Kumpulan Puisi SUBUH Menjelang fajar Kulipat selimut

Document Sample
Kumpulan Puisi SUBUH Menjelang fajar Kulipat selimut Powered By Docstoc
					SUBUH

Menjelang fajar
Kulipat selimut malam
Yang selalu memberi kehangatan
Kutepiskan tirai jendela
Dan kubiarkan angin menembus
Tempat semediku
Kuambil air wudlu
Yang senantiasa menyirami kalbu
Dan membawaku dalam ketenangan
Lalu kubersimpuh menghadap Illahi
Memohon dan memuji kebesaran-Nya
Keagungan-Nya dan kemuliaan-Nya
Dan kasih sayang-Nya
Terpatri setiap dentang waktu
Memberi kedamaian dan kebahagiaan
Ya Illahi
Aku bersyukur atas segala nikmat-Mu



PERASAANKU


Ada resah
Yang tak mungkin hilang
Terselip mesra dalam geming sayuku
Menepis semua rasa yang kabur
Terlena mengumbar janji
Memang sungguh naif
Bila harius ingkar
Ada yang tersisih dari hatiku
Entah ada apa denganku
Sekian lama memendam rasa
Tak pernah terungkap
Akutakut tuk bicara
Hanya diam membisu
Sekilasbayangan yang terlintas
Ada seulas senyum terlewat
Tapi hambar tercipta
Meski membuatku tersipu
Mungkin ini hanya mimpi
Yang terbersit dalam anganku
Sanpai kapan aku miliki perasaan ini
Aku takut tuk mengungkapkan
Karena ada yang terselip disini
Harus aku sadari
Bahwa aku merindukanmu
Dalam setiap anganku

puisi para remaja, bukan hanya cinta semata

RINDU

Rindu akan keagungan
Pujaan serta pujian umat
Yang ada hanya semu menatap jiwa
Rintihan luka mendendangkan sukma
Ini ...........
Teramat sulit menerka
Apa, iya, mengapa ...?
Sayang ....
Hanya gagal menari-nari
Diantara kemiskinan lman

POTRET KEHIDUPAN


Meniti sajak
Dalam bait-bait peradaban
Begitu samar dan semu
Sebuah potrer kehidupan
Yang tampak hanya bayang-bayang diri
Dalam panggung kehidupan
Semu menatap jiwa
Tuk ikuti alur perjalanan
Yang kian jauh
Menuju gebang suci
Dan akhirnya ...
Diam .....
Terpaku .........
Membisu .......
Bukan lagi tanpa suara
Tapi jeritan hati
Dalam mimpi abadi

ASA ESOK HARI


Malam panjang mengikis waktu
Dan menapak demi sebongkah hati
Mencari makna dari keduaan
Ketakutan akan mimpi-mimpi buruk
Terbayang hingga pagi tak ada lagi kepastian
Menangkap bayang-bayang semu
Di balik rona-rona kehidupan
Akankah tumbuh secul harapan
Untuk jalan panjang
Meniti hari esok penuh damai

PENANTIAN


Sering kutatap langit tanpa bintang
Yang menghiasi wajah tanpa cela
Yang selalu menyungingkan senyum
Tanpa tersenyum,
Kosong dan hampa
Bintang sembunyi dibalik awan
Yang tak berkabut
Dan bulan muncul tanpa sinarnya
Menyimpan sejuta kemuraman
Sepi, bisu
Tanpa suara
Dan kini .........
Di ujung masa
Kunanti gerimis hujan
Dalam selimut asaku

puisi pendidikan hati

Rindu Kekasih


Aku temukan tubuh yang teronggok lesu
Menunduk, tak bergeming di atas altar
Hanya gumaman lirih
Keluar sebatas lenguhan
Atau kalimat panjang yang terputus
Sesekali hanya gerakan kecil
Sebuah tangan yang lemah
Menggapai sebuah harapan
Yang ia minta pada sujudnya
Apakah ini sebuah renungan
Tentang kerinduan kepada sang kekasih
Yang tak kunjung datang
Mampukah ia tuk tetap bersabar
Menanti saat ia menjemput
Kembali ke altar suci
Lalu bagaimana rindu ini terlampiaskan
Jika saat kekasih tak kunjung datang
Membawa segenggam harapan
Pada suratan kepasrahan
Mungkin ini hanya sebuah pengorbanan
Yang tuk persembahan bagi sang kekasih
Meski rindu ini menggantung
Diantara waktu yang kian berlalu

ASA YANG SIA-SIA

Kegelisahan tentang perjalanan ini
Semakin membuat diri jadi mati
Hidup seperti tiada arti
Karena rindu yang tergapai tinggal kenangan
Dan waktu sulit tuk aku lalui
Pergi dan melupakan semua cerita ini
Aku ingin bebas dari segala duka
Yang menyelimuti payung cintaku
Candu-candu yang keluar
Disetiap tarikan nafasku
Adalah kegelapan hidupku
Membelenggu aku dari hidupku
Membelenggu aku dari rinduku
Akankah kan datang
Satu harapan tentang rinduku
Yang slalu kunanti di taman bungaku
Membawa setangkai mawar
Sebagai pengobat dukaku
Hari demi hari kueja waktu
Telah sekian lama berlalu
Bungaku layu dirundung pilu
Menanti asa dalam syahdu


KITA TAK PERNAH BERJABAT TANGAN

Kita tak pernah berjabat tangan
Aku belum lagi sempat mengirim sepucuk pesan
Lewat angin yang karib dengan daun tinta
Yang menyusup ringan dan mesra
Mengecup pipi basah air mata
Kita tak pernah berjabat tangan
Lebih lagi menyusur padang gembur
Sajakmu
Aku mengupas raung dan bisik rayu kota
Yang menanggalkan kaca mata batin
Dan agaknya membersit hitam di wajahmu
Sayang, kini terlambat menyadari kehadiranmu
Kini, biarlah aku berarak dan bertarak
Sebab yang tinggal hanya jejak sajak
Berkenan menyinggung tawaf rembulamku
Yang tak juga purnama
Menyadap bersitan Cahaya Maha Cahaya

Puisi-Puisi yang puitis-puitis Buat para remaja




KUASAMU

Kusibak gelap malam
Saat rembulan sembunyi dibalik awan
Saat sepi mencengkam
Saat gulita menyelimuti awan
Kucoba bertanya kepada dedaunan
Adakah esok kukan menjelang
Datnangnya sang mentari
Di ufuk timur nan jelita
Kudapat jawab atas tanyaku
Ada dalam kuasa-Nya


Sebuah Penantian


Satu malam dalam kesepian
Saat rembulan asik dalam senyumnya
Banyak yang kuingat
Satu malam dalam kesepian
Saat angin menari-nari
Kusampaikan segala kerinduan
Satu malam dalam kesendirian
Saat ayam jantan berkokok
Aku selipkan bisikan pelan
Saat makhluk terbaring lelap
Dengan sabar aku menanti


Perantara

Bersama mimpi
Aku pelajari tentang uang
Aku jelajahi tentang nilai
Aku nikmati makna sepi
Aku dapat budi pribadi
Untuk kuserahkan esok hari
Bersama mimpi
Waktu aku datan dalam batin-Mu

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1947
posted:8/28/2010
language:Malay
pages:6