Docstoc

atresia ani

Document Sample
atresia ani Powered By Docstoc
					                                         BAB I
                              LAPORAN KASUS



I. IDENTIFIKASI
   Nama                      : By. L
   Jenis kelamin             : Perempuan
   Umur                      : 3 tahun
   Alamat                    : Desa Mekar Sari Belitang
   Kebangsaan                : Indonesia
   Agama                     : Islam
   MRS                       : 18 April 2009




II. ANAMNESIS
      Keluhan Utama (alloanamnesis)
       Tidak memiliki anus


      Riwayat Perjalanan Penyakit
       Sejak lahir, penderita tidak mempunyai anus, pada umur tiga hari dilakukan
       operasi pada penderita sehingga penderita buang air besar melalui perut.




III. PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Generalis
       Keadaan umum                    : sedang
       Berat badan                     : 14 kg
       Suhu                            : 36,5 ºC




                                                                                  1
      Nadi                            : 122 x/menit
      Pernapasan                      : 24 x/menit
      Pupil                           : Isokor
      Mata                            : Konjunctiva pucat (-), sklera ikterik (-)
      Kulit                           : Tidak ada kelainan
      KGB                             : Tidak ada pembesaran
      Leher                           : Tidak ada kelainan
      Paru-paru                       : Tidak ada kelainan
      Jantung                         : Tidak ada kelainan
      Abdomen                         : Lihat status lokalis
      Genitalia Eksterna              : Tidak ada kelainan
      Ekstremitas Superior            : Tidak ada kelainan
      Ekstremitas Inferior            : Tidak ada kelainan
      Anal                            : Lihat status lokalis


B. Status Lokalis
      Regio abdomen
      I         : tampak kolostomi pada perut kiri bawah
      P         : lemas
      P         : tympani
      A         : Bising usus (+) normal


      Regio Anal
      I         : Anus (-)
                Anal dimple (+)
                Fistula (-)




                                                                                    2
IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
A. Pemeriksaan Laboratorium (13 Mei 2009)
      Darah rutin
      Hb                    : 10,5 g/dl
      Ht                    : 34 vol%
      Leukosit              : 10.500 /mm³
      Trombosit             : 283000 /mm³
      LED                   : 20 mm/jam
      Hitung jenis          : -Basofil      : 0%
                             -Eosinofil     : 3%
                             -Batang        : 2%
                             -Segment       : 42%
                             -Limposit      : 48%
                             -Monosit       : 5%
      Waktu pembekuan       : 13 menit
      Waktu perdarahan      : 2 menit


      Kimia darah
      Natrium        : 138 mmol/l
      Kalium         : 5,2 mmol/l




B. Pemeriksaan Radiologis




                                                    3
       Lopogram (27 April 2009) :
       Jarak antara marker dengan punctum anal dimple 3 cm




V. DIAGNOSIS KERJA
   Post kolostomi atas indikasi atresia ani pro PSA


VI. PENATALAKSANAAN
   -puasa
   -IVFD KAEN 1B gtt L/menit (mikro)
   -AB
   -rencana PSARP
   Post PSA:
            -   KAEN 1B gtt L/menit (mikro)
            -   Cefotaxim 2x 250 mg
            -   Metronidazol 3x150 mg
            -   Tramadol 1 amp/kolf




VII.   PROGNOSIS
   Quo ad vitam        : bonam
   Quo ad functionam : dubia ad bonam




                                                             4
                                       BAB II
                              TINJAUAN PUSTAKA




VIII. DEFINISI
     Atresia berasal dari bahasa Yunani, a artinya tidak ada, trepis artinya nutrisi
  atau makanan. Dalam istilah kedokteran atresia itu sendiri adalah keadaan tidak
  adanya atau tertutupnya lubang badan normal atau organ tubular secara
  kongenital disebut juga clausura. Atresia dapat terjadi pada seluruh saluran tubuh,
  misalnya atresia ani. Atresia ani yaitu tidak berlubangnya dubur. Atresia ani
  memiliki nama lain yaitu anus imperforata. Jika atresia terjadi maka hamp ir selalu
  memerlukan tindakan operasi untuk membuat saluran seperti keadaan normalnya.
     Menurut Ladd dan Gross (1966) anus imperforata dalam 4 golongan, yaitu:
  1. Stenosis rektum yang lebih rendah atau pada anus
  2. Membran anus yang menetap
  3. Anus imperforata dan ujung rektum yang buntu terletak pada bermacam-
     macam jarak dari peritoneum
  4. Lubang anus yang terpisah dengan ujung rektum
     Pada golongan yang ketiga, hampir selalu disertai dengan fistula. Pada wanita
  sering ditemukan fistula rektovagina dan jarang rektoperitoneal dan tidak pernah
  rektourinarius, sedangkan pada laki- laki sering ditemukan fistula rektourinarius
  dan berakhir di kandung kencing atau uretra dan jarang rektoperineal.




II. EMBRIOLOGI DAN PATOGENESIS


     Anus dan rektum berasal dari struktur embriologi yang disebut kloaka.
  Pertumbuhan ke dalam sebelah lateral bangunan ini membentuk septum
  urorektum yang memisahkan rektum di sebelah dorsal dari saluran kencing di



                                                                                   5
  sebelah ventral. Kedua sistem (rektum dan saluran kencing) menjadi terpisah
  sempurna pada umur kehamilan minggu ke-7. Pada saat yang sama, bagian
  urogenital yang berasal dari kloaka sudah mempunyai lubang eksterna, sedangkan
  bagian anus tertutup oleh membran yang baru terbuka pada kehamilan minggu ke-
  8.
        Kelainan dalam perkembangan proses-proses ini pada berbagai stase
  menimbulkan suatu spektrum anomali, kebanyakan mengenai saluran usus bawah
  dan     bangunan       genitourinaria.   Hubungan   yang   menetap   antara bagian
  genitourinaria dan bagian rektum kloaka menimbulkan fistula.


III. KLASIFIKASI
  Klasifikasi menurut Wingspread
  Laki- laki
  a. Kelompok I, kelainan:
        -fistel urin
        -atresia rektum
        -perineum datar
        -fistel tidak ada
        -invertogram: udara > 1 cm dari kulit
        Tindakan: kolostomi neonatus; operasi definitif pada usia 4-6 bulan
  b. Kelompok II, kelainan:
        -fistel perineum
        -membran anal
        -stenosis anus
        -fistel tidak ada
        -invertogram: udara < dari 1 cm dari kulit
        Tindakan: operasi langsung pada neonatus




                                                                                   6
Wanita
   a. Kelompok I, kelainan:
         -kloaka
         -fistel vagina
         -fistel anovestibuler atau rektovestibuler
         -atresia rektum
         -fistel tidak ada
         -invertogram: udara > 1 cm dari kulit
         Tindakan: kolostomi neonatus
Gambar 1. Kloaka. Tipe ini merupakan gambaran klasik pada perempuan dengan
   malformasi kongenital dengan sebuah orificium perineal. Genitalia tampak cukup
   pendek, yang ditemukan tetap dengan kloaka.




   b. Kelompok II, kelainan:
         -fistel perineum
         -stenosis anus
         -fistel tidak ada
         -invertogram: udara < 1 cm dari kulit
         Tindakan: operasi langsung pada neonatus




Gambar 2. Fistula fourchette. Malformasi ini adalah pada suatu tempat pertengahan
   jalan antara fistula perineal dan fistula vestibular. Fistula ini mempunyai lapisan



                                                                                    7
mukosa vestibular yang lembab pada bagian anteriornya, tetapi pada bagian
posteriornya kulit perineal kering.




Klasifikasi yang lain:
1. Anomaly tinggi           :anomaly supra levator, yaitu jika punctum rectum
  berakhir di atas m. levator ani/puborectal sling.
2. Anomaly pertengahan : anomaly intermediate
3. Anomaly rendah           : jarak antara punctum dengan anal dimple < 1 cm.
  Anomaly pertengahan dan rendah disebut juga anomaly translevator, karena
  telah melewati m. levator ani.


Otot-otot yang membatasi diafragma pelvis:
1. M. pubococcygeus
2. M iliococcygeus
3. M. puborectal sling


Didalam puborectal space, lewat alat-alat penting:
-pada laki- laki: uretra, rectum
-pada wanita: uretra, rectum, vagina
Otot-otot yang membentuk kontinensia alvi:
-m. sphincter ani internum-----lanjutan m.circularis rectum



                                                                                8
-m. sphincter ani externum
-m. levator ani
Kerusakan salah satu otot yang terpenting ini (m. sphincter ani externum dan m.
levator ani) akan menimbulkan inkontinensia alvi, sedangkan kerusakan m.
sphincter ani internum tidak begitu berpengaruh.


Secara umum, anomali anorectal dapat dibedakan menjadi :
1. tanpa fistula
2. dengan fistula


Macam- macam fistula:
1. fistula rektovesical     : hubungan punctum dengan buli-buli
2. fistula rektouretral     : hubungan punctum dengan uretra
3. fistula rektoperineal    : hubungan punctum dengan perineum
4. stenose ani              : beberapa fistula ke dimple anal
5. fistula rektoscrotal ♂   : hubungan punctum dengan scrotum
6. fistula rektovaginal     ♀: hubungan punctum dengan vagina
7. fistula rektovestibularis ♀: hubungan punctum dengan vestibulum


Pada wanita, fistula rektovesical dan rektouretral sukar terjadi oleh karena
terhalang uterus. Yang paling sering terjadi ádalah fistula rektovestibularis.


    Bayi yang mempunyai fistula lebih beruntung daripada yang tanpa fistula.
Pada bayi tanpa fistula, tidak ada hubungan dengan dunia luar sehingga ditemui
gejala obstruksi usus. Oleh karena merupakan obstruksi usus letak rendah, maka
gejala yang ditimbulkan tidak begitu berat.
    Bayi atresia ani tanpa fistula belum ada gejala obstruksi usus pada hari
pertama. Pada hari 3-4, dimana bayi sudah aerofagi dan udara sudah sampai ke




                                                                                 9
  distal, akan timbul perut kembung. Udara yang ditiup oleh bayi akan sampai ke
  punctum terendah paling cepat dalam 18 jam, rata-rata 24 jam.


  Insiden: 1 kejadian tiap 3000-5000 kelahiran


IV.PENYEBAB


     Defek embriologi yang menyebabkan malformasi masih belum dapat
  dianggap sebagai penyebab pasti, pembentukan membran kloaka dan selanjutnya
  gangguan dalam pembukaan urogenital dan anal yang terjadi pada minggu ke-8
  kehamilan. Defek pada proses pembentukan dan bentuk dari septum urorektal
  posterior banyak dilaporkan sebagai gambaran abnormal dari imperforasi anus.
  Duktus mullerri muncul setelah periode kritis, bagaimana mereka bergabung
  dalam perkembangan ini tidak jelas.

     Faktor predisposisi seseorang memiliki anak dengan imperforasi anus, tidak
  jelas. Bagaimanapun, faktor genetik kadang-kadang ada.             Banyak kasus
  imperforasi anus disertai riwayat yang sama dalam keluarga, tetapi ada beberapa
  keluarga tanpa riwayat yang memiliki anak dengan malformasi ini. Sampai saat
  ini, studi genetik tetap terus dilakukan.

V.GEJALA


  Gejala yang menunjukan terjadinya atresia ani atau imperforasi anus berupa:
  1. Perut kembung
  2. Muntah
  3. Tidak bisa buang air besar
  4. Pada pemeriksaan radiologis dengan posisi tegak serta terbalik (jungkir) dapat
  dilihat sampai dimana terdapat penyumbatan (foto dilakukan pada umur lebih dari




                                                                                  10
  24 jam, oleh karena pada umur tersebut dalam keadaan normal, seluruh traktus
  digestivus sudah berisi udara dan bayi dibalik selama 5 menit).
  5. Pemasukan termometer melalui anus
  6. Pemeriksaan urin untuk mengetahui apakah terdapat meconeum di dalamnya,
     sehingga fistula dapat diketahui lebih dini.


VI. PEMERIKSAAAN


     Pemeriksaan rutin dilakukan untuk mencari kelainan lain. Lebih dari
  50% penderita mempunyai kelainan kongenital lain. Yang sering
  ditemukan adalah kelainan saluran genitourinal (30%), kelainan jantung
  (75%), kelainan saluran cerna misalnya atresia esophagus atau atresia
  duodenum, dan kelainan tulang.

  PEMERIKSAAN KHUSUS PADA WANITA

     Neonatus wanita perlu pemeriksaan khusus, karena seringnya
  ditemukan fistel ke vestibulum atau vagina (80-90 %)

  Kelompok I

     Pada fistel vagina, meconeum tampak keluar dari vagina. Evakuasi
  feses menjadi tidak lancar sehingga sebaiknya cepat dilakukan
  kolostomi. Pada fistel vestibulum, muara fistel terdapat di vulva.
  Umumnya evakuasi feses lancar selama penderita hanya minum susu.
  Evakuasi mulai terhambat saat penderita mulai makan makanan padat.
  Kolostomi dapat direncanakan bila penderita dalam keadaan optimal.
  Bila terdapat kloaka maka tidak ada pemisahan antara traktus urinarius,



                                                                                 11
traktus genitalis dan saluran cerna. Evakuasi feses umumnya tidak
sempurna sehingga perlu cepat dilakukan kolostomi.

   Pada atresia rektum, anus tampak normal. Tetapi pada pemeriksaan
colok dubur, jari tidak dapat masuk lebih dari 1-2 cm. tidak ada evakuasi
meconeum sehingga perlu segera dilakukan kolostomi. Bila tidak ada
fistel, dibuat invertogram, yaitu foto rontgen di ambil pada bayi di letak
inverse (pembalikan posisi) sehingga udara di kolon akan naik sampai di
ujung buntu rectum. Jika udara >1cm dari kulit perlu segera dilakukan
kolostomi.

Kelompok II

   Lubang fistel perineum biasanya terdapat di antara vulva dan tempat
letak anus normal, tetapi tanda timah anus yang buntu ada di
posteriornya. Kelainan ini umumnya menimbulkan obstipasi. Pada
stenosis anus, lubang anus terletak di tempat yang seharusnya, tetapi
sangat sempit. Evakuasi feses tidak lancar sehingga biasanya harus
dilakukan terapi definitif.

   Bila tidak ada fistel dan pada invertogram udara <1cm dari kulit,
dapat segera dilakukan pembedahan definitif. Dalam hal ini evakuasi
tidak ada, sehingga perlu segera dilakukan kolostomi.

PEMERIKSAAN KHUSUS PADA LAKI-LAKI




                                                                       12
   Yang harus diperhatikan ialah adanya fistel atau kenormalan bentuk
perineum dan ada tidaknya butir meconeum di urine. Dari kedua hal tadi
pada anak laki dapat dibuat kelompok dengan atau tanpa fistel perineum.

Kelompok I

   Jika ada fistel urine, tampak meconeum keluar dari orifisium
eksternum uretra, mungkin terdapat fistel ke uretra maupun ke vesika
urinaria. Cara praktis untuk menentukan letak fistel ialah dengan
memasang kateter urine. Bila kateter terpasang dan urin jernih, berarti
fistel terletak di uretra karena fistel tertutup kateter. Bila dengan kateter
urine mengandung meconeum berarti fistel ke vesika urinaria. Bila
evakuasi feses tidak lancar, penderita memerlukan kolostomi segera.
Pada atresia rektum tindakannya sama dengan pada wanita; harus dibuat
kolostomi.

   Jika tidak ada fistel dan udara > 1 cm dari kulit pada invertogram,
maka perlu segera dilakukan kolostomi.

Kelompok II

   Fistel perineum sama dengan pada wanita: lubangnya terdapat pada
anterior dari letak anus normal. Pada membran anal biasanya tampak
bayangan meconeum dibawah selaput. Bila evakuasi feses tidak ada
sebaiknya dilakukan terapi definitif secepat mungkin. Pada stenosis
anus, sama dengan pada wanita, tindakan definitif harus dilakukan. Bila




                                                                          13
  tidak ada fistel dan udara < 1 cm dari kulit pada invertogram, perlu juga
  segera dilakukan pertolongan bedah.

  Gambar 3. String-of-pearls malformation. Gambar ini menunjukkan material
  mukoid putih dalam fistula perineal. Fistula sering meluas ke anterior atas median
  raphe scrotum.




VII.DIAGNOSIS


      Malformasi anorektal dapat segera diketahui begitu bayi lahir. Cara
  penegakan diagnosis pada kasus atresia ani atau anus imperforata adalah semua
  bayi yang lahir harus dilakukan pemasukan termometer melalui anusnya, tidak
  hanya untuk mengetahui suhu tubuh, tapi juga untuk mengetahui apakah terdapat
  anus imperforata atau tidak. Bila anus terlihat normal dan terdapat penyumbatan
  yang lebih tinggi dari perineum maka gejala akan timbul dalam 24-48 jam. Bila
  atresia ani, dicari apakah ada fistula atau tidak. Hal ini dapat diketahui dengan
  melihat dimana meconeum keluar.
  -bila meconeum keluar bersama-sama kencing, maka ada dua kemungkinan
  fistula:



                                                                                 14
        o Fistula rektouretral
            *bila meconeum mula- mula keluar bersama miksi. Urine selanjutnya
                makin lama makin jernih.
            *dapat juga meconeum keluar tanpa melalui miksi.
        o Fistula recovesical
            *bila meconeum keluar bersama-sama air seni dan urine tetap keruh
        kehitaman sampai akhir miksi.
-bila terdapat bintik        meconeum di perineum,       maka merupakan fistula
rektoperineal.
-bila terdapat bintik meconeum di midline rafe maka merupakan fistula
rektoscrotal.
-bila   keluar     meconeum     melalui    vestibulum,   maka   merupakan    fistula
rektovestibularis.




Gambar 4. Malformasi Bucket-Handle. Tampak berkas kulit melapisi kompleks
m. sphincter, hal ini merupakan tanda pada bayi baru lahir dengan imperforasi
anus dan fistula perineal.




    Untuk anomali anorektal tanpa fistula, jenisnya dapat diketahui dengan foto
wangensteen-rice, yaitu foto polos perut tanpa kontra, secara invertogram.




                                                                                 15
  Prinsipnya: udara akan menempati bagian tertinggi dari suatu rongga.
  Berdasarkan hal tersebut, maka wangensteen dan rice lalu menerapkan prinsip ini.
  Caranya: bayi dibalik badannya sehingga kepala menempati bagian yang terendah
  dan bokong merupakan bagian yang tertinggi. Pada bokong anak dipasang marker
  dari Pb. Dengan demikian udara akan bergerak ke atas. Sehingga dapat diketahui
  jenisnya.
     Pada kasus anomali anorektal tanpa fistula dimana ada gejala obstruksi usus,
  teknik demikian tidak dapat diterapkan, karena isi lambung dapat keluar, sehingga
  terjadi aspirasi. Untuk itu dapat dilakukan modifikasi foto mangensteen-rice yaitu
  dengan posisi menunggng (knee-chest position). Dengan cara ini bahaya aspirasi
  menjadi berkurang.
     Untuk atresia ani dengan fistula, diagnosa dengan rontgent ini tidak perlu
  karena diperkirakan jenis anomali anorectal dengan mengenal jenis fistulanya:
  -fistula rektovesical---anomali anorectal tinggi
  -fistula rektoperineal---anomali anorectal translevator
  -fistula rektouretral---anomali anorectal translevator




VIII. PEMERIKSAAN PENUNJANG


     Untuk menentukan golongan malformasi dipakai invertogram yang dapat
  dibuat setelah udara yang ditelan oleh bayi telah mencapai rektum. Invertogram
  adalah teknik pengambilan foto untuk menilai jarak puntung distal rektum
  terhadap tanda timah atau logam lain pada tempat bakal anus di kulit perineum.
  Sewaktu foto diambil, bayi diletakkan terbalik (kepala dibawah) atau tidur
  telungkup, dengan sinar horisontal diarahkan ke trokanter mayor. Selanjutnya
  diukur jarak dari ujung udara yang ada di ujung distal rektum ke tanda logam di
  perineum. Biasanya dipakai klasifikasi Wingspread (1984) sebagai penggolongan
  anatomi.



                                                                                  16
IX. PENATALAKSANAAN


       Malformasi anorektal dieksplorasi melalui tindakan bedah yang disebut
   diseksi posterosagital atau plastik anorektal posterosagital (PSARP, posterosagital
   anorectoplasty).
       Pada tindak bedah plastik anorektal posterolateral yang mulai dari os koksigi,
   kolostomi merupakan perlindungan sementara. Ada dua tempat kolostomi yang
   dianjurkan dipakai pada neonatus dan bayi, yaitu transversokolostomi dan
   sigmoidostomi. Bentuk kolostomi yang aman adalah stoma laras ganda.
       Pada pembedahan harus diperhatikan preservasi seluruh otot dasar panggul
   dan persarafannya.
       Prognosis bergantung dari fungsi klinis. Dengan khusus dinilai pengendalian
   defekasi, pencemaran pakaian dalam, sensibilitas rektum dan kekuatan otot
   sfingter pada colok dubur.
       Fungsi kontinensia tidak hanya bergantung pada kekuatan sfingter atau
   sensibilitasnya, tetapi juga bergantung pada usia serta kooperasi dan keadaan
   mental penderita.




Gambar 5. Kolostogram distal, tampak posteroanterior. Fase inisial dari augmentasi-
tekanan distal kolostografi bertujuan untuk menentukan dimana kolostomi dilakukan
dan berapa banyak kolon yang dilakukan pull-through.




                                                                                   17
Media type: X ray




Gambar 6. Kolostogram distal, tampak lateral. Gambar ini menunjukkan fase kedua
dari kolostografi distal, pasien diletakkan pada posisi lateral. Marker radio-opaque
tampak jelas pada kanan bawah gambar, menandai kompleks otot pada kulit. Gambar
ini menunjukkan bahwa rektum berhubungan dengan saluran urin pada level bulbar
uretra, biasanya terjadi pada anak laki- laki.




                                                                                 18
Media type: X ray




                    19
                                      BAB III
                               ANALISIS KASUS



         Seorang balita perempuan, berusia 3 tahun, bertempat tinggal di luar kota
Palembang berkebangsaan Indonesia, agama Islam, menjalani rawat inap di
Departemen Bedah Rumah Sakit Dr. Moh. Hoesin Palembang sejak 18 April 2009.
Penderita dibawa berobat ke RSMH dengan keluhan tidak memiliki anus. Sejak lahir,
os buang air besar melalui perut. Dari anamnesis, kita dapat berpikir akan adanya
atresia ani.
         Pada pemeriksaan fisik status generalis dalam batas normal. Pada status
lokalis di regio abdomen pada inspeksi tampak usus keluar dari perut, pada palpasi
abdomen lemas, perkusi abdomen tympani, dan pada auskultasi terdengar bising usus
(+) normal. Pada regio anus, inspeksi tidak terdapat anus, anal dimple (+), fistula (-).
Hasil pemeriksaan fisik semakin menguatkan diagnosis atresia ani tanpa fistula.
               Pada pemeriksaan radiologi invertogram dengan knee chest position,
didapat jarak antara marker dengan punctum dimple 3 cm. Hasil ini menunjukkan
bahwa kelainan ini merupakan kelainan letak tinggi (supralevator), dimana jarak
antara ujung buntu rektum dengan kulit lebih dari 1 cm.
         Penatalaksanaan pada penderita yaitu puasa, diberikan terapi IVFD.
Dilakukan pemasangan kateter untuk menilai keseimbangan cairan. Antibiotik
diberikan untuk mengatasi infeksi yang terjadi pada saluran cerna berupa
enterokolitis. Direncanakan terapi berupa PSA untuk pembuatan saluran setelah
pernah kolostomi. Prognosis pasien ini quo ad vitam dan quo ad functionam adalah
bonam.




                                                                                     20
                                DAFTAR PUSTAKA



Anonim. Atresia ani. Diperoleh dari:
     http://www.fkuii.org/tiki- index.php?=Atresia+ani6 . Diakses pada 8 November
     2007.
Anonim. Imperforate anus. Diperoleh dari:
     http://www.emedicine.com/ped/TOPIC1171.HTM . Diakses pada: 8 November
     2007
De Jong, Wim & R. Sjamsuhidajat. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: Penerbit
     Buku Kedokteran EGC
Mansjoer A, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Malformasi anorektal. Hal
     379. Editor: Mansjoer A; Jakarta; Media Aesculapius.
Pena, Alberto.1996. Ilmu Kesehatan Anak. Malformasi anorektum. Hal 1322-25.
     Editor: Nelson; Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.




                                                                                21

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:5955
posted:9/8/2010
language:Indonesian
pages:21