Docstoc

penelitian dan riset

Document Sample
penelitian dan riset Powered By Docstoc
					Penelitian dan riset Economic Faculty, 2nd Floor,Jl. Teknika Utara, Bulaksumur,Yogyakarta 55281 Unibersitas Gajah Mada Apa yang anda bayangkan ketika mendengarkan kata ―riset‖ (research, dalam bahasa Inggrisnya)?. Apakah anda membayangkan angket, ilmuwan-ilmuwan, laboratorium, atau berbagai atribut ―ilmiah‖ lainnya?. Apakah anda membayangkan bahwa kata itu adalah milik orang-orang dengan tipikal tertentu dan hanya mereka yang bisa melakukannya? Percayakah anda bahwa kita semua lahir sebagai pe-riset (researcher)?. YA, kita semua lahir sebagai researcher. Bayi kecil yang lahir ke dunia, yang mencoba memahami segala sesuatu, mengeksplorasi, memiliki keingintahuan tinggi adalah para researcher. Anak kecil yang ketika dilarang untuk memegang sesuatu tapi malah dengan keingitahuannya berusaha memegang, sebenarnya mencerminkan suatu curiositas yang ada dalam diri researcher. Researcher, adalah orang yang selalu melakukan pencarian (lihat akar katanya ―search‖; ―Re-search‖ berarti melakukan pencarian lagi dan lagi[2]). Researcher tidak menerima begitu saja suatu temuan sebagai penjelasan tunggal, tapi terus menguji dan menguji penjelasan itu, sehingga dalam suatu fenomena bisa muncul berbagai penjelasan. Researcher sejati, percaya bahwa realitas bukan sebuah dimensi tunggal, realitas merupakan ruang multidimensi, sehingga memungkinkan muncul berbagai penjelasan, tak ada satu penjelasanpun yang bisa dianggap sebagai kebenaran final. Penjelasan realitas yang sudah difinalkan, berimplikasi untuk berubah menjadi ideologi. Banyak saintis atau orang yang mengaku peneliti, menempatkan sebuah penjelasan itu dalam suatu finalitas kebenaran, sehingga saintisme-nya pun berubah menjadi ideologi. Ideologi adalah sebuah sistem kepercayaan yang dibuat –ide palsu atau kesadaran palsu—yang bisa dipertentangkan dengan pengetahuan ilmiah. Ideologi dalam pengertian ini adalah seperangkat ketagori yang dibuat dan kesadaran palsu di mana kelompok yang berkuasa atau dominan menggunakannya untuk mendominasi kelompok lain[3] dengan menggunakan perangkat ideologi yang disebarkan ke dalam masyarakat, akan membuat kelompok yang didominasi melihat hubungan itu tampak natural, dan diterima sebagai kebenaran[4]. Ideologi juga bisa dipahami sebagai proses umum produksi makna dan ide. Ideologi di sini adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan produksi makna[5]. Dalam konsepsi Marx, ideologi adalah sebentuk kesadaran palsu. Kesadaran seseorang, siapa mereka, dan bagaimana mereka menghubungkan dirinya dengan masyarakat dibentuk dan diproduksi oleh masyarakat, tidak bersifat alamiah dari dalam diri. Kesadaran kita tentang realitas sosial ditentukan oleh masyarakat, tidak oleh proses psikologis yang ada pada diri individu[6]. Nah, di sinilah kemudian muncul stereortipe mengenai riset dan kecenderungan untuk menjadikan riset sebagai aktivitas dengan pola yang itu-itu saja. Dalam sejumlah disiplin ilmu, riset kerapkali dipahami secara terbatas dan tipikal pada pola yang ituitu saja. Implikasinya, ketika orang mendengar kata ―riset‖ lantas terbayang stereotype tertentu. Lebih parah lagi, pada kelompok orang tertentu, stereotype ini justru menjadi momok. Tak terhitung berapa mahasiswa yang gagal memperoleh gelar, karena ada ketakutan, ketakyakinan, trauma, atau merasa terlalu bodoh[7] untuk melakukan riset bagi skripsi, tesis atau disertasinya. Kondisi ini lantas dimanfaatkan oleh sejumlah orang, mulai dari munculnya joki, peluang bagi sejumlah dosen pembimbing yang sok tahu, hingga dosen penguji yang berlagak killer. LIPI beberapa waktu yang lalu bahkan sempat kekurangan kader periset muda.

Mencermati fenomena ini, tentu sungguh menggelikan jika disadari bahwa ketika masih kecil, kita semua adalah researcher. Beranjak dari premis ini, mestinya semua persoalan itu tak akan muncul. Lantas mengapa kemudian banyak orang justru menjadi naif dalam research? Ini karena kita masuk dalam ―budaya sekolah‖. Dalam budaya sekolah, kita cenderung diajarkan untuk berpikir liniear dan konvergen. Hanya ada satu jawaban benar untuk setiap pertanyaan. Dari pengalaman saya sekolah, ketika ditanya ―Siapa Bapak Pembangunan Kita?‖, jawabannya cuma satu, ―Bapak Soeharto‖. Jelas akan disalahkan jika saya menjawab ―Pramoedya Ananta Toer‖ misalnya. Padahal refleksi terhadap pembangunan dalam realitas, bisa jadi berbeda antara satu orang dengan orang lain. Pada poin-poin inilah kreativitas dan curiositas mati. Lalu, matilah pula spirit riset dalam diri kita. Pembunuhan ini berlanjut terus hingga ke jenjang perguruan tinggi. Ketika pertama kali seorang mahasiswa membawa tema skripsi yang menjadi curiosity-nya ke depan dosen, maka umumnya mereka langsung didudukkan sebagai pihak yang tidak tahu dan dosen sebagai pihak yang tahu. Lantas, ―pembagian peran‖ inipun diinternalisasi begitu saja oleh si mahasiswa, sehingga timbul adiksi pada di dosen. Mirip anak ayam yang butuh induknya. Padahal riset sendiri, tak seperti dalam stereotipe banyak orang. Seperti saya jelaskan dengan analogi kita di waktu kecil, banyak cara melakukan riset. Dan ketika kita berhadapan dengan sebuah permasalahan riset, tak ada orang yang lebih tahu dibanding kita yang merasakan langsung. Tak juga dosen. Di sini sebenarnya dosen pembimbing fungsinya tak lebih dari rekan diskusi. (kecuali jika si dosen turut ke lapangan, dan terjun bersama-sama si penulis skripsi). Tak ada yang lebih berharga bagi seorang researcher selain temuan dan elaborasi temuan-temuan itu demi munculnya suatu penjelasan, dan hal ini mutlak tanggung jawab si peneliti. Itu sebabnya dia sendiri jugalah yang mempertanggungjawabkan hasil penelitiannya di forum apapun di mana penelitian itu dibawakan. Sayang keberhargaan ini tertutup oleh stereotipe-stereotipe riset seperti telah saya sebutkan di atas. Stereotipe-stereotipe inipun berkontribusi membuat riset hanya terpaku pada pemahaman yang sempit. Dalam psikologi misalnya, kerap orang hanya diajarkan tipe riset yang itu-itu saja. Deskriptif, inferensial, studi kasus (yang juga kerap diterapkan hanya dengan cara melakukan serangkaian tes), atau dengan istilah kuantitatif, kualitatif yang bentuknya ya itu-itu saja. Parahnya, saya mendengar di salah satu fakultas psikologi ternama di Surabaya, kalau bentuk riset untuk skripsi (terutama format laporannya) akan dibakukan. Wah…wah sungguh suatu pembodohan dan mengaburkan dari esensi riste yang sesungguhnya. Padahal ada begitu banyak tipe riset, saya sebut beberapa di antaranya adalah: grounded theory, etnografi, etnometodologi, dramaturgi, fenomenologi, life history, analisis isi, analisis semiotik, analisis wacana, analisis framing, interaksionisme simbolik, dan banyak lagi. Itu belum terhitung kemungkinan kombinasi dari apa yang sudah saya sebutkan, atau derivat dari tipe-tipe tersebut. Varian-varian riset itu tak selalu bisa disajikan dalam sebuah penetapan format tunggal yang dibakukan. Yah, pembakuan format ini juga contoh bagaimana riset direduksi dalam stereotipikal tertentu. Sampai titik ini, anda mungkin telah tahu apa itu riset (semoga!!). Riset atau Re-search adalah sebentuk pencarian yang sebenarnya berangkat dari hakikat yang sangat manusiawi, yaitu keingintahuan. Implikasinya, dalam riset, sebenarnya tak ada benar-salah; yang ada hanya argumentasi atas apa yang diketahui. Argumentasi setelah menemukan sesuatu dari sebuah pencarian penjelasan untuk suatu keingintahuan. Sejauh mana sebuah hasil riset bisa dipertahankan? Sejauh tersedia argumentasi yang memadai untuk mempertahankannya. Bagaimana ―penjelasan realitas‖ dari sebuah hasil riset bisa digugurkan? Sejauh ada hasil riset lain yang memiliki kapasitas untuk menggugurkan. Hasil riset tak

bisa dibantah dengan teori, apalagi opini. Ini karena hasil riset bersumber pada penelusuran realitas (yang multi-dimensi itu) oleh researcher. Researcher sejati, juga akan menerima munculnya hasil-hasil riset lain, karena dengan demikian penge-tahu-an akan bertambah dan dia akan tumbuh. Sekarang, apakah anda masih membayangkan riset sebagai sebuah dunia yang hanya dimiliki oleh orang-orang dengan stereotype tertentu? Semoga tidak. Riset adalah bagian dari kehidupan manusia. Manusia yang masih mau mencari dan tak berhenti dalam sebuah finalitas kebenaran. Ada cermatan lain?


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:576
posted:4/22/2009
language:Indonesian
pages:3