Docstoc

METODOLOGI IPA SD_7

Document Sample
METODOLOGI IPA SD_7 Powered By Docstoc
					VII

PENILAIAN DAN ASESMEN DALAM PEMBELAJARAN SAINS

A. TUJUAN Setelah mengkaji materi pada bagian VII ini mahasiswa mampu: • Mendeskripsikan bukti-bukti faktual di lapangan dan alasan-alasan rasional tentang hubungan antara sistim penilaian dengan kualitas pembelajaran sains di Sekolah Dasar. • Menjelaskan pengertian serta menunjukkan contoh penggunaan dari konsep pengukuran, asesmen, dan evaluasi. • Menjelaskan asesmen konvensional dan asesmen alternatif. • Menjelaskan konsep asesmen otentik pada pembelajaran sains. • Mendeskripsikan berbagai bentuk asesmen yang relevan dengan domain hasil belajar pada pembelajaran sains. • Menjelaskan prinsi-prinsip reliabilitas dan validitas untuk asesmen otentik pada pembelajaran sains. • Membuat contoh instrumen asesmen otentik untuk pembelajaran sains di Sekolah Dasar. B. KAJIAN MATERI Pendahuluan

I

ndikator utama yang digunakan oleh mayoritas pengelola pendidikan di SD untuk menilai kualitas pembelajaran, sering didasarkan pada hasil belajar siswa yang direpresentasikan pada nilai tes. Dampak dari

pandangan tersebut yang diperkuat dengan bentuk tes yang digunakan, mendorong guru berlomba-lomba mentrasfer materi pelajaran sebanyak-banyaknya untuk mempersiapkan anak didik berhasil dalam mengikuti Tes Hasil Belajar (THB) atau Ebtanas. Akibatnya, seperti yang dikemukakan oleh A. Malik Fajar dalam harian Kompas (Mei 1994:4), anak didik dipaksa untuk melahap informasi 175

yang disampaikan tanpa diberi peluang sedikit pun untuk melaksanakan refleksi secara kritis. Dalam hal ini anak didik hanya dituntut untuk belajar dengan cara menghapal semua informasi yang telah disampaikan oleh guru. Fakta di lapangan (terutama pada pelajaran Sains di Sekolah Dasar), menunjukkan bahwa proses penilaian yang dilakukan selama ini semata-mata dimaksudkan hanya untuk mengukur penguasaan konsep yang dijaring dengan tes tu;is obyektif dan subyektif sebagai alat ukurnya. Hal ini didukung oleh penelitian Nuryani, dkk (1992:8) yang mengemukakan bahwa pengujian yang dilakukan selama ini baru mengukur pengusaan materi saja dan itu pun hanya meliputi ranah kognitif tingkat rendah. Keadaan semacam ini merupakan salah satu penyebab guru enggan melakukan kegiatan pembelajaran yang memfokuskan pada pengembangan keterampilan proses anak. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan umumnya hanya terpusat pada penyampaian materi dalam buku teks. Keadaan faktual ini mendorong siswa untuk menghapal pada setiap kali akan diadakan tes harian atau tes hasil belajar. Padahal untuk anak jenjang sekolah dasar yang harus diutamakan adalah bagaimana mengembangkan rasa ingin tahu dan daya kritis anak terhadap suatu masalah (Mahar Marjono, 1996:10). Proses pembelajaran Sains di SD menuntut keterlibatan peserta didik secara aktif dan bertujuan agar penguasaan dari kognitif , afektif, serta psikomotorik terbentuk pada diri siswa (Moh. Amin, 1987:42), maka alat ukur hasil belajarnya tidak cukup jika hanya dengan tes obyektif atau subyektif saja. Dengan cara penilaian tersebut keterampilan siswa dalam melakukan aktivitas baik saat melakukan percobaan maupun menciptakan hasil karya belum dapat diungkap. Demikian pula tentang aktivitas siswa selama mengerjakan tugas dari guru. Baik berupa tugas untuk melakukan percobaan, peragaan maupun pengamatan. Fenomena di atas menunjukkan bahwa bentuk atau sistim penilaian yang digunakan dalam mengukur hasil belajar siswa sangat berpengaruh terhadap strategi pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan guru. Sistim penilaian yang benar adalah yang selaras dengan tujuan dan proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran Sains SD pada kurikulum 2004, dapat dirangkum ke dalam tiga 176

aspek sasaran pembelajaran yaitu penguasaan konsep Sains, pengembangan keterampilan proses/kinerja siswa, dan pena-naman sikap ilmiah. Oleh karennya agar informasi tentang hasil belajar siswa dapat mengungkap secara menyeluruh,

maka perlu melakukan pengukuran terhadap ketiga aspek tersebut di atas. Dengan demikian sasaran dari penilaian hasil belajar di SD meliputi semua komponen yang menyangkut proses dan hasil belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Tiga target pembelajaran dalam pendidikan Sains SD menuntut konsekuensi terhadap alat ukur yang digunakan. Penggunaan tes obyektif dan subyektif semata-mata sangatlah tidak tepat. Kedua bentuk tes ini hanya mampu menggambarkan seberapa banyak informasi yang berhasil dikumpulkan siswa dan mempunyai kecenderungan membuat siswa lebih pasif dari pada kreatif, karena peserta didik hanya dibiasakan untuk mengingat materi yang sudah dihapalnya (Muh. Nur, 1997:2; Riberu, 1996:4). Agar hasil belajar dapat diungkap secara menyeluruh, maka selain digunakan alat ukur tes obyektif dan subyektif perlu dilengkapi dengan alat ukur yang dapat mengetahui kemampuan siswa dari aspek kerja ilmiah (keterampilan dan sikap ilmiah) dan seberapa baik siswa dapat menerapkan informasi yang diperolehnya. Alat penilaian yang diasumsikan dapat memenuhi hal tersebut adalah Penilaian Otentik atau Penilaian Alternatif; salah satu instrumennya adalah Asesmen Kinerja atau Penilaian Kinerja (Performance Assessment). Dengan menerapkan penilaian kinerja siswa, dapat dikumpulkan buktibukti kemajuan siswa secara aktual yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memperbaiki proses pembelajaran selanjutnya. Selain itu penilaian dengan cara ini dirasakan lebih adil dan fair bagi siswa serta dapat meningkatkan motivasi siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Dalam penilaian kinerja terdapat perbedaan tugas dan situasi yang diberikan kepada siswa serta memberikan kesempatan untuk mempelihatkan pemahamannya dan kebenarannya dalam aplikasi pengetahuan dan keterampilan menurut kebiasaan berfikirnya (Wiggins dalam marzano,1993:13) Dengan mengkaji kenyataan yang ditemukan di lapangan, nampak ada ketidaksesuaian antara pembelajaran Sains di SD dengan sistim penilaian yang 177

digunakannya. Proses penilaian yang biasa dilakukan guru selama ini hanya mampu menggambarkan aspek penguasaan konsep peserta didik, akibatnya tujuan kurikuler Mata Pelajaran Sains belum dapat dicapai dan atau tergambarkan secara menyeluruh. Sebagai contoh kasus ialah; bahwa kegiatan pembelajaran yang melibatkan kinerja siswa dalam melakukan percobaan sudah sering diterapkan, namun terhadap kinerja siswa tersebut belum pernah dilakukan penilaian.

Menurut pengakuan sejumlah guru SD hal ini disebabkan penataran atau pelatihan yang secara khusus membahas penerapan penilaian kinerja belum pernah diikuti atau belum pernah diadakan di tingkat pendidikan dasar. Kondisi tersebut mengakibatkan pengetahuan, pengalaman maupun penguasaan guru terhadap proses penilaian kinerja siswa sangat kurang. Realitas tersebut menunjukkan bahwa penilaian dengan cara konvensional belum mampu mengungkap hasil belajar siswa dari aspek sikap dan proses atau kinerja siswa secara aktual. Penilaian: Pengukuran, Asesmen, dan Evaluasi Makna Penilaian Sebagaimana ditegaskan dalam pedoman penilaian untuk sekolah dasar (Depdikbud, 1994:1) penilaian merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tujuan pendidikan dasar maupun penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar. Tujuan pembelajaran yang dirumuskan pada langkah awal pembelajaran digunakan sebagai acuan dalam kegiatan pembelajaran dan proses penilaian yang akan dilakukan. Menurut Davis (dalam Sudarsono Sudirdjo dkk., 1991:94) tujuan tidak hanya merupakan arah yang dapat membentuk atau mewarnai kurikulum dan memimpin kegiatan pengajaran, tetapi juga dapat menyediakan spesifikasi secara terperinci bagi penyusunan dan penggunaan teknik-teknik penilaian. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran yang dirumuskan secara jelas dan spesifik akan menunjang proses penilaian yang tepat dan dapat membantu di dalam menetapkan kualitas dan efektivitas pengalaman belajar siswa. Dalam pedoman penilaian Kurikulum 1994 untuk Sekolah Dasar (Depdikbud, 1994: 3), dikemukakan bahwa: 178

"Penilaian adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk memberikan berbagai informasi secara berkesinambungan dan me-nyeluruh tentang proses dan hasil belajar yang telah dicapai siswa." Penjelasan tersebut di atas mengandung makna bahwa penilaian tidak hanya ditujukan pada penguasaan salah satu bidang tertentu saja, melainkan menyeluruh dan mencakup aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik. Hal ini senada dengan pendapat yang dikemukakan oleh Colin (1991: 3), "Assessment as a general term enhancing all methods customarily to appraise performance of individual pupil or a group. It may refer to abroad appraisal including many sources of evidence and many aspects of a pupil's knowledge, understanding, skill and attitudes." Sedangkan menurut Nana Sudjana (1989:220), penilaian adalah proses untuk menentukan nilai dari suatu obyek atau peristiwa dalam suatu konteks situasi tertentu, dimana proses penentuan nilai berlangsung dalam bentuk interpretasi yang kemudian diakhiri dengan suatu "Judgment". Penilaian tidak sama dengan pengukuran, namun keduanya tidak dapat dipisahkan, karena kedua kegiatan tersebut saling berhubungan erat. Untuk dapat mengadakan penilaian perlu melakukan pengukuran terlebih dahulu (Suharsimi Arikunto, 1991:1). Pengukuran dapat diartikan sebagai pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang didasarkan pada aturan atau formulasi yang jelas (Asmawi Zainul, 1992: 13). Dari hasil pengukuran akan diperoleh skor yang menggambarkan tingkat keberhasilan belajar siswa berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Lebih lanjut, berikut adalah penjelasan dari buku Penilaian Kelas pada Kurikulum 2004 tentang beberapa istilah yang sering terkait dengan penilaian (Depdiknas, 2004:11-12). “Banyak orang mencampuradukkan pengertian antara evaluasi, pengukuran (measurement), tes, dan penilaian (assessment), padahal keempatnya memiliki pengertian yang berbeda. Evaluasi adalah kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah tercapai 179

atau belum, berharga atau tidak, dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya. Evaluasi berhubungan dengan keputusan nilai (value judgement). Di bidang pendidikan, kita dapat melakukan evaluasi terhadap kurikulum baru, suatu kebijakan pendidikan, sumber belajar tertentu, atau etos kerja guru. Penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar siswa atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) siswa. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang siswa. Pengukuran (measurement) adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan di mana seorang siswa telah mencapai karakteristik tertentu. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut. Tes adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada siswa pada waktu dan tempat tertentu serta dalam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas.” Fungsi Penilaian Dalam pedoman penilaian (Depdikbud, 1994:3) ditegaskan bahwa tujuan dan fungsi penilaian untuk memberikan umpan bail baik kepada guru, siswa, orangtua maupun lembaga pendidikan yang berkepentingan serta untuk menentukan nilai hasi belajar siswa. Bagai guru, hasil penilaian tidak hanya dugunakan untuk memberikan pertanggung-jawaban secara obyektif kepada atasan ataupun sekedar bahan nilai raport. Namun penilaian dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk melakukan instrospeksi diri terhadap proses pembelajaran yang baru saja berlangsung. Bagi siswa, hasil penilaian dapat dijadikan alat untuk memotivasi siswa tersebut agar lenih giat dalam proses pembelajaran berikutnya. Selain itu, dari hasil penilaian siswa mendapatkan informasi tentang seberapa jauh tingkat penguasaan bahan pelajaran yang diberikan guru. Bagi orangtua, dengan mengetahui hasil belajar siswa (anaknya) orangtua dapat turut berpartisipasi dan men-

180

gambil langkah yang tepat dalam memberikan bimbingan dan bantuan serta dorongan bagi putra-putrinya. Selain itu dengan informasi hasil penilaian yang benar, orangtua dapat secara akurat mengetahui kemampuan, kekurangan dan kedudukan siswa secara ril di kelasnya. Bagi pengelola program pendidikan, hasil penilaian merupakan masukkan yang sangat berarti yang dapat digunakan untuk bahan kajian dalam membantu guru meningkatkan kompetensi profesionalnya, khususnya dalam bidang penilaian. Hasil penilaian yang komprehensif dapat juga dugunakan untuk tujuan dan kebutuhan lain misalnya penentuan status siswa, pengelompokkan, seleksi, diagnosis dan bimbingan, serta menyempurnakan pengalaman pendidik, atau penelitian. Prinsip penilaian Hasil kegiatan penilaian dapat memberikan manfaat yang optimal jika dilakukan dengan mengacu pada prinsip-prinsip penilaian sebagaimana ditetapkan oleh pedoman formal penilaian dari pemerintah (Depdikbud, 1994:5), yakni dilaksanakan secara menyeluruh, berkesinmabungan, berorientasi pada tujuan, obyektif, terbuka serta mempertimbangkan aspek kebermaknaan. Peneilian yang dilakukan secara menyeluruh artinya informasi yang dikumpulkan melalui proses penilaian menyangkut seluruh aspek kepribadian siswa. Dalam pedoman penilaian di SD ditegaskan bahwa penilaian dikatakan menyeluruh jika mampu mengungkap aspek produk dan proses belajar anak, yakni menyangkut pengetahuan, sikap, dan keterampilan proses peserta didik. Target hasil belajar yang diharapkan terjadi pada diri siswa setelah berlangsungnya proses pembelajaran tertuang dalam tujuan, baik tujuan pembelajaran umum maupun tujuan pembelajaran khusus. Oleh karena proses penilaian bertujuan untuk mengetahui sejauhmana tingkat ketercapaian tujuan pembelajaran, maka dalam melakukan penilaian harus selalu berorientasi pada tujuan; mengingat antara tujuan dan penilaian merupakan komponen sistim pembelajaran yang tidak dapat dipisahkan.

181

Prinsip penilaian selanjutnya adalah bersifat obyektif, artinya dalam melakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa, guru berusaha untuk meminimalisasi faktor subyektivitas. Menurut Ign. Masidjo (1995: 25) obyektivitas pelaksanaan penilaian dapat dicapai dengan menaati aturan-aturan yang telah ditetapkan. Penilaian yang didasarkan atas kriteria penilaian yang telah ditetapkan sebelumnya dapat mengurangi faktor subyektivitas dalam melakukan penilaian. Agar hasil penilaian dapat memberikan manfaat baik kepada guru, siswa, orang tua maupun pihak sekolah, maka penilaian hendaknya dilakukan secara terbuka. Maksudnya baik proses maupun hasil penilaian hendaknya diinformasikan kepada pihak-pihak terkait, sehingga hasil penilaian memiliki kebermaknaan bagi pihak-pihak yang memerlukan. Konsep Dasar Asesmen Asesmen dalam pembelajaran adalah suatu proses atau upaya formal pengumpulan informasi yang berkaitan dengan variabel-variabel penting pembelajaran sebagai bahan evaluasi dan pengambilan keputusan oleh guru untuk memperbaiki proses dan hasil belajar siswa (Herman et al., 1992:95; Popham, 1995:3). Variabel-variabel penting yang dimaksud sekurang-kurangya meliputi pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan sikap siswa dalam pembelajaran yang diperoleh guru dengan berbagai metode dan prosedur baik formal maupun informal, sebagaimana dikemukakan oleh Corner (1991:2-3) sebagai berikut. A general term enhancing all methods customarily used to appraise performance of an individual pupil or group. It may refer to a broad appraisal including many sources of evidence and many aspect of pupil's knowledge, understanding, skills and attitudes; An assessment instrument may be any method and procedure, formal or informal, for producing information about pupil . . . . Pengertian asesmen dalam berbagai literatur asing selaras dengan makna penilaian yang digariskan dalam Buku Pedoman Penilaian pada kurikulum pen182

didikan dasar. Dalam buku tersebut tertulis

bahwa, penilaian adalah suatu

kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk memberikan berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dan hasil belajar yang telah dicapai. (Depdikbud, 1994:3). Jadi asesmen pembelajaran adalah penilaian berupa mekanisme pengumpulan dan penyampaian informasi berkaitan dengan aspekaspek pembelajaran. Dimulai dari bentuknya yang konvensional seperti tes tertulis, hingga bentuk alternatif yang lebih maju. Ada pun yang dimaksud dengan asesmen alternatif (alternative assessment) adalah segala jenis bentuk asesmen diluar asesmen konvensional (selected respon test dan paper-pencil test) yang lebih autentik dan signifikan mengungkap secara langsung proses dan hasil belajar siswa. Herman (1997) memberikan semboyan khusus bagi asesmen alternatif dengan ungkapan "What You Get is What You Assess" (WYGWYA). Dalam beberapa literatur, asesmen alternatif ini kadang-kadang disebut juga asesmen autentik (authentic assessment), asesmen portofolio (portfolio assessment) atau asesmen kinerja (performsnce assessment). (Herman, 1997:197-198; Niemi, 1997:243; Harlen, 1992:6; Marzano, et al., 1993:13; Popham, 1995:142) Tujuan utama penggunaan asesmen dalam pembelajaran (classroom assessment) adalah membantu guru dan siswa dalam mengambil keputusan propesional untuk memperbaiki pembelajaran. Menurut Popham (1995:4-13) asesmen bertujuan untuk antara lain untuk: (1) mendiagnosa kelebihan dan kelemahan siswa dalam belajar, (2) memonitor kemajuan siswa, (3) menentukan jenjang kemampuan siswa, (4) menentukan efektivitas pembelajaran, (5) mempengaruhi persepsi publik tentang efektivitas pembelajaran, (6) mengevaluasi kinerja guru kelas, (7) mengklarifikasi tujuan pembelajaran yang dirancang guru

183

Setiap penggunaan asesmen alternatif bentuk apapun dicirikan oleh halhal berikut: (1) menuntut siswa untuk merancang, membuat, menghasilkan, mengunjukkan atau melakukan sesuatu; (2) memberi peluang untuk terjadinya berpikir kompleks dan/atau memecahkan masalah; (3) menggunakan kegiatankegiatan yang bermakna secara instruksional; (4) menuntut penerapan yang autentik pada dunia nyata; (5) pensekoran lebih didasarkan pada pertimbangan manusia yang terlatih daripada mengandalkan mesin. Untuk memperoleh asesmen dengan standar tinggi, maka penggunaan asesmen harus: relevan dengan standar atau kebutuhan hasil belajar siswa; adil bagi semua siswa; akurat dalam pengukuran; berguna; layak dan dapat dipercaya. (Herman,1997:198) Agar penggunaan asesmen dalam kelas sesuai dengan pembelajaran dan dapat meningkatkan pembelajaran tersebut Cottel (1991) menggagaskan 5 petujuk bagi guru penggunaan asesmen dalam kelas. Kelima petunjuk tersebut adalah: pertama, senantiasa menganggap bahwa pembelajaran terus berlangsung; kedua, selalu meminta siswa untuk menunjukkan bukti-bukti bagaimana mereka belajar; ketiga, memberi siswa umpan balik tentang respon kelas serta rencana pengajar tentang respon tersebut; keempat, melakukan penyesuaian-penyesuaian yang tepat untuk meningkatkan pembelajaran; dan kelima, menilai ulang bagaimana penyesuaian-penyesuaian tersebut bekerja cukup baik. Asesmen Otentik Sebagaimana telah diulas pada bagian terdahulu dari buku ini, pada hakikatnya pembelajaran sains terdiri dari tiga dimensi meliputi; (1) sains sebagai produk (fakta, konsep, prinsip, teori, dan hukum); (2) sain sebagai proses (metode atau cara kerja ilmiah) dan;(3) sains sebagai sikap (sikap yang mendasari cara bertindak atau berproses). Ketiga dimensi tersebut sama pentingnya dan sebagai kebulatan yang utuh dalam pembelajaran sains. Oleh karena itu, hasil belajar sains sebagai akibat proses pembelajaran, harus dinilai secara otentik dan menyeluruh meliputi ketiga dimensi tersebut. Penilaian tersebut dilakukan untuk dapat meyakinkan bahwa siswa dapat menunjukkan kemampuannya secara aktual dan menye-

184

luruh selama dan setel berlangsungnya proses pembelajaran. Dengan demikian penilaian otentik dilakukan berdasarkan asas keseimbangan antara kegiatan penilaian dan proses pembelajaran. Kenyataan menunjukkan bahwa “assessment driven teaching-learning process”. Sehingga jika penilaian yang dilakukan telah meliputi ketiga dimensi sains maka pembelajaranpun diharapkan akan meliputi ketiga dimensi sains tersebut. Puckett dan Black (1994) (dalam BPTP, 2004:2) menjelaskan bahwa teknik dan strategi penilaian otentik dapat dilakukan dengan formal dan informal. Dalam penilaian formal biasanya menggunakan tes-tes standar, sedangkan informal menekankan pada penilaian otentik 4P, yaitu penampilan (performance), proses, produk, dan portofolio. Arends (1997:284) mengartikan penilaian otentik sebagai proses penilaian performance siswa dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu dalam situasi nyata. Mc. Tighe (1995) juga menegaskan bahwa penilaian otentik mencari dan mengumpulkan serta mensintesis informasi kemampuan siswa dalam memahami dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan proses dalam situasi nyata. Penilaian otentik merupakan metode penilaian alternatif yang memungkinkan siswa untuk mendemonstrasikan kemampuannya dalam menyelesaikan tugas-tugas, menyelesaikan masalah atau juga mengekspresikan pengetahuannya dengan cara mensimulasikan situasi yang dapat ditemui di dalam dunia nyata. Penilaian otentik bertujuan untuk menyediakan informasi yang absah/valid dan akurat mengenai hal yang benar-benar diketahui dan dapat dilakukan oleh siswa. Aktifitas siswa terdiri dari aktivitas nyata yang dapat diamati dan aktifitas tersembunyi yang tidak dapat diamati seperti berpikir, dan tanggapan siswa terhadap pengalaman tertentu. Aktifitas ini dapat meliputi keduanya baik nyata maupun tersembunyi, yang pada dasarnya meliputi 3 aspek: kognitif, yaitu proses mengetahui dan berpikir, afektif atau perasaan dan emosi, serta psikomotor, yaitu keterampilan. Penilaian otentik ini juga sering dikenal dengan istilah penilaian alternatif atau penilaian lembar kerja yang kesemuanya ini merupakan upaya mendeskripsikan bentuk-bentuk penilaian yang lebih bermakna. Melalui cara ini 185

fokus penilaian bergeser dari peserta didik “beraktifitas untuk mendapatkan nilai dengan menjawab atau memilih jawaban” menjadi “beraktifitas untuk menunjukkan apa yang diketahui dan apa yang dapat dilakukan”. Menunjuk pada pembelajaran yang berorientasi pada pembekalan kecakapan hidup (life skill) dengan pembelajaran kontekstual diperlukan metode penilaian kontekstual, yaitu penilaian dalam bentuk perilaku peserta didik dalam menerapkan apa yang dipelajarinya secara nyata. Wiggins (1993:706) menyatakan bahwa penilaian yang tidak kontekstual kurang validitasnya. Pengembangan penilaian yang valid dan otentik berorientasi tehadap hal yang telah dpahami siswa. Stiggins (1994:15) menyatakan dalam salah satu prinsip penilaian “assessment as instruction” bahwa “assessment and teaching can be one the same”. Dengan demikian penilaian otentik harus dipahami dan dilakukan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran. Dalam konteks tersebut, penilaian dilakukan untuk mendukung upaya peningkatan mutu proses pembelajaran. Berbagai cara atau metode dalam melakukan penilaian otentik antara lain dengan observasi, simulasi, tugas, praktek, self report dan sebagainya (Wick:1987 dalam BPTP). Untuk menilai aspek keterampilan dapat juga digunakan penilaian yang berupa penyelesaian tugas ilmiah atau berupa tes praktek dengan komponen penilaian terdiri dari lembar tugas, format jawaban, dan sistim penyekoran (Ruiz Primo, 1996:1047). Berdasarkan paparan diatas maka model penilaian otentik yang dimaksudkan untuk menilai proses sains siswa dapat dikembangkan melalui pola penyelesaian tugas ilmiah dengan perangkat penilaian berupa lembar tugas, format jawaban atau penyelesaian tugas, dan sistim penyekoran (rubrik). Penilaian otentik memuat instrumen yang mengharuskan siswa untuk mempertunjukkan kinerja, bukan menjawab atau memilih jawaban dari sederetan kemungkinan jawaban yang sudah tersedia. Dalam pembelajaran sains lebih berhubungan dengan dimensi proses atau kerja ilmiah. Berikut adalah salah satu contoh pengembangan dan penerapan penilaian otentik untuk menilai hasil pembelajaran sains dengan langkah sebagai berikut: a) Penyusunan Tugas 186

Mengidentifikasi dimensi produk, keterampilan proses, dan sikap sains. Merancang tugas-tugas dan disusun dalam format lembar tugas siswa (LTS). Menetapkan kriteria keberhasilan. b) Penyusunan Rubrik (kriteria penilaian) Menetapkan dimensi yag diukur; menetapkan definisi dan contoh yang merupakan penjelasan dari setiap dimensi; menetapkan skala yang akan digunakan untuk menilai dimensi; enetapkan standar untuk setiap skala (deskripsi gradasi). Reliabilitas dan Validitas dalam Penilaian Otentik Salah satu ciri penilaian otentik adalah adanya ketergantungan terhadap pertimbangan manusia (guru) dalam menentukan skor terhadap asoek kinerja (performansi) siswa yang dinilai. Kenyataan ini menyebabkan tidak dapat dihindarinya faktor subyektivitas penilaian terhadap performansi siswa, mengingat persepsi atau interpretasi seseorang dalam memandang sesuatu cenderung berbeda meskipun dalam waktu dan momen yang sama. Agar tercapai penilaian otentik yang reliabel, diperlukan upaya untuk meminimalkan adanya faktor penyebab perbedaan keputusan penskoran terhadap kinerja yang sama. Reliabilitas (konsistensi) dalam penskoran sangat dituntut demi keadilan bagi peserta didik. Upaya-upaya yang dapat dilakukan antara lain penetapan kriteria yang jelas, pemahaman yang seragam dari sejumlah penilai terhadap kriteria, proses pengukuran tidak hanya dilakukan oleh satu orang, tidak menangguhkan penilaian, serta dilakukan konsesus secara berulang terhadap pemahaman kriteria (Herman, 1992). Selain penggunaan instrument penilaian otentik harus konsisten, diperlukan juga instrumen asesmen otentik yang sahih (valid). Validitas (kesahihan) instrumen asesmen kinerja berkaitan dengan kesesuaian antara instrumen tersebut dengan aspek-aspek yang hendak dinilai. Menurut Wayan Nurkancana (1986:127) alat ukur dapat dikatakan sahih apabila alat ukur tersebut dapat mengukur dengan

187

tepat apa yang hendak diukur. Berkaitan dengan hal ini, cermati kembali pembahasan tentang validitas dan reliabilitas penilaian. Asesmen Otentik: asesmen alternatif untuk setiap hasil belajar Penggunaan jenis asesmen yang tepat akan sangat menentukan keberhasilan dalam mengakses informasi yang berkenaan dengan proses pembelajaran. Pemilihan metode asesmen harus didasarkan pada target informasi yang ingin dicapai. Informasi yang dimaksud adalah hasil belajar yang dicapai siswa. Stiggins (1994:3,67) mengemukakan lima kategori target hasil belajar yang layak dijadikan dasar dalam menentukan jenis asesmen yang akan digunakan oleh pengajar. Kelima hasil belajar tersebut adalah: (1) Knowledge Outcomes, merupakan penguasaan siswa terhadap substansi pengetahuan suatu mata pelajaran (2) Reasoning Outcomes, yang menunjukkan kemampuan siswa dalam menggunakan pengetahuannya dalam melakukan nalar (reason) dan memecahkan suatu masalah. (3) Skill Outcomes, kemampuan untuk menunjukkan prestasi tertentu yang berhubungan dengan keterampilan yang didasarkan pada penguasaan pengetahuan. (4) Product Outcomes, kemampuan untuk membuat suatu produk tertentu yang didasarkan pada penguasaan pengetahuan (5) Affective Outcomes, pencapaian sikap tertentu sebagai akibat mempelajari dan mengaplikasikan pengetahuan. Berdasarkan lima kategori hasil belajar tersebut di atas, Stiggins (1994: 83) menawarkan empat jenis metode asesmen dasar. Keempat metode asesmen tersebut adalah: (1) Selected Response Assessment, termasuk ke dalamnya pilihan ganda (multiple-choice items), benar-salah (true-false items), menjodohkan atau mencocokkan (matching exercises), dan isian singkat (short answer fill-in items) 188

(2) Essay Assessment, dalam asesmen ini siswa diberikan beberapa persoalan kompleks yang menuntut jawaban tertulis berupa paparan dari solusi terhadap persoalan tersebut. (3) Performance Assessment, merupakan pengukuran langsung terhadap prestasi yang ditunjukkan siswa dalam proses pembelajaran. Asesmen ini terutama didasarkan pada kegiatan observasi dan evaluasi terhadap proses dimana suatu keterampilan, sikap, dan produk ditunjukkan oleh siswa. (4) Personal Communication Assessment, termasuk ke dalamnya adalah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru selama pembelajaran, wawancara, perbincangan, percakapan, dan diskusi yang menuntut munculnya keterampilan siswa dalam mengemukakan jawaban/gagasan. Berdasarkan pengertian asesmen alternatif sebagaimana dikemukakan terdahulu, maka kategori asesmen dari Stiggins yang cenderung dapat dipandang sebagai jenis asemen alternatif adalah Performance Assessment dan Personal Communication Assessment. Performance Assessment dan Personal Communication Assessment bercirikan pengukuran secara langsung (direct) dan autentik terhadap pembelajaran. Yang menjadi objek Performance Assessment (asesmen kinerja) ini adalah segala yang berkaitan dengan 'observabel performance' dari siswa. Kinerja yang memungkinkan untuk diobservasi mungkin saja berkenaan dengan proses kognitif yang kompleks semisal melakukan analisis, memecahkan masalah, melakukan percobaan, membuat keputusan, mengukur, bekerja sama dengan yang lain, pernyataan oral, atau mengunjukkan suatu produk. Lebih kompleks lagi kedua jenis asesmen tersebut dapat digunakan untuk mengases cara berpikir (habit of mind), cara bekerja, dan perilaku nilai (behaviors of value) dari siswa dalam kehidupan nyata. Penggunaan jenis asesmen seperti ini sangat berkesuaian dengan efektivitas pembelajaran. (Borich, 1996:634-640; Baker, 1997:248). Marzano, et al. (1993: 1-5,18) mendasarkan penggunaan performance assessment terhadap lima dimensi belajar yang digagaskannya. Kelima dimensi ini adalah: dimensi pertama, sikap dan persepsi yang positif tentang belajar (posi189

tive attitudes and perception about learning); dimensi kedua, perolehan dan pengintegrasian pengetahuan (acquiring and integrating knowledge); dimensi ketiga, perluasan dan penajaman pengetahuan (extending and refining knowledge); dimensi keempat; penggunaan pengetahuan secara bermakna (using knowledge meaningfully); dimensi Kelima, kebiasaan berpikir yang produktif (productive habits of mind). Performance Assessment: Contoh alternatif Asesmen Otentik Penilaian kinerja (performance assessment) merupakan salah satu alternatif penilaian yang difokuskan pada dua aktivitas pokok, yaitu: Observasi proses saat berlangsungnya unjuk keterampilan dan evaluasi hasil cipta atau produk. Penilaian bentuk ini dilakukan dengan mengamati saat siswa melakukan aktivitas di kelas atau menciptakan suatu hasil karya sesuai dengan tujuan pembelajarannya. Kecakapan yang ditampilkan siswa adalah variabel yang dinilai. Penilaian terhadap kecakapan siswa didasarkan pada perbandingan antara kinerja siswa dengan target yang telah ditetapkan. Proses penilaiannya dilakukan mulai persiapan, melaksanakan tugas sampai dengan hasil akhir yang dicapainya (Depdikbud, 1993: 8). Sejalan dengan pendapat tersebut, Popham (1994: 139) mengemukakan bahwa: "Performance assessment is approach to measuring a student's status based on the way that the student completes a specified task". Stiggins (1991: 85) mengemukakan bahwa dalam penilaian kinerja siswa, guru menghendaki respon yang "authentic" atau yang asli berupa aktivitas yang dapat diamati.Tugas yang diberikan bisa dalam bentuk lisan atau tertulis, yang jenis tugasnya disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Menurut Popham (1994: 141) penilaian terhadap kinerja siswa setidaknya memiliki tiga sifat, yaitu: kriteria ganda (multiple criteria), standar kualitas yang telah dispesifikasi (specified quality standards) dan penaksiran penilaian (judgmental appraisal). Dalam penilaian kinerja, target pencapaian hasil belajar yang dapat diakses meliputi aspek-aspek: 1) Knowledge; 2) Reasoning; aplikasi pengetahuan dalam berbagai konteks pemecahan masalah; 3) Skill; kecakapan dalam berbagai 190

jenis keterampilan komunikasi, visual, karya seni, dan lain-lain; 4) Product; dan 5) Affect; berhubungan dengan perasaan, sikap, nilai, minat, motivasi (Stiggins, 1994: 171). Diantara kelima target tersebut, reasoning, skill dan karya cipta merupakan target hasil belajar yang cocok dan efektif diukur dengan penilaian kinerja. Untuk dapat menilai keterampilan (skill) dan karya cipta siswa diperlukan alat ukur kinerja siswa yang disebut dengan tes kinerja. Menurut Yacobs (1992:137), jenis tes ini menyediakan cara mengukur skill dan kemampuan lain yang tidak dapat diukur dengan tes tertulis. Dalam pedoman penilaian di SD, dinyatakan bahwa penugasan tes kinerja disampaikan dalam bentuk lisan atau tertulis dan proses penilaiannya dilakukan sejak siswa melakukan persiapan, melaksanakan tugas sampai dengan hasil akhir (Depdikbud, 1994:8). Sebagai alat penunjang dalam melaksanakan tes perbuatan digunakan lembar observasi atau sebuah format pengamatan kinerja atau penampilan siswa. Dalam lembar pengamatan tertera aspek-aspek yang diamati sesuai dengan target pembelajarannya. Berdasarkan deskriptor-deskriptor yang nampak selama proses pengamatan, ditentukanlah skor kinerja siswa dengan berpedoman pada kriteria penilaian yang telah ditetapkan sebelumnya. Langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam mengembangkan metode ini adalah: kejelasan karakter penampilan yang akan dinilai, pengembangan tugas atau latihan (sifat, materi, jumlah), dan prosedur penskoran meliputi teknik, pencatatan hasil, identifikasi dan keterampilan penilaian. Sebagai contoh, aspekaspek kinerja iswa apa saja yang akan dinilai? Sifatnya individual atau kelompok? Prosedur penyekorannya menggunakan skala, rubrik atau catatan harian? Bagaimana kriteria penilaian dari masing-masing aspek kinerja siswa? Selain itu sangat dibutuhkan pelibatan siswa secara penuh mulai dari perencanaan, pengembangan dan penggunaannya. Standar untuk tugas-tugas sebelumnya harus ditetapkan secara jelas termasuk juga identifikasi prestasi yang harus didemonstrasikan, kondisi demonstrasi dan standar kualitas yang ditetapkan. Demikian pula kriteria penilaian dari tiaptiap kinerja siswa yang akan diamati harus sudah dimengerti dan disepakati ber191

sama siswa. Melalui cara tersebut, penilaian terhadap kinerja siswa dapat dirasakan lebih terbuka dan adil bagi semua siswa, karena siswa mempunyai acuan yang jelas dalam mengerjakan tugas dari guru. Tugas-tugas (Task) dalam Asesmen Kinerja Penyelenggaraan penilaian jenis apa pun menuntut adanya kegiatan siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas secara jelas. Menurut Marc Tucker (dalam Marzano, 1993:15), guru tidak dapat menilai kinerja siswa tanpa memberikan tugastugas kepada siswa; begitu juga guru tidak dapat menilai tingkat prestasi siswa tanpa adanya bukti otentik adanya tugas-tugas yang dikerjakan siswa secara nyata. Dengan demikian apabila asesmen kinerja diterapkan guru, maka dengan sendirinya siswa terberi kesempatan untuk mengungkapkan pengetahuan sebelumnya, menunjukkan penguasaan terhadap pengetahuan dan keterampilan baru dalam memecahkan persoalan yang dihadapinya. Tugas-tugas kinerja dalam pengajaran Sains di SD hendaknya dipilih atau diciptakan secara menarik dan disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan tingkat perkembangan siswa. Hal demikian diduga dapat meningkatkan motivasi siswa untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran yang memiliki kadar on-task, hands-on, dan minds-on yang relatif tinggi. Dalam menerapkan penilaian terhadap kinerja siswa perlu diperhatikan empat komponen berikut ini: (1) tugas-tugas menghendaki siswa menggunakan pengetahuan dan proses yang telah mereka pelajari; (2) ceklis yang mengidentifikasi aspek-aspek yang diamati; (3) seperangkat deskripsi dari suatu proses yang digunakan sebagai dasar untuk menilai keseluruhan kinerja; (4) contoh-contoh dengan mutu yang baik sebagai model dari pekerjaan yang harus dikerjakan siswa (Moh. Nur, 1997: 2). Penetapan Kriteria Kriteria perlu ditetapkan karena mempunyai kegunaan untuk menentukan validitas, keadilan dan konsistensi penilaian. Menurut para ahli psikomotor, kriteria yang paling penting yang dapat digunakan untuk menilai tugas-tugas berkaitan 192

dengan kinerja siswa adalah faktor kesamaan (Popham, 1994: 147). Selanjutnya dikemukakan bahwa ada tujuh kriteria penilaian yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memilih salah satu tugas kinerja atau menciptakan tugas-tugas dalam penilaian kinerja. Ketujuh kriteria tersebut adalah: keumuman (generalizability), keaslian (authenticity), berfokus ganda (multiple foci), keadilan (fairness), bisa tidaknya diajarkan ( teachability), kepraktisan (feasibility) dan bisa tidaknya tugas tersebut diberi skor (scorability). Untuk setiap kriteria yang dipilih, skala angka secara khusus dapat digunakan, sehingga kriteria untuk setiap respon siswa mungkin ditetapkan skala, 0 (nol) hingga 6 (enam). Menurut Popham (1994: 149), kadang-kadang skala ini dilengkapi dengan penjelasan atau gambaran verbal, kadang-kadang tidak. Untuk menentukan reliabilitas pada penilaian kinerja, perlu dilakukan kesepakatan dalam menetapkan kriteria yang sama oleh sejumlah tenaga profesional yang memiliki keterampilan, wawasan dan pengalaman yang memadai. Dalam proses penilian kinerja, sebaiknya siswa mengetahui aspek-aspek apa saja yang akan dinilai berikut kriteria penilaiannya. Reliabilitas dan Validitas dalam Penilaian Kinerja Salah satu ciri penilaian kinerja adalah ketergantungan terhadap pertimbangan manusia (guru) dalam menentukan skor terhadap kinerja siswa. Kenyataan ini menyebabkan tidak dapat dihindarinya faktor subyektivitas penilaian terhadap performansi siswa, mengingat persepsi atau interpretasi seseorang dalam memandang sesuatu cenderung berbeda meskipun dalam waktu dan momen yang sama. Agar tercapai penilaian kinerja yang reliabel, diperlukan upaya untuk meminimalkan adanya faktor penyebab perbedaan keputusan penskoran terhadap kinerja yang sama. Reliabilitas (konsistensi) dalam penskoran sangat dituntut demi keadilan bagi peserta didik. Upaya-upaya yang dapat dilakukan antara lain penetapan kriteria yang jelas, pemahaman yang seragam dari sejumlah penilai terhadap kriteria, proses pengukuran tidak hanya dilakukan oleh satu orang, tidak menangguhkan penilaian, serta dilakukan konsesus secara berulang terahadap pemahaman kriteria (Herman, 1992).

193

Selain pengukuran yang konsisten, diperlukan juga alat ukur yang sahih (valid). Validitas (kesahihan) alat ukur berkaitan dengan kesesuaian antara alat ukur dengan aspek-aspek yang hendak diukur. Menurut Wayan Nurkancana (1986:127) alat ukur dapat dikatakan sahih apabila alat ukur tersebut dapat mengukur dengan tepat apa yang hendak diukur. Hasil pengukuran dapat memberikan informasi yang akurat, jika sebelum alat ukur digunakan terlebih dahulu dilakukan validasi isi dan validasi konstruk terhadap alat ukur yang digunakan. Menurut Ign. Masidjo (1995:242) suatu alat ukur dinyatakan memiliki validitas isi jika alat ukur tersebut mengukur apa yang seharusnya diukur. Suatu alat ukur dikatakan valid apabila materi alat ukur tersebut betul-betul merupakan materi yang representatif terhadap materi yang akan diukurnya. (Wayan Nurkancana, 1986:129). Menurut Gronlund (dalam Bistok, 1985:231) tes yang tinggi validitas isinya dapat dibuat dengan: (1) mengidentifikasi topik pokok bahasan dan hasil tingkah laku yang akan diukur; (2) membuat tabel spesifikasi yang merinci sampel butir pertanyaan/tugas yang akan digunakan; (3) membuat instrumen penilaian yang paling mendekati tabel spesifikasi tersebut. Dari segi validitas konstruk, yang diutamakan adalah adanya kecocokan konstruk perilaku yang dicakup oleh instrumen pengukuran dengan yang ditentukan dalam sasaran yang ditargetkan (Cangelosi, dalam Lilian, 1990:25). Untuk dapat membuat alat ukur yang memenuhi validasi isi maupun validasi konstruk, dapat dilakukan evaluasi berdasarkan "penimbangan" profesional oleh sekelompok pakar (Nuryani, dkk. 1992:11; Nana Sudjana, 1995:13). Penilaian Kelas: Penilaian Berbasis Kompetensi Pelaksanaan Kurikulum yang berbasis kompetensi ini menghendaki adanya perubahan kegiatan pembelajaran di kelas, baik dalam cara guru mengajar maupun dalam melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa. Dengan penekanan pada penguasaan kompetensi, maka jenis penilaian juga harus disesuaikan dengan kekhasan masing-masing kompetensi. Bentuk penilaian yang lama (model

194

pilihan ganda) untuk menilai semua mata pelajaran yang selama ini digunakan oleh guru tidak bisa digunakan untuk menilai kompetensi yang beragam. Penilaian kelas merupakan salah satu pilar dalam kurikulum berbasis kompetensi. Penilaian kelas adalah proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh guru untuk pemberian nilai terhadap hasil belajar siswa berdasarkan tahapan kemajuan belajarnya sehingga didapatkan potret/profil kemampuan siswa sesuai dengan daftar kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum. Penilaian kelas dilaksanakan secara terpadu dengan kegiatan belajar-mengajar. Penilaian dapat dilakukan baik dalam suasana formal maupun informal, di dalam kelas, di luar kelas, terintegrasi dalam kegiatan belajar-mengajar atau dilakukan pada waktu yang khusus. Penilaian kelas dilaksanakan melalui berbagai cara, seperti tes tertulis (paper and pencil test), penilaian hasil kerja siswa melalui kumpulan hasil kerja (karya) siswa (portofolio), penilaian produk 3 dimensi, dan penilaian unjuk kerja (performance) siswa. Penilaian kelas merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, pengumpulan informasi melalui sejumlah bukti yang menunjukkan pencapaian hasil belajar siswa, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa. Penilaian yang dilakukan guru memiliki ragam tujuan, antara lain untuk grading (membedakan kedudukan hasil kerja siswa dibandingkan dengan siswa lain dalam satu kelas), alat seleksi (memisahkan antara siswa yang masuk dalam kategori tertentu dan yang tidak, atau untuk menentukan seorang siswa dapat masuk atau tidak di sekolah tertentu), menguasai kompetensi (menentukan apakah seorang siswa telah menguasai kompetensi tertentu atau belum), bimbingan (mengevaluasi hasil belajar siswa dalam rangka membantu siswa memahami dirinya, membuat keputusan yang harus dilakukan siswa, atau untuk menetapkan penjurusan), alat prediksi (mendapatkan informasi yang digunakan untuk memprediksi kinerja siswa pada pendidikan berikutnya) dan alat diagnosis (melihat kesulitan belajar atau dalam hal apa siswa memiliki prestasi untuk menentukan perlu remediasi atau pengayaan).

195

Dalam kaitannya dengan pelaksanaan penilaian berbasis kelas, jenis penilaian diagnosis, bimbingan, dan pencapaian penguasaan kompetensi harus menjadi perhatian utama guru pada setiap kali mengajar. Guru dituntut mampu melaksanakan penilaian mulai dari awal sampai akhir proses belajar mengajar. Untuk menilai sejauhmana siswa telah menguasai beragam kompetensi, tentu saja berbagai jenis penilaian perlu diberikan sesuai dengan kompetensi yang akan dinilai, seperti unjuk kerja/kinerja (performance), penugasan (proyek), hasil karya (produk), kumpulan hasil kerja siswa (portofolio), dan penilaian tertulis (paper and pencil test). Penilaian berbasis kelas merupakan suatu proses yang dilakukan guru melalui langkah-langkah perencanaan, pengumpulan sejumlah bukti yang menunjukkan pencapaian hasil belajar siswa, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa. Jadi, peran penilaian berbasis kelas adalah memberikan masukan atau informasi secara komprehensif tentang hasil belajar siswa dilihat ketika kegiatan pembelajaran sedang berlangsung hingga hasil akhirnya dengan menggunakan berbagai cara penilaian sesuai dengan kompetensi yang diharapkan dicapai siswa. Dengan demikian Penilaian Kelas merupakan penilaian yang dilakukan guru baik yang mencakup aktivitas penilaian untuk mendapatkan nilai kualitatif maupun aktivitas pengukuran untuk mendapatkan nilai kuantitatif (angka). Perlu diingat bahwa penilaian kelas dilakukan terutama untuk memperoleh informasi tentang hasil belajar siswa yang dapat digunakan sebagai diagnosis dan masukan dalam membimbing siswa dan untuk menetapkan tindak lanjut yang perlu dilakukan guru dalam rangka meningkatkan pencapaian kompetensi siswa. Contoh Instrumen Penilaian Otentik a. Mengukur waktu efektif belajar siswa dalam pembelajaran sains Tema/Topik : __________________________ Hari/Tanggal: ________________
Kode Kelompok Perilaku Off Task per 15 menit Periode Observasi Kualitas

196

I I II III IV

II

III

IV

V

VI VII

VIII IX

X

On task

Off task

Keterangan: Setiap kotak diisi dengan nomor-nomor berikut sesuai dengan perilaku siswa dalam pembelajaran. 1 = bermain-main sendiri ; 2 = menunjukkan sikap malas; 3 = bercanda/ bercakap-cakap; 4 = mengantuk; 5 = mengganggu teman; 6 = mempermainkan guru; 7 = cen-derung membuat keributan ; 8 = meninggalkan kelas; 9 = perilaku off task lainnya

b. Instrumen Penilaian Kinerja (Performance Assessment) pada saat melaksanakan praktiku/kerja kelompok. Kelompok/Nama Siswa:
No. Aspek Kinerja Menunjukkan minat/inisiatif beraktivitas Terlibat aktif melaksanakan kegiatan Ketepatan melakukan tugas/menggunakan alat Menghargai hak orang lain Menunjukkan kreatifitas Nilai: SK = 0 – 3,4; K = 3,5 – 5,4; C = 5,5 – 6,4; B = 6,5 – 8,4; SB = 8,5 – 10

Tanggal:
SK K C B SB

c. Format penilaian Karya Siswa (Penilaian Produk/Product Assessment). Misalnya membuat perahu mainan dari plastisin. 1) Penilaian Perencanaan
ASPEK YANG DINILAI SK K C B SB

197

Memilih bahan sesuai dengan tujuan Menetapkan alat-alat sesuai dengan tujuan Memilih jenis pesawat yang akan dibuat Menetapkan bahan-bahan untuk memperindah perahu

2) Penilaian Proses Pembuatan
ASPEK YANG DINILAI Dikerjakan mandiri (tanpa bantuan guru yang berarti) Kerjasama antar anggota nampak kompak Waktu yang digunakan untuk membuat perahu efektif Upaya dan hasil untuk memperindah perahu SK K C B SB

3) Penilaian Produk/Hasil Karya
ASPEK YANG DINILAI Penampilan pesawat: rapih dengan bentuk wajar Ukuran ruang perahu sudah optimal sesuai dengan bahan Ada hasil kreasi untuk memperindah penampilan Daya tampung perahu (jumlah beban yang diangkut) SK K C B SB

d. menilai proses pembuatan dan hasil karya siswa berupa ‘kapal selam pipet’. 1) Penilaian Perencanaan
ASPEK YANG DINILAI Memilih bahan sesuai dengan tujuan Menetapkan alat-alat sesuai dengan tujuan Memilih jenis pesawat yang akan dibuat SK K C B SB

198

Menetapkan bahan-bahan untuk memperindah perahu

2) Penilaian Proses Pembuatan
ASPEK YANG DINILAI Dikerjakan mandiri (tanpa bantuan guru yang berarti) Kerjasama antar anggota nampak kompak Waktu yang digunakan untuk membuat perahu efektif Upaya dan hasil untuk memperindah perahu SK K C B SB

3) Penilaian Produk/Hasil Karya
ASPEK YANG DINILAI Penampilan pesawat: rapih dengan bentuk wajar Dengan mudah ‘kapal selam’ dapat diatur turun-naik. Ada hasil kreasi untuk memperindah penampilan SK K C B SB

Catatan. Guru menentukan kriteria dan indikator pada setiap aspek yang dinilai SK (sangat kurang), K (kurang), C (cukup), B (baik), dan SB (sangat baik).

199

C. RANGKUMAN • Sistim penilaian yang digunakan dalam mengukur hasil belajar siswa sangat berpengaruh terhadap strategi pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan guru, serta hasil belajar yang dicapai siswa. Sistim penilaian yang benar adalah yang selaras dengan tujuan dan proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran Sains SD pada kurikulum 2004, dapat dirangkum ke dalam tiga aspek sasaran pembelajaran yaitu penguasaan konsep Sains, pengembangan keterampilan proses/kinerja siswa, dan penanaman sikap ilmiah. Oleh karennya agar informasi tentang hasil belajar siswa dapat mengungkap secara menyeluruh, maka perlu melakukan pengukuran terhadap ketiga

aspek tersebut di atas. Dengan demikian sasaran dari penilaian hasil belajar di SD meliputi semua komponen yang menyangkut proses dan hasil belajar siswa dalam kegiatan belajar mengajar. • Penilaian (evaluasi), asesmen, dan pengukuran memiliki arti yang berbeda tapi peran dan fungsinya tidak dapat dipisahkan, karenasemua kegiatan tersebut saling berhubungan erat.. Evaluasi adalah kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak, dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya. Evaluasi berhubungan dengan keputusan nilai (value judgement). Asesmen (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar siswa atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) siswa. Pengukuran (measurement) adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan di mana seorang siswa telah mencapai karakteristik tertentu. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut. Tes adalah alat pengukuran yang dirancang dan dilaksanakan kepada siswa pada waktu dan tempat tertentu serta dalam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas. 200

• Aasesmen alternatif (alternative assessment) adalah segala jenis bentuk asesmen diluar asesmen konvensional (selected respon test dan paper-pencil test) yang lebih autentik dan signifikan mengungkap secara langsung proses dan hasil belajar siswa dengan semboyan "What You Get is What You Assess" (WYGWYA). Dalam beberapa literatur, asesmen alternatif ini kadang-kadang disebut juga asesmen autentik (authentic assessment), asesmen portofolio (portfolio assessment) atau asesmen kinerja (performsnce assessment). • Penilaian otentik juga diartikan sebagai proses penilaian performance siswa dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu dalam situasi nyata. Guru yang menggunakan penilaian otentik mencari dan mengumpulkan serta mensintesis informasi kemampuan siswa dalam memahami dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan proses dalam situasi nyata. Dengan demikian penilaian otentik merupakan metode penilaian alternatif yang memungkinkan siswa untuk mendemonstrasikan kemampuannya dalam menyelesaikan tugas-tugas, menyelesaikan masalah atau juga mengekspresikan pengetahuannya dengan cara mensimulasikan situasi yang dapat ditemui di dalam dunia nyata. • Penggunaan jenis asesmen harus didasarkan hasil belajar yang dicapai siswa. Bebreda dengan Bloom, Stiggins (1994:3,67) mengemukakan lima domain hasil belajar, kelima hasil belajar tersebut adalah: (1) Knowledge Outcomes, merupakan penguasaan siswa terhadap substansi pengetahuan suatu mata pelajaran, (2) Reasoning Outcomes, yang menunjukkan kemampuan siswa dalam menggunakan pengetahuannya dalam melakukan nalar (reason) dan memecahkan suatu masalah, (3) Skill Outcomes, kemampuan untuk menunjukkan prestasi tertentu yang berhubungan dengan keterampilan yang didasarkan pada penguasaan pengetahuan, (4) Product Outcomes, kemampuan untuk membuat suatu produk tertentu yang didasarkan pada penguasaan pengetahuan, dan (5) Affective Outcomes, pencapaian sikap tertentu sebagai akibat mempelajari dan mengaplikasikan pengetahuan. 201

• Stiggins (1994: 83) menetapkan empat jenis metode asesmen dasar, yaitu: (1) Selected Response Assessment, termasuk ke dalamnya pilihan ganda (multiple-choice items), benar-salah (true-false items), menjodohkan atau mencocokkan (matching exercises), dan isian singkat (short answer fill-in items), (2) Essay Assessment, dalam asesmen ini siswa diberikan beberapa persoalan kompleks yang menuntut jawaban tertulis berupa paparan dari solusi terhadap persoalan tersebut, (3) Performance Assessment, merupakan pengukuran langsung terhadap prestasi unjuk kerja siswa dalam proses pembelajaran, (4) Personal Communication Assessment, berupa pertanyaanpertanyaan yang diajukan guru selama pembelajaran, wawancara, dan diskusi yang menuntut munculnya keterampilan siswa dalam mengkomunikasikan jawaban/gagasan. • Penilaian kinerja akan efektif mengakses kinerja siswa apabila guru dapat menetapkan kriteria kinerja dan penskoran yang memenuhi aspek reliabilitas dan validitas. Reliabilitas penilaian kinerja dapat diupayakan dengan cara meminimalkan adanya faktor penyebab perbedaan keputusan penskoran terhadap kinerja yang sama. Adapun validitas (kesahihan) alat ukur berkaitan dengan kesesuaian antara alat ukur dengan aspek-aspek yang hendak diukur. Alat ukur dapat dikatakan sahih apabila alat ukur tersebut dapat mengukur dengan tepat apa yang hendak diukur. • Penilaian kelas merupakan salah satu pilar dalam kurikulum berbasis kompetensi. Penilaian kelas adalah proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh guru untuk mengetahui kemajuan belajar siswa sesuai dengan daftar kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum. Penilaian kelas dilaksanakan melalui berbagai cara, seperti tes tertulis (paper and pencil test), kumpulan hasil kinerja siswa (portofolio), penilaian produk 3 dimensi, dan penilaian unjuk kerja (performance) siswa. Penilaian kelas merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, pengumpulan informasi melalui sejumlah bukti yang menunjukkan pencapaian hasil belajar siswa, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa. 202

D. MENGIKAT MAKNA 1. Tugas dan Latihan Soal a. Kemukakan bukti-bukti faktual di lapangan dan alasan-alasan rasional yang menunjukkan bahwa sistim penilaian mempengaruhi kualitas pembelajaran sains di Sekolah Dasar. ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ b. Jelaskan pengertian dari konsep pengukuran, asesmen, dan evaluasi. Jelaskan juga contoh penggunaan dalam pembelajaran sains di SD untuk masing-masing konsep tersebut. ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ 203

____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ c. Apa yang dimaksud dengan asesmen konvensional dan asesmen alternatif? Sertakan contoh dalam jawaban Anda untuk kedua jenis asesmen tersebut. ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ 204

d. Jelaskan konsep asesmen otentik pada pembelajaran sains. Kemukakan contoh asesmen otentik dalam penilaian berbasis kelas serta padankan masing-masing asesmen tersebut dengan domain hasil belajar yang relevan dari outcomes-nya Stigins dan dari domain STS. ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ 205

e. Jelaskan prinsi-prinsip reliabilitas dan validitas untuk asesmen otentik pada pembelajaran sains. ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ f. Buatlah contoh instrumen asesmen otentik untuk pembelajaran sains di Sekolah Dasar. Untuk itu Anda pilih kelas, semester, kompetensi dasar, dan indikator hasil belajar yang akan dijadikan latar penggunaan asesmen tersebut. Pertimbangkan rambu-rambu reliabilitas dan validitas asesmen otentik. Aspek, indikator, serta kriteria pada masing-masing jenis asesmen yang dibuat harus relevan dan realistis bagi pembelajaran sains di SD. Soal bagian f ini dikerjakan individu dengan ketentuan: kompetensi dasar dan indikator hasil belajar yang dipilih tidak boleh sama dengan yang lain. Hasil tugas Anda kirimkan ke e-mail kelas Anda.

206

2. Apakah Anda Ingin Tahu Lebih Lanjut? Tuliskan sejumlah pertanyaan yang berhubungan dengan hal-hal yang belum Anda fahami dari wacana pada Bagian VII. Pertanyaan yang diajukan 20% menggunakan kata tanya apa, 40% menggunakan kata tanya mengapa, dan 40% menggunakan kata tanya bagaimana. _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ 207

_______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________

Dosen pemeriksa : __________________ Tanggal memeriksa: ____________ Tandatangan:

_____________________ 208


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:3555
posted:3/28/2009
language:English
pages:34