Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

GAMBARAN PERAN KADER POSYANDU DALAM PELAKSANAAN PROGRAM DETEKSI INI TUMBUH KEMBANG PADA BAYI (Di Kelurahan Manisrenggo Kecamatan Kota Kota Kediri Tahun 2009)

VIEWS: 19,189 PAGES: 66

GAMBARAN PERAN KADER POSYANDU DALAM PELAKSANAAN PROGRAM DETEKSI INI TUMBUH KEMBANG PADA BAYI (Di Kelurahan Manisrenggo Kecamatan Kota Kota Kediri Tahun 2009)

More Info
									   GAMBARAN PERAN KADER POSYANDU DALAM
       PELAKSANAAN PROGRAM DETEKSI DINI
            TUMBUH KEMBANG PADA BAYI
  (Di Kelurahan Manisrenggo Kecamatan Kota Kota Kediri
                      Tahun 2009)




                  KARYA TULIS ILMIAH




                                Oleh

                         IDA WIDJAJATI
                        NIM : 0602200130



Karya Tulis Ilmiah ini diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan
  dalam menyelesaikan Program Pendidikan Ahli Madya Kebidanan

      DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
        POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES MALANG
                 JURUSAN KEBIDANAN
           PROGRAM STUDI KEBIDANAN KEDIRI
                     TAHUN 2009
                       LEMBAR PERSETUJUAN


                        KARYA TULIS ILMIAH

GAMBARAN PERAN KADER POSYANDU DALAM PELAKSANAAN
                  PROGRAM DETEKSI DINI
               TUMBUH KEMBANG PADA BAYI
     (Di Kelurahan Manisrenggo Kecamatan Kota Kota Kediri
                         Tahun 2009)


                                  Oleh :

                             IDA WIDJAJATI
                             NIM. 0602200130


                    Telah disetujui untuk diseminarkan



Pembimbing I




P.H. WAHJURINI, S.Pd.                  Tanggal : 17 Desember 2009
NIP. 19460708 197003 2 001



Pembimbing II




Hj. TEMU BUDIARTI, S.Pd, M.Kes.            Tanggal : 17 Desember 2009
NIP. 19510423 197302 2 001
                         LEMBAR PENGESAHAN

                          KARYA TULIS ILMIAH

GAMBARAN PERAN KADER POSYANDU DALAM PELAKSANAAN
                  PROGRAM DETEKSI DINI
               TUMBUH KEMBANG PADA BAYI
     (Di Kelurahan Manisrenggo Kecamatan Kota Kota Kediri
                         Tahun 2009)

                                      Oleh :

                              IDA WIDJAJATI
                              NIM. 0602200130
                 Telah dipertahankan di depan Team Penguji
                      Pada tanggal : 29 Desember 2009
                           Susunan Team Penguji


( APIN SETYOWATI, S.KM., M.Kes.)                   ( _____________________ )
      Penguji I                                           Tanda Tangan



( SUWOYO, S.Pd., S.Kep.Ners. )                     ( _____________________ )
     Penguji II                                           Tanda Tangan



( P.H. WAHJURINI, S.Pd. )                          ( _____________________ )
       Penguji III                                        Tanda Tangan

      Karya Tulis Ilmiah ini telah diterima sebagai salah satu persyaratan
              Untuk memperoleh gelar Ahli Madya Kebidanan

                            Malang,     Januari 2010

                                  Mengetahui
                            Ketua Jurusan Kebidanan
                            Poltekes Depkes Malang




                      SURACHMINDARI, S.ST, M.Pd
                        NIP. 19560517 198103 2 001
                         PERNYATAAN KEASLIAN


      Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam karya tulis ilmiah ini tidak
terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh sebutan Profesional Ahli
Madya Kebidanan di Politehnik Kesehatan Malang di Kediri, dan sepanjang
Gambaran Pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah
ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam
naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
       Dan apabila terdapat karya maupun pendapat yang pernah ditulis atau
diterbitkan oleh orang lain, selain dari daftar pustaka, Saya bersedia menerima
sanksi dari Institusi.



                                              Kediri,      Desember 2009




                                                        IDA WIDJAJATI
                                                          0602200130
                                 ABSTRACT


  DESCRIPTION ROLE OF IMPLEMENTATION POSYANDU
        CADRES IN EARLY DETECTION GROWTH
               PROGRAM FOR INFANT
               (in Manisrenggo Sub District Kediri District 2009)



                             BY : IDA WIDJAJATI
                               NIM : 0602200130

        .
        Children needs monitor and develops gaining growth Early Detection
Growth Programs (Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak). The role of cadres in
needed for this program mobilization, monitoring, recording of the result. Ideally
every cadre acts as a good an active role to support it. The purpose of this
research was two determine the role of posyandu cadres in implementation the
Early Detection Growth Program for infant at Manisrenggo Sub District Kediri
District 2009.
        Design which was used in this research was descriptive. Where the
population are the Posyandu cadres at Manisrenggo Sub District Kediri District,
the total samples wewr 30 respondents and taken by saturated sampling. The data
was processed by percentage analysis. Based on the result showed that 16
respondent (53%) were moderate criteria.
        Conclusion of nthis research is most of respondent had roles which
moderate criteria in the Early Detection Growth Program for Infant. The
suggestion for the following research is to explore knowledge, attitude, perception
and motivation of the society in the posyandu.


Key Words : roles, Early Detection Growth Program
                              ABSTRAK
GAMBARAN PERAN KADER POSYANDU DALAM PELAKSANAAN
  PROGRAM DETEKSI DINI TUMBUH KEMBANG PADA BAYI
         (di Kelurahan Manisrenggo Kecamatan Kota
                   Kota Kediri Tahun 2009)


Penulis             : IDA WIDJAJATI
NIM                 : 0602200130
Pembimbing I        : P.H. Wahjurini, S.Pd.
Pembimbing II       : Hj. Temu Budiarti, S.Pd, M.Kes.


      Anak perlu dipantau pertumbuhan dan perkembangannya melalui program
DDTK (Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak). Untuk itu dalam pelaksanaanya
perlu peran kader mulai dari penggerakan, pemantauan sampai pencatatan hasil.
Idealnya setiap kader berperan secara baik atau aktif sehingga kegiatan DDTK
dapat terlaksana secara baik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran
peran kader posyandu dalam pelaksanaan program DDTK pada bayi di Kelurahan
Manisrenggo Kecamatan Kota Kota Kediri Tahun 2009.

     Desain penelitian adalah deskriptif. Populasinya seluruh kader posyandu
yang ada di kelurahan Manisrenggo Kecamatan Kota Kota Kediri, besar sampel
sebanyak 30 responden didapatkan dengan menggunakan teknik sampling jenuh.
Pengolahan data dengan analisa prosentase. Berdasarkan hasil analisis
menunjukkan 16 responden (53%) berperan cukup.

     Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagian besar responden berperan
dengan criteria cukup dalam pelaksanaan program DDTK pada bayi. Hendaknya
penelitian berikutnya meneliti mengenai pengetahuan, sikap, persepsi dan
motivasi masyarakat pada kegiatan posyandu.

Kata Kunci : peran, program DDTK
                      MOTTO

1. Orang yang gampang bersedih akan sukar mencapai apa yang

   dicita-citakan. (Mahatma Gandhi).

2. Kesabaran adalah kekayaan setiap orang yang tidak dapat dicuri

   oleh siapapun juga. ( Sidharta Gautama).
                               KATA PENGANTAR



        Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat

dan hidayah-Nya, sehingga dapat menyelesaikan penyusunan karya tulis ilmiah

dengan judul “Gambaran Peran Kader Posyandu dalam Pelaksanaan Program

Deteksi Dini Tumbuh Kembang pada Bayi (di Kelurahan Manisrenggo

Kecamatan Kota Kota Kediri Tahun 2009)”. Karya tulis ilmiah ini disusun

sebagai salah satu persyaratan Akademis di Politeknik Kesehatan Malang Jurusan

Kebidanan Program Studi Kebidanan Kediri.

        Penyelesaian karya tulis ilmiah ini tidak terlepas dari bantuan dan

dorongan dari berbagai pihak, untuk itu perkenankanlah penulis menyampaikan

setulus-tulusnya ucapan terima kasih kepada :

1. Ibu P.H. Wahjurini, S.Pd. selaku pembimbing I dalam penyusunan Karya

     Tulis Ilmiah ini.

2. Ibu Hj. Temu Budiarti, S.Pd, M.Kes selaku pembimbing II yang telah

     memberikan bimbingan dan saran.

3. Bapak Koekoeh Hardjito, S.Kep.Ners, M. Kes, selaku Koordinator Karya

     Tulis Ilmiah.

4. dr. H. Sentot Imam Suprapto, M.M., selaku Kepala Dinas Kesehatan Kota

     Kediri.

5. Drs. Bambang Suprianta selaku Kepala Kelurahan Manisrenggo Kota Kediri

     beserta seluruh staf dan kader posyandu.

6.   Keluargaku tercinta yang telah memberikan dukungan moril sehingga aku

     bisa menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.
7. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah

   membantu dalam menyelesaikan karya tulis ilmiahini baik secara langsung

   maupun tidak langsung.

      Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini masih

terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun

sangat penulis harapkan demi kesempurnaannya.




                                                    Kediri, Desember 2009


                                                            Penulis
                                                DAFTAR ISI

                                                                                                            Halaman

HALAMAN JUDUL ..................................................................................                   i

HALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................                           ii

HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................                          iii

PERNYATAAN KEASLIAN.....................................................................                         iv

ABSTRACT ................................................................................................         v

ABSTRAK ................................................................................................         vi

KATA PENGANTAR ..............................................................................                   vii

DAFTAR ISI ..............................................................................................        ix

DAFTAR TABEL ......................................................................................              xi

DAFTAR GAMBAR .................................................................................                 xii

DAFTAR DIAGRAM ................................................................................                 xiii

DAFTAR LAMPIRAN ..............................................................................                  xiv

BAB I         PENDAHULUAN

              1.1      Latar Belakang .................................................................           1

              1.2      Rumusan Masalah ............................................................               4

              1.3      Tujuan Penelitian .............................................................            4

              1.4      Manfaat Penelitian ..........................................................              5

BAB II        TINJAUAN PUSTAKA

              2.1      Konsep Peran ..................................................................            6

              2.2      Konsep Kader ...................................................................         12

              2.3      Konsep Posyandu ..............................................................           16

              2.4      Konsep Deteksi Dini Tumbuh Kembang ..........................                            19
        2.5     Kerangka Konsep ..............................................................            27

BAB III METODE PENELITIAN

        3.1     Desain Penelitian ..............................................................          28

        3.2     Populasi, Sampel dan Sampling ........................................                    28

        3.3     Kriteria Sampel .................................................................         29

        3.4     Variabel Penelitian ............................................................          30

        3.5     Definisi Variabel ...............................................................         30

        3.6     Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................                  32

        3.7     Prosedur Pengumpulan Data .............................................                   32

        3.8     Alat Ukur yang Digunakan ...............................................                  33

        3.9     Tehnik Pengolahan/Analisa Data......................................                      34

        3.10 Etika Penelitian .................................................................           37

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

        4.1     Hasil Penelitian ................................................................         39

        4.2     Pembahasan.......................................................................         45

        4.3     Keterbatasan ……………………………………………..                                                          49

BAB V   PENUTUP

        5.1     Kesimpulan .....................................................................          50

        5.2     Saran..................................................................................   51

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
                                          DAFTAR TABEL

                                                                                                      Halaman

Tabel 2.1 Rumus Perhitungan Berat Badan .............................................                      21

Tabel 2.2 Rumus Perhitungan Tinggi Badan ...........................................                       22

Tabel 3.1 Definisi Operasional Gambaran Peran Serta Kader
          Posyandu dalam Pemantauan Status Gizi Balita di
          Kelurahan Menisrenggo Kecamatan Kota Kota Kediri
          Tahun 2009...............................................................................        32
                          DAFTAR GAMBAR

                                                                 Halaman

Gambar 2.1 Kerangka Konsep Gambaran Peran Kader Posyandu dalam
           Pelaksanaan Program DDTK pada Bayi di Kelurahan
           Manisrenggo Kecamatan Kota Kota Kediri Tahun 2009 ......   27
                                DAFTAR DIAGRAM

                                                                                           Halaman

Diagram 4.1   Distribusi Frekuensi Usia Responden di Kelurahan
              Manisrenggo Kecamatan Kota Kota Kediri Bulan
              Nopember 2009.................................................................    39

Diagram 4.2   Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden di Kelurahan
              Manisrenggo Kecamatan Kota Kota Kediri Bulan
              Nopember 2009.................................................................    40

Diagram 4.3   Distribusi Frekuensi Pekerjaan Responden di Kelurahan
              Manisrenggo Kecamatan Kota Kota Kediri Bulan
              Nopember 2009.................................................................    41

Diagram 4.4   Peran Kader Posyandu dalam Penggerakan ke Posyandu
              di Kelurahan Manisrenggo Kecamatan Kota Kota Kediri
              Bulan Nopember 2009 ......................................................        42

Diagram 4.5   Peran Kader Posyandu dalam Pemantauan DDTK
              Bersama Bidan di Kelurahan Manisrenggo Kecamatan
              Kota Kota Kediri Bulan Nopember 2009..........................                    43

Diagram 4.6   Peran Kader Posyandu dalam Pencatatan Hasil DDTK di
              Kelurahan Manisrenggo Kecamatan Kota Kota Kediri
              Bulan Nopember 2009 ......................................................        44
                            DAFTAR LAMPIRAN




Lampiran : 1 Jadwal Penelitian

Lampiran : 2 Informasi Penelitian

Lampiran : 3 Lembar Persetujuan Responden

Lampiran : 4 Kisi-Kisi Kuesioner

Lampiran : 5 Kuesioner

Lampiran : 6 Lembar Observasi

Lampiran : 7 Rekapitulasi Hasil Penelitian

Lampiran : 8 Surat Ijin Penelitian

Lampiran : 9 Lembar Konsultasi
                                           BAB 1
                                      PENDAHULUAN



1.1   Latar Belakang

              Pada dasarnya setiap anak akan melewati proses tumbuh kembang sesuai dengan

      tahapan usianya. Untuk memantau tumbuh kembang anak perlu mengetahui sekaligus

      menganali ciri-ciri serta prinsip tumbuh kembang anak. Apabila perkembangan anak sesuai

      dengan ciri-ciri perkembangan pada usia tertentu berarti anak berhasil menyesuaikan diri

      secara normal. Melalui Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) anak, penyimpangan dapat

      diketahui secara dini (Depkes RI, 2005). Pada usia balita diperlukan upaya untuk

      meningkatkan kualitas hidup agar dapat tumbuh dan berkembang baik fisik, mental,

      emosional maupun sosial serta memiliki intelegensi majemuk sesuai dengan potensi

      genetiknya (Purwandari, 2008). Untuk menciptakan kondisi yang demikian dibutuhkan

      dukungan dan keterlibatan aktif semua pihak terkait, utamanya orang tua, pengasuh, kader

      dan masyarakat, pendidik, tenaga kesehatan, petugas sosial dan penyelenggara pelayanan

      bagi anak lainnya. Dukungan dan kerjasama tersebut, antara lain berupa pembinaan suasana

      di tingkat keluarga dalam memasyarakatkan pola asuh dan pemberian stimulasi

      perkembangan anak yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi serta terselenggaranya

      deteksi dan intervensi dini di semua fasilitas pelayanan kesehatan dasar (PusKesMas dan

      jaringannya) atau fasilitas pelayanan lainnya seperti pusat PAUD, Posyandu, taman kanak-

      kanak, tempat penitipan anak, panti asuhan dan sebagainya (Depkes RI, 2005). Menurut

      Natalina dalam Siswono (2004), deteksi tumbuh-kembang bisa dilakukan sejak anak

      memasuki ruang pemeriksaan bersama orangtua melalui observasi wajah, bentuk kepala,

      tinggi badan hingga interaksi dengan lingkungan. Namun demikian deteksi dini gangguan

      sebaiknya dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan skrining perkembangan yang sistematis

      agar lebih objektif. Perlunya DDTK mengingat sering ditemukannya gangguan tumbuh

      kembang anak. Beberapa contoh gangguan bicara dan bahasa, cerebral palsy, down

      syndrome, perawakan pendek, gangguan autisme, retardasi mental, gangguan pemusatan

      perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) (Hadrianto, 2008). Oleh karena itu target program
                                              1
DDTK ini secara program ditetapkan harus tercapai DDTK Paripurna sampai 80%. Namun

demikian cakupan ini sampai saat ini belum dapat tercapai.

         Berdasarkan hasil pengumpulan data dari 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur

menunjukan cakupan deteksi tumbuh kembang anak balita dan pra sekolah sebesar 45,99%,

jauh dibawah target 80% (Dinkes Jatim, 2007). Adapun di Kota Kediri tercapai 56%.

Sedangkan di Puskesmas Kota Selatan dari 4 kelurahan semuanya belum mencapai target

80% yaitu Kelurahan Ngronggo tercapai 66%, Rejomulyo 27%, Manisrenggo 26% dan

Kaliombo 48%. Dengan demikian Kelurahan Manisrenggo merupakan kelurahan dengan

cakupan program DDTK paling rendah (Sumber : laporan bulanan Puskesmas Kota Selatan,

2009).

         Rendahnya cakupan DDTK tersebut dapat disebabkan oleh berbagai faktor.

Menurut analisis manajemen faktor tersebut bisa berasal dari unsur petugas yang bisa

dianalisis dari faktor man (tenaga kesehatan yakni bidan), money (biaya pelaksanaan

DDTK), material (alat dan bahan), methode (cara melaksanakan DDTK). Adapun unsur

luar tenaga kesehatan bisa berasal dari orang tua anak, pemerintah (pemerintah), dukungan

sosial baik dari tokoh masyarakat, agama bahkan kader kesehatan. Analisis ini sesuai

dengan teori yang dikemukakan World Health Organization (WHO) yang dikutip

Notoatmodjo (2005) bahwa perilaku dipengaruhi faktor pemikiran dan perasaan (thoughts

and feeling), adanya acuan atau referensi dari seseorang atau pribadi yang dipercayai

(personal references), sumber daya (resources) yang tersedia untuk terjadinya perilaku dan

sosio budaya (culture).

         Mengingat banyaknya faktor yang ikut berperan dalam pencapaian target DDTK

tersebut, maka perlu dikaji salah satu faktor yang sekiranya memiliki peran strategis dalam

upaya peningkatan cakupan DDTK. Menurut peneliti peran kader sangat menentukan

tercapainya target DDTK. Hal ini terjadi mengingat adanya hambatan untuk datang ke

posyandu ketika anak sudah mendapatkan imunisasi DPT Combo (usia 4 bulan) dan baru

mendapatkan campak ketika usia 9 bulan. Jeda waktu sekitar 5 bulan ini pada umumnya

orang tua enggan datang ke posyandu sehingga pelaksananan DDTK sedikit terhambat.
      Seharusnya kader berperan secara aktif sesuai dengan tugasnya pada H-1 (sebelum hari

      buka posyandu) untuk menggerakkan ibu bayi agar datang ke posyandu.

              Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk mengadakan

      penelitian dengan merumuskan dalam judul penelitian : “Gambaran Peran Kader dalam

      Pelaksanaan Program DDTK pada Bayi di Kelurahan Manisrenggo Kecamatan Kota Kota

      Kediri Tahun 2009”.




1.2      Rumusan Masalah

              Bertitik tolak dari uraian yang dikemukakan dalam latar belakang masalah diatas,

      maka penyusun mencoba merumuskan masalah sebagai berikut : “Bagaimanakah gambaran

      peran kader posyandu dalam pelaksanaan program DDTK pada bayi di Kelurahan

      Manisrenggo Kecamatan Kota Kota Kediri Tahun 2009 ?”




1.3   Tujuan Penelitian

      1.3.1   Tujuan Umum

                        Mengetahui gambaran peran kader posyandu dalam pelaksanaan

              program DDTK pada bayi di Kelurahan Manisrenggo Kecamatan Kota Kota

              Kediri Tahun 2009.

      1.3.2   Tujuan Khusus

              1.3.2.1    Penggerakan ibu bayi untuk datang ke posyandu dalam rangka

                         pelaksanaan program DDTK

              1.3.2.2    Pemantauan DDTK bersama bidan di posyandu

              1.3.2.3    Pencatatan hasil DDTK di posyandu



1.4   Manfaat Penelitian

      1.4.1   Bagi Lahan Penelitian
                 Sebagai masukan dalam rangka peningkatan cakupan program DDTK

        melalui evaluasi peran kader posyandu sebagai salah satu unsur yang berpengaruh

        terhadap rendahnya pencapaian program DDTK pada bayi.

1.4.2   Bagi Petugas Kesehatan

                 Memberikan tambahan informasi untuk peningkatan cakupan program

        DDTK pada bayi melalui peningkatan peran kader posyandu untuk menggerakkan

        ibu bayi agar hadir di posyadnu sehingga program DDTK terlaksana secara baik.

1.4.3   Bagi Peneliti

                 Dapat dipakai sebagai media untuk penerapan materi metodologi

        penelitian dalam bidang kesehatan sebagai tambahan ilmu untuk terjun di dunia

        kerja.
                                           BAB II

                                   TINJAUAN PUSTAKA



2.1   Konsep Peran

      2.1.1   Pengertian Peran

                      Konsep peran serta diperkenalkan French et al yang dikutip Kutilang

              (2009), bahwa peran menunjukkan proses antara dua atau lebih pihak yang

              mempengaruhi satu terhadap yang lainnya dalam membuat rencana, kebijakan, dan

              keputusan. Peran serta lahir dari desakan kebutuhan psikologis pada setiap

              individu. Keinginan untuk berperan menurut Archbold didorong kebutuhan akan

              kekuasaan, ingin memperoleh pengakuan, dan hasrat untuk bergantung pada orang

              lain, tetapi juga sebaliknya tempat orang bergantung.

                      Peran menunjuk pada organisasi tindakan dalam suatu tipe hubungan

              interaksi khusus. Dua dimensi peran adalah: kewajiban dan hak. Tindakan yang

              diharapkan akan dilaksanakan oleh seseorang merupakan kewajiban suatu peran;

              tindakan atau respon orang lain merupakan hak. Konsep peran dihubungkan

              dengan konsep status. Dalam pengunaan ini status hanya menunjuk pada posisi

              seseorang dalam suatu hubungan interaksi, bukan pada prestise yang terdapat pada

              seseorang. Sehingga peran-status adalah satuan struktural yang paling mendasar

              sebagai syarat fungsional yang harus dipenuhi (Sofyan Cholid, 2009).

      2.1.2   Jenis Peran Serta

                      Peran serta tidak mutlak menghadirkan seseorang pada proses keputusan,

              tetapi lebih tertuju pada proses komunikasi tak terputus antara top eksekutif dan

              para pelaksana keputusan melalui arus informasi yang akurat. Peran kadera dalam

              pengambilan keputusan stratejik dapat digolongkan dalam dua jenis, yaitu turut

              serta hadir dalam suatu pertemuan, dan turut mengambil bagian diluar pertemuan
                                             6
              (Kutilang, 2009).

      2.1.3   Keuntungan Peran Serta
                Setiap kali terjadi peran serta akan menghasilkan keuntungan ganda.

        Keuntungan pertama adalah bagi organisasi itu sendiri, keuntungan yang kedua

        adalah bagi pihak yang berperan serta. Suatu peran serta juga akan lebih

        mempercepat diterimanya suatu keputusan, apalagi jika terjadi perubahan sikap

        dari mereka yang terlibat. Selain itu, peran serta akan membangkitkan iklim kerja

        sama yang lebih baik, sekaligus meningkatkan saling pengertian dan toleransi

        antara para karyawan sehingga dapat memperbaiki tingkat dan mutu produktifitas

        organisasi (Kutilang, 2009).

2.1.4   Kelemahan Konsep Peran Serta

                Sesungguhnya konsep peran serta mempunyai keuntungan, baik bagi

        organisasi secara makro maupun kepada individu secara mikro, tetap ada

        kelemahannya. Apabila tingkat peran serta yang diberikan kepada bawahan terlalu

        banyak, dapat menggeser sasaran yang sedang dipikirkan oleh manajemen puncak.

        Kalaupun setiap orang mempunyai pengetahuan yang cukup, tidak mungkin setiap

        orang akan memperoleh peluang untuk menyampaikan pendapatnya karena akan

        menghabiskan waktu dan akan memperlambat proses pengambilan keputusan.

        Peran serta juga tidak boleh dihapuskan sama sekali, atau sedikit sekali peluang

        yang diberikan untuk berperan serta, sebab hal itu akan mengurangi peran

        karyawan dalam berusaha mencapai sasaran organisasi (Kutilang, 2009).

2.1.5   Faktor yang Mempengaruhi Peran Serta

                Peran serta merupakan suatu bentuk perilaku nyata. Oleh karena itu kajian

        mengenai factor yang mempengaruhi peran sama dengan faktor yang

        mempengaruhi perilaku. Dengan demikian peran dipengaruhi oleh faktor

        pengetahuan dan sikap, pengalaman, keyakinan, sosial, budaya dan sarana fisik.

        Pengaruh atau rangsangan itu bersifat internal dan eksternal dan diklasifikasikan

        menjadi faktor yang mempengaruhi perilaku. Menurut Lawrence Green meliputi

        faktor predisposisi (predisposing factors), faktor pemungkin (enabling factors),

        dan faktor pendorong (reinforcing factors). Faktor predisposisi merupakan faktor

        internal yang ada pada diri individu, keluarga, kelompok atau masyarakat yang
mempermudah individu untuk berperilaku seperti pengetahuan, sikap, nilai,

persepsi, dan keyakinan. Faktor pemungkin faktor yang memungkinkan

berperilaku, tersedianya sumberdaya, keterjangkauan, rujukan, dan keterampilan.

Faktor penguat merupakan faktor yang menguatkan perilaku, seperti sikap dan

keterampilan, teman sebaya, orang tua, dan majikan (Suliha, 2002).

         Menurut Snehendu B.Karr dalam Notoatmodjo (2005) ada 5 determinant

perilaku yaitu adanya niat (intention) untuk bertindak, adanya dukungan dari

masyarakat sekitarnya (social support), terjangkaunya informasi (accesibility of

information), adanya otonomi atau kebebasan pribadi (personal autonomy) untuk

mengambil keputusan dan adanya kondisi dan situasi yang memungkinkan (action

situation).

         Adapun menurut tim kerja WHO yang dikutip Notoatmodjo (2005)

determinat perilaku tersebut meliputi pemikiran dan perasaan (thoughts and

feeling), adanya acuan atau referensi dari seseorang atau pribadi yang dipercayai

(personal references), sumber daya (resources) yang tersedia untuk terjadinya

perilaku dan sosio budaya (culture).

         Selain itu peran juga dipengaruhi berbagai faktor dibawah ini terkait

dengan pengetahuan yang harus dimiliki sebagai sumber peran. Faktor tersebut

meliputi :

1.   Pendidikan.

     Pendidikan berarti bimbingan yang di berikan seseorang pada orang lain

     terhadap sesuatu hal agar mereka dapat memahami. Tidak dapat dipungkiri

     bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang semakin mudah pula mereka

     menerima informasi, dan pada akhimya makin banyak pula pengetahuan yang

     dimilikinya. Sebaliknya jika seseorang tingkat pendidikannya rendah, akan

     menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap penerimaan informasi

     dan nilai-nilai yang baru diperkenalkan.

2.   Pekerjaan
     Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh pengalaman

     dan pengetahuan baik secara langsung maupun secara fidak langsung.

3.   Umur

     Umur dengan bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan pada

     aspek fisik dan psikologis (mental). Pertumbuhan pada fisik secara garis besar

     ada empat kategori perubahan pertama, perubahan ukuran, kedua, perubahan

     proporsi, ketiga, hilangnya ciri-ciri lama, keempat, timbulnya ciri-ciri baru. Ini

     terjadi akibat pematangan fungsi organ. Pada aspek psikologis atau mental

     taraf berpikir seseorang semakin matang dan dewasa.

4.   Minat

     Minat sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap

     sesuatu. Minat menjadikan seseorang untuk mencoba dan menekuni suatu hal

     dan pada akhimya diperoleh pengetahuan yang lebih mendalam.

5.   Pengalaman

     Pengalaman adalah suatu kejadian yang pernah dialami seseorang dalam

     berinteraksi dengan lingkungannya. Ada kecenderungan pengalaman yang

     kurang baik seseorang akan berusaha untuk melupakan, namun jika

     pengalaman terhadap obyek tersebut menyenangkan maka secara psikologis

     timbul kesan yang sangat mendalam dan membekas dalam emosi

     kejiwaannya, dan akhimya dapat pula membentuk sikap positif dalam

     kehidupannya.

6.   Kebudayaan

     Lingkungan sekitar, kebudayaan dimana kita hidup dan di besarkan

     mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukkan sikap kita. Apabila dalam

     suatu wilayah mempunyai budaya untuk menjaga kebersihan lingkungan maka

     sangat mungkin masyarakat sekitarya mempunyai sikap untuk selalu menjaga

     kebersihan lingkungan, karena lingkungan sangat berpengaruh dalam
                    pembentukkan sikap pribadi atau sikap seseorang (Saifuddin A., 2002) dalam

                    (Mubarak, dkk,. 2007 : 30).

              7.    Informasi

                    Kemudahan memperoleh informasi dapat membantu mempercepat seseorang

                    memperoleh pengetahuan yang baru.

              (Mubarak, dkk,. 2007 : 30)




2.2   Konsep Kader

      2.2.1   Konsep Kader

                       Kader adalah istilah umum yang dipergunakan untuk tenaga-tenaga yang

              berasal dari masyarakat, dipilih oleh masyarakat dan bekerja bersama masyarakat

              dan untuk masyarakat secara sukarela (Mantra, 2005 : 122).

      2.2.2   Konsep Posyandu

                      Posyandu adalah bentuk peran serta masyarakat di bidang kesehatan, yang

              dikelola oleh kader, dengan sasarannya adalah seluruh masyarakat (Rahaju, 2005 :

              1).

      2.2.3   Konsep Kader Posyandu

                        Kader posyandu adalah seorang yang karena kecakapannya atau

              kemampuannya       diangkat,   dipilih   dan   atau   ditunjuk   untuk   memimpin

              pengembangan posyandu disuatu tempat atau desa (Depkes, 2008 : 26). Setiap

              warga keluarahan setempat laki-laki maupun perempuan yang bisa membaca dan

              menulis huruf latin, mempunyai waktu luang, memiliki kemampuan dan mau

              bekerja sukarela dengan tulus ikhlas bisa menajdi kader (Rahaju, 2005 : 13).

      2.2.4   Konsep Peran Kader Posyandu

                        Pelaksanaan DDTK oleh kader dapat dinilai dari peran kader dalam

              melaksanakan DDTK bersama kegiatan posyandu. Peran tersebut dapat dilihat dari

              kegiatan sebelum buka posyandu, saat buka posyandu dan setelah buka posyandu.

              2.2.4.1 Tugas Kader Saat Persiapan Hari Buka Posyandu
                  Tugas kader pada tahap ini antara lain : menyiapkan alat dan

         bahan (alat timbang, KMS, alat peraga dan lain-lain), mengundang dan

         menggerakan masyarakat untuk datang ke posyandu, menghubungi

         Pokja Posyandu dan melaksanakan pembagian tugas diantara kader.

2.2.4.2 Tugas Kader pada Hari Buka Posyandu

                  Tugas kader posyandu di meja 1 antara lain mendaftar

         bayi/balita dan mendaftar ibu hamil (Rahaju, 2005 : 14). Sedangkan

         panduan lain menjelaskan pada meja I tugas kader adalah mendaftar

         bayi/balita, yaitu menuliskan narna balita pada KMS dan secarik kertas

         yang diselipkan pada KMS, dan mendaftar ibu hamil, yaitu menuliskan

         nama ibu hamil pada Formulir atau Register lbu Hamil (Depkes RI,

         2007 : 15).

                  Tugas kader di meja 2 antara lain : menimbang bayi balita,

         mencatat hasil penimbangan (Rahaju, 2005 : 14). Secara lebih

         mendetail dijelaskan tugas kader pada meja 2 adalah menimbang

         bayi/balita dan mencatat hasil penimbangan pada secarik kertas yang

         akan dipindahkan pada KMS.

                  Tugas kader di meja 3 antara lain : mengisi buku KIA / KMS

         (Rahaju, 2005 : 14). Sumber lain menjelaskan tugas kader posyandu di

         meja 3 adalah mengisi KMS atau memindahkan catatan hasil

         penimbangan balita dari secarik kertas ke dalam KMS anak tersebut

         (Depkes RI, 2007 : 24).

                  Tugas kader di meja 4 antara lain menjelaskan data buku

         KIA/KMS berdasarkan hasil timbang. Menilai perkembangan balita

         sesuai umur berdasarkan buku KlA. Jika ditemukan keterlambatan,

         kader mengajarkan ibu untuk memberikan rangsangan dirumah.

         Memberikan penyuluhan sesuai dengan kondisi pada saat itu.

         Memberikan rujukan ke Puskesmas, apabila diperlukan (Rahaju, 2005 :

         14). Sumber lain menjelaskan tugas kader posyandu di meja 4 adalah :
          menjelaskan data KMS atau keadaan anak berdasarkan data kenaikan

          berat badan yang digambarkan dalam grafik KMS kepada ibu dari anak

          yang bersangkutan. Memberikan penyuluhan kepada setiap ibu dengan

          mengacu pada data KMS anaknya atau dari hasil pengamatan mengenai

          masalah yang dialami sasaran. Memberikan rujukan ke Puskesmas

          apabila diperlukan, untuk balita, ibu hamil, dan menyusui berikut ini :

          Balita : apabila berat badanya dibawah garis mesar (BGM) pada KMS,

          2 kali berturut-turut berat badannya tidak naik, kelihatan sakit (lesu-

          kurus, busng lapar, mencret, rabun mata dan sebagainya); Ibu hamil

          atau menyusui : apabila keadaanya kurus, pucat, bengkak kaki, pusing

          terus menerus, perdarahan, sesak nafas, gondokan dan sebagainya;

          Orang sakit. Selain itu juga memberikan pelayanan gizi dan kesehatan

          dasar oleh kader Posyandu, misalnya pemberian pil tambah darah (pil

          besi), vitamin A, oralit, dan sebagainya (Depkes RI, 2007 : 24).

                   Tugas kader di meja 5 sebenarnya bukan merupakan tugas

          kader, melainkan pelayanan sektor yang dilakukan oleh petugas

          kesehatan, PLKB, PPL, antara lain : pelayanan lmunisasi, pelayanan

          KB, pemeriksaan kesehatan bayi, anak balita, ibu hamil, ibu nifas dan

          ibu menyusui, pengobatan dan pemberian pil tambah darah, Vitamin A

          (Kader dapat membantu pemberiannya), kapsul yodium dan obat-

          obatan lainnya (Rahaju, 2005 : 14).

2.2.4.3   Tugas Kader Setelah Hari Buka Posyandu

                   Tugas kader setelah hari buka posyandu menurut Rahaju (2005

          : 15) antara lain memindahkan catatan Buku KIA/KMS ke buku

          register, mengevaluasi hasil kegiatan dan merencanakan kegiatan

          posyandu yang akan datang, melaksanakan penyuluhan kelompok

          (kelompok dasa wisma) dan melakukan kunjungan rumah (penyuluhan

          perorangan) bagi sasaran posyandu yang bermasalah, antara lain tidak
                           berkunjung ke posyandu karena sakit, berat badan balita tetap selama 2

                           bulan berturut turut, anggota keluarga sering terkena penyakit menular.



2.3   Konsep Posyandu

      2.3.1   Pengertian

                    Merupakan bentuk peran serta masyarakat di bidang kesehatan, yang

              dikelola oleh kader, dengan sasarannya adalah seluruh masyarakat (Rahaju, 2005 :

              1).

      2.3.2   Sasaran

                    Sasaran dari kegiatan posyandu adalah : bayi, anak balita, ibu hamil, ibu

              melahirkan, ibu nifas dan ibu menyusui serta Pasangan Usia Subur (PUS) (Rahaju,

              2005 : 1).

      2.3.3   Tujuan

                    Memelihara dan meningkatkan kesehatan bayi, balita, ibu dan pasangan usia

              subur. Mengingat pentingnya Posyandu, maka diharapkan setiap kelompok yang

              terdapat 80-100 balita membentuk satu Posyandu. Jadi Posyandu merupakan

              wadah milik masyarakat, dikelola oleh masyarakat dan untuk masyarakat (Rahaju,

              2005 : 1).

      2.3.4   Struktur Organisasi

                        Ditetapkan melalui musyawarah masyarakat saat pembentukan Posyandu.

              Struktur organisasi bersifat luwes sesuai kondisi setempat. Paling sedikit terdiri

              ketua, sekretaris, bendahara dan kader merangkap anggota. Beberapa Posyandu di

              suatu wilayah (Kelurahan/Desa) sebaiknya dikelola unit/kelompok pengurus

              posyandu yang anggotaannya dipilih dari Ketua PKK, Perangkat Desa atau

              kalangan masyarakat setempat (Gianto, 2005 : 3).

      2.3.5   Pengurus Posyandu

                        Ditetapkan melalui musyawarah masyarakat pada saat pembentukan

              Posyandu. Sekurang - kurangnya terdiri dari seorang ketua, seorang sekretaris dan

              seorang bendahara. Kriteria pengurus posyandu antara lain sebagai berikut :
        2.3.5.1 Diutamakan berasal dari para dermawan dan tokoh masyarakat setempat.

        2.3.5.2 Memiliki semangat pengabdian, berinisiatif tinggi dan mampu meperan

                   masyarakat.

        2.3.5.3 Bersedia bekerja secara sukarela bersama masyarakat selain pengurus

                   Posyandu ada kader posyandu yang berPeran secara operasional pada saat

                   posyandu buka.

        (Rahaju, 2005 : 3)

2.3.6   Kegiatan Posyandu

                   Posyandu dilaksanakan sekurang-kurangnya satu kali setiap bulan. Hari

        bukanya ditentukan berdasarkan kesepakatan masyarakat dan pelaksana, bisa

        bedasarkan hari ataupun tanggal. Penentuan jam buka harus disepakati oleh pihak

        masyarakat, pengurus/kader Posyandu dan pePeran puskesmas. Yang diutamakan

        adalah waktu yang ditentukan sasaran posyandu bias hadir sebanyak-banyaknya.

        Apabira diperlukan dapat dibuka lebih dari satu kali dalam sebulan (Rahaju,

        2005:4).

                   Ada 2 macam paket pelayanan yang dilaksanakan di Posyandu yaitu paket

        pelayanan minimal dan paket pilihan posyandu.

        2.3.6.1 Paket Pelayanan Minimal yaitu kegiatan utama kader yang harus

                   dilaksanakan oleh setiap Posyandu. Untuk bayi dan anak balita antara lain

                   : penimbangan bulanan dan penyuluhan gizi dan Kesehatan, pemberian

                   paket pertolongan gizi, imunisasi dan pemantauan kasus lumpuh layuh

                   dan deteksi dinitumbuh kembang ldentifikasi penyakit, pengobatan

                   sederhana dan rujukan terutama untuk diare, radang paru - paru

                   (pneumonia).

        2.3.6.2 lbu Hamil antara lain : pemeriksaan kehamilan, pemberian Makanan

                   Tambahan (PMT) bagi ibu kurang gizi atau Kurang Energi Kronis (KEK),

                   pemberian tablet tambah darah dan kapsul yodium dan penyuluhan

                   tentang gizi, kesehatan ibu dan perencanaan persalinan aman.
              2.3.6.3 lbu Nifas/Menyusui antara lain : pemberian kapsul vitamin A, pemberian

                        makanan tambahan (PMT), pelayanan nifas bagi ibu dan bayinya dan

                        pemberian tablet tambah darah Pelayanan KB dan KIE/penyuluhan.

              2.3.6.4 Paket Pilihan Posyandu merupakan kegiatan diluar kegiatan utama yang

                        disesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat : Kelompok

                        Peminat KIA (KP - KIA), program samijaga dan perbaikan lingkungan

                        pemukiman, tabungan lbu Bersalin (Tabulin), Desa Siaga, P2M PKMD,

                        Perkembangan anak termasuk BKB, Pengembangan Anak Dini Usia

                        (PADU),    Usaha    kesehatan    Gigi   Masyarakat   Desa     (UKGMD),

                        Penanggulangan penyakit endemis setempat, gondok, demam berdarah,

                        malaria (Rahaju, 2005 : 10).

      2.3.7   Tempat Kegiatan Posyandu

                        Tempat kegiatan dapat dilaksanakan di rumah warga, rumah tokoh

              masyarakat, Balai Desa/RW/RT, Balai Posyandu (tempat khusus yang dibangun

              oleh warga) (Rahaju, 2005 : 5).



2.4   Konsep Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK)

      2.4.1   Konsep Tumbuh Kembang

              2.4.1.1     Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan

                                   Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan

                          dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun

                          individu yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, pound,

                          kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur tulang dan keseimbangan

                          metabolik (retensi kalsium dan ninogen tubuh) (Soetjiningsih, 2005 :

                          1).

                                   Perkembangan        (development)    adalah      bertambahnya

                          kemampuan (skill) dalam sruktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks

                          dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses

                          pematangan. Disini menyangkut proses diferensiasi sel tubuh, jaringan
          tubuh, organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa

          sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga

          perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil

          interaksi dengan lingkungannya (Soetjiningsih, 2005 : 1).

2.4.1.2   Indikator Tumbuh Kembang Anak

                   Agar dapat melakukan DDTK maka harus diketahui beberapa

          indikator untuk mengetahui tumbuh kembang anak. Beberapa indikator

          tersebut akan diuraikan satu persatu di bawah ini. Indikator

          pertumbuhan antara lain : berat badan, tinggi badan, lingkar kepala,

          gigi, maupun jaringan lemak.

                   Berat Badan pada bayi yang lahir cukup bulan, berat badan

          waktu lahir akan kembali pada hari ke 10. Berat badan menjadi 2 kali

          berat badan waktu lahir pada umur 1 tahun, dan menjadi 4 kali berat

          badan lahir pada umur 2 tahun. Kenaikan berat badan anak pada tahun

          pertama kehidupan kalau anak mendapatkan gizi yang baik adalah

          berkisar antara :

          700-1000 gram/bulan pada triwulan I

          500-600 gram/bulan pada triwulan II

          350-450 gram/bulan pada triwulan III

          250-350 gram/bulan pada triwulan IV

          Dapat pula digunakan rumus yang dikutip dari Behrman, 1992 untuk

          memperkirakan berat badan anak adalah sebagai berikut :

          Tabel 2.1 Rumus Perhitungan Berat Badan

           No.             Uraian                          Keterangan
           1      Lahir                          3,25 kg
           2      Umur 3-12 bulan                Umur (bulan) + 9
                                                         2
           3      Umur 1-6 tahun                 Umur (tahun) x 2+8
           4      Umur 6-12 tahun                Umur (tahun) x 7 – 5
                                                         2
          Sumber : Soetjiningsih, 2005
          Menurut Soetjiningsih (2005 : 2) tinggi badan rata-rata pada

waktu lahir adalah 50 cm. Secara garis besar tinggi badan anak dapat

diperkirakan sebagai berikut :

    1 tahun 1,5 x TB lahir

    4 tahun 2 x TB lahir

    6 tahun 1,5 x TB setahun

    13 tahun 3,5 x TB lahir

    Dewasa 3,5 x TB lahir (2 x TB 2 tahun)

          Atau dapat digunakan rumus seperti yang dikutip dari

Behrman, 1992 yang dikutip Soetjiningsgih (2005 : 21) sebagai berikut

:

Tabel 2.2 Rumus Perhitungan Tinggi Badan

    No.              Uraian              Keterangan
    1     Lahir                          50 cm
    2     Umur 1 tahun                   75 cm
    3     2-12 tahun                     Umur (tahun) x 6 + 77
    Sumber : Soetjiningsih, 2005

Atau dengan rumus :


                               (TB ayah – 13 cm) + TB ibu
TB anak perempuan =                                  ±8,5 cm
                                            2


                              (TB ibu + 13 cm) + TB ayah
TB anak laki-laki =                                            ±8,5 cm
                                             2
Keterangan :

    13 cm adalah rata-rata selisih tinggi badan antara orang dewasa laki-
    laki dan perempuan di Ingrris, dan 8,5 cm adalah nilai absolute
    tentang tinggi badan.

          Lingkar kepala waktu lahir rata-rata 34 cm dan besar lingkar

kepada ini lebih besar dari lingkar dada.

          Gigi pertama tumbuh pada umur 5-9 bulan, pada umur 1 tahun

sebagian besar anak mempunyai 6-8 gigi susu. Selama tahun kedua gigi
          tumbuh lagi 8 biji, sehingga jumlah seluruhnya sekitar 14-16 gigi, dan

          pada umur 2,5 tahun sudah terdapat 20 gigi susu.

                  Selain otot, jaringan lemak juga menentukan ukuran dan

          bentuk tubuh. Pertambahan jumlah lemak melambat sampai anak

          berumur 6 tahun, anak kelihatan kurus dan langsing. Adapun indikator

          perkembangan adalah pada umur 4-6 minggu anak dapat tersenyum

          spontan dan dapat mengeluarkan suara 1-2 minggu kemudian. Pada

          umur 12-16 minggu anak dapat menegakkan kepala, tengkurap sendiri

          menoleh kearah suara dan memegang bcnda yang ditaruh ditangannya.

          Umur 26 minggu anak dapat memindahkan benda dari satu tangan

          ketangan lainnya, duduk dengan bantuan kedua tanganya kedepan dan

          makan biskuit sendiri. Umur 9-10 bulan anak mampu menunjuk dengan

          jari telunjuk memegang benda dengan ibu jari dan telunjuk, merangkak

          dan bersuara da... da....Umur 13 bulan anak mampu berjalan tanpa

          bantuan dan mengucapkan kata-kata tunggal.

2.4.1.3   Faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang

                  Faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang secara umum

          menurut Soetjiningsih (2005 : 2) meliputi dua faktor utama yaitu faktor

          genetik dan lingkungan. Untuk faktor genetik       dijelasknan melalui

          instruksi genetik dapat ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan.

          Ditandai dengan intensitas dan kecepatan pembelahan, derajat

          sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas dan

          berhentinya pertumbuhan tulang. Termasuk faktor genetik in adalah

          bawaan yang normal dan patologik, kelamin, suku bangsa atau bangsa.

                  Sedangkan faktor lingkungan merupakan lingkungan "bio-

          fisiko-psiko-sosial" yang mempengaruhi individu mulai konsepsi

          sampai akhir hayat. Faktor linglungan dibagi menjadi : lingkungan

          prenatal (gizi ibu waktu hamil, mekanis, toksin atau zat kimia,

          endokrin, radiasi, infeksi, stress, imunitas dan anoksia embrio),
                  postnatal (biologi : ras/suku bangsa, kelamin, umur, gizi, perawatan

                  kesehatan, kepekaan penyakit, penyakit kronis, fungsi metabolisme,

                  hormon, lingkungan fisik : cuaca, musim, geografis, sanitasi, radiasi,

                  psikososial : stimulasi, peran belajar, hukuman, kelompok sebaya,

                  stress, sekolah, cinta kasih sayang, kualitas interaksi anak orang tua,

                  faktor keluarga : pekerjaan/pendapatan, pendidikan ayah ibu, jumlah

                  saudara, kelamin, stabilits rumah tangga, kepribadian ayah ibu, adat-

                  istiadat, norma, tabu, agama.



2.4.2   Konsep Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK)

        2.4.2.1   Definisi

                             Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) adalah upaya

                  meningkatkan kualitas hidup anak agar mencapai tumbuh kembang

                  baik fisik, mental, emosional maupun sosial serta memiliki intelegensi

                  majemuk sesuai potensi genetiknya (Purwandari, 2008).

        2.4.2.2   Indikator DDTK

                             Indikator pertumbuhan menurut Atmikasari (2008) dilakukan

                  dengan pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar kepala dan

                  lingkar lengan atas. Berat badan (BB) mencerminkan kesehatan dan

                  keadaan gizi anak saat itu. Berat badan dipengaruhi asupan makanan,

                  minuman dan keadaan sehat-tidaknya anak. Pada pengukuran TB perlu

                  dipertimbangkan ukuran tersebut dipengaruhi jenis kelamin, suku

                  bangsa, dan sosial ekonomi. TB merupakan indikator untuk mengetahui

                  gangguan pertumbuhan fisik yang sudah lewat. Lingkar kepala dapat

                  dipakai untuk penilaian pertumbuhan otak. Pertumbuhan otak sangat

                  pesat terjadi pada pertengahan periode janin dan pada tahun-tahun

                  pertama setelah lahir. Karena itu manfaat pengukuran ini penting pada

                  tiga tahun pertama.
                                    Sedangkan indikator perkembangan merupakan interaksi

                          kematangan susunan saraf pusat dengan organ yang dipengaruhinya.

                          Secara    umum    perkembangan      dibagi   beberapa      aspek,   yaitu

                          perkembangan motorik (motorik kasar dan halus), bahasa, kognitif,

                          emosi, dan sosial. Terdapat variasi pada pola batas pencapaian dan

                          kecepatan dari masing-masing aspek perkembangan.



2.5   Kerangka Konsep

               Kerangka konsep merupakan “sesuatu yang abstrak, logika secara harfiah dan akan

      membantu peneliti dalam menghubungkan hasil penemuan dengan body of knowledge

      (Nursalam, 2003: 55). Dalam penelitian ini kerangka konseptualnya menggunakan

      pendekatan kausa efek. Lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan dibawah ini :

                                Faktor-faktor yang mempengaruhi peran :
                                1. Pemikiran dan perasaan
                                2. Adanya acuan
                                3. Sumber daya
                                4. Sosio budaya
                                (WHO, Notoatmodjo, 2005)



      1. Faktor predisposisi :           Peran kader dalam
         pengetahuan, sikap,             pelaksanaan DDTK pada
         nilai, persepsi, dan            bayi di posyandu :
                                                                              Kriteria :
         keyakinan                       1. Peran dalam
                                                                              1. Baik : 76-
      2. Faktor pemungkin :                  penggerakan ibu bayi
                                                                                 100%
         sumberdaya,                         untuk datang ke
                                                                              2. Cukup :
         keterjangkauan, rujukan,            posyandu.
                                                                                 56-75%
         dan keterampilan                2. Peran pemantauan
                                                                              3. Kurang :
      3. Faktor pendorong :                  DDTK bersama bidan
                                                                                 <56%
         sikap dan keterampilan,             di posyandu
                                                                              (Notoatmodjo
         teman sebaya, orang tua,        3. Peran dalam upaya
                                                                              , 2003 : 124)
         dan majikan (Suliha,                pencatatan hasil
         2002).                              DDTK di posyandu
                                         (Rahaju, 2005)


                                        1. Niat
                                        2. Dukungan sosial,
                                        3. Informasi
                                        4. Otonomi
                                        5. Situasi yang
                                           memungkinkan
                                        (Snehendu B.Karr dalam
                                        Notoatmodjo, 2005):
Keterangan :

                = diteliti

                = tidak diteliti

Gambar 2.1 :   Kerangka Konsep Gambaran Peran Kader Posyandu dalam Pelaksanaan
               Program DDTK pada Bayi di Kelurahan Manisrenggo Kecamatan Kota
               Kota Kediri Tahun 2009
                                    BAB III

                            METODE PENELITIAN



3.1   Desain penelitian

              Desain penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam

      perencanaan dan pelaksanaan penelitian (Nasir, 2005 : 85). Desain yang

      di gunakan dalam penelitian ini adalah desain deskriptif yaitu suatu

      desain penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan masalah

      penelitian berdasar karakteristik tempat, waktu, umur, jenis kelamin,

      sosial, ekonomi, pekerjaan, status perkawinan, cara hidup (pola hidup)

      dan lain-lain (Ahmad, 2007 : 53). Dalam penelitian peneliti ingin

      menggambarkan peran kader posyandu dalam pelaksanaan program

      DDTK pada bayi di Kelurahan Manisrenggo Kecamatan Kota Kota

      Kediri Tahun 2009.



3.2   Populasi, Sampel dan Sampling

      3.2.1   Populasi

                    Populasi adalah himpunan keseluruhan karakteristik

              dari obyek yang diteliti (Sedarmayanti dan Hidayat, 2002 : 121).

              Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kader posyandu

              yang ada di Kelurahan Manisrenggo Kecamatan Kota Kota

              Kediri sebanyak 30 kader posyandu.
      3.2.2   Sampel

                     Sampel merupakan sebagian dari populasi yang akan

              diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki

              oleh populasi (Ahmad, 2007 : 68). Dalam penelitian ini sampel

              penelitiannya adalah seluruh kader posyandu yang ada di

              Kelurahan Manisrenggo Kecamatan Kota Kota Kediri sebanyak

              30 kader posyandu.

      3.2.3   Sampling

                     Sampling    merupakan      proses     seleksi   sampel   yang

              digunakan dalam penelitian dari populasi yang ada, sehingga

              jumlah sampel akan mewakili keseluruhan populasi yang ada

              (Hidayat, 2007 : 81). Dalam penelitian ini menggunakan total

              sampling atau sampling jenuh. Sampling jenuh artinya teknik

              penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan

              sebagai sampel penelitian (Sugiyono, 2006).



3.3   Kriteria Sampel

      3.3.1   Kriteria Inklusi

                     Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subyek

              penelitian dari suatu populasi (Nursalam, 2003 : 96). Pada

              penelitian ini kriteria inklusinya adalah:

              1) Kader posyandu di Kelurahan Manisrenggo Kecamatan

                 Kota.

              2) Kader posyandu yang bersedia untuk diteliti.
              3) Kader posyandu yang kooperatif.

      3.3.2   Kriteria Eksklusi

                        Kriteria      eksklusi     adalah     menghilangkan      atau

              mengeluarkan subyek yang memenuhi kriteria inklusi dari studi

              karena banyak sebab (Nursalam, 2003 : 96). Pada penelitian ini

              kriteria ekslusinya adalah : Kader posyandu yang sedang

              berhalangan          atau   tidak    datang     pada   saat   penelitian

              dilaksanakan.



3.4   Variabel Penelitian

              Variabel adalah segala sesuatu yang bentuk apa saja yang

      ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi

      tentang hal tersebut kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2006 :

      38). Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah variabel tunggal

      yaitu peran kader posyandu dalam pelaksanaan program DDTK pada

      bayi.



3.5   Definisi Variabel

      3.5.1   Definisi Konsep

                   Konsep          merupakan      abstraksi   yang   terbentuk   oleh

              generalisasi dari hal-hal khusus (Notoatmodjo, 2005 : 68).

              Konsep dalam penelitian ini meliputi konsep peran, kader

              posyandu, dan DDTK.

              3.5.1.1    Konsep Peran
                           Peran menunjuk pada organisasi tindakan dalam suatu tipe

                  hubungan interaksi khusus. Dua dimensi peran adalah: kewajiban dan

                  hak. Tindakan yang diharapkan akan dilaksanakan oleh seseorang

                  merupakan kewajiban suatu peran; tindakan atau respon orang lain

                  merupakan hak. Konsep peran dihubungkan dengan konsep status.

                  Dalam pengunaan ini status hanya menunjuk pada posisi seseorang

                  dalam suatu hubungan interaksi, bukan pada prestise yang terdapat pada

                  seseorang. Sehingga peran-status adalah satuan struktural yang paling

                  mendasar sebagai syarat fungsional yang harus dipenuhi (Sofyan

                  Cholid, 2009).

        3.5.1.2   Konsep Kader Posyandu

                           Kader posyandu adalah seorang yang karena kecakapannya

                  atau kemampuannya diangkat, dipilih dan atau ditunjuk untuk

                  memimpin pengembangan posyandu disuatu tempat atau desa (Depkes,

                  2008 : 26).

        3.5.1.3   Konsep DDTK

                        Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) adalah upaya

                  meningkatkan kualitas hidup anak agar mencapai tumbuh kembang

                  baik fisik, mental, emosional maupun sosial serta memiliki intelegensi

                  majemuk sesuai potensi genetiknya (Purwandari, 2008).



3.5.2   Definisi Operasional

             Definisi operasional merupakan penjelasan semua variabel

        dan istilah yang akan digunakan dalam penelitian secara

        operasional sehingga akhirnya mempermudah pembaca dalam

        mengartikan makna penelitian (Setiadi, 2007 : 72).
                        Definisi operasional dalam penelitian ini dapat dilihat pada

                  tabel dibawah ini.

                  Tabel 3.1 Definisi Operasional Peran Kader Posyandu dalam
                            Program DDTK di Kelurahan Manisrenggo
                            Kecamatan Kota Kota Kediri Tahun 2009

                                     Definisi                       Alat Ska
                   No Variabel                      Indikator                      Skor
                                   Operasional                      Ukur la
                   1.   Peran     Perwakilan    1. Peran dalam      Kuesi o  Dilaksanakan :
                        kader     dari             penggerakan      oner r   1
                        posyan    masyarakat       ibu bayi          dan  d  Tidak
                        du        yang ditunjuk    untuk datang     obser i  dilaksanakan :
                        dalam     melaksanakan     ke posyandu.      vasi n  0
                        pelaks    tugas dalam   2. Peran                  a  Kriteria :
                        anaan     kegiatan         pemantauan             l  1. Baik : 76-
                        DDTK      DDTK di          DDTK di                      100%
                        pada      posyandu         posyandu                  2. Cukup : 56-
                        bayi      kelurahan     3. Peran dalam                  75%
                                  Manisrenggo.     upaya                     3. Kurang :
                                                   pencatatan                   <56%
                                                   hasil DDTK                (Nursalam,
                                                   di posyandu               2003 : 124)


3.6   Lokasi dan Waktu Penelitian

              Lokasi penelitian di rencanakan di Kelurahan Manisrenggo

      Kecamatan Kota Kota Kediri. Waktu penelitian dilaksanakan 19

      Nopember 2009 sampai dengan 03 Desember 2009.



3.7   Prosedur Pengumpulan Data

              Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subyek dan proses

      pengumpulan karakteristik subyek yang diperlukan dalam suatu penelitian (Nursalam,

      2003)

              Sebelum melakukan penelitian, prosedur pengumpulan data yang ditetapkan sebagi

      berikut :

      3.7.1       Mendapat rekomendasi dari Institusi Program Studi Kebidanan Kediri

      3.7.2       Mengurus perijinan pada Dinas Kesehatan Kota Kediri

      3.7.3       Mengurus perijinan pada Puskesmas Kota Selatan
      3.7.4    Melakukan penelitian pada responden (kader) dengan melakukan observasi

               parisipatif

      3.7.5    Memberikan skor pada lembar observasi

      3.7.6    Melakukan tabulasi data



3.8   Alat Ukur yang Digunakan

              Instrumen pengumpulan data menurut Arikunto yang dikutip

      Riduwan (2008 : 24) adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan

      peneliti dalam kegiatan pengumpulan data agar kegiatan tersebut

      menjadi sistematis dan dipermudah olehnya. Instrumen yang dipakai

      dalam penelitian ini adalah pedoman observasi. Pedoman observasi

      berisi peran kader posyandu yang akan diamati. Dalam proses

      observasi peneliti memberi tanda pada kolom (Suharsimi A, 206).

      Lembar observasi digunakan untuk mengamati kegiatan yang

      dilakukan kader posyandu dalam menjalankan perannya dalam

      pelaksanaan DDTK pada hari buka posyandu.



3.9   Teknik Pengolahan/Analisa Data

              Teknik pengolahan data dalam penelitian ini meliputi editing,

      coding, scoring, tabulating.

      3.9.1    Pengolahan Data

               3.9.1.1       Editing

                                   Editing   adalah      suatu   tahapan   jika    data

                             kuantitatif telah terkumpul, yakni mengorganisir atau

                             mengelompokkan      fakta    dari   data   guna      tujuan
          penelitian (Dajan, 2005 : 26). Kegiatan dalam langkah

          ini antara lain :

          1. Mengecek kelengkapan identitas responden.

          2. Mengecek kelengkapan data.

          3. Mengecek macam isian data.

3.9.1.2   Coding

                     Coding adalah bagaimana mengkode responden, pertanyaan-

          pertanyaan dan segala hal yang dianggap perlu (Setiadi, 2007 : 79).

          Coding dalam penelitian ini dilakukan dengan cara :

          1.       Umur :

               Kode 1       :     ≤ 20 tahun

               Kode 2       :     21 – 39 tahun

               Kode 3       :     ≥ 40 tahun

          2.       Pendidikan :

               Kode 1       :     SD

               Kode 2       :     SMP

               Kode 3       :     SMA

               Kode 4       :     Perguruan Tinggi

          3.       Pekerjaan :

               Kode 1       :     Ibu Rumah Tangga

               Kode 2       :     Tani

               Kode 3       :     Swasta

               Kode 4       :     Wiraswasta




3.9.1.3   Scoring
        Scoring yaitu menentukan skor/nilai untuk tiap

item pertanyaan-pertanyaan dan segala hal yang

dianggap perlu (Setiadi, 2007 : 79). Scoring dalam

penelitian ini dilakukan dengan cara :

1. Jika peran dilaksanakan : skor 1.

2. Jika peran tidak dilaksanakan : skor 0.

3. Skor didapat : penjumlahan skor pelaksanaan.

4. Skor maksimum : skor tertinggi yang mungkin

    didapat responden (sama dengan jumlah peran yang

    harus dilaksanakan).

Guna mengkategorikan peran kader maka perlu

dihitung prosentasenya terlebih dahulu dengan rumus :

     X
P=     x 100 %
     Y

Keterangan :

     P = prosentase

     X = skor yang didapat (kategori tertentu)

     Y = skor maksimal (total kategori/total responden)

(Suharsimi, 2006)

Berdasarkan perhitungan prosentase tersebut dapat

diidentifikasi peran kader sebagai berikut :

a. Baik : bila tercapai 76-100%.

b. Cukup : bila tercapai 56-75%.

c. Kurang : bila tercapai < 56%.

(Nursalam, 2003 : 124).
        3.9.1.4   Tabulating

                           Tabulating yaitu mentabulasi hasil data yang diperoleh sesuai

                  dengan item pertanyaan dalam penelitian (Setiadi, 2007 : 79). Proses

                  penyusunan data dalam bentuk tabel dalam penelitian ini dilakukan

                  dengan penyusunan distribusi frekuensi.

3.9.2   Analisa Data

              Data dalam penelitian ini adalah data peran kader

        posyandu. Analisa data dengan analisa deskriptif. Data yang

        telah disajikan secara deskriptif dalam bentuk tabel distribusi

        frekuensi masing-masing kategori peran kemudian dihitung

        prosentasenya.       Rumus       prosentase         sama   dengan      rumus

        prosentase diatas.

              Selanjutnya       dilakukan       interpretasi       data       dengan

        memperhatikan pedoman interpretasi sebagai berikut :

        a. 0%             : berarti tidak satupun responden.

        b. 1%-24%         : berarti sebagian kecil responden.

        c. 25%-49% : berarti hampir setengah responden.

        d. 50%                     : berarti setengah responden.

        e. 51%-75% : berarti sebagian besar responden.

        f. 76%-99%         : berarti hampir seluruh responden

        g. 100%           : berarti seluruh responden.

        (Barney Glaser dan Anselm Strauss, 2008)
3.10 Etika Penelitian

              Etika penelitian adalah suatu prinsip etika penelitian agar peneliti tidak melanggar

     hak-hak manusia yang kebetulan sebagai pasien. Secara umum dibedakan menjadi 3 bagian

     yaitu (1) prinsip manfaat, (2) prinsip menghargai hak-hak subjek, dan (3) prinsip keadilan

     (Nursalam, 2003).



     3.10.1    Prinsip Menghargai Hak Asasi Manusia (Respect Human Dignity)

               3.10.1.1   Informed consent

                          Subyek harus mendapatkan informasi lengkap tentang tujuan

                          penelitian, hak bebas berpartisipasi menjadi responden. Pada informed

                          consent juga dicantumkan bahwa data yang diperoleh hanya untuk

                          pengembangan ilmu.



     3.10.2    Prinsip Keadilan (Right To Justice)

               3.10.2.1   Hak dijaga sebagai responden

                          Subyek mempunyai hak untuk meminta bahwa data yang diberikan

                          harus dirahasiakan untuk itu perlu adanya anonimity (tanpa nama) dan

                          confidentiality (rahasia) (Nursalam, 2003).
                                             BAB IV

                               HASIL DAN PEMBAHASAN



        Pada bab ini diuraikan hasil penelitian yang dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu

data umum (karakteristik responden berdasarkan usia, pendidikan dan pekerjaan) dan dan data

khusus berupa peran kader posyandu dalam pelaksananan program DDTK pada bayi. Penelitian

dilaksanakan tanggal 19 Nopember 2009 s/d 3 Desember 2009 dengan jumlah responden 30 kader

posyandu posyandu.


4.1   Hasil Penelitian

      4.1.1   Data Umum

              1.     Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

                           Karakteristik responden berdasarkan usia di Kelurahan Manisrenggo

                     Kecamatan Kota Kota Kediri dapat dilihat pada diagram 4.1 dibawah ini.


                                          4; 13,3%     0; 0,0%




                                                                    26; 86,7%


                                    ≤ 20 tahun        21-39 tahun        ≥ 40 tahun




                     Diagram 4.1        Distribusi Frekuensi Usia Responden di Kelurahan
                                        Manisrenggo Kecamatan Kota Kota Kediri Bulan
                                        Nopember 2009

                           Berdasarkan diagram 4.1 diatas diketahui hampir seluruh responden

                     berusia 21-39 tahun yaitu ada 26 responden (86,7%) dari total 30 responden.
                                                 39
              2.     Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan

                           Karakteristik responden berdasarkan pendidikan di Kelurahan

                     Manisrenggo Kecamatan Kota Kota Kediri dapat dilihat pada diagram 4.2

                     dibawah ini.
                                      1; 3,3%      2; 6,7%




         15; 50,0%                                                       12; 40,0%




                                 SD     SMP     SMA     PT




     Diagram 4.2       Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden di Kelurahan
                       Manisrenggo Kecamatan Kota Kota Kediri Bulan
                       Nopember 2009

           Berdasarkan      diagram      4.2    diketahui     setengah     responden

     berpendidikan SMA yaitu ada 15 responden (50%) dari total 30 responden.


3.   Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan

           Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan di Kelurahan

     Manisrenggo Kecamatan Kota Kota Kediri dapat dilihat pada diagram 4.3

     dibawah ini.




                     6; 20,0%                                6; 20,0%




         4; 13,3%


                                                        14; 46,7%


                           IRT   Tani     Swasta    Wiraswasta




     Diagram 4.3       Distribusi Frekuensi Pekerjaan Responden di Kelurahan
                       Manisrenggo Kecamatan Kota Kota Kediri Bulan
                       Nopember 2009
                      Berdasarkan diagram 4.3 diketahui hampir setengah responden

               bekerja sebagai petani yaitu ada 14 responden (46,7%) dari total 30

               responden


4.1.2   Data Khusus

        1.   Peran Kader posyandu dalam Penggerakan ke Posyandu

                   Peran kader posyandu dalam penggerakan ke posyandu sebelum hari

             buka di Kelurahan Manisrenggo Kecamatan Kota Kota Kediri dapat dilihat

             pada diagram dibawah ini.



                                                          2; 6,7%

                12; 40,0%



                                                                           16; 53,3%


                                         Kurang      Cukup          Baik




             Diagram 4.4      Peran Kader Posyandu dalam Penggerakan ke Posyandu di
                              Kelurahan Manisrenggo Kecamatan Kota Kota Kediri Bulan
                              Nopember 2009

                      Berdasarkan diagram 4.4 diatas diketahui sebagian besar responden

             memiliki peran yang cukup dalam penggerakan ke posyandu yaitu ada 16

             responden (53,3%) dari total 30 responden.
2.   Peran Kader Posyandu dalam Pemantauan DDTK

           Peran kader posyandu dalam pemantauan DDTK pada hari buka di

     Kelurahan Manisrenggo Kecamatan Kota Kota Kediri dapat dilihat pada

     diagram dibawah ini.




                                                  3; 10,0%
            9; 30,0%




                                                          18; 60,0%



                              Kurang     Cukup     Baik


     Diagram 4.5       Peran Kader Posyandu dalam Pemantauan DDTK Bersama
                       Bidan di Kelurahan Manisrenggo Kecamatan Kota Kota
                       Kediri Bulan Nopember 2009

           Berdasarkan diagram 4.5 didapatkan sebagian besar responden berperan

     dengan kriteria cukup dalam pemantauan DDTK bersama bidan yaitu ada 18

     responden (60%) dari total 30 respond

3.   Peran Kader Posyandu dalam Pencatatan Hasil DDTK

           Peran kader posyandu dalam pencatatan hasil DDTK pada hari buka di

     Kelurahan Manisrenggo Kecamatan Kota Kota Kediri dapat dilihat pada

     diagram dibawah ini.


              7; 23,3%                                       8; 26,7%




                                15; 50,0%

                              Kurang     Cukup   Baik
                      Diagram 4.6 Peran Kader Posyandu dalam Pencatatan Hasil DDTK di
                                  Kelurahan Manisrenggo Kecamatan Kota Kota Kediri Bulan
                                  Nopember 2009

                             Berdasarkan diagram 4.6 didapatkan setengah responden berperan

                      dengan kriteria cukup dalam pencatatan hasil DDTK yaitu ada 15 responden

                      (50%) dari total 30 responden.

4.2     Pembahasan

        4.2.1     Gambaran Peran Kader Posyandu dalam Pelaksanaan Program DDTK.

                           Dari hasil penelitian terhadap 30 responden di kelurahan Manisrenggo,

                  didapatkan data dari 10 pertanyaan dan observasi yang berhubungan dengan peran

                  kader posyandu tentang pelaksanaan DDTK pada bayi. Secara umum responden

                  yang berperan cukup sebanyak 16 responden (53,3%).

                           Berdasar bukti yang ada di posyandu, hal itu terjadi karena sarana yang

                  belum lengkap, iuran dari masyarakat kurang, sumbangan dari donatur kecil, biaya

                  rujukan tidak ada, koordinasi dengan lintas sektor kurang dan sistem informasi

                  posyandu yang kurang berkembang.

                           Berdasar hal ini dapat diambil kesimpulan bahwa faktor predisposisi,

                  pemungkin dan pendorong belum memenuhi sebagai stimulan untuk kader.

                  Sehingga belum semua kader menjalankan peran ini dengan maksimal.

                           Sesuai pendapat (Suliha, 2002). Dalam menjalankan peran pelaksanaan

                  DDTK, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pengetahuan, sikap, pengalaman,

                  keyakinan, sarana fisik, nilai, persepsi, sumber daya, keterjangkauan, rujukan,

                  ketrampilan, pemikiran dan perasaan, acuan atau referensi dan sosio budaya.

      4.2.2     Peran Kader Posyandu dalam Penggerakan ke Posyandu sebelum Hari Buka.

                           Berdasarkan diagram 4.4 diketahui sebagian besar responden memiliki

                  peran yang cukup yaitu 16 responden (53,3%).
                Hal itu disebabkan karena pembagian tugas kader yang tidak jelas,

        pembinaan Bina Keluaraga Balita (BKB) dari lintas sektor kurang, dukungan dari

        PKK tidak rutin dan hanya mendapat bantuan transport yang sedikit.

                Berdasar hal ini dapat diambil kesimpulan bahwa penggerakan oleh kader

        belum maksimal. Karena kader masih memerlukan pembinaan dan dukungan dari

        berbagai sektor terkait. Semakin banyak dukungan yang diterima, semakin baik

        pengetahuan, pengalaman dan minat untuk melaksanakan tugasnya.

                Sesuai pendapat (Kutilang, 2009), bahwa peran menunjuk pada suatu

        proses antara dua atau lebih pihak yang mempengaruhi satu terhadap yang lainnya

        dalam membuat rencana kebijakan dan keputusan.

                Adapun menurut team kerja WHO yang dikutip (Notoatmojo, 2005),

        determinant perilaku tersebut meliputi pemikiran dan perasaan, adanya acuan atau

        referensi dari seseorang atau pribadi yang dipercaya, sumber daya yang tersedia

        untuk terjadinya perilaku dan sosio budaya.

4.2.3   Peran Kader Posyandu dalam Pemantauan DDTK pada saat hari buka posyandu.

              Berdasarkan diagram 4.5 didapatkan sebagian besar responden berperan

        dengan kriteria cukup yaitu 18 responden (60%).

              Hal itu disebabkan karena kader belum mendapat sosialisasi, belum paham

        teori, alat permainan edukatip (APE) yang tidak lengkap dan banyak balita datang

        pada waktu yang bersamaan sehingga sulit memantau balita satu persatu. Dari hal

        diatas dapat disimpulkan bahwa pemantauan DDTK masih dianggap sulit oleh

        kader sehingga belum mampu melaksanakan sebaik mungkin. Agar pemantauan

        tumbuh kembang balita lebih sempurna / maksimal alangkah baiknya kader

        mendapat sosialisasi khusus DDTK. Sehingga tumbuh kembang balita dapat

        terpantau bila sewaktu – waktu ada kelainan bisa terdeteksi secara dini dan kader

        segera mengkonsultasikan kepada petugas kesehatan.
              Sesuai pendapat Snehendu B. Karr dalam (Notoadmojo,2005) faktor yang

        mempengaruhi perilaku dalam peran, yaitu adanya niat untuk bertindak, adanya

        dukungan dari masyarakat sekitarnya, terjangkaunya informasi, adanya otonomi

        atau kebebasan pribadi untuk mengambil keputusan dan adanya kondisi dan situasi

        yang memungkinkan.




4.2.4   Peran Kader Posyandu dalam Pencatatan Hasil DDTK setelah buka posyandu.

              Berdasarkan diagram 4.6 didapatkan setengah responden berperan dengan

        kriteria cukup yaitu 15 responden (50%).

              Hal itu disebabkan karena belum semua kader mendapat sosialisasi

        pengisian format dan blangko serta register DDTK juga tidak tersedia dengan

        lengkap.

              Setiap kegiatan posyandu seharusnya kader menuliskan pada buku catatan,

        buku KIA, buku register, buku laporan atau kartu tentang apa saja yang terjadi dan

        telah diamati secara runtut yang mana sebagai indikator tumbuh kembang balita.

              Berdasar hal tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pencatatan masih

        dianggap sulit oleh kader karena belum mempunyai pengetahuan dan ketrampilan

        yang sesuai sehingga memperlambat proses aplikasi pada situasi atau kondisi riil

        (sebenarnya).

              Sesuai pernyataan (Notoatmojo, 2002) bahwa ranah aplikasi masuk dalam

        domain pengetahuan tingkat 3. Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk

        menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil

        (sebenarnya), juga dapat diartikan sebagai penggunaan, hukum-hukum, rumus,

        metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
4.3   Keterbatasan.

               Keterbatasan merupakan bagian riset keperawatan yang menjelaskan

       keterbatasan dalam penulisan riset (H.A.AzisAlimul, 2003).

       4.3.1   Penelitian ini dilakukan dalam waktu yang singkat (2 minggu). Sehingga

               memadatkan dan merubah jadwal posyandu yang sudah ada.

       4.3.2   Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner memiliki jawaban

               kejujuran dari responden, selain itu instrument yang digunakan belum pernah

               diujicobakan sehingga validitas dan reliabilitasnya kurang sempurna.

       4.3.3   Penelitian ini merupakan pengalaman pertama bagi peneliti, karena

               keterbatasan dan kurangnya pengetahuan serta pengalaman yang dimiliki

               sehingga hasil penelitian ini kurang sempurna dan kurang optimal.

                  .
                                            BAB V

                                          PENUTUP



        Berdasarkan hasil penelitian, analisis dan pembahasan mengenai Gambaran Peran Kader

dalam Pelaksanaan Program DDTK pada Bayi di Kelurahan Manisrenggo Kecamatan Kota Kota

Kediri Tahun 2009 dengan total 30 responden diperoleh kesimpulan dan saran sebagai berikut.


5.1   Kesimpulan

      5.1.1    Sebagian besar responden memiliki peran yang cukup dalam penggerakan ke

               posyandu yaitu ada 16 responden (53,3%) dari total 30 responden.

      5.1.2    Sebagian besar responden berperan dengan kriteria cukup dalam pemantauan

               DDTK bersama bidan yaitu ada 18 responden (60%) dari total 30 responden.

      5.1.3    Setengah responden berperan dengan kriteria cukup dalam pencatatan hasil DDTK

               yaitu ada 15 responden (50%) dari total 30 responden.

      5.1.4    Sebagian besar responden berperan dengan kriteria cukup dalam pelaksanaan

               program DDTK pada bayi yaitu ada 16 responden (53,3%) dari total 30 responden.




5.2   Saran

      5.2.1    Bagi Dinas Kesehatan.

                     Disarankan meningkatkan pengetahuan kader posyandu khususnya dalam

               pelaksanaan DDTK melalui sosialisasi kader posyandu.

      5.2.2    Bagi Bidan.

                     Bidan dapat meningkatkan pengetahuan kader tentang pelaksanaan

               posyandu melalui kegiatan lomba kader, lomba posyandu dan sejenisnya sehingga

               ada motivasi bagi kader untuk selalu meningkatkan pengetahuan dan kinerjanya.

      5.2.3    Bagi Peneliti Berikutnya

                     Peneliti lain disarankan untuk melaksanakan penelitian hubungan

               pengetahuan tentang pelaksanaan posyandu dengan pendidikan, pelatihan, atau

               pekerjaan kader.
                                     DAFTAR PUSTAKA


Ahmad Aziz Alimul Hidayat. 2007, Metode Penelitian Kebidanan Teknik Analisa Data, Jakarta :
      Salemba Medika.

Atmikasari, L. 2008. Deteksi Dini Gangguan Perkembangan Anak. http://www.cybertokoh.com

Barney Glaser dan Anselm Strauss. 2008. http://www.infoskripsi.com
     /Theory/Metode-Penelitian-Kualitatif-Grounded-Theory-Approach.html.

Depkes RI. 2008. Panduan Pelatihan Kader Posyandu. Jakarta : Tim Lintor
    Depkes bersama TP PKK Pusat, Ditjen PMD-Depdagri, Ditjen Binkesmas-
    Depkes, F-PKM Depkes, Ditjen Diklusepora-Depdikbud, BKKBN dan
    Unicef

Diantina, R. 2009. Deteksi Dini Penyimpangan Tumbuh Kembang Anak. http://erde-
         matabaru.blogspot.com

Hadrianto, R. 2008. Kenali dan Perhatikan Tumbuh Kembang Anak. http://www.surabaya-
        ehealth.org

Kutilang.     2008.    Peran     Serta     Ddalam      Pengambilan       Keputusan       Strategik.
      http://one.indoskripsi.com

Nasir, Moh. 2005. Metode Penelitian. Cetakan keenam. Ciawi : Ghalia Indonesia.
     Hal : 85

Notoatmodjo.2005.Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka
   Cipta.
Nursalam (2003). Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan
       (Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian Keperawatan).
       Surabaya : Salemba Medika. Hal : 96

Purwandari. 2008. Kebijakan Pemerintah dalam Pelaksanaan Deteksi Dini
      Tumbuh Kembang. http://digilib.uns.ac.id

Rahaju, dkk. 2005. Buku Pegangan Kader Posyandu. Surabaya : Dinkes Jatim

Sedarmayanti dan Hidayat. 2002. Metode Penelitian. Bandung : Mandar Maju.
      Hal : 121

Siswanto. 2004. Kelainan Dapat Dideteksi sejak Balita. http://www.gizi.net

Sofyan Cholid. 2009. Keluarga dalam Perspepktif Fungsional. http://staff.blog.ui.ac.id

Sugiono. 2006. Statistik untuk Penelitian. Bandung : CV Alfa Beta

Suliha, U. dkk. 2002. Pendidikan Kesehatan dalam Keperawatan. Jakarta : EGC.
Lampiran : 1

                                  JADWAL PENELITIAN


No.            Kegiatan           Mei   Juni   Juli   Agst   Sept   Okt   Nop   Des   Jan   Peb
      Informasi penyelenggaraan
1
      KTI
2     Pengajuan judul
3     Penyusunan Proposal
4     Pengumpulan Proposal                                   18
                                                                    21-
5     Seminar Proposal
                                                                    22
6     Revisi proposal
                                                                          12 Nop-13
7     Pengambilan Data
                                                                             Des
8     Penysunan hasil                                                     15     17
9     Pengumpulan KTI                                                                 20
                                                                                      22-
10    Ujian sidang
                                                                                      24
11    Revisi hasil                                                                    16
12    Yudisium                                                                        16     7
Lampiran : 2
                                INFORMASI PENELITIAN



Yang bertandatangan dibawah ini :
Nama            : IDA WIDJAJATI
NIM             : 0602200130

       Saya sebagai Mahasiswa Politeknik Kesehatan Malang Program Studi Kebidanan Kediri
akan melakukan penelitian dengan judul “Peran Kader Posyandu dalam Pelaksanaan Program
Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) pada Bayi (di Kelurahan Manisrenggo Kecamatan
Kotakota Kediri Tahun 2009)” sebagai salah satu syarat kelulusan. Adapun tujuan dari penelitian
ini adalah untuk mengetahui Peran Kader Posyandu Dalam Pelaksanaan Program Deteksi Dini
Tumbuh Kembang (DDTK) Pada Bayi (Di Kelurahan Manisrenggo Kecamatan Kotakota Kediri
Tahun 2009). Untuk keperluan diatas, saya mohon kesediaan responden untuk menjawab
pertanyaan yang telah peneliti ajukan.

       Demikian informasi penelitian ini saya buat, atas partisipasi responden saya mengucapkan
terima kasih.



                                                                Kediri, Desember 2009




                                                                   IDA WIDJAJATI
                                                                   NIM : 0602200130
Lampiran : 3


                              FORMULIR PERSETUJUAN
                           MENJADI RESPONDEN PENELITIAN



       Saya Ida Widjajati, Mahasiswa Politeknik Kesehatan Malang Program Studi Kebidanan
Kediri Jalur Khusus. Akan mengadakan penelitian dengan judul “Peran Kader Posyandu Dalam
Pelaksanaan Program Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) Pada Bayi (di Kelurahan
Manisrenggo Kecamatan Kota Kota Kediri Tahun 2009)”.
       Untuk keperluan diatas saya mohon kesediaan Saudara untuk bersedia menjadi responden.
Semua data yang akan dikumpulkan akan dirahasiakan dan tanpa nama. Data disajikan hanya
untuk kepentingan ilmu kebidanan.
       Partisipasi Saudara adalah sukarela, tanpa ada paksaan, dan tidak ada sangsi. Bila berkenan
menjadi responden, silakan menandatangani kolom yang telah disediakan. Atas partisipasi
Saudara, saya ucapkan terima kasih.




                                                   Tanda Tangan        :

                                                   Tanggal             :

                                                   No. Responden       :
Lampiran : 4

KISI-KISI
KUESIONER DAN LEMBAR OBSERVASI
    PERAN KADER POSYANDU DALAM PELAKSANAAN PROGRAM DETEKSI DINI
                   TUMBUH KEMBANG (DDTK) PADA BAYI
              (Di Kelurahan Manisrenggo Kecamatan KotaKota kediri
                                  Tahun 2009)


                                                             Jml
    No.                Materi (Tujuan Khusus)                       No. Soal
                                                             Soal
          Peran dalam penggerakan ibu bayi untuk datang ke    3
     1    posyandu.                                                  1, 2, 3
       Peran pemantauan DDTK bersama bidan di                 3
     2                                                               4, 5, 6
       posyandu
       Peran dalam upaya pencatatan hasil DDTK di             4
  3                                                                 7,8,9, 10
       posyandu
Lampiran :
Lampiran :
Lampiran :
Lampiran :
Lampiran

:
Lampiran : 5

KUESIONER DAN LEMBAR OBSERVASI
  PERAN KADER POSYANDU DALAM PELAKSANAAN PROGRAM DETEKSI DINI
                 TUMBUH KEMBANG (DDTK) PADA BAYI
            (Di Kelurahan Manisrenggo Kecamatan KotaKota kediri
                                Tahun 2009)

                                                DAFTAR PERTANYAAN

Tanggal pengisian           : .......................................................
No. Responden : .......................................................


Data Umum :

Kode Responden : ..........................
Karakteristik Responden :
1. Umur responden :
      ≤ 20 tahun
      21-40 tahun
      >40 tahun

2.    Pendidikan responden :
        SD
        SMP
        SMA
        PT

3.    Pekerjaan responden :
        IRT
        Tani
        Swasta
        Wiraswasta

Petunjuk :           Mohon dijawab semua pertanyaan dengan hanya memberikan
                     tanda centang ( √ ) dalam kurung di depan jawaban yang paling
                     cocok dengan yang Saudara lakukan !
4.   Sebelum posyandu buka apakah Saudara memberi tahu ibu-ibu untuk datang ke posyandu
     untuk menimbangkan BB anak dan pemantauan perkembangannya (DDTK) ?
     ( ) Ya
     ( ) Tidak

5.    Sebelum posyandu buka apakah Saudara menyampaikan kepada ibu balita pentingnya datang
      ke posyandu untuk penimbangan BB dan melihat perkembangan anak untuk pemantauan
      DDTK ?
     ( ) Ya
     ( ) Tidak

6.   Sebelum posyandu buka apakah Saudara memberikan motivasi perlunya penimbangan BB
     dan pemantauan perkembangan anak secara rutin setiap bulan melalui posyandu guna
     pemantauan DDTK anak ?
     ( ) Ya
     ( ) Tidak
Lampiran : 6
LEMBAR OBSERVASI
  PERAN KADER POSYANDU DALAM PELAKSANAAN PROGRAM DETEKSI DINI
                 TUMBUH KEMBANG (DDTK) PADA BAYI
            (Di Kelurahan Manisrenggo Kecamatan KotaKota kediri
                                Tahun 2009)

                                                DAFTAR PERTANYAAN

Tanggal pengisian           : .......................................................
No. Responden : .......................................................


Petunjuk :           Mohon diisi dengan tanda centang ( √ ) pada tanda kurung di
                     depan pilihan pada masing-masing nomor pengamatan sesuai
                     hasil obervasi ketika hari buka posyandu !
7.   Kader melaksanakan pemantauan DDTK didampingi bidan ?
     ( ) Ya
     ( ) Tidak

8.   Kader menilai DDTK anak menggunakan lembar DDTK dengan nilai tertentu setelah
     meminta petunjuk bidan atau pertimbangan bidan untuk menghidari kesalahan.
     ( ) Ya
     ( ) Tidak

9.    Kader benar-benar melakukan observasi terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak untuk
      memantau DDTK didampingi bidan.
     ( ) Ya
     ( ) Tidak

10. Kader mencatat hasil pengukuran indikator pertumbuhan berupa hasil penimbangan BB anak
    ? (Lihat Bukti Arsip Kegiatan)
   ( ) Ya
   ( ) Tidak

11. Kader mencatat hasil observasi perkembangan anak berdasarkan lembar DDTK ? (Lihat Bukti
    Arsip Kegiatan)
    ( ) Ya
    ( ) Tidak

12. Kader memindahkan hasil pencatatan penimbangan BB anak ke buku register kegiatan ?
    (Lihat Bukti Arsip Kegiatan)
    ( ) Ya
    ( ) Tidak
13. Kader memindahkan hasil pencatatan observasi perkembangan anak berdasarkan lembar
    DDTK ke buku register kegiatan ? (Lihat Bukti Arsip Kegiatan)
    ( ) Ya
    ( ) Tidak
Lampiran :

Test DDTK
1. Test Pertumbuhan
    a. Indikator Berat Badan untuk Anak Laki-Laki




        Gambar 2.1    Grafik Berat Badan dan Panjang/Tinggi Badan Anak Laki-laki

b.    Indikator Berat Badan untuk Anak Perempuan
Gambar 2.2   Grafik Berat Badan dan Panjang/Tinggi Badan Anak Perempuan
2. Test Perkembangan
Gambar 2.3   Deteksi Lingkar Kepala Anak Laki-Laki
    Gambar 2.4   Deteksi Lingkar Kepala Anak Perempuan
         Adapun untuk pemantauan perkembangan anak digunakan pedoman
sebagai berikut.
Gambar 2.5   Deteksi Perkembangan Anak

								
To top