MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS by vbf10787

VIEWS: 3,646 PAGES: 79

									MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI DAN PEMECAHAN
    MASALAH MATEMATIS SISWA TERHADAP PELAJARAN
   MATEMATIKA POKOK BAHASAN LOGIKA MATEMATIKA
   MELALUI BELAJAR DALAM KELOMPOK KECIL DENGAN
STRATEGI THINK TALK WRITE PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI
           2 KUDUS TAHUN PELAJARAN 2006/2007


                            SKRIPSI
        Diajukan Dalam Rangka Penyelesaian Studi Strata I
            Untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan




                          Disusun Oleh :
                    Nama     : Zakiyatul Fikriyyah
                    Nim      : 4101403512
                    Prodi    : Pendidikan Matematika
                    Jurusan : Matematika




  FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
             UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
                              2007
                                     Skripsi
  MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI DAN PEMECAHAN MASALAH
 MATEMATIS SISWA TERHADAP PELAJARAN MATEMATIKA POKOK BAHASAN
 LOGIKA MELALUI BELAJAR DALAM KELOMPOK KECIL DENGAN STRATEGI
   THINK TALK WRITE PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 2 KUDUS TAHUN
                            PELAJARAN 2006/2007
          Telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Ujian Skripsi
 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang
                                      pada:
                           Hari       : Kamis
                           Tanggal    : 23 Agustus 2007

                                     Panitia Ujian


Ketua,                                          Sekretaris,



Drs. Kasmadi Imam S, M.S                        Drs. Supriyono, M.Si
NIP. 130781011                                  NIP. 130815345
Pembimbing Utama,
                                                Ketua Penguji,

Drs. Suparyan
NIP. 130935364
                                                1. Drs. Darmo
Pembimbing Pendamping                              NIP.130515753

                                                Anggota Penguji,
Drs. Moch Chotim, M. S
NIP.130781008                                   2. Drs. Suparyan, M.Pd
                                                   NIP.130935364


                                                3. Drs. Moch Chotim, M.S
                                                   NIP.130781008




                                        ii
                                 PERNYATAAN



         Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini tidak terdapat karya yang

pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan disuatu Perguruan Tinggi,

dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang

pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis dirujuk

dalam skripsi ini dan disebutkan dalam Daftar Pustaka




                                                          Semarang, Agustus 2007




                                                          Zakiyatul Fikriyyah
                                                          NIM: 4101403512




                                         iii
                                   ABSTRAK

Zakiyatul Fikriyyah, 2007. “Meningkatkan Kemampuan Komunikasi dan
Pemecahan Masalah Matematis Siswa terhadap Pelajaran Matematika
Pokok Bahasan Logika melalui Belajar dalam Kelompok Kecil dengan
Strategi Think Talk Write pada Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Kudus Tahun
Pelajaran 2006/2007”. Skripsi Program Studi Pendidikan Matematika, jurusan
matematika, FMIPA Universitas Negeri Semarang.

Kata Kunci : Think, Talk, Write.

      Kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis merupakan
kompetensi hasil belajar matematika yang dituntut oleh kurikulum 2006. kedua
kemampuan tersebut merupakan bagian dari kemampuan berfikir matematis
tingkat tinggi. Agar kemampuan berfikir matematis tingkat tinggi berkembang,
maka pembelajaran harus menjadi lingkungan dimana siswa dapat terlibat secara
aktif dalam banyak kegiatan matematis yang bermanfaat. Belajar dalam kelompok
kecil dengan strategi think talk write memberikan kesempatan kepada siswa untuk
memulai belajar dengan memahami permasalahan terlebih dahulu, kemudian
terlibat secara aktif dalam diskusi kelompok, dan akhirnya menuliskan dengan
bahasa sendiri hasil belajar yang diperolehnya.

      Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menelaah kemampuan
komunikasi dan pemecahan masalah matematis siswa SMA Negeri 2 Kudus yang
belajar dengan strategi Think Talk Write dalam kelompok kecil, keterkaitan antara
kedua kemampuan tersebut, serta sikap siswa dan pandangan guru terhadap
pembelajaran dengan strategi Think Talk Write dalam kelompok kecil. Alasan
pemilihan belajar dalam kelompok kecil dengan strategi Think Talk Write adalah
untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis
siswa. Hal ini dipilih karena kelas merupakan unit terkecil dalam sistem
pembelajaran, sehingga semua guru perlu mendalami dan berperilaku kritis
terhadap apa yang sebenarnya dilakukan oleh siswa maupun guru.

       Dengan demikian guru dapat mengubah sendiri strategi pembelajaran untuk
meningkatkan komunikasi dan pemecahan masalah matematis siswa dan sekaligus
dapat mengubah proses menjadi lebih efektif. Setelah melakukan aplikasi model,
observasi proses, evaluasi hasil, dan refleksi perilaku pembelajaran sebanyak tiga
siklus, diperoleh data bahwa belajar dalam kelompok kecil dengan strategi Think
Talk Write dapat meningkatkan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah
matematis siswa. Hal ini terlihat adanya peningkatan nilai hasil belajar dan
komunikasi yang cukup berarti baik secara individu maupun kelompok. Untuk
mendapatkan data penelitian digunakan instrumen berupa tes kemampuan
komunikasi dan pemecahan masalah matematis , skala sikap siswa, angket
kemampuan komunikasi siswa, serta format observasi. Subjek penelitian adalah
siswa SMA Negeri 2 Kudus dengan subjek sampel adalah siswa kelas X.3 dari
tujuh kelas keseluruhan kelas X. analisis data dilakukan secara kualitatif. Analisis




                                        iv
kualitatif dilakukan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa yang
berkaitan dengan aktivitas siswa dalam pembelajaran, serta sikap siswa dan peran
guru terhadap pembelajaran yang diberikan.

      Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa kemampuan komunikasi dan
pemecahan masalah matematis yang belajar dalam kelompok kecil dengan strategi
Think Talk Write mengalami peningkatan hasil belajar. Aktivitas siswa dalam
belajar dalam kelompok kecil dengan strategi Think Talk Write adalah baik. Siswa
dan guru menunjukkan sikap positif terhadap pembelajaran ini.




                                       v
                      MOTTO DAN PERSEMBAHAN



                                ⇐ MOTTO ⇒



      Jangan terlalu mencemaskan diri sendiri, cemaskanlah karakter diri

      sendiri, integritas adalah imbalannya. (Penulis)

      Nilai sesungguhnya dari seorang manusia ditentukan oleh tujuan hidup

      yang dikejarnya untuk memperoleh keridloan Allah SWT. (Penulis)

      Kesempatanku untuk sukses disetiap kondisi selalu dapat diukur oleh

      seberapa besar kepercayaanku pada diri sendiri. (Penulis).



                           ⇐ PERSEMBAHAN ⇒


 Ucapan Syukur Alhamdulillah kapada ALLAH SWT, Nabi Muhammad SAW,

Spesial buat orang tuaku Bapak Muhaimin, S.Ag, Ibu Ning Maslichati, Adikku

Saiful Marom, Riza Mustofa yang senantiasa mendoakan aku sehingga aku bisa

menyelesaikan naskah skripsi ini. Spesial juga buat orang terdekatku Awal, Dian,

Suci,Teteh Risma yang telah memberiku semangat, spesial juga buat orang yang

aku cintai, keluarga besar Kos ’BSD’, tak lupa pula seluruh dosen dan karyawan-

            karyawati UNNES yang tak bisa aku sebut satu persatu.




                                       vi
                             KATA PENGANTAR



     Allahu Akbar, puji syukur dihaturkan kehadirat Allah SWT yang tidak

henti-hentinya mencurahkan rahmat, taufik, hidayah dan inayahnya atas

keberhasilan penulis menyelesaikan skripsi ini.

     Selama penyusunan skripsi ini, penulis telah banyak menerima bantuan,

kerjasama dan sumbangan pemikiran dari berbagai pihak, oleh karena itu pada

kesempatan ini dengan kerendahan jiwa dan ketulusan hati selayaknya penulis

sampaikan ucapan terimakasih kepada yang terhormat :

1)   Prof. Dr. H. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si., Rektor Universitas Negeri

     Semarang

2)   Drs. Kasmadi Imam S, M.S, dekan FMIPA Universitas Negeri Semarang

3)   Drs. Supriyono, M.Si, ketua jurusan matematika FMIPA Universitas Negeri

     Semarang

4)   Drs. Suparyan, M.Pd, Dosen Wali dan pembimbing I yang telah

     memberikan bimbingan dan saran untuk penyusunan skripsi ini.

5)   Drs. Moch Chotim, M. S, Dosen pembimbing II yang telah memberikan

     bimbingan dan saran untuk penyusunan skripsi ini.

6)   Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Matematika yang telah memberikan bekal

     kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini.

     Astaghfirullahal’adzim, permohonan ampun atas segala khilaf dan salah

diiringkan atas selesainya penulisan skripsi ini, berbagai langkah perbaikan telah

diupayakan untuk penyempurnaan skripsi ini, namun demikian sekiranya terdapat




                                       vii
hal-hal yang terasa janggal maka segala saran , kritik yang konstruktif dan

pertimbangan akan diterima sebagai bahan berkaca agar niscaya ada upaya

rekayasa kearah kesempurnaannya.

     Penulis berharap semoga skripsi ini menjadi bermakna dan berarti bagi

pembaca yang budiman pada umumnya dan penulis pada khususnya.




                                             Semarang,     Agustus 2007




                                                      Penulis




                                   viii
                                                 DAFTAR ISI



                                                                                                        Halaman
HALAMAN JUDUL ......................................................................................               i
HALAMAN PENGESAHAN........................................................................                        ii
PERNYATAAN..............................................................................................         iii
ABSTRAK ......................................................................................................   iv
MOTO DAN PERSEMBAHAN ...................................................................                         vi
KATA PENGANTAR....................................................................................               vii
DAFTAR ISI...................................................................................................    ix
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................               xi
BAB I PENDAHULUAN

             A.      Latar Belakang Masalah...........................................................            1

             B.      Permasalahan ...........................................................................     6

             C.      Cara Pemecahan Masalah ........................................................              6

             D.      Penegasan Istilah......................................................................      7

             E.      Tujuan dan Manfaat Penelitian ................................................               9

             F.      Sistematika Penulisan Skripsi ..................................................            10

BAB II LANDASAN TEORI

             A.     Landasan Teori..........................................................................     12

             B.     Pokok Bahasan yang Terkait dengan Pelaksanaan Penelitian .                                   21

             C.     Kerangka Berfikir......................................................................      40

             D.     Hipotesis Tindakan ...................................................................       41

BAB III METODE PENELITIAN

             A.     Lokasi Penelitian ......................................................................     42

             B.     Subyek Penelitian .....................................................................      42

             C.     Metode Pengumpulan Data .......................................................              42




                                                          ix
             D.     Tes .............................................................................................   43

             E. Prosedur Penelitian ....................................................................                43

             F. Rencana Penelitian .....................................................................                44

             G. Indikator Keberhasilan ...............................................................                  46

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

             A. Hasil Penelitian dan Pembahasan Siklus Pertama .....................                                    47

             B. Hasil Penelitian dan Pembahasan Siklus Kedua .......................                                    53

             C. Hasil Penelitian dan Pembahasan Siklus Ketiga .......................                                   59

BAB V          PENUTUP

             A. Simpulan ....................................................................................           62

             B. Saran...........................................................................................        62

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................                    64
LAMPIRAN....................................................................................................            66




                                                             x
                                        DAFTAR LAMPIRAN



Lampiran 1. Jadwal pertemuan penelitian tindakan kelas ............................... 66
Lampiran 2. Subyek penelitian ........................................................................ 67
Lampiran 3. Instrumen wawancara pengambilan data sikap siswa pada
            pelajaran matematika ................................................................ 68
Lampiran 4. Hasil wawancara tentang sikap siswa pada pembelajaran
            matematika ................................................................................... 69
Lampiran 5. Angket penelitian tindakan kelas ................................................. 70
Lampiran 6. Hasil angket penelitian tindakan kelas ........................................ 71
Lampiran 7. Silabus ........................................................................................ 73
Lampiran 8. Rancangan pelaksanaan pembelajaran siklus 1 ........................... 76
Lampiran 9. LKS 1........................................................................................... 83
Lampiran 10.Kunci jawaban LKS 1.................................................................. 84
Lampiran 11.Quis 1........................................................................................... 86
Lampiran 12.Kunci jawaban Quis 1.................................................................. 87
Lampiran 13.Lembar pengamatan siswa kegiatan belajar mengajar siklus 1... 89
Lampiran 14.Lembar pengamatan guru kegiatan belajar mengajar siklus 1 .... 90
Lampiran 15.Data nilai diskusi kelompok siklus 1........................................... 93
Lampiran 16.Tabel pengamatan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar
             mengajar siklus 1 ........................................................................ 95
Lampiran 17.Daftar nilai tes Quis siklus 1........................................................ 97
Lampiran 18.Rancangan pelaksanaan pembelajaran siklus 2 ........................... 99
Lampiran 19.LKS 2......................................................................................... 106
Lampiran 20.Kunci jawaban LKS 2................................................................ 107
Lampiran 21.Quis 2......................................................................................... 109
Lampiran 22.Kunci jawaban Quis 2................................................................ 110
Lampiran 23.Lembar pengamatan siswa kegiatan belajar mengajar siklus 2. 112
Lampiran 24.Lembar pengamatan guru kegiatan belajar mengajar siklus 2 .. 113
Lampiran 25.Data nilai diskusi kelompok siklus 2......................................... 116
Lampiran 26.Tabel pengamatan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar
             mengajar siklus 2 ...................................................................... 118
Lampiran 27.Daftar nilai tes Quis siklus 2...................................................... 120
Lampiran 28.Rancangan pelaksanaan pembelajaran siklus 3 ......................... 122
Lampiran 29.LKS 3......................................................................................... 128
Lampiran 30.Kunci jawaban LKS 3................................................................ 129
Lampiran 31.Quis 3......................................................................................... 131
Lampiran 32.Kunci jawaban Quis 3................................................................ 132
Lampiran 33.Lembar pengamatan siswa kegiatan belajar mengajar siklus 3. 134
Lampiran 34.Lembar pengamatan guru kegiatan belajar mengajar siklus 3 .. 135
Lampiran 35.Data nilai diskusi kelompok siklus 3......................................... 138
Lampiran 36.Tabel pengamatan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar
             mengajar siklus 3 ...................................................................... 140
Lampiran 37.Daftar nilai tes Quis siklus 3...................................................... 142



                                                        xi
Lampiran 38.Usulan pembimbing................................................................... 143
Lampiran 39.Permohonan ijin penelitian........................................................ 144
Lampiran 40.Surat keterangan penelitian ....................................................... 145




                                                  xii
                                      BAB I

                              PENDAHULUAN



A.   Latar Belakang Masalah

        Salah satu tujuan dari pembangunan nasional di bidang pendidikan

     adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia

     Indonesia melalui upaya peningkatan kualitas pendidikan pada semua

     jenjang pendidikan, yang memungkinkan warganya mengembangkan diri

     sebagai manusia Indonesia seutuhnya. Untuk mewujudkan pembangunan

     nasional di bidang pendidikan diperlukan peningkatan dan penyempurnaan

     penyelenggaraan     pendidikan    sesuai   dengan     perkembangan        ilmu

     pengetahuan dan teknologi (IPTEK).

        Tujuan pendidikan pada hakekatnya adalah suatu proses terus menerus

     manusia untuk menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi. Karena itu

     siswa harus benar-benar dilatih dan dibiasakan berpikir secara mandiri.

        Matematika sebagai salah satu ilmu dasar, baik aspek terapannya

     maupun aspek penalarannya, mempunyai peranan penting dalam upaya

     penguasaan ilmu dan teknologi. Untuk itu matematika sekolah perlu

     difungsikan sebagai wahana untuk menumbuhkembangkan kecerdasan,

     kemampuan, keterampilan serta untuk membentuk kepribadian siswa.

        Pembelajaran matematika akan menuju arah yang benar dan berhasil

     apabila mengetahui karakteristik yang dimiliki matematika. Matematika

     memiliki karakteristik tersendiri baik ditinjau dari aspek kompetensi yang



                                      1
                                                                             2




ingin dicapai, maupun dari aspek materi yang dipelajari untuk menunjang

tercapainya kompetensi. Ditinjau dari aspek kompetensi yang ingin dicapai,

matematika       menekankan     penguasaan    konsep    dan   algoritma   serta

keterampilan memecahkan masalah.

   Yang menjadi masalah adalah bagaimana pemecahan masalah itu

diintegrasikan     ke   dalam    kegiatan    belajar   mengajar   matematika.

Keterampilan tersebut akan dimiliki siswa bila guru mengajarkan bagaimana

memecahkan masalah yang efektif kepada siswa-siswanya.

(Herman Hudojo, 2005: 123)

   Belajar merupakan perjalanan yang tidak pernah berakhir dalam

pembinaan dan pemahaman diri. Analisis serta perbaikan cara-cara belajar

dituntut agar tetap berlangsung berkesinambungan. Kemampuan untuk

menganalisis dan memperbaiki cara belajar dan berpikir perlu dilakukan

secara sadar, dan seyogianya tidak berhenti belajar, tidak berhenti

menginplementasikan hasil belajar itu.

(Sindhunata,2000:115)

   Perubahan cara dan sistem dalam proses belajar mengajar di sekolah

akan berpengaruh terhadap sikap dan kebiasaan belajar siswa. Russefendi

menyatakan, “sikap positif terhadap matematika membuat siswa mengerti

terhadap matematika, melihat matematika itu indah dan sikap seperti itu

akan mendorong siswa untuk mempelajarinya”.

(Russefendi, 1980: 131)
                                                                         3




    Proses belajar matematika tidak selamanya berjalan efektif, karena

masih ada beberapa siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar

matematika. Kesulitan belajar matematika terutama disebabkan oleh sifat

khusus dari matematika yang memiliki obyek abstrak. Sifat inilah yang perlu

disadari dan dicari jalan keluar sehingga siswa dapat mempelajari

matematika dengan mudah dan menyenangkan.

    Ciri utama matematika adalah penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu

pernyataan diperoleh sebagai akibat logis kebenaran sebelumnya, sehingga

kaitan antar pernyataan dalam matematika bersifat konsisten. Kecerdasan

matematika-logika memuat kemampuan seseorang dalam berpikir secara

induktif dan deduktif, berpikir menurut aturan logika, memahami dan

menganalisis pola angka-angka, serta memecahkan masalah dengan

menggunakan kemampuan berpikir.

(Sindhunata, 2000: 88)

    Matematika        berfungsi   mengembangkan   kemampuan   menghitung,

mengukur, menurunkan, dan menggunakan rumus matematika yang

diperlukan dalam kehidupan sehari-hari melalui materi aljabar, geometri,

logika matematika, peluang dan statistika. Matematika juga berfungsi

mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan melalui model

matematika yang dapat berupa kalimat dan persamaan matematika, diagram,

grafik, atau tabel.
                                                                        4




   Tujuan pembelajaran matematika adalah :

a. Melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya

   melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan

   kesamaan, perbedaan, konsisten, dan inkonsistensi.

b. Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan

   penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa

   ingin tahu, membuat prediksi, dugaan, serta mencoba-coba.

c. Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.

d. Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi gagasan antara

   lain melalui pembicaraan lisan, grafik, peta, dan diagram.

   (Asikin, 2004: 3)

   Ada tiga hal yang harus diperhatikan untuk mengembangkan rancangan

pembelajaran matematika berbasis kompetensi, yaitu : apa yang akan

diajarkan, bagaimana cara mengajarkannya, dan bagaimana cara mengetahui

bahwa apa yang diajarkan dapat dipahami oleh siswa. Hal pertama berkaitan

dengan tujuan dan materi apa yang akan diajarkan, dan yang kedua berkaitan

dengan pendekatan, metode, dan media pembelajaran, sedangkan yang

ketiga berkaitan dengan sistem pengujian atau evaluasi.

   Guru mata pelajaran matematika kelas X SMA Negeri 2 Kudus

menyampaikan bahwa siswa SMA Negeri 2 Kudus merupakan siswa

pilihan, karena SMA Negeri 2 Kudus merupakan sekolah favorit di Kudus.

Namun sebagian besar siswanya mempunyai tingkat perhatian dan

kemampuan komunikasi yang kurang terhadap pelajaran matematika. Ini
                                                                        5




diperkuat dengan rendahnya nilai ulangan harian dan tengah semester mata

pelajaran matematika, disamping itu siswa juga mengeluhkan bahwa

matematika hanya berisi angka-angka dan rumus-rumus yang harus

dihafalkan, sehingga materinya dianggap kurang bermakna.

   Kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis merupakan

kompetensi hasil belajar matematika yang dituntut oleh kurikulum 2004.

kedua kemampuan tersebut merupakan bagian dari kemampuan berfikir

matematis tingkat tinggi. Agar kemampuan berfikir matematis tingkat tinggi

berkembang, maka pembelajaran harus menjadi lingkungan dimana siswa

dapat terlibat secara aktif dalam banyak kegiatan matematis yang

bermanfaat. (Helmaheri, 2005: 1)

   Belajar dalam kelompok kecil dengan strategi Think Talk Write

memberikan kesempatan kepada siswa untuk memulai belajar dengan

memahami permasalahan terlebih dahulu, kemudian terlibat secara aktif

dalam diskusi kelompok, dan akhirnya menuliskan dengan bahasa sendiri

hasil belajar yang diperolehnya. (Bansu Irianto, 2004: 1)

   Berdasar uraian di atas peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian

berjudul “MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI DAN

PEMECAHAN         MASALAH          MATEMATIS         SISWA   TERHADAP

PELAJARAN         MATEMATIKA           POKOK       BAHASAN      LOGIKA

MATEMATIKA MELALUI BELAJAR DALAM KELOMPOK KECIL

DENGAN STRATEGI THINK TALK WRITE PADA SISWA KELAS X

SMA NEGERI 2 KUDUS TAHUN PELAJARAN 2006/2007.
                                                                              6




B.   Permasalahan

             Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan yang akan diteliti

     adalah :

     1.    Apakah melalui belajar dalam kelompok kecil dengan strategi Think

           Talk Write dapat mengembangkan kemampuan komunikasi pada

           pemecahan masalah matematis siswa dalam belajar matematika?

     2.    Sejauh manakah peningkatan hasil belajar matematika melalui belajar

           dalam kelompok kecil dengan strategi Think Talk Write?



C.   Cara Pemecahan Masalah

             Dalam penelitian ini masalah akan dipecahkan melalui Penelitian

     Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan secara bersiklus, masing-masing

     siklus dengan tahapan perencanaan, implementasi, observasi, dan refleksi.

     Dengan menggunakan model pembelajaran Think-Talk- Write, adapun yang

     direncanakan untuk siklus I adalah :

     a. Pengajuan masalah oleh guru

     b. Membuat Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

     c. Siswa dibagi kedalam kelompok-kelompok, setiap kelompok terdiri dari

          2 atau 3 siswa sesuai dengan prinsip pembagian kelompok kecil

     d. Setiap kelompok memperoleh satu LKS, untuk dicari permasalahan

          dalam soal dan dipikirkan cara penyelesaiannya, kemudian di diskusikan

          dengan kelompoknya, setelah itu di tuliskan cara penyelesaiannya

          dengan kata-kata kelompok itu sendiri.
                                                                           7




D.   Penegasan Istilah

     1.   Komunikasi

          Komunikasi merupakan proses dalam mencari, memilah-milah,

          merumuskan,     menerapkan,    mengatur,     menghubungkan,    dan

          menjadikan campuran antara gagasan-gagasan dengan kata-kata yang

          sudah mempunyai arti itu dapat dipahami.

          (DePorter Bobby, 1992: 150)

     2.   Memecahkan Masalah

          Memecahkan masalah adalah metode belajar yang mengharuskan

          pelajar untuk menemukan jawabannya (discovery) tanpa bantuan

          khusus. Dalam memecahkan masalah, pelajar harus berfikir,

          mencobakan hipotesis dan bila berhasil memecahkan masalah itu ia

          mempelajari sesuatu yang baru. Langkah-langkah yang diikuti dalam

          memecahkan masalah adalah sebagai berikut:

          a.   Pelajar dihadapkan dengan masalah

          b.   Pelajar merumuskan masalah itu

          c.   Merumuskan hipotesis

          d.   Menguji hipotesis

               (Nasution, 1982: 170)

     3.   Masalah Matematis

          Masalah matematis yaitu masalah untuk menemukan, dapat teoritis

          atau praktis, abstrak atau konkret, termasuk teka teki. Dan masalah
                                                                         8




     untuk membuktikan adalah untuk menunjukkan bahwa suatu

     pernyataan itu benar atau salah, tidak kedua-duanya.

     (Hudojo, 2005: 124-125)

4.   Think-Talk-Write

     Think (berfikir) adalah teknik pemanfaatan keseluruhan otak dengan

     menggunakan citra visual dan prasarana grafis lainnya untuk

     membentuk kesan. Dalam berfikir, otak seringkali mengingat

     informasi dalam bentuk gambar, simbol, suara, bentuk-bentuk dan

     perasaan. Dalam berfikir menggunakan pengingat-pengingat visual

     dan sensorik ini dalam suatu pola dari ide-ide yang berkaitan. Seperti

     peta jalan yang digunakan untuk belajar, mengorganisasikan dan

     merencanakan. Cara berfikir ini dapat membangkitkan ide-ide orisinil

     dan memicu ingatan yang mudah.

     (Hernacki Mike,1992: 152)

     Talk (komunikasi lisan) dapat digunakan dalam segala macam situasi

     belajar, namun tidak merupakan satu-satunya alat. Bagi kelas-kelas

     rendah SD mungkin komunikasi lisanlah yang paling efektif. Akan

     tetapi di kelas-kelas yang lebih tinggi, bila anak-anak telah pandai

     membaca, bahan tertulis, dan gambar-gambar tidak kurang efektifnya

     dibandingkan komunikasi verbal. Komunikasi lisan (berbicara) banyak

     manfaatnya dalam berbagai situasi belajar, seperti memberi bimbingan

     belajar, dalam memberikan feedback atau balikan, atau memulai topik

     baru. (Nasution, 1992: 195-196)
                                                                               9




          Write (menulis) adalah aktivitas seluruh otak yang menggunakan

          belahan otak kanan (emosional) dan belahan otak kiri (logika). Tulisan

          yang baik memanfaatkan kedua belah otak.

          (Hernacky Mike, 1992: 179)



E.   Tujuan dan Manfaat Penelitian

          Sesuai dengan permasalahan yang penulis kemukakan di atas, maka

     tujuan penelitian ini adalah:

     1. Untuk mengetahui apakah melalui belajar dalam kelompok kecil dengan

         strategi Think Talk Write dapat meningkatkan kemampuan komunikasi

         dan      pemecahan   masalah   matematis   siswa   terhadap    pelajaran

         matematika.

     2. Untuk mengetahui apakah melalui belajar dalam kelompok kecil dengan

         strategi Think Talk Write dapat meningkatkan hasil belajar matematika

         siswa.

          Dengan tercapainya tujuan penelitian di atas maka manfaat yang

     diharapkan sebagai berikut:

     1. Bagi Siswa

        a. Menumbuhkan         kemampuan    bekerjasama,    berkomunikasi    dan

            mengembangkan keterampilan berfikir tingkat tinggi siswa.

        b. Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa

            dalam belajar matematika yang pada gilirannya akan membawa
                                                                                    10




             pengaruh    positif    yaitu   terjadinya    peningkatan   hasil   belajar

             matematika siswa dan penguasaan konsep serta keterampilannya.

     2. Bagi Guru

         a. Memperoleh       pengetahuan      untuk      meningkatkan    keterampilan

             memilih strategi pembelajaran yang bervariasi.

         b. Guru termotivasi melakukan penelitian sederhana yang bermanfaat

             bagi perbaikan dalam proses pembelajaran dan meningkatkan

             kemampuan guru itu sendiri.

     3. Bagi Peneliti

         a. Akan diperoleh pemecahan masalah dalam penelitian sehingga akan

             diperoleh suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan

             kemampuan komunikasi siswa dalam pemecahan masalah matematis

             terhadap matematika dan hasil belajar siswa.

         b. Mendapat pengalaman dan pengetahuan dalam melakukan penelitian

             dan melatih diri dalam menerapkan ilmu pengetahuan khususnya

             tentang konsep matematika yang abstrak dalam bentuk konkret.



F.   Sistematika Penulisan Skripsi

         Pedoman penyusunan skripsi dibagi menjadi tiga bagian, yakni bagian

     awal, bagian isi dan bagian akhir skripsi.

         Bagian awal penulisan skripsi ini terdiri dari : halaman judul, halaman

     pengesahan, abstrak, halaman motto dan persembahan, kata pengantar,

     daftar isi, daftar lampiran.
                                                                        11




   Bagian isi skripsi ini terdiri dari :

BAB I     Pendahuluan berisi latar belakang masalah, permasalahan, cara

pemecahan masalah, penegasan istilah, tujuan dan manfaat penelitian, dan

sistematika penulisan skripsi.

BAB II Landasan teori dan hipotesis tindakan berisi tentang landasan teori,

pokok bahasan yang terkait dengan pelaksanaan penelitian, kerangka

berfikir, dan hipotesis tindakan.

BAB III Metode penelitian berisi tentang lokasi penelitian, subyek

penelitian, metode pengumpulan data, tes, prosedur penelitian, rencana

penelitian yang terdiri atas tiga siklus, setiap siklus terdiri dari empat

tahapan yakni perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi, dan

indikator keberhasilan.

BAB IV Hasil penelitian dan pembahasan berisi tentang hasil penelitian dan

pembahasan siklus I, hasil penelitian dan pembahasan siklus II, hasil

penelitian dan pembahasan siklus III.

BAB V Penutup yang berisi tentang simpulan dari data dan saran yang

merupakan sumbangan pemikir.

   Bagian akhir terdiri dari daftar pustaka dan lampiran-lampiran.
                                    BAB II

                              LANDASAN TEORI



A.   Landasan Teori

     1. Pengertian Belajar

             Belajar adalah proses penting bagi perubahan perilaku manusia dan

        ia mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan.

        (Chatarina, 2004:1)

            Belajar adalah suatu proses yang berlangsung di dalam diri

        seseorang yang mengubah tingkah lakunya, baik tingkah laku dalam

        berpikir, bersikap, dan berbuat.

         (W. Gulo, 2005:8)

            Dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar

        adalah suatu usaha yang dilakukan seseorang secara sadar untuk

        memperoleh perubahan tingkah laku.

     2. Pembelajaran Matematika

             Satu-satunya kegiatan yang dapat dipandang sebagai pencetak

        Sumber Daya Manusia yang berkualitas adalah pendidikan. Pendidikan

        adalah upaya sadar yang dilakukan agar siswa dapat mencapai tujuan

        tertentu. Untuk itu pendidikan dimasa mendatang harus didesain dan

        diorientasikan pada penyiapan, pembentukan, pengkaderan, dan

        pengembangan agar setiap individu dapat mengoptimalkan seluruh

        potensi yang ada pada dirinya.



                                     12
                                                                   13




      Matematika adalah pengetahuan logik, berhubungan dengan

bilangan dan kalkulasi, dan terorganisir secara sistematis.

Beberapa karakteristik matematika :

a.   Memiliki obyek kajian yang abstrak

b. Bertumpu pada kesepakatan

c.   Berpola pikir deduktif

d. Memiliki simbol yang kosong dari arti

e.   Memperhatikan semesta pembicaraan

f.   Konsisten terhadap sistemnya

      Pembelajaran matematika merupakan kegiatan yang menggunakan

matematika sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

Matematika dapat mencerdaskan siswa dan membentuk kepribadian

serta mengembangkan ketrampilan siswa. Ini mengarahkan perhatian

pada pengajaran nilai-nilai dalam kehidupan melalui matematika.

      Pembelajaran matematika harus bertumpu pada dua hal, yaitu

optimalisasi interaksi semua unsur pembelajaran dan optimalisasi

keterlibatan seluruh siswa dalam pembelajaran.

      Penyelenggaraan pendidikan akan berhasil apabila semua unsur

dalam sistem tersebut dapat berjalan seiring dan seirama menuju tujuan

pendidikan yang ditetapkan.

      Pembentukan sikap mental dan perilaku anak didik tidak dapat

dilepaskan dari soal-soal penanaman nilai-nilai (transfer of value).
                                                                         14




Dilandasi oleh nilai-nilai itu anak didik akan tumbuh kesadaran dan

kemauan untuk mempraktekkan segala sesuatu yang dipelajarinya.

     Tujuan pembelajaran matematika KBK adalah :

a.   Melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan,

     misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen,

     menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsisten, dan inkonsistensi.

b.   Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi,

     intuisi,   dan   penemuan     dengan   mengembangkan      pemikiran

     divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi, dugaan, serta

     mencoba-coba.

c.   Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.

d.   Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi gagasan

     antara lain melalui pembicaraan lisan, grafik, peta, dan diagram.

     (Asikin, 2004:3)

     Untuk mencapai tujuan tersebut perlu diperhatikan dua hal yaitu :

a.   Tujuan yang bersifat formal, yaitu penataan nalar serta

     pembentukan pribadi siswa.

b.   Tujuan yang bersifat materiil, yaitu penerapan matematika dan

     keterampilan matematika.

     Jadi matematika sekolah perlu difungsikan sebagai wahana untuk

menumbuhkembangkan            kecerdasan,   kemampuan      serta   untuk

membentuk       kepribadian    siswa.   Matematika   merupakan     faktor
                                                                         15




   pendukung dalam laju perkembangan persaingan diberbagai bidang

   ekonomi, teknologi, persenjataan serta usaha eksploitasi ruang angkasa.

3. Komunikasi Siswa

        Dalam situasi belajar, komunikasi memegang peranan yang

   penting. Komunikasi merupakan suatu bagian dari pengajaran.

   Komunikasi diperlukan untuk:

   1. Membangkitkan dan memelihara perhatian siswa.

   2. Memberitahukan dan memperlihatkan hasil belajar yang diharapkan.

   3. Merangsang siswa untuk mengingat kembali hal-hal yang bertalian

       dengan topik-topik tertentu.

   4. Menyajikan stimulus untuk mempelajari suatu konsep, prinsip atau

       masalah.

   5. Memberi bimbingan siswa dalam belajar.

   6. Menilai hasil belajar siswa.

       (Nasution, 1982:194)

        Komunikasi merupakan proses dalam mencari, memilah-milah,

   merumuskan, menerapkan, mengatur, menghubungkan, dan menjadikan

   campuran antara gagasan-gagasan dengan kata-kata yang sudah

   mempunyai arti itu dapat dipahami.

   (DePorter Bobby, 1992: 150)

        Dalam proses belajar mengajar dapat kita amati , siswa yang

   melakukan berbagai aktivitas belajar seperti mendengarkan, mencatat,

   bertanya, berdiskusi, membuat pekerjaan rumah. Juga dapat kita amati,
                                                                    16




guru dengan berbagai aktivitasnya seperti menerangkan, bertanya,

mendemonstrasikan, mencatatkan hal-hal yang penting di papan tulis

dan lain-lain, yang merupakan upaya agar para siswa dapat belajar.

Kedua pihak yaitu siswa dan guru sama-sama aktif dalam satu interaksi

pendidikan (interaksi edukatif).

(Natawidjaja, 1982: 51)

     Memecahkan masalah adalah metode belajar yang mengharuskan

pelajar untuk menemukan jawabannya (discovery) tanpa bantuan khusus.

Dalam memecahkan masalah, pelajar harus berfikir, mencobakan

hipotesis dan bila berhasil memecahkan masalah itu ia mempelajari

sesuatu yang baru. Langkah-langkah yang diikuti dalam memecahkan

masalah adalah sebagai berikut:

1. Pelajar dihadapkan dengan masalah

2. Pelajar merumuskan masalah itu

3. Merumuskan hipotesis

4. Menguji hipotesis

(Nasution, 1982: 170)

     Mengajar      siswa    untuk   menyelesaikan     masalah-masalah

memungkinkan siswa itu menjadi lebih analitis di dalam mengambil

keputusan kehidupan. Dengan kata lain, bila seorang siswa dilatih untuk

menyelesaikan masalah, maka siswa itu akan mampu mengambil

keputusan, sebab siswa itu menjadi mempunyai keterampilan tentang

bagaimana menyampaikan informasi yang relevan, menganalisa
                                                                   17




informasi dan menyadari betapa perlunya meneliti kembali hasil yang

telah diperolehnya. Matematika yang disajikan kepada siswa-siswa yang

berupa masalah akan memberikan motivasi kepada mereka untuk

mempelajari pelajaran tersebut.

(Hudojo, 1977: 91)

     Untuk melakukan identifikasi masalah, perlu diawali oleh diskusi

kelas guna berbagi pengetahuan tentang masalah-masalah di masyarakat.

Untuk mengerjakan kegiatan ini, seluruh siswa hendaknya membaca dan

mendiskusikan masalah-masalah yang dapat ditemukan di kelas.

Misalnya saja guru membagi kelas ke dalam kelompok-kelompok kecil

(3-4 orang). Setiap kelompok diminta untuk mencari suatu masalah

(misalnya: cara mengerjakan soal matematika yang menyangkut

pemecahan masalah yang diberikan oleh guru), lalu mendiskusikannya

ke dalam kelompok kecil tersebut untuk menjawab pertanyaan-

pertanyaan seperti yang terdapat pada format identifikasi dan analisis

masalah.

(Budimansyah, 2002: 14)

     Bentuk atau format belajar mengajar yang bisa dilakukan dalam

kelompok kecil, format ini banyak mendorong guru untuk mengurangi

format komunikasi satu arah seperti yang nampak jelas pada format

ceramah. Belajar dalam kelompok kecil mendorong terciptanya suatu

kemungkinan yang lebih besar untuk melakukan komunikasi, interaksi

edukatif dua arah dan banyak arah sehingga diperkirakan siswa yang
                                                                            18




   belajar tersebut secara mental emosional lebih terlihat dibandingkan

   dengan format ceramah, guru cenderung untuk menjadi pusat proses

   kegiatan belajar mengajar.

   (Natawidjaja, 1982: 70).

4. Hasil Belajar

        Menurut Nana Sudjana (1990:22), hasil belajar adalah kemampuan

   yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.

   Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama

   yaitu:

   a. Faktor dari dalam siswa, meliputi kemampuan yang dimiliki,

      motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar,

      ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis.

   b. Faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan,

      terutama kualitas pengajaran.

      Gagne mengungkapkan ada lima kategori hasil belajar yakni

   informasi verbal, kecakapan intelektual, strategi kognitif, sikap, dan

   keterampilan. Sementara Bloom mengungkapkan tiga kawasan tujuan

   pengajaran yang merupakan kemampuan seseorang yang harus dicapai

   dan merupakan hasil belajar yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.

      Beberapa fungsi hasil belajar :

   a. Hasil belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan

      yang telah dikuasai oleh siswa.

   b. Hasil belajar sebagai lambang pemuas hasrat ingin tahu.
                                                                      19




c. Hasil belajar sebagai bahan informasi dalam inovasi pendidikan,

     asumsinya bahwa hasil belajar dapat dijadikan pendorong bagi siswa

     dalam meningkatkan IPTEK serta berperan sebagai umpan balik

     dalam meningkatkan mutu pendidikan.

     Menurut Nana Sudjana (1990:57), hasil belajar yang dicapai siswa

melalui proses belajar mengajar yang optimal ditunjukkan dengan ciri-

ciri sebagai berikut:

a.   Kepuasan dan kebanggaan yang dapat menumbuhkan motivasi

     belajar intrinsik pada diri siswa. Siswa tidak mengeluh dengan

     prestasi yang rendah dan ia akan berjuang lebih keras untuk

     memperbaikinya atau setidaknya mempertahankan apa yang telah

     dicapai.

b. Menambah keyakinan dan kemampuan dirinya, artinya ia tahu

     kemampuan dirinya dan percaya bahwa ia mempunyai potensi yang

     tidak kalah dari orang lain apabila ia berusaha sebagaimana

     mestinya.

c.   Hasil belajar yang dicapai bermakna dari dirinya, seperti akan tahan

     lama diingat, membentuk perilaku, bermanfaat untuk mempelajari

     aspek lain, kemauan dan kemampuan untuk belajar sendiri dan

     mengembangkan kreativitasnya.

d. Hasil        belajar   yang   diperoleh   siswa   secara   menyeluruh

     (komprehensif), yakni mencakup ranah kognitif, pengetahuan atau
                                                                          20




        wawasan,    ranah   afektif     (sikap)   dan   ranah   psikomotorik,

        keterampilan atau perilaku.

   e.   Kemampuan      siswa    untuk     mengontrol    atau    menilai   dan

        mengendalikan diri terutama dalam menilai hasil yang dicapainya

        maupun menilai dan mengendalikan proses dan usaha belajarnya.

        Menurut Bobbi Porter (2001:1020), manusia mempunyai keinginan

   belajar yang alami yang didasarkan atas rasa ingin tahu. Dengan modal

   yang dimiliki berupa “kekayaan” fisik dan mental, daya serap dan

   kecanggihan linguistik merupakan potensi untuk mencapai hasil yang

   maksimal apabila dimanfaatkan secara maksimal.

5. Model Pembelajaran Think-Talk-Write

        Think (berfikir) adalah teknik pemanfaatan keseluruan otak dengan

   menggunakan citra visual dan prasarana grafis lainnya untuk membentuk

   kesan. Dalam berfikir, otak seringkali mengingat informasi dalam

   bentuk gambar, simbol, suara, bentuk-bentuk dan perasaan. Dalam

   berfikir menggunakan pengingat-pengingat visual dan sensorik ini dalam

   suatu pola dari ide-ide yang berkaitan. Seperti peta jalan yang digunakan

   untuk belajar, mengorganisasikan dan merencanakan. Cara berfikir ini

   dapat membangkitkan ide-ide orisinil dan memicu ingatan yang mudah

   (Hernacki Mike,1992: 152)

        Talk (komunikasi lisan) dapat digunakan dalam segala macam situasi

   belajar, namun tidak merupakan satu-satunya alat. Bagi kelas-kelas

   rendah SD mungkin komunikasi lisanlah yang paling efektif. Akan tetapi
                                                                                   21




        di kelas-kelas yang lebih tinggi, bila anak-anak telah pandai membaca,

        bahan tertulis, dan gambar-gambar tidak kurang efektifnya dibandingkan

        komunikasi verbal. Komunikasi lisan (berbicara) banyak manfaatnya

        dalam berbagai situasi belajar, seperti memberi bimbingan belajar,

        dalam memberikan feedback atau balikan, atau memulai topik baru

        (Nasution, 1992: 195-196)

           Write (menulis) adalah aktivitas seluruh otak yang menggunakan

        belahan otak kanan (emosional) dan belahan otak kiri (logika). Tulisan

        yang baik memanfaatkan kedua belah otak.

        (Hernacky Mike, 1992: 179).

        Think talk write adalah pembelajaraan di mana siswa diberikan

        kesempatan kepada siswa untuk memulai belajar dengan memahami

        permasalahan terlebih dahulu, kemudian terlibat secara aktif dalam

        diskusi kelompok, dan akhirnya menuliskan dengan bahasa sendiri hasil

        belajar yang diperolehnya.



B.   Pokok Bahasan yang Terkait dengan Pelaksanaan Penelitian

     Pernyataan dan Kalimat Terbuka

     1. Pernyataan

        Pernyataan (Proposisi/deklarasi/statement) adalah kalimat yang memiliki

        nilai benar saja atau salah saja tetapi tidak sekaligus benar dan salah.
                                                                        22




a. Lambang sebuah pernyataan

   Pernyataan-pernyataan tunggal biasanya dilambangkan dengan huruf

   kecil, seperti p, q, r, dan sebagainya.

b. Nilai kebenaran sebuah pernyataan

   Untuk menunjukkan bahwa sebuah pernyataan itu benar atau salah

   dapat digunakan cara sebagai berikut:


   i. Dasar empiris, yaitu menunjukkan benar atau salahnya sebuah

       pernyataan berdasarkan fakta yang dijumpai dalam kehidupan

       sehari-hari.

       Contoh 1:

       2, 4, 6, merupakan bilangan genap

       10 merupakan bilangan yang habis dibagi 5


   ii. Dasar tidak empiris, yaitu menunjukkan benar salahnya sebuah

       pernyataan melalui bukti atau perhitungan dalam matematika.

       Contoh 2 :

       a.    Dalam       ΔABC ,       berlaku   a 2 = b 2 + c 2 − 2bc cos A

             (pernyataan yang benar).

       b.    x 2 + 5 x − 24 = 0

             Kalimat tersebut menjadi pernyataan yang benar jika x

             diganti − 8 dan 3 . Jadi, himpunan penyelesaiannya adalah

             {− 8,3} .
                                                                                    23




            Pernyataan yang benar memiliki nilai kebenaran B (benar) atau 1

            dan pernyataan yang salah memiliki kebenaran S (salah) atau 0.

            Nilai kebenaran suatu pernyataan dapat ditulis menggunakan

            huruf Yunani τ (dibaca :”tau”).

2. Kalimat Terbuka

       Kalimat terbuka adalah kalimat yang memuat peubah atau variabel,

   sehingga belum dapat ditentukan benar atau salahnya.

       Sebuah kalimat terbuka berubah menjadi pernyataan bila peubahnya

   diganti oleh suatu anggota semesta pembicaraan.

       Anggota semesta pembicaraan yang bila menggantikan peubah

   dalam suatu kalimat terbuka menjadi pernyataan yang benar disebut

   penyelesaian dari kalimat terbuka tersebut. Himpunan yang terdiri dari

   semua      penyelesaian          suatu     kalimat   terbuka   disebut      himpunan

   penyelesaian kalimat terbuka tersebut.

   Contoh 3:

   Jika x dan y adalah peubah pada himpunan bilangan cacah, maka

   himpunan         penyelesaian            dari   persamaan      2x + y = 6     adalah

   {(0,6), (1,4), (2,2), (3,0)} .
OPERASI PADA PERNYATAAN

1. Pernyataan Majemuk

       Dua pernyataan atau lebih dapat dikomposisikan dengan kata hubung

   logika (dan, atau, jika…maka, ….jika dan hanya jika…) membentuk
                                                                       24




   pernyataan baru yang disebut pernyataan majemuk atau pernyataan

   komposisi.

      Dalam suatu pernyataan majemuk tidak diharuskan adanya hubungan

   antar    komponen-komponennya,     hal   ini   merupakan   sifat   yang

   fundamental d dalam logika matematika.

      Dalam operasi pada pernyataan dikenal operasi uner dan operasi

   biner.


   i. Operasi uner, yaitu operasi yang bekerja pada sebuah pernyataan.

      Yang termasuk dalam operasi uner adalah negasi atau penyangkalan

      atau ingkaran.


   ii. Operasi biner, yaitu operasi yang mengkomposisikan beberapa

      pernyataan tunggal menjadi sebuah pernyataan majemuk. Yang

      termasuk operasi biner adalah konjungsi, disjungsi, implikasi, dan

      biimplikasi.

2. Ingkaran atau Negasi

      Ingkaran atau negasi adalah pernyataan baru yang di dapat dengan

   cara mengingkari pernyataan yang diberikan, yaitu dengan cara

   membubuhkan kata “tidak benar” di depan pernyataan yang diberikan

   atau dengan cara menyisipkan kata “tidak” atau “bukan” dalam

   pernyataan yang diberikan. Apabila suatu pernyataan di beri lambing p

   maka ingkarannya dilambangkan dengan ~ p , yang dibaca dengan

   “tidak benar p ” atau “tidak p ” atau “bukan p ”.
                                                                      25




Contoh 4 :

Tentukan ingkaran dari pernyataan-pernyataan berikut:

a.       p ≡ 4 adalah bilangan genap

b.       q ≡ 2 adalah bilangan prima

Jawab:

a.       ~ p ≡ tidak benar 4 adalah bilangan genap

         ~ p ≡ 4 adalah bukan bilangan genap

b.       ~ q ≡ tidak benar 2 adalah bilangan prima

         ~ q ≡ 2 adalah bukan bilangan prima.

     Terlihat bahwa nilai kebenaran dari negasi suatu pernyataan yang

bernilai benar adalah salah, sebaliknya nilai kebenaran dari negasi suatu

pernyataan yang bernilai salah adalah benar.

     Jika pernyataan      p bernilai   B maka ~ p bernilai S   dan jika

p bernilai S maka ~ p bernilai B .

     Dengan demikian dapat dinyatakan dalam tabel kebenaran sebagai

berikut:

     p      ~q

     B       S

     S       B
                                                                         26




3. Konjungsi

         Konjungsi adalah suatu pernyataan majemuk dengan kata hubung

   “dan” yang dilambangkan dengan “ ∧ ”. Jika diketahui dua pernyataan p

   dan q maka dapat digabungkan menjadi sebuah konjungsi yaitu

   “ p ∧ q ” yang di baca “ p dan q ”.

   Contoh 5 :

   a.        p ≡ 2n + 1 untuk n ∈ A adalah bilangan ganjil

             q ≡ 111 adalah bilangan prima

        p ∧ q ≡ 2n + 1 untuk n ∈ A adalah bilangan ganjil dan 111 adalah

                   bilangan prima

   b.       p ≡ x 2 ≥ x, x ∈ B

         q ≡ Jumlah besar sudut dalam segitiga adalah 360 0

   p ∧ q ≡ x 2 ≥ x, x ∈ B dan Jumlah besar sudut dalam segitiga adalah

               360 0

         Konjungsi akan bernilai benar jika kedua pernyataan bernilai benar,

   selain itu bernilai salah.

         Tabel kebenaran konjungsi adalah sebagai berikut:

         p        q      p∧q

        B         B       B

        B         S       B

        S         B       B

        S         S       S
                                                                        27




4. Disjungsi

        Disjungsi adalah suatu pernyataan majemuk dengan kata hubung

   “atau” yang dilambangkan dengan “ ∨ ”. Jika diketahui dua pernyataan

   p dan q maka dapat digabungkan menjadi sebuah disjungsi yaitu

   “ p ∨ q ” yang bisa di baca “ p atau q ”.

   Contoh 6 :

   a.       p ≡ 10 habis dibagi 5

            q ≡ 8 adalah bilangan prima

   p ∨ q ≡ 10 habis dibagi 5 atau 8 adalah bilangan prima

   b.       p ≡ 9 adalah bilangan ganjil

        q ≡ 9 adalah bilangan prima
   p ∨ q ≡ 9 adalah bilangan ganjil atau prima
        Disjungsi akan bernilai salah jika kedua pernyataan bernilai salah,

   selain itu bernilai benar.

        Tabel kebenaran disjungsi adalah sebagai berikut :

        p          q      p∨q

        B         B         B
        B         S         B
        S         B         B
        S         S         S
                                                                               28




5. Implikasi

          Implikasi adalah suatu pernyataan majemuk dengan kata hubung

 “jika…maka…” yang dilambangkan dengan “ ⇒ ”. Jika diketahui dua

 pernyataan p dan q maka dapat digabungkan menjadi sebuah implikasi

 yaitu “ p ⇒ q ” yang di baca “ jika p maka q ”. Pernyataan p

 dinamakan antaseden dan pernyataan q dinamakan konsekuen.

 Contoh 7 :
 1.   p≡ x=2

      q ≡ x2 = 4

      p ⇒ q ≡ Jika x = 2 maka x 2 = 4

 2.   p ≡ x2 = 4
      q≡ x=2

      p ⇒ q ≡ jika x 2 = 4 maka x = 2
          Implikasi akan bernilai salah jika antaseden bernilai benar dan

 konsekuen bernilai salah, selain itu bernilai benar.

          Tabel kebenaran Implikasi adalah sebagai berikut :

      p          q       p⇒q

      B          B            B
      B          S            S
      S          B            B
      S          S            B


          Implikasi   logis       adalah   apabila   diberikan   suatu   implikasi

  p ( x ) ⇒ q ( x ) , tiap penggantian nilai x yang menyebabkan pernyataan
                                                                             29




  p ( x ) menjadi benar akan menyebabkan pernyataan q ( x ) juga bernilai

 benar.

 Contoh 8 :

 Diketahui p( x ) = x 2 − 1 = 0 dan q : 2 × 3 = 6

 Tentukan x agar p ( x ) ⇒ q bernilai benar.

 Penyelesaian :

 Oleh karena q bernilai benar, maka untuk p ( x ) bernilai benar atau salah,

 implikasi p ( x ) ⇒ q tetap bernilai benar. (lihat tabel kebenaran implikasi)

       x          p(x )           q            p(x ) ⇒ q

    x = ±1          B             B                 B

    x ≠ ±1          S             B                 B

 Jadi p ( x ) ⇒ q atau ( x 2 − 1 = 0) ⇒ (2 × 3 = 6) bernilai benar untuk semua

  x∈R.

 Contoh lain implikasi logis adalah :

 1. Jika x + 1 = 5 maka x 2 = 16

 2. Jika ABC segitiga sama sisi maka sudut-sudutnya sama besar

 3. Jika x bilangan bulat maka 2 x + 1 bilangan ganjil

6. Biimplikasi

       Biimplikasi adalah suatu pernyataan majemuk dengan kata hubung “

 jika dan hanya jika” yang dilambangkan dengan “ ⇔ ”. jika diketahui dua

 pernyataan p dan q maka dapat digabungkan menjadi sebuah biimplikasi

 yaitu “ p ⇔ q ” yang di baca “ p jika dan hanya jika q ”. Biimplikasi
                                                                      30




sering disebut juga dengan implikasi dua arah, sehingga dapat dinyatakan

p ⇔ q ≡ ( p ⇒ q ) ∧ (q ⇒ p ).

Contoh 9 :

1.   p ≡ Segitiga ABC adalah segitiga sama sisi
     q ≡ segitiga ABC sudut-sudutnya sama besar
     p ⇔ q ≡ Segitiga ABC adalah segitiga sama sisi jika dan hanya jika

               segitiga ABC sudut-sudutnya sama besar

2.   p ≡ x 2 − 6x + 8 = 0
     q ≡ x = 2 atau x = 4

     p ⇔ q ≡ x 2 − 6 x + 8 = 0 jika dan hanya jika x = 2 atau x = 4
      Biimplikasi akan bernilai benar jika nilai kebenaran kedua

pernyataan sama. Nilai kebenaran kedua pernyataan sama-sama benar atau

sama-sama salah biimplikasi bernilai benar.

      Tabel kebenaran biimplikasi adalah sebagai berikut :

       p        q       p⇔q

       B       B            B
       B        S           S
       S       B            S
       S        S           B



      Biimplikasi logis adalah apabila diberikan suatu biimplikasi

p ( x ) ⇔ q (x ) , tiap penggantian nilai x yang menyebabkan pernyataan

p ( x ) menjadi benar akan menyebabkan pernyataan q ( x ) juga bernilai

benar demikian juga sebaliknya.
                                                                               31




 Contoh 10 :

 Tentukan nilai           x   agar biimplikasi “ 6 x − 4 = 8   jika dan hanya

 jika 3 + 7 ≤ 10 ” bernilai benar.

 Penyelesaian :

 6x − 4 = 8

  ⇔ 6x = 8 + 4
              12
      ⇔x=
               6
          x=2
 “ 3 + 7 ≤ 10 ” adalah pernyataan yang benar.
 Agar kalimat “ 6 x − 4 = 8 jika dan hanya jika 3 + 7 ≤ 10 ” menjadi
 biimplikasi yang bernilai benar maka haruslah x = 2 .
 Contoh lain biimplikasi logis adalah :

 1. Segitiga ABC sama sisi jika dan hanya jika ∠A = ∠B = ∠C

 2.   a
          log b = c ⇔ b = a c

 3. x 2 − 8 x + 15 = 0 ⇔ ( x = 3 ∨ x = 5)

7. Tautologi dan Kontradiksi

          Sebelum kita tahu apakah tautology dan kontradksi itu, perhatikan

   tabel kebenaran dari pernyataan majemuk berikut :

      p       q     ~ p       ~q    p⇒q      ( p ⇒ q )∧ ~ q    [( p ⇒ q )∧ ~ q ] ⇒~ p
      B       B      S        S       B            S                     B

      B       S      S        B       S            S                     B

      S       B      B        S       B            S                     B

      S       S      B        B       B            B                     B
                                                                                       32




       Terlihat pada tabel kebenaran kolom terakhir bahwa nilai

   kebenarannya semua benar. Artinya selalu benar untuk semua

   kemungkinan             nilai       kebenaran      dari    pernyataan-pernyataan

   pembentuknya. Pernyataan majemuk yang demikian (nilai kebenarannya

   benar semua) disebut dengan tautologi. Sedangkan keadaan sebaliknya

   (nilai kebenarannya salah semua) disebut dengan kontradiksi. Salah satu

   contoh kontradiksi adalah pernyataan majemuk “ [( p ∨ q ) ∧ (~ p ∧ ~ q )] ”

       Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel kebenaran berikut :

     p       q        ~ p      ~q       p∨q    (~   p∧ ~ q)   [( p ∨ q ) ∧ (~   p ∧ ~ q )]

     B       B         S           S      B           S                   S

     B       S         S           B      B           S                   S

     S       B         B           S      B           S                   S

     S       S         B           B      S           B                   S



       Terlihat pada tabel kebenaran kolom terakhir bahwa nilai

   kebenarannya salah semua. Maka benar bahwa pernyataan majemuk

   [( p ∨ q ) ∧ (~   p ∧ ~ q )] adalah kontradiksi.

8. Konvers, invers dan kontraposisi

       Untuk mengetahui apakah konvers, invers dan kontraposisi itu,

   perhatikanlah pernyataan-pernyataan implikasi berikut :

   a. “Jika ABCD adalah persegi maka ABCD sisi-sisinya sama panjang”

       Implikasi di atas misalkan diketahui:

         p ≡ ABCD adalah persegi
                                                                       33




     q ≡ ABCD sisi-sisinya sama panjang

     q ⇒ p ≡ “Jika ABCD sisi-sisinya sama panjang maka ABCD adalah

                persegi”

b.       ~ p ⇒ ~ q ≡ “Jika ABCD bukan persegi maka ABCD sisi-sisinya

                      tidak sama panjang”

c.       ~ q ⇒ ~ p ≡ “Jika ABCD sisi-sisinya tidak sama panjang maka

                      ABCD bukan persegi”

     Hubungan dari pernyataan-pernyataan di atas adalah :

1. Pernyataan : q ⇒ p disebut konvers dari implikasi p ⇒ q

2. Pernyataan : ~ p ⇒ ~ q disebut invers dari implikasi p ⇒ q

3. Pernyataan : ~ q ⇒ ~ p disebut kontraposisi dari implikasi p ⇒ q

     Tabel kebenaran implikasi, konvers, invers dan kontraposisi

     p      q   ~ p     ~q     p⇒q       q⇒ p        ~ p ⇒~ q   ~ q ⇒~ p

     B      B    S         S     B          B           B          B

     B      S    S         B      S         B           B          S

     S      B    B         S     B          S           S          B

     S      S    B         B     B          B           B          B



     Dari tabel kebenaran di atas terlihat bahwa :

1. Nilai kebenaran p ⇒ q sama dengan nilai kebenaran ~ q ⇒ ~ p , ini

     berarti implikasi ekuivalen dengan kontraposisinya
                                                                          34




   2. Nilai kebenaran p ⇒ q sama dengan nilai kebenaran ~ p ⇒ ~ q , ini

       berarti konvers ekuivalen dengan invers dari suatu implikasi

   3. Nilai kebenaran p ⇒ q tidak sama dengan q ⇒ p dan ~ p ⇒ ~ q ,

       ini berarti implikasi tidak ekuivalen dengan konvers dan inversnya.

9. kuantor

   Ada dua macam kalimat berkuantor, yaitu kuantor universal dan kuantor

   eksistensial.

 a. Kuantor Universal

         Kuantor Universal adalah pernyataan yang menggunakan kata

     semua atau setiap.

     Contoh 11 :

     1. Semua bilangan real jika dikuadratkan tak pernah bernilai negatif

     2. Setiap bilangan genap habis dibagi 4

     3. Semua bilangan positif lebih dari nol

     4. Setiap persegi merupakan bujur sangkar

         Kuantor Universal dilambangkan dengan :

     “ ∀x, p ( x ) ” di baca “untuk semua x berlakulah p ( x ) ” atau “untuk

     setiap x berlakulah p ( x ) ”.

     Atau :

     “ ∀x ∈ S , p ( x ) ”di baca “untuk semua x ∈ S berlakulah p ( x ) ” atau

     “untuk setiap x ∈ S berlakulah p ( x ) ”.
                                                                 35




Contoh 12 :

“Setiap x anggota bilangan positif berlakulah x 2 > x ”

Pernyataan tersebut dapat ditulis sebagai berikut :

∀x > 0, x 2 > x

Nilai kebenaran dari Kuantor universal

Pernyataan berkuantor universal akan bernilai benar apabila tidak

terdapat satupun penyangkal yang membuat pernyataan itu tidak benar.

Dan akan bernilai salah apabila terdapat (minimal satu) penyangkal

yang membuat pernyataan itu tidak benar.

Contoh 13 :

Tentukan nilai kebenaran dari pernyataan :

a. Semua segitiga jumlah besar ketiga sudutnya adalah 180 0

b. Setiap bilangan asli adalah bilangan cacah

c. ∀x ∈ R, x 2 > 2 x

Jawab :

a. Benar, karena tidak ada satupun segitiga yang jumlah besar ketiga

   sudutnya tidak 180 0 .

b. Benar, karena anggota himpunan asli adalah himpunan bagian dari

   anggota himpunan bilangan cacah.

c. Salah, karena ada x ∈ R sehingga x 2 > 2 x , salah satunya adalah

    1
    2
                                                                         36




b. Kuantor Eksistensial

       Kuantor Eksistensial adalah pernyataan yang menggunakan kata

   ada atau beberapa.

   Contoh 14 :

   a. Ada bilangan prima genap

   b. Ada x anggota bilangan rasional memenuhi x 2 + 4 x = 1

   Kuntor Eksistensial di lambangkan dengan :

   “ ∃x, p ( x ) ” di baca “beberapa x berlakulah p ( x ) ” atau “ada x

   berlakulah p ( x ) ”.

   Atau :

   “ ∃x ∈ s, p( x ) ” di baca “beberapa x ∈ s berlakulah p ( x ) ” atau “ada

   x ∈ s berlakulah p ( x ) ”.

   Contoh 15 :

   “Ada x anggota bilangan real berlakulah x 2 + 2 x − 4 = 0 ”

   pernyataan tersebut dapat di tulis sebagai berikut:

   ∃x ∈ R , x 2 + 2 x − 4 = 0

   Nilai kebenaran dari kuantor Eksistensial

   Pernyataan berkuantor eksistensial akan bernilai benar apabila terdapat

   (minimal satu) yang membuat pernyataan itu benar. Dan akan bernilai

   salah apabila tidak terdapat satupun yang membuat pernyataan itu

   benar.
                                                37




Contoh 16 :

Tentukan nilai kebenaran pernyataan berikut :

a. Ada bilangan ganjil yang habis dibagi dua

b. Ada x yang memenuhi x 2 − 8 x + 16 = 0

Jawab:

Jawab:

a. Intuisi : salah

   Bukti :

   Ambil sembarang x ∈ bilangan ganjil

   Tulis x = 2n + 1 untuk suatu n ∈ B

   Jelas x tak habis dibagi 2

   Jadi ∀x ∈ С, 2 tidak membagi x

   Jadi pernyataan salah.

b. Bukti :

    x 2 − 2.x.4 + 16 = 0

    ⇔ (x − 4) = 0
              2




    ⇔x=4

   Pilih x = 4

   Jelas 4 2 − 8.4 + 16 = 16 − 32 + 16 = 0

   Jadi ∃x ∈ R ∋ x 2 − 8 x + 16 = 0

   Jadi pernyataan benar.
                                                                            38




c. Ingkaran Pernyataan Berkuantor

        Dalam pembahasan sebelumnya telah diuraikan tentang ingkaran

   suatu pernyataan. Untuk memahami ingkaran dari pernyataan

   berkuantor, perhatikan contoh-contoh ingkaran pernyataan berikut :

   1.      p ≡ Semua jajargenjang adalah segiempat

         ~ p ≡ Tidak semua jajargenjang adalah segiempat

         ~ p ≡ Ada jajargenjang tidak segiempat

   2.     p ≡ Semua bilangan jika dipangkatkan 0 akan bernilai sama

               dengan 1.

        ~ p ≡ Tidak semua bilangan jika dipangkatkan 0 akan bernilai

                sama dengan 1.

        ~ p ≡ Ada bilangan jika dipangkatkan 0 tidak bernilai sama

                dengan1

   3.     p ≡ semua bilangan memiliki invers perkalian

        ~ p ≡ Tidak ada bilangan memiliki invers perkalian

        ~ p ≡ Semua bilangan tidak memiliki invers perkalian

   4.     p ≡ Ada Segitiga sama kaki yang bukan segitiga sama sisi

        ~ p ≡ Tidak ada Segitiga sama kaki yang bukan segitiga sama sisi

        ~ p ≡ Semua Segitiga sama kaki bukan segitiga sama sisi

        Dari contoh diatas dapat disimpulkan bahwa

        ~ [∀x, p ( x )] ≡ ∃x, ~ p( x ) dan ~ [∀x, p ( x )] ≡ ∃x, ~ p( x )
                                                                    39




10. Penarikan kesimpulan (argumen)

      Suatu argumentasi dikatakan sah (valid) jika dan hanya jika

   konjungsi dari premis-premisnya benar. Dengan kata lain, jika bentuk

   implikasi dari argumentasi tersebut merupakan suatu tautology, maka

   argumentasi tersebut sah.

   1. Modus Ponens

       p⇒q                (premis 1)

       p                  (premis 2)

      ∴q                  (kesimpulan/konklusi)

   2. Modus Tollens

       p⇒q                (premis 1)

       ~q                 (premis 2)

      ∴~ p                (kesimpulan/konklusi)

   3. Silogisme

       p⇒q                (premis 1)

       q⇒r                (premis 2)

      ∴p⇒r                (kesimpulan/konklusi)

      Dengan menggunakan tabel kebenaran argumentasi ini dapat dikaji

      sebagai berikut :
                                                                            40




               P         Q        R       P⇒Q         Q⇒R            P⇒R

               B         B        B         B            B              B

               B         B         S        B            S              S

               B         S        B         S            B              B

               B         S         S        B            B              S

               S         B        B         B            B              B

               S         B         S        B            S              B

               S         S        B         B            B              B

               S         S         S        B            B              B



C.   Kerangka Berfikir

        Kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis merupakan

     kompetensi hasil belajar matematika yang dituntut oleh kurikulum 2004.

     kedua kemampuan tersebut merupakan bagian dari kemampuan berfikir

     matematis tingkat tinggi. Agar kemampuan berfikir matematis tingkat tinggi

     berkembang, maka pembelajaran harus menjadi lingkungan dimana siswa

     dapat terlibat secara aktif dalam banyak kegiatan matematis yang

     bermanfaat.

        Belajar dalam kelompok kecil dengan strategi Think Talk Write

     memberikan kesempatan kepada siswa         untuk memulai belajar dengan

     memahami permasalahan terlebih dahulu, kemudian terlibat secara aktif

     dalam diskusi kelompok, dan akhirnya menuliskan dengan bahasa sendiri

     hasil belajar yang diperolehnya. Kemampuan komunikasi dan pemecahan
                                                                              41




     masalah matematis siswa yang belajar dalam kelompok kecil dengan

     strategi Think Talk Write lebih baik dibandingkan dengan siswa yang belajar

     dengan cara konvensional.

        Aktivitas siswa pada pembelajaran dalam kelompok kecil dengan

     strategi Think Talk Write adalah baik. Siswa beserta guru menunjukkan

     sikap positif terhadap pembelajaran ini (Helmaheri, 2005: 1).



D.   Hipotesis Tindakan

          Berdasarkan permasalahan dan latar belakang yang telah diuraikan

     sebelumnya bahwa agar kemampuan berfikir matematis tingkat tinggi

     berkembang, maka pembelajaran harus menjadi lingkungan dimana siswa

     dapat terlibat secara aktif dalam banyak kegiatan matematis yang

     bermanfaat.

          Atas dasar pemikiran di atas, maka hipotesis dari penelitian ini adalah

     “melalui belajar dalam kelompok kecil dengan strategi Think Talk Write

     dapat meningkatkan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah siswa

     dalam belajar matematika siswa kelas X SMA Negeri 2 kudus.
                                  BAB III

                           METODE PENELITIAN



A.   Lokasi Penelitian

          Tempat penelitian adalah SMA Negeri 2 Kudus



B.   Subyek Penelitian

          Subyek penelitian adalah siswa kelas X SMA Negeri 2 Kudus tahun

     pelajaran 2006/2007



C.   Metode Pengumpulan Data

     a.    Metode Observasi

               Metode ini digunakan untuk mengamati kegiatan guru dan siswa

           dalam proses pembelajaran sehingga dapat diketahui apakah proses

           pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan komunikasi siswa.

     b.    Metode Tes Evaluasi

               Metode ini digunakan untuk mengukur hasil belajar matematika

           siswa.

     c.    Metode Angket

               Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang kemampuan

           komunikasi siswa terhadap matematika. Metode angket yang

           digunakan adalah angket langsung yaitu daftar pertanyaan yang




                                    42
                                                                            43




           diberikan langsung kepada siswa untuk diminta pendapat tentang

           keadaan dirinya. Data yang diperoleh dari angket berupa skor.

     d.    Lembar Observasi

               Lembar observasi ini digunakan untuk memperoleh data berupa

           aktivitas guru dan siswa dalam proses pembelajaran.



D.   Tes

           Tes sebagai salah satu metode pengumpulan data, memegang peranan

     yang cukup penting . dengan memberikan tes akan di dapat refleksi hasil

     dari penelitian yang telah dilaksanakan.



E.   Prosedur Penelitian

           Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini adalah :

     1.    Data kemampuan komunikasi siswa dalam memecahkan masalah

           matematis diambil dari lembar observasi dan angket (siklus 1 sampai

           siklus 3).

     2.    Data tentang proses belajar mengajar pada saat dilaksanaknnya

           tindakan dengan lembar observasi.

     3.    Data tentang hasil belajar diambil dari tes tertulis dan pengamatan

           proses belajar siswa.

     4.    Data tentang refleksi diri dan perubahan-perubahan yang terjadi di

           kelas diambil dari jurnal harian dan catatan diskusi seluruh anggota

           peneliti.
                                                                               44




F.   Rencana Penelitian

          Penelitian tindakan kelas ini dirancang dalam tiga siklus. Setiap siklus

     ada empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, refleksi, dan

     dilaksanakan dengan kolaborasi partisipatif antara guru dan mahasiswa

     (peneliti). Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga siklus karena adanya

     keterbatasan waktu.

     Siklus 1

     1.   Perencanaan

                Pada   tahap       perencanaan,   dilakukan   penyusunan   rencana

          pembelajaran (RP) dengan kolaborasi antara mahasiswa dan guru

          bidang studi matematika yang bersangkutan. Penyusunan rencana

          pengajaran disertai pula dengan penyusunan instrumen penelitian yang

          berupa lembar observasi (untuk guru dan siswa), LKS (Lembar

          kegiatan Siswa), angket dan tes tertulis atau evaluasi 1 dan kunci

          jawaban evaluasi 1 (untuk siswa).

     2.   Implementasi

          a. Guru menerangkan materi secara garis besar kepada peserta didik.

          b. Peserta didik diarahkan untuk memahami permasalahan matematis

                terlebih dahulu.

          c. Kemudian peserta didik terlibat secara aktif dalam diskusi

                kelompok

          d. Peserta didik diberi tugas untuk menuliskan hasil diskusinya

                dengan bahasa sendiri hasil belajar yang diperolehnya.
                                                                        45




 3.   Observasi

         Peneliti mengamati jalannya proses pembelajaran, menilai

      kemampuan guru dalam mengelola dan melaksanakan pembelajaran

      dengan lembar observasi untuk guru, serta menilai kemampuan siswa

      dan keterampilan proses dengan menggunakan lembar komunikasi dan

      kerjasama untuk siswa.

 4.   Refleksi

         Mendiskusikan hasil pengamatan untuk perbaikan pada siklus

      kedua. Refleksi merupakan analisis hasil pengamatan dan evaluasi dari

      tahapan-tahapan dalam siklus 1. refleksi dilaksanakan segera setelah

      pelaksanaan selesai. Siklus berikutnya dilaksanakan dengan tahapan

      yang sama dengan siklus 1, dimana perencanaan pembelajaran

      dilakukan dengan memperhatikan hasil refleksi siklus sebelumnya

      untuk mengurangi kendala-kendala yang dialami pada siklus

      sebelumnya.

      Deskripsi Pelaksanaan Siklus


         Perencanaan                                Implementasi




           Refleksi                                   Observasi



keterangan :             siklus awal

                         siklus ulang
                                                                              46




G.   Indikator Keberhasilan

        Indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini ditunjukkan dengan:

     1. Adanya peningkatan kemampuan komunikasi dalam pembelajaran

        matematika dari siklus 1 sampai siklus 3 yang dapat dilihat melalui

        angket kemampuan komunikasi siswa.

     2. Adanya peningkatan hasil belajar matematika dari siklus 1 sampai siklus

        3 yang dapat dilihat dari hasil evaluasi yang diberikan.

     3. Komunikasi dan kerjasama siswa dalam pembelajaran ≥75% yang

        diukur dengan lembar observasi komunikasi dan kerjasama siswa.

     4. Secara klasikal 85% siswa telah menguasai materi pembelajaran dan

        secara individu menguasai pelajaran 65%.
                                   BAB IV

                 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN



A. Hasil Penelitian dan Pembahasan Siklus I

   1. Hasil Penelitian Siklus I

      Pada siklus I ini diperoleh pengamatan sebagai berikut :

      a.    Pada kegiatan belajar mengajar dapat diperoleh:

            1)    Masih ada beberapa siswa yang kurang memperhatikan saat

                  guru menjelaskan materi.

            2)    Masih ada beberapa siswa yang canggung dalam mengajukan

                  pertanyaan sehingga kemampuan komunikasi matematik siswa

                  belum optimal pada jalannya diskusi kelompok.

            3)    Masih ditemukan beberapa siswa yang tidak mau menjawab

                  pertanyaan karena kurangnya pemahaman matematik siswa

                  dalam belajar matematika.

            4)    Masih terdapat beberapa siswa yang tidak mau disuruh

                  mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS) atau hasil diskusi

                  kelompok kecil di papan tulis dan menjelaskan kepada teman-

                  temannya cara pemecahan masalah matematis pada LKS.

            5)    Melalui metode Think Talk Write kondisi pembelajaran lebih

                  tampak hidup dan menyenangkan, terlihat pada keinginan

                  siswa untuk menjelaskan hasil diskusi kelompoknya.




                                     47
                                                                            48




     6)   Melalui metode Think Talk Write pemahaman siswa terhadap

          materi pada pemecahan masalah matematis dan komunikasi

          matematis siswa lebih dapat ditingkatkan. Hal ini dapat dilihat

          pada hasil nilai diskusi kelompok kecil dan nilai tes kuis siswa.

b.   Pada pembentukan diskusi kelompok kecil siswa dapat dilihat:

     1)   Semua siswa menjalankan tugas guru sesuai ketentuan yaitu

          diskusi dengan kelompok kecil.

     2)   Masih terdapat beberapa siswa dalam menyelesaikan soal-soal

          pemecahan      masalah     belum     sesuai     dengan       prosedur

          penyelesaian, meskipun hasil akhirnya benar.

     3)   Masih     terdapat   beberapa      siswa      yang   salah     dalam

          menyelesaikan soal-soal.

     4)   Nilai tugas penyelesaian soal pemecahan masalah melalui

          diskusi pada kelompok kecil rata-rata kelas mencapai 84,24

          berdasarkan perhitungan pada lampiran 15. pada nilai tugas

          kelompok diperoleh nilai terendah 72 dan nilai tertinggi 90.

c.   Pada pemberian soal tes kuis siklus I diperoleh :

     1)   Semua siswa mengerjakan soal tes dengan tertib dan lancar.

     2)   Masih terdapat beberapa siswa yang mengerjakan soal belum

          selesai dengan prosedur penyelesaian, meskipun hasilnya

          benar.

     3)   Masih     terdapat   beberapa      siswa      yang   salah     dalam

          menyelesaikan soal-soal.
                                                                              49




        4)     Nilai tes soal kuis siklus I rata-rata mencapai 68,9 ini

               berdasarkan hasil perhitungan pada lampiran 17. pada nilai tes

               soal kuis siklus I diperoleh nilai terendah 50 dan nilai tertinggi

               80 sebanyak 4 siswa.

2. Pembahasan Siklus I

           Pada siklus ini dengan sub pokok bahasan pernyataan dan kalimat

   terbuka melalui belajar dalam kelompok kecil dengan strategi Think Talk

   Write yang diterapkan guru dalam pembelajaran nampak bahwa kondisi

   belajar siswa kurang kondusif. Hal ini ditandai dengan masih adanya

   beberapa siswa datang terlambat, suasana kelas tidak terkontrol sehingga

   dalam penerapan pembelajaran dengan cara pembentukan kelompok kecil

   dengan strategi Think Talk Write masih kurang efektif karena siswanya

   yang ramai dan tidak bisa dikendalikan. Hal ini dapat dilihat dari lembar

   observasi siswa siklus I pada Lampiran 16.

       Akibatnya, pada saat proses kegiatan belajar mengajar berlangsung

   perhatian siswa terhadap penjelasan dari guru kurang maksimal.

   Kecenderungan siswa untuk bermain sendiri ataupun malas-malasan

   dalam     mengikuti   pembelajaran     masih    nampak.     Hal   ini   dapat

   mengakibatkan hasil belajar siswa kurang maksimal.

       Selanjutnya, ketika guru selesai menjelaskan materi atau bahkan saat

   menjelaskan materi, guru selalu melakukan pendekatan-pendekatan secara

   emosional kepada siswa hal itu untuk meningkatkan keberanian siswa

   pada saat mengikuti pembelajaran. Namun, ketika guru memberi
                                                                         50




kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan tentang materi

yang belum dipahami, nampak kecanggungan, keraguan, dan ketakutan

siswa begitu jelas. Hal ini sesuai dengan kondisi siswa ketika di dalam

observasi lewat wawancara. Melihat hal ini, guru selalu memberi motivasi

kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang dirasa belum dipahami,

sehingga identifikasi terhadap kesulitan belajar dapat diketahui oleh guru.

    Begitu juga ketika siswa disuruh menjawab pertanyaan baik dari guru

atau temannya, nampak kecanggungan dan rasa tidak percaya diri pada

siswa begitu jelas. Melihat hal ini, guru memberi dorongan pada siswa

untuk mantap dalam menjawab dan tidak usah takut salah dalam

menjawab, dan langkah guru untuk membangkitkan motivasi siswa untuk

mau menjawab, guru selalu memberi penghargaan kepada setiap siswa

yang berani menjawab pertanyaan.

    Pada pembelajaran selanjutnya, guru menunjuk salah satu siswa untuk

mengerjakan soal di papan tulis. Namun keberanian siswa masih kurang.

Ketika guru mempersilahkan kepada siswa siapa yang mau maju untuk

menyelesaikan soal di papan tulis, tidak ada satupun siswa yang beraani

unjuk jari. Maka guru menunjuk salah satu siswa untuk menyelesaikan

soal di papan tulis. Ada beberapa siswa yang tidak mau ketika disuruh

maju ke papan tulis. Hal ini akibat dari ketakutaan daan rasa percaya diri

pada siswa yang masih kurang. Hal ini guru selalu meyakinkan kepada

siswa untuk berani mengerjakan soal-soal di papan tulis. Dan penghargaan

kepada siswa yang berani mengerjakan dan menjelaskan kepada teman-
                                                                        51




temannya cara penyelesaian soal yang ia peroleh. Hal ini dapat

membangkitkan motivasi dan komunikasi siswa dalam pemecahan

masalah matematis.

    Melalui belajar dalam kelompok kecil dengan strategi Think Talk

Write, kondisi pembelajaran lebih tampak hidup dan menyenangkan. Hal

ini dapat dilihat dari antusias siswa bila saat mengikuti proses

pembelajaran, meskipun masih ditemukannya beberapa siswa yang belum

siap, keaktifan siswa yang acuh dalam kegiatan belajar mengajar mencapai

4,87%, siswa yang sedang mencapai 60,98% sedangkan yang aktif

mencapai 34,15% pada siklus I ini.

    Selain itu, melalui belajar dalam kelompok kecil dengan strategi Think

Talk Write pemahaman matematik dan komunikasi matematik siswa

terhadap materi pembelajaran lebih dapat ditingkatkan hal ini dapat dilihat

pada hasil nilai diskusi kelompok dan tes kuis pada lampiran 15 dan

lampiran 17.

    Pada saat guru memberikan tugas kelompok kepada siswa, nampak

seluruh siswa mengerjakan tugas dan mendiskusikannya dengan baik.

Meskipun ditemukan ada siswa yang tidak mengerjakan tugas dan hanya

main-main dalam berdiskusi. Meskipun demikian guru tetap memantau

jalannya diskusi agar lancar dan hasil yang diperoleh baik.

    Masih adanya beberapa siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas belum

sesuai dengan prosedur penyelesaian. Meskipun hasil akhirnya benar, hal

ini dapat dilihat dari hasil pekerjaan siswa. Melihat hal ini guru selalu
                                                                        52




menekankan perhatian siswa pada saat pembahasan soal-soal latihan,

sehingga siswa paham bagaimaana mengerjakan soal yang sesuai

penyelesaian dan benar.

    Masih adanya beberapa siswa yang masih salah dalam menyelesaikan

soal-soal, hal ini disebabkan karena pemahan matematis dan komunikasi

siswa yang masih kurang karena tidak berani menyampaikan kesulitan

yang dihadapinya, maka guru selalu memberi kesempatan kepada siswa

untuk menyampaikan kesulitan yang dihadapi, bagian mana dari materi

yang terasa sulit. Upaya ini selalu dilakukan oleh guru pada setiap selesai

menjelaskan materi atau membahas soal. Hal ini diupayakan untuk

meningkatkan tingkat pemahaman matematik dan komunikasi matematik

siswa dalam belajar matematika.

    Ketika akan diadakan tes siklus I, sebelumnya guru memberikan

kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang belum

dipahami. Beberapa siswa yang mengajukan pertanyaan. Hal ini

menunjukkan antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran semakin

meningkat. Dengan demikian, diharapkan tingkat pemahaman matematik

dan komunikasi matematik siswa dalam belajar matematika dapat

meningkat.

    Melihat hasil tes siklus I, maka tampak bahwa permasalahan belajar

siswa selama diterapkan belajar dalam kelompok kecil dengan strategi

Think Talk Write dapat berkurang. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar

siswa kelas X.3 dengan rata-rata nilai diskusi kelompok 84,24 dan rata-
                                                                           53




      rata nilai tes kuis siswa mencapai 68,9. dengan pengaktifan dan

      pengefektifan belajar dalam kelompok kecil dengan strategi Think Talk

      Write tingkat komunikasi matematik siswa dengan guru semakin baik,

      sehingga pemahaman matematik siswa dalam pembelajaran lebih tampak

      menyenangkan, pemahaman konsep lebih mudah dipahami oleh siswa.

          Masih ditemukannya beberapa siswa yang mencapai hasil belajar yang

      kurang maksimal. Hal ini disebabkan karena siswa tersebut tidak aktif

      dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dan juga ketidaksenangannya

      terhadap mata pelajaran matematika. Jauh dari pada itu, nampak motivasi

      belajar siswa tersebut tidak ada. Walaupun demikian, guru selalu memberi

      motivasi akan tanggung jawab pendidikan siswa tersebut.

          Perlu diungkapkan, bahwa hasil belajar kelas X.3 rata-rata nilai

      diskusi kelompok 84,24 dan rata-rata nilai tes kuis siswa mencapai 68,9

      pada materi Logika Matematika dengan sub pokok bahasan Kalimat

      terbuka, konjungsi, disjungsi, dan negasi.



B. Hasil Penelitian dan Pembahasan Siklus II

   1. Hasil Penelitian Siklus II

          Berdasarkan pengamatan pada saat pembelajaran di kelas dengan

      pembaharuan berdasarka refleksi siklus I dengan tindakan yang sama dan

      materi yang berbeda, optimalisasi cara belajar dalam kelompok kecil

      dengan strategi Think Talk Write lebih dapat ditingkatkan, sehingga

      suasana pembelajaran labih efektif dan lebih hidup. Dengan demikian
                                                                            54




pemahaman matematik dan komunikasi matematik siswa lebih dapat

ditingkatkan. Selain itu, siswa sudah bisa memahami kesulitan-kesulitan

yang dihadapinya.

    Hasil Penelitian siklus II, secara rinci dapat dikelompokkan sebagai

berikut :

a. Pada kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dapat diperoleh :

    1)      Perhatian siswa terhadap penjelasan materi pelajaran guru sudah

            baik.

    2)      Keberanian    siswa   untuk     mengajukan     pertanyaan     sudah

            meningkat.

    3)      Semua siswa sudah berani menjawab pertanyaan baik dari guru

            maupun temannya.

    4)      Semua siswa sudah berani mengerjakan tugas di papan tulis.

    5)      Melalui belajar dalam kelompok kecil dengan strategi Think Talk

            Write,   kondisi   pembelajaran      lebih   tampak   hidup    dan

            menyenangkan.

    6)      Melalui belajar dalam kelompok kecil dengan strategi Think Talk

            Write, pemahaman matematik dan komunikasi matematik siswa

            dapat ditingkatkan. Hal ini dapat dilihat pada hasil nilai diskusi

            kelompok dan nilai tes kuis siswa.

b. Pada pembentukan diskusi kelompok kecil siswa dapat dilihat:

    1)      Semua siswa menjalankan tugas guru sesuai ketentuan yaitu

            diskusi dengan kelompok kecil
                                                                            55




      2)    Masih terdapat beberapa siswa dalam menyelesaikan soal-soal

            pemecahan masalah belum sesuai dengan prosedur penyelesaian,

            meskipun hasil akhirnya benar.

      3)    Masih terdapat beberapa siswa yang salah dalam menyelesaikan

            soal-soal.

      4)    Nilai tugas penyelesaian soal pemecahan masalah melalui diskusi

            pada kelompok kecil rata-rata kelas mencapai 80,85 berdasarkan

            perhitungan pada lampiran 25. pada nilai tugas kelompok

            diperoleh nilai terendah 65 dan nilai tertinggi 100.

   c. Pada pemberian soal tes kuis siklus II diperoleh :

      1)    Semua siswa mengerjakan soal tes dengan tertib dan lancar.

      2)    Masih terdapat beberapa siswa yang mengerjakan soal belum

            selesai dengan prosedur penyelesaian, meskipun hasilnya benar.

      3)    Masih terdapat beberapa siswa yang salah dalam menyelesaikan

            soal-soal.

      4)    Nilai tes soal kuis siklus II rata-rata mencapai 68,78 ini

            berdasarkan hasil perhitungan pada lampiran 27. pada nilai tes

            soal kuis siklus II diperoleh nilai terendah 50 dan nilai tertinggi

            80 sebanyak 6 siswa.

2. Pembahasan Hasil Siklus II

       Pada Siklus II ini materi yang disampaikan adalah sub pokok bahasan

   Implikasi, Biimplikasi, Tautologi, kontradiksi, konvers, invers, dan

   kontraposisi. Melalui belajar dalam kelompok kecil dengan strategi Think
                                                                      56




Talk Write nampak bahwa kondisi pembelajaran lebih kondusif dan

efektif. Hal ini ditandai dengan semangat belajar siswa dan ketertiban

siswa mengikuti proses pembelajaran pada siklus II ini.

    Ketika Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berlangsung, nampak

keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran matematika

semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat dari kondisi siswa secara umum

saat pembelajaran berlangsung. Dimana tidak ditemukannya siswa yang

berbicara sendiri saat guru menyampaikan dan menjelaskan materi,

meskipun ada satu ataupun dua siswa yang berbicara atau bermain, itu

hanya untuk melepaskan kepenatan siswa tersebut.

    Meningkatkan keefektifan belajar dalam kelompok kecil dengan

strategi Think Talk Write pada siklus II. Nampak keberanian dan keaktifan

siswa dalam mengajukan pertanyaan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah

siswa yang mengajukan pertanyaan semakin meningkat. Ini akibat dari

motivasi yang diberikan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran berupa

pemberian penghargaan. Upaya guru untuk membangkitkan kesadaran

siswa akan pentingnya komunikasi matematik, dapat dirasakan oleh siswa.

Sehingga sekian anak yang tunjuk jari untuk menerangkan atau

menjelaskan pemecahan masalah matematis dalam diskusi kelompok

siswa semakin meningkat dan menunjukkan angka yang maksimal.

    Disamping itu, keberanian siswa untuk menjawab pertanyaan semakin

meningkat pula. Meskipun masih ada jawaban dari siswa yang salah. Hal

ini dapat diperbaiki dengan mengingatkan kepada siswa untuk terus
                                                                          57




belajar dan memperhatikan penjelasan guru ketika proses pembelajaran

berlangsung.

    Pada siklus II ini, semua siswa sudah berani mengerjakan tugas di

papan tulis. Nampak ketika guru menyuruh kepada siswa untuk tunjuk jari,

banyak siswa yang tunjuk jari untuk menyelesaikan soal di papan tulis,

meskipun jawaban dari salah satu siswa masih ada yang salah, itu penulis

rasakan wajar karena kemampuan setiap anak didik berbeda.

    Melalui belajar dalam kelompok kecil dengan strategi Think Talk

Write kondisi pembelajaran tamapak lebih hidup dan menyenangkan. Hal

ini dapat dilihat dari antusias siswa pada saat mengikuti proses

pembelajaran. Sehingga pemahaman matematik pada pemecahan masalah

matematis siswa rata-rata sudah benar. Hal ini dapat dibuktikan dengan

meningkatkan hasil nilai tugas diskusi kelompok dan tes kuis siswa.

keaktifan siswa yang acuh dalam kegiatan belajar mengajar mencapai

7,31%, siswa yang sedang mencapai 51,22% sedangkan yang aktif

mencapai 41,46% pada siklus II ini.

    Pada siklus II ini, hasil penyelesaian tugas dalam bentuk soal-soal

pemecahan masalah matematis yang pengerjaannya melalui belajar dalam

kelompok kecil dengan strategi Think Talk Write dapat ditingkatkan. Hal

ini dapat dilihat dari rata-rata nilai tugas diskusi kelompok pada siklus II.

Dengan demikian, kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa dapat teratasi

dengan penggunaan metode Think Talk Write dalam pembelajaran

matematika.
                                                                          58




    Memang masih ditemukannya beberapa kesalahan siswa dalam

menyelesaikan soal-soal tugas kelompok yang diberikan setelah

penjelasan materi oleh guru, itu dikarenakan kemampuan komunikasi dan

pemahaman matematik siswa pada soal pemecahan masalah matematis

masing-masing siswa berbeda.

    Meskipun demikian, hasil penyelesaian soal tes kuis siswa yang

diberikan pada akhir sub pokok bahasan dapat ditingkatkan, dan jika

dibandingkan dengan siklus I, siswa yang mengalami kesalahan dalam

mengerjakan soal, jumlahnya relatif sedikit.

    Dari pembahasan yang dilakukan secara menyeluruh, nampak bahwa

proses pembelajaran sudah lancar dan kondisi di dalam kelas sudah

kondusif. Sehingga upaya untuk meningkatkan hasil belajar dapat dicapai

sesuai dengan indikator keberhasilan.

    Secara umum tindakan yang dilakukan pada penelitian dari siklus I

sampai siklus II dapat diartikan bahwa pembelajaran matematika pada

pokok bahasan Logika Matematika dengan belajar dalam kelompok kecil

dengan stategi Think Talk Write pada kelas X.3 SMA Negeri 2 Kudus

telah berhasil. Walaupun demikian, pada setiap pembelajaran harus

didukung oleh kegiatan-kegiatan yang mampu meningkatkan aktivitas

belajar siswa di kelas agar guru dapat memberikan motivasi secara

langsung. Berdasarkan refleksi pada siklus II dari hasil tes soal kuis, dapat

dinyatakan bahwa siklus II belum mencapai hasil yang maksimal.
                                                                               59




      Sehingga diadakan refleksi lagi yaitu siklus III dengan sub pokok bahasan

      yang berbeda.



C. Hasil Penelitian dan Pembahasan Siklus III

   1. Hasil Penelitian Siklus III

           Berdasarkan pengamatan pada saat pembelajaran di kelas dengan

      pembaharuan berdasarkan refleksi siklus II dengan tindakan yang sama

      dan materi yang berbeda, optimalisasi cara belajar dalam kelompok kecil

      dengan strategi Think Talk Write lebih dapat ditingkatkan, sehingga

      suasana pembelajaran labih efektif dan lebih hidup. Dengan demikian

      pemahaman matematik dan komunikasi matematik siswa lebih dapat

      ditingkatkan. Selain itu, siswa sudah bisa memahami kesulitan-kesulitan

      yang dihadapinya.

           Hasil Penelitian siklus III, secara rinci dapat dikelompokkan sebagai

      berikut :

      a. Pada kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dapat diperoleh :

          1)      Perhatian siswa terhadap penjelasan materi pelajaran guru sudah

                  baik.

          2)      Keberanian   siswa   untuk   mengajukan     pertanyaan   sudah

                  meningkat.

          3)      Semua siswa sudah berani menjawab pertanyaan baik dari guru

                  maupun temannya.

          4)      Semua siswa sudah berani mengerjakan tugas di papan tulis.
                                                                         60




   5)    Melalui belajar dalam kelompok kecil dengan strategi Think Talk

         Write,   kondisi   pembelajaran      lebih     tampak   hidup   dan

         menyenangkan.

   6)    Melalui belajar dalam kelompok kecil dengan strategi Think Talk

         Write, pemahaman matematik dan komunikasi matematik siswa

         dapat ditingkatkan. Hal ini dapat dilihat pada hasil nilai diskusi

         kelompok dan nilai tes kuis siswa.

b. Pada pembentukan diskusi kelompok kecil siswa dapat dilihat:

   1)    Semua siswa menjalankan tugas guru sesuai ketentuan yaitu

         diskusi dengan kelompok kecil

   2)    Masih terdapat beberapa siswa dalam menyelesaikan soal-soal

         pemecahan masalah belum sesuai dengan prosedur penyelesaian,

         meskipun hasil akhirnya benar.

   3)    Masih terdapat beberapa siswa yang salah dalam menyelesaikan

         soal-soal.

   4)    Nilai tugas penyelesaian soal pemecahan masalah melalui diskusi

         pada kelompok kecil rata-rata kelas mencapai 90,83 berdasarkan

         perhitungan pada lampiran 35. pada nilai tugas kelompok

         diperoleh nilai terendah 70 dan nilai tertinggi 100.

c. Pada pemberian soal tes kuis siklus II diperoleh :

   1)    Semua siswa mengerjakan soal tes dengan tertib dan lancar.

   2)    Masih terdapat beberapa siswa yang mengerjakan soal belum

         selesai dengan prosedur penyelesaian, meskipun hasilnya benar.
                                                                              61




      3)    Masih terdapat beberapa siswa yang salah dalam menyelesaikan

            soal-soal.

      4)    Nilai tes soal kuis siklus II rata-rata mencapai 72,68 ini

            berdasarkan hasil perhitungan pada lampiran 37. pada nilai tes

            soal kuis siklus II diperoleh nilai terendah 50 dan nilai tertinggi

            90 sebanyak 1 siswa.

2. Pembahasan Hasil Siklus III

           Pada siklus III ini diperoleh hasil yang maksimal dalam penerapan

   belajar dalam kelompok kecil dengan strategi Think Talk Write.

   meningkatkan hasil nilai tugas diskusi kelompok dan tes kuis siswa.

   keaktifan siswa yang acuh dalam kegiatan belajar mengajar mencapai

   9,76%, siswa yang sedang mencapai 41,46% sedangkan yang aktif

   mencapai 48,78% pada siklus III ini.

        Dari diskusi kelompok siswa dalam pemecahan masalah matematis

   siswa diperoleh peningkatan rata-rata yaitu dari 80,85 menjadi 90,83. Dari

   Hasil tes soal kuis diperoleh peningkatan hasil rata-rata kelas dari siklus II

   yaitu 72,68.

        Hasil belajar siswa pada Siklus I berada pada tingkat sedang

   mendekati cukup, pada Siklus II hasil belajarnya masih berada pada

   tingkat kurang. dan pada siklus III mengalami peningkatan atau hasil yang

   mendekati maksimal.Aktivitas siswa dalam pembelajaran dalam kelompok

   kecil dengan strategi think-talk-write adalah baik. Siswa beserta guru

   menunjukkan sikap positif terhadap pembelajaran ini.
62
                                     BAB V

                                  PENUTUP

A.   Simpulan

          Berdasarkan hasil penelitian diperoleh simpulan bahwa melalui belajar

     dalam kelompok kecil dengan strategi Think Talk Write di SMA Negeri 2

     Kudus tahun pelajaran 2006/2007 mengalami peningkatan hasil belajar yang

     berkaitan dengan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah

     matematis siswa. Aktivitas siswa dalam belajar dalam kelompok kecil

     dengan strategi Think Talk Write adalah baik. Siswa dan guru menunjukkan

     sikap positif terhadap pembelajaran ini.



B.   Saran

          Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan

     dalam Bab IV maka dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut:

     1)    Model pembelajaran Think Talk Write dapat meningkatkan hasil

           belajar siswa kelas X.3 SMA Negeri 2 Kudus yang berkaitan dengan

           kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis siswa

           sehingga dianjurkan dalam penerapannya untuk kelas yang memiliki

           masalah yang sama.

     2)    Dalam kegiatan belajar mengajar guru lebih komunikatif dengan siswa

           agar dalam belajar matematika siswa mempunyai kemampuan

           komunikasi dan pemecahan masalah matematis.




                                      62
                                                                     63




3)   Agar tidak terjadi kejenuhan dalam belajar sebaiknya guru

     menciptakan lingkungan dimana siswa dapat terlibat secara aktif

     dalam banyak kegiatan matematis yang bermanfaat.

4)   Pada pemecahan masalah matematis melalui diskusi kelompok kecil

     sebaiknya siswa lebih berperan akif dalam kegiatan belajar mengajar

     dengan cara melatih keberanian siswa untuk mengeluarkan pendapat,

     bertanya dan menyampaikan hasil diskusi kelompok di depan

     temannya.

5)   Guru hendaknya dapat menerapkan pembelajaran melalui diskusi

     kelompok kecil dengan strategi Think Talk Write, sehingga dapat

     bermanfaat bagi keberhasilan belajar matematika pokok bahasan

     logika, dan merupakan cara yang efektif untuk menumbuhkan potensi

     siswa.

6)   Untuk    meningkatkan    kemampuan      siswa,     guru   hendaknya

     menggunakan metode pembelajaran dalam kelompok kecil dengan

     strategi Think Talk Write pada pokok bahasan logika matematika

     guru hendaknya berusaha menciptakan kondisi siswa untuk aktif

     dalam pembelajaran, kegiatan apersepsi dan motivasi perlu dilakukan

     untuk mendorong keaktifan siswa selama pembelajaran.
                                                                             64




                             DAFTAR PUSTAKA



Ansari, Bansu Irianto.2004. Abstrak Thesis 2005 Program Studi Pendidikan
         Matematika. Download dari. http://www. Google.com/search?q = cache
         : 6PJ4FCNVerUJ:ppsupi.org/abstrakmat 2005.html.


Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta.


Asikin, Moch. 2004. Dasar-dasar Proses Pembelajaran Matematika 1. Semarang:
         Pend. Matematika FMIPA Unnes.


Budimansyah, Dasim. 2002. Model Pembelajaran dan Penilaian. Bandung:
       Genesindo.


Chatarina Tri Anni dkk. 2004. Psikologi Belajar. Jakarta: Dikti.


DePorter, Bobbi dan Mike Hernacki. 1992. Quantum Learning. Bandung: Kaifa.


Helmaheri. 2005. Abstrak Thesis 2005 Program Studi Pendidikan Matematika.
        Download dari. http://www. Google.com/search?q = cache :
        6PJ4FCNVerUJ:ppsupi.org/abstrakmat 2005.html.


Hudojo,    Herman. 2005. Pengembangan           Kurikulum     dan   Pembelajaran
          Matematika. Malang: UM.


Natawidjaja, Rochman. 1982. Pembaharuan dalam Metode Pengajaran. Jakarta:
        Depdikbud.


Nasution, S. 1982. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar.
         Jakarta: Bumi Aksara.


Russefendi. 1980. Pengajaran Matematika untuk Sekolah Menengah. Jakarta:
        Depdikbud.
                                                                           65




Sindhunata. 2000. Membuka Masa Depan Anak-Anak Kita. Yogyakarta : Kanisius
        (Anggota IKAPI).


Sudjana, Nana. 1990. Penilaian Proses hasil belajar mengajar. Bandung: Remaja
         Rosdakarya.


W. Gulo. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo.
66

								
To top