METODOLOGI IPA SD_4

Document Sample
METODOLOGI IPA SD_4 Powered By Docstoc
					IV
• • • •

PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME DAN KONTEKSTUAL PENDIDIKAN SAINS

A. TUJUAN Setelah mengkaji materi pada bagian IV ini mahasiswa mampu Mendeskripsikan keterkaitan antara teori perkembangan kognitif Piaget dan pendekatan konstruktivisme. Menjelaskan pengertian dan karakteristik pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Mendeskripsikan pengertian dan aspek-aspek utama pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran. Memberikan contoh tindakan guru dalam mengubah konsepsi siswa dalam pembelajaran sains dengan pendekatan konstruktivisme.

B. KAJIAN MATERI Pendahuluan

K

ajian-kajian epistemologis dan psikologis tentang bagaimana hakikat seseorang (siswa) dalam memperoleh pengetahuan terus berlangsung hingga sekarang. Salah satunya adalah kajian terhadap

teori belajar dengan pendekatan konstruktivisme dan pendekatan kontekstual yang sangat kontributif terhadap pembelajaran sains yang diharapkan. Pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme dan pendekatan kontekstual sejalan dengan psikologi perkembangan intelektual (kognitif) dari Piaget yang memandang belajar sebagai proses pengaturan-sendiri (self regulation) yang dilakukan seseorang dalam mengatasi konflik kognitif. Konflik kognitif timbul pada saat terjadi ketidakselarasan (disequilibrasi) antara informasi yang diterima siswa dengan struktur kognitif yang telah dimilikinya. Adapun pengaturan-sendiri adalah proses internal untuk mencapai keselarasan (equilibrasi) yang dilakukan melalui dua fungsi yakni organisasi dan adaptasi. Dalam teori Piaget dikenal adanya tiga jenis pengetahuan yaitu pengetahuan fisik, pengetahuan logiko-matematik dan pengetahuan sosial. Menurut kon94

struktivisme, pengetahuan (terutama pengetahuan logiko-matematik dan pengetahuan sosial) dibangun sendiri oleh anak melalui pengalaman dimana terjadi interaksi antara struktur kognisi (pengetahuan) awal yang telah dimilikinya dengan informasi dari lingkungan. Interaksi seperti ini menurut teori belajar konstruktivisme disebut sebagai perubahan konseptual (Conceptual Change). (Bell,1993:24; Driver & Leach, 1993:104; Dahar,1989:158-160). Dengan ungkapan lain,

menurut faham konstruktivis belajar adalah proses yang aktif dan berkesinambungan yang dilakukan siswa dalam menggunakan informasi dari lingkungan untuk membangun sendiri pemahamannya. Proses ini dilakukan siswa dengan beranjak dari pengetahuan dan pengalaman awal mereka (Shepardson & Moje, 1994: 490). Di sekolah, siswa mengkonstruksi pemahamannya melalui interaksi dengan guru, teman sekelas, dan materi kurikulum. Tetapi tidak semua interaksi berperan terhadap pengkonstruksian pengertian ilmiah. Hanya interaksi yang membangkitkan suatu dialog antara pengetahuan awal siswa dengan pemahaman ilmiah yang telah lazim yang dapat membantu terbentuknya pemahaman baru pada diri siswa. Pengkonstruksian ini terjadi dalam suasana konflik, samar, dan mengejutkan. Tujuan dan motivasi yang dibawa siswa ke dalam situasi belajar, peristiwa yang dialami oleh siswa dalam situasi tersebut serta negosiasi dan interaksi sosial maupun kultural turut pula mempengaruhi proses pengkonstruksian pemahaman. (Shepardson, et al.,1994:244; Appleton, 1996:2). Pengkonstruksian pengetahuan yang bermakna dan realistik tidak dapat dilepaskan dari latar kontekstual keseharian, lingkungan, dan kedirian siswa. Dalam rangka memfasilitasi para guru di lapangan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis konstruktivisme, berbagai literatur pembelajaran yang dikeluarkan oleh Layanan Profesional Kurikukulum Berbasis Kompetensi (Depdiknas, 2003) mengenalkan pendekatan baru dalam pembelajaran yang dikenal dengan istilah pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning). Pembelajaran berlandastumpu pendekatan CTL bercirikan antara lain: o Berbasis Permasalahan (Problem-Based). o Penggunaan berbagai konteks (Using multiple contexts).
95

o Menggambarkan keaneka ragaman siswa (Drawing upon student diversity). o Menunjang pembelajaran pengaturan diri (Supporting self-regulated learning). o Penggunaan kelompok pembelajaran yang saling tergantung (Using interdependent learning groups). o Memanfaatkan penilaian autentik (Employing authentic assessment). Pembelajaran dengan pendekatan CTL terjadi manakala para guru menghubungkan pokok bahasan dengan situasi dunia nyata. Dengan pendekatan CTL para siswa termotivasi untuk membuat koneksi antara pengetahuan dan aplikasi nya kedalam kehidupan mereka sebaga anggota keluarga, warganegara, dan pekerja dalam konteks yang global dan universal. Sbenarnya konsep ini tidak lah baru. Pembelajaran dengan pendekatan CTL diusulkan pertama kali (pada periode abad 20) oleh Yohanes Dewey yang mendukung suatu kurikulum dan suatu metodologi pengajaran yang terfokus pada minat dan pengalaman anak didik. Dewey menyayangkan separasi pendidikan berupa pemisahan badan dan pikiran, dan pertentangan program sekolah dalam lapangan kerja dan akademis.

Pembelajaran Berorientasi Konstruktivisme
Menurut Matthews (dalam Suparno, 1997) secara garis besar konstruktivisme psikologi dibagi menjadi dua yaitu: (1) konstruktivisme radikal, yang lebih bersifat personal, individual, dan subyektif, dan aliran ini dianut oleh Piaget dan pengikut-pengikutnya; dan (2) konstruktivisme sosial, yang lebih bersifat sosial, dan aliran ini dipelopori oleh Vigotsky. Dengan mencermati teori belajar yang dikemukakannya, Bruner dapat dianggap sebagai pengikut aliran konstruktivisme personal. Meskipun Bruner mengklaim bahwa ia bukan pengikut Piaget tetapi teori-teori belajarnya sangat relevan dengan tahap-tahap perkembangan berpikir seperti yang dikemukakan Piaget. Salah satu teori belajar Bruner yang mendukung paham konstruktivisme adalah teori konstruksi. Teori ini menyatakan bahwa cara terbaik bagi seseorang untuk memulai belajar konsep dan prinsip dalam matematika adalah dengan
96

mengkonstruksi sendiri konsep dan prinsip yang dipelajari itu. Hal ini perlu dibiasakan sejak anak-anak masih kecil (Bell, 1981:143). Dalam konstruktivisme sosial yang dipelopori oleh Vygotsky secara umum, pengetahuan ( termasuk matematika dan sains) dipandang sebagai hasil konstruksi sosial. Hal ini didasarkan pada alas an bahwa: (1) Basis dari pengetahuan adalah pengetahuan bahasa, perjanjian dan hukum-hukum, dan pengetahuan bahasa merupakan konstruksi sosial; (2) Proses sosial interpersonal diperlukan untuk membentuk pengetahuan subyektif yang selanjutnya melalui publikasi akan terbentuk pengetahuan matematika; obyektif dan (3) Obyektivitas itu sendiri merupakan masalah sosial (Ernest, 1991:42). Lebih lanjut, Ernest (1991: 43) menyatakan bahwa konstruktivisme sosial mengaitkan antara pengetahuan subyektif dan pengetahuan obyektif dalam suatu siklus melingkar. Maksudnya, pengetahuan baru terbentuk melalui suatu siklus melingkar yaitu dimulai dari pengetahuan subyektif ke pengetahuan obyektif melalui suatu publikasi. Pengetahuan obyektif diinternalisasi dan dikonstruksi oleh siswa selama proses belajar. Proses rekonstruksi pengetahuan dilakukan oleh siswa itu dengan tahapan sebagai berikut. Pertama, pengetahuan obyektif matematika direpresentasikan siswa dengan mengkaji/menyelidiki, menjelaskan, memperluas, mengevaluasi informasi yang diterimanya sehingga terjadi rekonstruksi konsepsi awal. Kedua, konsepsi awal sebagai hasil rekonstruksi individu tersebut merupakan pengetahuan subyektif. Ketiga, pengetahuan subyektif matematika tersebut di-

”kolaborasi”kan dengan siswa lain, guru dan perangkat belajar (siswa-guruperangkat belajar) sehingga terjadi rekonstruksi baru. Keempat, matematika yang telah direkonstruksi sebagai hasil belajar sosial (kelompok) tersebut merupakan pengetahuan baru yaitu pengetahuan obyektif kolektif. Dengan merujuk kepada berbagai hasil penelitian dan kajian tentang pembelajaran berdasarkan konstruktivisme, maka dalam merancang dan menyelenggarakan pembelajarn sains hendaknya guru memperhatikan hal-hal berikut. Pertama, mempertimbangkan bahwa pengatahuan awal siswa sangat berperan dalam pengalaman belajar mereka (Driver & Leach, 1993:106; Driver, et

97

al.,1991:4; Bell, 1993:11; Horsley, et al. , 1990:47). Pengetahuan awal (prakonsepsi) dapat terdiri dari miskonsepsi (berbeda dengan konsepsi yang sekarang diterima para ilmuwan) dan konsep-konsep intuitif yang dibenarkan secara ilmiah. Fotosintesis hanya dapat terjadi sianghari, tumbuhan bernafas pada malam hari dan berfotosintesis pada siang hari, menyimpan tanaman di dalam rumah pada malam hari akan mengganggu pernafasan, cadangan air disimpan dalam akar, serta gelombang bunyi merambat dalam pesawat telepon merupakah contoh miskonsespi yang sering muncul pada siswa SD bahkan pada gurunya. Agar pembelajaran berlangsung efektif dalam menanamkan konsep-konsep sains yang benar semestinya guru mengetahui miskonsepsi siswa yang berkaitan dengan topik sains yang akan diajarkan. Untuk mengetahui miskonsepsi siswa dapat dilakukan antara lain dengan melakukan tes awal, pertanyaan apersepsi, kegiatan eksplorasi pada wal pembelajaran atau wawancara. Kedua, pembelajaran dipandang sebagai proses transformasi konsepsi yang menyebabkan terjadinya perubahan konseptual pada diri siswa ( Strike & Posner, 1985:215; Dykstra, et al. , 1992:626; Bell, 1993:24; Horsley, et al. , 1990:50). Alih-alih sebagai transfer informasi, belajar konstruktivisme ditandai oleh bimbingan guru memampukan siswa agar dengan aktivitasnya sendiri siswa mengalami tranformasi (perubahan dan peningkatan) konsep. Berubahan dari miskonsepsi menjadi konsepsi yang benar, meningkat dari penguasaan konsep pada tahap tertentu ke tahap yang lebih linggi. Jenis-jenis transformasi ini akan dibahas secara khusus pada sub topik mendatang: belajar sebagai perubahan konsepstual Ketiga, dalam pembelajaran, perubahan konseptual atau pengetahuan dikonstruksi siswa melalui partisipasi aktif dalam aktivitas hands-on dan minds-on (Hewson, 1985:155; Bell, 1993:23; Horsley, et al., 1990:48; Driver & Leach, 1993:106). Aktivitas hands-on meliputi kegiatan-kegiatan ketrampilan psikomotorik dalam melakukan observasi, inkuiri maupun discovery seperti melakukan pencatatan hasil observasi, membuat grafik dan tabel, melakukan pengukuran, menggunakan alat-alat laboratorium, atau membuat karya. Sedangkan aktivitas

98

minds-on berhubungan dengan aktivitas keterampilan intelektual seperti mengajukan dan menjawab pertanyaan, mengemukakan gagasan, berhipotesis, melakukan inferensi, memprediksi, atau melakukan generalisasi. Keempat, perubahan konseptual (belajar) akan terjadi secara efektif jika tersedia konteks (ekologi konseptual) yang mendukung bagi siswa. Konteks ini bersifat kultural, sosial/bahasa dan material (Hewson, 1985:155; Bell, 1993:28; Roth & Roychoudury, 1993:133; Glasson & Lalik,1993:188-189; Driver & Leach, 1993:106). Berkaitan dengan ini disamping memperhatikan konsepsi awal siswa, dalam menyelenggarakan pembelajaran guru juga harus mempertimbangkan isu ling-kungan alam, nilai, kebiasan, atau adat-istiadat yang berkembang di masyarakat yang diduga akan sangat berpengaruh terhadap kelancaran pembelajaran. Dengan tidak harus terjerumus dan memperkuat pandangan takhayul dan kemusyrikan yang berkembang di masyarakat, guru tetap harus berhati-hati menggunakan sumber belajar yang tidak kondusif bagi kebudayaan lingkungan sekitar. Adalah tidak tepat apabila di lingkungan masyarakat yang jauh dari sumber persawahan, guru menjadikan lingkungan sawah sebagai latar pembelajaran ekosistem. Termasuk ke dalam mempertimbangkan konteks adalah dalam mengatur pengelompokkan siswa dalam kegiatan belajar (misalnya dalam praktikum). Unsur keragaman kecerdasan siswa dan gender layak untuk menjadi bahan pertimbangan. Penggunaan bahasa yang berorientasi pada interaksi sosial baik antar siswa maupun antara siswa dengan guru harus benar-benar diperhatikan, mengingat siswa tidak akan bisa mengkonstruksi pengetahuannya secara optimal tanpa berkomunikasi dengan yang lain (Glasson & Lalik, 1993:188-189). Namun demikian, Yager (1991:1,3) dalam makalahnya “The Constructivist Learning Model: Towards real reform in science education” menegaskan bahwa meskipun:”...All learning is dependent upon language and communication”, tetapi: From a constructivist perspective, however, the use of language per se in teaching cannot be a means of transferring information. Language must have meaning and not be source for it. We use language to cope with our environment, to help us make sense of our world, and to communicate how we can use the meaning formulated....
99

Horsley, et al. (1990:47) menegaskan tepatnya penerapan model belajar yang didasarkan pada konstruktivisme untuk pembelajaran sains di tingkat dasar. Alasanya bahwa dalam model pembelajaran ini siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya dengan kata-katanya sendiri, menguji ide-idenya sendiri berdasarkan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya, serta berpeluang untuk membentuk kepekaan terhadap lingkungan.

Dalam Konstruktivisme: Belajar adalah Perubahan Konseptual
Karena desakan rasa ingin tahunya (curiosity) yang begitu besar serta merasakan adanya masalah, setiap saat anak mencoba menerka dan berkontemplasi untuk menafsirkan fenomena-fenomena tersebut dan mengembangkan konsepsi-konsepsi yang sesuai dengan domain pengalaman mereka (Holt, 1991:1-6). Konsepsi-konsepsi yang secara dini dikembangkan oleh anak ini disebut sebagai pengetahuan personal atau konsepsi awal siswa yang sering kali tidak konsisten dengan pandangan para saintis. Menurut Krajcik (1993:54) - dalam konteks perubahan konseptual - pembelajaran adalah upaya mengintegrasikan pengetehuan personal siswa dengan pengetahuan sekolah. Pengetahuan personal adalah pengetahuan yang dikonstruksi oleh siswa sebagai hasil interaksinya dengan orang lain dan lingkungan seperti orangtua, teman, guru, buku, televisi, filem dan adat istiadat. Sedangkan pengetahuan sekolah adalah interpretasi seseorang tentang alam yang merupakan hasil dari pengajaran yang terencana dalam latar sekolah. Pengetahuan inilah yang terdapat dalam berbagai buku teks pelajaran. Integrasi kedua pengetahuan ini akan membantu siswa mengembangkan perubahan konseptual yang lebih bermakna (Bell,1993:24/35; Harlen & Galton,1990:4 -5). Dykstra, et al. (1992:637) berdasarkan hasil penelitian, pengalaman di kelas dan penelaahan tentang perubahan-perubahan konseptual yang terdapat dalam berbagai literatur dapat mengidentifikasi tiga bentuk perubahan konseptual tahap awal (preliminary), yaitu: (1) pembedaan (differentiation), (2) perluasan kelas (class extension), dan (3) konseptualisasi ulang (reconceptualization).

100

Perubahan konseptual bentuk pembedaan terjadi bila konsep baru yang lebih spesifik sifatnya muncul dari konsep sebelumnya yang lebih umum. Misalnya, konsep rangkaian listrik seri dan rangkaian listrik paralel muncul dari konsep rangkaian tertutup-rangkaian terbuka yang lebih umum. Perubahan konseptual bentuk perluasan kelas terjadi apabila konsepkonsep yang telah ada dapat diterapkan pada kasus-kasus lain yang mengandung konsep-konsep yang lebih khusus dan komprehensif. Konsep rangkaian tertutup yang semula dipahami sebagai rangkaian yang dapat menyalakan lampu pada batu baterai diperluas pada setiap rangkaian yang dapat menyalakan alat elektronik. Rangkaian listrik pada sistem penerangan rumah dan rangkaian listrik pada pesawat TV yang sedang menyala adalah contoh perluasan rangkaian tertutup. Perubahan konseptual bentuk konseptualisasi ulang terjadi apabila perubahan yang menyeluruh dialami oleh konsepsi awal siswa karena konsepsi awal ini sama sekali tidak sesuai lagi dengan konsep ilmiah. Misalnya konsep arah

arus listrik yang dipersepsi siswa secara tidak ilmiah diganti dengan konsep arah arus listrik yang telah disepakati secara ilmiah.

Strategi Mengubah Konsepsi Siswa
Strategi mengaktifkan siswa dalam pembelajaran dimaksudkan untuk membantu siswa belajar dalam arti membangkitkan perubahan konseptual atau pengkonstruksian konsep baru. Pemilihan strategi ini sangat bergantung pada pemahaman guru tentang hakikat belajar, tujuan pembelajaran, kurikulum sains, metode mengajar dan cara mengelola kelas (Smith, et al., 1993:113). Strategi yang dipilih antara lain bisa berupa: memperluas ranah aplikasi konsep, mempertajam diferensiasi suatu konsep, melibatkan suatu model yang berbeda atau analogi, mempertajam suatu konsep secara progresif , atau menawarkan konsep alternatif (Driver & Leach, 1993:108). Strategi apa pun yang dipilih dapat dikatakan tepat apabila konsep baru yang dikonstruksi siswa melalui strategi itu memenuhi empat kondisi berikut: beranjak dari ketidakpuasan kognitif ( dissatisfaction ), intelligible (dapat di-

101

mengerti), plausible (dapat dipercaya/mauk akal), dan fruitful (bermanfaat) (Bell, 1995:25; Dykstra, et al., 1992:635). Smith, et al. (1993:113) menjelaskan empat kondisi tersebut sebagai berikut. Ketidakpuasan (dissatisfaction) terhadap konsepsi-konsepsi yang telah dimiliki siswa dapat dibangkitkan dengan memunculkan dan meningkatkan kepedulian siswa terhadap gagasan-gagasan mereka sendiri, meminta mereka menjelaskan peristiwa atau fenomena yang dikenal dan janggal, serta mendiskusikan konsepsi-konsepsi alternatif yang terkait. Ketidakpuasan yang lahir dari desakan ingin tahu (curiosity) ini merupakan langkah awal dalam proses perubahan konseptual. Kondisi mengerti dan masuk akal (intelligible dan plausible) terhadap suatu konsepsi baru diperoleh dengan membangun atau mengidentifikasi kerangka bagi gagasan baru tersebut; menimbang atau menilai gagasan baru tersebut dengan teori lain, kepercayaan dan pengalaman; menunjukkan bahwa gagasan baru itu dapat menjelaskan fenomena yang dikenal atau menyelesaikan masalah baru. Kebermaknaan atau kemanfaatan (fruitful), dapat muncul sebagai hasil dari melihat bagaimana konsepsi-konsepsi ilmiah yang didapat mampu memberikan pe- ngalaman baru, dapat menjelaskan fenomena baru yang dikenal dan kompleks, serta mengarahkan kepada wawasan (insigth) baru. Disamping itu konsepsi baru ini cukup aplikatif bagi pemecahan masalah sehari-hari. Berdasarkan kajiannya terhadap sejumlah studi penelitian tentang pembelajaran konseptual, Driver, et al. (1985:200) menawarkan beberapa strategi pembelajaran yang dapat menyokong atau mengembangkan perubahan konseptual. Strategi yang dimaksud adalah: (1) Providing opportunities for pupils to make their own ideas explicit; (2) Introduce discrepant events; (3) Socratic questioning; (4) Encouraging the generation of a range of conceptual schemes; (5) Practice in using ideas in range of situations.
102

Realisasi kelima hal tersebut di atas dapat dijelaskan sebagai berikut. (1) Pemberian kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya dapat dilakukan dalam kelompok kecil atau diskusi kelas dengan meminta mereka menuliskan , menggambarkan , atau mengungkapkan pikiran mereka tentang suatu sistuasi atau peristiwa. (2) Mengamati suatu kejadian yang tak terduga dapat merangsang siswa untuk memikirkan peristiwa tersebut. Dengan demikian akan terjadi konflik konseptual yang menghasilkan ketidakpuasan siswa terhadap konsepsi awalnya. (3) Pertanyaan dialektik (socratic questioning) dapat membantu siswa dalam menimbang cara berpikirnya yang belum konsisten dan kontradiksi satu sama lain, serta dalam mengkonstruksi kembali gagasan mereka dengan cara yang lebih koheren. Untuk tujuan yang sama dapat dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengeksplorasi gagasan sendiri melalui diskusi dengan temannya dalam kelompok kecil. (4) Siswa didorong untuk secara aktif mempertimbangkan penafsiran-penafsiran alternatif bagi berbagai peristiwa dan mendorong mereka menilai penafsiranpenasiran ini. (5) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menguji atau memeriksa keterpakaian hasil-hasil percobaan pada situasi baru merupakan hal yang penting. Dengan cara ini siswa dapat memperoleh keyakinan bahwa gagasan atau konsepsi baru yang diperolehnya lebih berguna. Bell (1995:31-32) menyimpulkan bahwa perubahan konseptual akan terjadi dalam suatu strategi pembelajaran jika: 1) siswa memperoleh kejelasan dan kesadaran baik terhadap pengetahuan dirinya maupun pengetahuan orang lain; 2) terdapat penyelesaian terhadap kerancuan kognitif; 3) terjadi pengkonstruksian konsep baru atau penataan kembali konsep yang ada; 4) penerimaan akan konsepkonsep baru; 5) adanya penggunaan konsep-konsep baru dalam situasi/masalah baru.

103

C. RANGKUMAN • Dalam pandangan konstruktivisme belajar adalah proses aktif dan berkesinambungan yang dilakukan siswa dalam menggunakan informasi dari lingkungan untuk membangun sendiri pemahamannya. Proses ini dilakukan siswa dengan beranjak dari pengetahuan dan pengalaman awal mereka. • Pengkonstruksian hasil belajar dalam KBM sains akan lebih efektif dan bermakna apabila beranjak dari pendekatan konteksrual. Pendekatan ini dikenal juga dengan istilah pendekatan CTL bercirikan antara lain: berbasis permasalahan (problem-based); penggunaan berbagai konteks (using multiple contexts); menggambarkan keaneka ragaman siswa (drawing upon student diversity); menunjang pembelajaran pengaturan diri (supporting self-regulated learning); penggunaan kelompok pembelajaran yang saling tergantung (using interdependent learning groups); dan memanfaatkan penilaian autentik (employing authentic assessment). • Dalam menerapkan pendekatan kontruktivisme pada pembelajaran, KBM yang dirancang harus memperhatikan: pengetahuan awal siswa, memandang belajar sebagai proses transformasi perubahan konsep, partisipasi aktif siswa dalam hands-on dan minds-on, serta konteks sosial dan lingkungan siswa. • Perubahan konsep terjadi dengan mengintegrasikan pengetehuan personal siswa dengan pengetahuan sekolah. Ada tiga bentuk perubahan konseptual tahap awal (preliminary), yaitu: (1) pembedaan (differentiation), (2) perluasan kelas (class extension), dan (3) konseptualisasi ulang (reconceptualization). • Strategi yang digunakan guru dalam mengubah konsepsi siswa pada pembelajarn sains harus berpijak kepada: (1) pemberian kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya; (2) memfasilitasi siswa untuk mengamati suatu fenomena yang menimbulkan konflik kognitif; (3) penggunaan pertanyaan dialektik (socratic questioning); (4) mendorong siswa untuk aktif mempertimbangkan penafsiran-penafsiran alternative; (5) pemberian kesempatan kepada siswa untuk menguji atau memeriksa keterpakaian hasilhasil percobaan pada situasi baru.
104

D. MENGIKAT MAKNA 1. Tugas dan Latihan Soal a. Telah anda pelajari bahwa pendekatan konstruktivisme bermula dari psikologi kognitif Jean Piaget. Jelaskan konsep-konsep perkembangan kognitif Piaget yang melandasi pendekatan konstruktivisme. _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ b. Apa yang dimaksud dengan pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran? Ada berapa jenis? Jelaskan satu persatu. _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________
105

_____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________

c. Hal-hal apa yang harus dipertimbangkan guru pada saat akan menggunakan pendekatan kontekstual yang relevan dengan pembelajaran konstruktivisme? _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ d. Apa yang dimaksud dengan “belajar sebagai perubahan konsepsi” dalam perspektif kontruktivisme? Jelaskan! ___________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________
106

_____________________________________________________________ _____________________________________________________________ ___________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ e. Sebutkan contoh masing-masing untuk tiga jenis perubahan konseptual. Contoh yang Anda kemukakan harus berbeda dengan yang terdapat pada buku ini. _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________ _____________________________________________________________

f. Buatlah skenario aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran yang dimaksudkan untuk mengubah konsepsi siswa melalui pendekatan konstruktivisme dan pendekatan kontekstual. Pilihlah materi pokok dan kompetensi dasar dari kurikulum Sains SD. Lengkapi dengan instrument yang diperlukan (soal tes awal, rancangan alat/bahan, dan LKS). Kirimkan hasil pekerjaan Anda ke e-mail tugas kelas.
107

2. Apakah Anda Ingin Tahu Lebih Lanjut? Tuliskan sejumlah pertanyaan yang berhubungan dengan hal-hal yang belum Anda fahami dari wacana pada Bagian IV. Pertanyaan yang diajukan 20% menggunakan kata tanya apa, 40% menggunakan kata tanya mengapa, dan 40% menggunakan kata tanya bagaimana. _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________

108

_______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________ _______________________________________________________________

Dosen pemeriksa : __________________ Tanggal memeriksa: ____________ Tandatangan:

_____________________

109


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:5540
posted:3/28/2009
language:English
pages:16