Docstoc

INFEKSI SALURAN KEMIH

Document Sample
INFEKSI SALURAN KEMIH Powered By Docstoc
					             INFEKSI SALURAN KEMIH
                                           (ISK)

Pendahuluan

        Infeksi Saluran Kemih atau sering di singkat I.S.K ,akhir -akhir ini menjadi Topik yang ramai
dibicarakan di kalangan masyarakat terutama para orang tua yang mempunyai anak remaja perempuan.
Infeksi saluran kencing atau ISK merupakan masalah kesehatan yang cukup serius di bagi
jutaan orang tiap tahun. ISK merupakan penyakit infeksi nomor 2 yang paling banyak
menyerang manusia.
        Walaupun terdiri dari berbagai cairan, garam, dan produk buangan, biasanya urin
tidak mengandung bakteri. Jika bakteri menuju kandung kemih atau ginjal dan
berkembang biak dalam urin, terjadilah ISK. Jenis ISK yang paling umum adalah infeksi
kandung kemih yang sering juga disebut sebagai sistitis.
        Bakteri atau kuman yang paling sering mengakibatkan ISK antara lain
Escherichia coli, Klebsiella dan Pseudomonas. Dari penderita, meurut penelitian, kira-
kira da sekitar 10% yang tidak bergejala.
        Tidak semua ISK menimbulkan gejala, ISK yang tidak menimbulkan gejala
disebut sebagai ISK asimtomatis. Dalam hal ini penderita tidak merasakan apa-apa.
Mungkin gejalanya ada tetapi orang tersebut menganggapnya sebagai gejala biasa. Untuk
yang tidak bergejala baru diketahui setelah diperiksa melalui tes urine dimana dalam
urinenya terdapat banyak bakteri.


Definisi
        Infeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi akibat terbentuknya koloni kuman di saluran
kemih. Kuman mencapai saluran kemih melalui cara Hematogen dan Asending
        ISK merupakan gangguan pada saluran kemih yang disebabkan adanya sumbatan.
Biasanya, yang menyumbat itu adalah batu berbentuk kristal yang menghambat keluarnya air seni
melalui saluran kemih, sehingga jika sedang buang air kecil terasa sulit dan sakit. Tapi, bila saat
buang air seni disertai dengan darah, itu petanda saluran kemih anda sudah terinfeksi.
        Penyebab timbulnya batu tersebut disebabkan oleh berbagai hal, antara lain terlalu lama
menahan buang air kecil sehingga air seni menjadi pekat, dan kurang banyak meminum air putih.
Bahkan, terlalu banyak mengkonsumsi soda, kopi manis, teh kental, vitamin C dosis tinggi dan
susu, juga dikategorikan termasuk sebagai pemicu terjadinya batu ginjal.
        Selain itu, faktor lainnya yang turut memicu terbentuknya batu di dalam ginjal dan
saluran kemih bila banyak mengonsumsi makanan yang banyak mengandung asam urat seperti
emping melinjo, jeroan, bayam, maka air kemihnya akan lebih banyak mengandung asam urat
sehingga risiko terbentuknya batu asam urat dalamginjal dan saluran kemih pun meningkat.


KLASIFIKASI INFEKSI SALURAN KEMIH
    1. Kandung kemih (Sistitis) Adalah istilah untuk Infeksi Kandung Kemih yang
        sering dialami kaum wanita
    2. Uretra (Uretritis) Adalah infeksi pada saluran kemih yang sering terjadi pada Pria
        yang sering melakukan aktifitas seksual tanpa memperhatikan Kesehatan
    3. Ginjal (Pyelonefritis) Adalah infeksi pada pyelum GINJAL yang sangat
        berbahaya sehingga dapat terjadi gagal ginjal sehingga perlu CUCI DARAH
        dengan alat yang disebut HEMODIALISA.


Faktor resiko infeksi saluran kemih
       Kurang banyak meminum air putih
       Penyebab utama dari ISK adalah sistem kekebalan tubuh yang menurun, sehingga bakteri
        alat kelamin, dubur atau dari pasangan (akibat hubungan intim) masuk ke dalam saluran
        kemiH
       Kurang menjaga kebersihan dan kesehatan daerah seputar saluran kencing.
       Cara cebok yang salah, yaitu dari belakang ke depan. Cara cebok seperti ini sama saja
        menarik kotoran ke daerah vagina atau saluran kencing.
       Suka menahan kencing. Kebiasaan ini memungkinkan kuman masuk ke dalam saluran
        kencing. Dibandingkan laki-laki, perempuan ternyata lebih rentan terkena penyakit ini.
        Karena, penyebabnya adalah saluran uretra (saluran yang menghubungkan kantung
        kemih ke lingkungan luar tubuh) perempuan lebih pendek (sekitar 3-5 centi meter).
       Berbeda dengan uretra laki-laki yang panjang, sepanjang penisnya, sehingga kuman sulit
       masuk.
      Tidak kencing sebelum melakukan hubungan seks. Hal ini menyebabkan uretranya
       penuh. Jika uretranya pendek, terkena gesekan saat berhubungan sex, bias menyebabkan
       kuman-kuman gampang terdorong masuk ke saluran kencing dan mengakibatkan infeksi
       yang di sebut sistitis.Biasanya hal ini banyak terjadi pada pasangan yang baru menikah,
       karena itu disebut honeymooners cystitis. Keluhannya seperti kencing sakit
      Memiliki riwayat penyakit kelamin. Misalnya pada orang yang punya penyakit kencing
       nanah. Hal ini akan menyebabkan infeksi pada uretra dan menghasilkan nanah.
      Memiliki riwayat penyakit batu di daerah saluran kencing. Keberadaan batu di saluran
       kencing bias menjadi focus infeksi dan menebabkan infeksi berulang. Misalnya : ada
       ifeksi berulang di saluran kencing, kemungkinan disebabkan adanya infeksi batu batu
       disaluran kencing. Batu tersebut terinfeksi dan bias menjadi sumber infeksi dan sumber
       kuman.


Etiologi
           1. Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK, antara lain :
                     Pseudomonas, Proteus, Klebsiella : Penyebab ISK Complicated
                     E. Coli : 90% : Penyebab ISK Uncomplicated (simple)
                     Enterobacter, Stafilokokus Aureus, Streptokokus fecalis
           2. Jamur dan Virus
           3. Infeksi Ginjal
           4. Prostat Hipertropi (sisa urin)


Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut, dibedakan menjadi:
   1. ISK uncomplicated (simple)
       ISK sederhana yang terjadi pada penderita dengan saluran kencing tak baik, anatomic
       maupun fungsional normal. ISK ini pada usia lanjut terutama mengenai penderita wanita
       dan infeksi hanya mengenai mukosa superficial kandung kemih.
   2. ISK complicated
       Sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali kuman penyebab sulit
       diberantas, kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam antibiotika, sering
       terjadi bakterimia, sepsis dan shock. ISK ini terjadi bila terdapat keadaan-keadaan sebagi
       berikut:
               Kelainan abnormal saluran kencing, misalnya batu, reflex vesiko uretral
                obstruksi, atoni kandung kemih, paraplegia, kateter kandung kencing menetap
                dan prostatitis.
               Kelainan faal ginjal: GGA maupun GGK.
               Gangguan daya tahan tubuh
               Infeksi yang disebabkan karena organisme virulen sperti prosteus spp yang
                memproduksi urease.


Epidemiologi
        Infeksi saluran kemih pada anak dipengaruhi oleh umur dan jenis kelamin. Angka rasio
kejadian infeksi saluran kemih pada anak dilaporkan untuk rasio bayi laki – laki dan perempuan
pada awal kehidupan bayi adalah antara 3 : 1 dan 5 : 1. setelah masa bayi, anak perempuan lebih
sering mengalami infeksi saluran kemih dibandingkan laki – laki yaitu dengan rasio L/P 1 : 4
untuk infeksi yang simtomatis dan 1 : 25 untuk infeksi yang asimtomatis. Prevalensi pada anak
perempuan berkisar 3 – 5% sedangkan anak laki-laki 1%
        Angka kekambuhan cukup tinggi yaitu pada anak perempuan 30% pada tahun pertama
dan 50% dalam 5 tahun kedepan. Sedangkan pada anak laki-laki angka kekambuhan sekitar 15-
20% pada tahun pertama dan setelah umur 1 tahun jarang ditemukan kekambuhan. ISK yang
terjadi nosokomial di rumah sakit pernah dilaporkan sebanyak 14,2% per 1000 penderita anak,
hal ini terjadi biasanya karena pemakaian kateter urin jangka panjang.
        Dewasa wanita rentan terhadapa ISK Karena, penyebabnya adalah saluran uretra (saluran
yang menghubungkan kantung kemih ke lingkungan luar tubuh) perempuan lebih pendek (sekitar
3-5 centi meter). Berbeda dengan uretra laki-laki yang panjang, sepanjang penisnya, sehingga
kuman sulit masuk.


Patofisiologi Infeksi saluran kemih
        Secara normal, air kencing atau urine adalah steril alias bebas kuman. Infeksi
terjadi bila bakteri atau kuman yang berasal dari saluran cerna jalan jalan ke urethra atau
ujung saluran kencing untuk kemudian berkembang biak disana. Maka dari itu kuman
yang paling sering menyebabkan ISK adalah E.coli yang umum terdapat dalam saluran
pencernaan bagian bawah.
        Pertama tama, bakteri akan menginap di urethra dan berkembang biak disana.
Akibatnya, urethra akan terinfeksi yang kemudian disebut dengan nama urethritis. Jika
kemudian bakteri naik ke atas menuju saluran kemih dan berkembang biak disana maka
saluran kemih akan terinfeksi yang kemudian disebut dengan istilah cystitis. Jika infeksi
ini tidak diobati maka bakteri akan naik lagi ke atas menuju ginjal dan menginfeksi ginjal
yang dikenal dengan istilah pyelonephritis.
        Mikroorganisme seperti klamidia dan mikoplasma juga dapat menyebabkan ISK
namun infeksi yang diakibatkan hanya terbatas pada urethra dan sistem reproduksi. Tidak
seperti E. coli, kedua kuman ini menginfeksi orang melalui perantara hubungan seksual.
        Ginjal adalah sepasang organ saluran kemih yang mengatur keseimbangan cairan tubuh
dan elektrolit dalam tubuh, dan sebagai pengatur volume dan komposisi kimia darah dengan
mengeksresikan air yang dikeluarkan dalam bentuk urine apabila berlebih. Diteruskan dengan
ureter yang menyalurkan urine ke kandung kemih. Sejauh ini diketahui bahwa saluran kemih atau
urine bebas dari mikroorganisme atau steril.
Infeksi saluran kemih disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius.
Masuknya mikroorganisme kedalam saluran kemih dapat melalui :
        1. Penyebaran endogen yaitu kontak langsung dari tempat infeksi terdekat (ascending)
            yaitu :
                     Masuknya mikroorganisme ke dalam kandung kemih, antara lain : factor
                      anatomi dimana pada wanita memiliki uretra yang lebih pendek daripada
                      laki-laki sehingga insiden terjadinya ISK lebih tinggi, factor tekanan urine
                      saat miksi, kontaminasi fekal, pemasangan alat kedalam traktus urinarius
                      (pemasangan kateter), adanya dekubitus yang terinfeksi
                     Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal
                Kuman penyebab ISK pada umumnya adalah kuman yang berasal dari flora
        normal usus. Dan hidup secara komensal di dalam introitus vagina, prepusium penis,
        kulit perineum, dan di sekitar anus. Mikroorganisme memasuki saluran kemih melalui
        uretra – prostate – vas deferens – testis (pada pria) buli-buli – ureter, dan sampai ke ginjal
        (Gambar 1).
Gambar 1. Masuknya kuman secara ascending ke dalam saluran kemih, (1) Kolonisasi kuman di
sekitar uretra, (2) masuknya kuman melalui uretra ke buli-buli, (3) penempelan kuman pada
dinding buli-buli, (4) masuknya kuman melalui ureter ke ginjal.


        2. Hematogen
            Sering terjadi pada pasien yang system imunnya rendah sehingga mempermudah
            penyebaran infeksi secara hematogen. Ada beberapa hal yang mempengaruhi struktur
            dan fungsi ginjal sehingga mempermudah penyebaran hematogen, yaitu adanya :
            bendungan total urine yang dapat mengakibatkan distensi kandung kemih, bendungan
            intrarenal akibat jaringan parut.
        3. Limfogen
        Pielonefritis (infeksi traktus urinarius atas) merupakan infeksi bakteri piala ginjal,
tobulus dan jaringan intertisial dari salah satu atau kedua ginjal. Bakteri mencapai
kandung kmih melalui uretra dan naik ke ginjal meskipun ginjal 20 % sampai 25 % curah
jantung; bakteri jarang mencapai ginjal melalui aliran darah ; kasus penyebaran secara
hematogen kurang dari 3 %. Pielonefritis akut biasanya terjadi akibat infeksi kandung
kemih asendens. Pielonefritis akut juga dapat terjadi melalui infeksi hematogen. Infeksi
dapat terjadi di satu atau di kedua ginjal. Pielonefritis kronik dapat terjadi akibat infeksi
berulang, dan biasanya dijumpai pada individu yang mengidap batu, obstruksi lain, atau
refluks vesikoureter.
        Sistitis (inflamasi kandung kemih) yang paling sering disebabkan oleh
menyebarnya infeksi dari uretra. Hal ini dapat disebabkan oleh aliran balik urine dari
uretra ke dalam kandung kemih (refluks urtrovesikal), kontaminasi fekal, pemakaian
kateter atau sistoskop.
       Uretritis suatu inflamasi biasanya adalah suatu infeksi yang menyebar naik yang
digolongkan sebagai general atau mongonoreal. Uretritis gnoreal disebabkan oleh
niesseria gonorhoeae dan ditularkan melalui kontak seksual. Uretritis nongonoreal ;
uretritis yang tidak berhubungan dengan niesseria gonorhoeae biasanya disebabkan oleh
klamidia          frakomatik           atau        urea          plasma            urelytikum.


       Pada usia lanjut terjadinya ISK seringdisebabkan karena adanya :
          Sisa urin dalam kandug kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih
           yang tidak lengkap atau krang efektif. Sisa urin yang meningkat mengakibatkan
           distensi yang berlebihan sehingga ,emi,bulkan nyeri, keadaan ini mengakibtkan
           penurunan      resistensi terhadap invasi bakteri dan residu kemih menjadi media
           pertumbuhan bakteri yang selanjutnya akan mengakibatkan gangguan fungsi ginjal
           sendiri
          Mobilitas menurun
          Nutrisi yang kurang baik
          System Imunitas yang menurun
          Adanya hambatan pada saluran urin


Gejala klinik


Gejala Umumnya :
          Sering ingin kencing namun kencing yang dikeluarkan sangatlah sedikit
          Kesakitan saat kencing
          Rasa sakit sampai terbakar pada kandung kemih
          Pada perempuan merasakan ketidaknyamanan pada tulang kemaluan
          Air kencingnya sendiri bisa berwarna putih, cokelat, kemerahan
          Rasa sakit pada punggung, mual, atau muntah
          Demam muncul bila ginjal sudah kena
Gejala infeksi saluran kemih berdasarkan umur penderita adalah sebagai berikut :
     0-1 Bulan      : Gangguan pertumbuhan, anoreksia, muntah dan diare, kejang,            koma,
                      panas/hipotermia tanpa diketahui sebabnya, ikterus (sepsis).
     1 bln-2 thn     : Panas/hipotermia tanpa diketahui sebabnya, gangguan pertumbuhan,
                      anoreksia, muntah, diare, kejang, koma, kolik (anak menjerit keras), air
                      kemih     berbau/berubah     warna,     kadang-kadang      disertai   nyeri
                      perut/pinggang.
     2-6 thn        : Panas/hipotermia tanpa diketahui sebabnya, tidak dapat menahan kencing,
                      polakisuria, disuria, enuresis, air kemih berbau dan berubah warna, diare,
                      muntah, gangguan pertumbuhan serta anoreksia.
     6-18 thn       : Nyeri perut/pinggang, panas tanpa diketahui sebabnya, tak dapat menahan
                      kencing, polakisuria, disuria, enuresis, air kemih berbau dan berubah
                      warna.


       Uretritis biasanya memperlihatkan gejala :
                Mukosa memerah dan oedema
                Terdapat cairan eksudat yang purulent
                Ada ulserasi pada urethra
                Adanya rasa gatal yang menggelitik
                Good morning sign
                Adanya nanah awal miksi
                Nyeri pada saat miksi
                Kesulitan untuk memulai miksi
                Nyeri pada abdomen bagian bawah.


       Sistitis biasanya memperlihatkan gejala :
                Disuria (nyeri waktu berkemih)
                Peningkatan frekuensi berkemih
                Perasaan ingin berkemih
                Adanya sel-sel darah putih dalam urin
                Nyeri punggung bawah atau suprapubic
                Demam yang disertai adanya darah dalam urine pada kasus yang parah.
      Pielonefritis akut biasanya memperihatkan gejala :
              Demam
              Menggigil
              Nyeri pinggang
              Disuria
              Pielonefritis kronik mungkin memperlihatkan gambaran mirip dengan
               pielonefritis akut, tetapi dapat juga menimbulkan hipertensi dan akhirnya
               dapat menyebabkan gagal ginjal.


Pemeriksaan penunjang
   1. Biakan air kemih :
      Dikatakan infeksi positif apabila :
                               Air kemih tampung porsi tengah : biakan kuman positif dengan
                                jumlah kuman ≥105/ml, 2 kali berturut-turut.
                               Air kemih tampung dengan pungsi buli-buli suprapubik : setiap
                                kuman patogen yang tumbuh pasti infeksi. Pembiakan urin
                                melalui pungsi suprapubik digunakan sebagai gold standar.
      Dugaan infeksi :
         Pemeriksaan air kemih : ada kuman, piuria, torak leukosit
         Uji kimia : TTC, katalase, glukosuria, lekosit esterase test, nitrit test.


   2. Urinalisis
              Leukosituria atau Piuria ; Positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/LPB
               sediment air kemih
              Hematuria : Positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment air kemih


   3. Bakteriologis
              Mikroskopis
              Biakan bakteri


   4. Hitung koloni : sekitar 100.000koloni permililiter urine dari urine tampung aliran
      tengah
   5. Metode Test
              Tes esterase leukosit positif : pasien mengalami piuria dan Tes
               pengurangan nitrat, GRIESS positif jika terdapat bakteri yang mengurangi
               nitrat urine normal menjadi nitrit
              Tes PMS
              Pemeriksaan ultrasonografi ginjal untuk mengetahui kelainan struktur ginjal dan
               kandung kemih
              Pemeriksaan Miksio Sisto Uretrografi/MSU untuk mengetahui adanya refluks
              Pemeriksaan pielografi intra vena (PIV) untuk mencari latar belakang infeksi
               saluran kemih dan mengetahui struktur ginjal serta saluran kemih


Tatalaksana
Suportif / Nonfarmakologis
      Usahakan untuk buang air seni pada waktu bangun di pagi hari. Buang air seni dapat
       membantu mengeluarkan bakteri dari kandung kemih yang akan keluar bersama urin.
      Minum air putih minimal 8 gelas atau 2, 5 liter setiap hari merupakan suatu kewajiban.
      Sementara, buah-buahan, sari buah, juice sangat baik untuk dikonsumsi sebab dapat
       melancarkan peredaran darah.
      Sebaiknya menghindari berbagai jenis makanan seperti: Soto jerohan sapi, es krim, keju,
       milk shake, kopi, cola dan lain-lain.
      Menjaga dengan baik kebersihan sekitar organ intim dan saluran kencing.
      Setiap buang air seni, bersihkanlah dari depan ke belakang. Hal ini akan mengurangi
       kemungkinan bakteri masuk ke saluran urin dari rektum
      Membersihkan organ intim dengan sabun khusus yang memiliki pH balanced (seimbang)
      Buang air seni sesering mungkin (setiap 3 jam)
      Pilih toilet umum dengan toilet jongkok.
      Jangan cebok di toilet umum dari air yang ditampung di bak mandi atau ember. Pakailah
       shower atau keran.
      Ganti selalu pakaian dalam setiap hari, Gunakan pakaian dalam dari bahan katun yang
       menyerap keringat agar tidak lembab.
Medikamentosa / Farmakologis
       Pengobatan simtomatik terhadap keluhan sakit kencing dapat diberikan penazofiridin
(piridium) 7-10 mg/kgbb/hari. Disamping ISK perlu juga mencari dan mengurangi atau
menghilangkan factor predisposisi seperti obstipasi, alergi, investasi cacing dan memberikan
kebersihan perineum meskipun usaha-usaha ini kadang-kadang tidak selalu berhasil.
Pengobatan khusus
Penanggulangan ISK ditujukan terhadap 3 hal, yaitu:
           1. pengobatan terhadap infeksi akut
           2. pengobatan dan pencegahan infeksi berulang
           3. Mendeteksi dan melakukan koreksi bedah terhadap kelainan anatomis, congenital
               maupun yang didapat, pada traktus urinarius.
   1. pengobatan infeksi akut.
       Pada keadaan berat atau panas tinggi dan keadaan umum yang lemah, pengobatan
       segera dilakukan tanpa menunggu hasil biakan urin dan uji resistensi kuman. Pada
       infeksi akut yang simpleks (uncomplicated infection) diberikan antibiotika
       /kemoterapi oral. Obat yang sering dipakai sebagai pilihan utama (primary drug)
       ialah ampisilin, kontrimoksazol, sulfisoksazol, asam nalidiksat dan nitrofurantion.
       Sebagai pilihan kedua (secondary drug) dapat dipakai obat galongan
       aminoglikosid (gentamisin, sisomisin, amikasin dan lain-lain); sefakleksin,
       doksisiklin dan sebagainya. Pengobatan diberikan selama 7 hari.
   2. Pengobatan dan pencegahan infeksi berulang
       Dalam pengamatan selanjutnya 30-50% penderita akan mengalami infeksi
       berulang dan sekitar 50% diantaranya tanpa gejala. Oleh karena itu perlu
       dilakukan biakan ulang pada minggu pertama sesudah selesai pengobatan fase
       akut, kemudian 1 bulan, 3 bulan dan seterusnya setiap 3 bulan selama 2 tahun.
       Setiap infeksi berulang harus diobati seperti pengobatan pada fase akut. Bila
       relaps atau reinfeksi terjadi lebih ari 2 kali, maka pengobatan dilanjutkan dengan
       pengobatan profilaksis, dengan obat-obat anti septis urin, yaitu nitrofurantion,
       kontrimoksazol, sefaleksin atau metenamin mandelat. Pada umumnya diberikan
       seperempat dosis normal, satu kali sehari pada malam hari slama 3 bulan. Bila
       infeksi traktus urinarus disertai dengan kelainan anatomis (disebut ISK kompleks
       atau complicated urinary infection), maka hasil pengobatan biasanya kurang
           memuaskan. Pemberian obat disesuaikan dengan hasil uji resistensi dan dilakukan
           dengan terapi profilaksis selama 6 bulan dan bila perlu sampai 2 tahun.
    3. Bedah
           Koreksi bedah sesuai dengan kelainan saluran kemih yang ditemukan untuk
           menghilangkan faktor predisposisi..


Bentuk dan dosis obat yang tepat untuk diberikan kepada pasien ISK dengan kelainan
fungsi ginjal
Trimethoprim + Sulfamethoxazole (TMP-SMX) : Jenis dan dosis antibiotik untuk terapi
ISK
Tabel : Dosis antibiotika pareneteral (A), Oral (B), Profilaksis (C)
Obat                                 Dosis mg/kgBB/hari   Frekuensi/ (umur bayi)
(A) Parenteral
                                                          tiap 12 jam (bayi < 1 minggu)
Ampisilin                            100

                                                          tiap 6-8 jam (bayi > 1 minggu)
Sefotaksim                           150                  dibagi setiap 6jam.


Gentamisin                           5                    tiap 12 jam (bayi < 1 minggu)
                                                          tiap 8 jam (bayi > 1 minggu)
Seftriakson                          75                   sekali sehari
Seftazidim                           150                  dibagi setiap 6 jam




Sefazolin                            50                   dibagi setiap 8 jam


Tobramisin                           5                    dibagi setiap 8 jam


Ticarsilin                           100                  dibagi setiap 6 jam


(B) Oral
Rawat jalan antibiotik oral (pengobatan standar)
Amoksisilin                          20-40 mg/Kg/hari     q8h


Ampisilin                            50-100 mg/Kg/hari    q6h
Amoksisilin-asam klafulanat           50 mg/Kg/hari               q8h




Sefaleksin                            50 mg/Kg/hari               q6-8h
Sefiksim                              4 mg/kg                     q12h


Nitrofurantoin*                       6-7 mg/kg                   q6h


Sulfisoksazole*                       120-150                     q6-8h


Trimetoprim*                          6-12 mg/kg                  q6h


Sulfametoksazole                      30-60 mg/kg                 q6-8h
*
    Tidak direkomendasikan untuk neonatus dan penderita dengan insufisiensi ginja


(C) Terapi profilaksis


Nitrofurantoin*                       1 -2 mg/kg


Sulfisoksazole*                       50 mg/Kg
                                                               (1x malam hari)

Trimetoprim*                          2mg/Kg


Sulfametoksazole                      30-60 mg/kg
** Obat tepat digunakan untuk pasien ISK dengan kelainan fungsi ginjal :Trimethoprim +
Sulfamethoxazole (TMP-SMX)
Lain-lain (rujukan subspesialis, rujukan spesialisasi lainnya dll)
Rujukan ke Bedah Urologi sesuai dengan kelainan yang ditemukan. Rujukan ke Unit Rehabilitasi
Medik untuk buli-buli neurogenik. Rujukan kepada SpA(K) bila ada faktor risiko.
Terapi infeksi saluran kemih pada usia lanjut :
          Terapi AB dosis tunggal
          Terapi AB konvensional ; 5 – 14 hari
          Terapi AB jangka lama : 4 – 6 minggu
          Terapi dosis rendah untuk supresi
Pemantauan
        Dalam 2 x 24 jam setelah pengobatan fase akut dimulai gejala ISK umumnya
menghilang. Bila gejala belum menghilang, dipikirkan untuk mengganti antibiotik yang lain
sesuai dengan uji kepekaan antibiotik. Dilakukan pemeriksaan kultur dan uji resistensi urin ulang
3 hari setelah pengobatan fase akut dihentikan, dan bila memungkinkan setelah 1 bulan dan setiap
3 bulan. Jika ada ISK berikan antibiotik sesuai hasil uji kepekaan.
        Bila ditemukan ada kelainan anatomik maupun fungsional yang menyebabkan obstruksi,
maka setelah pengobatan fase akut selesai dilanjutkan dengan antibiotik profilaksis (lihat
lampiran). Antibiotik profilaksis juga diberikan pada ISK berulang, ISK pada neonatus, dan
pielonefritis akut.
KOMPLIKASI
Pielonefritis berulang dapat mengakibatkan hipertensi, parut ginjal, dan gagal ginjal kronik
(Pielonefritis berulang timbul karena adanya faktor predisposisi).


 PROGNOSIS
        ISK tanpa kelainan anatomis menpunyai prognosis lebih baik bila dilakukan
pengobatan pada fase akut yang andekuat dan disertai pengawasan terhadap
kemungkinan infeksi berulang. Pognosis jangka panjang pada sebagian besar penderita
dengan kelainan anatomis umumnya kurang memuaskan meskipun telah diberikan
pengobatan yang andekuat dan dilakukan koreksi bedah , hal ini terjadi terutama pada
penderita dengan nefropati refluks. Deteksi dini terhadap adanya kelainan anatomis,
pengobatan yang segera pada fase akut, kerjasama yang baik antara dokter, ahli bedah
urologi dan orang tua penderita sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya perburukan
yang mengarah ke fase gagal ginjal kronis.
                    DAFTAR PUSTAKA
1. Ganong. W.F., editor Widjajakusumah D.H.M., 2001., Buku Ajar Fisiologi
     Kedokteran., edisi Bahasa Indonesia., Jakarta., EGC
2.   Price, Sylvia A, 1995 Patofisiologi :konsep klinis proses-proses penyakit, ed 4, EGC,
     Jakarta
3.   Ilmu Kesehatan Nelson, 2000, vol 3, ed Wahab, A. Samik, Ed 15, Glomerulonefritis
     akut pasca streptokokus,1813-1814, EGC, Jakarta.
4.   Guyton.A.C, 1996.Teksbook of Medical Physiology, philadelpia. Elsevier saunders
5.   Taslim,arnaldi,dr.    Sp.PD.2009.     Kesehatan       Ginjal.     Diakses    dari   :
     http://www.sekbertal.org/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=1901.
     Pada Tanggal : 01 juli 2009
6.   Virgiawa,    Daril,   S.Sc.    Mekanisme     Dasar      Ginjal.    Diakses   dari   :
     http://www.darryltanod.blogspot.com/2008/04/mekanisme-proses-dasar-ginjal-
     darryl.html. Pada Tanggal : 01 Juli 2009
7.   Rusdidjas, Ramayati R, 2002. Infeksi saluran kemih. In Alatas H, Tambunan T,
     Trihono PP, Pardede SO. Buku ajar Nefrologi Anak. 2nd .Ed. Jakarta : Fakultas
     Kedokteran Universitas Indonesia; 142-163
8.   Lambert H, Coulthard M, 2003. The child with urinary tract infection. In : Webb
     NJ.A, Postlethwaite RJ ed. Clinical Paediatric Nephrology.3rd ED. Great Britain:
     Oxford Universsity Press., 197-22
9.   www.pediatrik.com
10. Tessy Agus, Ardaya, Suwanto. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Infeksi
     Saluran Kemih. Edisi: 3. Jakarta: FKUI
11. Latief Abdul, Napitupulu Partogi,et al.,1985, Ilmu Kesehatan Anak 2,Infomedika,
     Jakarta
12. Noer Sjaifullah, 1994, Infeksi Saluran Kemih Pada Anak dalam Pedoman Diagnosis
     dan terapi lab/UPF Ilmu Kesehatan Anak,pp 119-121, Falkutas kedokteran UNAIR,
     RSUD Dr. Soetomo, Surabaya
13. www.scribd.com/doc/.../INFEKSI-SALURAN-KEMIH -WW.PED
14. 14. www.blogdokter.net/2008/09/27/infeksi-saluran-kencing/ -
15. 15. Purnomo BB: Dasar-Dasar Urologi 2nd Edition . Jakarta, Sagung Seto. 2003
16. Jawetz E. Sulfonamid dan trimetoprim. In: Katzung BG (Ed): Farmakologi dasar dan
    klinik. Jakarta, EGC.2002
17. Hanno PM et al. Clinical manual of Urology 3rd edition. New york, Mcgraw-
    hill.2001
18. Kennedy ES. Pregnancy,Urinary Tract infections. http://www.eMedicine.com. last
    updated 8 August 2007. accesed 22 February 2008
19. Urinary Tract Infection. http://www.wikipedia.com. last updated on February 19
    2008. accesed on February 22 2008

20. mekar-wijaya.blogspot.com/2009/1...jal.html
bruary 22 2008

20. mekar-wijaya.blogspot.com/2009/1...jal.html

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:18186
posted:9/30/2010
language:Indonesian
pages:16