makalah aids

Document Sample
makalah aids Powered By Docstoc
					ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
                     HIV/AIDS

                    Kelompok 11 :
      SITI ANNISA Z.N.              (220110080145)
      SALAS AULADI                  (220110080138)
      SRI HANDINI PERTIWI           (220110080105)
      SILVIA JUNIANTY               (220110080097)
       RI
      SRI MELFA DAMANIK             (220110080079)
      SELLA GITA A                  (220110080052)
      SUSI HANIFAH                  (220110080035)
      SARAH RIDASHA F               (220110080013)
      TIARA RACHMAWATI              (220110080118)
      TIARA TRI P                   (220110080108)
      TRIANDINI                     (220110080095)
      TAMMY                         (220110080053)
       IARA
      TIARA ARUM KESUMA             (220110080050)




         UNIVERSITAS PADJADJARAN
       FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
               JATINANGOR
                   2009
                                   KATA PENGANTAR


        Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat-Nya kepada kelompok penyusun sehingga dapat menyelesaikan makalah mengenai HIV
AIDS.
        Makalah ini disusun dalam rangka pendokumentasian dari aplikasi pembelajaran mata
kuliah Sistem Imun dan Hematologi. Penyusunan makalah ini tidak terlepas dari bantuan
berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya terutama kepada tutor kelompok 11 dalam mata kuliah ini.
        Penyusun menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak
kekurangan. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi
kesempurnaan makalah ini di masa mendatang.
        Pada akhirnya, penyusun mengharapkan semoga makalah ini bermanfaat bagi penyusun
khususnya dan bagi pembaca umumnya.




                                                                     Jatinagor, Oktober 2009




                                                                            Penulis
                                           BAB I
                                     PENDAHULUAN


I.1. Latar Belakang
             Sindrom immunnodefisiensi didapat (Acquired Immunodeficiency Syndrome,
    AIDS), Sindrome ini pertama kali ditemukan oleh Michael Gottlieb pertengahan tahun 1981
    pada penderita pria homoseksual dan pecandu narkotik suntik di Los Angles, Amerika
    Serikat. Sejak penemuan ini, dalam beberapa tahun dilaporkan lagi sejumlah penderita
    dengan syndrom yang sama dari 46 negara bagian Amerika Serikat lainnya.
             Penyebaran AIDS terjadi secara cepat ke berbagai benua. Dampak yang terlihat
    pada penderita beserta keluarganya, serta belum diketahuinya cara penanganan dan
    pengobatannya menyebabkan keresahan psikosial yang sangat besar di kalangan
    masyarakat.
             Pada awalnya penyebab AIDS belum diketahui secara pasti. Namun, banyak
    pihak yang menduga bahwa strain virus yang asli berasal dari monyet dan simpanse di
    Afrika. Para ahli telah menemukan sejenis virus yang mirip pada seekor monyet Afrika
    Barat. Menurut hipotesa yang menarik tetapi belum dapat dibuktikan, para ahli menduga
    bahwa virus itu mulanya masuk ke dalam tubuh manusia sebagai akibat sampingan dari
    percobaan-percobaan malaria mulai tahun-tahun 1920-an hingga 1950-an. Pada percobaan-
    percobaan tersebut, manusia disutik dengan darah dari monyet dan simpanse yang
    kemungkinan mengandung virus yang ternyata kelak menjadi HIV. Tujuan dari eksperimen
    ini sebenarnya adalah untuk melihat apakah parasit malaria di dalam tubuh binatang-
    binatang tersebut akan dapt juga menulari tubuh manusia.
             Dokter-dokter 1980-an juga mulai mengamati adanya penderiat di kalangan pria
    muda dengan jenis kanker sel darah yang langka yaitu sarcoma, demikian pula PCP. Pasien-
    pasien ini dan mereka yang pernah ditangani oleh Gottlieb memiliki satu persamaan yaitu
    semuanya gay. Oleh karena itulah syndrome tanpa nama itu diberi julukan ”gay plague”
    atau “gay cancer”. Penyakit yang tadinya dianggap sebagai sampar gay atau gay plague
    ternyata dapat menyerang heteroseksual, terutama orang-orang yang menggunakan jarum
    suntik, mitra seksnya, bayi dari ibu terinfeksi dan penderita hemofilia(yang mendapat
    transfusi darah tercemar HIV). Jelas bahwa virus ini tidak mengenal apakah tubuh yang
    diserangnya milik seorang gay, heteroseks atau bayi baru lahir (AIDS & PMS dan
    Perkosaan hlm 28-30). Pada akhir tahun 1983 para peneliti menemukan suatu jenis
    retrovirus yang mulanya diberi nama Lympadenopati associated virus. Kemudian pada
    bulan Mei tahun 1986 disepakati menggunakan satu nama yaitu Human Immunodeficiency.


I. 2. Tujuan
    Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui dan membahas lebih dalam
    tentang AIDS (Aqcuired Immune Deficiency Syndrome). Selain itu, makalah ini juga
    ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas kelompok Mata Kuliah Sistem Immunologi dan
    Hematologi.


I.3. Rumusan Masalah
     Kasus pemicu
     AIDS
     Tn. A usia 35 tahun, TB 170 cm, BB saat ini 50 kg, mengeluh lemah. Lems tidak
     bergairah, diare dalam 40 hari, sering mendadak mengidap flue yang terasa seperti flu berat
     sampai suatu ketika hanya karena flue tersebut tuan A nyaris pingsan, hasil pemeriksaan
     laboratorium didapatkan nilai ELISA western blot (+), neutropenia, anemia normositik
     normokrom, limfosit CD4 + 200 sel/µl.


     Pertanyaan :
  1. Jelaskan tentang konsep penyakit pada kasus di atas!
  2. Jelaskan klasifikasi klinis pasien untuk kondisi penyakit tersebut!
  3. Jelaskan aspek pengkajian Keperawatan yang diperlukan untuk menghadapi pasien diatas!
  4. Sebutkan diagnose Keperawatan (sesuai dengan taxonomy NANDA) untuk kondisi pasien
     dengan penyakit tersebut!
  5. Universal Precaution
  6. Sebutkan prinsip etik dan legal untuk mengatasi pasien SLE!
I.4. Tinjauan Teori
             AIDS merupakan salah satu kesehatan masyarakat yang utama di seluruh dunia
    pada awal abad ke 21. Hal ini disebabkan karena penyakit ini, menyebabkan angka
    kematian yang sangat tinggi, jumlah penderita yang semakin meningkat dalam waktu
    singkat dan sampai sekarang belum dapat ditanggulangi dengan tuntas.
             AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah sekumpulan gejala
    penyakit yang menunjukkan kelemahan dan kerusakan system pertahanan tubuh seseorang
    yang disebabkan oleh HIV(Human Immunodeficiency Virus). HIV menyebabkan
    menurunnya kemampuan tubuh untuk melawan virus, bakteri, dan jamur secara efektif yang
    menyebabkan timbulnya penyakit. Hal ini menyebabkan tubuh rentan terhadap berbagai
    jensi tumor dan infeksi opurtunistik yang secara normal dapat dilawan oleh tubuh.
                                           BAB II
                               TINJAUAN PUSTAKA


A. CARA KERJA VIRUS HIV AIDS
         Virus HIV-1 berbentuk bulat, berdiameter 80-100 nm dan berisi electron yang
  padat, inti berbentuk kerucut yang dikelilingi oleh suatu selaput lipid yang berasal dari
  membrane sel inang. Dinding HIV merupakan membrane yang terdiri dari dua lapis lipid
  (lipid bilayer). Pada membrane bagian luar atau dinding HIV terdapat glikoprotein(gp)
  yaitu gp120 dan gp41. Gp120 terdapat pada permukaan HIV yang dapat berikatan dengan
  sel yang memiliki reseptor permukaan CD4, sedangkan gp41 adalah glikoprotein
  transmembrane yang mengikat gp120. Pada membrane bagian dalam terdapat protein (p)
  yaitu p17 yang merupakan kerangka atau matriks HIV.
         Inti virus berisi:
      1. Kapsin protein p24 yang terbesar
      2. Nukleokapsid protein p7/p9
      3. Dua salinan genom RNA
      4. Ketiga enzim virus(protease , reverse transcriptase dan integrase)
         Protein p24 paling cepat mendeteksi antigen virus dan karena itu digunakan untuk
  diagnosis infeksi HIV pada tes ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay).


         Struktur Genom HIV
         Genom HIV terdiri dari RNA rantai tunggal berukuran 9,8 kb dengan region yang
  identik pada kedua ujungnya (long terminal repeat) yang mengandung gen regulasi.
  Bagian lain genom terdiri dari tiga gen yang mengode protein structural virus env
  mengkode pembentukan glikoprotein selubung gp120 dan gp41; gag mengode sintesis
  protein pada inti HIV yaitu p24; dan pol mengode pembentukan enzim reverse
  transcriptase, integrase dan protease.
         Enam gen tambahan pengatur ekspresi virus yang penting dalam patogenitas
  penyakit secara in vivo, yakni gen tat, rev, nef, vpr, vpu, dan vif . tat adalah gen yang
  mempercepat replikasi virus; gen rev mengode protein rev yang mengubah siklus
  replikasi untuk memperoduksi seluruh partikel virus; gen nef berperan dalam virulensi
  HIV; gen vpr memfasilitasi transport DNA HIV ke dalam sel inang; gen vpu
  mempengaruhi pelepasan virus; dan gen vif menentukan infektifitas virus di luar sel
  inang. Long terminal repeat (LTR) merupakan promoter bagi gen HIV yang berinteraksi
  dengan protein pengatur replikasi virus.


          Patogenesis
          HIV secara selektif akan menginfeksi sel yang berperan membentuk antibody
  pada system imunitas seluler yaitu limfosit T4 yang mempunyai reseptor permukaan CD4
  yang dapat berperan sebagai reseptor untuk virus tersebut. Selain sel limfosit T4, ada sel
  lain yang juga mempunyai CD4 antigen pada membrannya, yaitu monosit/makrofag, dan
  beberap sel homopoesis di dalam sum-sum tulang. Virus yang masuk ke dalam limfosit
  T4 selanjutnya mengadakan replikasi sehingga menjadi banyak dan akhirnya
  menghancurkan sel limfosit itu sendiri yang menyebabkan system kekebalan tubuh
  menjadi lumpuh.
          HIV sebagai virus RNA mempunyai enzim transcriptase yang membentuk virus
  DNA pada kejadian infeksi. Virus DNA yang terbentuk ini masuk ke dalam inti sel target
  dan berintegrasi dengan DNA dan menjadi provirus. DNA provirus yang telah
  berintegrasi dengan sel DNA host (sel limfosit T4) akan ikut mengalami poliferasi sel.
  Setiap hasil replikasi DNA ini selanjutnya akan menghasilkan virus RNA, enzim reverse
  transcriptase dan protein virus.




B. KLASIFIKASI
  Ada dua jenis HIV yang diketahui ada:
  a. HIV-1
       HIV-1 adalah virus yang pada awalnya ditemukan dan disebut LAV.Hal ini lebih
       mematikan, relatif mudah menular, dan merupakan penyebab sebagian besar infeksi
       HIV secara global.
  b.   HIV-2.
       HIV-2 kurang ditularkan dan terbatas pada sebagian besar di Afrika barat.
Sejak 1 januari 1993, orang-orang dengan keadaan yang merupakan indicator AIDS
(kategori C) dan orang yang termasuk didalam kategori A3 atau B3 dianggap menderita
AIDS.
a. Kategori Klinis A
   Mencakup satu atau lebih keadaan ini pada dewasa/remaja dengan infeksi Human
   Immunodeficiency Virus (HIV) yang sudah dapat dipastikan tanpa keadaan dalam
   kategori klinis B dan C
   1. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang simptomatik.
   2. Limpanodenopati generalisata yang persisten ( PGI : Persistent Generalized
        Limpanodenophaty )
   3. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) primer akut dengan sakit yang
        menyertai atau riwayat infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang akut.
b. Kategori Klinis B
   Contoh-contoh keadaan dalam kategori klinis B mencakup :
   1. Angiomatosis Baksilaris
   2. Kandidiasis Orofaring/ Vulvavaginal (peristen,frekuen / responnya jelek terhadap
        terapi
   3. Displasia Serviks ( sedang / berat karsinoma serviks in situ )
   4. Gejala konstitusional seperti panas ( 38,5o C ) atau diare lebih dari 1 bulan.
   5. Leukoplakial yang berambut
   6. Herpes Zoster yang meliputi 2 kejadian yang bebeda / terjadi pada lebih dari satu
        dermaton saraf.
   7. Idiopatik Trombositopenik Purpura
   8. Penyakit inflamasi pelvis, khusus dengan abses Tubo Varii
c. Kategori Klinis C
   Contoh keadaan dalam kategori pada dewasa dan remaja mencakup :
   1. Kandidiasis bronkus,trakea / paru-paru, esophagus
   2. Kanker serviks inpasif
   3. Koksidiomikosis ekstrapulmoner / diseminata
   4. Kriptokokosis ekstrapulmoner
   5. Kriptosporidosis internal kronis
     6. Cytomegalovirus ( bukan hati,lien, atau kelenjar limfe )
     7. Refinitis Cytomegalovirus ( gangguan penglihatan )
     8. Enselopathy berhubungan dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV)
     9. Herpes simpleks (ulkus kronis,bronchitis,pneumonitis / esofagitis )
     10. Histoplamosis diseminata / ekstrapulmoner )
     11. Isoproasis intestinal yang kronis
     12. Sarkoma Kaposi
     13. Limpoma Burkit , Imunoblastik, dan limfoma primer otak
     14. Kompleks mycobacterium avium ( M.kansasi yang diseminata / ekstrapulmoner
     15. M.Tubercolusis pada tiap lokasi (pulmoner / ekstrapulmoner )
     16. Mycobacterium, spesies lain,diseminata / ekstrapulmoner
     17. Pneumonia Pneumocystic Cranii
     18. Pneumonia Rekuren
     19. Leukoenselophaty multifokal progresiva
     20. Septikemia salmonella yang rekuren
     21. Toksoplamosis otak
     22. Sindrom pelisutan akibat Human Immunodeficiency Virus ( HIV)


C. LATAR BELAKANG VIRUS HIV AIDS
     1. Masa inkubasi virus
     Masa inkubasi penyakit ini yaitu mulai terjadinya infeksi sampai timbulnya gejala
     penyakit sangat lama (5 tahunsampai 10 tahun) dan karena infeksi HIV dianggap
     seumur hidup maka resiko terjadinya penyakit akan berlanjut selama hidup pengidap
     virus HIV.
     2. Masa bertahan hidup
     Seseorang yang terserang virus AIDS menjadi membawa virus tersebut selama
     hidupnya. Orang tersebut bisa bertahan hidup hingga 9 bulan.


         Sindrom immunnodefisiensi didapat (Acquired Immunodeficiency Syndrome,
  AIDS) pertama-tama menarik perhatian bidang kesehatan masyarakat pada tahun 1981.1
  AIDS adalah penyakit defisiensi imunitas seluler, yang pada penderitanya tidak dapat
ditemukan penyebab defisiensi tersebut.2 AIDS menyebabkan infeksi oportunistik
dan/atau neoplasma yang berkaitan dengan defisiensi kekebalan yang sebelumnya dalam
keadaan sehat. Menurut Smeltzer3 AIDS adalah gejala dari penyakit yang mungkin terjadi
saat sistem imun dilemahkan oleh virus HIV.
     Human Immunedeficiency Virus (HIV) tergolong ke dalam kelompok retrovirus
dengan materi genetik dalam asam ribonukleat (RNA) , menyebabkan AIDS dapat
membinasakan sel T-penolong (T4), yang memegang peranan utama dalam sistem imun.
Sebagai akibatnya, hidup penderita AIDS terancam infeksi yang tak terkira banyaknya
yang sebenarnya tidak berbahaya, jika tidak terinfeksi HIV.4
     AIDS atau Acquired Immune Deficiency Sindrome merupakan kumpulan gejala
penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh oleh vurus yang disebut HIV.
Dalam bahasa Indonesia dapat dialih katakana sebagai Sindrome Cacat Kekebalan Tubuh
Dapatan.
Acquired : Didapat, Bukan penyakit keturunan
Immune : Sistem kekebalan tubuh
Deficiency : Kekurangan
Syndrome : Kumpulan gejala-gejala penyakit
     Kerusakan progresif pada system kekebalan tubuh menyebabkan ODHA ( orang
dengan HIV /AIDS ) amat rentan dan mudah terjangkit bermacam-macam penyakit.
Serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya pun lama-kelamaan akan
menyebabkan pasien sakit parah bahkan meninggal.
     AIDS adalah sekumpulan gejala yang menunjukkan kelemahan atau kerusakan daya
tahan tubuh yang diakibatkan oleh factor luar ( bukan dibawa sejak lahir )
     AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang
berkaitan dengan infeksi Human Immunodefciency Virus ( HIV ). ( Suzane C. Smetzler
dan Brenda G.Bare )
      AIDS diartikan sebagai bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dari kelainan
ringan dalam respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan
imunosupresi dan berkaitan dengan pelbagi infeksi yang dapat membawa kematian dan
dengan kelainan malignitas yang jarang terjadi ( Center for Disease Control and
Prevention ).
        AIDS muncul setelah benteng pertahanan tubuh yaitu sistem kekebalan alamiah
  melawan bibit penyakit runtuh oleh virus HIV, dengan runtuhnya/hancurnya sel-sel
  limfosit T karena kekurangan sel T, maka penderita mudah sekali terserang infeksi dan
  kanker yang sederhana sekalipun, yang untuk orang normal tidak berarti. Jadi bukan
  AIDS nya sendiri yang menyebabkan kematian penderita, melainkan infeksi dan kanker
  yang dideritanya.
        HIV biasanya ditularkan melalui hubungan seks dengan orang yang mengidap
  virus tersebut dan terdapat kontak langsung dengan darah atau produk darah dan cairan
  tubuh lainnya. Pada wanita virus mungkin masuk melalui luka atau lecet pada mulut
  rahim/vagina. Begitu pula virus memasuki aliran darah pria jika pada genitalnya ada
  luka/lecet. Hubungan seks melalui anus berisiko tinggi untuk terinfeksi, namun juga
  vaginal dan oral. HIV juga dapat ditularkan melalui kontak langsung darah dengan darah,
  seperti jarum suntik (pecandu obat narkotik suntikan), transfusi darah/produk darah dan
  ibu hamil ke bayinya saat melahirkan. Tidak ada bukti penularan melalui kontak sehari-
  hari seperti berjabat tangan, mencium, gels bekas dipakai penderita, handuk atau melalui
  closet umum, karena virus ini sangat rapuh.
        Masa inkubasi/masa laten sangat tergantung pada daya tahan tubuh masing-masing
  orang, rata-rata 5-10 tahun. Selama masa ini orang tidak memperlihatkan gejala-gejala,
  walaupun jumlah HIV semakin bertambah dan sel T4 semakin menururn. Semakin
  rendah jumlah sel T4, semakin rusak sistem kekebalan tubuh.
        Pada waktu sistem kekebalan tubuh sudah dalam keadaan parah, seseorang yang
  mengidap HIV/AIDS akan mulai menampakkan gejala-gejala AIDS.




D. VAKSIN HIV AIDS
  vaksin Penyakit HIV/AIDS ditemukan dibangkok -Thailand. Penemuan Vaksin Ini
  dihasilkan oleh Hasil studi Vaksin Ekperimental yang diujicobalkan kepada 16.000
  warga thailand. Dari ujijoba tersebut Vaksin HIV itu ternyata terbukti mengurangi resiko
  terinfeksinya seseorang terhadap HIV.
  Penelitian vaksin ini menggabungkan canary pox vaccine ALVAC produksi Sanofi-
  Aventis Perancis dengan AIDSVAX yang aslinya dibuat VaxGen Inc (lisensinya
  dipegang oleh organisasi nonprofit Global Solutions for Infectious Diseases).
  Vaksin itu berbasis HIV strain B dan E yang dominan di Thailand. Dalam percobaan
  sebelumnya, kedua vaksin itu kurang efektif jika sendiri-sendiri. Hasil studi terakhir
  menunjukkan vaksin itu 31,2 persen efektif mengurangi risiko tertular HIV.
  Menurut olonel Jerome Kim, US Military HIV Research Program, hal ini merupakan
  demonstrasi pertama vaksin HIV yang mampu memberikan perlindungan terhadap
  infeksi HIVt. hal ini merupakan kemajuan sains sangat penting. Studi ini memberikan
  harapan kemungkinan pembuatan vaksin yang efektif secara global.
  Vaksin itu diujicobakan Sejak awal 2003, kepada sukarelawan yang terdiri dari
  perempuan dan laki-laki berusia 18-30 tahun dan tidak terinfeksi HIV. Mereka berlokasi
  di dua provinsi di Thailand, di dekat Bangkok yang mempunyai tingkat risiko tinggi
  terinfeksi HIV .
  Setengah dari sukarelawan mendapatkan vaksin itu dan sebagian lagi memakai plasebo
  (tidak mengandung vaksin). Sebanyak 51 orang dari total 8.197 orang yang mendapat
  vaksin terinfeksi HIV. Adapun kelompok plasebo, dari total 8.198, sebanyak 74 orang
  terinfeksi. Jadi ada selisih 23 orang atau sekitar 15 %.
  Penemuan Vaksin ini dinilai beberapa pihak belum sempurna, masih perlu tahap-tahap
  selanjutnya untuk meneympurnakan formulasi dari vaksin ini, agar dapat mendapatkan
  izin licensi obat




E. HOMEOSTATIS TUBUH
  Respon tubuh terhadap perubahan tersebut dapat dibagi menjadi 3 fase (1)Alarm reaction
  (reaksi peringatan), pada fase ini tubuh dapat mengatasi stressor (perubahan) dengan
  baik.(2).The Stage of resisten (reaksi pertahanan), reaksi terhadap stresor sudah
  melampaui tahap kemampuan tubuh. Pada keadaan ini sudah dapat timbul gejala psikis
  dan somatic.(3).Stage of Exhaustion (reaksi kelelahan). Pada fase ini gejala-psikosomatik
  tampak jelas. .
                                       BAB III
                                   PEMBAHASAN


A. ISTILAH-ISTILAH KHUSUS
  1. Elisa Western Blot (Enzym Linked Immunosorbent ASSAY) adalah Tes mendeteksi
      antibody yang dibuat tubuh terhadap virus HIV . Menunjukan virus terdapat pada
      darah.
  2. Neutropenia adalah
  3. Anemia normositik normokrom adalah hemolisis, bisa juga terjadi karena terapi
      zidofudin (untuk menahan replitasi virus), gangguan pada sumsum tulang belakang.
  4. Limfosit CD4+ adalah
         •     sel yang mencakup monosit, reseptor pembentuk antibody (T helper, monosit,
               makrofag), paling banyak diantara monosit dan makrofag.
         •     Penentu klasifikasi AIDS paling parah.


B. KONSEP PENYAKIT
  •   AIDS atau Acquired Immune Deficiency Sindrome merupakan kumpulan gejala
      penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh virus yang disebut HIV.
      Dalam bahasa Indonesia dapat dialihkatakan sebagai Sindrom Cacat Kekebalan
      Tubuh Dapatan
  •   Kerusakan progresif pada sistem kekebalan tubuh menyebabkan ODHA (orang
      dengan HIV /AIDS) amat rentan dan mudah terjangkit bermacam-macam penyakit.
      Serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya pun lama kelamaan akan
      menyebabkan pasien sakit parah bahkan meninggal.
  •   AIDS adalah sekumpulan gejala yang menunjukkan kelemahan atau kerusakan daya
      tahan tubuh yang diakibatkan oleh faktor luar (bukan dibawa sejak lahir).
  •   AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang
      berkaitan dengan infeksi Human Immunodefciency Virus (HIV). (Suzane C.
      Smetzler dan Brenda G.Bare)
  •   AIDS diartikan sebagai bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dari kelainan
      ringan dalam respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan
       imunosupresi dan berkaitan dengan pelbagi infeksi yang dapat membawa kematian
       dan dengan kelainan malignitas yang jarang terjadi. (Center for Disease Control and
       Prevention)
  Gejala AIDS
  Gejala Mayor :
  •      BB menurun atau gagal tubuh
  •      Diare > 1 bulan (kronis/berulang)
  •      Demam > 1bulan (kronis/berulang)
  •      Infeksi saluran nafas bawah yang parah atau menetap
  Gejala Minor :
  •      Lymfadenopati generalisata atau hepatosplenomegali
  •      Kandidiasis oral
  •      Infeksi THT yang berulang
  •      Batuk kronis
  •      Dermatitis generalisata
  •      Encefalit




C. ETIOLOGI
   AIDS disebabkan oleh virus yang mempunyai beberapa nama yaitu HTL II, LAV, RAV.
   Yang nama ilmiahnya disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV) yang berupa agen
   viral yang dikenal dengan retrovirus yang ditularkan oleh darah dan punya afinitas yang
   kuat terhadap limfosit T.
   Faktor Resiko
   •     Pria dengan homoseksual
   •     Pria dengan biseksual
   •     Pengguna IV drug
   •     Transfuse darah
   •     Pasangan heteroseksual dengan pasien infeksi HIV
   •     Anak yang lahir dengan ibu yang terinfeksi
   → Diketahui bahwa virus dibawa dalam limfosit yang terdapat pada sperma memasuki
   tubuh melalui mucosa yang rusak, melalui ASI, kerusakan permukaan kulit.
   → Ditularkan dari orang ke orang melalui pertukaran cairan tubuh, termasuk darah,
   semen, cairan vagina dan air susu ibu.


D. MANIFESTASI KLINIS
  •    Manifestasi klinis AIDS menyebar luas dan pada dasarnya mengenai setiap sistem
       organ
  •    Pneumonia disebabkan oleh protozoa pneumocystis carini (paling sering ditemukan
       pada AIDS) sangat jarang mempengaruhi orang sehat. Gejala: sesak nafas, batuk-
       batuk, nyeri dada, demam – tdk teratasi dapat gagal nafas (hipoksemia berat,
       sianosis, takipnea dan perubahan status mental)
  •    Gagal nafas dapat terjadi 2 – 3 hari
  •    TBC
  •    Nafsu makan menurun, mual, muntah
  •    Diare merupakan masalah pada klien AIDS → 50% – 90%
  •    Kandidiasis oral – infeksi jamur
  •    Bercak putih dalam rongga mulut → tidak diobati dapat ke esophagus dan lambung
  •    Wasthing syndrome → penurunan BB/ kaheksia (malnutrisi akibat penyakit kronis,
       diare, anoreksia, amlabsorbsi gastrointestinal)
  •    Kanker: klien AIDS insiden lebih tinggi → mungkin adanya stimulasi HIV terhadap
       sel kanker yang sedang tumbuh atau berkaitan dangan defesiensi kekebalan →
        mengubah sel yang rentang menjadi sel maligna
  •    Sarcoma kaposis → kelainan maligna berhubungan dengan HIV (paling sering
       ditemukan) → penyakit yang melibatkan endotel pembuluh darah dan limfe.
       Secara khas ditemukan sebagai lesi pada kulit sebagian tungkai terutama pada pria.
       Ini berjalan lambat dan sudah diobati. Lokasi dan ukuran lesi dapat menyebabkan
       statis aliran vena, limfedema serta rasa nyeri. Lesi ulserasi akan merusak intergritas
       kulit dan meningkatkan ketidak nyamanan serta kerentanan terhadap infeksi.
  •        Diperkirakan 80 % klien AIDS mengalami kalianan neurologis → gangguan pada
           saraf pusat, perifer dan otonom. Respon umum pada sistem saraf pusat mencakup
           inflamasi, atropi, demielinisasi, degenerasi dan nekrosis.
  •        Herpes zoster → pembentukan vesikel yang nyeri pada kulit.
  •        Dermatitis seboroik→ruam yang difus, bersisik yang mengenai kulit kepala dan
           wajah.
  •        Pada wanita: kandidiasis vagina → dapat merupakan tanda pertama yang
           menunjukkan HIV pada wanita.


E. KOMPLIKASI
  a. Oral Lesi
      Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis
      Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral,nutrisi,dehidrasi,penurunan
      berat badan, keletihan dan cacat.
  b. Neurologik
      - kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency
          Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan
          motorik, kelemahan, disfasia, dan isolasi social.
      -     Enselophaty     akut,    karena    reaksi   terapeutik,     hipoksia,   hipoglikemia,
          ketidakseimbangan elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit kepala,
          malaise, demam, paralise, total / parsial.
      -. Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan maranik
          endokarditis.
      - Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human Immunodeficienci
          Virus (HIV)
  c. Gastrointestinal
      - Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan
          sarcoma          Kaposi.         Dengan             efek,       penurunan         berat
          badan,anoreksia,demam,malabsorbsi, dan dehidrasi.
      - Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik.
          Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.
          - Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang
            sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal, gatal-gatal
            dan siare.
       d. Respirasi
          Infeksi      karena     Pneumocystic            Carinii,   cytomegalovirus,      virus      influenza,
          pneumococcus,               dan            strongyloides          dengan             efek       nafas
          pendek,batuk,nyeri,hipoksia,keletihan,gagal nafas.
       e. Dermatologik
          Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis,
          reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri,gatal,rasa
          terbakar,infeksi skunder dan sepsis.
       f. Sensorik
          - Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan
          - Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan
           efek nyeri.


   F. PATOFISIOLOGI
Kontak dengan darah                           kontak seks                      kontak ibu bayi


                                              HIV masuk ke dalam tubuh
            Netrofil                          HIV berikatan Lim T, monosit, makrofag
             neutropenia                      Hiv berdifusi dengan CD4+
                                              Inti virus masuk ke dalam sitoplasma               enzim reverse
                                              RNA virus       DNA                                transcriptase
oleh integrase endunuklease                   Integrasi DNA virus + Prot. Pada T4 (provirus)
                             RNA genom dilepas                        mRNA ditranslasi
                             Ke sitoplasma                            Prot. Virus


                                                      Tunas virus
                         Infeksi sel T lain           Virion HIV baru terbentuk (di limfoid)
KURANG PENGETAHUAN                                    AIDS
                                                      Respon imun
                        Humoral                                             Seluler
                        Sel B dihasilkan antibody spesifik                   APC aktifkan CD4+
                        Diferensiasi dlam plasma                             terinfeksi virus (sel T helper)
pengaruh ikatan           IGM & IGG                                 IL-2      interferon gamma         IL-12
pda tes ELISA           Lawan CD4+ yg terinfeksi          CD8     rangsangan                        aktivitas
mudahnya                CD4+                                      pembentukan                       INTOLE-
transmisi penularan                                               sel B                             RANSI
isolasi sosial                                                             Tidak mengintensifkan AKTIVI-
GANGGUAN HARGA DIRI                                                        Sistem imun                TAS




                               Sistem kekebalan tubuh
Sel rentan                                                        rentan infeksi
Mutasi gen                                   pengeluaran mediator                     aktifkan flora normal
Pembelahan sel berlebihan                    kimia                                    RESIKO INFEKSI
Picu sel kanker                               sitokinin                               (OPORTUNISTIK)
                                             pirogenindogen
                                               set suhu oleh hipotalamus onterior
                                             demam
                                             RESIKO GANGGUAN THERMOREGULASI
Menginfeksi paru-paru
eksudat
gangguan jalan nafas                                      inhalasi & ekhalasi terganggu
suplay O2               metabolisme sel                   RESIKO BERSIHAN JALAN NAFAS
difusi O2 terganggu     ATP                               TAK EFEKTIF
hipoksia                kelemahan
sesak nafas             INTOLERANSI
RESIKO POLA NAFAS       AKTIVITAS
TAK EFEKTIF
                                    Saluran pencernaan
Mukosa teriritasi                                         bakteri mudah masuk
Pelepasan as.amino                                        imun tidak ada
Metabolisme protein                                    peristaltik
BB < dari normal                                       absorpsi air                     absorpsi nutrisi
RESIKO GANGGUAN                                        diare
KEBUTUHAN NUTRISI                    GANGGUAN KESEIMBANGAN CAIRAN & ELEKTROLIT




   G.        ASUHAN KEPERAWATAN
        Rencana asuhan keperawatan
        a.       Pengkajian
        Nama                         : Tn. A
        Usia                         : 35 tahun
        Jenis kelamin                :Laki-laki
        Berat badan                  : 50 kg
        Tinggi badan                 : 170 cm
        Diagnosa medis               : Acquired imuno deficiency sindrome (AIDS)
        Keluhan utama                : lemah, lemas tidak bergairah, diare selama 40 hari
        Riwayat kesehatan            : sering mendadak mengidap flu yang terasa seperti flu
                                     berat sampai suatu ketika nyaris pingsan hanya karena flu.
        Pemeriksaan lab              : ELISA Western Blot (+)
                                     Neutropenia
                                     Anemia normositik normokrom
                                     Limfosit CD4+ 180 sel/µL
        Analisa data
Data menyimpang               Etiologi                               Masalah keperawatan
DO: -                         Infeksi bakter         Tidak ada Defisit             volume     cairan
DS: klien mengaku diare pertahanan                tubuh              berhubungan dengan diare.
selama 40 hari                peristaltic         absorpsi air
                                 Diare
DO: -                         Virus menempel pada CD4                Resiko Bersihan jalan nafas
DS: -                         CD4           kekebalan                tak efektif
                              Virus menginfeksi paru
                                    eksudat
DO: -                               Mukosa         teriritasi             Resiko       ketidakseimbangan
DS: -                               Pelepasan asam amino                  nutrisi kurang dari kebutuhan
                                    Hipermetabolisme protein
DO: -                               Suplai      oksigen                   Kelelahan
DS: klien mengeluh lemah, metabolisme sel                       ATP
lemas tidak bergairah
DO: -                               HIV          dinyatakan +             Isolasi sosial
DS: -                               diketahui publik
DO: -                               Infeksi bakter          Tidak ada Resiko infeksi
DS: -                               pertahanan tubuh
DO: -                               Isolasi    sosial           merasa Gangguan harga diri
DS: -                               diasingkan


    b. Diagnosa keperawatan
              Resiko Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan peningkatan secret
              paru
              Defisit volume cairan berhubungan dengan diare berhubungan dengan diare berat
              yang ditandai klien mengaku diare selama 40 hari
              Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
              hipermetabolisme protein
              Intoleransi        aktivitas    berhubungan        dengan    penurunan       produksi   energy
              metabolisme
              Resiko infeksi
              Resiko Isolasi social berhubungan dengan perubahan status kesehatan
              Resiko Gangguan harga diri berhubungan dengan perubahan status keshatan
    c. Intervensi
                        Rencana tindakan
Diagnosa
                        tujuan                          Intervensi                      rasional
1. Resiko Bersihan 1. jalan nafas bersih           - Kaji status respiratorius, Memudahkan intervensi
  jalan nafas tak                                       mencakup          frekuensi,
  efektif                                    irama, penggunaan otot-
                                             otot aksesorius dan suara
                                             pernapasan.


                                         -     Lakukan       pengambilan Memudahkan
                                             specimen       sutum    untuk pemeriksaan pasien
                                             dianalisis.


                                         -        Terapi        pulmoner untuk mencegah stasis
                                             dilakukan          sedikitnya sekresi              dan
                                             setiap dua jam sekali         meningkatkan bersihan
                                                                           jalan napas.


                                         - Berikan bantuan dalam Memudahkan
                                             merubah posisi.               pengeluaran sekret


                                         -      Berikan       kesempatan Meningkatkan
                                             istirahat yang cukup.         pertahanan tubuh


                                         - Berikan         oksigen   yang untuk mempertahankan
                                             sudah dilembabkan untuk ventilasi                  yang
                                             tindakan          pengisapan memadai.
                                             lender (suctioning)
2. Defisit   volume   1. Mengganti       - Monitor vital sign.             Memudahkan intervensi
  cairan                 volume cairan
  berhubungan            yang hilang     - Monitor status nutrisi.
  dengan diare.       2. Menghentikan
                         diare           - Berikan cairan IV.               mempertahankan cairan
                                                                            intake dan output yang
                                                                            adekuat.
                                          - Monitor          pemasukan Mengontrol                   status
                                           cairan dan makanan dan nutrisi
                                           hitung      intake       kalori
                                           cairan.
3. Resiko             1. Mempertahank - Kaji          adanya        alergi mengidentifikasi
  Ketidakseimbang        an berat badan    makanan.                          defisiensi, memudahkan
  an nutrisi kurang                                                          intervensi.
  dari kebutuhan                                                             membantu              dalam
                                                                             rencana       diet     untuk
                                                                             memenuhi         kebutuhan
                                                                             individual


                                          - Kolaborasi dengan ahli mengawasi                  masukkan
                                           gizi   untuk     menentukan kalori          atau       kualitas
                                           jumlah kalori dan nutrisi kekurangan               konsumsi
                                           yang dibutuhkan.                  makanan


                                          - Monitor    jumlah      nutrisi mengawasi          penurunan
                                           dan kandungan kalori.             berat     badan         atau
                                                                             efektivitas      intervensi
                                                                             nutrisi


                                          - Anjurkan      pasien    unutk mengawasi           efektivitas
                                           meningkatkan Fe, protein, nutrisi
                                           dan vitamin C.


                                          - Monitor                adanya mempertahankan posisi
                                           penurunan berat badan.            yang cukup
                                            - Monitor       mual       dan
                                             muntah.


                                            - Jadwalkan        pengobatan
                                             dan tindakan tidak selama
                                             jam makan.




4. Intoleransi      1. mampu melakukan - Pantau kemampuan pasien Mengawasi identifikasi
  aktivitas         aktivitas sesuai yang    untuk               bergerak dan          mempermudah
                    diinginkan               (ambulasi),     dan     ADL intervensi
                                             pasien.


                                            - Susun rencana rutinitas menjaga keseimbangan
                                             harian.                          antara   aktivitas   dan
                                                                              istirahat yang mungkin
                                                                              diperlukan.


                                            - Kolaborasi             untuk menentukan          strategi
                                             pengungkapan       penyebab menghadapinya.
                                             mudah lelah.
5. Resiko infeksi   1.           mencegah - Kepada pasien dan orang Mengidentifikasi resiko
                    terjadinya infeksi       yang merawatnya diminta infeksi
                                             untuk memantau tanda-
                                             tanda infeksi ; seperti
                                             gejala        demam/panas,
                                             menggigil,            keringat
                                             malam, batuk dengan atau
                                             tanpa produksi sputum,
                                             napas      yang       pendek,
                                            kesulitan bernapas, rasa
                                            sakit pada mulut atau
                                            kesulitan            menelan,
                                            bercak-bercak putih pada
                                            rongga mulut, penurunan
                                            berat                     badan,
                                            pembengkakan             kelenjar
                                            limfe, mual, muntah, diare
                                            persisten,                sering
                                            berkemih,        sulit     untuk
                                            mulai      dan    nyeri      saat
                                            berkemih, sakit kepala,
                                            perubahan        visual      dan
                                            penurunan        daya      ingat,
                                            kemerahan, pembngkakan
                                            atau pengeluaran secret
                                            pada kulit, lesi vaskuler
                                            pada wajah, bibir atau
                                            daerah perianal.


                                        - Pantau hasil laboratorium Memudahkan intervensi
                                            yang             menunjukkan
                                            infeksi.


                                        - Penyuluhan                  pasien Mencegah              infeksi
                                            mencakup                 strategi secara mandiri
                                            pencegahan infeksi.
6. Resiko   Isolasi 1. peningkatan rasa - Lakukan penilaian tingkat Mengurangi                    perasaan
  sosial           percaya diri             interaksi social pasien.            negative pasien


                                        -        Lakukan             tindakan Membantu
                                         pengendalian         infeksi memantapkan
                                         dirumah      sakit       atau partisipasi           pada
                                         dirumah              untuk hubungan sosial
                                         memberikan       kontribusi
                                         atas emosi pasien.


                                        - Perawat harus memahami megurangi faktor-faktor
                                         dan menerima penderita yang           turut     membuat
                                         AIDS dan keluarga serta pasien meras terisolasi.
                                         pasangan seksualnya.


                                        - Berikan informasi tentang membantu pasien agar
                                         cara    melindungi       diri tidak           menghindar
                                         sendiri dan orang lain         kontak social.
7. Gangguan harga 1. meningkatkan harga - Periksa keadaan status Mengidentifikasi            dan
 diri              diri klien            mental pasien.                 memudahkan intervensi


                                        - Bantu pasien dan keluarga Mengurangi           perasaan
                                         untuk     memahami       dan negative pasien
                                         mengatasi            semua
                                         perubahan    yang    terjadi
                                         dalam proses berpikir.




                                        - penempatan lonceng dan melindungi pasien dari
                                         tombol pemanggil yang cedera,
                                         mudah dijangkau.
H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK


  Pemeriksaan Laboratorium
  Pemeriksaan Laboratorium digunakan untuk menegakkan diagnosa infeksi HIV/AIDS
  berdasarkan tes yang dapat mendeteksi adanya antigen dan antibody HIV. Ketika HIV
  memasuki tubuh seseorang, maka tubuh akan membentuk antibody sebagai respon tubuh
  terhadap infeksi. Sehingga apabila pada darah seseorang terdapat antibody HIV, maka
  seseorang tersebut adalah terinfeksi. Kebanyakan orang membentuk antibody HIV antara
  6-2 minggu dari waktu infeksi. Dan pada kasusu yang jarang dapat mencapai waktu 6
  bulan. Melakukan tes HIV dalam waktu kurang dari 3 bulan sejak terinfeksi dapat
  menghasilkan hasil yang meragukan karena pada waktu tersebut kemungkinan orang
  yang terinfeksi belum membentuk antibody terhadap HIV. Waktu antara seseorang
  terinfeksi dan pembentukan antibody HIV disebut window period. Pada masa ini tidak
  ditemukan antibody HIV pada tubuh mereka. Tetapi pada window period dapat
  menularkan virus HIV pada orang lain walaupun hasil tes HIV negative karena orang
  tersebut memiliki HIV dengan level yang tinggi pada darah, cairan-cairan seksual
  ataupun ASI. Di Amerika Serikat dilakukan kombinasi dua tes antibody HIV. Apabila
  antibody HIV dideteksi pada tes awal (ELISA), lalu dilakukan tes kedua yaitu Western
  Blot untuk mengukur antigen yang berikatan dengan antibody.


  • Test ELISA ( Enzyme Linked Immunosorbent Assay)
    ELISA merupakan komponen integral dari laboratorium klinik. Tingkat sensitifitas
    yang tinggi dan minimnya pengunaan radioisotop menyebabkan tes ini luas digunakan
    untuk mendeteksi antigen dan antibody secara kualitatif dan kuantitatif. Jika
    digunakan dengan baik, tes ini mempunyai sensitifitas > 98%. Dasar pemeriksaan ini
    adalah mereaksikan antigen HIV dengan serum. Apabila di dalam serum terdapat
    antibody HIV, akan terjadi ikatan antigen-antibody. Serum ditambahkan anti IgG yang
    bertanda peroksidase. Terjadi ikatan antigen-antibody dengan anti IgG peroksidase.
    Peroksidase yang terikat akan memecah substrat yang ditambah sehingga
    menghasilkan perubahan warna yang akan dibaca dengan spektrofotometer. Njika
  terdeteksi antibody virus di dalam jumlah besar akan memperlihatkan warna yang
  lebih tua.
       Bila tes anibody berdasrkan ELISA digunakan untuk skrining populasi dengan
  prevalensi infeksi HIV yang rendah(misalnya donor darah), hasil yang positif dalam
  sampel serum harus dikonfirmasi dengan tes ulang. Hal ini untuk mencegah hasil
  pemeriksaan yang positif palsu atau negative palsu. Oleh karena itu, pemeriksaan
  ELISA diulang dua kali, dan jika menunjukkan hasil positif, dilakukan pemeriksaan
  yang lebih spesifik untuk konfirmasi.


• Tes Western Blot
  Tes Western Blot merupakan cara pemeriksaan yang lebih spesifik, dimana antibody
  terhadap protein HIV dari berat molekul tertentu dapat terdeteksi. Tes ini
  menggunakan kombinasi dari elektroforesis dan tes ELISA sehingga dapat
  menentukan respon terhadap berbagi protein spesifik.
       Cara pemeriksaan, HIV yang telah dimurnikan kemudian dielektroforesis dam gel
  poliakrilamid. Hasil pemisahan berabagi antigen HIV dipindahkan ke kertas
  nitoroselulosa yang kemudian dipotong menjadi potongan-potongan kecil dan
  diinkubasi dengan serum yang diperiksa. Adanya antigen HIV akan menghasilkan
  pita-pita pada berat molekul yang sesuai.
       Tes Western Blot paling sering digunakan untuk konfirmasi dari tes skrining
  serologic reaktif untuk antibody HIV. Tes ini dianggap positif untuk HIV-1 bila
  mengandung pada pita-pita pada berta molekul yang sesuai untuk protein inti virus
  (p24) atau glikoprotein selubung gp41, gp120 atau gp160. kemampuan untuk
  mengenali reaktifitas spesifik terhadap protein tertentu menyebabkan tes ini
  mempunyai tingkat spesifitas yang tinggi.
• PCR (Polymerase Chain Reaction)
  Tes ini digunakan untuk mendeteksi materi genetic virus pada darah. Pemeriksaan ini
  sangat akurat dan dapat mendeteksi infeksi virus HIV secara dini. Tes PCR dapat
  mendeteksi virus 14 hari setelah infeksi.
  Dalam penelitian infeksi HIV digunakan 2 bentuk PCR, yaitu PCR DNA dan PCR
  RNA. PCR RNA telah digunakan, terutama untuk memantau perubahan kadar genom
          HIV yang terdapat dalam plasma. Pengujian PCR ini menggunakan metode enzimatik
          untuk mengaplifikasi RNA HIV sehingga dengan cara hibridisasi dapat dideteksi. Tes
          berbasis molekuler ini merupakan cara yang sangat sensitif.
          Pengujian PCR DNA dikerjakan dengan mengadakan campuran reaksi dalam tabung
          mikro yang kemudian diletakkan pada blok pemanas yang telah deprogram pada seri
          temperature yang diinginkan. Pada dasarnya target DNA diekstraksi dari spesimen dan
          secara spesifik membelah dalam tabung sampai diperoleh jumlah yang cukup yang
          akan digunakan untuk deteksi hibridisasi.
          Diagnosis awal infeksi HIV pada bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV sulit
          dilakukan karena adanya antibody maternal membuat tes-tes serologik tidak bersifat
          informatif. Pengujian PCR dapat memperkuat adanya genom HIV dalam serum atau
          sel sehingga bermanfaat dalam diagnosis. Uji ini mempunyai sensitifitas 93,2% dan
          spesifitas 94,9%.




I.   PENATALAKSANAAN MEDIS
     1.     Penanganan infeksi yang berhubungan dengan HIV sertamalignasi, penghentian
            replikasi virus lewat preparat antivirus dan penguatan serta pemulihansystem
            immune melalui penggunaan preparat immunomodulator. Misalnya :
            a. Untuk infeksi umum biasanya digunakan trimetopirin-sulfametoksasol (preparat
                antibakteri) untuk mengatasi berbagai organism yang menyebabkan infeksi
            b. Untuk diare digunakan terapi oktreotid asetat yaitu analog sintetik
                somastostatin.
            c. Penggunaan pentamidin suatu obat anti protozoa untuk melawan PCP.
                Kombinasi trimetoprin oral dan dapson terbukti juga sangat afektif untuk PCP
                yang ringan hingga sedang.
            d. Refabutin ternyata efektif untuk mencegah MAC(mycobacterium Avium
                Complex) pada penderita infeksi HIV dengan jumlah sel CD4+ sebesar 200
                sel/mL atau kurang.
            e. Terapi primer yang mutakhir untuk meningitis triptokokus adalam amfoterisin
                B IV dengan atau tanpa flusitosin .
     f. Penggunaan gansiklovir untuk mengobati retinitis CMV (cytomegalovirus).
         Tapi karena gansiklofir tidak mematikan virus hanya mengendalikan
         pertumbuhannya, maka obat ini harus diberikan sepanjang sisa usia pasien.
         Selain itu ada juga yang menggunakan foskarnet, sebuah preparat yang bisa
         digunakan untuk mengobat CMV. Ini digunakan dengan cara disuntikkan
         intravena setiap 8 jam sekali selama 2 hingga 3 minggu. Reaksi merugikan yang
         biasanya timbul akibat penggunaan foskarnet adalah agagl ginjal, dan gangguan
         keseimbangan elektrolit.
     g. Asiklofir dan foskarnat kini juga digunakan untuk mengobati ensefalitis yang
         disebabkan oleh herpes simplek atau herpes zoster.
     h. Pirimetamin dan sulfadiazine atau klindamisin digunakan untuk pengobatan
         maupun terapi supresif seumur hidup bagi infeksi toxoplasmosis gondii.
2.   Penatalaksanaan diare kronik
     Terapi dengan oktreotid asetat (sandostatin) yaitu suatu analog sintetik
     somastostatin ternyata efektif untuk mengatasi diare yang berat dan kronik.
     Konsentrasi receptor somastostatin yang tinggi ditemukan dalam trakstus
     gastrointestinal maupun jaringan lainnya. Somastatin akan menghambat banyak
     fungsi fisiologi yang mencakup motilitas gastrointestinal dan sekresi intestinal air
     serta elektrolit.
3.   Penatalaksanaan syndrome Pelisutan
     Mencakup penanganan penyebab yang mendasari infeksi opurtunis sistemik
     maupun gastrointestinal. Malnutrisi sendiri akan memperbesar risiko infesi dan
     dapat pula meningkatkan insiden infeksi opurtunis. Terapi nutrisi harus disatukan
     dalam keseluruhan rencana penatalaksanaan dan harus disesuaikan untuk memenuhi
     kebutuhan nutrisi pasien. Terapi utrisi bisa dilakukan mulai dari diet oral dan
     pemberian makanan lewat sonde hingga dukungan nutrisi parental ila diperlukan.
     Jumlah kalori yang butuhkan harus dihitung bagi semua penderita AIDS yang
     mengalami penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya. Pnghitungan ini
     dilakukan untuk mengevaluasi status nutrisi pasien dan memulai terapi nutrisi yang
     tepat.
       Advera merupakan suplemen nutrisi yang dibuat khusus untuk penderita infeksi
       HIV dan penyakit AIDS. Megastrol asetat (Megace) yaitu suatu preparat sintetik
       progesterone oral yang digunakan untuk pengobatan payudara akan menggalakkan
       kenaikan berat badan yang signifikan dan mnghambat sintesis sitokin IL-1.


J. OBAT-OBATAN
  Pengobatan HIV/ AIDS yang sudah ada kini adalah dengan pengobatan ARV
  (antiretroviral) dan obat-obat baru lainnya masih dalam tahap penelitian.
  Jenis obat-obat antiretroviral :
  •   Attachment inhibitors (mencegah perlekatan virus pada sel host) dan fusion
      inhibitors (mencegah fusi membran luar virus dengan membran sel hos). Obat ini
      adalah obat baru yang sedang diteliti pada manusia.
  •   Reverse transcriptase inhibitors atau RTI, mencegah salinan RNA virus ke dalam
      DNA sel hos. Beberapa obat-obatan yang dipergunakan saat ini adalah golongan
      Nukes dan Non-Nukes.
  •   Integrase    inhibitors,   menghalangi    kerja   enzim    integrase    yang   berfungsi
      menyambung potongan-potongan DNA untuk membentuk virus. Penelitian obat ini
      pada manusia dimulai tahun 2001 (S-1360).
  •   Protease inhibitors (PIs), menghalangi enzim protease yang berfungsi memotong
      DNA menjadi potongan-potongan yang tepat. Golongan obat ini sekarang telah
      beredar di pasaran (Saquinavir, Ritonavir, Lopinavir, dll.).
  •   Immune stimulators (perangsang imunitas) tubuh melalui kurir (messenger) kimia,
      termasuk interleukin-2 (IL-2), Reticulose, HRG214. Obat ini masih dalam penelitian
      tahap lanjut pada manusia.
  •   Obat antisense, merupakan “bayangan cermin” kode genetik HIV yang mengikat
      pada virus untuk mencegah fungsinya (HGTV43). Obat ini masih dalam percobaan.


  Obat-obatan yang telah ditemukan pada saat ini menghambat pengubahan RNA menjadi
  DNA dan menghambat pembentukan protein-protein aktif. Enzim yang membantu
  pengubahan RNA menjadi DNA disebut reverse transcriptase, sedangkan yang
  membantu pembentukan protein-protein aktif disebut protease.
  Untuk dapat membentuk protein yang aktif, informasi genetik yang tersimpan pada RNA
  virus harus diubah terlebih dahulu menjadi DNA. Reverse transcriptase membantu proses
  pengubahan RNA menjadi DNA. Jika proses pembentukan DNA dihambat, maka proses
  pembentukan protein juga menjadi terhambat. Oleh karena itu, pembentukan virus-virus
  yang baru menjadi berjalan dengan lambat. Jadi, penggunaan obat-obatan penghambat
  enzim reverse transcriptase tidak secara tuntas menghancurkan virus yang terdapat di
  dalam tubuh. Penggunaan obat-obatan jenis ini hanya menghambat proses pembentukan
  virus baru, dan proses penghambatan ini pun tidak dapat menghentikan proses
  pembentukan virus baru secara total.
  Obat-obatan lain yang sekarang ini juga banyak berkembang adalah penggunaan
  penghambat enzim protease. Dari DNA yang berasal dari RNA virus, akan dibentuk
  protein-protein yang nantinya akan berperan dalam proses pembentukan partikel virus
  yang baru. Pada mulanya, protein-protein yang dibentuk berada dalam bentuk yang tidak
  aktif. Untuk mengaktifkannya, maka protein-protein yang dihasilkan harus dipotong pada
  tempat-tempat tertentu. Di sinilah peranan protease. Protease akan memotong protein
  pada tempat tertentu dari suatu protein yang terbentuk dari DNA, dan akhirnya akan
  menghasilkan protein yang nantinya akan dapat membentuk protein penyusun matriks
  virus (protein struktural) ataupun protein fungsional yang berperan sebagai enzim.


K. PENULARAN
  HIV dapat menular melalui :
  1. Hubungan seks yang tidak terlindung baik melalui vagina, anal maupun oral dengan
     pasangan yang mengidap HIV/AIDS.
  2. Tranfusi darah yang mengandung HIV/AIDS
  3. Jarum suntik, alat tusuk lainnya (akupunktur, tindik, tatto), pisau cukur, sikat gigi
     bekas dipakai orang yang mengidap HIV/AIDS
  4. Pemindahan virus dari ibu hamil pengidap HIV/AIDS kepada janin dan ASI


  HIV tidak menular dengan :
  1. Hidup serumah dengan penderita HIV/AIDS, asal tidak berhubungan seksual
  2. Jabat tangan, mengobrol, memeluk, berciuman pipi, bersonggolan badan dengan
       penderita HIV/AIDS
  3. Penderita HIV/AIDS bersin, batuk, berkeringat, mengeluarkan air mata
  4. Digigit serangga, nyamuk dan binatang peliharaan
  5. Berenang bersama-sama di kolam renang
  6.   Menggunakan toilet bersama-sama
  7. Makan dan minum bersama


L. PENCEGAHAN
  Tindakan-tindakan untuk mencegah penularan HIV AIDS jika anda belum terinfeksi HIV
  AIDS.
  •    Pahami HIV AIDS dan ajarkan pada orang lain. Memahami HIV AIDS dan
       bagaimana virus ini ditularkan merupakan dasar untuk melakukan tindakan
       pencegahan, sebarkan pengetahuan in ke orang lain seperti keluarga, sahabat dan
       kerabat.
  •    Ketahui status HIV AIDS patner seks anda. Berhubungan seks dengan sembarang
       orang menjadikan pelaku seks bebas ini sangat riskan terinfeksi HIV, oleh karena itu
       mengetahui status HIV AIDS patner seks sangatlah penting.
  •    Gunakan jarum suntik yang baru dan steril. Penyebaran paling cepat HIV AIDS
       adalah melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian dengan orang yang
       memiliki status HIV positif, penularan melalui jarum suntik sering terjadi pada IDU (
       injection drug user).
  •    Gunakan Kondom Berkualitas. Selain membuat ejakulasi lebih lambat, penggunaan
       kondom saat berhubungan seks *ya iyalah, masak pas makan pake kondom?* cukup
       efektif mencegah penularan HIV AIDS melalui seks.
  •    Lakukan sirkumsisi / khitan. Banyak penelitian pada tahun 2006 oleh National
       Institutes of Health (NIH) menunjukkan bahwa pria yang melakukan khitan memiliki
       resiko 53 % lebih kecil daripada mereka yang tidak melakukan sirkumsisi.
  •    Lakukan tes HIV secara berkala. Jika anda tergolong orang dengan resiko tinggi,
       sebaiknya melakukan tes HIV secara teratur, minimal 1 tahun sekali.
  Pencegahan bagi penderita yang sudah terkena infeksi :
  •   Beritahu partner seks bahwa anda telah positif HIV AIDS. Pemahaman patner seks
      terhadap status HIV sangatlah penting untuk antisipasi paska seks agar tidak menular
      ke yang lain.
  •   Jika anda hamil, segera konsultasikan dengan tim medis terdekat agar mendapat
      penanganan khusus.
  •   Hindari donor darah dan donor organ.
  •   Jangan biarkan orang lain memakai sikat gigi dan barang-barang pribadi lainnya,
      meskipun kemungkinan tertular melalui barang-barang pribadi ini sangat kecil, tapi
      tetap saja masih ada kemungkinan.
  •   Beritahukan status HIV AIDS anda kepada orang yang terpercaya. Selain untuk
      melindungi orang lain, hal ini juga untuk memastikan bahwa anda mendapat
      perawatan dari orang tersebut.
M. STADIUM AIDS
  1. Stadium Pertama : HIV
      Infeksi dimulai dengan masuknya HIV kedalam tubuh dan diikuti terjadinya
      perubahan serologik ketika antibodi terhadap virus berubah dari negatif menjadi
      positif. Rentang waktu dari masuknya HIV hingga tes antibodi positif disebut
      Window Period, lamanya 1 ? 6 bulan. Pada stadium ini sudah dapat menularkan
      bahkan sangat menular.
  2. Stadium Dua : Asimptomatik (tanpa gejala)
      Asimptomatik berarti bahwa di dalam organ tubuh terdapat HIV tetapi tubuh tidak
      menunjukkan gejala sakit. Keadaan ini dapat berlangsung rata-rata 5 ? 10 tahun. Fase
      ini juga menular walau penderita tampak sehat-sehat saja.
  3. Stadium Tiga : Pembesaran kelenjar limfe
      Fase ini ditandai dengan pembesaran kelenjar limfe secara menetap dan merata, tidak
      hanya muncul pada satu tempat dan berlangsung lebih dari satu bulan.
  4. Stadium Empat : AIDS
      Keadaan ini disertai dengan adanya bermacam-macam penyakit antara lain penyakit
      konstitusional, penyakit syaraf dan penyakit infeksi sekunder.
N. UNIVERSAL PRECAUTION
  1. Cuci tangan selama 10 menit dengan sabun dengan air yang mengalir dan
     menggosokkannya sebelum menyentuh pasien serta saat kedua tangan kotor
  2. Mengenakan sarung tangan berseih sebelum menyentuh membrane mukosa atau kulit
     yang tidak utuh.
  3. Kenekan gaun atau apron plastic ketika terdapat kemungkinan pakaian atau kulit
     menjadi kotor
  4. Kenakan masker ketika bekerja langsung pada kulit dengan bagian terbuka yang luas
     atau ketika terdapat kemungkinan terkenanya membrane mukosa nasal dengan
     substansi tubuh yang basah.
  5. Buang jarum suntik bekas pakai, jangan memasang kembali tutup jarum bekas
     dengan tangan, berhati-hati ketika memanipulasi alat-alat kecil seperti heparin lock.
  6. Tempatkan semua sampah dan kain kotor dalam kantong yang tertutup ketat, kenakan
     sarung tangan dan pakaian pelindung ketika menangani sampah .


O. KOMUNITAS dan PSIKOSOSIAL
  Menurut WHO (1959), keperawatan komunitas adalah bidang perawatan khusus yang
  merupakan gabungan ketrampilan ilmu keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat dan
  bantuan sosial, sebagai bagian dari program kesehatan masyarakat secara keseluruhan,
  meningkatkan kesehatan, penyempumaan kondisi sosial, perbaikan lingkungan fisik,
  rehabilitasi, pence-gahan penyakit dan bahaya yang lebih besar, ditujukan kepada
  individu, keluarga, yang mempunyai masalah dimana hal itu mempengaruhi masyarakat
  secara keseluruhan.
  Paradigma Keperawatan Komunitas
  Paradigma keperawatan komunitas terdiri dari empat komponen pokok, yaitu manusia,
  keperawatan, kesehatan dan lingkungan (Logan & Dawkins, 1987). Sebagai sasaran
  praktik keperawatan klien dapat dibedakan menjadi individu, keluarga dan masyarakat.
  1. Individu Sebagai Klien
     Individu adalah anggota keluarga yang unik sebagai kesatuan utuh dari aspek biologi,
     psikologi, social dan spiritual. Peran perawat pada individu sebagai klien, pada
     dasarnya memenuhi kebutuhan dasarnya yang mencakup kebutuhan biologi, sosial,
   psikologi dan spiritual karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan
   pengetahuan, kurangnya kemauan menuju kemandirian pasien/klien.
2. Keluarga Sebagai Klien
   Keluarga merupakan sekelompok individu yang berhubungan erat secara terus
   menerus dan terjadi interaksi satu sama lain baik secara perorangan maupun secara
   bersama-sama, di dalam lingkungannya sendiri atau masyarakat secara keseluruhan.
   Keluarga dalam fungsinya mempengaruhi dan lingkup kebutuhan dasar manusia yaitu
   kebutuhan fisiologis, rasa aman dan nyaman, dicintai dan mencintai, harga diri dan
   aktualisasi diri. Beberapa alasan yang menyebabkan keluarga merupakan salah satu
   fokus pelayanan keperawatan yaitu :
   a. Keluarga adalah unit utama dalam masyarakat dan merupakan lembaga yang
      menyangkut kehidupan masyarakat.
   b. Keluarga sebagai suatu kelompok dapat menimbulkan, mencegah, memperbaiki
      ataupun mengabaikan masalah kesehatan didalam kelompoknya sendiri.
   c. Masalah kesehatan didalam keluarga saling berkaitan. Penyakit yang diderita
      salah satu anggota keluarga akan mempengaruhi seluruh anggota keluarga
      tersebut.
3. Masyarakat Sebagai Klien
   Masyarakat memiliki ciri-ciri adanya interaksi antar warga, diatur oleh adat istiadat,
   norma, hukum dan peraturan yang khas dan memiliki identitas yang kuat mengikat
   semua warga.    Kesehatan dalam keperawatan kesehatan komunitas didefenisikan
   sebagai kemampuan melaksanakan peran dan fungsi dengan efektif. Kesehatan adalah
   proses yang berlangsung mengarah kepada kreatifitas, konstruktif dan produktif.
   Menurut Hendrik L. Bulum ada empat faktor yang mempengaruhi kesehatan, yaitu
   lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan. Lingkungan terdiri dari
   lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik yaitu lingkungan yang
   berkaitan dengan fisik seperti air, udara, sampah, tanah, iklim, dan perumahan.
   Contoh di suatu daerah mengalami wabah diare dan penyakit kulit akibat kesulitan air
   bersih. Keturunan merupakan faktor yang telah ada pada diri manusia yang
   dibawanya sejak lahir, misalnya penyakit asma. Keempat faktor tersebut saling
   berkaitan dan saling menunjang satu dengan yang lainnya dalam menentukan derajat
   kesehatan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
Fokus Keperawatan Komunitas
1. Aspek interpersonal: hubungan didalam keluarga. Pada kasus ini contohnya, dimana
   keluarga pasien harus memberi perhatian yang lebih untuk si pasien, jangan
   menjauhinya. Perawat menjelaskan pada keluarga, meskipun penyakit ini menular,
   tapi si pasien harus diberikan perhatian.
2. Aspek social: hubungan keluarga dengan masyarakat sekitarnya. Teman-temannya
   jangan menjauhi. Jangan membatasi pergaulan, tapi harus menjaga sikapnya.
3. Aspek procedural: melatih keterampilan dasar keluarga sehingga mampu mengatasi
   perubahan yang terjadi. Misalnya menjaga asupan gizinya, memberikan pemahaman
   kepada keluarga tentang flu babi dengan tapat.
4. Aspek teknis: melatih keluarga teknik teknik dasar yang mampu dilakukan keluarga
   dirumah Mengajarkan batuk efektif. Pemberian obat yang teratur, jangan sampai lupa,
   pengompresan saat panas. Menyediakan kamar yg dapat dimasuki cahaya.
Konsep pencegahan penyakit pada keperawatan komunitas :
1. Primer: healthy promotion dan spesifik protection
   Healthy promotion: promosi kesehatan dengan melakukan penyuluhan
   Spesfik protection: melakukan Vaksin
2. Sekunder: early diagnosis trethment dan disability
   Early diagnosis trethment: diagnosis lebih awal dan penangan yang tepat.
   Disability: mengurangi ketidakmampuan pasien.
3. Tersier: rehabilitasi pasien yang sudah sembuh.
   Dalam segi aspek komunitas, pencegahan bisa dimulai dengan memberikan
   Pendidikan Kesehatan dimulai sejak dini, bisa melalui keluarga, lembaga formal
   seperti sekolah, dan masyarakat.
Sedangkan dalam aspek psikososial, dalam melakukan tes HIV harus bersifat:
1. Sukarela, artinya bahwa seseorang yang akan melakukan tes HIV haruslah
   berdasarkan atas kesadarannya sendiri, bukan atas paksaan/tekanan orang lain. Ini
   juga berarti bahwa dirina setuju untuk di tes setelah mengetahui hal-hal apa saja yang
       tercakup dalam tes itu, apa keuntungan dan kerugian dari tes itu, serta apa saja
       implikasi dari hasil positif ataupun negatif.
     2. Rahasia, artinya apapun hasil tes ini nantinya (baik positif ataupun negatif) hasilnya
       hanya boleh diberitahu langsung kepada orang yang bersangkutan. tidak boleh
       diwakilkan kepada siapapun, baik orang tua, pasangan, atasan atau siapapun.
       Mengingat begitu pentingnya untuk memperhatikan Hak Asasi Manusiadi dalam
       masalah tes HIV ini, maka untuk orang yang akan melakukan tes harus disediakan
       jasa konseling, yaitu:
     1. Konseling Pre-test:
       Yaitu konseling yang dilakukan sebelum darah seseorang yang menjalani tes itu
       diambil. Konseling ini sangat membantu seseorang untuk mengetahui rsiko dari
       perilakunya selama ini, dan bagaimana nantinya bersikap setelah mengetahui hasil
       tes. Konseling pre-test juga bermanfaat untuk meyakinkan orang terhadap keputusan
       untuk melakukan tes atau tidak, serta mempersiapkan dirinya bila nanti hasilnya
       positif.
     2. Konseling Post-test:
       Yaitu konseling yang harus diberikan setelah hasil tes diketahui, baik hasilnya positif
       ataupun negatif. Konseling ini sangat penting untuk membantu mereka yang hasilnya
       HIV positif agar dapat mengetahui cara menghindari penularan pada orang lain, serta
       untuk bisa mengatasi dan menjalani hidup secara positif. Bagi mereka yang hasilnya
       HIV negative, konseling post-test bermanfaat untuk memberitahu tentang cara-cara
       mencegah infeksi HIV di masa datang.
       Perlu diperhatikan bahwa proses konseling, testing dan hasil tes harus dirahasiakan.


P.   ASPEK LEGAL ETIS


     Konsep legal dan Hukum dalam Asuhan Keperawatan Pasien HIV/AIDS
     Prinsip etik yang harus dipegang oleh seseorang, masyarakat, nasional, dan internasional
     dalam menghadapi HIV/AIDS
     1. Empati
   Ikut merasakan penderitaan sesama termasuk ODHA dengan penuh simpati, kasih
   sayang dan keadilan saling menolong
2. Solidaritas
   Secara bersama-sama membantu meringankan dan melawan ketidakadilan yang
   diakibatkan oleh HIV/AIDS
3. Tanggung jawab
   Bertanggung jawab mencegah penyebaran dan memberikan perawatan pada ODHA
   (Depkes RI, 2003)


Isu Etik dan Hukum pada Konseling Pre-Post Tes HIV


Konseling Pre-Post Tes HIV


Konseling adalah proses pertolongan di mana seseorang dengan tulus ikhlas dan tujuan
yang jelas memberikan waktu, perhatian dan keahliannya untuk membantu klien
mempelajari dirinya, mengenali, dan melakukan pemecahan masalah terhadap
keterbatasan yang diberikan lingkungan. Voluntary Counseling and Testing (VCT) atau
konseling dan tes sukarela merupakan kegiatan konseling yang bersifat sukarela dan
rahasia, yang dilakukan sebelum atau sesudah tes darah di laboratorium. Tes HIV
dilakukan setelah klien terlebih dahulu memahami dan menandatangani informed
consent yaitu surat persetujuan setelah mendapatkan penjelasan yang lengkap dan benar.
Pelayanan VCT harus dilakukan oleh petugas yang sangat terlatih dan memiliki
keterampilan konseling dan pemahaman akan HIV/AIDS. Konseling dilakukan oleh
konselor terlatih dengan modul VCT. Mereka dapat berprofesi perawat, pekerja sosial,
dokter, psikolog, psikiater, atau profesi lain.


Informed consent untuk Tes HIV/AIDS


Tes HIV adalah tes darah yang digunakan untuk memastikan apakah seseorang sudah
positif terinfeksi HIV atau tidak, yaitu dengan cara mendeteksi adanya antibodi HIV di
dalam sampel darahnya.
Hal ini perlu dilakukan setidaknya agar seseorang bisa mengetahui secara pasti status
kesehatan dirinya, terutama menyangkut risiko dari perilakunya selama ini
Tes HIV harus bersifat :
1. Sukarela : Bahwa seseorang yang akan melakukan tes HIV haruslah berdasarkan
   atas kesadarannya sendiri, bukan atas paksaan/tekanan orang lain ini juga berarti
   bahwa dirinya setuju untuk di tes setelah mengetahui hal-hal apa saja yang
   mencakup dalam tes itu, apa keuntungan dan kerugian dari tes HIV, serta apa saja
   implikasi dari hasil positif ataupun negatif tersebut.
2. Rahasia : Apapun hasil Tes ini (baik positif maupun negatif ) hasilnya hanya boleh
   diberitahu langsung kepada orang yang bersangkutan
3. Tidak boleh diwakilkan kepada siapapun, baik orang tua/pasangan, atasan atau
    siapapun


Aspek Etik dan Legal Tes HIV
Informed consent adalah peresetujuan yang diberikan pasien atau keluarga atas dasar
penjelasan mengenai tindakan medis yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut
(Permenkes, 1989)
   Dasar dari informed consent yaitu :
a. Asas menghormati otonomi pasien setelah mendapatkan informasi yang memadai
   pasien bebas dan berhak memutuskan apa yang akan dilakukan terhadapnya
b. Kepmenkes      1239/Menkes/SK/XI/2001         pasal      16   :   Dalam   melaksanakan
   kewenangannya perawat wajib menyampaikan informasi dan meminta persetujuan
   tindakan yang akan dilakukan
c. PP No.32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan pasal 22 ayat 1 : Bagi tenaga
   kesehatan dalam menjalankan tugas wajib memberikan informasi dan meminta
   persetujuan
d. UU No. 23 Tahun 1992 tentang tenaga kesehatan pasal 15 ayat 2 : Tindakan medis
   tertentu hanya bisa dilakukan dengan persetujuan yang bersangkutan atau keluarga


Semua tes HIV harus mendapat informed consent dari klien setelah klien diberikan
informasi yang cukup tentang tes, tujuan tes, implikasi hasil tes positif atau negatif yang
berupa konseling prates. Dalam menjalankan fungsi perawat sebagai advokat bagi klien,
sedangkan tugas perawat dalam in formed consent telah meliputi tiga aspek penting
yaitu :
a. Persetujuan harus diberikan secara sukarela
b. Persetujuan harus diebrikan oleh individu yang mempunyai kapasitas dan
    kemampuan untuk memahami
c. Persetujuan harus diberikan setelah diberikan informasi yang cukup sebagai
pertimbangan untuk membuat keputusan


Persetujuan pada tes HIV harus bersifat jelas dan khusus, maksudnya, persetujuan
diberikan terpisah dari persetujuan tindakan medis atau tindakan perawatan lain (Kelly
1997 dalam Chitty 1993). Persetujuan juga sebaiknya dalam bentuk tertulis, karena
persetujuan secara verbal memungkinkan pasien untuk menyangkal persetujuan yang
telah diberikannya di kemudian hari. Depkes Afrika pada Bulan Desember 1999
mengeluarkan kebijakan tentang perkecualian di mana informed consent untuk tes HIV
tidak diperlukan, yaitu untuk skrining HIV pada darah pendonor dimana darah ini tanpa
nama. Selain itu informed consent juga tidak diperlukan pada pemeriksaan tes inisial
(Rapid Test) pada kasus bila ada tenaga kesehatan yang terpapar darah klien yang di
curigai terinfeksi HIV, sementara klien menolak dilakukan tes HIV dan terdapat sampel
darah.
                                          BAB IV
                                        PENUTUP


4.1   KESIMPULAN
              AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah sekumpulan gejala
      penyakit yang menunjukkan kelemahan dan kerusakan system pertahanan tubuh
      seseorang yang disebabkan oleh HIV(Human Immunodeficiency Virus). HIV
      menyebabkan menurunnya kemampuan tubuh untuk melawan virus, bakteri, dan jamur
      secara efektif yang menyebabkan timbulnya penyakit. Hal ini menyebabkan tubuh rentan
      terhadap berbagai jensi tumor dan infeksi opurtunistik yang secara normal dapat dilawan
      oleh tubuh. Sindrome ini pertama kali ditemukan oleh Michael Gottlieb pertengahan
      tahun 1981 pada penderita pria homoseksual dan pecandu narkotik suntik di Los Angles,
      Amerika Serikat. Sejak penemuan ini, dalam beberapa tahun dilaporkan lagi sejumlah
      penderita dengan syndrom yang sama dari 46 negara bagian Amerika Serikat lainnya.
              Penyebaran AIDS terjadi secara cepat ke berbagai benua. Dampak yang terlihat
      pada penderita beserta keluarganya, serta belum diketahuinya cara penanganan dan
      pengobatannya menyebabkan keresahan psikosial yang sangat besar di kalangan
      masyarakat
4.2   SARAN
              Karena HIV merupakan penyakit yang tejadi secara cepat dalam penularannya,
      maka harus dilakukan berbagai macam pencegahan, diantaranya :
      •   Tidak berganti-ganti pasangan seksual
      •   Pencegahan kontak darah, misalnya pencegahan terhadap penggunaan jarum suntik
          yang diulang
      •   Dengan formula A-B-C :
          o   ABSTINENSIA artinya tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah
          o   BE FAITHFUL artinya jika sudah menikah hanya berhubungan seks dengan
              pasangannya saja
          o   CONDOM artinya pencegahan dengan menggunakan kondom.
                                 DAFTAR PUSTAKA

     Brunner&suddart.2005.Keperawatan Medikal Bedah.Jakarta;EGC

     Nursalam, M.Nurs (Hons) dan Ninuk Dian kurniawati, S.Kep.Ns. 2008. Asuhan
Keperawatan pada Pasien Terinfeksi HIV/AIDS. Jakarta : Salemba medika

     Smeltzer,Suzanne C.2001.Keperawatan Medikal Bedah Ed.8.Jakarta;EGC

     http://pemudaindonesiabaru.blogspot.com

     http://www.chem-istry.org/artikel_kimia/berita/adakah_obat_untuk_hivaids_saat_ini/

     http://www.dinkes-diy.org

     http://www.lusa.web.id/penyakit-imunologi-hiv-aids/

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:8850
posted:9/29/2010
language:Indonesian
pages:42