MEMBANGUN POLA BERPIKIR KRITIS SISWA

Document Sample
MEMBANGUN POLA BERPIKIR KRITIS SISWA Powered By Docstoc
					                  MEMBANGUN POLA BERPIKIR KRITIS BAGI SISWA


A. Latar Belakang
               Zaman ini berkembang demikian cepat, bahkan jauh lebih cepat dari perkiraan
   para ahli. Prediksi para ahli perancang masa depan sering meleset, karena dimensi
   permasalahan yang dihadapi manusia saat ini demikian kompeks. Satu peristiwa sering
   bertautan dengan peristiwa lainnya, sehingga tidak ada peristiwa yang berupa a single event.
   Untuk menyelesaikannya diperlukan berbagai pendekatan. Sebut saja, misalnya, peristiwa
   keagamaan hampir selalu terkait dengan masalah politik, sosial, budaya, dan bahkan
   ekonomi.
               Karena    pesatnya   perkembangan,    ada   sebagian   orang    yang   sanggup
   mengikutinya, ada sebagian lain yang gagal. Bagi yang sanggup, perkembangan pesat
   dianggap sebagai peluang yang bisa dimanfaatkan untuk memacu diri. Umumnya kelompok
   ini adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan hidup yang memadai.
   Bagi yang tidak sanggup, zaman ini dianggap sebagai petaka, karena tidak memberikan
   peluang kepadanya, bahkan menyingkirkannya. Umumnya, kelompok ini diisi orang-orang
   yang tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang cukup.
               Selain itu, zaman ini pula disebut sebagai zaman kompetisi atau persaingan.
   Implikasinya orang lain dianggap sebagai kompetitor dalam meraih cita-cita. Teman akrab
   ada kalanya bisa menjadi pesaing beratnya. Karena masing- masing saling berkompetisi,
   wajar jika kemudian ada pihak yang menang dan ada pula yang kalah.
               Dalam keadaan demikian, menjadi orang pintar saja belum cukup. Agar mampu
   menghadapi persaingan ke depan, dibutuhkan orang yang mampu berpikir kritis. Banyak
   orang mengatakan bahwa salah satu ciri orang pintar adalah mampu berpikir kritis.
   Pengertian berpikir kritis ialah berpikir dengan konsep yang matang dan mempertanyakan
   segala sesuatu yang dianggap tidak tepat dengan cara yang baik. Bertanya dengan baik akan
   memperoleh jawaban yang baik, setidaknya respons yang baik. Dia tidak bersikap apatis
   terhadap sesuatu yang tidak beres.
B. Pengertian Berpikir Kritis
                 Berpikir kritis adalah proses mental untuk menganalisis atau mengevaluasi informasi.
   Informasi tersebut dapat didapatkan dari hasil pengamatan, pengalaman, akal sehat atau
   komunikasi.
                  Menurut Halpen (dalam Arief Achmad, 2007) menyatakan bahwa berpikir
   kritis adalah memberdayakan keterampilan atau strategi kognitif dalam menentukan tujuan.
   Proses tersebut dilalui setelah menentukan tujuan, mempertimbangkan, dan mengacu
   langsung kepada sasaran- merupakan bentuk berpikir yang perlu dikembangkan dalam rangka
   memecahkan masalah, merumuskan kesimpulan, mengumpulkan berbagai kemungkinan, dan
   membuat keputusan ketika menggunakan semua keterampilan tersebut secara efektif dalam
   konteks dan tipe yang tepat. Berpikir kritis juga merupakan kegiatan mengevaluasi-
   mempertimbangkan kesimpulan yang akan diambil manakala menentukan beberapa faktor
   pendukung untuk membuat keputusan. Berpikir kritis juga biasa disebut directed thinking,
   sebab berpikir langsung kepada fokus yang akan dituju.
                  Anggelo (dalam Arief Achmad, 2007), berpikir kritis adalah mengaplikasikan
   rasional, kegiatan berpikir yang tinggi, yang meliputi kegiatan menganalisis, mensintesis,
   mengenal permasalahan dan pemecahannya, menyimpulkan, dan mengevaluasi.
                  Dari dua pendapat tersebut, tampak adanya persamaan dalam hal sistematika
   berpikir yang ternyata berproses. Berpikir kritis harus melalui beberapa tahapan untuk
   sampai kepada sebuah kesimpulan atau penilaian.
                  Arthur L. Costa (dalam Sarlito Wirawan Sarwono, 2009) menggambarkan
   bahwa berpikir kritis adalah : “using basic thinking processes to analyze arguments and
   generate insight into particular meanings and interpretation; also known as directed
   thinking”.
                  R. Matindas (dalam Sarlito Wirawan Sarwono, 2009) menyatakan bahwa:
   “Berpikir kritis adalah aktivitas mental yang dilakukan untuk mengevaluasi kebenaran
   sebuah pernyataan. Umumnya evaluasi berakhir dengan putusan untuk menerima,
   menyangkal, atau meragukan kebenaran pernyataan yang bersangkutan”.


C. Karakterisitik Berpikir krtiis
             Angelo (dalam Arief Achmad, 2007), bahwa berpikir kritis harus memenuhi
karakteristik kegiatan berpikir yang meliputi : analisis, sintesis, pengenalan masalah dan
pemecahannya, kesimpulan, dan penilaian.
             Berpikir yang ditampilkan dalam berpikir kritis sangat tertib dan sistematis.
Ketertiban berpikir dalam berpikir kritis diungkapkan MCC General Education Iniatives.
Menurutnya, berpikir kritis ialah sebuah proses yang menekankan kepada sikap penentuan
keputusan yang sementara, memberdayakan logika yang berdasarkan inkuiri dan pemecahan
masalah yang menjadi dasar dalam menilai sebuah perbuatan atau pengambilan keputusan.
             Berpikir kritis merupakan salah satu proses berpikir tingkat tinggi yang dapat
digunakan dalam pembentukan sistem konseptual siswa. Menurut Ennis (1985: 54), berpikir
kritis adalah cara berpikir reflektif yang masuk akal atau berdasarkan nalar yang difokuskan
untuk menentukan apa yang harus diyakini dan dilakukan.


             Wade (1995) mengidentifikasi delapan karakteristik berpikir kritis, yakni
meliputi:
(1) kegiatan merumuskan pertanyaan,
(2) membatasi permasalahan,
(3) menguji data-data,
(4) menganalisis berbagai pendapat dan bias,
(5) menghindari pertimbangan yang sangat emosional,
(6) menghindari penyederhanaan berlebihan,
(7) mempertimbangkan berbagai interpretasi, dan
(8) mentoleransi ambiguitas.


             Karakteristik lain yang berhubungan dengan berpikir kritis, dijelaskan Beyer
(1995: 12-15) secara lengkap dalam buku Critical Thinking, yaitu: .
a. Watak (dispositions)
   Seseorang yang mempunyai keterampilan berpikir kritis mempunyai sikap skeptis, sangat
   terbuka, menghargai sebuah kejujuran, respek terhadap berbagai data dan pendapat,
   respek terhadap kejelasan dan ketelitian, mencari pandangan-pandangan lain yang
   berbeda, dan akan berubah sikap ketika terdapat sebuah pendapat yang dianggapnya baik.
b. Kriteria (criteria) Dalam berpikir kritis harus mempunyai sebuah kriteria atau patokan.
     Untuk sampai ke arah sana maka harus menemukan sesuatu untuk diputuskan atau
     dipercayai. Meskipun sebuah argumen dapat disusun dari beberapa sumber pelajaran,
     namun akan mempunyai kriteria yang berbeda. Apabila kita akan menerapkan
     standarisasi maka haruslah berdasarkan kepada relevansi, keakuratan fakta- fakta,
     berlandaskan sumber yang kredibel, teliti, tidak bias, bebas dari logika yang keliru, logika
     yang konsisten, dan pertimbangan yang matang.
c.   Argumen (argument) Argumen adalah pernyataan atau proposisi yang dilandasi oleh
     data-data. Keterampilan berpikir kritis akan meliputi kegiatan pengenalan, penilaian, dan
     menyusun argumen.
d.   Pertimbangan atau pemikiran (reasoning)
     Yaitu kemampuan untuk merangkum kesimpulan dari satu atau beberapa premis.
     Prosesnya akan meliputi kegiatan menguji hubungan antara beberapa pernyataan atau
     data.
e. Sudut pandang (point of view)
     Sudut pandang adalah cara memandang atau menafsirkan dunia ini, yang akan
     menentukan konstruksi makna. Seseorang yang berpikir dengan kritis akan memandang
     sebuah fenomena dari berbagai sudut pandang yang berbeda.
f.   Prosedur penerapan kriteria (procedures for applying criteria)
     Prosedur penerapan berpikir kritis sangat kompleks dan prosedural. Prosedur tersebut
     akan meliputi merumuskan permasalahan, menentukan keputusan yang akan diambil, dan
     mengidentifikasi perkiraan-perkiraan.
                  Selanjutnya, Ennis (1985: 55-56), mengidentifikasi 12 indikator berpikir kritis,
yang dikelompokkannya dalam lima besar aktivitas sebagai berikut:
a. Memberikan penjelasan sederhana, yang berisi: memfokuskan pertanyaan, menganalisis
     pertanyaan dan bertanya, serta menjawab pertanyaan tentang suatu penjelasan atau
     pernyataan.
b. Membangun keterampilan dasar, yang terdiri atas mempertimbangkan apakah sumber
     dapat dipercaya atau tidak dan mengamati serta mempertimbangkan suatu laporan hasil
     observasi.
c. Menyimpulkan, yang terdiri atas kegiatan mendeduksi atau mempertimbangkan hasil
   deduksi, meninduksi atau mempertimbangkan hasil induksi, dan membuat serta
   menentukan nilai pertimbangan.
d. Memberikan penjelasan lanjut, yang terdiri atas mengidentifikasi istilah- istilah dan
   definisi pertimbangan dan juga dimensi, serta mengidentifikasi asumsi.
e. Mengatur strategi dan teknik, yang terdiri atas menentukan tindakan dan berinteraksi
   dengan orang lain.
            Indikator-indikator tersebut dalam prakteknya dapat bersatu padu membentuk
sebuah kegiatan atau terpisah-pisah hanya beberapa indikator saja.
            Penemuan indikator keterampilan berpikir kritis dapat diungkapkan melalui
aspek-aspek perilaku yang diungkapkan dalam definisi berpikir kritis. Menurut beberapa
definisi yang diungkapkan terdahulu, terdapat beberapa kegiatan atau perilaku yang
mengindikasikan bahwa perilaku tersebut merupakan kegiatan-kegiatan dalam berpikir kritis.
Angelo mengidentifikaasi lima perilaku yang sistematis dalam berpikir kritis. Penilaku
tersebut adalah sebagai berikut:
   a. Keterampilan Menganalisis
       Keterampilan menganalisis merupakan suatu keterampilan menguraikan sebuah
       struktur ke dalam komponen-komponen agar mengetahui pengorganisasian struktur
       tersebut (http://www.uwsp/cognitif.htm.). Dalam keterampilan tersebut tujuan
       pokoknya adalah memahami sebuah konsep global dengan cara menguraikan atau
       merinci globalitas tersebut ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil dan terperinci.
       Pertanyaan analisis, menghendaki agar pembaca mengindentifikasi langkah- langkah
       logis yang digunakan dalam proses berpikir hingga sampai pada sudut kesimpulan
       (Harjasujana, 1987: 44).
       Kata-kata operasional yang mengindikasikan keterampilan berpikir analitis,
       diantaranya: menguraikan, membuat diagram, mengidentifikasi, menggambarkan,
       menghubungkan, memerinci, dsb.
   b. Keterampilan Mensintesis
       Keterampilan mensintesis merupakan keterampilan yang berlawanan dengan
       keteramplian     menganallsis.   Keterampilan    mensintesis   adalah   keterampilan
       menggabungkan bagian-bagian menjadi sebuah bentukan atau susunan yang baru.
          Pertanyaan sintesis menuntut pembaca untuk menyatupadukan semua informasi yang
          diperoleh dari materi bacaannya, sehingga dapat menciptakan ide- ide baru yang tidak
          dinyatakan secara eksplisit di dalam bacaannya. Pertanyaan sintesis ini memberi
          kesempatan untuk berpikir bebas terkontrol (Harjasujana, 1987: 44).
      c. Keterampilan Mengenal dan Memecahkan Masalah
          Keterampilan ini merupakan keterampilan aplikatif konsep kepada beberapa
          pengertian baru. Keterampilan ini menuntut pembaca untuk memahami bacaan
          dengan kritis sehinga setelah kegiatan membaca selesai siswa mampu menangkap
          beberapa pikiran pokok bacaan, sehingga mampu mempola sebuah konsep. Tujuan
          keterampilan ini bertujuan agar pembaca mampu memahami dan menerapkan
          konsep-konsep ke dalam permasalahan atau ruang lingkup baru (Walker, 2001:15).
      d. Keterampilan Menyimpulkan
          Keterampilan menyimpulkan ialah kegiatan akal pikiran manusia berdasarkan
          pengertian/pengetahuan (kebenaran) yang dimilikinya, dapat beranjak mencapai
          pengertian/pengetahuan (kebenaran) yang baru yang lain (Salam, 1988: 68).
          Berdasarkan pendapat tersebut dapat dipahami bahwa keterampilan ini menuntut
          pembaca untuk mampu menguraikan dan memahami berbagai aspek secara bertahap
          agar sampai kepada suatu formula baru yaitu sebuah simpulan. Proses pemikiran
          manusia itu sendiri, dapat menempuh dua cara, yaitu : deduksi dan induksi. Jadi,
          kesimpulan merupakan sebuah proses berpikir yang memberdayakan pengetahuannya
          sedemikian rupa untuk menghasilkan sebuah pemikiran atau pengetahuan yang baru.
      e. Keterampilan Mengevaluasi atau Menilai
          Keterampilan ini menuntut pemikiran yang matang dalam menentukan nilai sesuatu
          dengan berbagai kriteria yang ada. Keterampilan menilai menghendaki pembaca agar
          memberikan penilaian tentang nilai yang diukur dengan menggunakan standar
          tertentu (Harjasujana, 1987: 44).


D. Manfaat berpikir kritis
               Arief Achmad, 2009, menyatakan kemampuan berpikir kritis merupakan
   kemampuan yang sangat esensial untuk kehidupan, pekerjaan, dan berfungsi efektif dalam
   semua aspek kehidupan lainnya.
               Keuntungan yang didapatkan sewaktu kita tajam dalam berpikir kritis, kita bisa
   menilai bobot kemampuan seseorang dari perkataan yang ia keluarkan, kita juga dengan
   tidak gampangnya menyerap setiap informasi tanpa memikirkan terlebih dahulu hal yang
   sedang disampaikan. Bayangkan! Jika kita semua terbentuk dengan kebiasaan ini, bisa
   dipastikan akan muncul kreatifitas yang baru dan kita bisa terus menerus mengalami
   pertumbuhan yang lebih baik di setiap aspek dari bidang yang sedang kita tekuni.



E. Cara membangun berpikir kritis siswa
   1. Kegiatan KIR

      Keberadaan KIR di setiap sekolah pun dirasakan masih sangat jarang, apalagi bagi
      sekolah-sekolah yang terdapat di luar kota. Kegiatan KIR di sekolah pada umumnya
      dilaksanakan menjelang kegiataan lomba atau momen tertentu yang akan diikuti sekolah.
      Seolah-olah kegiatan KIR adalah hanya mengikuti lomba-lomba saja sehingga kegiatan
      hanya berupa pemantapan atau pengayaan materi pelajaran saja. Tentu saja KIR sebagai
      wadah pengembangan kreativitas siswa tidak akan bisa terlaksana apalagi sebagai
      pengenalan secara dini kepada para siswa.

      Kenapa para siswa perlu dikenalkan secara dini pada kegiatan ilmiah atau penelitian?
      Karena, kegiatan itu bisa merangsang cara berpikir kritis, melatih pola berpikir teratur
      (sistematis), serta meningkatkan kepekaan atau kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
      Penelitian ilmiah dan penulisan karya ilmiah dapat menjadi pilihan kegiatan yang
      menarik bagi remaja. Tak jarang, dari rasa keingintahuan lahirlah sebuah karya besar
      yang bermanfaat bagi masyarakat.

      Berpikir cerdas, kritis, objektif dan sistematis, serta peka terhadap lingkungan sekitar
      merupakan syarat yang sangat dibutuhkan bagi seorang calon peneliti. Oleh karena itu,
      KIR membawa misi untuk membentuk remaja yang memiliki kompetensi sebagai
      seorang peneliti.

      Sebelum kita mengenalkan KIR kepada siswa kita harus meluruskan beberapa kesan dan
      pandangan yang keliru terhadap KIR, seperti: melulu IPA, hanya untuk siswa pintar,
   tidak menyenangkan, menambah beban, tidak bermanfaat, selalu memerlukan biaya yang
   tinggi. Semua pandangan itu tentu sama sekali keliru.

   Kegiatan KIR yang sebenarnya adalah bukan hanya monopoli kegiatan siswa IPA.
   Karena, semua hal yang disekitar kita dapat dijadikan objek penelitian, misalnya,
   mengapa kebiasaan menyontek siswa sulit di hilangkan. Bagaimana hubungan nilai UN
   ketika SMP dengan prestasi yang dicapai ketika SMA, dan masih banyak lagi persolan
   lainnya.

   KIR juga tidak hanya ditujukan bagi siswa pandai atau mendapat ranking dikelasnya saja.
   KIR juga tidak terfokus pada salah satu mata pelajaran, sehingga pembina KIR dapat
   berlatarbelakang mata pelajaran apa saja. KIR dapat diikuti oleh semua siswa. Yang
   terpenting adalah kemauan dan keuletan. KIR juga bukanlah kegiatan yang selalu super
   serius hingga siswa lekas mengalami kejenuhan. Tetapi, kegiatan KIR penuh dengan
   inovasi dan kreativitas yang dapat menciptakan suasana yang menyenangkan bagi siswa.


2. Latihan melakukan penelitian ilmiah
   a. Pertama-tama ia 'menangkap' suatu realita, suatu benda.
   b. Setelah melihat suatu realita, mereka diajak mengumpulkan informasi dan data
       tentang realita dengan cara tertentu. Misalnya, para siswa diajak untuk menetapkan
       berat ayam hidup. Tentu ada cara tertentu untuk menimbang ayam yang masih hidup.
       Pertanyaan kritis yang dapat diajukan adalah "Apakah prosedur yang digunakan
       benar?" Pertanyaan untuk diri sendiri berbentuk "Apakah prusedur yang kugunakan
       sudah benar?"
   c. Data dan informasi yang diperoleh itu kemudian dianalisis. Menganalisis data berarti
       memilah- milah data menjadi beberapa kelompok yang memiliki ciri-ciri tertentu.
       Sesungguhnya, tidak hanya dipilah-pilah tetapi juga, mungkin justru digabung-
       gabungkan antara satu bagian dengan bagian yang lain sehingga dihasilkan suatu
       kesimpulan. Kegiatan memilah dan menggabung serta membuat kesimpulan ini
       termasuk kegiatan berpikir. Pertanyaan kritis yang dapat diajukan pada tahap ini
       adalah: "Apakah penalaran yang digunakan dalam menganalisis data serta informasi
       ini sahih?" pertanyaan kepada diri sendiri, "Apakah penalaranku sahih?"
   d. Tahap terakhir dari kegiatan mencari pengetahuan adalah menarik kesimpulan.
       Pertanyaan kritis yang dapat diajukan pada tahap ini adalah: "Apakah kesimpulan
       yang dibuat itu betul?" Atau "Apakah kesimpulan yang kubuat ini betul?"


3. Menerapkan metode debat
   Debat merupakan implementasi dari berpikir kritis (critical thinking). Seorang siswa
   harus dilatih sejak awal untuk terbiasa berani mengkritisi segala sesuatu, sebab hanya
   dengan kebebasan berpikirlah manusia akan maju dan berkembang. Sejarah sudah
   membuktikan betapa masyarakat yang terkungkung oleh kekuasaan yang otoriter dan
   menghalangi kebebasan berpikir mengakibatkan bangsa itu menjadi bangsa yang
   terbelakang.
   Siswa, sebagai calon pemimpin masa depan, harus dibiasakan untuk belajar mengkritisi
   fenomena yang ada dalam kehidupannya. Langkah ini diharapkan akan menanamkan
   dalam dirinya keberanian untuk mengkritisi segala sesuatu, belajar berargumentasi, dan
   berani untuk mengemukakan perbedaan pendapat.
   Ada beberapa macam format debat yang dapat digunakan. Perbedaan format yang dipakai
   ini menentukan peraturan teknis yang berkenaan dengan waktu pembicara
   menyampaikan argumennya serta kesempatan untuk menyampaikan interupsi pada
   kelompok lawan.
   Di antara format debat tersebut adalah, pertama, format lomba debat SMA sedunia. Ciri
   format ini adalah memberlakukan interupsi di tengah pidato, dan tidak memberikan
   interupsi pada pidato penutup. Kedua, format debat parlemen Asia. Format ini
   memberikan kesempatan interupsi di tengah debat. Ketiga, format debat Australia-Asia.
   Format ini tidak memberlakukan interupsi di tengah debat. Dan keempat, format debat
   parlemen Inggris. Format ini tidak mengenal adanya pembicara penutup, tapi
   memperbolehkan adanya interupsi di tengah jalannya debat.


4. Menurut para ahli, melatih berpikir kritis dapat dilakukan dengan cara mempertanyakan
   apa yang dilihat dan didengar. Setelah itu, dilanjutkan dengan bertanya mengapa dan
   bagaimana tentang hal tersebut. Intinya, jangan langsung menerima mentah- mentah
   informasi yang masuk. Dari mana pun datangnya, informasi yang diperoleh harus dicerna
   dengan baik dan cermat sebelum akhirnya disimpulkan. Karena itu, berlatih berpikir
   kritis artinya juga berperilaku hati- hati dan tidak grusa-grusu dalam menyikapi
   permasalahan.


5. Pembelajaran kolaboratif melalui diskusi kelompok kecil juga direkomendasikan sebagai
   strategi yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis (Resnick L., 1990; Rimiene
   V., 2002; Gokhale A.A., 2005 dalam Sudaryanto, 2008). Dengan berdiskusi siswa
   mendapat kesempatan untuk        mengklarifikasi pemahamannya dan mengevaluasi
   pemahaman siswa lain, mengobservasi strategi berpikir dari orang lain untuk dijadikan
   panutan,   membantu siswa      lain   yang kurang untuk      membangun pemahaman,
   meningkatkan motivasi, serta membentuk sikap yang diperlukan seperti menerima kritik
   dan menyampaikan kritik dengan cara yang santun.


6. Ada pandangan lain untuk meningkatkan sikap kritis. Menurut penelitian para ahli
   neurolinguistik, cabang ilmu yang mengkaji bahasa dan fungsi saraf, otak manusia bisa
   dilatih fungsi- fungsinya, termasuk untuk melahirkan sikap kritis. Menurut mereka, otak
   manusia dibagi dua, yakni otak kiri yang memproduksi bahasa verbal, imitatif dan
   repetitif, dan otak kanan yang memperoduksi pikiran yang bersifat            imajinatif,
   komprehensif, dan kontemplatif. Muncul dugaan bahwa orang-orang agung para pembuat
   sejarah besar adalah orang yang memiliki otak kanan yang aktif.
   Berangkat dari temuan para ahli tersebut, maka dalam bahasa agama (Islam), cara untuk
   meningkatkan fungsi otak kanan ialah melalui sholat yang khusu’ dan dzikir mengingat
   Allah, sehingga otak bisa lepas dari beban-beban duniawi yang tidak produktif. Saat
   demikian, otak bisa tumbuh cerdas dan bisa berpikir kritis. Lebih dari sekadar cerdas,
   sholat yang khusu’ dan selalu berdzikir untuk mengingat Allah akan mengantarkan kita
   menjadi manusia agung di sisiNya.
RUJUKAN
Arief Achmad , 2007, Memahami Berpikir Kritis, diambil dari http://re-
       searchengines.com/1007arief3.html; 13 April 2010; 20:23 wib.

Sarlito Wirawan Sarwono, 2009, Berpikir Kritis Dan Benar, diambil dari
        http://www.ahmadheryawan.com/opini-media/sosial-politik/4246-berpikir-kritis-dan-benar.pdf;
        13 April; 2010; 21:11 wib.




Indra Yus uf, http://www.infoanda.com/linksfollow.php?lh=AVBdBFMEVlBR; 16 April 2010
Leo Sutrisno , http://www.borneotribune.com/pdf/kolom/berlatih-berpikir-kritis.pdf; 13 April
        2010
Abdul Wahid, http://www.tribunjabar.co.id/read/artikel/14855; 13 April 2010
Brando Lubis, http://edukasi.kompasiana.com/2010/02/11/berpikir-kritis%E2%80%A6/; 13
        April 2010
Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si, http://mudjiarahardjo.com/artikel/169- melatih-berpikir-
        kritis.html; 13 April 2010
Agustinus Setiono, 2007, Berpikir Kritis, diambil dari
        http://agustinussetiono.wordpress.com/2007/09/25/berpikir-kritis/, ; 13 April 2010; 20:24 wib

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:1638
posted:8/25/2010
language:Indonesian
pages:11
Description: MEMBANGUN POLA BERPIKIR KRITIS SEYOGYANYA KITA TANAMKAN KEPADA SISWA SEJAK DINI. SEKOLAH SEBAGAI LEMBAGA YANG BERTANGGUNG JAWAB DALAM MENDIDIK BERKEWAJIBAN UNTUK MEMBINA POLA BERPIKIR KRITI SISWA. GURULAH YANG SANGAT BERPERAN DALAM HAL INI. UNTUK MENAMBAH WAWASAN GURU DALAM MEMBANGUN POLA BERPIKIR KRITIS SISWA SANGATLAH COCOK BILA TULISAN DIPAKAI SEBAGAI SALAH SATU REFERENSINYA. SELAMAT MEMBACA.