Penghasilan Tambahan dari Budidaya Sayuran Organik by ube19723

VIEWS: 0 PAGES: 2

									Penghasilan Tambahan dari Budidaya Sayuran Organik

“Mimpi saya sekarang adalah membangun semacam tempat wisata organik.
Di situ ada lahan sayur organik yang cukup besar dengan kolam ikan dan
g u b u k p e r i s t i r a h a t a n . D i t e m p a t i t u , s e l a i n m e n i k m a t i k e i n d a h a n a l a m , o r a n g-
o r a n g j u g a d a p a t b e l a j a r c a r a m e n a n a m s a y u r a n o r g a n i k ”.

                      Itulah mimpi Ibu Napsiah, 48 tahun, petani sayur organik dari Desa
                      Pulungdowo, Malang. Entah butuh waktu berapa lama lagi dia dapat                       “Sebelum ada usaha ini,
                                                                                                             saya merasa padi adalah
                      mewujudkan impiannya. Yang pasti, lahan sayuran organik seluas 500
                                                                                                            sumber penghasilan utama.
                      m2 yang telah dikembangkannya sejak setahun yang lalu kini                             Sayuran itu hanya usaha
                      bertambah menghijau.                                                                           sampingan.
                                                                                                            Sekarang saya berfikir hasil
Nafsiah tidak pernah menyangka kegiatan bertanam sayur yang dulu dilakukan dengan                              sayuran organik yang
setengah hati kini mulai membuahkan hasil. dari lahan seluas itulah sekarang Napsiah                          dikelola istri saya sudah
mengandalkan kehidupan ekonominya. Bertanam sayuran yang dikelolanya bersama Jalan                          menjadi sumber pendapatan
suaminya dipandang memberikan penghasilan tambahan disamping dari bertani padi. “Dulu                        utama bagi keluaga kami”
                                                                                                                   tutur suaminya..
dari panen padi saya hanya mendapatkan kurang lebih Rp 840.000 per empat bulan.
Sekarang, selain dari padi saya memperoleh penghasilan tambahan Rp 300.000 – Rp
                                             2”.
400.000 per bulan nya dari lahan seluas 500 m .

                                Keberhasilan usahanya telah mengantarkan Nafsiah kepada pengalaman yang sama
                                sekali baru. Sebuah perguruan tinggi di Malang pernah mengundangnya untuk bertukar
     “Maka dari itu mari
                                pengalaman mengembangkan sayur organik. “Wah, ketika itu saya gugup sekali
   belajar bersama-sama
       bertani organik.         harus berbicara didepan orang-orang pintar” katanya . Dia juga gemar menularkan
   Karena dengan betani         pengalamannya kepada tetangga-tetangganya. Tidak heran jika banyak warga sekitar
      organik kita bisa         Nafsiah yang mulai mengikuti jejaknya.
   menyehatkan ekonomi
        keluarga dan            Ceritanya berawal ketika Mitra Bumi Indonesia (MBI), sebuah LSM lokal yang berlokasi
  menyehatkan orang lain.       di Malang-Jawa Timur memperkenalkan budidaya sayuran organik. Suprie anaknya
    Ini mudah dilakukan,        yang kuliah di Fakultas Pertanian Brawijaya ketika itu PKL (Praktek Kerja Lapangan) di
  hanya telaten dan sayang
                                MBI mendapat benih sayur organik dari MBI. Nafsiah dan Suprie mencoba
     pada tanaman kita”
                                mengelolanya di lahan seluas 50m2. Lahan itu mereka tanami dengan 5 jenis sayur
         kata Napsiah
                                dalam petakan-petakan seluas 1 m2. Saat itulah Nafsiah sempat ragu. “Apakah
                                                                                                          2
                                mungkin menguntungkan menaman sayuran hanya dalam luasan 1 m ?”

Keraguannya ternyata tidak beralasan ketika bisa memanen sayuran 2 kali seminggu. Dan ini yang membuatnya
untuk mulai menekuni usaha ini. Apalagi setelah tahu ternyata biaya bertani sayuran secara organik lebih murah,
sebab sarana produksinya seperti pupuk organik bisa dihasilkan sendiri.

Sayuran tersebut dijual ke toko yang dikelola MBI. Toko yang didukung oleh Oxfam
GB ini memang sejak tahun 2001 mengkhususkan diri menampung hasil produksi
pertanian organik, khususnya sayuran dari petani-petani seperti Napsiah. Di toko
inilah Napsiah dan petani sayur organik dampingan MBI lainnya menjual sayur
organiknya dengan harga dan standard kualitas yang ditentukan bersama. Tentu saja
tidak semua produk petani organik bisa dijual melalui toko MBI. Menurut Nafsiah
mereka juga menjualnya di pasar lokal namun harganya biasanya lebih murah dari
harga jual di toko MBI.

Selain memperkenalkan pertanian organik MBI juga memperkenalkan kepada petani dan konsumen prinsip-prinsip
fair trade, yang dalam level petani berarti mengajak petani memperhatikan aspek penguatan kualitas lingkungan,
hubungan social terutama kesadaran ketaraan gender, penguatan sumber daya keuangan. Aspek-aspek ini masuk
dalam komponen biaya produksi sehingga disepakatilah harga jual yang layak dari produk tersebut. Dengan
dampingan MBI, para petani sayur ini belajar menghitung komponen harga dasar jual selain biaya produksi, asuransi
gagal panen, biaya tabungan masa depan, dan tabungan pengembangan usaha bagi petani, serta bagaimana
mengorganisasi diri dan bagaimana proses ketidakadilan menimpa perempuan. Setiap 6 bulan sekali perhitungan-
perhitungan biaya produksi dan nilai-nilai yang dianut dievaluasi. MBI menjamin bahwa semua produk yang dijual di
tokonya digaransi pasti diproses secara organik dan diperdagangkan menganut prinsip -prinsip keadilan yang disebut
fair trade.
  “Kita harus mulai          Berkaitan dengan itu, MBI juga melakukan kampanye, pameran, dan pertemuan
                             produsen-konsumen. Hal ini selain dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran
berhenti memberikan          masyarakat tentang prinsip-prinsip fair trade, perlindungan hak-hak petani miskin dan
 racun kepada anak-          mengenalkan perdagangan yang adil, juga untuk menjaring minat masyarakat akan
      anak kita”             produk organik. Dengan cara seperti itu MBI berhasil menjaring 60 konsumen setia, dan
     kata bapak              120 – 150 konsumen biasa. Kesadaran masyarakat tentang sayuran organik perlahan-
 Bambang (43) salah          lahan ditumbuhkan. Ibu Rudi salah satu konsumen setia MBI menyatakan bahwa
   satu konsumen             meskipun banyak produk sayur organik yang dijual di supermarket besar, tetapi ia lebih
      setia MBI.             memilih untuk membeli di toko MBI karena yakin bahwa produk-produk tersebut benar-
                             benar hasil dari petani miskin dan diproses secara organik. Ibu Rudi pernah mengikuti
                             pertemuan produsen-konsumen yang diadakan di desa Pulungdowo

Membangkitkan kesadaran petani untuk bertani organik memang tidak mudah. Sama dengan keberhasilan Nafsiah
yang juga tidak diperoleh dengan mudah. “Harus lebih rajin dan telaten”, katanya. Menurutnya tantangan terbesar
justru datang dari lahan-lahan tetangganya yang masih menggunakan bahan-bahan non-organik semacam pupuk
kimia.

Sebagai institusi MBI melihat masih banyak tantangan yang harus dihadapi MBI untuk mewujudkan tujuan utama
mereka yaitu membangun hubungan yang lebih manusiawi antara pertanian dan alam dan antara manusia yang
memproduksi dan yang mengkomsumsi. . Saat ini banyak produk-produk organik di pasar yang dihasilkan oleh
pemodal besar namun tidak diproduksi dengan memakai prinsip-prinsip seperti yang dianut oleh MBI. Bekerja di basis
petani kecil tidak hanya berhadapan dengan penguatan nilai-nilai tetapi juga menyangkut bagaimana nilai-nilai itu
secara praktis bisa dilakukan.

Tantangan lain adalah kebijakan pemerintah yang disebut “Go Pertanian Organik 2010” yang jelas maksudnya
adalah tahap kedua revolusi hijau, dimana unsur-unsur pertanian organik dipabrikisasi dan tidak memperhatikan
aspek hubungan harmoni antara manusia dengan manusia atau antara manusia dan alam. Di tataran yang paling
praktikal MBI harus tetap mampu menjaga produktifitas (baik rutinitas, kuantitas maupun kualitasnya), di sisi lain
masih perlu menjaga semangat petani (jangan sampai petani berorganik hanya karena proyek, tapi memang karena
kesadaran dan kebutuhan mereka), serta menjaga loyalitas konsumen dan bagaimana nilai-nilai yang dianut bisa
diinternalisasi .

Dan secara internal adalah bagaimana tetap menjaga semangat MBI sesuai dengan mottonya “bekerja konkrit
dengan kontinyu, konsisten, dan konsekuen".




 Tulisan dan photo oleh: Reina Asmedi (Progarmme Assistant and Media Officer – Sustainable Livelihood Programme Oxfam
 GB Indonesia Office)

								
To top