Docstoc

Pendidian Islam di Tatar Sunda pada Periode Islam (PDF)

Document Sample
Pendidian Islam di Tatar Sunda pada Periode Islam (PDF) Powered By Docstoc
					                                                           PR. ARTIKEL. Senin, 22 Nopember 2004

Pendidikan di Tatar Sunda pada Periode Islam (2)
Oleh EDI S. EKADJATI

ISLAMISASI di Tatar Sunda dimulai sejak kerajaan Sunda masih tegak dengan kokoh (abad ke-
13). Kegiatan tersebut dirintis oleh kalangan pedagang Muslim yang berasal dari wilayah barat
(Arab, Persia, India, Sumatera, Malaka) dan juga timur (Jawa) yang biasa keluar-masuk di
beberapa kota pelabuhan di dalam wilayah kerajaan Sunda, antara lain Banten, Tangerang,
(Sunda) Kalapa, Karawang, Cimanuk (Indramayu), dan Cirebon.

Walaupun kemudian raja Sunda berupaya untuk membatasi jumlah pedagang Muslim yang
berniaga ke kota-kota pelabuhannya, karena khawatir akan berdampak negatif bagi eksistensi
kerajaannya, namun Islamisasi tak dapat dibendung lagi. Pada mulanya para pemeluk agama
Islam yang menetap di wilayah kerajaan Sunda sedikit saja jumlahnya dan hanya menetap di
kota pelabuhan dan sekitarnya serta umumnya merupakan kaum pendatang. Namun, lama-
kelamaan jumlahnya bertambah banyak dan mereka tersebar ke wilayah yang lebih luas serta
makin merambah kepada penduduk asli setempat.

Pada tahun 1513 penduduk kota pelabuhan Cirebon beserta kepala daerahnya telah memeluk
agama Islam, sedangkan penduduk kota pelabuhan Cimanuk sebagian telah menjadi Muslim,
terutama penduduk pendatang dari arah timur (Jawa), walaupun kepala daerahnya masih
menganut agama lama. Di kota pelabuhan Banten pun telah ada penduduk yang beragama Islam.
Selanjutnya, kegiatan Islamisasi itu diteruskan mulai dari daerah pesisir utara ke daerah
pedalaman, wilayah bagian barat Tatar Sunda berpusatkan di Banten dan wilayah bagian timur
berpusatkan di Cirebon.

Penyebaran Islam ke daerah pedalaman dilakukan oleh para mubalig yang mengabdikan seluruh
hidupnya bagi tersyiarnya Islam dan mereka bermukim di wilayah ini. Ternyata agama Islam
dapat diterima dengan relatif mudah, cepat, dan luas oleh masyarakat Sunda. Setelah dianut,
agama Islam itu tidak dilepaskan lagi oleh umumnya orang Sunda hingga sekarang ini. Mungkin
hal ini disebabkan karena dasar ketuhanan agama Islam sama dengan dasar ketuhanan orang
Sunda sebelumnya, yaitu monoteis (Allahu Ahad= Batara Tunggal). Selain itu, ajaran hidup
orang Sunda sejajar dengan ajaran Islam, yaitu bersifat rasional dan pragmatis sebagaimana
terungkap dalam ajaran Sanghiyang Siksa yang tertera pada naskah Sanghiyang Siksakandang
Karesian.

Dalam perjalanan sejarahnya, ada dua model kegiatan pendidikan agama pada masa Islam di
Tatar Sunda, yaitu (1) kegiatan individual yang dilaksanakan oleh seorang atau beberapa orang
mubalig atau guru agama dan (2) kegiatan lembaga yang terkenal dengan sebutan pesantren.

Pada waktu pemeluk Islam masih sedikit jumlahnya di satu tempat, ajaran agama ini
disampaikan oleh seorang mubalig atau guru agama secara individual kepada para pemeluk
Islam lainnya. Kegiatannya sendiri dilakukan di rumah mubalig/guru agama itu atau di masjid
yang merupakan tempat ibadah salat bersama. Menurut sumber tradisi, proses Islamisasi
penduduk Tatar Sunda mula-mula diupayakan secara individual oleh para mubalig sebagaimana
dialami dan dilakukan oleh Haji Purwa di Cirebon Girang, Syekh Datuk Kahpi atau Syekh
Nurjati di Gunung Jati (Cirebon), Syekh Quro di Karawang, Sunan Godog di Suci (Garut),
Syekh Arief Muhammad di Cangkuang (Garut), Arya Wangsagoparana di Sagalaherang
(Subang), dan Pangeran Hasanuddin di Banten.

Murid Syekh Quro antara lain Nyi Subanglarang yang dinikahi oleh Prabu Siliwangi, raja Sunda.
Murid Syek Nurjati di antaranya Pangeran Walangsungsang dan Nyi Larasantang, putra-putri
Nyi Subanglarang dari Prabu Siliwangi. Para mubalig/guru agama itu pada umumnya adalah
pendatang di tempat kegiatan memperkenalkan agama dan mengajarkan ajaran agama Islam,
kecuali Haji Purwa yang berasal dari keluarga Istana Galuh.

Tatkala agama Islam telah banyak dan lama diterima dan dianut oleh penduduk satu tempat,
maka untuk memenuhi keperluan pengetahuan ajaran agama, etika kehidupan Islami, dan praktik
peribadatan kaum Muslimin setempat, terutama kalangan anak-anak dan orang mudanya, maka
di tempat itu dibukalah lembaga pendidikan agama dalam bentuk pesantren. Pesantren pertama
yang didirikan di Tatar Sunda adalah pesantren yang dibuka dan dipimpin oleh Sunan Gunung
Jati pada sekitar abad ke-15 di Bukit Amparan Jati, terletak sekitar 5 km sebelah utara Kota
Cirebon.

Walaupun bentuk dan isinya tidak diketahui dengan jelas, sumber tradisi lokal
mengungkapkannya dalam konteks Islamisasi di Tatar Sunda sebelum kota pelabuhan Cirebon
terwujud. Adapun di daerah pedalaman pesantren yang pertama didirikan agaknya adalah
pesantren Pamijahan di Tasikmalaya Selatan yang didirikan oleh Syekh Abdul Muhyi sekitar
abad ke-17. Setelah itu bermunculanlah pesantren-pesantren di sejumlah tempat di Tatar Sunda
hingga masa sekarang baik yang berusia lama maupun yang umurnya sebentar.

Ada dua hal yang menarik dari profil pesantren di Tatar Sunda pada masa awal Islamisasi sampai
abad ke-19. Pertama, terdapat kemiripan pola dan karakter antara pesantren dengan kabuyutan.
Keduanya menempati lokasi tertentu yang terpisah dari pergaulan masyarakat luas, pola hidup
penghuninya mandiri, otoritas guru dominan, dan penggunaan naskah sebagai sarana bahan ajar.
Contoh yang mencolok adalah pesantren di Pamijahan yang didirikan dan dikelola Syekh Abdul
Muhyi. Di samping lokasinya terpencil di daerah pedalaman, pesantren ini juga dilengkapi oleh
gua (Gua Saparwadi) sebagai prasarana ibadah dan pendidikannya, layaknya sebuah pertapaan.

Sementara sejumlah naskah sebagai sarana bahan ajar kegiatan pendidikannya, masih dijumpai
hingga abad ke-20, antara lain yang berisi ajaran Tarekat Satariyah yang digunakan sebagai
bahan studi (disertasi) oleh D.A. Rinkes (1909) dan penelitian "Proyek Sundanologi" (1986,
1987). Kedua, orientasi dan bahasa pengantarnya mengarah kepada daerah dan bahasa Jawa,
sebagaimana lembaga pendidikan pada masa pra-Islam. Memang Islamisasi di Tatar Sunda
banyak ditunjang dan dipelopori oleh orang dan budaya Jawa, baik pada masa Kesultanan
Demak (abad ke-15 dan 16) maupun masa Kesultanan Mataram (abad ke-17 dan 18).

Pengaruh Kesultanan Demak terhadap daerah pesisir Tatar Sunda dan pengaruh dominan
Kesultanan Mataram terhadap daerah pedalamannya (Priangan). Dalam hal ini, Sunan Gunung
Jati sebagai penyebar agama dan penegak kekuasaan Islam di Tatar Sunda, pada mulanya
direstui dan didukung oleh ulama dan penguasa di Tanah Jawa, yaitu Sunan Ngampel dan Sultan
Demak. Menurut riwayatnya, Syekh Abdul Muhyi berasal dari Gresik, Jawa Timur. Sementara
Pangeran Geusan Ulun dari Sumedang Larang (awal abad ke-17) belajar ilmu agama Islam dari
Demak. Kitab-kitab yang dipelajari dan menjadi pegangan dalam kegiatan pendidikan di
lingkungan pesantren di Tatar Sunda pada masa itu umumnya berbahasa Arab dan Jawa, ditulis
dalam aksara Arab dan aksara Pegon, serta menggunakan daluang (kertas saeh) sebagai bahan
tulisnya.

Beberapa contoh naskah demikian yang digunakan sebagai bahan ajar di kalangan pesantren
masa itu, seperti kitab suci Alquran, kitab fiqih, kitab tauhid, kitab tasawuf, dan lain-lain masih
dapat disaksikan hingga sekarang di Bagian Naskah Perpustakaan Nasional di Jakarta, Museum
Sri Baduga di Bandung, Keraton Kasepuhan di Cirebon, dan dalam koleksi pribadi yang berasal
dari pesantren-pesantren. Pada masa itu memang kitab suci Alquran masih diproduksi dalam
bentuk tulisan tangan. Contoh judul naskah demikian yang terdapat di Keraton Kasepuhan dan
Keraton Kacrebonan di Cirebon antara lain Martabat Alam Tujuh (Patarekan), Tatakrama lan
Faidahi Dzikir, Layang Kaweruh Bab Agami Islam, Tauhid lan Doa-doa, Kitab Saryogi, Kitab
Sapinah, Fiqih-Tarikat-Petanan.

Dalam pada itu, mereka yang bercita-cita untuk menjadi ajengan/kiai, apalagi mau mendirikan
pesantren, umumnya terlebih dahulu harus belajar untuk mendalami dan memperluas ilmu agama
Islam ke berbagai pesantren di Tanah Jawa, tentu termasuk belajar bahasa dan budaya Jawa.
Padahal bahasa percakapan sehari-hari dan pola hidup mereka adalah bahasa dan budaya Sunda.
Pesantren Lengkong di Kabupaten Kuningan misalnya, terkenal menjadi tempat persiapan para
santri yang bermaksud mendalami ilmu agama Islam ke pesantren-pesantren di Jawa hingga awal
abad ke-20. Sejak abad ke-19 sebagian calon ulama dari Tatar Sunda, terutama dari daerah
Banten, mendalami ilmu agama Islam langsung ke pusat agama Islam, yaitu tanah suci Mekah,
sambil menunaikan ibadah haji.

Model pesantren, orientasi santri, dan penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar dalam
kegiatan pendidikan di pesantren, menunjukkan secara budaya terjadi kesinambungan dalam
proses Islamisasi di Tatar Sunda dengan masa sebelumnya (masa pengaruh budaya
Hindu/Budha) (lihat bagian pertama seri karangan ini). Proses kesinambungan tersebut diperkuat
oleh data baru tentang adanya teks berisi ajaran Islam di dalam naskah lontar beraksara Sunda
Kuna, tetapi berbahasa Jawa dan berbahasa Arab, yaitu teks yang terdapat pada naskah lontar
Kropak 421.

Sekadar contoh sebagian teks dimaksud adalah, "Bismilah hirahman hirahmin, assahhadu anlah
ilahlalah, wassa adu ana mukamadan rasululah. Sun angwruhi satuhuni, ora nu kasinembah
ing, hanani kang tetep kang langgeng, kang suci kang luwih suci, kang murba ing diri, ning
wujud hilmu anu suhud." Berdasarkan wujud naskah dan teksnya, jelas bahwa naskahnya ditulis
oleh penulis naskah di kabuyutan Sunda yang berbudaya pra-Islam, sedangkan bunyi teksnya
menurut ucapan (lisan) seorang Muslim berbahasa Jawa.

Seiring dengan kehidupan dunia pendidikan agama tersebut di atas, kehidupan bahasa dan sastra
Sunda tulis pun fungsi dan perannya digantikan oleh bahasa dan sastra tulis berbahasa Jawa,
sejak sekitar abad ke-18. Baru pada pertengahan abad ke-19 bangkit lagi kesadaran orang Sunda
terhadap kedudukan, fungsi, dan peran bahasa, sastra, dan budayanya sendiri yang
memungkinkan digunakannya kembali bahasa Sunda sebagai bahasa tulisan karya sastra dan
budayanya sendiri. Dampaknya, pada awal abad ke-20 orientasi budaya orang Sunda telah
kembali kepada bahasa, sastra, dan budaya Sunda lagi dari sebelumnya (sejak akhir abad ke-17)
berorientasi kepada bahasa, sastra, dan budaya Jawa.

Bukti-bukti kebangkitan kembali itu di antaranya bermunculannya karya sastra tulis berbahasa
Sunda, lahirnya Paguyuban Pasundan sebagai organisasi orang Sunda pertama (20 Juli 1913),
bermunculannya bahan bacaan dalam aneka wujud (naskah, buku cetak, majalah, surat kabar),
dan bentuk (puisi, prosa, cerita, uraian/bahasan) yang berbahasa Sunda, diajarkannya bahasa
Sunda di beberapa jenis dan tingkatan sekolah, bahkan dijadikan bahasa pengantar di tingkat
sekolah dasar.

Kiranya sejalan dengan perkembangan kedudukan, fungsi, dan peranan bahasa dan budaya
Sunda itulah di lingkungan pesantren pun sejak awal abad ke-20 bahasa Sunda dijadikan bahasa
pengantar dalam kegiatan pendidikannya, bahkan kemudian lahirlah berbagai kitab bahan ajar
dan karya sastra Islami berbahasa Sunda, seperti pupujian, terjemahan Barzanzi, tafsir Alquran
(nadoman), wawacan tokoh-tokoh Islam, dan juga sejumlah naskah Islami berbahasa Sunda
lainnya. Sejak itu banyak kitab fiqih, tauhid, tafsir, tasawuf, tarikh, dan bahan pelajaran lainnya
yang menggunakan bahasa Sunda untuk menjelaskan maknanya.

Contoh kitab demikian dapat disaksikan di tempat-tempat koleksi naskah tersebut di atas, juga di
Museum Pangeran Geusan Ulun Sumedang, Perpustakaan Universitas Leiden di Belanda, dan di
beberapa pesantren tradisional di Tatar Sunda. Beberapa judul naskah Sunda Islami yang
terdapat di Perpustakaan Nasional adalah Ilmu Fiqih ((SD 102), Ilmu Tasauf (BG 455), Imam
Syafii (SD 119 dan SD 163), Ieu Kitab Pupujian (SD 58), Japar Sidik (SD 12), Hadis Iblis (SD
11), Kitab Adab (SD 162), Kitab Tarikat (SD 178), Mujizat Nabi (SD 154), Nabi Mulih (SD
141), Rukun Iman (SD 140), Rukun Islam (SD 150), Sipat Duapuluh (SD 30).

Penulis sendiri menyimpan naskah berupa kitab suci Alquran, kitab pelajaran agama Islam yang
berbahasa Jawa dan berbahasa Sunda, beraksara Pegon, serta menggunakan kertas saeh dan
kertas pabrik dari Eropa. Daftar lengkap naskah keagamaan Islam di Tatar Sunda, baik yang
berbahasa Arab-Jawa maupun berbahasa Arab-Sunda, dapat dilihat pada dua buku katalog
berjudul Naskah Sunda: Inventarisasi dan Pencatatan (1988) dan Jawa Barat: Koleksi Lima
Lembaga (1999) yang disusun oleh penulis dan kawan-kawan.

Pada masa itu, kitab-kitab tersebut sudah dicetak banyak dengan teknik semacam sablon.
Perkembangan tersebut, tampaknya, menjadi salah satu pendorong utama bagi makin
tersebarluasnya pesantren-pesantren di lingkungan keseluruhan masyarakat Sunda secara hampir
merata di wilayah Tatar Sunda hingga kini.

Patut diketahui, pelopor pemakaian bahasa Sunda sebagai bahasa tulisan adalah Penghulu Besar
Limbangan (Garut) H. Muh. Musa pada pertengahan sampai akhir abad ke-19, putranya yang
bernama Raden Kartawinata, dan Penghulu Besar Bandung H. Hasan Mustapa pada penghujung
abad ke-19 sampai awal perempat kedua abad ke-20. Karya tulis H. Muh. Musa, baik karya
sastra maupun karya tulis lainnya, tidak mengandung unsur-unsur Islami secara tersurat.
Sedangkan karya tulis H. Hasan Mustapa justru secara tersurat tampak jelas unsur Islaminya,
walaupun dipadukan dengan unsur tradisi Sunda dan diekspresikan dalam bahasa Sunda.
Dulu pesantren-pesantren di Tatar Sunda memiliki kedudukan yang kuat dan fungsi yang penting
dalam kehidupan bermasyarakat dan berpemerintahan. Pesantren-pesantren itu menjalin
hubungan yang sangat erat dengan pemegang kekuasaan di daerahnya (sultan di Cirebon dan
Banten, bupati di Priangan). Putra-putra pemegang kekuasaan dididik di lingkungan pesantren,
sebelum naik tahta atau memegang jabatan tertentu di lingkungan pemerintahan. Dalam karya
sastra R. Memed Sastrahadiprawira berjudul "Mantri Jero" (1927), dituturkan bahwa putra
penguasa Nagara Tengah dimasukkan ke pesantren untuk menimba ilmu agama, sebelum
diangkat menjadi pengganti ayahnya. Bupati Sumedang Pangeran Suriaatmaja (18-1920) yang
mendapat julukan Pangeran Mekah karena meninggal dunia di Mekah ketika menunaikan ibadah
haji dan dikenal sebagai bupati yang membawa kemajuan dan kemakmuran rakyat dan
daerahnya, terlebih dahulu hidup lama mengikuti pendidikan di pesantren Asyrofuddin,
Conggeang Sumedang.

Beberapa Bupati Sumedang menghibahkan sejumlah tanah darat dan sawah bagi keberadaan dan
kehidupan pesantren di daerahnya. R. Ahmad Jayadiningrat mengalami pendidikan di
lingkungan pesantren pada usia di bawah 10 tahun untuk mengikuti tradisi leluhurnya, sebelum
disekolahkan ke sekolah model Barat (ELS dan HBS). Ayahnya menjabat Bupati Serang dan dia
pun akhirnya menjadi Bupati Serang dan kemudian Bupati Jakarta.

Para Bupati Bandung menjalin hubungan erat dengan pesantren Mahmud di Bandung Selatan
dan pesantren Cikalama di Bandung Timur. Walaupun pendidikan formalnya sekolah model
Barat (ELS, HBS), namun Bupati Bandung R.A.A. Wiranatakusumah V (1915-1939) memiliki
pengetahuan dan perhatian besar terhadap agama Islam. Ia mengikuti pengajian yang
diselenggarakan oleh Persatuan Islam dengan gurunya A. Hassan yang membawa tafsiran angin
baru, walaupun tidak aktif secara langsung. Ia menunaikan ibadah haji dan menulis tentang
pengalaman naik hajinya dan tentang riwayat Nabi Muhammad saw. Salah seorang Bupati
Sukapura mendalami ilmu agama di pesantren Pamijahan pada Sekh Abdul Muhyi. Begitu
eratnya hubungan antara keduanya sehingga Bupati Sukapura ini diakui sebagai anak angkat
Syekh Abdul Muhyi dan setelah meninggal dimakamkan di Kompleks Pesantren Pamijahan
berdampingan dengan makam gurunya dan dijuluki Dalem Pamijahan.

Kiai, ajengan, bahkan santri menempati kedudukan terhormat dan disegani di kalangan
masyarakat. Mereka dipandang sebagai pemimpin informal dalam masyarakatnya, tempat segala
lapisan masyarakat bertanya dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya. Dengan
demikian, begitu terhormat dan dominannya kedudukan, fungsi, dan peranan pesantren sebagai
lembaga pendidikan masa itu, sebagaimana kedudukan, fungsi, dan peranan kabuyutan pada
masa Kerajaan Sunda dahulu. (Bersambung)***

Penulis, Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, Bandung.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:446
posted:8/28/2010
language:Indonesian
pages:5
Description: artikel tambahan bagi Anda yang memerlukan literatur mengenai Pendidikan Islam di Tatas Sunda