Docstoc

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

Document Sample
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Powered By Docstoc
					                                         BAB 1
                                    PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
       Hipertensi dikenal secara luas sebagai penyakit kardiovaskular. Diperkirakan telah
menyebabkan 4.5% dari beban penyakit secara global, dan prevalensinya hampir sama
besar di negara berkembang maupun di negara maju.1 Hipertensi merupakan salah satu
faktor risiko utama gangguan jantung. Selain mengakibatkan gagal jantung, hipertensi
dapat berakibat terjadinya gagal ginjal maupun penyakit serebrovaskular.
       Pada kebanyakan kasus, hipertensi terdeteksi saat pemeriksaan fisik karena alasan
penyakit tertentu, sehingga sering disebut sebagai “silent killer”. Tanpa disadari penderita
mengalami komplikasi pada organ-organ vital seperti jantung, otak ataupun ginjal.
       Di Amerika, menurut National Health and Nutrition Examination Survey (NHNES
III); paling sedikit 30% pasien hipertensi tidak menyadari kondisi mereka, dan hanya 31%
pasien yang diobati mencapai target tekanan darah yang diinginkan dibawah 140/90
mmHg. Di Indonesia, dengan tingkat kesadaran akan kesehatan yang lebih rendah, jumlah
pasien yang tidak menyadari bahwa dirinya menderita hipertensi dan yang tidak mematuhi
minum obat kemungkinan lebih besar.
       Obat-obatan yang banyak dikonsumsi masyarakat merupakan obat-obatan kimia
yang secara berkala harus selalu dikonsumsi sehingga menimbulkan ketergantungan pada
obat tersebut. Oleh sebab itu, perlu diadakan terapi yang memberikan solusi tepat tanpa
membebani masyarakat untuk senantiasa bergantung pada obat. Terapi tersebut adalah
terapi herbal yang menyeluruh. Dalam hal ini, untuk penyakit hipertensi dibutuhkan herba
Rosella (Hibiscus sabdarifa Linn.) sebagai salah satu tanaman obat yang dapat digunakan
untuk mengatasi penyakit hipertensi.


1.2 Rumusan Masalah
       Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan
sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya di atas 90 mmHg. Penderita
hipertensi pada umunya berusia 20 tahun ke atas. Faktor-faktor yang memengaruhi
hipertensi yaitu jenis kelamin, usia, obesitas, merokok, stress, dan riwayat keluarga.
Faktor-faktor   tersebut   memberikan    kecenderungan     bahwa     semua    orang   dapat
dimungkinkan menderita penyakit hipertensi. Pengobatan medis yang dilakukan oleh para
penderita menganjurkan mereka untuk mengkonsumsi obat-obatan yang berbahan dasar

                                             1
kimia dari para ahli medis secara rutin. Hal tersebut mengakibatkan para penderita
terkadang merasa jenuh karena harus mengkonsumsi obat-obatan tersebut. Dengan
demikian saya membuat produk berbahan dasar bunga Rosella sebagai asupan yang
diharapkan mampu menarik minat penderita hipertensi untuk mengkonsumsinya. Hal ini
dimaksudkan untuk meminimalisasi efek samping dari penggunaan obat-obatan yang
berbahan dasar kimia


1.3 Tujuan
      Adapun yang menjadi tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk
memberikan gambaran terkait penyakit hipertensi dan memberikan solusi dengan terapi
herbal yaitu menggunakan Teh Rosella.




                                        2
                                          BAB 2
                                  TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Pengenalan Penyakit
          Tekanan Darah Tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah di
dalam arteri. (Hiper artinya Berlebihan, Tensi artinya Tekanan/Tegangan; Jadi, Hipertensi
adalah Gangguan sistem peredaran darah yang menyebabkan kenaikan tekanan darah
diatas nilai normal.)
          Hipertensi didefinisikan oleh Joint National Committee on Detection, Evaluation
and Treatment of High Blood Pressure (JIVC) sebagai tekanan yang lebih tinggi dari 140 /
90 mmHg.
          Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi
diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada
saat jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah ditulis sebagai tekanan sistolik garis
miring tekanan diastolik, misalnya 120/80 mmHg, dibaca seratus dua puluh per delapan
puluh.
          Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan
tekanan darah; tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik
terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau
bahkan menurun drastis.
          Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak-
anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada dewasa.
Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat
melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam satu hari
juga berbeda; paling tinggi di waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur malam
hari.
Klasifikasi Tekanan Darah Pada Dewasa

            Kategori              Tekanan Darah Sistolik       Tekanan Darah Diastolik
             Normal                 Dibawah 130 mmHg               Dibawah 85 mmHg

          Normal tinggi               130-139 mmHg                    85-89 mmHg

            Stadium 1
                                      140-159 mmHg                    90-99 mmHg
        (Hipertensi ringan)

                                             3
           Stadium 2
                                        160-179 mmHg                 100-109 mmHg
      (Hipertensi sedang)

           Stadium 3
                                        180-209 mmHg                 110-119 mmHg
       (Hipertensi berat)

           Stadium 4
                                     210 mmHg atau lebih           120 mmHg atau lebih
      (Hipertensi maligna)


         Hipertensi maligna adalah hipertensi yang sangat parah, yang bila tidak diobati,
akan menimbulkan kematian dalam waktu 3-6 bulan. Hipertensi ini jarang terjadi, hanya 1
dari setiap 200 penderita hipertensi.
         Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi melalui beberapa cara:
     Meningkatnya tekanan darah di dalam arteri bisa terjadi sehingga mengalirkan lebih
      banyak cairan pada setiap detiknya.
     Arteri besar kehilangan kelenturannya dan menjadi kaku, sehingga mereka tidak dapat
      mengembang pada saat jantung memompa darah melalui arteri tersebut. Karena itu
      darah pada setiap denyut jantung dipaksa untuk melalui pembuluh yang sempit
      daripada biasanya dan menyebabkan naiknya tekanan. Inilah yang terjadi pada usia
      lanjut, dimana dinding arterinya telah menebal dan kaku karena arteriosklerosis.
      Dengan cara yang sama, tekanan darah juga meningkat pada saat terjadi vasokonstriksi,
      yaitu jika arteri kecil (arteriola) untuk sementara waktu mengkerut karena
      perangsangan saraf atau hormon di dalam darah.
     Bertambahnya cairan dalam sirkulasi bisa menyebabkan meningkatnya tekanan darah.
      Hal ini terjadi jika terdapat kelainan fungsi ginjal sehingga tidak mampu membuang
      sejumlah garam dan air dari dalam tubuh. Volume darah dalam tubuh meningkat,
      sehingga tekanan darah juga meningkat. Sebaliknya, jika aktivitas memompa jantung
      berkurang, arteri mengalami pelebaran, dan banyak cairan keluar dari sirkulasi maka
      tekanan darah akan menurun.


2.2 Etiologi Penyakit
    2.2.1 Hipertensi Esensial (Hipertensi Primer)
         Hipertensi Primer adalah hipertensi yang penyebabnya tidak diketahui secara pasti
namun biasanya sebagai akibat dari sensitivitas garam, homeostasis renin, resistansi


                                               4
insulin, tidur apneu, genetik (keturunan), umur, dan obesitas. Terjadi pada sekitar 90%
penderita hipertensi.
 2.2.2 Hipertensi Sekunder
        Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi, penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada
sekitar 1-2%, penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu.
1. Penyakit Ginjal dengan kriteria stenosis arteri renalis, pielonefritis glomerulonefritis,
    tumor-tumor ginjal, penyakit ginjal polikista (biasanya diturunkan), dan trauma pada
    ginjal (luka yang mengenai ginjal) atau akibat terapi penyinaran yang mengenai ginjal.
2. Kelainan Hormonal seperti Hiperaldosteronisme, Sindroma Cushing (sekresi kortisol
    yang berlebihan), dan Feokromositoma. Tumor pada kelenjar adrenal yang
    menghasilkan hormon epinefrin (adrenalin) atau norepinefrin (noradrenalin).
3. Obat-obatan, biasanya jenis obat-obatan yang dikoonsumsi seperti pil KB,
    kortikosteroid, siklosporin, eritropoietin, kokain, penyalahgunaan alkohol, dan
    konsumsi kayu manis (dalam jumlah sangat besar).
        Penyebab lainnya bisa diakibatkan oleh koartasio aorta, preeklamsi pada
kehamilan, porfiria intermiten akut, keracunan timbal akut.


2.3 Patofisiologi
        Banyak faktor yang mengontrol tekanan darah berkontribusi secara potensial dalam
terbentuknya hipertensi.
2.3.1 Faktor Penyebab Hipertensi
        Faktor-faktor yang berkontribusi pada terbentuknya hipertensi adalah sebagai
berikut:
   1.   Meningkatnya Aktivitas sistem saraf simpatik (tonus simpatis dan/atau variasi
        diurnal), mungkin berhubungan dengan meningkatnya respons terhadap stress
        psikososial dll
   2.   Produksi berlebihan hormon yang menahan natrium dan vasokonstriktor
   3.   Asupan natrium (garam) berlebihan
   4.   Tidak cukupnya asupan kalium dan kalsium
   5.   Meningkatnya sekresi renin sehingga mengakibatkan meningkatnya produksi
        angiotensin II dan aldosteron
   6.   Defisiensi vasodilator seperti prostasiklin, nitrik oxida (NO), dan peptide natriuretik



                                               5
7.   Perubahan dalam ekspresi sistem kallikrein-kinin yang mempengaruhi tonus
     vaskular dan penanganan garam oleh ginjal
8.   Abnormalitas tahanan pembuluh darah, termasuk gangguan pada pembuluh darah
     kecil di ginjal
9.   Diabetes mellitus
10. Resistensi insulin
11. Obesitas
12. Meningkatnya aktivitas vascular growth factors
13. Perubahan reseptor adrenergik yang mempengaruhi denyut jantung, karakteristik
     inotropik dari jantung, dan tonus vaskular
14. Berubahnya transpor ion dalam sel




            Gambar 2.1 Mekanisme patofisiologi dari hipertensi (Goodman, 1998)


     Penyebab Hipertensi
     Penggunaan obat-obatan seperti golongan kortikosteroid (cortison) dan beberapa
obat hormon, termasuk beberapa obat antiradang (anti-inflammasi) secara terus
menerus (sering) dapat meningkatkan tekanan darah seseorang. Merokok juga
merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya peningkatan tekanan darah tinggi
dikarenakan tembakau yang berisi nikotin. Minuman yang mengandung alkohol juga
termasuk salah satu faktor yang dapat menimbulkan terjadinya tekanan darah tinggi.
Stop menjadi alcoholic!




                                          6
 2.3.2 Gejala
       Pada sebagian besar penderita, hipertensi tidak menimbulkan gejala, meskipun
secara tidak sengaja beberapa gejala terjadi bersamaan dan dipercaya berhubungan dengan
tekanan darah tinggi (padahal sesungguhnya tidak). Gejala yang dimaksud adalah sakit
kepala, perdarahan dari hidung, pusing, wajah kemerahan dan kelelahan; yang bisa saja
terjadi baik pada penderita hipertensi, maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang
normal.
       Jika hipertensinya berat atau menahun dan tidak diobati, bisa timbul gejala berikut;
sakit kepala, kelelahan, mual, muntah, sesak nafas, gelisah, pandangan menjadi kabur
(yang terjadi karena adanya kerusakan pada otak, mata, jantung dan ginjal). Kadang
penderita hipertensi berat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma karena terjadi
pembengkakan otak. Keadaan ini disebut ensefalopati hipertensif, yang memerlukan
penanganan segera.
       Krisis hipertensi merupakan suatu keadaan klinis yang ditandai oleh tekanan darah
yang sangat tinggi yang kemungkinan dapat menimbulkan atau telah terjadinya kelainan
organ target. Biasanya ditandai oleh tekanan darah >180/120 mmHg.
       Pada hipertensi emergensi tekanan darah meningkat ekstrim disertai dengan
kerusakan organ target akut yang bersifat progresif, sehingga tekanan darah harus
diturunkan segera (dalam hitungan menit – jam) untuk mencegah kerusakan organ target
lebih lanjut. Contoh gangguan organ target akut: encephalopathy, pendarahan intrakranial,
gagal ventrikel kiri akut disertai edema paru, dissecting aortic aneurysm, angina pectoris
tidak stabil, dan eklampsia atau hipertensi berat selama kehamilan.
       Hipertensi urgensi adalah tingginya tekanan darah tanpa disertai kerusakan organ
target yang progresif. Tekanan darah diturunkan dengan obat antihipertensi oral ke nilai
tekanan darah pada tingkat 1 dalam waktu beberapa jam s/d beberapa hari.
2.4 Komplikasi
       Tekanan darah tinggi dalam jangka waktu lama akan merusak endothel arteri dan
mempercepat atherosklerosis. Komplikasi dari hipertensi termasuk rusaknya organ tubuh
seperti jantung, mata, ginjal, otak, dan pembuluh darah besar. Hipertensi adalah faktor
resiko utama untuk penyakit serebrovaskular (stroke, transient ischemic attack), penyakit
arteri koroner (infark miokard, angina), gagal ginjal, dementia, dan atrial fibrilasi. Bila
penderita hipertensi memiliki faktor-faktor resiko kardiovaskular lain (tabel 3), maka akan


                                             7
meningkatkan mortalitas dan morbiditas akibat gangguan kardiovaskularnya tersebut.
Menurut Studi Framingham, pasien dengan hipertensi mempunyai peningkatan resiko yang
bermakna untuk penyakit koroner, stroke, penyakit arteri perifer, dan gagal jantung.




                                         Ginjal
                                                 Insufisiensi ginjal


                                                                             OTAK
 Jantung :
                                                                             Stroke
 Hipertrofi ventrikel kiri            HIPERTE                                TIA
 Gagal jantung kronik
 Infark miokard
                                         NSI
                                                                            MATA
 Penyakit jantung kongestif
                                                                              Retinopati
 Aritmia
                                 Pembuluh Darah :
                                      Arteriosklerosis
                              Penyakit pembuluh darah perifer
                                 Penyakit jantung koroner




                                             8
    Paradigma Perjalanan Penyakit Kardiovaskular
                                             Disritmia

                 Infark miokard akut                                      Disfungsi diastolik
PVD                                        mati mendadak
            plak tidak stabil
                                            Disfungsi sistolik
                                            ventrikel kiri                      Hipertrofi
                                                                                ventrikel kiri
        Penyakit jantung koroner
                                            remodelling
                                STROKE                                          Disfungsi endotel
    aterosklerosis
                                          Gagal jantung      Hipertensi
                                          kongestif                                Tekanan
     Disfungsi endotel                                                              glomerulus
                                                                 Gagal ginjal
                                         Gagal jantung            tahap akhir    Disfungsi mesangial
                                         tahap akhir                             sitokin
      Faktor risiko
                                   KEMATIAN                                     Proteinuria
                                                                                sklerosis & fibrosis




2.4.1 Diagnosis
       Tekanan darah diukur setelah seseorang duduk atau berbaring selama 5 menit.
Angka 140/90 mmHg atau lebih dapat diartikan sebagai hipertensi, tetapi diagnosis tidak
dapat ditegakkan hanya berdasarkan satu kali pengukuran.
       Jika pada pengukuran pertama memberikan hasil yang tinggi, maka tekanan darah
diukur kembali dan kemudian diukur sebanyak 2 kali pada 2 hari berikutnya untuk
meyakinkan adanya hipertensi. Hasil pengukuran bukan hanya menentukan adanya
tekanan darah tinggi, tetepi juga digunakan untuk menggolongkan beratnya hipertensi.
       Setelah diagnosis ditegakkan, dilakukan pemeriksaan terhadap organ utama,
terutama pembuluh darah, jantung, otak dan ginjal.
1. Retina
       Retina merupakan satu-satunya bagian tubuh yang secara langsung bisa
menunjukkan adanya efek dari hipertensi terhadap arteriola (pembuluh darah kecil).



                                                 9
Dengan anggapan bahwa perubahan yang terjadi di dalam retina mirip dengan perubahan
yang terjadi di dalam pembuluh darah lainnya di dalam tubuh, seperti ginjal. Untuk
memeriksa retina, digunakan suatu oftalmoskop. Dengan menentukan derajat kerusakan
retina (retinopati), maka bisa ditentukan beratnya hipertensi.
2. Jantung
       Perubahan di dalam jantung, terutama pembesaran jantung, bisa ditemukan pada
elektrokardiografi (EKG) dan foto rontgen dada. Pada stadium awal, perubahan tersebut
bisa ditemukan melalui pemeriksaan ekokardiografi (pemeriksaan dengan gelombang
ultrasonik untuk menggambarkan keadaan jantung).
       Bunyi jantung yang abnormal (disebut bunyi jantung keempat), bisa didengar
melalui stetoskop dan merupakan perubahan jantung paling awal yang terjadi akibat
tekanan darah tinggi.
3. Ginjal
       Petunjuk awal adanya kerusakan ginjal bisa diketahui terutama melalui
pemeriksaan air kemih. Adanya sel darah dan albumin (sejenis protein) dalam air kemih
bisa merupakan petunjuk terjadinya kerusakan ginjal.
       Pemeriksaan pada penderita usia muda bisa berupa rontgen dan radioisotop ginjal,
rontgen dada serta pemeriksaan darah dan air kemih untuk hormon tertentu. Untuk
menemukan adanya kelainan ginjal, ditanyakan mengenai riwayat kelainan ginjal
sebelumnya.
       Sebuah stetoskop ditempelkan diatas perut untuk mendengarkan adanya bruit
(suara yang terjadi karena darah mengalir melalui arteri yang menuju ke ginjal, yang
mengalami penyempitan). Dilakukan analisa air kemih dan rontgen atau USG ginjal.
2.4.2 Pemeriksaan Lain
       Jika penyebabnya adalah feokromositoma, maka di dalam air kemih bisa ditemukan
adanya bahan-bahan hasil penguraian hormon epinefrin dan norepinefrin. Biasanya
hormon tersebut juga menyebabkan gejala sakit kepala, kecemasan, palpitasi (jantung
berdebar-debar), keringat yang berlebihan, tremor (gemetar) dan pucat. Mengukur kadar
kalium dalam darah bisa membantu menemukan adanya hiperaldosteronisme dan
mengukur tekanan darah pada kedua lengan dan tungkai bisa membantu menemukan
adanya koartasio aorta.




                                             10
                                           BAB 3
                                   PEMBAHASAN
Penanganan dan Pengobatan Hipertensi
       a. Diet Penyakit Darah Tinggi (Hipertensi)
      Kandungan garam (Sodium/Natrium)
              Seseorang yang mengidap penyakit darah tinggi sebaiknya mengontrol diri
       dalam mengkonsumsi asin-asinan garam, ada beberapa tips yang bisa dilakukan
       untuk pengontrolan diet sodium/natrium ini ;
       - Jangan meletakkan garam diatas meja makan
       - Pilih jumlah kandungan sodium rendah saat membeli makan
       - Batasi konsumsi daging dan keju
       - Hindari cemilan yang asin-asin
       - Kurangi pemakaian saos yang umumnya memiliki kandungan sodium
      Kandungan Potasium/Kalium
              Suplements potasium 2-4 gram perhari dapat membantu penurunan tekanan
       darah, Potasium umumnya bayak didapati pada beberapa buah-buahan dan sayuran.
       Buah dan sayuran yang mengandung potasium dan baik untuk di konsumsi
       penderita tekanan darah tinggi antara lain semangka, alpukat, melon, buah pare,
       labu siam, bligo, labu parang/labu, mentimun, lidah buaya, seledri, bawang dan
       bawang putih. Selain itu, makanan yang mengandung unsur omega-3 sagat dikenal
       efektif dalam membantu penurunan tekanan darah (hipertensi).
              Pengobatan hipertensi biasanya dikombinasikan dengan beberapa obat;
       - Diuretic {Tablet Hydrochlorothiazide (HCT), Lasix (Furosemide)}. Merupakan
       golongan obat hipertensi dengan proses pengeluaran cairan tubuh via urine. Tetapi
       karena potasium berkemungkinan terbuang dalam cairan urine, maka pengontrolan
       konsumsi                 potasium                harus                dilakukan.
       - Beta-blockers {Atenolol (Tenorim), Capoten (Captopril)}. Merupakan obat yang
       dipakai dalam upaya pengontrolan tekanan darah melalui proses memperlambat
       kerja jantung dan memperlebar (vasodilatasi) pembuluh darah.
       - Calcium channel blockers {Norvasc (amlopidine), Angiotensinconverting enzyme
       (ACE)}. Merupakan salah satu obat yang biasa dipakai dalam pengontrolan darah




                                            11
       tinggi atau Hipertensi melalui proses rileksasi pembuluh darah yang juga
       memperlebar pembuluh darah.


3.1 Terapi Nonfarmakologi
       Menerapkan gaya hidup sehat bagi setiap orang untuk mencegah tekanan darah
tinggi dan merupakan bagian yang penting dalam penanganan hipertensi. Semua pasien
dengan prehipertensi dan hipertensi harus melakukan perubahan gaya hidup.
       Disamping menurunkan tekanan darah pada pasien-pasien dengan hipertensi,
modifikasi gaya hidup juga dapat mengurangi berlanjutnya tekanan darah ke hipertensi
pada pasien-pasien dengan tekanan darah prehipertensi. Modifikasi gaya hidup yang
penting yang terlihat menurunkan tekanan darah adalah mengurangi berat badan untuk
individu yang obes atau gemuk, mengadopsi pola makan DASH (Dietary Approach to Stop
Hypertension) yang kaya akan kalium dan kalsium (diet rendah natrium, aktivitas fisik, dan
tidak mengkonsumsi alkohol.
       Pada sejumlah pasien dengan pengontrolan tekanan darah cukup baik dengan terapi
satu obat antihipertensi; mengurangi garam dan berat badan dapat membebaskan pasien
dari menggunakan obat. Program diet yang mudah diterima adalah yang didisain untuk
menurunkan berat badan secara perlahan-lahan pada pasien yang gemuk dan obesitas
disertai pembatasan pemasukan natrium dan alkohol. Untuk ini diperlukan pendidikan ke
pasien, dan dorongan moril.
       Aktivitas fisik juga dapat menurunkan tekanan darah. Olah raga aerobik secara
teratur paling tidak 30 menit/hari beberapa hari per minggu ideal untuk kebanyakan pasien.
Studi menunjukkan kalau olah raga aerobik, seperti jogging, berenang, jalan kaki, dan
menggunakan sepeda, dapat menurunkan tekanan darah. Keuntungan ini dapat terjadi
walaupun tanpa disertai penurunan berat badan. Pasien harus konsultasi dengan dokter
untuk mengetahui jenis olah-raga mana yang terbaik terutama untuk pasien dengan
kerusakan organ target.
       Merokok     merupakan    faktor   resiko    utama   independen    untuk   penyakit
kardiovaskular. Pasien hipertensi yang merokok harus dikonseling berhubungan dengan
resiko lain yang dapat diakibatkan oleh merokok.




                                           12
                                                                            Kira-kira penurunan
       Modifikasi                          Rekomendasi
                                                                            tekanan darah, range

                            Pelihara berat badan normal                       5-20 mmHg/10-kg
Penurunan berat badan
(BB)                        (BMI 18.5 – 24.9)                                   penurunan BB

                            Diet kaya dengan buah, sayur, dan produk            8-14 mm Hg1
Adopsi pola makan
DASH                        susu rendah lemak

Diet rendah sodium          Mengurangi diet sodium, tidak lebih dari             2-8 mm Hg
                            100meq/L (2,4 g sodium atau 6 g sodium
                            klorida)

                            Regular aktifitas fisik aerobik seperti jalan       4-9 mm Hg18
Aktifitas fisik
                            kaki 30 menit/hari, beberapa hari/minggu

                            Limit minum alkohol tidak lebih dari 2/hari
Minum alkohol sedikit       (30 ml etanol [mis.720 ml beer], 300ml               2-4 mm Hg
saja
                            wine) untuk laki-laki dan 1/hari untuk
                            perempuan
     Singkatan: BMI, body mass index, BB, berat badan, DASH, Dietary Approach to Stop
     Hypertension
     * Berhenti merokok, untuk mengurangi resiko kardiovaskular secara keseluruhan


                     Tabel Modifikasi Gaya Hidup untuk Mengontrol Hipertensi*



     Terapi farmakologi
             Kebanyakan pasien dengan hipertensi memerlukan dua atau lebih obat
     antihipertensi untuk mencapai target tekanan darah yang diinginkan. Penambahan
     obat kedua dari kelas yang berbeda dimulai apabila pemakaian obat tunggal dengan dosis
     lazim gagal mencapai target tekanan darah. Apabila tekanan darah melebihi 20/10 mm Hg
     diatas target, dapat dipertimbangkan untuk memulai terapi dengan dua obat. Yang harus




                                                   13
diperhatikan adalah resiko untuk hipotensi ortostatik, terutama pada pasien-pasien dengan
diabetes, disfungsi autonomik, dan lansia.


Diuretik
        Diuretik thiazide biasanya merupakan obat pertama yang diberikan untuk
mengobati hipertensi. Diuretik membantu ginjal membuang garam dan air, yang akan
mengurangi volume cairan di seluruh tubuh sehingga menurunkan tekanan darah. Diuretik
juga menyebabkan pelebaran pembuluh darah.
        Diuretik menyebabkan hilangnya kalium melalui air kemih, sehingga kadang
diberikan tambahan kalium atau obat penahan kalium.
Diuretik sangat efektif pada:
- orang kulit hitam
- lanjut usia
- kegemukan
- penderita gagal jantung atau penyakit ginjal menahun


Penghambat adrenergik
        Penghambat adrenergik merupakan sekelompok obat yang terdiri dari alfa-blocker,
beta-blocker dan alfa-beta-blocker labetalol, yang menghambat efek sistem saraf simpatis.
        Sistem saraf simpatis adalah sistem saraf yang dengan segera akan memberikan
respon terhadap stres, dengan cara meningkatkan tekanan darah.
        Yang paling sering digunakan adalah beta-blocker, yang efektif diberikan kepada:
- penderita usia muda
           - penderita yang pernah mengalami serangan jantung
           - penderita dengan denyut jantung yang cepat
           - angina pektoris (nyeri dada)
           - sakit kepala migren.


Angiotensin converting enzyme inhibitor
        Angiotensin converting enzyme inhibitor (ACE-inhibitor) menyebabkan penurunan
tekanan darah dengan cara melebarkan arteri.
Obat ini efektif diberikan kepada:


                                             14
     - orang kulit putih
     - usia muda
     - penderita gagal jantung
     - penderita dengan protein dalam air kemihnya yang disebabkan oleh penyakit ginjal
     menahun atau penyakit ginjal diabetik
     - pria yang menderita impotensi sebagai efek samping dari obat yang lain.


Angiotensin-II-bloker menyebabkan penurunan tekanan darah dengan suatu mekanisme
yang mirip dengan ACE-inhibitor.


Antagonis kalsium
       Antagonis kalsium menyebabkan melebarnya pembuluh darah dengan mekanisme
yang benar-benar berbeda.
Sangat efektif diberikan kepada:
 - orang kulit hitam
 - lanjut usia
 - penderita angina pektoris (nyeri dada)
 - denyut jantung yang cepat
 - sakit kepala migren.


Vasodilator
       Vasodilator langsung menyebabkan melebarnya pembuluh darah. Obat dari
golongan ini hampir selalu digunakan sebagai tambahan terhadap obat anti-hipertensi
lainnya.
       Kedaruratan hipertensi (misalnya hipertensi maligna) memerlukan obat yang
menurunkan tekanan darah tinggi dengan segera.


Beberapa obat bisa menurunkan tekanan darah dengan cepat dan sebagian besar diberikan
secara intravena (melalui pembuluh darah):
       - diazoxide                                     - nitroglycerin
       - nitroprusside                                 - labetalol.




                                             15
       Nifedipine merupakan kalsium antagonis dengan kerja yang sangat cepat dan bisa
diberikan per-oral (ditelan), tetapi obat ini bisa menyebabkan hipotensi, sehingga
pemberiannya harus diawasi secara ketat.

                            Monitoring kerusakan target organ
                                Parameter pasien yang di               Monitoring
           Kelas Obat
                                           monitor                     Tambahan
ACE Inhibitor                  Hipotensi pada pemberian        Fungsi ginjal (BUN, serum
                               dosis pertama, pusing,          kreatinin), serum elektrolit
                               batuk, tekanan darah,           (kalium)
                               adherence (kepatuhan)
ARB                            Hipotensi pada pemberian        Fungsi ginjal (BUN, serum
                               dosis pertama, pusing,          kreatinin), serum elektrolit
                               tekanan darah, adherence        (kalium)
Alpha-blocker                  Hipotensi ortostatik
(Penyekat alfa)                (terutama
                                                                             -
                               dengan dosis pertama),
                               Pusing, tekanan darah,
                               adherence
Beta-blocker                   Denyut nadi, tekanan darah,     Gejala gagal jantung,
(Penyekat beta)                toleransi thd olah raga,        gula darah
                               pusing, disfungsi seksual,
                               gejala gagal jantung,
                               adherence
Antagonis                      Denyut nadi (verapamil,         Gejala gagal jantung
kalsium                        diltiazem), edema perifer,
                               sakit kepala (terutama
                               dengan
                               dihidropiridin), gejala gagal
                               jantung, tekanan darah,
                               adherence
Obat yang bekerja sentral      Sedasi, mulut kering, denyut    Enzim liver (metildopa)
(metildopa, klonidin)          nadi, gejala retensi cairan,
                               tekanan darah, adherence
Diuretik                                                 Fungsi ginjal (BUN, serum
                               Pusing, status cairan, urine
                                                         kreatinin), serum elektrolit
                               output, berat badan, tekanan
                               darah, adherence          (kalium, magnesium,
                                                         natrium), kadar gula, asam
                                                         urat (utk tiazid)
ACE: angiotensin converting enzyme; ARB:angiotensin receptor blocker;
BUN:blood urea nitrogen




                                             16
Monitoring interaksi obat dan efek samping obat
       Untuk melihat toksisitas dari terapi, efek samping dan interaksi obat harus di nilai
secara teratur. Efek samping bisanya muncul 2 sampai 4 minggu setelah memulai obat baru
atau setelah menaikkan dosis (tabel 7). Kejadian efek samping mungkin memerlukan
penurunan dosis atau substitusi dengan obat antihipertensi yang lain. Monitoring yang
intensif diperlukan bila terlihat ada interaksi obat.


                 Efek samping dan kontraindikasi obat-obat antihipertensi
         Kelas Obat                     Kontraindikasi                Efek samping
ACE inhibitors                   Kehamilan, bilateral artery   Batuk, angioedema,
                                 stenosis, hiperkalemia        hiperkalemia, hilang rasa,
                                                               rash,
                                                               disfungsi renal
ARB                              Kehamilan, bilateral artery Angioedema (jarang),
                                 stenosis, hiperkalemia        hiperkalemia,       dusfungsi
                                                               renal
Penyekat alfa                    Hipotensi ortostatik, gagal   Sakit kepala, pusing, letih,
                                 jantung, diabetes             hipotensi postural, hipotensi
                                                               dosis pertama, hidung
                                                               tersumbat, disfungsi ereksi
Penyekat beta                    Asma, heart block, sindroma Bronkospasm, gagal
                                 Raynaud’s yg parah            jantung,
                                                               gangguan sirkulasi perifer,
                                                               insomnia, letih, bradikardi,
                                                               trigliserida meningkat,
                                                               impoten, hiperglikemi,
                                                               exercise
                                                               intolerance
Antagonis kalsium                Heart     block,    disfungsi Sakit kepala, flushing,
                                 sistolik    gagal     jantung edema
                                 (verapamil, diltiazem)        perifer, gingival
                                                               hyperplasia,
                                                               constipasi (verapamil),
                                                               disfungsi ereksi
Agonis sentral                   Depresi, penyakit liver       Rebound hipertensi bila
(metildopa,                      (metildopa), diabetes         dihentikan, sedasi, mulut
klonidine)                                                     kering, bradikardi, disfungsi


                                               17
                                                               ereksi, retensi natrium dan
                                                               cairan, hepatitis (jarang)
Diuretik                     Pirai                             Hipokalemia, hiperurisemia,
                                                               glucose intolerance (kecuali
                                                               indapamide), hiperkalsemia
                                                               (tiazid), hiperlipidemia,
                                                               hiponatremia, impoten
                                                               (tiazid)




                Interaksi antara obat antihipertensive dengan obat lain
       Kelas Obat     Berinteraksi dengan           Mekanisme                  Efek
Diuretik
 Tiazide              Digoksin                  Hipokalemia            Digoksin menjadi
                                                                       lebih toksik
 Loop                 Obat-obat yang            Hipokalemia            Lemah otot, aritmia
                      menurunkan kadar                                 jantung
                      kalium
 Potasium-            ACEI, ARB,                Hiperkalemia           Hiperkalemia yg
 Sparing              siklosporin, garam                               serius dapat
                      kalium                                           menyebabkan
                                                                       cardiac arrest
 Tiazid               Carbamazepin,             Hiponatremia           Mual, muntah,
                      chlorpropamid                                    letargi, bingung, dan
                                                                       kejang
Penyekat              Diltiazem, verapamil      Efek negatif           Bradikardia, depresi
                                                inotropik              miokardial
beta
                      Antidiabetik oral         yang aditif            Gejala hipoglisemia
                                                Blokade reseptor       tertutupi
                      Dobutamin                 beta-2                 Efek inotropik dr
                                                Antagonis reseptor     dobutamin dihambat
                      Adrenalin                 β-1                    Hipertensi dan
                                                α-vasokonstriksi       bradikardi
                                                oleh
                                                adrenalin
Verapamil,            Penyekat beta             Efek negatif           Bradikardia, depresi
                                                inotropik              miokardial
diltiazem
                      Digoksin                  yang aditif            Akumulasi digoksin,
                                                Menghambat             efek aritmogenik
                                                ekskresi renal
                                                digoksin


                                           18
ACEI/ARB              Diuretik penahan          Ekskresi kalium      Hiperkalemia
                      Kalium                    melalui ginjal
                                                berkurang
                      NSAID                     Retensi Na dan H2O   Efek antihipertensi
                                                                     berkurang
Klonidin              Penyekat beta             Tidak diketahui      Fenomena rebound
                                                                     bila klonidin
                                                                     dihentikan
                      Antidepresan trisiklik    Antagonisme          Efek antihipertensi
                                                adrenoreseptor α-2   berkurang dan
                                                sentral              fenomena
                                                                     rebound bila
                                                                     klonidin
                                                                     dihentikan




PENATALAKSANAAN DIET
   Tujuan Akhir
     Menurunkan resiko
     Meminimalkan kebutuhan akan obat untuk mengontrol tekanan darah
     Mencapai dan menjaga status gizi baik


   Tujuan Diet
     Menurunkan tekanan darah (diastole) ≤ 90 mmHg
     Menghilangkan retensi garam atau air dalam jaringan tubuh
     Mencapai dan menjaga BB dengan IMT 18.5 – 25


   Syarat Diet
    Menerapkan Diet Garam Rendah, yaitu sebagai berikut:
     Cukup energi, protein, mineral dan vitamin
     Komsumsi karbohidrat kompleks
     Bentuk makanan sesuai dengan keadaan penyakit
     Jumlah konsumsi natrium disesuaikan dengan berat tidaknya hipetensi
     Hindari bahan makanan yang tinggi natrium



                                           19
     Konsumsi bahan makanan yang mengandung tinggi kalium, tinggi serat


   Jenis Diet
     Diet Garam Rendah I (200-400 mg Na)
       Diberikan pada pasien dengan edema, asites, dan atau hipertensi berat. Tidak
    ditambahkan garam dapur dalam pengolahan makanannya. Hindari juga bahan
    makanan yang tinggi kadar natriumnya.
     Diet Garam Rendah II (600-800 mg Na)
       Diberikan pada pasien dengan edema, asites, dan atau hipertensi tidak terlalu berat.
    Boleh menggunakan ½ sdt (2 gr) garam dapur dalam pengolahan makanannya. Hindari
    juga bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya.
     Diet Garam Rendah III (1000-1200 mg Na)
       Diberikan pada pasien dengan edema, asites, dan atau hipertensi ringan. Boleh
    menggunakan 1 sdt (4 gr) garam dapur dalam pengolahan makanannya.
   Bahan Makanan yang dianjurkan dan Tidak Dianjurkan
    Dianjurkan: bahan makanan yang tidak menggunakan garam dapur, soda, atau baking
    powder dalam pengolahannya. Bahan makanan segar tanpa diawetkan, daging dan ikan
    maksimal 100 gr sehari, dan untuk telur 1 butir sehari.
    Dihindari: bahan makanan yang diolah dengan garam dapur, soda, baking powder,
    asinan, dan bahan makanan yang diawetkan dengan natrium benzoat, soft drinks,
    margarin dan mentega biasa, bumbu yang mengandung garam dapur (kecap, terasi,
    tomato ketchup, tauco, dan lain sebagainya)


   Contoh Menu




                                             20
    Pagi
 Nasi
 Telor Mata Sapi
 Tumis Garlic Caisim
 Soup Tahu Seledri


    Pukul 10.00
Bubur Kacang Hijau




    Siang
 Nasi
 Tim kembung jahe
 Sayur bayam jagung manis
 Tempe Orek
 Pisang


    Snack 16.00
    Jus jeruk




                                       BAB V
                                 PENCEGAHAN

    Setelah umur 30 tahun, periksa tekanan darah setiap tahun.
    Jangan merokok / minum alkohol
    Kurangi berat badan bila berlebihan




                                           21
    Lakukan latihan aerobik
    Pelajari cara-cara mengendalikan stres.




                                              BAB 4
                                  KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
      Dari studi pustaka di atas, dapat disimpulkan bahwa penyakit hipertensi banyak diderita
oleh masyarakat yang memiliki latar belakang faktor keturunan, mereka yang memiliki
kebiasaan merokok dan minum alkohol akan mudah terkena hipertensi.




                                            22
    HIPERTENSI PADA IBU HAMIL



Penelitian berbagai faktor risiko terhadap hipertensi pada kehamilan / pre-eklampsia /
eklampsia :


Usia
Insidens tinggi pada primigravida muda, meningkat pada primigravida tua. Pada wanita hamil
berusia kurang dari 25 tahun insidens > 3 kali lipat
Pada wanita hamil berusia lebih dari 35 tahun, dapat terjadi hipertensi laten


Paritas
- angka kejadian tinggi pada primigravida, muda maupun tua
- primigravida tua risiko lebih tinggi untuk pre-eklampsia berat


Ras / golongan etnik
- bias (mungkin ada perbedaan perlakuan / akses terhadap berbagai etnikdi banyak negara)


Faktor keturunan
Jika ada riwayat pre-eklampsia/eklampsia pada ibu/nenek penderita, faktor risiko meningkat
sampai + 25%


Faktor gen
Diduga adanya suatu sifat resesif (recessive trait), yang ditentukan genotip ibu dan janin


Diet / gizi
Tidak ada hubungan bermakna antara menu / pola diet tertentu (WHO). Penelitian lain :
kekurangan kalsium berhubungan dengan angka kejadian yang tinggi. Angka kejadian juga lebih
tinggi pada ibu hamil yang obese / overweight


                                                23
Iklim / musim
Di daerah tropis insidens lebih tinggi


Tingkah laku / sosioekonomi
Kebiasaan merokok : insidens pada ibu perokok lebih rendah, namun merokok selama hamil
memiliki risiko kematian janin dan pertumbuhan janin terhambat yang jauh lebih tinggi.
Aktifitas fisik selama hamil : istirahat baring yang cukup selama hamil mengurangi
kemungkinan / insidens hipertensi dalam kehamilan.


Hiperplasentosis
Proteinuria dan hipertensi gravidarum lebih tinggi pada kehamilan kembar, dizigotik lebih tinggi
daripada monozigotik.
Hidrops fetalis : berhubungan, mencapai sekitar 50% kasus
Diabetes mellitus : angka kejadian yang ada kemungkinan patofisiologinya bukan pre-eklampsia
murni, melainkan disertai kelainan ginjal / vaskular primer akibat diabetesnya.
Mola hidatidosa : diduga degenerasi trofoblas berlebihan berperan menyebabkan pre-eklampsia.
Pada kasus mola, hipertensi dan proteinuria terjadi lebih dini / pada usia kehamilan muda, dan
ternyata hasil pemeriksaan patologi ginjal juga sesuai dengan pada pre-eklampsia.




                                               24
GEJALA DAN TANDA
�� Tekanan darah diastolik merupakan indikator dalam penanganan hipertensi dalam kehamilan,
   oleh karena tekanan diastolik mengukur tahanan perifer dan tidak tergantung pada keadaan
   emosional pasien
�� Diagnosis hipertensi dibuat jika tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg pada 2 pengukuran
   berjarak 1 jam atau lebih
��Hipertensi dalam kehamilan dapat dibagi dalam:
      - Hipertensi karena kehamilan, jika hipertensi terjadi pertama kali sesudah kehamilan 20
      minggu, selama persalinan dan/atau dalam 48 jam post partum
      - Hipertensi kronik, jika hipertensi terjadi sebelum kehamilan 20 minggu




                                             25
HIPERTENSI KARENA KEHAMILAN
�� Lebih sering terjadi pada primigravida. Keadaan patologis telah terjadi sejak implantasi,
   sehingga timbul iskemia plasenta yang kemudian diikuti dengan sindroma inflamasi.
��Risiko meningkat pada:
   - Masa plasenta besar (gemelli, penyakit trofoblast)
   - Hidramnion
   - Diabetes melitus
   - Isoimunisasi rhesus
   - Faktor herediter
   - Autoimun: SLE
��Hipertensi karena kehamilan:
   - Hipertensi tanpa proteinuria atau edema
   - Preeklampsia ringan
   - Preeklampsia berat
   - Eklampsia
�� Hipertensi dalam kehamilan dan preeklampsia ringan sering ditemukan tanpa gejala, kecuali
   peningkatan tekanan darah. Prognosis menjadi lebih buruk dengan terdapatnya proteinuria.
   Edema tidak lagi menjadi suatu tanda yang sahih untuk preeklampsia.
��Preeklampsia berat didiagnosis pada kasus dengan salah satu gejala berikut:
   - Tekanan darah diastolik > 110 mmHg
   - Proteinuria ≥ 2+
   - Oliguria < 400 ml per 24 jam
   - Edema paru: nafas pendek, sianosis dan adanya ronkhi
   - Nyeri daerah epigastrium atau kuadran atas kanan perut
   - Gangguan penglihatan: skotoma atau penglihatan yang berkabut
   - Nyeri kepala hebat yang tidak berkurang dengan pemberian analgetika biasa
   - Hiperrefleksia
   - Mata: spasme arteriolar, edema, ablasio retina
   - Koagulasi: koagulasi intravaskuler disseminata, sindrom HELLP
   - Pertumbuhan janin terhambat
   - Otak: edema serebri

                                               26
   - Jantung: gagal jantung
��Eklampsia ditandai oleh gejala preeklampsia berat dan kejang
   - Kejang dapat terjadi dengan tidak tergantung pada beratnya hipertensi
   - Kejang bersifat tonik-klonik, menyerupai kejang pada epilepsy grand mal
   - Koma terjadi setelah kejang dan dapat berlangsung lama (beberapa jam)
HIPERTENSI KRONIK
��Hipertensi kronik dideteksi sebelum usia kehamilan 20 minggu
��Superimposed preeclampsia adalah hipertensi kronik dan preeklampsia
DIAGNOSIS BANDING
Hipertensi kronik
   �� Jika tekanan darah sebelum kehamilan 20 minggu tidak diketahui, akan sulit untuk
       membedakan antara preeklampsia dan hipertensi kronik, dalam hal demikian, tangani
       sebagai hipertensi karena kehamilan.
Proteinuria
   �� Sekret vagina atau cairan amnion dapat mengkontaminasi urin, sehingga terdapat
       proteinuria
   ��Kateterisasi tidak dianjurkan karena dapat mengakibatkan infeksi
   �� Infeksi kandung kemih, anemia berat, payah jantung dan partus lama juga dapat
       menyebabkan proteinuria
   ��Darah dalam urin, kontaminasi darah vagina dapat menghasilkan proteinuria positif palsu
Kejang dan koma
   �� Eklampsia harus didiagnosa banding dengan epilepsi, malaria serebral, trauma kepala,
       penyakit serebrovaskuler, intoksikasi (alkohol, obat, racun), kelainan metabolisme
       (asidosis), meningitis, ensefalitis, ensefalopati, intoksikasi air, histeria dan lain-lain
KOMPLIKASI
��Iskemia uteroplasenter
   - Pertumbuhan janin terhambat
   - Kematian janin
   - Persalinan prematur
   - Solusio plasenta
��Spasme arteriolar

                                                  27
   - Perdarahan serebral
   - Gagal jantung, ginjal dan hati
   - Ablasio retina
   - Thromboemboli
   - Gangguan pembekuan darah
   - Buta kortikal
��Kejang dan koma
     - Trauma karena kejang
     - Aspirasi cairan, darah, muntahan dengan akibat gangguan pernafasan
��Penanganan tidak tepat
   - Edema paru
   - Infeksi saluran kemih
   - Kelebihan cairan
   - Komplikasi anestesi atau tindakan obstetrik
PENCEGAHAN
   �� Pembatasan kalori, cairan dan diet rendah garam tidak dapat mencegah hipertensi karena
      kehamilan, bahkan dapat membahayakan janin
   �� Manfaat aspirin, kalsium dan lain-lain dalam mencegah hipertensi karena kehamilan
      belum sepenuhnya terbukti
   �� Yang lebih perlu adalah deteksi dini dan penanganan cepat-tepat. Kasus harus ditindak
      lanjuti secara berkala dan diberi penerangan yang jelas bilamana harus kembali ke
      pelayanan kesehatan. Dalam rencana pendidikan, keluarga (suami, orang tua, mertua dll.)
      harus dilibatkan sejak awal
   ��Pemasukan cairan terlalu banyak mengakibatkan edema paru




                                              28
PENGELOLAAN
HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN TANPA PROTEINURIA
Jika kehamilan < 35 minggu, lakukan pengelolaan rawat jalan:
   �� Lakukan pemantauan tekanan darah, proteinuria dan kondisi janin setiap minggu
   ��Jika tekanan darah meningkat, kelola sebagai preeklampsia
   �� Jika kondisi janin memburuk atau terjadi pertumbuhan janin yang terhambat, rawat dan
       pertimbangkan terminasi kehamilan
PREEKLAMPSIA RINGAN
Jika kehamilan < 35 minggu dan tidak terdapat tanda perbaikan, lakukan penilaian 2 kali
seminggu secara rawat jalan:
   �� Lakukan pemantauan tekanan darah, proteinuria, refleks dan kondisi janin
   �� Lebih banyak istirahat
   ��Diet biasa


                                             29
   ��Tidak perlu pemberian obat
   ��Jika tidak memungkinkan rawat jalan, rawat di rumah sakit:
       - Diet biasa
       - Lakukan pemantauan tekanan darah 2 kali sehari, proteinuria 1 kali sehari
       - Tidak memerlukan pengobatan
       - Tidak memerlukan diuretik, kecuali jika terdapat edema paru, dekompensasi jantung
          atau gagal ginjal akut
       - Jika tekanan diastolik turun sampai normal, pasien dapat dipulangkan:
              �� Nasehatkan untuk istirahat dan perhatikan tanda preeklampsia berat
              �� Periksa ulang 2 kali seminggu
              �� Jika tekanan diastolik naik lagi ��rawat kembali
       - Jika tidak terdapat tanda perbaikan �� tetap dirawat
       - Jika terdapat tanda pertumbuhan janin terhambat, pertimbangkan terminasi kehamilan
       - Jika proteinuria meningkat, kelola sebagai preeklampsia berat
Jika kehamilan > 35 minggu, pertimbangkan terminasi kehamilan
   �� Jika serviks matang, lakukan induksi dengan Oksitosin 5 IU dalam 500 ml Ringer
       Laktat/Dekstrose 5% IV 10 tetes/menit atau dengan prostaglandin
   �� Jika serviks belum matang, berikan prostaglandin, misoprostol atau kateter Foley, atau
       lakukan terminasi dengan bedah Caesar
PREEKLAMPSIA BERAT DAN EKLAMPSIA
Penanganan preeklampsia berat dan eklampsia sama, kecuali bahwa persalinan harus
berlangsung dalam 6 jam setelah timbulnya kejang pada eklampsia.
Pengelolaan kejang:
��Beri obat anti kejang (anti konvulsan)
�� Perlengkapan untuk penanganan kejang (jalan nafas, penghisap lendir, masker oksigen,
   oksigen)
�� Lindungi pasien dari kemungkinan trauma
��Aspirasi mulut dan tenggorokan
��Baringkan pasien pada sisi kiri, posisi Trendelenburg untuk mengurangi risiko aspirasi
��Berikan O2 4-6 liter/menit
Pengelolaan umum

                                               30
   ��Jika tekanan diastolik > 110 mmHg, berikan antihipertensi sampai tekanan diastolik antara
   90-100 mmHg
   ��Pasang infus Ringer Laktat dengan jarum besar no.16 atau lebih
   ��Ukur keseimbangan cairan, jangan sampai terjadi overload
   ��Kateterisasi urin untuk pengukuran volume dan pemeriksaan proteinuria
   ��Infus cairan dipertahankan 1.5 - 2 liter/24 jam
   �� Jangan tinggalkan pasien sendirian. Kejang disertai aspirasi dapat mengakibatkan
   kematian ibu dan janin
   ��Observasi tanda vital, refleks dan denyut jantung janin setiap 1 jam
   �� Auskultasi paru untuk mencari tanda edema paru. Adanya krepitasi merupakan tanda
   adanya edema paru. Jika ada edema paru, hentikan pemberian cairan dan berikan diuretik
   (mis. Furosemide 40 mg IV)
   �� Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan. Jika pembekuan tidak terjadi setelah 7
   menit, kemungkinan terdapat koagulopati


HIPERTENSI KRONIK
   �� Jika pasien sebelum hamil sudah mendapatkan pengobatan dengan obat anti hipertensi dan
   terpantau dengan baik, lanjutkan pengobatan tersebut
   �� Jika tekanan darah diastolik > 110 mmHg atau tekanan sistolik ≥ 160 mmHg, berikan anti
   hipertensi
   ��Jika terdapat proteinuria, pikirkan superimposed preeclampsia
��Istirahat
��Lakukan pemantauan pertumbuhan dan kondisi janin
��Jika tidak terdapat komplikasi, tunggu persalinan sampai aterm
��Jika terdapat preeklampsia, pertumbuhan janin terhambat atau gawat janin, lakukan:
   - Jika serviks matang, lakukan induksi dengan Oksitosin 2-5 IU dalam 500 ml Dekstrose
       melalui infus 10 tetes/menit atau dengan prostaglandin.
   - Jika serviks belum matang, berikan prostaglandin, misoprostol atau kateter Foley
��Observasi komplikasi seperti solusio plasenta atau superimposed preeklampsia.




                                              31

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:42265
posted:9/17/2010
language:Indonesian
pages:31