Docstoc

pengelolaan lab

Document Sample
pengelolaan lab Powered By Docstoc
					                                           BAB II

                                             ISI


1.1 Mengklasifikasikan bahan dan peralatan praktikum

Macam peralatan laboratorium meliputi :

   1. Alat ukur, seperti thermometer, barometer, respirometer, gelas ukur, stopwatch,
      mikrometer sekrup, dsb.




   2. Model, seperti model pencernaan, model pernapasan, model kerangka, model indera dan
      organ lainnya.




   3. Bagan, seperti bagan klasifikasi makhluk hidup, bagan metamorfosis pada katak, bagan
      sistem pengeluaran manusia, dsb.
   4. Alat siap pakai (rakitan), seperti kit listrik, kit magnet, kit optik, dsb.




Perlengkapan pendukung (perkakas) yang diperlukan selama bekerja di laboratorium IPA,
seperti :

   1.   Alat pemadam kebakaran, dapat diganti dengan pasir basah dan karung goni basah.
   2.   Kotak Pertolongan Pertama lengkap dengan isinya (obat, kasa, plester, obat luka)
   3.   Alat kebersihan seperti sapu, pengki/serokan sampah, lap pel, sikat tabung reaksi.
   4.   Alat bantu lainnya seperti obeng, palu

        B. Macam-Macam Bahan Laboratorium IPA

Bahan yang digunakan dalam kegiatan di laboratorium IPA dapat berupa bahan k imia, bahan
alami (berupa benda dan makhluk hidup). Bahan kimia yang berbahaya dengan ciri mudah
terbakar, mudah meledak, korosif dan beracun. Contoh bahan kimia berbahaya seperti asam
khlorida, asam sulfat dan asam phosphat. Bahan kimia yang kurang berbahaya seperti aquadest,
amilum, yodium dan gula.
Sedangkan bahan di laboratorium IPA merupakan bahan praktikum yang bersifat habis pakai
Bahan kimia di laboratorium IPA berdasarkan sifat zat yang sesuai dengan simbolnya
meliputi kelompok:

   1. Bahan yang mudah terbakar, seperti alkohol (C 2 H5 OH), eter, spiritus dan belerang
      (sulfur).
   2. Bahan yang mudah menguap, seperti eter, alkohol dan spiritus
   3. Bahan yang tidak berbahaya, seperti amilum (tepung/pati), glukosa, sukrosa (gula pasir),
      air dan minyak.
   4. Bahan untuk reaksi kimia, seperti reagen biuret, reagen Fehling A dan Fehling B, larutan
      lugol, larutan iodium dan reagen Bennedict.

Bahan dari makhluk hidup yang digunakan di laboratorium IPA, digunakan untuk :

   1. Bahan yang diuji, seperti bahan makanan, bagian tumbuhan (b unga, daun, buah, batang
      dan akar), bagian hewan (bulu, rambut, tulang, darah dsb), mikroorganisme (bakteri,
      ganggang, jamur, kultur Amoeba proteus dsb)
   2. Bahan yang digunakan untuk menguji, seperti kunyit, bunga sepatu dan kulit anggur
      sebagai bahan indikator asam-basa.
Alat untuk mengekstrak (ekstraktor)

   Pemisahan suatu senyawa dari campurannya atau lebih dikenal dengan istilah pemurnian
   dapat dilakukan dengan berbagai metoda. Metoda yang dapat ditempuh adalah metoda
   ekstraksi, distilasi, atau dengan kromatografi.

   Ektraksi merupakan salah satu langkah untuk mendapatkan senyawa dari sistem campuran.
   Berdasarkan fasanya, ektraksi dikelompokkan menjadi ekstraksi cair-cair dan padat-cair.
   Ektraksi cair-cair dilakukan untuk mendapatkan suatu senyawa dalam campuran berfasa cair
   dengan pelarut lain yang fasanya cair juga. Prinsip dasar pemisahan ini adalah pemisahan
   senyawa yang memiliki perbedaan kelarutan pada dua pelarut yang berbeda. Alat yang
   digunakan adalah corong pisah.

   Ekstraksi padat-cair dilakukan bila ingin memisahkan suatu komponen dalam suatu padatan
   dengan menggunakan suatu pelarut cair. Alat yang digunakan adalah ektraktor soxhlet.
   Misalnya untuk mengekstrak minyak non-atsiri (senyawa yang terdapat pada bahan alam
   yang tidak mudah menguap). Larutan pengekstrak ditempatkan pada labu alas bulat (a).
   sampel yang telah dibungkus dengan kertas saring ditempatkan pada tabung ektraktor (b).
   Bagian ujung atas (c) merupakan pendingin Allihn atau pendingin bola. Ekstraktor soxhlet
   ini merupakan ektraktor kontinyu, pelarut pada labu (a) dipanaskan dan akan menguap,
   terkondensasi pada pendingin (c), selanjutnya pelarut akan masuk pada ektraktor (c). Apabila
   pelarut telah mencapai batas atas kapiler pelarut yang telah kontak dengan sampel akan
   masuk pada labu (a). Begitu seterusnya.

   2. Alat untuk distilasi (distiler)

   Distilasi adalah metode pemisahan berdasarkan perbedaan titik didih komponen-komponen
   yang ada di dalam campuran. Distilasi biasa dilakukan untuk pemisahan campuran yang
   memiliki perbedaan titik didih yang cukup besar. Sedangkan distilasi uap dilakukan untuk
   pemisahan campuran yang memiliki perbedaan tekanan uap jenuh yang cukup antara
   komponen-komponen yang ada pada campuran. Pada distilasi uap, uap yang digunakan
   biasanya berupa uap air. Selain itu distilasi juga dapat dilakukan pada tekanan di bawah
   tekanan atmosfer. Metode ini dikenal sebagai distilasi pengurangan tekanan. Distilasi
   pengurangan tekanan dilakukan apabila komponen akan mengalami dekomposisi pada titik
   didihnya. Bila selisih titik didih komponen-komponen yang ada pada campuran kecil maka
   komponen alat distilasi ditambah dengan kolom vigreux.

   3. Alat untuk reflux
   Reaksi kimia kadang dapat berlangsung sempurna pada suhu di atas suhu kamar atau pada
   titik didih pelarut yang digunakan pada sistem reaksi. Salah satu alat yang dapat digunakan
   untuk reaksi-reaksi yang berlangsung pada suhu tinggi adalah seperangkat alat refluks.
   Beberapa alat refluks ditampilkan pada gambar di samping. Ada beberapa tipe alat refluks.

   Alat refluks paling sederhana [1] dilengkapi dengan labu alas bulat (a) dan pendingin Liebig
   (b), [2] seperangkat alat refluks dilengkapi dengan labu alas bulat (a), pendingin Liebig (b)
   dan corong pisah (c), [3] seperangkat alat refluks dilengkapi dengan labu alas bulat ( a),
   pendingin Liebig (b), corong pisah (c), dan pengaduk atau termometer (d).

   4. Penyaring buchner

   Penyaring Buchner digunakan untuk proses penyaringan yang tidak dapat dilakukan dengan
   penyaring biasa. Penyaringan biasa dilakukan dengan memanfaatkan gaya grafitasi,
   sedangkan pada penyaring buchner, filtrat dipisahkan dari sistem campuran dengan cara
   disedot atau divakum.

   5. Tabung pengembang (chamber)

   Alat gelas ini digunakan pada percobaan kromatografi lapis tipis (KLT). Digunakan untuk
   tempat eluen (larutan pengembang) dan plat KLT yang telah dibubuhi (ditotol) sampel atau
   standar.

Pengenalan alat gelas

 di laboratorium, praktikan harus mengenal dan memahami cara penggunaan semua peralatan
dasar yang biasa digunakan dalam laboratorium kimia serta menerapkan K3 di laboratorium.
Berikut ini diuraikan beberapa peralatan yang akan digunakan pada Praktikum Kimia Dasar.
Gambar. menunjukkan contoh peralatan gelas laboratorium.
alat gelas lab

                     Gambar 1. Peralatan gelas sederhana untuk praktikum kimia

    1. Labu Takar

    Digunakan untuk menakar volume zat kimia dalam bentuk cair pada proses preparasi larutan.
    Alat ini tersedia berbagai macam ukuran.

    2. Gelas Ukur

    Digunakan untuk mengukur volume zat kimia dalam bentuk cair. Alat ini mempunyai skala,
    tersedia bermacam- macam ukuran. Tidak boleh digunakan untuk mengukur larutan/pelarut
    dalam kondisi panas. Perhatikan meniscus pada saat pembacaan skala.

    3. Gelas Beker

    Alat ini bukan alat pengukur (walaupun terdapat skala, namun ralatnya cukup besar).
    Digunakan untuk tempat larutan dan dapat juga untuk memanaskan larutan kimia. Untuk
    menguapkan solven/pelarut atau untuk memekatkan.

    4. Pengaduk Gelas
   Digunakan untuk mengaduk suatu campuran atau larutan kimia pada waktu melakukan reaksi
   kimia. Digunakan juga untuk menolong pada waktu menuangkan/mendekantir cairan dalam
   proses penyaringan.

   5. Botol Pencuci

   Bahan terbuat dari plastic. Merupakan botol tempat akuades, yang digunakan untuk mencuci,
   atau membantu pada saat pengenceran.

   6. Corong

   Biasanya terbuat dari gelas namun ada juga yang terbuat dari plastic. Digunakan untuk
   menolong pada saat memasukkan cairan ke dalam suatu wadah dengan mulut sempit, seperti
   : botol, labu ukur, buret dan sebagainya.

   7. dan 8. Erlenmeyer

   Alat ini bukan alat pengukur, walaupun terdapat skala pada alat gelas tersebut (ralat cukup
   besar). Digunakan untuk tempat zat yang akan dititrasi. Kadang-kadang boleh juga
   digunakan untuk memanaskan larutan.

9. dan 10. Tabung Reaksi

Terbuat dari gelas. Dapat dipanaskan. Digunakan untuk mereaksikan zat zat kimia

dalam jumlah sedikit.

   11. Kuvet

   Bentuk serupa dengan tabung reaksi, namun ukurannya lebih kecil. Digunakan sebagai
   tempat sample untuk analisis dengan spektrofotometer. Kuvet tidak boleh dipanaskan. Bahan
   dapat dari silika (quartz), polistirena atau polimetakrilat.

   12. dan 13. Rak Untuk te mpat Tabung Reaksi

       Rak terbuat dari kayu atau logam. Digunakan sebagai tempat meletakkan tabung reaksi.

14. Kaca Preparat

15. Kawat Kasa

Terbuat dari bahan logam dan digunakan untuk alas saat memanaskan alat gelas
dengan alat pemanas/kompor listrik.

16. dan 22. Penjepit

       Penjepit logam, digunakan untuk menjepit tabung reaksi pada saat pemanasan, atau untuk
       membantu mengambil kertas saring atau benda lain pada kondisi panas.

17. Spatula

       Terbuat dari bahan logam dan digunakan untuk alat Bantu mengambil bahan padat atau
       kristal.

18. Kertas Lakmus

       Merupakan indikator berbentuk kertas lembaran- lembaran kecil, berwarna merah dan
       biru. Indikator yang lain ada yang berbentuk cair missal indikator Phenolphtalein (PP),
       methyl orange (MO) dan sebagainya. Merupakan alat untuk mengukur atau mengetahui
       tingkat keasaman (pH) larutan.

19. Gelas Arloji

Terbuat dari gelas. Digunakan untuk tempat zat yang akan ditimbang.

20. Cawan Porselein

Alat ini digunakan untuk wadah suatu zat yang akan diuapkan dengan pemanasan.

21. Pipet Pasteur (Pipet Tetes)

Digunakan untuk mengambil bahan berbentuk larutan dalam jumlah yang kecil.

23 dan 24. Sikat

Sikat dipergunakan untuk membersihkan (mencuci) tabung.

25. Pipet Ukur

       Adalah alat yang terbuat dari gelas, berbentuk seperti gambar di bawah ini. Pipet ini
       memiliki skala. Digunakan untuk mengambil larutan dengan volume tertentu. Gunakan
       propipet atau pipet pump untuk menyedot larutan, jangan dihisap dengan mulut.

26. Pipet Gondok
       Pipet ini berbentuk seperti dibawah ini. Digunkan untuk mengambil larutan dengan
       volume tepat sesuai dengan label yang tertera pada bagian yang menggelembung
       (gondok) pada bagian tengah pipet. Gunakan propipet atau pipet pump untuk menyedot
       larutan.

27. Buret

       Terbuat dari gelas. Mempunyai skala dank ran. Digunakan untuk melakukan titrasi. Zat
       yang digunakan untuk menitrasi (titran) ditempatkan dalam buret, dan dikeluarkan sedikit
       demi sedikit melalui kran. Volume dari zat yang dipakai dapat dilihat pada skala.

Pengenalan bahan kimia

        Pengetahuan sifat bahan menjadi suatu keharusan sebelum bekerja di laboratorium. Sifat-
sifat bahan secara rinci dan lengkap dapat dibaca pada Material Safety Data Sheet (MSDS) di
dalam buku, CD, atau melalui internet. Pada tabel berikut disajikan sifat bahaya bahan
berdasarkan kode gambar yang ada pada kemasan bahan kimia. Peraturan pada pengepakan dan
pelabelan bahan kimia diwajibkan mencantumkan informasi bahaya berdasarkan tingkat bahaya
bahan kimia khususnya untuk bahan yang tergo long pada hazardous chemicals atau bahan
berbahaya dan beracun (B3).

Bahan berdasarkan fasa :

   1. Padat
   2. Cair
   3. gas

Bahan berdasarkan kualitas

   1. teknis
   2. special grade : pro analyses (pa)
   3. special grade : material referrences

pengenalan Simbol bahaya (Hazard symbol)

   1. Harmful (Berbahaya).

   Bahan kimia iritan menyebabkan luka bakar pada kulit, berlendir, mengganggu sistem
   pernafasan. Semua bahan kimia mempunyai sifat seperti ini (harmful) khususnya bila kontak
   dengan kulit, dihirup atau ditelan.

   1. Toxic (beracun)
   Produk ini dapat menyebabkan kematian atau sakit yang serius bila bahan kimia tersebut
   masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan, menghirup uap, bau atau debu, atau penyerapan
   melalui kulit.

   1. Corrosive (korosif)

   Produk ini dapat merusak jaringan hidup, menyebabkan iritasi pada kulit, gatal-gatal bahkan
   dapat menyebabkan kulit mengelupas. Awas! Jangan sampai terpercik pada Mata.

   1. Flammable (Mudah terbakar)

   Senyawa ini memiliki titik nyala rendah dan bahan yang bereaksi dengan air atau membasahi
   udara (berkabut) untuk menghasilkan gas yang mudah terbakar (seperti misalnya hidrogen)
   dari hidrida metal. Sumber nyala dapat dari api bunsen, permukaan metal panas, loncatan
   bunga api listrik, dan lain- lain.

   1. Explosive (mudah meledak)

   Produk ini dapat meledak dengan adanya panas, percikan bunga api, guncangan atau
   gesekan. Beberapa senyawa membentuk garam yang eksplosif pada kontak (singgungan
   dengan logam/metal)

   1. Oxidator (Pengoksidasi)

   Senyawa ini dapat menyebabkan kebakaran. Senyawa ini menghasilkan panas pada kontak
   dengan bahan organik dan agen pereduksi (reduktor)




1.2 menata bahan dan praktikum

Adapun perlakuan terhadap alat-alat di laboratorium seperti :

   1.   Membawa alat sesuai petunjuk penggunaan
   2.   Menggunakan alat sesuai petunjuk penggunaan.
   3.   Menjaga kebersihan alat
   4.   Menyimpan alat
Prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan alat dan bahan di laboratorium :

   1. Aman
      Alat disimpan supaya aman dari pencuri dan kerusakan, atas dasar alat yang mudah
      dibawa dan mahal harganya seperti stop watch perlu disimpan pada lemari terkunci.
      Aman juga berarti tidak menimbulkan akibat rusaknya alat dan bahan sehingga fungsinya
      berkurang.
   2. Mudah dicari
      Untuk memudahkan mencari letak masing – masing alat dan bahan, perlu diberi tanda
      yaitu dengan menggunakan label pada setiap tempat penyimpanan alat (lemari, rak atau
      laci).
   3. Mudah diambil
      Penyimpanan alat diperlukan ruang penyimpanan dan perlengkapan seperti lemari, rak
      dan laci yang ukurannya disesuaikan dengan luas ruangan yang tersedia.


Penyimpanan alat dan bahan selain berdasar hal – hal di atas, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan yaitu :
   1. Mikroskop disimpan dalam lemari terpisah dengan zat higroskopis dan dipasang lampu
      yang selalu menyala untuk menjaga agar udara tetap kering dan mencegah tumbuhnya
      jamur.
   2. Alat berbentuk set, penyimpanannya harus dalam bentuk set yang tidak terpasang.
   3. Ada alat yang harus disimpan berdiri, misalnya higrometer, neraca lengan dan beaker
      glass.
   4. Alat yang memiliki bobot relatif berat, disimpan pada tempat yang tingginya tidak
      melebihi tinggi bahu.
   5. Penyimpanan zat kimia harus diberi label dengan jelas dan disusun menurut abjad.
   6. Zat kimia beracun harus disimpan dalam lemari terpisah dan terkunci, zat kimia yang
      mudah menguap harus disimpan di ruangan terpisah dengan ventilasi yang baik.

Penyimpanan alat perlu memperhatikan frekuensi pemakaian alat. Apabila alat itu sering dipakai
maka alat tersebut disimpan pada tempat yang mudah diambil. Alat – alat yang boleh diambil
oleh siswa dengan sepengetahuan guru pembimbing, hendaknya diletakkan pada meja
demonstrasi atau di lemari di bawah meja keramik yang menempel di dinding. Contoh alat
yangdapat diletakkan di meja demonstrasi adalah : kaki tiga, asbes dengan kasa dan tabung
reaksi.


Penyimpanan dan pemeliharaan alat / bahan harus memperhitungkan sumber kerusakan alat dan
bahan. Sumber kerusakan alat dan bahan akibat lingkungan meliputi hal – hal berikut :

   1. Udara
      Udara mengandung oksigen dan uap air (memilki kelembaban). Kandungan ini
      memungkinkan alat dari besi menjadi berkarat dan membuat kusam logam lainnya seperti
      tembaga dan kuningan. Usaha untuk menghindarkan barang tersebut terkena udara bebas
      seprti dengan cara mengecat, memoles, memvernis serta melapisi dengan khrom atau
      nikel. Kontak dengan udara bebas dapat menyebabkan bahan kimia bereaksi. Akibat
      reaksi bahan kimia dengan udara bebas seperti timbulnya zat baru, terjadinya endapan,
      gas dan panas. Dampaknya bahan kimia tersebut tidak berfungsi lagi serta dapat
      menimbulkan kecelakaan dan keracunan.
   2. Air dan asam - basa
      Alat laboratorium sebaiknya disimpan dalam keadaan kering dan bersih, jauh dari air,
      asam dan basa. Senyawa air, asam dan basa dapat
      menyebabkan kerusakan alat seperti berkarat, korosif dan berubah fungsinya. Bahan
      kimia yang bereaksi dengan zat kimia lainnya menyebabkan bahan tersebut tidak
      berfungsi lagi dan menimbulkan zat baru, gas, endapan, panas serta kemungkinan
      terjadinya ledakan.
   3. Suhu
      Suhu yang tinggi atau rendah dapat mengakibatkan :alat memuai atau mengkerut,
      memacu terjadinya oksidasi, merusak cat serta mengganggu fungsi alat elektronika.
   4. Mekanis
      Sebaiknya hindarkan alat dan bahan dari benturan, tarikan dan tekanan yang besar.
      Gangguan mekanis dapat menyebabkan terjadinya kerusakan alat / bahan.
   5. Cahaya
      Secara umum alat dan bahan kimia sebaiknya dihindarkan dari sengatan matahari secara
      langsung. Penyimpanan bagi alat dan bahan yang dapat rusak jika terkena cahaya
      matahari langsung, sebaiknya disimpan dalam lemari tertutup. Bahan kimianya sebaiknya
      disimpan dalam botol yang berwarna gelap.
   6. Api
      Komponen yang menjadi penyebab kebakaran ada tiga, disebut sebagai segitiga api.
      Komponen tersebut yaitu adanya bahan bakar, adanya panas yang cukup tinggi, dan
      adanya oksigen. Oleh karenanya penyimpanan alat dan bahan laboratorium harus
      memperhatikan komponen yang dapat menimbulkan kebakaran tersebut.




Cara menyimpan alat laboratorium IPA

Cara menyimpan alat laboratorium IPA dengan memperhatikan bahan pembuat alat tersebut,
bbot alat, keterpakaiannya, serta sesuai pokok bahasannya. Penyimpanan alat menurut aturan
tertentu harus disepakati antara pengelola laboratorium dan diketahui oleh pengguna /praktikan.


Untuk memudahkan dalam penyimpanan dan pengambilan kembali alat di laboratorium, maka
sebaiknya dibuatkan daftar inventaris alat yang lengkap dengan kode dan jumlah masing- masing.
Alat yang rusak atau pecah sebaiknya ditempatkan pada tempat tersendiri, dan dituliskan dalam
buku kasus dan buku inventaris laboratorium IPA.



Cara menyimpan bahan laboratorium IPA

Cara menyimpan bahan laboratorium IPA dengan memperhatikan kaidah penyimpanan, seperti
halnya pada penyimpanan alat laboratorium. Sifat masing- masing bahan harus diketahui sebelum
melakukan penyimpanan, seperti :
   1. Bahan yang dapat bereaksi dengan kaca sebaiknya disimpan dalam botol plastik.
   2. Bahan yang dapat bereaksi dengan plastik sebaiknya disimpan dalam botol kaca.
   3. Bahan yang dapat berubah ketika terkenan matahari langsung, sebaiknya disimpan dalam
      botol gelap dan diletakkan dalam lemari tertutup. Sedangkan bahan yang tidak mudah
      rusak oleh cahaya matahari secara langsung dalam disimpan dalam botol berwarna
      bening.
   4. Bahan berbahaya dan bahan korosif sebaiknya disimpan terpisah dari bahan lainnya.
   5. Penyimpanan bahan sebaiknya dalam botol induk yang berukuran besar dan dapat pula
      menggunakan botol berkran. Pengambilan bahan kimia dari boto l sebaiknya secukupnya
      saja sesuai kebutuhan praktikum pada saat itu. Sisa bahan praktikum disimpam dalam
      botol kecil, jangan dikembalikan pada botol induk. Hal ini untuk menghindari rusaknya
      bahan dalam botol induk karena bahan sisa praktikum mungkin suda h rusak atau tidak
      murni lagi.
   6. Bahan disimpan dalam botol yang diberi simbol karakteristik masing- masing bahan

1.3 Mengidentifikasi kerusakan bahan,peralatan, dan fasilitas laboratorium

1.4 Menjaga kebersihan alat laboratorium
Membe rsihkan Peralatan Laboratorium
Kebersihan peralatan laboratorium, baik yang berupa peralatan gelas atau non gelas seperti
bejana polyethylene, polypropylene dan teflon, merupakan bagian yang sangat mendasar dalam
kegiatan laboratorium dan merupakan elemen penting dalam program jaminan mutu.
Perhatian kepada kebersihan barang-barang tersebut harus ditingkatkan dan harus proporsional
dengan tingkat kepentingan pengujian, akurasi pengukuran yang diperlukan dan menurunnya
konsentrasi analit yang akan ditentukan.
Setiap laboratorium harus menetapkan prosedur yang memadai untuk membersihkan peralatan
gelas dan non gelas yang digunakan dalam berbagai macam pengujian. Apabila metodologi
pengujian tertentu mensyaratkan prosedur membersihkan secara spesifik, maka prosedur tersebut
harus diikuti.
Cara Membersihkan Peralatan Laboratorium Secara Umum
Proses membersihkan harus dilakukan segera setelah peralatan digunakan. Membuang bahan
berbahaya dan pembersihan bahan korosif sebelum peralatan tersebut dibersihkan. Peralatan cuci
manual atau otomatis harus menggunakan deterjen yang sesuai dengan kegunaannya.
Residu organik memerlukan perlakuan dengan larutan pembersih asam kromat. Peralatan harus
dikeringkan dan disimpan dalam kondisi yang tidak memungkinkan terjadinya kontaminasi oleh
debu atau bahan lain.
Cara Membersihkan Timbangan
Kebersihan timbangan harus dicek setiap kali selesai digunakan, bagian dan menimbang harus
dibersihkan dengan menggunakan sikat, kain halus atau kertas (tissue) dan membersihkan
timbangan secara keseluruhan timbangan harus 392 dimatikan, kemudian piringan (pan)
timbangan dapat diangkat dan seluruh timbangan dapat dibersihkan dengan menggunakan
pembersih seperti deterjen yang lunak, campurkan air dan etanol/alkohol. Sesudah dibersihkan
timbangan dihidupkan dan setelah dipanaskan, cek kembali dengan menggunakan anak
timbangan.
Cara Membersihkan dan Merawat Penangas Air (Wate r Bath) Thermostat
Perawatan secara reguler oleh Jasa Layanan pelanggan tidak diperlukan. Pembersihan yang
dibutuhkan pada perawatan (seperti membersihkan sudu-sudu / baling-baling roda yang berputar)
dilakukan oleh Operator laboratorium sesuai dengan petunjuk pabrik.
Media pe manas dan Alat
Media pemanas (misal air) harus dapat diganti dalam kasus bila terlihat adanya kontaminasi (
seperti partikel-partikel, kontaminasi dari reagen). Permukaan alat harus dibersihkan dengan
menggunakan pembersih (sabun/ deterjen yang biasa digunakan).
Kontaminasi lebih kuat ( adanya deposit kapur), dapat dihilangkan dengan pembersih yang
khusus/cocok (misal asam asetat encer).

1.5 Mengamankan bahan dan peralatan laboratorium

Khusus untuk laboran biologi:
4.2.6 Merawat tanaman untuk kegiatan praktikum
4.2 Mengelola bahan dan peralatan laboratorium sekolah/madrasah
4.2.7 Memelihara hewan untuk praktikum

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:7693
posted:9/17/2010
language:Indonesian
pages:15