skripsi PENGARUH POLA ASUH ORANGTUA TERHADAP KEMANDIRIAN SISWA DALAM BELAJAR PADA

Document Sample
skripsi PENGARUH POLA ASUH ORANGTUA TERHADAP KEMANDIRIAN SISWA DALAM BELAJAR PADA Powered By Docstoc
					PENGARUH POLA ASUH ORANGTUA TERHADAP KEMANDIRIAN
    SISWA DALAM BELAJAR PADA SISWA KELAS XI
      SMA NEGERI SUMPIUH KABUPATEN BANYUMAS
                TAHUN PELAJARAN 2005/2006




                          SKRIPSI
      Diajukan dalam rangka Menyelesaikan Studi Strata 1
           untuk Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan




                            Oleh :

               Nama        : Retno Dwi Astuti

               NIM         : 1314000018

               Jurusan     : Bimbingan dan Konseling / S1




              FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
            UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
                          2005
                         ABSTRAK
Retno Dwi Astuti, 2005. Pengaruh Pola Asuh Orangtua Terhadap Kemandirian
Siswa Dalam Belajar Pada Siswa Kelas XI SMA Negeri Sumpiuh Kabupaten
Banyumas Tahun Pelajaran 2005/2006.

        Skripsi ini ditulis dengan alasan bahwa pola asuh orang tua merupakan
faktor penting yang mempengaruhi kemandirian siswa dalam belajar, dari latar
belakang keluarga yang berbeda akan membentuk pola asuh orang tua yang
berbeda-beda dan diprediksikan dari pola asuh orang tua yang berbeda-beda itu
mempengaruhi kemandirian siswa dalam belajar. Secara kenyataan di SMA
Negeri Sumpiuh belum pernah diadakan penelitian tentang pengaruh pola asuh
orang tua terhadap kemandirian siswa dalam belajar. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui pengaruh pola asuh orang tua terhadap kemandirian
siswa dalam belajar.
        Variabel dalam penelitian ini ada dua yaitu pola asuh Otoriter (X1), pola
asuh demokratis (X2), pola asuh permisive (X3) sebagai variabel bebas dan
kemandirian siswa dalam belajar (Y) kriterium sebagai variabel terikat. Dalam
penelitian ini yang dijadikan sebagai populasi adalah seluruh siswa kelas XI di
SMA Negeri Sumpiuh Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2005/2006 yang
berjumlah 199 siswa. Dalam pengambilan sampel ditentukan 25 % dari populasi
yakni sebanyak 50 siswa dan dalam pengambilan sampel tersebut menggunakan
Propotional Random Sampling yang menjadi anggota sampel untuk masing-
masing kelas dilakukan secara acak sederhana/undian. Metode pengumpulan data
dengan skala psikologi yaitu skala pola asuh orangtua dan skala kemandirian
siswa dalam belajar, analisis data yang terkumpul menggunakan analisis regresi
ganda dengan tiga prediktor.
        Dari perhitungan yang dilakukan yang dilakukan dengan menggunakan
analisis regresi ganda dengan tiga prediktor diperoleh harga Freg = 43,692 dan
Ftabel = 2,81 pada taraf signifikan 5% , harga Freg > Ftabel , dengan demikian
hipotesis kerja yang berbunyi ada pengaruh pola asuh orang tua terhadap
kemandirian siswa dalam belajar pada siswa kelas XI SMA Negeri Sumpiuh
Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2005/2006 diterima dan kontribusi pola
asuh orang tua terhadap kemandirian siswa dalam belajar sebesar 63,92 %. Hal ini
berarti bahwa meningkat atau menurunnya kemandirian siswa dalam belajar
ditentukan oleh pola asuh orangtua sebesar 63,92% sedangkan sisanya 36,08 %
ditentukan oleh faktor lain yang juga berpengaruh terhadap kemandirian siswa
dalam belajar.
        Berdasarkan hasil penelitian tersebut penulis mengajukan saran yaitu 1).
Hendaknya untuk meningkatkan kemandirian anak dalam belajar orang tua
menerapkan pola asuh demokratis dan untuk penanaman nilai-nilai agama dengan
pola asuh otoriter.2). Guru pembimbing lebih meningkatkan materi layanan dan
bidang bimbingan mengenai belajar dan lebih memperhatikan siswa-siswa yang
menunjukkan gejala kemandirian rendah dengan cara memberikan layanan
konseling individual.
                        HALAMAN PENGESAHAN


           Telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas
   Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang pada:
   Hari             : Selasa
   Tanggal   : 26 Juli 2005




                              Panitia Ujian
   Ketua                                                    Sekretaris



   Drs. Siswanto, M.M                         Drs. H. Suharso, M.Pd
   NIP. 130515769                             NIP. 131754158
   Pembimbing I                               Anggota Penguji



   Drs. H. Anwar Sutoyo, M.Pd                 1. Dra. Martensi.K.Dj
   NIP. 131570048                                NIP. 130345750



   Pembimbing II                              2. Drs. H. Anwar Sutoyo, M.Pd
                                                 NIP. 131570048



   Dra. Hj. Ninik Setyowani                   3. Dra. Hj. Ninik Setyowani
   NIP. 130788543                                NIP.130788543

                              KATA PENGANTAR



     Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan YME atas berkat dan kasih

karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul

“Pengaruh Pola Asuh Orangtua terhadap Kemandirian Siswa dalam Belajar pada

Siswa Kelas XI SMA Negeri Sumpiuh Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran

2005/2006”. Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk
menyelesaikan Studi Strata 1 guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada

Jurusan Bimbingan dan Konseling (BK) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP)

Universitas Negeri Semarang (UNNES).

     Penulis menyadari bahwa tersusunnya skripsi ini bukan hanya atas

kemampuan dan usaha penulis semata, namun juga berkat bantuan berbagai pihak,

oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada

yang terhormat :

1. Dr. A.T Soegito, S.H., M.M., Rektor Universitas Negeri Semarang.

2. Drs. Siswanto, M.M., Dekan FIP UNNES yang telah memberikan izin

   penelitian.

3. Drs. Suharso, M.Pd., Ketua Jurusan Bimbingan dan Konseling, FIP UNNES,

   yang telah memberikan kemudahan administrasi dalam penyusunan skripsi.

4. Dra. Catharina Tri Anni, M.Pd., Pembimbing I atas bimbingan dan arahan

   serta motivasi dalam penyusunan skripsi ini.

5. Drs. Soeparwoto, Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, dan

   arahan serta motivasi dalam penyusunan skripsi ini.

6. Tim penguji skripsi jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu

   Pendidikan Universitas Negeri Semarang.

7. Drs. Edi Prasetyo, Kepala SMA Negeri Sumpiuh Kabupaten Banyumas yang

   telah memberikan izin dan bantuannya kepada peneliti saat melakukan

   penelitian.

8. Dra. Sri Yuningsih, Guru pembimbing SMA Negeri Sumpiuh Kabupaten

   Banyumas yang telah berkenan memberi bantuan informasi, dan kesempatan

   untuk melakukan penelitian.
9. Siswa-Siswa kelas XI SMA Negeri Sumpiuh Kabupaten Banyumas atas

   partisipasinya dalam penelitian ini.

10. Teman-teman mahasiswa Jurusan Bimbingan dan Konseling angkatan “2000”

   atas semangat dan dukungannya selama ini.

11. Teman-teman RTB MenThari dan teman-teman pelayanan atas dukungan doa

   dan semangatnya selama ini.

12. Pihak-pihak lain yang langsung maupun tidak langsung yang telah

   mendukung baik moril maupun materiil demi terselesaikannya skripsi ini.

     Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan,

untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari

semua pihak, akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi

para pembaca.

                                                   Semarang, September 2005

                                                                Penulis


                      MOTTO DAN PERSEMBAHAN


    Motto

    Aku tidak melihat masa lalu, karena Allah tahu semua usahaku sia-sia,
    pemborosan waktu, perbuatan dosa dan penyesalan.
    Kuserahkan semua kepada Dia yang menghapus segala noda dengan murah
    hati mengampuni, lalu melupakan.
    Allah tahu masa depanku, dekat atau jauhkah jalanku, aku pasti dipimpin
    pulang.
    Dengan Dia ada sukacita, kasih, damai sejahtera yang sempurna dan
    pengharapan menjadi kenyataan
                                                            (Annie J. Flint)
Persembahan

Skripsi ini teruntuk:
1. Bapak, Ibu tercinta dan Mas Ari terima kasih
   atas segalanya, dan yang tak henti-hentinya
   mendukungku di dalam doa dan semangat.
2. Teman-teman RTB MenThari dan teman-
   teman pelayanan yang memberikan semangat
   ketika aku lelah, dukungan doa dan kesabaran.
3. Sahabatku Vic Chou, Anisa, Ester “Jupiter Z” ,
   Anggit, Hindun, Yayan, Kak Seto, Kursin dan
   seluruh teman-teman BK angkatan “2000”.
4. Almamaterku.




 DAFTAR ISI



                                   Halaman
HALAMAN JUDUL ...............................................................................                i

ABSTRAK ................................................................................................   ii

HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................                      iii

KATA PENGANTAR ..............................................................................              iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ...........................................................                          vi

DAFTAR ISI ............................................................................................ vii

DAFTAR TABEL ....................................................................................          ix

DAFTAR GAMBAR ...................................................................................           x
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................                xi
BAB I           PENDAHULUAN ..................................................................              1
               A. Latar Belakang Masalah ......................................................             1
               B. Rumusan Masalah ...............................................................           5
               C. Penegasan Judul ..................................................................        5
               D. Tujuan Penelitian ................................................................        6
               E. Manfaat Penelitian ..............................................................         6
               F. Sistematika Penulisan Skripsi ..............................................              7
BAB II         LANDASAN TEORI ..............................................................                9
               A. Kemandirian Belajar ...........................................................           9
                    1. Pengertian Kemandirian ................................................              9
                    2. Pengertian Belajar ......................................................... 10
                    3. Kemandirian Siswa dalam Belajar ................................. 12
                    4. Ciri-ciri Kemandirian Belajar ........................................ 13
                    5. Faktor yang mempengaruhi Kemandirian Belajar .......... 14
                    6. Aspek-aspek Kemandirian Siswa dalam Belajar ............ 17
                    7. Ketrampilan-ketrampilan Belajar Secara Mandiri .......... 18
             B. Pola Asuh Orangtua ............................................................ 22
                  1. Pengertian Pola Asuh Orangtua ..................................... 23
                  2. Jenis Pola Asuh Orangtua .............................................. 23
             C. Pengaruh Pola Asuh Orangtua terhadap Kemandirian
                  Siswa dalam Belajar ............................................................ 28
             D. Hipotesis ............................................................................. 33
BAB III METODE PENELITIAN ....................................................... 34
             A. Populasi .............................................................................. 34
             B. Sampel dan Teknik Sampling .............................................. 35
             C. Variabel Penelitian .............................................................. 37
             D. Metode Pengumpulan Data ................................................. 37
             E. Validitas dan Reliabilitas .................................................... 41
                  1. Validitas ........................................................................ 41
                  2. Reliabilitas .................................................................... 42
             F. Metode Analisis Data .......................................................... 42
BAB IV       HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ....................... 46
             A. Persiapan Penelitian ............................................................ 46
             B. Pelaksanaan Penelitian......................................................... 48
             C. Analisis Data ...................................................................... 49
             D. Pembahasan ....................................................................... 52
BAB V SIMPULAN DAN SARAN.......................................................... 56
             A. Simpulan ............................................................................. 56
             B. Saran ................................................................................... 56
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 57

LAMPIRAN-LAMPIRAN ....................................................................... 58
                                         DAFTAR TABEL



Tabel                                                                                            Halaman

1.   Jumlah Sampel setiap kelas ....................................................................    33

2.   Hasil Uji Normalitas Data ......................................................................   46
                                         DAFTAR TABEL



Tabel                                                                                            Halaman

3.   Jumlah Sampel setiap kelas ....................................................................    33

4.   Hasil Uji Normalitas Data ......................................................................   46
                           DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Pola Asuh Orang Tua dan Kemandirian Siswa dalam Belajar ….   29

Gambar 2. Pengaruh Pola Asuh Orang Tua terhadap Kemandirian Siswa dalam
          Belajar ……………………………………………………………….33
                                       DAFTAR LAMPIRAN



Lampiran                                                                                               Halaman

 1. Surat izin penelitian ...........................................................................          59

 2. Surat keterangan penelitian dari SMA Negeri Sumpiuh ....................                                   60

 3. Nama-nama responden uji coba instrumen ........................................                            61

 4. Nama-nama responden penelitian ......................................................                      62

 5. Data hasil uji coba skala pola asuh orangtua .....................................                         63

 6. Perhitungan validitas skala pola asuh orangtua ..................................                          66

 7. Perhitungan reliabilitas skala pola asuh orangtua ...............................                          67

 8 . Data hasil ujicoba skala instrumen skala kemandirian siswa

      dalam belajar ........................................................................................   68

 9. Perhitungan validitas skala kemandirian siswa dalam belajar .............                                  70

 10. Perhitungan reliabilitas skala kemandirian siswa dalam belajar .........                                  72

 11. Kisi-kisi pengembangan instrumen penelitian pola asuh orangtua .....                                      73

 12. Kisi-kisi pengembangan instrumen penelitian kemandirian siswa

      dalam belajar.........................................................................................   74

 13. Instrumen penelitian pola asuh orangtua...............................................                    75

 14. Instrumen penelitian kemandirian siswa dalam belajar.........................                             80

 15. Data hasil penelitian tentang pola asuh orangtua .................................                        85

 16. Data hasil penelitian tentang kemandirian siswa dalam belajar ............                                87

 17. Tabel persiapan analisis regresi .............................................................            89

 18 Analisis regresi .....................................................................................     90
19. Uji normalitas data pola asuh otoriter .................................................                94

20. Uji normalitas data pola asuh demokratis ............................................                   95

21. Uji normalitas data pola asuh permisive ..............................................                  96

22. Uji normalitas data kemandirian siswa dalam belajar ..........................                          97

23. Tabel harga kritik dari r product moment .............................................                  98

24. Daftar kritik uji F .................................................................................   99

25. Tabel nilai chi kuadrat ..........................................................................      100
                                    BAB I
                                 PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

      Keluarga merupakan wadah pendidikan yang sangat besar pengaruhnya

dalam perkembangan kemandirian anak, oleh karena itu pendidikan anak tidak

dapat dipisahkan dari keluarganya karena keluarga merupakan tempat pertama

kali anak belajar menyatakan diri sebagai mahkluk sosial dalam berinteraksi

dengan kelompoknya. Orang tua yaitu ayah dan ibu merupakan orang yang

bertanggung jawab pada seluruh keluarga. Orang tua juga menentukan kemana

keluarga akan dibawa dan apa yang harus diberikan sebelum anak-anak dapat

bertanggung jawab pada dirinya sendiri, ia masih tergantung dan sangat

memerlukan bekal pada orang tuanya sehingga orang tua harus mampu memberi

bekal kepada anaknya tersebut.

       Orang Tua memegang peranan utama dan pertama bagi pendidikan anak,

mengasuh, membesarkan dan mendidik anak merupakan tugas mulia yang tidak

lepas dari berbagai halangan dan tantangan, sedangkan guru disekolah merupakan

pendidik yang kedua setelah orang tua di rumah. Pada umunnya murid atau siswa

adalah merupakan insan yang masih perlu dididik atau diasuh oleh orang yang

lebih dewasa dalam hal ini adalah ayah dan ibu, jika orang tua sebagai pendidik

yang pertama dan utama ini tidak berhasil meletakan dasar kemandirian maka

akan sangat berat untuk berharap sekolah mampu membentuk siswa atau anak

menjadi mandiri.
Menurut Zainum Mutadin (2002, www.e_psikologi.com) Kemandirian adalah

suatu sikap individu yang diperoleh secara kumulatif selama perkembangan,

dimana individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi

berbagai situasi lingkungan, sehingga individu pada akhirnya akan mampu

berfikir dan bertindak sendiri dengan kemandiriannya.

       Kemandirian anak harus dibina sejak anak masih bayi, jikalau kemandirian

anak diusahakan setelah anak besar, kemandirian itu akan menjadi tidak utuh.

Kunci kemandirian anak sebenarnya ada di tangan orang tua. Kemandirian yang

dihasilkan dari kehadiran dan bimbingan orang tua akan menghasilkan

kemandirian yang utuh. Untuk dapat mandiri anak membutuhkan kesempatan,

dukungan dan dorongan dari keluarga khususnya pola asuh orang tua serta

lingkungan sekitarnya, agar dapat mencapai otonomi atas diri sendiri.

Kemandirian pada anak berawal dari keluarga serta dipengaruhi oleh pola asuh

orang tua didalam keluarga, orang tualah yang berperan dalam mengasuh,

membimbing, membantu dan mengarahkan anak untuk menjadi mandiri. Meski

dunia pendidikan atau sekolah juga juga turut berperan dalam memberikan

kesempatan kepada anak untuk mandiri, pola asuh orang tua tetap merupakan

pilar utama dan pertama dalam membentuk anak untuk mandiri. Orang tua mana

yang tidak mau leihat anaknya tumbuh menjadi anak mandiri. Tampaknya

memang itulah salah satu tujuan yang ingin dicapai orang tua dalam mendidik

anak-anaknya.

      Baumrind dalam Agoes Dariyo (2004:97) membagi pola asuh orang tua

menjadi tiga yakni Otoriter, Permisif, dan Demokratis. Pola Asuh Otoriter (parent
oriented) ciri-ciri dari pola asuh ini, menekankan segala aturan orang tua harus

ditaati oleh anak. Anak harus menurut dan tidak boleh membantah terhadap apa

yang diperintahkan oleh orang tua. Dalam hal ini, anak seolah-olah menjadi robot,

sehingga ia kurang inisiatif, merasa takut, tidak percaya diri, pencemas, rendah

diri, minder dalam pergaulan, tetapi disisi lain anak bisa memberontak, nakal atau

melarikan diri dari kenyataan, misalnya dengan menggunakan narkoba (alchohol

or drug abuse).

       Pola Asuh Permisif, sifat pola asuh ini children centered     yakni segala

aturan dan ketetapan keluarga di tangan anak. Apa yang dilakukan oleh anak

diperbolehkan orang tua, orang tua menuruti segala kemauan anak. Anak

cenderung bertindak semena-mena, tanpa pengawasan orang tua, ia bebas

melakukan apa saja yang diinginkan, anak kurang disiplin dengan aturan-aturan

sosial yang berlaku. Bila anak mampu menggunakan kebebasan tersebut secara

bertanggung jawab, maka anak akan menjadi seorang yang mandiri, kreatif,

inisiatif dan mampu mewujudkan aktualisasinya.

       Pola Asuh Demokratis, kedudukan antara orang tua dan anak sejajar. Suatu

keputusan diambil bersama dengan mempertimbangkan kedua belah pihak. Anak

diberi kebebasan yang bertanggung jawab artinya apa yang dilakukan oleh anak

tetapi harus dibawah pengawasan orang tua dan dapat dipertanggung jawabkan

secara moral. Orang tua dan anak tidak dapat berbuat semena-mena, anak diberi

kepercayaan dan dilatih untuk mempertanggung jawabkan segala tindakannya,

tidak munafik dan jujur.
       Siswa SMA Negeri Sumpiuh berasal dari latar belakang kelarga yang

berbeda. Ada yang berasal dari keluarga pegawai negeri, pegawai swasta, TNI,

petani, buruh tani, buruh pabrik dan dari keluarga dengan latar belakang pekerjaan

musiman. Dari berbagai latar belakang keluarga yang berbeda tersebut telah

membentuk pola asuh orang tua yang berbeda-beda di dalam keluarga. Pada

penelitian ini, penulis melihat secara kenyataan di lapangan bahwa kemampuan

siswa antara yang satu dengan lainnya berbeda-beda, siswa yang satu memiliki

tipe belajar A sedangkan lainnya memiliki tipe belajar B dan seterusnya. Setiap

remaja yang tercatat sebagai siswa memiliki gaya dan tipe belajar yang berbeda

dengan teman-temannya hal ini disebabkan oleh karena siswa memiliki potensi

yang berbeda-beda dengan siswa yang lain. Seorang Guru di SMA Negeri

Sumpiuh menggambarkan siswa yang kurang memiliki kemandirian dalam belajar

terlihat ketika dalam mengikuti proses belajar mengajar bersikap pasif, tidak

berani bertanya apabila menghadapi kesulitan, dlam ulngan mempunyai kesukaan

untuk mencontek pekerjaan teman atau mencontek dari lembaran-lembaran yang

telah dipersiapkan dari rumah dan kurang berfikir kritis.

       Mencermati kenyataan tersebut di atas, bahwa dari latar belakang keluarga

yang berbeda akan membentuk pola asuh orang tua yang berbeda-beda dan

diprediksikan dari pola asuh orang tua yang berbeda-beda itu mempengaruhi

kemandirian siswa dalam belajar. Secara kenyataan di SMA Negeri Sumpiuh

belum pernah diadakan penelitian tentang pengaruh pola asuh orang tua terhadap

kemandirian siswa dalam belajar. Hal tersebut mendorong penulis untuk

mengadakan penelitian tentang pengaruh pola asuh orang tua terhadap
kemandirian siswa dalam belajar di sekolah tersebut, dan akhirnya penulis

merumuskan ke dalam penelitian yang berjudul sebagai berikut : Pengaruh Pola

Asuh Orang Tua terhadap Kemandirian Siswa dalam Belajar pada Siswa Kelas XI

SMA Negeri I Sumpiuh Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2005 / 2006.



B. Rumusan Masalah

       Bertolak dari latar belakang diatas, rumusan masalah dalam penelitian ini

adalah ”Adakah Pengaruh Pola Asuh Orang tua terhadap Kemandirian Siswa

dalam Belajar pada Siswa Kelas XI SMA Negeri Sumpiuh ?”



C. Penegasan Judul

1.   Pola Asuh Orang Tua

      Pola Asuh adalah gambaran yang dipakai oleh orang tua untuk mengasuh

(merawat, menjaga atau mendidik) anak (Singgih D. Gunarsa, 1991 : 108-109).

      Dalam penelitian ini, pola asuh orang tua yang dimaksudkan adalah

Gambaran yang dipakai oleh orang tua dalam mengasuh, membesarkan, merawat

dan mendidik yang berpengaruh secara langsung terhadap kemandirian anak

dalam belajar.

2.   Kemandirian Siswa dalam Belajar

      Menurut Drost (1993:22) Kemandirian adalah individu yang mampu

menghadapi masalah-masalah yang dihadapinya dan mampu bertindak secara

dewasa.

      Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai

hasil pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya

( Syaiful Bahri, 2002:12)

     Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kemandirian siswa dalam

belajar adalah perilaku siswa dalam mewujudkan kehendak atau keinginannya

secara nyata dengan tidak bergantung pada orang lain, dalam hal ini adalah siswa

tersebut mampu melakukan belajar sendiri, dapat menentukan cara belajar yang

efektif, mampu melaksanakan tugas-tugas belajar dengan baik mampu untuk

melakukan aktivitas belajar secara mandiri serta bertujuan agar siswa mampu

menemukan sendiri apa yang harus dilakukan dan memecahkan masalah di dalam

belajar dengan tidak bergantung pada orang lain.

      Dengan demikian yang dimaksud dalam judul penelitian ini adalah

Pengaruh metode atau cara yang dipilih orang tua dalam mengasuh dan mendidik

anak-anak mereka untuk menghadapi masalah dan dalam proses mencapai

kemandirian dalam belajar.



D. Tujuan Penelitian

     Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk

mengetahui pengaruh pola asuh orang tua terhadap kemandirian siswa dalam

belajar pada siswa kelas XI SMA Negeri Sumpiuh.
E. Manfaat Penelitian

      Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi beberapa manfaat sebagai

berikut :

   1. Secara Teoritis

      Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan

      bimbingan dan konseling yang khususnya dapat dimanfaatkan sebagai

      kajian bersama mengenai pengaruh pola asuh orang tua sehingga dapat

      dijadikan sumber informasi yang bermanfaat bagi dunia pendidikan.

   2. Secara Praktis

      a. Dapat dipergunakan sebagai pemahaman dan gambaran realitas bagi

            orang tua siswa dalam menerapkan pola asuh di dalam meningkatkan

            kemandirian dalam belajar.

      b. Hasil        penelitian    ini    dapat   menjadi     masukan    bagi   guru

            pembimbing di sekolah untuk lebih memperhatikan kemandirian

            yang dimiliki oleh siswa dalam belajar.



F. Sistematika Penulisan Skripsi

      Untuk memberikan gambaran umum mengenai isi skripsi ini, maka

disajikan beberapa garis sistematika skripsi dengan bagian-bagian yaitu 1) Bagian

awal skripsi, 2) Bagian isi skripsi 3) Bagian akhir skripsi. Bagian awal skripsi

terdiri atas judul skripsi, sari (abstrak) skripsi, halaman pengesahan, motto dan

persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel dan daftar lampiran. Bagian

isi skripsi terdiri atas lima bab, yang dapat dirinci sebagai berikut :
           Bab pertama pendahuluan terdiri dari latar belakang masalah, rumusan

masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan skripsi.

           Bab dua landasan teori, berisi teoritis mengenai maslah yang dibahas

dalam penelitian ini dan pengajuan hipotesis.

            Bab tiga metode penelitian terdiri dari populasi, sampel penelitian,

teknik dan pengumpulan data, validitas dan reliabilitas secara teknik analisis data.

            Bab empat hasil penelitian dan pembahasan yang meliputi

pembahasan dari hasil penelitian.

            Bab lima penutup terdiri dari simpulan hasil penelitian dan saran-

saran yang diberikan berdasarkan hasil penelitian. Sedangkan bagian akhir dari

skripsi ini berisi daftar pusataka dan lampiran-lampiran.
                                   BAB II

                            LANDASAN TEORI



Kemandirian Belajar

Pengertian Kemandirian

       Kemandirian merupakan salah satu aspek kepribadian yang sangat penting

bagi individu. Seseorang dalam menjalani kehidupan ini tidak pernah lepas dari

cobaan dan tantangan. Individu yang memiliki kemandirian tinggi relatif mampu

menghadapi segala permasalahan karena individu yang mandiri tidak tergantung

pada orang lain, selalu berusaha menghadapi dan memecahkan masalah yang ada.

       Menurut Antonius (2000:145) seseorang yang mandiri adalah suatu

suasana dimana seseorang mau dan mampu mewujudkan kehendak atau keinginan

dirinya yang terlihat dalam tindakan atau perbuatan nyata guna menghasilkan

sesuatu (barang atau jasa) demi pemenuhan kebutuhan hidupnya dan sesamanya.

Mutadin (2002, www.e_psikologi.com) kemandirian adalah suatu sikap individu

yang diperoleh secara kumulatif selama perkembangan, individu akan terus

belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi lingkungan,

sehingga individu pada akhirnya akan mampu berfikir dan bertindak sendiri

dengan kemandiriannya seseorang dapat memilih jalan hidupnya untuk dapat

berkembang dengan lebih mantap.

       Menurut Drost (1993:22) kemandirian adalah individu yang mampu

menghadapi masalah-masalah yang dihadapinya dan mampu bertindak secara

dewasa.
       Hasan Basri (1994:53) mengatakan bahwa kemandirian adalah keadaan

seseorang dalam kehidupannya mampu memutuskan atau mengerjakan sesuatu

tanpa bantuan orang lain.

       Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kemandirian

adalah kemampuan seseorang dalam mewujudkan kehendak atau keinginannya

secara nyata dengan tidak bergantung pada orang lain.

       Dengan demikian yang dimaksud dengan kemandirian dalam penelitian ini

adalah perilaku siswa dalam mewujudkan kehendak atau keinginannya secara

nyata dengan tidak bergantung pada orang lain, dalam hal ini adalah siswa

tersebut mampu melakukan belajar sendiri, dapat menentukan cara belajar yang

efektif, mampu melaksanakan tugas-tugas belajar dengan baik dan mampu untuk

melakukan aktivitas belajar secara mandiri.



Pengertian Belajar

   Belajar adalah suatu kata yang sudah akrab dengan semua lapisan masyarakat,

bagi para pelajar atau siswa kata “belajar” merupakan kata yang tidak asing.

Bahkan sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari semua kegiatan

mereka dalam menuntut ilmu di lembaga pendidikan formal.

       Menurut Slameto dalam Syaiful Bahri (2002:13) belajar adalah suatu

proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah

laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri

dalam interaksi dengan lingkungannya. Slameto mengatakan bahwa suatu

kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan dua unsur, yaitu jiwa dan raga. Gerak

raga yang ditunjukkan harus sejalan dengan proses jiwa untuk mendapatkan
perubahan, perubahan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah perubahan sebagai

hasil dari proses belajar dan perubahan jiwa yang mempengaruhi tingkah laku

seseorang. Menurut Hasan Basri (1994:92), mendefinisikan bahwa belajar adalah

proses perubahan di dalam diri seseorang, setelah belajar seseorang mengalami

perubahan dalam dirinya seperti mengetahui, memahami, lebih terampil, dapat

melakukan sesuatu dan sebagainya.

     Hasan Basri menekankan bahwa dengan belajar seseorang akan mengalami

proses perubahan di dalam diri seseorang, setelah belajar seseorang mengalami

perubahan dalam dirinya seperti mengetahui, memahami, lebih terampil, dapat

melakukan sesuatu.

       Menurut James (dalam Syaiful Bahri, 2002:12) merumuskan belajar

sebagai proses tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau

pengalaman. Sedangkan C.T Morgan dalam Singgih D. Gunarsa (2003:22) belajar

adalah sesuatu perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku sebagai akibat

(hasil) pengalaman yang lalu.

       Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa belajar

adalah suatu proses perubahan di dalam diri seseorang yang di sengaja dan terarah

untuk menuju pada suatu tujuan kepribadian yang lebih utuh dan tangguh.

       Dalam dunia pendidikan, belajar merupakan proses siswa yang tidak tahu

menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti dan sebagainya.

       Dengan demikian belajar dalam penelitian adalah unsur yang terkait

dengan kemandirian, belajar yang dimaksud adalah belajar yang mandiri, yang

dapat menjadikan siswa mampu belajar secara mandiri.
Kemandirian Siswa dalam Belajar

         Setiap siswa memiliki gaya dan tipe belajar yang berbeda dengan teman-

temannya, hal ini disebabkan karena siswa memiliki potensi yang berbeda dengan

orang lain.

         Menurut Hendra Surya (2003:114),

     Belajar mandiri adalah proses menggerakkan kekuatan atau dorongan
     dari dalam diri individu yang belajar untuk menggerakkan potensi
     dirinya mempelajari objek belajar tanpa ada tekanan atau pengaruh asing
     di luar dirinya. Dengan demikian belajar mandiri lebih mengarah pada
     pembentukan kemandirian dalam cara-cara belajar

         Dari pengertian tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa

kemandirian belajar adalah aktivitas belajar yang di dorong oleh kemauan sendiri,

pilihan sendiri dan tanggung jawab sendiri tanpa bantuan orang lain serta mampu

mempertanggung jawabkan tindakannya.

         Siswa dikatakan telah mampu belajar secara mandiri apabila ia telah

mampu melakukan tugas belajar tanpa ketergantungan dengan orang lain. Ciri-ciri

pokok siswa mampu mandiri dalam belajar dapat dilihat dari bagaimana ia

memulai belajarnya, mengatur waktu dalam belajar sendiri melakukan belajar

dengan cara dan teknik sesuai dengan kemampuan sendiri serta mampu

mengetahui kekurangan diri sendiri. Sebagai syarat agar siswa dapat belajar

mandiri, siswa tersebut harus memiliki dan melatih metode belajar yang baik,

sehingga sejak awal dari pemberian tugas belajar, harus sudah timbul dalam jiwa

dan pikiran anak untuk menata kegiatan belajar sendiri berdasarkan metodologi

belajar yang baik dan pada tahapan-tahapan dalam proses belajar tersebut tidak

harus “diperintah” . Siswa mengetahui arah tujuan serta langkah yang harus
diperbuatnya dalam menyelesaikan tugas yang dihadapkan kepadanya. Siswa

memiliki kemahiran dalam menyelesaikan tugas belajarnya dan mampu

mengimplementasikan pengetahuan yang diperolehnya tersebut.

         Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kemandirian siswa dalam

belajar adalah perilaku yang akan diukur yaitu siswa sebagai subyek yang akan

diteliti, hal ini terkait dengan kemandirian siswa tersebut belajar, bertujuan agar

siswa mampu menemukan sendiri apa yang harus dilakukan dan memecahkan

masalah di dalam belajar dengan tidak bergantung pada orang lain.



Ciri-ciri Kemandirian Belajar

       Agar siswa dapat mandiri dalam belajar maka siswa harus mampu berfikir

kritis, bertanggung jawab atas tindakannya, tidak mudah terpengaruh pada orang

lain, bekerja keras dan tidak tergantung pada orang lain. Ciri-ciri kemandirian

belajar merupakan faktor pembentuk dari kemandirian belajar siswa.

       Menurut Chabib Thoha (1996: 123-124) membagi ciri kemandirian belajar

dalam delapan jenis, yaitu :

       a. Mampu berfikir secara kritis, kreatif dan inovatif.

       b. Tidak mudah terpengaruh oleh pendapat orang lain.

       c. Tidak lari atau menghindari masalah.

       d. Memecahkan masalah dengan berfikir yang mendalam.

       e. Apabila menjumpai masalah dipecahkan sendiri tanpa meminta

           bantuan orang lain.

       f. Tidak merasa rendah diri apabila harus berbeda dengan orang lain.
       g. Berusaha bekerja dengan penuh ketekunan dan kedisiplinan.

       h. Bertanggung jawab atas tindakannya sendiri.


       Sementara itu Yohanes Babari (2002:145) membagi ciri-ciri kemandirian

dalam lima jenis, yaitu :

       1   Percaya diri

       2   Mampu bekerja sendiri

       3   Menguasai keahlian dan ketrampilan yang sesuai dengan kerjanya

       4   Menghargai waktu

       5   Bertanggung jawab

       Berdasarkan uraian di atas dapat diambil simpulan bahwa ciri-ciri

kemandirian belajar pada setiap siswa akan nampak jika siswa telah menunjukkan

perubahan dalam belajar. Siswa belajar untuk bertanggung jawab terhadap tugas

yang dibebankan padanya secara mandiri dan tidak bergantung pada orang lain.


Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemandirian Belajar

       Menurut Hasan Basri (1994:54) kemandirian belajar siswa dipengaruhi

oleh beberapa faktor yaitu faktor yang terdapat di dalam dirinya sendiri (faktor

endogen) dan faktor-faktor yang terdapat di luar dirinya (faktor eksogen).

Faktor endogen (internal)

       Faktor endogen (internal) adalah semua pengaruh yang bersumber dari

dalam dirinya sendiri, seperti keadaan keturunan dan konstitusi tubuhnya sejak

dilahirkan dengan segala perlengkapan yang melekat padanya. Segala sesuatu

yang dibawa sejak lahir adalah merupakan bekal dasar bagi pertumbuhan dan
perkembangan individu selanjutnya. Bermacam-macam sifat dasar dari ayah dan

ibu mungkin akan didapatkan didalam diri seseorang, seperti bakat, potensi

intelektual dan potensi pertumbuhan tubuhnya.

Faktor eksogen (eksternal)

       Faktor eksogen (eksternal) adalah semua keadaan atau pengaruh yang

berasal dari luar dirinya, sering pula dinamakan dengan faktor lingkungan.

Lingkungan    kehidupan      yang   dihadapi    individu   sangat   mempengaruhi

perkembangan kepribadian seseorang, baik dalam segi negatif maupun positif.

Lingkungan keluarga dan masyarakat yang baik terutama dalam bidang nilai dan

kebiasaan-kebiasaan hidup akan membentuk kepribadian, termasuk pula dalam

hal kemandiriannya.

       Sementara      itu   Chabib Thoha   (1996:124-125) faktor-faktor yang

mempengaruhi kemandirian dapat dibedakan dari dua arah, yakni :

1. Faktor dari dalam

       Faktor dari dalam diri anak adalah antara lain faktor kematangan usia dan

jenis kelamin. Di samping itu inteligensia anak juga berpengaruh terhadap

kemandirian anak.

2. Faktor dari luar

   Adapun faktor dari luar yang mempengaruhi kemandirian anak adalah

   a. Kebudayaan, masyarakat yang maju dan kompleks tuntutan hidupnya

       cenderung       mendorong tumbuhnya kemandirian dibanding dengan

       masyarakat yang sederhana.
   b. Keluarga, meliputi aktivitas pendidikan dalam keluarga, kecenderungan

       cara mendidik anak, cara memberikan penilaian kepada anak bahkan

       sampai cara hidup orang tua berpengaruh terhadap kemandirian anak.

       Muhammad Ali dan Muhammad Asrori (2002: 118-119) menyebutkan

       sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan kemandirian, yaitu :

   c. Gen atau keturunan orangtua. Orang tua memiliki sifat kemandirian tinggi

       sering kali menurunkan anak yang memiliki kemandirian juga.

   d. Pola asuh orang tua. Cara orang tua mengasuh dan mendidik anak akan

       mempengaruhi perkembangan kemandirian anak remajanya.

   e. Sistem pendidikan di sekolah. Proses pendidikan di sekolah yang tidak

       mengembangkan demokrasi pendidikan dan cenderung menenkankan

       indoktrinasi   tanpa   argumentasi   akan   menghambat   perkembangan

       kemandirian remaja sebagai siswa.

   f. Sistem kehidupan di masyarakat. Sistem kehidupan masyarakat yang

       terlalu menekankan pentingnya hierarki struktur sosial, merasa kurang

       aman atau mencekam serta kurang menghargai manifestasi potensi remaja

       dalam kegiatan produktif dapat menghambat kelancaran perkembangan

       kemandirian remaja atau siswa.

       Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam mencapai kemandirian

seseorang tidak terlepas dari faktor-faktor yang mendasari terbentuknya

kemandirian itu sendiri.

       Faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian sangat menentukan sekali

tercapainya kemandirian seseorang, begitu pula dengan kemandirian belajar siswa
dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri siswa itu sendiri, maupun yang berasal dari

luar yaitu lingkungan keluarga, sekolah, lingkungan sosial ekonomi dan

lingkungan masyarakat.

       Faktor-faktor tersebut mempunyai peranan yang sangat penting dalam

kehidupan yang selanjutnya akan menentukan seberapa jauh seorang individu

bersikap dan berfikir secara mandiri dalam kehidupan lebih lanjut.

       Dengan demikian, penulis berpendapat dalam mencapai kemandirian

seseorang tidak lepas dari faktor-faktor tersebut diatas dan kemandirian siswa

dalam belajar akan terwujud sangat bergantung pada siswa tersebut melihat,

merasakan dan melakukan aktivitas belajar atau kegiatan belajar sehari-hari di

dalam lingkungan tempat tinggalnya.



6. Aspek-aspek Kemandirian Siswa dalam Belajar

       Dalam keseharian siswa sering dihadapkan pada permasalahan yang

menuntut siswa untuk mandiri dan menghasilkan suatu keputusan yang baik.

       Robert      Havighurst   dalam   Mu’tadin    (2002,www.e_psikologi.com)
menyebutkan bahwa kemandirian terdiri dari beberapa aspek, yaitu :
a. Aspek intelektual, aspek ini mencakup pada kemampuan berfikir, menalar,

   memahami beragam kondisi, situasi dan gejala-gejala masalah sebagai dasar

   usaha mengatasi masalah.

b. Aspek sosial, berkenaan dengan kemampuan untuk berani secara aktif

   membina      relasi sosial, namun tidak tergantung pada kehadiran orang lain

   disekitarnya.
c. Aspek emosi, mencakup kemampuan individu untuk mengelola serta

   mengendalikan emosi dan reaksinya dengan tidak bergantung secara emosi

   pada orang tua.

d. Aspek ekonomi, mencakup kemandirian dalam hal mengatur ekonomi dan

   kebutuhan-kebutuhan ekonomi tidak lagi bergantung pada orang tua.

       Dari pejelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek tersebut

saling terkait satu sama lainnya, karena aspek tersebut mempunyai pengaruh yang

sama kuat dan saling melengkapi dalam membentuk kemandirian belajar dalam

diri seseorang.



7. Keterampilan-keterampilan Belajar secara Mandiri

       Menurut A.     Suhaenah Suparno (2001: 106-126),         ada beberapa

keterampilan-keterampilan belajar yang harus dimiliki oleh siswa agar dapat

meningkatkan kemandirian dalam belajarnya, yaitu :

a. Mengenali diri sendiri

            Memahami diri sendiri menjadi sangat penting karena banyak orang

   yang keliru menafsirkan kemampuan-kemampuan dirinya baik karena menilai

   terlalu optimis maupun sebaliknya karena terlalu pesimistik dan menilai

   rendah    kemampuan-kemampuannya       dan   akan   sangat   penting   untuk

   memahami apa yang sebenarnya ingin dicapai atau dicita-citakan, yang

   merupakan visi terhadap kehidupan yang akan datang.
b. Memotivasi diri sendiri

              Motivasi ada yang bersifat instrinsik yaitu yang memang tumbuh

   di dalam orang itu sejak awal, tetapi ada juga motivasi yang sifatnya ekstrinsik

   yaitu yang berasal dari luar dirinya, apakah itu dari orang tua, guru, teman

   ataupun tuntutan pekerjaan. Menumbuhkan motivasi ini sebenarnya bisa

   dipelajari yaitu dengan cara membuat daftar keuntungan-keuntungan yang

   akan diperoleh tatkala memutuskan untuk mempelajari sesuatu.

c. Mempelajari cara-cara belajar efektif

             Tipe atau gaya orang untuk belajar merupakan hal yang unik untuk

     dirinya dan mungkin sangat berbeda dengan gaya belajar orang lain. Namun

     ada beberapa tips yang dapat dicatat tentang tindakan-tindakan yang dapat

     membantu mengefektifkan seseorang dalam belajar, diantaranya :

   1). Membuat rangkuman

              Rangkuman      adalah   ikhtisar   tentang   hal-hal   esensial   yang

     terkandung dalam bahan bacaan atau pemaparan lisan yang kita simak

     tersebut yang lebih ramping. Rangkuman membantu seseorang ketika

     mengulang pekerjaan aatau ketika mencoba mengingat kembali apa yang

     telah dibacanya. Setelah selesai membaca dan membuat rangkuman dapat

     membuat pertanyaan-pertanyaan untuk dijwab sendiri.

   2). Membuat pemetaan konsep-konsep penting

              Pemetaan merupakan gambaran konsep-konsep yang berhubungan,

     dalam hal pemetaan konsep-konsep penting maka ada konsep utama dan ada

     konsep pelengkap yang diasosiasikan dengan konsep utama. Konsep
 pelengkap dan konsep asosiasi ini dapat diperoleh dari bahan bacaan itu

 sendiri .

3). Mencatat hal-hal yang esensial dan membuat komentar

             Cara mencatat semacam ini dapat dilakukan pada kertas yang

 terpisah, yang dibagi menjadi dua bagian ; di sebelah kiri dibuat catatan-

 catatan penting yang sifatnya deskriptif sesuai dengan apa yang dibaca atau

 yang didengar . Di sebelah kanan dibuat catatan-catatn yang sifatnya lebih

 personal, dapat berupa kesan atau perintah-perintah kepada diri sendiri

 untuk mengasosiasikan atau menghubungkan pengalaman sebelumnya.

4). Membaca secara efektif

   a). Skimming

                Skimming berarti membaca selintas dan cepat untuk melihat

       gambaran sangat umum dengan membaca judul-judul bab dan bagian

       lainnya secara garis besar.

   b). Scanning

                Scanning adalah cara membaca dengan melihat judul bab

       kemudian judul-judul sub bab atau pasal-pasal di dalam suatu bab serta

       dengan membaca kalimat-kalimat awal pada tiap-tiap paragraf yang

       sering disebut topic sentence.

   c). Membaca simpulan

                Setiap simpulan berisi ide-ide pokok tentang apa yang telah

       dipaparkan sebelumnya dan berfungsi untuk mengingatkan kembali

       kepada pembacanya bahwa inilah ide-ide pokok dari penulis.
   d). Membaca untuk pendalaman

             Dalam membaca untuk mendalami sesuatu, orang melakukannya

       secara cermat dan penuh kesadaran, artinya tidak sambil melamun,

       mendalami isi bacaan kalimat per kalimat. Dalam kegiatan ini

       seseorang harus dapat menangkap ide yang tersirat (reading between

       the lines).

   e). Memanfaatkan indeks

             Indeks menolong pembaca untuk mengetahui ada tidaknya atau

       dimana suatu informasi yang diperlukannya dipaparkan dalam buku.

5). Membuat situasi yang kondusif

           Belajar   adalah   pekerjaan    yang    memerlukan    pengerahan

   penglihatan, pendengaran, latihan dan pikiran. Oleh karena itu diperlukan

   suasana yang menunjang seperti tempat yang relatif tenang dan pikiran

   yang konsentrasi . Cara belajar yang sehat adalah cara yang rileks tidak

   mengganggu postur tubuh dan tidak mengganggu konsentrasi.

6). Mengenal lingkungan

           Yang dimaksud dengan lingkungan adalah lingkungan belajar atau

   sumber-sumber belajar yang tidak terhitung jumlahnya. Sumber-sumber

   belajar berupa orang, bahan bacaan, lembaga atau institusi, maupun setting

   yang sengaja maupun yang semula tidak disengaja untuk dijadikan sumber

   belajar tetapi dapat berfungsi sebagai sumber belajar.
   d. Mengarahkan diri sendiri dalam belajar

              Yang dimaksud dengan mengarahkan diri sendiri dalam belajar

       adalah memulai kegiatan belajar karena lingkungan yang mendorongnya

       melakukan sesuatu. Adapula orang yang mengarahkan diri sendiri di

       dalam belajar karena memang sistem dalam lingkungannya memberikan

       peluang, selain itu ada juga orang yang melaksanakan kegiatan pengarahan

       diri dalam belajar itu karena faktor kebetulan ketika ia sudah mempunyai

       waktu luang untuk mempelajari sesuatu yang menjadi minatnya.

   e. Catatan harian

              Catatan harian bertujuan untuk mencatat apa yang harus dilakukan,

       apa yang telah dicapai, serta apa yang harus dicapai, masalah-masalah

       yang harus diselesaikan, dengan catatan harian ini membantu ingatan

       seseorang



Pola Asuh Orang Tua

Pengertian Pola Asuh Orang Tua

       Keluarga merupakan tempat untuk pertama kalinya seorang anak

memperoleh pendidikan dan mengenal nilai-nilai maupun peraturan-peraturan

yang harus diikutinya yang mendasari anak untuk melakukan hubungan sosial

dengan lingkungan yang lebih luas. Namun dengan adanya perbedaan latar

belakang, pengalaman, pendidikan dan kepentingan dari orang tua maka terjadilah

cara mendidik anak.
          Menurut Chabib Thoha (1996:109) yang mengemukakan bahwa pola asuh

orang tua adalah suatu cara terbaik yang dapat ditempuh orang tua dalam

mendidik anak sebagai perwujudan dari rasa tanggung jawab kepada anak. Peran

keluarga menjadi penting untuk mendidik anak baik dalam sudut tinjauan agama,

tinjauan sosial kemasyarakatan maupun tinjauan individu. Jika pendidikan

keluarga dapat berlangsung dengan baik maka mampu menumbuhkan

perkembangan kepribadian anak menjadi manusia dewasa yang memiliki sikap

positif terhadap agama, kepribadian yang kuat dan mandiri, potensi jasmani dan

rohani serta intelektual yang berkembang secara optimal.

          Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pola asuh orang tua

adalah cara mengasuh dan metode disiplin orang tua dalam berhubungan dengan

anaknya dengan tujuan membentuk watak, kepribadian, dan memberikan nilai-

nilai bagi anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Dalam

memberikan aturan-aturan atau nilai terhadap anak-anaknya tiap orang tua akan

memberikan bentuk pola asuh yang berbeda berdasarkan latar belakang

pengasuhan orang tua sendiri sehingga akan menghasilkan bermacam-macam pola

asuh yang berbeda dari orang tua yang berbeda pula.



Jenis Pola Asuh Orang tua

    Agus Dariyo (2004:97) membagi bentuk pola asuh orang tua menjadi empat,

yaitu :

a. Pola Asuh Otoriter (parent oriented)
       Ciri-cri dari pola asuh ini, menekankan segala aturan orang tua harus

ditaati oleh anak. Orang tua bertindak semena-mena, tanpa dapat dikontrol oleh

anak. Anak harus menurut dan tidak boleh membantah terhadap apa yang

diperintahkan oleh orang tua. Dalam hal ini, anak seolah-olah mejadi “robot”,

sehingga ia kurang inisiatif, merasa takut tidak percaya diri, pencemas, rendah

diri, minder dalam pergaulan tetapi disisi lain, anak bisa memberontak, nakal, atau

melarikan diri dari kenyataan, misalnya dengan menggunakan narkoba. Dari segi

positifnya, anak yang dididik dalam pola asuh ini, cenderung akan menjadi

disiplin yakni mentaati peraturan. Akan tetapi bisa jadi, ia hanya mau

menunjukkan kedisiplinan di hadapan orang tua, padahal dalam hatinya berbicara

lain, sehingga ketika di belakang orang tua, anak bersikap dan bertindak lain. Hal

itu tujuannya semata hanya untuk menyenangkan hati orang tua. Jadi anak

cenderung memiliki kedisiplinan dan kepatuhan yang semu.

b.   Pola Asuh Permisif (children centered)

       Sifat pola asuh ini, yakni segala aturan dan ketetapan keluarga di tangan

anak. Apa yang dilakukan oleh anak diperbolehkan orang tua. Orang tua menuruti

segala kemauan anak. Anak cenderung bertindak semena-mena , tanpa

pengawasan orang tua. Ia bebas melakukan apa saja yang diinginkan. Dari sisi

negatif lain, anak kurang disiplin dengan aturan-aturan sosial yang berlaku. Bila

anak mampu menggunakan kebebasan tersebut secara bertanggung jawab , maka

anak akan menjadi seorang yang mandiri, kreatif, inisiatif dan mampu

mewujudkan aktualisasinya.
c. Pola Asuh Demokratis

       Kedudukan antara orang tua dan anak sejajar. Suatu keputusan diambil

bersama dengan mempertimbangkan kedua belah pihak. Anak diberi kebebasan

yang bertanggung jawab, artinya apa yang dilakukan oleh anak tetap harus

dibawah pengawasan orang tua dan dapat dipertanggung jawabkan secara moral.

Orang tua dan anak tidak dapat berbuat semena-mena. Anak diberi kepercayaan

dan dilatih untuk mempertanggung jawabkan segala tindakannya. Akibat positif

dari pola asuh ini, anak akan menjadi seorang individu yang mempercayai orang

lain, bertanggung jawab terhadap tindakan-tindakannya, tidak munafik, jujur.

Namun akibat negatif, anak akan cenderung merongrong kewibawaan otoritas

orang tua, kalau segala sesuatu harus dipertimbangkan anak dan orang tua.

d. Pola Asuh Situsional

       Pada pola asuh ini orang tua tidak menerapkan salah satu tipe pola asuh

tertentu. Tetapi kemungkinan orang tua menerapkan pola asuh secara fleksibel,

luwes dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berlangsung saat itu.

       Menurut Hourlock dalam Chabib Thoha (1996 : 111-112) mengemukakan

ada tiga jenis pola asuh orang tua terhadap anaknya, yakni :

1. Pola Asuh Otoriter

       Pola asuh otoriter ditandai dengan cara mengasuh anak dengan aturan-

aturan yang ketat, seringkali memaksa anak untuk berperilaku seperti dirinya

(orang tua), kebebasan untuk bertindak atas nama diri sendiri dibatasi. Anak

jarang diajak berkomunikasi dan bertukar pikiran dengan orang tua, orang tua
menganggap bahwa semua sikapnya sudah benar sehingga tidak perlu

dipertimbangkan dengan anak.

       Pola asuh yang bersifat otoriter juga ditandai dengan penggunaan

hukuman yang keras, lebih banyak menggunakan hukuman badan, anak juga

diatur segala keperluan dengan aturan yang ketat dan masih tetap diberlakukan

meskipun sudah menginjak usia dewasa. Anak yang dibesarkan dalam suasana

semacam ini akan besar dengan sifat yang ragu-ragu, lemah kepribadian dan tidak

sanggup mengambil keputusan tentang apa saja.

2. Pola Asuh Demokratis

       Pola asuh demokratis ditandai dengan adanya pengakuan orang tua

terhadap kemampuan anak, anak diberi kesempatan untuk tidak selalu tergantung

pada orang tua. Orang tua sedikit memberi kebebasan kepada anak untuk memilih

apa yang terbaik bagi dirinya, anak didengarkan pendapatnya, dilibatkan dalam

pembicaraan terutama yang menyangkut dengan kehidupan anak itu sendiri. Anak

diberi kesempatan untuk mengembangkan kontrol internalnya sehingga sedikit

demi sedikit berlatih untuk bertanggung jawab kepada diri sendiri. Anak

dilibatkan dan diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam mengatur hidupnya.

Pola Asuh Permisive

       Pola asuh ini ditandai dengan cara orang tua mendidik anak secara bebas,

anak dianggap sebagai orang dewasa atau muda, ia diberi kelonggaran seluas-

luasnya untuk melakukan apa saja yang dikehendaki. Kontrol orang tua terhadap

anak sangat lemah, juga tidak memberikan bimbingan yang cukup berarti bagi
anaknya. Semua apa yang telah dilakukan oleh anak adalah benar dan tidak perlu

mendapatkan teguran, arahan atau bimbingan.

       Tembong Prasetya (2003: 27-32) membagi bentuk pola asuh orang tua

menjadi empat, yaitu :

1. Pola pengasuhan autoritatif

       Pada umumnya pola pengasuhan ini hampir sama dengan bentuk pola asuh

demokratis oleh Agoes Dariyo (2004) dan Chabib Thoha (1996) namun hal yang

membedakan pola asuh ini yaitu adanya tambahan mengenai pemahaman bahwa

masa depan anak harus dilandasi oleh tindakan-tindakan masa kini. Orang tua

memprioritaskan kepentingan anak dibandingkan dengan kepentingan dirinya,

tidak ragu-ragu mengendalikan anak, berani menegur apabila anak berperilaku

buruk. Orang tua juga mengarahkan perilaku anak sesuai dengan kebutuhan anak

agar memiliki sikap, pengetahuan dan ketrampilan-ketrampilan yang akan

mendasari anak untuk mengarungi hidup dan kehidupan di masa mendatang.

2. Pola pengasuhan otoriter

       Pada pola pengasuhan ini, orang tua menuntut anak untuk mematuhi

standar mutlak yang ditentukan oleh orang tua. Kebanyakan anak-anak dari pola

pengasuhan otoriter ini memiliki kompetensi dan cukup bertanggung jawab,

namun kebanyakan cenderung menarik diri secara sosial, kurang spontan dan

tampak kurang percaya diri.

3. Pola pengasuhan penyabar atau pemanja

       Pola pengasuhan ini, orang tua tidak menmgadalikan perilaku anak sesuai

dengan kebutuhan perkembangan kepribadian anak, tidak pernah menegur atau
tidak berani menegur anak. Anak-anak dengan pola pengasuhan ini cenderung

lebih energik dan responsif dibandingkan anak-anak dengan pola pengasuhan

otoriter, namun mereka tampak kurang matang secara sosial (manja), impulsif,

mementingkan diri sendiri dan kurang percaya diri (cengeng).

4. Pola pengasuhan penelantar

       Pada pola pengasuhan ini, orang tua kurang atau bahkan sama sekali tidak

mempedulikan perkembangan psikis anak. Anak dibiarkan berkembang sendiri,

orang tua juga lebih memprioritaskan kepentingannya sendiri dari pada

kepentingan anak. Kepentingan perkembangan kepribadian anak terabaikan,

banyak orang tua yang terlalu sibuk dengan kegiatannya sendiri dengan berbagai

macam alasan . Anak-anak terlantar ini merupakan anak-anak yang paling

potensial terlibat penggunaan obat-obatan terlarang (narkoba) dan tindakan-

tindakan kriminal lainnya. Hal tersebut dikarenakan orang tua sering mengabaikan

keadaan anak dimana ia sering tidak peduli atau tidak tahu dimana anak-anaknya

berada, dengan siapa anak-anak mereka bergaul, sedang apa anak tersebut.

Dengan bentuk pola asuh penelantar tersebut anak merasa tidak diperhatikan oleh

orang tua, sehingga ia melakukan segala sesuatu atas apa yang diinginkannya.

       Dari beberapa uraian pendapat para ahli di atas mengenai bentuk pola asuh

orang tua dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya terdapat tiga pola asuh yang

diterapkan orang tua yaitu pola asuh otoriter, pola asuh demokratis dan pola asuh

bebas (permisif). Dari ketiga bentuk pola asuh orang tua tersebut, ada

kecenderungan bahwa pola asuh demokratis dinilai paling baik dibandingkan

bentuk pola suh yang lain. Namun demikian, dalam pola asuh demokratis ini
bukan merupakan pola asuh yang sempurna, sebab bagaimanapun juga ada hal

yang bersifat situsional seperti yang dikemukakan oleh Agus Dariyo (2003),

bahwa tidak ada orang tua dalam mengasuh anaknya hanya menggunakan satu

pola asuh dalam mendidik dan mengasuh anaknya. Dengan demikian, ada

keenderungan bahwa tidak ada bentuk pola asuh yang murni diterapkan oleh

orang tua tetapi orang tua dapat menggunakan ketiga bentuk pola asuh tersebut

disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang terjadi saat itu.

       Dalam penelitian ini penulis mengacu pada tiga bentuk pola asuh orang tua

yaitu pola asuh otoriter, demokratis dan permisif. Adapun pengaruh ketiga bentuk

pola asuh orang tua terhadap kemandirian siswa adalah meliputi aktivitas

pendidikan dalam keluarga, kecenderungan cara mendidik anak, cara mengasuh

dan cara hidup orang tua yang berpengaruh secara langsung terhadap kemandirian

anak dalam belajar.

Pengaruh Pola asuh Orang tua terhadap Kemandirian siswa dalam belajar

       Kemandirian pada anak berawal dari keluarga serta dipengaruhi oleh pola

asuh orang tua. Di dalam keluarga, orang tualah yang berperan dalam mengasuh,

membimbing, dan membantu mengarahkan anak untuk menjadi mandiri.

Meskipun dunia pendidikan juga turut berperan dalam memberikan kesempatan

kepada anak untuk mandiri, keluarga tetap merupakan pilar dan pertama dalam

membentuk anak untuk mandiri. Bila pendidikan orang tua yang pertama dan

utama ini tidak berhasil maka akan dapat menimbulkan sikap dan perilaku yang

kurang mandiri dalam mendidik atau mengasuh anak menjadi anak menjadi

mandiri, tidaklah mudah ada banyak hal yang harus dipersiapkan sedini mungkin
oleh orang tua ketika mendidik atau mengasuh anak. Peran orang tua sangatlah

besar dalam proses pembentukan kemandirian seseorang, orang tua diharapkan

dapat memberikan kesempatan pada anak agar dapat mengembangkan

kemampuan yang dimilikinya, belajar mengambil inisiatif, mengambil keputusan

mengenai apa yang ingin dilakukan dan belajar mempertanggungjawabkan segala

perbuatannya.



       Pola Asuh Orang tua
        X1 = Otoriter



        X2 = Demokratis                           Y = Kemandirian siswa
                                                      dalam belajar.


        X3 = Permisive




       Pola asuh orang tua dalam mendidik dan membimbing anak sangat

berpengaruh dalam perkembangan terutama ketika anak telah menginjak masa

remaja. Ada berbagai macam cara orang tua dalam mengasuh dan membimbing

anaknya, keanekaragaman tersebut dipengaruhi oleh adanya perbedaan latar

belakang, pengalaman, dan pendidikan orang tua.

       Mengingat masa remaja merupakan masa yang penting dalam proses

perkembangan kemandirian maka pemahaman dan kesempatan yang diberikan

orang tua kepada anak-anaknya dalam meningkatkan kemandirian krusial.

Menurut Jacquelin Marie T (2002) seorang staff pengajar Fakultas Psikologi

UGM mengatakan bahwa anak tumbuh menjadi remaja, tingkat ketergantungan
berubah dari waktu ke waktu, seiring dengan perkembangan aspek-aspek

kepribadian dalam diri mereka. Kemandirianpun menjadi sangat berbeda pada

rentang usia tertentu. Kermandirian sangat tergantung pada proses kematangan

dan proses belajar anak. Remaja tumbuh dan berkembang dalam lingkup sosial.

Lingkup sosial, awal yang meletakkan dasr perkembangan pribadi anak adalah

keluarga. Dengan demikian, orang tua memiliki porsi terbesar untuk membawa

anak mengenal kekuatan dan kelemahan diri untuk berkembang termasuk

perkembangan kemandiriannya.

         Pola asuh orang tua menurut Gunarsa (2003: 82-84) terdiri dari pola

asuh otoriter, pola asuh demokratis dan pola asuh permisif. Orang tua yang

menerapkan pola asuh otoriter yaitu pola asuh yang menitikberatkan aturan-aturan

dan batasan-batasan yang mutlak harus ditaati oleh anak. Anak harus patuh dan

tunduk dan tidak ada pilihan lain yang sesuai dengan kemauan atau pendapatnya

sendiri. Orang tua memerintah dan memaksa tanpa kompromi, yang

mengakibatkan anak cenderung untuk memiliki sikap yang acuh, pasif, takut, dan

mudah cemas. Cara otoriter menimbulkan akibat hilangnya kebebasan pada anak,

inisiatif dan aktivitas-aktivitasnya menjadi “tumpul” secara umum kepribadianya

lemah demikian pula kepercayaan dirinya. Orang tua yang menerapkan pola asuh

demokratis yang ditandai oleh sikap orang tua yang memperhatikan dan

menghargai kebebasan anak, namun kebebasan yang tidak mutlak dan dengan

bimbingan yang penuh pengertian antara kedua belah pihak, anak dan orang tua.

Dengan cara demokratis ini pada anak tumbuh rasa tanggung jawab untuk

memperlihatkan sesuatu tingkahlaku dan selanjutnya memupuk kepercayaan
dirinya. Ia mampu bertindak sesuai dengan norma dan kebebasan yang ada pada

dirinya untuk memperoleh kepuasan dan menyesuaikan diri dan kalau tingkah

lakunya tidak berkenan bagi orang lain ia mampu menunda dan menghargai

tuntutan pada lingkungannya. Baldwin (dalam Gerungan, 1998:189) mengatakan

bahwa didikan demokratis akan membuat anak menjadi mandiri, tidak takut dan

lebih bertujuan dalam hidupnya.

       Sedangkan bila anak dididik oleh orang tua secara permisive, orang tua

membiarkan anak mencari dan menemukan sendiri tata cara yang memberi

batasan-batasan dari tingkah laku. Anak terbiasa mengatur dan menentukan

sendiri apa yang dianggapnya baik. Pada umumnya keadaan seperti ini terdapat

pada keluarga yang terlalu sibuk. Orang tua hanya bertindak sebagai “polisi” yang

mengawasi, menegur, dan mungkin memarahi. Orang tua tidak terbiasa bergaul

dengan anak, hubungan tidak akrab dan merasa bahwa anak harus tahu sendiri.

Pada anak tumbuh keakuan (egocentrisme) yang terlalu kuat dan kaku dan mudah

menimbulkan kesulitan-kesulitan kalau harus mengahadapi larangan-larangan

yang ada dalam lingkungan sosialnya. Pada pola asuh ini anak dibiarkan berbuat

sesuka hati dengan sedikit kekangan dan memenuhi kehendak anak agar anak

mereka senang sehingga menjadikan anak tidak mandiri.

Hipotesis

       Hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban yang bersifat sementara

terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul

(Suharsimi Arikunto, 2000:64).
      Hipotesis yang diajukan dalam penelitian adalah “Ada pengaruh secara

signifikan pola asuh orang tua terhadap kemandirian siswa dalam belajar pada

siswa kelas XI SMA Negeri Sumpiuh Kecamatan Sumpiuh Kabupaten Banyumas

Tahun Pelajaran 2005/2006”.
                                      BAB III

                             METODE PENELITIAN



        Dalam pelaksanaan penelitian untuk dapat memperoleh hasil yang optimal

maka suatu penelitian ilmiah harus mendasarkan pada metode yang dapat

dipertanggung jawabkan kebenarannya.

        Sehubungan dengan hal tersebut maka dalam bab ini akan dibahas hal-hal

sebagai berikut : populasi, sampel, variabel penelitian, metode pengumpulan data,

validitas instrumen, reliabilitas instrumen dan metode analisis data.

A. Populasi

    Sebelum menentukan sampel, maka populasi penelitian harus ditetapkan

terlebih dahulu. Menurut Suharsimi Arikunto (1998:115), populasi adalah

keseluruhan subyek penelitian. Sedangkan menurut Husaini Usman (1995:181)

pengertian populasi adalah semua nilai baik hasil perhitungan maupun

pengukuran baik kuantitatif maupun kualitatif, daripada karakteristik tertentu

mengenai sekelompok objek yang lengkap dan jelas.

        Dari pengertian di atas, dapat disimpulan bahwa populasi dalah semua

individu dari keseluruhan subjek yang jelas dan mempunyai ciri yang sama yang

hendak dikenai dalam penelitian. Dalam populasi ini yang menjadi populasi

penelitian adalah siswa kelas XI SMU Negeri Sumpiuh Tahun Pelajaran 2005 /

2006.
B. Sampel dan Teknik Sampling

      Menurut Suharsimi Arikunto (1998:117) yang dimaksud sampel adalah

sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti sedangkan menurut Irawan

Soehartono (2000:57) yang dimaksud dengan sampel adalah suatu bagian dari

populasi yang akan diteliti dan yang dianggap dapat menggambarkan populasinya.

      Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa sampel adalah sebagian

atau wakil dari populasi yang dimiliki atau diteliti dan diambil dengan teknik atau

cara-cara tertentu.

      Menurut Suharsimi Arikunto (1998:120), bahwa apabila dalam pengambilan

sampel yang jumlah subjeknya besar (lebih dari 100 orang) maka dapat diambil

antara 10-15% atau 20-25% atau lebih. Dengan demikian dari populasi siswa

kelas II SMA Negeri Sumpiuh Tahun Pelajaran 2005/2006 yang berjumlah 199

orang siswa yang akan diambil sampel sebesar 25%-nya yaitu 50 orang siswa.

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Proportional Random Sampling ( Husaini, 2000:185).

      Adapun yang menjadi alasan, peneliti menggunakan teknik Proportional

Random Sampling adalah :

1. Kemampuan peneliti dilihat dari waktu, dana dan tenaga.

2. Banyaknya subjek yang terdapat pada setiap kelas tidak sama, oleh karena itu

    untuk memperoleh sampel yang representatif maka pengambilan subjek dari

    setiap kelas di tentukan seimbang atau sebanding.

3. Teknik ini juga dimaksudkan bahwa dalam pengambilan sampel masing-

    masing kelas mengikuti perbandingan besar-kecilnya jumlah siswa tiap kelas.
                            Tabel 1. Jumlah Sampel Setiap Kelas

 No.         Kelas             Jumlah Siswa       Perhitungan     Jumlah Sampel
 1.         XI IIA 1                41              25% x 41           10

 2.         XI IIA 2                40             25% x 40            10

 3.         XI IIS 1                40             25% x 40            10

 4.         XI IIS 2                38             25% x 38            10

 5.         XI IIS 3                40             25% x 40            10


Tabel tersebut dapat diketahui besarnya anggota sampel untuk masing-masing

kelas yang keseluruhannya berjumlah 50 siswa.

           Pemilihan objek yang menjadi anggota sampel untuk masing-masing kelas

dilakukan secara acak sederhana dengan cara undian, dengan cara ini setiap

subjek memiliki peluang yang sama untuk terpilih sebagai sampel.

Adapun langkah-langkah yang ditempuh sebagi berikut :

      1.   Membuat atau memberi nomor pada setiap individu secara berurutan

           untuk masing-masing kelas.

      2.   Setiap nomor individu ditulis dalam kertas kemudian di gulung dan

           dimasukan dalam kotak.

      3. Mengocok gulungan kertas yang ada dalam kotak agar berbaur secara

           tidak teratur.

      4. Mengambil satu persatu gulungan kertas tersebut sebanyak sampel yang

           diperlukan untuk masing-masing kelas sebanyak 10 siswa.
C. Variabel Penelitian

      Menurut Arikunto (1998:99) variabel adalah objek penelitian atau apa yang

menjadi titik perhatian suatu penelitian. Menurut Suharsimi Arikunto, ada dua

jenis variabel penelitian yaitu variabel bebas dan variabel terikat.

      Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau menjadi penyebab

sedangkan variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau variabel akibat.

      Dalam penelitian ini variabel-variabel tersebut adalah :

1. Variabel bebas (X) dalam penelitian ini adalah (X1 = pola asuh otoriter, X2 =

    pola asuh deokratis, X3 = pola asuh permisive).

2. Variabel terikat (Y) dalam penelitian ini adalah Kemandirian Siswa dalam

    Belajar



D. Metode Pengumpulan Data

      Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat digunakan oleh

penulis untuk menghimpun data dari sejumlah populasi yang menjadi sampel

penelitian.

      Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu

metode Skala Psikologi. Menurut Azwar (1999: 3-4) metode skala sebagai alat

ukur psikologi memiliki karakteristik yaitu :

1. Stimulusnya berupa pertanyaan atau pernyataan yang mengungkap indikator

   perilaku dari atribut yang bersangkutan. Jawaban subjek tergantung pada

   interpretasi subjek terhadap pertanyaan dan jawabannya berupa proyeksi dari

   perasaan atau kepribadiannya.
2. Atribut psikologis diungkap secara tidak langsung lewat indikator-indikator

   perilaku yang diterjemahkan dalam bentuk item yang selalu banyak.

3. Respon tidak diklasifikasikan sebagai jawaban “benar” atau “salah”. Semua

   jawaban dapat diterima sepanjang diberikan secara jujur dan sungguh-

   sungguh.

     Skala Psikologis dalam penelitian ini meliputi skala kemandirian siswa

dalam belajar dan skala pola asuh orang tua. Bentuk skala yang digunakan dalam

penelitian ini adalah skala tertutup yang diberikan terstruktur, yaitu jawaban

pertanyaan yang diajukan sudah disediakan. Subjek diminta untuk memilih satu

jawaban yang sesuai dengan dirinya. Jadi pertanyaan bersifat tertutup. Dalam

penelitian ini menggunakan 4 alternatif jawaban instrumen yaitu sangat sesuai

(SS), sesuai (S), tidak sesuai (TS), dan sangat tidak sesuai (STS) adapun yang

menjadi alasan peneliti adalah :

1. Lebih Efektif

2. Agar responden tidak seenaknya sendiri dalam memberi jawaban tanpa

   berfikir.

3. Mudah ditafsirkan oleh responden.

4. Bersifat luwes.

5. Bentuknya lebih umum dan mudah dipahami.

                                             (Irawan Soehartono, 2000: 77-78)

      Skala ini terdiri atas dua kelompok item yaitu item bagi setiap gejala, yaitu

item yang mendukung pernyataan (favorable) dan item yang tidak mendukung
      pernyataan (unfavorable). Sistem penilaian untuk jawaban yang favorable adalah

      sangat sesuai (SS), sesuai (S), tidak sesuai (TS) dan sangat tidak sesuai (STS).

              Pada pernyataan yang bersifat favorable subjek akan memperoleh nilai 4

      jika menjawab sangat sesuai (SS), nilai 3 jika menjawab sesuai (S), nilai 2 jika

      menjawab tidak sesuai (TS) dan jawaban sangat tidak sesuai (STS) nilai 1

      sedangkan pernyataan unfavorable subyek akan memperoleh nilai 4 jika

      menjawab sangat tidak sesuai (STS), nilai 3 jika jawaban tidak sesuai (TS)

      sedangkan untuk jawaban sesuai (S) mendapat nilai 2 dan jawaban sangat sesuai

      (SS) mendapat nilai 1.

              Adapun langkah-langkah dalam menyusun instrumen adalah dengan

      menyusun kisi-kisi pengembangan instrumen.

       Tabel 2. Kisi-kisi Pengembangan Skala Kemandirian Siswa dalam Belajar

  Variabel          Sub variabel                Indikator                     Item
                                                                                            Jmlh
                                                                        (+)           (-)
Kemandirian      a. Aspek Intelek-    1. Percaya diri dengan         1, 4        7, 8, 9     5
Siswa dalam          tual                kemampuan kognitifnya.
Belajar                               2. Mampu       mengerjakan     3, 9        2, 12       5
                                         sendiri tugas-tugasnya      11
                                         dalam belajar.
                                      3. Memiliki ketrampilan-       6, 10       5, 14       4
                                         ketrampilan      belajar
                                         secara mandiri.

                 b. Aspek Sosial      1. Mempunyai kesediaan         27, 28      17, 23      5
                                         untuk membantu teman                    25
                                         dalam belajar.
                                      2. Memiliki       hubungan     15, 18      21, 26      4
                                         yang baik dengan teman.
                                      3. Belajar untuk tidak         16, 19      22, 24      5
                                         bergantung       dengan     20
                                         teman.

                 c. Aspek Emosi      1. Memiliki            motivasi 40, 43      42          3
                                    belajar yang tinggi.
                                 2. Bertanggung         jawab 30, 39   29, 31             4
                                    terhadap      peranannya
                                    sebagai pelajar.
                                 3. Mampu          menyikapi 33, 35    34, 36             4
                                    masalah-masalah
                                    belajarnya secara positif.
                                 4. Tidak mudah putus asa 38, 41       32, 37             4
                                    terhadap         kesulitan
                                    belajar yang muncul.




            d. Aspek Ekonomi     1. Memiliki        kemauan 53, 56     47, 52             5
                                    untuk     tetap   belajar          54
                                    walaupun kemampuan
                                    ekonomi terbatas.
                                 2. Mampu           mengatur 51, 44    55, 48             5
                                    keuangan dengan baik.              50
                                 3. Mampu memanfaatkan 45              49, 46             3
                                    sarana dan prasarana
                                    belajar dengan benar.


        Tabel 3. Kisi-kisi Pengembangan Skala Pola Asuh Orang Tua

   Variabel         Sub variabel                 Indikator                    Item
                                                                       (+)          (-)       Jmlh
Pola asuh        a. Otoriter           1.   Kontrol terhadap anak 2, 10          1, 18         5
orang tua                                   bersifat kaku            15
                                       2.   Komunikasi      bersifat 11, 14      4, 8         6
                                            memerintah.              17          13
                                       3.   Penekanan          pada 3, 9         5, 7         4
                                            pemberian hukuman.
                                       4.   Disiplin pada orang tua 6, 16        12, 19       4
                                            bersifat kaku.

                 b. Demokratis         1. Kontrol terhadap anak 20, 27           22           4
                                          relatif longgar       30
                                       2. Komunikasi dua arah.  21, 25           24, 26       5
                                                                                 29
                                       3. Hukuman        diberikan 28, 33        34, 36       4
                                          sesuai dengan tingkat
                                          kesalahan anak.
                                       4. Disiplin terbentuk atas 31, 35         23, 32       4
                                                         komitmen bersama.

                      c. Permisive                   1. Kontrol terhadap anak         46, 50    40, 51   4
                                                        lemah      atau     sangat
                                                        longgar
                                                     2. Komunikasi          sangat    44, 49    37, 43   4
                                                        bergantung pada anak.
                                                     3. Hukuman               atau
                                                        konsekuensi      perilaku     41, 52    45, 47   5
                                                        tergantung pada anak.                   54
                                                     4. Disiplin terhadap anak        38, 42    53, 39   5
                                                        sangat longgar, orang         48
                                                        tua bersifat bebas.



E. Validitas dan Reliabilitas

1. Validitas

        Validitas      adalah    suatu        ukuran       yang   menunjukkan        tingkat-tingkat

kevaliditasan atau kesahihan suatu instrumen (Suharsimi Arikunto, 1998:160).

        Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang

diinginkan. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila dapat mengungkap data dari

variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrumen

menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran

tentang variabel yang dimaksud.

        Untuk mencari validitas alat ukur dengan menggunakan rumus product

moment yaitu sebagai berikut :



               NΣXY - (ΣX ) . (ΣY )
rxy =
          {NΣX   2         2
                     - (ΣX )   }{NΣY   2         2
                                           - (ΣY )   }
Keterangan :

rxy               =       koefisien korelasi antara x dan y

X                 =       skor item

Y                 =       skor total

ΣX                =       jumlah skor butir

ΣY                =       jumlah skor total

ΣX2               =       jumlah kuadrat butir

ΣY2               =       jumlah kuadrat total

ΣXY               =       jumlah perkalian skor butir dengan skor total

N                 =       jumlah responden

(Suharsimi Arikunto, 1998:162)

        Jika rxy > rtabel butir angket dikatakan valid dan jika rxy < rtabel instrumen

dikatakan tidak valid

2.     Reliabilitas

            Setelah harus valid, alat ukur juga harus dapat memenuhi standar

reliabilitas. Suatu instrumen dapat dikatakan reliable jika alat tersebut dapat

dipercaya atau diandalkan. Menunjuk pada suatu pengertian bahwa suatu

instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data

karena instrumen tersebut sudah baik. Teknik yang dipakai untuk menentukan

reliabilitas adalah dengan rumus Alpha (Suharsimi Arikunto, 1998:186)

             k   Σσb 
                             2
      r11 =      1 -       
             k -1     σt 2 
Keterangan :

r11              = reliabilitas instrumen

k                = banyaknya butir pertanyaan/banyaknya soal

Σσb2             = jumlah varians butir

σt2              = varians total

       Jika r11 > r   tabel   instrumen dikatakan reliable dan jika r11< r   tabel   instrumen

dikatakan tidak reliable.



F. Metode Analisis Data

       Data dari penelitian tidak dapat dipergunakan begitu saja, agar data tersebut

dapat memberi suatu keterangan yang dapat dipahami secara tepat dan teliti, maka

dibutuhkan suatu penelolaan data lebih lanjut. Data yang telah dikumpulkan

tersebut dianalisis secara statistik. Untuk menguji hipotesis penelitian ini

digunakan teknik analisis regresi dengan tiga prediktor.

Rumusnya :

             b1 ∑ x1y + b 2 ∑ x 2 y + b3 ∑ x 3 y
R y.123 =
                                 ∑y   2




Keterangan :

Ry.123 =         Subyek dalam variabel dependen (terikat) yang diprediksikan

Σx1y    =        Jumlah           produk    antara   pola   asuh    demokratis         dengan

                 kemandirian siswa dalam belajar.

Σx2y     =       Jumlah produk antara pola asuh otoriter dengan kemandirian

                 siswa dalam belajar.
Σx3y      =            Jumlah produk antara pola asuh permisif dengan kemandirian

                       siswa dalam belajar.

b1       =          Koefisien prediktor pola asuh otoriter

b2      =           Koefisien prediktor pola asuh demoratis

b3       =          Koefisien prediktor pola asuh permisif

y        =          Kriterium

(Husaini Usman, 2000:242)



G. Validitas dan Reliabilitas

1. Validitas

        Validitas        adalah      suatu      ukuran     yang   menunjukkan   tingkat-tingkat

kevaliditasan atau kesahihan suatu instrumen (Suharsimi Arikunto, 1998:160).

        Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang

diinginkan. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila dapat mengungkap data dari

variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrumen

menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran

tentang variabel yang dimaksud.

        Untuk mencari validitas alat ukur dengan menggunakan rumus product

moment yaitu sebagai berikut :

               NΣXY - (ΣX ) . (ΣY )
rxy =
            {NΣX   2         2
                       - (ΣX )   }{NΣY   2         2
                                             - (ΣY )   }
Keterangan :

rxy                 =            koefisien korelasi antara x dan y

X                   =            skor item
Y                 =      skor total

ΣX                =      jumlah skor butir

ΣY                =      jumlah skor total

ΣX2               =      jumlah kuadrat butir

ΣY2               =      jumlah kuadrat total

ΣXY               =      jumlah perkalian skor butir dengan skor total

N                 =      jumlah responden

(Suharsimi Arikunto, 1998:162)

       Jika rxy > rtabel butir angket dikatakan valid dan jika rxy < rtabel instrumen

dikatakan tidak valid

2. Reliabilitas

       Setelah harus valid, alat ukur juga harus dapat memenuhi standar

reliabilitas. Suatu instrumen dapat dikatakan reliable jika alat tersebut dapat

dipercaya atau diandalkan. Menunjuk pada suatu pengertian bahwa suatu

instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data

karena instrumen tersebut sudah baik. Teknik yang dipakai untuk menentukan

reliabilitas adalah dengan rumus Alpha (Suharsimi Arikunto, 1998:186)

       k   Σσb 
                       2
r11 =       1 -
                        
       k -1     σt 2 

Keterangan :

r11               = reliabilitas instrumen

k                 = banyaknya butir pertanyaan/banyaknya soal

Σσb2              = jumlah varians butir
σt2                 = varians total

        Jika r11 > r   tabel   instrumen dikatakan reliable dan jika r11< r      tabel   instrumen

dikatakan tidak reliabel.

H. Metode Analisis Data

          Data dari penelitian tidak dapat dipergunakan begitu saja, agar data

tersebut dapat memberi suatu keterangan yang dapat dipahamai secara tepat dan

teliti, maka dibutuhkan suatu pengelolaan data lebih lanjut. Data yang telah

dikumpulkan tersebut dianalis secara statistik. Untuk menguji hipotesis penelitian

ini digunakan teknik analisis regresi dengan 3 prediktor dan untuk mengetahui ada

tidaknya pengaruh pola asuh orangtua terhadap kemandirian siswa dalam belajar

pada siswa kelas XI SMA Sumpiuh Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran

2005/2006.

1. Mencari Koefisien Korelasi Ganda

      Untuk menguji keberartian persamaan regresi ganda digunakan rumus:

                     a1 x1 y + a 2 x 2 y + a3 x3 y
      Ry(1,2,3) =
                                Σy 2

      Keterangan:

      Ry(1,2,3)     = subyek dalam variabel dependen (terikat) yang diprediksikan

      ∑x 1 y        = jumlah produk antara pola asuh otoriter dengan kemandirian

                        siswa dalam belajar

      ∑x 2 y        = jumlah         produk          antara   pola   asuh   demokratis     dengan

                        kemandirian siswa dalam belajar
   ∑x 3 y        = jumlah produk antara pola asuh permisive dengan kemandirian

                     siswa dalam belajar

   a1            = koefisien prediktor pola asuh otoriter

   a2            = koefisien prediktor pola asuh demokratis

   a3            = koefisien prediktor pola asuh permisive

   y             = kriterium

   (Husaini Usman, 2000 : 242)

2. Mencari Persamaan Regresi

   Untuk mencari persamaan regresi ganda digunakan rumus:

   Y = a1X1 + a2X2 + a3X3 + K

                                                        (Sutrisno Hadi, 2000 : 28)

3. Menentukan Freg

            R 2 ( N − m − 1)
   Freg =                                               (Sutrisno Hadi, 2000 : 34)
                (
               m 1− R2  )
            Persamaan regresi tersebut apabila Fhitung > Ftabel dengan db pembilan =

   m dan db penyebut = N – m – 1.

   Tabel 4. Rangkuman Analisis Regresi
     Sumber variasi           db                     JK                     RK

    Regresi (Reg)              m              R2(∑y2)               R 2 ( Σy 2 )
                                                                         m

                                                                    (1 − R )(Σy )
                                                                           2       2


                                                                      N − m −1
    Residu (Res)               N–m–1          (1 – R )(∑y )
                                                    2       2



    Total (T)                      N–1               ∑y2                       -

   Sumber (Sutrisno Hadi, 2000 : 24)
4. Mencari SumbanganRelatif (SR)

                   a1Σx1 y
   SRX1 =                  x100 %
                   JKreg

                   a 2 Σx 2 y
   SRX2 =                     x100 %
                   JKreg

                   a 3 Σx 3 y
   SRX3 =                     x100 %
                   JKreg

5. Mencari Sumbanagn Efektif (SE)

                   a1Σx1 y
   SE X1 =                 xEfektivitas garis regresi
                   JKreg

                   a 2 Σx 2 y
   SE X2 =                    xEfektivitas garis regresi
                    JKreg

                   a 3 Σx 3 y
   SE X3 =                    xEfektivitas garis regresi
                    JKreg

                                                    JK (reg )
   Dimana, efektivitas garis regresi =                        x100 %
                                                      Σy 2

   Sutrisno Hadi (2000:24)

6. Uji Normalitas Data

          k
                (Oi − Ei )2             k
                                              (Oi − Ei )2
   x2 = ∑                     > x2 = ∑
         i =1       Ei                 i =1       Ei

   Keterangan :

   x2   : chi-kuadrat

   Oi   : hasil dari penelitian

   Ei   : hasil yang diharapkan

   K    : banyaknya kelas interval

   Populasi berdistribusi normal jika x2 hitung ≤ x2 tabel.
                                       BAB IV

                 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN



         Pada bab ini akan disajikan laporan hasil penelitian yang telah

dilaksanakan di SMA Negeri Sumpiuh Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran

2005/2006 pada bulan Juli sampai September. Sebelum itu, disajikan terlebih

dahulu    persiapan    penelitian,   pelaksanaan   penelitian,   analisis   data   dan

pembahasan.

Persiapan Penelitian

1. Proses Perizinan

         Sebelum melakukan penelitian di lapangan, peneliti terlebih dahulu

mengurus surat izin penelitian. Berdasarkan surat izin dari Dekan FIP UNNES,

kemudian penelitian menemui Kepala SMA Negeri Sumpiuh Kabupaten

Banyumas untuk selanjutnya setelah mendapatkan izin dari Kepala Sekolah,

kemudian peneliti berkonsultasi mengenai pelaksanaan penelitian dengan guru

pembimbing di sekolah.

2. Penentuan Populasi dan Sampel

         Peneliti menentukan bahwa populasi yang akan diambil dalam penelitian

ini adalah seluruh siswa kelas XI di SMA Negeri Sumpiuh Kabupaten Banyumas

Tahun Pelajaran 2005/2006, sampelnya adalah sebagian dari siswa kelas XI.

Sedangkan teknik pengambilan dengan menggunakan teknik sampel acak

sederhana dengan sistem undian. Banyaknya            sampel yang diambil dalam

penelitian ini berpijak pada ketentuan pengambilan sampel menurut Suharsimi
Arikunto (1998) yaitu jika subjeknya lebih dari 100 lebih baik diambil antara 10%

- 15% atau lebih. Karena jumlah anggota populasi sebanyak 199 siswa, maka

banyaknya sampel adalah 25% dari populasi yaitu 50 siswa.

3. Rancangan Alat Pengumpul Data

       Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu skala

psikologi. Skala psikologi dalam penelitian ini meliputi skala kemandirian siswa

dalam belajar dan skala pola asuh orang tua. Bentuk skala yang digunakan dalam

penelitian ini diberikan   secara terstruktur. Kedua skala psikologi tersebut

berjumlah 120 item.

4. Ujicoba (Try Out)

       Uji coba alat ukur ini yaitu skala sikap yang digunakan untuk mengetahui

validitas dan reliabilitas sebuah alat ukur. Uji coba instrumen diberikan pada

individu yang segolongan dengan subyek penelitian. Uji coba dilaksanakan satu

kali. Uji coba dilaksanakan pada tanggal 21 Juli 2005 di kelas XI II.A1 sejumlah

20 siswa.

a. Validitas

       Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang

diinginkan. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila dapat mengungkap data dari

variabel yang diteliti secara tepat. Untuk mengetahui dan menguji valid tidaknya

instrumen digunakan rumus product moment.

     Skala pola asuh orang tua yang terdiri dari 60 item. Setelah diujicobakan

kepada 20 siswa dan dianalisis menggunakan rumus korelasi product moment

diperoleh 6 item yang tidak valid yaitu nomor 16, 17, 25, 34, 51 dan 59 (nomor
masih berurutan). Keenam item tersebut mempunyai koefisien korelasi dengan

skor totalnya yang lebih kecil dari rtabel = 0,444 untuk α = 5% dengan n = 20.

Untuk keperluan penelitian nomor item yang semula berurutan kemudian diacak

terlebih dahulu, dan 6 item yang tidak valid dari skala pola asuh orang tua tersebut

dibuang, karena masih ada butir lain yang mewakili aspek yang ingin

diungkapkan. Skala kemandirian siswa dalam belajar yang semula sebanyak 60

item, ternyata diperoleh 4 item yang tidak valid yaitu nomor 3, 32, 51, dan 58.

Karena mempunyai koefisien korelasi dengan skor totalnya dengan skala pola

asuh nomor yang semula berurutan kemudian diacak terlebih dahulu ketika

penelitian di lapangan dan 4 item skala kemandirian yang tidak valid tersebut

dibuang karena masih ada butir lain yang mewakili aspek yang ingin

diungkapkan.

b. Reliabilitas

      Berdasarkan hasil uji reliabilitas menggunakan rumus Alpha, pada skala

pola asuh diperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0,952 dan pada skala

kemandirian siswa dalam belajar diperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0,953.

Pada taraf kesalahan 5% dengan n = 20 diperoleh nilai rtabel sebesar 0,444, karena

kedua koefisien reliabilitas yang diperoleh dari hasil pengujian ini lebih besar dari

nilai rtabel maka dapat dinyatakan bahwa kedua instrumen tersebut reliabel.

      Berdasarkan kedua analisis tersebut, maka penelitian ini menggunakan item

pola asuh dan 56 item skala kemandirian siswa dalam belajar.
5. Pelaksanaan Penelitian

       Berdasarkan waktu penelitian yang telah disepakati bersama antara

peneliti dan guru pembimbing, selanjutnya peneliti melaksanakan pengambilan

data dengan memberikan skala pola asuh orang tua dan skala kemandirian siswa

dalam belajar, yaitu pada tanggal 21 Juli – 5 Agustus 2005.

6. Analisis Data

       Setelah data terkumpul, langkah selanjutnya adalah menganalisis data.

Ada pun tujuan analisis data ini agar data yang terkumpul dan dianalisis tersebut

mudah dipahami dan diinterpretasikan.

      Untuk menganalisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik

statistik analisis regresi ganda dengan 3 prediktor. Dengan teknik tersebut

dimaksudkan      untuk     mendapatkan      hasil    yang     benar    dan    dapat

dipertanggungjawabkan, serta dapat dipercaya kebenarannya. Seperti telah

disebutkan, penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui pengaruh pola

asuh orang tua terhadap kemandirian siswa dalam belajar.

      Selanjutnya dilakukan perhitungan untuk memperoleh r, terlebih dahulu

menyiapkan tabel kerja/tabel perhitungan. Suatu garis regresi dapat dinyatakan

dalam persamaan matematika. Persamaan ini disebut persamaan regresi. Agar

hasil analisis regresi dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya, maka analisis

regresi melakukan uji prasyarat analisis regresi. Adapun uji prasyarat dari analisis

regresi tersebut adalah data yang dianalisis harus berdistribusi normal.
1. Uji Normalitas

      Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan rumus χ2 dengan kriteria

bahwa data berdistribusi normal apaila harga χ2hitung < χ2tabel pada taraf

signifikansi 5%. Hasil perhitungan uji normalitas data pola asuh orang tua dan

kemandirian siswa dalam belajar diperoleh hasil seperti tabel berikut :

Tabel 5. Hasil Uji Normalitas Data

 Variabel             dk               χhitung            χtabel          Kriteria
      X1               3               2,4649             7,81            Normal
      X2               3               1,5019             7,81            Normal
      X3               3               1,9687             7,81            Normal
      Y                3               0,4075             7,81            Normal
Sumber : Data Hasil Penelitian

       Pada taraf kesalahan 5%, dengan derajat kebebasan = 6 – 3 = 3 diperoleh

nilai kritik chi kuadrat sebesar 7,81. Pada tabel 2 terlihat bahwa nilai chi kuadrat

hitung untuk semua variabel lebih kecil dari 7,81, sehingga dapat disimpulkan

bahwa data dari keempat variabel penelitian tersebut berdistribusi normal.

Berdasarkan hasil analisis ini, maka analisis data penelitian dapat digunakan

analisis regresi ganda.

2. Uji Hipotesis

       Hipotesis penelitian (Ha) yang akan diuji kebenarannya dalam penelitian

ini adalah “Ada pengaruh pola asuh orang tua terhadap kemandirian siswa dalam

belajar pada siswa kelas XI SMA Sumpiuh Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran

2005/2006”. Untuk pengujian hipotesis secara statistik maka dirumuskan hipotesis

nihil (Ho) yang berbunyi “Tidak ada pengaruh pola asuh orang tua terhadap

kemandirian siswa dalam belajar pada siswa kelas XI SMA Sumpiuh Kabupaten

Banyumas Tahun Pelajaran 2005/2006”.
      Analisis statistik yang akan digunakan untuk pengujian hipotesis tersebut

adalah analisis regresi ganda. Berdasarkan hasil perhitungan pada lampiran

diperoleh persamaan regresi Y = -5,098 + 0,933X1 + 1,739X2 + 1,040X3. Untuk

menguji signifikansi dari persamaan regresi tersebut digunakan analisis varians

untuk regresi. Berdasarkan hasil perhitungan pada lampiran diperoleh Fhitung =

43,692 > Ftabel = 2,81 untuk α = 5% dengan dk pembilang = 3 dan dk penyebut =

50 – 3 – 1 = 46. Karena Fhitung > Ftabel, hal ini menunjukkan bahwa persamaan

regresi tersebut signifikansi sehingga hipotesis nihil (Ho) yang berbunyi “Tidak

ada pengaruh pola asuh orang tua terhadap kemandirian siswa dalam belajar pada

siswa kelas XI SMA Sumpiuh Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2005/2006”

ditolak dan hipotesis kerja (Ha) yang berbunyi “Ada pengaruh pola asuh orang tua

terhadap kemandirian siswa dalam belajar pada siswa kelas XI SMA Sumpiuh

Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2005/2006” diterima.

      Dari analisis diperoleh pula koefisien sebesar 0,7995 dan indeks determinasi

sebesar 0,6392. Oleh karena itu variabel kemandirian siswa dalam belajar dapat

dijelaskan oleh variabel pola asuh orang tua sebesar 63,92% sedangkan 36,09%

dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dikaji dalam penelitian ini.

      Besarnya pengaruh masing-masing pola asuh orang tua terhadap

kemandirian siswa dalam belajar pada siswa kelas XI SMA Sumpiuh Kabupaten

Banyumas dapat dilihat dari sumbangan efektif dari masing-masing variabel

terikat dengan variabel bebas. Berdasarkan hasil analisis data lampiran diketahui

bahwa sumbangan pola asuh otoriter terhadap kemandirian siswa dalam belajar

yaitu 11,06%, untuk pola asuh demokratis berpengaruh terhadap kemandirian
siswa dalam belajar sebesar 37,03% dan untuk pola asuh permisive berpengaruh

terhadap kemandirian siswa dalam belajar sebesar 15,83%. Dengan demikian

dapat diketahui bahwa yang memberikan pengaruh paling besar terhadap

kemandirian siswa dalam belajar adalah pola asuh demokratis, kemudian diikuti

oleh pola asuh permisive dan yang terakhir yaitu pola asuh otoriter.

7. Pembahasan

       Di dalam keluarga, orang tua yang berperan dalam mengasuh,

membimbing dan membantu mengarahkan anak untuk menjadi mandiri. Keluarga

tidak hanya berfungsi terbatas sebagai penerus keturunan saja. Masa anak-anak

dan remaja merupakan masa yang penting dalam proses perkembangan

kemandirian, maka pemahaman dan kesempatan yang diberikan orang tua kepada

anak-anaknya dalam meningkatkan kemandirian sangat besar.

     Meski dunia pendidikan (sekolah) juga turut berperan dalam memberikan

kesempatan kepada siswa untuk mandiri, keluarga tetap merupakan pilar utama

dan pertama dalam membentuk anak untuk mandiri, karena segala pengetahuan

dan kecerdasan intelektual serta ketrampilan diperoleh pertama kali dari orang tua.

     Pada siswa yang diasuh dengan pola asuh demokratis ini menunjukkan

bahwa sikap siswa lebih dapat bertanggung jawab terhadap dirinya berkaitan

tugas belajar yang dibebankan kepadanya.

     Hal tersebut didukung oleh pernyataan Chabib Thoha (1996:111) bahwa

dalam pola asuh demokratis ditandai dengan adanya pengakuan orang tua

terhadap kemampuan anak, dan anak diberi kesempatan untuk mengembangkan
kontrol internalnya sehingga sedikit demi sedikit berlatih untuk bertanggung

jawab kepada diri sendiri.

      Pola asuh dengan memberikan kebebasan yang bertanggung jawab inilah,

menyebabkan siswa lebih percaya dan lebih terbuka, mudah bekerjasama

sehingga anak akan cenderung lebih mandiri, tegas terhadap diri sendiri, dan

memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri. Dengan pola asuh demokratis

tersebut, anak juga lebih mampu mengontrol dan mengarahkan emosinya. Mereka

dapat lebih memahami kebiasaaan temannya dan bekerjasama dengan orang lain.

Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Tembong Prasetyo (2003:29). Sikap-sikap

tersebut akan mampu mendorong anak untuk melakukan aktivitas-aktivitas

belajarnya secara bertanggung jawab dan mandiri dalam upaya mendapatkan hasil

belajar yang terbaik.

      Berbeda dengan gaya otoriter, anak cenderung memiliki kedisiplinan dan

kepatuhan yang semu. Di dalam keluarga, orang tua lebih cenderung memaksakan

kehendaknya, dengan menerapkan aturan-aturan yang sifatnya kaku. Sikap-sikap

tersebut dalam waktu lama akan menjadi sifat yang akan dibawanya, seringkali

memaksa anak untuk berperilaku seperti dirinya (orang tua).

      Di dalam pergaulan, muncul perilaku anak yang cukup ekstrem. Anak

cenderung menjauhkan diri dari lingkungan (menarik diri secara sosial). Hal

tersebut diperkuat oleh pendapat G. Tembong Prasetyo (2003:30) yang

mengetahui bahwa ada pengaruh yang berbeda terhadap perilaku yang muncul

pada anak. Jika anak laki-laki dengan pola pengasuhan otoriter sangat mungkin
memiliki risiko berperilaku anti sosial dan anak perempuan cenderung menjadi

tergantung (dependent) pada orang tua.

     Pada pola asuh otoriter yang cenderung memaksakan kehendaknya akhirnya

sulit menciptakan kreativitas, menjadi penakut dan tidak percaya diri. Dari hal

tersebut diperkuat oleh pendapat Siti Rahayu H dalam Chabib Toha (1996:113)

yang menambahkan bahwa pola asuh otoriter pada akhirnya membuat anak tidak

mandiri, karena segala sesuatunya orang tua memegang kendali (yang mengatur).

     Pada pola asuh permisive yang ditandai dengan cara orang tua mendidik

anak secara bebas, kontrol orang tua terhadap anak sangat lemah, juga tidak

memberikan bimbingan yang cukup berarti bagi anaknya (Chabib Thoha,

1996:112).

     Pernyataan tersebut di atas didukung oleh Agoes Dariyo (2004:98) yang

menyatakan bahwa apa yang diberlakukan oleh anak diperbolehkan orang tua,

orang tua menuruti segala keamanan anak, dari sisi negatif lain, anak kurang

disiplin. Hal tersebut memungkinkan kemandirian siswa dalam belajar lebih

rendah daripada yang diasuh dengan pola asuh demokratis. Namun, bila anak

mampu menggunakan kebebasan tersebut secara bertanggung jawab, maka anak

akan menjadi seorang yang mandiri.

     Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa pola asuh orang tua

berpengaruh secara signifikan terhadap kemandirian siswa dalam belajar pada

siswa kelas XI SMA Negeri Sumpiuh Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran

2005/2006. Hal ini ditunjukkan dari hasil analisis regresi yang memperoleh Fhitung

= 43,692 > Ftabel = 2,81 pada tarif signifikansi 5%. Dengan demikian
menunjukkan bahwa semakin baik pola asuh orang tua dalam mendidik anaknya,

maka akan semakin tinggi pula kemandiriannya dalam belajar.

     Pengaruh yang diberikan oleh pola asuh orang tua otoriter (X1), demokratis

(X2) dan Permisive (X3) terhadap Y (kemandirian siswa dalam belajar) secara

bersama-sama ditentukan oleh Koefisien R2 atau 63,92%. Hal ini berarti bahwa

meningkat/menurunnya kemandirian siswa dalam belajar ditentukan oleh pola

asuh orang tua sebesar 63,92%. Sedangkan sisanya 36,08% ditentukan oleh

perubahan lain yang juga berpengaruh terhadap kemandirian siswa dalam belajar.

       Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola asuh yang paling

berpengaruh terhadap kemandirian siswa dalam belajar pada siswa kelas XI SMA

Negeri Sumpiuh Kabupaten Banyumas Tahun Pelajaran 2005/2006 adalah pola

asuh demokratis sebesar 37,03%. Mengacu dari hasil tersebut maka memberi

gambaran kepada para orang tua siswa bahwa dengan mendidik anaknya dengan

pola asuh demokratis dapat menumbuhkan kemandirian yang tinggi dalam belajar

dan anak dapat memperoleh sesuatu yang positif dalam kegiatan belajarnya.

     Hal ini sesuai dengan pendapat Singgih D. Gunarsa (2003:84) yang

menyatakan bahwa dengan pola asuh demokratis, orang tua memperhatikan dan

menghargai kepentingan anak, kebebasan yang tidak mutlak dan dengan

bimbingan yang penuh pengertian antara kedua belah pihak, anak dan orang tua.

Orang tua juga mengarahkan perilaku anak sesuai dengan norma-norma kepada

anak diterangkan secara rasional dan obyektif, kalau baik perlu dibiasakan dan

kalau tidak baik hendaknya tidak diperlihatkan lagi. Dengan cara demokratis ini

pada anak tumbuh rasa tanggung jawab yang besar. Dari rasa tanggung jawab
yang besar itu mendasari anak memiliki kemauan untuk memiliki kemandirian

dalam belajar.

      Pada kenyataannya orang tua tidak dapat menggunakan salah satu pola asuh

saja misalnya hanya menerapkan pola asuh demokratis, sebab untuk mendidik

anak berkaitan dengan hal-hal yang prinsip dan tidak bisa ditawar-tawar lagi

seperti penanaman norma-norma/aturan-aturan yang berlaku di masyarakat,

penanaman ajaran-ajaran keagamaan maupun yang lainnya. Hal ini sesuai

pernyataan Agoes Dariyo (2003:98), bahwa tidak ada orang tua dalam mengasuh

anaknya hanya menggunakan satu pola asuh dalam mendidik dan mengasuh

anaknya. Dengan demikian ada kecenderungan bahwa tidak ada bentuk pola asuh

yang murni dan diterapkan oleh orang tua tetapi orang tua dapat menggunakan

ketiga bentuk pola asuh tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang

terjadi saat itu.
                                    BAB V

                          SIMPULAN DAN SARAN



1. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang diuraikan pada Bab IV dapat disimpulkan :

   Pola asuh orang tua memberikan pengaruh positif terhadap kemandirian siswa

dalam belajar. Besarnya pengaruh pola asuh orang tua terhadap kemandirian siswa

dalam belajar adalah 63,92%. Untuk pola asuh otoriter 11,06%, pola asuh

demokratis 37,03% dan pola asuh permisive 15,83%.



2. Saran

  Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut :

1. Bagi pihak orang tua hendaknya untuk meningkatkan kemandirian anak dalam

  belajar orang tua menerapkan pola asuh demokratis dan untuk penanaman

  nilai-nilai agama dengan pola asuh otoriter.

2. Bagi guru pembimbing

  -   lebih meningkatkan bidang bimbingan atau materi layanan mengenai

      belajar kepada para siswa sehingga siswa mampu memiliki kemandirian

      secara optimal di dalam belajar.

  -    lebih memperhatikan siswa yang menunjukkan gejala kemandirian rendah

      dengan cara memberikan layanan konseling individual secara terprogram.




                                         55
                              DAFTAR PUSTAKA



      Ali, Mohammad & Mohammad Asrori. 2004. Psikologi Remaja
(Perkembangan Peserta Didik). Jakarta: Bumi Aksara.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktek).
       Jakarta: Rineka Cipta.

Azwar, Saifuddin. 2001. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

------. 2000. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Basri, Hasan. 2000. Remaja Berkualitas (Problematika Remaja dan Solusinya).
        Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bahri, syaiful. 2002. Psikologi Belajar..Jakarta ; PT. Rineka Cipta.

Dariyo, Agoes. 2004. Psikologi Perkembangan Remaja. Jakarta: Ghalia
       Indonesia.

Gea, Antonius. 2002. Relasi dengan Diri Sendiri. Jakarta. PT. Gramedia


Gunarsa, S & Y. Gunarsa. 1983. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.
      Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Gunarsa, Singgih D. 1995. Psikologi Perkembangan. Jakarta: BPK Gunung
      Mulia.


Hadi, Sutrisno. 2000. Analisis Regresi. Yogyakarta: Andi Offset.
Hadi, Sutrisno. 2004. Analisis Regresi. Yogyakarta: Andi Offset.


Kartawijaya, Anne & Kay Kuswanto. 2004. Artikel Tentang “Mendidik Anak
      Untuk Mandiri”. http://www.geoogle.com.e-psikologi.

Prasetya, G. Tembong. 2003. Pola Pengasuhan Ideal. Jakarta: Elex Media
       Komputindo.
.

Soehartono, Irawan. 1995. Metode Penelitian Sosial. Bandung: Remaja
       Rosdakarya.
Surya, Hendra. 2003. Kiat mengajak Anak Belajar dan Berprestasi, Jakarta : PT.
       Gramedia.

Soeparno, Suhaenah. 2000. Membangun Kompetisi Belajar. Jakarta: Pustaka
      pelajar.

Usman, Husaini. 2000. Remaja Berkualitas, Problematika Remaja dan Solusinya,
      Yogyakarta. Pustaka pelajar.
Thoha, chabib. 1996. Kapita Selekta Pendidikan Islam, Yogyakarta : Pustaka
      pelajar (IKAPI)

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags: skripsi
Stats:
views:7978
posted:9/16/2010
language:Indonesian
pages:75
Description: skripsi mendapatkan gelar s-1