Docstoc

Mengenal Musik Gereja

Document Sample
Mengenal Musik Gereja Powered By Docstoc
					Mengenal Musik Gereja

PERBEDAAN antara BERMAIN MUSIK di GEREJA dan di LUAR GEREJA

Seringkali pemusik berlatih tanpa bimbingan rohani, sehingga mereka hanya
menjalankan tugas sebagai pemusik tanpa mendapatkan sesuatu dari pelayanan yang
mereka lakukan. Yang didapat hanyalah letih, emosi, mungkin juga sedikit pujian dari
jemaat bila mereka bermain dengan bagus. Tapi pujian bukanlah tindakan kasih, pujian
akan berlalu dengan cepat. Tindakan kasih mengisyaratkan kesediaan untuk saling
berbagi pengalaman, memberi masukan, menyemangati, mendukung agar orang yang
bersangkutan dapat maju serta bertumbuh lebih baik lagi.

Bicara mengenai bermain musik, tentu harus dibedakan antara bermain musik di gereja
dengan bermain musik di café atau di hotel. Di gereja, pemain musik tujuannya bukan
untuk menonjolkan diri atau memamerkan skill yang ia miliki dalam bermusik. Beda
dengan konser atau pertunjukkan di café dan di hotel yang memang bertujuan show
(pertunjukan), entertain (menghibur) para tamu yang berkunjung dan memang butuh
hiburan. Beda juga dengan pengamen jalanan yang tujuannya bernyanyi dan bermusik
adalah untuk mencari uang. Pemusik gereja bermain untuk mengagungkan nama
TUHAN, membuat jemaat merasakan kehadiran TUHAN melalui lagu dan musik yang
dimaikan, bukan yang lain. Karena itu pemain musik gereja hendaknya orang sudah
menerima Kristus, sudah diperbarui, bersedia untuk diproses, terbuka terhadap kritik,
rendah hati, memiliki skill bermain musik yang memadai, mengenal lagu-lagu yang biasa
dinyanyikan di gerejanya, mampu bekerja sama dalam tim musik, memiliki kemampuan
untuk saling mendengarkan ketika bermain musik bersama, memiliki penghayatan serta
penafsiran yang tepat atas syair lagu yang dimainkan. Jadi pemain musik gereja bukan
hanya membunyikan nada-nada, tetapi juga mengerti frasering, kuat lemahnya tekanan
nada, klimaks dan antiklimaks, intro serta tempo yang tepat sesuai dengan jiwa lagu
yang dimainkannya.


HYMN dan ROHANI POPULER

Apakah lagu hymn lebih baik dari lagu rohani populer? Tidak ada lagu hymn yang
lebih baik dari lagu rohani populer, demikian juga sebaliknya. Artinya, harus melihat dan
memahami kata-kata sebuah lagu (apakah kata-kata / liriknya back to Bible atau
tidak?). Hymn (atau himne) sendiri merupakan bentuk syair yang dikembangkan oleh
Jerman dan juga Inggris yang menjadi seluruh tradisi protestan. Ciri yang kuat dari
lagu-lagu hymn adalah syair dan melodi berbait, melodi dimainkan ostinato (berulang).

Komposer Barok, Johann Sebastian Bach (1685-1750) merupakan puncak dalam sejarah
musik Gereja Protestan. Pada zaman Renaissance (1400-1600) dilakukan upaya untuk
menggali kekayaan budaya Yunani kuno, manusia melihat dirinya sebagai citra Allah
yang menjadi pedoman dan ukuran keindahan. Musik zaman Barok (1600-1750) sendiri
merupakan reaksi ketidakpuasan atas musik zaman Renaissance yang dirasa terlalu
rasional dan kering. Istilah Barik mula-mula dimaksudkan sebagai ejekan (“sinting,
miring, gila”). Namun lama-kelamaan justru “gaya berontak” ini berkembang menjadi
suatu seni baru. Lain dengan Renaissance yang jelas, sederhana, ugahari, Barok belit-
belit, hidup, penuh emosi.
Pada dasarnya musik gereja hendaknya seimbang dari dua unsur yang dimilikinya, yaitu
unsur rasional dan unsur emosional. Unsur rasional atau intelektual, untuk
menyampaikan suatu pesan yang membawa makna dan arti tertentu (karena itu
artikulasi suara, dinamika harus jelas dan terasa). Unsur emosional atau segi musikal
yang selalu melebihi peranan liturgis ke arah apresiasi dan seni; ingin dinikmati dan
dengan demikian juga merupakan suatu godaan untuk melepaskan diri dari tujuan tadi,
misalnya lagu pengakuan dosa yang terlalu banyak improvisasi nada, ritmik, atau
dibawakan dengan tempo yang agak cepat tentu akan mengganggu nuansa untuk
membawa jemaat masuk ke dalam introspeksi diri dan pengakuan dosa. Emosi
diperlukan ketika pemusik maupun pemandu pujian menyanyikan lagu ibadah. Sebab
tanpa emosi, jemaat seringkali merasakan “kering”, tidak tersentuh hatinya, hambar,
namun emosi perlu dibarengi dengan unsur rasional, di mana kita melihat pesan yang
hendak disampaikan melalui syair lagu yang dinyanyikan di dalam ibadah.

Di dalam kehidupan sehari-hari, emosi tidak bisa diumbar begitu saja. Salah satu
penyebab konflik di dalam rumah tangga adalah ketidakmampuan pasangan untuk
mengelola emosi. Emosi sendiri merupakan pengalaman rasa yang nampak pada
ekspresi gembira, sedih, marah, menangis. Emosi terkadang dibiarkan begitu saja tanpa
terkendali, akibatnya bisa melukai pasangan maupun orang-orang di sekeliling kita.
Sebaliknya, rumah tangga yang dibangun tanpa melibatkan emosi memang akan terlihat
“baik-baik” saja, namun lambat laun akan kehilangan gairah untuk mengekspresikan
cinta, mengenal lebih dalam suasana hati pasangan dan anak-anak. Demikian juga lagu
ibadah hendaknya memiliki keseimbangan dua unsur ini, yaitu emosi dan rasio.


FUNGSI LAGU IBADAH

Menurut Martin Luther, lagu yang dipergunakan khusus di dalam ibadah itu sendiri
memiliki tiga fungsi: (1) mengajar, (2) menggerakkan, dan (3) mencerahkan.


    1. Mengajar

       Sebuah lagu yang dipakai untuk dinyanyikan di dalam ibadah tidak hanya
       bersifat memuaskan hati dan telinga jemaat (menekankan unsur emosi semata),
       namun juga memiliki fungsi untuk mengajar, mendidik, serta mendewasakan
       iman jemaat. Oleh sebab itu, kita harus melihat dan memaknai syair lagunya,
       apakah hanya berisi ungkapan emosi pribadi semata, atau memang
       mengandung teologi (refleksi iman) yang mendalam di dalam hubungannya
       dengan Allah Pencipta dan keadaan manusia sebagai ciptaan. Sangat membantu
       jika kita bisa memahami latar belakang zaman ketika lagu dibuat, serta keadaan
       pembuat lagu tersebut guna memahami makna sebuah lagu dengan tepat,
       terutama lagu-lagu yang dinyanyikan di dalam ibadah.



    2. Menggerakkan

       Selain mengajar, lagu ibadah berfungsi untuk menggerakkan jemaat agar
       semakin berkomitmen di dalam mengikut TUHAN. Hampir sama dengan kotbah
       yang diharapkan mampu membuat perubahan di dalam diri jemaat agar menjadi
       semakin mendekati apa yang TUHAN kehendaki, demikian juga dengan lagu
       ibadah. Untuk dapat menggerakan jemaat, maka lagu ibadah pertama-tama
       harus mampu menyentuh hati jemaat. Untuk dapat menyentuh hati jemaat,
       maka lagu ibadah harus disajikan dengan baik. Artinya baik pemandu pujian
       maupun pemusik gereja harus mampu memberi intro, tempo yang tepat,
       frasering, serta menjiwai lagu yang dinyanyikan.



    3. Mencerahkan

       Nyanyian gereja memiliki fungsi untuk mencerahkan hati dan akal budi jemaat.
       Mencerahkan di sini dalam arti memberi penerangan, pengertian, pemahaman
       terhadap teologi (refleksi iman) yang disampaikan melalui syair lagu yang
       dinyanyikan. Karena itu syair lagu ibadah hendaknya jelas dan mudah
       dimengerti, tidak memakai nada-nada yang rumit seperti layaknya lagu-lagu
       yang khusus dibuat untuk dinyanyikan oleh paduan suara terlatih atau sebuah
       konser paduan suara, karenanya mudah diikuti (tidak sulit dinyanyikan) oleh
       jemaat.



Selain sebagai sarana untuk memuji dan menyembah TUHAN, lagu ibadah juga memiliki
fungsi untuk mempersatukan (membangun persekutuan), pengajaran (bersifat
mendidik, mencerahkan, mendewasakan iman), pertobatan (introspeksi diri di hadapan
TUHAN, komitmen untuk menjauhi dosa), penghiburan dan peneguhan (iman). Setiap
lagu ibadah memiliki jiwa dan pesannya tersendiri, sehingga kita bisa mengatur di mana
sebaiknya sebuah lagu ibadah diletakkan secara tepat di dalam susunan liturgi ibadah.
Lagu ibadah sendiri merupakan bagian integral dari liturgi.


IBADAH

Ibadah dalam bahasa Inggris diberi istilah worth atau weorth yang berarti
penghormatan. Pertemuan ibadah terjadi karena TUHAN sendiri yang memulai. Kalau
TUHAN tidak pernah memanggil, maka tidak akan pernah ada ibadah. Panggilan TUHAN
untuk ibadah itu yang kemudian menjadi dasar manusia melakukan ibadah.

Di dalam ibadah semua berperan serta dan sama pentingnya, mulai dari penyambut
jemaat, pembaca warta lisan, pemandu pujian, pemusik, lektor, pengkotbah, petugas
sound system, dan jemaat sendiri. Seringkali jemaat keliru karena mengganggap bahwa
diri mereka hanya berperan sebagai penonton yang mengamat-amati, menilai,
kemudian memberi komentar mengenai jalannya ibadah yang berlangsung, tetapi tidak
sungguh-sungguh ikut beribadah. Bukan berarti jemaat tidak diperkenankan memberi
masukan mengenai ibadah yang telah mereka ikuti (agar kualitas ibadah menjadi lebih
baik), namun jemaat juga harus sadar bahwa mereka bukan penonton, tetapi sebagai
jemaat yang turut terlibat serta berperan aktif di dalam ibadah.
Lalu siapa penontonnya? TUHAN-lah penontonnya! Penyambut jemaat, pemusik,
pemandu pujian, pengkotbah, petugas sound system adalah ibarat tim event organizer
yang mempersiapkan serta menyelenggarakan ibadah agar berlangsung dengan baik
dan khidmat. Di dalam ibadah kita menghadap TUHAN dengan penuh kekaguman, rasa
hormat dan “gentar”. Artinya kita tidak boleh asal-asalan dalam memuji TUHAN, hadir
minimal 5 menit sebelum ibadah dimulai guna mempersiapkan hati untuk berjumpa
dengan TUHAN melalui dan di dalam ibadah (konsekuensinya petugas ibadah juga harus
sudah siap minimal 15 menit sebelum ibadah dimulai). Ibadah adalah satu kesatuan,
artinya jemaat harus mengikuti dari awal hingga akhir ibadah dengan hati yang tertuju
pada TUHAN.

Jadi, berhasil tidaknya sebuah ibadah tidak diukur hanya dari petugas ibadah yang
melayani (termasuk pengkotbah), namun juga dari kesiapan hati jemaat guna mengikuti
ibadah, nyanyian ibadah, pemandu pujian dan pemusik gereja. Bila pengkotbah,
pemandu pujian, pemusik siap, tapi jemaat tidak siap, maka jemaat bisa saja pulang
dengan tidak membawa berkat apa pun. Sebaliknya bila hati jemaat siap, sementara
pemusik dan pemandu pujian tidak siap, maka baik petugas ibadah maupun jemaat juga
merasa kurang terberkati. Idealnya semua mempersiapkan diri dengan sungguh-
sungguh agar ibadah benar-benar menjadi sarana yang memperbarui, menggerakkan,
menumbuhkan, mendewasakan iman, sebagai akibat dari pengalaman perjumpaan
dengan TUHAN di dalam dan melalui ibadah.

Mengapa kita memuji TUHAN di dalam ibadah? Kita memuji TUHAN di dalam
ibadah karena keberadaan-Nya, karena karya-Nya, dan karena kepemilikan-Nya (Kel
15:1-2). TUHAN tidak memerlukan sesembahan dari manusia, TUHAN tidak tidak
memerlukan pertolongan manusia. Manusia boleh saja ada dan boleh tidak, namun
TUHAN tetap TUHAN, karena Allah adalah Allah yang Self Absolut, Self Existing, Self
Eternal, Self Love. Kebalikan dari itu, manusia adalah makhluk ciptaan yang
keberadaannya selalu tergantung pada yang lain.




Sumber Pustaka :

    1. Ev. Aldo Lammy, S.Mus.G & Pdt. Mangapul Sagala, Materi Seminar Hymnologi
    2. Kumpulan Makalah E. Martasudjita pr, Karl-Edmund Prier sj, Musik Gereja Zaman
        Sekarang, Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi, 2009



Jakarta, 1 April 2010
01.08 am
Markus Hadinata

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1550
posted:9/27/2010
language:Indonesian
pages:4