Docstoc

mengawasi tetangga

Document Sample
mengawasi tetangga Powered By Docstoc
					Mengawasi tetangga Economic Faculty, 2nd Floor,Jl. Teknika Utara, Bulaksumur,Yogyakarta 55281 Universitas Gajah Mada Universitas Sumatra Utara Kredit Bangg Duh…pagi ini begitu bising, deru-deru kendaraan menambah keramaian kota. Cerminan kota yang kian bertambah penduduknya.ramai.ribut. dan entahlah apalagi namanya untuk menggambarkan sebuah kota yang hampir mendapat predikat metropolitan…itulah kota tempat tinggalku meski belum ada kemacetan disana-sini tapi sudah menampakkan wajah garang sebuah kota. Seperti biasa, menggunakan motor berangkat menuju aktivitas yang menyibukkan. Tinggal seorang diri memang tak kan ada yang membebani kecuali kebutuhan diri sendiri. Egoiskah? Terserahlah? Yang jelas aku senang menjalani hidup sendiri. Melintasi jalan-jalan yang ku lalui setiap hari ke tempat kerjaku, agak membosankan memang! Tapi sudahlah, siapa yang peduli. Semua pekerjaan dan tata kota di serahkan sepenuhnya pada pemerintah, bukan? Sampai juga di tempat kerja, tugasku disini menjadi kasir sebuah dialer motor merk terkenal. Mendapat kepercayaan menyimpan uang selama jam kerja bukan hal mudah yang mampu dilakukan oleh setiap atasan terhadap bawahannya. Dan sungguh beruntung, sebab aku lah salah satu orang yang mendapat kepercayaan itu. Pertama melamar di tempat ini, bukan suatu kesukaran.kenapa? karena sang atasan menawarkan jabatan itu seketika, ada yang aneh dari sikapnya. Tapi tidak ku gubris toh aku juga belum mengenalnya! Tak di pungkiri, modalku tak main-main. Tubuh tinggi semampai, kulit kuning langsat bersih, wajah cantik dan penampilan menarik dengan rambut indah tergerai sebahu. Hanya saja untuk mendapat pekerjaan yang lebih tinggi aku tak memiliki kemampuan, dan untuk meraih pekerjaan yang yang lebih rendah pun sangat mudah. Tapi bermimpi menjadi orang yang setiap saat dibicarakan kejelekannya karena meniduri banyak pria bukanlah impianku. tak ada salahnya berusaha menjadi lebih berharga, setidaknya di mata orang-orang yang menganggapku ada. Pergi pagi, pulang malam. melelahkan. belum lagi tatapan para tetanggaku yang kian tajam menyoroti wanita lajang yang tinggal sendirian. Sudahlah, siapa peduli! Aku sudah cukup sibuk dengan urusanku sendiri. tapi tunggu dulu, ada yang selalu mengawasiku dari balik jendela kamarnya ketika akan berangkat kerja dan pulang malam.siapa dia? Apakah dia ingin mengenalku? Aku tak pernah peduli dengan kata-kata panas dan sorotan tajam dari tetangga-tetanggaku, tapi mengawasi setiap gerak-gerik dan tingkah lakuku aku tak suka. setahuku tetanggaku itu tak pernah berbaur dengan masyarakat lainnya. Ia hanya mengurung diri di rumah.ah…memusingkan saja. Malam ini, sedikit berbeda dengan malam sebelumnya.hujan deras menyelimuti kota disertai gelegar guntur bersahutan, pulang dengan kelelahan yang seharian bergulat dengan hitungan nominal uang. Mesin motor masih menyala sebelum ku masukkan ke dalam rumah, sekitas ku tatap rumah tetangga misteriusku. Yah…tetangga miterius begitulah aku menyebutnya. Aneh, tak seperti biasanya. Tak ada lagi yang mengawasi, syukurlah kalau dia sadar ternyata mengawasi seseorang adalah pekerjaan yang melelahkan dan tak bermanfaat. Mengunci pintu lalu mulai membersihkan diri yang basah karena terpaan hujan. Ada dahaga yang kekeringan, kupenuhi saja dahaga itu dengan tegukan air. Berjalan ke dapur mencari sesuatu yang bisa menghilangkan rasa haus. Puas rasanya memenuhi kehendak tubuh.

Aku membalikkan badan.ah…terperanjat aku melihat sosok yang tiba-tiba hadir di hadapanku, dari mana datangnya? Lewat manakah ia masuk? Mengapa aku tak menyadari keberadaannya? Teriak, ya berteriak itu saja yang mampu terlintas di pikiranku saat ini. Ternyata terlambat, ia membekap mulutku nafasku terus berburu dengan detak jantung yang semakin kencang. Aku tak bisa melihat wajahnya, tertutup dengan topeng hitam. Apa yang dia inginkan dariku? Harta? Atau jangan-jangan ingin mengoyak keperawananku. Tak akan ku biarkan. Aku meronta. Tanganku masih memegang gelas, ku hantamkan tepat ke pelipisnya. Darah segar mengucur, dia mengaduh.aku berlari mencari jalan keluar. pintu. dia terus mengejar, tak mau melepasku, pintu belum terbuka. Tuhan…beri aku jalan keluar! Dia berhasil mendekap tubuhku, teriakkanku sia-sia hanya tertelan oleh derasnya hujan. Dia menggotongku ke kamar, melemparkan tubuhku di tempat tidur, dia menindihku merobek bajuku, aku tak bisa berteriak lagi suaraku hilang. Mencakari tubuhnya hanya itu yang mampu ku lakukan. Mataku panas, basah dan menangis. Tampak ekspresi wajahnya kaget, panik, dan kebingngan. Kenapa? Bukankah sedetik lagi ia akan mendapatkan keperawananku? Ada apa dengannya? Berlahan ia membuka penutup wajahnya. Aku terperangah dan mulai berteriak lagi, ia bertambah panik dan bingung. Ia menamparku sampai pingsan, darah mengucur dari bibirku, tubuhku terkulai tak berdaya. Ia menggotongku lagi, darah tercecer dimana-mana, dia mengambil tali tambang mengikatnya di langit-langit dan menggantung leherku disana. Lepaslah ruh dari jasadnya, tak ada tangisan, rintihan, apalagi teriakan. Adzan subuh pergi bersama redanya hujan. Meninggalkan tubuhku yang tergantung di langit-langit dapur. Deru mesin motor masih menyala menyisakan kisah semalam. Esoknya, tak ada lagi wanita lajang yang tinggal sendirian dirumahnya, tak ada lagi wanita lajang yang bertubuh molek yang tiap pagi berangkat ke tempat kerjanya, tak ada lagi pegawai dialer motor merk terkenal yang cantik. tak ada lagi… Tak ada yang tahu apa motif pembunuhan itu, bahkan aku sendiri yang terbunuhpun belum sempat mengetahuinya. Yang ku tahu hanya pelaku yang tega menghabisi nyawaku dan kini aku sendiri tak mampu mengatakannya pada siapapun. Mulutku sudah kaku dan sekujur tubuhku telah dingin, pakaian semalam belum ku ganti yang kini bersimbah darah dan bagian depannya terkoyak, Rumahku telah ramai oleh petugas kepolisian entah tubuhku mau di bawa kemana. Tubuhku di masukkan ke dalam kantung yang berwarna orange menyala. Selanjutnya urusan bapak-bapak polisi itu, semoga mereka mampu menemukan orang yang memperkosaku tidak tapi malah membunuhku. Kriminalitas kota semakin bertambah sadis, kota ini yang dulunya bersih tanpa bentuk kekerasan kini telah menunjukkan betapa kekerasan dan kriminal itu wajar untuk membuktikan betapa kota itu akan terkenal dengan keganasan bentuk pelecehan, pemerkosaan, dan pembunuhan. Bukan hanya aku saja, sudah terlalu banyak korban yang mungkin tak dapat diidentifikasi lagi. Sekali lagi siapa yang peduli? Polisi? Jika tak ada kriminal? Apa yang mampu mereka lakukan? Kota…tak jauh dari kebisingan, kemacetan dan polusi. Itulah gambaran kota, kota tak berseni tanpa warna kriminal dan kekerasan yang menyarang. Aku adalah korban dan akan ada korban yang lainnya menanti, hanya waktu yang akan menentukan dengan kasus dan motif berbeda dan pelaku pembunuhanku? Mungkin hanya termuat di media-media cetak, entahlah…setahun, dua tahun, atau bahkan tak akan pernah terkuak. Tenggelam bersama tuanya usia dunia.


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:184
posted:4/22/2009
language:Indonesian
pages:2