KONSEP PENGGUNAAN SISTEM PENGKODEAN BARIS (BARCODE) SEBAGAI SOLUSI EFISIENSI WAKTU DAN BIAYA by iratyasningrum

VIEWS: 10,512 PAGES: 5

More Info
									KONSEP PENGGUNAAN SISTEM PENGKODEAN BARIS (BARCODE) SEBAGAI SOLUSI EFISIENSI WAKTU DAN BIAYA Untung Rahardja Dina Fitria Murad Siti Amanih 3
1 2

ABSTRAKSI Perkembangan teknologi pada sistem komputer memungkinkan perbaikan di segala bidang termasuk dalam bidang produksi, s ebagai contoh adalah pengkodean terhadap suatu produk. Pengkodean saat ini masih banyak yang dilakukan secara manual terutama pada perusahaan kecil dan menengah, proses pengkodean tersebut lambat, subjektif, dan tergantung kondisi. Pengkodean adalah sebuah cara yang disusun untuk mengidentifikasi seluruh objek fisik. Pengkodean harus cukup besar untuk dapat menyebutkan satu persatu seluruh objek, dan untuk mengakomodasi seluruh metode penamaan saat ini dan yang akan datang. Harus disediakan standar pengkodean untuk industri, seperti standar UCC (Uniform Code Council) dan EAN International (European Article Number). Standar ini termasuk UPC ( Uniform Product Code), pengkodean harus dapat diperluas, memberikan pengembangan dimasa depan didalam design dan ukuran. Untuk mempercepat proses pengkodean tersebut diperlukan suatu sistem yang dapat dilakukan secara otomatis. Salah satu teknik yang dapat digunakan adalah teknik sistem pengkodean baris atau barcode yang dapat berfungsi sebagai sarana pengkodean terhadap suatu produk secara otomatis, karena dengan adanya pengkodean yang menggunakan sistem yang telah terkomputerisasi dalam suatu produk akan membawa suatu kemudahan bagi perusahaan tersebut untuk dapat beraktifitas dengan mudah dan cepat dalam pengelompokan suatu barang dan ketepatan perhitungan produksi, sehingga hasil produksi dapat dengan cepat dilaporkan dan dianalisa oleh Departemen lain yang membutuhkan (Sariyadi 2006). Kata Kunci : Pengkodean, Barcode, UPC, EAN

PENDAHULUAN Sistem pengkodean yang digunakan dalam suatu perusahaan pastinya selalu berbeda-beda, sesuai dengan teknologi/sistem yang diterapkan oleh perusahaan tersebut, maka alangkah baiknya jika pengkodean dilakukan dengan menggunakan standarisasi barcode. Barcode merupakan metode yang paling mudah, paling efektif dan paling dapat diandalkan (eliable ) untuk mengindentifikasikan dan memasukkan informasi ke r dalam sebuah komputer yang berbasis sistem informasi (Galbiati,1990). Pada awal perkembangannya penggunaan pengkode an baris atau barcode dilakukan untuk membantu proses pemeriksaan barang-barang secara otomatis seperti pada supermarket, industri-industri, serta berbagai macam produk yang memerlukan identifikasi terperinci, bahkan sampai di sampul surat yang kita terima (biasanya dari luar negeri) (Youllia Indrawaty 2000), sistem barcode telah cukup lama kita ketahui. Barcode yang selalu menempel pada barang itu kemudian digunakan sebagai alat bantu transaksi penjualan. Sistem barcode biasanya selalu diawali dengan pencetakan barcode, penempelannya pada barang dan pembacaan barcode pada saat terjadi transaksi barang tersebut keluar, dengan bantuan sistem barcode maka akan mempercepat transaksi penjualan. Efektif, karena dengan alat ini kesalahan memasukan nomor barang tidak akan terjadi lagi, untuk membantu pembacaan secara manual dicantumkan juga angka-angka dibawah kode baris tersebut. Angkaangka tersebut tidak mendasari pola kode baris yang tercantum. Ukuran dari kode baris tersebut dapat diperbesar maupun diperkecil dari ukuran nominalnya tanpa tergantung dari mesin yang membaca. Pada kebanyakan orang, barcode terlihat membingungkan, rumit dan kompleks. Tetapi untuk sebuah komputer, barcode sangat simpel dan mudah dibaca serta diketahui. PERMASALAHAN & SOLUSI PEMECAHAN MASALAH Sistem pengkodean barang yang masih dilakukan secara manual pada suatu perusahaan kecil dan menengah, sehingga menyebabkan pekerjaan tidak efisien, dan seringkali perusahaan yang ingin menerapkan sistem barcode terbentur dengan tingginya biaya yang ditimbulkan sistem tersebut. Sistem ini menghendaki printer barcode yang khusus seperti O-ring, Zebra yang harganya berkisar Rp. 8 juta sampai Rp. 24 juta, dan kertas yang digunakannya pun harus spesifik, dengan biaya sekitar Rp.30,- per buah untuk ukuran 8 x 12 cm. Pita printer yang digunakannya pun hanya sekali cetak kemudian tidak dapat dipakai lagi. Akibatnya, perusahaan tidak jadi dan menyatakan akan menganalisa kembali keuntungan dan kerugian yang timbul. Untuk membuat barcode harus adanya suatu software yang dikhususkan. Untuk mempermudah pengkodean suatu produk, maka diperlukan suatu metode pengkodean secara otomatis, cepat, dan efektif. Salah satu diantaranya yaitu diusulkan untuk menggunakan teknik sistem
1 2

Ketua STMIK dan Dosen Jurusan Sistem Informasi Perguruan Tinggi Raharja Dosen Jurusan Sistem Informasi Perguruan Tinggi Raharja 3 Mahasiswa Jurusan Sistem Informasi Perguruan Tinggi Raharja

pengkodean baris (barcode), dengan adanya sistem barcode yang diterapkan pada suatu perusahaan, maka efisiensi waktu dalam pengerjaan pengkodean produk akan dapat tercapai, dan dengan munculnya printerprinter yang dilengkapi dengan kemampuan mencetak barcode tanpa batasan -batasan, seperti kertas yang khusus, pita sekali cetak, dan harganya pun relatif murah. Tetapi sudah tentu tetap memerlukan pemrograman yang khusus, seperti halnya printer barcode, tapi saat ini kita dapat menggantinya dengan menggunakan printer Epson LQ 2170, dan harga printer ini sangat terjangkau yaitu berkisar Rp. 1,25 juta, dan kertas yang digunakannya pun tidak perlu kertas yang khusus, kita dapat menggantinya dengan kertas HVS fotokopi. Barcode merupakan metode yang paling mudah, paling efektif dan paling dapat diandalkan (reliable ) untuk mengindentifikasikan dan memasukkan informasi ke dalam sebuah komputer yang berbasis sistem informasi.(Galbiati,1990), dan yakinlah dengan menggunakan barcode kita dapat menambah akurasi kegiatan masukan data. PEMBAHASAN Bar coding adalah sebuah bentuk artificial identifier. Barcode merupakan sebuah kode mesin yang dapat dibaca. Barcode terdiri dari sebuah bentuk bar dan spasi (hitam dan putih) dalam rasio yang didefinisikan yang mempresentasikan karakter alphanumerik. Barcode pada dasarnya merupakan susunan garis vertical hitam dan putih dengan ketebalan yang berbeda, sangat sederhana tetapi sangat berguna, dengan kegunaan untuk menyimpan data–data spesifik misalnya kode produksi, tanggal kadaluwarsa, nomor identitas dengan mudah dan murah, walaupun teknologi semacam itu terus berkembang dengan ditemukannya media magnetic rfid, electronics tags, serial eeprom (seperti pada smart card). Namun pada pelaksanaannya, penggunaan teknologi barcode ini masih mengalami beberapa kendala dalam hal pembuatan maupun identifikasi kode barcode yang ada. Hal ini dikarenakan kode -kode yang ada di barcode tidak dapat diartikan secara manual, tetapi memerlukan alat bantu lain yaitu scanner sebagai barcode reader, namun baik printer barcode maupun scanner, hanya berfungsi untuk menterjemahkan kode-kode angka biasa menjadi kode garis/batang, begitu pula sebaliknya dengan scanner yang berfungsi untuk menterjemahkan kode-kode batang menjadi angka yang mempunyai arti. Barcode akan terus bertahan dan masih me miliki kelebihan – kelebihan tertentu yaitu, yang paling utama murah dan mudah sebab media yang digunakan adalah kertas dan tinta, sedangkan untuk membaca barcode ada begitu banyak pilihan dipasaran dengan harga yang relatif murah mulai dari yang berbentuk pena (wand), slot, scanner, sampai ke cd dan bahkan kita dapat membuatnya sendiri. Bentuk Barcode Bentuk Barcode ada dua jenis, yaitu : 1. 2. Barcode satu dimensi (1D) Barcode satu dimensi biasanya dinamakan linear bar codes (kode berbentuk baris). Barcode dua dimensi (2D) Adalah barcode yang dikembangkan lebih dari sepuluh tahun lalu, tetapi baru sekarang ini mulai populer. Barcode dua dimensi ini memiliki beberapa keuntungan dibandingkan linear bar codes (barcode satu dimensi) yaitu, dengan menggunakan barcode dua dimensi, informasi atau data yang besar dapat disimpan di dalam suatu ruang (space) yang lebih kecil.

Ada berbagai jenis barcode yang digunakan, masing-masing memiliki batasan -batasan karakter tertentu. Beberapa jenis barcode yang terkenal yang sering digunakan adalah : 1. Code 39 atau terkadang disebut juga Code 3 of 9. Karakter yang valid digunakan untuk jenis ini adalah 0 sampai 9, A sampai Z,-,.,$,/,+,%, dan spasi. Jenis datanya adalah alfanumerik, panjangnya dapat mencapai 50 digit. 2. Code 128. Code 128 memiliki 3 set yaitu Set A, Set B, dan Set C. Jenis karakternya juga adalah alfanumerik. Code 128 memiliki keunikan sendiri karena memerlukan 1 digit check. Panjangnya bisa mencapai 50 karakter. 3. Interleaved 2 of 5. Jenis data untuk tipe ini adalah numerik, sehingga carácter yang valid disini adalah dari 0 sampai 9. Tipe ini juga membutuhkan 1 digit check. Panjangnya 31 digit. 4. EAN-13, data yang valid adalah 0 sampai 9, dengan jenis numerik. Panjangnya maksimum 12 karakter dan 1 karakter sebagai digit check. 5. EAN-8, data yang valid adalah 0 sampai 9, dengan jenis numerik. Panjangnya maksimum 7 karakter dan 1 karakter sebagai digit check. 6. UPC-A, datanya numerik dari 0 sampai 9. Panjangnya 11 digit, dan memiliki 1 digit check 7. UPC-E, datanya numeric dari 0 sampai 9. Panjangnya 10 digit, dan memiliki 1 digit check. 8. POSTNET, panjangnya dapat mencapai 31 karakter, jenisnya numeric dari 0 sampai 9, dan memiliki 1 digit check (Markus 2003). Masih banyak lagi jenis barcode lainnya, seperti Codeabar, UPC-2 (Universal Product Code-2), UPC-5, MSI, PLESSEY dan lain -lain. Tetapi dalam jurnal ini hanya 8 jenis barcode tersebut yang sering digunakan dan dapat dicetak dengan printer Epson, diantara ke 8 itu yang penulis gunakan atau terapkan adalah Pengkodean dengan menggunakan standarisasi barcode EAN-8 (European Article Number-8), barcode dengan

standard EAN-8 merupakan barcode yang umum digunakan di Indonesia, pengkodean dengan EAN-8 dirancang untuk suatu produk, barcode ini merupakan sebuah metode yang diperlukan untuk kecepatan proses dan mengurangi kesalahan pengkodean produk atau barang (Suhartati 2005). Barcode EAN-8 adalah penyederhanaan dari barcode jenis EAN-13, meskipun ada beberapa yang lebih sederhana lagi yaitu barcode UPC-E, dan dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 1. Brcode UPC-E Dari ketiga jenis gambar barcode diatas, hanya untuk menunjukan perbandingan ukuran relatif saja, ketiga jenis barcode tersebut tidak dapat mewakili pada produk yang sama. EAN-8 juga mempunyai check digit yaitu menghitung dengan cara yang sama pada EAN-13 (makebarcode.com).

Contoh Format Simbol EAN : -8

Left half Characters : Four symbol characters from Start number set A guard bars

Center Guard bars

Left half Characters : Four symbol characters from number set C Stop guard bars

1
Contoh Struktur Barcode :

2

Gambar 2. Format Simbol EAN-8

3

4

5

6

7

0

Gambar 3. Struktur Barcode

Keterangan Gambar Barcode : Komputer tidak membaca bilangan yang berada dibagian bawah barcode, tetapi bilangan tersebut dicetak agar orang dapat membaca barcode dengan mudah bila diperlukan, hal ini difungsikan juga untuk menghindari adanya kerusakan pembacaan dari scanner. A . Number System Character : Angka ini merupakan sebuah sistem bilangan barcode UPC yang mengkarakteristikan jenis-jenis khusus pada barcode, NSC terletak disebelah kiri barcode, kode-kode NSC sebagai berikut : 1. 0 - Standard UPC number 2. 1 - Reserved. 3. 2 – Random weight items like fruits,vegetables, meats, etc. 4. 3 – Pharmaceuticals 5. 4 – In – store code for retailers 6. 5 – Coupons 7. 6 – Standard UPC Number 8. 7- Standard UPC Number 9. 8 – Reserved 10. 9 – Reserved B. 3 Guard Bars : Ada 3 (tiga) guard bars yang ditempatkan di awal, tengah dan akhir pada barcode. Guard bars bagian awal dan akhir di encode kan sebagai ”bar-space-bar” atau ”101”. Guard bar bagian tengah di encode kan sebagai ”space-bar-space-bar-space” atau ”01010”. C. Manufactured Kode perusahaan ini ada 5 (lima) digit bilangan yang secara khusus menentukan manufaktur dari suatu produk. Kode perusahaan ataupun manufaktur ini dilindungi dan ditetapkan oleh Uniform Code Council (UCC). D. Product Code Kode produk ini ada 5 (lima) digit bilangan yang ditetapkan oleh perusahaan untuk setiap produk yang dihasilkannya, setiap produk yang berbeda dan setiap ukuran yang berbeda, akan memiliki kode produk yang unik. E. Check Digit Disebut sebagai digit ”self-check”. Check digit ini terletak di bagian luar sebelah kanan barcode yang merupakan suatu ”old-programmer’s trick” untuk mengvalidasikan digit-digit lainnya (number system character, manufacturer code, product code) yang dibaca secara teliti. Metoda Pengkodean Ada Dua Sistem : A. Binary coding (Pengkodean Biner) Dua ukuran bar dan space digunakan untuk meng-encode-kan data. Bar dan spasi dapat diubah ke dalam kode biner dengan mudah, yang kemudian diubah (menggunakan sebuah tabel) ke dalam karakter ASCII. B. Proportional coding Ada beberapa ukuran yang berbeda pada bar dan space. Ukuran pada bar / space dan urutan dari bar dan space mendefinisikan karakter yang dipresentasikan. Kode tersebut lebih sulit dibaca (kemungkinan tidak mudah mentranslasikannya ke biner) dan diperlukan ketelitian yang lebih dalam mencetak dan men-scanning barcode. Pengkodean data dalam sebuah barcode dilakukan sebagai berikut : 1. Sebuah fixed number pada bar digunakan per karakter. Hal ini berarti bahwa jika sebuah bar tidak terbaca, maka barcode tersebut tidak akan dapat dibaca. 2. Jumlah karakter yang mungkin yang dapat di-encoded dalam beberapa jenis barcode lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah karakter yang valid. Hal ini berarti jika ukuran dari salah satu bar / space salah terbaca, maka karakter ilegal akan terbaca. Oleh karena itu, kecepatan substitusi karakter menjadi sangat rendah. Penggunaan Dalam hal ini, penulis mencoba membuat kode barcode tersendiri dengan CorelDraw12, sebagai salah satu cara dan solusi termudah untuk pembuatan kode barcode dengan menggunakan printer biasa selain dengan printer khusus yang dirancang untuk barcode. ditambah lagi dengan adanya fasilitas pembuatan kode barcode pada CorelDraw 12 yang akan memudahkan kita untuk membuatnya, CorelDraw itu sendiri merupakan aplikasi desain grafis yang paling populer. Selain mudah dipelajari dan memiliki fasilitas-fasilitas pendukung yang cukup lengkap, hasil dari aplikasi desain ini tidak kalah dengan aplikasi sejenisnya. Dikeluarkan oleh Corel Corporation, saat ini CorelDraw telah mencapai versi 12. Tidak banyak perubahan pada

CorelDraw versi 12, namun yang sangat terasa adalah untuk mengg unakan CorelDraw 12 harus memakai Windows2000 ataupun Windows XP. Menu -menu ataupun fasilitas baru tersebut diantaranya adalah tambahan menu 3 point Drawing Tool, fasilitas ekspor ke office lebih mudah, fasilitas bahasa yang lebih komplet, ditambah lagi dengan adanya fasilitas untuk membuat kode barcode (Yudhi Herwibowo 2005). Cara pembuatan sistem barcode dengan menggunakan CorelDraw 12 ini sangat sederhana dan mudah. Kita tinggal masuk ke menu CorelDraw 12, dengan fasilitas insert barcode, setelah itu pilih jenis barcode apa yang hendak kita buat, misalkan kita hendak membuat barcode code EAN8, maka tinggal pilih jenis tersebut, kemudian kita masukkan angka yang hendak kita buat untuk label barcode, setelah itu akan muncul gambar barcode dengan angka-angka dibawah kode baris tersebut. Cara sebuah komputer-scanner membaca sebuah barcode (Watkins, 1999) Suatu bilangan barcode tunggal sebenarnya terdiri dari tujuh unit. Satu unit terdiri dari salah satu warna hitam dan putih. Sebuah unit yang berwarna hitam ditunjukan dengan sebuah bar, sedangkan yang berwarna putih ditunjukan dengan sebuah space (spasi). Cara lain penulisan barcode adalah dengan bilangan ”1” untuk menyatakan black bar dan bilangan ”0” untuk menyatakan white space. Misalnya, tujuh unit berikut ini adalah 0011001 dapat dinyatakan sebagai berikut space -space-bar-bar-space-space-bar. Sebuah barcode UPC bilangan di sisi bagian kiri barcode (kode perusahaan/manufaktur) dikodekan berbeda dengan bilangan di sisi bagian kanan (kode produk). Bilangan yang berada di sebelah kiri merupakan kebalikan dari bilangan yang ada di sebelah kanan, misalkan jika bar disebelah kanan berarti sebuah space di sebelah kiri. Pengkodean di sebelah kanan dinamakan kode even parity sebab unit black bar-nya berjumlah genap, sedangkan pengkodean di sebelah kiri dinamakan kode odd parity sebab unit black bar-nya berjumlah ganjil. Bilangan-bilangan yang dikodekan mempunyai perbedaan untuk tiap-tiap sisi barcode, sehingga barcode dapat dibaca (scanned) dari sebelah kiri maupun dari sebelah kanan. KESIMPULAN Jenis barcode bermacam-macam dan mempunyai ciri khas tersendiri. Satu kesamaan dari barcode adalah sama-sama digunakan untuk mengidentifikasikan suatu barang. Barcode merupakan metode yang paling mudah, paling efektif dan paling dapat diandalkan (reliable ) untuk mengindentifikasikan dan memasukkan informasi ke dalam sebuah komputer yang berbasis sistem informasi. Bagi perusahaan kecil dan menengah yang ingin menerapkan sistem barcode dalam penanganan identifikasi barang merupakan sebuah kemajuan dan solusi yang tepat, dan keuntungan yang didapatkan dengan menggunakan sistem ini adalah penghematan waktu maupun tenaga dalam hal identifikasi barang, memperbaiki image perusahaan, memudahkan pengelompokan suatu barang, ketepatan perhitungan produksi jika dibandingkan dengan perhitungan manual dengan operator manusia. Salah satu resiko yang didapatkan dengan menerapkan teknologi barcode ini adalah menyangkut biaya, terutama biaya pembelian alat-alat pendukung instalasi barcode ini, sepe rti : komputer, printer barcode, label barcode, maupun scanner barcode . Tetapi biaya ini sebanding dengan penghematan yang akan didapatkan perusahaan dalam hal efisiensi produksi jangka panjang, yaitu ketepatan dan akurasi perhitungan suatu barang. DAFTAR PUSTAKA 1. Asep Indra & Sariyadi : ”Sistem Barcode Dengan Menggunakan Visual Basic 6.0 Pada PT. Filamendo Sakti”, Skripsi, 2005 2. Sri Suhartati : ”EAN.UCC BARCODE”, GSI Indonesia, 2005 3. Eddy Syahbudi : ”Membangun jalur supply chain dengan EAN.UCC system”, GSI Indonesia, 2005 4. Yudhi Herwibowo : ”42 Contoh Desain CorelDraw 12”, Andi Offset Yogyakarta, 2005 5. Andri Setyawan, S.Kom : ”Panduan Desain Grafis dengan CorelDraw 12”, Andi Offset Yogyakarta, 2005 6. www.google.com. 7. Software CorelDraw 12


								
To top