penelitian dan perpustakaan

Document Sample
penelitian dan perpustakaan Powered By Docstoc
					Perpustakaan 1. ... Kampus K. K1 Jl. Raya Wates No. 5, Griya Alvita Kali Bayem, Yogyakarta ... Penilitian dan RISET kejahatan meneliti tetangga sendiri, Tuhan Yang Maha Esa telah memberikan kepada kita sesuatu yang sangat berharga, dan pemberian itulah yang membedakan kita dengan makhluk lainnya yang diciptakan kejahatan meneliti tetangga sendiri, yakni apa yang disebut dengan "akal", dengan akal tersebut kita di suruh untuk berpikir. Mencari tahu apa-apa yang ada di atas permukaan bumi ini, menganalisis sesuatu, serta menemukan akar permasalahannya, selanjutnya ditemukan solusi dan alternatif pemecahannya, kemudian diberikan kesimpulan dan beberapa rekomendasi sebagai suatu proses dari rasa keinginan tahuan terhadap suatu persoalan. Koentjaraningrat seorang Antropolog mengatakan bahwa suatu ciri khas manusia adalah bahwa ia selalu ingin tahu; dan setelah itu ia memperoleh pengetahuan tentang sesuatu, maka segera kepuasannya disusul lagi dengan kecendrungan untuk ingin lebih tahu lagi. Begitulah seterusnya, hingga tidak sesaatpun ia sampai pada kepuasan mutlak untuk menerima realitas yang dihadapinya sebagai titik terminasi yang mantap. Sifat keingintahuan tersebut kalau direnung-renung dengan akal sehat, merupakan kodrati manusia, keingintahuan" terhadap sesuatu merupakan sesuatu yang mutlak dilakukannya. Di dalam kehidupan sehari-hari manusia secara langsung sifat tersebut teraplikasi di dalam dirinya. Alam yang terben-tang luas ini merupakan "rahasia" yang perlu dipikirkan dan dikaji oleh kita dan banyak masalah-masalah yang perlu dikaji, baik masalah pendidikan, sosial budaya, sosial ekonomi, dekadensi moral, dan sebagainya. Dari rasa keingintahuan itulah akan menimbulkan budaya meneliti bagi seseorang, apalagi seorang pendidik, dalam hal ini guru. Guru yang baik adalah guru yang mau belajar, mau membaca dan mau mendengar sehingga memiliki kemampuan dan wawasan berpikir ilmiah. Ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan hitungan detik dan menit senantiasa berubah, guru harus mampu mengakselerasikan perubahan tersebut, kalau tidak maka akan terasa kerdilnya kita. Budaya meneliti harus selalu dikembangkan dan diaplikasikan, dengan budaya tersebut, maka kita tahu dan paham dengan berbagai persoalan dan menemukan solusinya, demikian pula akan mampu memberikan suatu kesimpulan dari suatu permasalahan. Mana kita tahu, mengapa nilai belajar anak didik kita merosot, selama ini kita hanya menyalahkan anak didik kita yang malas belajar, kurikulum yang terlalu padat, atau alat evaluasilah yang kurang shahih, atau gurulah yang tidak mampu mengajar, hal-hal tersebut bisa saja dijadikan indikator. Akan tetapi ada halhal mustahak yang tidak kita ketahui, bagaimana untuk mengetahui persoalan yang mustahak itu, harus melalui suatu penelitian. Dengan penelitian itulah kita mengetahui dan memahami akar permasalahan (grassroot), dan dengan demikian akan menjadi suatu rekomendasi yang sangat berharga bagi perkembangan dan kemajuan dunia pendidikan. Selanjutnya bagi pelaksana pendidikan maupun para pengambil keputusan kiranya dapat menjadi bahan pertimbangan untuk terus memacu dan meningkatkan kinerjanya ke depan.

Karena pada kesempatan ini guru berkecimpung dalam dunia pendidikan, maka masalah yang perlu kita teliti tentu menyangkut masalah pendidikan. Selain dari pada itu yang perlu diketahui oleh guru bahwa budaya meneliti itu berguna bagi guru ? Budaya meneliti bagi guru dimulai dari suatu masalah, ketidak sesuaian antara desain dan desollen, antara apa yang ada dengan apa yang akan diharapkan. Akibat ketidaksesuaian tersebutlah menimbulkan permasalahan, dan dari permasalahan tersebut dilakukan kajian, dan dari kajian itu kita menemukan jalan keluarnya. Sebenarnya banyak hal yang dapat menjadi bahan kajian dari guru, jika guru ingin mengembangkan budaya meneliti. Karena guru secara langsung terlibat di dalam proses belajar mengajar, setiap saat guru bertungkuslumus dengan berbagai permasalahan, apakah menyangkut dengan hasil belajar anak, disiplin belajar anak, proses pembelajaran guru, hubungan guru dengan siswa, unjuk rasa para siswa, tata tertib sekolah, tata krama siswa, keterampilan mengajar guru, organisasi siswa, peran orang tua terhadap anak, dan masih banyak persoalan yang dapat dikembang dalam suatu penelitian. Demikian pula persoalan yang ditemukan di luar lingkungan sekolah, seperti kenakalan remaja, tertib berlalu lintas, maraknya narkoba, kebut-kebutan dijalan, prostitusi, judi dan minuman keras, Wanita Tuna Susila, siskamling, tawuran antara pelajaran, dan masih banyak persoalan yang dapat diangkut oleh guru, kalau benar-benar ingin mengembangkan budaya meneliti. Terasa dan sangat dirasakan sekali, sebenarnya budaya meneliti tidak terlepas dari kebiasaan seseorang dalam tulis menulis ilmiah. Guru yang selalu melakukan kegiatan membuat karya ilmiah, maka ini merupakan salah satu pengembangan budaya meneliti. Namun, budaya ini memang kurang diminati para guru, dan guru kurang terbiasa melakukan hal ini, karena mungkin kesibukan mengajar sehingga waktu untuk digunakan menulis dan meneliti kurang tersedia, atau bisa saja ketidaktahuannya bagaimana menulis suatu karya ilmiah, dan mungkin saja menulis karya ilmiah hanya tugas para dosen di perguruan tinggi saja, dan banyak faktor lainnya yang menyebabkan keengganan guru dalam mengembangan budaya menulis atau meneliti. Kalau benar-benar direnungkan, tidak ada kata "tidak bisa" di atas dunia ini, tidak ada kata sukar jika dicoba. Belum dicoba sudah mengatakan tidak bisa dan sukar dilakukan, mana mungkin suatu keinginan akan tercapai. Oleh sebab itu,memang diperlukan motivasi dan proaktif seseorang untuk dapat mengembangkan budaya meneliti. Perlu diketahui kiat-kiat suatu penelitian, perlu banyak membaca, mengamati, dan mengevaluasi, nah inilah yang menjadi modal bagi guru jika ingin mengembangkan budaya meneliti. Bagaimana kita mau perang, jika strategi perang dan senjata yang akan digunakan tidak kita ketahui, demikian pula untuk mengembangkan budaya ini, kita harus memiliki seperti apa yang disebutkan di atas. Ke depan, budaya meneliti akan menjadi suatu kewajiban bagi seorang guru, apalagi berkaitan dengan kenaikan pangkat. Naif rasanya apabila anak didik kita rangsang untuk meneliti karya ilmiah dalam rangka Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR), guru pembimbing sendiri tidak pernah melakukan suatu penulisan atau penelitian. Bagaimana kita bisa memberikan nilai suatu karya ilmiah, kita sendiri belum pernah mencobanya, oleh sebab itu layak kiranya kita para guru sedini mungkin mencoba untuk meluangkan waktu untuk mengembangkan budaya menulis dan meneliti ini, cobalah dengan metode "trial and eror", biarlah pada awalnya penilaian orang belum baik, karena kita selalu bertanya dan belajar terus,

Pengalaman menunjukan, bahwa pada tahap awal, apapun yang kita lakukan dan sangat-sangat dirasakan pasti banyak kelemahan dan kekurangan. Kekurangan itu sangat dimaklumi, namanya orang baru belajar, masih untung mau melakukan dari pada tidak sama sekali. Akan tetapi kita berharap jangan sampai patah arang, hilang motivasi, dan jangan malu bertanya. maka tidak mustahil suatu waktu karya kita akan bermutu, dan akan tetap mengembangkan budaya meneliti ini sampai kapan pun. Semoga.

A. Latar Belakang Perpustakaan merupakan unit yang mempunyai peran strategis dalam mendukung kegiatan pendidikan, termasuk di dalamnya bagi madrasah adalah sebagai salah satu unit penunjang kegiatan pembelajaran. Perpustakaan merupakan pusat dan sumber belajar serta sarana pembelajaran yang mempunyai tugas pokok dalam penyediaan, pengelolaan, dan pelayanan informasi bagi pengguna di lingkungan institusi pendidikan termasuk madrasah-madrasah. (Sulistyo Basuki, 1991) Dengan perannya yang strategis, perpustakaan perlu didukung oleh kemampuan teknik-teknik yang efesien dan efektif dalam penggunaan sarana (layanan) perpustakaan untuk memenuhi informasi yang dibutuhkan oleh pemakainya, karena kemampuan mencari informasi tidak kalah pentingnya dengan informasi itu sendiri. Permasalahannya bahwa ternyata masih banyak siswa yang belum tahu atau bahkan tidak mempunyai pengetahuan dasar teknik penelusuran dan penggunaan perpustakaan yang dibutuhkannya. Mereka belum pernah mengenal pendidikan pemakai perpustakaan (user education), dan metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru-guru pun tidak mengarah kepada penggunaan perpustakaan yang efektif dan efesien. Permasalahan ini sekarang menjadi bertambah berat dengan adanya perkembangan pengetahuan yang semakin cepat. Suatu sisi para siswa, bahkan ada sebagian pengajar atau pendidik di sekolah, belum memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam menggali informasi yang ada di perpustakaan. Di sisi lain pertumbuhan pengetahuan semakin cepat seiring perkembangan teknologi dan informasi. Menurut suatu survei tentang efektivitas penggunaan sarana penelusuran hasil penelitian yang telah dilakukan dalam “Profil Sumber Informasi Perpustakaan Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2001”, menunjukkan bahwa 58.5% pemakai perpustakaan tidak pernah menggunakan kartu katalog dalam pencarian informasi di perpustakaan, dan 39.4% yang kadang-kadang menggunakan dan kadang-kadang juga tidak. Pertama, mereka tidak tahu sama sekali fungsi alat bantu tersebut ; kedua, mereka tahu tetapi buku di rak tidak cocok dengan nomor panggil kartu ( keadaan buku tidak sesuai dengan urutan nomor klas) akibat ulah pemakai lain yang tidak tahu fungsi urutan “call number” pada buku dan kartu ; ketiga, mereka merasa lebih cepat melakukan “browsing” ke rak buku karena jumlah buku masih sedikit. (Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah, 2001) Kesimpulan penelitian itu menyatakan bahwa perlunya pembudayaan pendidikan pemakai perpustakaan sejak dini sebelum mereka memasuki perguruan tingggi agar mereka mempunyai bekal dalam memanfaatkan sarana perpustakaan secara efektif dan efesien. Pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan perpustakaan secara efektif dan efesien ini akan dijadikan pegangan dasar ke perpustakaan manapun mereka pergi, mereka dapat dengan mudah mencari informasi yang dibutuhkan. B.Perubahan prilaku pengguna perpustakaan. Hakikat prilaku pada dasarnya adalah segala sesuatu yang dikatakan atau dikerjakan seseorang, karena prilaku adalah penampilan yang ditetapkan dalam suatu kejadian yang secara kebetulan dapat berfungsi untuk reinforcement (penguatan) . Prilaku ini dapat dipelihara/ dipertahankan dalam periode yang cukup lama.

Reinforcement artinya sesuatu yang diperkuat atau dipergunakan atau yang selalu diingat kembali. (John M. Echols, Hasan Shadily, 1996). Reinforcement ialah tindakan memperkuat dengan menambah sesuatu; setiap keadaan yang memperbesar kemungkinan suatu respons tertentu akan muncul kembali dalam situasi yang sama; dan merupakan prosedur eksperimental untuk segera menyertai sebuah respons dengan sebuah reinforcement dengan tujuan untuk memperkuat respons tersebut. Dalam kaitan ini maka perubahan prilaku dapat dilakukan melalui reinforcement kepada si subyek belajar yang dalam kesempatan kali ini adalah para pemakai perpustakaan di kalangan siswa madrasah aliyah yang mencari buku sumber ajar atau informasi sesuai dengan kebutuhan pembelajarannya. Dengan menggunakan konsep dasar psikologis, khususnya dalam konteks pandangan behaviorisme, kita dapat menyatakan bahwa praktik pendidikan itu pada hakikatnya merupakan usaha conditioning ( penciptaan seperangkat stimulus) yang diharapkan pula menghasilkan pola-pola prilaku (seperangkat response) tertentu. Sehingga keberadaan pendidikan pemakai bagi para siswa Madrasah Aliyah (pengguna perpustakaan) diharapkan dapat menghasilkan pola-pola prilaku prestasi belajar (achievment) dalam term-term pengetahuan (penalaran), sikap ( penghayatan) dan keterampilan (pengamalan) dalam menggunakan sarana perpustakaan secara efektif. Indikator-indikator atau manifestasi dari perubahan dan perkembangan prilaku tersebut bisa berupa: a}. Pengetahuan, misalnya: dari yang tadinya tidak tahu penggunaan susunan klasifikasi untuk pengelolaan buku-buku atau koleksi lainnya menjadi tahu makna dan manfaatnya, sehingga dapat menggunakan katalog untuk penemuan kembali buku-buku yang dibutuhkan. b}. Sikap, misalnya: dari yang tadinya menganggap perpustakaan hanya sebagai tempat penyimpanan buku menjadi perpustakaan sebagai tempat untuk mencari informasi (sumber belajar), sehingga selalu datang ke perpustakaan untuk memenuhi segala kebutuhan informasinya baik itu yang berhubungan langsung dengan pembelajaran/perkuliahannya maupun untuk keperluan informasi lainnya. c}. Keterampilan, misalnya: dari yang tadinya sering menyobek buku atau koleksi lainnya menjadi perhatian untuk memelihara keberadaannya dengan cara menjaga kerapihan dan menempatkan kembali sesuai dengan susunan klasifikasi atau “call number” buku di rak atau sarana perpustakaan lainnya. Ragam prilaku yang ingin diperoleh sebagai hasil belajar tersebut meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan. Hal ini sejalan dengan tiga klasifikasi hasil belajar , yakni: kognitif, afektif dan psikomotor. Apakah arah ( positif, negatif, atau meragukan ) dari perubahan dan perkembangan itu serta kualifikasinya ( tinggi, sedang, rendah atau gagal/berhasil, memadai, tidak memadai, lulus atau tidak lulus, memuaskan atau tidak memuaskan, dapat diterima atau tidak, berdasarkan perangkat kriteria yang telah ditetapkan) jelas akan bergantung pada faktor (conditioning, pendidikan) di samping faktor (siswanya, pelajar). Kontribusi pengaruh pendidikan pemakai ini secara teoritis akan terlihat dari segi atau aspek apa yang diharapkan oleh pendidikan pemakai perpustakaan tersebut untuk setiap jenjangnya yang akan membawa kepada perubahan tingkah laku pemakai perpustakaan, yang meliputi tiga aspek, yaitu kognitif, afektif, psikomotor. ( Arif S. Sadiman, 1998) C. Perpustakaan Madrasah Dasar pembentukan perpustakaan madrasah adalah Undang –Undang Sistem Pendidikan Nasional No.2, Tahun 1989, yang isinya menyebutkan bahwa setiap lembaga pendidikan sekolah (madrasah) harus menyediakan sumber belajar (perpustakaan). Perpustakaan madrasah merupakan unit pelayanan yang kehadirannya hanya dapat dibenarkan jika dapat membantu pencapaian pengembangan tujuantujuan madrasah yang bersangkutan. Penekanan tujuan perpustakaan madrasah adalah aspek edukatif dan rekreatif. (Modul Pelatihan Pustakawan MI dan MTs, 2000). Keberadaan perpustakaan Madrasah sampai saat ini kondisinya masih memprihatinkan.Bukan hanya pada segi fisiknya (gedung dan ruang perpustakaan), tetapi juga dari sistem pengelolaannya, sumber daya manusianya, koleksi dan peralatan teknik operasional perpustakaan Madrasah juga masih sangat

minim. D. Kompetensi Informasi Pemakai Perpustakaan Tidak dapat dipungkiri, bagaimanapun perpustakaan merupakan jantungnya sebuah lembaga pendidikan. Perumpamaan perpustakaan sebagai sebuah jantung bagi suatu institusi pendidikan adalah mengidentifikasikan bahwa keberadaan perpustakaan begitu sangat penting dan berperan sekali untuk menunjang proses pendidikan, belajar mengajar dan penelitian. Oleh karenanya, para pemakai perpustakaan dituntut agar menguasai berbagai kompetensi informasi ( pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk dapat menggunakan atau memanfaatkan berbagai fasilitas perpustakaan dengan efektif), terlebih dengan adanya ledakan informasi dan tuntutan kurikulum pada era globalisasi ini. Lebih jauh lagi Rice berpendapat dalam buku Teaching Library Use, bahwa: “Education has always included a commitment to strong library collection and some instruction in its use. Morever, in recent years more and more educators and librarians at all levels have decided that every citizen should have basic skill in library research. The need for quick and current information is becoming perpasive in every human endevor. Students who don’t acquire essential library use competencies are now more likely to consider it major shortcomng in thier education.” (Rice, 1981) Untuk mengetahui materi dan tujuan apa saja yang ingin dicapai dalam proses pendidikan pemakai ini, kita bisa melihat tingkatan atau jenjang pendidikan pemakai sebagaimana yang diklarifikasikan (Rice,1981). 1. Orientasi Perpustakaan. Materi yang diajarkan berupa pengenalan terhadap perpustakaan secara umum, biasanya diberikan ketika siswa/mahasiswa baru memasuki suatu lembaga pendidikan bersangkutan, materinya antara lain: -Pengenalan Gedung Perpustakaan. -Pengenalan Katalog dan Alat Penelusuran lainnya. - Pengenalan beberapa sumber bacaan termasuk bahan-bahan rujukan dasar. Tujuan yang ingin dicapai: 1). Mengenal fasilitas-fasilitas fisik gedung perpustakaan itu sendiri. Mengenal bagian-bagian layanan dan staf dari tiap bagian secara tepat. 2).Mengenal layanan-layanan khusus seperti penelusuran melalui komputer, layanan peminjaman, dll. 3). Mengenal kebijakan-kebijakan perpustakaan seperti prosedur menjadi anggota, jam-jam layanan perpustakaan, dll. 4).Mengenal pengorganisasian koleksi dengan tujuan untuk mengurangi kebingungan pemakai dalam mencari bahan-bahan yang dibutuhkan. 5). Termotivasi untuk datang kembali dan menggunakan sumber-sumber yang ada di perpustakaan. 6). Terjalinnya komunikasi yang akrab antara pemakai dengan pustakawan. 2. Pengajaran Perpustakaan (library Instruction) Materi yang diajarkan merupakan penjelasan lebih dalam lagi mengenai bahan-bahan perpustakaan secara spesifik, materinya antara lain: 1).Teknik penggunaan indeks, katalog, bahan-bahan rujukan, dan alat-alat bibliografi. 2). Penggunaan bahan atau sumber pustaka sesuai dengan masing-masing jurusan. 3). Melaksanakan teknik-teknik penelusuran informasi dalam sebuah tugas penelitian atau pembuatan karya ilmiah lainnya. Tujuan yang ingin dicapai: 1). Dapat menggunakan pedoman pembaca untuk mencari bahan-bahan artikel. 2). Dapat menemukan buku-buku yang berhubungan dengan subyek khusus melalui katalog. 3).Dapat menggunakan bentuk mikro dan alat-alat baca lainnya secara tepat. 4). Dapat menggunakan alat rujukan khusus seperti Ensiklopedi Britanica dan Who’s Who. 5).Menemukan koleksi visual dan dapat menggunakannya. 6).Mengetahui sumber-sumber yang tersedia di perpustakaan lain dan dapat melakukanpermintaan peminjaman.

7).Melakukan suatu penelusuran dalam layanan pengindeksan seperti pada Pusat Informasi Sumber Pendidikan dan dapat menemukan dan menggunakan hasil-hasil sitasi. 3. Pengajaran Bibliografi. Bibliografi dibuat untuk menunjukkan apa saja yang pernah diterbitkan oleh pengarang tertentu, atau dengan judul tertentu atau mengenai subyek tertentu. Pemahaman dan pengetahuan tentang jenis-jenis dan kegunaan bibliografi sangat penting dalam penelusuran informasi karena bibliografi bisa berfungsi sebagai panduan atau jejakan (tracing) untuk dapat akses ke sumber informasi lebih jauh. (Badollahi Mustafa & Abdurrahman saleh, 1994) Materi yang diajarkan lebih condong sebagai langkah persiapan mengadakan atau sebagai dasar penelitian dalam rangka menyusun karya akhir. Pada level ketiga ini bisa ditawarkan melalui pengajaran formal sebagai bagian dari pengajaran. Materi yang ingin dicapai antar lain: 1) Informasi dan pengorganisasiannya. 2) Tajuk subyek, “Vocabulary Control” dalam penelitian, dan definisi suatu topik penelitian serta macam-macam sumber untuk penelitian. 3) Membuat kerangka teknik dan perencanaan suatu karya penelitian. 4) Teknik-teknik membuat catatan dalam penelitian. 5) Gaya, catatan kaki, rujukan dan sumber bahan bacaan. 6) Strategi penelitian, kesempurnaan dalam penelitian, dan pemakaian yang tepat layanan koleksi yang diberikan perpustakaan. 7) Membuat/menulis karya ilmiah. D. Metode dan Teknik Pendidikan Pemakai Perpustakaan Ada berbagai macam metode dan media untuk melaksanakan program-program pendidikan pemakai. Memilih metode dan media mana yang paling cocok tergantung kepada situasi belajar-mengajar itu sendiri, jadi tidak ada sebuah metode yang paling cocok untuk menunjang semua kegiatan pendidikan pemakai ini. Namun, suatu ciri-ciri metode yang baik apabila : 1. dapat mengkomunikasikan tujuan-tujuan yang telah dibuat. 2.dapat membuat siswa tertarik untuk memperhatikan dan memotivasi mereka untuk perhatian penuh terhadap apa yang sedang diajarkan. 3. dapat mendorong siswa untuk ambil bagian dengan menolongnya mempersiapkan pelajaran – pelajaran. 4.dapat memberikan umpan balik untuk menguji efektivitas metode tersebut melalui indikator-indikator yang jelas. Ada empat faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih metode dan media pengajaran untuk pendidikan pemakai perpustakaan ini, antara lain: 1. Motivasi (Motivation) Pengajaran harus memberikan suatu motivasi yang tinggi, misalnya ketika siswa ingin menemukan informasi yang berhubungan dengan pekerjaan atau pelajaran tertentu. 2. Kegiatan ( Activity) Kerja aktif dalam pembelajaran pemecahan masalah akan kelihatan lebih efektif daripada hanya sekedar menyebutkan atau menjelaskan suatu rangkaian pekerjaan. 3. Pemahaman (Understanding) Pendidikan pemakai akan lebih efektif jika siswa memahami apa dan kenapa mereka mengerjakan hal demikian, jika hal ini merupakan permasalah yang baru dapat dihubungkan dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya. 4. Umpan Balik (Feedback) Umpan balik atau informasi perkembangan yang dibuat harus tersedia bagi para siswa. Ada beberapa teknik atau metode yang dapat digunakan dalam pendidikan pemakai , untuk keperluan penelitian kali ini pembahasan dibatasi hanya pada topik orientasi perpustakaan.

Teknik-teknik tersebut antara lain: Ceramah atau Kuliah umum di Kelas, Wisata Perpustakaan, Penggunaan Audio Visual, Permainan dan Tugas Mandiri, Penggunaan Buku Pedoman atau Pamflet. (Kalangi, 1995) 1. Ceramah atau Kuliah umum di Kelas Penjelasan mengenai pengenalan dan pelayanan perpustakaan dapat diberikan di kelas dengan cara memberikan ceramah atau kuliah secara umum atau melalui demonstrasi. Idealnya jumlah peserta perkelas kurang lebih antara 15-30 orang. Untuk mencapai hasil yang optimal dalam metode ini para peserta diberikan beberapa tugas terstruktur dan latihan yang memungkinkan mereka mampu menggunakan perpustakaan secara mandiri. Pelaksanaan metode ini selayaknya dapat dilakukan dengan metode wisata perpustakaan, agar peserta lebih memahami dan akrab dengan dunia perpustakaan yang sebenarnya. 2). Wisata Perpustakaan Beberapa teknik yang bisa dilakukan dalam memandu wisata perpustakaan, antara lain: 1.Menciptakan suasana yang bersahabat dan informal serta terbuka untuk beberapa pertanyaan. 2. Usahakan berbicara tidak terlalu cepat dan sensitif terhadap kebingungan yang dialami pemakai. 3. Gunakan sarana pembantu untuk memperjelas sesuatu yang didiskusikan, misal: penggunaan katalog. 4.Buatlah para peserta berperan aktif untuk mencoba menggunakan fasilitas yang ada. 5.Waktu yang digunakan tidak terlalu lama, maksimal 45 menit. 6.Sediakan buku panduan yang dapat membantu mereka selama mengikuti wisata perpustakaan tersebut. 3). Penggunaan Audio Visual Teknik ini biasanya dilakukan untuk wisata mandiri perindividual (perorangan), di antaranya adalah penggunaan kaset, televisi, slide, dll. Pemakai perpustakaan dapat menjelajahi perpustakaan dengan mendengarkan instruksi yang direkam dalam kaset. Mereka dapat mematikan dan mengulang kaset tersebut sesuai dengan kemampuannya dalam memahami instruksi yang terdapat dalam kaset. Orientasi perpustakaan dapat juga dilakukan melalui penggunaan televisi, para peserta dapat menyaksikan dan memperoleh penjelasan mengenai berbagai hal, seperti: fasillitas perpustakaan, pelayanan perpustakaan, dan fungsinya masing-masing. Slide dapat digunakan dalam menerangkan lokasi, fasilitas dan pelayanan perpustakaan dengan memberikan keterangan-keterangan yang diberikan oleh pemandu atau rekaman suara. 4). Permainan dan Tugas Mandiri Metode ini merupakan salah satu cara yang cukup efektif dalam mengajarkan bagaimana cara menemukan informasi yang dibutuhkan. Biasanya lebih sesuai diterapkan untuk pemakai perpustakaan usia anak Sekolah Dasar dan Menengah. Permainan sangat berguna dalam meningkatkan kemampuan anak sehingga mereka lebih dapat menikmati penggunaan perpustakaan. Biasanya metode ini dilakukan di tingkat lebih tinggi untuk menghilangkan kejenuhan yang mungkin ada ketika proses pembelajaran dengan metode lain berlangsung. 5). Penggunaan Buku Pedoman atau Pamflet Bagi orang tertentu sudah tentu akan sulit membedakan antara apa yang disebut dengan handbook (buku pegangan) dengan guidebook (buku pedoman). Maka sejalan dengan itu Random House dalam Soejono Trimo mendefinisikan sebagai berikut : ”handbook is a book of instruction, guidance, or information, as for occupation, travel, or reference. Guide book is a directions and information for travelers, tourists, etc. (Soejono Trimo, 1997) Teknik pembelajaran ini biasanya menuntut pemakai untuk mempelajari sendiri mengenal perpustakaan melalui berbagai keterangan yang ada pada buku panduan atau pamflet, dan biasanya diterapkan ketika peserta melaksanakan wisata perpustakaan. Beberapa pertimbangan yang perlu dilakukan ketika membuat buku pedoman atau pamflet untuk keperluan pendidikan pemakai ini, antara lain:

1. Buatlah bahan tersebut sesingkat mungkin. 2. Harus membuat pemakai jelas dalam melakukan hal yang berkenaan dengan penggunaan perpustakaan. 3. Membuat pemakai kreatif. 4. -Membuat langkah yang sederhana, dengan demikian pemakai dapat selangkah demi selangkah mencoba untuk memparaktekkannya di perpustakaan. E. Kesimpulan Pendidikan pemakai perpustakaan merupakan hal yang urgen dilaksanakan bagi calon pemakai atau pemakai perpustakaan. Pemakai perpustakaan Madrasah Aliyah (siswa-siswi) rata-rata kurang memahami dan menguasai teknik penelusuran informasi di perpustakaan. Untuk membekali pelajar Madarasah Aliyah agar memahami dan mampu menelusur informasi yang tepat dan akurat di sumber informasi termasuk perpustakaan perlu diberikan pendidikan pemakai perpustakaan. Pendidikan pemakai perpustakaan adalah suatu proses transfer keilmuan (pemahaman) dan keterampilan dalam menelusur, menyeleksi serta menggunakan koleksi-koleksi yang ada di sumber informasi termasuk perpustakaan.

Daftar Pustaka Davies. R.H. and Stimberling, (1973). Lifelong Education and the School. Hamburg: UNESCO Institute for education.Fjallbrant, Nancy, (1978). User education libraries. London: Clive Bingley. John M. Echols, Hasan Shadily. 1996. Kamus Inggris – Indonesia : Jakarta.Gramedia. Koswara, E. 1998. Perpustakaan Sebagai Pusat Sumber Belajar. Bandung: Remaja Rosda Karya. Makmun, Abin Syamsudin, (2001). Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya. Martin, Garry and Joseph Pear, (1992). Behavior Modification. New Jersey: Prentice Hall.


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:3029
posted:4/22/2009
language:Indonesian
pages:8