metode kerja spoor raya jabotabek

Document Sample
metode kerja spoor raya jabotabek Powered By Docstoc
					                             METODE KERJA

PEKERJAAN :       PENINGKATAN JALAN KERETA API STASIUN
                  JAKARTA GUDANG SPOOR RAYA


  A. PEKERJAAN PERSIAPAN

A.1   Papan Nama Proyek
      Membuat papan nama dari bahan multiplek 8 mm dengan ukuran
      panjang 240 cm dan lebar 120 cm dengan tiang dari kaso ukuran 5x7 cm.
      Dasar memakai warna putih dengan huruf, tulisan dan garis
      menggunakan warna hitam.
      Papan nama proyek ditempatkan pada lokasi kegiatan yang mudah dilihat
      oleh umum.
      Papan nama dipasang saat dimulainya pelaksanaan pekerjaan dan baru
      dicabut setelah pelaksanaan pekerjaan.

A.2   Direksi keet dan gudang Kerja
      Membuat direksi keet dan gudang kerja sesuai dengan ukuran yang
      dipersyaratkan yaitu 50 m2 dengan bahan rangka kayui kelas III, dinding
      papan/triplek, atap semg BJLS 30, lantai beton dengan tebal 6 cm dan
      berjendela nako.
      Direksi keet dan gudang kerja ditempatkan pada lokasi yang telah
      ditentukan oleh direksi.
      Gudang dibuat supaya cukup untuk menyimpan bahan yang diperlukan
      guna kelancaran pelaksanaan pekerjaan dan gudang dibuat dengan
      memenuhi persyaratan yang diperlukan untuk setiap jenis bahan yang
      disimpan supaya bahan tidak terjadi penurunan mutu.

A.3   Penerangan Pekerjaan
      Penerangan diperlukan untuk kelengkapan kantor.
      Penerangan disini termasuk pemasangan kabel dari meteran dan
      pembongkaran kembali apabila waktu pekerjaan sudah selesai.

A.5   Pengukuran Pematokan dan Penggambaran
      a. Peil (+0.00)
      Ukur mengukur dengan teliti sebagai pedoman titik 0 (nol). Ketinggian
      peil dasar/induk (+0.00) bangunan gedung maupun track akan ditetapkan
      bersama konsultan pengawas. Ketinggian ini ditetapkan secara permanen
      dengan patok beton sehingga tidak dapat berubah-ubah, diberi tanda cat
      minyak dan penempatan patok betton berdasarkan persetujuan dari
      Pemberu tugas/Konsultan Pengawas.
      Patok beton selalu terpancang sampai seluruh bangunan selesai
      dikerjakan dan menjadi dasar ukuran untuk setiap ketinggian halaman
      dan bangunan maupun track.
      Penentuan peil lainnya dengan menggunakan alat teropong waterpass
      atau selang waterpass yang baik dan sudah diuji coba kebenarannya
      terlebih dahulu.

      b. Papan Bangunan (Bouwplank)
      Papan bangunan dipasang pada patok-patok kayu yang kuat tertancap
      didalam tanah sehingga tidak dapat berubah-ubah.
      Ukuran papan bangunan tebal 2 cm, lebar 20 cm untuk tinggi papan
      dibuat sama dengan peil/induk kecuali Pemberi tugas atau Konsultan
      Pengawas menentukan lain.
      Sebelum pekerjaandimulai jika pemasangan papan bangunan sudah
      selesai dilaporkan kepada Pemberi Tugas atau Konsulatan Pengawas
      untuk diperiksa

      c. Penentuan As bangunan
      Penentuan as bangunan dilakukan dengan pematokan sesuai dengan
      Peraturan Daerah setempat atau ketentuan dari pihak satker Prasarana
      KA Jabotabek. Pematokan sudut siku berpedoman pada as-as bangunan
      yang sudah ada.

      d. Pengukuran Sudut Siku
      Pengukuran sudut siku dilakukan dengan bantuan teropong theodolit atau
      perbandingan segitiga (phytagoras)


A.6   Mobilisasi dan Demobilisasi Alat Kerja
      Transport alat-alat kerja dan perlengkapan proyek dilokasi pekerjaan
      termasuk pengembalian setelah pekerjaan selesai.
      Menyediakan transport lokal dan sarana komunikasi (HT) untuk
      memudahkan pengawasan dan koordinasi pelaksanaan pekerjaan.

A.7   Penjagaan Selama Pekerjaan Berlangsung
      Pekerjaan penjagaan dimulai dari pekerjaan persiapan, pekerjaan pokok
      dan pekerjaan pendukung lainnya. Untuk 24 jam dibagi menjadi 3 sip
      dengan security yang berpengalaman, khususnya untuk keselamatan
      perjalanan kereta api dan juga keselamatan / keamanan bahan – bahan
      dan alat yang di butuhkan selama pekerjaan berlangsung.
  B. PENGADAAN BAHAN

B.1   Ballas Kricak Ukuran 2x6 cm
      Balas kricak bahan dari batu kali/gunung, berwarna abu-abu kehitam-
      hitaman dan keras tidak keropos yang pecah dengan mesin pemecah batu
      berukuran 2-6 cm. Ballas kricak bersih dari kotoran tanah, lumpur, rumput
      dan bahan-bahan ikutan yang merugikan. Ballas kricak sisi-sisinya
      bersudut tajam. Ballas kricak tahan terhadap cuaca dan sewaktu dipecok
      tidak remuk/hancur.
      Sebelum ballas diecer diopname dahulu kebutuhan akan ballas tiap-tiap
      piket, pengeceran ballas batu pecah dari atas gerbong/gerobak dengan
      Kereta Api diatur sedikit demi sedikit sehingga ballas tidak menumpuk
      pada satu tempat dan tidak mengganggu perjalanan Kereta Api.
      Ballas batu pecah yang sudah diecer dilintas dimasukkan ke dalam spoor
      secara teratur dan rata bantalan bagian atas sesuai profil.
      Ballas di bawah bantalan di pecok pada sepanjang bantalan, sampai betul-
      betul terisi terutama di bawah rel/pada permukaan bantalan bagian
      bawah ballas harus padat atau sempurna untuk kecepatan 5 km/jam .
      Dalam pekerjaan finishing ballas kricak diprofilkan sesuai gambar rencana
      dan petunjuk Direksi. Ballas harus merupakan kricak yang mempunyai
      kekerasan tinggi, bersisi kasar, tidak mengandung pelapukan dan tidak
      mengandung bahan-bahan yang merugikan (debu,kotoran-kotoran dll),
      dan harus disertai tanda Uji Laboratorium Mektan dan Ballas PT. KAI
      Kantor Pusat Bandung atau lembaga pengujian material yang independen.
      Tempat penimbunan/depo ballas ditentukan dalam penjelasan. Sebelum
      dimuat di atas kereta, ballas ditempat penimbunan diperiksa dahulu oleh
      Konsultan Supervisi / Pengawas Satuan Kerja / Kuasa Pengguna
      Anggaran. Ballas kricak yang afkir harus dibuang.
      Penyediaan Kereta Api diatur oleh Direksi atas permintaan rekanan.
      Memuat ballas kricak ke atas kereta, membongkar dan mengecer di lokasi
      pekerjaan menjadi tanggung jawab rekanan dan harus dilakukan secara
      cepat, waktu peredaran gerbong (WPG) diperhitungkan paling lambat 2
      (dua) hari. Tiap kereta / gerbong harus diisi penuh sesuai dengan
      kemampuan muat. Ballas kricak di bongkar di lokasi pekerjaan sesuai
      petunjuk Direksi, ballas kricak yang telah dibongkar di kanan / kiri rel
      harus diatur sehingga tidak mengganggu / membahayakan perjalanan
      Kereta Api.

B.2   Pengadaan Bantalan Beton Termasuk Alat Penambat
      Bantalan beton yang dipakai adalah bantal an beton pratekan,digunakan
      untuk bantalan rel kereta api sebagai alternatif pengganti bantalan kayu
      atau bantalan baja.
      Bantalan beton pracetak lebih ekonomis bila dibandingkan dengan
      memakai bantalan kayu yang saat ini semakin sulit diperoleh dalam
      jumlah besar. Selian itu dalam perawatan atau umur pemakaian bantalan
      beton lebih tahan lama daripada menggunakan bantalan kayu.
      Bantalan beton direncanakan dipesan dari perusahan bantalan beton yang
      sudah mempunyai sertifikat yang memenuhi spesifikasi teknis tentunya
      dengan penambat elastis. Pengiriman bantalan / angkutan bantalan
      mempergunakan alat angkut truck dengan muatan sesuai dengan
      kapasitas truck. Penumpukan bantalan pada saat pengangkutan
      dipisahkan dengan kayu ganjal dan diikat sekuat mungkin untuk
      menghindari pergeseran pada saat perjalanan. Bantalan dikirim /
      dibongkar diemplasemen atau perlintasan terdekat dengan lokasi
      pekerjaan. Untuk bongkar bantalan dari atas truck menggunakan alat
      bantu pemikul atau dengan luncuran hingga bantalan tidak langsung jatuh
      dari atas truck. Setelah dibongkar bantalan ditumpuk sebagaimana pada
      saat pengangkutan tentunya pada setiap bantalan dipasang pemisah kayu
      ganjal dan maksimal penumpukan 3 lapis bantalan beton.

B.3   Las Thermit
      Menyediakan thermith untuk pengelasan sambungan termasuk cetakan
      (mould), blander las serta tempat peleburan (curcible) serta Oxy Propano
      untuk pemanasan pendahuluan.

  C. PEKERJAAN PEMBERSIHAN

C.1   Pembersihan Lahan Existing
      Pembersihan lahan meliputi pembongkaran serta pembersihan tumbuh-
      tumbuhan dan puing-puing didalam daerah kerja kecuali benda-benda
      yang telah ditentukan harus tetap di tempatnya atau yang harus
      dipindahkan sesuai dengan spesifikasi.
      Pekerjaan ini juga mencakup perlindungan tumbuhan dan benda-benda
      yang ditentukan harus tetap berada ditempatnya dari kerusakan dan
      cacat.
      Semua obyek yang berada diatas muka tanah dan semua pohon, tonggak,
      kayu lapuk, tunggul, akar, serpihan, tumbuhan lainnya, sampah dan
      rintangan lainnya yang muncul, yang tidak diperuntukkan berda disana
      harus dibersihkan dan atau dibongkar dan dibuang bila perlu.
      Menyediakan alat-alat ukur sepanjang masa pelaksanaan berikut ahli ukur
      yang berpengalaman dan setiap kali apabila dianggap perlu sipa untuk
      mengadakan pengukuran ulang.

  D. PEKERJAAN REHABILITASI TRACK

D.1   Bongkar Muat dan Ecer Rel R.42
      Alat angkut gerbong datar (PPCW) disediakan oleh Direksi PT. Kereta Api.
      Muat dan pengikatan menjadi tanggung jawab Penerima Tugas dan dalam
      pelaksanaan berkoordinasi dengan Dinas terkait.
      Dalam perjalanan pengiriman Penerima Tugas wajib menyertakan tenaga
      pengawalan untuk keamanan angkutan. Pembongkaran dan penurunan rel
      dari atas gerbong datar (PPCW) dilaksanakan tiap batang dan tidak boleh
      cacat.
      Dalam pelaksanaan tidak boleh mengganggu perjalanan Kereta Api /
      mengutamakan keselamatan operasional Kereta Api, pada saat
      pembongkaran rel harus koordinasi dengan Dinas terkait.
      Kontraktor segera mengamankan posisi / letak rel setelah turun dari
      gerbong datar (PPCW) dari perjalanan Kereta Api.

D.2   Compromise Rel R42
      a. Rel peralihan terdiri dari rel R.42 dan rel R..33/R.25 (disesuaikan
         dengan kebutuhan dilapangan).
      b. Panjang minimal rel peralihan adalah 4m.
      c. Sebelum pengelasan bersihkan permukaan rel yang akan di las dengan
         sikat kawat atau material lainnya, untuk menghindari terjadinya
         sambungan yang kurang sempurna.
      d. Alignemen vertical harizontal maksimum 1 mm untuk mistar ukuran 1
         m.
      e. Sambung kedua batang rel menggunakan sambungan las elektroda.
      f. Penggurindaan dilakukan pada permukaan rel sehingga kepala bila
         diukur dengan rel panjang 1 m tidak terjadi penyimpangan (simetris)
         Periksa kembali aligmen rel baik vertical maupun horizontal

D.3   Bongkar Track Existing
      Sebelum rel eksisting dibongkar tentunya ballast kricak yang telah dikirim
      sudah diecer dilokasi pekerjaan, pada saat pengukuran telah dipasang
      patok untuk menyimpan elevasi kop rel existing dan rencana. Sebelumnya
      pula kita pasang dulu patok – patok untuk menyimpan as spoor.
      Pekerjaan penggantian rel dan bantalan dilaksanakan secara manual,
      dimana artinya adalah pelaksanaan pekerjaan ini hanya menggunakan
      peralatan berupa linggis, pipa gol, kunci pembalik rel, k. last plat, k.
      terefon, k. inggris, bodem, rolles, dongkrak pal, pen puller, cangkul, skop,
      ganco, pengki, garuk, ayakan ballast, lori, mesin HTT, mesin potong,
      mesin bor rel, mesin bor kayu, genset dan HT dan pelaksanaannya
      dikerjakan dengan tenaga yang berpengalaman di bidangnya.

D.4   Memasukkan Ballas Baru
      Sebelum ballas diecer terlebih dahulu diopname kebutuhan ballas tiap-tiap
      piket. Ballas batu pecah yang sudah tercecer dilintas dimasukkan kedalam
      spoor secara teratur dan rata bantalan bagian atas. Dalam pekerjaan
      finishing ballas batu pecah, profil sesuai dengan gambar rencana
D.5   Ecer Bantalan Beton
      Bantalan beton yang telah didatangkan ke lokasi pekerjaan dan telah
      disetujui oleh Pemberi Tugas dengan menggunakan kendaraan angkutan
      berat diturunkan dengan hati-hati dan disusun/ditumpuk pada lokasi yang
      aman dan tidak membahayakan perjalanan KA, selanjutnya bantalan
      beton tersebut diecer kelokasi, penggantian bantalan dengan mengikuti
      petunjuk dari gambar kerja. Adapun pengeceran bantalan ditaruh didekat
      dengan lokasi bantalan yang akan diganti tetapi tidak menganggu
      pekerjaan bongkaran bantalan dan kelancaran perjalanan Kereta Api.

D.6   Memasang Track Bantalan Beton dan Rel R42
        1) menyiapkan alat kerja sesuai kebutuhan dalam mengganti rel dan
            bantalan lama (exiting) dengan rel R. 42 bantalan beton (checklist
            alat kerja sebelum bekerja).
        2) Menentukan panjang spur yang akan diganti disesuaikan dengan
            tenaga kerja yang tersedia sehingga pelaksanaan pekerjaan dapat
            selesai tepat waktu dan tidak menggangu perjalanan KA.
        3) Memotong rel yang akan diganti dengan gergaji rel termasuk
            pasang plat sambung.
        4) Menyiapkan rel peralihan (disesuaikan dengan kebutuhan di
            lapangan).
        5) Rel R. 42 dan bantalan beton disiapkan di lintas pada lokasi yang
            telah ditetapkan.
        6) Mengorek ballas pada ujung-ujung bantalan untuk memudahkan
            mengeluarkan bantalan lama.
        7) Menggeser rel lama beserta bantalan keluar spoor sehingga
            bebas.
        8) Meratakan ballas bekas rel lama
        9) Menggelar bantalan beton dengan jarak / spasing 0,60 m
            sepanjang rel yang dibongkar.
        10) Memberi nomor awal dan akhir bantalan beton yang terpasang
            pada tian piket serta pada kelipatan 25 untuk mempermudah
            pengecekan.
        11) Menyetel spoor rel R. 42 diletakkan di atas bantalan beton dan
            dipasang fastening/alat penambat serta dikencangkan.
        12) Celah siar rel pada tiap sambungan rel haru sudah diukur
            sedemikian rupa hingga memudahkan untuk pekerjaan
            selanjutnya (pengelasan).
        13) Merucat rel lama, bekas dan menyusun di tempat yang aman dan
            mudah untuk selanjutnya diangkut ke emplasemen yang
            ditetapkan.
        14) Mengejakan angkat listring sampai dengan kecepatan 5 km/jam.
D.7   Angkat Lestreng dengan HTT Kec. 20-40 km/jam
      a.      Pada jalan lurus
      Sebelum pekerjaan angkatan / listrengan dimulai, peralatan kerja harus
      sudah siap di tempat, tenaga kerja lengkap sesuai dengan petunjuk
      Direksi, yaitu posisi 1 mandor + 8 pekerja. Terlebih dahulu adakan
      angkatan sesuai dengan daftar angkatan yang sudah ditentukan pada tiap
      titiknya dengan mempergunakan 2 (dua) dongkrak angkatan. Ballas
      dibawah bantalan dipadatkan dan ditamping merata sepanjang bantalan.
      Setelah ditamping merata melaksanakan lestrengan hingga jalan terlihat
      lurus dan simetris. Angkatan harus dengan timbangan Matisa atau sejenis.
      Timbangan tiap 3 m spoor harus 0 (nol). Pasang semboyan yang jelas dan
      jarak semboyan (R.3)

      b.      Pada jalan lengkung
      Sebelum pekerjaan angkatan / peninggian pada lengkung dilaksanakan
      terlebih dahulu rel dalam di nol-kan (waterpass), sepanjang lengkung
      sesuai hasil pengukuran. Kemudian angkatan pada rel luar dengan
      peningkatan dari nol hingga peninggian yang diijinkan (dalam lengkung
      peralihan) dan selanjutnya pada lengkung asli.
      Angkatan dilaksanakan serentak antara rel dalam dan rel luar setiap titik
      dengan menggunakan dua buah dongkrak, dipadatkan dan ditamping.
      Setelah itu adakan lestrengan dengan memperhatikan geseran anak
      panah yang berlaku pada lengkung tersebut. Dalam pelaksanaan
      pekerjaan dijalan lengkung harus memperhatikan adanya p elebaran
      spoor. Dalam pelaksanaan angkatan / lestrengan baik dijalan lurus
      maupun dijalan lengkung mulai dan sesudah pelaksanaan keadaan
      bantalan hasus selalu siku/tegak lurus terhadap rel dan alat penambat
      dalam keadaan kencang.
      Finishing dari pekerjaan ini keadaan ballas harus rapi dan membentuk
      profil serta selalu siap dilalui Kereta Api dengan aman. Pelaksanaan
      pekerjaan angkatan / lestrengan harus dibawah pengawasan dan
      persetujuan Direksi.

D.8   Tamping dan Angkat          Listring Menyeluruh dengan sampai
      mencapai Kec. Rencana

      Sebelum diangkat harus dicari titik tinggi dengan pesawat datar /
      waterpas. MTT dilengkapi dengan pesawat HT dan telepon ladang. Satu
      minggu sebelum mesin MTT, PBR dan VDM dioperasikan harus sudah
      dicek semua peralatan dan dicoba sehingga siap operasi. Untuk mendapat
      hasil MTT yang akurat MTT tersebut bila diperlukan dikalibrasi. PBR
      dioperasikan dibelakang MTT dan VDM dioperasikan dibelakang PBR.
      Pekerjaan ini dilaksanakan sebagai pekerjaan angkatan dan listringan
      terakhir dengan menggunakan MTT 3x, PBR 1x dan VDM 1x, sampai aman
      dilalui Kereta Api hingga kecepatan yang ditentukan. Semua pelaksanaan
      pekerjaan ini dalam pengawasan Direksi lapangan. Pemberesan pekerjaan
      ini keadaan ballas rapi sesuai profil.

D.9   Pasang Bantalan Kayu Wesel 18x22x400 Termasuk Alat Penambat
      a. Bantalan harus dari kayu rimba klas I kualitas A, Ukuran 18 x 22 x 180
         cm, untuk bantalan kayu jembatan dan ukuran 13 x 22 x 200 bantalan
         kayu dilintas jalan rel dengan toleransi ukuran adalah:
                    1 cm               2 cm                 4 cm
         TEBAL =             LEBAR            PANJANG 
                    - 0 cm             - 1 cm                - 2 cm
      b. Bahan untuk pembuatan bantalan harus dari kayu yang sudah tua dan
         kering anginan (Ulin, merbau, bangkiraiatau kayu lara)
      c. Bantalan harus dari kayu yang sah/legal (dibuktikan dengan surat-
         surat) serta setiap bantalan harus distempel oleh perusahaannya.
      d. Semua bantalan sebelum diserahkan harus di uji mutunya di-kir
         terlebih dahulu oleh Tim pengiji bantalan yang terbentuk oleh
         pengguna jasa.
      e. Pengujian bantalan dapat dilaksanakan di luar dari tempat pekerjaan
         atas permintaan penyedia jasa dan seluruh biaya harus ditanggung
         oleh penyedia jasa.
      f. Penyedia jasa harus menyediakan tenaga dan peralatan untuk
         pengujian bantalan tersebut.
      g. Bantalan yang sudah dinyatakan baik oleh Tim penguji akan diberi
         tanda /stempel.
      h. Bantalan yang dinyatakan aktif oleh Tim penguji harus segera di
         singkirkan dari tempat pengujian.
      Pengangkutan bantalan yang dinyatakan baik oleh Tim penguji ke tempat
      pekerjaan dapat dilakukan menggunakan angkutan KA atau truk umum

D10   Pasang Plat Sambung Berikut Baut dan Bor
      Plat sambung lengkap dengan baut sambung disediakan oleh Penerima
      Tugas termasuk angkutan sampai di lokasi pekerjaan.

D11   Pengelasan Thermit
      a. Penyiapan rel
      Membersihkan permukaan rel yang akan dilas dari karat, sisik atau
      material lain. Jarak antara rel (celah) pada sambungan rel 22-25 mm.
      alignemen vertikal horisontal maksimum 1 mm untuk mistar ukur 1 m’.

      b. Persiapan cetakan (mould) dan tempat peleburan
      Memasang penjepit cetakan pada rel yang ditambat kaku, kemudian setel
      cetakan (mould) yang baik pada sisi-sisi rel maupun bagian bawah rel.
      Penutup sambungan antara cetakan dengan rel dipakai bahan pasta
      (bahan khusus) sedalam 25 mm dikelilingi sambungan.
      Membersihkan dahulu tempat peleburan (curcible) dan periksa retakan-
      retakan halus pada tempat peleburan,jika ada harus diperbaiki. Pasang
      tempat peleburan dan diatur lubang pengeluaran tepat diatas cetakan dan
      dapat berputar 180º. Kemudian masukkan bahan peleburan pada curcible
      dan pasang penutup pada peleburan.

      c. Pemanasan pendahuluan (preheating)
      Pemanasan pendahuluan dapat dipakai dengan Oxy Propano, brandernya
      ditempatkan pada mould. Semburan dari pemanasan dilaksanakan
      semburan warna nyala api biru yang lancar. Pemanasan pendahuluan
      dilaksanakan 4 – 5 menit.

      d. Pelaksanaan Pengelasan
      Posisi lubang tempat peleburan ditempatkan tepat pada cetakan (mould)
      dan nyalakan penyulut. Setelah cairan logam mulai mengalir pada cetakan
      (mould) dan sampai pada cairan logam membeku (± 30 detik) segera
      disingkirkan curcible. Pembongkaran cetakan dilaksanakan striping pada
      kepala rel sesudah dilas. Penggurindaan dilakukan pada permukaan rel
      sehingga kepala rel bila diukur dengan panjang 1 m tidak terjadi
      penyimpangan.

      e. Perapihan kembali
      Tempatkan kembali rel pada bantalan dan tambatkan kembali pengikat-
      pengikat rel. Periksa alignemen rel baik vertikal maupun horisontal.
      Kereta Api tidak boleh lewat sebelum rel mendingin sampai 37,5º C.
      sebagai finishing pekerjaan pengelasan akan diadakan pengetesan dengan
      ultrasonic yang akan ditunjuk oleh Direksi. Setiap titik las diberi nomor
      urut dari awal sampai akhir pada kaki rel kanan dan kiri.

D12 Angkat Wesel 3 Tahap
    a. Sebelum pekerjaan angkatan/lestrengan dimulai lakukan koordinasi
       dengan dinas terkait, peralatan kerja harus sudah siap ditempat,
       tenaga kerja lengkap sesuai petunjuk Direksi, yaitu posisi 1 (satu)
       mandor + 8 (delapan) pekerja.
    b. Pelaksanaan pekerjaan angkatan/lestrengan harus dibawah
       pengawasan dan persetujuan direksi.
    c. Sebelum angkatan/peninggian pada wessel, terlebih dahulu
       menentukan titik angkatan wessel dengan waterpass.
    d. Lakukan angkatan sesuai dengan daftar angkatan yang sudah
       ditentukan pada tiap titiknya dengan mempergunakan dongkrak
       angkatan secukupnya secara bersama. Angkatan dilaksanakan
       secara serentak.
    e. Ballas di bawah bantalan dipadatkan dan ditamping merata sepanjang
       bantalan.
      f. Setelah ditamping merata, lakukan listritingan sehingga wessel terlihat
         lurus dan simetris dengan track di luar wessel. Angkatan harus
         menggunakan timbangan matisa/sejenis.
      g. Timbangan tiap 3 m spoor harus 0 (nol) atau tidak siku.
      h. Pasangan semboyan yang jelas dan jarak semboyan (R.3)
      i. Finishing dari pekerjaan ini keadaan ballas harus rapi dan membentuk
         profil, serta selalu siap dilalui Kereta Api dengan aman.

D14 Langsir Bantalan Bekas Dari Lokasi
    a. Bantalan besi/kayu, alat apenambat dan rel bekas bongkaran yang
       ada dilintas di angkut ke emplasemen terdekat dengan persetujuan
       direksi dan dinas terkait.
    b. Penempatan diemplamen disusun dengan rapi dan aman.
    c. Pengangkutan dari lintas ke emplasemen tidak menganggu
       Operasional Kereta Api dan lalu lintas umum.
    d. Lakukan koordinasi dengan pihak dinas dan menyiapkan lokasi
       penimbunan rel bekas bongkaran di emplasemen terdekat.
    e. Siapkan peralatan yang dibutuhkan, untuk kelancaran pengangkutan
       material bekas dari lintas ke lokasi yang telah disiapkan.
    f. Peralatan yang dibutuhkan , alat komunikasi (HTT), rel trolly dan tang
       rel.
    g. Pengangkutan dari lintas ke emplasemen tidak mengganggu
       operasional Kereta Api dan lalu lintas umum.
    h. Lakukan pengangkutan dan pembongkaran rel secara cepat dan
       memperhatikan waktu/window time yang telah ditentukan.
    i. Penempatan di emplasemen disusun dengan rapi dan aman.

D15 Pembuatan Spur Badug

PEKERJAAN SIPIL
E.1. PEKERJAAN ROAD BED

E.1   Pekerjaan Sub Ballast
      Pekerjaan sub ballas dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dan gambar
      kerja yang ada.

E.2. PEKERJAAN RIGID

E.2.1 Lean Concrette 5 Cm
      Lean Concrete dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dan gambar kerja
      yang ada.
E.2.2 Beton Rigid K-400 t=25 cm
       Proses Pelaksanaan Pengecoran Slab Beton
      1. Beton ready mix yang berasal dari truk mixer dituang ke dalam kotak
      (mal) yang telah
      disiapkan lalu diratakan secara manual kemudian selanjutnya diratakan
      dan diadakan
      dengan menggunakan vibrating screed yang sistem operasinya bergerak
      di atas mal
      memanjang (sepanjang mal memanjang) yang ditarik dengan tenaga
      manusia bolak
      balik sebanyak 4 lintasan. Proses perataan dan pemadatan terjadi karena
      alat vibrating
      screed tersebut selain meratakan juga bergetar sehingga terjadi
      pemadatan sedangkan
      pada bagian ujung (dekat) mal, pemadatan dibantu dengan menggunakan
      vibrator beton
      Kotak yang pertama dicor kemudian pengecoran dilanjutkan pada kotak
      yang ketiga
      (satu kotak di antaranya kosong)
      Setelah slab beton selesai dipadatkan oleh vibrating screed maka pelat
      beton tersebut
      ditutupi dengan atap plastik untuk menghindari sinar matahari secara
      langsung yang
      dapat membuat beton mengering tidak secara alamiah juga untuk
      mencegah terjadinya
      retak rambut.
      Pembuatan alur (grooving) dilakukan secara manual setelah beton dalam
      keadaan
      setengah mengeras 3 - 4 jam sesudah pengecoran
      Pada hari kedua setelah pengecoran selesai, dilakukan proses curing
      dengan menggelar
      karung goni di atas plat beton dan disiram dengan air 3 kali sehari selama
      seminggu
      Pada hari ketiga setelah pengecoran maka mal (bekesting) samping
      dibuka dilanjutkan
      dengan pemasangan mal memanjang (samping) tanpa memasang mal
      melintang karena
      pelat beton yang sudah dicor berfungsi sebagai mal melintang.
      Setelah mal memanjang selesai dipasang dilanjutkan dengan menggelar/
      memasang
      plastik di atas SUB BALLAST yang juga dilekatkan pada mal memanjang.
      Kemudian sebagai pemisah antara dua pelat beton (yang sudah dicor
      dengan hendak
      dicor) dilekatkan gabus (styro foam) dengan tebal 0,5 cm untuk
      membentuk deletasi
      (celah) untuk muai dan susut plat beton.
      Demikianlah sistem pengecoran tersebut dilakukan pada satu sisi jalan
      dengan lebar 4,0
      m dan diselesaikan sesuai dengan panjang rencana jalan itu.
       Setelah pengecoran pada sisi kiri selesai sesuai dengan panjang jalan
      rencana,
      pemasangan mal (bekesting) pada sisi kanan jalan tersebut dilakukan lagi.
      Hanya saja
      mal memanjang pada salah satu sisi sudah tidak diperlukan lagi karena
      sudah ada pelat
      beton yang telah dicor. Pengecoran dilanjutkan dengan memakai sistem
      yang sama
      hanya pada sisi memanjang plat beton yang sudah dicor diletakkan di
      atasnya besi siku
      L 40.40.4 sebagai landasan/rel vibrating screed ketika ditarik dan
      bergerak dari ujung
      satu ke ujung lain dengan maksud agar tidak terjadi kerusakan pada
      permukaan pelat
      beton yang sudah dicor.
       Kemudian pada saat pengecoran akan dilakukan, disisipkan/dilekatkan
      gabus (styro
      foam) di antara kedua pelat beton (antara pelat beton lama dan yang
      baru yang akan
      dicor) pada sisi/sambungan memanjang agar tidak terjadi lekatan dan
      membuat dilatasi(celah) untuk muai susut pelat beton. Demikianlah
      proses pengecoran tersebut
      dilakukan.

E.2.3 Pekerjaan Sub Ballast Dibawah Rigid
      Pekerjaan sub ballas dikerjakan sesuai dengan spesifikasi dan gambar
      kerja yang ada.

                                                    Cirebon, 6 April 2009
                                                    PT. Mutiara Menggala




                                                    Eny Mutia
                                                    Direktur Utama

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1902
posted:9/28/2010
language:Indonesian
pages:12