sifat kimia dan fisika by chrdoc

VIEWS: 5,626 PAGES: 8

More Info
									Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 6 (2) (2006) p: 101-108


   KAJIAN BEBERAPA SIFAT KIMIA DAN FISIKA
 INCEPTISOL PADA TOPOSEKUEN LERENG SELATAN
      GUNUNG MERAPI KABUPATEN SLEMAN
                           1                    2                             2
                   Resman , Syamsul A Siradz dan Bambang H Sunarminto
    1                                                                2
        Staf Pengajar AMIK-Yapenas, Kendari, Sulawesi Tenggara. Staf Pengajar Fakultas
                              Pertanian UGM, Yogyakarta 55281



                                            Abstrak
     Penelitian ini dilakukan pada toposekuen lereng selatan gunung Merapi Kabupaten
Sleman, pada empat lokasi yaitu: desa Tritis dengan ketinggian tempat 800 m dpl, desa
Ngelosari 680 m dpl, Desa Sudimoro 540 m dpl dan desa Blembem 435 m dpl. Tujuan
penelitian ini adalah mengkaji beberapa sifat fisik dan kimia Inceptisol pada toposekuen
dilereng selatan gunung Merapi kabupaten Sleman.
     Berdasarkan hasil analisis Laboratorium diketahui beberapa sifat fisik yaitu; lempung
                                                                                              3
2,95% - 8,89 %), debu 3,40 %-37,82 %, pasir 58,79 % - 88,48 %, berat jenis 2,40 g/cm -
           3                                3
2,88 g/cm , berat volume 0,81-1,34 g/cm , porositas 47,99-67,01 %, dan sifat kimia yaitu;
karbon organik 0,95-4,51 %, bahan organik 1,64-7,78 %, nitrogen total 0,16- 0,41 %,
nisbah C/N 4-12, kapasitas pertukaran kation 20,68-37,47 cmol(+)/kg), pH(H O) 6,0-6,3,
                                                                                    2
pH(NaF) 10,3-11,2, retensi fosfat 78,82-89,26 %), Fe-dithionit 0,10-0,34 %, Si-total 13,54-
39,57 %), Fe-total 4,47-5,81 %, Al - total 4,05-5,37 %).
     Pada toposekuen dilereng selatan gunung Merapi Kabupaten Sleman, keempat profil
tanah hasil analisis fisik (berat jenis dan berat volume) hampir merata pada tiap profil dan
analisis kimia (bahan organik, KPK, retensi fosfat) menurun dengan meningkatnya jeluk
tanah. Berdasarkan indikator perkembangan pedogesis profil pertama (Tritis) dan profil kedua
(Ngelosari) belum berkembang, sedangkan profil ketiga (Sudimoro) dan profil keempat
(Blembem) sudah lebih berkembang dibandingkan dengan kedua profil sebelumnya.
     Keempat profil tanah pada toposekuen lereng selatan gunung Merapi Kabupaten Sleman,
tanahnya termasuk kedalam ordo (Inceptisols), sub ordo (Udepts), great group
(Dystrudepts), sub group (Andic Dystrudepts) dan (Vitrandic Dystrudepts).

Kata - kata kunci : inceptisol, toposequence



Pendahuluan                                           daerah-daerah berlereng curam solum
                                                      yang terbentuk tipis.       Warna tanah
    Inceptisol adalah tanah yang belum
                                                      Inceptisol beranekaragam tergantung
matang         (immature)       dengan
                                                      dari jenis bahan induknya.         Warna
perkembangan profil yang lebih lemah
                                                      kelabu bahan induknya dari endapan
dibanding dengan tanah yang matang
                                                      sungai, warna coklat kemerah-merahan
dan masih banyak menyerupai sifat
                                                      karena mengalami proses reduksi,
bahan induknya (Hardjowigeno, 1993).
                                                      warna hitam mengandung bahan
    Tanah Inceptisol yang terdapat di
                                                      organik yang tinggi (Wambeke, 1992).
dataran rendah solum yang terbentuk
                                                          Sifat fisik dan kimia tanah Inceptisol
pada umumnya tebal, sedangkan pada

                                                101
102                                          Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 6 (2) (2006)

                                        3
antara lain; berat jenis 1,0 g/cm ,            -   total,  nisbah    C/N,    kapasitas
kalsium karbonat kurang dari 40 %, pH          pertukaran kation, pH (H O), pH (NaF),
                                                                            2
mendekati netral atau lebih (pH < 4            retensi fosfat, Fe - ditionit dan Si - total,
tanah bermasalah), kejenuhan basa              Fe - total, Al - total.
kurang dari 50 % pada kedalaman 1,8                 Perbandingan sifat fisik dan kimia
m, COLE antara 0,07 dan 0,09, nilai            tanah Inceptisol digunakan indeks
porositas 68 % sampai 85 %, air yang           kemiripan.      Mula-mula semua harga
tersedia cukup banyak antara 0,1 - 1           pada tiap horizon diubah menjadi nilai
atm (Smith, 1965).                             nisbi. Harga sebenarnya yang terbesar
     Proses       pedogenesis       yang       diberi nilai (100) dan nilai yang terkecil
mempercepat proses pembentukan                 diberi nilai (1), nilai yang terletak antara
tanah Inceptisol adalah pemindahan,            nilai terbesar dan yang terkecil dihitung
penghilangan       karbonat,    hidrolisis     dengan cara (interpolasi).          Menurut
mineral     primer    menjadi    formasi       Buol et al., (1980) dalam menghitung
lempung,      pelepasan     sesquioksida,      indeks kemiripan (I) dari horizon yang
akumulasi bahan organik dan yang               dipasangkan dengan rumus sebagai
paling utama adalah proses pelapukan,          berikut :
sedangkan proses pedogenesis yang
menghambat        pembentukan      tanah
                                                                           %
Inceptisol adalah pelapukan batuan
                                                   Keterangan :
dasar menjadi bahan induk (Smith et
                                               I   = indeks kemiripan
al.,1973).
                                               W = jumlah nilai nisbi terkecil diantara
     Uraian di atas sangat menarik
                                               dua parameter dari       horizon yang
untuk dikaji beberapa sifat fisik dan
                                               dibandingkan.
kimia tanah Inceptisol yang terletak di
                                               A dan B = jumlah nilai nisbi dari
Desa Tritis (800 m dpl), Ngelosari (680
                                               parameter     dua     horizon      yang
m dpl), Sudimoro (540 m dpl) dan
                                               dibandingkan.
Blembem (435 m dpl), pada toposekuen
lereng     selatan     gunung     Merapi
                                                        Jika indeks kemiripan (I)
Kabupaten Sleman.
                                               mempunyai nilai > 80, berarti kedua
                                               horizon yang dibandingkan adalah
                                               mirip. Bila nilai (I) terletak diantara (50
Metode Penelitian
                                               dan 79), kemiripan kedua horizon yang
     Penelitian pendahuluan dilakukan          dibandingkan diragukan. Sedang bila
dengan menentukan lokasi profil                nilai I < 50, berarti kedua horizon yang
pewakil tanah pada keempat lokasi              dibandingkan tidak mirip.
yaitu di Desa Tritis, Ngelosari, Sudimoro
dan Blembem.           Penelitian utama        Hasil dan Pembahasan
dilakukan dengan jalan mendiskripsi
profil tanah, kemudian mengambil               Sifat Fisik dan Kimia Tanah
cuplikan tiap lapisan tanah yang                    Hasil analisis beberapa sifat fisik
diperlukan untuk analisis laboratorium.        dan kimia tanah Inceptisol di desa
     Berbagai analisis yang dilakukan          Tritis,   Ngelosari,   Sudimoro    dan
yaitu sifat fisik dan kimia tanah antara       Blembem, pada toposekuen lereng
lain; tekstur tanah (lempung, debu,            selatan gunung Merapi kabupaten
pasir), berat jenis, berat volume,             Sleman disajikan dalam Tabel-1.
porositas, C - organik, bahan organik, N
Resman et al. Sifat kimia fisika Inceptisol lereng Merapi                                 103

Tekstur Tanah                                         (2,74 % - 3,06 %), profil ketiga (SM)
    Fraksi lempung (2,54 % - 8,89 %)                  (1,47 % - 1,80 %), profil keempat (BB)
memiliki harkat rendah (PUSLITTANAK,                  (0,95 % - 1,70 %). Tingginya C -
1983), fraksi debu (3,40 % - 37,82 %)                 organik pada profil teratas didominasi
memiliki harkat rendah - tinggi                       rumput yang tumbuh rapat, bahan-
(PUSLITTANAK, 1983), fraksi pasir                     bahan amorf yang cukup tinggi yang
(59,23 % - 88,48 %) ini memiliki harkat               dapat menghambat proses perombakan
sedang - tinggi (PUSLITTANAK, 1983).                  bahan organik oleh mikrobia tanah.
Keempat profil didomina-si oleh fraksi
                                                      Nitrogen Total
pasir dengan tekstur pasir geluhan,
                                                           Pada keempat profil tanah hasil
sedangkan fraksi yang paling rendah
                                                      analisis N - total berkisar antara (0,16
adalah fraksi lempung dengan tekstur
                                                      % - 0,41 %) ini memiliki harkat rendah
geluhan.
                                                      - sedang (Blakemore, 1987). Pada tiap
Berat Jenis                                           horizon tanah terjadi perubahan N -
     Pada keempat profil hasil analisis               total disebabkan oleh kehilagan N -
                                               3
berat jenis berkisar antara (2,46 g/cm -              total oleh alih rupa, juga dipengaruhi
              3                                       tingkat perombakan bahan organik.
2,88 g/cm ) memiliki harkat rendah                    Sedangkan         kehorizon       bawah
(PUSLITTANAK, 1983).          Hal ini                 menunujukkan kenaikan N - total ini
menunjukkan horizon tanah tersebut                    diduga karena perombakan bahan
mengandung bahan organik yang cukup                   organik yang belum intensif.
tinggi berkisar antara (1,64 % - 7,78
%).
Berat Volume                                          Nisbah C/N
    Pada keempat profil hasil analisis                    Pada keempat profil hasil analisis
berat volume berkisar antara (0,81                    nisbah C/N menunjukkan nilai berkisar
      3                3                              antara (4,00 % - 11,28 %) masing-
g/cm - 1,34 g/cm ) ini memiliki harkat
                                                      masing        berharkat       matang
rendah (PUSLITTANAK, 1983). Kecilnya
                                                      (PUSLITTANAK, 1983).         Hal ini
berat volume dapat disebabkan bahan
                                                      menunjukkan     nitrogen    mengalami
amorf yang menyusun partikel tanah
                                                      proses mineralisasi mikroorganisme
dan kandungan bahan organik yang
                                                      menjadi unsur lain yang sederhana.
tinggi berkisar antara (1,64 % - 7,78
                                                      Namun bila terjadi penambahan nilai
%).
                                                      nisbah C/N dihorizon bawah sudah
Porositas                                             mengalami proses mineralisasi tapi
     Pada keempat profil hasil analisis               penguraian kurang intensif.
porositas berkisar antara (47,99 % -
67,01%). Peningkatan nilai porositas                  Kapasitas Pertukaran Kation (KPK)
berkaitan dengan nilai berat volume dan                   Pada keempat profil hasil analisis
nilai berat jenis tanah, kandungan                    (KPK) menunjukkan nilai yang berkisar
bahan      organik      yang      tinggi              antara (20,68 cmol(+)/kg - 37,47
menyebabkan tanah menjadi porous,                     cmol(+)/kg) masing-masing berharkat
juga pengaruh material amorf penyusun                 tinggi-sedang  (Blakemore,     1987).
tanah.                                                Tingginya KPK ditentukan oleh kadar
                                                      lempung dan bahan organik yang ada di
Carbon Organik                                        dalam tanah.     Makin tinggi kadar
    Hasil analisis profil pertama (TT),               lempung dan bahan organik maka nilai
(2,57 % - 4,51 %), profil kedua (NS)                  KPK      akan  semakin     meningkat
104                                         Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 6 (2) (2006)

(Notohadiprawiro, 2000).                      hasilnya     meningkat,       menurunya
                                              kandungan aluminium (Al) pada horizon
pH (H O) dan pH (NaF)
       2                                      bawah diduga terakumulasi pada
      Pada keempat profil nilai pH (H O)      horizon B. Hasil analisis Fe - total pada
                                     2
berkisar antara (6,0 sampai 6,3)              keempat profil berkisar antara (4,47 %
menunjukkan agak masam sampai                 - 5,81 %), ini menunjukkan makin
mendekati netral.   Hasil analisis pH         kehorizon bawah hasilnya meningkat.
(NaF), berkisar antara (10,4 sampai           Hal ini disebabkan mineral-mineral besi
11,2) ini menunujukkan mengandung             (Fe) terbentuk secara insitu dan tahan
bahan amorf yang cukup tinggi.                pada pencucian sehingga pada horizon
                                              C jumlahnya meningkat.
Retensi Fosfat
    Hasil analisis retensi fosfat keempat
                                              Indeks Kemiripan
profil tanah menunjukkan nilai yang
berkisar antara (78,82 % - 89,26 %).
Kemampuan meretensi fosfat ini terkait        Sifat Fisik Tanah
dengan banyaknya kandungan mineral-                    Indeks kemiripan sifat fisik pada
mineral amorf yang tinggi di dalam            keempat profil menunjukkan nilai yang
tanah. Menurut (Bohn et al., 1979)            berkisar antara (1 % sampai 47 %).
menyatakan bahwa tingginya retensi            Pada keempat profil yang sangat
fosfat dapat terjadi sangat kuat              berpengaruh bahan induk pembentuk
disebabkan oleh kandungan (besi dan           tanah yang diduga berasal dari bahan
aluminium) amorf yang berasal dari            induk abu volkan yang menyebabkan
hidroksi oksida aluminium dan allofan         cepat terjadinya variasi antara horizon.
tinggi.                                       Selain itu perbedaan sifat fisik
                                              disebabkan oleh sebaran fraksi-fraksi
Fe- larut dithionit                           butir yang tidak seragam antara
     Pada keempat profil menunjukkan          horizon, hal tersebut menyebabkan
nilai yang berkisar antara (0,10 % -          perbedaan nilai pada indeks kemiripan.
0,34 %) masing-masing berharkat               Lihat tabel 2.
sangat rendah (Blakemore, 1987).
Meningkatnya Fe - dithionit pada              Sifat Kimia Tanah
horizon      bawah       karena kondisi                Indeks kemiripan sifat kimia
pelapukan yang sama menyebabkan               pada keempat profil menunjukkan nilai
mineral besi (Fe) yang berada dihorizon       yang berkisar antara (1 % sampai 52
bawah       tahan      terhadap  proses       %).       Hal tersebut diduga faktor
pelapukan, sehingga pembentukan Fe -          kerapatan vegetasi, jumlah kation yang
dithionit lebih besar.                        dapat dipertukarkan di dalam tanah dan
Si-total, Al-total, Fe-total                  proses pelindian kation-kation basa
    Hasil analisis Si - total pada            yang terakumulasi pada masing-masing
keempat profil berkisar antara (13,54 %       profil tanah. Lihat tabel 3.
- 39,57 %), ini menunjukkan makin
kehorizon bawah hasilnya meningkat,           Indikator Perkembangan Pedogenesis
hal ini disebabkan karena pelindian /         Tanah
pencucian yang tinggi. Hasil analisis Al             Berdasarkan       parameter
- total pada keempat profil berkisar          penduga     perkembangan     tanah
antara (4,36 % - 5,37 %), ini                 menunjukkan    bahwa  pada    profil
menunjukkan makin kehorizon bawah             pertama (Desa Tritis) pedogenesis
                                              belum berkembang, sama halnya
Resman et al. Sifat kimia fisika Inceptisol lereng Merapi                                   105

dengan profil kedua (Desa Ngelosari).                 profil keempat   (Desa     Blembem)
Sedangkan pada profil ketiga (Desa                    menunjukkan    pedogenesis     sudah
Sudimoro) menunjukkan pedogenesis                     berkembang.
sudah    berkembang        lebih   lanjut
dibandingkan tiga profil yang lain. Pada


Tabel 2 : Indeks kemiripan sifat fisik pada keempat profil yang diamati

       Lokasi            TT                    NS                     SM                  BB
                   1      2      3      1       2      3     1     2     3     4     1     2     3
         TT1      100     2     22      1      18     19    17    20     17   19     7     4    20
         TT2             100     2      1       2      2     2     2      2    2     2     2     2
         TT3                    100     1      16     19    17    19     16   18     7     4    20
         NS1                           100      1      1      1     1     1    1     1     1     1
         NS2                                   100    29     14    37    47   41     8     3    28
         NS3                                          100    16    30    24   32    10     4    20
         SM1                                                100   16     13   15     7     4    16
         SM2                                                      100 26      42     7     4     3
         SM3                                                            100   40     6     3    23
         SM4                                                                  100    5     4    24
         BB1                                                                        100    4     7
         BB2                                                                              100    4
         BB3                                                                                    100
          Keterangan : TT = Tritis, NS = Ngelosari, SM = Sudimoro, BB = Blembem
          Jika Indeks kemiripan: > 80 = mirip, 50-79 = diragukan, < 50 = tidak mirip

Tabel 3 : Indeks kemiripan sifat kimia dari empat profil yang diamati

       Lapisan           TT                    NS                     SM                  BB
                   1      2       3      1      2      3      1     2     3    4     1     2     3
         TT1      100    24      31     30     31     15    39    15     25   24     1    30    17
         TT2             100     30     32     28     12    30    11     21   19     1    22    25
         TT3                     100    37     38     17    45    17     31   28     1    37    19
         NS1                            100    35     15     36    15    27   24     1    30    16
         NS2                                   100    15     40    16    28   25     1    32    19
         NS3                                          100    21    16    29   26     1    26    17
         SM1                                                100   25     43   38     2    51    26
         SM2                                                      100 21      23     2    36    24
         SM3                                                            100   32     1    44    22
         SM4                                                                  100    2    52    25
         BB1                                                                        100    1     2
         BB2                                                                              100   33
         BB3                                                                                    100

          Keterangan : TT = Tritis, NS = Ngelosari, SM = Sudimoro, BB = Blembem



Tabel 4: Parameter Penduga Perkembangan Tanah.
106                                         Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 6 (2) (2006)


         Profil     Jeluk cm       Nisbah D/L         KPK lempung          Nisbah      Si-t/Al-t
          TT1          0 - 20         4,57                5,42                       -
          TT2         20 - 40         12,83              12,71                     3,34
          TT3         40 - 52         8,72                7,55                     3,71
          NS1           0-8            3,54               3,54                       -
          NS2           8-28           2,40               2,69                     4,31
          NS3         28 - 40          3,26               3,62                     5,40
          SM1          0 - 40         3,08                6,11                       -
          SM2         40 - 68         2,12                4,39                       -
          SM3         68 - 84          2,13               2,84                     4,31
          SM4        84 - 130         2,27                3,42                     4,25
          BB1          0 - 20          3,12               7,15                       -
          BB2         20 - 48          4,51               7,99                     5,80
          BB3        48 - 100          2,45               4,55                     3,54




Kesimpulan Dan Saran                               (Inceptisols), sub ordo (Udepts),
                                                   great group (Dystrudepts), sub
Kesimpulan                                         group (Andic Dystrudepts) dan
1. Pada toposekuen lereng selatan                  (Vitrandic Dystrudepts).
   gunung Merapi Kabupaten Sleman,
   keempat profil tanah hasil analisis
   sifat fisik (berat jenis dan berat         Saran
   volume) hampir merata pada tiap            1. Untuk memahami dan mengetahui
   profil sedangkan sifat kimia (bahan           mengenai       hubungan      antara
   organik,    KPK,     retensi   fosfat)        ketinggian    tempat    dan     jenis
   menurun dengan meningkatnya                   tanaman       yang     ada      pada
   jeluk tanah.                                  toposekuen lereng selatan gunung
2. Berdasarkan                  indikator        Merapi Kabupaten Sleman perlu
   perkembangan pedogesis profil                 dilakukan penelitian yang detail.
   pertama (Tritis) dan profil kedua          2. Perlu melestarikan tanah Inceptisol
   (Ngelosari) belum berkembang,                 di toposekuen lereng selatan
   sedangkan profil ketiga (Sudimoro)            gunung Merapi Kabupaten Sleman
   dan profil keempat (Blembem)                  supaya tingkat kesuburan tanah
   sudah         lebih      berkembang           tetap terjaga dan tidak hilang oleh
   dibandingkan dengan kedua profil              adanya erosi.
   sebelumnya.
3. Topografi di daerah penelitian
   dengan kondisi iklim dan bahan             Daftar Pustaka
   induk yang sama dapat merupakan
   faktor utama yang mempengaruhi             Buol,    S.W., F.D. Hole and R.J.
   sifat-sifat fisik dan kimia tanah                  McCracken. 1980. Soils Genesis
                                                                              nd
   serta perkembangan tanah.                          and Classification. 2 ed. Iowa
4. Keempat       profil   tanah     pada              State Univ. Press. Ames.
   toposekuen lereng selatan gunung           Blakemore, L. C., Searle, and B.K. Daly.
   Merapi       Kabupaten        Sleman,            1987.     Methods for Chemical
   tanahnya termasuk kedalam ordo                   Analysis of Soils. NZ Soils Bureu.
Resman et al. Sifat kimia fisika Inceptisol lereng Merapi                                  107

       Departemen of Scientific and                    Smith, G. D.    1965.   Pedologie, Soil
       Industrial Reseaach. Lower Hutt,                     Classification.  J. Americkx, L.
       New Zealand. 103 p.                                  De Leenher, C. Donis, J. Fripiat,
Bohn, H.L., B.L., Mcneal and G.A.                           H.    Laudelout, G.     Manil, A.
     O’connor. 1997. Soil Chimistry.                        Noirfalise, G. Scheis, D. Stenuit,
     A. Wiley Interscience Publication.                     R.    Tavernier, A.     Van Den
     John Wiley and Sons Canada.                            Hende.
Hardjowigeno, S.           Klasifikasi
                          1993.                        Smith, G. D. 1973. Discusses Soil
       Tanah dan Pedogenesis. (Edisi                        Taxonomy. Soil Survey Horizons.
       pertama). Akademika Pressindo.                       Agriculture Philippine.
       Jakarta. 274 hal.                               Wambeke, A. V. 1992. Soil of The
Notohadiprawiro, T. 2000. Tanah dan                        Tropics.   Departemen of Soil,
     Lingkungan. Guru Besar Ilmu                           Crop and Atmospheric Sciences.
     Tanah       Fakultas   Pertanian                      Cornel Univ. Ithaca New York.
     Universitas     Gadjah    Mada.
     Yogyakarta.
Pusat Penelitian Tanah. 1983. Kriteria
       Penilaian Data Analisis Sifat Kimia
       Tanah. Bogor.




                                                   ф
Tabel 1. Hasil analisis Laboratorium

                                          N-
No   Kode     pH     pH     C.O    B.O    tot    C/N      KPK        Retensi   Fe-dit   Fe-tot   Si-tot   Al-tot   Lempung   Debu    Pasir    BJ      BV     Porost.
     Sampel   H 2O   NaF     %      %      %            cmol(+)/kg   P%         %        %        %        %         %        %       %      g/cm3   g/cm3     %
1     TT-1    6.0    11.2   3.20   5.52   0.31   10.3     23.63      85.26     0.16                                 4.36     19.92   75.72   2.52    1.19    52.94
2     TT-2    6.0    11.2   4.51   7.78   0.40   11.3     37.47      89.26     0.19     5.81     13.54    4.05      2.95     37.82   59.23   2.47    1.00    59.72
3     TT-3    6.1    11.2   2.59   4.47   0.33   7.7      32.03      89.06     0.24     5.76     14.54    5.37      4.24     36.97   58.79   2.46    0.91    63.10
4    NS-1     6.1    11.0   3.06   5.28   0.41   7.5      23.61      83.35     0.13                                 2.54     8.98    88.48   2.63    1.24    52.88
5    NS-2     6.2    11.0   2.98   5.15   0.33   9.0      22.93      88.18     0.14     4.47     22.83    5.30      8.54     3.40    88.06   2.67    1.14    57.25
6    NS-3     6.3    11.0   2.74   4.73   0.23   11.9     20.28      87.23     0.12     5.68     23.56    4.36      5.72     12.92   81.36   2.88    1.27    55.96
7    SM-1     6.1    10.6   1.53   2.64   0.30   5.1      24.02      84.30     0.12                                 3.93     12.10   83.97   2.40    1.05    56.47
8    SM-2     6.1    10.5   1.47   2.53   0.21   7.0      23.86      80.31     0.19                                 5.44     11.56   83.00   2.61    1.17    55.15
9    SM-3     6.3    10.6   2.11   3.64   0.27   7.8      25.23      85.09     0.30     4.69     22.84    5.30      8.89     18.95   72.16   2.61    0.92    64.86
10   SM-4     6.3    10.6   1.80   3.10   0.25   7.2      24.81      87.95     0.34     5.71     23.56    4.49      7.25     23.73   68.75   2.47    0.81    67.01
11    BB-1    6.2    10.4   0.95   1.64   0.16   5.9      22.25      78.82     0.10                                 3.11     9.70    87.19   2.73    1.34    50.86
12    BB-2    6.2    10.3   1.00   1.73   0.25   4.0      22.68      88.90     0.17     4.49     24.27    4.36      2.84     12.81   84.35   2.53    1.32    47.99
13    BB-3    6.3    10.3   1.70   2.94   0.22   7.7      23.03      87.25     0.23     4.59     18.91    5.33      5.06     13.38   81.56   2.55    1.15    54.84

								
To top