Docstoc

makalah politik di aceh - DOC

Document Sample
makalah politik di aceh - DOC Powered By Docstoc
					                                        BAB I
                                  PENDAHULUAN




A. Latar Belakang
       Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan bahwa aktivitas terorisme
yang terbongkar di Nangroe Aceh Darussalam belum lama ini bukan berasal dari unsur
Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Kepala Negara mengungkapkan hal itu di Kantor
Presiden di Jakarta Jumat siang saat memimpin rapat terbatas bidang politik hukum dan
keamanan mengenai penegakan hukum dan pencegahan terorisme."Benar-benar
kelompok teroris, yang mengorganisasi diri dengan rapi, memilih tempat-tempat daerah
latihan di Aceh, dengan harapan orang sekarang tidak lagi melihat Aceh sebagai daerah
konflik," katanya. Menurut Kepala Negara, ada pihak-pihak yang berharap Indonesia
terlena sehingga mereka dapat mempersiapkan segalanya untuk aksi-aksi terorisme.
"Saya memberikan apresiasi terhadap apa yang dilakukan jajaran politik hukum dan
keamanan terutama jajaran Polri dibantu oleh yang lain yang selalu melaksanakan operasi
untuk pemberantasan terorisme atau sel-sel terorisme di Aceh," katanya. Presiden
meminta semua bekerjasama sebaik-baiknya, antara bupati, walikota dengan aparat
keamanan serta ulama dan tokoh masyarakat di Aceh. "Sampaikan betul bahwa ini adalah
sel dan unsur teroris.


B. Laporan
       Saya mendapatkan laporan bahwa pemimpinnya pun bukan orang Aceh dan
sebagian dari mereka berasal dari luar Aceh," katanya. Sementara itu Tim gabungan dari
Detasemen Khusus 88 Antiteror dan Kepolisian NAD menangkap 15 orang yang diduga
memiliki kaitan dengan terorisme di Pegunungan Jalin, Kecamatan Jantho, Kabupaten
Aceh Besar. Penangkapan telah dimulai sejak 20 Febuari lalu. Satu diantara mereka,
yang berinisial AB dilaporkan tewas ditempat oleh media karena menyerang polisi.
Polisi juga menyita barang bukti berupa empat senjata api laras panjang, 24 magasin dan
satu granat asap selain berbagai atribut seperti seragam rompi militer serta sejumlah
dokumen.



                                          1
                                        BAB II
                                   PEMBAHASAN




A. Terorisme
         Terorisme di aceh merupakan sebuah istilah yang saat ini banyak digembar-
gemborkan oleh media massa dunia. Tulisan ini ingin mendefinisikan istilah terorisme
dalam perspektif yang luas dan membedakannya dengan perjuangan rakyat membela
negaranya    dan   pembebasan    wilayah    mereka.   Ini   berarti   bahwa   kita   akan
mempertimbangkan langkah-langkah berikut. Pertama-tama, mengacu pada referensi-
referensi Islam guna menentukan kriteria utama, mengidentifikasikan prinsip-prinsip
yang menjadi sumber dalam menilai tujuan dan tindakan kemanusiaan, dan menjadikan
prinsip-prinsip tersebut sebagai basis penilaian kita dalam menghadapi kasus-kasus yang
beraneka ragam.
         Kedua, mencek sifat alamiah manusia yang terbebas dari kepentingan terbatas,
untuk mengidentifikasi peraturan-peraturan manusia yang dapat diketengahkan di kancah
internasional sebagai kriteria manusia yang general. Oleh karena itu, hasil sudi kami ini
mesti meliputi berbagai masalah internasional dan menggambarkan kerangka kerja yang
general.
         Ketiga, berdasarkan kemanusiaan dan Islam, kami menyimpulkan definisi yang
eklusif dan komprehensif, misalnya memasukkan seluruh kriteria terorisme yang nyata
dan mengecualikan kriteria terorisme yang sebenarnya termasuk prinsip-prinsip yang
luhur.
         Keempat, kemudian, kita mengaplikasikan kriteria-kriteria yang disampaikan
tersebut ke contoh-contoh terorisme nasional dan internasional. Kita menceknya satu
persatu berdasarkan hasil-hasil yang telah dibuat, lalu menyampaikan penilaian yang
cocok dan pas, yang terbebas dari segala kesamaran atau kelicikan dan memberi kata sifat
yang benar pada masing-masing tindakan.




                                           2
B. Batasan Studi
        Berdasarkan pengantar ini, kami membatasi studi kami pada poin-poin berikut.
Poin Pertama, seperti yang dimafhumi bahwasanya setiap blok internasional, setiap
negara bagian atau bahkan setiap masyarakat memiliki musuh dan lawan yang akan
dihancurkannya, dan tatkala konflik semakin memanas, masing-masing kelompok
mencoba menurunkan reputasi yang lainnya dengan menyandangkan nama-nama buruk
seperti anarkis, krimininal, tidak syah, tidak manusiawi, teroris dan lain sebagainya.
Mungkin juga kita mendapati dua kelompok bekerjasama dalam melakukan tuduhan-
tuduhan keji tersebut dengan tujuan menghilangkan hak-hak kelompok lain dengan dalih
keterlibatan dengan kelompok musuh atau berencana melawan hukum.


        Untuk mewujudkan proses ini, masing-masing kelompok menggunakan pengaruh
internasional guna membujuk kelompok lain untuk bergandengan tangan dengannya baik
dalam tindakan atau dalam pertemuan internasional. Jadi isu ini menyatakan sebuah
karakter yang umum dan kemenangan pada suatu kasus merupakan sebuah permasalahan
tekan-menekan, pengaruh dan kekuatan persuasi, bukannya permasalahan yang logis.
Oleh karenanya, perasaan dipengaruhi dan sentimen dieksploitisir demi mewujudkan
rencana yang dimotivasi oleh kepentingan pribadi, misalnya atas nama anti-teroris.
Jelasnya terorisme merupakan hal yang secara manusiawi buruk (bila mengabaikan motif
dan tujuannya), dan tak seorangpun akan menerima ancaman dalam bentuk apapun,
seperti ancaman atas kehormatan, kebebasan, kesejahteraan, keimanan, pekerjaan dan
lain-lain. Perasaan ini bersifat instintif, alami dan pasti.
        Poin kedua, kita merenungkan kata "terorisme" pada satu sisi, dan akibat serta
dampaknya bagi kehidupan manusia pada sisi lain, maka kita akan mengetahui bahwa
terorisme mungkin dilakukan dalam beberapa tingkat. Ada terorisme di aceh yang
mengganggu keamanan, harkat martabat, harta milik, dan lain-lain. Ada terorisme budaya
yang mencabik-cabik identitas kemanusiaan, dan menyebabkan kehancuran dan
ketidakpastian; ada pula terorisme informasi yang merampas kebebasan manusia
menghirup udara segar. Kita dapat menyebutkan jenis-jenis terorisme lain, seperti
terorisme ekonomi, terorisme ilmiah, terorisme diplomatik, terorisme militer dan lain-
lain.



                                                3
       Namun, kitapun dapat menemukan pembagian terorisme berdasarkan tipe
pelakunya, yaitu terorisme resmi dan tidak resmi. Yang lebih berbahaya dari tipe ini
adalah terorisme resmi yang terdiri dari tindakan-tindakan yang didukung oleh markas
atau negara yang telah dikenal secara internasional, baik oleh angkatan bersenjata negara
tersebut atau elemen-elemen individu atau dalam bentuk operasi yang menguntungkan
markas tersebut. Yang berseberangan dengan tipe ini adalah terorisme tidak resmi.
Poin ketiga, kita mungkin bisa berfokus pada dua faktor yang signifikan: motif pelaku
dan penerimaan orang atas tindakannya.
       Hal-hal di atas merupakan aspek-aspek yang amat berkaitan. Motif personal
seorang pelaku mungkin tampak manusiawi bagi seseorang tapi mungkin tidak begitu
bagi rakyat. Sebaliknya, pelaku mungkin tidak merencanakan sesuatu yang manusiawi
namun menurut pendapat publik hal-hal yang direncanakan itu manusiawi.


       Oleh karena itu, setiap pendapat mungkin memiliki penilaian yang berbeda-beda
apakah penilaiannya baik atau buruk (hukum ushuli mempunyai peran besar dalam
penyelidikan berdasarkan rasio yang membedakan antara perbuatan baik dan buruk,
namun bukan tempatnya pembahasan masalah ini di sini). Yang mesti dinyatakan di sini
bahwa faktor-faktor tersebut, yang diambil secara terpisah menentukan kebaikan atau
keburukan suatu tindakan atau menilai suatu tindakan positif atau negatif. Penilaian
positif berdasarkan dua faktor tersebut harus diterapkan untuk menilai dan bertindak.
Oleh karena itu kita mesti meyakini objektivitas investigasi kita yang menemukan sebuah
kriteria untuk mengidentifikasi suatu kesepakatan dan humanitas suatu tindakan dari
sudut pandang Islam dan manusia secara umum. Adapun yang berkaitan dengan sudut
pandang Islam, kita mesti mengacu pada prinsip-prinsip, konsep-konsep dan penilaian-
penilaian yang berkaitan dengan pertanyaan tentang teroris – dalam arti yang harfiah –
untuk mendapatkan definisi umum terorisme yang keji, yaitu terorisme yang ditolak oleh
Islam yang bertentangan dengan proses kesempurnaan manusia yang ditetapkan oleh
Allah Yang Mahakuasa kepada umat manusia melalui sifat manusia dan diterangkan
berdasarkan wahyu.




                                            4
C. Perspektif Ajaran Islam
       Bila mana mengacu pada ajaran Islam, kita mendapati informasi yang melimpah
ruah mengenai hal ini, dan kita menyaksikan bahwa para ahli hukum Islam telah
mengkaji aspek-aspek yang berkaitan dengan persoalan ini. Kita memiliki pendapat
mengenai al-baghi, yaitu pemberontakan bersenjata menentang pemerintahan yang sah
dan adil, intimidasi kepada khalayak banyak dan penyelidikan atas tujuan politik yang
bermaksud memecah belah serta membahayakan keutuhan nasional.
Kita juga memiliki pendapat mengenai al-harabah, yang berdefinisi "penggunaan senjata,
di darat dan di laut, siang atau malam hari, untuk mengintimidasi rakyat, kota-kota atau
daerah lainnya, oleh laki-laki atau perempuan lemah dan kuat." Allah Swt berfirman
dalam al-Quran:


       Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan
Rasul-Nya dan membuat kerusakan di atas bumi hanyalah mereka dibunuh atau disalib,
atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri.
Yang demikian itu suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka
beroleh siksaan yang besar. (QS. 5:33)


       Ayat tersebut menyebutkan subjek dan tujuan yaitu perang melawan masyarakat
dan menyebarkan kerusakan di atas bumi. Juga disebutkan hukuman berat yang
ditimpakan pada pelakunya, hal ini menunjukkan perhatian Islam pada permasalahan ini.
Ada pula hukum-hukum tentang pencuri dan pembunuhan yang dapat disebutkan dalam
masalah ini. Kita juga mendapati teks Islam yang berkenaan dengan ini, misalnya
pembunuhan (al-fatk), penipuan (al-ghilah) dan persekongkolan jahat (al- I’timar).
Terdapat juga teks-teks yang menetapkan penghormatan mendalam atas perjanjian
bahkan bila ditemukan kemudian bahwa perjanjian tersebut menguntungkan orang lain.
Selama dia taat pada ketetapan, perjanjian ini mesti diperhatikan.
Lebih jauh lagi, kita juga mendapati persyaratan sistem moral Islam yang terdiri dari
konsep-konsep yang tidak diketahui oleh hukum positif namun berakar secara mendalam
pada sistem ini. Misalnya berbohong termasuk dosa besar dan begitu pula fitnah. Oleh
karena itu, kita meyakini bahwa Islam benar-benar melindungi seluruh bentuk kebebasan



                                             5
manusia yang sebenarnya, dan melindungi harkat martabat individu dan masyarakat, juga
kepaduan masyarakat dan integritas keluarga. Islam memandang segala bentuk
penyerangan atas mereka sebagai kejahatan besar yang mesti dihukum seberat-beratnya
seperti hukuman mati, penyaliban dan sebagainya.
Islam menegakkan prinsip tanggung jawab personal dan memandang serangan berupa
apapun terhadap orang tak berdosa sebagai kejahatan besar. Islam berorientasi pada
perlindungan pada si lemah, si tertindas dan menyeru jihad untuk melindungi mereka:
"Dan mengapakah engkau tidak berperang karena Allah, dan orang-orang tua laki-laki
dan wanita yang tidak berdaya …" (QS. 4:75).
       Umat Islam diharuskan senantiasa membela orang tertindas hingga mereka
mendapatkan hak-hak mereka. Imam Ali as memberi nasehat pada kedua anak laki-
lakinya: "Jadilah kalian penentang para penindas dan pelindung para tertindas." Beliau
juga berkata: "Bagiku orang yang rendah adalah mulia hingga aku memperoleh hak-hak
untuk mereka, dan orang yang kuat adalah lemah hingga aku memperoleh hak-hak dari
mereka."
       Mungkin kata-kata tersebut sejalan dengan al-Quran yang berbicara mengenai
karunia keamanan: "Dan telah membuat mereka bebas dari rasa sakit" (QS. 106:4)
merupakan bukti terkuat mengenai pentingnya keamanan dalam Islam.
Namun, untuk mengelaborasi seluruh persoalan yang berkaitan dengan ini membutuhkan
waktu lama sekali. Kita berpendirian bahwa kriteria pertama untuk mengetahui kebaikan
adalah niat si pelaku, dan kelayakan tindakannya adalah bila diiringi spirit dîn, baik
hukum ataupun konsepnya.
       Kita alihkan perhatian kita pada kerangka pikir kedua, yaitu kerangka pikir
manusia secara umum. Kita dapat menerima prinsip-prinsip yang disepakati secara
mutlak oleh manusia seperti yang ditunjukkan oleh aparat pemerintahan resmi, organisasi
popular, kesadaran dan sentimen, sebagai kriteria lain untuk menentukan adanya
kebaikan atau keburukan niat si pelaku, dan kebaikan umum yang disebutkan di atas
(walaupun kedua kriteria tersebut tumpang tindih).
Dari contoh berikut, kita dapat menyaksikan kesepakatan umum manusia pada saat ini
dalam menilai sesuatu yang tidak manusiawi.




                                           6
1. Prostitusi dan disintegrasi hubungan keluarga.
2. Narkotik dan disintegrasi kepribadian rasional individu.
3. Kolonialisme dan perusakan harkat martabat manusia serta penjarahan sumber
kehidupannya.
4. Rasisme dan disintegrasi persaudaraan manusia.
5. Pelanggaran semua hak yang jelas dan merusak kesepakatan.
6. Pemboman atas area yang berpenduduk, menggunakan senjata kimia, menyerang kapal
terbang sipil, bandara nasional, kendaraan komersial dan turis, dan metode-metode
sejenisnya yang secara universal dikutuk dalam peperangan.
        Tidak ada perbedaan apapun berkenaan dengan hal-hal di atas. Oleh karena itu,
hal-hal tersebut dan hal-hal lainnya yang serupa bisa dimasukkan dalam satu definisi, dan
segala tindakan untuk memusnahkannya dan menentangnya merupakan tindakan yang
mesti didukung bila tidak diiringi praktik menindas nilai kemanusiaan lainnya.
Poin keempat, definisi terorisme. Berdasarkan pandangan di atas, kita dapat membuat
definisi terorisme yang komprehensif, definisi yang diterima secara bulat dan tempat kita
mengacu.
Namun sebelum mengetengahkan definisi seperti itu, kita sebaiknya memperhatikan
butir-butir berikut:
1. Intimidasi dan pelanggaran atas berbagai jenis keamanan.
2. Niat dan motif yang tidak manusiawi.
3. Ketidakbenaran tujuan dan maksud serta praktek suatu perbuatan menurut ukuran
manusiawi.
        Oleh karena itu, definisi yang mungkin memadai adalah sebagai berikut:
Terorisme adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk meraih tujuan yang tidak
manusiawi dan buruk (mufsid) dan mengancam segala macam jenis keamanan, dan
pelanggaran atas hak asasi yang ditegaskan oleh agama atau manusia.
Agar lebih jelas maka lihatlah poin-pin berikut:
1. Kita menggunakan istilah "manusia" sebagai ganti kata "internasional" agar lebih
diterima, resmi atau tidak resmi, untuk menekankan karakter manusia yang general.




                                            7
2. Kita memperkenalkan kata "korup" (mufsid) untuk mengkonotasikan sifat yang
bertujuan tidak manusiawi, yaitu menyebarkan kerusakan di atas bumi, dan
mencantumkan seruan untuk menghindari tujuan-tujuan buruk tersebut.
3. Kita menyebut berbagai jenis terorisme dengan istilah: "Keamanan dalam bentuk
apapun."
4. Kita menyebutkan dua kriteria, yaitu agama dan manusia, pertama-tama untuk menjaga
kekonsistenan dengan keyakinan kita dan kemudian untuk menggeneralisir kriteria
tersebut.
5. Seperti yang kita ketahui, fakta bahwa sebuah operasi disebut kasar tidak selalu
menyatakan sebuah kondisi yang mirip terorisme. Berdasarkan definisi di atas, kita bisa
menentukan suatu operasi termasuk terorisme atau tidak. Kita tegaskan bahwa definisi
yang kita buat tidak meliputi hal-hal berikut:
a. Tindakan pembelaan negara yang menghadang kekuatan musuh, penjajah dan
penjarah.
b. Perlawanan rakyat atas klik-klik yang dipaksakan pada mereka oleh angkatan
bersenjata.
       Islam, dalam menentang seluruh kasus penyimpangan dengan kuat menekankan
aspek ini. Islam pertama-tama mereformasi suasana sosial dan menghilangkan seluruh
sumber kejahatan. Islam juga menekankan pengekangan diri melalui pendidikan jiwa
yang amat mendalam dan membuatnya mampu mengelak secara spontan terhadap segala
hal yang melanggar norma dan peraturan manusia yang telah ditentukan oleh syariat.
Selain itu, Islam tidak mengabaikan sangsi yang komprehensif, realistis dan fleksibel
sesuai dengan efek sosial yang diakibatkan.
       Kembali ke realitas saat ini, kita mesti mengetahui kelaziman dari suatu sistem
yang adil dan mencegah agresi dan pelanggaran batas atas hak-hak orang lain.
Berdasarkan keadaan seperti ini, bila ada seseorang melakukan tindakan teror atau agresi
maka seluruh manusia akan bangkit menentangnya. Namun, bila kita tidak mampu
memenuhi standar ini, maka seluruh perlakuan kita akan bersifat lokal dan ringan;
walaupun perlakuan kita ini mungkin meringankan kesusahan, tetapi tidak akan
memberangus sebab penyakitnya.




                                              8
D. Bentuk-bentuk Terorisme
       Secara kategoris, gerakan terorisme dilihat dari aspek spiritnya, dapat dibedakan
dalam beberapa kategori, diantaranya:
1. Semangat Nasionalisme
             Pejuang kemerdekaaan, umumnya menggunakan kekerasan politik untuk
melawan rezm penjajah. Memang kekerasan politik tidak selalu identik dengan terorisme.
Kekersan politik dalam artian kerusuhan massal, perang saudara, revolusi, atau perang
antar bangsa, tidak termasuk kategori terorisme. Namun demikian, terorisme itu sendiri
sering terjadi berkaitan kekerasan-kekerasan politik tersebut.
       Contoh terorisme dengan spirit nasionalisme ini dapat ditemukan di Aljazair,
Palestina, dan sejumlah negara jajahan di masa suburnya kolonialisme.
2. Semangat Separatisme
       Terorisme karena semangat separatis juga dapat terjadi melalui kekerasan politik.
Kekerasan politik yang dipilih sebagai perjuangan oleh kaum separatis, cenderung
diklaim sebagai bentuk teror oleh opini dunia. Pemberanian opini dunia itu sangat logis.
Sebab, kekerasan politik yang dieksploitasi gerakan separatis selalu memenuhi premis
dasar terorisme, yaitu menggunakan ancaman kekerasan dan atau kekerasan untuk
menimbulkan ketakutan di lingkungannya. Menurut mereka pembunuhan dengan tujuan
untuk mendapatkan keadilan bukanlah soal yang harus dirisaukan, bahkan sasarannya
adalah mereka yang tidak berdosa.
       Gerakan separatisme jenis ini hampir terdapat di banyak negara, seperti; IRA di
Irlandia, Macan Tamil Ealam di Srilanka, SPLA di Sudan, MNLF di Philipina, dan
Gerakan Aceh Merdeka, Republik Maluku Selatan atau Organisasi Papua Merdeka di
Indonesia.


3. Semangat Radikalisme Agama
       Kelompok-kelompok radikal agama pun ditengarai menggunakan teror untuk
memperjuangkan kepentingannya. Kekerasan politik dalam bentuk teror seringkali
dijadikan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Kelompok jihad di Mesir, jihad di Yaman,
National Islamic Front di Sudan, Al-Qaedah yang berbasis di Afganistan, Jamaah
Islamiyah yang berbasis di malaysia, atau kelompok-kelompok radikal Yahudi seperti



                                             9
Haredi, Gush Emunim, Kach Kabane di Israel adalah sekedar contoh elemen-elemen
dengan spirit radikalisme agama yang cenderung mengedepankan budaya kekerasan dan
terorisme.
4. Gerakan Terorisme yang didorong oleh Spirit Bisnis
       Narcoterorism di Myanmar yang dikenal dengan sebutan United War State Army
adalah kelompok teroris yang berlatar belakang perdagangan narkotika dan obat-obatan
terlarang.. Di Jepang juga dikenal Yakuza, yaitu organisasi di kalangan dunia hitam yang
melakukan bisnis illegal dengan mengedepankan metode teror sebagai cara untuk
mencapai tujuan.
E. Sedangkan bentuk-bentuk teroris ditinjau dari segi sejarah terdiri dari:
   1. Pembunuhan politik terhadap pejabat pemerintah yang terjadi sebelum perang
       dunia II.
   2. Terorisme dimulai di Aljazair di tahun limapuluhan, dilakukan oleh FLN yang
       mempopulerkan “serangan yang bersifat acak” terhadap masayrakat sipil yang
       tidak berdosa. Hal ini untuk melawan apa yang mereka (Algerian Nationalist)
       disebut sebagai “terorisme negara”.
   3. Terorisme muncul pada tahun enampuluhan dan terkenal dengan istilah
       “terorisme media”, berupa serangan acak atau random terhadap siapa saja dengan
       tujuan publisitas.


              Selain itu, bentuk-bentuk terorisme dilihat dari pelakunya ada yang
personal,; terorisme yang bersifat kolektif, dan terorisme yang dilakukan negara.
Terorisme dalam bentuk personal ini, biasanya dilakukan dalam bentuk pengeboman
seseorang pada orang lain atau kelompok dengan tujuan pribadi, dendam, atau bom
bunuh diri.
              Sedangkan terorisme yang bersifat kolektif, para teroris melakukan
operasinya dengan suatu perencanaan. Biasanya teroris semacam ini dilembagakan dalam
sebuah jaringan yang rapi, seperti yang sering disebut-sebut sebagai al-Qaedah. Sasaran
terorisme dalam kategori ini adalah simnbol-simbol kekuasaan dan pusat perekonomian.
       Adapun terorisme yang dilakukan di aceh biasanya disebut sebagai “state
terorism” terorisme oleh negara. Penggagasnya adalah perdana menteri Mahathir



                                             10
Muhammad. Menurutnya, terorisme yang dikerahkan di aceh , tidak kalah dahsyatnya
dari terorisme personal maupun kolektif. Perbedaanya adalah kalau terorisme personal
dan kolektif biasa dilaksanakan secara sembunyi- sembunyi, sedangkan terorisme yang
dilakukan oleh negara dilakukan secara terang-terangan dan dapat diliha dengan kasat
mata.
Sementara, Densus 88 hingga kini juga belum merilis secara resmi identitas 12 orang
yang ditangkap itu. Namun, inilah daftar mereka yang ditangkap:.
1. Andriansyah, anggota Jamaah Anshar Tauhid ditangkap di Pejaten Barat
2.   Solehudin,   anggota    Jamaah    Anshar        Tauhid   ditangkap   di   Pejaten   Barat
3. Yanto Abdillah, anggota Jamaah Anshar Tauhid ditangkap di Pejaten Barat
4. Ustadz Mahali atau Mahali Abdul Jabal, anggota Jamaah Anshar Tauhid, seorang guru,
ditangkap di Pejaten Barat

        Di masa Orde Baru, sejumlah putera asal Aceh ditengarai pernah mengikuti
program pelatihan separatis di Libya. Mereka bergabung dengan pejuang Front
Pembebasan Nasional Moro di Filipina Selatan. Dugaan ini secara empiris tidak pernah
terbukti atau berhasil dibuktikan. Kabar keterlibatan itu laku menghilang bersamaan
tercapainya perdamaian antara pemerintah Filipina dan MNLF, pimpinan Nur Misuari di
akhir 1980-an.

        Pasca-Perang Indochina di pertengahan 1970-an, sejumlah media internasional
melaporkan adanya berbagai senjata peninggalan pasukan AS di Vietnam dan Kamboja
yang dijual di Birma, Thailand Selatan, dan Aceh. Wilayah yang menjadi tempat
transaksi jalur Selat Malaka.

        Bahkan perompakan sejumlah kapal yang melintasi Selat Malaka beberapa kali
dikaitkan dengan GAM. Selat Malaka saat ini kembali dinyatakan sebagai jalur
internasional yang rawan perompakan, bahkan berubah sebagai jalur penghadangan
kelompok teroris. Semua paparan di atas memberi peringatan kepada semua kalangan
yang cinta pada perdamaian NKRI untuk melihat terbongkarnya sarang teroris di Aceh
sebagai peristiwa yang tidak berdiri sendiri.




                                                11
                                       BAB III
                                     PENUTUP




A. Kesimpulan
       Dengan adanya terorisme di aceh merupakan sebuah istilah yang saat ini banyak
digembar-gemborkan oleh media massa dunia. Tulisan ini ingin mendefinisikan istilah
terorisme dalam perspektif yang luas dan membedakannya dengan perjuangan rakyat
membela negaranya dan pembebasan wilayah mereka


B. Saran
       Kami sadar makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itulah saran

dan kritik yang bersifat membangun masih sangat kami harapkan guna penulisan

makalah kami selanjutnya agar menjadi lebih baik.




                                          12
                              DAFTAR PUSTAKA




Abas, Paridah, 2005, Orang Bilang, Ayah Teroris, Jazera, Solo Abdul Gani, Roeslan,
1995, Proses Perumusan Cita Hukum dan Asas-asas Hukum Dalam Periode 1908-1945,


Pendekatan Historis-Empiris dan Teori Analisis, dalam Majalah Hukum Nasional Nomor
1, 1995, Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman, Jakarta.


Abdullah, Irwan, 2006, Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta.




                                       13

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:868
posted:8/21/2010
language:Indonesian
pages:13