua atau guru.




Kedua, aliran Tabularasa, dikemukakan oleh John Locke, yang melihat anak lahir dalam kondisi
putih bersih laksana meja lilin yang akan ditulisi apa saja bisa bergantung kemauan orang tua.
Pandangan ini menolak keberadaan bakat bawaan pada anak. Tugas orang tua adalah
menulisi meja tersebut, mau seperti apa yang paling menentukan adalah orang tua dan guru.
Oleh sebab itu orang tua berperan mengarahkan ke mana anak akan dibawa dengan konsep
yang sudah disiapkan.




Pandangan lain yang lebih maju dikemukakan oleh Jean Piaget. Menurutnya anak lahir dengan
segala keunikan potensi, yang antara satu dengan yang lainnya tidaklah sama, bahkan anak
kembar sekali pun. Tugas orang dewasa adalah menyiapkan lingkungan yang memungkinkan
potensi-potensi yang dimiliki anak bisa berkembang optimal, baik potensi nalar ( intelegensi),
rasa (emosi), spiritual,  maupun ketrampilan (motorik).




Potensi intelegensia anak akan berkembang pesat bila orang tua menyediakan perpustakaan
atau bahan-bahan bacaan lainnya. Potensi emosi akan menjadi optimal manakala orang tua
menyediakan suasana keluarga yang harmonis, hubungan kasih sayang antaranggota
keluarga. Demikian pula potensi motorik akan bangkit bila ada ruang daan fasilitas yang
mendukung, tanpa itu tentulah akan sulit berkembang, apalagi bila yang  tersedia adalah hal
yang sebaliknya.




                                                                                          2 / 11
Mengoptimalkan Potensi Anak pada Lima Tahun Pertama
Minggu, 31 Agustus 2008 15:23 - Terakhir Diperbaharui Selasa, 10 November 2009 15:45




Abraham Maslow melengkapi pemikiran tersebut dengan teori motivasi. Menurutnya,
potensi-potensi unik sorang anak akan muncul apabila diberi motivasi dengan cara
penyampaian wawasan, contoh orang tua, pergaulan dengan teman lain, maupun pengalaman
langsung.

POLA ASUHAN SEBAGAI KUNCI




 Mencermati pendapat di atas dengan memasukan pengalaman yang selama ini kita peroleh
memberikan pengertian kepada kita bahwa kata kunci  sukses mengantarkan anak menuju
perkembangan optimal adalah pada pola asuhan. Seperti apa kita menerapkan pola asuhan,
itulah bentuk karakter perkembangan anak yang akan terjadi.




Pola asuhan yang melekat adalah siapa yang paling dekat dengan seorang anak. Apabila yang
paling dekat adalah ibu, maka watak-watak ibu akan berpengaruh. Bila yang dekat adalah ayah
maka watak ayahlah yang akan membekas. Demikian pula bla ternyata guru di Taman
kanak-kanak yang paling dekat, maka perilaku anak akan mengikuti gurunya. Begitu pula bila
yang paling dekat adalah baby siter atau pembantu, maka karakter pembantulah yang akan
melekat pada jiwa anak.




Sering orang tua tiba-tiba kaget mengapa si kecil tidak mau lagi menuruti perintahnya, bahkan
suka membantah. Sebaliknya ketika diperintah oleh pembantu justeru sangat menurut, lalu
menyalahkan pembantu jangan-jangan selama ini diajari agar anaknya tidak mematuhi
perintahnya. Ia tidak menyadari bahwa selama ini perhatian yang diberikan kepada si kecil
memang sangatlah kurang karena kesibukannya.




Itulah maka kedekatan dengan si kecil harus dibangun sejak dini.




                                                                                          3 / 11
Mengoptimalkan Potensi Anak pada Lima Tahun Pertama
Minggu, 31 Agustus 2008 15:23 - Terakhir Diperbaharui Selasa, 10 November 2009 15:45




INISISASI DINI ASI




Pola asuhan dimulai sejak anak lahir, malahan ketika anak masih dalam kandungan.  Begitu
anak lahir tanpa perantara siapapun anak diinisiasi untuk menikmati air susu ibu (ASI). Di dalam
ASI lah pertalian ibu dan anak sangat sangat kuat tak ada yang menandingi. Tinjauan medis
paling mutakhir menunjukkan, bahwa di dalam ASI bukan hanya termuat gizi yang sangat
tinggi, tetapi juga zat-zat inti perekat antara seorang anak dan ibu. Memisahkan anak dengan
ASI sama dengan memisahkan anak dengan kehidupan, karena di sanalah ia berasal dan
menemukan kehangatan, harapan, lindungan, dan kemutlakan cinta.




Dengan alasan apapun, anak harus diberi hak utama yaitu menikmati air susu ibu. ASI tidak
akan tergantikan oleh susu formula macam apapun. Susu formula hanya menyediakan gizi
semu, sedangkan ASI mengandung gizi sejati, cinta, harapan, bahkan aneka zat kekebalan
tubuh yang melindungi anak dari bebagai penyakit. Menyediakan berbagai fasilitas kepada
anak tanpa menyediakan ASI sesungguhnya seperti memberikan tubuh tanpa memberikan
jiwanya.




Inisiasi diberikan dalam waktu 30-60 menit setelah kelahiran, tanpa dibersihkan terlebih dahulu.
Bila ini dilakukan selama minimal 6 bulan (ASI eklusif) maka akan terjadi latihan reflek berfikir
sekaligus pencegahan terhadap serangan penyakit menular atau infectious disease (Utami
Rusli, 2007).




                                                                                            4 / 11
Mengoptimalkan Potensi Anak pada Lima Tahun Pertama
Minggu, 31 Agustus 2008 15:23 - Terakhir Diperbaharui Selasa, 10 November 2009 15:45




Boleh dikatakan, perlakukan apapun menjadi sia-sia bagi masa depan anak apabila orang tua
tidak memberikan ASI eklusif. Potensi anak akan berkembang secara optimal, bila dalam
hidupnya menikmati ASI eklusif.




JANGAN MELARANG




Kesalahan paling fatal orang tua adalah kegemarannya melarang  banyak hal kepada
anak-anak kita. Rupanya kegemaran ini juga menjadi ciri khaas orang deawasa di banyak
negara, sehingga UNICEF pada tahun 2000 mencanangkan gerakan ”Say Yes For Children” (
Katakan Ya, untuk anak).




Bayangkan; anak menangis dilarang, anak bangun malam dilarang, anak menggigit kain
dilarang, anak berteriak dilarang, anak ikut ke mana orang tua pergi dilarang, anak bermain
dengan teman-teman di luar di larang, semua pendidikan bentuknya larangan. Akibatnya anak
diam-diam menyimpan tekanan jiwa. Sublimasinya, ia tetap akan melakukan apa yang
diinginkan bila tidak ada orang tua, atau menjadi apatis dengan tidak melakukan apapun karena
pasti akan dilarang oleh orang tua.




Untuk diingat, menangis adalah satu-satunya ekpresi anak di awal kehidupannya, maka tidak
seharusnya ia dilarang untuk menangis. Bermain juga adalah media eksplorasi anak dalam
mengenal lingkungannya dan mengekspresikan impuls-impuls dalam dirinya. Bermain yang
bagi orang tua sesuatu yang tidak serius dan hanya membuang waktu, bagi seorang anak
adalah dunia yang sangat penting karena di sanalah ia mencari eksistensi diri. Bagi anak,
waktu 24 jam masih  kurang untuk bermain.




                                                                                        5 / 11
Mengoptimalkan Potensi Anak pada Lima Tahun Pertama
Minggu, 31 Agustus 2008 15:23 - Terakhir Diperbaharui Selasa, 10 November 2009 15:45




Yang diperlukan orang tua adalah memastikan bahwa tempat di mana anak bermain adalah
tempat yang bersih dan aman. Selebihnya biarkan anak mengekplorasi diri karena disinilah
anak berlatih seluruh potensi unik yang dimiliki.




PERAN ORANG TUA DAN GURU




Dengan perspektif seperti itu, di manakah peran orang tua dan guru Taman Bermain/Taman
kanak-kanak/PAUD? Pertama,  orang tua sebagai fasilitator yaitu menyediakan lingkungan dan
sarana belajar anak untuk mengembangkan potensinya. Ank punya minat musik akan
berkembang apabila mendapat dukungan fasilitas yang berhubungan dengan musik seperti alat
musik, buku-buku tantang musik, kesempatan menonton musik, bergaul dengan para pemusik
dan sebagainya. Demikian juga untuk minat-minat yang lain. Asumsinya, semakin dipenuhinya
fasilitas yang dibutuhkan anak, akan semakin berkembang potensi-potensi yang dimiliki
seorang anak.




Kedua, orang tua sebagai motivator. Peran ini dilakukan dengan memberikan dorongan dan
dukungan bagi berbagai hal yang menjadi minat seorang anak. Apabila anak melakukan
kekeliruan tidak disalahkan atau disudutkan tetapi diberi berikan bimbingan dengan
kalimat-kalimat yang membangkitkan semangat. Ketika anak memasukkan bola ke gawang,
tidak dvonis anak itu bodoh dan tak mampu menjadi pemain bola. Sebaliknya orang tua akan
berkata;”Wah hebat, tendanganmu sudah keras, tetapi akan lebih baik kalau juga tepat
sasaran. Cobalah tenang sedikit sehingga bola yang kamu tentang akan masuk e gawang’’.




Ketiga, orang tua sebagai inisiator, yaitu contoh atau teladan bagi anak-anak. Contoh atau
teladan akan lebih mudah tertanam di dalam benak anak, dan pada gilirannya akan menjadi



                                                                                         6 / 11
Mengoptimalkan Potensi Anak pada Lima Tahun Pertama
Minggu, 31 Agustus 2008 15:23 - Terakhir Diperbaharui Selasa, 10 November 2009 15:45




habitus yang akan berlanjut hinga dewasa kelak. Janganlah kita merokok bila kita ingin anak
merokok, janganlah suka marah-marah bila tidak ingin anak kita menjadi pemberang, janganlah
suka bicara kotor bila kita inginkan anak-anak berlaku sopan santun.




Keempat, mendengarkan suara anak. Ini sangat penting karena apa yang diinginkan anak
dengan yang kita pikirkan tentang anak sangat berbeda. Orang tua sering menganggap bahwa
dengan memberikan pakaian bagus dan makanan enak ia sudah memenuhi keinginan anak.
Tetapi jangan kaget karena ketika kita minta agar anak kita menuliskan secara bebas tentang
apa yang diinginkan, keinginan anak berbeda dengan keinginan orang tua sperti; ”Saya ingin
Ibu sering membelai rambut saya”, ”Saya ingin ayah tidak suka berteriak-teriak memarahi
pembantu”, ”Saya ingin ayah dan ibu pernah nonton teve bareng”, dan sebagainya,
keinginan-keinginan yang kelihatannya sangat ringan, tetapi sangat penting bagi pemenuhan
hak-hak anak.  




PERAN TAMAN BERMAIN




Bermain adalah hak anak yang harus dipenuhi. Bermain bagi seorang anak adalah saat di
mana ia bisa mengekspresikan semua potensi yang ada dalam dirinya. Dengan demikian, anak
yang  semasa kecil ha-hak bermainnya tidak dipenuhi karena berbagai lasan, berarti ia telah
kehilangan masa anak-anaknya.




Di dalam bermain seorang anak akan beajar berkomunikasi dengan orang lain (atau bayangan
orang lain), menjelajah lingkungan hidup, belajar bersosialisasi, belajar kedisiplinan, kejujuran,
kerjasama, saling membantu bagi yang membutuhkan, serta belajar kasih sayang dengan
orang lain. Tiada kegiatan paling penting bagi seorang anak kecuali bermain. Melarang bermain



                                                                                             7 / 11
Mengoptimalkan Potensi Anak pada Lima Tahun Pertama
Minggu, 31 Agustus 2008 15:23 - Terakhir Diperbaharui Selasa, 10 November 2009 15:45




berarti melarang menjadi anak.




Peran Taman bermain (TK/Kindegarden/PAUD) dan sebagainya dengan demikian menjadi
amat penting posisinya, yaitu menjembatasi anak dalam masa transisi dari masa anak-anak ke
dalam masa  bersekolah. Tugas guru adalah menyediakan ruang ekspresi bagi anak. Oleh
karena itu Taman Kanakkanak akan lebih memiliki arti bagi perkembangan anak apabila banyak
memiliki fasilitas bermain. Mengajarkan kejujuran dan kedisiplinan tidak mungkin hanya dengan
ceramah, dipastikan tidak akan menghasilkan apa-apa. Bermain peran, adalah metode yang
jauh lebih cocok untuk target tersebut.




Demikian juga mengajarkan membaca-menulis dan berhitung kepada anak-anak TK tidak akan
menghasilkan apapun kecuali kebanggaan semu dari orang tua. TK bukan bukan sekolah
dengan administrasi ketat. TK adalah taman bermain yang harus dikondisikan seperti di rumah
dengan memberikan stimulus agar anak mulai belajar mandi sendiri, makan sendiri, mencuci
tangan, berimajinasi dan sebagainya.




Sayangnya banyak orang tua keblinger, dikiranya apabila sejak TK sudah bisa membaca dan
menulis maka akan menjamin di masa sekolah ia akan lebih pandai dbandingkan
teman-temannya. Guru-guru TK pun kemudian dengan bangga memamerkan kepada
teman-teman guru dari TK lainnya, bahwa di TK nya anak-anak sudah diajari membaca menulis
dan berhitung bahkan bahasa Inggris. Ia tidak tahu, itu semua salah dan tak akan menolong
anak-anak di masa depan dari kehidupan pelik yangdihadapi orang deawasa. Lebih ngawur
lagi, ada SD yang dalam penerimaan siswa baru mensyaratakan pendidikan Taman
kanak-kanak.  




                                                                                        8 / 11
Mengoptimalkan Potensi Anak pada Lima Tahun Pertama
Minggu, 31 Agustus 2008 15:23 - Terakhir Diperbaharui Selasa, 10 November 2009 15:45




PRAKTEK KEKERASAN DI SEKOLAH




Satu prinsip yang harus dipedomani adalah tidak boleh ada praktek kekerasan pada anak-anak,
baik di rumah, taman bermain maupun sekolah. Anak-anak yang mengalami kekerasan akan
trauma, dan secara langsung akan berpengaruh pada berkembangnya daya-daya intelektual
anak.




Sayangnya dalam praktek keseharian kita masih suka melakukan tindak kekerasan apabila
merasa galal menyampaikan pesan kepada seorang anak atau merasa disepelekan anak, atau
karena alasan lainnya. Disebabkan  ketidakberdayaan fisik maupun psikis  ketika menghadapi
kekerasan yang dilakukan oleh orang tua, akhirnya banyak jatuh korban tindak kekerasan pada
anak.




Kekerasan diartikan sebagai tindakan yang menyebabkan seseorang menderita atau dalam
keadaan tertekan tanpa bisa melakukan perlawanan. Di masa lalu, kekerasan hanya diartikan
tindakan fisik semata, tetapi sekarang sudah lazim digunakan ada kekerasan fisik dan ada
kekerasan psikis. Yang terakhir tersebut memang lebih sulit mengukurnya karena tidak
nampak, tetapi lebih fatal akibatnya karena tidak ada kepastian bagaimana cara
penyembuhannya.




Data di Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan dari analisa 19 surat kabar
nasional yang terbit di Jakarta selama tahun 2007 saja mencapai 455 kasus kwa seekerasan



                                                                                       9 / 11
Mengoptimalkan Potensi Anak pada Lima Tahun Pertama
Minggu, 31 Agustus 2008 15:23 - Terakhir Diperbaharui Selasa, 10 November 2009 15:45




terhadap anak yang diberitakan. Dari Kejaksaan Agung diperoleh data, selama tahun 2006
terdapat 600 kasus kekerasan terhadap anak (KTA) yang telah diputus Kejaksaan Agung.
Sebanyak 41 % di antaranya terkait dengan kasus pencabulan dan pelecehan seksual. Adapun
41 % lainnya berkenaan dengan perkosaan. Sisanya, 7 % tindak perdagangan anak, 3 persen
kasus pembunuhan, 7 % tindak penganiayaan, 5 % tidak diketahui. (Laporan Pemerintah
Indonesia kepada Komite Anak Dunia, 2008.
 Sementara itu Komnas Perlindungan Anak , melaporkan bahwa selama tahun 2007 praktek
KTA mengalami peningkatan sampai 300 persen, dari tahun sebelumnya 40.398.625 kasus
menjadi sebanyak 13.447.921 kasus  pada tahun 2008.(Media Indonesia, 12 Juli 2008).




Berbagai jenis dan bentuk kekerasan dengan aneka variannya diterima oleh anak-anak
Indonesia seperti; pembunuhan, perkosaan, pencabulan, penganiayaan, trafiking, , aborsi,
pedofilia, dan berbagai eksploitasi anak dalam bidang pekerjaan penelantaran, penculikan,
melarikan anak, penyanderaan dan sebaginya.
 Ada data menarik  di KPAI,  bahwa dari seluruh tindakan KTA terhadap 11, 3 persen dilakukan
oleh guru, atau nomer dua setelah kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang di sekitar anak
yang mencapai 18 %.  Mula-mula penulis tidak percaya terhadap fenomena tersebut. Namun
setelah dilakukan analisis data pemberitaan kekerasan terhadap anak oleh semua surat kabar
penulis semakin terhenyak kaget, karena sepanjang paruh pertama tahun 2008, kekerasan
guru terhadap anak mengalami peningkatan tajam yakni mencapai 39,6 persen dari dari 95
kasus KTA, atau paling tinggi dibandingkan dengan pelaku-pelaku kekerasan pada anak
lainnya.




Jenis kekerasan yang dilakukan guru terhadap anak belum termasuk perlakuan menekan dan
mengancam terhadap anak yang dilakukan guru selama menjelang pelaksanaan Ujian Nasional
(UN) atau Ujian Akhir sekolah Berstandar Nasional (UASBN). Apabila kekerasan psikis tersebut
dimasukkan, persentase akan semakin tinggi, berdasarkan pengaduan anak dan orang tua wali
murid kepada KPAI.
 Ini kondisi yang memprihatinkan karena sebagaimana teori psikoanalisa mengatakan, anak
akan melakukan apa yang pernah diterima dari orang tua. Aetinya, bila anak-anak sekarang
diperlakukan keras, maka ia kelak akan memperlakukan orang lain dengan kekerasan pula.
Dengan begitu kekerasan laksana spiral yang akan selalu melahirkan kekerasan baru dengan
eskalasi yang terus meningkat

PENUTUP




                                                                                       10 / 11
Mengoptimalkan Potensi Anak pada Lima Tahun Pertama
Minggu, 31 Agustus 2008 15:23 - Terakhir Diperbaharui Selasa, 10 November 2009 15:45




Undang-undang Nomer 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak  menyebutkan, bahwa
setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh berkembang, dan berpatisipasi secara wajar
sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan
dan diskriminasi (Pasal 4).




Pada bagian lain dinyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan
pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan
minat dan bakatnya (pasal 9).




Setiap anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak
yang sebaya, bermain, berkreasi, dan rekreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat
kecerdasannya demi pengembangan diri.(Pasal 11).




Dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan tersebut, serta memperhatikan kondisi anak pada
masa golden age, maka sungguh kita tidak boleh salah dalam menerapkan pola asuhan
terhadap anak pada usia lima tahun pertama. Kesalahan pada masa ini, bisa jadi akan menjadi
kesalahan selamanya yang akan sulit diperbaiki.***

 Purwokerto, 31 Agustus 2008
 (Naskah untuk bahan Seminar Mengelola Golden Age Pada Anak, yang diselenggarakan oleh
Ikatan Guru Taman kanak-kanak Kabupaten Banyumas dan penerbit Aksaraindo, Purwokerto,
tanggal 31 Agustus 2008).




                                                                                       11 / 11

				
DOCUMENT INFO