Docstoc

Laporan Antara MP Kesehatan 10-11-2008 - edit

Document Sample
Laporan Antara MP Kesehatan 10-11-2008 - edit Powered By Docstoc
					BAB 1 PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Berdasarkan RPJMD Kabupaten Keerom Tahun 2006-2012, pemba-ngunan kesehatan adalah bagian penting dalam konteks pembangunan sumberdaya manusia, sebagai upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat, yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan. Oleh karena itu pembangunan kese-hatan dipandang sebagai suatu investasi untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia dan mendukung pembangunan masyarakat secara utuh.

Dalam beberapa tahun usia Kabupaten Keerom, telah banyak dilakukan oleh Pemerintah Daerah, namun demikian, status kesehatan ini masih jauh tertinggal dibandingkan dengan kemajuan yang dicapai daerah lainnya, maupun berbagai komitmen global antara lain seperti pencapaian sasaran Millennium Development Goals (MDGs). Langkah-langkah strategis pembangunan kesehatan yang ditempuh selama ini masih cendeung bersifat sporadis dan tersegmentasi pada bagian-bagian tertentu (parsial) dan belum bersifat komprehensif.

Beberapa permasalahan dan tantangan yang dihadapi dalam pembangunan kesehatan antara lain adalah masih tingginya disparitas status kesehatan. Meskipun diakui adanya peningkatan status kesehatan masyarakat, tetapi tampak belum siginfikan untuk mendukung peningkatan kualitas manusia sehat, karena disparitas status kesehatan antar tingkat sosial ekonomi, dan antar kawasan di Kabupaten Keerom yang masing tergolong cukup tinggi. Permasalahan penting lainnya yang dihadapi dalam pembangunan kesehatan di Kabuaten Keerom adalah terjadinya beban ganda penyakit. Pola penyakit yang diderita oleh masyarakat sebagian besar adalah penyakit infeksi menular seperti tuberkulosis paru, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), malaria, diare, dan penyakit kulit. Namun demikian, pada waktu yang

bersamaan masyarakat dihantui dengan emerging diseases seperti demam berdarah dengue (DBD) dan HIV/AIDS.

1

Sehubungan dengan itu, diperlukan adanya suatu kerangka umum yang mendasar mengenai arah kebijakan pembangunan kesehatan di kabupaten ini. Kerangka umum dimaksud adalah Rencana Induk (Master Plan) Pembangunan Kesehatan yang mencakup berbagai aspek kesehatan dan gizi masyarakat secara komprehensif dan integral. Rencana Induk tersebut didasarkan pada arah pemba-ngunan kesehatan, yaitu Pertama, meningkatkan pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan melalui peningkatan jumlah, jaringan dan kualitas puskes-mas; dan pengembangan jaminan kesehatan bagi penduduk miskin dengan melanjutkan pelayanan kesehatan gratis di puskesmas dan rumah sakit; Kedua, meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan melalui peningkatan kualitas dan pemerataan fasilitas kesehatan dasar; dan peninkatan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan; dan Ketiga, meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat melalui peningkatan sosialisasi kesehatan lingkungan dan pola hidup sehat; dan peningkatan pendidikan kesehatan pada masyarakat sejak usia dini. Ke depan, pembangunan kesehatan diprioritaskan pada peningkatan upaya kesehatan masyarakat, upaya kesehatan perorangan, pencegahan dan

pemberantasan penyakit, dan perbaikan gizi masyarakat, sumberdaya kesehatan, promosi dan pemberdayaan masyarakat, dan lingkungan sehat. Prioritas tersebut didukung oleh peningkatan obat, perbekalan kesehatan, pengawasan obat dan makanan, pengembangan kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan, serta penelitian dan pengembangan kesehatan.

2. Maksud dan Tujuan Penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kesehatan ini dimaksudkan sebagai bagian dari kebijakan pengembangan sumberdaya manusia melalui pembangunan Kesehatan secara terarah dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat di Kabupaten Keerom. Adapun tujuannya adalah : 1. Tersedianya data yang akurat sebagai basis pengembangan kebijakan dan program pembangunan di Bidang Kesehatan tahun 2009-2014 2. Menghasilkan rencana induk (Master Plan) yang memuat map strategic Pembangunan Kesehatan Kabupaten Keerom.

2

3. Sasaran Sasaran dari penyusunan rencana induk (Master Plan) ini adalah tersedianya dokumen pembangunan Kesehatan dan Gizi di Kabupaten Keerom yang bersifat komprehensif dan integral, mencakup indikator makro yang memuat data dan informasi tentang dimensi-dimensi kesehatan.

4. Pentahapan Kegiatan Dalam melakukan penyusunan rencana induk (Master Plan)

Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Keerom dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : a. Pengumpulan Data penunjang (Primer & Sekunder) Data primer dikumpulkan dengan mencari, mendengar dan menerima masukan dari SKPD terkait, dalam bentuk seminar, tatap muka dan panel. Selain itu, dihimpun juga melalui pendataan lapangan dengan teknik wawan-cara terhaap informan kuni dan melakukan verifikasi faktual di lapangan dengan teknik observasi langsung. Sedangkan data sekunder dikumpulkan dengan mengambil data yang sudah tersusun/ada

sebelumnya pada SKPD terkait yang dapat dijadikan sebagai data penunjang. b. Pengolahan dan analisis Data Pengolahan dilakukan terhadap data yang sudah terkumpul. Selanjutnya di periksa kebenaran dan keabsahannya, serta melakukan klasifikasi dan tabulasi data sesuai keperluannya. Data yang telah diklasifikasi dan ditabulasi diproses lebih lanjut ke tahapan analisis secara sistematis.

c. Penyusunan Master Plan Setelah data diolah secara baik, maka selanjutnya dibuat keragaan rencana induk sesuai dengan kondisi riil dalam bentuk display tabulasi, matriks, dan/atau Bagan Chart. Oleh tenaga ahli yang berkompeten. d. Laporan Hasil Setelah kegiatan analisis dan penulisan, dokumen Rencana Induk (Master

3

Plan) tersebut, dilaporkan kepada Pemerintah Kabupaten Keerom melalui Kepala Bappeda Kabuapaten Keerom sebagai penanggung jawab kegiatan.

5. Ruang Lingkup Inventarisasi data primer yang merupakan hasil penjaringan data melalui wawancara dan diskusi terfokus yang dilakukan di wilayah Kabupaten Keerom, sedangkan data sekunder diperoleh dari SKPD terkait (Dinas Kesehatan), Puskesmas/Pustu, dan Posyandu. yang berada di wilayah Kabupaten Keerom. Ruang lingkup informasi yang diperlukan ada dua aspek yaitu: 1. Data primer dan sekunder Kinerja Sistem Kesehatan di

Kabupaten Kerom 2. Kerom. Data-data tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: Data primer dan sekundder Determinan kesehatan di Kabupaten

VARIABEL

INDIKATOR Angka Kematian Bayi/1000 Kh Angka kematian balita Imunisasi Balita Kampung UCI (%) ASI Eksklusif (%) Balita Gizi Buruk (%) Angka kematian ibu/100.000 kh Presentasi persalinan oleh nakes (%) Tablet Fe 90 Bumil (%) Kunjungan K4 (%) Jumlah bumil Risti (%) Bumil Risti dirujuk (%) Angka kesakitan per 1000 penduduk Rata-rata lama sakit Angka kesakitan malaria per 1000 penduduk Angka kesembuhan penderita TB paru (+) Jumlah penderita HIV/AIDS Angka kesakita DBD per 100.000 penduduk Rumah Sehat (%) Tempat umum sehat (%) Posyandu Purnama (%) Posyandu Mandiri (%) Jumlah puskesmas per 100.000 penduduk Jumlah pustu per 100.000 penduduk penduduk yang dilayani puskesmas (%) Sarana kesehatan dengan kemampuan laboratorium (%) Persediaan obat generic berlogo (%)

KESEHATAN BAYI & BALITA

KESEHATAN IBU

MORBIDITAS

KESEHATAN LINGKUNGAN PERILAKU KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

SARANA PELAYANAN KESEHATAN

4

KEJADIAN LAUR BIASA

TENAGA KESEHATAN

Kampung KLB < 24 jam (%) Rasio Dokter Umum per 100000 penduduk Rasio Dokter gigi per 100000 penduduk Rasio Apoteker per 100000 penduduk Rasio Bidan per 100000 penduduk Rasio Perawat per 100000 penduduk Rasio Ahli Sanitasi per 100000 penduduk Rasio Ahli Kesehatan Masyarakat per 100000 penduduk Alokasi anggaran per tahun (%)

PENGANGGARAN KESEHATAN

Penyusunan Master Plan Pembangunan Kesehatan hanya dibatasi sampai menyusun program-program indikatif karena master plan atau rencana induk hanya menjadi payung perencanaan dalam menyusun program pembangunan kesehatan dan rencana kegiatan pembangunan kesehatan di Kabupaten Kerom.

6. Pelaksanaan Kegiatan Penyusunan Master Plan Pembangunan Kesehatan Kabupaten Keerom ini akan diselesaikan sesuai jadwal terlampir. Pelaksanaannya terbagi dalam tahapan kegiatan yaitu Persiapan, Pelaksanaan, Penyajian, dan Pelaporan. a. Persiapan :
 

Perencanaan Administratif: Kontrak Kerjasama Penyusunan Instrumen: Panduan Pengumpulan data sekunder dan primer



Penyiapan bahan :

b. Pelaksanaan


Pengumpulan Data: Pengorganisasian penelitian, penyebaran tim peneliti ke berbagai instansi dan berbagai individu untuk melakukan wawancara dan pengumpulan data sekunder

 

Pengolahan dan analisis Data Visualisasi

c. Penyajian


Pembahasan hasil dalam forum seminar melibatkan stakeholder

5



Diskusi Terbatas dengan aparatur Pemerintah bidang kesehatan dan Bappeda Kabupaten Keerom

d. Pelaporan
 

Penyusunan dokumen Final Penggandaan, pencetakan, dan publikasi.

7. Kerangka Analisis Data sekunder yang diperoleh akan divisualisasikan menurut trend waktu dan penyebaran lokasi (Kampung, Distrik dan Kabupaten). Data visualisasi tersebut digunakan untukmenganalisis kebutuhan kesehatan penduduk dan pemerintahan Kabupaten Kerom dalam rangkan membuat rencana induknya. Rencana induk akan berisi kebutuhan kesehatan penduduk menurut trend waktu, kebutuhan penyebaran menurut lokasi dan kebutuhan sumber daya kesehatan seperti tenaga, peralatan, infrastrukktur, obat-obatan, dan kualitas pelayanan. Selain itu analisis juga diarahkan pada faktor-faktor diluar kesehatan yang turut mempengaruhi kesehatan atau yang kita sebut analisis determinan kesehatan.

Jadi ada dua perspektif dalam melakukan analisis, yaitu perspektif internal kesehatan dan perspektif eksternal kesehatan. Hasil analisis dari dua perspektif ini yang digunakan untuk mengetahuai Visi dan misi, arah kebijakan dan program indikatif. Kesemua rencana induk ini akan disusun menggunakan pendekatan Logical Framework Analysis (LFA) Skema analisis dapat dilihat sebagai berikut:

6

7

BAB II POTRET PEMBANGUNAN KESEHATAN
2.1. WILAYAH PEMERINTAHAN Wilayah pemerintahan Kabupaten Keerom memiliki luas 8.390 km2. Sebagian besar

wilayahnya terbentang di belahan berbatasan dengan Timur yang

langsung Papua New

Guinea. Di sebelah Utara berbatasan Kabupaten sebelah berbatasan dengan Jayapura, selatan dengan

Kabupaten Pegunungan Bintang, dan di sebelah Barat berbatasan dengan Kota Jayapura. Kabupaten Keerom terbagi ke dalam 5 wilayah pemerintahan distrik yang dibentuk bersamaan dengan lahirnya UndangUndang Nomor : 26 Tahun 2002, yaitu : Distrik Arso, seluas 1.879 km2 terdiri dari 21 kampung, Distrik Skanto, seluas 1.348 km2 terdiri dari 8 kampung, Distrik Waris, seluas wilayah 817 km2 (6 kampung), Distrik Senggi memiliki luas 2.767 km2 (6 kampung), serta Distrik Web dengan luas 1.579 km2 (7 kampung). Kemudian tahun 2008 dibentuk 2 pemerintahan distrik, yaitu distrik Arso Timur dan Distrik Tower Ibu Kota Kabupaten Keerom dapat dijangkau melalui jalan darat dari Kota Jayapura. Jarak tempuh dari Kota Jayapura ke Arso Kota sebagai Ibu Kota Keerom sejauh ± 40 km, dengan kondisi jalan yang sudah diaspal. Angkutan umum baik bus maupun angkutan perdesaan setiap saat dapat melintasi rute Jayapura – Arso. Distrik-distrik di wilayah Kabupaten Keerom dapat diakses melalui jalan darat, kecuali Distrik Web. Dari Arso Kota dengan menggunakan kendaraan roda-2 dan roda-4 ke Distrik Senggi ± 5 jam, ke Distrik Waris ± 3 jam dan ke Distrik Skanto ± 1 jam. Selain lewat darat, Distrik Senggi juga dapat diakses dengan menggu-nakan pesawat udara.

8

Sampai saat ini, Distrik Web hanya dapat dicapai dengan pesawat udara sejenis Twin Otter dari Bandara Sentani Jayapura. 2.2 Kependudukan Sekelompok penduduk memiliki ciri-ciri antara lain jumlah, komposisi umur, penyebaran, sifat-sifat perkembangan, mobilitas dan sebagainya. Dengan demikian, untuk dapat memahami tentang dimamika penduduk di Kabupaten Keerom, maka perlu dilihat tentang bagaimanakah ciri-ciri penduduknya. Jumlah penduduk Kabupaten Keerom pada tahun 2005 sebanyak 45.649 jiwa dan kemudian meningkat menjadi 47.206 jiwa pada tahun 2006. Penduduk Kabupaten Keerom terdiri dari 3.263 rumah tangga. Dari jumlah tersebut sebagian besar rumah tangga di Distrik Arso ( 51,31%), kemudian Distrik Skamto (30,76%) dan distrik yang lainnya jumlah rumahtangganya kurang dari 6,97%. Selama kurun waktu antara tahun 2005 sampai tahun 2006 terjadi pertambahan penduduk sebesar 1.557 jiwa. Atas dasar data tersebut diperoleh angka pertumbuhan penduduk Kabupaten Keerom tahun 2006 sebesar 3,41%. Penduduk Kabupaten Keerom yang meningkat dari tahun ke tahun ini, disebabkan karena jumlah kelahiran (fertilitas) yang lebih besar dari pada jumlah kematian (mortalitas), serta migrasi masuk lebih besar dari migrasi yang keluar. Jumlah penduduk tersebar di 7 distrik yaitu distrik Web, Tower, Senggi, Waris, Arso, Arso Timur dan Skanto. Berdasarkan data penduduk tahun 2006 sebagian besar penduduk tinggal di distrik Arso 23.537 jiwa (49,867%), kemudian disusul distrik Skanto 14.791 jiwa (31,13%) sedangkan ke lima distrik lainnya jumlahnya lebih kecil (kurang dari 7,11 Dari keseluruhan penduduk di Kabupaten Keerom yang berjumlah 47.206 orang, komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa jumlah penduduk laki-laki -laki 25.623 jiwa (54,28% dan perempuan 21.583 jiwa ( 45,72%). Dengan demikian proporsi penduduk laki-laki di Kabupaten Keerom lebih besra dari

9

pada perempuan. Berdasarkan komposisi penduduk menurut jenis kelamin tersebut maka rasio jenis kelamin (sex ratio) penduduk Kabupaten Keerom adalah sebesar 119. Rasio jenis kelamin sebesar 119 ini berarti bahwa untuk setiap 100 orang perempuan terdapat 119 laki-laki. Keadaan ini

menunjukkan bahwa jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dari pada penduduk perempuan. Hal ini selain karena pengaruh kelahiran (fertilitas), juga dipengaruhi oleh migrasi masuk yang lebih besar dari pada migrasi keluar dari wilayah tersebut. Hal ini tidak terlepas dari Kabupaten Keerom pada masa lulu sebagai daerah penerima transmigran sehingga beberapa distrik diprediksikan masih memiliki mobilitas yang masih besar. Keadaan penduduk menurut umur dan jenis kelamin menggambarkan tentang keadaan struktur penduduk, dan hal ini dapat dicermati melalui distribusi penduduk menurut golongan umur, distribusi penduduk menurut jenis kelamin, maupun distribusi penduduk menurut daerah tempat tinggal. Keadaan struktur penduduk ini sangat erat kaitannya dengan ciri dan perilaku demografis maupun sosial ekonomi. Keadaan ini cukup penting untuk diketahui karena sangat erat kaitannya dengan upaya penyusunan perencanaan pembangunan di bidang sosial, ekonomi maupun bidangbidang lainnya karena perobahan komposisi penduduk menurut umur, jenis kelamin maupun daerah tempat tinggal juga akan mempengaruhi prioritas pembangunan pada setiap daerah sesuai dengan kondisi penduduknya. Jika dilihat atas dasar komposisi penduduk berdasarkan umur, dimana jumlah penduduk umur 0-14 tahun sebanyak 16.042 jiwa atau 33,98% , hal ini memberikan gambaran bahwa besarnya persentase komposisi penduduk pada umur 0 -14 tahun ini menunjukkan pada kategori penduduk muda. Keadaan ini juga menunjukkan bahwa jumlah penduduk di Kabupaten Keerom masih banyak dipengaruhi oleh faktor kelahiran. Luas wilayah Kabupaten Keerom sebesar 9.365 Km2, meliputi 5 distrik dan sekarang telah menjadi 7 distrik. Pada tahun Distrik Senggi 3.008, 55 Km2 2006 Kabupaten Keerom

masih terdiri 5 distrik, dan dari 5 distrik tersebut yang paling luas adalah (32,97 %), sedangkan distrik yang

wilayahnya terkecil yaitu Distrik Waris 911,94 Km2 (9,73 %) dari luas 10

wilayah Kabupaten Keerom. Kepadatan penduduk Kabupaten Kerom sebesar 5,04 jiwa per Km2, sedangkan kepadatan penduduk menurut distrik, maka Distrik Arso penduduknya paling banyak dan padat jika dibandingkan dengan distrik yang lainnya, yaitu 11,22 jiwa per Km2, sedangkan distrik yang lain kurang dari angka tersebut. Jika

kepadatan penduduk Kabupaten Keerom

dibandingkan dengan

kepadatan tingkat Provinsi Papua maka kepadatan penduduk Kabupaten Keerom masih lebih rendah. Kabupaten Kerom terdiri dari 48 kampung, dan dari jumlah tersebut kampung yang jumlahnya terbanyak di Distrik Arso yaitu 21 kampung, kemudian Skamto 8 kampung, sedangkan distrik lainnya kurang dari 8 kampung. Karena jumlah kampung di Distrik Arso maka jumlah penduduk dan ryumah tangga sebagian besar di Distrik Arso dengan rata setiap rumah tangga 4,32 jiwa, sedangkan rata-rata penduduk perumah tangga di Kabupaten Keerom sebesar 4,45 jiwaa 2.2. Prasarana dan Sarana Kesehatan

Angka harapan hidup waktu lahir merupakan salah satu variabel yang menentukan keberhasilan pembangunan manusia yang dalam hal ini dijadikan salah satu indikator untuk menghitung Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index). Tingkat pencapaian IPM di Papua baru mencapai angka 66,20 pada tahun 2005. Tinggi rendahnya angka harapan hidup dipengaruhi oleh keadaan kesehatan dan angka kematian penduduk seperti kematian, bayi, ibu dan kematian anak. Guna memenuhi dan melayani serta meningkatkan kesehatan prasarana kehatan yang memadai, serta jumlah

penduduk maka

tenaga medis dan paramedis yang cukup sangat penting.

2.2.1 Puskesmas Sebagai Kabupaten baru sarana dan prasarana kesehatan tebatas, secara bertahap terus ditingkatkan. Jumlah sarana kesehatan dengan kemampuan laboratorium pada tahun 2004 baru 3 puskesmas. Semakin 11

menigkatnya jumlah penduduk , perhatian pemerintah dalam bidang kesehatan tentang pentingnya kesehatan maka pada tahun 2007 jumlah puskemas meningkat menjadi 7 puskesmas. Dari jumlah tersebut 3 buah puskesmas rawat inap, 4 buah puskesmas nonrawat inap. Dari 7

puskesmas tersebar di 5 distrik yaitu Distrik Arso 3 buah, sedangkan Disrik Waris, Senggi, Web dan Skanto masing-masing 1 puskesmas. Pada tahun 2007 dikembangkan pustu Arso Pir IV menjadi Puskesmas Arso Pir IV.

Berdasarkan hasil diskusi di BAPPEDA Keerom Puskesmas Plus Arso Swakarsa untuk ditingkatkan menjadi rumah sakit tipe D. Jumlah

kampung/kampung di Kabupatersebar di Distrik Arso 21 kampung, Distrik Skanto 8 kampung, Distrik Waris 6 kampung, Distrik Senggi 6 kampung dan Distrik Web 7 kampung.

2.2.2 Pustu Selain Puskemas Rawat Inap dan Puskemas Nonrawat, Kabupaten Keerom dalam menigkatkan kesehatan penduduknya memiliki Puskesmas Pembantu sebanyak 34. Dari 34 Pustu tersebar di Distrik Arso 12 (38,71%), Distrik Santo 7 (22,58%), Distrik Web 3 (9,68%), Distrik Senggi 4 (12,90%), dan Distrik Web 8 (25,81%).

Puskesmas dengan dokter umum 7 orang, Puskesmas dengan dokter gigi 3 orang. Dalam upaya meningkatkan pelayanan penduduk dan peningkatan kesehatan dibangun Puskesmas dengan Laboratorium 6 buah, sedangkan kendaraan atau mobil jenasah baru 1 buah.

Besarnya rasio penduduk terhadap puskesmas sebesar 7.608 orang per puskesmas tahun 2005, kemudian meningkat menjadi 6.744 orang per puskesmas tahun 2006. Bila puskesmas dan puskesmas pembantu

digabung maka rasio penduduk dengan puskesmas menjadi 1.180 penduduk per puskesmas. Jika dilihat atas jumlah kelihatan rasionya masih rendah, namun persebaran penduduk yang berjahuan dengan puskesmas merupakan

12

suatu kendala tersendiri di Kabupaten Keerom khusunya.

2.2.3 Polindes Jumlah Polindes di Kabupaten Keerom sebanyak 8, tersebar di Distrik Arso 3 (37,50%), Distrik Santo 3 (37,50%), DistrikWaris 2 (25,0%). Dua distrik lainnya yaitu Senggi dan Web belum ada Polindes.

2.2.4 Puskesmas Keliling Untuk memperlancar pelayanan kesehatan masyarakat di daerahdaerah terpencil, di Kabupaten Keerom masih terdapat puskesmas

keliling 30, yang terdiri dari puskesmas keliling roda empat tersebar di distrik Arso 2 buah, Distrik Skanto 2 buah, Distrik Senggi 1 buah dan Distrik Waris 1 buah, sedangkan Distrik Web belum ada. Jumlah puskesmas keliling roda dua sebanyak 24 buah tersebar di Distrik Arso 9 buah, Distrik Skanto 5 buah, Distrik Waris 4 buah, Distrik Senggi 4 buah dan Distrik Web 2 buah. Selin itu untuk peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat di Keerom juga tedapat Bidan 9 buah. Puskesmas/Pondok

2.2.5 Fasilias Kesehatan lainnya Selain puskesmas dan puskesmas pembantu, fasilitas kesehatan yang

13

lain yaitu Posyandu 65 buah, Rumah Bersalin 1, Balai Pengobatan 1buah.

2.2.6 Apotik dan Toko Obat Dalam rangka pemerataan pelayanan obat dan penyediaan obat, di Kabupaten Keerom jumlahnya terus bertambah. Jika pada tahun 2004 apotik maupun toko obat di daerah ini belum ada, baru kemudian tahun 2005 tedapat 1 buah apotik, dan 2 toko obat. Pada tahun 2006 jumlah apotik menjadi 2 buahberada di Distrik Arso, dan 6 toko obat yang tersebar di 4 toko obat di Distrik Arso sedangkan 2 toko obat lainnya di Distrik Skanto. Melihat data tersebut jumlah apotik dan toko obat di Kabupaten Keerom masih terbatas jika dilihat dari luas wilayah dan jumlah persebaran penduduk yang berjahuan walaupun secara bertahap jumlahnya terus bertambah seiring meningkatnya jumlah penduduk. 2.3 Tenaga Kesehatan 2.3.1 Jumlah Dokter Jumlah tenaga dokter di Kabupaten Keerom , dan persebarannya masih sangat terbatas walaupun secara bertahap terus bertambah tetapi masih lambat. Pada tahun 2004 jumlah dokter umum 7 orang dan 9 orang yang terdiri dari dokter

dokter gigi 2 orang . Berbagai upaya untuk

meningkatkan jumlah tenaga dokter dilakukan seperti melalui kontrak, mendatangkan dokter PTT. Jumlah dokter pada tahun 2007 meningkat secara signifikan seiring dengan meningkatnya pembangunan kesehatan. Jumlah dokter tahun 2007 sebanyak 21 orang yang terdiri dari dokter umum 15 orang, dokter gigi 4 orang, dan dokter spisialis 2 orang. Dua

orang dokter spesialis yang ada masih kontrak dari Jayapura. Para dokter tersebut tersebar di distrik Arso 10 orang , Distrik Waris 3 orang, Distrik Senggi 3 orang, Distrik Skanto 3 orang dan Distrik Web 2 orang dokter. Dokter ahli 2 orang bertugas di Distrik Arso, sedangkan dokter gigi 4 orang bertugas di Distrik Arso 3 orang dan Distrik Skanto 1 orang. Dengan demikian belum semua distrik terdapat dokter gigi dan dokter ahli.

14

Besarnya rasio penduduk terhadap dokter tahun 2005 sebesar 4.565 penduduk per satu Jika dokter. angka

pertumbuhan penduduk Kabupaten Keerom 3,41% pertahun maka jumlah penduduk tahun 2007 sebesar 48.815 jiwa, dan jumlah dokter umum 15 orang maka rasio penduduk terhadap dokter umum 3.254. Jika stadar nasional 40 dokter untuk 100.000 penduduk atau 1 dokter umum untuk 2.500 penduduk, maka rasio dokter di keerom masih tinggi, dan ini belum dipertimbangkan kondisi geografis Keerom yang luas. Mengingat Kabupaten Keerom sangat luas dan banyak penduduk tinggal di daerah terpencil dan semakin meingkatnya kebutuhan kesehatan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan penduduk, meningkatkan angka harapan hidup perlu penambahan jumlah dokter umum dan spesialis.

Rasio dokter gigi terhadap penduduk tahun 2007 sebesar 9 per 100.000 penduduk, sedangkan angka standar nasinal tahun 2010 sebesar 11 per 100.000 penduduk. Angka ini menunjukkan bahwa di Keerom masih kekurangan tenaga dokter gigi. Hal inipun belum kalau dilihat penyebarannya, ternyata hanya 2 orang yang bertugas di Puskesmas.

2.3.2 JumlahTenaga Paramedis Jumlah tenaga paramedis yaitu perawat tahun 2005 berjumlah 103

orang tetapi pada tahun 2006 jumlahnya menurun menjadi 98 orang.

15

Sebagian besar perawat bertugas di Distrik Arso yaitu 52 (53,06%), Distrik Skanto 17 (17,35%), Distrik Senggi 10 orang (10,20%), sedangkan distrik yang lainnya jumlahnya lebih sedikit. Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Keerom rasio perawat terhadap penduduk tahun 2007 sebesar 222 per 100.000 penduduk, dan meningkat bila dibandingka rasio tahun

2006 sebesar 219 per 100.000 penduduk. Dengan demikian sudah melebihan standar nasional yaitu 117,5 per 100.000penduduk.

Jumlah bidan sebanyak 43 tersebar di Puskesmas Arso Kota 13 ( 30,23%), Arso Barat 8 (18,60%), Plus Arso Swakarsa 4 (9,30%), Arso VIII 8 (18,60%), Waris 6 (13,95%), Senggi 3 (6,98%), Ubrub 1 (2,32%), dan Sekretariat Dinkes 2 (4,65%).

Jumlah tenaga paramedis nonperawat tahun 2005 berjumlah 21 orang dan tahun tahun 2006 masih tetap berjumlah 21 orang. Dari jumlah tersebut sebagian besar tenaga paramedis nonperawat bertugas di Distrik Arso berjumlah 11 orang (52,38%), Distrik Skanto 5 orang (23,81%), sedangkan distrik lainnya lebih kecil dan bahkan Distrik Web belum ditempatkan tenaga nonparamedis.

2.3.3 JumlahTenaga Nonmedis Jumlah tenaga kesehatan nonmedis dari 4 orang pada tahun 2005

meningkat dratis menjadi 55 orang pada tahun 2006. Tenaga nonmedis sebagian besar bertugas di Distrik Waris yaitu 20 orang (36,36%), kemudian Distrik Arso 15 orang (27,27%), sedangkan Distrik lainnya jumlahnya lebih kecil.

2.4

Pelayanan Kesehatan

2.4.1 Imuisasi

Besarnya angka kematian bayi pada tahun pada tahun 2005adalah sebanyak 72 orang dari 2.017 orang. Ini berarti angka kematian bayi 16

(IMR/AKB) sebesar 36 per 1000 kelahiran hidup. Pada tahun 2006 angka kematian bayi sebesar 35 per 1000 kelahiran hidup, dengan demikian terjadi penurunan angka kematian bayi. Semakin menurunya angka kematian bayi tidak lepas dari semakin baiknya kesadaran orangtua memperhatikan kesehatan bayi, makin baiknya pelayanan kesehatan dan sebagainya.

Jumlah Balita di Kabupaten Keerom pada tahun 2005 sebanyak 5.174 Balita, dari jumlah tersebut Balita yang terealisasi diimunisasi 3960 (76,54%). Pada tahun 2006 jumlah Balita yang diimunisasi meningkat menjadi 4.696 (84,61%).

Jika dirinci menurut jenis

menunjukkan bahwa imunisasi BCG

target tahu 2005 sebesar 1101 terealisasi 1011 (91,83%), kemudian tahun 2006 dari target 1126 terealisasi 881 (78,24%). Jadi imunisasi BCG mengalami penurunan. Penyebaran penduduk yang mendapat vaksinasi BCG sebagian di Distrik Arso yaitu 393 (44,61%), kemudian Distrik Skanto 253 (28,72%), sedangkan distrik yang lainnya jumlahnya lebih kecil.

Imunisasi DPT I target pada tahu 2005 sebesar 1101 terealisasi 823 (91,37%). Imunisasi DPT I target pada tahun 2006 bertambah, tetapi realisasi menurun menjadi 823 (73,09%). Imunisasi DPT II tahun 2005 ditargetkan 1101terealisasi 777(78,02%), sedangkan pada tahun 2006 target 1126 terealisasi 777 (69,00%). Imunisasi DPT III tahun 2005 target 1101 terealiasi 1003 (91,10%, sedangkan tahun 2006 dari target 1126 terealisasi 725 (64,39%). Imunisasi polio I tahun 2005 target 1101 terealisasi 998 (90,64%), sedangkan tahun 2006 dari target 1126 terealiasi 925 (82,15%). Imunisasi polio II pada tahun 2005 target 1101 tereailsasi 8888 (80,65%, sedangkan tahun 2007 target 1126 tereaisasi 804 (71,40%). Imunisasi Polio III tahun 2005 ditarget 1140 hanya terealisasi 892 (81,02%), sedangkan tahun 2006 17

ditargetkan 1126 hanya terealisasi 785 (69,7%). Imunisasi DT I target 2005 sebesar 1140 terealisasi 1091 (95,70%), sedangkan tahun 2006 dari target 1219 terealiasi 1166 (95,65%). Imunisasi Campak ditargetkan pada tahun 2005 sebesar 1212 terealisasi 984 (86,32%), sedangkan tahun 2006 target 1126 terealisasi 885 (78,59%). Imunisasi TT-2 pada tahun 2005 ditargetkan 1212 terealisasi hanya 70 (5,78%), sedangkan tahun 2006 target 1104 terealisasi 1044 (94,56%). Imunisasi TT-3 pada tahun 2005 target 1212 terealisasi 281(23,18%), sedangkan pada tahu 2006 target 992 terealisasi 898 (90.52%).Imunisasi TT-4, TT-5, TT-6 tahun 2006 tidak ditargetkan.

Imunisasi TT Ibu Hamil pada than 2005 ditargetkan 1212 terealisasi 191 (15,76%), sedangkan tahun 2006 target 1212 hanya terealisasi 201 (16,58%). Imunisasi TT Ibu Hamil II pada tahun 2005 ditargetkan 1212 terealisasi 70 (5,78%), sedangkan pada tahun 2006 ditargetkan 1212 hanya terealisasi 136 (11,22%). Atas dasar data tersebut bahwa pelayanan untuk imunisasi ibu hamil realisasinya masih rendah, karena itu angka kematian ibu di Papua termasuk masih tinggi. Imunisasi untuk TT Cal. Pengantin 1 dan 2 belum terealisasi.

Presentase Desa yang mencapai UCI dengan cakupan dengan cakupan imunisasi dasar lengkap (BCG 1 kali, DPT-HB 3 kali, Polio 4 kali dan Campak 1 kali) pada bayi telah mencapai > dari 80%. Desa/kampung yang mencapai Universal Child Imunisasi (UCI) pada tahun 2007 sebanyak 36 desa/kampung (75%) meningkat bila dibandingkan tahun 2006, sedangkan target nasional 80%. Hal ini menunjukkan masih kurangnya jangkauan pelayanan imunisasi yang akan berdampak terjadinya peluang penyakitpenyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi yang potensial

menimbulkan KLB/wabah. Puskesmas dengan desa UCI yang telah mencapai target baru 2 (dua) puskesmas yaitu Puskesmas Arso III (100%) dan Puskesmas Waris. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh geografis,

18

kesadaran masyarakat dan masih terbatasnya tenaga kesehatan. Walaupun demikian pada tahun 2007 tidak terjadi KLB/wabah.

2.4.2 Kunjungan Ibu Hamil, Ibu Hamil Risti dan Persalinan

Cakupan kunjungan ibu hamil K4 baru mencapai 32,1%, dan sebagian besar justru di Puskesmas Waris (47,8%) dan terendah Puskesmas Senggi (14,40%). Pada tahun 2007 jumlah ibu hamil risti yang dirujuk mencapai 31,20%, sedangkan target direncanakan hanya 20%, sehinga terdapat 11,20%. kelebihan atau melampoi target

Proses persalinan di Kabupaten Keerom pada tahun 2005 sebagian besar telah ditolong oleh bidan (43,0%), kemudian ditoong oleh keluarga (26,0%), dukun (13,0%), bantuan dokter dan tenaga medis lainnya kurang dari 10%. Proses persalinan pada tahun 2006 di Keerom yang dibantu tenaga bidan meningkat (59%), dokter

(13,0%), dukun (13,0%), tenaga medis lainnya dan keluraga persentasenya kurang dari 10%. Pada tahu 2007 ibu persalinan yang mendapatkan pertolongan persalinan oleh bidan atau tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan sebesar 41,5%,

sedangkan target yang ditentukan 90%. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak bumil yang menjalani persalinan dibantu tenaga diluar tenaga kesehatan seperti dukun dan persalinan yang besar. 2.4.3 Kunjungan Neonatus, Bayi dan Pelayanan BBLR Cakupan kunjungan neonatus (bayi 0 – 28 hari) tahun 2007 baru mencapai 50,9%, masih di bawah target yang ditentukan (90%). Jika dibandingka tahun 2006 yang mencapai 50,1% berarti terjadi kenaikan walaupun sedikit. Melihat keadaan ini maka diperlukan peningkatan kesadaran masyarakat (ibu-ibu yang baru melahirkan) 19 keluarga dengan resiko

pentingnya memeriksakan bayinya ke sarana pelayanan kesehatan. Selain itu para petugas kesehatan untuk lebih proaktif mengunjungi bayi neonatus. Cakupan kunjungan bayi (umur 1 – 12 bulan) memperoleh pelayanan kesehatan sesuai standar paling sedikit 4 kali baru mencapai 39,9%, sedangkan yang ditentukan 65%. Hal ini berarti masih jauh dari yang ditargetkan, untuk it mencapai terget perlu meningkatkan kesadaran masyarakay dan para petugas kesehatan untuk lebih proaktif. Sangat menggembirakan bahwa penanganan bayi berat lahir rendah (BBLR) yaitu bayi berat lahir < 2.500 gram yang ditimbang saat lahir sampai 24 jam pertama setelah lahir telah mencapai 100%. Hal ini sangat bagus dan terus dipartahankan sehingga jumlah kematihan bayi dapat diturunkan karena penaganan kesehatan semakin baik. 2.4.4 Pelayanan Pengobatan/Perawatan

Cakupan rawat jalan adalah cakupan kunjungan rawat jalan baru di sarana pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta. Dari jumlah penduduk 45.585 jiwa yang mendapat cakupan perawat jalan tahun 2007 mencapai 202,2%. Jika dibandingakan dengan target yang ditentukan hanya 15%, maka terdapat kelebihan cakupan sebesra 187,2%. Hal ini memberikan gambaran bahwa hampir seluruh masyarakat pernah mengalami sakit dan mendapat rawat jalan. Besarnya cakupan ini juga mungkin dari dampak pencatatan pelaporan di puskesmas belum baik.

Cakupan rawat inap adalah cakupan kunjungan rawat inap baru di sarana pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta. Pada than 2007 cakupan rawat inap 3,9%, sedangkat target yang ditentukan hanya 1,%, yang berati terdapat kelebihan 2,4%. Jumlah ini hanya yang dirawat di Puskesmas Perawatan, karena di Keerom belum ada rumah sakit, dan tidak termasuk yang sakit dirawat di rumah sakit di Jayapura.

20

2.4.5 Pelayanan Gizi

Cakupan Balita yang mendapat vitamin A, 2 kali pertahun pada tahun 2006 sebesar 59,7%, tetapi untuk tahun 2007 tidak diperoleh data. Cakupan Balita mendapat kapsul vitamin A adalah cakupan bayi umur 6 – 11 bulan mendapat kapsul vitamin A satu kali dan anak umur 12 – 59 bulan mendpat kapsul dosis tinggi 2 kali per tahun. Berdasarkan target 80%, berarti kegiatan pemberian vitamin belum baik dan bahkan cenderung meurun.

Jumlah ibu hamil tahun 2007 di Kabupaten Keerom sebanyak 1.268 dan yang telah mendapatkan tablet FE tahun 2007 sebesar 720 ( 56,8%), sedangkan pada tahun 2006 baru mencapai 53,4%. Jadi terjadi kenaikan ibu hamil yang mendapatkan tablet FE, hal ini menujukkan semakin sadarnya para ibu hamil dan meningkatnya pelayanan kesehatan. Tetapi jika dilihat target yang ditetapka sebesar 70%, dengan tingkat pencapaian 56,8% masih kurang dan perlu ditingkatkan. Pemberian makanan pendamping ASI pada bayi bawah garis merah (BGM) dari keluarga miskin sebanyak 145 bayi yang tersebar di 6 Puskesmas dapat terealisir 100%. Pemberian makanan pemdamping ASI pada bayi dari keluarga miskin adalah pemberian MP-ASI dengan porsi 100 gram perhari selama 90 hari.

Dari sebanyak 28 Balita gizi buruk yang ditemukan sebagian besar di Puskesmas Waris sebanyak 13 (46,43%), Senggi 6 (21,43%), dan sisanya dalam jumlah yang lebih kecil tersebar di 3 puskesmas yaitu , Arso Kota, Arso Barat dan Puskesmas Ubrub. Dari 6 puskesmas, satu puskesmas yang tidak menemukan Balita gizi buruk adalah Puskesmas Arso III.

21

Sarana kesehatan dengan kemampuan gawat darurat dengan target yang ditentukan sebesar 60%, baru tercapai 50%. Hal ini memberikan

gambaran bahwa kemampuan gawat darurat masih kurang bila dibandingkan dengan target yang ditetapkan.

2.4.6 Jumlah Bayi yang mendapat ASI Eksklusif Pada tahun 2007 jumlah bayi di Kabupaten Keerom yang terdata di 6 puskesmas 1.154 bayi, tersebar di Puskesmas Arso Kota 351 (30,42%), Arso Barat 220 (19,06%), Arso III 332 (28,77%), Waris 63 (5,46%), Senggi 83 (7,19%), dan Ubrub 105 (9,10%). Bayi yang mendapat ASI sampai bulan ke 6 pada tahun 2007 sebear 15,20%, dan tahun 2006 yang mendapat ASI ekslusif baru 12,% berarti terjadi peningkatan. Jika dilihat berdasarkan puskesmas, maka Puskesmas Waris (73%) bayi diberikan ASI eksklusif dan terendah di Puskesmas Ubrub.

2.4.7 Pelayanan Kesehatan Keluarga Miskin Berdasarkan laporan pendataan oleh BPS tahun 2005 jumlah rumah tangga miskin di Kabupaten Keerom sebanyak 5.769, yang meliputi 23.410 anggota rumahtangga miskin. Sejak krisis ekonomi pada awal tahun 1999, keluarga miskin (Gakin) mendapat pelayanan kesehatan dasar secara gratis melalui program Penanggungan Dampak Pengurangan Subsidi Energi Bidang Kesehatan (PD-PSE BK), kemudian berlanjut dengan nama Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPSBBM) dan menjadi Jaminan Kesehatan bagi Masyarakat Miskin (JPKMM).

2.4.8 Pelayanan kesehatan Lingkungan Sarana institusi yang dibina kesehatan lingkungannya adalah sarana kesehatan, sarana sekolah, sarana ibadah, sedangkan sarana perkantoran, sarana lainnya belum ada datanya. Institusi yang dibina kesehatannya

telah mencapai 88,4%, sedangkan target yang ditentukan hanya 70%. Karena target telah dilampoi memberikan gambaran bahwa kegiatan

22

penyehatan lingkungan telah berjalan baik.

2.5 Pembrantasan Penyakit 2.5.1 Jenis Penyakit Jumlah penderita yang dilaporkan pada Dinas Kesehatan Kabupaten Keerom sebanyak 33 jenis penyakit yaitu diare termasuk tersangka kolera, disentri basiler, tubercoluse, tubercoluse klinis, kusta, batuk rejan, cacar air, campak, malaria tropika, malaria tersiana, malaria mix, malaria klinis, penyakit kelamin, frambusia (M+TM), filariasis, cacingan, scabies, penyakit kulit karena jamur, defisiensi gigi gizi, penyakit susunan syaraf, conjungtivitas, radang sel mata, penyakit telinga iskenik, ISPA, pneumonia, bronchitis, anemia, asma, karies gigi, stomatitis rongga mulut, tukak lambung, penyakit kulit dan jaringan bawah kulit.

Jenis penyakit yang paling besar dilaporkan pada tahun 2005 adalah ISPA 19.349 ( 26,07%), kemudian malaria klinis 19.244 (25,93%), malaria tropika 7.329 (9,87%), sedangkan jenis penyakit yang lainnya jumlahnya lebih kecil. Demikian juga pada tahun 2006 jenis penyakit di Kabupaten Keerom terbanyak tetap ISPA yaitu 21.544 (25,55%), kemudian malaria klinis 19.999 (23,72%), malaria tropika 10.051 (11,92%), sedangkan jenis penyakit yang lainnya jumlahnya lebih kecil. Jenis penyakit diare termasuk tersangka kolera sebagian besar pada usia 1-4 tahun yaitu 847 (31,14%), kemudian malaria klinis pada usia 15-44 tahun sebanyak 7.300 (39,11%).

BerdasarkanProfil Kesehatan Kabupaten Keerom Tahun 2007, pengelompokan sepuluh besar penyakit yang berjumlah 103.912, jenis penyakit yang paling banyak sampai yang paling sedikit

sebagai berikut: malaria (41,8%), infeksi akut lainnya pada SPBA 20,4%, penyakit pada sitem otot dan jaringan pengikat 7,2%, penyakit kulit infeksi 3,9%, tukak lambung 3,3%, penyakit kulit aleri

23

3,1%, diare 2,7%, penyakit kulit karena jamur 2,5%, kecelakaan dan ruda paksa 1,7%, penyakit lain pada SPBA 1,6%, dan penyakit lainnya 11,7%.

2.5.2 Penduduk Sakit Pada tahun 2005 jumlah penduduk Kabupaten Keerom 45.649 jiwa, dari jumlah tersebut jumlah penduduk yang sakit 13.224 jiwa (28,97%), dan angka kesakitan per 1000 penduduk sebesar 289,7. Pada tahun 2006 jumlah penduduk 47.206 jiwa, jumlah penduduk yang sakit bertambah menjadi 16.135 jiwa (34,18%), sehingga angka kesakitan per 1000 penduduk 341,80.

Dari penduduk yang sakit 13.224 tahun 2005, dengan hari sakit 87.526 sehingga rata-rata lama sakit 7,57. Keadaan tahun 2006 kesakitan penduduk di Kabupaten Keerom 16.136 jiwa, dengan jumlah lama hari sakit 100.356 sehingga rata-rata lama sakit 6,22 hari. 2.5.3 Pembrantasan dan Pencegahan Penyakit Angka Acute Flacceal Paralysis (AFP) adalah penderita dengan gejala

lumpuh layu mendadak bukan karena ruda paksa pada di bawah umur 15 yang diduga kuat poliomyelitis. Angka AFP pada anak usia < umur 15 tahun per 100.000 anak di Kabupaten Keerom belum ditemukan kasus (o%). Berdasarkan target yang ditentukaN ADALAH 1% atau lebih maka angka AFP yang belum tercapai pada tahun 2006 atau 2007 kemungkinan kegiatan pada srvelans AFP belum optimal. Pencegahan dan pembrantasan TBC BTA (+) tahun 2007 sebanyak 22 dan yang di obati sembuh 20 (90,9%) , sedangkan tahun 2006 hanya 66,7% berati terjadi peningkatan. Penderiata TB Paru BTA yang diobati sembuh penderita yang menerima pengobatan OAT dan dinyatakan sembuh sesuai Protap pengobatan TB Paru. Jika ditargetkan lebih dari 85%, maka pada tahun 2007 telah terlampoi. Jumlah penderita Penumonia di Kabupaten Keerom sebanyak 219, jumlah penderita Balita sebanyak 78 tersebar di 4 puskesmas dan jumlah

penderita pneumonia terbanyak di Puskesmas Ubrub (83,33%). Cakupan

24

Balita dengan

pnumonia yang ditangani sudah mencapai 1005

ditahun 2006 dan tahun 2007. Dari target penanganan pneumonia 90% berarti telah tercapai dan perlu terus dipertahankan sehingga Balita tetap sehat. Namun keberhasilan tersebut bukan dari kasus pneumonia yang ditargetkan, tetapi dari penemuan sifatnya pasif (ditemukan dari fasilitas kesehatan). Pencegahan dan pembratasan penyakit HIV-AIDS yang ditargetkan 100% untuk memperoleh pengobatan ARV masih 0%. Padahal menurut data data kasus HIV-AIDS yang diterbitkan Dinas Kesehatan Provinsi Papua di Keerom sudah ditemukan kasus. Kalau sudah ditemukan kasus berarti yang belum ditemukan sesungguhnya sudah ada atau banyak hanya karena belum tes darah. Hal ini

memberikan gambaran bahwa penanganan hIV-AIDS belum berjalan baik. Jumlah kasus IMS yang ditemukan tahun 2007 sebanyak 27, dan sebagian besar (44,44%) ditemukan di Puskesmas Waris. Dari IMS yang ditemukan dapat diobati 100%, sehingga target 100% tercapai. Hal ini menunjukkan penanganan IMS di Kabupaten Keerom telah berjalan dengan baik. Jumlah kasus diare Balita 1.254 dan dari umlah tersebut dapat ditangani 100%. Sehubungan target penanganan diare Balita telah tercapai 100% berarti penanganan kasus diare telah berjalan baik. Penyakit malaria merupakan penyakit yang banyak terjadi di Kabupaten Keerom. Dari sebanyak 43.414 tersangak atau positif malaria diobati sesuai stndar 100%. Dengan demikian target yang ditentukan 100% penderita tersangka atau positif malaria t diobati sesuai standard telah tercapai. Penyakit kusta masih menjadi masalah kesehatan di Kabupaten Keero. Hal ini karena angka prevalensi penyakit kusta pada tahun 2007 masih di atas 1/10.000 penduduk. Penderita kusta yang selesai berobat (RFT rate) tahun 2007 baru 23,1%.

25

2.6 Derajad Kesehatan Angka kematian digunakan sebagai ukuran derajad kesehatan untuk

melihat status kesehatan penduduk , pelayanan kesehatan, pengobatan dan juga status sosial ekonomi penduduk tersebut. Berdasarkan hasil kegiatan program di Puskesmas dan Subid Kesga besarnya angka kematian bayi (AKB/IMR) tahun 2004 sebesar 40,9 bayi per 1000 kelahiran hidup, dan tahun 2007 bertambah menjadi 44,2 bayi per 1000 kelahiran hidup. Untuk itu penanganan bayi perlu ditingkatkan sehingga angka kematian bayi dapat menurun, karena hal ini akan mempengaruhi besarnya angka harapan hidup waktu lahir (eo). Angka kematian Balita yang dilaporkan tahun 2007 sebanyak 63,8 Balita per 1000 kelahiran hidu. Angka kematian Balita menurun jika dibandingkan kematian Balita tahun 2004 sebanyak 65,7 Balita per 1000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu di Papua dan di Kabupaten Keerom masih tergolong tinggi. Angka kematian ini mencerminkan resiko seorang ibuselama proses kehamilan, persalinan, dan masa nifas sangat dipengaruhi oleh kesehatan ibu, pelayanan kesehatan dan sosial ekonomi penduduk.Angka kematian ibu yang dilaporkan tahun 2007 sebanyak 654,7 per 100000 kelahiran. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan angka kematian ibu tahun 2005 sebesar 584 per 100.000 kelahiran hidup. Umur angka harapan hidup penduduk Papua terus meningkat dari tahun ke tahun. Besarnya angka harapan hidup Papua tahu 1986 baru mencapai 57,9 tahun, kemudian tahun 2005 meningkat menjadi 66,2 tahun.

2.7. Anggaran Kesehatan Anggaran kesehatan tahun 2007 dialokasikan sebesar 10% dari APBD Kabupaten Keerom. Jumlah anggaran kesehatan dari sumberdana OTSUS tahun 2007 sekitar 12%. Besarnya anggaran kesehatan yang berasal dari berbagai sumber tersebut dirasakan belum mencukupi untuk dapat melaksanakan berbagai program kesehatan yang telah direncanakan dalam rencan tahunan Pembangunan Kesehatan Kabupaten Keerom.

26

BAB III LINGKUNGAN STRATEGIS: INTERNAL DAN EKSTERNAL
3.1. ANALISIS LINGKUNGAN STRATEGIS Permasalahan kesehatan meliputi 2 aspek, yaitu permasalahan kinerja system kesehatan dan permasalahan determinan kesehatan. Aspek kinerja system kesehatan berkaitan dengan penyediaan sarana dan prasarana kesehatan,

penyediaan sumber daya manusia kesehatan, pelayananan kesehatan, Status kesehatan penduduk serta administrasi dan managemen pemerintah dalam melayani penduduk di bidang kesehatan. Sedangkan aspek determinan kesehatan meliputi factor-faktor diluar kesehatan yang mempengaruhi kesehatan penduduk dan kinerja system kesehatan seperti factor penduduk, pendidikan, ekonomi, politik, pekerjaan, pertanian dan lainnya. Skema analisis lingkungan strategis dapat digambarkan sebagai berikut:

Analisis lingkungan strategis aspek kinerja sistem kesehatan dilakukan dengan mencoba menjawab beberapa pertanyaan mendasar berkaitan dengan kinerja system kesehatan di lingkungan pemerintah Kabupaten Kerom. Beberapa pertanyaan mendasar berkaitan dengan kinerja system kesehatan ditelusuri dengan membuat indicator berkaitan dengan subvariabel dalam kinerja system kesehatan seperti terlihat dalam skema di atas. Analisis berikut adalah mendisplay data-data yang berkaitan dengan kinerja system kesehatan sesuai 27

dengan indicator yang sudah ditetapkan. Data-data tersebut menentukan kekuatan dan kelemahan kinerja system kesehatan pemerintah Kabupaten Kerom. Pertanyaan mendasar yang diajukan adalah: 1. Berapa besar Kondisi kesehatan penduduk? 2. berapa besar kebutuhan kesehatan penduduk? 3. Apa yang dirasakan penduduk terhadap sistem kesehatan?) 4. Apakah penduduk seluruhnya telah mendapat dan merasakan pelayanan? Penerapan analisis kinerja system kesehatan dapat dilihat dalam matriks berikut: PERMASALAHAN KINERJA SISTEM KESEHATTAN
SUBVARIABEL INDIKATOR Angka Kematian Bayi/1000 Kh Angka kematian balita Balita Gizi Buruk (%) Angka kematian ibu/100.000 kh Angka kesakitan per 1000 penduduk Rata-rata lama sakit Angka kesakitan malaria per 1000 penduduk Angka kesembuhan penderita TB paru (+) Jumlah penderita HIV/AIDS Angka kesakita DBD per 100.000 penduduk Angka kesakita diare Angka kesakitan kusta Angka kesakitan ISPA Angka kesakitan kecacingan Cakupan imunisasi Kampung UCI (%) ASI Eksklusif (%) Cakupan kunjungan K4 Bumil Cakupan pertolongan persalinan oleh Bidan atau tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan Cakupan kunjungan neonatus Cakupan peserta aktif KB Cakupan rawat jalan Cakupan rawat inap Tablet Fe 90 Bumil (%) Jumlah bumil Risti (%) Bumil Risti dirujuk (%) Rasio Dokter Umum per 100000 penduduk Rasio Dokter gigi per 100000 penduduk Rasio Apoteker per 100000 penduduk Rasio Bidan per 100000 penduduk Rasio Perawat per 100000 penduduk Rasio Ahli Sanitasi per 100000 penduduk Rasio Ahli Kesehatan Masyarakat per 100000 penduduk Jumlah puskesmas per 100.000 penduduk Jumlah pustu per 100.000 penduduk Sarana kesehatan dengan kemampuan laboratorium (%) Persediaan obat generic berlogo (%) Alokasi anggaran per tahun (%) Kepuasaan pasien terhadap pelayanan, penilaian penduduk terhadap sistem kesehatan Keterlibatan penduduk terhadap sistem kesehatan Rumah Sehat (%) Tempat umum sehat (%) Kampung KLB < 24 jam (%) Posyandu Purnama (%)

STATUS KESEHATAN (Berapa besar Kondisi kesehatan penduduk?)

SUPLY (berapa besar kebutuhan kesehatan penduduk pada sistem kesehatan?)

DEMAND (Apa yang dirasakan penduduk terhadap sistem kesehatan?)

28

PEMERATAAN DAN KEADILAN (Apakah penduduk seluruhnya telah mendapat dan merasakan pelayanan?)

Posyandu Mandiri (%) penduduk yang dilayani puskesmas (%) % upaya promosi kesehatan pada penduduk menurut penyebaran Distribusi RS Distribusi Puskesmas rawat inap Distribusi puskesmas rawat inap plus Distribusi puskesmas pembantu Distribusi puskesmas keliling Distribusi dokter Distribusi perawat Distribusi bidan Distribusi ahli gizi Biaya pelayanan per orang tiap unit yankes Alokasi anggaran pertahun tiap unit yankes

Analisis lingkungan strategis aspek Determinan kesehatan dilakukan dengan mulai menelusuri penyabab diluar kinerja sistem kesehatan yang mempengaruhi kesehatan penduduk. Penyebab tersebut dikelompokan dalam dua subvariabel yaitu penyebab tidak langsung dan penyebab fundamental. Penyebab tidak langsung adalah faktor-faktor yang tidak langsung menyebabkan seseorang sakit seperti buta huruf menyebabkan ketidak tahuan tetang resiko-resiko tertular penyakit dan akhirnya menjadi sakit. Sedangkan faktor fundamental adalah faktor-faktor yang langsung menyebabkan seseorang menjadi sakit seperti pantangan makan pada ibu hamil menyebabkan anemia dan waktu lahir terjadi perdarahan. Faktor tidak langsung dan faktor fundamental yang mempengaruhi kesehatan penduduk secara detail dapat dilihat dalam matriks berikut: PERMASALAHAN DETERMINAN KESEHATAN
SUBVARIABEL INDIKATOR Pendidikan (Tingkat Pendidikan Penduduk, angka buta huruf) Perumahan (Permukiman Kumuh, Kondisi Rumah) Pertanian (ketersediaan pangan, pola pertanian, keanekaragaman pangan) Air Bersih Dan Sanitasi (sumur, air sungai, air hujan, PDAM, MCK, sampah, limbah) Pekerjaan (resiko kecelakaan ditempat kerja, penyakit yang timbul akibat kondisi tempat kerja Ekonomi (Kemiskinan, Pendapatan, inflasi, kenaikan harga barang dan BBM) Budaya (perilaku kesehatan, pola pencarian pengobatan, tabu kehamilan, pola makan penduduk, pandangan penduduk terhadap yankes, norma-norma yang mengatur seksualitas, kehamilan, kelahiran) Lingkungan (iklim, kondisi geografis, bencana) Politik (kebijakan pemerintah, keputusan politik di DPR, perundang-undangan) Gaya hidup (kebiasaan merokok, kebiasaan minuman keras, kebiasaan ganti pasangan seks, kebiasaan makan)

Penyebab Tidak Langsung

Penyebab Fundamental

29

3.2.

Faktor Internal: Kinerja Sistem Kesehatan Kabupaten Kerom

Permasalahan kinerja system kesehatan berdasarkan data sekunder yang bersumber dari Kerom Dalam Angka 2007, IPM Kabupaten Kerom 2006 dan Profil Kesehatan Kabupaten Kerom 2007 menunjukan kalau status kesehatan penduduk masih rendah dan pelayanan pemerintah dalam aspek kesehatan belum maksimal. Data detail mengenai kinerja system kesehatan dapat dilihat dalam matriks berikut:
VARIABEL INDIKATOR Angka Kematian Bayi/1000 Kh Angka kematian balita Imunisasi Balita Kampung UCI (%) ASI Eksklusif (%) Balita Gizi Buruk (%) Angka kematian ibu/100.000 kh Presentasi persalinan oleh nakes (%) Tablet Fe 90 Bumil (%) Kunjungan K4 (%) Jumlah bumil Risti (%) Bumil Risti dirujuk (%) Angka kesakitan per 1000 penduduk Rata-rata lama sakit Angka kesakitan malaria per 1000 penduduk Angka kesembuhan penderita TB paru (+) Jumlah penderita HIV/AIDS Angka kesakita DBD per 100.000 penduduk Rumah Sehat (%) Tempat umum sehat (%) Posyandu Purnama (%) Posyandu Mandiri (%) Jumlah puskesmas per 100.000 penduduk Jumlah pustu per 100.000 penduduk penduduk yang dilayani puskesmas (%) Sarana kesehatan dengan kemampuan laboratorium (%) Persediaan obat generic berlogo (%) Kampung KLB < 24 jam (%) Rasio Dokter Umum per 100000 penduduk Rasio Dokter gigi per 100000 penduduk Rasio Apoteker per 100000 penduduk PERMASALAHAN 2006 2007 21,8 44,2 48,3 63,8 68,8 12,0 5,2 778,8 47,9 53,4 75 15,2 6,0 654,7 41,5 52,5 32,1 26,3 31,2 453,8

KESEHATAN BAYI & BALITA

KESEHATAN IBU

448,6

788 66,7% 2 15,7 74,6 62,8 9,2 6,2 17,5 74,4 214,2 83,3 100 33,3 33 9 4

952 90,9%

MORBIDITAS

0 83,2 80,7 9,2 6,2 16,9 72,1 243,3 85,7 120 0 33 9 4

KESEHATAN LINGKUNGAN PERILAKU KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

SARANA PELAYANAN KESEHATAN

KEJADIAN LAUR BIASA

TENAGA KESEHATAN

30

Rasio Bidan per 100000 penduduk Rasio Perawat per 100000 penduduk Rasio Ahli Sanitasi per 100000 penduduk Rasio Ahli Kesehatan Masyarakat per 100000 penduduk PENGANGGARAN KESEHATAN Alokasi anggaran per tahun (%)

97 219 26 24 12

94 222 26 24 10

a. Kekuatan Kinerja Sistem Kesehatan 1. Kebijakan pemerintah menetapkan kesehatan dalam skala prioritas pembangunan 2. Keinginan pemerintah mengalokasikan anggaran kesehatan sangat kuat 3. 4. Ketersediaan dokter umum disetiap puskesmas cukup memadai Sarana pelayanan kesehatan seperti puskesmas pada setiap distrik sudah tersedia 5. Sarana puskemas dengan kemampuan laboratorium sudah cukup memadai 6. Ketersediaan perawat di setiap puskesmas sudah cukup memadai 7. Ketersediaan obat generic berloga sudah cukup memadai 8. Penanganan bumil risti sudah cukup baik 9. Angka kesembuhan TB Paru (+) sudah membaik

b. Kelemahan Kinerja Sistem Kesehatan 1. Masih rendah ibu meendapat tablet besi 2. Kunjungan bumil kepelayanan kesehatan masih rendah 3. Angka kesakitan penduduk cenderung meningkat 4. Rata-rata Angka lama sakit belum membaik 5. Angka kesakitan malaria masih tinggi 6. Sudah ada jumlah penderita HIV 7. Berdasarkan rasio puskesma dengan 100.000 penduduk Masih kekurangan sarana puskesmas 8. Masih kekurangan sarana pustu dan masih banyak kampong yang belum memiliki pustu 9. kapasitas puskesmas melayani penduduk belum memadai

31

10. Berdasarkan rasio dokter dengan jumlah penduduk masih kekurangan dokter 11. Kapasitas dokter melayani penduduk belum memadai 12. Rasio apoteker masih rendah 13. Rasio bidan masih rendah 14. Rasio ahli sanitasi masih rendah 15. Rasio ahli kesehatan masyarakat terhadap jumlah penduduk masih rendah

3.3.

Faktor Eksternal: Permasalahan Determinan Kesehatan mencakup aspek-aspek penyebab tidak

Permasalahan determinan kesehatan

langsung terhadap kesehatan dan aspek penyebab fundamental. Penyebab tidak langsung berkaitan dengan pendidikan, perumahan, pertanian, air bersih dan sanitasi dan pekerjaan yang juga secara tidak langsung mempengaruhi status kesehatan penduduk. Sedangkan aspek penyebab fundamental berkaitan dengan penyebab langsung yang mempengaruhi kesehatan penduduk. Aspek-aspek tersebut adalah ekonomi, budaya, lingkungan, politik, gaya hidup, dan politik.

Penyebab tidak langsung dan penyebab fundamental dalam konteks kondisi objektif pembangunan di Kabupaten Kerom diidentifikasi sebagai Peluang dan tantangan pemerintah dalam pembangunan kesehatan di Kabupaten Kerom.

Aspek Penyebab tidak langsung adalah:  Pendidikan o Tingkat Pendidikan Penduduk, o angka buta huruf  Perumahan o Permukiman Kumuh, o Kondisi Rumah o Tempat umum  Pertanian o ketersediaan pangan dalam keluarga,

32

o pola pertanian, o keanekaragaman pangan) o Pekerjaan   resiko kecelakaan ditempat kerja, penyakit yang timbul akibat kondisi tempat kerja

o Penduduk o Pertumbuhan Penduduk o Kepadatan penduduk o Migrasi penduduk Sedangkan aspek penyebab fundamental adalah:  Air Bersih Dan Sanitasi o sumur, o air sungai, o air hujan, o PDAM, o MCK, o Sampah dan limbah o Ekonomi     Kemiskinan, Pendapatan, inflasi, kenaikan harga barang dan BBM

o Budaya o pola pencarian pengobatan, o tabu kehamilan, o pola makan penduduk, o pandangan penduduk terhadap yankes, o norma-norma yang mengatur seksualitas, kehamilan, kelahiran o Lingkungan o iklim, o kondisi geografis, 33

o bencana o Politik o (kebijakan pemerintah, o keputusan politik di DPR, o perundang-undangan      Gaya hidup kebiasaan merokok, kebiasaan minuman keras, kebiasaan ganti pasangan seks, kebiasaan makan

Dimensi determinan kesehatan memiliki pengaruh yang kuat terhadap kesehatan penduduk sehingga perlu dilakukan kerjasama dengan lintas sector dalam menangani permasalahan determinan kesehatan ini. Secara ringkas dapat di gambarkan dalam skema berikut:

SKEMA DETERMINAN KESEHATAN (FAKTOR EKSTERNAL

a.

Peluang Determinan Kesehatan 1. Kondisi rumah sehat sudah cukup baik

34

2. Tempat umum sehat sudah membaik 3. Transportasi ke pelayanan kesehatan yang lebih baik (RS Dok II, RS Abe, RS Dian Harapan) sudah mudah 4. Pertumbuhan penduduk masih rendah 5. Kepadatan penduduk masih rendah 6. Ketersediaan pangan masih cukup baik 7. Keanekaragaman Konsumsi pangan sudah cukup baik 8. Resiko kecelakaan ditempat kerja sangat kecil 9. Akses pada pemerintahan provinsi sangat mudah 10. Akses pada sumber daya manusia kesehatan di di tingkat provinsi sangat mudah 11. Kebijakan pemerintah memprioritas pembangunan kesehatan 12. Dukungan politik dari DPR terhadap pembangunan kesehatan 13. Ada komitmen dalam Arah pembangunan kesehatan yang tertuang dalam RPJM dan RPJP 14. Laju Pertumbuhan ekonomi Kabupaten kerom tahun 2006 cukup baik yaitu 22,7% dibandingkan tahun 2005 hanya 7,91%. 15. Nilai tambah PDRB tahun 2006meningkat 16. Angka buta huruf tahun 2006 sebesar 8,2% sangat rendah 17. cukup banyak rumah tangga yang menggunakan listrik, yaitu sebesar 85,9% pada tahun 2006 b. Tantangan Determinan Kesehatan 1. Posyandu dengan kategori purnama dan mandiri masih rendah 2. Jangkauan / pemanfaatan dan kualitas pelayanan hingga ke kampung terpencil, masih rendah 3. Kondisi tersebut diperberat karena sebagian besar wilayah mempunyai geografis, transportasi, komunikasi yang sulit 4. Biaya hidup dan trasnport cukup tinggi 5. Sumber air bersih sebagian besar penduduk masih memanfaatkan air hujan, air tahan dan air permukaan (sungai) 6. Jumlah rumah tangga miskin di Kabupaten kerom tahun 2007 cukup tinggi, yaitu 10.173 Rumah tangga atau 77,92%

35

7. Belum ada perundangan-undangan yang mengatur kesehatan di Kabupaten Kerom 8. Penyebaran Suku-sukubangsa yang bervariasi: ada 14 suku bangsa yang menetap dan tinggal di Kabupaten Kerom, yaitu Manem, Waris, Sowanda, Senggi, Molof, Usku, Tofanma, Yafi, Dera, Dubu, Emumu, Murkim, Towei dan Yetfa. 9. Perilaku kesehatan suku-suku ini pun bervariasi dalam mencari pengobatan, mengkonsepsi sehat dan sakit. 10. Gaya hidup penduduk yang beresiko terserang penyakit cukup banyak seperti kebiasaan merokok, minum minuman keras, pola konsumsi pangan, dll. 11. Pengetahuan masyarakat terhadap kesehatan masih rendah 12. Nilai-nilai dan norma yang mengatur kesehatan penduduk cukup banyak yang berpotensi menimbulkan penyakit seperti nila yang mengatur kehamilan, persalinan dan pasca persalinan, kepercayaankepercayaan yang diyakini terhadap suatu penyakit, praktek-praktek pengobatan yang dilaksanakan masyarakat. 13. Masih banyak penduduk yang belum menggunakan septi tangk dalam pembuangan akhir, sekitar 89,1% 14. Masih banyak rumah tangga menggunakan air bersih dari sumur, mata air, air sungai, air hujan dan lainnya, yaitu sekitar 91% 15. Selama 4 tahun terakhir jumlah kecelakaan lalulintas meningkat dengan total kecelakaan dari 2003 – 2006 sebanyak 53 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 10 orang dan total kerugian sebanyak Rp. 570.500.000 16. Walaupun jumlahnya kecil tetapi sudah ada anak terlantar dan anak nakal termasuk korban narkotik di Kabupaten kerom pada tahun 2006 3.4. Analisis SWOT

36

Matriks 3.1. Analisis SWOT Lingkungan Strategis
Peluang : 1. Kondisi rumah sehat sudah cukup baik 2. Tempat umum sehat sudah membaik 3. Transportasi ke pelayanan kesehatan yang lebih baik (RS Dok II, RS Abe, RS Dian Harapan) sudah mudah 4. Pertumbuhan penduduk masih rendah 5. Kepadatan penduduk masih rendah 6. Ketersediaan pangan masih cukup baik 7. Keanekaragaman Konsumsi pangan sudah cukup baik 8. Resiko kecelakaan ditempat kerja sangat kecil 9. Akses pada pemerintahan provinsi sangat mudah 10. Akses pada sumber daya manusia kesehatan di di tingkat provinsi sangat mudah 11. Kebijakan pemerintah memprioritas pembangunan kesehatan 12. Dukungan politik dari DPR terhadap pembangunan kesehatan 13. Ada komitmen dalam Arah pembangunan kesehatan yang tertuang dalam RPJM dan RPJP 14. Laju Pertumbuhan ekonomi Kabupaten kerom tahun 2006 cukup baik yaitu 22,7% dibandingkan tahun 2005 hanya 7,91%. 15. Nilai tambah PDRB tahun 2006 meningkat 16. Angka buta huruf tahun 2006 sebesar 8,2% sangat rendah 17. cukup banyak rumah tangga yang menggunakan listrik, yaitu sebesar 85,9% pada tahun 2006 Kekuatan : 1. Kebijakan pemerintah menetapkan kesehatan dalam skala prioritas pembangunan 2. Keinginan pemerintah mengalokasikan anggaran kesehatan sangat kuat 3. Ketersediaan dokter umum disetiap puskesmas cukup memadai 4. Sarana pelayanan kesehatan seperti puskesmas pada setiap distrik sudah tersedia 5. Sarana puskemas dengan kemampuan laboratorium sudah cukup memadai 6. Ketersediaan perawat di setiap puskesmas sudah cukup memadai 7. Ketersediaan obat generic berloga sudah cukup memadai 8. Penanganan bumil risti sudah cukup baik 9. Angka kesembuhan TB Paru (+) sudah membaik Tantangan : 1. Posyandu dengan kategori purnama dan mandiri masih rendah 2. Jangkauan / pemanfaatan dan kualitas pelayanan hingga ke kampung terpencil, masih rendah 3. Kondisi tersebut diperberat karena sebagian besar wilayah mempunyai geografis, transportasi, komunikasi yang sulit 4. Biaya hidup dan trasnport cukup tinggi 5. Sumber air bersih sebagian besar penduduk masih memanfaatkan air hujan, air tahan dan air permukaan (sungai) 6. Jumlah rumah tangga miskin di Kabupaten kerom tahun 2007 cukup tinggi, yaitu 10.173 Rumah tangga atau 77,92% 7. Belum ada perundangan-undangan yang mengatur kesehatan di Kabupaten Kerom 8. Penyebaran Suku-sukubangsa yang bervariasi: ada 14 suku bangsa yang menetap dan tinggal di Kabupaten Kerom, yaitu Manem, Waris, Sowanda, Senggi, Molof, Usku, Tofanma, Yafi, Dera, Dubu, Emumu, Murkim, Towei dan Yetfa. 9. Perilaku kesehatan suku-suku ini pun bervariasi dalam mencari pengobatan, mengkonsepsi sehat dan sakit. 10. Gaya hidup penduduk yang beresiko terserang penyakit cukup banyak seperti kebiasaan merokok, minum minuman keras, pola konsumsi pangan, dll. 11. Pengetahuan masyarakat terhadap kesehatan masih rendah 12. Nilai-nilai dan norma yang mengatur kesehatan penduduk cukup banyak yang berpotensi menimbulkan penyakit seperti nila yang mengatur kehamilan, persalinan dan pasca persalinan, kepercayaankepercayaan yang diyakini terhadap suatu penyakit, praktek-praktek pengobatan yang dilaksanakan masyarakat. 13. Masih banyak penduduk yang belum menggunakan septi tangk dalam pembuangan akhir, sekitar 89,1% 14. Masih banyak rumah tangga menggunakan air bersih dari sumur, mata air, air sungai, air hujan dan lainnya, yaitu Strategi SO sekitar 91% Strategi ST 15. Selama 4 tahun terakhir jumlah kecelakaan lalulintas meningkat dengan total kecelakaan dari 2003 – 2006 sebanyak 53 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 10 orang dan total kerugian sebanyak Rp. 570.500.000 16. Walaupun jumlahnya kecil tetapi sudah ada anak terlantar dan anak nakal termasuk korban narkotik di Kabupaten kerom pada tahun 2006

Optimalisasi dana dan kemitraan dengan memanfaatkan dukungan regulasi kebijakan pemerintah dalam mewujudkan pelayanan kesehatan gratis bagi yang tidak mampu

Mendorong kualitas pelayanan yang bermutu, pemberdayaan kesehatan masyarakat dan bermitra dengan lintas sector berbasis pembangunan berwawasan kesehatan

37

Kelemahan : 1. Masih rendah ibu meendapat tablet besi 2. Kunjungan bumil kepelayanan kesehatan masih rendah 3. Angka kesakitan penduduk cenderung meningkat 4. Rata-rata Angka lama sakit belum membaik 5. Angka kesakitan malaria masih tinggi 6. Sudah ada jumlah penderita HIV 7. Berdasarkan rasio puskesma dengan 100.000 penduduk Masih kekurangan sarana puskesmas 8. Masih kekurangan sarana pustu dan masih banyak kampong yang belum memiliki pustu 9. kapasitas puskesmas melayani penduduk belum memadai 10. Berdasarkan rasio dokter dengan jumlah penduduk masih kekurangan dokter 11. Kapasitas dokter melayani penduduk belum memadai 12. Rasio apoteker masih rendah 13. Rasio bidan masih rendah 14. Rasio ahli sanitasi masih rendah 15. Rasio ahli kesehatan masyarakat terhadap jumlah penduduk masih rendah

Strategi WO Mengoptimalisasikan kinerja system kesehatan dengan menetapkan indicator pembangunan sector kesehatan sesuai kondisi objektif (SPM) sebagai acuan dan ditetapkan sebagai peraturan daerah dengan memanfaatkan peluang yang ada dalam bentuk kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan

Strategi WT

Menggalang gerakan masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat dengan melibatkan seluruh komponen yang ada di Kabupaten Kerom

38

Matriks 3.2. Analisis Strategi

Strategi SO

Optimalisasi dana dan Menggalang gerakan kemitraan dengan masyarakat berperilaku hidup memanfaatkan dukungan bersih dan sehat dengan regulasi kebijakan pemerintah melibatkan seluruh komponen dalam mewujudkan pelayanan yang ada di Kabupaten Kerom kesehatan gratis bagi yang tidak mampu TERWUJUDNYA
MASYARAKAT KEROM YANG SEHAT
Strategi WO Strategi WT

Strategi ST

Mengoptimalisasikan kinerja system kesehatan dengan menetapkan indicator 3.5. pembangunan sector kesehatan sesuai kondisi objektif (SPM) sebagai acuan dan ditetapkan sebagai peraturan daerah dengan memanfaatkan peluang yang ada dalam bentuk kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan

Menggalang gerakan masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat dengan melibatkan seluruh komponen yang ada di Kabupaten Kerom

39

BAB IV PEDOMAN ARAH PEMBANGUNAN KESEHATAN
4.1. Visi, Misi dan Nilai-nilai

Visi Pembangunan Kesehatan Visi adalah cara pandang jauh ke depan kemana instansi pemerintah harus dibawa agar dapat eksis, antisipatif dan inovatif. Visi merupakan gambaran ke depan yang menantang tentang keadaan masa depan yang di inginkan oleh instansi pemerintah. Penyusunan visi pada hakekatnya merupakan upaya menggali gambaran bersama mengenai masa depan, berupa komitmen murni (tanpa paksaan) mengenai model masa depan yang harus di yakini dan menjadi milik seluruh masyarakat Kerom. Berdasarkan pemahaman tersebut Visi RPJM Kabupaten Kerom tahun 2005 – 2010 adalah : “MEMBANGUN JATI DIRI SEBAGAI IDENTITAS MASYARAKAT KEEROM “. Visi tersebut memposisikan manusia sebagai sentra pembangunan serta melihat kondisi real kemajuan pembangunan kesehatan 5 tahun terakhir, yaitu peningkatan kualitas SDM yang diarahkan pada terwujudnya jatidiri sebagai identitas masyarakat Kerom. Konsep Jatidiri dalam hal ini berkaitan dengan kemandirian dalam berbagai aspek baik kemandirian politik, budaya, social dan kesejahteraan. Kemandirian dalam berbagai aspek inilah yang menunjukan identitas masyarakat kerom. Visi inipun diarahkan untuk mencapai kebutuhan Visi RPJP Kabupaten Kerom, yaitu
TERWUJUDNYA MEMANFAATKAN JAWAB. MASYARAKAT POTENSI KEEROM YANG MANDIRI DENGAN SUMBERDAYA SECARA BERTANGGUNG

Dalam Bidang Kesehatan agar terwujud kemandirian masyarakat Keerom, diperlukan prasyarat kondisi ketahanan manusia secara utuh dan menyeluruh. Salah satu, aspek yang menyertai prasyarat itu berkenaan dengan aspek kesehatan. Manusia yang sehat merupakan modal dasar bagi kelanjutan pembangunan secara menyeluruh. Oleh sebab itu, Pemerintah Kabupaten Keerom memandang bahwa pembangunan kesehatan sebagai pilar utama dalam kerangka pembentukan pribadi manusia yang sehat menuju masyakarat yang

40

sejahtera dan mandiri. Pembentukan pribadi manusia yang sehat, mesti diletakkan dalam kerangka visi sebagai pedoman arah pembangunan di bidang kesehatan. Dalam hal ini, visi pembangunan kesehatan tersebut, merupakan penjabaran lebih lanjut dari visi Pembangunan Jangka Panjang Kabupaten Keerom Tahun 2005-2025, serta memperhatikan visi

Pembangunan jangka Menengah Kabupaten Keerom Tahun 2005-2010. Adapun rumusan visi pembangunan kesehatan dalam 5 tahun (2009-2013) ke depan adalah : “TERWUJUDNYA MASYARAKAT KEEROM YANG MANDIRI UNTUK HIDUP SEHAT Masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat berarti masyarakat yang mampu secara fisik melakukan segala sesuatu; secara emosional mampu

mengendalikan diri dalam berbagai situasi dan selalu berpikir positif dan secara social mampu membangun hubungan dan interaksi dengan sesama manusia dalam konteks korporatif dan kompetitif dan dapat menjalankan ini semua dengan kekuatan, kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat sendiri. Ini adalah wujud sehat dalam arti seluas-luasnya.

Dimensi sehat dalam pengertian Visi dan Misi pembangunan kesehatan diatas adalah: 1. Dimensi Fisiologi: sehat dilihat dari segi jasmani yaitu dimensi sehat yang paling nyata karena perhatiannya pada fungsi mekanistik tubuh 2. Dimensi Mental: sehat dilihat dari segi mental, yaitu kemampuan berpikir dengan jernih dan koheren. Istilah mental dibedakan dengan emosional dan sosial walaupun ada hubungan yang dekat diantara ketiganya 3. Dimensi Emosional: sehat dilihat dari segi emosional yaitu kemampuan untuk mengenal emosi seperti takut, kenikmatan, kedukaan, dan kemarahan, dan untuk mengekspresikan emosi-emosi secara cepat

41

4.

Dimensi Sosial: sehat dilihat dari segi sosial berarti kemampuan

untuk membuat dan mempertahankan hubungan dengan orang lain 5. Dimensi Spiritual: sehat dilihat dari aspek spiritual yaitu

berkaitan dengan kepercayaan dan praktek keagamaan, berkaitan dengan perbuatan baik, secara pribadi, prinsip-prinsip tingkah laku, mencapai kedamaian dan merasa damai dalam kesendirian 6. Dimensi Societal: sehat dilihat dari segi societal, yaitu berkaitan dan cara

dengan kesehatan pada tingkat individual yang terjadi karena kondisi-kondisi sosial, politik, ekonomi dan budaya yang melingkupi individu tersebut. Adalah tidak mungkin menjadi sehat dalam masyarakat yang “sakit” yang tidak dapat menyediakan sumber-sumber untuk pemenuhan kebutuhan dasar dan emosional

Misi Pembangunan Kesehatan Suatu pernyataan misi secara ekspisit menyatakan apa yang harus di capai oleh pemerintah dan kegiatan spesifik apa yang harus dilaksanakan dalam pencapaian hal tersebut. Misi harus memperlihatkan secara jelas hal apa yang penting untuk pemerintah dan apa tugas/kegiatan pokok pemerintah. Berdasarkan pemahaman tersebut dan berdasarkan analisis SWOT seperti tersebut di atas maka misi pembangunan kesehatan adalah:

MEMBUAT RAKYAT SEHAT

Membuat rakyat sehat berkaitan dengan: 1. Menggerakan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat 2. Mewujudkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas 3. Pengembangan sistem Surveillance, Monitoring dan Informasi kesehatan 4. Mewujudkan Kualitas Sumberdaya Manusia Kesehatan 5. Pengembangan Sarana dan prasana pelayanan kesehatan 6. Meningkatkan pembiayaan kesehatan

42

Nilai-Nilai Pembangunan Kesehatan Nilai adalah acuan normative dasar dalam melaksanakan tanggungjawab pekerjaan yang diberikan Negara pada seseorang karena posisinya sebagai pegawai pemerintah. Ini adalah prinsip-prinsip hidup yang dipegang setiap pegawai pemerintah dalam melaksanakan pekerjaannya. Berdasarkan pemahaman ini nilai-nilai pembangunan kesehatan yang merupakan acuan normative dalam melaksanakan pekerjaan adalah:

1. BERPIHAK PADA RAKYAT: Artinya rakyat harus di dahulukan dalam pelayan dan rakyatlah yang menjadi subyek utamanya, bukan golongan maupun kelompok. Jadi skala prioritasnya tetap rakyat. Pertanyaannya rakyat yang mana? Semua rakyat, terutama rakyat miskin. Mengapa? Sebab merekalah yang sangat membutuhkan pelayanan kesehatan. Sedangkan masyarakat mampu lebih punya kesempatan dan peluang mencari pelayanan kesehatan sendiri. Kelompok ini menjadi prioritas berikutnya, kesehatannya. 2. BERTINDAK CEPAT DAN TEPAT. Bertindak cepat dan tepat tidak serta-merta terjadi, karena memang tidak mudah. Kemampuan bertindak cepat dan tepat hanya akan terjadi, jika sudah menjadi kebiasaan (habit). Untuk membiasakan bertindak cepat dan tepat, perlu proses pembelajaran, dan tentu harus ada pelatihan-pelatihan ke arah itu. Sekali lagi ini membutuhkan proses. Kedua tindakan ini harus bersamaan. Tidak benar jika bertindak cepat, tapi tidak tepat. Dengan demikian walau cepat tidak akan menyelesaikan masalah, tapi mungkin dapat menambah masalah. Sebaliknya bertindak lambat, tapi tepat, juga tidak benar. Sebab walau bertindak tepat, tapi terlambat, fatal juga hasil akhirnya. Jika kita bertindak cepat dan tepat, maka rakyat akan merasa dimanusiakan. Walau hasil akhir dari bertindak cepat dan tepat itu belum tentu sesuai harapan. Rakyat akan merasa terbantu. Dengan demikian, citra positif Dinas Kesehatan pelan tapi pasti akan beranjak naik di mata setelah rakyat miskin tertolong pelayanan

43

rakyat. Hal ini terjad karena rakyat merasakan secara langsung atupun tidak langsung mendapat pelayanan. 3. KERJA TIM; koordinasi, kerjasama, dan kerja tim merupakan nilai yang melekat pada setiap pelaksanaan program. Tidak merasa paling penting, paling baik, paling berpengaruh dan paling-paling lainnya. Tapi semua tenaga kesehatan saling bermitra untuk mencapai tujuan. Untuk mencapai ini setiap tenaga kesehatan mempunyai sikap saling menghargai, menghormati, menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mengutamakan persamaan, dan toleransi dalam perbedaan. Selain itu, seluruh tenaga kesehatan harus menyadari bahwa tujuan besar tidak mungkin tercapai bila dikerjakan sendiri, tapi memerlukan keterlibatan orang lain, institusi terkait, lintas sektor dan lintas program. Bahkan bermitra dengan siapapun yang dapat mempercepat, memperkuat, dan memperlancar tercapainya tujuan pembangunan kesehatan. Inti kerja tim adalah kerjasama dan inti kerjasama adalah koordinasi. Tidak mungkin kerjasama, jika koordinasi saja susah. Apalagi kerja tim. Sebab kerja tim itu saling membagi tugas kerja, siapa mengerjakan apa, bukan sekedar saling bekerja, atau sama-sama kerja sehingga pelaksanaannya tumpang tindih atau ada bagian lain yang kosong, tidak ada yang bertanggung jawab mengerjakan. Tapi benar-benar berbagi tugas siapa mengerjakan apa, kapan, dimana untuk tujuan bersama. Dengan demikian, hasil kerjasama dan koordinasi yang kumulatif akan terjadi integrasi, sinergi, efektif dan efisien. 4. INTEGRITAS. Integritas sangat terkait dengan mentalitas (moral). Secara umum integritas merupakan kumpulan dari sifat jujur, terpercaya, bersih, kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Keseluruhan sifat ini menyatu dalam pola pikir, pola sikap, dan pola tindak. Sehingga apa yang diucapkan dan dikerjakan mempunyai nilai yang tinggi di hadapan publik. Integritas tidak serta merta hadir dalam sekejap, tapi membutuhkan ilmu, pembelajaran, pelatihan dan mengerjakan secara nyata melalui berbagai kegiatan. Adakalanya salah, lupa atau menyimpang. Kemudian

mengevaluasi, memperbaiki, memotivasi sehingga menjadi lebih baik lagi. Pembentukan integritas, membutuhkan waktu yang panjang. Sesulit apapun

44

integritas harus terus dibangun, walau jalan terjal membentang dan berliku untuk mencapainya 5. TRANSPARAN DAN AKUNTABEL. Nilai ini memang sulit diterapkan, sebab dapat menelanjangi diri, kelompok dan institusi. Tapi dari sinilah kepercayaan publik dimulai. Bermula dari penerimaan masyarakat terhadap apa yang telah dikerjakan oleh Dinkes, karena sudah berusaha berpihak pada rakyat. Berikutnya, rakyat akan menghargai dan memberi penghargaan atas pembelaan kepada kepentingan rakyat. Penghargaan itu akan lebih tinggi lagi, bila apa yang kita kerjakan untuk masyarakat dapat terbuka dan dapat dipertanggunggugatkan kepada publik Demikian kalau divisualisaskan dalam skema visi, misi dan nilai-nilai dalam pembangunan kesehatan dapat diuraikan sebagai berikut:

4.2.

Arah Pembangunan Kesehatan

Arah Pembangunan kesehatan sesuai dengan RPJP Kabupaten kerom adalah: a. Meningkatkan mutu sumberdaya manusia di bidang kesehatan.

45

b. c.

Meningkatkan sarana dan prasarana medis, termasuk ketersediaan obat. Peningkatan kuantitas dan kualitas pelayanan promotif, preventif dengan

tidak mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif. d. e. Penambahan dan peningkatan Kualitas Tenaga Medis/Paramedis. Pengembangan Puskesmas dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).

Selain berdasarkan acuan RPJP, arah pembangunan kesehatan berdasarkan analisis SWOT seperti tersebut diatas dapat disebutkan sebagai berikut: f. Optimalisasi dana dan kemitraan dengan memanfaatkan dukungan

kebijakan pemerintah dalam mewujudkan pelayanan kesehatan gratis bagi yang tidak mampu g. Mengoptimalisasikan kinerja system kesehatan dengan menetapkan

indicator pembangunan sector kesehatan sesuai kondisi objektif sebagai acuan dan ditetapkan sebagai peraturan daerah h. Mendorong kualitas pelayanan yang bermutu, pemberdayaan kesehatan berbasis pembangunan

masyarakat dan bermitra dengan lintas sector berwawasan kesehatan i.

Menggalang gerakan masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat

dengan melibatkan seluruh komponen yang ada di Kabupaten Kerom

4.3.

Strategi dan Sasaran Pembangunan Kesehatan

Isu Strategis Kesehatan Ibu dan Anak: 1. Angka kematian bayi masih tinggi 2. Angka kematian balita masih tinggi 3. Cakupan imunisasi balita masih rendah 4. Masih rendah bayi mendapat ASI Eksklusif 5. penanganan balita gizi buruk 6. Angka kematian ibu masih tinggi 7. Masih cukup banyak proses persalinan di bantu dukun dan keluarga

46

8. Masih rendah ibu meendapat tablet besi 9. Kunjungan bumil kepelayanan kesehatan masih rendah 10. Penanganan bumil risti Status Kesehatan Penduduk 11. Angka kesakitan penduduk cenderung meningkat 12. Rata-rata Angka lama sakit belum membaik 13. Angka kesakitan malaria masih tinggi 14. Sudah ada jumlah penderita HIV Pemberdayaan Masyarakat 15. Perlu ditingkatkan Kondisi rumah sehat 16. Perlu ditingkatkanTempat umum sehat 17. Posyandu dengan kategori purnama dan mandiri masih rendah 18. Promosi dan pemberdayaan masyarakat untuk hidup sehat masih rendah Sarana dan Prasarana Pelayanan Kesehatan 19. belum merata penyebaran sarana puskesmas 20. Masih kekurangan sarana pustu dan masih banyak kampong yang belum memiliki pustu Pelayanan Kesehatan 21. kapasitas puskesmas melayani penduduk belum memadai 22. puskesmas memiliki sarana kesehatan dengan kemampuan laboratorium 23. Persediaan obat generic berlogi mencukupi 24. Kasus KLB 25. Kapasitas dokter melayani penduduk belum memadai Sumberdaya Manusia Kesehatan 26. Masih kekurangan dokter dan penyebarannya belum merata 27. Rasio apoteker 28. Rasio bidan masih rendah 29. Rasio perawat 30. Rasio ahli sanitasi masih rendah 31. Rasio ahli kesehatan masyarakat masih rendah Pembiayaan Kesehatan 32. Alokasi anggaran belum berimbang

47

4.4.
1.

Strategi Pembangunan Kesehatan Meningkatkan aksesibilitas, keterjangkauan, dan kualitas pelayanan

kesehatan perorangan
2. Meningkatkan

aksesibilitas, keterjangkauan dan kualitas layanan

kesehatan
3. Meningkatkan 4. Meningkatkan

pembiayaan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu kualitas, ketersediaan dan pemerataan Sumber Daya

Manusia Kesehatan
5. Meningkatkan

ketersediaan, keterjangkauan obat dan perbekalan

kesehatan
6. Meningkatkan

dan memberdayakan masyarakat untuk berperilaku

hidup sehat dan bersih
7. Meningkatkan

managemen kesehatan sejak perencanaan, implementasi

dan evaluasi.
8. Meningkatkan

pelaksanaan survelans, dan monitoring kesehatan untuk

deteksi dini pencegahan wabah penyakit
9. Meningkatkan

pembiayaan kesehatan

48

4.5.

Sasaran Pembangunan Kesehatan
Keadaan 2006 21,8 48,3 68,8 12,0 5,2 778,8 47,9 53,4 Capaian 2007 44,2 63,8 75 15,2 6,0 654,7 41,5 52,5 32,1 26,3 31,2 453,8 Target Sasaran 2010 2011 2012 35 30 25 55 95 40 4 600 60 80 65 15 100 350 4 800 95 50 100 60 3,5 575 80 90 80 10 100 300 3 700 100 45 100 80 3 550 90 100 90 5 100 250 3 600 100

INDIKATOR Angka Kematian Bayi/1000 Kh Angka kematian balita Kampung UCI (%) ASI Eksklusif (%) Balita Gizi Buruk (%) Angka kematian ibu/100.000 kh Presentasi persalinan oleh nakes (%) Tablet Fe 90 Bumil (%) Kunjungan K4 (%) Jumlah bumil Risti (%) Bumil Risti dirujuk (%) Angka kesakitan per 1000 penduduk Rata-rata lama sakit Angka kesakitan malaria per 1000 penduduk Angka kesembuhan penderita TB paru (+) Jumlah penderita HIV/AIDS Angka kesakita DBD per 100.000 penduduk Rumah Sehat (%) Tempat umum sehat (%) Posyandu Purnama (%) Posyandu Mandiri (%) Meningkatkan Status Rumah Sakit Jumlah puskesmas per 100.000 penduduk Jumlah pustu per 100.000 penduduk penduduk yang dilayani puskesmas (%) Sarana kesehatan dengan kemampuan laboratorium (%) Persediaan obat generic berlogo (%) Kampung KLB < 24 jam (%) Rasio Dokter Umum per 100000 penduduk Rasio Dokter gigi per 100000 penduduk Rasio Apoteker per 100000 penduduk Rasio Bidan per 100000 penduduk Rasio Perawat per 100000 penduduk Rasio Ahli Sanitasi per 100000 penduduk Rasio Ahli Kesehatan Masyarakat per 100000 penduduk Alokasi anggaran per tahun (%)

2009 40 60 95 25 5,5 625 55 60 55 20 100 400 5 900 95

2013 20 40 100 100 1 500 100 100 100 5 100 200 3 500 100

448,6 7,3 788 66,7% 2 15,7 74,6 62,8 9,2 6,2

952 90,9%

0 83,2 80,7 9,2 6,2

0 85 85 15 15 Tipe D 0 2

0 90 90 15 15 Tipe C 0 2

0 90 90 25 20 Tipe C 0 3

0 100 100 35 25 Tipe C 1

0 100 100 50 30 Tipe C 1

17,5 74,4 214,2 83,3 100 33,3 33 9 4 97 219 26 24

16,9 72,1 243,3 85,7 120 0 33 9 4 94 222 26 24

0 120 0 16 2 1 2 3 3 3

0 120 0 20 2 1 2 3 3 3

1 120 0 22 3 1 2 3 3 3

1 120 0 24 3 1 2 3 3 3

1 120 0 25 3 1 2 3 3 3

12

10

15

15

15

15

15

49

Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak 1. Menurunkan angka kematian Bayi-balita dari 63,8/1000

Kelahiran hidup pada tahun 2007 menjadi 40/1000 kelahiran hidup tahun 2013 2. Menurunkan angka kematian ibu dari 654,7/100.000 KH Tahun

2007 menjadi 500/100.000 KH pada tahun 2013 3. Menurunkan angka gizi buruk pada balita dari 6% Pada tahun

2007 menjadi 3% pada tahun 2013 4. Meningkatkan Cakupan imunisasi balita dari 75% tahun 2007 menjadi 100% tahun 2013 5. Meningkatkan pemberiant ASI Eksklusif pada bayi dari 15,2% tahun 2007 menjadi 100% tahun 2013 6. Menurunkan balita gizi buruk dari 6% tahun 2007 menjadi 2% tahun 2013 7. Meningkatkan proses persalinan di tenaga kesehatan dari 41,5% tahun 2007 menjadi 100% tahun 2013 8. Meningkatkan ibu meendapat tablet besi dari 52,5% tahun 2007 menjadi 100% tahun 2013 9. Meningkatkan Kunjungan K4 bumil kepelayanan kesehatan dari 32,1% tahun 2007 menjadi 100% tahun 2013 10. Mengurangi jumlah bumil risti dari 26,3% tahun 2007 menjadi

5% pada tahun 2013

Pemberdayaan Masyarakat 11. Meningkatkan Kondisi rumah sehat dari 83,2% tahun 2007

menjadi 100% tahun 2013 12. 13. 14. rendah Perlu ditingkatkanTempat umum sehat Posyandu dengan kategori purnama dan mandiri masih rendah Promosi dan pemberdayaan masyarakat untuk hidup sehat masih

50

Derajat Kesehatan 15. Meningkatkan Umur Harapan Hidup dari 66,2 tahun 2005 menjadi 68,5 pada tahun 2013 16. Angka kesakitan per 1000 penduduk dari 453,8% tahun 2007 menjadi 2000 tahun 2013 17. Rata-rata lama sakit dari 7,3 hari tahun 2005 menjadi ,emjadi 3 hari tahun 2013 18. Angka kesakitan malaria per 1000 penduduk dari 952 pada tahun 2007 menjadi 500 pada tahun 2013 19. Angka kesembuhan penderita TB paru (+) dari 90,9% tahun 2007 menjadi 100% tahun 2013 20. Jumlah penderita HIV/AIDS Sarana dan Prasarana Pelayanan Kesehatan 21. Meningkatkan status puskemas plus tahun 2007 menjadi Rumah sakit Tipe C tahun 2013 22. Menambah sarana dan prasarana pelayanan kesehatan (Puskesmas) dari 6 pada tahun 2007 menjadi 8 pada tahun 2013 23. Meningkatkan status puskesmas pelayanan dasar menjadi puskemas rawat inap minimal ada 4 puskesmas rawat inap pada tahun 2013 24. Meningkatkan status puskemas rawat inap menjadi Rumah Sakit tipe C pada tahun 2013 25. Menambah sarana dan prasarana pelayanan kesehatan (Puskesmas pembantu) dari 33 pada tahun 2007 menjadi 38 pada tahun 2013 Sumber Daya Manusia Kesehatan 26. Menambah dokter umum dari 15 orang tahun 2007 menjadi 25 tahun 2013 27. Menambah dokter spesialis dari 2 tahun 2008 menjadi 5 tahun 2013 28. Menambah dokter gigi dari 4 tahun 2007 menjadi 10 tahun 2013 29. Menambah apoteker dari 2 tahun 2007 menjadi 6 tahun 2013 30. Menambah bidan dari 43 tahun 2007 menjadi 50 tahun 2013

51

31. Menambah perawat dari 101 tahun 2007 menjadi 120 perawat tahun 2013 32. Menambah ahli sanitasi dari 7 tahun 2007 menjadi 15 tahun 2013 33. Menambah ahli kesehatan dari 10 tahun 2007 menjadi 15 tahun 2013 34. Menambah ahli Gizi dari 6 tahun 2007 menjadi 15 tahun 2013

Pembiayaan Kesehatan 35. Meningkatkan alokasi agaran kesehatan dari 10% tahun 2007 menjadi

15% tahun 2013

4.6.

Program-program Pokok a.          b.    PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN ANAK Program pelayanan kunjungan Ibu Hamil K4 Program pelayanan ibu hamil resiko tinggi Program penanganan persalinan oleh bidan dan tenaga kesehatan

yang memiliki kompetensi Program pelayanan ibu nifas Program pelayanan neonatal resiko tinggi atau komplikasi Program pelayanan kunjungan bayi Program pelayanan KB Program pelayanan balita dan pra sekolah Program pelayanan imunisasi PELAYANAN PENGOBATAN DAN PERAWATAN Program pelayanan rawat jalan Program pelayanan rawat inap Program pelayanan gawat darurat yang dapat di akses masyarakat

c.   

PELAYANAN GIZI MASYARAKAT Program pemberian makanan tambahan pendamping ASI untuk

keluarga miskin Program perawatan balita gizi buruk Program pemberian ASI eksklusif 52

 d. PENYELENGGARAAN PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI DAN PENANGGULANGAN KLB        f. PELAYANAN PENYEHATAN SANITASI DAN AIR BERSIH    Program penyelidikan sarana air bersih yang memenuhi syarat kesehatan Program promosi sanitasi dan air bersih Program kordinasi dengan lintas sector untuk penyediaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan g. PROMOSI KESEHATAN DAN PEMEBERDAYAAN MASYARAKAT    Program promosi dan pemberdayaan rumah tangga sehat Program promosi dan pemberdayaan posyandu aktif Program promosi dan pencegahan HIV/AIDS dan NAPZA Program penyelidikan epidemiologi untuk penyakit-penyakit yang berpotensi KLB Program pelayanan KLB

e. PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT Program Penemuan dan penyembuhan Penderita TBC BTA Positif Program pemberantasan penyakit malaria Program pelayanan penderita Diare Program pelayanan penderita kusta

h. PELAYANAN PENYEDIAAN OBAT DAN PERBEKALAN KESEHATAN    Program penyediaan obat generic dan esensial sesuai kebutuhan

i. SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN Program penambahan tenaga kesehatan Program peningkatan kualitas SDM Kesehatan (pendidikan dan pelatihan) j. SARANA DAN PRASARANA KESEHATAN 53

 

Program penambahan Sarana dan prasarana kesehatan

(Puskesmas dan Pustu) Program peningkatan status puskesmas pelayanan dasar menjadi

pelayanan perawatan k. Program Pembiayaan Kesehatan  Upaya peningkatan alokasi biaya kesehatan sebesar 15%

dari total APBD  Upaya pembiayaan kesegatab dari sumber lain seperti

APBN, Lembaga Donor dan lainnya.

54

LOGICAL FRAMEWORK ANALYSIS RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KESEHATAN 2009 - 2013
MISI ARAH PEMBANGUNAN/TUJUAN MASALAH 1. Menggerakan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat Menggalang gerakan masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat dengan melibatkan seluruh komponen yang ada di Kabupaten Kerom Posyandu dengan kategori purnama dan mandiri masih rendah Jangkauan / pemanfaatan dan kualitas pelayanan hingga ke kampung terpencil, masih rendah Kondisi tersebut diperberat karena sebagian besar wilayah mempunyai geografis, transportasi, komunikasi yang sulit Biaya hidup dan trasnport cukup tinggi Sumber air bersih sebagian besar penduduk masih memanfaatkan air hujan, air tahan dan air permukaan (sungai) Jumlah rumah tangga miskin di Kabupaten kerom tahun 2005 cukup tinggi, yaitu 10.173 Rumah tangga atau 77,92% Belum ada perundangan-undangan yang mengatur kesehatan di Kabupaten Kerom Penyebaran Suku-sukubangsa yang bervariasi: ada 14 suku bangsa yang menetap dan tinggal di Kabupaten Kerom, yaitu Manem, Waris, Sowanda, Senggi, Molof, Usku, Tofanma, Yafi, Dera, Dubu, Emumu, Murkim, Towei dan Yetfa. Perilaku kesehatan suku-suku ini pun bervariasi dalam mencari pengobatan, mengkonsepsi sehat dan sakit. Gaya hidup penduduk yang beresiko terserang penyakit cukup banyak seperti kebiasaan merokok, minum minuman keras, pola konsumsi pangan, dll. Pengetahuan masyarakat terhadap kesehatan masih rendah SASARAN TARGET 1. Menurunkan angka gizi buruk pada balita dari 6% Pada tahun 2007 menjadi 3% pada tahun 2013 Meningkatkan Cakupan imunisasi balita dari 75% tahun 2007 menjadi 100% tahun 2013 Meningkatkan pemberiant ASI Eksklusif pada bayi dari 15,2% tahun 2007 menjadi 100% tahun 2013 Menurunkan balita gizi buruk dari 6% tahun 2007 menjadi 2% tahun 2013 Meningkatkan proses persalinan di tenaga kesehatan dari 41,5% tahun 2007 menjadi 100% tahun 2013 Meningkatkan ibu meendapat tablet besi dari 52,5% tahun 2007 menjadi 100% tahun 2013 Meningkatkan Kunjungan K4 bumil kepelayanan kesehatan dari 32,1% tahun 2007 menjadi 100% tahun 2013 Mengurangi jumlah bumil risti dari 26,3% tahun 2007 menjadi 5% pada tahun 2013 PROGRAM POKOK               15. Program promosi dan pemberdayaan posyandu aktif Program promosi dan pencegahan HIV/AIDS dan NAPZA Program promosi dan pemberdayaan rumah tangga sehat Program pemberian makanan tambahan pendamping ASI untuk keluarga miskin Program perawatan balita gizi buruk Program pemberian ASI eksklusif Program pelayanan kunjungan Ibu Hamil K4 Program pelayanan ibu hamil resiko tinggi Program penanganan persalinan oleh bidan dan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi Program pelayanan ibu nifas Program pelayanan neonatal resiko tinggi atau komplikasi Program pelayanan kunjungan bayi Program pelayanan KB Program pelayanan balita dan pra sekolah Program pelayanan imunisasi

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

55

Nilai-nilai dan norma yang mengatur kesehatan penduduk cukup banyak yang berpotensi menimbulkan penyakit seperti nila yang mengatur kehamilan, persalinan dan pasca persalinan, kepercayaan-kepercayaan yang diyakini terhadap suatu penyakit, praktek-praktek pengobatan yang dilaksanakan masyarakat. Masih banyak penduduk yang belum menggunakan septi tangk dalam pembuangan akhir, sekitar 89,1% Masih banyak rumah tangga menggunakan air bersih dari sumur, mata air, air sungai, air hujan dan lainnya, yaitu sekitar 91% Selama 4 tahun terakhir jumlah kecelakaan lalulintas meningkat dengan total kecelakaan dari 2003 – 2006 sebanyak 53 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 10 orang dan total kerugian sebanyak Rp. 570.500.000 Walaupun jumlahnya kecil tetapi sudah ada anak terlantar dan anak nakal termasuk korban narkotik di Kabupaten kerom pada tahun 2006 Angka kematian bayi masih tinggi Angka kematian balita masih tinggi Cakupan imunisasi balita masih rendah Masih rendah bayi mendapat ASI Eksklusif penanganan balita gizi buruk Angka kematian ibu masih tinggi Angka kesakitan penduduk cenderung meningkat Rata-rata Angka lama sakit belum membaik Angka kesakitan malaria masih tinggi Sudah ada jumlah penderita HIV penyembuhan Penderita TBC BTA Positif perlu ditingkatkan lagi penderita Diare masih tinggi penderita kusta masih ada

2. Mewujudkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas

Optimalisasi dana dan kemitraan dengan memanfaatkan dukungan kebijakan pemerintah dalam mewujudkan pelayanan kesehatan gratis bagi yang tidak mampu

1.

2.

1.

2.

3.

a.

Menurunkan angka kematian Bayi-balita dari 63,8/1000 Kelahiran hidup pada tahun 2007 menjadi 40/1000 kelahiran hidup tahun 2013 Menurunkan angka kematian ibu dari 654,7/100.000 KH Tahun 2007 menjadi 500/100.000 KH pada tahun 2013 Meningkatkan Umur Harapan Hidup dari 66,2 tahun 2005 menjadi 68,5 pada tahun 2013 Angka kesakitan per 1000 penduduk dari 453,8% tahun 2007 menjadi 2000 tahun 2013 Rata-rata lama sakit dari 7,3 hari tahun 2005 menjadi ,emjadi 3 hari tahun 2013 Angka kesakitan malaria per 1000 penduduk dari 952 pada tahun 2007 menjadi 500 pada

1. 2. 3.      

Program penangan persalinan gratis Program perawatan bayi selama 7 hari gratis Program Gerakan 3S (Makan Sehat, Aktivitas Sehat dan Istirahat Sehat) Program pelayanan rawat jalan gratis Program pelayanan rawat inap gratis Program pelayanan gawat darurat yang dapat di akses masyarakat gratis Program Penemuan dan penyembuhan Penderita TBC BTA Positif Program pemberantasan penyakit malaria Program pelayanan penderita Diare

56

tahun 2013 3. Pengembangan sistem Surveillance, Monitoring dan Informasi kesehatan Mendorong kualitas pelayanan yang bermutu, pemberdayaan kesehatan masyarakat dan bermitra dengan lintas sector berbasis pembangunan berwawasan kesehatan Monitoring dan survelens belum rutin dilakukan Penyelidikan epidemiologi penyakit-penyakit yang berpotensi wabah belum rutin di lakukan Penelitian tentang perilakuk kesehatan belum aktif dijalankan Penelitian tentang kepuasaan pasien terhadap pelayan belum dilakukan Penelitian etnografi tentang konsep-konsep pelayanan, kesehatan dan berbagai penyakit belum dilakukan 1. Mulai 2009 Setiap tahun minimal 2 kali monitoring dan survelen sampai 2013 Mulai 2009 setiap tahun sekali melakukan penyelidikan epidemiologi penyakit-penyakit yang berpotensi wabah Minimal 2 kali penelitian perilaku kesehatan sampai 2013 Pada tahun 2009 dilakukan penelitian kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan dan tahun 2013 dilakukan sekali lagi Dari tahun 2009 - 2013 ada dua kali penelitian etnografi tentang konsep kesehatan, pelayanan dan konsep berbagai penyakit Menambah dokter umum dari 15 orang tahun 2007 menjadi 25 tahun 2013 Menambah dokter spesialis dari 2 tahun 2008 menjadi 5 tahun 2013 Menambah dokter gigi dari 4 tahun 2007 menjadi 10 tahun 2013 Menambah apoteker dari 2 tahun 2007 menjadi 6 tahun 2013 Menambah bidan dari 43 tahun 2007 menjadi 50 tahun 2013 Menambah perawat dari 101 tahun 2007 menjadi 120 perawat tahun 2013 Menambah ahli sanitasi dari 7 tahun 2007 menjadi 15 tahun 2013 Menambah ahli kesehatan dari 10 tahun 2007 menjadi 15 tahun 2013 Menambah ahli Gizi dari 6 tahun 2007 menjadi 15 tahun 1. 2. 3. 4. 5.

2.

3. 4.

10. Program pelayanan penderita kusta Progrram monitoring dan survelens program penyelidikan epidemiologi program penelitian perilaku kesehatan program penelitian kepuasaan pasien program penelitian etnografi kesehatan

5.

Mewujudkan Kualitas Sumberdaya Manusia Kesehatan

4.

Mengoptimalisasikan kinerja system kesehatan dengan menetapkan indicator pembangunan sector kesehatan sesuai kondisi objektif sebagai acuan dan ditetapkan sebagai peraturan daerah

Berdasarkan rasio dokter dengan jumlah penduduk masih kekurangan dokter Kapasitas dokter melayani penduduk belum memadai Rasio apoteker masih rendah Rasio bidan masih rendah Rasio ahli sanitasi masih rendah Rasio ahli kesehatan masyarakat terhadap jumlah penduduk masih rendah

1.

  

2.

Program penambahan tenaga kesehatan Program peningkatan kualitas SDM Kesehatan (pendidikan dan pelatihan)

3.

4.

5. 6.

7.

8.

1.

57

2013

5. Pengembangan Sarana dan prasana pelayanan kesehatan

Pengembangan Puskesmas dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD

Berdasarkan rasio puskesma dengan 100.000 penduduk Masih kekurangan sarana puskesmas Masih kekurangan sarana pustu dan masih banyak kampong yang belum memiliki pustu kapasitas puskesmas melayani penduduk belum memadai

6. Meningkatkan pembiayaan kesehatan

Mewujudkan peningkatan pembiayaan kesehatan

Pembiayaan kesehatan masih rendah

Meningkatkan status puskemas plus tahun 2007 menjadi Rumah sakit Tipe C tahun 2013 2. Menambah sarana dan prasarana pelayanan kesehatan (Puskesmas) dari 6 pada tahun 2007 menjadi 8 pada tahun 2013 3. Meningkatkan status puskesmas pelayanan dasar menjadi puskemas rawat inap minimal ada 4 puskesmas rawat inap pada tahun 2013 4. Meningkatkan status puskemas rawat inap menjadi Rumah Sakit tipe C pada tahun 2013 5. Menambah sarana dan prasarana pelayanan kesehatan (Puskesmas pembantu) dari 33 pada tahun 2007 menjadi 38 pada tahun 2013 Meningkatkan alokasi agaran kesehatan dari 10% tahun 2007 menjadi 15% tahun 2013

1.

 

3.

Program penambahan Sarana dan prasarana kesehatan (Puskesmas dan Pustu) Program peningkatan status puskesmas pelayanan dasar menjadi pelayanan perawatan Program peningkatan status Rumah Sakit Tipe D menjadi Rumah Sakit Tipe C tahun 2013 

Program Alokasi Biaya Kesehatan 15% dari total dana pemerintah

58

59

60


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:6789
posted:4/19/2009
language:Indonesian
pages:60