bab_4

Document Sample
bab_4 Powered By Docstoc
					                              BAB IV
                  ANALISIS OBJEK WISATA BUDAYA
                         DESA JELEKONG




4.1     Analisis Objek Wisata Budaya Desa Jelekong
        Identifikasi komponen pariwisata dapat dibedakan dalam 2 hal, yakni
komponen permintaan dan komponen penawaran. Komponen permintaan akan
dilihat dari sisi karakteristik wisatawan. Sedangkan komponen penawaran akan
dilihat dari sisi aksesibilitas, obyek dan daya tarik wisata, ketersediaan fasilitas
dan utilitas, informasi dan promosi wisata, keamanan, dan komponen lainnya.

4.1.1   Analisis Permintaan (Demand)
4.1.1.1 Karakteristik Wisatawan
        Indentifikasi karakteristik wisatawan sangat diperlukan agar dalam
menentukan kebijakan pengembangan lebih tepat sebab wisatawan adalah
subyek yang secara langsung menggunakan dan melakukan kegiatan berwisata
tersebut, demikian juga halnya dengan wisata Budaya Desa Jelekong.

A.      Karakteristik Umum Wisatawan
        Survei lapangan yang dilakukan untuk melihat karakteristik wisatawan
menunjukkan bahwa responden yang berwisata atau berkunjung ke wisata
Budaya Desa Jelekong jumlah responden yang ditemui sebayak 30 orang
tersebut terdiri dari 10 orang responden laki-laki (33%) dan perempuan 20 orang
(67%). Apabila dilihat dari struktur usia maka responden mayoritas berada pada
usia berkeluarga, yakni 30 tahun ke atas sebesar 50%. Hal ini menunjukkan
memang benar bahwa sasaran dari wisata Budaya Desa Jelekong cocok untuk
dijadikan wisata dan belanja lukisan dan wayang golek, seperti pada Tabel 4.1
berikut :




                                        55
                                                                           56


                                    Tabel 4.1
                          Karateristik Umur Wisatawan
                                                            Prosentase
             No         Umur (Tahun)            Jumlah
                                                               (%)
              1.     < 20                               3           10
              2.     21 – 30                            7           23
              3.     31 – 40                           15           50
              4.     > 41                               5           17
                          Total                        30          100
             Sumber : Hasil Analisis Tahun 2006




                                  17%     10%


                                                              < 20
                                                 23%          21 - 30
                                                              31 - 40
                                                              > 41


                                  50%




                   Gambar 4.1 Persentase Wisatawan Berdasarkan Umur
                        Sumber : Hasil Analisis Tahun 2006


       Wisatawan yang berkunjung ke Wisata Budaya Desa Jelekong dengan
struktur umur seperti di atas dan mayoritas telah menikah datang dari berbagai
daerah, diantaranya : Kota Bandung, Majalaya, Soreang, Jakarta, Cirebon, dan
Garut. Kabupaten Bandung memiliki urutan terbanyak dalam hal asal wisatawan.
Apabila ditambah dengan Soreang maka totalnya adalah sebesar 77%.
Sedangkan sisanya (23%) berasal dari luar Kota Bandung


                                   Tabel 4.2
                   Asal Daerah / Tempat Tinggal Wisatawan
                     Asal Daerah/Tempat                     Prosentase
             No                                 Jumlah
                            Tinggal                            (%)
              1.     Kota Bandung                      20           67
              2.     Soreang                            3           10
              3.     Jakarta                            3           10
              4.     Majalaya                           1            3
              5.     Cirebon                            1            3
              6.     Garut                              2            7
                          Total                        30          100
              Sumber : Hasil Analisis Tahun 2006
                                                                             57




                                        7%
                                   3%
                                  3%
                                                        Kota Bandung
                            10%                         Soreang
                                                        Jakarta
                                                        Majalaya
                            10%
                                                        Cirebon
                                             67%
                                                        Garut




            Gambar 4.2 Persentase wisatawan Berdasarkan Asal Daerah
                          Sumber : Hasil Analisis 2006


       Apabila dilihat dari jenis pekerjaan, maka wisatawan yang datang ke
wisata Budaya Desa Jelekong terdiri dari wisatawan yang berprofesi wiraswasta,
PNS, karyawan, dan ibu rumah tangga. Wisatawan dengan pekerjaan
wiraswasta adalah paling banyak sebesar (60%), kemudian karyawan (7%), PNS
sebayak (3%) dan ibu rumah tangga sebanyak (10%).


                                       Tabel 4.3
                              Jenis Pekerjaan Wisatawan
                                                                Prosentase
            No         Jenis Pekerjaan             Jumlah
                                                                   (%)
             1.     Wiraswasta                         18               60
             2.     Karyawan                            3                7
             3.     PNS                                 1                3
             4.     Pelajar                             5               20
             5.     Ibu rumah tangga                    4               10
                          Total                        30              100
              Sumber : Hasil Analisis Tahun 2006



                              13%


                                                        Wiraswasta
                     16%                                Pegawai Swasta
                                                        PNS
                                             58%        Pelajar
                       3%
                                                        Ibu rumah tangga
                        10%




                                    Gambar 4.3
                  Persentase wisatawan Berdasarkan Jenis Pekerjaan
                             Sumber : Hasil Analisis 2006
                                                                                       58


                Wisatawan yang berkunjung ke wisata Budaya Desa Jelekong bisa
        dikatakan berasal dari golongan ekonomi menengah ke atas, karena lukisan dan
        wayang golek sebenarnya bukan suatu kebutuhan pokok/primer. Hal ini diperkuat
        dengan data yang ada menyangkut penghasilan per bulan dari wisatawan,
        sejalan dengan hal tersebut wisatawan yang berkunjung juga memilki latar
        belakang pendidikan yang relatif tinggi. Penghasilan per bulan dan tingkat
        pendidikan wisatawan sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 4.4.



                                         Tabel 4.4
                  Penghasilan per Bulan dan Tingkat Pendidikan Wisatawan

                                                            Tingkat
       Penghasilan/bln                   Prosentase                                     Prosentase
No                           Jumlah                       pendidikan       Jumlah
            (Rp)                            (%)                                            (%)
                                                          responden
1.   < 500.000                        -           -   Tidak Tamat SD              -              -
2.   500.000 – 1.000.000            21           70   Tamat SD                    -              -
3.   1.000.000 – 2.000.000           8           27   Tamat SLTP                  6             20
4.   2.000.000 – 3.000.000           1            3   Tamat SLTA                 16             53
5.   > 3.000.000                      -           -   Tamat akademi/PT            8             27
          Total                     30          100          Total               30            100
          Sumber : Hasil Analisis Tahun 2006

                Penghasilan per bulan wisatawan berada pada level < Rp.1.000.000,
        terlihat cukup jelas wisatawan dengan penghasilan Rp. 500.000 - 1.000.000
        adalah yang dominan sebanyak 70% dan sisanya 30% adalah yang memiliki
        penghasilan Rp.1.000.000 – 2.000.000 (27%) dan di atas Rp.2.000.000/bln (3%).
        Besarnya penghasilan ternyata cukup berkaitan dengan tingkat pendidikan.
        Artinya, tingkat pendidikan yang relatif tinggi berbanding lurus dengan besarnya
        jumlah penghasilan per bulannya. Wisatawan sebagian besar memiliki tingkat
        pendidikan tamat SLTA dan tamat strata satu.



        B.      Pola Kunjungan Wisatawan
                Selain mengetahui dan memahami karakteristik             wisatawan    yang
        berkunjung perlu juga diketahui bagaimana pola kunjungan wisatawan di wisata
        Budaya Desa Jelekong. Wisatawan yang melakukan perjalanan ke Budaya Desa
        Jelekong hanya memiliki dua motivasi, yakni berwisata dan membeli lukisan dan
        wayang golek, seperti ditunjukkan pada Tabel 4.5 di bawah ini.
                                                                           59




                               Tabel 4.5
              Tujuan Utama Ke Wisata Budaya Desa Jelekong
         Tujuan Utama Melakukan perjalanan Ke                   Prosentase
  No                                                Jumlah
               Wisata Budaya Desa Jelekong                         (%)
   1.  Berwisata                                            8            27
   2.  Bisnis                                               -              -
   3.  Studi/penelitian                                     -              -
   4.  Pekerjaan kantor                                     -              -
   5.  Mengunjungi kerabat                                  -              -
   6.  Membeli lukisan dan wayang golek(atraksi)           22            73
                          Total                            30           100
    Sumber : Hasil Analisis Tahun 2006
       Wisatawan yang tujuannya berwisata sebanyak 27% dan yang tujuannya
membeli lukisan dan wayang golek (atraksi) sebanyak 73%. Besarnya
prosentase yang tujuannya membeli lukisan dan wayang golek (atraksi)
disebabkan karena Wisata Budaya Desa Jelekong sendiri tidak memiliki lokasi
wisata yang spesifik untuk dapat benar-benar dirasakan sebagai kegiatan
berwisata. Tujuan utama wisatawan mayoritas membeli lukisan dan wayang
golek sehingga hal ini juga berpengaruh terhadap lama wisatawan di lokasi.
Sebelumnya, telah dapat diprediksi bahwa dengan kondisi yang demikian maka
dapat dipastikan bahwa wisatawan tidak akan lama berada di lokasi karena
biasanya setelah membeli lukisan dan wayang golek selesai maka selesai juga
urusannya di Desa Jelekong.
       Apabila dilihat dari segi waktu kunjungan, maka pilihan hari libur dan
Sabtu/Minggu menjadi waktu kunjungan yang sering terjadi yang dilakukan ke
Wisata Budaya Desa Jelekong ini. Banyak alasan dan sebab yang melatar
belakanginya, diantaranya hari Sabtu/Minggu merupakan hari libur dan
memungkinkan untuk berwisata bersama-sama dengan anggota keluarga.
       Saat ini, pada Padepokan Wayang Golek Giriharja 3 akan dikembangkan
sarana pementasan dan pelatihan dalang yang terletak pada area depan desa
atau di pinggir Jalan Raya Soreang-Majalaya. Sarana pementasan ini telah
terbangun dengan kondisi 75%. Rencananya, sarana ini juga akan digunakan
sebagai sarana pusat kegiatan wisata seni dan budaya di Desa Jelekong.
                                                                            60




                                    Gambar 4.4
                              Padepokan Wayang Golek

       Pengembangan pariwisata budaya di Desa Jelekong oleh anggota
Padepokan Wayang Golek Giriharja 3 diharapkan mampu meningkatkan
penghasilan, terutama dari kegiatan pementasan wayang golek yang dilakukan di
Padepokan Wayang Golek Giriharja 3. Selain itu, minat para anggota padepokan
terhadap   pengembangan     pariwisata   budaya   di   Desa   Jelekong   adalah
terpeliharanya seni wayang golek sebagai salah satu identitas Desa Jelekong
dan Jawa Barat.

C.     Pengrajin Lukisan/Tukang Lukis
       Tukang Lukis sebagai subjek dan objek pengembangan memiliki minat
yang besar dalam pengembangan pariwisata budaya di Desa Jelekong. Minat
mereka dalam meningkatkan kesejahteraan melalui pengembangan Desa
Jelekong sebagai desa wisata seni dan budaya dengan atraksi utama salah
satunya aktivitas Tukang Lukis dianggap mampu memberikan keuntungan materi
secara langsung kepada Tukang Lukis.
       Selain itu, para Tukang Lukis memiliki anggapan bahwa dengan adanya
pengembangan pariwisata di Desa Jelekong akan mampu mendorong
penanaman modal di bidang kerajinan kesenian. Hal ini didasari oleh kondisi
para Tukang Lukis saat ini yang mengalami kesulitan permodalan untuk
mengambangkan usaha mereka.
       Persepsi dan apresiasi Tukang Lukis terhadap pengembangan pariwisata
budaya di Desa Jelekong akan memberikan kontribusi postif terhadap terciptanya
                                                                            61


pengembangan pariwisata melalui pemberdayaan masyarakat. Hal ini terlihat
dari niat mereka untuk memberikan sumber daya dan partisipasi yang mereka
miliki demi terselenggaranya pengembangan pariwisata di Desa Jelekong.

D.     Pengumpul Lukisan dan Pemilik Galeri
       Pengumpul Lukisan adalah seseorang yang memiliki profesi sebagai
pengumpul kerajinan lukisan (bandar) dengan cara membeli lukisan untuk
kemudian memasarkan kerajinan tersebut pada pihak luar. Keberadaan
pengumpul lukisan ini dirasakan sangat penting artinya bagi para Tukang Lukis,
terutama untuk menjamin bahwa kerajinan hasil karya para Tukang Lukis dapat
segera menghasilkan uang. Harga yang ditawarkan kepada para Tukang Lukis
relatif tidak sepadan dengan proses yang mereka kerjakan, di sisi lain, Tukang
Lukis tidak dapat berbuat banyak karena mereka juga memiliki ketergantungan
pada para pengumpul lukisan ini.
       Dalam pengembangan pariwisata budaya di Desa Jelekong, para
pengumpul lukisan memiliki kepentingan yang bertolak belakang dengan tujuan
pengembangan. Hal ini didasari oleh kekhawatiran kelompok pengumpul lukisan
ini atas berkurangnya keuntungan yang mereka raih apabila dilaksanakan
pengembangan pariwisata budaya di Desa Jelekong yang menginginkan
terjadinya transaksi langsung antara Tukang Lukis dan pembeli.
       Pemilik galeri adalah seseorang yang membuka galeri lukisan di Desa
Jelekong. Para pemilik galeri ini mayoritas adalah Tukang Lukis yang memiliki
permodalan relatif kuat sehingga mampu mendirikan galeri sebagai ruang pamer
bagi “perusahaannya”. Para pemilik galeri ini menjual lukisan baik pada pembeli
eceran maupun pada pemborong yang membawa hasil kerajinan untuk
dipasarkan di tempat lain. Dalam pengembangan pariwisata budaya di Desa
Jelekong, para pemilik galeri ini memiliki harapan meningkatnya jumlah
penjualan lukisan pada galeri yang mereka miliki. Para pemilik galeri juga siap
membantu pengadaan tempat/sarana workshop seni lukis bagi wisatawan.

1)     Pemasok Bahan-Bahan Kerajinan
       Dalam pengembangan pariwisata budaya di Desa Jelekong, para
pemasok bahan kerajinan mengharapkan adanya keberlangsungan kerjasama
anatara   Tukang   Lukis   dan     pemasok   bahan-bahan   kerajinan.   Mereka
mengaharapkan adanya peningkatan pembelian bahan-bahan kerajinan sebagai
dasar para pemasok bahan kerajinan ini untuk mengembangkan usahanya.
Untuk mendukung pengembangan pariwisata budaya di Desa Jelekong, para
                                                                           62


pemasok bahan-bahan kerajinan bersedia untuk memberikan kredit bahan-bahan
kerajinan (pembelian dengan angsuran/tenggang waktu) kepada para Tukang
Lukis.

2)       Tukang Ojek
         Tukang ojek di Desa Jelekong terdiri dari para pemuda dan masyarakat
sekitar Desa Jelekong. Keberadaan mereka saat ini adalah sebagai penyedia
sarana transportasi intra kawasan desa. Selain itu, peran mereka dalam
kehidupan masyarakat adalah sebagai tenaga keamanan informal. Fungsi ini
memang secara tidak sadar mereka jalani. Penjagaan kemanan dan stabilitas
“jalur transportasi ojek” merupakan hal yang penting untuk mereka jaga. Ha ini
tentu saja berhubungan dengan kelangsungan pendapatan mereka dari jasa
transportasi di Desa Jelekong. Dalam pengembangan pariwisata budaya di Desa
Jelekong, kedua fungsi di atas dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan
pariwisata di daerah ini. Minat para tukang ojek terhadap pengembangan
pariwisata adalah peningkatan jumlah penumpang, dengan logika, semakin
banyak kegiatan berlangsung di Desa Jelekong, maka semakin banyak pula
kesempatan mereka untuk meraih penumpang.
         Kegiatan berwisata atau berbelanja sangat identik dengan besarnya
jumlah pengeluaran yang dilakukan. Kegiatan berwisata dan berbelanja lukisan
dan wayang golek di Jelekong menarik untuk diketahui tentang hal apa saja yang
menjadi poin pengeluaran wisatawan yang berkunjung. Semakin besar
pengeluaran yang dikeluarkan oleh wisatawan maka semakin besar dampak
positifnya terhadap kemajuan kegiatan pariwisata yang ada. Besarnya
pengeluaran wisatawan di Jelekong bervariasi hanya saja jumlah secara
nominalnya masih sangat kecil, seperti pada Tabel 4.6 berikut.

                                 Tabel 4.6
            Besar Pengeluaran Wisatawan Selama Di Lokasi Wisata
                     Besar Pengeluaran                  Prosentase
               No                             Jumlah
                            (Rp)                           (%)
               1.   < 100.000                       5           17
               2.   100.000 – 200.000              20           67
               3.   200.000 – 300.000               3           10
               4.   > 300.000                       2            7
                         Total                     21          100
              Sumber : Hasil Analisis Tahun 2006
                                                                             63




                              7%
                                      17%
                        10%

                                                    < 100.000
                                                    100.000 – 200.000
                                                    200.000 – 300.000
                                                    > 300.000



                                66%




                               Gambar 4.5
   Persentase wisatawan Berdasarkan Besar Pengeluaran Selama Berwisata
                        Sumber : Hasil Analisis 2006


       Pengeluaran selama di lokasi terbanyak berkisar antara Rp.100.000 –
Rp.200.000. Dari seluruh responden yang ditemui tidak ada pengeluaran yang
lebih dari Rp.300.000, hal ini disebabkan item yang menjadi pengeluaran
wisatawan tidak banyak atau tidak variatif. Menarik untuk diketahui sebenarnya
apa saja pengeluaran wisatawan di Wisata Budaya Desa Jelekong. Berdasarkan
data dilapangan, jenis pengeluaran terbesar wisatawan adalah membeli lukisan
dan wayang golek, selain itu jenis pengeluaran terkecil selama di lokasi kurang
dapat di identifikasi karena wisatawan mengaku tidak merasakan ada
pengeluaran lain selain hanya untuk membeli lukisan dan wayang golek.
Pengeluaran makan/minum, akomodasi, cinderamata dan yang sejenisnya tidak
dilakukan di lokasi melainkan di luar Wisata Budaya Desa Jelekong. Adapun
pengeluaran untuk transport juga tidak terlalu dirasakan sebab setiap hari mobil
digunakan dan setiap beberapa hari juga membeli bahan bakar.
       Wisatawan yang ditemui ini berkunjung ke Budaya Desa Jelekong
merupakan wisatawan yang pada umumnya melihat atraksi lukisan dan wayang
golek untuk koleksi dirumahnya, tidak termasuk wisatawan yang tujuan uya
membeli lukisan dan wayang golek untuk keperluan bisnis.
      Alasan pengunjung yang membeli lukisan dan wayang golek di Jelekong
cukup merata, diantaranya yang cukup menonjol adalah karena banyaknya
pilihan jenis lukisan dan wayang golek yang ditawarkan dan sambil berekreasi.
Perpaduan dua hal ini apabila dioptimalkan sesungguhnya merupakan aset yang
sangat berharga dan potensial dalam pengembangan kegiatan pariwisata di
Wisata Budaya Desa Jelekong. Namun sangat disayangkan, potensi wisata yang
                                                                                64


terdapat di dalamnya belum dikelola secara serius sehingga hasilnya juga tidak
begitu menggembirakan. Artinya, aspek potensi pariwisata yang terdapat di
dalamnya masih cenderung diabaikan dan tidak dikelola dengan baik.

                                 Tabel 4.7
            Alasan Membeli Lukisan dan Wayang Golek Di Jelekong
                Alasan membeli Lukisan dan                     Prosentase
       No                                           Jumlah
                 wayang golek Di Jelekong                         (%)
       1.     Murah                                       13            43
       2.     Mudah dijangkau                              5            17
              Tidak ada tempat beli lukisan dan
       3.                                                  4              13
              wayang golek lagi
       4.     Sambil berlibur                              3              10
              Banyak pilihan jenis lukisan dan
       5.                                                  5              17
              wayang goleknya
                         Total                            30            100
       Sumber : Hasil Analisis Tahun 2006


       Alasan pengunjung yang membeli lukisan dan wayang golek di Jelekong
cukup merata, diantaranya yang cukup menonjol adalah karena banyaknya
pilihan jenis lukisan dan wayang golek yang ditawarkan dan murah. Perpaduan
dua hal ini apabila dioptimalkan sesungguhnya merupakan aset yang sangat
berharga dan potensial dalam pengembangan kegiatan pariwisata di Wisata
Budaya Desa Jelekong. Namun sangat disayangkan, potensi wisata yang
terdapat di dalamnya belum dikelola secara serius sehingga hasilnya juga tidak
begitu menggembirakan. Artinya, aspek potensi pariwisata yang terdapat di
dalamnya masih cenderung diabaikan dan tidak dikelola dengan baik.
       Rendahnya tingkat perhatian dan pengelolaan potensi pariwisata di
Jelekong ini terbukti dari pola kunjungan wisatawan, apalagi jika dilihat dari segi
pengeluaran wisatawan yang masih sangat rendah dan sebagian besar hanya
untuk membeli lukisan dan wayang golek. Besarnya rata-rata pengeluaran
wisatawan khusus untuk membeli lukisan dan wayang golek bisa dikatakan
sudah cukup bagus. Hanya saja, sangat disayangkan jika wisatawan hanya
sekedar membeli lukisan dan wayang golek, seharusnya waktu kunjungannya
bisa lebih lama dan pengeluarannya bisa lebih banyak apabila Jelekong memiliki
suatu sentra lokasi lukisan dan wayang golek yang memiliki fasilitas-fasilitas
pendukung pariwisata.
                                                                               65


                                Tabel 4.8
                    Tanggapan Wisatawan Apabila Dibuka
                       Sentra Budaya Desa Jelekong
            Tanggapan Wisatawan Apabila
    No        Dibuka Sentra Budaya Desa          Jumlah     Prosentase (%)
             Jelekong Akan Lebih Menarik
     1.    Ya                                        21                   70
     2.    Biasa-biasa saja                           9                   30
     3.    Tidak pengaruh                             0                    0
                     Total                           30                  100
      Sumber : Hasil Analisis Tahun 2006



                                    0%

                          30%


                                                      Ya
                                                      Biasa-biasa saja
                                                      Tidak pengaruh
                                           70%




                                Gambar 4.6
           Persentase Wisatawan Terhadap Wisata Budaya Jelekong
                            Sumber : Hasil Analisis 2006


       Sentra Budaya Desa Jelekong yang diusulkan tersebut tentu saja
memerlukan biaya opersional, biaya pemeliharaan, dan lain-lain sehingga ketika
akan memasukinya adalah sangat wajar apabila dikenakan tiket masuk.
Wisatawan sebagian besar berpendapat bersedia mengeluarkan uangnya untuk
membeli tiket agar dapat memasuki Sentra Budaya Desa Jelekong. Cukup
melegakan, karena tidak satupun responden yang mengatakan tidak bersedia
atau berpendapat tergantung besamya. Hal ini menunjukkan besamya potensi
Sentra Budaya Desa Jelekong tersebut untuk segera dapat direalisasikan,
mengingat kondisi dan permintaan yang demikian tingginya.
                                                                               66




4.1.1.2 Atraksi Budaya Lukisan dan Wayang Golek
       Pada sub bab ini akan diidentifikasi bagaimana Atraksi budaya lukisan
dan   wayang golek, adapun dijelaskan juga karakteristik usaha         lukisan dan
wayang golek, pendapat pelukis dan pembuat wayang golek terhadap kondisi
Jelekong, dan pendapat         pelukis dan pembuat wayang golek terhadap
pengembangan wisata Budaya Desa Jelekong.
        Pelukis dan pembuat wayang golek yang diambil sebagai sampel
berjumlah 21 orang. Pelukis dan pembuat wayang golek tersebut terdiri atas 14
orang laki-laki (67%) dan sisanya 7 orang perempuan (33%). Apabila dilihat dari
struktur umur maka pelukis dan pembuat wayang golek akan terbagi ke dalam
pembagian sebagai berikut.

                                Tabel 4.9
        Struktur Umur Pelukis dan Pembuat wayang golek Jelekong
                                                        Prosentase
              No      Umur (tahun)         Jumlah
                                                           (%)
              1.    20 – 30                         3           14
              2.    31 – 40                        13           62
              3.    41 – 50                         1            5
              4.    51 – 60                         4           19
                       Total                       21          100
              Sumber : Hasil Analisis Tahun 2006




                                         14%
                             19%


                                                             20 – 30
                        5%
                                                             31 – 40
                                                             41 – 50
                                                             51 - 60

                                        62%




                                Gambar 4.7
      Persentase Pelukis dan Pembuat Wayang Berdasarkan Struktur Umur
                             Sumber : Hasil Analisis 2006


       Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa mayoritas pelukis dan
pembuat wayang golek memiliki struktur umur 31-40 tahun. Umur atau usia ini
                                                                            67


adalah usia produktif dimana semangat bekerja biasanya lebih tinggi dan kondisi
fisik juga lebih baik. Pelukis dan pembuat wayang golek yang ditemui semuanya
telah berkeluarga, sebanyak 14 orang (67%) sebagai suami/kepala keluarga dan
sisanya sebanyak 7 orang (33%) berstatus sebagai istri. jumlah tanggungan para
(anak dan istri) pada umumnya sebanyak 3 - 5 orang. Namun demikian ada juga
yang kurang dari 3 orang atau jumlah yang lebih besar lagi yakni 5 - 7 orang,
sebagaimana tabel di bawah ini.
                             Tabel 4.10
         Jumlah Tanggungan Pelukis dan Pembuat Wayang Golek
                         Jumlah                        Prosentase
             No                             Jumlah
                      Tanggungan                          (%)
             1.    < 3 orang                       5            24
             2.    3 – 5 orang                    15            71
             3.    5 – 7 orang                     1             5
             4.    7 – 9 orang                     0             0
             5.    > 9 orang                       0             0
                       Total                      21           100
             Sumber : Hasil Analisis Tahun 2006


       Jumlah tanggungan atau jumlah anggota keluarga para pelukis dan
pembuat wayang golek tergolong keluarga sederhana/menengah, karena
kisarannya antara 3 sampai 5 orang. Tidak ada istimewanya, sebab keluarga-
keluarga saat ini juga memiliki rata-rata jumlah tanggungan yang demikian.
Apabila dilihat dari segi tingkat pendidikannya, maka     pelukis dan pembuat
wayang golek memiliki tingkat pendidikan sebagaimana berikut ini.


                               Tabel 4.11
          Tingkat Pendidikan Pelukis dan Pembuat Wayang Golek
                          Tingkat                       Prosentas
              No                             Jumlah
                        Pendidikan                        e (%)
              1.    Tamat SD                       3            14
              2.    Tamat SLTP                     4            19
              3.    Tamat SLTA                     9            43
              4.    Tamat Akademi/PT               5            24
              5.    Lainnya                        0             0
                        Total                     21          100
             Sumber : Hasil Analisis Tahun 2006
                                                                               68




                                       0%
                                            14%
                           24%

                                                            Tamat SD
                                                            Tamat SLTP
                                                  19%
                                                            Tamat SLTA
                                                            Tamat Akademi/PT
                                                            Lainnya


                                 43%




                                   Gambar 4.8
            Persentase Tingkat Pendidikan Pelukis dan Pembuat Wayang
                               Sumber : Hasil Analisis 2006
          Dari sisi pekerjaan, bertani dan berdagang lukisan dan wayang golek
adalah pekerjaan utama dari masyarakat Jelekong. Khusus untuk lukisan dan
wayang golek, beberapa dari mereka juga memiliki pekerjaan sampingan seperti
jasa pembuatan. Jasa pembuatan tersebut biasanya untuk pesanan.
          Sisi lain yang dapat dilihat berkenaan dengan karakteristik pelukis dan
pembuat wayang golek Jelekong adalah tingkat penghasilan mereka per
bulannya. Hal ini perlu diketahui untuk melihat sejauh mana kesejahteraannya
dalam usahanya sebagai pelukis dan pembuat wayang golek. Penghasilan per
bulan pelukis dan pembuat wayang golek Jelekong sebanyak 71% responden
penhasilannya Rp.1.000.000 - Rp.2.000.000, sebanyak 6% penghasilannya
Rp.700.000 - Rp.1.000.000 dan sebanyak 24% penghasilannya di atas
Rp.2.000.000. Dari semua lukisan dan wayang golek yang ditemui tidak ada
satupun yang penghasilannya di bawah Rp.700.000.


4.1.1.3    Karakteristik Usaha Lukisan dan Wayang Golek
           Karakteristik usaha lukisan dan wayang golek adalah menyangkut hal-
hal yang berkenaan dengan bagaimana cara-cara maupun usaha-usaha yang
dilakukan pelukis dan pembuat wayang golek untuk melakukan kegiatannya.
Pelukis dan pembuat wayang golek dalam melaksanakan usahanya dalam
membuat lukisan dan wayang golek umumnya dilakukan bersama dengan
keluarga dan beberapa        pelukis dan pembuat wayang golek melakukannya
sendiri. Tidak ditemukan pelukis dan pembuat wayang golek yang menjalankan
usahanya dengan bekerjasama dengan pihak lain. Pihak lain yang dimaksud
                                                                               69


adalah mitra kerja lukisan dan wayang golek, terlibat dalam hal pengembangan
maupun pemasaran lukisan dan wayang golek.
         Dengan demikian,      pelukis dan pembuat wayang golek melakukan
usahanya secara mandiri dan mengandalkan kemampuan sendiri maupun
keluarganya. Untuk melakukan pekerjaan melukis dan membuat wayang golek,
para pelukis dan pembuat wayang golek biasanya mempunyai karyawan untuk
membantu pekerjaannya. Tidak banyak jumlahnya, ada yang kurang, 2 - 4 orang,
beberapa memiliki karyawan lebih dari 5 orang. Karyawan ini pada umumnya
berasal dari Desa Jelekong sendiri dan beberapa diantara karyawan tersebut
adalah anggota keluarganya sendiri.
         Penjualan lukisan dan wayang golek agak berbeda dengan jenis
penjualan    yang   lainnya.   Para    pelukis     dan    pembuat   wayang   golek
mengupayakan agar setiap saat lukisan dan wayang golek senantiasa ada
sehingga pembuatannya hampir dilakukan setiap hari. Pembuatan lukisan dan
pembuatan wayang golek dilakukan sangat tergantung pada penjualan lukisan
dan wayang golek atau pesanan.
         Hal lain yang berkaitan dengan pemasaran atau penjualan adalah
dilakukan oleh      pelukis dan pembuat wayang golek secara langsung ke
konsumen, tanpa perantara. Akan tetapi, hasil penelitian lapangan tidak
menunjukkan hal demikian. Semua memasarkan lukisan dan wayang goleknya
secara langsung, walaupun ada juga           yang menjualnya lewat perantara
(penampung) untuk periode-periode tertentu, misalnya ketika ada borongan
pesanan lukisan dan wayang golek jenis tertentu dalam jumlah yang cukup
besar.
                             Tabel 4.12
  Jumlah Wisatawan Peminat Lukisan dan Wayang Golek Desa Jelekong
                     Konsumen Budaya                        Rata-rata
              No                             Jumlah
                       Desa Jelekong                          (%)
               1.    Kota Bandung                    12             57
               2.    Luar Kota Bandung                9             43
               3.    Luar Negeri                      0              0
                        Total                        21           100
              Sumber : Hasil Analisis Tahun 2006
                                                                            70




                                 0%




                     43%                                Kota Bandung
                                                        Luar Kota Bandung
                                            57%         Luar Negeri




    Gambar 4.9 Persentase Jumlah Konsumen Lukisan dan Wayang Golek
                        Sumber : Hasil Analisis 2006
       Dari tabel di atas disebutkan 57% rata-rata konsumen lukisan dan
wayang golek Jelekong sebagian besar berasal dari Kota Bandung dan 43% dari
luar Kota Bandung. Konsumen yang berasal dari luar negeri pada dasamya ada
tetapi sangat kecil sehingga tidak signifikan apabila dimasukkan.
       Usaha pembuatan lukisan dan wayang golek yang dilakukan oleh para
pelukis dan pembuat wayang golek bisa dikatakan tidak pernah sepi dari
permasalahan maupun hambatan, semua responden mengaku memiliki
harnbatan dalam membuat lukisan dan wayang golek. Hambatan tersebut antara
lain: keterbatasan modal, mahalnya bahan baku, pemasaran, situasi politik
berdampak terhadap sepinya pengunjung, dan banyak pesaing.

                                  Tabel 4.13
              Hambatan Yang Dihadapi Dari Kegiatan Wisata
                           Budaya Desa Jelekong
                                                  Prosentase
           No        Hambatan           Jumlah
                                                     (%)
           1.   Modal                           5            24
           2.   Pemasaran                       0             0
           3.   Teknologi/keahlian              0             0
           4.   Transportasi                    1            10
           5.   Bahan baku                      3            24
                Tenaga kerja
           6.                                   0             0
                terampil
           7.   Situasi Politik                 0             0
           8.   Banyak saingan                  5            19
           9.   Galeri                          7            10
                    Total                     21           100
             Sumber : Hasil Analisis Tahun 2006
        Angka ini tidak sepenuhnya representatif, sebab dari 21 pelukis dan
pembuat wayang golek yang menjadi responden tersebut tidak sedikit yang
                                                                             71


 menyesalkan akan harga bahan bakar minyak dan bahan baku pembuatan
 lukisan dan wayang golek,


                                 Tabel 4.14
          Status Kepemilikan Lahan Para Lukisan dan wayang golek
                                            Status kepemilikan
     Status kepemilikan                       galeri dan kios
No                         Jumlah      %                           Jumlah     %
     rumah/pekarangan                      lukisan dan wayang
                                                   golek
1. Milik sendiri                21     100 Milik sendiri                15    71
2. Sewa                          0       0 Sewa                          6    29
        Total                   21     100         Total                21   100
 Sumber : Hasil Analisis Tahun 2006
        Berdasarkan tabel di atas, secara sederhana status kepemilikan galeri
 dapat dibagi ke dalam dua bagian, yaitu milik sendiri dan sewa. Untuk lahan
 galeri semua responden mengaku bahwa galeri tersebut adalah milik sendiri. Hal
 ini karena galeri tersebut masih satu bagian dengan rumahnya. Sementara itu,
 galeri khusus maupun kios-kios lukisan dan wayang golek ada yang berstatus
 milik sendiri dan ada juga yang merupakan lahan sewa. Lahan sewa tersebut
 disewa dari pemilik yang sebagian memang berasal dari masyarakat Jelekong
 sendiri dan sebagian besar lainnya adalah pemilik yang bukan berasal dari
 Jelekong.
         Berbicara tentang proporsi komponen lokal maupun komponen impor
 dalam usaha pembuatan lukisan dan wayang golek ini maka berdasarkan hasil
 kuesioner diketahui bahwa      hanya memakai komponen lokal (bisa dikatakan
 100%). Pelukis dan pembuat wayang golek sendiri tidak ada yang mengimpor
 langsung komponen dalam usaha pembuatan lukisan dan wayang golek
 tersebut. Kalaupun ada bahan impor, maka bahan-bahan tersebut dengan
 mudah dapat diperoleh di Bandung, maupun lewat perantara atau dari sesama
 pelukis dan pembuat wayang golek yang ada di Jelekong.
        Kemampuan di dalam mengelola dan menjalankan usaha pembuat
 lukisan dan wayang golek sangat menentukan besamya penghasilan yang akan
 diperoleh oleh para      pelukis dan pembuat wayang golek. Kecenderungan
 penghasilan lukisan dan wayang golek dalam satu tahun terakhir sebagaimana
 terdapat pada tabel berikut.
                                                                            72


                             Tabel 4.15
         Kecenderungan Penghasilan Lukisan dan Wayang Golek
                     Dalam Satu Tahun Terakhir
            Kecenderungan Penghasilan
                                                               Prosentase
       No    Lukisan dan wayang golek          Jumlah
                                                                   (%)
             Dalam Satu Tahun Terakhir
       1. Meningkat                                       10           48
       2. Menurun                                          5           24
       3. Tetap                                            6           29
                       Total                              21          100
       Sumber : Hasil Analisis Tahun 2006




                     29%
                                                Meningkat


                                      47%       Menurun


                                                Tetap



                           24%




                              Gambar 4.10
                Persentase Penghasilan Lukisan dan Wayang
                        Sumber : Hasil Analisis 2006


      Sebanyak 48% responden menjawab bahwa penghasilannya dalam satu
tahun terakhir meningkat, sebanyak 24% responden mengaku penghasilannya
menurun dan sebanyak 29% mengaku penghasilannya tetap. Menurut pelukis
dan pembuat wayang golek, beberapa hal yang membuat penghasilan dalam
satu tahun terakhir meningkat, antara lain: banyaknya pekerjaan pembuatan ,
adanya pesanan dari luar maupun dari dari dalam, dan jenis dan macam lukisan
dan wayang golek diperbanyak. Adapun yang menyebabkan penghasilan
menurun menurut lukisan dan wayang golek adalah situasi politik dan ekonomi
nasional yang tidak stabil sehingga mengurangi daya beli masyarakat dan
penyebab lainnya adalah kurangnya modal membuat lukisan dan wayang golek
untuk pengembangan usahanya. Sedangkan hal-hal yang menyebabkan
penghasilan relatif tetap adalah pesaing banyak, pengunjung/pembeli berkurang
dan harga bahan baku naik.
                                                                                   73


       Beberapa hal yang menjadi faktor utama dalam kemajuan usaha para
pelukis dan pembuat wayang golek Jelekong adalah pengunjung, pelayanan,
jenis lukisan dan wayang golek khas dan tidak banyak yang sarna, lokasi usaha
yang strategis, lukisan dan wayang golek lebih banyak dan bervariasi, marketing.

                              Tabel 4.16
     Faktor Utama Dalam Kemajuan Usaha Lukisan dan Wayang Golek
                  Faktor Utama Dalam
                                                              Prosentase
        No    Kemajuan Usaha Lukisan                Jumlah
                                                                  (%)
                   dan wayang golek
         1. Pengunjung                                   7                  33
         2. Pelayanan                                    2                  10
         3. Lokasi usaha yang strategis                  5                  24
         4. Jenis lukisan dan wayang
             golek lebih banyak tidak                    5                  24
             pasaran dan bervarisasi
         5. Promosi/marketing                            2                   10
                        Total                           21                  100
         Sumber : Hasil Analisis Tahun 2006

                                                        Pengunjung
                            10%

                                                        Pelayanan
                                              32%

                    24%
                                                        Lokasi usaha yang
                                                        strategis

                                                        Jenis lukisan dan wayang
                                                        golek lebih banyak tidak
                                                        pasaran dan bervarisasi
                                          10%
                            24%                         Promosi/marketing




                               Gambar 4.11
        Persentase Faktor Kemajuan Usaha Lukisan dan Wayang Golek
                            Sumber : Hasil Analisis 2006


       Beberapa faktor di atas menjadi hal yang utama di dalam menentukan
kemajuan usaha lukisan dan wayang golek. Penilaian responden cukup merata
dan tidak ada faktor yang terlalu mencolok, seperti terlihat pada tabel di atas.
Rata-rata keuntungan penjualan     lukisan dan wayang golek per bulan cukup
beraneka ragam, dari seluruh responden yang ditemui semuanya memiliki rata-
rata keuntungan lebih dari Rp.1 juta. Namun demikian ada juga lukisan dan
                                                                                  74


wayang golek yang rata-rata keuntungan penjualan per bulannya pada besaran
Rp.2 juta sampai Rp.5 juta, seperti terlihat pada Tabel 4.18


                                 Tabel 4.17
                 Rata-rata Keuntungan Penjualan Per Bulan
                                                               Prosentas
                   Rata-rata Keuntungan
          No                                      Jumlah           e
                    Penjualan Per Bulan
                                                                  (%)
          1.  Rp. 1 – 1,5 juta                          10            48
          2.  Rp. 2 juta                                 7            33
          3.  Rp. 3 juta                                 3            14
          4.  Rp. 5 – 8 juta                             1             5
          5.  Rp. 9 – 10 juta                            0             0
          6.  Rp.11 – 5 juta                             0             0
                         Total                          21           100
          Sumber : Hasil Analisis Tahun 2006




                                   5% 0%
                             14%

                                                               Rp. 1 – 1,5 juta
                                                               Rp. 2 juta
                                                 48%           Rp. 3 juta
                                                               Rp. 5 – 8 juta
                                                               Rp. 9 – 10 juta
                                                               Rp.11 – 5 juta
                            33%




           Gambar 4.12 Persentase Keuntungan Penjualan Per Bulan
                           Sumber : Hasil Analisis 2006


       Berkenaan dengan pola penjualan atau masa-masa dimana penjulan
lukisan dan wayang golek ramai terbagi berdasarkan hari dan momen. Hari-hari
penjualan tinggi adalah pada hari libur atau hari Sabtu dan Minggu. Apabila
berdasarkan momen dan bulan, Pada bulan delapan (Agustus) permintaan
lukisan dan wayang golek, baik lukisan dan wayang golek potong maupun
lukisan dan wayang golek.
       Jenis lukisan dan wayang golek yang biasa dijual oleh para pelukis dan
pembuat wayang golek Jelekong, antara lain: jenis lukisan dan wayang golek
adalah jenis pemandangan, buah-buahan, kaligrafi, dan binatang sedangkan
wayang golek biasanya selain dari pementasan juga dari hasil penjualan wayang.
                                                                                     75


       Menurut pelukis dan pembuat wayang golek dan pementasan wayang,
biasanya lukisan dan wayang golek yang dijual untuk keperluan bisnis (dijual ke
pedagang lagi), untuk acara nikahan dan sunatan, dan untuk kegiatan
selametan. Urutan ini berdasarkan tingginya tingkat penjualan             lukisan dan
wayang golek.


4.1.1.4 Pendapat      Pelukis dan Pembuat Wayang Golek Terhadap Kondisi
       Wisata Budaya Desa Jelekong
       Seperti halnya wisatawan, lukisan dan wayang golek juga ditanyakan
apakah mereka tahu bahwa Wisata Budaya Desa Jelekong belum memiliki
landasan legal maupun peraturan daerah yang mengatumya sebagai kawasan
wisata, walau pamor Jelekong sebagai wisata lukisan dan wayang golek sudah
dikenal sampai ke nusantara bahkan luar negeri. Kondisi tersebut ditanyakan
kepada        pelukis dan pembuat wayang golek, temyata dari keseluruhan
responden yang ada, sebanyak 48% yang tahu dan sebesar 52% menjawab
tidak tahu.
                             Tabel 4. 18
     Wawasan Pelukis dan Pembuat Wayang Golek Menyangkut Status
                    Wisata Budaya Desa Jelekong
             Jelekong Merupakan Kawasan
                                                                    Prosentase
       No     Wisata Tetapi Belum Memiliki                Jumlah
                                                                        (%)
                       Peraturan/SK
        1. Tahu                                               10                48
        2. Tidak Tahu                                         11                52
                        Total                                 21               100
       Sumber : Hasil Analisis Tahun 2006
       Kenyataan menunjukkan hal yang tidak terlalu berbeda dengan
pengetahuan wisatawan. Ternyata, responden             pelukis dan pembuat wayang
golek lebih banyak yang tidak tahu tentang status Wisata Budaya Desa Jelekong
ini. Walaupun pelukis dan pembuat wayang golek tersebut tinggal di Jelekong,
tidak menjamin bahwa mereka juga tahu persis tentang kondisi wilayahnya.
Wisata Budaya Desa Jelekong yang sudah identik dengan wisata lukisan dan
wayang    golek     diharapkan   dapat       memberikan    dampak    positif   terhadap
masyarakat. Menurut pelukis dan pembuat wayang golek dampak positif yang
diharapkan      tersebut,   antara   lain:    dapat   meningkatkan    pendapatannya,
pengunjung lebih banyak lagi, nilai tambah produk lukisan dan wayang golek
bertambah baik, dan terbukanya lapangan kerja baru.
                                                                                76


       Pengetahuan lukisan dan wayang golek diuji lagi dengan sejauh mana
mereka mengenal potensi wilayahnya. Selain di bidang pembuatan lukisan dan
wayang golek, apakah masih ada potensi sumberdaya yang belum tergali di
Jelekong. Sebanyak 12 orang (57%) responden mengatakan ada dan sebanyak
9 orang (43%) mengatakan tidak ada. Cukup sulit memang untuk mengetahui
potensi yang tersimpan, walaupun hal tersebut di wilayahnya sendiri. Diantara
responden yang mengatakan ada tersebut menyebutkan bahwa potensi sumber
daya yang belum tergali tersebut adalah bumi perkemahan, potensi desa wisata,
dan rekreasi bermain. Bumi perkemahan sebenarnya sudah ada di desa lain.
Sementara potensi desa wisata yang cukup berlimpah di Jelekong merupakan
ide yang cukup menarik juga untuk diteliti lebih lanjut. Rekreasi bermain yang
diusulkan mirip sekali dengan konsep sentra lukisan dan wayang golek yang
diajukan dalam penelitian ini. Rekreasi bermain tersebut basisnya adalah lukisan
dan wayang golek atau kegiatan pementasan wayang golek.
                               Tabel 4.19
                 Potensi Sumber Daya Yang Belum Tergali
                  Sumber Daya Yang                                Prosentase
        No                                          Jumlah
                     Belum Tergali                                    (%)
         1. Desa wisata                                    2               10
         2. Pemandangan alam                               1                5
         3. Pementasan wayang golek                        1                5
         4. Bumi perkemahan                                5               24
         5. Pengolahan air jernih                          5               24
         6. Rekreasi bermain                               7               33
                       Total                              21              100
        Sumber : Hasil Analisis Tahun 2006

                                   10%               1 Desa w isata
                                         5%
                    32%                   5%         2 Pemandangan
                                                     alam
                                                     3 Pementasan
                                                     w ayang golek
                                                     4 Bumi
                                              24%
                                                     perkemahan
                                                     5 Pengolahan air
                          24%                        jernih
                                                     6 Rekreasi
                                                     bermain


      Gambar 4.13 Persentase Potensi Sumber Daya Yang Belum Tergali
                         Sumber : Hasil Analisis 2006
                                                                            77


         Konsep wisata budaya lukisan dan wayang golek yang diusulkan menurut
pelukis dan pembuat wayang golek akan lebih menarik untuk dikunjungi. Namun
demikian, ada juga pelukis dan pembuat wayang golek yang menganggapnya
biasa-biasa saja sebab kondisi Jelekong saat sekarang ini tetapi masih
disayangkan karena masalah pemasaran yang masih mengandalakan pesanan
dan adanya para perantara dalam penjualannya sehingga harganya pun masih
kurang memuaskan.
         Sentra lukisan dan wayang golek yang diusulkan diharapkan dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, salah satunya dengan menampung
kegiatan usaha lukisan dan wayang golek tersebut. lukisan dan wayang golek
diminta pendapatnya, apakah sentra lukisan dan wayang golek tersebut dapat
meningkatkan pendapatan masyarakat. Berdasarkan hasil kuesioner, maka
seluruh responden lukisan dan wayang golek berpendapat bahwa kehadiran
sentra lukisan dan wayang golek tersebut dapat meningkatkan pendapatan
masyarakat.
         Lebih rinci lagi, lukisan dan wayang golek diminta pendapatnya tentang
kegiatan-kegiatan ekonomi yang perlu atau tidak perlu disertakan ke dalam
sentra    lukisan dan wayang golek yang diusulkan. Kemudian, bagaimana
pengelolaan yang ideal menurut      pelukis dan pembuat wayang golek harus
dilakukan.
                                   Tabel 4.20
             Penilaian Pelukis dan Pembuat Wayang Golek Terhadap
               Sentra Lukisan dan wayang golek Yang Diusulkan

                      Kriteria                    P        %       TP       %
No
I.    Fisik dan Fasilitas
 1.   Pintu gerbang dan area parker                   21    100         0       0
      Memiliki persil-persil lahan untuk aneka        21
2.                                                          100         0       0
      ragam lukisan dan wayang golek
      Galeri untuk koleksi lukisan dan wayang         21
3.                                                          100         0       0
      golek-lukisan dan wayang golek tertentu
4.    Musholla                                        21    100         0       0
5.    Toilet umum                                     21    100         0       0
6.    Wartel                                          21    100         0       0
      Maskot Sentra Lukisan dan wayang golek          21
7.                                                          100         0       0
      Budaya Desa Jelekong
8.    Gedung serbaguna                                21    100         0     0
9.    Lokasi piknik                                   21    100         0     0
10.   Jam                                             15     71         6    29
11.   Gedung penerima : pintu masuk, ruang            18     86         3    14
                                                                              78



                      Kriteria                       P        %     TP        %
No
      informasi/penerangan, kantor
      manajemen, dan ruang satpam
II. Kegiatan Atraksi Wisata
 1. Restoran                                             21   100        0        0
 2. Kantin-kantin jajanan                                21   100        0        0
 3. Pondok wisata atau cottage                           21   100        0        0
      Area bermain (arung apung, kereta mini,            21
 4.                                                           100        0        0
      ayunan, dll)
      Stan/kios penjualan lukisan dan wayang             21
 5.                                                           100        0        0
      golek
 6. Pusat wisata                                         21   100        0        0
 7. Mobil kendaraan untuk berkeliling                    21   100        0        0
 8. Coffee shop                                          21   100        0        0
 9. Tempat penjualan cinderamata                         21   100        0        0
III. Pengelolaan
 1. Dikelola oleh suatu perusahaan swasta                21   100        0        0
      Pengelolaan dilakukan dalam suatu                  21
 2. wadah bersama secara mandiri, bisa                        100        0        0
      berbentuk koperasi atau bentuk lainnya
 3. Masyarakat bermitra dengan pemerintah                21   100        0        0
    Sumber : Hasil Analisis Tahun 2006
        Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa kegiatan-kegiatan
 ekonomi yang diusulkan pada umumnya dianggap perlu oleh            pelukis dan
 pembuat wayang golek. Hanya ada beberapa kegiatan ekonomi yang tidak
 mendapatkan penilaian penuh, yakni restoran besar, pondok wisata/cottage, dan
 atraksi wisata. Restoran besar menurut masyarakat (komunitas) tidak menjadi
 masalah karena pada intinya adalah bagaimana masyarakat tersebut memahami
 dan berdaya dalam menentukan apa yang diinginkannya.
        Pusat Wisata Budaya Desa Jelekong yang diusulkan cenderung
 memerlukan lahan yang relatif luas, Perbedaan lainnya, Sentra Budaya Desa
 Jelekong yang diusulkan selain berwawasan pemberdayaan masyarakat juga
 dikelola sedemikian rupa sehingga menjadi salah satu obyek kawasan wisata.


 4.1.2 Analisis Penyediaan (Supply)
        Objek wisata akan dikunjungi jika memiliki daya tarik. Daya tarik wisata
 (touristic attractiveness) adalah sesuatu kekuatan atau pengaruh yang diberikan
 oleh suatu objek wisata yang dapat mempengaruhi wisatawan sehingga akan
 tertarik dan berkunjung ke objek wisata tersebut.
                                                                            79


       Daya tarik wisata ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya jenis
atraksi wisata. Atraksi wisata menyebabkan pengunjung suatu lokasi objek
wisata. Edward L.Inskeep menyatakan bahwa atraksi wisata merupakan kunci
utama suksesnya pengembangan pariwisata. Walaupun elemen-elemen lain
seperti : transportasi, akomodasi dan lain-lain juga penting tetapi tanpa suatu
alasan untuk mengunjungi objek wisata lukisan dan wayang golek maka objek
wisata tersebut tidak dapat dikembangkan.
       Menurut Salah Wahab dalam bukunya Manajemen Pariwisata, suatu
daerah tujuan wisata (DTW) yang akan dikembangkan, harus memenuhi 3 (tiga)
kriteria pengembangan, yaitu : Memiliki atraksi wisata, fasilitas penunjang
(akomodasi), dan Aksesibilitas.

4.1.2.1 Penilaian Terhadap Atraksi Wisata
       Daya tarik wisata ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah
jenis atraksi wisata. Edward L. Inskeep menyatakan bahwa atraksi wisata
merupakan kunci utama suskesnya pengembangan/perencanaan objek wisata.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.21
                                  Tabel 4.21
                  Kegiatan Wisatawan Berdasarkan Atraksi
                Di Objek Wisata Lukisan dan wayang golek
   No            Kegiatan Wisata                        Daya Tarik Wisata
                                           Banyak berbagai jenis lukisan dan
                                           wayang golek yang disuguhkan di
                                           Budaya Desa Jelekong sesuai dengan
       Berbelanja Lukisan dan wayang
   1.                                      kebutuhan pengunjung sehingga
       golek
                                           pengunjung dengan bebas memilh jenis
                                           lukisan dan wayang golek yang
                                           dibutuhkan
                                           Interaksi dengan pengunjung yang lain
                                           dan melihat pemandangan Desa
   2. Memotret/melihat-lihat               Jelekong yang sejuk dan segar sehingga
                                           cocok untuk dijadikan wisata alam dan
                                           wisata desa
                                           Banyak wisatawan yang datang yang
                                           tujuan nya untuk membeli lukisan dan
                                           wayang golek dan ada juga yang
                                           kebetulan lewat saja. Wisatawan yang
                                           datang sebagian besar menikmati
   3. Berjalan-jalan
                                           pemandangan alam dan melihat berbagai
                                           jenis lukisan dan wayang golek yang
                                           tertata di sepanjang jalan Desa Jelekong
                                           sehingga pengunjung dengan mudah
                                           melihatnya
 Sumber : Hasil analisis Lukisan dan wayang golek Jelekong Tahun 2006
                                                                               80


         Selain itu Desa Jelekong memiliki kekayaan seni dan budaya yang
dikelola dengan baik dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan
daerah. Beberapa kesenian yang terdapat di Desa Jelekong adalah jaipongan,
kecapi, suling, kecapi pantun, pencak silat, calung, kuda lumpimg, dan rampak
sekar.
         Kekayaan seni dan budaya yang dimiliki Desa Jelekong tersebut dapat
menjadi daya tarik wisata selain Budaya Desa Jelekong yang dapat disuguhkan
kepada para pengunjung, sehingga para pengunjung tidak hanya membeli
lukisan dan wayang golek saja tetapi mereka dapat menikmati wisata lainnya.


4.1.2.2 Aksesibilitas
         Desa Jelekong dapat dicapai melalui jalur jalan darat dari Kota Bandung
melalui Jalan Buah Batu-Dayeuh Kolot-Baleendah sejauh 10 Km, dari Soreang
(ibukota    Kabupaten    Bandung)    melalui   Jalan   Raya    Soreang-Banjaran-
Belaeendah-Majalaya sejauh 18 Km, dan dari arah Garut/Cicalengka via
Majalaya-Soreang sejauh 25 Km. Dengan badan jalan selebar 7 m dengan
lapisan jalan aspal hotmix terdapat kerusakan jalan (lubang, parit) pada
beberapa lokasi. Penerangan jalan dinilai masih kurang mengingat jalur ini
merupakan jalur distribusi barang dari Garut dan Majalaya ke Kota Bandung.
         Kondisi jalan di Desa Jelekong saat ini dalam kondisi kurang baik, dengan
indikasi lapisan aspal jalan yang sudah banyak terkikis oleh air dan
menyebabkan munculnya banyak lubang serta batu kerikil jalan yang muncul ke
permukaan jalan. Namun demikian, jalan desa ini masih layak untuk dilalui
kendaraan roda dua dan roda empat. Jalan desa tersebut memiliki lebar 5 m
dengan panjang kurang lebih 1,5 Km, mulai dari area depan desa Jelekong (RW
01) hingga ke area belakang desa (area perbukitan). Penerangan jalan
memanfaatkan lampu penerangan rumah warga dan beberapa titik sengaja
dipasang lampu penerangan jalan secara konvensional oleh warga Jelekong.
         Desa Jelekong dapat dicapai dengan beberapa pilihan transportasi,
sebagai berikut.
A. Dari arah Kota Bandung
    a. Menggunakan kendaraan pribadi melalui Jalan Terusan Buah Batu-
         Cipagalo-Jl. Raya Baleendah-Jalan Raya Majalaya sejauh 10 Km.
                                                                                   81


    b. Menggunakan angkutan umum bus/minibus (elf) dari Terminal Kebon
          Kalapa/Tegallega dengan trayek Bandung-Majalaya dengan tarif Rp.
          3000,-.
B. Dari arah Soreang/Banjaran/Dayeuhkolot
    a. Menggunakan kendaraan pribadi melalui Jalan Raya Soreang-Banjaran
          menuju Jalan Raya Baleendah-Majalaya sejauh 8 Km.
    b. Menggunakan        angkutan   umum    dengan   rute   Soreang-Baleendah,
          disambung Baleendah-Ciparay dengan tarif Rp. 2.500,-.



                                                   Aksesibilitas menuju Wisata
                                                  Budaya Desa Jelekong dengan
                                                   kondisi tekstur jalan sedang.




            Aksesibilitas menuju
           Budaya Desa Jelekong
           dengan kondisi tekstur
            jalan relatif sedang




                                     Gambar 4.15
               Kondisi Aksesibilitas Ke Wisata Budaya Desa Jelekong
                        Sumber : Hasil Survey Tahun 2006


4.1.2.3    Obyek dan Daya Tarik Wisata
          Obyek dan daya tarik wisata (ODTW) merupakan faktor utama yang
mempengaruhi atau mendorong seseorang meninggalkan daerah asal untuk
mengunjungi suatu daerah ODTW yang dapat dikembangkan di suatu daerah
wisata tergantung pada potensi yang terdapat di dalamnya.
          Wisata Budaya Desa Jelekong memiliki kekuatan ODTW pada beragam
dan indahnya jenis lukisan dan wayang golek yang ditawarkan kepada
pengunjung maupun pembeli. Keindahan tersebut semakin dikokohkan dengan
pemandangan alam pegunungan yang indah dan segar. Kombinasi antara unsur
alam dan keanekaragaman lukisan dan wayang golek ini merupakan potensi
                                                                             82


ODTW yang mempesona dan menarik untuk dikunjungi. Ratusan bahkan ribuan
jenis lukisan dan wayang golek terdapat di Budaya Desa Jelekong.




                               Gambar 4.16
                 Aneka Ragam Jenis Lukisan dan wayang golek

       Wisatawan yang ditemui berpendapat bahwa keadaan obyek wisata
Jelekong menurut responden adalah baik hanya 7%, sedangkan yang
berpendapat sedang sebanyak 47%. Adapun yang menilai keadaan obyek wisata
adalah kurang sebanyak 20%. Keadaan obyek wisata yang dimaksud adalah
yang menyangkut penataan, keteraturan maupun kondisi fisik Jelekong.
Sebanyak 57% dari responden menilai dan berpendapat bahwa keadaan obyek
wisata Jelekong adalah kurang, mengandung makna dan pengertian bahwa
Jelekong dari segi penataan, keteraturan dan kondisi fisiknya bernilai kurang di
mata wisatawan. Hal ini dapat dimaklumi karena lukisan dan wayang golek yang
ada di Jelekong yang dijual sendiri oleh para lukisan dan wayang golek tidak
ditata secara kolektif. Artinya, lukisan dan wayang golek yang ada di halaman
rumah mereka maupun di kebun-kebun khusus dan kios-kios lukisan dan wayang
golek penataannya dilakukan berdasarkan keinginan dan kreatifitas dari masing-
masing pemiliknya. Hal inilah yang menyebabkan wisatawan berpendapat bahwa
keadaan obyek wisata secara umum bernilai kurang.
       Namun, ODTW ini tidak sepenuhnya memuaskan bagi para wisatawan
atau pengunjung. Hal ini disebabkan Budaya Desa Jelekong memfasilitasi
wisatawan bukan untuk berwisata (karena kawasan wisatanya sendiri tidak ada)
tetapi hanya untuk belanja sambil jalan-jalan.
                                                                                83


4.1.2.4 Fasilitas dan Utilitas
          Ketersediaan fasilitas dan utilitas yang terdapat di Wisata Budaya Desa
Jelekong belum dapat dikatakan mewakili untuk menunjang kegiatan pariwisata
yang ada. Ketersediaan fasilitas dan utilitas yang ada lebih tepat apabila
dikatakan    untuk   melayani    penduduk     atau   masyarakat   Jelekong    saja
sebagaimana wilayah desa lainnya. Adapun fasilitas dan utilitas pendukung
kegiatan pariwisata bisa dikatakan tidak ada karena kawasan khusus wisata
Budaya Desa Jelekong sendiri tidak ada atau tidak terdapat suatu lokasi yang
khusus.
          Dari   responden   yang   ditemui    semuanya    berpendapat       bahwa
ketersediaan faslitas dan utilitas di Jelekong adalah kurang (100%). Minimnya
fasilitas dan utilitas ini menyebabkan lama kunjungan wisatawan di Jelekong
sangat singkat (mayoritas kurang dari 2 jam). Ketiadaan atau minimnya
ketersediaan fasilitas dan utilitas ini akan sangat mempengaruhi perkembangan
pariwisata di Jelekong, dikhawatirkan ke depannya potensi pariwisata yang
dimilikinya tidak akan berkembang sebab pengunjung hanya menghabiskan
waktunya untuk berbelanja lukisan dan wayang golek saja.




                                Gambar 4.17
                 Kios-Kios Penjual Lukisan dan Wayang Golek

          Ketersediaan akomodasi dan rumah makan/tempat jajan merupakan
dua hal yang termasuk ke dalam fasilitas pariwisata. Kedua hal ini merupakan
indikator terhadap ketersediaan fasilitas pariwisata di Jelekong. Berkenaan
dengan ketersediaan akomodasi sebanyak 10% responden berpendapat baik,
sebanyak 43% menilai ketersediaan akomodasi sedang dan sebanyak 48%
responden menilai ketersediaan akomodasi kurang. Akomodasi berupa hotel
maupun tempat penginapan lainnya secara khusus di wilayah Desa Jelekong
tidak ada.
                                                                            84


          lndikator lainnya, berupa ketersediaan rumah makan/tempat jajan
menurut penilaian wisatawan adalah sebagai berikut, sebanyak 53% responden
menilai ketersediaan rumah makan/tempat jajan adalah kurang, sebanyak 47%.
Kondisi ini memang sesuai dengan fakta yang ada, dimana rumah makan/tempat
jajan sangat minim ditemukan di Jelekong.
4.1.2.5 Informasi dan Promosi
           Informasi umum mengenai Wisata Budaya Desa Jelekong diperlukan
untuk mendukung kegiatan pariwisata. Sebanyak 37% responden berpendapat
bahwa informasi umum di Jelekong baik, sebanyak 13% menilai informasi umum
di Jelekong sedang dan sebanyak 50% responden menilai informasi umum
kurang. Infromasi umum di Jelekong selama ini hanya mengandalkan
pengetahuan dari pengunjung saja. Artinya, wisatawan yang berkunjung mencari
tahu sendiri hal-hal apa saja yang dia butuhkan, misalnya tempat pembelian
lukisan dan wayang golek.
          Adapun yang berkaitan dengan promosi wisata, maka penilaian
wisatawan adalah sebanyak 57% responden berpendapat promosi wisata
Jelekong kurang baik, sebanyak 13% responden menilai sedang dan sebanyak
30% menilai promosi wisata Jelekong baik. Besamya jumlah wisatawan yang
berpendapat bahwa promosi wisata Jelekong baik disebabkan terkenalnya
Wisata Budaya Desa Jelekong sebagai sentra produksi lukisan dan wayang
golek. Popularitas Jelekong yang identik dengan lukisan dan wayang golek
sudah sedemikian dikenal luas di kalangan wisatawan yang berkunjung. Promosi
yang sampai ke masyarakat luas tersebut hanya sebatas Jelekong yang identik
dengan lukisan dan wayang golek dan wisata lukisan dan wayang golek.
Wisatawan. tidak membayangkan sebelumnya bahwa di Jelekong sendiri tidak
seperti dibayangkan yang memiliki kelengkapan fasilitas dan utilitas pendukung
kegiatan pariwisata.

4.1.2.6    Keamanan
          Keamanan di Jelekong bisa dikatakan aman-aman saja, sampai saat ini
belum ada kejadian-kejadian yang menimbulkan rasa ketidakamanan maupun
ketidaknyamanan bagi pengunjung yang datang ke Wisata Budaya Desa
Jelekong. Parameter lainnya adalah lukisan dan wayang golek masyarakat tidak
ada yang menjaganya tetapi keamanannya tetap terjaga, walaupun dalam satu
bulan kadang-kadang bisa kehilangan 1 sampai 2 lukisan dan wayang golek.
Namun       demikian,   para   pelukis   dan   pembuat   wayang   golek   tidak
                                                                             85


mempermasalahkannya, bahkan cenderung menganggapnya wajar dan biasa
saja. Apabila dilihat dari segi semangat kebersamaan yang ada di masyarakat
Jelekong maka tingginya semangat kebersamaan tersebut sangat berpengaruh
positif terhadap terwujudnya keamanan dan ketertiban di Jelekong.
       Wisatawan yang ditanyai pendapatnya mengenai faktor keamanan ini
berpendapat bahwa sebanyak 73% menilai keamanan di Wisata Budaya Desa
Jelekong baik, sebanyak 20% responden berpendapat keamanan sedang dan
7% yang berpendapat bahwa keamanan di Wisata Budaya Desa Jelekong
kurang. Wisatawan berpendapat demikian dikarenakan ukuran yang mereka
pakai adalah kemanan di saat mereka berada di lokasi.

4.1.2.7 Komponen Lain
       Faktor lain seperti karakteristik penduduk setempat juga merupakan
salah satu elemen yang sangat penting dalam pariwisata. Misalnya, antara lain
sikap penduduk setempat terhadap pariwisata, keramahan, kemauan untuk
memberikan pelayanan, manifestasi lain dalam persahabatan dan keramahan.
       Sikap penduduk terhadap pariwisata bisa dikatakan sangat welcome,
artinya masyarakat sangat berkepentingan dengan hal ini karena masyarakat
yang mayoritas    pelukis dan pembuat wayang golek mau tidak mau harus
memiliki sikap yang baik dan ramah dalam melayani pengunjung. Terlebih-Iebih
pengunjung tersebut hendak membeli lukisan dan wayang golek. Pembeli adalah
raja, demikian istilah popular dalam dunia bisnis. Para lukisan dan wayang golek
yang menawarkan produknya memberikan pelayanan yang maksimal kepada
pengunjug baik yang sekedar melihat-lihat maupun yang hendak membeli lukisan
dan wayang golek.
4.2 Analisis Crosstab
       Analisis ini digunakan untuk menguji apakah ada hubungan antara
variable-variabel yang berhubungan dengan atraksi budaya yang ada di Desa
Jelekong, selain itu juga untuk melihat hubungan antara atraksi dengan
wisatawan, dan hubungan atraksi dengan perekonomian masyarakat Desa
Jelekong.
       Dengan melakukan analisis crosstab bisa dilihat seberapa besar
pengaruh wisatawan terhadap atraksi budaya yang ada di Desa Jelekong apakah
berpengaruh apa tidak dan seberapa besar pengaruh tersebut terhadap
perekonomian masyarakat Desa Jelekong itu sendiri sehingga diperlukan juga di
korelasikan untuk mengetahui hubungan antar variable tersebut.
                                                                           86


4.2.1   Hubungan Antara Faktor Wisatawan dengan Atraksi

a. Profil usia dengan Atraksi Budaya

        Analisis hubungan antara factor wisatawan dengan    atraksi budaya di
Desa Jelekong dilakukan untuk melihat seberapa besar hubungan dan pengaruh
terhadap objek daya tarik wisata yang ada di Desa Jelekong, adapun hubungan
yang berpengaruh yaitu hubungan profil usia dengan atraksi, hubungan
pekerjaan wisatawan dengan atraksi budaya, hubungan profil asal daerah
dengan atraksi budaya, hubungan lama kunjungan dengan atraksi budaya, dan
hubungan pengeluaran wisatawan dengan atraksi. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada Tabel di bawah ini.

                                   Tabel 4.22
                        Hubungan Profil Usia dan Atraksi Budaya
                  Usia   <18     18-25 Thn    26-35      36-45         >45
Atraksi                  Thn                   Thn        Thn
Belanja Barang Seni          1            4         2          8             10
Apresiasi Seni               0            8         4          4              8
Workshop Seni                0            2         2          8              4
Rekreasi Keluarga            1            2         4          8              5
Wisata Edukasi               2            4         5          2              2
Sumber :Hasil Kuesioner Tahun 2009

        Berdasarkan     hasil kuesioner diatas dapat dilihat bahwa hubungan
variable usia dan atraksi budaya yang lebih berminat untuk melakukan kegiatan
belanja barang seni dan apresiasi dari atraksi wayang dan lukisan yaitu antara
umur >45 tahun yaitu sebesar 10 responden dan yang paling rendah yaitu umur
<18 tahun. Dari hasil analisis crosstab tersebut akan dibuat suatu korelasi
dengan melihat korelasi mana yang lebih tinggi untuk dijadikan rekomendasi
dalam menentukan arahan pengembangan wisata Budaya Desa Jelekong.
                                                                              87




     b. Latar Belakang Pekerjaan dengan Atraksi Budaya

                                        Tabel 4.23
           Hubungan Profil Latar Belakang Pekerjaan dan Atraksi Budaya
             Pekerjaan Pelajar TNI/POLR Swasta Wiraswasta             Tdk
                         /Mahas     I/PNS                           Bekerja
     Atraksi budaya       iswa
     Belanja Barang            2          8        6            10        10
     Seni
     Apresiasi Seni            2          6        4             5         5
     Workshop Seni             -          2        4             8         5
     Rekreasi Keluarga         -          2        2             5         5
     Wisata Edukasi            -          2        1             2         4
     Sumber :Hasil Kuesioner Tahun 2009

            Dari jenis pekerjaan    yang diambil sampelnya yaitu dari pelajar,
     TNI/Polri/PNS, swasta, wiraswasta, dan tidak bekerja yang paling besar
     apresiasinya terhadap atraksi budaya di Desa Jelekong yaitu Wirasawasta dan
     tidak bekerja yaitu 10 responden sedangkan yang rendah yaitu pelajar yaitu
     hanya 2 responden. Dalam peningkatan arus pengunjung atau wisatawan baik
     dari maupun luar Kota Bandung diperlukan suatu promosi dan suatu kreatifitas
     untuk menarik wisatawan baik itu wisatawan local maupun wisatawan asing,
     sedangkan untuk menarik minat bagi pelajar dibutuhkan suatu kegiatan wisata
     yang berupa workshop dan pelatihan untuk mengenal budaya Desa Jelekong
     yaitu Budaya Sunda yang berupa pementasan wayang golek dan kreasi lukisan.


     c. Daerah Asal dengan Atraksi Budaya


                                      Tabel 4.24
                   Hubungan Profil Daerah Asal dan Atraksi Budaya
        Daerah asal   Kota/Kab.    Jabodetabek Priangan         Jawa          Lainnya
                       Bandung                    Timur      Tengah/Timur
Atraksi Budaya
Belanja Barang Seni             5            10          5              5           10
Apresiasi Seni                  5              5         4              4            4
Workshop Seni                   2              5         4              4            4
Rekreasi Keluarga               2              4         2              2            2
Wisata Edukasi                  2              2         2              4            2
      Sumber :Hasil Kuesioner Tahun 2009


            Dari hubungan asal daerah dengan atraksi budaya kebanyakan
     wisatawan berasal dari jabodetabek memilih belanja barang seni sedangkan
                                                                              88


sebagian juga ada yang menikmati apresiasi seni wayang golek yang sering
ditampilkan pada malam hari, dalam hal ini diperlukan lagi cara untuk lebih
menarik minat wisatawan dalam mengunjungi setiap kegiatan atraksi yang di
tampilkan di Desa Jelekong ini, kebanyakan responden yang berasal dari
Jabodetabek dan kota bandung lebih menikmati belanja hasil karya seni yang
ada di Desa Jelekong seperti Lukisan dan Wayang golek.
       Sedangkan hubungan yang paling rendah yaitu daerah jawa              timur
karena perbedaan bahasa berpengaruh terhadap minat wisatawan dari luar Jawa
Barat , karena setiap pementasan wayang golek menggunakan bahasa sunda,.


d. Hubungan Pola Aktivitas dengan Atraksi Budaya

                                 Tabel 4.25
             Hubungan Profil Pola Aktivitas dan Lama Kunjungan
     Lama Kunjungan <1jam         1-2 Jam     2-3 Jam    3-12            12-24
Pola Aktivitas                                           Jam              Jam
Belanja Barang Seni           1            2         2       10               10
Apresiasi Seni                             4         6        6                8
Workshop Seni                              2         4        6                4
Rekreasi Keluarga             1            2         6        6                5
Wisata Edukasi                2            2         7        2                2
Sumber :Hasil Kuesioner Tahun 2009

       Dari hubungan pola aktivitas wisatawan dan lama kunjungan dapat kita
lihat seberapa besar minat wisatawan terhadap kegiatan atraksi budaya di Desa
Jelekong untuk memberikan apresiasi seni dan kesan dari wisatawan dalam
menikmati atraksi tersebut.
       Berdasarkan kunjungan wisatawan kebanyakan lebih menikmati belanja
hasil karya seni yang di pamerkan di galeri-galeri yang ada yaitu 10 responden,
sedangkan dengan kegiatan apresiasi seni seperti pertunjukkan wayang golek
terdapat 6 responden yan menikmati dengan lama kunjungan 3-12 jam, karena
biasanya selain mereka melihat apresiasi seni juga ikut belajar menjadi dalang.
                                                                                  89



     e. Latar Belakang Pekerjaan dengan Atraksi Budaya


                                       Tabel 4.26
                 Hubungan Profil Atraksi Budaya dan Pengeluaran Wisatawan
    Pola Pembelajaan <25.000         26.000 -      50.001-     100.001-   >500.000
                                      50.000       100.000      500.000
atraksi
Belanja Barang Seni            1               4           5            5        10
Apresiasi Seni                 1               4           4            8         5
Workshop Seni                  1               5           5            5         3
Rekreasi Keluarga              1               2           2            5         7
Wisata Edukasi                  -              4           2            2         9
      Sumber :Hasil Kuesioner Tahun 2006

            Variabel atraksi budaya dan pola pembelanjaan selama kunjungan cukup
     baik dimana wisatawan selain melihat dan menikmati atraksi budaya Desa
     Jelekong wisatawan juga melakukan kegiatan belanja, baik itu belanja hasil karya
     seni seperti lukisan dan wayang golek maupun belanja souvenir dan kerajinan
     tangan lainnya. Rata-rata pengunjung lebih tertarik atau membelanjakan uang
     nya tidak lebih dari Rp. 1.000.000,- hanya > 500.000, dan itu cukup untuk
     membantu kegiatan perekonomian masyarakat Desa Jelekong itu sendiri.
            Dengan pendapatan yang didapat dari hasil penjualan hasil karya seni
     atau suatu kegiatan atraksi budaya di Desa Jelekong perlu adanya suatu
     pengelolaan kembali atau suatu tempat untuk mengkoordinir kegiatan tersebut,
     seperti dengan membuat galeri baru atau tempat untuk menyaksikan
     pertunjukkan atraksi wayang golek,sehingga wisatawan bisa lebih nyaman atau
     bisa membelanjakan uangnya lebih banyak sesuai dengan apa yang mereka
     nikmati dari atraksi ataupun dari kegiatan belanja yang mereka lakukan.
                                                                              90


   4.2.2 Aspek Masyarakat Lokal

                                    Tabel 4.29
         Hubungan Pekerjaan di Desa Jelekong dengan Apresiasi Terhadap
                                 Pengembangan
           Apresiasi Sangat Rendah Rendah Cukup          Tinggi      Sangat
                                                                      Tinggi
Pekerjaan
Perajin Lukisan                     0          5   14            6                  2
Perajin Wayang                      2          6    8            2                  1
Golek
Tukang Ojek                         1          4    8            4                  2
Pemilik Galeri                      1          4    8            2                  1
Pemilik Lahan                       1          4    2            6                  6
Pertanian
    Sumber :Hasil Kuesioner Tahun 2009

          Responden sangat antusias terhadap kegiatan pengembangan wisata
   Budaya di Desa Jelekong, dengan melakukan pengembangan ini diharapkan
   dapat membantu atau menambah pemasukan bagi perekonomian masyarakat
   setempat, yang menyatakan cukup dari perajin lukisan 14 responden tetapi
   mereka sebagian mengusulkan untuk dibangunnya lahan parkir yang memadai,
   sedangakan yang mengatakan sangat rendah cukup sedikit, karena mungkin
   mereka kurang respect terhadap kegiatan wisata budaya yang ada.
                                     Tabel 4.30
         Hubungan Lama Tinggal di Desa Jelekong dengan Aspirasi Prioritas
                                  Pengembangan
         Lama Tinggal
                                      5 – 10    11 – 20   20 – 50         >50
                        <5 Tahun
                                     Tahun      Tahun      Tahun         Tahun
Aspirasi
Infrastruktur Desa              4            2          3           4          4
Galeri Seni                     4            1          8           4          2
Sarana Pertunjukkan             2            2          6           6          2
Seni
Bantuan Permodalan              2            4          6           4          5
Pelatihan SDM                   5            6          4           6          4
     Sumber :Hasil Kuesioner Tahun 2006

          Dari hasil hubungan variable lama tinggal di Desa Jelekong dengan
   aspirasi prioritas pengembangan sebagian yang baru kurang dari 5 tahun tinggal
   di Desa Jelekog lebih kepada pelatihan SDM dan Infrastruktur yang masih
   kurang memadai, sedangkan masyarakat yang telah lama tinggal di Desa
   Jelekong lebih kepada prioritas mengenai penambahan galeri seni dan bantuan
   modal dari pemerintah untuk membeli bahan-bahan pembuatan wayang golek
   dan lukisan.
                                                                                       91




                                    Tabel 4.31
          Hubungan Profil Pekerjaan di Desa Jelekong dengan Ekspektasi
                                 Pengembangan
         Ekspektasi
                                                                       Sangat
                      Sangat Rendah Rendah Cukup          Tinggi
                                                                       Tinggi
Pekerjaan
Perajin Lukisan                     1          4      6          6            10
Perajin Wayang                      1          2      8          8             5
Golek
Tukang Ojek                         1          4      6          6             4
Pemilik Galeri                      1          4      2          5             2
Pemilik Lahan                       4          4      2          2             2
Pertanian
    Sumber :Hasil Kuesioner Tahun 2006

          Pengrajin   lukisan    memiliki      ekspektasi   sangat       tinggi   terhadap
   pengembangan wisata budaya di Desa Jelekong dengan jumlah responden 10
   responden, sedangkan pengrajin wayang golek 8 orang.
          Sedangkan ekspektasi pengembangan yang rendah yaitu pemilik lahan
   pertanian, karena sebagian masyrakat petani masih kurang mendapatkan
   perhatian atau penyuluhan dalam kegiatan wisata budaya ini.
          Sehingga pemerintah dan pihak yang terkait diharapkan untuk lebih
   memberikan suatu masukan atau bantuan modal bagi para petani untuk
   memberikan kontribusinya dalam pengembangan wisata budaya di Desa
   Jelekong.

   A.   ANALISIS KORELASI ANTAR KARAKTER WISATAWAN

        Teknik analisis korelasi digunakan untuk mengetahui hubungan antara
   variabel bebas X dengan variabel terikat Y pada setiap karakter wisatawan
   sehingga diketahui seberapa besar hubungan variable X terhadap Variabel Y.
   Rumus yang digunakan adalah korelasi product moment.
                                     n XY    X  Y 
                                n X                                  
                        r=
                                              X  n Y 2   Y 
                                        2          2                 2



               Keterangan:
               r        = koefisien korelasi product moment
               x        = variabel bebas
               y        = variabel terikat
               n        = jumlah sampel
                                                                         92


           Selanjutnya, untuk mengetahui besarnya presentase kontribusi
           variabel independent terhadap variabel dependen digunakan rumus
           koefisien determinasi (KD) :
                                  KD = r² x 100%
            Keterangan:
            KD = koefisien Determinasi yang dicari
            r²   = kuadrat koefisien korelasi
       Sebagai tolok ukur koefisien reliabilitas digunakan pedoman koefisien
korelasi dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.

                                    Tabel 4.32
                    Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi
                               Koefisien Korelasi
                  No       Interval                Tingkat
                        Koefisien                 Hubungan
                   1      0,00 – 0,199           Sangat Rendah
                   2       0,20 - 0,399                 Rendah
                   3       0,40 - 0,599                 Sedang
                   4      0,60 – 0,799                     Kuat
                   5      0,80 – 1,000              Sangat Kuat
                 Sumber Hasil Analisis Tahun 2009

                                 Tabel 4.33
       Hubungan Profil Usia dan Atraksi Budaya Wisata Desa Jelekong
         No.      Profil      Frekuensi      Penilai  Frekuensi
          1.                              Belanja
               <18 Tahun             32 Barang Seni          12
          2.   18-25                      Apresiasi
               Tahun                 19 Seni                 20
          3.   26-35                      Workshop
               Tahun                 32 Seni                 40
          4.   36-45                      Rekreasi
               Tahun                 14 Keluarga             23
          5.                              Wisata
               >45 Tahun              3 Edukasi                5
       Sumber Hasil Analisis Tahun 2009
                                                                                  93



                                    n XY    X  Y 
                             n X                                   
                      r=
                                           X  n Y 2   Y 
                                     2          2                  2




                              r=               5(2381) – (100)(100)
                                    √(5 * 2614 – (100)2)(5 * 2698 – (100)2)


                              r = 0, 5819867
       Mencermati hasil penghitungan tersebut di atas, diketahui bahwa
hubungan antara usia dan atraksi wisata Desa Jelekong adalah sebesar 0,59.
Untuk mengetahui derajat kekuatan hubungan antara 2 variabel ini dilakukan
penghitungan koefisien determinasi sebagai berikut.


                                    KD = r² x 100%
                                    KD = 33,88%


       Dengan hasil sebesar 33,88% dinyatakan dalam interpretasi hubungan
dengan derajat rendah, sehingga dapat disimpulkan bahwa usia berpengaruh
rendah terhadap atraksi wisata Desa Jelekong.


                               Tabel 4.34
             Hubungan Profil Daerah Asal dan Atraksi Budaya
No.          Profil        Frekuensi           Profil                      Frekuensi
 1.   Kota/Kab Bandung              37         Belanja Barang Seni               27
 2.   Jabodetabek                   30         Apresiasi Seni                    28
 3.   Priangan Timur                11         Workshop Seni                     15
 4.   Jawa Tengah/Jawa
                                     7         Rekreasi Keluarga                 10
      Timur
 5.   Lainnya                       15         Wisata Edukasi                    20
      Sumber Hasil Analisis Tahun 2009


                                    n XY    X  Y 
                             n X                                   
                      r=
                                           X  n Y 2   Y 
                                     2          2                  2




                     r=            5(2374) – (100)(100)
                           √(5 *2664 – (100)2)(5 *2238 – (100)2)
                     r = 0,940803846
                                                                         94




       Mencermati hasil penghitungan tersebut di atas, diketahui bahwa
hubungan antara Hubungan Profil Daerah Asal dan Atraksi Budaya Desa
Jelekong adalah sebesar 0,94. Untuk mengetahui derajat kekuatan hubungan
antara 2 variabel ini dilakukan penghitungan koefisien determinasi sebagai
berikut.

                                KD = r² x 100%
                                KD = 88,5%
       Dengan hasil sebesar 88,5% dinyatakan dalam interpretasi hubungan
dengan derajat sangat kuat, sehingga dapat disimpulkan bahwa hubungan profil
daerah asal dan atraksi budaya adalah sangat kuat.


                               Tabel 4.35
 Hubungan Atraksi Budaya dan Lama Kunjungan Wisata di Desa Jelekong
     No.     Profil     Frekuensi         Profil      Frekuensi
      1.  <1 Jam               12 Belanja Barang Seni        12
      2.  1-2 jam              14 Apresiasi Seni              7
      3.  2-3 jam              28 Workshop Seni              53
      4.  3-12 jam             34 Rekreasi Keluarga          18
      5.  12-24 jam            12 Wisata Edukasi             10
     Sumber Hasil Analisis Tahun 2009

                                n XY    X  Y 
                            n X                                
                     r=
                                          X  n Y 2   Y 
                                    2          2               2




                       r=           6(2434) – (100)(100)
                                √(6 *2424 – (100)2)(6 *3394 – (100)2)
                      r = 0,67089175
       Mencermati hasil penghitungan tersebut di atas, diketahui bahwa
hubungan antara atraksi budaya dan lama kunjungan wisata di Desa
Jelekong adalah sebesar 0,68. Untuk mengetahui derajat kekuatan hubungan
antara 2 variabel ini dilakukan penghitungan koefisien determinasi sebagai
berikut.
                                KD = r² x 100%
                                        KD = 45%
                                                                            95


        Dengan hasil sebesar 45% dinyatakan dalam interpretasi hubungan
dengan derajat sedang, sehingga dapat disimpulkan bahwa hubungan antara
atraksi budaya dan lama kunjungan wisata di Desa Jelekong adalah sedang.
                                 Tabel 4.36
           Hubungan Profil Atraksi Budaya dan Pola Pembelanjaan Selama
                            Kunjungan di Desa Jelekong
  No.          Profil         Frekuensi         Profil       Frekuensi
   1.  < Rp. 500.000                17         Belanja Barang Seni         25
   2.  Rp. 500.000-Rp.
                                    26         Apresiasi Seni              33
       1.000.000
   3. Rp. 1.000.001-Rp.
                                    31         Workshop Seni               22
       1.500.000
   4. Rp. 1.500.001-Rp.
                                    15         Rekreasi Keluarga           10
       2.500.000
   5. Rp. 2.500.001-Rp.
                                    11         Wisata Edukasi              10
       5.000.000
      Sumber Hasil Analisis Tahun 2009

                                   n XY    X  Y 
                             n X                                   
                      r=
                                           X  n Y 2   Y 
                                     2          2                  2




                     r=          6(2225) – (100)(100)
                           √(6 *2398 – (100)2)(6 *2272 – (100)2)
                     r = 0,683843
        Mencermati hasil penghitungan tersebut di atas, diketahui bahwa
 hubungan antara rata-rata Hubungan Profil Atraksi Budaya dan Pola
 Pembelanjaan Selama Kunjungan di Desa Jelekong

        adalah sebesar 0,68. Untuk mengetahui derajat kekuatan hubungan
antara 2 variabel ini dilakukan penghitungan koefisien determinasi sebagai
berikut.
                                   KD = r² x 100%
                                   KD = 47%
        Dengan hasil sebesar 47% dinyatakan dalam interpretasi hubungan
dengan derajat sedang, sehingga dapat disimpulkan bahwa hubungan antara
Hubungan Profil Atraksi Budaya dan Pola Pembelanjaan Selama
Kunjungan di Desa Jelekong adalah sedang.
                                                                                  96


                                Tabel 4.33
     Korelasi Antara Pekerjaan dengan Atraksi Budaya Desa Jelekong
      No.       Profil     Frekuensi       Penilai     Frekuensi
       1.    Belanja
                                  32 Pelajar/Mahasiswa         12
             Barang Seni
       2.    Apresiasi
                                  19 TNI/POLRI/PNS             20
             Seni
       3.    Workshop
                                  32 Swasta                    40
             Seni
       4.    Rekreasi
                                  14 Wiraswasta                23
             Keluarga
       5.    Wisata
                                   3 Tdk Bekerja                5
             Edukasi
      Sumber Hasil Analisis Tahun 2009


                                  n XY    X  Y 
                             n X                                    
                      r=
                                           X  n Y 2   Y 
                                     2           2                  2




                             r=          6(2381) – (100)(100)
                                  √(6 * 2614 – (100)2)(6 * 2698 – (100)2)


                             r = 0, 5819867


       Mencermati hasil penghitungan tersebut di atas, diketahui bahwa
hubungan antara atraksi budaya dan penilaian wisatawan terhadap produk
wisata Desa Jelekong adalah sebesar 0,59. Untuk mengetahui derajat kekuatan
hubungan antara 2 variabel ini dilakukan penghitungan koefisien determinasi
sebagai berikut.


                                  KD = r² x 100%
                                  KD = 33,88%


       Dengan hasil sebesar 33,88% dinyatakan dalam interpretasi hubungan
dengan   derajat   rendah,   sehingga       dapat     disimpulkan   bahwa   pekerjaan
berpengaruh rendah terhadap penilaian produk wisata Desa Jelekong.
                                                                               97


                                  Tabel 4.34
          Hasil Analisis Chi Kuadrat Pengaruh Faktor Wisatawan Terhadap
                      Ekspektasi Atraksi Budaya Desa Jelekong
            Faktor              X2               C               Sig

         Usia                        21.188a        0, 5819867              0.171

         Pekerjaan                    8.577a        0, 5819867              0.930

         Asal Daerah                  5.177a       0, 40803846              0.995

         Lama                        17.073a        0,67089175              0.381
         Kunjungan

         Pembelanjaan                11.471a          0,683843              0.780

         Sumber Hasil Analisis Tahun 2009


         Dari table di atas diketahui bahwa usia memberikan pengaruh secara
nyata terhadap atraksi budaya Wayang Golek dan Lukisan di Desa Jelekong,
sedangkan lama kunjungan memberikan perngaruh nyata terhadap ekspektasi
responden pada pementasan wayang golek dan lukisan. Pada variasi usia
responden yang memiliki usia 35-45 dan >45 lebih besar minatnya terhadap
atraksi budaya yang ada di Desa Jelekong ini, kesan yang di berikan oleh
responden yang memiliki usia 35-45 dan >45          sangat nyata dengan nilai C
sebesar 0,581.
         Pembelanjaan memberikan pengaruh cukup nyata terhadap ekspektasi
pementasan wayang golek dan lukisan di Desa Jelekong, diduga disebabkan
oleh keinginan dari responden terhadap keunikan dan keaneka ragaman jenis
Lukisan dan Wayang Golek yang ada di Desa Jelekong. Kesan yang diberikan
oleh responden terhadap ekspektasi ini yaitu cukup baik dengan nilai C sebesar
0,683.
         Faktor-faktor lain dari wisatawan ternyata tidak memberikan pengaruh
secara    nyata   terhadap   kesan    yang     ditimbulkan   terhadap   ekspektasi
penyelenggaraan Wayang Golek dan Pameran Lukisan di Desa Jelekong.
                                                                        98


4.3   Dampak Objek Daya Tarik Wisata Desa Jelekong Terhadap Kondisi
      Sosial Ekonomi Masyarakat


       Dampak kegiatan wisata budaya Desa Jelekong terhadap kondisi social
ekonomi masyarakat dapat dikelompokan dalam dua jenis dampak yaitu dampak
ekonomis serta dampak terhadap budaya masyarakat yang masih terkait dengan
dampak ekonomi.

4.3.1 Dampak Ekonomi


       Alasan utama bagi pengembangan kegiatan kepariwisataan adalah
bersifat ekonomi. Hal ini berlandaskan keyakinan bahwa usaha-usaha yang
berkaitan dengan kepariwisataan dapat memberikan lapangan pekerjaan yang
luas bagi rakyat setempat.
       Secara langsung, dengan berkembangnya pariwisata sebagai suatu
industry, dengan sendirinya usaha-usaha dalam bidang perhotelan, restoran,
angkutan wisata, biro perjalanan, akan berkembang dengan baik. Sedangkan
secara tidak langsung kegiatan kepariwisataan dapat meningkatkan sector
pertanian, pembuatan alat-alat rumah tangga, anyaman dan sulaman, kerajinan
rakyat, kesenian rakyat, dan hiburan.
       Pengeluaran yang dibelanjakan oleh para wisatawan untuk akomodasi
hotel, makan dan minum di restoran, tour ke objek-objek wisata, membeli
kerajinan tangan, merupakan hal yang positif bagi perekonomian masyarakat
desa Jelekong.




                                  Gambar 4.18
                   Hasil Kerajinan Masyarakat Desa Jelekong
                                                                          99


       Berdasarkan hasil kuesioner yang terkumpul dari jenis usaha dan jumlah
pedagang yang mengambil manfaat dari objek daya tarik wisata budaya di Desa
Jelekong dapat dilihat pada table berikut :


4.4 Analisis Hubungan Fusngsioanan dan Organisasi Ruang

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:227
posted:8/19/2010
language:Indonesian
pages:45