Docstoc

Laporan PTK

Document Sample
Laporan PTK Powered By Docstoc
					                                     BAB I
                                 PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
              Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam
   menghadapi era globalisasi yang meliputi segala aspek dan sistem kehidupan
   manusia, maka negara berkembang seperti negara Indonesia harus meningkatkan
   kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, pendidikan harus dapat dikelola
   dengan baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.
              Pendidikan merupakan elemen terpenting yang sulit dipisahkan
   dalam kehidupan manusia. Sejak dini hingga tua, manusia tidak terlepas dari
   pendidikan. Pada hakekatnya pendidikan bersifat mutlak dan berlangsung
   seumur hidup. Untuk dapat mencetak tenaga manusia yang professional,
   berkualitas, dan mampu berpikir nalar, logis dan sistematis pendidikan harus
   dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dalam suatu proses pembelajaran bagi
   siswa. Sejalan dengan itu, pada era globalisasi yang membawa implikasi
   berbagai peluang dan tantangan dibutuhkan tenaga trampil tingkat menengah
   dengan keahlian yang sesuai standar profesi dimana pendidikan menengah
   kejuruan sebagai penyedia tenaga terampil tingkat menengah dituntut harus
   mampu membekali tamatan dengan kualifikasi keahlian standar, Sikap dan
   perilaku yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja, (dikmenjur: 2004)
              Didalam GBPP Sekolah Menengah Kejuruan disebutkan tujuan
   pendidikan sebagai berikut:
   1. Menyiapkan siswa untuk memasuki lapangan kerja serta mengembangkan
      sikap profesional.
   2. Menyiapkan siswa agar memilih karir, mampu berkompetensi dan mampu
      mengembangkan diri.
   3. Menyiapkan tenaga tingkat menengah untuk mengisi kebutuhan dunia usaha
      dan industri saat ini maupun dimasa yang akan datang.
   4. Menyiapkan tamatan agar menjadi warga negara yang produktif, adaptif dan
      kreatif. (GBPP, 1999).




                                                                               1
           SMK Negeri 7 Surabaya merupakan salah satu lembaga pendidikan
yang dituntut untuk menciptakan peserta didik yang siap kerja di dalam dunia
kerja atau industri. Mata diklat di SMK Negeri 7 Surabaya terdapat tiga bagian
yaitu mata diklat produktif, mata diklat normatif, dan mata diklat adaptif. Mata
diklat yang diajarkan dengan sistem blok adalah mata diklat produktif, yang
artinya mata diklat yang mengarah kepada peserta didik untuk menghadapi
tantangan globalisasi. Mata diklat produktif dinilai dari kriteria unjuk kerja yang
dilakukan dalam praktikum, dengan demikian mata diklat yang mengarah pada
kejuruan dan menyiapkan peserta didik agar lebih siap dalam suatu industri atau
dunia kerja. Penggunaan sistem blok dilakukan dalam SMK Negeri 7 Surabaya
agar peserta didik mampu menuntaskan mata diklat produktif dengan beberapa
kompetensi yang telah ditetapkan oleh pemenrintah. Salah satunya adalah
kompetensi Keterampilan Dasar Perbengkelan.
           Dalam kegiatan belajar mengajar, guru harus berupaya untuk
mewujudkan apa yang telah menjadi tujuan dari kompetensi Keterampilan Dasar
Perbengkelan. Dalam hal ini guru tidak hanya memberikan pengetahuan dan
ketrampilan   melainkan     juga   harus   mampu     memotivasi     siswa   dalam
mengembangkan sikap dan kreatifitas untuk meningkatkan prestasi belajarnya.
Proses belajar mengajar yang seperti ini akan menciptakan kondisi belajar siswa
aktif dan memiliki kompetensi di bidangnya.
           Kegiatan praktek di bengkel untuk kompetensi Keterampilan Dasar
Perbengkelan dapat meningkatkan minat belajar siswa dan mempermudah dalam
pemahaman materi belajar baik secara individu maupun kelompok. Praktek
merupakan salah satu bentuk kegiatan yang sangat berperan dalam menunjang
keberhasilan proses belajar mengajar Keterampilan Dasar Perbengkelan. Dalam
kegiatan praktek siswa diharapkan mampu melaksanakan dan menyelesaikan
kegiatan praktek yang dilakukannya.
           Keinginan siswa yang lebih termotivasi dalam praktek di bengkel
dengan kurangnya minat siswa dalam menerima penjelasan tentang materi
kompetensi Keterampilan Dasar Perbengkelan dikelas, Oleh sebab itu untuk
mengetahui tingkat ketuntasan siswa dalam proses belajar dan digunakan




                                                                                 2
   sebagai bahan evaluasi dalam proses belajar mengajar maupun praktek di
   bengkel. Sehingga peneliti mengambil judul “Tingkat Ketuntasan Belajar Siswa
   Kelas XI AV 1 Pada Kompetensi Keterampilan Dasar Perbengkelan Di SMK
   Negeri 7 Surabaya“.
               Dengan demikian kegiatan praktek dibengkel benar-benar bermanfaat
   untuk menunjang keberhasilan belajar terutama dalam penguasaan teori
   Keterampilan Dasar Perbengkelan. Tetapi pada kenyataannya seringkali siswa
   belum dapat memanfaatkan kegiatan praktek secara maksimal sebagai sarana
   untuk menunjang prestasi belajarnya.


B. Rumusan Masalah
               Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan
   permasalahan dari penelitian ini yaitu Bagaimana tingkat ketuntasan belajar
   siswa kelas XI AV 1 pada Kompetensi Keterampilan Dasar Perbengkelan Di
   SMK Negeri 7 Surabaya?


C. Batasan Masalah
               Agar permasalahan dalam penelitian ini tidak terlalu luas, maka
   penulis memberikan batasan dimana penelitian ini dilakukan pada siswa kelas XI
   AV 1 SMK Negeri 7 Surabaya dan Kompetensi Keterampilan Dasar
   Perbengkelan.


D. Tujuan Penelitian
               Berdasarkan permasalahan diatas maka tujuan dari penelitian ini
   adalah bertujuan untuk mengetahui tingkat ketuntasan belajar siswa kelas XI AV
   1 pada Kompetensi Keterampilan Dasar Perbengkelan Di SMK Negeri 7
   Surabaya.


E. Manfaat penelitian
               Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:




                                                                                     3
  1. Untuk menambah wawasan informasi sehingga dapat diambil langkah-
     langkah tertentu guna peningkatan kualitas belajar mengajar di SMK Negeri
     7 Surabaya.
  2. Sebagai   bahan koreksi bagi guru bahwa kegiatan praktek di bengkel
     mempunyai peranan yang penting dalam menunjang hasil belajar siswa.
  3. Siswa akan lebih menyadari bahwa kegiatan praktek di bengkel yang
     dilakukannya mempunyai arti yang besar dalam memahami materi yang
     disampaikan guru sehingga dapat menunjang hasil belajarnya.


F. Metode
            Metode merupakan alat yang diperlukan dalam suatu penelitian yang
  bersifat ilmiah. Untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid dan reliabel
  tergantung pada tepat atau tidaknya metode yang digunakan oleh pengamat.
  Dengan    menggunakan      metode     penelitian,   maka     hasilnya    dapat
  dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Metode penelitian juga mengandung
  petunjuk dan tata cara pemecahan suatu permasalahan secara sistematis dalam
  penelitian hingga didapatkan suatu hasil yang benar dan tepat sasaran. Dengan
  demikian dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa metode penelitian adalah suatu
  cara sistematis dalam usaha untuk menemukan, mengembangkan, atau menguji
  suatu kebenaran dengan menggunakan metode ilmiah.

  1. Waktu dan Tempat Penelitian
      Penelitian telah dilaksanakan oleh peneliti mulai bulan Juli 2009 sampai
         dengan bulan Agustus 2009.
      Tempat selama penelitian dilaksanakan di SMK Negeri 7 Surabaya.
  2. Tipe Penelitian
            Penelitian tentang “Hubungan       Kemampuan Praktek Bengkel
     Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas XI AV 1 Pada Kompetensi
     Keterampilan Dasar Perbengkelan Di SMK Negeri 7 Surabaya“. Menurut
     bentuknya adalah jenis penelitian expost facto. Menurut Asghar Razavieh,
     1982:383, Penelitian expost facto adalah “Penelitian yang sistematis dimana
     ilmuwan tidak mengendalikan variabel bebas secara langsung karena



                                                                              4
   perwujudan variabel tersebut telah terjadi atau karena variabel tersebut pada
   dasarnya tidak dapat dimanipulasi”. Dalam penelitian ini peneliti tidak
   memberi perlakuan pada variabel bebasnya yaitu kemampuan praktek
   bengkel tetapi hanya melihat efeknya saja.
3. Populasi dan Sampel
            Populasi yang diambil adalah siswa-siswa SMK Negeri 7 Surabaya.
   Sedangkan sampel yang diambil adalah siswa kelas XI AV 1 sebanyak 30
   orang.
4. Teknik Pengumpulan Data
            Untuk memproleh data yang valid, tepat dan dapat dipercaya
   diperlukan teknik atau metode untuk mengumpulkan data penelitian. Adapun
   yang peneliti gunakan dalam mengumpulkan data adalah sebagai berikut:
   a) Metode Observasi
      Observasi ini peneliti lakukan secara langsung terhadap obyek penelitian
      artinya tanpa melalui suatu perantara. Dengan observasi ini peneliti
      mengadakan pengamatan dan pencatatan terhadap tindakan dan
      fenomena dari obyek penelitian.
   b) Metode Tes
      Metode tes dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mencari atau
      mengumpulkan data tentang hasil belajar siswa dalam pelajaran audio
      video dan kemampuan siswa dalam praktek. Pembuatan materi tes
      didasarkan pada kurikulum yang berlaku sesuai dengan kurikulum
      KTSP, yaitu dengan memberikan tes formatif kepada seluruh siswa
      setelah melakukan pengajaran oleh guru, melakukan tes secara individu
      dan langsung diberikan nilai, nilai inilah yang nantinya digunakan
      sebagai acuan hasil belajar pada saat mengajar.
5. Instrumen Penelitian
            Instrumen penelitian yang digunakan sebagai alat pengumpul data
   dalam penelitian ini adalah soal tes. Tes yang digunakan dalam penelitian ini
   adalah sebagai berikut:
   a) Tes Kemampuan Praktek Bengkel




                                                                              5
      Tujuan dilakukannnya tes ini adalah untuk mengukur kemampuan siswa
      dalam melakukan kegiatan praktek di bengkel. Kemampuan yang diukur
      dalam penelitian ini meliputi tiga aspek yaitu aspek kogitif, afektif dan
      psikomotor yang berbasis Kompetensi.
   b) Tes Hasil Belajar Keterampilan Dasar Perbengkelan
      Tes prestasi adalah “Tes yang digunakan untuk mengukur pencapaian
      seseorang setelah mempelajari sesuatu” (Suharsimi, 1992:124). Dalam
      penelitian ini tes pretasi belajar siswa pada kompetensi Keterampilan
      Dasar Perbengkelan dilaksanakan untuk mengukur tingkat penguasaan
      materi yang telah diberikan guru mata diklat. Bentuk tes yang peneliti
      lakukan adalah tes subyektif berupa tes formatif.
6. Teknik Analisis Data
          Analisis data dapat diperoleh yaitu dengan cara mendeskripsikan atau
   menggambarkan data tersebut menjadi suatu kalimat yang mudah dipahami
   dan enak dibaca, sehingga inti dari analisis tersebut adalah sebagai cara dan
   upaya untuk mencari jawaban atas permasalahan yang diteliti.
          Hasil belajar maupun praktek siswa ditentukan berdasarkan Penilaian
   Acuan Patokan (PAP) dengan menggunakan dua macam acuan ketentuan
   pencapaian tujuan pembelajaran berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar
   mengajar kurikulum 1994, yaitu : seorang siswa telah tuntas belajar apabila
   ia mencapai skor 70% atau 70 dan suatu kelas disebut tuntas bila di kelas
   tersebut terdapat 80% yang telah mancapai daya serap sebesar 70%.
   Perhitungan untuk menyatakan banyak siswa yang telah tuntas dapat
   ditentukan dengan rumus :
   Prosentase Ketuntasan Siswa = Jumlah Siswa yang Tuntas x 100%
                                   Jumlah Seluruh Siswa

          Untuk menyamakan penafsiran maka definisi dari ketuntasan adalah
   ketuntasan belajar siswa yang dilihat dari hasil belajar yang diukur dngan
   menggunakan tes dengan nilai minimal yang harus dicapai 70.




                                                                              6
                                     BAB II
                              KAJIAN PUSTAKA


A. Proses Belajar Mengajar
              Pendidikan merupakan hal yang sangat penting untuk mencapai
   tujuan pendidikan yang harus memperhatikan berbagai macam faktotr yang
   mungkin mempengaruhi proses pendidikan yaitu: factor intern dan factor
   ekstern. Proses belajar mengajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Hal ini
   menunjukkan berhasil atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan, dimana
   proses belajar dilaksanakan di sekolah, sedangkan antara belajar dan mengajar
   merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan satu sama, yaitu siswa dapat
   belajar dengan baik apabila guru dapat mengajar dengan baik pula. Sehingga
   dapat dikatakan bahwa belajar mengacu pada kegiatan siswa dan mengacu pada
   kegiatan guru.
              Belajar merupakan kejadian yang dialami setiap orang, belajar
   dimulai sejak bayi sampai tidak ada batasnya / berlangsung seumur hidup
   (Slameto, 1995:13). Hasil belajar ini ditandai dengan adanya perubahan,
   misalnya perubahan pengetahuan, sikap, tingkah laku, kecakapan dan
   kemampuan. Jadi belajar dapat diartikan sebagai suatu proses usaha yang
   dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru
   secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalamanya sendiri dalam interaksi
   dengan linkunagannya (Slameto, 1995:2), perubahan tingkah laku tersebut
   menyangkut perubahan pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor), serta
   menyangkut nilai dan sikap (afektif). Perubahan tingkah laku sebagai hasil dari
   proses belajar dipengaruhi oleh banyak factor, baik factor yang terdapat dalam
   diri individu (intern) itu sendiri maupun factor yang berasla dri luar individu
   (ekstern). Faktor intern antara lain adalah kemauan, minat dan perhatian, bakat,
   kebiasaan, usaha serta faktor-faktor lainnya. Sedangkan faktor ekstern yang
   berpengaruh terhadap belajar adalah faktor keluarga, sekolah dan masyarakat
   (Slameto, 1995:60).




                                                                                 7
               Berdasarkan pengertian-pengertian diatas, pada hakekatnya belajar
   merupakan suatu aktivitas yang emnghasilkan perubahan tingkah laku sebagai
   hasil dari proses belajar yang dipengaruhi oleh faktor intern dan faktor ekstern.
               Menurut Slameto (1995:32) mengajar adalah suatu aktivitas untuk
   mencoba     menolong,     membimbing      seseorang      untuk   dapat     berubah   /
   mengembangkan skill, kepribadian, cita-cita penghargaan dan pengetahuan.
               Dengan demikian mengajar berarti mengatur situasi belajar siswa
   sedemikian rupa sehingga termotivasi untuk melakukan perubahan pada dirinya.
   Selain berpusat pada siswa yang belajar, mengajar juga melihat hakekat sebagai
   suatu proses yaitu proses yang dilakukan guru dalam menumbuhkan kegiatan
   belajar siswa. Dengan kata lain, hasil proses mengajar adalah proses belajar,
   sedangkan hasil proses belajar adalah perubahan tingkah laku.


B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
               Menurut     Djamarah     (1994:48),    ada    beberapa       faktor   yang
   mempengaruhi belajar seseorang diantaranya:
   1. Sitasi Belajar
               Situasi belajar yang baik bagi pelajar akan besar sekali pengaruhnya
     terhadap proses belajar mengajar. Misalnya situasi psikis yang baik, situasi
     lingkungan dan sebagainya. Yang dimaksud situasi psikis dalam hal ini adalah
     situasi yang ada di sekitarnya, ketika ia belajar seperti situasi kelas yang ramai,
     tenang atau situasi kelas yang bersih, cukup cahaya dan sebagainya.
   2. Kondisi Belajar
               Untuk belajar yang efektif akan bergantung pada faktor intern
     maupun ekstern, di samping dari kondisi diluar. Kondisi-kondisi tersebut
     antara lain :
     a. Kemauan / Minat belajar
               Minat adalah kecendrungan yang tetap untuk memperhatikan dan
       mengenang beberapa aktivitas. Seseorang yang berminat terhadap aktivitas
       akan memperhatikan aktivitas itu secara konsisten dengan rasa senang. Siswa
       yang berminat pada suatu pelajaran akan mempelajari dengan sungguh-




                                                                                        8
      sungguh. Mereka akan merasa bahwa yang mereka pelajari itu mempunyai
      arti baginya yang sesuai dengan keinginan atau kemauan sehingga timbul
      dorongan yang kuat untuk belajar.
     b. Bimbingan Belajar
              Bimbingan belajar adalah “Tuntutan yang diberikan pada siswa yang
        sedang belajar dengan maksud mengurangi terjadinya kesalahan dalam
        belajar, memperbaiki kesalahan belajar dan menimbulkan inisiatif pada diri
        siswa sehingga akan memberikan dorongan yang kuat bagi siswa tersebut
        untuk belajar” (Tim MKDKN Psikologi Pendidikan, 1993:118).
              Pada dasarnya seseorang guru bertugas membantu siswa dalam
   belajar agar sasaran dapat tercapai. Jika seorang siswa dapat keluar dari kesulitan
   belajar dengan kata lain dapat mencapai sasaran belajar, maka siswa tersebut
   akan merasa dapat mencapai prestasi dengan kemampuan sendiri. Hal ini akan
   memberikan manfaat karena akan muncul rasa percaya akan kemampuannya
   sendiri. Yang akhirnya siswa akan termotivasi untuk memecahkan masalah-
   masalah yang lebih rumit dan berkompeten.
              Sebagai pengajar tugas guru adalah mengorganisis dan mengelola
   semua komponen belajar mengajar serta mampu memotivasi siswa sehingga
   proses belajar mengajar lebih meningkat baik segi ketrampilan atau Skill maupun
   prestasi belajar siswa secara akademik. Hal ini menunjukkan bahwa siswa didik
   tersebut telah mengikuti kegiatan belajar mengajar dapat berinteraksi aktif
   dengan sumber belajar yang ada dilingkungannya, sehingga tujuan pebelajaran
   yang ditetapkan dapat tercapai.


C. Hasil Belajar
               Bloom menyatakan bahwa hasil belajar berupa pengetahuan
   (kognitif), sikap (afektif) dan keterampilan (psikomotor). Dan ketiga jenis hasil
   belajar itu masih dapat dirinci menjadi bermacam-macam kemampuan yang
   perlu dikembangkan didalam setiap pengajaran.




                                                                                    9
              Selanjutnya Bloom membagi tingkat kemampuan atau tipe hasil
   belajar yang termask aspek kognitif menjadi enam yaitu pengetahan hafalan,
   pemahaman (komprehensi), aplikasi, analisis, sistesis dan evaluasi.
              Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah tingkatan
   pencapaian siswa yang dinilai dari ranah-ranah kognitif, afektif dan psikomotor
   yang meliputi pengetahuan, pemahaman da penerapa yang terkandung didalam
   hasil tes belajar.


D. Ketuntasan belajar
              Ketuntasan belajar (mastery learning) adalah suatu system belajar
   yang mengharapkan sebagian besar siswa dapat menguasai tujuan instruksional
   umum (basic learning objectives) dari suatu satuan atau unit pelajaran secara
   tuntas (Ischak dan Warji, 1987 : 7).

              Teori ketuntasan belajar (mastery learning) menganggap setiap
   individu belajar mampu memahami pengetahuan baru yang dikomunikasikan
   kepadanya. Perbedaannya terletak pada kecepatan masing-masing individu
   dalam memahami pengetahuan tesebut (lambat atau cepat).

   Tuntas berarti mencapai tingkat penguasaan tetentu mengenai tujuan-tujuan
   instruksional (pengajaran) satuan atau unit pelajaran tertentu sesuai dengan
   standart norma tertentu pula.

   Ketuntasan belajar adalah pencapaian taraf penguasaan minimal yang
   ditetapkan untuk setiap unit bahan pelajaran baik secara perorangan maupun
   kelompok. Dengan kata lain apa yang di pelajari siswa dapat di kuasai
   sepenuhnya. Dari pengertian tersebut, dapat di katakan bahwa masalah yang
   sebenarnya harus menjadi perhatian guru agar sebagian besar siswa dapat
   belajar secara efektif sehingga dapat menguasai materi pelajaran sesuai dengan
   tujuan pembelajarn yang telah di tetapkan oleh guru itu sendiri.

   Standar ketuntasan belajar minimum (SKM) adalah criteria batas hasil belajar
   yang menerangkan bahwasiswa tuntas atau berhasil menguasai konsep tertentu
   yang telah diinformasikan. Hasil belajar dikatakan tuntas jika produk yang




                                                                               10
   diperoleh memenuhi target yang sudah ditentukan. Pada penelitian ini siswa
   dikatakan tuntas jika mencapai nilai 70.


E. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
                Menurut   Djamarah     (1994:24),   Ada   beberapa   faktor   yang
   mempengaruhi hasil belajar antara lain :
   1. Kecerdasan
                Pada dasarnya prestasi siswa mempunyai kaitan yang erat dengan
      tingkat kecerdasan yang dimiliki siswa. Siswa yang memiliki kecerdasan
      yang tinggi tentu mudah menangkap dan mencermati pelajaran yang
      diberikan, dibandingkan deengan siswa yang memiliki kecerdasan yang lebih
      rendah.
   2. Kepribadian Siswa
                Siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar biasanya mengalami
      kesukaran dalam penyesuaian diri. Sikap siswa pasif, rendah diri dapat
      menghambat pencapaian prestasi.
   3. Motivasi atau Hasrat untuk Berprestasi
                Kekurangan hasrat untuk berpertasi pada siswa dapat disebabkan oleh
      beberapa hal antara lain ketidakpuasan terhadap prestasi yang diperolehnya,
      kurangnya rangsangan dari fihak sekolah atau orang tua atau guru yang
      terlalu menekan pada kegiatan intelektual dan kurang memperhatikan
      kegiatan sosial dan juga perkembangan emosi anak.
   4. Lingkungan Sekolah
                Prestasi siswa bisa dimotivasi oleh guru,teman dan situasi belajar.
      Sikap dan tingkah laku guru yang tidak disenangi siswa dapat menurunkan
      prestasinnya. Oleh karena itu sebaiknya guru dapat menciptakan suasana
      yang dapat meningkatkan gairah untuk belajar dan berprestasi bagi murid –
      muridnya.
   5. Lingkungan Rumah
                Hal ini menyangkut hubungan yang terjalin antara anak dengan orang
      tua ataupun saudara – saudaranya. Disini peran orang tua sangat penting



                                                                                11
      sekali untuk meningkatkan prestasi anaknya dengan memberikan perhatian,
      sikap dan mengarahkan anak tersebut ke arah yang baik sehingga melenceng
      dari apa yang diharapkan.
   6. Sikap Masyarakat
              Apabila masyarakat disekitar tempat tinggal anak tidak menganggap
      bahwa sekolah adalah hal yang penting, maka hal ini akan mempengaruhi
      keinginan anak menampilkan prestasi yang baik di sekolah.


F. Hubungan Kemampuan Praktek Bengkel Terhadap Hasil Belajar
              Praktek Bengkel merupakan salah satu bentuk kegiatan yang tepat
   untuk diterapkan dalam rangka mengembangkan pola berfikir siswa. Siswa
   dilibatkan secara aktif dalam serangkaian kegiatan yang telah dirancang dan
   dipersiapkan terlebih dahulu oleh guru bidang studi. Dalam hal ini kemampuan
   siswa yang melakukan praktek bengkel benar – benar diperhatikan mengingat
   praktek bengkel sangat memberikan pengaruh pada prestasi belajar siswa.
              Kemampuan siswa yang dicerminkan melalui bentuk perilakunya
   dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan. Klasifikasi ini dikenal dengan
   taksonomi Bloom. Menurut Bloom yang dikutip oleh Sudirman (1987 :54).
   Klasifikasi tersebut meliputi tiga ranah yaitu :
   1. Ranah Kognitif
      Ranah Kognitif berkenaan dengan perilaku yang berhubungan berfikir,
      mengetahui dan memecahkan masalah. Ranah ini memiliki enam tingkat
      kemampuan yaitu :
      a. Pengetahuan
      b. Pemahaman
      c. Penerapan
      d. Analisis
      e. Sintesis dan
      f. Evaluasi.
   2. Ranah Afektif




                                                                             12
   Ranah afektif berkaitan dengan sikap, nilai – nilai dan penyesuaian perasaan
   sosial. Ranah afektif terdiri dari lima kemampuan, mulai dari yang sederhana
   sampai kompleks yaitu :
   a. Kemampuan menerima
   b. Kemampuan menanggapi
   c. Penilaian
   d. Penerapan Karya
3. Ranah Psikomotor
   Ranah Psikomotor mencakup keterampilan yang bersifat manual dan
   motorik. Ranah ini meliputi tingkatan sebagai berikut :
   a. Persepsi
   b. Kesiapan
   c. Respon Terbimbing
   d. Kemahiran
   e. Adaptasi
   f. Origanasi
Kemampuan siswa dalam kegiatan praktek bengkel pada penelitian ini meliputi:
1). Aspek Kognitif
   o Kebenaran dalam menghubungkan teori dan persoalan praktek, dalam hal
       ini dapat menjawab pertanyaan dengan benar setelah kegiatan praktek
       selesai.
   o Kebenaran dalam menyimpulkan hasil praktek
2). Aspek Afektif
   o Ketertiban dalam melaksanakan praktek
   o Kerjasama antar sesama anggota kelompok
3). Aspek Psikomotor
   o Persiapan dalam melaksanakan praktek
   o Kebenaran melakukan proses kerja
   o Kebenaran dalam hasil kerja yang dilakukan
Melalui kegiatan praktek ini akan diperoleh gambaran yang lebih jelas tentang
materi yang telah disampaikan oleh guru. Dengan demikian ingatan siswa




                                                                            13
   terhadap teori yang dipelajarinya akan lebih lama tersimpan dalam pikirannya.
   Menurut Sudirman (1987 : 132) Ada beberapa tipe belajar yaitu :
   1. Tipe Audio
              Orang bertipe ini medah belajar dengan mendengarkan seperti
       mendengarkan penjelasan guru, mendengarkan orang yang bertanya jawab
       atau diskusi dan mendengarkan melalui media elektronik.
   2. Tipe Visual
              Orang yang bertipe ini lebih mudah belajar dengan melihat atau
       menyaksikan baik secara langsung maupun melalui alat atau benda tiruan.
   3. Tipe Motorik
              Orang yang bertipe ini lebih mudah belajar dengan melakukan
       langsung. Dalam hal ini metode demonstrasi dan eksperimen banyak
       digunakan.
   4. Tipe Campuran
       Tipe ini merupakan kombinasi atau campuran dari tipe – tipe belajar yang
   lain.
              Berdasarkan tipe – tipe belajar tersebut dapat diketahui bahwa cara
       belajar dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari
       mempunyai peranan yang cukup berarti dalam menentukan hasil belajar
       siswa nanti.


G. Tinjauan Tentang Kegiatan Praktek Keterampilan Dasar Perbengkelan
              Praktek Keterampilan Dasar Perbengkelan merupakan mata pelajaran
   yang diajarkan di sekolah menegah kejuruan, yang pelaksanaan kegiatan
   belajarnya dilakukan di bengkel dan bertujuan untuk membekali keterampilan
   kerja siswa. Keterampilan kerja hanya dapat diperoleh dengan cara berpartisipasi
   aktif dalam serangkaian kegiatan praktek.
              Sebelum melaksanakan kegiatan praktek hal penting yang harus
   diperhatikan dalam kegiatan belajar mengajar Kompetensi Keterampilan Dasar
   Perbengkelan adalah:




                                                                                 14
1. Kegiatan belajar mengajar teori diusahakan menggunakan metode diskusi
   dan demonstrasi agar siswa menghayati dan mengerti betul masalah yang
   diajarkan serta untuk menumbuhkan sikap kreatif siswa.
2. Kegiatan belajar mengajar praktek ditekankan pada aspek proses
   penyelesaian pekerjaan dan hasil pekerjaan serta memperhatikan kaidah
   keselamatan kerja.
3. Pengajar diharapkan dapat mengintegrasikan setiap mata diklat khususnya
   pada teori praktek atau sebaliknya sehingga siswa memperoleh pengertian
   dan pemahaman yang utuh pada program studinya.
4. kegiatan belajar mengajar diharapkan dapat menghasilkan sikap professional
   dan etika, misalnya bagaimana siswa mengajukan pertanyaan, bagaimana
   menjaga kebersihan dan sebagainya.
5. Agar siswa dapat mendalami dan menghayati materi yang diajarkan perlu
   dilaksanakan latihan sebanyak mungkin dan pelaksanaannya tidak terbatas
   pada waktu yang tersedia dalam GBPP baik pelajaran teori maupun praktek.
           Dalam pengajaran praktik, siswa dilibatkan secara langsung sehingga
dapat melakukan pendekatan multi sensorik, dapat mendengar, melihat, meraba
dan memperhatikan apa yang mereka pelajari, selain itu siswa dituntut keaktifan
mental dan fisik. Dari hal ini siswa diharapkan mampu mendapatkan simpulan
yang tepat dengan teori yang bersangkutan.
           Hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan praktek adalah guru akan
memberikan pengarahan mengenai kegiatan yang akan dilakukan. Guru harus
mampu memotifasi siswa sehingga dapat berperan aktif dalam kegiatan yang
dilaksanakan. Untuk itu guru dituntut untuk melakukan beberapa usaha berikut :
a. Menjelaskan tujuan yang harus dicapai siswa.
b. Memilih sumber-sumber yang diperlukan dalam mencapai tujuan misalnya
   materi dan alat.
c. Membuat rencana dan menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan secara
   rinci
d. Melakukan pemerikasaan terlebih dahulu semua perincian dan pengujian
   alat-alat yang akan digunakan.




                                                                            15
e. Melengkapi siswa dengan materi dan alat.
f. Menjawab pertanyaan siswa sewaktu aktifitas berlangsung.
g. Mengajukan pertanyaan selama kegiatan jika siswa tidak bertanya.
h. Mengajukan pertanyaan pada siswa untuk berdiskusi setelah kegiatan selesai.
i. Membantu siswa dalam menyimpulkan dan mengevaluasi apa yang
   diperoleh siswa selama kegiatan pratek berlangsung.




                                                                           16
                                      BAB III
                       PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA


                 Dengan berpedoman pada metode penelitian, maka dilakukan analisis
   terhadap data penelitian yang telah berhasil dikumpulkan. Hasil analisis akan
   menentukan diterima atau tidaknya suatu hipotesis. Dengan kata lain terjawab
   tidaknya suatu permasalahan tergantung dari hasil analisis terhadap data
   penelitian.
A. Penyajian Data
       Dalam penelitian ini data-data yang diambil adalah sebagai berikut:
   1. Nilai tes kemampuan praktek bengkel
   2. Nilai tes hasil belajar
   Tabel 1. Daftar nilai 2 AV1
                                              Nilai
No.               Nama                                         rata-rata      Keterangan
                                     Tes Praktek Tes Tulis
  1   Trias Pungkas Prasongko       70              89        79.5           LULUS
  2   Achmad Roni Hidayat           80              81        80.5           LULUS
  3   Adi Guswanto                  70              72        71             LULUS
  4   Aditya Fikrianto putra        70              70        70             LULUS
  5   Afit Dwi Prasetyo             80              89        84.5           LULUS
  6   Agung Budi Prasetyo           70              80        75             LULUS
  7   Anas Maulana                  80              88        84             LULUS
  8   Arfan Fegi Aulia              70              97        83.5           LULUS
  9   Ari Dwi Setyo                 70              86        78             LULUS
 10   Bagus Wahyudi                 80              94        87             LULUS
 11   Bayu Dwi Permadi              80              94        87             LULUS
 12   Bintang Mas Sumarlin          70              70        70             LULUS
 13   Daniswara Rahardian           70              97        83.5           LULUS
 14   Dian Mutia Sari               80              89        84.5           LULUS
 15   Dio Putra Giartio             70              84        77             LULUS
 16   Donny Prisma Satrya P         70              72        71             LULUS
 17   Donny Setiawan                80              81        80.5           LULUS
 18   Erik Prassetian               80              61        70.5           LULUS
 19   Erly Purnama                  80              70        75             LULUS
 20   Erman Ardhi Yunanta           80              70        75             LULUS
 21   Erwin Puji Hartanto           70              94        82             LULUS
 22   Fajar Abdillah Ramadhan       80              78        79             LULUS



                                                                                 17
 23   Farid Tachjedi                70              88          79           LULUS
 24   Febri Eko Puji Wahono         70              81          75.5         LULUS
 25   Hendra Adi Prasetyo           80              81          80.5         LULUS
 26   Hendrik Hari Prasetyo         70              67          68.5         Tidak LULUS
 27   Heru Cahyono                  70              89          79.5         LULUS
 28   Hery Prasetyo                 80              80          80           LULUS
 29   Krida Artho Murdoko           60              76          68           Tidak LULUS
 30   M. Ahyer                      70              88          79           LULUS


   Keterangan : - Siswa yang dinyatakan tuntas = 28 orang
                - Siswa yang dinyatakan tidak tuntas = 2 orang
              Adapun data yang dianalisis dalam pengujian hipotesis dalam
   penelitian ini adalah nilai kemampuan praktek bengkel sebagai variabel bebas
   (x) dan nilai tes hasil belajar Keterampilan Dasar Perbengkelan sebagai variabel
   terikat (y). Dimana siswa yang dinyatakan tuntas baik dalam tes praktek maupun
   tes tulis jika nilai rata-rata dari tes praktek dan tes tulis minimal mendapat nilai
   70.


B. Analisis Data
              Setelah diadakan tes praktek maupun tes tulis untuk siswa kelas XI
   AV 2, maka diperoleh data diatas dan akan dilakukan analisa sebagai berikut:
      Prosentase Ketuntasan Siswa = Jumlah Siswa yang Tuntas x 100%
                                           Jumlah Seluruh Siswa
      Prosentase Ketuntasan Siswa = 28 x 100% = 93%
                                     30
   Nilai prosentase dari 30 siswa yang tuntas adalah 93%. Jadi Prosentase dari 30
   siswa yag tidak tuntas adalah 7%
              Dari analisis yang dihasilkan diatas merupakan nilai prosentase yang
   bisa dilihat apakah guru dapat menuntaskan materi yang diajarkan dan setiap
   siswa dapat memahami ketuntasan yang sudah dibuat.




                                                                                    18
                                     BAB IV
                                    PENUTUP


A. Simpulan
           Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan dapat
  disimpulkan bahwa tingkat ketuntasan belajar siswa kelas XI AV 1 pada
  Kompetensi Keterampilan Dasar Perbengkelan dapat mencapai 93%. Hal ini
  terbukti dari nilai 30 siswa yang tuntas dalam belajar dengan nilai minimal 70
  adalah 28 orang, sedangkan siswa yang belum tuntas adalah 2 orang. Selain itu
  agar siswa tuntas dalam belajar yang optimal siswa dituntut untuk menggali ilmu
  pengetahuan yang sesuai dengan bidangnya seluas-luasnya baik dalam praktek
  di bengkel maupun materi di kelas.


B. Saran
           Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat dikemukakan beberapa
  saran:
  1. Diharapkan siswa dapat menyeimbangkan nilai antara praktek di bengkel dan
     materi di kelas.
  2. Diharapkan siswa dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas belajar
     sehingga kegiatan belajar menjadi efektif.
  3. Diharapkan sekolah dapat memfasilitasi segala sumber belajar yang ada,
     seperti fasilitas di peralatan di laboratorium, buku paket, modul dll.
  4. Diharapkan untuk kegiatan praktek minimal 2 siswa memegang 1 alat agar
     kegiatan belajar lebih kondusif.




                                                                                 19
                            DAFTAR PUSTAKA


Ali, H, Muhammad. (1987). Guru Dalam Proses Belajar mengajar. Bandung: p
        Sinar Baru Algensindo.

Depdikbud. (1994). Kurikulum Sekolah Mengajar Kejuruan (SMK), Garis-garis
      Besar Program Pengajaran. Jakarta: Depdikbud.

Djamarah, Syaiful Bakri. (1994). Prestasi Belajar Dan Kompetisi Guru. Surabaya:
      Usaha Nasional.

Joesmani. (1988). Pengukuran Dan Evaluasi Dalam Pengajaran. Jakarta:
      Depdikbud.

MKDK, TIM. (1993). Psikologi Pendidikan. Surabaya: University Press IKIP
    Surabaya.

Slameto. 1995. Belajar Dan Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta

Soedirman, N, et.al. (1987). Ilmu Pendidikan. Bandung: Remadja Karya.

Sudjana. (1986). Metode Statistika. Bandung: Tarsito.

Sukardi, E. (1986). Penilaian Keberhasilan Belajar. Surabaya: UNAIR press.

UPT-P4. 2006. Buku Panduan Program Pengalaman Lapangan II Universitas
       Negeri Surabaya. UNESA Press: Surabaya




                                                                              20