Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

JARINGAN SARAF

VIEWS: 2,559 PAGES: 157

									   ASPEK HISTOLOGIS DALAM
            NEUROSAINS
All images in this document is removed
      due to copyright restriction




                     dr. Ahmad Aulia Jusuf, PhD
     Bagian Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
                                2009
    PENGANTAR
   Fragmen kehidupan I
       Pujo, mhs FKUI tk IV
             berangkat ke kampus dgn mengendarai mobil. Sesaat sebelum berangkat ia berdoa
              agar selamat dalam perjalanan.
             Pagi itu jalan tampak ramai sekali. Sambil menyetir ia mendengarkan lagu klasik
              kesukaannya. Dengan trampil ia menggunakan kedua kakinya untuk mengatur laju
              kendaraannya. Kedua tangannya tak kalah trampilnya mengendalikan kemudi.
              Sekali-sekali tanganya mengambil makanan atau minuman ringan yang tersedia di
              dekat kemudi. Kadang-kadang ia bersiul ikut menirukan melodi lagu tersebut.
             Walaupun begitu pikirannya berusaha untuk mengingat patofisologi dan terapi
              penyakit-penyakit saraf yang telah dipelajarinya semalam. Yah .. Hari itu ternyata ia
              akan ujian neurologi.
             Tiba-tiba ia teringat akan Surti, gadis desa yang manis, lincah dan ramah, anak pak
              Camat yang dijumpainya saat ia dan teman-temannya melakukan bakti sosial 3 bulan
              silam. Terbayang di benaknya beberapa peristiwa manis bersama gadis tersebut.
              Ingin sekali ia berkenalan lebih lanjut dengan gadis pemikat hatinya tersebut, tetapi
              sayang mereka berada di kecamatan tersebut hanya untuk 1 minggu. Meskipun
              begitu ia sempat mencatat nomer telepon rumah pak camat tersebut.
             Tiba-tiba ia tersadar dari lamunannya ketika klakson dari mobil dibelakangnya
              menyalak dengan sangat bersemangat. Ternyata lampu merah didepannya telah
              berubah menjadi hijau
    Friday, August 20,                 Aspek Histologi Dalam
    2010                              Neurosains/AAJ/Histologi                                2
PENGANTAR
   Fragmen Kehidupan II
        Wiji, anak seorang petani penggarap di daerah yang tandus, usia 8 th
              Sudah 5 hari terbaring lemah di tempat tidur di ruang ICU salah satu RS di
               daerah. Tampak selang makanan terpasang melintas di salah satu lubang
               hidungnya, sementara selang nafas terpasang langsung ke dalam trakea
               melintasi rongga mulutnya. Di tangan dan kakinya terpasang selang-selang
               infus.
              Mukanya tampak tegang, sementara sekujur tubuhnya yang tadinya kaku
               mulai melemas, begitu juga mulutnya yang tadinya terkatup erat mengancing
               mulai melemas. Kejang-kejang sekujur tubuhnya kadang masih muncul.
              Luka akibat menginjak paku berkarat pada telapak kaki kanannya mulai
               membaik.
              Yah, ia merupakan salah seorang penderita penyakit tetanus




Friday, August 20,                 Aspek Histologi Dalam
2010                              Neurosains/AAJ/Histologi                              3
PENGANTAR
   Pikirkan
       Bagaimana aktivitas-aktivitas yang terjadi pada fragmen I
        dan II dapat terjadi ?
       Bagaimana begitu banyak aktivitas dapat berlangsung
        sekaligus ?
       Struktur apa yang mengatur semua aktivitas tersebut ?
       Mengapa dapat terjadi aktivitas yang tidak normal pada
        fragmen II ?
       Mengapa luka di kaki dapat mempengaruhi sistem saraf
        di tubuh anak tersebut ?




Friday, August 20,         Aspek Histologi Dalam
2010                      Neurosains/AAJ/Histologi                  4
PENGANTAR
 Semua Aktivitas kehidupan sehari-hari tidak
  terlepas dari kontrol, kerja dan berfungsinya
  jaringan saraf
 Terganggunya aktivitas jaringan saraf akan
  berdampak luas terhadap kerja jaringan atau
  organ tubuh lainnya.



Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi     5
PENGANTAR
 Semua Aktivitas kehidupan sehari-hari tidak
  terlepas dari kontrol, kerja dan berfungsinya
  jaringan saraf
 Terganggunya aktivitas jaringan saraf akan
  berdampak luas terhadap kerja jaringan atau
  organ tubuh lainnya.



Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi     6
 PENGANTAR
 Tujuan khusus modul
   Struktur  mikroskopik, histofisiologis dan
      histodinamika jaringan saraf
         Definisi dan klasifikasi jaringan saraf
         Embriologi sistem saraf

         Sel saraf
                 Inti dan sitoplasma
                 Akson dan dendrit
                 Transportasi aksonal
         Sinaps
         Sel penyokong (neuroglia)




 Friday, August 20,              Aspek Histologi Dalam
 2010                           Neurosains/AAJ/Histologi   7
 PENGANTAR
 Tujuan khusus modul
   Struktur          mikroskopik susunan saraf pusat
         Serebrum (Cerebrum)
         Serebellum (Cerebellum)

         Medula spinalis (spinal cord)

   Struktur          mikroskopik susunan saraf tepi
         Ganglia
         Serat saraf

         Selubung serat saraf

         Badan akhir saraf

   Regenerasi           serat saraf
 Friday, August 20,            Aspek Histologi Dalam
 2010                         Neurosains/AAJ/Histologi   8
    Struktur mikroskopik, histofisiologis
      dan histodinamika jaringan saraf
   Jaringan Saraf
        Nervous = dapat dirangsang
        Salah satu dari 4 jaringan dasar penyusun tubuh
        Disusun oleh sel-sel saraf (neuron) dan sel-sel
         penyokong (neuroglia/sel glia)
        Fungsi: komunikasi




    Friday, August 20,     Aspek Histologi Dalam
    2010                  Neurosains/AAJ/Histologi         9
Struktur mikroskopik, histofisiologis
  dan histodinamika jaringan saraf
   Jaringan Saraf di seluruh
    tubuh manusia




Friday, August 20,        Aspek Histologi Dalam
2010                     Neurosains/AAJ/Histologi   10
Struktur mikroskopik, histofisiologis
  dan histodinamika jaringan saraf
Klasifikasi
   Anatomis                                        Fungsional
        Susunan saraf pusat                             Sensoris
              Otak                                               Somato-sensoris
              Medula spinalis                                    Visero-sensoris
        Susunan saraf tepi                              Motoris
              Saraf kranialis ……. 12                             Somato-motoris
              Saraf spinalis …….. 31                             Visero-motoris (Sistem
              Sistim saraf otonom                                 saraf otonom)
                    Simpatis
                    parasimpatis

Friday, August 20,                   Aspek Histologi Dalam
2010                                Neurosains/AAJ/Histologi                                11
Struktur mikroskopik, histofisiologis
  dan histodinamika jaringan saraf
Klasifikasi
 SSP                     SST




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   12
Struktur mikroskopik, histofisiologis dan
      histodinamika jaringan saraf
Klasifikasi
   Sistem Saraf Autonom
        Parasimpatis                       Simpatis




Friday, August 20,       Aspek Histologi Dalam
2010                    Neurosains/AAJ/Histologi       13
      Struktur mikroskopik, histofisiologis
        dan histodinamika jaringan saraf
    Embriologis
   Minggu ke 3
   Proses pembentukan
        Lempeng saraf (neural plate)
        Lipatan saraf (neural folds)
        Alur saraf (neural groove)
        Tabung saraf (neural tube)
             Gelembung otak utama
              (primary brain vesicle) dan
              medula spinalis---- SSP
             Sel-sel neural krest (Neural
              Crest cells)--- saraf tepi

    Friday, August 20,               Aspek Histologi Dalam
    2010                            Neurosains/AAJ/Histologi   14
  Struktur mikroskopik, histofisiologis
    dan histodinamika jaringan saraf
Embriologi




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   15
 Struktur mikroskopik, histofisiologis
   dan histodinamika jaringan saraf
Embriologi
    Histogenesis sel-sel di SSP




Friday, August 20,       Aspek Histologi Dalam
2010                    Neurosains/AAJ/Histologi   16
  Struktur mikroskopik, histofisiologis
    dan histodinamika jaringan saraf
Embriologi
    Sel-sel Krista Neuralis (Neural Crest cells)




Friday, August 20,        Aspek Histologi Dalam
2010                     Neurosains/AAJ/Histologi   17
      Struktur mikroskopik, histofisiologis
        dan histodinamika jaringan saraf
Embriologi
Perkembangan sel-sel neural krest (neural crest cells)
   Sel-sel saraf Tepi              Melanosit
        Dorsal root ganglia        Sel Schwann
        Saraf kranial
                                    Sel-sel kromafin di medula
        Saraf simpatis dan
                                     adrenal
         parasimpatis
        Ganglia enterikus          Odontoblas
        Ganglia sakralis           Beberapa tulang rawan dikepala
        Ganglia Vesikalis           dan lengkung faring

    Friday, August 20,          Aspek Histologi Dalam
    2010                       Neurosains/AAJ/Histologi               18
Struktur mikroskopik, histofisiologis
  dan histodinamika jaringan saraf
   Komponen jaringan saraf
         Sel saraf (neuron)
         Sel Penyokong atau neuroglia (sel glia)




Friday, August 20,         Aspek Histologi Dalam
2010                      Neurosains/AAJ/Histologi   19
      Struktur mikroskopik, histofisiologis
        dan histodinamika jaringan saraf
SEL SARAF (NEURON)
   Saraf (Gr. Neuron=nerve)
        Differensiasi paling tinggi
        Tidak dapat membelah lagi
        Jumlahnya diduga 14 milyar
        Histologis
              Badan sel (Perikarion)
              Juluran / taju saraf (prosesus saraf)
                    Akson
                    Dendrit



    Friday, August 20,                Aspek Histologi Dalam
    2010                             Neurosains/AAJ/Histologi   20
SEL SARAF (NEURON)
   Badan sel saraf (Perikarion)
       Ukuran 4-135 mm
       Bentuk: piramid, lonjong,
        bulat
       Struktur
            Inti (mata burung hantu / owl
             eye)
                 Bulat, lonjong
                 Pucat

                 Di tengah perikarion

            Sitoplasma
                  Organel
                  Badan inklusi

Friday, August 20,                  Aspek Histologi Dalam
2010                               Neurosains/AAJ/Histologi   21
    SEL SARAF
   Sitoplasma
        Organel
              Sitoskeleton
                    Neurofilamen (penyokong)
                    Mikrotubulus (transportasi zat-
                     zat)
              Apparatus Golgi
              Mitokondria
              Retikulum endoplasmik kasar
               (Badan Nissl)
                    HE: basofilik
                    Substansia Tigroid
              Sentriol
                    Pasca lahir ( - )
    Friday, August 20,                    Aspek Histologi Dalam
    2010                                 Neurosains/AAJ/Histologi   22
 SEL SARAF
 Badan inklusi
   Vesikel
   Granula
         Hormon
         Pigmen

         Lipofuksin

         Besi

         Tetes lemak

         glikogen




 Friday, August 20,      Aspek Histologi Dalam
 2010                   Neurosains/AAJ/Histologi   23
JULURAN SARAF
 Juluran saraf
      Akson

      Dendrit




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   24
DENDRIT
   Jumlahnya bisa lebih dari satu
   Pangkalnya tebal dan makin ke
    distal makin tipis
   Duri atau tonjolan (spike /
    gemullae)
   Badan Nissl, ribosom,
    mitokondria, neurofilamen,
    mikrotubulus (+)
   Fungsi: menerima rangsang
    saraf dari akson dan
    meneruskannya ke perikarion.




Friday, August 20,          Aspek Histologi Dalam
2010                       Neurosains/AAJ/Histologi   25
AKSON
   Pangkal akson (Akson Hillock)
   Jumlahnya satu
   mitokondria, neurofilamen dan
    mikrotubulus (+)
   Badan Nissl, ribosom, kompleks
    Golgi (-)
   Sebagian besar bermielin
   Telodendria
   Terminal boton (Boutons
    terminaux
   Fungsi: membawa impuls saraf
    dari badan saraf




Friday, August 20,         Aspek Histologi Dalam
2010                      Neurosains/AAJ/Histologi   26
Jenis Neuron
   Berdasarkan jumlah juluran saraf
        Neuron unipolar
              Neuron unipolar masa embrio
        Neuron bipolar
              Ganglion vestibular
              Ganglion koklear
              Neuron olfaktoris
        Neuron pseudo-unipolar
              Ganglion kraniospinal
        Neuron multipolar
              Neuron motoris kornu anterior
               medula spinalis
              Sel Purkinje di otak kecil
              Sel piramid pada korteks serebri


Friday, August 20,                Aspek Histologi Dalam
2010                             Neurosains/AAJ/Histologi   27
TRANSPORTASI AKSONAL
   Akson tidak dapat mensintesa protein
        Endoplasmik retikulum kasar (Badan Nissl), ribosom,
         kompleks Golgi (-)
   Komponen yang terlibat
        Mikrotubulus
        Protein penggerak (motor protein)
        Vesikel transport
   Arah transportasi aksonal
        Anterograde
        retrograde

Friday, August 20,        Aspek Histologi Dalam
2010                     Neurosains/AAJ/Histologi              28
TRANSPORTASI AKSONAL
 Mikrotubulus
        Organel sel berbentuk silindris
              dibentuk oleh hasil polimerisasi subunit-subunit protein tubulin
               yang berbentuk globular
              Diameter 24 nanometer
              Tersusun oleh
                  Dinding dengan ketebalan 9 nanometer

                  Lumen dengan ketebalan 15 nanometer

                  13 protofilamen protein tubulin yang tersusun secara paralel
                   membentuk dinding mikrotubulus (singlet microtubule)
                      1 protofilamen: kumpulan beberapa heterodimer
                        protein tubulin alfa (+) dan beta (-) yang masing-masing
                        berukuran 4 nanometer dan mengikat GTP
                      Polimerisasi



Friday, August 20,              Aspek Histologi Dalam
2010                           Neurosains/AAJ/Histologi                       29
MIKROTUBULUS




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   30
TRANSPORTASI AKSONAL
 Mikrotubulus
      Struktur
              2 kutub
                    Kutub negatif : dekat dengan perikarion
                    Kutub positif : dekat dengan ujung akson
      Fungsi
              lintasan (track)
                    vesikel transport yang mengandung zat-zat tertentu dari
                     perikarion ke ujung akson dan sebaliknya
                    diperantarai oleh protein penggerak atau motor protein dan
                     membutuhkan energi yang besar yang berasal dari ATP


Friday, August 20,               Aspek Histologi Dalam
2010                            Neurosains/AAJ/Histologi                      31
MIKROTUBULUS




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   32
TRANSPORTASI AKSONAL
   Protein penggerak (motor protein)
        Kinesin
              Mempunyai aktivitas ATP-ase
              Struktur
                    Kepala: berikatan dengan mikrotubulus dan ATP
                    Badan
                    Ekor: berikatan dengan vesikel transport via reseptor kinesin
              Bergerak dari kutub negatif ke kutub positif ( dari perikarion ke
               ujung akson) sepanjang mikrotubulus
              Memerlukan ATP untuk pergerakan




Friday, August 20,                 Aspek Histologi Dalam
2010                              Neurosains/AAJ/Histologi                           33
KINESIN




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   34
TRANSPORTASI AKSONAL
   Dynein
        Mempunyai aktivitas ATP-ase
        Struktur
              Kepala berikatan dengan mikrotubulus dan ATP
              Badan
              Ekor : berikatan dengan membran vesikel transpor via reseptor
               dynein
        Bergerak sepanjang lintasan mikrotubulus dari kutub
         positif (dekat dengan ujung akson) ke kutub negatif
         (dekat dengan perikarion) sepanjang mikrotubulus



Friday, August 20,              Aspek Histologi Dalam
2010                           Neurosains/AAJ/Histologi                    35
DYNEIN




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   36
VESIKEL TRANSPORT
 Berfungsi sebagai kontainer
 Mengangkut
        Protein
        Glikoprotein
        Faktor-faktor untuk pertumbuhan sel saraf
        Protein-protein neurotransmiter
        Dsbnya
   Mempunyai reseptor kinesin atau reseptor
    dynein


Friday, August 20,     Aspek Histologi Dalam
2010                  Neurosains/AAJ/Histologi       37
TRANSPORTASI ANTEROGRAD
 Dari perikarion ke ujung akson
 Komponen yang terlibat
        Mikrotubulus
        Vesikel transpor
        Protein kinesin
   Berdasarkan kecepatan pengangkutannya
        Fast anterograde: 50-400 mm/ hari
              Glikoprotein, glikolipid, protein membran vesikel sinaps,
               bahan-bahan untuk sintesa neurotransmiter
        Slow anterograde: 1-4 mm/ hari
              Aktin, clathrin, calmodulin, enolase, neurofilamen, tubulin

Friday, August 20,               Aspek Histologi Dalam
2010                            Neurosains/AAJ/Histologi                     38
TRANSPORTASI RETROGRAD
 Dari ujung akson ke perikarion
 Komponen yang terlibat
        Mikrotubulus
        Vesikel transport
        Protein dynein
   Materi yang diangkut
        Sisa-sisa membran vesikel sinaps
        Faktor pertumbuhan untuk sel saraf
        Zat-zat sisa
        Zat-zat ekstraselular termasuk toksin dan virus
Friday, August 20,            Aspek Histologi Dalam
2010                         Neurosains/AAJ/Histologi      39
TRANSPORTASI AKSONAL




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   40
Fungsi Neuron
 Komunikasi
 Sifat khas neuron
        Iritabilitas
              Rangsang fisik
              Rangsang kimiawi
      Konduktivitas
   Beberapa neuron di hypothalamus dapat mengeluarkan
    sekret neural berisi hormon vasopressin dan oksitosin




Friday, August 20,            Aspek Histologi Dalam
2010                         Neurosains/AAJ/Histologi       41
 SINAPS
 Tempat transmisi impuls saraf dari satu neuron ke
  neuron lain atau dari neuron ke reseptor perifer
 Transmisi impuls saraf
       Kimiawi
            penerusan impuls saraf lewat senyawa kimia (neurotransmiter)
                  Paling umum
                  Neuron ke otot
       Listrik
            penerusan impuls saraf melalui ion-ion yang melintas bebas melalui
             saluran-saluran pada gap junction atau nexus
                  Jarang terdapat pada SSP mammalia
                  Ditemukan di beberapa tempat di batang otak, retina dan korteks
                   serebrum




 Friday, August 20,                  Aspek Histologi Dalam
 2010                               Neurosains/AAJ/Histologi                         42
SINAPS
   Komponen pembentuk
        Pra-sinaps (bouton sinaps)
              Gelembung (vesikel sinaps) 40-60 nanometer
              neurotransmiter
        Celah sinaps
              Lebar 20-30 nanometer
              Filamen-filamen halus
        Post-sinaps
              Reseptor neurotransmiter



Friday, August 20,             Aspek Histologi Dalam
2010                          Neurosains/AAJ/Histologi      43
SINAPS




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   44
SINAPS
   Neurotransmitter
        Disintesa di perikarion atau dekat dengan ujung akson
        Macam-macam neurotransmiter
              Asetil kolin
              Norepinefrin
              Gamma amino butyric acid
              Enkefalin
              dsbnya




Friday, August 20,            Aspek Histologi Dalam
2010                         Neurosains/AAJ/Histologi            45
SINAPS
 Transmisi impuls saraf pada sinaps
        aksi potensial yang tiba di ujung akson akan membuka kanal
         ion kalsium.
        Ion kalsium kemudian akan masuk ke dalam ujung akson.
        Disamping itu ion natrium dan senyawaan kolin serta
         senyawaan asetat juga akan masuk ke dalam akson lewat
         pompa natrium.
        Senyawa asetat akan di aktivasi menjadi ko-ensim A di
         dalam mitokondria.
        Kolin bersama asetil ko-ensim A (dihasilkan oleh mitokondria)
         dan ensim kolin asetil transferase akan membentuk asetil
         kolin.

Friday, August 20,          Aspek Histologi Dalam
2010                       Neurosains/AAJ/Histologi                 46
SINAPS
        Asetil kolin kemudian akan dibungkus oleh membran vesikel
         sinaps yang diinternalisasi kembali lewat proses endositosis
         membentuk vesikel sinaps. Kedalam vesikel ini juga
         dimasukkan ATP sebagai sumber energi.
        Vesikel sinaps lalu bergerak ke membran akson terminal
         (bouton terminaux), menyatu dengan membran akson.
         Proses ini distimulus oleh ion kalsium
        Neurotransmiter akhirnya akan dikeluarkan ke dalam celah
         sinaps lewat proses eksositosis




Friday, August 20,          Aspek Histologi Dalam
2010                       Neurosains/AAJ/Histologi                 47
SINAPS
        Asetilkolin kemudian akan berikatan dengan reseptornya di post-
         sinaps.
        Penyatuan asetil kolin dengan reseptornya akan menimbulkan
         respons listrik di neuron post- sinaps
        Ensim asetil kolin-esterase akan melepaskan ikatan asetil kolin
         dengan reseptornya dan menghidrolisis asetil kolin menjadi
         senyawaan kolin dan asetat.
        Asetat dan kolin dapat masuk kembali ke ujung akson dan
         dipergunakan untuk membentuk vesikel sinaps yang baru
        Membran vesikel sinaps juga akan dipergunakan kembali untuk
         membuat vesikel yang baru dengan proses endositosis.




Friday, August 20,           Aspek Histologi Dalam
2010                        Neurosains/AAJ/Histologi                       48
SINAPS




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   49
SINAPS
   Jenis Sinaps
        Akso-dendritik
        Akso-somatik
        Akso-aksonik
        Dendro-dendritik
        Akson-serat otot




Friday, August 20,           Aspek Histologi Dalam
2010                        Neurosains/AAJ/Histologi   50
NEUROGLIA/ SEL GLIA
 Rudolf Virchow (1846) : nerve glue (perekat neuron)
 70-80% dari seluruh sel yang ada di SSP
 Selnya kecil dengan inti 3-10 mm
 Jenisnya
        Astrosit          (ektoderm)
        Oligodendroglia   (ektoderm)
        Ependim            (ektoderm)
        Sel Schwann        (krista neuralis/ektoderm)
        Sel Satelit        (krista neuralis/ektoderm)
        Mikroglia              (?)
   Impregnasi perak dan pulasan Gold

Friday, August 20,          Aspek Histologi Dalam
2010                       Neurosains/AAJ/Histologi      51
    ASTROSIT
    Astro = bintang
    Berasal dari ektoderm
    Gambaran histologis
         Berbentuk seperti bintang (astro)
         Inti bulat, lonjong, besar
         Banyak cabang sitoplasma
               Ribosom, kompleks Golgi, lisosom, neurofilamen
    2 tipe
         Astrosit Protoplasmatik
               Cabang sitoplasmanya pendek dan gemuk mirip lumut
               Substansia grisea
         Astrosit Fibrosa
               Cabang sitoplasmnya lurus, langsing mirip lidi atau landak
               Substansia alba


    Friday, August 20,               Aspek Histologi Dalam
    2010                            Neurosains/AAJ/Histologi                 52
ASTROSIT
Astrosit protoplasmatis                    Astrosit fibrosa




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi                 53
ASTROSIT
 Salah satu komponen pembentuk sawar darah
  otak (blood-brain barrier)
 Terdapat di substansia alba dan grisea
 Fungsi:
        Menyerap kelebihan ion kalsium yang lolos dari sel
         saraf selama proses konduksi impuls saraf.
        Berperan dalam transportasi zat-zat metabolisma
        Berperan dalam pembentukan jaringan parut di SSP



Friday, August 20,        Aspek Histologi Dalam
2010                     Neurosains/AAJ/Histologi             54
OLIGODENDROGLIA
   Oligo = sedikit
   Gambaran histologis
        Lebih kecil dari astrosit
        Cabang sitoplasma lebih sedikit (oligo= sedikit) dan
         pendek
        Mengandung ribosom, kompleks Golgi, mikrotubulus
         dan neurofilamen.
   Terdapat di substansia grisea dan alba
   Fungsi:
        Penyokong
        Pembentuk selubung mielin di SSP.


Friday, August 20,        Aspek Histologi Dalam
2010                     Neurosains/AAJ/Histologi               55
OLIGODENDROGLIA




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   56
MIKROGLIA
 Berasal dari mesoderm
 Gambaran histologis
        Selnya kecil, badan sel gepeng dengan inti yang sukar
         dilihat
        Sitoplasma bercabang besar (cabang primer), yang
         kemudian dari cabang primer bercabang-cabang lagi.
         Cabang-cabang ini saling tegak lurus
 Terdapat di substansia alba dan grisea
 Fungsi
        fagositosis


Friday, August 20,        Aspek Histologi Dalam
2010                     Neurosains/AAJ/Histologi                57
MIKROGLIA




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   58
SEL EPENDIMA
 Melapisi ventrikel otak dan kanalis sentralis
  medula spinalis
 Gambaran histologis
      Sel   silindris rendah atau kuboid, permukaannya
         terdapat silia dan mikrovili
 Membentuk epitel pleksus khoroideus




Friday, August 20,      Aspek Histologi Dalam
2010                   Neurosains/AAJ/Histologi           59
SEL EPENDIMA




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   60
PLEKSUS KHOROIDALIS




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   61
  SUSUNAN SARAF PUSAT




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   62
SUSUNAN SARAF
 Susunan saraf pusat
 Susunan saraf perifer




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   63
Susunan Saraf Pusat
 Otak dan medula spinalis
 Fungsi
        menerima, mengintegrasikan, mengolah dan
         memberi jawaban terhadap semua rangsang yang
         diterima baik yang berasal dari dalam maupun
         luar tubuh.
        Menyimpan impuls yang diterima sebagai memori




Friday, August 20,     Aspek Histologi Dalam
2010                  Neurosains/AAJ/Histologi       64
Susunan Saraf Pusat
    Struktur histologis
         Neuron
            Medula Spinalis -------- Kolumna
             berbentuk huruf H (Substansia grisea)
            Otak ---- Korteks Serebri dan Serebellum
             (substansia grisea) dan nukleus
         Neuroglia
         Serat saraf – - - - Traktus
         Struktur tambahan
            Pembuluh darah
            Likuwor serebrospinal (LCS)

            Selaput otak




Friday, August 20,       Aspek Histologi Dalam
2010                    Neurosains/AAJ/Histologi        65
Susunan Saraf Pusat
    Terdiri atas 2 lapisan
         Substansia grisea (abu-abu)
               Perikarion
               Serat saraf tak bermielin
         Substansia alba (putih)
               Serat saraf bermielin
               Dendrit




Friday, August 20,             Aspek Histologi Dalam
2010                          Neurosains/AAJ/Histologi   66
    MEDULA SPINALIS
   Substansia Alba (White
    matter)
       Kumpulan serat-serat saraf
        (Funikulus)
            Anterior (ventral)
            Lateral
            Posterior (dorsal)
       Funikulus terbagi atas
        kelompokan kecil lagi
        (Fasikulus) / traktus



Friday, August 20,             Aspek Histologi Dalam
2010                          Neurosains/AAJ/Histologi   67
MEDULA SPINALIS
   Funikulus Posterior
         Fasikulus Gracilis
         Fasikulus cuneatus
         Traktus Intersegmental
          Posterior
   Funikulus Lateral
         Traktus Spinocerebellar
          posterior
         Traktus Spinocerebellar
          anterior
         Traktus Spinothalamikus
          lateral
         Traktus Spinotektal



Friday, August 20,          Aspek Histologi Dalam
2010                       Neurosains/AAJ/Histologi   68
    MEDULA SPINALIS
   Funikulus Lateral
        Traktus Posterolateral
         (Lissauer tract)
        Traktus Spinoretikular
        Traktus Spinoolivary
        Traktus kortikospinal lateral
        Traktus rubrospinal
        Traktus retikulospinal lateral
        Descending autonomic fibers
        Traktus olivospinal
        Traktus Intersegmental lateral




Friday, August 20,            Aspek Histologi Dalam
2010                         Neurosains/AAJ/Histologi   69
MEDULA SPINALIS
   Funikulus Anterior
        Traktus Spinothalamikus
         anterior
        Traktus Kortikospinal
         anterior
        Traktus Vestibulospinal
        Traktus Tectospinal
        Reticulospinal fibers
        Traktus Intersegmental
         Anterior




Friday, August 20,         Aspek Histologi Dalam
2010                      Neurosains/AAJ/Histologi   70
MEDULA SPINALIS
   Substansia Grisea
        Perikaryon,
         neuroglia, pembuluh
         darah
        Daerah berbentuk
         huruf H atau kupu-
         kupu
        Terdiri atas
              Kornu Anterior
              Kornu Posterior
              Kornu Lateralis


Friday, August 20,           Aspek Histologi Dalam
2010                        Neurosains/AAJ/Histologi   71
       Medula Spinalis
   Kornu Anterior
         Bagian yang paling banyak
          mengandung neuron
         Sel saraf multipolar Besar
               Inti bulat besar
               Perikarion dan dendrit mengandung
                badan Nissl
               Akson hilock dan akson tidak
                mengandung badan Nissl
               Akson keluar sebagai serat alfa
                efferen yang mempersarafi otot skelet




    Friday, August 20,             Aspek Histologi Dalam
    2010                          Neurosains/AAJ/Histologi   72
       Medula Spinalis
   Kornu Anterior
         Sel saraf multipolar yang lebih kecil
               Akson keluar sebagai gamma efferen
                yang mempersarafi serat otot
                intrafusal Gelendong otot (Muscle
                Spindle)




    Friday, August 20,           Aspek Histologi Dalam
    2010                        Neurosains/AAJ/Histologi   73
MEDULA SPINALIS
   Kornu Posterior
        4 group sel saraf
              Grup Substansia
               gelatinosa
              Grup Nucleus
               Proprius
              Grup nucleus
               dorsalis (Clark’s
               column)
              Grup visceral eferent
   Kornu Lateralis
        Kelompokan sel saraf
         terletak dari Th1-L3
        Sel saraf kecil



Friday, August 20,               Aspek Histologi Dalam
2010                            Neurosains/AAJ/Histologi   74
Medula Spinalis




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   75
OTAK
 Serebrum
         Terdiri atas hemisfer kiri dan kanan
         Struktur histologis
               Substansia grisea (Korteks)------ perikarion
               Substansia alba (Medula)----- akson bermielin
               Bagian terdalam serebrum (nukleus)---- perikarion




Friday, August 20,            Aspek Histologi Dalam
2010                         Neurosains/AAJ/Histologi               76
    SEREBRUM
   Korteks Serebri
       Neuron,
        neuroglia, serat
        saraf dan
        pembuluh darah
       5 tipe sel saraf
            Sel Piramid
            Sel Stelata
            Sel Fusiform
            Sel Horizontal
             (Cajal)
            Sel Martinotti


Friday, August 20,             Aspek Histologi Dalam
2010                          Neurosains/AAJ/Histologi   77
  SEREBRUM
 Korteks          Serebri
     6 lapisan
          Lapisan Molekular
           (Plexiform)
                Dendrit sel piramid
                 dan sel fusiform
                Akson sel stelata
                Sel-sel Horizontal of
                 Cajal
          Lapisan Granular Luar
                Sel-sel Pyramid kecil
                 dan sel Stellata
          Lapisan Pyramid Luar
                Sel-sel Pyramid besar


  Friday, August 20,              Aspek Histologi Dalam
  2010                           Neurosains/AAJ/Histologi   78
        SEREBRUM
   Korteks Serebri
       6 lapisan
            Lapisan Granular Dalam
                  Sel-sel Stellata
                  Sel-sel Pyramid
            Lapisan Pyramidal Dalam
             (Ganglionik)
                  Sel-sel pyramid
                   berukuran sedang dan
                   sangat besar (sel Batz)
                  Sel-sel Stellata dan sel-
                   sel Martinotti
            Lapisan Multiform (Sel-sel
             Polymorfik)
                  Sel-sel Fusiform,
                   modifikasi sel-sel
                   Pyramid, sel Martinotti

     Friday, August 20,                  Aspek Histologi Dalam
     2010                               Neurosains/AAJ/Histologi   79
Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   80
SEREBELLUM
   Permukaan tampak berlipat-lipat --- Folia yang
    tersusun paralel terhadap fissura (alur)
   Terdiri atas bagian kiri dan kanan yang terpisahkan
    oleh bangunan berbentuk cacing disebut Vermis




Friday, August 20,     Aspek Histologi Dalam
2010                  Neurosains/AAJ/Histologi            81
SEREBELLUM
    Substansia grisea (Korteks) & substansia alba
     (Medula)




Friday, August 20,     Aspek Histologi Dalam
2010                  Neurosains/AAJ/Histologi       82
SEREBELLUM
      Korteks
           Lapisan Molekular
                 Sel stellata (luar) dan sel
                  Basket (dalam)
                 Akson dan dendrit
                 Neuroglia
           Lapisan Purkinje/Ganglion
                 sel-sel Purkinje
           Lapisan granular
                 sel-sel saraf kecil-kecil




Friday, August 20,              Aspek Histologi Dalam
2010                           Neurosains/AAJ/Histologi   83
SEREBELLUM
 Medula
      Serat  saraf
      Serat jaringan ikat

      Neuroglia

      fibrosit




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   84
SEREBELLUM




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   85
Meninges




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   86
Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   87
    Meninges
   3 lapisan
       Duramater
            Lapisan luar yang keras
            Terbagi atas 2 lapisan
                    Lapisan periosteum duramater
                    Lapisan fibrosa
                    Pada medula spinalis di antara
                     keduanya terdapat ruang epidural
                     terisi oleh jaringan ikat longgar,
                     pembuluh darah, sel lemak.




Friday, August 20,                   Aspek Histologi Dalam
2010                                Neurosains/AAJ/Histologi   88
Meninges
   Kedua lapis duramater di dalam tengkorak orang dewasa menyatu,
    kecuali pada beberapa tempat tertentu terpisah membentuk sinus-
    sinus venosus
   Ruang potensial untuk terjadi perdarahan “epidural hematom”




Friday, August 20,          Aspek Histologi Dalam
2010                       Neurosains/AAJ/Histologi                   89
Meninges
   Arachnoid
       Membran tipis, halus, avaskular
       Membentuk trabekula dalam ruang ruang
        subarachnoid
       Ruang subarachnoid berisi LCS
       Villus arachnoid
             Menyalurkan cairan LCS ke sinus venosus




Friday, August 20,            Aspek Histologi Dalam
2010                         Neurosains/AAJ/Histologi   90
Meninges
   Piamater
        Membran halus,
         lembut.
        2 lapisan
              Luar: serat kolagen,
               pembuluh darah
              Serat retikular dan
               elastin halus




Friday, August 20,            Aspek Histologi Dalam
2010                         Neurosains/AAJ/Histologi   91
 Cairan Serebrospinal
   Cerebrospinal fluid (CSF)
   Terdapat di
        Ruang subarachnoid
        Ventrikel otak
        Kanal sentralis medula spinalis




Friday, August 20,            Aspek Histologi Dalam
2010                         Neurosains/AAJ/Histologi   92
Cairan Serebrospinal
   Dihasilkan oleh
       Pleksus khoroideus
        yang terdapat pada
            atap ventrikel III, IV
             dan dinding medial
             ventrikel lateral
            Paranchyma of the
             brain
            Area postrema at the
             caudal margin of the
             4th ventricle
       Proses aktif


Friday, August 20,            Aspek Histologi Dalam
2010                         Neurosains/AAJ/Histologi   93
Cairan Serebrospinal




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   94
Likuwor serebrospinal
   Aliran likuwor serebrospinal
        Ventrikel lateral ---- ventrikel III ----- aquaeductus
         Sylvii---- ventrikel IV ----- foramen Magendie dan
         Luschka ----- ruang subarachnoid (melingkupi otak
         dan medula spinalis) ------ villus khoroideus -----
         sinus venosus (darah)
 CSF akan dikeluarkan ke dalam darah di
  sinus venosus via villus khoroideus
 Limbah metabolisma otak akan berdifusi
  bebas dari ruang ekstraselular menembus
  ependima , masuk ke CSF di ruang ventrikel



Friday, August 20,        Aspek Histologi Dalam
2010                     Neurosains/AAJ/Histologi            95
Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   96
  Likuwor serebrospinal




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   97
Likuwor serebrospinal
   Kandungan CSF
        Air, glukosa, asam-asam amino, mineral, vitamin
         (vit B, vit C), asam folat, albumin, globulin
   Fungsi
        Mempertahankan lingkungan cairan sesuai untuk
         otak
        Memberi bantalan perlindungan terhadap otak dan
         medula spinalis dari benturan
   Dihasilkan dengan kecepatan 500 ml/ hari



Friday, August 20,      Aspek Histologi Dalam
2010                   Neurosains/AAJ/Histologi            98
Pleksus khoroideus
   Dibentuk oleh
    sel-sel ependima
    yang menempel
    langsung di
    permukaan
    dalam lapisan
    piamater dan
    membentuk
    lipatan-lipatan
    yang menonjol
    ke dalam lumen
    ventrikel
Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   99
Pleksus khoroideus
    Sel-sel ependima
         Pada permukaan apikal sel-sel ependima
          terdapat taut sekap (tight junction) yang
          akan mencegah lolosnya CSF ke dalam
          darah melintasi celah antar sel.
         Di antara sel-sel ependima juga terdapat
          taut lekat (adherens junction) dan taut
          rekah (gap junction) untuk melekatkan 2
          sel yang berdekatan dan menjaminnya
          adanya perlintasan zat-zat antara 2 sel
          yang berdekatan.
         Pada sel ependima juga terdapat pompa
          natrium untuk masuknya air dan garam-
          garam ke dalam LCS.
    Tidak adanya tight junction pada sel-sel
     ependim yang melapisi ventrikel –ventrikel
     otak dan canalis centralis memungkinkan
     terjadinya pembuangan sampah
     metabolisma secara langsung dari sel
     saraf ke cairan likuor serebrospinal
Friday, August 20,            Aspek Histologi Dalam
2010                         Neurosains/AAJ/Histologi   100
Pleksus khoroideus
 Fungsi :
  menghasilkan
  likuwor
  serebrospinal
 Cara sekresi:
        Difusi yang
         difasilitasi : glukosa
         dan asam-asam
         amino
        Transpor aktif:
         vitamin B, C dan
         asam folat
Friday, August 20,         Aspek Histologi Dalam
2010                      Neurosains/AAJ/Histologi   101
Villus Subarachnoid
    Penonjolan lapisan arachnoid menembus lapisan
     fibrosa duramater
    Cairan yang terdapat diruangan subarachnoid
     pada villus subarachnoid dipisahkan dari darah di
     sinus venosus hanya oleh selapis tipis arachnoid
     dan endotel yang terdapat di atas yang
     membatasi sinus venosus




Friday, August 20,     Aspek Histologi Dalam
2010                  Neurosains/AAJ/Histologi           102
Villus Subarachnoid
   Villus subarachnoid
    merupakan jalan untuk
    keluarnya cairan
    serebrospinal dan berfungsi
    sebagai katup
        Tergantung pada
         perbedaan tekanan pada
         setiap sisi dinding villus
        Bila tekanan CSF lebih
         besar daripada vena, CSF
         akan masuk ke dalam darah
         , sebaliknya bila tekanan
         vena lebih besar dari CSF,
         villus subarachnoid akan
         kolap dan mencegah unsur-
         unsur darah masuk kedalam
         CSF

Friday, August 20,          Aspek Histologi Dalam
2010                       Neurosains/AAJ/Histologi   103
Sawar Darah Otak
   Sawar darah otak (blood
    brain barrier)
   Komponen pembentuk
       Dinding sel endotel
            Keberadaan taut sekap
             (tight atau occluding
             junction di antara sel-sel
             endotel kapiler darah akan
             melapisi ruang antar sel-sel
             endotel dan mencegah
             lewatnya zat-zat melalui
             ruang-ruang ini.
            Zat-zat harus melewati
             dinding kapiler darah lewat
             mekanisme
             mikropinositosis.
       Lamina basal sel endotel
       Kaki perivaskular astrosit
        (end feet astrosit)




Friday, August 20,                Aspek Histologi Dalam
2010                             Neurosains/AAJ/Histologi   104
Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   105
Sawar Darah Otak
Sawar darah otak
   Fungsi:
        Melindungi SSP dari perubahan konsentrasi ion yang terjadi
         secara tiba-tiba di cairan ekstrasellular
        Mencegah masuknya molekul-molekul dari sirkulasi ke
         dalam LCS yang dapat menggangu fungsi normal neuron di
         dalam SSP
   Cara menembus sawar darah otak
        Mikropinositosis, bila zat tersebut mempunyai reseptor pada
         dinding endotel yang memungkinkan terjadinya transport
         secara mikropinositosis.
        Diffusi yang difasilitasi (facilitated diffusion)
              Glukosa, asam-asam amino, vitamin-vitamin, nukleosida
        Transport aktif
              Ion-ion dan mineral
   Kerugian
        Antibiotik dan obat-obatan tidak dapat masuk kedalam otak

Friday, August 20,              Aspek Histologi Dalam
2010                           Neurosains/AAJ/Histologi                107
BLOOD BRAIN BARRIER




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   108
     SUSUNAN SARAF TEPI




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   109
SUSUNAN SARAF TEPI
  Susunan Saraf Tepi
        Seratsaraf
        Ganglia
        Selubung mielin
        Selubung Schwann
        Ujung saraf
              Cakram motorik (Motor end plate)
              Gelendong otot (Muscle spindle)

              Badan Vater Paccini (Paccinian corpuscle)

              Badan Meissner (Meissner corpuscle)




Friday, August 20,          Aspek Histologi Dalam
2010                       Neurosains/AAJ/Histologi        110
Sistem Saraf Perifer
 Komponen motorik serat saraf
  perifer
    Sistem saraf somatik
    Sistem saraf otonom




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   111
Sistem Saraf Perifer
   Sistem saraf somatik
        Komponen motorik
        Volunter
        Terdiri atas
              Badan sel saraf: multipolar
                    Nukleus motorik pada
                     otak
                    Tanduk depan medula
                     spinalis




Friday, August 20,              Aspek Histologi Dalam
2010                           Neurosains/AAJ/Histologi   112
Sistem Saraf Perifer
 Sistem             Saraf Somatik
              Serat saraf
                    Saraf Kranial : III, IV, VI and XII
                    Saraf Spinal : 31 pasang
              Efektor
                    Otot rangka melalui cakram motorik




Friday, August 20,               Aspek Histologi Dalam
2010                            Neurosains/AAJ/Histologi   113
Sistem Saraf Perifer
 Sistem        Saraf Otonom
   Komponen            motorik
   involunter

   Mengontrol  organ dalam tubuh melalui serat
    saraf eferen umum (visceral motor) yang
    mempersarafi
       Otot polos
       Otot jantung

       kelenjar


   Friday, August 20,         Aspek Histologi Dalam
   2010                      Neurosains/AAJ/Histologi   114
   Sistem Saraf Perifer
 Sistem saraf Otonom
     Berhubungan dengan pusta-pusat persarafan yang lebih tinggi di otak
     Berada di bawah kontrol




   Friday, August 20,          Aspek Histologi Dalam
   2010                       Neurosains/AAJ/Histologi                      115
 Sistem Saraf Perifer
 Sistem Saraf Otonom
   Terdiri       atas
        2 badan sel saraf
              Sel saraf Pertama
                 Terletak pada SSP

                 Aksonnya biasanya bermielin

              Sel saraf kedua
                 Terletak pada ganglia otonom

                 Aksonnya biasanya tidak bermielin




    Friday, August 20,         Aspek Histologi Dalam
    2010                      Neurosains/AAJ/Histologi   116
Sistem Saraf Perifer
      Serat Saraf
            Serat saraf pra ganglionik
               Bersinaps dengan serat srat post ganglionik

            Serat Saraf Post ganglionik
               Aksonnya keluar dari ganglion untuk mencapai

                organ efektor
      Efektor
            (otot polos, otot jantung, kelenjar)




Friday, August 20,           Aspek Histologi Dalam
2010                        Neurosains/AAJ/Histologi           117
Susunan Saraf Autonom
   Digolongkan dalam susunan saraf tepi (SST)
        Simpatis
        Parasimpatis
   Fungsi: mempertahankan keseimbangan fungsi-
    fungsi tubuh (homeostasis)
   Yang diatur
        Sekresi kelenjar
        Kontraksi dan kecepatan denyut otot jantung
        Kontraksi dan kecepatan kontralsi otot polos
        Sistim sirkulasi darah
 Walaupun berfungsi secara otomatis (tak dipengaruhi
  kehendak), tetapi tetap dibawah kendali SSP
 Pusat koordinasi antara sistim autonom dengan
  sistim persarafan lainnya terdapat di hipotalamus
Friday, August 20,         Aspek Histologi Dalam
2010                      Neurosains/AAJ/Histologi      118
Sistim persarafan simpatis
   Serat Preganglion: Th1-L3
   Divisi torakolumbar Susunan
    saraf autonom
   Keluar dari medula spinalis
    melalui akar depan (radiks
    ventral) saraf spinal
   Bersinaps dengan post-
    ganglionik di ganglia simpatis
   Serat post-ganglionik menuju ke
    organ sasaran




Friday, August 20,          Aspek Histologi Dalam
2010                       Neurosains/AAJ/Histologi   119
Sistim persarafan parasimpatis
   Ciri khas
       Serat preganglion
             keluar bersama saraf kranial III, VII, IX dan X
             Saraf sakral 2,3,4
             Divisi kraniosakral SSO
       Serat saraf preganglionik yang berjalan bersama saraf kranial III,
        VII, dan IX mempunyai serat postganglionik yang mempersarafi
        kelenjar (kelenjar lakrimal, kelenjar liur dsbnya)
       Serat saraf preganglionik yang berjalan bersama saraf kranial X
        mempunyai serat postganglionik yang mempersarafi organ-organ
        yang terdapat di rongga abdomen dan toraks
       Serat saraf preganglionik yang keluar dari segmen sakral
        mempunyai serat postganglionik yang mempersarafi organ-organ
        di rongga pelvis: kolon, rektum, vesika urinarius



Friday, August 20,                 Aspek Histologi Dalam
2010                              Neurosains/AAJ/Histologi                   120
Ganglia
   Ganglia : kumpulan neuron yang terdapat diluar SSP
   Nukleus: kumpulan neuron di SSP yang mempunyai
    fungsi tertentu
   Macamnya
        Ganglia Kraniospinal
        Ganglia Autonom
              Simpatis
              parasimpatis




Friday, August 20,             Aspek Histologi Dalam
2010                          Neurosains/AAJ/Histologi   121
    Ganglia Kraniospinalis
   Ganglia kranial
       Jenis neuronnya adalah
        pseudounipolar
            Satu cabang ke perifer
             (reseptor) disebut serat
             eferen
            Satu cabang ke otak,
             disebut serat aferen
            Perikarion globular, besar
             dengan cabang yang
             bermielin atau tanpa mielin
       Sel-sel satelit atau sel
        kapsul atau amfisit
       Ganglia trigeminal, fasialis
        (geniculatum), vestibularis

Friday, August 20,             Aspek Histologi Dalam
2010                          Neurosains/AAJ/Histologi   122
Ganglia Kraniospinalis
   Ganglia spinal
       Jenis neuronnya pseudounipolar
            Satu cabang ke medula spinalis (serat aferen)
            Satu cabang ke perifer via saraf spinal (serat eferen)
            Perikarion besar dengan cabang yang bermielin atau tanpa mielin.
       Sel-sel sateli atau sel kapsul atau amfisit
       Letaknya di radiks atau akar posterior saraf spinal




Friday, August 20,               Aspek Histologi Dalam
2010                            Neurosains/AAJ/Histologi                        123
Ganglia Autonom
   Jenisnya
        Simpatis (adrenergik)
        Parasimpatis (kolinergik)
   Karakteristik
        Bersimpai jaringan ikat
        Lebih kecil daripada ganglia kranio-spinal.
        Multipolar
        Mempunyai sel-sel satelit yang jumlahnya lebih sedikit




Friday, August 20,          Aspek Histologi Dalam
2010                       Neurosains/AAJ/Histologi               124
Ganglia Simpatis
   Ganglia
       Ganglia paravertebralis
             Anterolateral medula
              spinalis
             C1-S2-3
             Bentuk trunkus simpatis
             Ada hubungan trunkus
              kanan dan kiri
             Serat postganglion:
              sirkulasi darah dan
              kelenjar




Friday, August 20,             Aspek Histologi Dalam
2010                          Neurosains/AAJ/Histologi   125
Ganglia Simpatis
   Ganglia prevertebra
       Letaknya di daerah anterior kolumna vertebralis
       Pleksus abdominalis
       3 buah ganglia prevertebralis
             Ganglia seliaka (celiac ganglion)
             Ganglia mesenterika superior
             Ganglia mesenterika inferior
       Serat saraf keluar dari medula spinalis melalui
        akar atau radiks ventral dan selanjutnya menuju
        ganglion prevertebralis melintasi trunkus simpatis
        yang dibentuk oleh ganglion paravertebralis


Friday, August 20,            Aspek Histologi Dalam
2010                         Neurosains/AAJ/Histologi     126
Ganglia Simpatis
   Ganglia terminalis
        Letaknya paling perifer, dekat dengan organ yang
         akan dipersarafi
        Mempersarafi otot polos




Friday, August 20,      Aspek Histologi Dalam
2010                   Neurosains/AAJ/Histologi        127
Ganglia Parasimpatis
      Ganglion terletak dekat
       dengan organ sasaran
      Tidak tersusun dalam suatu
       bentuk rantai, tetapi
       tersebar
      Ciri khas
            Badan sel saraf
             membentuk kelompokan
             yang tersebar dikelilingi
             oleh jaringan ikat
            Di sekeliling sel-sel
             ganglion terdapat sel-sel
             satelit
      Ganglia siliaris, genikulata,
       submandibula, otik,
       pterigopalatina, ganglia
       Meissner dan Aurbach,
       ganglia vesikalis.
Friday, August 20,                Aspek Histologi Dalam
2010                             Neurosains/AAJ/Histologi   128
SELUBUNG SERAT SARAF

   Berdasarkan ada/ tidaknya selubung mielin, serat
    saraf (akson) di SSP dan SST terbagi menjadi 2
        Serat saraf bermielin (myelinated nerve)
              SSP: dibentuk oleh sel oligodendroglia
                    1 sel oligodendroglia membentuk selubung mielin untuk beberapa
                     serat saraf
              SST: dibentuk oleh sel Schwann
                    1 sel Schwann membentuk hanya 1 selubung mielin
        Serat saraf tak bermielin (unmiyelinated nerve)


Friday, August 20,                Aspek Histologi Dalam
2010                             Neurosains/AAJ/Histologi                       129
Selubung serat saraf (akson)

   Seluruh serat saraf (akson) di SST akan diselubungi
    di bagian luar oleh selubung sel Schwann
        Pada serat saraf bermielin
              1 sel Schwann menyelubungi 1 serat saraf
        Pada serat saraf tak bermielin
              1 sel Schwann menyelubungi beberapa serat saraf




Friday, August 20,             Aspek Histologi Dalam
2010                          Neurosains/AAJ/Histologi           130
Selubung Mielin
   Lapisan
        Melingkari akson
        Tersusun secara konsentris
        Dibentuk oleh lipid dan
         neurokeratin
   MC
        Silinder yang terputus-putus
        Celah antar selubung mielin
         (nodus atau pinggetan Ranvier)
        Pada pulasan perak nodus
         Ranvier akan terisi oleh
         endapan perak dikenal sebagai
         palang Ranvier
   ME
        Lapisan konsentris membran
         plasma sel Schwan atau
         oligodendroglia


Friday, August 20,               Aspek Histologi Dalam
2010                            Neurosains/AAJ/Histologi   131
Selubung Mielin
   Terjadi invaginasi serat saraf ke
    dalam sitoplasma sel Schwann
   Kedua ujung sitoplasma sel Schwann
    menyatu dan membungkus serat
    saraf . Tempat penyatuan awal di
    sebut mesaxon interna
   Mesaxon kemudian meluas ke arah
    dalam, membentuk lapisan-lapisan /
    lamel-lamel
   Sitoplasma kemudian menghilang
    dan sisi dalam membran sitoplasma
    menyatu…. garis perioda
   Membran ekstrasellular kemudian
    mendekat tetapi tidak menyatu ……
    garis intrerperioda
   Tempat penyatuan akhir sitoplasma
    sel Schwann …. Mesaxon eksterna

Friday, August 20,           Aspek Histologi Dalam
2010                        Neurosains/AAJ/Histologi   132
Selubung mielin
   Pada saat penyatuan ke dua
    sisi dalam membran
    sitoplasma sel Schwann,
    terdapat kegagalan di
    beberapa tempat sehingga
    meninggalkan sejumlah kecil
    sitoplasma yang terjerat
    dalam selubung mielin……
    celah atau insisura Schmidt-
    lanterman
   Fiksasi osmium tetraoksida
    bisa terlihat celah Schmidt
    Lanterman



Friday, August 20,          Aspek Histologi Dalam
2010                       Neurosains/AAJ/Histologi   133
Selubung Mielin
   Di SSP
        Proses pembentukan serupa
        1 sel oligodendroglia
         membentuk selubung mielin
         untuk beberapa serat saraf
   Fungsi selubung Mielin
        Sebagai insulator
              Arus listrik meloncat dari
               nodus Ranvier yang satu ke
               yang lain secara cepat
               (Saltatory conduction)
              Kecepatan rambat listrik lebih
               cepat dibanding serat tak
               bermielin




Friday, August 20,                  Aspek Histologi Dalam
2010                               Neurosains/AAJ/Histologi   134
Serat saraf tak bermielin
   Di SST serat saraf tak
    bermielin diselubungi oleh
    selubung sel Schwann,
    sedangkan di SSP tak ada
    selubung
        1 sel Schwann membentuk
         selubung Schwann untuk
         beberapa serat saraf tak
         bermielin




Friday, August 20,          Aspek Histologi Dalam
2010                       Neurosains/AAJ/Histologi   135
Selubung Schwann
 Membungkus seluruh serat saraf
  tepi bermielin atau tanpa mielin
 Disebut neurilema, tersusun dari
  sitoplasma sel schwann
 Pada pinggetan Ranvier akson
  hanya diselubungi oleh juluran-
  juluran sel Schwann yang terpisah
  oleh suatu celah atau gap
 Sel Schwann
        Sel dengan init gepeng
        Mitokondria, mikrotubulus,
         mikrofilamen, endoplasmik
         retikulum, kompleks Golgi




Friday, August 20,                Aspek Histologi Dalam
2010                             Neurosains/AAJ/Histologi   136
Pembungkus serat saraf tepi
   Selain diselubungi oleh
    selubung mielin dan
    selubung Schwann, serat
    saraf tepi juga dibungkus
    oleh jaringan ikat
   3 lapisan
        Endoneurium
              Membungkus satu serat
               saraf
              Serat kolagen dan retikulin
               halus serta sel fibroblas
              Berhubungan dengan
               selubung Schwann


Friday, August 20,                Aspek Histologi Dalam
2010                             Neurosains/AAJ/Histologi   137
Pembungkus serat saraf Tepi
   Perineurium
        Membungkus satu berkas
         serat saraf (fasikulus) yang
         terdiri atas beberapa serat
         saraf
        Serat-serat kolagen dan sel-
         sel fibroblas
   Epineurium
        Membungkus satu bundel
         serat saraf (bundles of nerve
         fibers) yang terdiri atas
         beberapa fasikulus



Friday, August 20,            Aspek Histologi Dalam
2010                         Neurosains/AAJ/Histologi   138
Ujung Saraf (Nerve Ending)
   3 kelompok ujung saraf
        Pada otot skeletal
              Cakram motorik (motor end plate)…. Motorik (efektor)
              Gelendong otot (muscle spindle) …. Sensorik (aferen)
        Pada Epitel
              Ujung akhir saraf bebas
        Pada jaringan
              Badan Vater Paccini, Badan Meissner dll




Friday, August 20,              Aspek Histologi Dalam
2010                           Neurosains/AAJ/Histologi               139
Cakram Motorik (motor end plate)




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   140
Badan Meissner dan Vater Paccini




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   141
 Gelendong Otot (muscle spindle)




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   142
              REGENERASI
            JARINGAN SARAF




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   143
Regeneration in the nervous
tissue
 Regeneration        in the peripheral nerve
  tissue
 Regeneration in the central nervous
  tissue




Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   144
Regeneration in the peripheral
nerve
 When   a peripheral nerve fiber is
  injured/transected
    Initiate          a series of structural and metabolic
       events
            Axon reaction
                    Repair the damage
                    Regenerate the process
                    Restore the function



Friday, August 20,              Aspek Histologi Dalam
2010                           Neurosains/AAJ/Histologi       145
    Regeneration in the peripheral nerve

   Reaction to the
    trauma is
    characteristically
    localized
        Local changes
        Anterograde changes
        Retrograde changes




    Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
    2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   146
Regeneration in the peripheral nerve
   Local reaction
        At the site of damage
              Severed ends retract away
               from each other
              Cut membrane of each
               stump fuses
                    Cover the opened damage
                     ends
                    Preventing loss of
                     axoplasm
              Accumulation of material
               delivered by axoplasmic
               flow
              Invasion of macrophage to
               the damage area and
               phagocytose the debris




    Friday, August 20,              Aspek Histologi Dalam
    2010                           Neurosains/AAJ/Histologi   147
    Regeneration in the peripheral nerve
   Anterograde reaction
       Distal to the site of damage
            Hypertrophy and degeneration of
             axon terminal within 1 week
            Contact with the postsynaptic
             membrane is terminated
            Proliferation of Schwann cells
                  Phagocytose the remnants of the
                   axon terminal and myelin sheath
                  Occupy the synaptic space
            The connective tissue covering of
             the nerve is unaltered
       Also called as Wallerian
        degeneration




    Friday, August 20,               Aspek Histologi Dalam
    2010                            Neurosains/AAJ/Histologi   148
Regeneration in the peripheral nerve
   Retrograde reaction
        proximal to the site of damage
              Hypertrophy of perikaryon of
               the damage neuron
                    Also called as chromatolysis
                     reaction
                    Last several month
                    Actively produce ribosome and
                     various macromolecules
                    Nissl bodies disperse
                    Nucleus displace




    Friday, August 20,               Aspek Histologi Dalam
    2010                            Neurosains/AAJ/Histologi   149
    Regeneration in the peripheral nerve
   Retrograde reaction
        proximal to the site of damage
             Degeneration of the proximal
              axon stump and surrounding
              myelin sheath
             Several sprouts of axon emerge
              from the proximal axon stump
                   Enter the connective tissue
                    sheath guided by Schwann cells
                    to the target cell
                   The sprout reaches the target
                    cell fist forms a synapse
                    whereas the other sprouts
                    degenerate




     Friday, August 20,               Aspek Histologi Dalam
     2010                            Neurosains/AAJ/Histologi   150
    Regeneration in the peripheral nerve
   Neuroma
        A swelling in the terminal of
         nerve fiber at the site of
         damage
              When there is an extensive
               gap between the distal and
               proximal segments
              when the distal segment
               disappears altogether ( as
               in the case of amputation
               of a limb)
              Formed by the newly
               grown nerve fibers
              can be the source of
               spontaneous pain



    Friday, August 20,            Aspek Histologi Dalam
    2010                         Neurosains/AAJ/Histologi   151
Regeneration in the peripheral nerve




 Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
 2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   152
Regeneration in the peripheral nerve

   Transneuronal
    degeneration
       Degeneration of the
        cell or tissue due to
        the defect/ injury
        occurred in its
        neuronal cell or its
        nerve fiber




 Friday, August 20,       Aspek Histologi Dalam
 2010                    Neurosains/AAJ/Histologi   153
Regeneration in the peripheral nerve
        factors influenced the
 Several
 regeneration of nerve fiber
   The  distance between proximal and distal
    stumps of axon
   Infection

   Scar tissue

   Nutrition




 Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
 2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   154
Regeneration in the central nervous
tissue
   Damage in the central nervous tissue is
    permanent
       The neuronal cells have no capacity to proliferate
       The connective tissue is absent in the CNS
       Reaction of Glial scar
             Injured cells within the CNS are phagocytosed by
              microglia
             The liberated space is occupied by proliferation of glial
              cells which forms a cell mass called glial scars




Friday, August 20,             Aspek Histologi Dalam
2010                          Neurosains/AAJ/Histologi                    155
Regeneration in the nervous
tissue
 In contrast to the nerve cells, neuroglia of the
  central nervous system and Schwann cell
  and ganglionic satellite cells of the peripheral
  nervous system are able to divide by mitosis
 The space in the central nervous system left
  by nerve cells lost by injury or disease are
  invaded by neuroglia



Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   156
Friday, August 20,    Aspek Histologi Dalam
2010                 Neurosains/AAJ/Histologi   157

								
To top