ingin penulis

Document Sample
ingin penulis Powered By Docstoc
					Hal pertama yang ingin penulis katakan adalah: tulisan ini bukan sebuah proses pencarian
justifikasi dalam al-Qur’an terhadap konsep orientalisme , namun tulisan ini adalah
usaha- usaha pencarian kebenaran yang telah ditunjukkan oleh Allah dalam al-Qur’an
sebelum konsep HAM barat lahir.

Ketika barat mengkaji Islam secara komprehensif dan didukung oleh teri-teori ilmiah
yang “mungkin” tak terbantahkan, Hasan Hanafi tampil menawarkan sebuah studi yang
tidak kalah atau juteru lebih garang dalam menghadapi hege moni pemikiran barat,
oksidentalisme, sebuah kajian tandingan terhadap orientalisme yang berusaha membahas
pemikiran barat dari perspektif dunia Islam. Inilah pertarungan kulon-wetan yang
sesungguhnya. Sebagai agama yang all comprehensive, Islam selalu sholih li kulli zaman
wa makaan. Dengan segala propagandanya, barat (baca: orientalis) telah memberikan
pemikirannya yang khas dalam menyoroti Islam. Pola pikir yang seperti ini tidak lain
adalah bertujuan untuk memberikan mispersepsi Islam terhadap umat Isla m sendiri
(bukan islamisasi, namun islamisisasi). Sehingga banyak yang salah paham dan tak
jarang menyebut konsep yang ditawarkan barat adalah paradoks semata, terlebih bahkan
menanggapinya secara ekstrem dan tak jarang radikal, tak terkecuali isu tentang Hak
Asasi Manusia (HAM).


Spesikasi “madzhab” penulis di sini adalah penulis merupakan orang yang skeptis dengan
pern- yataan bahwa HAM bukanlah konsep Islam, karena hal tersebut tidak lebih dari
sekadar dampak dari proyek besar Islamic Studies barat (Orie ntalisme). De factonya, jauh
sebelum adanya Universal Declaration of Human Rights (UDHR), the International
Covenant on Civil and Political Rights, dan beberapa kovenan-kovenan lain, Islam secara
substansial sudah memproklamirkan dasar-dasar HAM. Untuk mengkajinya lebih
mendetail, marilah kita simak uraian berikut ini.


Dalam mukaddimah UDHR, HAM diartikan sebagai: Pengakuan atas kaseluruhan
martabat alami alami manusia dan hak-hak yang sama dan tidak dapat dipindahkan
kepada orang lain dari semua anggota keluarga kemanusiaan adalah dasar kemerdekaan
dan keadilan di dunia. Hal ini jelas-jelas sudah diatur daalam al-Qur’an jauh sebelum
konsesi HAM terlintas di benak para orientalis.


Namun pada dasarnya, HAM dalam Islam terpusat pada lima pokok yang terangk um
dalam tesis al-Imam al-Ghazali dalam sebuah karya monumentalnya tentang
epistemologi hukum Islam, yakni al-Mushtashfa. Secara substansial tesis al- Ghazali
tersebut membawa ruh-ruh HAM yang dituangkan di UDHR. Sebuah konsep yang punya
landasan fundamental dalam al-Quran. Dan tesis al- Ghazali itu dalam literatur
kepustakaan Islam dikenal dengan maqqshid asy-syari’ah al-khomsah. Yakni ‫,نيدلا ظفح‬
 ala’ raahthta’ lutayiysah :aguj tahil( ‫ ح فظ ال ع قل‬nad ,‫ح فظ ال ى فس, ح فظ ال مال, ح فظ ال ى سل‬
jam’il jawaami’(.
Secara keseluruhan, cendikia muslim Indonesia mendukung terhadap Hak Asasi Manusia
(HAM), walaupun pendapat mereka berbeda-beda. Abdurahman Wahid mengatakan
bahwa manusia memeiliki posisi tinggi dalam kosmologi, sehingga harus diperlakukan
proporsional pada posisi yang mulia, baik sebelum atau sesudah dia meninggal dunia.

Setiap manusia mempunyai hak-hak yang diformulasikan dan dilindungi oleh hukum. Ini
sejalan dengan firman Allah:
 ٌ‫َ ىاٌ ه ال ا َ ىا‬           ‫ال َال‬  ٌ‫ىا ى د َحم ىا‬     ‫َلق‬     ‫مه قىا ف‬
“Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di
daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan
mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami
ciptakan.” (QS: al-Israa’:70(


Sependapat mengenai posisi manusia dalam kapasitas yang lain, yakni sebagai
khalifatullah di bumi, Ahmad Syafi’I Ma’arif dan Azhary, mengutip pernyataan Hasbi
Ash-Shiddiqie, seorang intelektual muslim yang meninggal pada pertengahan 1970-an,
menyatakan bahwa Allah memberkati manusia denagn kemuliaan tertentu sebagaimana
yang tertuang dalam ayat di atas.

Ada tiga kemuliaan (karomah) yang dianugerahkan tuhan pada manusia terlepas dari latar
belakang etnik, agama dan politik mereka. Pertama, Karomah Fardiyah (kemuliaan
individual) yang berarti bahwa Islam melindungi aspek-aspek kehidupan manusia baik
spiritual maupun material. Kedua, Karomah Ijtima’iyyah (kemuliaan kolektif( yang
berarti bahwa Islam menjamin sepenuhnya persamaan di antara individu (equality).
Ketiga, Karomah Siyasiyah, yang berarti bahwa Islam memberi hak politik pada
individu- individu untuk memilih atau dipilh pada posisi-posisi politik, karena mereka
adalah wakil Allah (Syafi’I Ma’arif, 1983; 169(.

Para intelektual muslim Indonesia tidak mempunyai persamaan pendapat tentang bentuk
spesifik atau butir-butir khusus Hak Asasi Manusia (HAM). Namun, mereka sepakat
untuk meletakkan 6 hal pokok tentang HAM, yakni:
(1) hak untuk hidup
      ‫وفس َ ساد ال‬         ‫ا ل وً ه ل وف سا‬ ‫ى‬    ‫ىا‬   ‫م عا َ ه ه ل ل‬    ‫وما ل الىا‬
‫م عا‬    ‫ح اٌا وما ح ا الىا‬
“Oleh Karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa
yang membunuh seorang manusia, bukan Karena orang itu (membunuh) orang
lain[411], atau bukan Karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan dia
Telah membunuh manusia seluruhnya[412]. dan barangsiapa yang memelihara
kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah dia Telah memelihara kehidupan
manusia semuanya. dan Sesungguhnya Telah datang kepada mereka rasul-rasul kami
dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, Kemudian banyak diantara
mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka
bumi” QS; Al-Maidah:32

(2) hak kebebasan beragama
‫مه ف ال ا ُ َ ه ال ً ق ا‬      ‫ه ال‬    ‫ه ال‬   ‫ال ه‬   ‫اي‬   ‫م س لا‬   ‫الع َ الُ ق لا اوف ا لٍا‬
       ‫ َال ً م‬dan
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya Telah jelas jalan
yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada
Thaghutdan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada
buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha
Mengetahui. Al-baqarah:256.
‫ل د ى َل د ه‬
“ Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” al-Kaafirun:6
(3) hak –bahkan perintah- memperoleh kebebasan berpikir dan berbicara
 ‫َا ا َل ال ا‬     ‫ا‬
"Maka ambillah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang
mempunyai wawasan". Al-Hasyr:2

(4) hak untuk memiliki kekayaan
 ‫ٍا ال ه ىُا لا ُا ُ ال ى ال ا ل ا‬
    Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara
kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu
kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang
lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu Mengetahui" .al-Baqarah:188.
(5) hak untuk bekerja
 ‫ىا ل‬     ‫ً ا ٍا ال ه ىُا و فقُا ه ا ا س َ ما‬       ‫ىً ىفق ُن َل س‬   ‫َلا ممُا ال‬ ‫ه ال‬
  ‫لا ن م ُا ً َا مُا ن ال ً ى حم‬
"Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil
usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk
kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan
daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan
memincingkan mata terhadapnya. dan Ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha
Terpuji". Al-Baqarah:267.
(6) hak untuk memiliki tempat tinggal sendiri
             ‫ُن وف س ه د ا‬    ‫وا ا لا سف ُن د ا َلا‬       َ ‫ٍ َن‬   ‫َو‬
"Dan (ingatlah), ketika kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan
menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu
(saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, Kemudian kamu berikrar (akan
memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya". Al-Baqarah:84.

Sementara Wahid dan Azhary merumuskan HAM dalam Islam merujuk pada UDHR,
Harun Nasution merumuskannya dalam semboyan Revolusi Prancis (kemerdekaan/
asrep ,‫ة‬   ‫ال‬maan/‫ , اَا لا‬dan persadaraan/‫ .( َخالا‬Menurutnya, dasar filosofis Hak
Asasi Manusia (HAM) termaktub dalam doktrin tauhid. Tauhid, yang dalam Islam
dipegang secara sungguh-sungguh memeberikan makna yang mendalam terhadap
timbulnya Konsep HAM, yakni hanyalah Allah yang berhak menciptakan dan
meniadakan (Aden Wijdan dkk; 2007).

ACHMAD MUDATSIR MR
Mahasiswa Fakultas Hukum
Universitas Islam Indonesia
Disarikan dari berbagai sumber.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:51
posted:8/27/2010
language:Indonesian
pages:4