Docstoc

Perkembangan Psikososial Anak

Document Sample
Perkembangan Psikososial Anak Powered By Docstoc
					                                    BAB IV
               PERKEMBANGAN PSIKOLOGI DAN MORAL


A. Perkembangan Personal dan Sosial
       Pakar psikologi yang mengembangkan teori perkembangan personal dan
sosial adalah Erik Erikson. Teori ini juga disebut dengan teori psikososial karena
berhubungan dengan prinsip-prinsip psikologis dan sosial. Erikson menyatakan
bahwa seseorang dalam kehidupannya akan melewati delapan tahap psikososial.
Setiap tahap perkembangan itu terdapat krisis atau isu-isu kritis yang harus
dipecahkan. Banyak orang yang mampu memcahkan masalah itu secara
memuaskan, namun ada pula yang tidak mampu memecahkannya sehingga
mereka harus memcahkannya kembali pada tahap perkembangan berikutnya.
Misalnya, orang dewasa harus memcahkan krisis identitas yang belum
terpecahkan ketika mereka masih dalam tahap perkembangan adolescence.


a.   Otonomi
        Definisi otonomi bagi remaja lebih berkonotasi dengan mengatur diri
sendiri dan mencapai kebebasan. Remaja pada tahapan ini mengalami prosees
pencarian otonomi dan tanggung jawab, kondisi ini menimbulkan kebingungan
dan konflik bagi banyak orang tua. Orang tua mulai melihat remaja lepas dari
pegangan mereka, sehingga implikasi perlakuannya dengan mengadakan
pengendalian yang ketat. Namun antisipasi perilaku ini justru menstimulasi
panasnya suhu emosi komunikasi anatara remaja dan orang tua. Orang tua
menjadi putus karena mempersepsi bahwa remaja tidak memperhatikan nasihat
mereka. Di pihak remaja, mereka berkeinginan bahwa betapa bahagianya dapat
bercengkrama diantara teman-teman sebaya tanpa dibatasi oleh orang tua, dan
mereka ingin menunjukan bahwa mereka dapat bertanggung jawab atas
keberhasilan   dan    kegagalan    mereka.    Keinginan     seperti   ini   sering
dimanifestasikan dengan berbeda jauh dari orang tua dan meninggalkan rumah.


b.   Keterikatan
        Keterikatan pada remaja dapat dipandang sebagai keterhubungan pada
orang tua dalm perkembangan remaja. Kondisi ini di yakini bahwa keterikatan
dengan orang tua dapat memfasilitasi kecakapan dan kesejahteraan sosial,
seperti harga diri, penyesuaian emosi, dan kesehatan fisik. Sebagai contoh:
remaja menunjukan kepuasan manakala mendapat bantuan dari orang tua dan ia
akan menunjukan kesejahteraan emosi yang lebih baik.
        Keterikatan pada orang tua selama masa remaja dapat memiliki fungsi
adaftif untuk mendapatkan rasa aman, sehingga mereka dapat mengeksplorasi
dan menguasai lingkungan baru, serta dunia sosial yang lebih luas dengan
kondisi psikologis yang lebih sehat. Hasil penelitian (Hazen & Shaver, 1987;
Fisher, 1990) menunjukan bahwa remaja yang mempunyai keterikatan yang baik
dengan orang tua tatkala masih kecil akan berdampak pada bentuk hubungan
keterikatan yang lebih aman dengan teman, atau orang lain, dibandingkan pada
remaja yang tidak mempunyai keterikatan dengan aman tatkala masih kecil.
     Sejalan dengan perkembangan remaja untuk menuju dewasa, remaja
melepaskan diri dari orang tua dan memasuki otonomi. Model ini akan menuai
konflik antara remaja dan orang tua sepanjang masa remaja. Namun apabila
orang tua pada kondisi ini berperan sebagai figur keterikatan, sumber daya, dan
sistem pendukung, sementara remaja menjelajah dunia sosial yang lebih luas dan
lebih rumit, maka konflik yang muncul diantara mereka ringan. Sehingga remaja
akan terbantu fungsi perkembangan yang positif guna mengembangkan
kebebasan dan jatidirinya.


B. Faktor-faktor yang Memengaruhi Perkembangan Sosial
       Perkembangan sosial anak, pada prinsipnya dipengaruhi oleh dua faktor,
yaitu : faktor keluarga, sekolah, dan masyarakat.
1.   Keluaraga
        Sejumlah studi telah membuktikan, bahwa hubungan pribadi di
lingkungan keluarga (rumah) yang antara lain hubungan ayah dengan ibu, anak
denga saudaranya, dan anak dengan orang tua, mempunyai pengaruh yang
sangat kuat terhadap perkembangan sosial anak. Posisi anak dalam keluarga
(apakah anak yang paling tua, anak tengah, anak bungsu, atau anak tunggal juga
sangat berpengaruh). Ukuran keluarga misalnya, tidak hanya mempengaruhi
pengalaman sosial awal, tetapi juga meninggalkan bekas pada sikap sosial dan
pola perilaku. Sebagai contoh, anak tunggal sering mendapat perhatian yang
lebih dari semestinya. Akibatnya mereka mengharapkan perlakuan yang sama
dari orang luar dan kecewa jika mereka tidak mendapatkannya.
        Harapan orang tua memotivasi anak untuk belajar berperilaku yang
dapat diterima secara sosial. Sebagai contoh, dengan meningkatnya usia anak,
mereka harus belajar mengatasi dorongan agresif dab pelbagai dan pelbagai pola
perilaku tidak sosial lainnya, jika mereka ingin diterima oleh orang tua mereka.


2.   Sekolah
        Ketika   anak-anak    memasuki     sekolah,   guru   mulai   memasukan
pengaruhnya terhadap sosialisasi mereka, meskipun pengaruh teman sebaya
biasanya lebih kuat dibandingkan dengan pengaruh guru dan orang tua. Studi
tentang perbedaan antara pengaruh teman sebaya dengan pengaruh orang tua
terhadap keputusan anak pada berbagai tingkatan umur, menemukan, bahwa
dengan meningkatnya umur anak, jika nasihat yang diberikan keduanya berbeda,
maka anak cenderung lebih terpengaruh oleh teman sebaya. Pengaruh yang kuat
dari kelompok teman sebaya pada masa kanak-kanak akhir sampai dengan anak
menginjak usia remaja, sebagian berasal dari keinginan anak untuk dapat
diterima oleh kelompok, dan sebagian lagi dari kenyataan bahwa anak
menggunakan waktu lebih banyak dengan teman sebaya.


3.   Masyarakat
        Sebagaimana telah disebutkan terdahulu, bahwa sejak anak mulai
sekolah, anak memasuki usia geng, yaitu usia yang pada saat itu kesadaran sosial
berkembang pesat. Namun tidak berarti tanpa resiko sebab kehidupan gang turut
mempengaruhi perkembangan berbagai macam perilaku sosial. Pengaruh gang,
disamping membantu anak-anak menjadi pribadi yang mampu bermasyarakat,
sebaliknya kehidupan gang menopang perkembangan kualitas perilaku sosial
tertentu yang tidak baik, seperti sombong, kenakalan, dan sebagainya, yang
kadang-kadang meresahkan orang tua, guru, dan masyarakat.
        Penerimaan dan penghargaan secara baik masyarakat terhadap diri anak,
lebih-lebih terhadap peserta didik, mendasari adanya perkembangan sosial yang
sehat, citra diri yang positif dan juga rasa percaya diri yang mantap. Sebaliknya,
perkembangan sosial yang sehat, citra diri yang positif, dan rasa percaya diri
yang mantap bagi anak akan menimbulkan pandangan (persepsi) positif terhadap
masyarakatnya, sehingga anak lebih berpartisipasi dalam kehidupan sosial.


C. Perkembangan Perasaan dan Emosi
       Perasaan dan emosi merupakan bagian integral dari keseluruhan aspek
psikis manusia. Sebagai fungsi psikis, perasaan dan emosi mempunyai pengaruh
terhadap fungsi psikis lainnya, seperti pengamatan, tanggapan, pemikiran, dan
kemauan. Individu akan mengalami pengalaman, pengamatan, dan tanggapan
yang positif, jika disertai emosi positif. Sebaliknya individu akan mengalami
pengalaman negatif, jika disertai emosi yang negatif.


1.   Pengertian Perasaan dan Emosi
       Perasaan sering kita alami, namun agak susah untuk mendifinisikan
secara persis. Chaplin (1989:163) memberikan definisi perasaan sebagai
pengalaman yang disadari yang diaktifkan oleh perangsang eksternal maupun
bermacam-macam keadaan jasmani. Untuk memberikan gambaran yang jelas
mengenai perasaan, Max Scheber (dalam Efendi, 1990:79) membagi perasaan ke
dalam empat kelompok, yaitu :
a.   Perasaan penginderaan, yaiut yang berhubungan dengan penginderaan,
     misalnya rasa panas, dingin dan sebagainya.
b.   Perasaan vital, yaitu perasaan yang dialami seseorang yang berhubungan
     dengan keadaan tubuh, misalnya: rasa lelah, lesu, segar, dan lain-lainya.
c.   Perasaan psikis, yaitu perasaan yang menyebabkan perubahan-perubahan
     psikis, misalnya : senang, sedih, dan lain sebagainya
d.   Perasaan pribadi, yaitu perasaan yang dialami seseorang secara pribadi,
     misalnya: perasaan terasing, suka, tidak suka, dan sebagainya.
        Emosi didefinisikan sebagai suatu keadaan terangsang dari organisme,
mencakup     pengalaman     yang   disadari   yang   bersifat   mendalam,   dan
memungkinkan terjadinya perubahan perilaku (Chaplin, 1989:163). Definisi lain
menyebutkan, bahwa emosi adalah suatu respon (reaksi) terhadap suatu
perangsang yang dapat menyebabkan perubahan fisiologis, disertai dengan
perasaan yang kuat, biasanya mengandung kemungkinan untuk meletus
(Poerbakawatja, 1982:92).


2.   Hubungan antara Emosi dan Tingkah laku
        Terdapat beberapa teori yang membahas hubungan antara emosi dengan
tingkah laku, yaitu:
a.   Teori Sentral
        Menurut teori ini, gejala kejasmanian timbul sebagai akibat dari emosi
     yang dialami individu. Jadi individu mengalami emosi lebih dahulu baru
     kemudian mengalami perubahan-perubahan dalam jasmaninya.
b.   Teori Ferifir
        Perubahan psikologis yang terjadi dalam emosi disebabkan adanya
     perubahan psiologis. Perubahan psiologis ini menyebabkan perubahan
     psiologis yang disebut emosi. Menurut teori ini, orang susah karena
     menangis, orang senang karena tertawa bukan tertawa karena senang.
c.   Teori Kedaruratan Emosi
        Teori ini dikemukakan oleh W.B. Cannon yang diperkuat oleh P. Bard
     kemudian dikenal dengan teori Cannon-Bard. Teori ini menyatakan bahwa
     emosi merupakan reaksi yang diberikan oleh organisme dalam situasi
     emergensi atau darurat (Walgito, 1990: 137); Gunarso, dkk, 1992: 131-
     132).
        Selain   teori diatas, beberapa kajian semakin memperjelas hubungan
antara emosi dengan gejala kejasmanian atau tingkah laku. Dari kajian perilaku
sehat, dapat dijelaskan bahwa keadaan marah, takut, cemas, atau keadaan
terangsang lainnya menyebabkan tubuh memproduksi zat andrenalin. Semakin
tinggi intensitas emosi, semakin banyak produksinya, sehingga dalam waktu
yang lama adrenalin akan berlebihan. Hal ini akan mempengaruhi kerja sistem
tubuh. Tekanan darah meningkat, jantung berdetak lebih cepat, pernafasan
terganggu, pencernaan berhenti sementara, dan sebagainya. Dalam kondisi
kronis (terus menerus) kesehatan menjadi terganggu, tekanan darah tinggi,
kolesterol tinggi. Keduanya memicu penyakit jantung dan stroke.


3.   Faktor-faktor yang Memengaruhi Perkembangan Emosi
       Sejumlah studi tentang emosi anak telah mengungkapkan bahwa
perkembangan emosi mereka bergantung sekaligus pada faktor pematangan
(maturation) dan faktor belajar, dan tidak semata-mata bergantung pada salah
satunya. Reaksi emosional yang tidak muncul pada masa awal kehidupan bukan
berarti tidak ada. Reaksi emosional itu mungkin akan muncul dikemudian hari,
dengan adanya pematangan dan sistem endokrin yang diperlukan untuk
menopang reaksi fisiologi terhadap stress dan mematangkan perilaku emosional.
       Beberapa kondisi, baik kondisi yang bersifat internal maupun yang
bersifat eksternal, dapat menyebabkan dominannya dan menguatnya emosi
seseorang, kondisi-kondisi tersebu adalah:
1.   Kondisi yang ikut mempengaruhi emosi dominan
     1) Kondisi kesehatan. Kesehatan yang baik mendorong emosi yang
        menyenangkan menjadi dominan, sedangkan kesehatan yang buruk
        menyebabkan emosi yang tidak menyenangkan menjadi dominan.
     2) Suasana rumah. Jika anak-anak tumbuh dalam lingkungan rumah yang
        lebih   banyak    berisi   kebahagiaan   dan   apabila    pertengkaran,
        kecemburuan, dendam, dan perasaan lain yang tidak menyenangkan
        diusahakan sesedikit mungkin, maka anak akan lebih banyak
        mempunyai kesempatan untuk menjadi anak yang bahagia.
     3) Cara mendidik anak. Mendidik anak secara otoriter, yang menggunakan
        metode hukuman untuk memperkuat kepatuhan secar ketat, akan
        mendorong emosi yang tidak menyenangkan menjadi dominan. Cara
        mendidik    anak   yang    bersifat   demokratis   dan   permisif,   akan
        menimbulkan suasana rumah yang lebih santai (relax) yang akan
        menunjang bagi ekspresi emosi yang menyenangkan.
     4) Hubungan dengan para anggota keluarga. Hubungan yang tidak rukun
        dengan orang tua atau saudara akan lebih banyak menimbulkan
        kemarahan dan kecemburuan, sehingga emosi ini akan cenderung
        menguasai kehidupan anak di rumah.
     5) Hubungan dengan teman sebaya. Jika anak diterima dengan baik oleh
        kelompok teman sebaya maka emosi yang menyenangkan akan menjadi
        dominan padanya, sedangkan apabila anak ditolak atau diabaikan oleh
        kelompok teman sebaya, maka emosi yang tidak menyenangkan akan
        menjadi dominan.
     6) Perlindungan yang berlebihan. Orang tua yang melindungi anak secara
        berlebihan (operprotective), yang hidup dalam prasangka bahaya
        terhadap segala sesuatu, akan menimbulkan rasa takut pada anak
        menjadi dominan.
     7) Aspirasi orang tua. Jika orang tua mempunyai aspirasi tinggi yang tidak
        realistis bagi anak-anaknya, anak akan menjadi canggung, malu dan
        merasa bersalah apabila mereka menyadari kritik orang tua bahwa
        mereka tidak dapat memenuhi harapan-harapan tersebut. Pengalaman
        semacam ini yang terjadi berulang kali dengan segera akan
        menyebabkan emosi yang tidak menyenangkan menjadi dominan dalam
        kehidupan anak.
     8) Bimbingan. Bimbingan dengan titik berat penanaman pengertian bahwa
        mengalami frustasi diperlukan sekali-kali dapat mencegah kemarahan
        dan kebencian menjadi emosi yang dominan. Tanpa bimbingan
        semacam ini, emosi tersebut akan menjadi dominan, terutama apabila
        frustasi yang dialami dirasakan tidak adil bagi seorang anak.
2.   Kondisi yang menunjang timbulnya emosionalitas yang menguat
1) Kondisi fisik. Apabila kondisi fisik terganggu karena kelelahan,
   kesehatan yang buruk, atau perubahan yang berasal dari perkembangan,
   maka anak akan mengalami emosional yang menguat atau meninggi.
   a)   Kesehatan buruk, yang disebabkan oleh gizi yang buruk, gangguan
        pencernaan, atau penyakit.
   b) Kondisi yang merangsang, seperti eksim.
   c)   Perubahan kelenjar, terutama pada saat puber. Gangguan kelenjar
        mungkin juga disebabkan oleh stress emosional yang kronis,
        misalnya pada kecemasan yang mengambang (free floating
        anxiety).
2) Kondisi pskologis. Pengaruh psikologis yang penting antara lain tingkat
   kecerdasan, tingkat aspirasi, dan kecemasan.
   a)   Tingkat intelektual yang buruk. Anak yang tingkat intelektualnya
        rendah, rata-rata mempunyai pengendalian emosi yang kurang
        dibandingka dengan anak yang pandai pada tingkatan umur yang
        sama.
   b) Kegagalan mencapai tingkat aspirasi. Kegagalan yang berulang-
        ulang dapat mengakibatkan timbulnya keadaan cemas, sedikit atau
        banyak.
   c)   Kecemasan setelah pengalaman emosional tertentu yang sangat
        kuat. Contoh, akibat lanjutan dari pengalaman yang menakutkan,
        akan mengakibatkan anak takut kepada setiap situasi yang dirasakan
        mengancam.
3) Kondisi lingkungan. Ketegangan yang terus menerus, jadwal yang ketat,
   dan terlalu banyak pengalaman menggelisahkan yang merangsang anak
   secara berlebihan.
   a)   Ketegangan yang disebabkan oleh pertengkaran dan perselisihan
        yang terus menerus.
   b) Kekangan yang berlebihan, seperti disiplin yang otoriter.
   c)   Sikap orang tua yang terlalu mencemaskan atau terlalu melindungi.
           d) Suasana otoriter di sekolah. Guru yang terlalu menuntut atau
                 pekerjaan sekolah yang tidak sesuai dengan kemampuan anak, akan
                 menimbulkan kemarahan sehingga anak pulang ke rumah dalam
                 keadaan kesal.


4.      Perbedaan Individual dalam Perkembangan Emosi
          Individu mengalami proses perkembangan emosi selama hidupnya, mulai
dari bayi sampai dengan dewasa. Bahkan pada saat masih dalam kandungan,
kondisi emosional ibu dapat mempengaruhi perkembangan janin. Banyak faktor
yang mempengaruhi perkembangan emosi individu. Kepribadian, lingkungan,
pengalaman, kebudayaan, merupakan variabel yang sangat berperan dalam
perkembangan emosi individu.
          Ragam faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi seseorang
menyebabkan reaksi yang dimunculkan oleh individu-individu terhadap suatu
keadaan tidak sama anatara individu yang satu dengan individu lainnya. Hal
tersebut mudah dipahami, karena: (1) perasaan atau emosi memang bersifat
subjektif dibandingkan dengan peristiwa psikis yang lain, misalnya seseorang
yang sedang jengkel, melihat lawakan srimulat yang sangat lucu pun tidak bisa
tertawa; (2) perasaan berhubungan dengan pengenalan atau pengalaman
seseorang, misalnya ada orang yang jijik terhadap ulat, ada yang biasa-biasa
saja.
          Disamping itu, perbedaan individu dalam perasaan dan emosi dapat
dipengaruhi oleh adanya perbedaan kondisi atau keadaan individu yang
bersangkutan, antara lain:
a.      Kondisi dasar individu. Hal ini erat kaitannya dengan struktur pribadi
        individu, misalnya ada yang mudah marah, sebaliknya ada yang susah
        marah.
b.      Kondisi psikis individu pada suatu waktu. Misalnya pada saat sedang kalut,
        seseorang mudah tersinggung dibandingkan dalam keadaan normal.
c.      Kondisi jasmani individu. Pada saat sedang sakit biasanya lebih mudah
        perasa atau lebih mudah marah.
D. Perkembangan Moral
1.   Pandangan Piaget
       Piaget menanamkan tahap pertama perkembangan moral adalah
moralitas heteronomus, disebut juga dengan tahap realisme moral (moral
realism) atau moralitas keterpaksaan (morality of constraint). Heteronomous
berarti menjadi subjek aturan yang dihadapkan oleh orang lain. Selam periode
ini anak-anak dihadapkan oleh perintah-perintah orang dewasa atau orang tua
mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Pelanggaran peraturan
diyakini akan menghasilkan hukuman secara otomatis. Penalaran moral ini
menciptakan keyakinan pada anak bahwa atural moral adalah bersifat tetap dan
tidak berubah.
       Tahap kedua dinamakan moralitas otonomous. Moral ini muncul karena
dunia sosial anak semakin meluas, yakni anak memiliki banyak teman sebaya.
Karena anak-anak secara terus-menerus berinteraksi dan bekerjasama dengan
anak lainnya, gagasan anak mengenai aturan dan moralitas mulai berubah.
Aturan dipandang dapat menjadikan dirinya sendiri menjadi lebih baik.
Hukuman bagi para pelanggar tidak lagi bersifat otomatis, melainkan melalui
pertimbangan tujuan perilaku pelanggar aturan tersebut serta situasi dan kondisi
yang ada.


2.   Pandangan Kolhberg
       Kohlberg menyusun teori perkembangan moral terdiri dari tiga level
utama dengan dua tahap pada setiap level. Konsep penting memahami teori
Kohlberg adalah internalisasi, artinya perubahan perkembangan dari perilaku
yang dikontrol oleh hukuman dan ganjaran eksternal.
       Preconventional reasoning (penalaran prakonventional), merupakan
level terbawah dari perkembangan moral dalam teori Kohlberg. Anak tidak
menunjukan internalisasi nilai-nilai moral. Penalaran moral dikontrol oleh
hukuman dan ganaran dan eksternal.
       Convetional reasoning (penalaran konvetional), adalah tahap kedua dari
teori Kohlberg. Pada tahap ini internalisasi masih setengah-setengah. Anak
patuh secara internal pada standar tertentu, tetapi standar itu pada dasarnya
ditetapkan oleh orang lain, seperti orang tua atau aturan sosial.
       Pascaconventional reasoning (Penalaran pasca konvensional), level
yang tertinggi, moralitas sudah spenuhnya diinternalisasikan dan tidak
didasarkan pada standar eksternal. Individu mengetahui aturan-aturan moral
alternatif, mengeksplorasi opsi, dan kemudian memutuskan sendiri kode moral
apa yang terbaik bagi dirinya.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:1632
posted:10/1/2010
language:Indonesian
pages:11