Docstoc

BAB II -TINJAUAN PUSTAKA-2

Document Sample
BAB II -TINJAUAN PUSTAKA-2 Powered By Docstoc
					                                    BAB. II
                              TINJAUAN PUSTAKA


2 1. Deskripsi Morfologi Udang Karang ( Panulirus , sp )

      Secara morfologi, tubuh lobster terdiri atas dua bagian, yaitu bagian

depan yang disebut cephalotorax (kepala menyatu dengan dada) dan bagian

belakang yang disebut abdomen (badan). Seluruh tubuh lobster terbagi atas

ruas-ruas yang tertutup oleh kerangka luar yang keras. Bagian kepala terdiri

atas tiga belas ruas dan bagian badan terdiri atas enam ruas. Cephalotorax

tertutup oleh cangkang yang keras (carapace) dengan bentuk memanjang ke

arah depan. Pada bagian ujung cangkang tersebut terdapat bagian runcing yang

disebut cucuk kepala (rostrum). Mulut terletak pada kepala bagian bawah, di

antara rahang-rahang (mandibula). Sisi kanan dan kiri kepala ditutupi oleh

kelopak kepala dan di bagian dalamnya terdapat insang. Mata terletak di

bawah rostrum, berupa mata majemuk bertangkai yang dapat digerak-

gerakkan. Pada bagian kepala juga terdapat beberapa anggota tubuh yang

berpasang-pasangan, antara lain antenulla, sirip kepala (scophent), sungut

besar (antena), rahang (mandibula), dua pasang alat pembantu rahang

(maxilla), tiga pasang maxilliped, dan lima pasang kaki jalan (pereiopoda).

Dari kelima pasang kaki jalan tersebut, tiga pasang di antaranya, Moosa ( 1984 )

      Pada bagian badan terdapat lima pasang kaki renang (pleopoda) yang

terletak pada masing-masing ruas. Pada ruas keenam terdapat kaki renang

yang telah berubah menjadi ekor kipas atau sirip ekor (uropoda) dan bagian

ujungnya membentuk ekor yang disebut telson.




                                                                                   12
               Gambar.2. Morfologi Udang Lobster ( Panulirus, sp )

2. 2. Deskrispsi Taksonomi Udang karang ( Panulirus, sp )

       Sifat-sifat biologi lobster (udang barong) secara terperinci dapat dijelaskan

sebagai berikut :

Lobster termasuk dalam famili Palinuridae. Sistematika lobster telah banyak

diungkapkan oleh para peneliti, meskipun terdapat berbagai perbedaan.

Klasifikasi yang dibuat oleh Latreille (1806) dalam Borradaille (1907) membagi

ordo Decapoda ke dalam dua subordo, yaitu Macrura dan Brachyur a.

Pembagian ini didasarkan atas kondisi (letak) abdomen. Namun, pembagian ini

memiliki banyak kelemahan. Oleh karena itu, H. Milne Edwards (1834) dalam

Borradaille (1907) menambahkan satu subordo lagi, yaitu Anoura. Pembagian ini pun



                                                                                  13
dirasakan masih memiliki banyak kekurangan sehingga Boas (1880) dalam

Borradaille (1907) mengusulkan dua subordo yang diberi nama Reptantia

dan Natantia. Lobster dimasukkan ke dalam ordo Reptantia, sedangkan

udang penaeid (udang windu, udang putih) dimasukkan ke dalam ordo

Natantia.

          Klasifikasi yang diusulkan oleh Boas ternyata mendapat banyak pengikut,

meskipun          disertai       dengan           penambahan-penambahan    untuk

menyempurnakannya, misalnya yang dilakukan oleh Borradaille (1907).

klasifikasi yang dibuat oleh Latreille juga masih mendapat pengikut, misalnya Mac

Ginitie & Mac Ginitie (1949) yang masih menggunakan subordo Macrura, Anoura,

dan Brachyura. Balss (1957) dan Waterman & Chace (1960) menggunakan

subordo Reptantia dan Natantia. Crustacea oleh para peneliti dimasukkan

sebagai phylum (superclass). Yager (1981) mengusulkan kelas Crustacea,

tetapi ia tidak menggunakan istilah Reptantia dan Natantia. la memasukkan

famili Palinuridae ke dalam subordo Pleocyemata. Oleh Waterman & Chace

(1960) dalam Moosa M.K. dan Aswandy I. (1984), klasifikasi lobster dijelaskan

sebagai berikut.

Superkelas Kelas        : Grustacea

Subkelas                : Malacostraca

Superordo Ordo          :Eumalacostraka

Subordo                 : Eucarida

Superfamili             : Scyllaridae

Famili                 : Palinuridae

Genus                  : Panulirus

Spesies                : Panulirus homarus, P. penicillatus,

                        P. longlpes, P. versicolor,

                       P. ornatus, P. polyphagus


                                                                              14
      Lobster sering kali juga disebut spiny lobster. Di Indonesia, selain dikenal

sebagai udang barong atau udang karang, lobster juga memiliki berbagai nama

daerah. Beberapa di antaranya adalah urang takka (Makasar), koloura (Kendari),

loppa tasi (Bone), hurang karang (Sunda), bongko (Pangkep), udang puyuh

(Padang), udang topeng (Karawang), dan lain-lain.

      Menurut Sri Juwana ( 2003 ) udang barong atau losbter dari marga

Panulirus, termasuk dalam suku Panlinuridae terdiri dari 14 jenis yang tersebar

diperairan tropik. Pada umumnya ditemukan pada lingkungan perairann karang

dari permukaan sampai kejelukan 100 M, terutama diperairan hangat dengan

kisaran suhu 20 - 30 °C, yang terletak diantara 30 LS - 30 LU. Di Indonesia

sering dijumpai 7 jenis seperti Panulirus homarus, Panulirus penicullatus,

Panulirus longipes, Panulirus polyphagus,Panulirus versicolor, Panulirusornatus

dan Panulirs daypus.

2.3. Pengelompokkan Berdasarkan Daerah penyebaran

     Berdasarkan daerah penyebarannya, lobster dapat dikelompokkan

menjadi tiga jenis daerah penyebaran (William, 1986) sebagai berikut.

2.3.1. Continental Species Spiny Lobster

  Continental species spiny lobster hidup di perairan karang pantai yang

dangkal. Jenis jenis lobster yang termasuk dalam kelompok ini serta

karakteristiknya adalah sebagai berikut.

2.3.1.1.Scalopped Spiny Lobster (Panulirus homurus Linneaus,

  1758)

  Bagian tubuh scalopped spiny lobster, terutama bagian punggung,

didominasi oleh warna kehijau-hijauan atau cokelat kemerah-merahan, dan

terdapat bintik-bintik besar dan kecil berwarna kuning terang. Pada bagian

badan terdapat garis kuning, melintang pada tiap bagian sisi belakang segmen




                                                                               15
abdomen. Selain itu, terdapat bercak-bercak putih pada bagian kakinya.

  Pada bagian muka terdapat lempeng antenulla dengan dua buah duri besar. Di

belakang masing-masing duri tersebut terdapat sebaris duri yang terdiri atas

2-6 buah duri kecil. Duri yang terletak paling belakang berukuran lebih

besar, namun masih lebih kecil dibandingkan dengan duri besar yang terletak

di bagian muka. Bagian belakang sternum dada, baik pada lobster jantan maupun

betina, berbentuk lempengan dan bertepi lurus.

       Maxilliped III tidak mempunyai exopoda. Permukaan bagian atas

ruas abdomen II-IV mempunyai alur melintang. Alur tersebut berbentuk

lurus dengan tepi bergerigi, terputus di bagian tengah. Ruas abdomen VI

mempunyai alur melintang yang menyerupai huruf M yang melebar. Abdomen

tidak mempunyai rambut, kecuali pada bagian alur melintang dan tepi belakang

abdomen. Pada bagian sisi abdomen terdapat lekukan.




                          Gambar. 3. Panulirus homarus

2.3.1.2.Pronghorn Spiny Lobster (Panulirus penicillatus Oliver, 1971)




                                                                          16
       Bagian badan pronghornn spiny lobster berwarna hijau tua dan hijau

kehitam-hitaman, dengan sapuan warna cokelat melintang. Lobster jantan

biasanya berwarna lebih gelap. Jenis ini biasanya ditemui di perairan karang yang

tidak jauh dari pantai.

Pada bagian abdomen terdapat bintik-bintik yang tidak terlalu jelas. Kaki jalan

bergarisgaris putih, memanjang pada setiap ruas kaki. Bintik-bintik yang tampak

lebih jelas terdapat pada bagian pleura. Pada lempeng antenulla terdapat empat buah

duri besar dengan dasar saling berhubungan, tanpa duri-duri tambahan di

belakangnya. Bagian belakang sternum dada berbentuk gigi, berjumlah dua buah,

clan terletak saling berdekatan.

       Maxilliped III mempunyai exopoda dengan flagel beruas satu atau tidak

mempunyai flagel. Permukaan bagian atas ruas abdomen II-IV mempunyai

alur melintang yang tidak terputus di bagian tengah dan bertepi licin. Pada

permukaan bagian bawah ruas abdomen terdapat bulu-bulu keras yang

terletak tersebar. Pada tepi bagian belakang abdomen terdapat rambut, sementara pada

bagian sisinya terdapat lekukan.




                                                                                 17
                            Gambar. 4.. Panulirus penicillatus

2.3.2. Coral Species Spiny Lobster

   Coral spesies spiny lobster hidup di perairan pantai maupun lepas pantai

agak dalam. Jenis jenis lobster yang temuasuk dalam kelompok ini adalah sebagai

berikut.

2.3.2.1. Long Legged Spiny Lobster (Panutirus longipes A. Milne Edwards,1868)

     Long legged spiny lobster memiliki warna dasar kecokelat cokelatan dengan

warna kebiru-biruan pada antenna. Namun, ada juga yang berwarna merah cokelat

cerah sampai gelap atau hitam kemerah-merahan dengan bintikbintik putih

tersebar di seluruh tubuh nya. Bagian kaki juga berbintik-bintik putih dan

setiap ruas kaki bergaris-garis cokelat atau kekuning-kuningan memanjang.

Pada bagian muka terdapat lempeng antenulla dengan dua buah duri besar.

Di belakang masing-masing duri terdapat sebaris duri kecil, sebanyak 1-6 buah,

namun biasanya tiga buah. Bagian belakang sternum dada berbentuk gigi, berjumlah




                                                                                18
dua buah, dan terletak berdekatan. Maxilliped III mempunyai exopoda dengan

flagel beruas banyak. Pada permukaan bagian atas ruas abdomen II-IV

terdapat alur melintang yang berlekuk di tengah dan bertepi licin. Lekukan

mengarah ke muka lalu mengarah ke bawah. Lekukan tersebut tidak selalu

tampak jelas dan kadangkadang memutuskan alur melintang. Pada ruas abdomen

VI terdapat alur melintang yang berbentuk huruf W melebar. Permukaan ruas

abdomen tidak berambut, hanya di sana sini terdapat bulu-bulu yang keras

dan tidak rapat. Rambut hanya terdapat di bagian alur melintang pada

ruas abdomen II-VI tepi belakang ruas abdomen I-VI, dan lekukan yang

terdapat pada bagian sisi abdomen.

Menurut George clan Holthuis (1965) dalam Moosa (1984), mungkin terdapat dua

varietas Panulirus longipes, yaitu Panulirus longipes femoritiga dan

Panulirus longipes longipes. Spesimen-spesimen yang terdapat di Lembaga

Oceanologi Nasional yang berasal dari pantai selatan Jawa memperlihatkan

adanya kesamaan di antara dua varietas tersebut. Spesimen yang masih

segar memperlihatkan bintik-bintik yang jelas pada kaki jalan. Garis-garis

yang kurang jelas pada spesimen yang masih segar menjadi jelas pada spesimen

yang lebih lama.



2.3.2.2. Painted Spiny Lobster (Panulirus versicolor Latraille, 1804)

 Painted spiny lobster yang telah dewasa berwarna hijau terang dengan

sapuan warna merah, terutama bagian punggungnya. Sementara, lobster

yang masih muda didominasi oleh warna dasar kebiru-biruan atau keungu-

unguan. Bagian kepala berwarna kehitam-hitaman dengan bercak-bercak

putih tersebar pada cangkang kepala. Pada setiap ujung segmen abdomen

terdapat guratan seperti pita hitam dengan garis putih di b agian tengah.

Antena berwarna cokelat muda kekuning-kuningan. Bagian kaki didominasi oleh



                                                                         19
warna putih. Pada lempeng antenulla terdapat empat buah du yang terletak

terpisah, tanpa tambahan duri-duri kecil. Pada bagian belakang sternum dada

terdapat dua buah pentolan yang juga terletak terpisah.

Maxilliped III tidak mempunyai exopoda. Permukaan bagian atas ruas

abdomen tidak mempunyai alur melintang, hanya ditandai oleh garis putih

melintang dari tepi kiri ke tepi kanan.




                              Gambar. 5. .Panulirus versicolor


2.3.2.3. Ornate Spiny Lobster (Punulirus ornatus Fabricius,1798)

   Ornate spiny lobster berwarna hijau berbelang-belang kuning. Pada bagian

pinggir abdomen terdapat titik berwarna kuning. Jenis ini sering tertangkap di

perairan karang di tengah laut yang lebih dalam. Di bagian muka terdapat

lempeng antenulla dengan dua buah duri besar. Dii belakang masingmasing

duri terdapat sebaris duri kecil, berjumlah 2-4 buah tiap baris. Duri yang

terletak paling belakang berukuran lebih besar, tetapi masih lebih kecil

dibandingkan dengan duri yang besar. Maxilliped tidak mempunyai exopoda. Pada

permukaan bagian atas abdomen II-IV tidak terdapat alur melintang serta tidak




                                                                           20
berambut. Demi kian juga pada tepi belakang ruas abdomen I-VI, kecuali pada lekuk

yang terletak di bagian sisi.




                                Gambar. 6. Punulirus ornatus

2.3.4. Oceanic Species Spiny Lobster

   Oceanic species spiny lobster biasa hidup di lepas pantai, yaitu di perairan laut

yang dalam. Jenis lobster yang termasuk dalam kelompok ini adalah mud spiny

lobster (Panulirus polyphagus Herbst, 1793). Mud spiny lobster mempunyai

warna dasar cokelat. Pada setiap ujung ruas badan terdapat guratan seperti

pita, berwarna putih dan cokelat gelap. Di bagian muka terdapat lempeng

antenulla dengan dua buah duri besar. Bagian belakang sternum dada

berbentuk lempengan, bertepi lurus. Maxilliped tidak mempunyai exopoda. Pada

permukaan bagian atas ruas abdomen tidak terdapat alur melintang, tetapi diliputi

oleh rambut-rambut halus yang tersebar diseluruh abdomen. Ba gian belakang

dari permukaan atas ruas abdomen ditandai dengan garis melintang

berwarna putih yang bergerak dari tepi sebelah kiri ke tepi sebelah kanan. Dari

beberapa jenis lobster tersebut, yang banyak dikenal dan ditemui oleh nelayan




                                                                                 21
Indonesia adalah Panulirus penicillatus atau yang sering disebut sebagai lobster

bambu dan Panulirus versicolor atau yang dikenal sebagai lobster mutiara.




                            Gambar.7. Panulirus polyphagus,

2.4. Penentuan Jenis Kelamin

  Jenis kelamin lobster bisa ditentukan dari letak alat kelaminnya. Alat

kelamin jantan terletak di antara kaki jalan kelima, berbentuk lancip, dan

menonjol keluar. Sementara, alat kelamin betina terletak di antara kaki jalan

ketiga, berbentuk dua lancipan. Selain dari letaknya, penentuan jenis kelamin lobster

juga dapat dilakukan dengan memperhatikan ukuran badannya. Lobster jantan

biasanya berukuran lebih kecil dibandingkan dengan lobster betina.




                                                                                  22
    Gambar. 8. Alat Kelamin Lobster jantan (Kiri ) dan masa spermatoforik Pada
                  sternum lobster betina ( kanan )

2.5. Sifat Dan Kelakukan

        Sifat dan kelakuan lobster perlu diketahui terlebih dahulu, sebelum

memulai usaha budi daya lobster di kolam secara terkontrol. Ketidaktahuan

akan sifat clan kelakuan lobster sering kali menjadi faktor yang menyebabkan

kegagalan budi daya. Sifat clan kelakuan lobster diuraikan sebagai berikut

:

2.5.1. Sifat Nokturnal

       Sifat nokturnal adalah sifat lobster yang melakukan aktivitasnya pada

malarn hari, terutama aktivitas mencari makan. Sementara, pada siang

hari lobster beristirahat dan tinggal di tepi laut berkarang di dekat rumput

laut yang subur, bersama golongan karang. Diharapkan, para pembudi daya

lobster memanfaatkan sifat ini, yakni melakukan pemberian pakan pada

malam hari dengan dosis yang lebih besar dibandingkan dengan pemberian

pakan pada siang hari.

       Dengan    sifat   nokturnal   tersebut,   tampak   bahwa   lobster   senang

bersembunyi di tempat-tempat yang gelap. Di alam, lobster bersembunyi

pada lubanglubang yang terdapat di sisi terumbu karang. Oleh karena itu, tempat



                                                                                23
budi daya lobster perlu dilengkapi dengan tempat perlindungan atau tempat

persembunyian. Bahan yang dapat digunakan adalah potongan pipa paralon

sepanjang 30-50 cm, dengan diameter disesuaikan dengan ukuran lobster

yang dibudidayakan.


2.5.2. Sifat Ganti Kulit (Moulting /Ecdysis)

       Langkah    awal   pertumbuhan      lobster   ditandai   dengan   terjadinya

pergantian kulit (moulting atau ecdysis). Peristiwa moulting pada Crustacea

adalah peristiwa pergantian atau penanggalan rangka luar untuk diganti

dengan yang baru. Proses ini biasanya diikuti dengan pertumbuhan clan

pertambahan berat badan. Taiwan telah mencoba merangsang pertumbuhan

lobster melalui pakan yang diberikan clan kejutan listrik. Pemberian pakan

berupa udang segar ternyata menghasilkan pertumbuhan yang lebih cepat

daripada pakan


2.5.3. Daya Tahan

       Pada umumnya, jenis jenis udang mampu bertahan hidup pada

perairan dengan kondisi salinitas yang berubah-ubah (berfluktuasi). Sifat

seperti ini disebut sifat eurihaline. Akan tetapi, beberapa jenis udang, termasuk

udang barong atau lobster, merupakan biota laut yang sangat sensitif

terhadap perubahan salinitas dan suhu. Oleh karena itu, budi daya lobster

harus dilakukan di tempat yang beratap sehingga air hujan tidak dapat masuk

ke dalam media budi daya. Hal ini diperlukan untuk mencegah terjadinya

fluktuasi salinitas dan suhu yang terlalu tinggi. Jenis Panulirus sp. lebih toleran

terhadap salinitas antara 25-45‰ . Lobster mencari makan pada malam hari, di

sekitar karang yang lebih dangkal. Lobster bergerak di tempat yang amanpada

lubang-lubang karang, merayap untuk mencari makan. Apabila terkena sinar

lampu, lobster akan diam sejenak, kemudian melakukan gerakan mundur dan



                                                                                24
menghindar. Makanan yang paling digemari lobster adalah jenis Moluska

(kerangkerangan, keong), Echinodermata, serta daging ikan segar.

       Pada saat tertentu, biasanya lobster akan berpindah ke perairan yang

lebih dalam untuk melakukan pemijahan. Lobster betina yang telah matang

telur biasanya berukuran (dari ujung telson sampai tljung rostrum) sekitar 16

cm, sedangkah lobster jantan sekitar 20 cm. Seekor lobster jantan dapat

membuahi banyak telur yang kemudian disimpan di bagian bawah perut

lobster betina.

Menurut Subani (l993), jumlah telur lobster jenis Panulirus hommarus dapat

mencapai sekitar 275.000 butir. Sementara, menurut Moosa clan Aswandy

(1984), jumlah telur lobster jenis yang sama mencapai 50.000 -80.000 butir,

tergantung pada ukuran lobster. Panulirus hommarus betina dewasa mampu

menghasilkan 109-286 butir telur per gram berat badan. Panulirus versicolor

betina dewasa mampu menghasilkan 460.000 butir telur per ekor.

Telur yang telah dibuahi akan menetas menjadi naupli lobster (nauplisoma)

dalam waktu 3-5 hari. Fase nauplisoma umumnya berlangsung relatif singkat,

kemudian berganti kulit menjadi burayak yang disebut filosoma (phyllosoma).

Fase ini berlangsung selama 3-7 bulan dan sering ditemukan di daerah yang

banyak mendapat cahaya matahari. Burayak akan berkembang menjadi

burayak raksasa (perurilla). Bentuk perurilla sudah menyerupai lobster dewasa,

namun belum mempunyai kulit luar yang keras clan mengandung zat kapur. Fase

perurilla berlangsung selama 10-14 hari, kemudian berganti kulit menjadi

lobster muda yang berukuran 7-10 cm clan sudah mempunyai kerangka

luar yang mengandung zat kapur.

   Lobster-lobster muda akan bergerak menuju perairan yang lebih gelap clan

dalam. Pada fase ini juga akan sering terjadi pergantian kulit, yang

berlangsung terutama pada malam hari. Proses pemijahan pada lobster



                                                                           25
betina biasanya terjadi beberapa saat setelah pergantian kulit.


Menurut Morgan dan Barker (1977) dalam Philips et al. (1980), Panulirus sp.

melakukan pemijahan pada kedalaman 37-55 m. Waktu perriijahan sangat

berhubungan dengan suhu clan daef-ah subtropis, biasanya terjadi paaa musim

semi dein aiwaj musim panas (bulan September- Desember). Pada musim

perkembangbiakan, lobster dapat melakukan lebih dari satu kali


2..6. Habitat Lobster

        Habitat alami lobster adalah kawasan terumbu karang di perairan -

perairan yang dangkal hingga 100 m di bawah permukaan laut. Di Indonesia,

terdapat perairan karang yang merupakan habitat lobster seluas sekitar 6.700

km2 dan merupakan perairan karang terluas di dunia. Habitat alami lobster

tersebut antara lain tersebar di wilayah perairan Sumatra Barat, timur

Sumatra, selatan clan utara Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Selat Malaka, timur

Kalimantan, barat Kalimantan, selatan Kalimantan, utara clan selatan Sulawesi,

serta perairan Maluku clan Papua, terutama Laut Arafura.

        Lobster berdiam di dalam lubang-lubang karang atau menempel pada

dinding karang. Aktivitas organisme ini relatif rendah. Lobster yang masih muda

biasanya hidup di perairan karang di pantai dengan kedalaman 0,5-3,0 m.

Habitat yang paling disukai adalah perairan dengan dasar pasir berkarang

yang ditumbuhi rumput laut (seagrass). Setelah menginjak dewasa, lobster akan

bergerak ke perairan yang lebih dalam, dengan kedalaman antara 7-40 m.

Perpindahan ini biasanya berlangsung pada siang clan sore hari.

       Menurut Moosa dan Aswandy (1984), lobster mendiami suatu perairan

tertentu menurut jenisnya. Jenis Panulirus penicillatus biasanya mendiami

perairan dangkal berkarang di bagian luar terumbu karang, pada kedalaman 1-

4 m, dengan air yang jernih clan berarus kuat. Jenis Panulirus hommarus



                                                                              26
biasanya ditemukan hidup di perairan karang pada kedalaman betasan meter,

dalam ltZbarlg-lubang batiz granit atau vulkanis. Jenis ini sering ditemukan

berkelompok dalam jumlah banyak. Pada saat masih muda, Panulirus hommarus

lebih toleran terhadap perairan yang keruh. Namun, setelah mencapai usia

dewasa lebih menyukai perairan yang jernih dengan kedalaman 1-5 m.

Panulirus longipes mampu beradaptasi pada berbagai habitat, namun lebih

menyukai perairan yang lebih dalam, pada lubang-lubang batu karang. Pada

malam hari, jenis ini sering ditemukan pada tubir-tubir batuan clan kadang-

kadang tertangkap di perairan yang relatif dangkal (sekitar 1 m) dengan air yang

jernih clan berarus kuat.

       Jenis Panulirus ornatus lebih menyukai terumbu karang yang agak

dangkal clan sering tertangkap di perairan yang agak keruh, pada karang-karang

yang tidak tumbuh dengan baik, di kedalaman 1-8 m. Panulirus versicolor senang

berdiam di tempat-tempat yang terlindung di antara batu-batu karang, pada

kedalaman hingga 16 m. Jenis ini jarang terlihat berkelompok dalam jumlah banyak. Jenis

Panulirus poliphagus banyak ditemukan hidup di perairan karang yang keruh

dan sering kali juga ditemukan di dasar perairan yang berlumpur agak dalam.


2.7. Usaha Penangkapan Lobster

       Seiring dengan perkembangan teknologi dalam usaha penangkapan

ikan di laut, variasi atau keragaman alat tangkap pun semakin banyak.

Beberapa jenis alat tangkap yang sering digunakan dalam usaha penangkapan ikan

di laut adalah purse sein, jaring insang (gill net), jermal, pesambet (scoop net),

tembak dan senapan ikan, bubu, pancing, rawai, trawl, dan sebagainya.

Namun, tidak semua jenis alat tangkap tersebut cocok dipergunakan dalam

usaha penangkapan lobster.




                                                                                    27
       Pengoperasian alat-alat tangkap tersebut sering kali didahului

dengan operasi pengeboman yang menyebabkan kerusakan terumbu karang

sebagai habitat ikan karang, termasuk lobster. Menurut hasil survei Program

Rehabilitasi   Pengelolaan   Terumbu     Karang     (COREMAP      -   Coral   Reef

Rehabilitation and Management Program) LIPI, kondisi terumbu karang

kita saat ini sangat menyedihkan. Terumbu karang yang benar-benar dalam

kondisi sangat baik hanya 6,49%, selebihnya berada dalam kondisi sangat

buruk (40, 62%), sedang (28,61%6), dan baik (24,28%).

      Menurut Wirasantosa dalam Duryatmo (2000), salah satu penyebab

kerusakan terumbu karang adalah ulah manusia, misalnya menangkap ikan

dengan mengebom. Penggunaan bom yang telah berlangsung sejak 15 tahun

yang lalu telah memporak-porandakan terumbu karang. Pengeboman

dengan bahan peledak 0,5 kg saja dapat merusak terumbu karang hingga radius 3

m dan mematikan ikan karang, termasuk lobster, pada radius 10 m. Dari seluruh

ikan yang terkena ledakan, 40% di antaranya mengapung dan -60% lainnya

tenggelam.

       Selain dengan pengeboman, nelayan juga sering menggunakan acun

sianida atau racun jenis lainnya. Sianida (yang Bering disebut potas) dalam dosis 4

ppm dapat menyebabkan terumbu karang memutih sehingga produksi ikan-

ikan karang seperti kerapu atau lobster menurun. Di samping itu, ikan yang

ditangkap dengan penggunaan potas sangat berbahaya bagi kesehatan

manusia.

       Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih jenis alat

tangkap lobster, terutama tingkat risiko yang ditimbulkan terhadap hasil

tangkapan. Hal ini ditekankan karena Bering kali terjadi lobster tangkapan

terluka, kehilangan salah satu atau lebih organ tubuh (cacat), ataupun mati

akibat     pemilihan     alat    tangkap     yang     tidak    sesuai.    Hal -hal



                                                                                28
tersebutmenvebabkan harga jual rendah. Pemilihan alat tangkap hams dilakukan

secara cermat agar tingkat harga lobster tangkapan mencapai maksimal. Salah

satu alat tangkap yang mempunyai risiko kerusakan hasil tangkapan kecil

dan menjamin lobster tetap hidup adalah bubu. Penggunaan bubu juga

tidak menimbulkan dampak negatif yang dapat mengancam kelestarian ekosistem

terumbu karang karena tidak menggunakan racun atau bahan peledak.

Bubu sudah lama digunakan oleh nelayan, terutama untuk menangkap

ikan karang, misalnya kerapu dan lobster. Alat tangkap ini terdiri atas

beberapa bagian, yaitu badan bubu, ijeb-ijeb, dan mulut/pintu. Ijeb-ijeb

umumnya ber-hcntuk kerucut, bagian luar terlihat lebar, sedangkan bagian

dalam lebih sempit. Dengan bentuk demikian, organisme yang telah masuk

melalui ijeb-ijeb ke dalam badan bubu akan mengalami kesulitan untuk keluar lagi.

        Di Indonesia, bubu umumnya terbuat dari bambu, dengan aneka ragam

bentuk bujur sangkar, silinder, gendang, kubus, clan lain-laiie. Jenis bubu

yang demikian sering dioperasikan di perairan dekat pantai atau perairan

karang yang dangkal. Dengan perkembangan teknologi perikanan, khususnya

penangkapan ikan laut, bahan dan bentuk bubu pun mengalami perkembangan.

Berdasarkan bahan dan bentuknya, bubu dibedakan menjadi enam macam,

yaitu bubu bone, bubu bali, bubu beehive pot, bubu batter crayfish, bubu

lipat, dan krendet.


2.7.1. Bubu Bone

Bubu bone biasanya terbuat dari anyaman bambu, ro tan, atau kawat besi.

Bubu ini disebut bubu bone karena biasa digunakan oleh nelayan yang

beroperasi di Teluk Bone. Pada umumnya bubu bone berbentuk balok/kotak

yang dilubangi pada salah satu sisinya. Lubang ini semakin mengecil ke arah

bagian dalam ruang bubu untuk menggiring lobster memasuki bubu dan



                                                                              29
tidak dapat keluar lagi. Konstruksi dan ukuran bubu bone ditunjukkan

dalam Gambar 9. Selain sebagai perangkap lobster, alat ini juga biasa

digunakan sebagai perangkap ikan kerapu (Epinephelus sp.).




                          Gambar.9. Kontruksi Bubu Bone

2.7.2. Bubu Bali

Bubu bali terbuat dari anyaman bambu. Alat ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu

bagian luar dan bagian dalam. Bubu ini dikenal dengan bubu bali karena sering

digunakan oleh nelayan di perairan sekitar,kararg Asem, Bali. Bagian luar

berupa silinder menyerupai pagar (sappo), sedangkan bagian dalam berbentuk

dua kerucut yang saling bertemu pada bagian ujungnya. Karena penampang

luarnya berbentuk silinder, bubu ini juga sering disebut bubu silinder.

Pada umumnya, bubu bali mempunyai dua mulut yang berbentuk bulat atau

oval yang dipasang pada kedua sisinya




                                                                             30
                            Gambar.10. Kontruksi Bubu Bali
2.7.3. Bubu beehive pot

       Bubu beehive pot juga sering disebut bubu laba-laba karena berbentuk

menyerupai sarang laba-laba. Alat ini biasa dioperasikan di daerah karang

sehingga disebut juga rock lobste. Konstruksi terdiri atas kerangka besi yang dibalut

dengan anyaman rotan, sedangkan mulut/injap terbuat dari anyaman rotan.




                      Gambar.11. Kontruksi Bubu beehive pot

 2.7.4. Batter Crayfish

       Batter crayfish banyak digunakan di daerah Australia Barat. Sebagian besar

terbuat dari bahan kayu dengan kombinasi bagian atas dan bawah dari pelat besi agar

mudah dan cepat tenggelam. Pada umumnya, jenis bubu ini berbentuk trapesium



                                                                                  31
sehingga juga sering disebut bubu trapesium. Berbeda dengan bubu bali,

batter crayfish hanya mempunyai sebuah mulut (ijeb-ijeb). Bagian mulut terdiri atas

bagian kayu atau plastik cetakan dengan bentuk lingkaran memanjang (silinder) yang

dilengkapi pintu pembuka untuk mengarnbil hasil tangkapan atau memasang umpan.

Bagian badan dibuat secara terpisah dari bagian atasnya. Dengan demikian, saat

dioperasikan badan bubu dapat disusun atau ditumpuk sehingga memudahkan

penyimpanan dan pengangkutan.




                      Gambar. 12. Kantruksi Batter Crayfish

2.7.5. Bubu Lipat

  Bubu lipat berbentuk tidak tepat persegi panjang; bagian atas berbentuk

setengah lingkaran, sedangkan bagian bawahnya sedikit melengkung. Bubu ini

memiliki dua sisi yang pendek dan dilengkapi dengan mulut. Mulut berbentuk oval

atau bulatan dengan ukuran panjang sekitar 35 cm. Pada saat tidak dioperasikan,

kerangka bubu dapat dilipat sehingga mempermudah penyimpanan dan

pengangkutan. Pada umumnya, bubu lipat terbuat dari kerangka besi

kawat bangunan clan kedua sisinya berupa anyaman rotan yang lentur.




                                                                                  32
                       Gambar.13. Kontruksi Bubu Lipat


2.7.6. Krendet

  Krendet biasa digunal<an oleh para nelayan di daerah Pantai Selatan

Yogyakarta, khususnya Gunungkidul (Pantai Baron, Krakal, dan Kukup).

Seperti halnya bubu, alat ini tergolong perangkap yang mempunyai ruang.

Hasil tangkapan masih dalam keadaan hidup walaupun dalam posisi

terpuntql. Krendet terbuat dari besi cor clan berbentuk lingkaran. Pada

bagian lengah dipasang jaring bekas dan umpan berupa kelapa bakar,

kemudian diletakkan di sela-sela terumbu karang pada saat air laut

pasang dan diambil pada saat surut. Biasanya, lobster akan mencari

makan pada saat laut pasang dan apabila mendekati krendet ia akan terpuntal

di dalamnya.




                                                                              33
                            Gambar. 14. Kontruksi Krendet


       Tata cara penangkapan lobster dengan menggunakan alatalat tangkap yang

tersebut di atas diuraikan sebagai berikut.

2.7.7. Penetapan Daerah Penangkapan (Fishing Ground)

Daerah penangkapan (fishingground) sangat menentukan keberhasilan usaha

penangkapan lobster. Perairan karang yang merupakan habitat lobster di

Indonesia mencapai luasan 6.700 km'. Perairan ini merupakan perairan karang

terluas di dunia. Potensi tersebut terdapat di perairan sebelah barat Sumatra,

Selat Malaka, sebelah selatan Pulau Jawa, sebelah timur Kalimantan,

perairan di sebelah selatan dan utara Sulawesi, perairan Maluku dan Irian Jaya,

serta daerah Bali dan Nusa Tenggara.

2.7.8. Cara Pengoperasian Alat Tangkap

         Berdasarkan      skala    usaha      yang   diterapkan,   ada   dua   sistem

mengoperasian alat tangkap lobster dengan menggunakan kihu, yaitu

sistem tunggal (single trap) clan sistem berangkai (long line traps). Sistem tunggal

merupakan cara pengoperasian alat tangkap dengan menggunakan hanya satu

buah ulat tangkap per satu kali pemasangan. Sistem berangkai nnenggunakan




                                                                                  34
alat tangkap lebih dari satu per satu kali pcmasangan.

  Pengoperasian sistem tunggal memerlukan sebuah pelampung dan seutas tali

dengan panjang disesuaikan dengan kedalaman perairan. Biasanya, sistem

ini dilakukan oleh nelayan-nelayan kecil yang mempunyai sarana sederhana

clan modal terbatas.




              Gambar. 15. Pengoperasian Alat Tangkap Dengan Single Trap



  Pengoperasian sistem berangkai memerlukan tali utama (main line)

dengan ukuran panjang disesuaikan dengan banyaknya alat tangkap yang

akan digunakan. Selain itu, sistem ini juga memerlukan tali pemberat clan

pemberatnya serta tali pelampung clan pelampungnya. Dalam praktik, sistem

ini biasanya dilakukan oleh perusahaan atau kelompok tertentu yang mempunyai

sarana memadai, didukung dengan keterampilan ya ng c uk up dan modal

yang besar.




                                                                          35
                      Gambar. 16. Pengoperasian Alat Tangkap Dengan
                                     Long Line Traps
2.7.8.1. Persiapan

  Sebelum dioperasikan, seluruh komponen alat tangkap (bubu) harus

disiapkan di bagian buritan kapal. Umpan dipasang kuat-kuat pada masing-

masing alat tangkap sehingga tidak mudah lepas. Setelah itu, tali pemberat clan

pelampung disambungkan pada tali utama, clan bubu dipasangkan pada tali

utama dengan jarak antarbubu 15-20 m. Khusus pengoperasian bubu

dengan sistem berangkai (long line traps) dengan jumlah bubu sekitar 10-30

buah setiap kali operasi, dalam persiapannya perlu dilakukan perangkaian

atau perakitan sebelum bubu tersebut digunakan.




                                                                            36
                   Gambar. 17.Deretan Bubu Pada Buritan Kapal

     Perakitan bubu bone, bubu bali, bubu lipat, dan bubu beehive pot

dimulai dengan pemasangan penyangga besi pada badan bubu, sedangkan perakitan

bubu batter crayfish dilakukan dengan menyatukan bagian atas badan bubu.

Setelah bubu terakit dengan baik, dilanjutkan dengan penyusunan bubu

secara teratur di bagian buritan kapal. Penyusunan tutu ini disesuaikan dengan

nomor urut bubu clan dilakukan secara berderet, setiap deretan terdiri atas 4-5 buah

bubu. Dengan demikian, untuk mengoperasikan 10-30 bubu akan terdapat 3-

6 deretan.

     Setelah semua bubu tersusun rapi, dilakukan pemasangan umpan. Umpan

yang biasa digunakan dalam penangkapan lobster adalah daging ikan tuna,

ikan kembung, ikan layang, atau daging kerang-kerangan. Uziipan sebaiknya

dibungkus dengan kain kelambu agar tidak mengalami 'keriasakan di dalam air,

namun masih dapat tercium aromanya oleh lobster karena kain kelambu

mempunyai pori-pori yang cukup banyak. Umpan diikat kuat-kuat agar tidak lepas

dari tempatnya. Pemasangan tali-temali dimulai dengan merangkai bubu menurut

urutannya menggunakan tali utama (main line) berdiameter 16 mm clan panjang

15 m. Tali cabang yang digunakan untuk mengikat bubu berukuran panjang

1,5 m, diikatkan pada mata tali utama dengan sistem simpul double

sheedband. Ujung pertama dan terakhir tali utama diikatkan pada jangkar


                                                                                 37
yang dihubungkan dengan pelampung oleh tali pelampung berdiameter 16 mm

dan panjang 1,5-21<ali kedalaman perairan. Setiap sambungan pada tali

tersebut menggunakan kili-kili (swivel) agar tali dapat berputar bebas. Setelah

ditemukan lokasi yang sesuai, dilakukan kegiatan penebaran (setting) dan

pengangkatan (hauling).




                 Gambar. 18 Posisi Kapal PadaTerhadap Tali Pada Saat
                                Pengangkatan Bubu


2 . 7. 8. 2 . P en ebar an (Setting)

   Penebaran bubu dapat dilakukan setiap saat, pada saat kapal bergerak maju

dengan kecepatan 31 knot. Tali pelampung dan bubu pertama yang dijatuhkan ke

laut akan diikuti oleh bubu berikutnya secara otomatis karena tertarik oleh

bubu    sebelumnya.      Bagian        terakhir   yang   turun   adalah   jangkar dan

pelampl..zr!a tanda (berbendera). Waktu yang dibutuhkan untuk menurunkan

rarigkaian 30 buah bubu ada1ah sekitar sepuluh menit. Bubu yang telah ditebar

dibiarkan terendam dalam laut selama 2-3 hari, kemudian dilakukan

pengangkatan (hauling) untuk mengambil hasil tangkapan.

2.7.8.3. Pengangkatan (Hauling)

  Pengangkatan bubu dilakukan pada siang hari agar lebih mudah menemukan

pelampung tanda. Bagian pertama yang diangkat adalah pelampung tanda,



                                                                                   38
dengan menggunakan pengait. Selanjutnya, tali pelampung ditarik dengan

menggunakan mesin penarik tali (winch) melalui sebuah takal (roller). Takal

berfungsi untuk mengurangi beban tarikan dan gesekan yang dapat menyebabkan

kerusakan pada tali.


 Selama pengangkatan, kapal tetap menghanyut. Pada saat bubu sampai di atas

dek kapal, penarikan dihentikan dan bubu dilepas dengan cara melepaskan ikatan

tali cabang pada tali warna. Demikian seterusnya hingga bubu terakhir, kcinudian

diikuti dengan 1)cngambilan hasil tangkapan dari dalam bubu. Waktu yang

dibutuhkan untuk mengangkat 30 buah bubu adalah sekitar dua jam.

Posisi kapal I)enarik sebaiknya membentuk sudut 30 derajat tcrhadap tali.

Posisi kapal terhadap tali ditunjukkan pada gambar gambar 18.


2.7.8.4. Tenaga Kerja

 Pengoperasian bubu dengan sistem berangkai (long line traps) dengan bubu

sebanyak 10-30 buah memerlukan tenaga kerja sekurang-kurangnya enam orang.

Pembagian tugas masing-masing tenaga kerja tersebut adalah sebagai berikut.

a. Tahap Penebaran

   1. Orang I , menjatuhkan tali pelampung I dan tali pelampung II

       (berbendeta).

   2. Orang II          menjatuhkan jangkar.

   3. Orang III, IV,V, dan VI : menjatuhkan bubu I dan mengawasi jatuhnya bubu

       yang lain.

b. Tahap Pengangkatan

   1. Orang I menarik tali pelampung dan tali utama enggunakan

   2. Orang II dan III melepaskan bubu dan tali.

   3. Orang IV clan V          mengangkat, menggulung, clan menyimpan tali




                                                                                 39
       pelampung, tali jangkar, dan tali utama.

   4. Orang VI mengambil hash tangkapan dan menumpuk bubu sebelum

       disusun kembali untuk operasi selanjutnya.

      Lobster hasil penangkapan diupayakan agar tetap hidup sampai ke

tangan konsumen, mengingat harga lobster hidup lebih tinggi daripada

lobster yang sudah mati. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan

keterampilan tersendiri.), penanganan lobster tangkapan dapat dilakukan

dengan beberapa cara, antara lain pengadukan air, perlakuan aerasi, dan

pembiusan dengan suhu rendah (es air laut).

1. Sistem Pengadukan Air

  Penanganan lobster hash tangkapan dengan sistem ini sangat sederhana dan

biasanya dilakukan oleh nelayan-nelayan kecil dengan fasilitas kurang

memadai. Biasanya, perahu nelayan dilengkapi dengan bak penampung

lobster. Bak tersebut diisi dengan air Taut secukupnya atau setinggi 1520

cm. Oermukaan air diaduk-aduk secara terus-menerus hingga lobster

sampai ke tangan konsumen. Dengan perlakuan pengadukan tersebut

diharapkan terjadi difusi oksigen ke dalam air di dalam bak sehingga lobster

dapat bertahan hidup .

       Secara ekonomi, cistern ini mempunyai keuntungan tersendiri,

yakni tidak memerlukan biaya sehingga tidak terjadi pembengkakan biaya

produksi. Namun, secara teknis sistem ini merugikan karena membutuhkati

lebih banyak tenaga kerja clan ruang. Dalam sate perahu setidaknya hares

ada tiga orang, sate orang mengemudikan perahu clan dua orang lainnya

secara bergantian bertugas mengaduk-aduk permukaan air dalam bak

penampungan.

       Selain itu, sistern ini tidak menjamin kelangsungan hidup lobster hasil




                                                                           40
tangkapan karena kelalaian sedikit saja akan berdampak besar terhadap

lobster. Berdasarkan pengalaman nelayan penangkap lobster di Teluk Bone,

penanganan lobster dengan cara seperti ini hanya bisa mempertahankan 65% dari

total hasil tangkapan.

2. Sistem Perlakuan Aerasi

       Pada prinsipnya, penanganan hasil tangkapan dengan sistern perlakuan

aerasi hampir sama dengan penanganan dengan sistem pengadukan air.

Namun, untuk meningkatkan oksigen terlarut, diupayakan- difusi oksigen

secara langsung dengan mencelupkan batu dan slang aerasi ke dasar wadah

penampungan. Pangkal slang aerasi dihubungkan dengan sumber udara

(oksigen) berupa tabung oksigen, blower, atau aerator.

       Keuntungan sistem ini adalah kelangsungan hidup lobster lebih

terjamin karena kandungan oksigen dalam air relatif stabil. Namun, sistem ini

membutuhkan banyak biaya dan ruang. Meskipun demikian, jika dianalisis

secara ekonomi, sistern ini lebih menguntungkan karena bisa mempertahankan

kelangsungan hidup hasil tangkapan hingga 80-90%.

3. Pembiusan dengan Suhu Rendah

        Penanganan hasil tangkapan dengan sistem ini biasanya dilakukan

oleh     perusahaan-perusahaan    atau    nelayan    tertentu   yang   memiliki

keterampilan, sarana, clan prasa,rana yang memadai, serta modal yang

cukup banyak. Pada prinsipnya, penanganan dengan sistem pembiusan

adalah menekan aktivitas metabolisme clan respirasi selama pengangkutan

agar kehidupan dapat dipertahankan.




2.8 Perkembangan Larva Lobster




                                                                            41
      Dalam tahap perkembangan larva filosoma, maka larva obster pada

tahap perkembangannya dibagi menjadi sebelas sub stadium :




                                                                   42
Gambar . 19. Perkembangan Larva Pada Stadium Filosoma




                                                        43
                              Gambar. 20. Lobster Muda




                              Gambar.20. Lobster Muda


2.9.     Hipotesis
         Untuk menjawab permasalahan       serta tujuan dari penelitian ini maka
         diberikan jawaban sementara praduga ( Hipotesis ) sebagai jawaban awal
         dalam penelitian ini .

       Ho =     Kombinasi pemberian jenis pakan yang berbeda tidak berpengaruh
                terhadap pertumbuhan Udang Karang ( Lobster )

       H1 =     Kombinasi pemberian jenis pakan yang berbeda tidak berpengaruh
                terhadap pertumbuhan Udang Karang ( Lobster )




                                                                             44

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:2489
posted:9/25/2010
language:Indonesian
pages:33