Docstoc

analisis pengaruh dimesi kepercayaan merek terhadap loyalitas merek pengguna kartu simpati di kota makassar

Document Sample
analisis pengaruh dimesi kepercayaan merek terhadap loyalitas merek pengguna kartu simpati di kota makassar Powered By Docstoc
					    ANALISIS PENGARUH DIMENSI KEPERCAYAAN MEREK
     TERHADAP LOYALITAS MEREK PENGGUNA KARTU
         PRABAYAR SIMPATI DI KOTA MAKASSAR

                                     Arham Hamid
                  Program Pasca Sarjana Universitas Muslim Indonesia
                                           Makassar.



                                       Abstraksi



               Merek merupakan hal penting dalam pasar konsumen, merek menjadi
       penghubung langsung antara konsumen dan perusahaan, serta adanya
       kemungkinan konsumen akan membangun loyalitas pada merek. Dalam dunia
       Industri dengan tingkat kompetisi tinggi, merek menjadi kunci penting bagi
       perusahaan untuk memposisikan dan menciptakan identitas produknya yang unik
       dalam benak konsumen. Penelitian ini mengusulkan bahwa kepercayaan terhadap
       merek menjadi hal penting dan sebagai faktor kunci dalam membangun loyalitas
       merek. Beberapa faktor yang dihipotesiskan mampu mempengaruhi kepercayaan
       konsumen terhadap merek untuk membentuk loyalitas merek meliputi reputasi
       merek, prediktabilitas merek, kompetensi merek, kepercayaan pada perusahaan
       dan kesukaan merek.
              Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran mengenai
       seberapa besar pengaruh variabel reputasi merek, prediktabilitas merek,
       kompetensi merek, kepercayaan pada perusahaan dan kesukaan merek dalam
       membangun kepercayaan tehadap merek, serta mengetahui karakteristik yang
       paling berpengaruh diantara variabel-variabel tersebut dalam membangun
       kepercayaan pada merek dan akhirnya dapat menciptakan loyalitas merek.
              Responden dalam penelitian ini adalah pemakai kartu prabayar         merek
       simPATI di kota Makassar. Dari hasil penelitian dan analisis ditemukan      bahwa
       kesukaan merek, kepercayaan pada perusahaan dan kompetensi merek            adalah
       faktor paling berpengaruh dalam membentuk kepercayaan responden             dalam
       membangun loyalitas merek
       Kata kunci : Kepercayaan Terhadap Merek dan Loyalitas Merek.



                                               1

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
       Pendahuluan

              Bisnis telekomunikasi selular di Indonesia, awalnya didominasi oleh dua
       operator selular besar yang berbasis GSM (Global System for Mobile
       Communication), yaitu PT. Telkomsel (Telekomunikasi Selular Indonesia) dan
       PT. Satelindo (Satelit Palapa Indonesia) atau yang sekarang lebih dikenal dengan
       Indosat Satelindo. Beberapa tahun kemudian mulai bermunculan operator-
       operator baru, mulai dari PT. Excelcomindo Pratama, kemudian disusul oleh
       Bakrie Telephone, Mobile 8, Hutchinson CP Telecommunication (Hcp3) dan PT.
       Natrindo Selular Indonesia, bahkan diantara perusahaan tersebut ada yang
       mengeluarkan kartu prabayar lebih dari satu, misalnya Telkomsel mengeluarkan
       produk simPATI, AS, dan Halohybrid, Indosat Satelindo mengeluarkan produk
       IM3, Mentari dan Excelcomindo mengeluarkan XL dan bebas.
               Telkomsel sebagai salah satu operator selular yang bersaing di bisnis jasa
       operator selular merupakan perusahaan yang menelurkan produk yang bermerek
       simPATI. SimPATI merupakan kartu prabayar GSM pertama di Indonesia bahkan
       di Asia yang diluncurkan tahun 1997. Peluncurannya bertepatan disaat masa
       krisis ekonomi sedang melanda Indonesia di tahun 1997, dalam waktu sepuluh
       tahun sejak di luncurkan simPATI merupakan kartu prabayar yang paling diminati
       pasar dan telah digunakan lebih dari 23 juta konsumen atau 36 persen dari
       pengguna kartu prabayar di Indonesia (Riswan, 2007)
               Adapun komposisi pengguna kartu selular dari PT. Telkomsel dari total
       jumlah 24,3 juta terbagi atas tiga produk yaitu untuk simPATI jumlah pengguna
       17,8 juta, untuk kartu AS jumlahnya sekitar 5 juta pengguna dan terakhir untuk
       kartu halo sebesar 1,5 juta pengguna (Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia,
       2006). Sedangkan dari data riset majalah SWA menunjukkan total pengguna
       selular di Indonesia hingga Maret 2004 sebesar 21,6 juta pengguna. Dari Jumlah
       tersebut PT. Telkomsel menduduki peringkat pertama sebesar 44 persen untuk
       kartu simPATI, disusul PT. Indosat dengan kartu Mentari sebesar 24 persen,
       kemudian PT. Excelcomindo dengan kartu pro XL sebesar 15 persen dan sekitar
       17 persen gabungan dari operator selular yang ada di Indonesia ( Majalah SWA
       Selular, 33 : November 2004).
              Sengitnya persaingan antar operator selular dalam mempertahankan
       pengguna setia dan menarik pengguna baru sangat menguntungkan masyarakat.
       Para konsumen sebagai pengguna bisa menikmati pesta tarif karena para operator
       ramai-ramai menurunkan tarif, selain itu juga dampak positif yang diperoleh
       pengguna adalah pengguna dapat memilih sesuai dengan kebutuhannya ditambah
       murahnya harga kartu perdana membuat pengguna dapat berganti kartu sesering
       mungkin. Selain mengganti kartu atau berpindah kartu perdana, pengguna juga
       dapat berganti-ganti merek kartu selular setiap waktu pembelian serta dapat
                                            2

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
       menggunakan lebih dari satu merek kartu operator (majalah trend &
       telecommunication 15 : Juli 2005). Tidak ada lagi pengguna yang setia memiliki
       satu merek kartu,
               Kondisi persaingan yang menetapkan pada strategi tarif yang murah jelas
       menimbulkan perang tarif yang sebenarnya akan sangat merugikan jangka
       panjang, karena kompetisi dengan peran sentral harga untuk jangka panjang
       justru tidak akan menguntungkan perusahaan dalam jangka panjang, sehingga
       perusahaan semakin dituntut untuk memetingkan atau mengutamakan
       pengembangan keunggulan kompetitif secara konsisten berlandaskan pada
       kompetisi non harga. Dan salah satu jalan untuk keluar dari persiangan tidak
       sehat tersebut adalah dengan membentuk kepercayaan konsumen terhadap merek
       melalui dimensi karakteristik merek, karakteristik perusahaan dan karakteristik
       merek-konsumen, dengan harapan ketika kepercayaan terbentuk maka loyalitas
       konsumen terhadap merek pun akan terbentuk, yang tentunya akan bermuara pada
       ketetapan pengguna untuk terus memakai merek, merekomendasikan merek,
       resisten terhadap penawaran dari merek lain dan dalam jangka panjang akan
       memberi kontribusi yang menguntungkan bagi perusahaan.
       Agar tidak mengalami kerancuan maka penelitian ini hanya memfokuskan pada
       satu merek kartu prabayar yaitu simPATI yang menjadi nomor satu sejak awal
       diluncurkan, telah menjadi prioritas pengguna kartu prabayar diseluruh Indonesia.
       Apakah para pengguna tersebut loyal terhadap merek simPATI atau pernah
       menggunakan merek lain selain simPATI, ketika merek lain lebih murah apakah
       konsumen akan pindah?.
               Sebuah fenomena yang layak untuk diteliti dan di angkat untuk di jadikan
       sebuah pelajaran bagi perusahaan tentang bagaimana pentingnya hubungan
       kepercayaan merek terhadap loyalitas merek , kajian ilmiah untuk mahasiswa dan
       periset khususnya dalam dunia bisnis dan perguruan tinggi tentang pengaruh
       merek terhadap tingkat kepercayaan dan loyalitas konsumen terhadap sebuah
       merek.

       Rumusan Masalah
               Adapun permasalahan yang telah dirumuskan adalah sebagai berikut:
           1. Apakah Dimensi Reputasi Merek berpengaruh siginifikan terhadap
              terbentuknya Kepercayaan Merek?
           2. Apakah Dimensi Prediktabilitas Merek berpengaruh signifikan terhadap
              terbentuknya Kepercayaan Merek?
           3. Apakah Dimensi Kompetensi Merek berpengaruh signifikan terhadap
              terbentuknya Kepercayaan Merek?
           4. Apakah Dimensi Kepercayaan Terhadap Perusahaan berpengaruh
              signifikan terhadap terbentuknya Kepercayaan Merek?
                                            3

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
           5. Apakah Dimensi Kesukaan Merek berpengaruh signifikan terhadap
              terbentuknya Kepercayaan Merek?
           6. Apakah Kepercayaan Merek berpengaruh signifikan terhadap
              terbentuknya Loyalitas Merek?

       Tujuan Penelitian
               Penelitian ini bertujuan untuk:
           1. Mengetahui dan menganalisa Dimensi Kepercayaan Merek yaitu reputasi
              merek, kompetensi merek, daya prediksi merek, kepercayaan pada
              perusahaan dan kesukaan pada merek paling signifikan mempengaruhi
              terbentuknya kepercayaan merek .
           2. Mengetahui dan menganalisa pengaruh Kepercayaan Merek terhadap
              terbentuknya Loyalitas Merek

       Kegunaan Penelitian


           1. Praktisi atau implikasi manajerial, penelitian diharapkan dapat digunakan
              sebagai landasan dalam pengambilan keputusan manajemen khususnya
              dalam manajemen Branding dan Loyalty Programme, lebih khusus lagi
              sebagai langkah untuk memperluas dan pertimbangan bagi produsen untuk
              menjaring segmen pemakai jasa kartu prabayar.
           2. Penelitian selajutnya, hasil penelitian selanjutnya di harapkan memberikan
              informasi awal bagi penelitian di bidang yang sama untuk masa-masa
              yang akan datang.
           3. Bagi Ilmu pengetahuan, penelitian ini diharapkan memberikan
              pemahaman        kepada      pembaca      mengenai      pengaruh   reputasi
              merek,prediktabilitas merek, kompetensi merek kepercayaan terhadap
              perusahaan dan kesukaan merek terhadap pembetukan kepercayaan merek
              dan loyalitas merek.


       TINJAUAN PUSTAKA
       A. Merek
                     Merek adalah nama, istilah, tanda, simbol, atau design atau
               kombinasi dari semuanya, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi
               barang atau jasa dari seseorang atau sekelompok pemasar dan
               membedakannya dari pesaing,      Kotler (2003). Definisi tersebut
               memberikan gambaran bagaimana peran sebuah merek dalam strategi
               pemasaran sebuah produk. Merek akan berpengaruh terhadap kinerja
               pemasaran produk tersebut, sehingga sebuah merek secara essential
                                             4

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
               merupakan janji produsen kepada konsumen tentang fitur, keuntungan,
               pelayanan yang konsisten. Sebuah merek yang baik memberikan jaminan
               kualitas yang baik pula
       B. Kepercayaan Terhadap Merek (Trust in a Brand)
                       “Trust in a brand is consumers’ willingness to rely on the brand in
               the face of risks, hoping that the brand can give positive results for them”,
               Lau dan Lee (1999). (Kepercayaan terhadap merek adalah kemauan
               konsumen mempercayai merek dengan segala risikonya, karena ada
               harapan bahwa merek tersebut dapat memberikan suatu hasil yang positif
               baginya).
       C. Loyalitas Merek
                      Loyalitas pada merek adalah perilaku mengutamakan sebuah
               merek dengan melakukan pembelian berulang (Assael, 2001). Sedangkan
               Lau dan Lee (2000) mengemukakan bahwa loyalitas pada merek adalah
               perilaku niat untuk membeli sebuah produk dan mendorong orang lain
               untuk melakukan hal yang sama.

       D. Karakteristik
                       Banyak sekali definisi yang dapat kita peroleh dari sebuah kata
               “karakter”. Dalam kamus umum bahasa Indonesia, karakteristik dapat
               didefinisikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi
               pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Sedangkan dalam
               kamus Oxford, “Character is all the mental or moral qualities that make a
               person, group, nation, etc different from others”.
                      Kemudian Leonardo A Sjiamsuri (2000) dalam bukunya “Karisma
               Versus Karakter” mengatakan bahwa karakter merupakan siapa anda
               sesungguhnya.
                      Berdasarkan ketiga pengertian diatas, kita dapat mengambil sebuah
               kesimpulan bahwa karakter merupakan sekumpulan sifat-sifat batiniah
               seseorang yang dapat dicerminkan melalui penampilan fisik, cara
               bertindak, serta cara berpikir orang tersebut yang membedakan dengan
               orang lain.
                      Sedangkan jika kita ingin mendifinisikan karakteristik , kita akan
               menemukan cakupan yang lebih luas dari karakter. Jika karakter
               mencakup sifat-sifat batiniah, karakteristik mencakup keseluruhan aspek
               yang ada pada diri manusia seperti penampilan fisik, cara bertindak dan
               yang lainnya yang dapat membedakan antara manusia yang satu dengan
               yang lainnya.
                                             5

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
                        Sedangkan jika kita ingin mendifinisikan karakteristik , kita akan
               menemukan cakupan yang lebih luas dari karakter. Jika karakter
               mencakup sifat-sifat batiniah, karakteristik mencakup keseluruhan aspek
               yang ada pada diri manusia seperti penampilan fisik, cara bertindak dan
               yang lainnya yang dapat membedakan antara manusia yang satu dengan
               yang lainnya.
                       Karakteristik merupakan satu hal yang sangat vital perannya bagi
               manusia. Karena hanya dengan karakteristik kita dapat mengenali serta
               membedakan antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Karakteristik
               juga menunjukkan kekhasan yang dimiliki seseorang yang tidak dapat
               dimilik atau ditiru orang lain.
                      Menurut Lau dan Lee (1999) terdapat tiga faktor yang
               mempengaruhi kepercayaan merek, adapun ketiga faktor tersebut adalah :
               1. Karakteristik merek,
               2. Karakteristik perusahaan dan
               3. Karakteristik merek konsumen.
                        Ketiga dimensi ini lebih lanjut diuraikan menjadi 12 indikator
               yaitu, reputasi merek, prediktabilitas merek, kompetensi merek,
               kepercayaan perusahaan, reputasi perusahaan, persepsi motif perusahaan,
               integritas perusahaan, Kesamaan Konsep Diri Konsumen dan Personalitas
               Produk, Kesukaan Merk, Pengalaman Merk, Kepuasan Merk, Dukungan
               Kelompok Sosial.
                       Adapun pengukuran merek dalam penelitian ini adalah hanya
               menggunakan variabel seperti karakterstik merek (meliputi : reputasi
               merek, prediktabilitas merek dan kompetensi merek); kepercayaan kepada
               perusahaan pemilik merek (company trust); dan kesukaan merek (brand
               liking) dalam membentuk kepercayaan merek pada merek (trust in a
               Brand) dan membangun loyalitas merek (brand loyalty).
                         Untuk lebih jelas dan mengetahui penjelasan lebih jauh maka,
               ketiga faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
               1. Karakteristik Merek.

                        Adapun Faktor-faktor yang mempengaruhi Karakteristik merek
               dan hubungannya terhadap kepercayaan merek, Lau dan Lee (1999)
               adalah sebagai berikut :

                  Reputasi Merek
                        Reputasi merek mengacu pada opini dari konsumen lain
               terhadap merek, yaitu apakah sebuah merek bagus dan dapat diandalkan.
                                            6

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
               Reputasi merek dapat dikembangkan melalui iklan, public relations,
               kualitas produk, dan kinerja dari produk tersebut. Reputasi merek atau
               suatu pihak dapat mendorong harapan positip (positive expectations) yang
               dihasilkan dari pengembangan hubungan timbal balik antar berbagai pihak
               yang terlibat (Lau dan Lee, 1999).

                  Prediktabilitas Merek
                       Mengacu kepada Doney & Canon (1997) yang menyatakan
               kemampuan seseorang atau satu pihak memprediksikan perilaku orang
               atau pihak lain.
                        Prediktabilitas merek memungkinkan seorang pengguna untuk
               mengantisipasi dan melakukan penggunaan pada berbagai kesempatan.
               Prediktabilitas muncul karena adanya interaksi yang terus berulang dan
               tingkat kualitas produk yang konsisten, sehingga sebuah perusahaan
               mampu menjamin dan mengirimkan kepada pelanggannya secara tepat
               waktu dan proses pembelajaran dari pelanggan.

                  Kompetensi Merek.
                        Lau dan Lee (1999) mengatakan bahwa kompetensi merek
               adalah kemampuan merek untuk mengatasi masalah konsumen dan
               memenuhi kebutuhannya. Konsumen akan mengetahui kompetensi merek
               melalui word of mouth (WOM). Menurut Assael (2001) mekanisme word
               of mouth (WOM) merupakan metode paling efektif untuk
               mengkomunikasikan kinerja sebuah produk. Penelitian yang dilakukan
               oleh Cowley dan Rossister (2002) mengemukakan bahwa peran WOM
               dalam membangun loyalitas pada merek meliputi tiga dimensi yang terdiri
               dari kepercayaan pada merek, tingkat ideal dari atribut dan persepsi
               terhadap pentingnya atribut produk
               2. Karakteristik Perusahaan

                        Karakteristik perusahaan sendiri adalah suatu yang membentuk
               perusahaan menjadi khas dan memiliki ciri dengan perusahaan lain
               sehingga membedakannya dengan pesaingnya baik dalam bentuk fisik,
               nama perusahaan tersebut sehingga mampu memberikan keyakinan
               terhadap konsumen yang membeli produk perusahaan tersebut.
                        Perusahaan yang berada dibelakang merek juga mempengaruhi
               tingkat dimana konsumen percaya terhadap sebuah merek. Pengetahuan
               konsumen tentang perusahaan yang berada dibelakang merek dapat
               mempengaruhi penilaian mereka terhadap sebuah merek.


                                            7

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
                       Maka, karakteristik perusahaan yang diajukan untuk
               mempengaruhi kepercayaan konsumen terhadap merek adalah kepercaya-
               an konsumen terhadap perusahaan, reputasi perusahaan (Yamagishi dalam
               Lau & Lee, 1999), motif persepsi terhadap perusahaan (Scheer &
               Steenkamp, 1995), dan persepsi terhadap integritas perusahaan.

                  Kepercayaan Terhadap Perusahaan.
                         Dalam membahas faktor kepercayaan terhadap perusahaan,
               telah disebutkan bahwa ketika sebuah entitas dipercaya maka entitas yang
               lebih kecil (smaller entities) yang berada didalamnya cenderung juga
               dipercaya, karena mereka bagian dari entitas yang lebih besar.
               3. Karakteristi Merek-konsumen.

                        Karakteristik Merek-Konsumen merupakan dua kelompok yang
               saling mempengaruhi, oleh sebab itu kedua dapat mempengaruhi
               kepercayaan terhadap merek, dimana karakteristik ini meliputi kemiripan
               antara konsep emosional konsumen dengan kepribadian Merek, kesukaan
               terhadap merek, pengalaman terhadap merek, kepuasan merek dan
               dukungan kelompok sosial.
                        Bila di analogikan karakteristik ini merupakan totalitas
               pemikiran dan persepsi individu dengan acuan dirinya sebagai objek
               sehingga seringkali dalam konteks pemasaran di jabarkan merek sama
               dengan orang, dimana hubungan keduanya seolah merek adalah manusia,
               dan manusia sendiri juga harus memiliki merek agar memiliki perbedaan
               dengan manusia lain.
                        dibawah ini akan dijelaskan satu persatu faktor-faktor yang
               mempengaruhi karakteristik merek-konsumen dan salah satunya adalah
               sebagai berikut :

                  Kesukaan Terhadap Merek.
                        Kesukaan terhadap merek terjadi karena sebuah merek
               memberikan kesenangan yang lebih baik dibanding merek lainnya. Dalam
               pemasaran consumer goods, jika konsumen menyukai sebuah merek maka
               akan lebih baik mempercayai merek tersebut (Lau dan Lee, 2000).

       E. Penelitian Terdahulu
                  Adapun penelitian yang berkaitan dengan kepercayaan merek adalah
           sebagai berikut :


                                            8

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
               1. Lau and Lee (Marketing Journal. 1999) dengan judul “consumers trust
                  in a brand and the link to brand loyalty”. Penelitian ini menguji 3
                  kelompok karakteristik pemasaran yaitu brand characteristic,
                  company characteristic dan consumer-brand characteristic yang
                  diuraikan dalam 12 variabel antecedent kepercayaan merk (trust in a
                  brand) pada responden pengguna consumer goods di Negara
                  Singapura. Hasil penelitiannya menunjukkan ternyata hanya 5 variabel
                  yang signifikan yaitu prediktabilitas merek, kesukaan merek,
                  kompetensi merek, reputasi merek, kepercayaan pada perusahaan.
                  Kepercayaan terhadap merek juga terbukti merupakan variabel
                  antecedent terhadap loyalitas merek.
               2. Badan Litbang Kesehetan (2004) dengan judul “Loyalitas           Pasien
                  Rawat Inap Terhadap Rumah Sakit Ibu dan Anak Aisyiyah
                  Samarinda’, dipublikasikan oleh JKPKBPPK, Departemen Kesehatan
                  dan Kesejahteraan Sosial, Percetakan Negara Jakarta Barat . Penelitian
                  tentang loyalitas pasien yang pernah menjadi rawat inap di rumah sakit
                  tersebut. Dalam penelitian ini melalui Kepercayaan Merek dijadikan
                  sebagai dasar, terhadap prediktabilitas merek, kesukaan merek,
                  kompetensi merek, reputasi merek dan kepercayaan terhadap
                  perusahaan. Penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan yang
                  positif antara reputasi merek, prediktabilitas merek, kompetensi merek,
                  kepercayaan terhadap perusahaan dan kesukaan merek dengan
                  kepercayaan terhadap merek. Ditemukan bahwa pengalaman pasien di
                  rumah sakit tersebut membuat loyal terhadap merek dan loyalitas
                  merek yang dipengaruhi oleh kepercayaan terhadap merek
                  menunjukkan hasil yang cukup signifikan karena masuk dalam
                  kategori cukup loyal.
               3. Mittal ( journal marketing research, 1990) dengan judul           “The
                  Relative Roles of Brand Belief and Attitude Toward the Ad as
                  Mediators of Brand Attitude: A Second Look,” Journal of Marketing
                  Research. Vol. XXVII No. 2, pp 87-112. Melakukan pengujian
                  terhadap peran kepercayaan pada merek dan sikap terhadap iklan
                  sebagai variabel mediasi sikap terhadap merk. Penelitian ini
                  menggunakan desain eksperimen dan pengujian hipotesisnya dengan
                  menggunakan analisis structural equation modelling (SEM). Hasil
                  penelitian berhasil membuktikan bahwa peran kepercayaan terhadap
                  merek jauh lebih penting daripada iklan sebuah produk.
               4. Ballester dan Aleman ( European journal of marketing, 2001) dengan
                  judul       “Brand trust in The Context of Consumer Loyalty’,
                  European Journal of Marketing, Vol. 35 No. 11/12. pp 1238-1258.
                  Penelitian ini mencoba mengaitkan kepercayaan konsumen terhadap
                  merek dengan loyalitas pada merek. Setting penelitian ini meng-
                  gunakan konsumen dari produk high involvement dengan jumlah
                  responden sebanyak 173 orang dan pengujian hipotesisnya
                                            9

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
                  menggunakan analisis regresi. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa
                  kepercayaan terhadap merk akan mendorong munculnya komitmen
                  dari konsumen, dalam situasi produk tersebut termasuk dalam kategori
                  high involvement.
               5. Setiawan (tesis tidak dipublikasikan, 2004) dengan judul
                      ”Kepercayaan Konsumen Terhadap Merk dan Hubungan Dengan
                  Loyalitas Terhadap Merk”, Tesis tidak dipublikasikan, Program
                  Magister Sains Ilmu-ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada,
                  Yogyakarta. Penelitian ini mengadopsi dari Lau & Lee (1999).
                  Setiawan melakukan penelitian dengan responden konsumen telepon
                  genggam yang ada di Yogyakarta. Dalam penelitian ini, Setiawan
                  menggunakan seluruh model (variabel) yang digunakan awal oleh Lau
                  & Lee (1999), yaitu 12 variabel. Hasil penelitiannya menunjukkan,
                  ternyata hanya variabel kepuasan dan kepercayaan konsumen yang ter-
                  bukti berpengaruh signifikan terhadap kepercayaan merek dan
                  hubungannya terhadap loyalitas merek. Hasil penelitian jauh berbeda
                  dengan hasil Lau & Lee, yang kemungkinan disebabkan oleh
                  perbedaan karakteristik respondennya.

       Kerangka Konseptual & Hipotesis
       Kerangka Konseptual

              Dari serangkaian penelitian yang mendahului penelitian ini dan
       berdasarkan teori yang mendukung penenelitian ini, penulis mencoba
       menggunakan kerangka konseptual penelitian yang digunakan oleh Lau and Lee
       (1999) sebagai berikut dibawah ini:

           Pertama, reputasi merek (brand reputation)
           Kedua, prediktabilitas merek (brand predictability)
           Ketiga, kompetensi merek (brand competence).
           Keempat, Kepercayaan pada perusahaan (trust in company)
           Kelima, kesukaan merek (brand liking)

               Berdasarkan uraian diatas, maka model yang diajukan dalam proposal
       penelitian ini adalah:




                                           10

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
               Gambar .2 Kerangka konseptual dan hipotesis : sumber lau and lee (1999)


       Hipotesis

                 Berdasarkan atas permasalahan dan kerangka diatas maka diajukan
       hipotesis sebagai berikut :
           1. (H 1), Diduga dimensi Reputasi Merek adalah variabel yang paling
               signifikan berpengaruh terhadap kepercayaan merek.
           2. (H 2), Diduga dimensi Prediktabilitas Merek adalah variabel yang paling
               signifikan berpengaruh terhadap Kepercayaan Merek.
           3. (H 3), diduga Dimensi Kompetensi Merek adalah variabel yang paling
               siginifikan berpengaruh terhadap Kepercayaan Merek
           4. ( H 4), diduga Dimensi Kepercayaan Pada Perusahaan adalah variabel
               yang palinng signifikan berpengaruh terhadap Kepercayaan Merek.
           5. (H 5), diduga Dimensi Kesukaan Merek adalah variabel yang paling
               signifikan berpengaruh terhadap Kepercayaan Merek.
           6. (H 6), diduga bahwa Kepercayaan Merek berpengaruh terhadap
               terbentuknya Loyalitas Merek.
                     Hipotesis-hipotesis yang disajikan di atas merupakan dugaan awal
           dari peneliti, diduga ada hubungan antara variabel-variabel yang di uji secara
           signifikan, yang di uji baik secara masing-masing maupun secara bersama-
           sama. Pada bagian analisis data setiap hipotesis yang diajukan akan di uji
           sehingga terbukti sejauhmana kebenaran hipotesisnya.


                                           11

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
       METODE PENELITIAN
       A. Lokasi & Waktu Penelitian
                 Penelitian ini dilakukan di Makassar pada konsumen pengguna pemakai
       jasa telekomunikasi selular. Penelitian ini direncanakan untuk dilakukan kurang
       lebih selama 3 bulan, yaitu pada bulan Juni hingga Agustus 2008. Dengan rincian
       sebagai berikut: bulan pertama persiapan administrasi, penyusunan dan
       pembuatan desain dan instrumen penelitian. Bulan kedua pengumpulan data dan
       pengolahnnya penyusunan laporan penelitian.

       B. Metode Pengumpulan Data
                Teknik yang digunakan peneliti dalam pengumpulan data ialah dengan
       observasi, wawancara, kuesioner/angket, dan dokumentasi:

          1. Observasi, yaitu metode pengumpulan data dengan cara mengamati
             langsung dengan seluruh pancaindra peneliti.
          2. Wawancara, yaitu tanya jawab antara pewawancara dan responden dengan
             panduan wawancara menggunakan pertanyaan tertulis dengan
             menggunakan kuesioner.
          3. Dokumentasi, yaitu pengumpulan data dengan menelaah literatur yang
             diterbitkan secara berkala maupun rutin.
       C. Jenis & Sumber Data
                Penelitian ini menggunakan data kualitatif dan kuantitatif dengan
       sumber primer dan sekunder. Jenis data menurut sifatnya dikelompokkan
       menjadi dua yaitu sebagai berikut:

           1. Data Kuantitatif yaitu data yang dinyatakan dalam bentuk angka atau
              numerik, dalam penelitian ini berupa data jumlah pelanggan yang di
              jadikan responden.
           2. Data kualitatif yaitu data yang dinyatakan dalam bentuk kategori atau
              bukan angka yaitu jawaban responden tentang dimensi kepercayaan
              terhadap merek.

                 Jenis data menurut sumbernya ada dua jenis yaitu sebagai berikut :

           1. Data primer adalah data yang bersumber pada hasil wawancara terstruktur
              terhadap responden dengan menggunakan kuesioner. Dalam penelitian ini
              menyangkut tentang kepercayaan pelanggan terhadap merek dan
              hubungannya terhadap loyalitas merek.
           2. Data sekunder diperoleh dari literatur-literatur yang telah dipublikasikan,
              baik berupa buku, majalah, jurnal maupun data-data internet.


                                           12

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
       D. Populasi & Sampel
                 Populasi merupakan suatu himpunan unit yang biasanya berupa orang,
       objek, transaksi atau kejadian di mana kita tertarik untuk mempelajarinya. Dalam
       penelitian ini populasi yang dimaksudkan adalah pengguna jasa telepon pra bayar
       merek SimPATI di kota Metro Makassar, sementara yang menjadi unit analisis
       adalah pelanggan yang sekurang-kurangnya telah memakai merek yang sama
       selama enam bulan. Asumsinya adalah, rata-rata masa aktif kartu simpati
       minimal dua atau tiga bulan sehingga bila terjadi pemakaian selama enam bulan
       bisa dikatakan telah terjadi pembelian ulang. Ini didasarkan pada Kepercayaan
       Merek dalam kaitannya dengan kesukaan merek. Kesukaan merek menjadi
       indikasi bahwa pengguna telah mengenal dan menggunakan merek secara intens
       dalam jangka yang cukup lama, sehingga muncul rasa suka.

                Sampel adalah suatu himpunan bagian (subset) dari unit populasi.
       Sampel diambil secara purposive dan proporsional. Jumlah sampel minimum
       sebesar 90 responden , hal ini didasarkan pada model estimasi yang paling
       populer dalam analisis SEM yaitu Maximum Likelihood yang di pakai sebagai
       default oleh AMOS 7.0 (Santoso, 2007: 66). Jumlah sampel ini pula sudah
       mencukupi bila merujuk pendapat Hair yang dikutip oleh Gunawan (2007: 9)
       yaitu sebesar minimal 5 kali jumlah parameter yang diestimasi. Sedangkan
       parameter pada penelitian ini adalah 28, jadi 5 x 28 = 140 dibulatkan menjadi 160
       responden. Pembulatan dilakukan untuk mengantisipasi adanya kuesioner yang
       tidak kembali atau tidak memenuhi untuk diolah lebih lanjut.

       E. Metode Analisis Data
                Secara umum penelitian ini merupakan kombinasi antara analisis faktor
       dan analisis regresi (korelasi), yang bertujuan untuk menguji hubungan-hubungan
       antar variabel yang ada pada sebuah model, baik itu antar indikator dengan
       konstruknya, ataupun hubungan antar konstruk.

                Sampel yang akan digunakan adalah convenience sampling dimana
       pengambilan sampel dilakukan dari pelanggan yang paling mudah dijumpai dan
       di akses Malhorta (2004) berpendapat bahwa teknik ini menjadi yang termurah
       dan tidak menghabiskan banyak waktu. Responden dipilih karena kebetulan
       berada di tempat dan waktu yang tepat sehingga sesuai dengan pertimbangan
       keterbatasan biaya.

                Pengukuran variabel dengan ini secara umum dilakukan dengan skala
       likert (5 skala) untuk menunjukkan tingkat kesetujuan (aggrement) dan
       ketidaksetujuan (disagreement) responden terhadap pertanyaan-pertanyaan yang
       diajukan dalam kuesioner. Susunan skala likert yang digunakan adalah:

                                           13

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
                 1. = Sangat tidak setuju                  4. = Setuju

                 2. = Tidak Setuju                         5. = Sangat Setuju

                 3. = Ragu – ragu

               Dalam literatur modern, persamaan dari analisis statistik yang
       digunakan ialah analisis Structural Equation Modelling (Santoso, 2007: 12).

                 Langkah-Langkah dalam SEM yang Diaplikasikan dalam Pengujian
       Model

       Langkah                              Operasional
           1       Pengembangan sebuah model berbasis teori
                   Menyusun Path Diagram untuk menyatakan hubungan
           2
                   kausalitas
                   Menterjemahkan Path Diagram kedalam persamaan-
           3
                   persamaan struktural dan spesifikasi model pengukuran
           4       Memilih matrik input dan model/teknik estimasi
           5       Menilai problem identifikasi
           6       Evaluasi kriteria Goodness of fit
           7       Interpretasi dan modifikasi model



                  Sebagaimana telah disebutkan diatas, penelitian ini menggunakan dua
       jenis alat analisis yaitu:

           1. Confirmatory Factor Analysis, alat analisis ini digunakan sebagai
              measurement model. Dengan alat ini akan diketahui apakah indikator-
              indikator yang ada memang benar-benar dapat menjelaskan sebuah
              konstruk. Pengujian model yang diusulkan dilakukan dengan SEM adalah:

                 a. Ukuran sampel

                 Jumlah sampel minimum adalah 100 berdasarkan teknik estimasi
                 Maximum Likelihood (Santoso, 2007: 66) dan melebihi jumlah sampel


                                            14

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
                 minimum yang ditawarkan oleh Hair dkk. yaitu 5 kali jumlah parameter
                 yang diestimasi (Hair et al. dalam Gunawan, 2007).

                 b. Asumsi normalitas data & Outlier.

                 Nilai statistik untuk menguji normalitas disebut z-value (Critical Ratio
                 atau c.r pada output Amos 7.0) dari ukuran skewness sebaran data. Bila
                 nilai c.r lebih besar dari nilai kritis maka dapat diduga bahwa distribusi
                 data tidak normal. Nilai kritis dapat ditentukan berdasarkan tingkat
                 signifikansi 1% yaitu sebesar ± 2.58.

                 c. Uji validitas measurement model

                 Tujuan dari pengujian ini adalah untuk mengetahui seberapa tepat
                 variabel-variabel manifes dapat menjelaskan variabel laten yang ada.

                 d. Setelah model fit, proses selanjutnya adalah melihat apakah indikator-
                 indikator yang ada pada sebuah konstruk memang merupakan bagian
                 atau dapat menjelaskan konstruk tersebut, proses tersebut dinamakan uji
                 validitas konstruk (variabel laten), dan dapat dilakukan lewat beberapa
                 cara:

                 1. Uji Convergency Validity

                       Jika sebuah indikator menjelaskan konstruk, maka indikator
                 tersebut akan mempunyai factor loading yang tinggi dengan konstruk
                 tersebut dan total indikator akan mempunyai variance exrtacted yang
                 cukup tinggi. Uji Convergency menguji keeratan hubungan. Model telah
                 memenuhi kriteria dilihat dari convergent validity jika nilai loading
                 factor lebih besar dari 0.7, beberapa literatur menganggap batas tersebut
                 adalah 0.5.
                 2. Uji Discriminant Validity

                       Jika terdapat dua konstruk dalam satu model, maka seharusnya
                 setiap konstruk mempunyai keunikan dan tidak berhubungan dengan
                 konstruk yang lain. Uji Discriminant menguji seberapa besar dua
                 variabel dua variabel berbeda. Model yang baik juga harus mempunyai
                 composite reliability di atas 0,8. Discriminat validity dapat dilihat dari
                 Average Variance Factor (AVE) yaitu jika nilai akar AVE lebih tinggi
                 dari korelasi dengan konstruk yang lain maka dapat disimpulkan
                 konstruk tersebut memiliki tingkat reliabilitas yang baik.
           2. Multiple Regression Analysis, alat ini dilakukan bila sebuah measurement
              model telah lolos dalam pegujian. Analisis ini digunakan untuk menguji
              sebuah struktural model. Dengan alat ini dapat diketahui apakah ada
                                            15

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
               hubungan yang signifikan diantara variabel independen dengan variabel
               dependen, jika memang ada hubungan, seberapa kuat hubungan yang ada.
               Terdapat dua bagian utama dalam pengujian ini yaitu:
               a. Menguji keseluruhan model (overal model fit) dari structural model.
               b. Menguji structural parameter estimates, yaitu hubungan diantara
               kostruk atau variabel independen yang ada dalam struktural model.
               Seluruh pengolahan data dan uji diatas akan dilakukan dengan alat bantu
               perangkat lunak pengolah data Office excel 2003 dan Amos 7.0.
           3. Model struktural dari pengaruh kepercayaan terhadap merek dan
              hubungannya dengan loyalitas merek adalah sebagai berikut:




Gambar. 3 Model struktural dari pengaruh kepercayaan terhadap merek dan hubungannya
dengan loyalitas merek
       F. Definisi Operasional
               Ada tujuh variabel yang akan diteliti keterkaitan pengaruhnya dalam
       penelitian ini. Lima variabel bebas (independent variable), yaitu reputasi merek,
       prediktabilitas merek, kompetensi merek, kepercayaan pada perusahaan dan
       kesukaan merek, sedangkan variabel terikat (dependent variable) meliputui
       kepercayaan pada merek yang di evaluasi atas dasar lima variabel diatas dan
       loyalitas merek yang tercipta atas keenam variabel diatas. Untuk menguji
       hipotesis penelitian ini, setiap variabel diukur dengan menggunakan instrumen
       dalam bentuk kuesioner yang berisi pertanyaan tentang dimensi dari variabel.
       HASIL PENELITIAN & PEMBAHASAN
       A. Hasil Penelitian.
               Setelah seluruh tahapan pengujian measurement model dilakukan,
           selanjutnya seluruh konstruk yang telah diperbaiki dalam model penelitian
                                           16

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
           dikumpulkan dan dihubungkan satu sama lain untuk diuji secara simultan
           (overall model fit test). Dalam tahapan ini seluruh variabel diperlakukan
           sebagai variabel independen. Pengujian diawali dengan membuat hubungan
           kovarian antar konstruk dalam model, kemudian disusul dengan pengujian
           normalitas, convergency, disciminant dan ditutup dengan pengujian goodness
           of fit.




           1) Uji Normalitas dan Outlier


                         Pengujian normalitas distribusi data dengan jumlah sampel
              sebanyak 132 menunjukkan nilai multivariate normalitas berada pada
              angka 2,374. Dengan tingkat kepercayaan 1%, tabel 53 sebagai
              pembanding menunjukkan angka ± 2,58. Dengan demikian distribusi
              dikatakan normal bila nilai c.r. kurtosis dan skew berada diantara angka -
              2,58 dan 2,58. Dalam tesis ini terlihat tidak ditemukan satupun angka c.r.
              yang berada diluar angka toleransi, baik kurtosis maupun skew, ditambah
              nilai c.r. multivariate yang juga sesuai. Dengan ini tidak diperlukan lagi
              penilaian outlier dengan metode mahalanobis atau daftar sampel yang


                                           17

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
              jaraknya jauh dari centroid, dan dapat disimpulkan bahwa sampel dalam
              model telah berdistribusi normal dan tidak ditemukan outlier.




              Tabel 53, Assessment of normality (Group number 1)
               Variable         Min      Max     skew      c.r.  kurtosis      c.r.

                Y2A            2.000   5.000    .047      .221      -.563   -1.321

                Y2B            2.000   5.000    -.043    -.203      -.540   -1.266

                Y2C            2.000   5.000    -.058    -.273      -.657   -1.542

                Y1B            1.000   5.000    -.313   -1.468      .114     .267

                Y1C            1.000   5.000    -.225   -1.053      -.423    -.993

                X5b            1.000   5.000    -.058    -.271      -.290    -.680

                X5a            1.000   5.000    -.140    -.659      -.258    -.604

                X4d            1.000   5.000    .120      .565      -.529   -1.240

                X4c            1.000   5.000    -.055    -.259      -.181    -.424

                X3e            1.000   5.000    -.055    -.259      -.619   -1.452

                X3a            2.000   5.000    .242     1.136      -.669   -1.568

                Multivariate                                       6.989    2.374




           2) Uji Convergency Validity

                       Kevalidan hasil uji convergency validity indikator dapat
              diketahui dengan melihat nilai P pada table 47 yang tidak lebih besar dari
              0,01 pada tingkat kepercayaan 1% dan 0,05 pada tingkat kepercayaan 5%.
              Selanjutnya factor loading atau nilai koofisien jalur harus lebih dari 0,650.
              Pada pengujian diperoleh hasil sebagai berikut:




                                                 18

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
              Tabel 54, Standardized Regression Weights: (Group number 1 - Default model)
                                                                        Estimat
                                                                                      R2              A VE
                                                                            e

               X 3a   <---   KOMPETENSI_MEREK                             . 798       0. 637
                                                                                                      0. 684
               X 3e   <---   KOMPETENSI_MEREK                             . 855       0. 731

               X 4c   <---   KEPERCAYAAN_PADA_PERUSAHAAN                  . 808       0. 653
                                                                                                      0. 726
               X 4d   <---   KEPERCAYAAN_PADA_PERUSAHAAN                  . 894       0. 799

               X 5a   <---   KESUKAAN_PADA_MEREK                          . 802       0. 643
                                                                                                      0. 622
               X 5b   <---   KESUKAAN_PADA_MEREK                          . 775       0. 601

               Y 1C   <---   KEPERCAYAAN_TERHADAP_MEREK                   . 838       0. 702
                                                                                                      0. 572
               Y 1B   <---   KEPERCAYAAN_TERHADAP_MEREK                   . 664       0. 441

               Y 2C   <---   LOYALITAS_MEREK                              . 879       0. 773

               Y 2B   <---   LOYALITAS_MEREK                              . 873       0. 762          0. 737

               Y 2A   <---   LOYALITAS_MEREK                              . 823       0. 677



              Tabel 55, Regression Weights: (Group number 1 - Default model)
                                                                      Estimate     S .E .      C.R.      P     Label

               X 3a   <---   KOMPETENSI_MEREK                             1. 000

               X3e <---      KOMPETENSI_MEREK                             1. 067   . 131       8.160 ***

               X 4c   <---   KEPERCAYAAN_PADA_PERUSAHAAN                  1. 000

               X4d <---      KEPERCAYAAN_PADA_PERUSAHAAN                  1. 223   . 122    10.024 ***

               X 5a   <---   KESUKAAN_PADA_MEREK                          1. 000

               X5b <---      KESUKAAN_PADA_MEREK                           . 950   . 115       8.296 ***




                                                     19

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
                                                                         Estimate     S .E .    C.R.   P    Label

               Y1C <---    KEPERCAYAAN_TERHADAP_MEREK                        1. 000

               Y1B <---    KEPERCAYAAN_TERHADAP_MEREK                         . 761   . 093    8.224 ***

               Y2C <---    LOYALITAS_MEREK                                   1. 000

               Y2B <---    LOYALITAS_MEREK                                    . 942   . 070    13.388 ***

               Y2A <---    LOYALITAS_MEREK                                    . 899   . 074    12.080 ***



                        Terbukti bahwa nilai koofisien jalur seluruh indikator berada
              diatas 0,650 pada tingkat kepercayaan 1%. Bagitu pula hasil pengujian
              simultan indikator dalam mempengaruhi konstruknya, terlihat bahwa nilai
              AVE seluruh variable/ konstruk berada diatas angka 0,5. Sehingga dapat
              dipastikan bahwa sekuruh konstruk dalam model penelitian telah
              memenuhi syarat keeratan hubungan.
           3) Uji Discriminant Validity

                        Berbeda dengan uji convergency validity yang menguji keeratan
              hubungan antar indicator, uji discriminant validity menguji keunikan tiap
              konstruk dalam model untuk memastikan tidak adanya multikolinieritas.
              Hasil pengujian dikatakan baik bila nilai korelasi antar konstruk tidak
              lebih dari 0,8 atau 0,85. Hasil pengujian dapat dilihat pada table
              correlation berikut:
              Tabel 56, Correlations: (Group number 1 - Default model)
                                                                                                                Estimate

               KEPERCAYAAN_PADA_PERUSAHAAN              <-->    KESUKAAN_PADA_MEREK                                  . 749

               KOMPETENSI_MEREK                         <-->    KEPERCAYAAN_PADA_PERUSAHAAN                          . 607

               KOMPETENSI_MEREK                         <-->    KESUKAAN_PADA_MEREK                                  . 600

               KEPERCAYAAN_PADA_PERUSAHAAN              <-->    KEPERCAYAAN_TERHADAP_MEREK                           . 740

               KESUKAAN_PADA_MEREK                      <-->    KEPERCAYAAN_TERHADAP_MEREK                           . 835

               KOMPETENSI_MEREK                         <-->    KEPERCAYAAN_TERHADAP_MEREK                           . 727

               KOMPETENSI_MEREK                         <-->    LOYALITAS_MEREK                                      . 660

               KEPERCAYAAN_PADA_PERUSAHAAN              <-->    LOYALITAS_MEREK                                      . 741

               KESUKAAN_PADA_MEREK                      <-->    LOYALITAS_MEREK                                      . 712



                                                      20

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
                                                                                                  Estimate

               KEPERCAYAAN_TERHADAP_MEREK                   <-->      LOYALITAS_MEREK                  . 936



                       Tingginya angka korelasi antara variabel Kepercayaan terhadap
              Merek dan Variabel Loyalitas Merek telah peneliti jelaskan diatas, yaitu
              guna kepentingan penelitian. Walaupun patut diduga penghapusan
              terhadap salah satu variabel akan menyebabkan model menjadi lebih Fit.
           4) Uji Goodness of Fit

                         Uji Goodness of Fit bertujuan untuk menguji kecocokan suatu
              model. Tahap ini menentukan layak tidaknya model untuk di uji ditahap
              berikutnya yaitu uji Strukural Model. Adapun hasil pengujian Goodeness
              of Fit ialah sebagai berikut:
              Tabel 57, Model Fit Summary

              CMIN
                Model                   NPAR         CMIN           DF          P      CMIN/DF

                Default model              32       48. 553         34       . 050       1. 428

                Saturated model            66         . 000           0

                Independence model         11     920. 719          55       . 000      16. 740



              Tabel 58, RMR, GFI
                Model                   RMR         GFI       AGFI          PGFI

                Default model           . 023      . 939      . 882         . 484

                Saturated model         . 000     1. 000

                Independence model      . 365      . 266      . 119         . 221



              Tabel 59, Baseline Comparisons
                                           NFI       RFI           IF I         TLI
                Model                                                                     CFI
                                        Delta1     rho1        Delta2         rho2

                Default model             . 947     . 915           . 984      . 973     . 983

                Saturated model         1. 000                     1. 000               1. 000

                Independence model        . 000     . 000           . 000      . 000     . 000



              Tabel 60, RMSEA

                                                       21

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
                Model                  RMSEA      LO 90    H I 90     PCLOSE

                Default model             . 057    . 000      . 091     . 348

                Independence model        . 347    . 327      . 366     . 000




              Tabel 61, goodness of fit – model penelitian



                            INDEX                     HASIL                     KETERANGAN

               Absolute Fit Indiches

                                                      0,050                     Sangat Baik
                     Chi-Square
                                                      0,939                     Sangat Baik
                     Goodness of Fit (GFI)
                                                      0,057                     Sangat Baik
                     RMSEA


               Incremental Fit Indiches

                                                      0,882                       Buruk
                     AGFI
                                                      0,973                     Sangat Baik
                     TLI
                                                      0,947                     Sangat Baik
                     NFI
                                                      0,983                     Sangat Baik
                     CFI


               Parsimonious Fit Indiches

                        2                             1,428                     Sangat Baik
                     (X /df)


                        Secara keseluruhan model ini dapat dikatakan baik, walaupun
              terdapat satu indikator fit yang berada dibawah standar. Hal ini
              menunjukkan bahwa model layak untuk diuji di tahapan selanjutnya yaitu
              uji Struktural Model.
                                                     22

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
   1. Structural Model

                 Tahap kedua dari analisis SEM setelah pengukuran model
       (Measurement Model) ialah pegujian structural model. Pada dasarnya pengujian
       ini tidaklebih dari interpretasi lebih lanjut dari pengukuran model, hanya saja
       pengujian sruktural model menjadi penting mengingat pengujian hipotesis
       dilakukan pada tahap ini.

                 Pengukuran structural model meliputi dua bagian utama, yang pertama
       yaitu menguji keseluruhan model dengan Goodness of Fit, dan yang kedua
       menguji structural parameter estimates, yakni hubungan antara konstruk atau
       variable independen dengan variabel dependen yang ada didalam sruktural model.




       Gambar uji struktural model




       a. Uji Goodness of Fit

                   Uji Goodness of Fit bertujuan untuk menguji keseluruhan model.
           Adapun hasil pengujian Goodeness of Fit ialah sebagai berikut:
           Tabel 62, Model Fit Summary
           CMIN
             Model                 NPAR   CMIN    DF   P   CMIN/DF




                                                 23

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
             Model                   NPAR         CMIN        DF             P        CMIN/DF

             Default model              29       52. 220         37       . 050            1. 411

             Saturated model            66         . 000          0

             Independence model         11     920. 719          55       . 000           16. 740



           Tabel 63, RMR, GFI
             Model                   RMR         GFI       AGFI          PGFI

             Default model           . 024      . 935      . 884         . 524

             Saturated model         . 000     1. 000

             Independence model      . 365      . 266      . 119         . 221




           Tabel 64, Baseline Comparisons
                                       NFI        RFI           IF I         TLI
             Model                                                                          CFI
                                    Delta1      rho1        Delta2         rho2

             Default model             . 943     . 916        . 983         . 974          . 982

             Saturated model         1. 000                  1. 000                       1. 000

             Independence model        . 000     . 000        . 000         . 000          . 000




           Tabel 65, RMSEA
             Model                   RMSEA       LO 90        H I 90        PCLOSE

             Default model             . 056       . 002         . 089            . 364

             Independence model        . 347       . 327         . 366            . 000



           Tabel 66, goodness of fit-struktural model


                       INDEX
                                                         HASIL                               KETERANGAN

             Absolute Fit Indiches

                                                         0,050                                      Baik
                  Chi-Square

                                                           24

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
                                                       0,935               Sangat Baik
                       Goodness of Fit (GFI)
                                                       0,056               Sangat Baik
                       RMSEA


                  Incremental Fit Indiches

                                                       0,884                 Buruk
                       AGFI
                                                       0,974               Sangat Baik
                       TLI
                                                       0,943               Sangat Baik
                       NFI
                                                       0,982               Sangat Baik
                       CFI


                  Parsimonious Fit Indiches

                         2                             1,411               Sangat Baik
                       (X /df)


                      Hasil pengujian menunjukkan bahwa ketiga index fit menerima
             kecocokan model ini kecuali pada indikator AGFI yang tidak memenuhi
             standar. Walaupun demikian, secara umum model dapat dikatakan baik
             dengan jumlah sampel 132.
         b. Pengujian Hipotesis

                      Dasar pengambilan keputusan dalam menerima dan menolak
             hipotesis ini dengan tingkat kepercayaan 5% ialah dengan melihat nilai
             probability level pada table regression weight, adapun penjelasannya ialah
             sebagai berikut:

                    Apabila P > 0,05 maka Hi ditolak dan Ho diterima
                    Apabila P < 0,05 maka Hi diterima dan Ho ditolak

                      Adapun hasil pengujian parameter estimates model penelitian ialah
             sebagai berikut:
             Tabel 67, Regression Weights
                                                                             Estimate     S .E .    C.R.      P    Label

KEPERCAYAAN_TERHADAP_MEREK         <---      KOMPETENSI_MEREK                     . 319   . 107     2.990 .003 Signifikan

KEPERCAYAAN_TERHADAP_MEREK         <---      KEPERCAYAAN_PADA_PERUSAHAAN          . 298   . 139     2.152 .031 Sgnifikan

KEPERCAYAAN_TERHADAP_MEREK         <---      KESUKAAN_PADA_MEREK                  . 407   . 143     2.843 .004 Signifikan

LOYALITAS_MEREK                    <---      KEPERCAYAAN_TERHADAP_MEREK           . 954   . 089    10. 707   *** Siginifikan


                                                          25

 Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

 HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
             Tabel 68, Standardized Regression Weights
                                                                   Estimate

KEPERCAYAAN_TERHADAP_MEREK <---      KOMPETENSI_MEREK                   . 300

KEPERCAYAAN_TERHADAP_MEREK <---      KEPERCAYAAN_PADA_PERUSAHAAN        . 283

KEPERCAYAAN_TERHADAP_MEREK <---      KESUKAAN_PADA_MEREK                . 406

LOYALITAS_MEREK               <---   KEPERCAYAAN_TERHADAP_MEREK         . 928



                       Dari tabel hasil pengujian diatas terbukti bahwa variabel Kempetensi
             berpengaruh signifikan pada tingkat kepercayaan 0,3%, Variabel Kepecayaan
             pada Perusahaan berpengaruh signifikan pada tingkat kepercayaan 3,1%,
             variable Kesukaan pada merek berpengaruh signifikan pada tingkat
             kepercayaan 0,4%, dan variabel Kepercayaan Terhadap Merek berpengaruh
             sifnifikan pada tingkat loyalitas merek 0,00%. Maka peneliti menyimpulkan
             bahwa:

                  Hipotesis (H 1) yang menduga bahwa Variabel Independen Reputasi
                  Merek pada model penelitian tidak memiliki pengaruh positif yang
                  signifikan terhadap variabel dependen Kepercayaan Merek

                  Hipotesis ( H 2 ), variabel Independen Prediktabilitas Merek pada model
                  ini juga tidak memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap variabel
                  Dependen Kepercayaan Merek

                  Hipotesis ( H3 ), Kompetensi Merek memiliki pengaruh positif yang
                  signifikan terhadap pembentukan Kepercayaan Merek. Hasil pengujian
                  menunjukkan bahwa variabel Kompetensi Merek mempunyai pengaruh
                  positif yang signifikan terhadap terbentuknya Kepercayaan Merek sebesar
                  (P) 0,003 dibawah 0,05 maka hipotesis diterima, dan hipotesis nihil yang
                  menyatakan sebaliknya ditolak.

                  Hipotesis (H 4), hipotesis yang menyatakan bahwa Kepercayaan pada
                  Perusahaan berpengaruh positif yang signifikan terhadap terbentuknya
                  Kepercayaan Merek, berdasarkan hasil pengujian diperoleh asil bahwa
                  variabel Kepercayaan pada Perusahaan memilik pengaruh positif yaitu (
                  P) 0,0031 atau 3,1 % berada dibawah 0,05. Dengan demikian , maka
                  dapat disimpulkan bahwa hipptesis ke empat ini terbukti secara
                  meyakinkan.



                                                         26

 Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

 HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
               Hipotesis (H5) , yang menyatakan bahwa Kesukaan Merek berpengaruh
               positif secara signifikan mempengaruhi terbentuknya Kepercayaan Merek,
               variabel ini secara signifikan mempengaruhi Kepercayaan Merek pada
               tingat 0,004 ,berada dibawah 0,05 sehingga hipotesis ke lima terbukti.

               Hipotesis (H6), yang menyatakan bahwa Kepercayaan terhadap Merek
               berpengaruh terhadap pembentukan Loyalitas Merek, hasil penelitian
               menunjukkan bahwa Kepercayaan terhadap Merek juga memiliki
               pengaruh positif yang signifikan terhadap terbentuknya Loyalitas Merek
               yaitu sebesar (P) 0,000 berada dibawah 0,05 sehingga hipotesis diterima.


       c. Pembahasan

                    Pada penelitian ini model yang digunakan peneliti sebenarnya cukup
           handal dan representatif, baik dari indikator maupun variabel. Untuk
           pengujian indikator peneliti menggunakan nilai standar >0,650 yang menurut
           Comrey & Lee (1992) berarti “hubungan yang berada dalam tingkatan sangat
           baik”.



           1. Reputasi Merek

                       Konstruk Reputasi Merek dibentuk oleh 4 indikator yaitu; Secara
              umum reputasi merek baik (X1a), Secara umum merek                  dapat
              dipercaya (X1b), Mendengar dari orang lain bahwa merek memiliki
              reputasi baik (X1c). Mendengar dari orang lain bahwa merek dapat
              dipercaya (X1d).

                        Pada pengujian keeratan hubungan, masing-masing beban
              muatan (factor loading) indikator pada konstruk ini berada pada rentang
              0,747 sampai dengan 0,870. Bila nilai ini dikuadratkan diperoleh hasil
              antara 0,557 sampai dengan 0,756, artinya variasi naik turunnya indikator
              ini sebanyak 55,7% sampai 75,6% dapat menjelaskan variabel Reputasi
              Merek, sisanya 24,4% sampai 44,3% dijelaskan oleh faktor error (e1
              sampai dengan e4). Hal ini menandakan bahwa seluruh indikator sangat
              baik untuk menjadi prediktor variabel Reputasi Merek.

           2. Prediktabilitas Merek

                      Konstruk Prediktabilitas Merek dijelaskan oleh 6 indikator yaitu;
              Pelanggan tahu apa yang ingin didapatkan dari sebuah merek (X2a),
              Kemampuan pelanggan dalam memprediksi kinerja dan kualitas merek
              (X2b), Merek konsisten menjaga kualitas (X2c), Merek memiliki kinerja
                                           27

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
              yang konsisten (X2d), Pelanggan tahu akan kinerja merek dimasa datang
              jika membeli merek yang sama (X2e), Merek memiliki kinerja sesuai
              harapan (X2f).

                        Pada pengujian keeratan hubungan beban muatan (factor
              loading) indikator, peneliti menemukan bahwa indikator “Merek memiliki
              kinerja yang konsisten” (X2d), “Pelanggan tahu akan kinerja merek
              dimasa datang jika membeli merek yang sama” (X2e), “Merek memiliki
              kinerja sesuai harapan” (X2f), masing-masing menunjukan nilai 0,552 dan
              0,520 serta 0,635, yang mana seluruhnya dibawah nilai standar 0,650.
              Ketika masing-masing nilai di kuadratkan diperoleh hasil 0,305 dan 0,270
              serta 0,404 yang artinya variasi naik turunnya indikator-indikator ini
              hanya dapat menjelaskan variabel Prediktabilitas merek masing-masing
              sebesar 30,5%, 27% dan 40,4%, sisanya dijelaskan oleh unique factor (e8,
              e9 dan e10). Hal ini menandakan bahwa indikator X2d, X2e dan X2f tidak
              cukup kuat untuk menjadi prediktor variabel Prediktabilitas Merek.

           3. Kompetensi Merek

                        Konstruk Kompetensi Merek dijelaskan oleh 5 indikator yaitu;
              Merek merupakan merek terbaik dari merek kartu prabayar lain (X3a),
              Merek dapat memenuhi kebutuhan dengan lebih baik daripada merek lain
              (X3b), Merek memiliki kinerja yang lebih baik dari merek lain (X3c),
              Merek lebih efektif dari merek lain (X3d), Tidak ada merek lain yang
              lebih baik (X3f).

                        Pada pengujian keeratan hubungan beban muatan (factor
              loading) indikator, peneliti menemukan bahwa indikator “Merek dapat
              memenuhi kebutuhan dengan lebih baik daripada merek lain” (X3b), dan
              “Merek lebih efektif dari merek lain” (X3d) masing-masing menunjukkan
              nilai 0,050 dan 0,631, yang mana keduanya berada dibawah nilai standar
              >0,650. Bila nilai-nilai ini di kuadratkan maka diperoleh nilai 0,003 dan
              0,398 yang artinya variasi naik turunnya indikator-indikator ini hanya
              dapat menjelaskan variabel Prediktabilitas merek masing-masing sebesar
              0,3%, dan 39,8%, sisanya dijelaskan oleh unique factor (e12 dan e14). Hal
              ini menandakan bahwa indikator X3b dan X3d tidak cukup kuat untuk
              menjadi prediktor variabel kompetensi Merek.

           4. Kepercayaan pada Perusahaan

                        Konstruk Kepercayaan pada Perusahaan dijelaskan oleh 4
              indikator yaitu; Kepercayaan pelanggan pada perusahaan pemilik merek
              (X4a), Percaya bahwa sebuah Perusahaan tidak akan berlaku curang
              (X4b), Pelanggan merasa bisa mempercayai perusahaan sepenuhnya

                                           28

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
              (X4c), Rasa percaya akan kualitas produk yang baik dari perusahaan
              (X4d).

                        Pada pengujian keeratan hubungan beban muatan (factor
              loading) indikator, peneliti menemukan bahwa indikator “Kepercayaan
              pelanggan pada perusahaan pemilik merek” (X4a) dan “Percaya bahwa
              sebuah Perusahaan tidak akan berlaku curang” (X4b), masing-masing
              menunjukkan nilai 0,583 dan 0,609, yang mana keduanya berada dibawah
              nilai standar >0,650. Bila nilai-nilai ini di kuadratkan maka diperoleh nilai
              0,340 dan 0,371 yang artinya variasi naik turunnya indikator-indikator ini
              hanya dapat menjelaskan variabel Prediktabilitas merek masing-masing
              sebesar 34%, dan 37,1%, sisanya dijelaskan oleh unique factor (e16 dan
              e17). Hal ini menandakan bahwa indikator X4a dan X4b tidak cukup kuat
              untuk menjadi prediktor variabel kompetensi Merek.

           5. Kesukaan pada Merek

                       Konstruk Kesukaan pada Merek dijelaskan oleh 3 indikator
              yaitu; Rasa suka pada merek secara umum (X5a), Rasa lebih suka memilih
              merek yang dibelinya sekarang daripada merek lain (X5b), Merupakan
              merek favorit (X5c)

                        Pada pengujian keeratan hubungan beban muatan (factor
              loading) indikator, peneliti menemukan bahwa indikator “Merupakan
              merek favorit” (X5c) menunjukkan nilai 0,616, yang mana keduanya
              berada dibawah nilai standar >0,650. Bila nilai-nilai ini di kuadratkan
              maka diperoleh nilai 0,380 yang artinya variasi naik turunnya indikator ini
              hanya dapat menjelaskan variabel Kesukaan pada Merek sebesar 38%,
              sisanya dijelaskan oleh unique factor (e22). Hal ini menandakan bahwa
              indicator X5c tidak cukup kuat untuk menjadi predictor variable Kesukaan
              pada Merek.

           6. Kepercayaan terhadap Merek

                        Konstruk Kepercayaan terhadap Merek dijelaskan oleh 3
              indikator yaitu; Kepercayaan pelanggan pada merek (Y1a), Pelanggan bisa
              melihat atau mengukur kinerja merek (Y1b), Pelanggan merasa bisa
              mempercayai merek sepenuhnya (Y1c).

                        Pada pengujian keeratan hubungan beban muatan (factor
              loading) indicator, peneliti menemukan bahwa nilai beban muatan seluruh
              indikator ialah 0,689 dan 0,817 serta 0,682, ketiganya berada diatas nilai
              standar >0,650. Hal ini menandakan bahwa ketiga indikator cukup kuat
              untuk menjelaskan variabel Kepercayaan terhadap Perusahaan.

                                           29

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
           7. Loyalitas Merek

                       Konstruk Loyalitas Merek dijelaskan oleh 3 indikator yaitu;
              “Kesediaan untuk tetap membeli merek yang sama meskipun merek lain
              sedang melakukan potongan” (Y2a), “Kesediaan untuk membeli yang
              sama dilain waktu jika pada saat yang sama merek lain tidak tersedia”
              (Y2b), “Kesediaan tetap mencari merek yang sama di tempat lain jika
              merek tidak tersedia di salah satu toko” (Y2c).

                        Pada pengujian keeratan hubungan beban muatan (factor
              loading) indikator, peneliti menemukan bahwa nilai beban muatan seluruh
              indikator ialah 0,773 dan 0,880 serta 0,914, ketiganya berada diatas nilai
              standar >0,650. Hal ini menandakan bahwa ketiga indicator cukup kuat
              untuk menjelaskan variabel Loyalitas Merek.

                    Dalam penelitian ini dari 28 indikator penjelas 7 variabel yang diuji
           menyisakan 20 indikator yang layak untuk diproses lebih lanjut ketahap
           pengujian discriminant validity atau uji beda tiap konstruk. Hal ini berarti
           bahwa 20 indikator masih sangat mungkin mengalami distorsi. Peneliti
           menggunakan 2 nilai standar yang digunakan ialah nilai korelasi antar
           konstruk yang tidak lebih dari 0,8 dan 0,85. Penggunakan dua standar ini
           bukan merupakan inkonsistensi, akan tetapi lebih merupakan pencarian model
           yang baik dengan tetap berdasarkan teori yang ada. Dengan kata lain, standar
           dasar yang digunakan ialah nilai korelasi yang tidak lebih dari 0,8, akan tetapi
           standar akan dinakkan ke angka ≤ 0,85 dalam dua kondisi yaitu; bila ternyata
           konstruk yang berkorelasi tersebut terbukti memiliki pengaruh yang cukup
           kuat dan signifikan dengan tingkat kepercayaan 0,5% dan yang kedua
           konstruk tersebut tidak mengganggu hasil pengujian Goodness of Fit. Bahkan
           dalam penelitian ini beberapa konstruk akan dianggap absolute keberadaannya
           karena pentingnya keberadaan konstruk tersebut.

                    Uji beda konstruk menunjukkan adanya korelasi yang sangat tinggi
           antara variabel Reputasi Merek dengan variabel Kompetensi Merek yang
           mencapai 0,919, antara variabel Reputasi Merek dengan variabel
           Prediktabilitas Merek yang mencapai 0,895, antara variabel Prediktabilitas
           Merek dengan variabel Kompetensi Merek yang mencapai 0,827, antara
           Variabel Kesukaan pada Merek dengan variabel Kerpercayaan terhadap
           Merek yang mencapai 0,835 dan antara Variabel Kepercayaan terhadap Merek
           dengan variabel Loyaitas Merek yang mencapai 0,945.

                     Penghapusan dilakukan terhadap variabel Reputasi Merek dan
           Prediktabilitas Merek karena keduanya terbukti memiliki hubungan yang
           lemah masing-masing -0,308 dan 0,170, disamping itu penghapusan terhadap
           dua variabel ini sudah cukup memperbaiki hasil pengujian Goodness of Fit.
                                            30

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
           Adapun variabel Kesukaan pada Merek dipertahankan karena pengaruhnya
           cukup dominan yaitu 0,406 pada tingkat signifikansi 1% dan tidak menganggu
           hasil uji Goodness of Fit. Perlakuan khusus diberikan peneliti terhadap
           variabel Loyalitas Merek, yang mana keberadaan variabelnya dianggap
           absolut.

           1. Pengaruh Langsung Variabel Independen Terhadap Variabel
              Dependen

                       Pengaruh langsung dalam tabel Standardized Dirrect Effect atau
              koofisien jalur bertujuan untuk mengetahui 3 hal yaitu; Mengetahui
              hubungan langsung antara variabel dan baik laten terhadap manifes
              maupun independen terhadap dependen. Artinya dalam tabel ini akan
              diketahui besarnya hubungan antara variabel independen yang terdiri atas
              3 variabel (Kompetensi Merek, Kepercayaan terhadap Perusahaan dan
              Kesukaan pada Merek) terhadap variable dependen yaitu variable
              Kepercayaan terhadap Merek. Selain itu dalam tabel tersebut akan
              diketahui pula pengaruh langsung antara variabel Kepercayaan terhadap
              Merek terhadap variabel Loyalitas Merek.




              Tabel 69, Standardized Direct Effects (Group number 1 - Default model)
                          X5                X4          X3              Y1             Y2

Y1                       .4 0 6            .2 8 3      .3 0 0          .0 0 0         .0 0 0

Y2                       .0 0 0            .0 0 0      .0 0 0          .9 2 8         .0 0 0

Y2 A                     .0 0 0            .0 0 0      .0 0 0          .0 0 0         .8 2 2

Y2 B                     .0 0 0            .0 0 0      .0 0 0          .0 0 0         .8 7 4

Y2 C                     .0 0 0            .0 0 0      .0 0 0          .0 0 0         .8 7 8

Y1 B                     .0 0 0            .0 0 0      .0 0 0          .6 6 4         .0 0 0

Y1 C                     .0 0 0            .0 0 0      .0 0 0          .8 4 5         .0 0 0

X5 b                     .7 7 5            .0 0 0      .0 0 0          .0 0 0         .0 0 0

X5 a                     .8 0 2            .0 0 0      .0 0 0          .0 0 0         .0 0 0

X4 d                     .0 0 0            .8 8 9      .0 0 0          .0 0 0         .0 0 0


                                                31

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
                          X5                X4          X3              Y1             Y2

X4 c                     .0 0 0            .8 1 4      .0 0 0          .0 0 0         .0 0 0

X3 e                     .0 0 0            .0 0 0      .8 5 5          .0 0 0         .0 0 0

X3 a                     .0 0 0            .0 0 0      .7 9 7          .0 0 0         .0 0 0


                        Pengaruh langsung antar masing-masing variabel adalah
              (Kompetensi Merek terhadap Kepercayaan terhadap Merek = 0,300),
              (Kepercayaan pada Perusahaan terhadap Kepercayaan terhadap Merek =
              0,283), (Kesukaan pada Merek terhadap Kepercayaan terhadap Merek =
              0,406), (Kepercayaan terhadap Merek terhadap Loyalitas Merek = 0,928).
              Ketiga variabel independen mempunyai pengaruh yang positif, linier dan
              signifikan dengan tingkat kepercayaan 5% dalam mempengaruhi variabel
              Kepercayaan terhadap merek. Adapun pengaruh variabel Kepercayaan
              terhadap Merek terhadap variabel Loyalitas Merek adalah linier, positif
              dan signifikan pada tingkat kepercayaan 1%.

           2. Pengaruh Tidak Langsung Variabel Independen Terhadap Variabel
              Dependen

                        Pengaruh tidak lansung yang dimaksud dalam tabel pada
              penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel independen
              terhadap variabel yang dimediasi oleh variabel dependen lainnya. Selain
              itu dapat diketahui pula pengaruh variable dependen terhadap indikator
              variabel dependen. Dikatakan tidak langsung karena pengaruh ini
              dimediasi oleh variabel laten masing-masing.indikator.

                       Tabel 70, Standardized Indirect Effects (Group number 1 -
              Default model)

                          X5                X4          X3             Y1       Y2

Y1                      .000           .000           .000            .000           .000

Y2                      .377           .263           .279            .000           .000

Y2A                     .310           .216           .229            .763           .000

Y2B                     .329           .230           .244            .812           .000

Y2C                     .331           .231           .245            .815           .000

Y1B                     .269           .188           .199            .000           .000

                                                32

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
                         X5                X4           X3             Y1    Y2

Y1C                     .343           .239           .254            .000           .000

X5b                     .000           .000           .000            .000           .000

X5a                     .000           .000           .000            .000           .000

X4d                     .000           .000           .000            .000           .000

X4c                     .000           .000           .000            .000           .000

X3e                     .000           .000           .000            .000           .000

X3a                     .000           .000           .000            .000           .000


                       Dengan melihat tabel Standardized Indirect Effects diatas dapat
              diketahui pengaruh variabel dependen terhadap variable Loyalitas Merek
              yang dimediasi oleh variable Kepercayaan terhadap Merek (Kompetensi
              Merek terhadap Loyalitas Merek = 0,279), (Kepercayaan terhadap
              Perusahaan terhadap Loyalitas Merek = 0,263), (Kesukaan pada Merek
              terhadap Loyalitas Merek = 0,377). Nilai yang dihasilkan nyaris tidak jauh
              berbeda dengan nilai pengaruh langsung variabel dependen terhadap
              variabel Kepercayaan terhadap Merek. Dugaan ini seolah menguatkan
              temuan peneliti akan adanya overlap yang sangat tinggi antara variabel
              dua variabel dependen ini.



           3. Pengaruh Total Variabel Independen Terhadap Variabel Dependen

                        Pengaruh total dimaksudkan untuk mengetahui hasil kolaborasi
              pengaruh langsung dan tidak langsung antara variabel dependen terhadap
              variabel independen.

              Tabel 71, Standardized Total Effects (Group number 1 - Default model)
                         X5                X4           X3             Y1             Y2

Y1                      .406           .283           .300            .000           .000

Y2                      .377           .263           .279            .928           .000

Y2A                     .310           .216           .229            .763           .822


                                            33

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
                          X5                X4             X3            Y1               Y2

 Y2B                     .329           .230           .244            .812           .874

 Y2C                     .331           .231           .245            .815           .878

 Y1B                     .269           .188           .199            .664           .000

 Y1C                     .343           .239           .254            .845           .000

 X5b                     .775           .000           .000            .000           .000

 X5a                     .802           .000           .000            .000           .000

 X4d                     .000           .889           .000            .000           .000

 X4c                     .000           .814           .000            .000           .000

 X3e                     .000           .000           .855            .000           .000

 X3a                     .000           .000           .797            .000           .000


                     Dari tiga tabel hubungan diatas, diketahui bahwa variabel-variabel
            dalam penelitian sudah sangat baik, hal ini dapat dilihat dari hubungan antar
            variabel manifest atau indikator terhadap variabel laten yang sangat tinggi.
            Bahkan ketika variabel independen dihubungkan dengan variabel dependen
            pun diperoleh hasil yang sangat baik. Tabel dibawah akan merangkum 3 tabel
            diatas.




                     tabel 72, pengaruh variabel eksogen terhadap endogen

                           Y1                                       Y2

Variab   Pengaru                                    Pengaru
                       Pengaruh                                  Pengaruh
  el        h                          Pengaru         h                        Pengaru
                        Tidak                                     T i d ak
         Langsun                       h Total      Langsun                     h Total
                       Langsung                                  Langsung
            g                                          g

 X3        0,300            -               0,300      -           0,279          0,279

 X4        0,283            -               0,283      -           0,263          0,263

                                               34

 Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

 HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
X5        0,406            -               0,406        -         0,377          0,377

Y1          -              -                 -        0,928         -            0,928



                     Berdasarkan tabel diatas, maka hasil temuan peneletian secara
           objektif adalah :

           1. Kompetensi Merek (X3) yang di ukur oleh Kepercayaan Terhadap Merek
              (Y1) memiliki konstribusi yang signifikan dan linier terhadap tinggi
              rendahnya kepercayaan konsumen terhadap merek kartu prabayar yang
              mereka gunakan. Dengan nilai Probability Chi-Squre 0,3% (kurang dari
              1% yang merupakan tingkat kepercayaan) diperoleh nilai koefisien jalur
              sebesar 0,300, yang artinya ketika kompetensi Merek (X3) naik 100%
              maka akan dibarengi dengan kenaikan Kepercayaan terhadap Merek (Y1)
              sebesar 30%.

           2. Kepercayaan pada Perusahaan (X4) yang diukur oleh Kepercayaan
              terhadap Merek (Y1) memiliki konstribusi yang signifikan dan linier
              terhadap tinggi rendahnya kepercayaan konsumen terhadap merek kartu
              prabayar yang mereka gunakan. Dengan nilai Probability Chi-Squre 3,1%
              (kurang dari 5% yang merupakan tingkat kepercayaan) diperoleh nilai
              koefisien jalur sebesar 0,283, yang artinya ketika Kepercayaan pada
              Perusahaan (X4) naik 100% maka akan dibarengi dengan kenaikan
              Kepercayaan terhadap Merek (Y1) sebesar 28,3%.

           3. Kesukaan pada Merek (X5) yang diukur oleh Kepercayaan terhadap
              Merek (Y1) memiliki konstribusi yang signifikan dan linier terhadap
              tinggi rendahnya kepercayaan konsumen terhadap merek kartu prabayar
              yang mereka gunakan. Dengan nilai Probability Chi-Squre 0,4% (kurang
              dari 1% yang merupakan tingkat kepercayaan) diperoleh nilai koefisien
              jalur sebesar 0,406, yang artinya ketika Kesukaan pada Merek (X5) naik
              100% maka akan dibarengi dengan kenaikan Kepercayaan terhadap Merek
              (Y1) sebesar 40,6%.

           4. Kombinasi dari variabel independen yang terdiri atas Kompetensi Merek
              (X3) dan Kepercayaan pada Perusahaan (X4) serta Kesukaan pada Merek
              (X5) yang diukur oleh Kepercayaan terhadap Merek (Y1) secara simultan,
              menunjukkan nilai R2 (Squared Multiple Correlations) sebesar 0,757 dan
              diikuti dengan nilai probability Chi-Square variance sebesar 0,000 (kurang
              dari 1% yang merupakan tingkat kepercayaan), yang artinya variasi
              Variabel Kepercayaan terhadap Merek dapat dijelaskan oleh tiga variabel
              independen diatas hingga 75,7% pada tingkat kepercayaan 1%, sisanya

                                                 35

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
              24,3% dijelaskan oleh faktor lain (Z1) yang tidak diteliti dalam penelitian
              ini.

           5. Kepercayaan terhadap Merek (Y1) yang diukur oleh Loyalitas Merek (Y2)
              memiliki konstribusi yang signifikan dan linier terhadap tinggi rendahnya
              loyalitas konsumen terhadap merek kartu prabayar yang mereka gunakan.
              Dengan nilai Probability Chi-Squre 0,00% (kurang dari 1% yang
              merupakan tingkat kepercayaan) diperoleh nilai koefisien jalur sebesar
              0,928, yang artinya ketika Kepercayaan terhadap Merek (Y1) naik 100%
              maka akan dibarengi dengan kenaikan Loyalitas merek (Y1) sebesar
              92,8%.

           6. Kombinasi dari variabel independen yang terdiri atas Kompetensi Merek
              (X3), Kepercayaan pada Perusahaan (X4), Kesukaan pada Merek (X5)
              dan Kepercayaan Terhadap Merek (Y1) yang diukur oleh Loyalitas Merek
              (Y1) secara simultan, menunjukkan nilai R2 (Squared Multiple
              Correlations) sebesar 0,862 dan diikuti dengan nilai probability Chi-
              Square variance sebesar 0,013 (kurang dari 5% yang merupakan tingkat
              kepercayaan), yang artinya variasi Variabel Loyalitas Merek dapat
              dijelaskan oleh empat variabel independen diatas hingga 86,2% pada
              tingkat kepercayaan 5%, sisanya 13,8% dijelaskan oleh faktor lain (Z2)
              yang tidak diteliti dalam penelitian ini.


       d. Implikasi Manajerial
                      Dari kerangka konseptual yang diajukan oleh Lau and Lee
           (1999) untuk dijadikan model pengujian untuk menggambarkan hubungan
           antara reputasi merek, prediktabilitas merek, kompetensi merek, kepercayaan
           terhadap perusahaan, dan kesukaan merek dalam membentuk kepercayaan
           merek yang akhirnya dapat membangun atau membentuk loyalitas merek,
           dimana hal ini menjadi isu utama dalam penelitian ini.
                      Menurut Lau and Lee (1999), kelima variabel bebas yaitu
           Reputasi merek, prediktabilitas merek, kompetensi merek, kepercayaan
           terhadap perusahaan dan kesukaan merek merupakan variabel bebas yang
           paling berpengaruh diantara variabel bebas lain yang diujinya untuk
           mengetahui pengaruh pembentukan kepercayaan merek yang pada akhirnya
           tercipta loyalitas merek, namun berdasarkan data yang telah diuji dan di bahas
           dalam pembahasan ternyata kelima variabel bebas tersebut tidak seluruhnya
           mampu secara signifikan membentuk kepercayaan pada merek yang secara
           bersama-sama akan mempengaruhi terbentuknya loyalitas. Sehingga masih
           terdapat beberapa hal yang perlu dikaji lebih dalam mengenai faktor-faktor
           pembentuk kepercayaan pada merek dan pengaruhnya terhadap loyalitas
                                           36

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
           merek. untuk peningkatan kualitas internal dan external marketing , berikut
           beberapa hal tentang implikasi manajerial yang perlu diperhatikan oleh
           perusahaan :
              1. Reputasi Merek
                       secara umum beranggapan bahwa merek Simpati memiliki
                  reputasi baik dan dapat dipercaya, dan bahwa pernah mendengar dari
                  orang lain bahwa merek Simpati memiliki reputasi baik. Dari sini
                  terlihat bahwa responden memiliki respon yang positif terhadap
                  reputasi merek, namun ternyata tidak berpengaruh langsung pada
                  pembetukan kepercayaan terhadap merek.
                      Dapat disimpulkan juga bahwa apapun yang didengar oleh
                  responden hal tersebut tidak lagi menjadi perhatian mereka, karena
                  responden telah berpengalaman langsung menggunakan merek
                  tersebut. Pengalaman menggunakan merek dalam jangka waktu yang
                  lama menandakan adanya kemampuan merek dalam memenuhi
                  kebutuhan dan harapan konsumen sehingga kepuasan atas kinerja
                  merek tercapai, dari sini rasa suka akan muncul dan berlanjut dengan
                  pembelian ulang terhadap merek.
                      Kemudian sesuai dengan penemuan hubungan antara reputasi
                  merek dengan prediktabilitas merek yang lemah menjadi indikator
                  bahwa responden tidak mengetahui perbedaan antara reputasi merek
                  dan prediktabilitas merek, karena reputasi merek dan prediktabilitas
                  merek secara umum sudah terwakili oleh kompetensi merek dimana
                  pemakaian yang lama dan berulang secara otomatis menumbuhkan
                  dalam benak konsumen bahwa merek memiliki kompetensi yang
                  secara reputasi dan daya prediksi memiliki kinerja dan kualitas yang
                  bagus.
                      Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa strategi
                  pemasaran efektif yang dapat dijalankan oleh perusahaan antara lain
                  adalah :
                              Perusahaan harus mampu membuat pelanggan merasa suka
                              dan bahagia ketika menggunakan merek simpati karena
                              reputasi akan terbentuk seiring berjalannya sebagai hasil
                              dari tercapainya kepuasan konsumen akan kualitas dan
                              kinerja merek, kualitas dan kinerja merek simpati
                              dipengaruhi oleh signal yang kuat dan bagus, suara yang
                              jernih, kecepatan dan kekuatan akses internet.
                              Mengkomunikasikan kehandalan produk dan merek secara
                              keseluruhan melalui iklan atau public relation. Tujuannya
                              untuk membangun dan menguatkan merek, karena

                                           37

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
                              pelanggan yang sudah menggunakan tentu akan melakukan
                              word of mouth yang positif terhadap merek, sehingga
                              dengan adanya iklan dan public relation akan semakin
                              mudah pelanggan loyal memberi rekomendasi untuk
                              menggunakan merek .
                              Memiliki jaringan pelayanan yang luas dan berada dimana-
                              mana, khususnya dalam penanganan masalah pelanggan
                              dan penyediaan kartu perdana, isi ulang elektrik dan fisik.
                              Untuk pelanggan baru yang mau mencoba di berikan
                              pilihan kemudahan, yaitu harga kartu perdana yang murah
                              dengan bermacam kemudahan tujuannya adalah agar
                              pelanggan akan menggunakan dan merasakan sendiri
                              kinerja dan kualitas produk atau merek.
                              Memberikan apresiasi kepada pengguna minimal enam
                              bulan, karena secara teori telah memberi fakta bahwa
                              terjadinya pembalian ulang secara berturut-turut sudah
                              menunjukkan loyalitas terhadap merek, apalagi dengan
                              diberlakukannya system registrasi kartu, sehingga pihak
                              operator mungkin dapat memberi hadiah berupa SMS
                              kepada pengguna baru.
              2. Prediktabilitas Merek.
                      Prediktabilitas merek disini mengacu pada kemampuan merek
                  untuk dapat diprediksi kinerja dan kualitasnya. Hasil penelitian
                  menemukan bahwa responden kurang respon terhadap kinerja yang
                  konsisten, responden kurang tahu akan kinerja merek dimasa datang
                  jika membeli yang sama serta kurang percaya bila merek memiliki
                  kinerja yang sesuai harapan. Dan ini mengakibatkan prediktabilitas
                  merek tidak secara signifikan memperngaruhi tingkat kepercayaan
                  terhadap merek, sehingga agar merek memiliki daya prediksi atau
                  prediktabilitas maka merek harus secara konsisten menjaga kualitas
                  dan kinerjanya, implikasinya antara lain adalah:
                              Pada proses produksi, perusahaan harus memastikan
                              adanya konsistensi dalam hal pengendalian dan
                              pengawasan mutu dan kualitas, peningkatan dan
                              pengembangan jangkauan jaringan dengan menuliskan di
                              kartu perdana atau di voucher fisik dan memberi informasi
                              lewat sms, sehingga pelanggan mengetahui secara
                              konsisten dan berkesinambungan perkembangan yang
                              terjadi terhadap merek dan perusahaan.


                                           38

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
                              Prediktabilitas dapat terbangun dengan seringnya
                              pelanggan berhubungan dengan merek, pelanggan sesering
                              mungkin diberi kesempatan untuk terus berinteraksi dengan
                              merek, seperti untuk kartu perdana dengan pemakaian
                              perdana maka tiap isi ulang pertama mendapat bonus bicara
                              atau sms ke sesama pemakai merek. Menurut Muchtar
                              Lubis (2001) dalam bukunya “Manusia Indonesia”
                              mengatakan bahwa manusia Indonesia adalah manusia
                              yang cenderung menghindari resiko yang tidak berdasar
                              pada pertimbangan logika atau berdasar pada pengetahuan
                              dan pengalamannya, namun lebih pada ketakutan akan
                              resiko itu sendiri, artinya walaupun responden memiliki
                              pengalaman dan informasi, namun akan lebih mudah
                              membentuk kepercayaan jika telah mencoba membuktikan
                              sendiri dengan memakai sebuah merek atau produk
                              Prediktabilitas juga dapat dibangun melalui komunikasi
                              yang berkelanjutan dari perusahaan kepada pelanggan.
                              Pemasar harus yakin bahwa informasi yang diberikan
                              adalah yang sebenar-benarnya dan konsisten akan kualitas
                              jaringan dan kemudahan akses karena bila pelanggan
                              mendapati bahwa merek tidak memenuhi janjinya bisa saja
                              pelanggan akan beranggapan bahwa merek tidak dapat di
                              prediksi kualitasnya.
                              Agar pengguna baru lebih percaya atas kualitas dan mutu
                              produk dan merek dimasa-masa datang maka setiap
                              pengguna yang lebih dari enam bulan keatas diberi
                              apresiasi, untuk enam bulan mendapat bonus bicara 5 menit
                              misalnya, 1 tahun 20 menit, 2 tahun 1 jam dan untuk yang
                              5 tahun keatas bonus mendapat bonus yang lebih besar,
                              agar dalam benak pengguna timbul kesan bahwa merek ini
                              secara konsisten akan terus ada dan akan terus menjaga
                              kualitas sehingga mampu memenuhi keinginan dan
                              kebutuhan pengguna dari waktu ke waktu.
              3. Kompetensi Merek
                      Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi merek memiliki
                  pengaruh positif yang signifikan terhadap pembentukan kepercayaan
                  terhadap merek. Kompetensi merek mengacu pada kemampuan merek
                  dalam memenuhi kebutuhan konsumen. Dari hasil penelitian
                  ditemukan bahwa merek mampu memberi kebutuhan responden
                  dengan lebih baik dari merek lain, merek memiliki kinerja yang lebih
                  baik dari merek lain, serta merek dianggap lebih efektif dari merek
                  lain, namun responden tidak menganggap bahwa merek yang di
                                           39

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
                  pilihnya adalah merek yang terbaik karena ada merek lain yang
                  dianggap mampu memberi kualitas dan kinerja yang lebih baik dari
                  merek yang di gunakannya. Atas temuan tersebut maka yang menjadi
                  implikasi antara lain adalah :
                              Perusahaan harus memahami bahwa kompetensi merek
                              menjadi hal penting dari sebuah merek untuk bisa
                              dipercaya, maka perusahaan sebaiknya menempatkan
                              kompetensi       merek    ini    sebagai      kunci   dan
                              mengkombinasikan strategi dengan merek lain. Untuk
                              memulainya, pemasar sebaiknya melakukan penelitian
                              untuk mencari tahu kebutuhan dan keinginan yang
                              berkaitan dengan produk, sehingga pemasar bisa
                              membangun merek yang kompeten yang sesuai dengan
                              harapan pelanggan, “ Merek A adalah merek murah
                              berkali-kali” , “merek B adalah merek yang paling murah
                              akses internet” , “merek C adalah mereknya anak muda” .”
                              “merek D yang paling bagus digunakan untuk fasilitas
                              smartphone “ (blackberry atau I-phone) kompetensi
                              masing-masing merek jelas dilihat dari tagline atau iklan
                              yang disiarkan lewat media elektronik atau cetak.
                              Perusahaan sebaiknya tidak melakukan perluasan merek
                              atau (Brand extensions) diluar kompetensi merek, karena
                              pelanggan akan dibuat bingung, pelanggan harus
                              diyakinkan akan kompetensi merek yang dimiliki oleh
                              perusahaan, misalnya Simpati murah menelpon berkali-
                              kali, padahal dalam benak konsumen sudah tercipta merek
                              lain yang lebih dahulu mengeluarkan hal demikian, bila
                              kompetensi merek Simpati adalah jangkauan yang luas.
                              Untuk meyakinkan bahwa kompetensi merek yang dimiliki
                              perusahaan mampu memberi yang terbaik maka maka
                              pelanggan harus       diyakinkan dengan menggunakan
                              misalnya opinion leaders yang memiliki pandangan dan
                              pengetahuan dalam wilayah tertentu untuk memberikan
                              pernyataan yang mewakili merek perusahaan. Solomon
                              (2004) menyatakan bahwa opinion leaders penting
                              digunakan untuk memperkuat karakter merek karena yang
                              menjadi opinion leaders adalah orang yang mengetahui dan
                              memiliki cukup          pengetahuan merek, memiliki
                              pengetahuan teknis, informasi, secara sosial lebih aktif dan
                              terhubung dengan komunitasnya serta bisa menjadi referen
                              power, dimana pendapat, nasihat ataupun pernyataannya
                              cenderung lebih dipertimbangkan secara serius oleh orang-
                              orang sekitarnya.
                                           40

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
                              Dari pengamatan peneliti ditemukan bahwa sebagian besar
                              responden menyakan bahwa merek-merek yang ada di
                              pasar sudah cukup banyak khsususnya di wilayah kota
                              Metro Makassar dan sekitarnya, responden beranggapan
                              bahwa merek lain juga mampu memberikan penawaran
                              yang dibutuhkan sesuai dengan harapan, ini di sebabkan
                              oleh wilayah Makassar yang semakin berkembang dan
                              kemajemukan penduduk yang ada, komunikasi yang
                              berkembang tidak hanya antar kota tetapi juga sudah
                              melampaui batas wilayah propinsi Sulawesi Selatan,
                              dimana di beberapa tempat di Indonesia pemakai merek
                              harus berkomunikasi dengan pemakai merek lain. Sehingga
                              perlu dipertimbangkan lagi bagaimana kebijakan harga
                              untuk pemakaian lintas wilayah, agar pelanggan tidak
                              beralih ke merek lain yang menawarkan paket yang lebih
                              murah.
                              Diupayakan agar simPATI yang terkenal atas jangkauannya
                              yang luas dalam melakukan telekomunikasi lewat telepon
                              selular, tetapi untuk menggunakan internet , khususnya
                              untuk melakukan akses internet atau download data tidak
                              seluas jangkauannya.
              4. Kepercayaan Pada Perusahaan.
                      Hasil penelitian menemukan bahwa Kepercayaan Pada Perusahaan
                  pemilik merek berpengaruh positif pada terbentuknya kepercayaan
                  terhadap merek, data menunjukkan bahwa kepercayaan pada
                  perusahaan terbangun karena konsumen secara umum percaya
                  sepenuhnya pada perusahaan merek, percaya bahwa perusahaan tidak
                  akan berlaku curang, dan percaya bahwa perusahaan selalu
                  mengeluarkan produk-produk yang mampu memenuhi harapan.
                      Setelah melalui proses dan perkembangan, melalui pengalaman
                  dan pengetahuan yang diperolehnya selama mengkomsumsi merek
                  dari perusahaan pemilik merek, terlihat bahwa kepercayaan terhadap
                  merek dan kepercayaan pada perusahaan terjadi secara berkelanjutan.
                     Merek yang di keluarkan oleh perusahaan mampu
                  merepresentasikan perusahaan sebagai perusahaan yang berkinerja
                  bagus. Ketika konsumen suka dengan merek tersebut maka secara
                  otomatis juga menyukai perusahaan, sehingga beberapa perusahaan
                  yang mengeluarkan merek selalu mengikutsertakan perusahaan
                  pemilik merek , dari sini implikasi manajerialnya adalah :
                              Membangun Corporate Communication dengan tujuan
                              untuk memperkuat image perusahaan, hubungan antara
                                           41

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
                              merek dengan perusahaan dapat diperkuat dari dua hal yang
                              dapat mendukung satu sama lain, dengan mengutip Keller
                              (2003), bahwa kepercayaan perusahaan muncul sebagai
                              akumulasi dari keyakinan pelanggan akan produk
                              berkualitas yang dihasilkan perusahaan, aktivitas yang
                              dilakukan perusahaan serta komunikasi yang terjalin antara
                              perusahaan dengan pelanggannya. Dari sini, perusahaan
                              harus memperhatikan bagaimana membangun keyakinan
                              konsumen untuk bisa percaya pada perusahaan, sehingga
                              bersedia melakukan pembelian ulang. Bila janji dan kinerja
                              terbukti maka akan menumbuhkan rasa percaya pada merek
                              yang pada akhirnya berhenti pada stu titik yang kita
                              namakan kesetiaan.
                              Perusahaan seyogyanya secara berkesinambungan untuk
                              terus berinovasi dan menghasilkan produk-produk baru,
                              penambahan fitur dengan tetap mempertahankan kualitas
                              dan kinerja merek, karena bila ada satu merek saja yang
                              konsumen anggap tidak berkualitas maka akan berpengaruh
                              terhadap kepercayaan pada perusahaan, dan mungkin saja
                              akan terjadi keraguan-raguan untuk menggunakan merek
                              lain yang telah di keluarkan oleh perusahaan.
                              Perusahaan secara adil harus memberi apresiasi kepada
                              pengguna yang loyal, kepada outlet-outlet yang setia
                              menjual voucher dan kartu perdana,
                              Membuka kembali nomor lama yang sudah tidak aktifkan
                              atau memberi apresiasi kepada pengguna yang masih ingat
                              nomornya yang lama atau kartunya sudah mati dan masih
                              menginginkan nomor tersebut.
              5. Kesukaan pada Merek
                      Liking to Brand atau kesukaan pada merek juga memiliki pengaruh
                  positif yang signifikan membangun kepercayaan terhadap merek. Hasil
                  uji penelitian menunjukkan bahwa rasa suka pada merek secara umum,
                  rasa lebih suka memilih merek saat ini dibanding merek lain, dan
                  merek menjadi merek favorit menjadi faktor yang berpengaruh pada
                  pembetukan kepercayaan terhadap merek, sebagai implikasi untuk
                  membangun kesukaan pada merek antara lain adalah :
                              Membuat produk menarik untuk di lihat, mudah dan
                              menyenangkan ketika di fungsikan, hal ini berhubungan
                              dengan pengemasan dan desain. Sisi estetika sebuah produk
                              jangan diabaikan, melalui departemen R&D semua hal
                              diatas dapat diwujudkan.
                                           42

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
                              Mencoba untuk mengembangkan strategi dalam kaitannya
                              dengan kesukaan merek dengan cara mengasosiasikan
                              dengan situasi dimana pelanggan bisa menemukan sebuah
                              kenangan yang akan membuat mereka menjadi bahagia,
                              misalnya mengasosiakan merek dengan seseorang yang
                              dikenal baik oleh masyarakat, misalnya ketika piala dunia
                              berlangsung maka merek “Simpati” menggunakan pemain
                              sepak bola untuk mempresentasikan produk yang sesuai
                              dengan pecinta bola.
              6. Kepercayaan terhadap Merek
                      Hasil penelitian menemukan bahwa kepercayaan terhadap merek
                  berpengaruh positif pada pembetukan loyalitas merek, hal ini penting
                  bagi pemasar untuk membangun kepercayaan pelanggan pada merek
                  mereka. Pada responden pengguna kartu merek simPATI di kota
                  Metro Makassar dua dari tiga karakteristik merek dalam penelitian ini
                  yang meliputi antara lain: reputasi merek, prediktabilitas merek tidak
                  berpengaruh positif pada pembetukan kepercayaan terhadap merek,
                  hanya kompetensi merek yang berpengaruh secara signifikan dalam
                  pembetukan kepercayaan terhadap merek. Faktor lainnya yang lebih
                  kuat mempengaruhi kepercayaan terhadap merek adalah kesukaan
                  pada merek dan kepercayaan pada perusahaan pemilik merek, hal ini
                  membawa implikasi sebagai berikut :
                              Perusahaan harus memahami bahwa kepercayaan terhadap
                              merek dalam membentuk loyalitas merek adalah sebuah
                              proses interaksi antara konsumen dan merek. Kesukaan dan
                              kepercayaan merupakan persepsi, anggapan dan rasa yang
                              dialami oleh pelanggan ketika berhubungan atau terlibat
                              dengan merek. Hal ini menunjukkan adanya loyalitas sikap
                              dari responden pada merek, bahwa mereka suka dan
                              percaya pada merek dan dibuktikan dengan melakukan
                              pembelian ulang. Sedangkan reputasi merek, prediktabiltas
                              merek dan kompetensi merek merupakan hal-hal diluar
                              “diri” konsumen, artinya konsumen yang kebetulan
                              menjadi responden dalam penelitian ini cenderung lebih
                              memperhatikan konsep diri, hubungan antara merek dan
                              konsumen menjadi hal penting disini, untuk alasan inilah
                              maka pemasar harus lebih memperhatikan hal-hal yang
                              menjadi harapan, keinginan dan kebutuhan konsumen,
                              misalnya dengan mengadakan survey lapangan, acara live
                              show untuk mencari tahu keinginan dan harapan konsumen
                              dengan meminta saran dan masukan dari pelanggan melalui
                              media cetak atau melalui SMS, kemudian di berikan
                                           43

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
                              imbalan berupa bonus pulsa atau souvenir dari perusahaan,
                              dengan melakukan ini berarti perusahaan telah
                              meningkatkan komunikasinya, memahami konsumen
                              dengan baik menjadi hal penting dan kunci sukses
                              pemasaran.
                              Temuan penelitian yang menunjukkan bahwa merek lain
                              juga mampu memberi harapan konsumen dengan memiliki
                              dua kartu atau lebih, dimana merek lain hanya menjadi
                              alternatif ketika responden memiliki kerabat yang tidak
                              menggunakan merek yang sama. Ternyata merek lain
                              tersebut tidak terjadi pembelian ulang dan tetap
                              mempertahankan nomor lama dengan alasan nomor lama
                              sudah diketahui banyak orang dan kualitas serta kinerja
                              yang lebih baik dari merek lain sehingga terjadi pembelian
                              ulang dan pemakaian yang lama melebihi satu tahun atau
                              batasan lama penelitian yaitu enam bulan menunjukkan
                              komitmen responden untuk setia pada merek. Misalnya
                              kemauan mereka untuk tetap mempertahankan nomor yang
                              dimiliki walaupun harus membeli nomor merek lain,
                              bahkan ada pelanggan yang ingin nomor yang lama dan
                              sudah mati di hidupkan lagi. Dengan melihat hal tersebut
                              diatas maka perusahaan harus bisa menawarkan program
                              penawaran bagi pelanggan untuk pemutihan nomor lama
                              bila pelanggan ingin kembali memakai nomor yang lama.
                              Menyediakan merek di tempat yang mudah di akses
                              ataupun di tempat terpencil yang juga memiliki jaringan,
                              ini dilakukan untuk menghindari pelanggan yang kecewa
                              ketika tidak menemukan merek yang digunakan ketika
                              sedang di butuhkan.



KESIMPULAN DAN SARAN-SARAN
A. Kesimpulan
             Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka terdapat beberapa
       kesimpulan sebagai berikut, lima Dimensi Kepercayaan yaitu
           1. Reputasi Merek, tidak memiliki pengaruh yang signifikan dalam
              membentuk Kepercayaan Merek
           2. Prediktabilitas merek, tidak memiliki pengaruh yang signifikan dalam
              membentuk Kepercayaan Merek

                                           44

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
            3. Kompetensi merek , memiliki pengaruh positif yang signifikan dalam
               membentuk Kepercayaan Merek.
            4. kepercayaan pada perusahaan, memiliki pengaruh positif yang signifikan
               dalam membentuk Kepercayaan Merek.
            5. Kesukaan Merek juga memiliki pengaruh positif yang signifikan dalam
               membentuk Kepercayaan Merek
            6. Keadaan ini berbeda dengan penelitian acuan yang ditemukan oleh Lau
               dan Lee (1999), yang menunjukkan bahwa kelima Dimensi Kepercayaan
               tersebut adalah variabel yang paling berpengaruh dalam membentuk
               loyalitas merek dengan dimediasi oleh variabel kepercayaan terhadap
               merek.
            7. Variabel yang paling dominan mempengaruhi terbentuknya kepercayaan
               merek adalah kesukaan merek yaitu sebesar 0,406, di ikuti oleh
               kompetensi merek sebesar 0,300 dan terakhir adalah kepercayaan pada
               perusahaan yaitu sebesar 0,283, ketiga variabel independen ini
               mempunyai pengaruh positif, linier dan signifikan pada tingkat
               kepercayaan 5 % dalam mempengaruhi variabel kepercayaan terhadap
               merek.
            8. Kepercayaan terhadap merek memiliki pengaruh yang positif secara
               signifikan pada pembentukan loyalitas merek, dengan nilai koefisien jalur
               sebesar 0,928 yang artinya ketika kepercayaan terhadap merek naik 100 %
               maka akan dibarengi dengan kenaikan loyalitas sebesar 92,8 %.


B. saran.
               Bagi para peneliti , penelitian ini di harapkan dapat memberi manfaat yang
       lebih sebagai awal dari penelitian lanjutan mengenai kepercayaan terhadap merek
       sebagai mediasi antara reputasi merek, prediktabilitas merek, kompetensi merek,
       kepercayaan pada perusahaan dan kesukaan merek dengan pembentukan loyalitas
       merek. dengan demikian beberapa saran untuk menunjang penelitian selanjutnya
       antara lain :
            1. Model yang dikembangkan oleh Lau dan Lee masih sangat baik untuk
               mengukur kepercayaan terhadap merek, akan tetapi hendaknya
               dimensinya tidak hanya menggunakan kelima variabel yang sudah di uji,
               bila perlu seluruh variabel yang digunakan oleh Lau dan Lee digunakan
               untuk mendapatkan hasil yang lebih bagus.
            2. Karena penelitian sebelumnya yang diteliti adalah produk consumer
               goods, maka sebaiknya bila ingin mencari objek penelitian dengan
               menggunakan model dari Lau dan Lee, objek yang diteliti seyogyanya
               produk consumer goods.
                                           45

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
           3. Penelitian sebelumnya adalah pengunjung mall terbesar di Singapura,
              sedangkan penelitian ini hanya dilakukan di kota Metro Makassar,
              sehingga karakter responden sedikit berbeda, sehingga apa yang diperoleh
              dalam penelitian ini berbeda dengan penelitian terdahulu.
           4. Responden Kota Metro Makassar pada umumnya sensitif terhadap harga,
              karena beberapa diantaranya menggunakan dua kartu, sehingga
              manajemen perlu memperhatikan tipe pelanggan tersebut secara konsisten
              dengan memberikan tarif telepon dan sms yang mampu bersaing dengan
              kompetitor, dengan memberi tarif dan sms yang kompetitif ditunjang
              dengan jaringan yang kuat dan bagus, maka diharapkan tercipta pelanggan
              yang setia menggunakan kartu simpati.
           5. Hasil penelitian masih menemukan pula pengguna kartu simPATI yang
              bersifat switcher. Sebaiknya pihak manajemen juga harus memperhatikan
              pelanggan tipe tersebut, dalam artian bahwa pihak perusahaan harus lebih
              konsisten dalam hal pemberian tarif telepon maupun sms yang bersaing
              dengan provider lain yang menyatakan bahwa merekalah yang paling
              murah. Pemberian secara konsisten tarif telepon maupun sms yang
              bersaing diharapkan akan dapat meningkatkan loyalitas pelanggan.
           6. SimPATI telah dikenal sebagai kartu yang jangkauannya luas, cocok
              untuk diakai dalam berkomunikasi tetapi belum tentu cocok untuk
              digunakan pemakaian internet dengan menggunakan perangkat komputer,
              sehingga kompetensi simPATI adalah kartu selular untuk menelpon dan
              sms, dimanapun dan dari manapun.
           7. SimPATI sebagai kartu selular pertama, tentu memiliki pengguna yang
              telah lama mengenal dan memakai kartu simPATI, sehingga untuk
              mengembalikan pengguna lama di harapkan kartu yang pernah digunakan
              pengguna tersebut dihidupkan lagi dengan bukti kartu chip yang biasanya
              masih dipegang oleh mereka.
           8. Agar pengguna tetap loyal di harapkan kartu yang sudah dipakai minimal
              enam bulan maka nomor tersebut telah mendapat jaminan tidak akan mati,
              walaupun tidak diisi voucher.
           9. Apresiasi terhadap pengguna minimal pengguna enam bulan keatas,
              apresiasi dalam bentuk ucapan selamat ulang tahun melalui SMS, ini bisa
              dengan mudah dilakukan karena setiap pemakaian kartu perdana dan
              sesuai peraturan pemerintah maka setiap pengguna kartu selular harus
              meregistrasi profil lengkap pengguna, dengan melakukan hal ini maka
              konsumen akan merasa sangat diperhatikan oleh Perusahaan dan Merek
              itu sendiri, akan memberi rasa nyaman dan bahagia sehingga akan
              memberitahukan kepada sejawat, rekan atau keluarganya.


                                           46

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519
           10. Agar dapat merebut pengguna baru maka kartu sebaiknya di keluarkan
               kartu perdana khusus bagi siswi dan siswa baru SMA, kartu dibagikan
               ketika mereka mendaftar di sekolah masing-masing, dan bila dalam tempo
               tiga tahun nomor tersebut masih bertahan maka akan diberi bonus pulsa
               dan bagi siswi dan siswa yang berprestasi maka dengan pemakaian selama
               tiga tahun selama sekolah akan diberi hadiah bea siswa selama satu atau
               dua tahun.




                                           47

Arham Hamid, Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia, Jurusan Pemasaran, Angkatan 2006

HP: 0812-414-4480/Fleksi : 0411-5022-519

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:4473
posted:9/23/2010
language:Indonesian
pages:47