Docstoc

PERAN AGAMA ISLAM DALAM MASA PERTUMBUHAN DA1

Document Sample
PERAN AGAMA ISLAM DALAM MASA PERTUMBUHAN DA1 Powered By Docstoc
					PERAN AGAMA ISLAM DALAM MASA
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada dasarnya manusia itu sendiri ingin berbuat yang terbaik, tetapi dalam
kehidupannya yang serba maju dimana anak-anak kita sudah banyak terpengaruh
budaya luar, sehingga banyak anak usia sekolah yang mengalami perubahan
akhlak baik sekolah umum maupun sekolah agama.
Guru agama adalah motor penggerak pendidikan agama karena itu ia adalah
pribadi berakhlak yang dicerminkan dalam dirinya. Berdisiplin tinggi, berwibawa,
menguasai metode dan memiliki kepemimpinan. Ia harus tekun bekerja
memeriksa semua penugasan kepada murid sekaligus memberikan bimbingan dan
sangsi.
Orang tua memegang peranan penting dalam melaksanakan pendidikan agama
dirumah. Namun yang lebih penting orang tua diharapkan dapat menjadi teladan
dalam segala hal.
Karena kita tahu bahwa anak-anak adalah harapan kita semua sebagai generasi
penerus Bangsa. Apabila akhlak anak-anak kita rusak, apa yang kita harapkan dari
mereka melainkan kehancuran. Oleh sebab itulah untuk menghindarkan hal-hal
yang tidak kita inginkan, maka mulai usia dini perlu kita tanamkan pengisian
akhlak kepada anak-anak agar mereka menjadi pemimpin Bangsa yang beriman.
Akhlak tidak akan tumbuh tanpa diajarkan dan dibiasakan oleh karena itu ajaran
agama diajarkan secara bertahap, juga harus diikuti secara terus menerus bentuk
pengalamannya, baik disekolah maupun diluar sekolah.
Keberhasilan pendidikan agama tidak hanya menjadi tanggung jawab guru agama,
tetapi semuanya menjadi tanggung jawab kita bersama. Agar akhlak anak sebagai
pemimpin bangsa nantinya akan berhasil membangun tanah airnya untuk
mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur.

B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan Karya Tulis ini adalah sebagai berikut :
Sebagai suatu keharusan bagi mahasiswa program D II guna memenuhi sebagian
dari tugas wisuda
Untuk menyadarkan kita para orang tua dan masyarakat bahwa pendidikan akhlak
itu sangat penting bagi anak usia sekolah dasar agar mereka menjadi anak yang
memiliki akhlakul karimah
Proses pertumbuhan dan perkembangan anak
Aspek pertumbuhan dan prinsip perkembangan

C. Metode Penulisan
Adpun metode yang penulis gunakan dalam penulisan karya tulis ini adalah
sebagai berikut :
Metode Library Reseach studi pustaka menggunakan atau mengumpulkan buku-
buku,bahan bacaan yang memuat data-data yang relevan dengan topik yang
dibahas.
Metode Deskrptif yaitu berusaha mencaridata dan pendapat dari buku-buku yang
ada hubungannya dengan karya tulis inisebagai bahan teoritis yang selanjutnya,
data tersebut disusun kembali dalam bentuk tulisan.

D. Tujuan Penulisan
Adapaun yang menjadi tujuan dalam penulisan karya tulis ini antara lain :
Sebagai salah satu syarat guna menyelesaikan studi program Diploma II PGSD,
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI Kuala Kapuas
Sebagai bahan bekal penulisan dalam menjalankan tugas sebagaicalon guru dalam
pengabdian pada masyarakat.
Menggunakan sevara sistematis tentang sesuatu hal masalah, agar dapat dijadikan
sumbangan pemikiran bagi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Kuala Kapuas
dan rekan-rekan mahasiswa.

D. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan pemahaman dalam penulisan ini maka penulis menyusun
sistematika penulisan sebagai berikut :
Bab I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini menguraikan masalah-masalah, latar belakang,perumusan
masalah,metode penulisan,tujuan penulisan dan sistematika penulisan.
Bab II : PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK
Dalam bab ini menguraikan tentang pengertian pertumbuhan dan perkembangan
anak, proses pertumbuhan dan perkembangan anak aspek pertumbuhan dan prinsif
perkembangan.
Bab III : PERAN AGAMA ISLAM DALAM MASA PERTUMBUHAN DAN
PERKEMBANGAN ANAK
Dalam bab ini menguraikan tentang pertumbuhan agama bagi anak,
perkembangan agama pada anak, pembiasaan pendidikan agama pada anak dan
pembinaan pribadi anak.
Bab IV : PENUTUP
Dalam bab ini penulis menyimpulkan darisemua uraian yang telah penulis uraikan
dalam bab terdahulu sehingga tergambar isi tulisan secara keseluruhan dalam
bentuk ringkasan dan setelah uraian penulis simpulkan maka penulis akhiri
dengan menyampaikan beberapa saran berdasarkan atas analisa dari uraian diatas.
BAB II
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK

A. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
Pengertian Pertumbuhan
Pengertian pertumbuhan berbeda dengan perkembangan. Pribadi yang tumbuh
mengandung arti yang berbeda dengan pribadi yang berkembang. Dalam pribadi
manusia baik yang jasmaniah maupun yang rohaniah terdapat dua bagian yang
berbeda sebagai kondisi yang menjadi pribadi manusia berubah menjadi kearah
kesempurnan.
Adapun dua bagian kondisi pribadi manusia itu meliputi :
Bagian pribadi material yang kuantitatif dan
Bagian pribadi fungsional yang kualitatif
Pertumbuhan dapat diartikan sebagai perubahan kualitatif pada material pada
sesuatu sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan. Perubahan kuantitaif
dapat berupa pembesaran atau pertambahan dari tidak ada menajadiada, dari kecil
menjadi besar, dari sedikit menjadi banyak, dari sempit menjadi luas dan
sebagainya.
Dari uraian diatas dapatlah kita rumuskan dari pertumbuhan artinya sebagai
perubahan kuantitatif pada material pribadi sebagai akibat dari adanya pengaruh
lingkungan. Pribnadi material yang kuantitatif: sel kromosom, butir darah,
rambut, lemak dan tulang adalah tidak dapat dikatakan berkembang melaikan
bertumbuh atau tumbuh. Begitu pla material pribadi lainnya seperti kesan,
keinginan, ide dan pengetahuan, selama tidak dihubungkan engan fungsinya tidak
dapat dikatakan berkembang melainkan bertumbuh.

Pengertian Perkembangan
Perkembangan merupakan suatu perubahan dan perubahan ini tidak bersifat
kuantitatif melainkan kualitatif yaitu meliputi perkembangan segi fungsi-fungsi
kepribdian manusia misalnya fungsi perhatian, pengamatan, tanggapan, ingatan,
fantasi, pemikiran, perasaan dan kemauan setiap fungsi yang disebutkan daiats
dapat mengalami perubahan. Perubahan ini tidak dapat dikatakan sebagai
pertumbuhan melainkan perkembangan. Oleh karena itu perkembangan
menyangkut berbagai fungsi baik jasmaniah maupun rohaniah maka aka salah
apabila kita beranggapan bahwa perkembangan adalah semata-mata sebagai
pertumbuhan atau proses psikologis perkembangan adalah semata-mata sebagai
pertumbuhan atau proses psikologis.
Menurut Dirto Hadisunoto (1981) menyatakan :
Perkembangan (Depeloment) berarti perubahan (change) melalui proses
kehidupan dan sepanjang masa. Dijelaskan pula bahwa perkembangan anak tidak
terjadi pada aspek fisik saja (Perkembangan Struktural), tetapi juga pada aspek
fungsinya (Perkembangan fungsional).
Perkembangan Struktural
Mengenai gejala pertumbuhan fisik ada dua aspek perubahan yaitu perubahan
(grawth) dan kematangan (Naturation) pertumbuhan adalah perubahan kuantitatif
pada tubuh karena bertambahnya umur, bertambah besar, tinggi dan beratnya.
Kematangan meliputi perubahan pada bagian dalam diri struktur dan organisasi
bagian-bagian tubuh alat-alat tubuh dan jaringan-jaringan otot, perubahan tersebut
bersifat kualitatif dan berbeda-beda. Kematangan ialah proses perubahan (
perkembangan ) yang terjadi secara genetis dan pengaruh luar, yang berlangsung
seumur hidup.
Perkembangan Fungsional
Berfungsinya suatu organ tubuh di mulai takkala strukturnya telah cukup
berkembang dan siap berfungsi. Misalnya jaringan otot teleh dapat di perpendek
atau di perkecil sejak dalam pereode pranatal, setelah anak lahir ia akan belajar
menggerakkan tangan dan kaki, melihat dan mendengar.
Perkembangan fungsional yang lebih tinggi terjadi lewat proses belajar seperti
perkembangan, keterampilan, berbicara dan berkomonikasi dengan sekitarnya dan
kemampuan berpikir. Bakal kematangan yang di capai seseorang dalam proses
belajar yang di alami ( karena berinteraksi dengan sekitar ) dan pemahamannya
meningkat secara sosial dan secara personal.
PROSES PERUBAHAN DARI PERKEMBANGAN ANAK
Proses Pertumbuhan Anak
Antara tumbuhan dan berkembang terdapat perdedaan perisriwa, namun keduanya
terjadi secara sambung-menyambung dan saling menunjang. Dengan demikian
dalam pertumbuhan terjadi dua proses yang hampir berbarengan, dalam Al-
Qur’an disebutkan dalam surah Al-Mu’minuun ayat 12,13 dan 14 yang berkaitan
dengan proses kejadian manusia yang berbunyi :
ô‰  s)s9ur $oYø)n=yz z`»|¡SM}$# `ÏB 7′s#»n=ß™ `ÏiB &ûüÏÛ ÇÊËÈ §NèO
çm»oYù=yèy_ ZpxÿôÜçR ’ Îû 9‘ #t•s% &ûüÅ3¨B ÇÊÌÈ ¢OèO $uZø)n=yz
spxÿôÜ‘ Z9$# Zps)n=tæ $uZø)n=y‚ sù sps)n=yèø9$# ZptóôÒãB $uZø)n=y‚ sù
sptóôÒßJø9$# $VJ»sàÏã $tRöq|¡s3sù zO»sàÏèø9$# $VJøtm: ¢OèO çm»tRù’t±Sr&
$¸)ù=yz t•yz#uä 4 x8u‘ $t7tFsù ª!$# ß`|¡ômr& tûüÉ)Î=»sƒ ø:$# ÇÊÍÈ (bq^IsJ9# :
۱۲ – ۱٤ )

Artinya : “Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati
(berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan)
dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal
darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal
daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus
dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka
Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (Q.S.Al-Mu’minuun : 12-14)

dalam sebuah hadits nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan proses
pertumbuhan antara lain dalam
Dan juga terdapat dalam Hadits Nabi Muhammad SAW :
79Œ@[H p*=ãbq3„ MO$Hq„ `•ê/‘ #mH#`=/š ù p)=t ìJÚ„ M1@t # b#
N $J?1 ì/‘ $/•H s„ r $4?H !# ]ë;„ MO 79Œ @[H pó×H bq3„ MO
m•ù ‡ ÿ^„ MO‰          r#
                  •è™ ‘ ÿP r m?Ù # r mù— ‘ r m?Jã =K1 # m9 A$)„ r
(

Artinya :
“Bahwasanya seseorang dari padamu di himpun kejadiannya dalam perut ibunya
selama 40 hari, kemudian menjadi sekumpul darah ( alaqah ) selama itu pula,
kemudian menjadi segumpal daging (mudgah)selama itu pula Allah mengutuskan
malaikat-malaikat-Nya yang diperintahkan untuk mencatat amalnya, rizkinya,
ajalnya dan celaka, kemudian ditiupkan kedalam dirinya roh (H.R. Bukhary).
Dari hadits daiatas menunjukkan bahwa pertumbuhan merupakan proses yang
berkesinambungan,mulai dari keadaan sederhana sampai keadaan yang kompleks.
Keseimbangan pertumbuhan ini dapat kita renungkan, bagaimana bayi yang
lemah tergantung berkecukupan secara berangsur-angsur dapat menjadi orang
yang kuat, hal ini disebabkan oleh manusia tumbuh melalui urutan-urutan yang
teratur dalam organisanya. Sebagai contoh bayi yang dalam keadaan lemah, hanya
dapat berbaring dan bergerak-gerak, lama-kelamaan dapat memiringkan badan,
menelungkup dan seterusnya. Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan tentu saja
perlu dibantu dengan kegiatan latihan atau belajar.

Proses Perkembangan Anak
Proses perkembangan anak tidak hanya terbatas kepada bertambah besarnya
ukuran akan tetapi berdiri dari serentetan perubahan yang berlangsung secara
progresif, teratur, jalin menjalin dan terarah kepada kedewasaan (Kematangan).
Proses perkembangan itu bukan suatu kejadian yang kacau dan bukan merupakan
proses yang terjadi secara kebetulan saja, akan tetapi perkembangan itu terjadi
dengan berurutan setahap demi setahap, dan selalu terjadi antara hubungan setiap
tahap dengan tahap berikutnya. Adapun pembagian tahapan / fase perkembangan
menurut para ahli bukan untuk memisahkan masa yang satu dengan masa
mendahuluinya secara mutlak. Dalam rangka mencapai dasar-dasar yang bersendi
pada praktek-praktek pendidikan dan perkembangan dapat dibagi sebagai berikut :
Masa Vital (0 – 2)
Masa Kanak-Kanak (2 – 7)
Masa Sekolah (7 – 12)
Masa Remaja (12-18)
Masa Transisi (18-21)
Masa Dewasa (21-24)
Keterangan
Masa Vital (0-2) Tahun
Masa vital ini adalah masa anak sangat membutuhkan pertolongan yang lain. Pada
masa ini terjadi perubahan jasmani yang cepat, pada masa 6 bulan pertama kurang
lebih 2 kali lipat dari berat pada waktu lahir (Bila keadaan anak normal) pada
waktu lahir anak belum dapat apa-apa dan hanya bisa dapat mengikuti dengan
matanya sebuah benda yang bergerak, kekiri dan kekanan sesuai dengan gerakan
benda itu tetapi pada akhir tahun kedua anak akan cakap berjalan, berlari dan
dapat menguasai beberapa perkataan.
Masa Kanak-Kanak (2-7) Tahun
Masa kanak-kanak merupakan masa perkmbanga psikis, dimasa ini anak
mengalami perkembangan indra yang terbesar. Karena anak pada masa itu sudah
cukup berjalan dan berlari-lari dan juga kemampuan bicaranya atau pengajaran
bahasanya berkembang sangat cepat. Pada masa ini anak dapat membuat kalimat
majemuk dan sering mengemukakan pertanyaan, adapula yang menyebutkan masa
individualisme yaitu suatu masa yang menunjukkan kecendrungan suka menolak
perintah orang tua atau saran-saran dari orang lain.
Masa Sekolah (7-12) Tahun
Pada masa usia 7-12 tahun anak telah matang mengikuti pelajaran sekolah dasar.
Dalam banyak hal pengajaran disekolah dasar dapat dikatakan sesuai dengan
perkembangan kognitif para murid sesuai dengan taraf perkembangan, kecerdasan
dan pikiran yang tertuju kepada kenyataan maka pelajaran harus diberikan dengan
alat peraga penjelasan-penjelasan tak perlu diberikan secara panjang lebar, tetapi
yang penting ialah memberikan contoh-contoh yang kongkrit.
Aktifitas anak pada masa ini dapat dibentuk dengan peraturan-peraturan dalam
permainan anak telah sanggup diatur oleh peraturan dan anak dapat belajar
bergaul dengan orang lain yang mengindahkan hak-hak mereka menguji
kemampuan yang terdapat dalam dirinya, dan belajar kerja sama dengan orang
lain. Dalam lapangan bersamaan anak cepat merasa puas dan gembira, tetapi
belum dapat mengikuti kepuasan dan kegembiraan yang dialami serta kesedihan
orang lain.
Masa Remaja (12-18) Tahun
Pada masa remaja, anak banyak mengalami perubahan-perubahan jasmani yang
berwujud timbulnya tanda-tanda kelamin sekunder seperti kumis, suaranya
berubah dan lain-lain. Lengan dan kaki mengalami pertumbuhan yang cepat
sekali, sehingga anak-anak menjadi canggung dan kaku. Keadaan ini akan
menimbulkan gangguna psikis, sehingga antara yang satu dengan yang lainnya
tidak dalam keadaan seimbang akibatnya anak sering mengalami pertentangan
bathin dan gangguan integrasi.
Pada umumnya, masa remaja anak telah mulai menemukan nilai-nilai hidup, cinta,
persahabatan, agama dan kesusilaan, kebaikan dan kebenaran. Maka dari itu dapat
dinamakan masa pembentukan dan masa penentuan nilai dan cita-cita. Pada
bagian akhir masa remaja anak telah menunjukkan perbedaan minat antara anak
laki-laki dan anak perempuan.
Masa Transisi (18-21) Tahun
Pada masa transisi dari masa remaja kemasa dewasa telah mengalami ketegangan
bathin, akan tetapi sifat retikal revolusioner masih tetap menggelolra, sedikit demi
sedikit ia meminginsafi bahwa orang tidak dapat mencapai segala cita-cita
hidupnya. Pada masa ini anak jasmaninya mengalami perkembangan yang paling
baik dibanding dengan masa-masa yang lain.
Masa Dewasa (21-24) Tahun
Pada masa ini telah menginjang masa dewasa, setelah masa ini seseorang telah
dapat menunjukkan kematangan jasmani dan rohani. Orang yang telah memiliki
keyakinan dan pendirian yang tetap, setelah memikirkan secara sunguh-sungguh
tentang kehidupan berkeluarga dan telah menunjukkan diri kepada masarakat
ramai dengan aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan lain-lain. Mereka telah
mempunyai tanggung jawab sosial baik sebagai ibu dan bapak dalam keluarga
maupun sebagai anggota masyarakat.
Aspek Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Aspek Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Anak
Pertumbuhan yang menyangkut perubahan material dan struktur fisiologis,
ternyata sangat dipengaruhi oleh beberapa aspek adapun aspek-aspek yang
mempengaruhi pertumbuhan antara lain :
Aspek umur mental anak mempengaruhi kapasitas mentalnya
Kapasitas anak menentukan prestasi belajarnya. Hasil penelitian dari para ahli
menunjukkan adanya hubungan yang erat antara prestasi belajar dan pertumbuhan
atau kematangan anak.
Aspek Penyesuaian pribadi dan sosial dapat mencerminkan dinamika
pertumbuhan
Peristiwa yang terjadi pada anak pertumbuhan dan setelah dihadapkan dengan
tantangan kultural masyarakat, pertama harapan orang tua, guru dan teman-
temannya, tercermin didalam penyesuaian sosialnya.
Aspek permasalahan tingkah laku yang berhubungan dengan pola-pola
pertumbuhan
Pertumbuhan biasanya akan menimbulkan situasi tertentu yang menyebabkan
problem tingkah laku. Anak-anak yang pertumbuhannya cepat dan lambat atau
tidak teratur sering menimbulkan problem pengajaran. Anak memiliki energi yang
diperoleh dari makan dan gizi. Biaanya energi anak-anak digunakan untuk
aktivitas-aktivitas dan pertumbuhan anak.
Aspek anak sebagai keseluruhan
Anak sebagai keseluruhan, tumbuh dengan adanya kondisi dan interaksi dari
setiap aspek kepribadian yang ia miliki, intelek anak berhubungan dengan
kesehatan, jasmaninya, sangat dipengaruhi oleh emosinya danm emosi ini
dipengaruhi oleh keberhasilannya baik disekolah,dirumah dan dipergaulannya.
Pertumbuhan anak, psiokis, intelektual, maupun sosial sangat ditentukan oleh latar
belakang pribadinya dan aktifitas sehari-hari
Prinsip Perkembangan Anak
Prinsip-prinsip yang akan dikemukakan adalah prinsip yang mempunyai praktek-
praktek pendidik disekolah dan sering juga dimuat dalam buku-buku mengenai
psikologi pendidikan
Prinsip-prinsip yang memberikan bimbingan pada anak ialah :

Prinsip kesatuan organis
Anak adalah suatu kesatuan organ. Jadi bukan kumpulan unsur-unsur yang berdiri
sendiri. Perkembangan fungsi itu bersangkut paut saling mempengaruhi, dan
merupakan satu kesatuan. Prinsip ini menyarankan agar pelajaran yang diberikan
di sekolah ada hubungannya satu sama lainnya

Prinsip tempo dan irama perkembangan
Prinsip ini beranggapan bahwa tiap-tiap anak memiliki irama perkembangan yang
lambat. Ada anak yang memiliki tempo perkembangan yang lambat, tetapi
adapula yang memiliki perkembangan daya berpikirnya seperti orang dewasa.
Ada juga anak yang lancar perkembangannya. Dimana pada masa suatu saat anak
memiliki sifat-sifat tenang, kemudian disusul adanya sifat pemberontak,
goncangan akhirnya tenang lagi demikian selanjutnya.

Prinsip-prinsip golongan (Spesies) mengikuti pada perkembangan umum yang
sama
Proses pertumbuhan dan perkembangan adalah sesuatu perubahan yang pada garis
besarnya sama semua anak dari segala bangsa
didunia, memang tidak dapat disangkal bahwa lingkungan hidup dan pembawaan
yang berbeda-beda, akan tetapi diantara mereka itu terdapat ciri-ciri prinsip pokok
yang mewujudkan beberapa kesamaan yang besar.
Prinsip Konvergensi
Menurut prinsip ini pembawaan dan lingkungan rkembangan individu. Hanya
dengan adanya kerjasama yang sebaik-bainya antara faktor pembawaan dan
lingkungan akan memungkinkan terjadi perkembangan yang memuaskan.
Perkembangan adalah hasil transaksi antara kedua fakor itu. Faktor alam sekitar
tidak akan memberikan hasil yang memuaskan. Bila pembawaan tidak baik, maka
pembawaan tidak akan berkembang dengan baik bila berkembang dalam
lingkungan yang jelek.
Dalam hukum konvergensi yang menyatakan sebagai berikut :
Jelas perkembanganmanusia sedikit banyak ditentukan oleh bawaan yang turun
menurun oleh aktivitas dan pelatihan atau penentuan manusia sendiri yang
dilakukan dengan bebas dibawah pengaruh faktor-faktor lingkungan yang telah
berkembang menjadi sifat-sifat
Prinsip konvergensi berlaku untuk semua makhluk hidup (Tumbuhan hewan dan
manusia). Namun demikian terdapat perbedaan besar antara perkembangan
tumbuh-tumbuhan dan hewan dengan pertumbuhn manusia.

BAB III
PERAN AGAMA ISLAM DALAM MASA
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

A. Pertumbuhan Agama Bagi Anak
Pada umumnya agama seseorang ditentukan oleh pendidikan,pengalaman dan
latihan-latihan yang dimulai pada masa kecilnya dulu yang didapatkan dari
keluarga, pendidikan sekolah dan lingkungan sekitarnya. Apabila seorang pada
masa kecilnya tidak pernah mendapatkan pendidikan agama, maka kelak
dewasanya nanti ia tidak akan merasakan pentingnya agama dalam hidupnya. Lain
halnya dengan anak yang waktu kecilnya mempunyai pendidikan dan pengalaman
agam, mislanya ibu dan bapaknya orang tua beragama, lingkungan sosial dan
kawan-kawannya juga hidup menjalankan agama. Maka orang itu dengan
sendirinya mempunyai kecenderungan kepada hidup dalam aturan-aturan agama,
dan dapat merasakan betapa nikmat hidup dalam beragama. Bagaimana timbulnya
kepercayaan agama pada anak-anak, jika anak-anak dibiarkan saja tanpa didikan
agama, dan hidup dalam lingkungan tidak beragama, maka ia akan menjadi
dewasa tanpa agama.
a. Bagaimana anak mengenal Tuhan ?
Anak-anka mulai mengenal Tuhan, melalui bahasa, dari kata-kata orang tua atau
orang lain yang ada dalam lingkungannya. Pada permulaan diterimanya secara
acuh tak acuh saja. Tetapi setelah ia melihat orang-orang dewasa menunjukkan
rasa kagum dan takut kepada Tuhan lambat laun tanpa disadarinya akan masuklah
pemikiran terhadap Tuhan dalam pembinaan kepribadiannya. Bahwa pemikiran
tentang Tuhan adalah suatu pemikiran tentang kenyataan luar, tetapi untuk
melanjutkan pertumbuhan dan menyesuaikan diri dengan kenyataan itu, ia harus
menderita sedikit pengalaman pahit. Maka ia akan menerima pikiran tentang
Tuhan setelah diingkarinya, dalam waktu mana ia sibuk dalam usaha-usaha untuk
memasukkannya dalam pembinaan pribadinya.
Sesungguhnya pemikiran sianak tentang Allah tidaklah sekedar arti yang
disimpulkan secara sadar dan kata Allah,. Akan tetapi hal tersebut mempunyai
dasar yang jauh kealam yang tidak sadar atau dengan lain perkataan
mendahuluinya. Yang dalam hal ini perlu kita kenal sedikit pertumbuhan pikiran
anak.

b. Pentingnya hubungan anak dengan orang tua
Orang tua adalah pusat kehidupan bagi kehidupan si anak dan sebagai penyebab
perkenalannya dengan alam luar, maka setiap reaksi emosi anak dan pikirannya
dikemudian hari terpengaruh oleh sikapnya terhadap orang tuanya dipermulaan
hidupnya dahulu perasaan si anak terhadap orang tua sangatlah kompleks. Ia
adalah campuran dari bermacam-macam emosi dan dorongan yang selalu
melakukan interaksi, pertentangan yang memuncak pada umur menjelang tiga
tahun, yaitu dimana hubungannya dengan ibunya tidak lagi terbatas pada
kebutuhan akan bantuan fisik, tetapi meningkat kepada hubungan emosi, dimana
ibu menjadi objek yang dicintai dan memerlukan kasih sayangnya, dan takut akan
terjatuh atau kehilangan dari kasih sayangnya.
Pada umur 3 tahun bapak dalam pandangan si anak merupakan suatu pribadi ideal
yang sangat sempurna. Keyakinan anak ketinggian martabat bapaknya seolah-olah
bapaknya adalah Tuhan. Sampai pada sewaktu-waktu ia mendengar nama Allah
disebut orang. Walaupun pendidik pandai memperkenalkan sifat-sifat Tuhan yang
baik untuk menarik perhatian anak namun tidaklah mudah bagi anak untuk
meninggalkan sikap tunduk, kagum dan memandang suci kepada Allah. Dengan
demikian pentingnya orang tua memberikan penghayatan dan pengalaman
agamanya, pertumbuhan dan perkenalan agama pada anak banyak dipengaruhi
oleh kehidupan dalam keluarga.
c. Peran agama sebagai moral bagi anak
Pertumbuhan moral pada anak, menyebabkan agama anak-anak mendapatkan
lapangan baru (moral) maka bertambahlah pula perhatiannya terhadap nasehat-
nasehat agama dan kitab suci. Timbulnya sifat-sifat moral bagi agama tercakup
didalam peningkatan rasa sosialnya, dimana anak memandang bahwa agama lebih
tinggi dari nilai keluarga. Disamping itu dapat dirasakan bahwa anak-anak mulai
mengerti bahwa agama bukanlah kepercayaan pribadi, atau keluarga tetatpi adalah
kepercayaan masyarakat seluruhnya anak mulai mengerti bahwa agama bukanlah
kepercayaan pribadi, atau keluarga tetapi adalah kepercayaan masyarakat
seluruhnya anak mulai mengerti bahwa agama yang dulu hanya merupakan
pengikat antara anak dan Tuhan, sekarang menjadipengikat antar dia dengan
masyarakat melalui Tuhan. Disamping itu juga agam menghubungkan dengan
orang atau golongan tertentu dengan berlainan agama.
Apabila agama pada anak telah mencapai sifay-sifat moral seperti ini maka
kebaikan yang paling tinggi adalah perintah Tuhan. Pemikiran moral dalam diri
anak datangnya terlambat kalau dibandingkan dengan pemikiran alamiah. Hal ini
dipandang dari lapangan agama. Karena manusia itu pada umumnya lebih banyak
disibukkan oleh pemikiran tentang alam luar sebelum anak tersebut
memperhatikan alam yang ada didalam dirinya.

B. Perkembangan Agama Pada Anak
Perkembangan agama pada anak biasanya selalu selaras dengan tingkat usianya,
artinya setiap tingkat usia memiliki ciri-ciri tertentu yang dapat dijadikan dasar
perkembangan agama pada anak.
Perkembangan agama pada anak sangat ditentukan oleh pendidikan dan
pengalaman yang telah dilaluinya. Apabila seorang anak tidak pernah
mendapatkan pendidikan dan tidak memiliki pengalaman tentang agama maka
pada waktu dewasanya anak tersebut cenderung kearah yang sifatnya negatif
terhadap agama. Masuknya agama dalam pribadi anak itu seharusnya bersamaan
dengan pertumbuhan pribadi anak tersebut bahkan kalau bisa sejak dalam
kandungan.
Pada umumnya seorang anak mulai mengenal adanya Tuhan melalui orang tua
dan lingkungannya dimana kata-kata dan tingkah laku orang tua sangat besar
pengaruhnya terhadap perkembangan agama pada anak tersebut. Walaupun sianak
tidak dapat berbicara ia hanya bisa melihat dan mendengarkan kata-kata yang
belum mempunyai arti baginya namun pada saat ini memperhatikan
perkembangan agama pada anak, biasanya seorang anak akan menerima apa saja
yang dikatakan oleh orang tuanya, meskipun ia masih belum mampu memikirkan
kata-kata tersebut, karena bagi anak menganggaporang tua benar, pandai, dan
menentukan dengan demikian pertumbuhan dan perkembangan agama pada
masing-masing anak tidaklah sama, tergantung kepada orang tua mendidik anak-
anak tersebut. Seorang anak biasanya cenderung untuk meniru segala tingkah laku
orang tuanya yang selalu menyayangi dan melindunginya, yang akhirnya sifat
meniru ini juga sampai ke agama tetapi sebaliknya tingkah laku yang kurang baik
dan kekerasan yang ada pada orang tua akan menimbulkan kecemasan dalam diri
anak, dan hal ini akan menghambat atau menimbulkan kesukaran bagi
perkembangan agama pada anak.
Selain dari orang tuanya anak mendapat pendidikan agama juga disekolah dari
guru agama, hendaknya guru agama mendekatkan ajaran agama. Dalam
kehidupan anak tersebut sehari-hari, dengan menonjolkan sifat pengasih dan
penyayang dan setiap anak dapat merasakan bahwa ia termasuk orang yang
disayangi oleh Tuhan. Anak seharusnya didekatkan kepada Tuhan dan jangan
sampai didalam jiwa anak tertanam rasa taku, yang akhirnya pada masa remajanya
terbalik menjadi perasaan tidak takut dan ingin melepaskan diri dari yang
menakutkan dengan jalan menghindari agama.

C. Pembiasaan Pendidikan Agama Pada Anak
Sebagai orang tua atau seorang guru maka ia harus menyadari bahwa dalam
pembinaan pribadi anak sangat diperlukan pembiasaan-pembiasaan dan latihan
yang sesuai dengan kemampuan, kepribadian dan perkembangan jiwa anak
tersebut, karena adanya latihan dan pembiasaan anak akan terbiasa sehingga akan
terbentuk seikap tertentu pada anak yang makin lama sikap ini makin kuat dan tak
tergiyahkan karena telah menjadi bagian dari dalam diri pribadi anak tersebut.
Untuk membina anak agar memiliki sifat terpuji, tidak cukup hanya dengan
penjelasan dan pengertian saja sulitnya bagi orang tua atau pendidik untuk
menananmkan nilai-nilai terkandung dalam agama maka dengan melakukan
pembiasaan dan latihan-latihan dan menolong para orang tua untuk menanamkan
nilai-nilai agama pada anak karena dengan latihan dan pembiasaan anak
cenderung untuk menerima segala apa yang baik dan meninggalkan segala yang
buruk. Demikian pula dengan pendidikan agama, dari sejak kecil hendaknya
semakin banyak latihan dan pembiasaan yang bersifat agama diberikan kepada
anak. Dalam melaksanakan pendidikan agama disekolah guru agama haruslah
melaksanakan pendidikan agama sesuai dengan umur anak masing-masing, karena
kesanggupan untuk mendengarkan penjelasan guru dan orang tua maupun orang
dewasa bagi anak terbatas, bahwa apa yang diberikan oleh orang dewasa tidak
cocok untuk diberikan kepada anak. Agar agama mempunyai arti bagi anak maka
hendaklah disajikan dengan cara yang sesuai atau lebih dekat dengan kehidupan
anak itu sehari-hari.
Pengalaman dan pendidikan agama yang anak dapat dari orang tuanya dirumah
kemudian disempurnakan atau diperbaiki oleh guru agama disekolah, karena
dirumahlah untuk pertama kali terbentuk unsur penting sikap atau tingkah laku
anak terhadap agama.
Pembiasaan pendidikan agama terhadap anak harus dilakukan terus menerus
sampai anak menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah SWT dan berbakti
kepada kedua orang tua, selain itu diajarkan menghafal do’a-do’a membaca Al-
Qur’an, shalat berjamaah atau dimesjid mestinya dibiasakan sejak anak masih
kecil, sehingga lama-kelamaan akan tumbuh rasa senang melakukan ibadah
tersebut, walau bagaimanapun pendidikan agama itu akan lebih mudah diterima
dan difahami anak melalui latihan-latihan dan pembiasaan yang disesuaikan
dengan kecerdasan masing-masing anak
D. Pembinaan Pribadi Anak
Perkembangan agama pada anak, terjadi melalui pengalaman hidupnya sejak
kecil, dalam keluarga, disekolah dan dalam masyarakat. Semakin banyak
pengalaman yang bersifat agama dan semakin banyak unsur agama maka sikap,
tindakan, kelakuan, dan caranya menghadapi akan sesuai dengan ajaran agama,
diantara masalah yang perlu diketahui oleh para guru agama adalah pembinaan
pribadi anak.
Setiap orang tua dan guru ingin membawa anaknya agar menjadi orang yang baik,
mempunyai kepribadian yang kuat dan sikap mental yang sehat dan akhlak yang
terpuji semua dapat disahakan melalui pendidikan baik yang formal (disekolah)
maupun informal (dirumah oleh orang tua) setiap pengalaman yang dilalui anak,
baik melalui penglihatanm, pendengaran maupun perlakuan yang diterimanya
akan ikut menentukan pembinaan pribadi anak.
Orang tua adalah pembinaan pribadi yang pertama dalam kehidupan anak. Sikap
anak terhadap orang tua, agama dan pendidikan agama sangatlah dipengaruhi oleh
sikap orang tuanya dimana fungsi orang tua terhadap anaknya dapat digambarkan
berdasarkan firman Allah SWT Surat At-Tahrim ayat 6 yang berbunyi :
$pkššr’¯»tš tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#þqè% ö/ä3|¡àÿRr& ö/ä3šÎ=÷dr&ur
#Y
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka” (Q.S.At-Tahrim : 6)

Dari kutipan dalil diatas fungsi orang tua terhadap anaknya adalahsebagai
pendidik uatama dalam pembinaan pribadi anak, pembinaan ini melalui latihan-
latihan, perbuatan misalnya kebiasaan makan, minum, buang air mandi dan
sebagainya.
Hubungan orang tua dengan anak dilaksanakan dengan penuh pengertian dan
kasih sayang dapat mempengaruhi pertumbuhan jiwa anak, yang akan membawa
kepada pembinaan pribadi anak yang tenang, terbuka dan muda di didik karena ia
mendapat kesempatan yang capak dan baik untuk tumbuh dan berkembang.
Masa pendidikan disekolah dasar, merupakan kesempatan pertama yang sangat
baik untuk membina pribadi anak setelah orang tua. Disekolah dasar memiliki
persyaratan kepribadia dan kemampuan untuk membina pribadi anak, maka anak
yang tadinya sudah mulai tumbuh kearah yang kurang baik dapat segera
diperbaiki. Dan anak yang darisemula telah menpunyai dasar yang baik dari
rumah dapat dilanjutkan pembinaannya dengan cara yang lebih sempurna lagi
dirumah. Bahwa tugas pembinaan pribadi anak disekolah dasar, bukan tugas guru
agama saja tetapi tugas guru pada umumnya disamping tugas orang tua. Namun
guru agama dalam hal ini sangat menentukan, dan juga dapat memperbaiki
kesalahan orang tua, kemudian bersama guru-guru lain membantu pembinaan
pribadi anak.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sebagai penutup akhir bab ini maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
Pertumbuhan merupakan suatu perubahankuantitatif pada material sebagai akibat
dari adanya pengaruh lingkungan, dimana perubahan ini hanya pembesaran dan
pertuimbuhan jadi yang tidak ada menjadi ada dan sebagainya.
Perkembangan merupakan suatu perubahan yang bersifat kualitatif, yang meliputi
perkembangan kepribadian manusia, misalnya pikiran, perhatian dan perasaan.
Guru agama adalah pembina pribadi sikap dan pandangan hidupanak karena itu
setiap guru agama harus berusaha membekali diri dengan segala pengetahuan, dan
juga harus betul-betul memahami pertumbuhan dan perkembangan anak, agar
dapat mendidik yang sesuai dengan kemampuan anak.
Agama merupakan sesuatu yang sangat penting didalam diri seseorang selama
hidupnya, karena agama merupakan sumber moral yang tidak akan habis-
habisnya.
Pendidikan agama Islam bertujuan terhadap semua aspek kehidupan, namun pada
pokoknya adalah untuk membentuk manusia muslim yang beriman teguh, beramal
shaleh berkepribadian yang baik, bertingkah laku yang mulia, serta pandai
bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT untuk mencapai
kebahagiaan dunia dan akhirat.

B. Saran-saran
Didalam memberikan latihan-latihan dan pembiasaan agama pada anak maka
orang tua atau seorang pendidik hendaklah terlebih dahulu menciptakan suasan
yang disenangi anak sehingga dengan demikian akan memudahkan pertumbuhan
dan perkembangan agama pada anak.
Pendidikan agama sangatlah penting didalam hidup manusia, oleh sebab itu
sebagai seorang pendidik atau guru agama, haruslah membekali dirinya dengan
ilmu pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang berhubungan erat dengan
bidangnya.
Orang tua maupun orang dewasa hendaklah mampu memberikan contoh dan
tauadan yang baik bagi anak didalam beribadah
Orang tua harus membekali anak-anaknya dengan ilmu agama dan ilmu
pengetahuan lainnya, untuk hidupnya dimasa yang akan datang, serta
membimbing mereka kearah pengembangan potensi dirinya.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Mudzakir, Drs. Dkk. Psikologi Pendidikan. CV Pustaka Setia. Bandung

Abdul Wahid, Drs. Mustaqim, Drs. Psikologi Pendidikan. Reneka Cipta. Jakarta.
1991

Lubis Salam, Drs. Menuju Keluarga Sakinah. Peneribit. Terbit Terang. Surabaya
Kartini Kartana, Dra. Peranan Keluarga Memandu Anak. Opcit
M. Ngalim Purwanto, Drs. Psiokologi Pendidikan. 1986

Noehi Nasution, Drs, MA, dkk. Psikologi Pendidikan, Universtas Terbuka.
Jakarta

Paimun, Drs, dkk. Psikologi Perkembangan 1-6 .Direktorat Jenderal Pembinaan
Kelembagaan Agama Islam

Siti Partini Suwardiman, SU. Psikologi Perkembangan. IKIP Yogyakarta

Zakiyah Z, Dra dan Lilik Sryanti, Dra. Dikatat Ilmu Jiwa Pendidikan
atat Ilmu Jiwa Pendidikan

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:465
posted:9/20/2010
language:Indonesian
pages:15