HADITS-HADITS DHO'IEF TENTANG BULAN RAMADHAN

Document Sample
HADITS-HADITS DHO'IEF TENTANG BULAN RAMADHAN Powered By Docstoc
					         HADITS-HADITS DHO’IEF TENTANG RAMADHAN
                              Drs. Adeng Nurdin


Ramadhan adalah bulan yang mulia, momen yang tepat untuk
mendulang pahala sebanyak-banyaknya dari Rabb Yang Maha
Pemurah. Pada bulan ini jiwa dan hati para hamba Allah menjadi
tunduk dan lembut untuk melakukan berbagai macam ibadah yang
disyariatkan. Karena itu sepatutnya para ustadz, da'i, muballigh
dan setiap kita memanfaatkan bulan yang penuh berkah ini.
Namun demikian ada fenomena sangat menyedihkan yang sering
terjadi di bulan suci ini yaitu tersebarnya hadits-hadits yang lemah
melalui mimbar-mimbar mesjid dan majelis-majelis ta'lim. Hal ini
banyak disebabkan karena kurangnya pengetahuan para da'i akan
kelemahan hadits-hadits tersebut. Semoga tulisan ini mampu
menjadi peringatan bagi kita untuk tidak ikut andil dalam
penyebaran hadits-hadits yang lemah, agar kita tidak terjatuh
dalam salah satu dosa besar yaitu berdusta atas nama Rasulullah
shallallohu alaihi wasallam. Sebagai catatan penting bahwa
diantara hadits yang kami sebutkan ini ada yang kandungan
matannya memiliki makna yang benar, namun hal itu tidak menjadi
alasan untuk mengatasnamakan perkataan tersebut kepada
Rasulullah shallallohu alaihi wasallam, karena beliau pernah
bersabda:

              ‫سٗآ اىثخاسي‬        ِ ْ ٍ ٓ‫ٍ ٌق عيً ٍ ى أق ف ٍرث٘ ٍ عذ‬
                                  ‫َِْ َ ُوْ ََ َ َا ٌَْ َ ُوْ َيْ َ َ َ َأْ َقْ َ َ ُ ِِْ اى َاس‬
"Barangsiapa yang berkata atas namaku sesuatu yang tidak
pernah aku katakan maka hendaknya dia mempersiapkan tempat
duduknya di neraka" (HR. Bukhari dalam Shohihnya; Kitab Al 'Ilm,
Bab Itsmu Man Kadzaba 'alan Nabi, no 109)

Berikut ini beberapa contoh hadits-hadits lemah yang sering kita
dengarkan dalam bulan Ramadhan :

   ‫مُ ٌ ع‬                                  ً‫أُ ْث‬                  ‫ع أّش ِ ٍ ىل‬
ُْ٘ ْ‫َِْ ََ ِ تْ ِ َاِ ٍ سظً اهلل عْٔ َ َ اى َ ِ َ صيى اهلل عئٍ ٗصيٌ َا َ َذ‬
 ‫يٌٖ ت س ىْ ف سجة‬                      ‫تثي غ سٍع ُ فن ُ إر دخو ش ش سجة ق ه‬
 ٍ َ َ ًِ ‫ِ ُُْ٘ ِ َ َ َا َ , َ َا َ ِ َا َ َ َ َْٖ ُ َ َ ٍ َا َ : [ اىَ ُ َ َا ِكْ َ َا‬
 ِ َ َْٗ ْ‫َ َعْ َا َ َ َِغْ َا َ َ َا َ ] ( َ َا ُ أحَذ ٗاى َثْ َا ِ ُ ًِ اىْ ُعْ َ ِ اى‬
 ‫ّط ش ًّ ف َ جٌ أ صط‬                            ٓ ٗ‫س‬       ُ ‫ٗش ث ُ ٗ تي ْ سٍع‬
                                                                             ٔ‫ٗاىيفظ ى‬

                                           1
 Dari Anas radhiyallohu anhu adalah Nabi shallallohu alaihi
wasallam berdoa agar diperjumpakan dengan bulan Ramadhan,
maka jika beliau sudah berada di bulan Rajab, beliau berdoa: "Ya
Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban serta
perjumpakanlah kami dengan bulan Ramadhan" [ HR. Ahmad
(2342) dan Thobrani dalam Al Mu'jam al Awsath (4/149/no.3939);
lafal hadits ini bagi beliau ]

Penjelasan :

Dalam sanad hadits ini ada dua perowi yang lemah; Pertama :
Zaidah bin Abu Ruqad Al Bahili; dia seorang yang munkarul hadits
(haditsnya mungkar) sebagaimana yang dikatakan oleh Imam
Bukhari, Nasai dan Al Hafizh Ibnu Hajar. Kedua : Ziyad bin
Abdullah An Numairi dia seorang yang dinilai lemah oleh Imam
Yahya Bin Ma'in, Abu Daud dan Al Hafizh Ibnu Hajar. Abu Hatim
berkata : Haditsnya boleh ditulis namun tidak dijadikan sebagai
hujjah.
Namun demikian bukan berarti kita tidak boleh berdoa kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk diperjumpakan dengan bulan
Ramadhan, bahkan Ibnu Rajab Al Hanbali menukil dari Mu'alla bin
Fadhl yang menyebutkan bahwa kaum salaf terdahulu berdoa
selama enam bulan sebelumnya agar dipertemukan dengan bulan
Ramadhan, kemudian berdoa pada enam bulan berikutnya agar
Allah Azza wa Jalla menerima amalan-amalan mereka di bulan
tersebut. (Lihat : Lathoif Al Ma'aarif, hal 280)


  ‫ف‬                           ‫ق ه ّطثْ سص ه هلل‬
ًِ ٌ‫َِْ َيْ َا َ سظً اهلل عْٔ َا َ : خَ ََ َا َ ُْ٘ ُ ا ِ صيى اهلل عئٍ ٗصي‬   َُ‫ع ص‬
    ‫أٌٖ ْ س ق ين ش ش ظ ٌ ٍث سك‬                                    ُ ‫خش ٌ ً ٍ ش ث‬
,...ٌ َ ‫آ ِ ِ َْ٘ ٍ ِِْ َعْ َا َ , قاه : [ َ ُ َا اى َا ُ َذْ أَظََ ٌُْ َْٖ ٌ عَ ٍِْ ٌ َُا‬
                ‫ٕٗ٘ ش ش أُٗٔ س َح ٗ أ ُٔ ٍ فشج ٗ خشٓ ع ق ٍِ ْ س‬
ٓ‫َ ُ َ َْٖ ٌ َ َى ُ َحَْ ٌ َ َْٗصَّط ُ َغْ ِ َ ٌ َ آ ِ ُ ُ ِرْ ٌ ِ َ اىَا ِ,... ] ( سٗا‬
                                                                             (‫اتِ خزٌَح‬
Dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan oleh Salman
radhiyallohu anhu beliau berkata : Rasulullah shallallohu alaihi
wasallam berkhutbah pada hari terakhir di bulan Sya'ban, beliau
bersabda : "Wahai sekalian manusia kalian telah dinaungi bulan
agung nan diberkahi ...,bulan yang awalnya adalah rahmat,
pertengahannya magfirah (pengampunan) dan akhirnya adalah
pembebasan dari api neraka…." ] HR. Ibnu Khuzaimah dalam
                                            2
Shohihnya (3/191 no.1887) ]

Penjelasan :

Hadits ini lemah, Ibnu Khuzaimah sendiri telah mengisyaratkan hal
itu, karenanya beliau memberi judul hadits ini : "Keutamaan bulan
Ramadhan jika haditsnya shohih". Hadits ini juga diriwayatkan oleh
Baihaqi. Dalam isnadnya ada kelemahan, padanya ada Abul
Hasan Ali bin Zaid bin Ju'dan At Taymi dan dia adalah seorang
yang lemah menurut para Imam ahli hadits seperti Imam Ahmad,
Yahya bin Ma'in dan Yahya bin Said Al Qaththan rahimahumullohu
ta'ala jami'an. Abu Hatim mengatakan bahwa hadits ini mungkar
sebagaimana yang dinukil oleh Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits
Adh Dho'ifah (871)

Dari segi matan, makna hadits ini pun tidak tepat karena seolah-
olah memberi pengertian bahwa rahmat Allah hanya terkhusus
pada 1/3 awal dari Ramadhan, maghfirah pada 1/3 pertengahan
dan pembebasan dari api neraka hanya terkhusus pada 1/3 akhir
dan makna hadits ini bertentangan dengan beberapa hadits shohih
yang menunjukkan bahwa rahmat, maghfirah dan pembebasan
dari api neraka terdapat dalam sepanjang bulan Ramadhan .
Perhatikan hadits-hadits berikut :

                            َٔ ‫ٌق ه ق ه سص ه‬                         ‫ع أت ٕ ش ش ج‬
 : ٌ‫َِْ َ ًِ ُ ٌَْ َ َ سظً اهلل عْٔ َ ُ٘ ُ َا َ َ ُ٘ ُ اىي ِ صيى اهلل عئٍ ٗصي‬
   ‫إر م ُ سٍع ُ فرح أ ٘ ب ش َح ٗغيق أ ب جٌْٖ ٗص ضي‬
ْ‫[ ِ َا َا َ َ َ َا ُ ُ ِ َدْ َتْ َا ُ اى َحَْ ِ َ ُِ َدْ َتَْ٘ا ُ َ َ َ َ َ ُيْ َِد‬
                                                                            ِ ‫ّشٍ ط‬
                                                       ) ٌ‫اى َ َا ٍِ ُ ] ( سٗآ ٍضي‬
Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu berkata : Rasulullah
shallallohu alaihi wasallam bersabda : "Jika datang bulan
Ramadhan terbukalah pintu-pintu rahmat, tertutup pintu-pintu
neraka dan para syaitan terbelenggu" ( HR.Muslim dalam
Shohihnya, Kitab Ash Shiyam, Bab Fadhl Syahri Ramadhan
no.1079 )

    ‫قه‬                            ِ ‫أُ سص ه ي‬                             ‫ع أت ٕش شج‬
[ : َ ‫َِْ َ ًِ ُ ٌَْ َ َ سظً اهلل عْٔ َ َ َ ُ٘ َ اىَٔ صيى اهلل عئٍ ٗصيٌ َا‬
                    ِٔ ‫ٍ ق ً سٍع ُ إ َ ّ ٗ رض ت غفش َٔ ٍ ذقذً ٍ ر‬
[ : ‫َِْ َا َ َ َ َا َ ٌِ َا ًا َاحْ ِ َا ًا ُ ِ َ ى ُ َا َ َ َ َ ِِْ َّْث ِ ], ٗ فً سٗاٌح‬
                  ِٔ ‫ٍ ص ً سٍع ُ إ َ ّ ٗ رض ت غفش َٔ ٍ ذقذً ٍ ر‬
      ٍٔ‫َِْ َا َ َ َ َا َ ٌِ َا ًا َاحْ ِ َاًا ُ ِ َ ى ُ َا َ َ َ َ ِِْ َّْث ِ ] ٍرفق عي‬
Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu berkata bahwa Rasulullah
shallallohu alaihi wasallam bersabda : "Barangsiapa yang
                                           3
mengerjakan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) dilandasi
keimanan dan mengharapkan pahala di sisi Allah maka
diampunkan baginya dosa yang telah lampau", dalam riwayat yang
lain : "Barangsiapa yang mengerjakan puasa di bulan Ramadhan
dilandasi keimanan dan mengharapkan pahala di sisi Allah maka
diampunkan baginya dosa yang telah lampau" [ HR.Bukhori dalam
Shohihnya, Kitab Al Iman no.37,38 dan Muslim dalam Shohihnya
(760) ]

                                 َٔ ‫ق ه ق ه سص ه‬
   ٌ‫َِْ َ ًِ ُ ٌَْ َ َ سظً اهلل عْٔ َا َ : َا َ َ ُ٘ ُ اىي ِ صيى اهلل عئٍ ٗصي‬     ‫ع أت ٕ ش ش ج‬
          ِ ِ ْ‫:[ ِ َا َا َ َ َ ُ ٍَْي ٍ ِِْ َْٖ ِ َ َ َا َ ُ ِ َخْ اى َ َا ٍِ ُ َ َ َ َ ُ اى‬
          ِ‫إر م ُ أٗه ى َح ٍ ش ش سٍع ُ صفذ ّشٍ ط ِ ٍٗشدج ج‬
    ٖ ٍ ٌ ‫ٗغيق أ ٘ ب ْ س في ٌ ر ٍ ٖ ت ب ٗفرح أ ب ج َح ي‬
   ‫َ ُِ َدْ َتْ َا ُ اى َا ِ ٌََْ ُفْ َحْ ِ ْ َا َا ٌ َ ُ ِ َدْ َتَْ٘ا ُ اىْ َْ ِ فٌََْ ُغْيَقْ ِ ْ َا‬
    ٍ ‫ت ب ٌْٗ د ٍْ د ٌ ت غً خ ش أ ث ٌٗ ت غً ّشش أ ص َٔ عرق ء‬
 ِِْ ُ ‫َا ٌ َ ُ َا ِي ُ َا ٍ َا َا ِ َ اىْ ٍَْ ِ َقْ ِوْ َ َا َا ِ َ اى َ ِ َقْ ِشْ َٗىِي ِ ُ َ َا‬
                                                                               ‫ْ س ٗر ل مو ى ي‬
                                                                          ) ‫اى َا ِ َ َى َ ُ ُ ٍََْح‬
Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu berkata : Rasulullah
shallallohu alaihi wasallam bersabda : "Apabila telah masuk
malam pertama di bulan Ramadhan maka syaitan dan jin
pengganggu terbelenggu, pintu-pintu neraka tertutup tidak satupun
terbuka darinya, pintu-pintu surga terbuka tidak satupun tertutup
darinya, ada malaikat yang akan menyeru : "Wahai para pencari
kebaikan menujulah (kebaikan tsb), wahai para pencari kejahatan
berhentilah (dari kejahatan) dan Allah memiliki hamba-hamba
yang dibebaskan dari api neraka dan ini terjadi di setiap malam
bulan Ramadhan" ( HR.Tirmidzi dalam Sunannya, Kitab Ash
Shaum 'an Rasulillah, Bab Maa Jaa Fi Fadhli Syahri Ramadhan,
no 683 )

Ketiga hadits di atas secara gamblang menunjukkan bahwa
rahmat, maghfirah dan pembebasan dari api neraka berlaku di
sepanjang bulan Ramadhan. Wallohu A'lam.


                       َٔ ‫ق ه ق ه سص ه‬                       ‫ع أت ٕش شج‬
: ٌ‫َِْ َ ًِ ُ ٌَْ َ َ سظً اهلل عْٔ َا َ : َا َ َ ُ٘ ُ اىي ِ صيى اهلل عئٍ ٗصي‬
ٔ ‫ٍ أ ّطش ٌ ٍ ٍ سٍع ُ ٍ غ ش س صح ى ٍشض ى ٌ ط ع‬
ُ ْ َ ِ ْ‫[ َِْ َفْ َ َ َْ٘ ًا ِِْ َ َ َا َ ِِْ ٍَْ ِ ُخْ َ ٍ ََٗا َ َ ٍ ٌَْ َق‬
                                                 َٔ ‫ص ً ذ ش مِٔ ٗإ ص‬
‫َْ٘ ُ اى َْٕ ِ ُي ِ َُِْ َاٍ ُ ] ( سٗآ أت٘ داٗد ٗاىرشٍزي ٗاتِ ٍاجٔ ٗأحَذ‬
                                                                 ) ًٍ‫ٗاىذاس‬
3. Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu berkata : Rasulullah
shallallohu alaihi wasallam bersabda : "Barangsiapa yang berbuka
                                                 4
sehari di bulan Ramadhan tanpa adanya rukhshah
(keringanan/udzur yang dibenarkan syariat) dan tidak pula karena
sakit maka dia tidak bisa mengqadha ( mengganti utang puasa
tersebut ) walaupun dia berpuasa setahun penuh" [ HR. Tirmidzi
(723), Abu Daud (2396), Ibnu Majah (1672), Ahmad (8787) dan
Darimi (1666) ]

Penjelasan :

Hadits ini lemah; Imam Bukhari telah meriwayatkannya secara
mu'allaq dengan sighah tamridh (bentuk periwayatan yang
menunjukkan adanya kelemahan pada hadits). Imam Tirmidzi
mengatakan : Saya telah mendengar Muhammad (yaitu Imam
Bukhari) berkata : Abul Muthawwis namanya adalah Yazid bin Al
Muthawwis, dan saya tidak mengenalinya kecuali pada hadits ini.
Imam Ibnu Hibban mengatakan tidak boleh berhujjah dengan
riwayatnya yang dia bersendirian padanya. Al Hafizh Ibnu Hajar
menilainya sebagai seorang yang layyinul hadits (haditsnya
lembek), beliau menyebutkan dua 'illah (cacat) lain dari hadits ini
yaitu adanya ikhtilaf yang banyak dalam periwayatan Habib bin
Abu Tsabit berarti haditsnya mudhtharib (guncang) kemudian 'illah
yang ketiga para ulama meragukan apakah Muthawwis
memdengarkan langsung dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu
atau tidak. Hadits ini telah dilemahkan pula oleh Al 'Allamah Al
Albani rahimahullah dalam beberapa kitab beliau diantaranya :
Dhoif Sunan Abi Daud (517), Dhoif Al Jami' Ash Shogir (5642) dan
dalam takhrij Al Misykah (1/626 no. 2013)
Adapun makna dari hadits ini maka sebagian ulama berpegang
padanya seperti Ali bin Abi Tholib, Abdullah bin Mas'ud dan Abu
Hurairah radhiyallohu anhum dimana mereka mengatakan bahwa
orang yang berbuka dengan sengaja tidak diterima puasa
qadha'nya walaupun dia membayarnya sepanjang tahun, ulama
salaf lainnya seperti Said bin Musayyib, Said bin Jubair dan
Qatadah tetap membolehkan mengqadha' puasanya sesuai
dengan jumlah hari yang ditinggalkannya tentu saja diiringi dengan
taubat yang nasuha. Wallohu A'lam [ Lihat : Tuhfatul Ahwadzi
(3/341) dan Aunul Ma'bud (7/21) ]


              ً‫أ د ْث‬             ‫قه‬                ‫ع ع ٍش ِ ست َح‬
ٍٔ‫َِْ َا ِ ِ تْ ِ ٍَِع َ سظً اهلل عْٔ َا َ : "سٌََْ ُ اى َ ِ َ صيى اهلل عي‬
                                     ٌ‫ٍ ى أ ص ٌرض٘ك ٕٗ٘ ص ئ‬
ٗ ‫ٗصيٌ َا َا ُحْ ًِ َ َ َ َ ُ َ ُ َ َا ِ ٌ" ( سٗآ اىرشٍزي ٗ أت٘ داٗد‬
                                                  ) ً‫اىذاسقّطًْ ٗ اىثٍٖق‬
                                    5
Dari 'Amir bin Rabi'ah radhiyallohu anhu berkata : "Saya telah
melihat Nabi shallallohu alaihi wasallam bersiwak dalam jumlah
yang tidak mampu saya hitung padahal beliau sementara
berpuasa" [HR. Tirmidzi (116), Abu Daud (2634), Daraquthni dan
Baihaqi (4/272)]

Penjelasan :

Hadits ini lemah sanadnya; diriwayatkan oleh para imam yang
disebutkan di atas dari jalur 'Ashim bin Ubaidullah dari Abdullah
bin 'Amir bin Rabi'ah dari ayahnya. Imam Ad Daraquthni berkata :
Ashim bin Ubaidullah dan selainnya lebih kuat darinya. Baihaqi
berkata : Dia bukan seorang yang kuat. Ulama-ulama lain seperti
Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma'in dan Muhammad bin Sa'ad
juga telah membicarakannya. Bukhari berkata : Munkarul hadits
(haditsnya mungkar). Al Hafizh Ibnu Hajar juga menilainya sebagai
seorang yang dhaif.
Namun hal ini tidaklah berarti bahwa tidak boleh menggunakan
siwak pada saat berpuasa. Imam Abu Isa At Tirmidzi berkata
setelah menyebutkan hadits ini : "Makna hadits ini telah diamalkan
oleh para ulama, dimana mereka memandang tidak mengapa
seorang yang berpuasa untuk bersiwak namun demikian ada
sebagian ulama yang memakruhkan bersiwak bagi orang yang
berpuasa dengan menggunakan siwak yang beraroma dan siwak
yang basah pada siang hari. Adapun Imam Syafi'i beliau
memandang tidak mengapa bersiwak baik itu pada pagi hari
maupun pada siang hari. Imam Ahmad dan Ishaq telah
memakruhkan bersiwak pada waktu siang"

Hadits ini juga telah diriwayatkan oleh Thabrani sebagaimana
yang terdapat dalam At Ta'liq Al Mugni dari Abdurrahman bin
Ghunaim beliau berkata : Saya telah bertanya kepada Muadz bin
Jabal: "Apakah (boleh) saya bersiwak sementara saya berpuasa?
Muadz menjawab : Iya. Aku bertanya lagi : "Kapan aku boleh
bersiwak?" Beliau menjawab : "Kapan saja baik waktu pagi
maupun petang". Saya berkata lagi sesungguhnya sebagian
manusia memakruhkannya dengan beralasan bahwa Rasulullah
shallallohu alaihi wasallam bersabda :

                 ‫ىخي ف فٌ ص ئٌ ٍة ع ذ َٔ ذع ى ٍ س ح َ ل‬
                ]ِ ْ‫َ ُُ٘ ُ َ ِ اى َا ِ ِ أَطْ َ ُ ِ ْ َ اىي ِ َ َاَى ِِْ ٌِ ِ اىْ ِض‬

                                      6
"Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah
dari                         bau                           kesturi"
Beliau (Mu'adz) berkata : "Maha Suci Allah, beliau telah menyuruh
mereka bersiwak karena beliau tahu bahwa mulut orang yang
berpuasa pasti memiliki bau (walaupun telah bersiwak)". Al Hafizh
Ibnu Hajar dalam kitabnya At Talkhish Al Habir (2/202 no 908)
mengatakan bahwa riwayat Muadz ini sanadnya baik

Al Albani rahimahullah dalam buku beliau Al Irwa' (1/107)
mengatakan setelah beliau menyebut perkataan Syafi'i : "Dan
inilah pendapat yang benar berdasarkan keumuman dalil, seperti
hadits yang akan disebutkan selanjutnya yang menganjurkan
bersiwak setiap shalat dan setiap wudhu, pendapat ini pula yang
dipegangi oleh Bukhari dalam kitab Shohinya walaupun beliau
mengisyaratkan     akan     kelemahan     hadis    Amir     ini"



              ً‫ق ه ج ء سجو ى ْث‬                            ‫ع أّش ِ ٍ ىل‬
ٍٔ‫َِْ َ َ ِ تْ ِ َاِ ٍ سظً اهلل عْٔ َا َ َا َ َ ُ ٌ إَِى اىَ ِ ِ صيى اهلل عي‬
   ‫ّع‬      ‫قه‬       ٌ‫رن ع ْ أفأ رحو أّ ص ئ‬                       ‫فق ه‬
 ٌَْ َ : َ ‫ٗصيٌ َ َا َ : اشْ َ َدْ ٍَْ ًِ َ َ َمْ َ ِ ُ ََٗ َا َا ِ ٌ ؟ َا‬


Dari Anas bin Malik radhiyallohu anhu berkata : "Seseorang
datang menghadap Nabi shallallohu alaihi wasallam seraya
berkata : "Mataku sedang sakit apakah boleh aku bercelak
sementara aku berpuasa ?" Beliau menjawab : "Iya" [ HR.Tirmidzi
(726 )]

Penjelasan :

Imam Tirmidzi setelah meriwayatkan hadits ini beliau berkata :
"Hadits Anas adalah hadits yang isnadnya tidak kuat dan tidak ada
satupun hadits shohih dari Nabi shallallohu alaihi wasallam dalam
masalah ini, pada hadits ini ada rowi Abu 'Atikah sedangkan dia
seorang yang dilemahkan"

Abu Atikah yang dimaksud adalah Thorif bin Salman dan ada yang
mengatakan Salman bin Thorif, dia telah meriwayatkan hadits dari
Anas. Abu Hatim mengatakan tentangnya: "Dzahibul Hadits"
(haditsnya pergi/ditinggalkan). Imam Bukhori mengatakan :
                                     7
Munkarul Hadits, Nasai mengatakan dia bukan seorang yang
tsiqoh (terpercaya). Daraqutni berkata : dhoif (lemah) . Bahkan
Sulaimani menyebutkan orang tersebut sebagai salah satu dari
yang dikenal sebagai pemalsu hadits. Adapun Ibnu Hajar beliau
menilai sebagai dhoif dan menganggap hukum yang ditetapkan
Sulaimani berlebihan.

Tirmidzi menuturkan : "Para ulama telah berbeda pendapat
tentang hukum bercelak bagi orang yang berpuasa; sebagian
ulama seperti Sufyan, Ibnu Mubarak, Ahmad dan Ishaq
memakruhkannnya dan sebagian ulama yang lain memberikan
keringanan akan kebolehannya dan ini adalah pendapat Imam
Syafi'i"

Dan -Insya Allah- pendapat Imam Syafi'i inilah yang benar, karena
Abu Daud telah meriwayatkan dalam sunannya dengan sanad
yang hasan bahwa Anas radhiyallohu anhu pernah bercelak pada
saat berpuasa. Yang serupa dengan ini hukum tetes mata hal ini
juga tidak mengapa karena mata bukanlah pengantar untuk ke
perut. Tetes dan celak keduanya tidak termasuk makanan dan
minuman serta tidak mengambil hukum keduanya. (Lihat Fatawa
Al Lajnah Ad Daimah 10 : 250-253)


   ٍ ‫ز ذ َْ ٗص‬
‫حذٌث أتً ٕشٌشج سظً اهلل عْٔ ٍشف٘عا : [ اغْ ُْٗا َغْ َ ُْ٘ا َ ُْ٘ ُْ٘ا‬
                                                    ْ ‫ذصح ٗص فش ذ ر‬
ً‫َ ِ ُْ٘ا َ َا ِ ُْٗا َضْ َغْ ُْ٘ا ] ( سٗآ اىّطثشاًّ فً األٗصط ٗأت٘ ّعٌٍ ف‬
                                        )‫اىّطة اىْث٘ي مَا فً اىَقاصذ اىحضْح‬
Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu secara marfu' : "Berperanglah
(berjihad) niscaya kalian akan mendapatkan ghanimah, puasalah
niscaya kalian akan sehat dan bersafarlah niscaya kalian akan
berkecukupan" [ HR.Thabrani dalam Al Mu'jam Al Awsath (8/174
no.8312) dan Abu Nu'aim dalam Ath Thib An Nabawi
sebagaimana yang disebutkan dalam Al Maqashid Al Hasanah (
hal 282 ) ]

Penjelasan :

Hadits ini diriwayatkan oleh dua imam di atas dari Muhammad bin
Sulaiman bin Abu Daud Al Harrani dari Zuhair bin Muhammad dari
Suhail bin Abu Sholih dari bapaknya dari Abu Hurairah
radhiyallohu anhu. Thobrani berkata : Tidak ada yang
                                    8
meriwayatkan hadits ini dengan lafazh seperti ini kecuali Zuhair"

Zuhair yang beliau maksudkan adalah Abul Mundzir Al Khurasani;
Abu Bakar bin Al Atsram berkata : Saya telah mendengar Abu
Abdillah (yakni Imam Ahmad-pen) dan dia menyebutkan riwayat
penduduk Syam dari Zuhair bin Muhammad, beliau berkata :
"Mereka meriwayatkan darinya hadits-hadits mungkar"

Abu Hatim berkata : "Kedudukannya adalah shidq(jujur) akan
tetapi hapalannya buruk, hadits yang diriwayatkannya di Syam
lebih mungkar dari haditsnya di Irak disebabkan hapalannya yang
jelek, maka apa yang diriwayatkannnya lewat hapalannya banyak
kesalahan-kesalahannya dan apa yang diriwayatkan dari
tulisannya maka baik"

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata : "Dia telah bermukim di Syam
kemudian Hijaz, dia seorang yang tsiqoh (terpercaya) akan tetapi
riwayat penduduk Syam darinya tidak mustaqimah (lurus) maka
dia dilemahkan disebabkan hal tersebut"

Dan hadits ini salah satu dari riwayat penduduk Syam karena
Muhammad bin Sulaiman Al Harroni (berasal dari Syam) dan
kelemahan lain dari hadits ini adalah guru dari Thobrani yaitu
Musa bin Zakariyya; dia seorang yang matruk (ditinggalkan)

Imam Ash Shoghani menilai hadits ini sebagai hadits palsu,
karena itu beliau memasukkannya dalam kitab beliau Al Maudhu'at
(72). Namun penilaian ini dianggap berlebihan oleh Syaikh Al
Albani, yang tepat kita katakan hadits ini lemah namun tidak
sampai derajat maudhu' (palsu). Wallahu A'lam. Lihat : Silsilah Al
Ahadits Adh Dho'ifah (1/420 no.253)

‫عِ أتً ٍضع٘د اىغفاسي سظً اهلل عْٔ قاه : صَعد سص٘ه اهلل صيى اهلل‬
 ٍ ‫ى ٌ يٌ عث د‬
‫عئٍ ٗصيٌ ٌق٘ه راخ ًٌ٘ ٗقذ إٔو سٍعاُ فقاه : [ َْ٘ َعَْ ُ اىْ ِ َا ُ َا‬
   ٍ ُ ‫إُ جْح ىرزٌِ ىشٍع‬                   ٖ‫سٍع ُ ىرَْ أٍر أ ٌن ُ ضْح مي‬
ِِْ َ ‫َ َ َا ُ َ َ َ َدْ ُ َ ًِْ َُْ َ ُْ٘ َ اى َ َ َ َُ َا ... ِ َ اىْ َ َ َ َ َ ََ ُ ِ َ َ َا‬
                                                                   ‫س س ح ه إى ح ه‬
                                                               ) ِ َْ٘ ْ‫َأْ ِ اىْ َْ٘ ِ َِى اى‬
7. Dari Abu Mas'ud Al Ghifari radhiyallohu anhu berkata : Saya
telah mendengar Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda
pada suatu hari ketika bulan Ramadhan telah datang :
"Seandainya para hamba mengetahui apa (hakikat) bulan
Ramadhan maka tentu ummatku menginginkan Ramadhan itu
                                              9
sepanjang tahun,…sesungguhnya surga berhias untuk bulan
Ramadhan di setiap penghujung tahun ke tahun berikutnya ….."
[ HR.Ibnu Khuzaimah dalam shohihnya (1886), Ibnul Jauzi dalam
kitab Al Maudhu'at (2/547) dan Abu Ya'la dalam Musnadnya
sebagaimana yang disebutkan dalam Al Mathalib Al Aliyah ]

Penjelasan :

Para Imam tersebut meriwayatkan hadits ini dari jalur Jarir bin
Ayyub Al Bajali dari Sya'bi dari Nafi' bin Burdah dari Abu Mas'ud Al
Ghifari.
Kedudukan hadits ini palsu, penyebabnya adalah Jarir bin Ayyub;
Ibnu Hajar menyebutkan dalam Lisanul Mizan (2:101) bahwa dia
terkenal akan kelemahannya, kemudian beliau menukil perkataan
Abu Nu'aim tentangnya bahwa dia pernah memalsukan hadits.
Bukhori berkata : Munkarul Hadits dan Nasai mengatakan : Matruk
(ditinggalkan). Ibnu Jauzi juga menilai hadits ini sebagai hadits
yang palsu. Ibnu Khuzaimah sendiri meragukannya sehingga
beliau berkata : "Jika hadits ini benar karena hati ini meragukan
Jarir bin Ayyub Al Bajali"

                                                    ٌَ ‫َْ٘ ُ اى َا ِ ِ َِا‬
                                                    ‫ّ ً ص ئٌ عث دج‬
"Tidurnya orang yang berpuasa merupakan ibadah "

Penjelasan :

Hadits ini dilemahkan oleh Imam Al Iraqi dalam kitab beliau Al
Mughni 'An Hamli Al Asfar fii Takhrij Maa fil Ihyaa minal Akhbaar
(buku yang mentakhrij hadits-hadits yang termuat dalam kitab Ihya
Ulumuddin karya Al Ghazali), beliau berkata : "Hadits ini kami
riwayatkan dari kitab Amali Ibnu Mandah dari riwayat Ibnu
Mughirah Al Qawwas dari Abdullah bin Umar dengan sanad yang
lemah. Mungkin yang dimaksud (oleh Ibnu Mandah) adalah
Abdullah bin 'Amr bukan Ibnu Umar, karena para ulama
menyebutkan bahwa riwayat Ibnul Mughirah hanyalah dari
Abdullah bin 'Amru. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Manshur
Ad Dailami dalam Musnad Al Firdaus dari hadits Abdullah bin Abu
Awfa dan pada sanadnya ada Sulaiman bin 'Amr An Nakha'i salah
seorang pendusta " (Al Mughni 'an Hamlil Asfar 1/182)

Matan hadits ini juga telah disalahgunakan oleh banyak
masyarakat awam sehingga pada waktu berpuasa kebanyakan
                                 10
mereka hanya isi dengan tidur, bahkan diantara mereka ada yang
tidak melaksanakan beberapa sholat wajib dan nanti terjaga saat
menjelang buka puasa.Wallahu Musta'an.

Bahan Bacaan :

1. Ahadits Dho'ifah Musytahiroh fii Ramadhan, Syaikh Muhammad
Al Hamud An Najdi, makalah yang dimuat dalam majalah Al
Furqan edisi 117-tahun 1420 H, Terbitan Ihya At Turots-Kuwait

2. Silsilah Al Ahadits Adh Dho'ifah, Al Muhaddits Al Albani,
Maktabah Al Ma'arif-Riyadh, Cetakan pertama tahun 1412 H

3. Shifatu Ash Shaum An Nabi shallallohu alaihi wasallam Fii
Ramadhan, Syaikh Salim Al Hilali dan Syaikh Ali Hasan, Al
Maktabah Al Islamiyah–Yordania, Cetakan kelima tahun 1413 H

4. Al Maudhu'at, Ibnul Jauzi, Tahqiq : DR. Nuruddin Jaylar,
Penerbit Adhwaa As Salaf-Riyadh, Cet. Pertama tahun 1418 H

5. Maudhu'at Ash Shoghoni, Abul Fadhail Hasan bin Muhammad
Ash Shaghani, Daarul Ma'mun-Damaskus, Tahqiq: Najm
Abdurrahman Khalaf, Cetakan Kedua tahun 1405 H




                                11

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:411
posted:8/30/2010
language:Indonesian
pages:11
Description: BERISI HADITS-HADITS DHO'IEF YANG TERSEBAR DI KALANGAN UMAT ISLAM