bab ii nur fitri by Aan_SafwandiScreamo

VIEWS: 48 PAGES: 5

									Dan ziarah (1969) alurnya tidak jelas atau alurnya atau kacau, kekacauan itu di
dasarkan oleh


1. masyarakat sekarang sudah kacau karena tidak lagi menpuyai proporsi
2. peristiwa-peristiwa yang berlaku betul-betul mempuyai potensi tanpa proporsi
   yang demikian ekstrem.
3. tidak adanya urutan penceritaan atau alur yang teratur
4. dua teratur yang di jadikan satu dalam satu jalinan yang padat sehingga yang
   satunya tidak dapat di pisahkan dari yang lainnya.


Keitga, novel Indonesia kontemporer berciri bersuasana misteri atau gaib. Di dalam
novel iwan simatupang dan putu wijaya dunia absurd, dunia penuh misteri, dunia
penuh teka-tekimerupakan gerapan mereka berdua. Manusia di dalam novel mereka
hidup dan berada dengan dunia ekstensisialisme, dengan idealisme yang seolah
hanya hidup dan ada secara sukmawi tanpa raga. Segala keinginan tampak yang batin
semata tanpa gairah kehidupan dega pola tradisional yang umum dalam di
bandingkan dengan karya-karya penulis terdahulu. Tokoh-tokoh adalah manusia
absurd yang hanya percaya pada diri sendiri, percaya pada keberadaannya secara
subjektif (rampan, 1983:39)


Pada Merahnya Merah, kita menjumpai Fifi yang misterius. Pada Zairah, ada isteri
bekas pelukis atau mertua pelukis yang bersifat misteri. Pada kering, ada misteri
terutama misteri pada waktu kota seakan-akan mati.


Msiteri yang di dapat dalam novel-novel Iwan di hasilkan melalui suasana modern
segingga dilihat begitu saja yang akan sebenarnnyalebih merupakan bahagian dari
suatu dunia irasional atau paling kurang biasanya beranggkapan demikian.


Pada Aduh, putu wijaya juga terluhat misteri, yaitu melalui manusia asing yang
misterius dan mati secara misterius dan mati secara misterius. Misteri tokoh ini di
lanjutkan dengan misteri lainnya. Misalnya misteri sifat keadaan perlawanan azwar
terhadap Mas G Misteri tentang sakit anak Azwar.


       Keempat,novel Indonesia kontemporer berciri Transcendental atau Sufistik
atau Misti. Ciri transendental, susfistik dan mistik ini latar belakangi oleh semangat
dan pandangan novelis dengan tasauf dan sastra sufi. Tasauf atau sastra sufi itu di
jadikan mereka sebagai satu sumber ilham penulisan karya sastra (novel) mereka.


       Kuntowijoyo, Danarto, Mutinggo Busye termasuk novelis sufistik. Novel
Mutinggo Busye, Sanu Infinita Kembar (1985) dimasukkan ke dalam karya yang
berkecenderungan sufistik (Abdul Hadi, 1992:22). Sanu sampai kepada manusia
total, yaitu manusia yang menjaga keseimbangan antara diri pertama dan diri kedua.
Seluruh manifestasi diri pertama adalah infinita-ego yang lawannya adalah infinita
kreatf. Oleh karena itu, diri kedua infinita pekembar itu dengan kreativitasnya
menjadikan dia dinamis. Pengalaman-pengalaman yang dialami oleh Sanu yang
irasional menimbulkan senyum sinis pada pembaca yang tidak mempunyai
memperhatikan gejala-gejala ajaib di sekitar kita, maka apa yang dialami oelh Sanu
bukanlah hal-hal yang aneh (H.B.Jassin, 1993:73-74).


       Dalam novel Kuntowijoyo, Khobah di atas bukit (1997) bayak dialog dan
renungan misuk dan sufistik. Tokoh utama novel ini adalah Barman, seorang lelaki
tua pensiunan diplormat kawakan yang telah banyak makan garam kehidupan dan
kaya raya. Barman adalah hedonis luar biasa. Dia bangga telah mampu menikmati
kehidupan yang serba berkecukupan, mewah dan serba enak di berbagai negeri
ketika menjadi seorang diplomat. Dia ingin menikmati sisa hidupnya dalam
ketenagan, kesenangan dan kenikmatan yang tiada taranya. Anak-anaknya memberi
kesempatan kepadanya untuk menikmati sisa hidupnya di sebuah vila di lereng
gunung yang indah, disebuah sorga dunia. Anak-anakny juga kaya. Anak-anaknya
telah memilih bagi Barman seorang wanita yang amat cantik, masih muda, seorang
geisha Jawa yang setia, penurut dan mampu melayani apa saja yang diminta dan
diinginkan Barman, baik di dapur, di tempat tidur maupun di luar rumah. Suatu
ketika pada waktu Barman sedang asyik merasakan kenikmatan dunia yang berselera
tinggi itu, timbullah suatu kejadian yang tak diduga-duga, Barman bertemu dengan
seorang lelaki tua bernama Humam yang secara fisik mirip benar dengan dirinya.
Humam seakan-akan saudara kembar Barman, tetapi secara jasmani. Yang
membedakan keduanya adalah tabiat dan sifat mereka. Barman amat terikat pada
kenikmatan dunia dan sedia diperhamba oleh kenikmatan dunia. Humam bebas dari
kenikmatan duni dan kaya dengan kehidupan spiritual.


       Humam ternyata memang seorang guru spiritual, dan dia ditampilkan
Kuntowijoyo dalam novelnya sebagai saudara kembar Barman, sebagai diri sejati
Barman.   Melalui    ajaran   kerohaniannya   yang     memukau   Humam    berhasil
menyadarkan Barman hedonism material akan berakhir dengan munculny nihilisme,
jika tidak dikendalikan. Barman demikian terpesona dengan ajaran tasauf yang
diberikan oleh Humam yang disebut sebagai ngudi kasampurnaning hurip (ilmu
kesempurnaan hidup). Kemudian diapun memutuskan untuk menjadi murid Humam.
Akibatnya bias diduga, kehidupan dengan Poppy hancur berantakan. Poppy pergi
meninggalkan Barman. Di akhir novel, Barman diterbangkan oleh seekor kuda putih
yang ditungganginya dan menemui ajalnya di tepi jurang (Abdul Hadi, 1999:31-32).


       Dalam novel Iwan Simatupang, Kering (1972), terlihat samar-samar
kerinduan Iwan terhadap kehidupan yang bersuasana religious dan spiritual. Hal ini
terjadi pada akhirnya hanyatnya. Di akhir novel itu corak kerohanian itu tergambar
melalui tokoh Transmigrasi. Tokoh Transmigrasi berada dalam puncak halusinasinya
dan berjumpa dengan seorang gaib di kota dongengan. Tokoh gaib itu mirip santri,
rahib atau barangkali Nabi Khaidir.


       Dalam novelnya yang lain, yaitu Koong (1975) Iwan juga mengungkapkan
atau menceritakan hal yang sama dengan Kering. Di dalam Koong, Iwan
mngungkapkan tengan kehidupan Pak Sastro yang mengalami kegoncangan hebat
dalam dirinya setelah kematian istri dan anaknya. Pengembaraan Pak Satro yang
tanpa tujuan untuk mencari burung perkutut (gurem) yang tiba-tiba terlepas dari
sangkarnya setelah dipeliharanya selama sepuluh tahun. Kondisi menggambarkan
petualangan hidup. Koong merupakan metaphor pencarian manusia modern akan
kebabasan, suatu pencarian di tengah rimba raya nihilism, hedonism material dan
konsumerisme.


       Kelima, novel Indonesia kontemporer berciri cenderung kembali ke tradisi
atau warna local. Abdul Hadi, W. M. mengistilahkan kembali ke tradisi itu ialah
kembali ke akar tradisi (1999:21). Danarto mengistilahkannya: sebagai kembali ke
sumber.


       Novel Indonesia kontemporer yang kembali ke tradisi dan warna lokal itu
muncul disebabkan oleh semakin berpolarisasinya masyarakat Indonesia (Budi
Darma, 1990:138). Warna lokal ini menurut Pradopo (1955:61) pada akhir sastra
Balai Pustaka dan Pujangga Baru melai tampak dalam sastra Indonesia. Kuntowijoyo
mengungkapkan bahwa warna lokal itu baru sejak Balai Pustaka. Akan tetapi tidak
secara sungguh-sungguh sebagai sebuah kesadaran (1994:43). Warna lokal itu
ditampilkan di dalam prosa, khususnya novel sadar dan menonjol dalam sastra
Indonesia kontemporer periode 1970-an.


       Pada hakikatnya warna lokal itu ialah realitas social budaya suatu daaerah
yang ditunjuk secara langsung oleh fiksionalitas suatu karya. Secara intrinsic dalam
struktur karya sastra, warna lokal selalu dihubungkan dengan unsure pembangkitnya,
yaitu latar belakang, penokohan, gaya bahasa, suasana. Dalam konteks sastra sebagai
system tanda, warna lokal selalu dikaitkan dengan kenyataan hidup itu ialah
kenyataan social budaya dlam arti luas, yang antara lain berkomponen aspek adat-
istiadat, agama, struktur social atau system kekerabatan (K. Mahmud, 1987 dalam
Purba, 1997:61).


       Contoh-contoh novel Indonesia kontemporer yang kembali ke akar tradisi
atau warna lokal itu antara lain Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi yang
bertadisi Jawa. Rafilus karya Budi Dramayang bertradisi Jawa.        Umar Kayam,
dengan novelnya Para Priyayi (1995) yang juga bertadisi Jawa dan Para Priyayi
2:Jlanan Upacara (1987) yang bertradisi Kalimantan, Darman Moenir dengan
Bokonya (1978) dan Wirsran Hadi dengan novel Tamu (1996) yang bertradisi
Minangkabau, Ngarto Perbruana dengan Menolak untuk Pulang (2000) yang
bertradisi Kalimantan khususnya Dayak.

								
To top