Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

opini pengkaderan masa kini

VIEWS: 455 PAGES: 1

									Proses pengkaderan harus memiliki tujuan pasca pengkaderan. jangan sampai pengkaderan kita
hanya seperti yang terjadi di tempat lain yang mengamalkan NILAI-NILAI ABSTRAK, Menanamkan
LOYALITAS SEMU, dan Membentuk SOLIDARITAS BUTA. Sehingga para trainee (calon kader)
cenderung hanya berakting dan tampil bagus di depan trainer (pengkader). Namun nilai-nilai ini
tidak mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari.

Terkadang suasana kedisiplinan,peran kemahasiswaan dan aplikasi nilai-nilai kemanusiaan hanya
berlangsung selama pengkaderan, maka tidak perlu heran jika sebagian besar alumnus pengkaderan
merasakan kebebasan yang luar biasa setelah melewati masa pengkaderan yang menurut mereka
hanya membatasi ruang gerak dengan adanya aturan,kedisiplinan, cara berpakaian dan cara bicara.
Karena setelah melewati masa-masa pengekangan mereka sudah terikat lagi dengan aturan-aturan
tersebut, maka para alumnus nantinya tidak menganggap pengkaderan sebagai suatu kebutuhan
dasar, tapi sebagai tempat ajang aktualisasi diri

Wajar kalau orang-orang diluar menganggap pengkaderan hanya menjadi proses ceremonial,
ataukah sebagai formalitas pelaksanaan Proker, atau bahkan Ajang “romantisme masa lalu” oleh
para pendahulunya yang ingin mengenang kembali masa indah yang pernah dibangun.

Padahal pengkaderan sebagai miniatur dunia luar sebenarnya dibuat untuk membentuk mental dan
pola pikir serta kepribadian yang tangguh menghadapi dunia yang sesungguhnya. Mengapa cara
berpakaian yang rapi, kedisiplinan, etos kerja, dan profesionalisme justru terabaikan setelah masa
pengkaderan? Benarkah pengkaderan hanya sekedar sangkar yang dibuat agar generasi selanjutnya
tetap merasakan susahnya masa-masa yang dilewati pendahulunya?

Maka wajar kalau banyak yang menganggap remeh alumnus pengkaderan. Karena terkadang proses
pengembangan karakter dan kepribadian hanya bersifat temporer saja, yaitu pada masa bina kader,
dengan penanaman NILAI-NILAI ABSTRAK, LOYALITAS SEMU, dan SOLIDARITAS BUTA.

Semoga kesalahan ini tidak terjadi juga di kampus tercinta kita

Saran saya, mari menanamkan nilai-nilai kemanusiaan yang membangun jiwa,membentuk
karakter, serta mengembangkan kepribadian dengan materi dan muatan yang dapat di aplikasikan
terus menerus. Bukan hanya sementara. Agar paradigma yang terbentuk adalah pengkaderan dibuat
untuk membentuk kepribadian yang utuh.

Langkah kecil untuk memulai itu adalah dengan memperbaiki kinerja para trainer dan mulai
menanamkan pencitraan positif kepada trainee. Berikan punishment yang sesuai saat ada
pelanggaran dan berikan apresiasi saat ada hal positif yang ditunjukkan oleh trainee. Agak sulit
memang, namun sedikit demi sedikit dengan berjalannya waktu dan sumber daya yang akan
bertambah banyak, kita akan mampu bertahan dari intervensi pihak-pihak tertentu dan keluar
jurang kesalahan yang terlanjur digali begitu dalam.

Salam sehat, salam sukses. Salam Kemanusiaan.

Asai, ex-anggota div.Litbang
Lembaga swadaya masyarakat
Makassar, 2008
Email: assailetter@yahoo.co.id

								
To top