Ceramah Ramadhan by Jauhary_Kusuma

VIEWS: 13,728 PAGES: 105

More Info
									                       Ceramah Ramadhan I
         RAMADHAN: BULAN PENUH BAROKAH DAN
                    MAGHFIROH *)

Assalamu'alaikum wr. wb.;
     Para jamaah Tarawih/qiyamur Ramadhan;
1. Marilah kita bersyukur dapat memasuki dan menyambut
       Ramadhan, "tamu agung, penghulu segala bulan" yang
       telah lama kita tunggu-tunggu kedatangannya. Sepatut-
       nya kita sambut datangnya Ramadhan ini dengan
       penuh rasa syukur, karena :
       - kita masih diberi kesempatan untuk memasuki dan
         menyambut bulan ini, padahal mungkin ada di antara
         kita   yang tidak    berkesempatan menemui bulan
         Ramadhan ini (karena telah mendahului kita/mening-
         gal dunia);


       - kita masih tergolong orang-orang beriman, yang
         terpanggil hatinya untuk melaksanakan perintah wajib
         puasa sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Al-
         Baqoroh: 183;    sepatutnya hal ini disyukuri, karena
         ada orang yang      hatinya/imannya tetap beku, tidak
         mau menjalankan perintah puasa. Bulan puasa (tamu
         agung) itu memang telah datang, tetapi tidak datang
*)
      Ceramah KULTUM di Masjid Al-Mujahidin, Srondol, Semarang, 1
     Ramadhan 1413 H (23 Pebruari 1993).
                                                                1
    di rumahnya; tidak datang di hatinya dan di tengah-
    tengah keluarganya!;
  - tamu yang datang bukan sekedar tamu biasa, tetapi
    tamu istimewa/tamu agung yang "sangat pemurah"
    ("bloboh");    bulan    penuh    keberkatan   ("syahrun
    mubarok")      dan     penuh    pengampunan   ("syahrul
    maghfiroh");

2. Ramadhan : Syahrun Mubarok
 Dikatakan demikian, karena bulan Ramadhan menjanji-
 kan banyak barokah, pahala, ganjaran :
 a. Hadits Anas bin Malik, menyatakan antara lain, bahwa
    dalam bulan Ramadhan
    - mendatangi majlis ilmu : 1 langkah = 1 tahun
      ibadah;
    - sholat berjamaah : tiap rakaat = 1 kota kenikmatan;
    - taat pada orang tua: mendapat kasih sayang Allah
      dan Nabi menanggung dalam surga;
    - istri mencari keridloan suami : pahalanya seperti Siti
      A'isyah dan Siti Maryam;
    - mencukupi kebutuhan saudaranya : akan dicukupi
      1000 kebutuhannya di hari Qiyamat;
 b. Di dalam hadits lain dinyatakan a.l. :
    - tidurnya orang berpuasa = ibadah;
    - diamnya orang berpuasa = tasbih;

                                                          2
    - amalnya orang berpuasa, dilipatgandakan;
    - do'anya orang berpuasa, dikabulkan; dan
    - dosanya orang berpuasa, diampuni.
 c. Di dalam HR Bukhori a.l. dinyatakan :
    - 1 hari puasa = dijauhkan 7 th. dari api neraka;
  d. Di dalam Al Qur'an (Q.S. Qodar) : malam qodar (di
    bulan puasa) nilainya lebih dari 1000 bulan (lebih dari
    83 tahun);


3. Ramadhan : Syahrul Maghfiroh
  HR (Hadits Riwayat) Bukhori-Muslim :

  ‫مه ص م رمض ن ايم و و حتس ب غفرله م تقّدم مه‬
  ِْ ََََ ‫َْ َاَ َََاَ َِْاًا َاَِْاًا ََُُِ َا‬
                                                          ‫ذوبه‬
                                                          َِِْ.


    "Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan dengan keimanan
    dan keikhlasan, akan diampuni segala dosa-dosanya".


    Jadi   jelas,   bulan    ramadhan     merupakan       "bulan
    Amnesti/Pengampunan" besar-besaran!

  "Maghfiroh/ampunan"         merupakan kebutuhan fital
   manusia, karena dalam 11 bulan yang lalu mungkin
   tidak terasa kita telah banyak melakukan dosa dan
   kelalaian, antara lain:


                                                                  3
 - melalaikan sholat dan puasa (mendahulukan yang
  lain atau bahkan meninggalkannya sama sekali);
 - segan membaca Al Qur'an, bahkan lebih suka
  ngobrol, ngrasani, melukai hati orang atau terbiasa
  mengeluarkan kata kata kotor;
 - lupa bersyukur akan nikmat Allah yang demikian
  banyak;
 - segan beramal, menolong fakir miskin atau orang
  tua/saudara/ kerabat yang kekurangan;
 - banyak melakukan maksiat-maksiat lainnya, a.l. :
  durhaka/melawan         orang   tua;   sering    dusta;
  makan/minum yang haram; perbuatan tidak senonoh
  dalam pergaulan (misal "tangan gratil"); mencari rizki
  dengan cara-cara kotor dan tidak terpuji; dsb.
 Jadi pada intinya, terlalu banyak mungkin dosa yang
 telah kita lakukan, baik sebagai hamba Allah, sebagai
 anak, sebagai orang tua, sebagai suami/istri, sebagai
 tetangga, sebagai buruh, sebagai majikan, pejabat/
 pimpinan dsb. Oleh karena itulah kita             butuh
 "maghfiroh".
 Namun     patut dicatat, bahwa "maghfiroh" itu hanya
 dapat      diperoleh   lewat puasa dan sholat yang
 dilakukan dengan "iimanan wah tisaaban" yaitu :
 - dengan penuh kesungguhan/keyakinan (iman); dan


                                                       4
    - dengan kesabaran/keikhlasan, semata-mata menca-
       ri keridhoan Allah.
    Di dalam Q.S. Ar-Ra'd: 22 dinyatakan, bahwa orang-
    orang yang "bersabar karena mencari keridhoan Allah"




       ("walladziina shobarub tighooa wajhi robbihim")

    termasuk     salah satu      dari "mereka yang mendapat
    tempat kesudahan yang baik"




                ("ulaaika lahum 'uqbad daar")

Oleh      karena itu, marilah kita bersabar di dalam
menjalankan     ibadah         puasa   dan   sabar   di   dalam
menjalankan     ibadah       shalat, termasuk tarawih (sholatul
lail), dan amalan-amalan puasa lainnya. Semoga kita
termasuk "orang-orang yang mendapat tempat kesudahan
yang baik" sebagaimana dijanjikan Allah di dalam surat Ar-
Ra'd di atas. Amiin.


                                --

                                                              5
                       Ceramah Ramadhan II
               RAMADHAN: BULAN MULTI IBADAH *)


A. Pengantar
     Bulan Ramadhan merupakan :
     - bulan ibadah yang sangat komplit, multi dan simultan;
     - tidak hanya meningkatkan iman dan taqwa, tetapi juga
      ilmu dan amal;
     - tidak hanya bulan melatih pengendalian hawa nafsu,
      menahan       lapar/haus   dan merasakan   penderitaan
      orang       lain (yang berarti bulan untuk mengasah/
      mempertajam         kepekaan rasa kemanusiaan dan
      kemasyarakatan), tetapi juga merupakan bulan untuk
      mengasah akal/ilmu;        dengan kata lain : melatih
      kematangan        kejiwaan/kerokhanian/emosional/ethika
      dan kematangan intelek;
     - tidak hanya kematangan intelektual/rasional, tetapi
      yang penting "membersihkan dan memberi/mena-
      namkan nilai-nilai rukhaniah/ kejiwaan pada akal".
     - Jadi,     bulan Ramadhan "sarat/penuh dengan kuri-
      kulum      dan    silabi pendidikan manusia seutuhnya"
      (yang merupakan tujuan/sasaran pendidikan nasional;



*)
  Ceramah Ramadhan pada TARLING (Tarawih Keliling) FH UNDIP,
1414 H (1994 M).
                                                               6
lihat GBHN dan UU          tentang Sistem Pendidikan
Nasional), yaitu mencakup kurikulum/kegiatan untuk :
a) Kematangan kejiwaan/rukhaniah, ("emotional/ethi-
  cal maturity") : antara lain dengan kegiatan sholat
  lima waktu & tarawih; puasa itu sendiri dengan
  segala amalannya, pada hakikatnya pengendalian
  emosi/hawa-nafsu; tadarus, pendalaman nilai-nilai
  Qur'ani;
b) Kematangan intelek (intellectual maturity):
  antara lain dengan kegiatan pengajian/diskusi ilmiah
  mengenai berbagai aspek ilmu keislaman, khusus-
  nya     kajian ilmiah mengenai berbagai aspek dari
  "puasa" dan "malam lailatul qadar";
  Patut    dicatat,   bahwa   salah   satu   karakteristik
  Ramadan        adalah    "diturunkannya        Al-Qur'an"
  (Kitab/Bacaan/ILMU Allah) sebagaimana tersebut
  dalam Q.S. Al-Baqoroh: 185 :




   Jadi jelas Ramadhan mengandung karakteristik
   keilmuan atau       kematangan intelektual. Bulan

                                                          7
    Ramadhan,         bulan "gerakan MEMBACA/menuntut
    ILMU";     jadi    merupakan     bulan    "memberantas
    kebodohan".
 c) Kematangan sosial (social maturity) :
    yaitu dengan kegiatan beramal, infaq, zakat dsb.
- Jadi   bulan    Ramadhan         mengandung       TRILOGI
 Kurikulum/Silabi yang mencakup masalah : (1) Iman
 dan Taqwa; (2) Ilmu; dan (3) Amal;
- Itulah "kurikulum lengkap" (KURKAP) atau "kuriku-
 lum utuh" (KURTUH) yang disebutkan di dalam Q.S.
 Al-Fathir ayat 29 sebagai "perniagaan yang tidak akan
 merugi" ("tijaarotan lan tabuur"). Jadi jelas merupakan
 KURMINTU (kurikulum jaminan mutu).
 Surat Al-Fathir:29 itu lengkapnya berbunyi sbb. :




 "Sesungguhnya orang-orang (1) yang membaca Kitab Allah dan
 (2) mendirikan shalat dan (3) menafkahkan sebagian dari rizki
 yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan
 terangterangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak
 akan merugi".



                                                             8
  Perhatikan ketiga unsur kurikulum yang terkandung di
  dalam Q.S.. Al-Fathir di atas, yaitu :
  1. "Yatluuna kitaballah"  ILMU.
  2. "aqoomush sholaah"  IMAN & TAQWA
  3. "anfaquu mimma rozaqnahum"  AMAL


B.Ramadhan : bulan pendalaman agama.
       Setelah uraian umum/pengantar di atas, bahwa
 bulan Ramadhan merupakan bulan yang sarat dengan
 berbagai kegiatan, maka dalam kesempatan ini uraian
 akan difokuskan      pada    thema "Ramadhan sebagai
 bulan pendalaman agama/ilmu agama".
 1. Pertama-tama patut dicatat, bahwa janganlah di-
   "dikhotomi"-kan, bahwa :
        - ilmu untuk "dunia", dan
        - agama untuk "akhirat",
   karena    Agama Islam (Al-Qur'an) pada hakikatnya
   tidak hanya ilmu/petunjuk untuk akhirat, tetapi juga
   mengandung ilmu/petunjuk untuk dunia (tegasnya:
   untuk "bagaimana seharusnya hidup di dunia"). Oleh
   karena itu agama/ilmu agama pun harus dipelajari/
   digali. Hadist Nabi:




                                                      9
       man arodad dunya fa 'alaihi bil ilmi wa man
       arodal akhirota fa alaihi bil ilmi faman aroda
       humaa fa alaihi bil ilmi
  ("Barangsiapa menghendaki kebahagiaan (hidup) di dunia maka
  dengan ilmu, dan barangsiapa menghendaki kebahagiaan (hidup)
  di akhirat maka dengan ilmu, maka barangsiapa menghendaki
  kebahagiaan keduanya maka dengan ilmu).


2. Mengapa (ilmu) agama perlu digali?
  - karena agama (petunjuk hidup) pada hakikatnya
    merupakan bagian dari "keperluan/ kebutuhan/
    sarana/dukungan hidup" ("needs/means of living").
  Penjelasan :
  - Di dalam Q.S. Ar-Rum:40 ditegaskan,




    Allah    tidak    hanya       "menciptakan     manusia"
    ("kholaqokum"), tetapi juga "memberinya rizki"
    ("rozaqokum"), kemudian "mematikannya" ("yumiitu-
    kum") dan kemudian "menghidupkannya kembali"
    ("yuhyiikum").
  - Di dalam Q.S. Al-Hijr:20, Allah juga menyatakan :




                                                           10
  "Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-
  keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-
  makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki
  kepadanya”.
- Pengertian "rozaqo" mengandung arti "to support"
  (memberi dukungan) dan "rizkun" mengandung arti
  "means of living" (sarana kehidupan). Jadi dalam
  pengertian "Allah memberi rizki", artinya       Allah
  memberikan atau menyediakan juga "dukungan dan
  sarana/kebutuhan untuk hidup" bagi manusia.
- Rizki (dukungan/sarana hidup) itu ada yang bersifat
  materi/bendawi (yaitu bumi dan seisi alam), tetapi
  juga ada yang bersifat immateri/non-bendawi, yaitu
  berupa        hidayah/petunjuk/konsep-konsep    kehi-
  dupan.
- Jadi yang perlu digali, tidak hanya bumi dan alam
  semesta beserta isinya, tetapi juga agama sebagai
  petunjuk/konsep hidup perlu digali, dipelajari dan di-
  amalkan.

  Catatan :


                                                      11
       Disinilah justru "ratio"-nya, mengapa di dalam
    Q.S. Ar-Rum:40 di atas dinyatakan bahwa setelah
    manusia diberi rizki (a.l. berupa "Dien", "hidayah/
    petunjuk")     dan      kemudian    "dimatikan",     maka
    kemudian manusia akan              "dihidupkan kembali"
    (untuk    di-"pertanggungjawab"-kan). Artinya, apa-
    kah manusia itu telah menjalankan fungsi/misinya
    sebagai "kholifah fil ardl" (penguasa        di bumi) itu
    sesuai dengan "petunjuk-petunjuk"- Nya atau tidak.
       Jadi      rationya   adalah,    tidak   mungkin    ada
    "pertanggungjawaban" kalau sebelumnya tidak ada
    "petunjuk/pedoman".         Bandingkan      dengan SK
    tugas/kepanitiaan       yang dibuat manusia. Setelah
    keluar SK pembentukan panitia (“dihidupkan &
    diberi petunjuk akan tugas-tugasnya”), diakhiri
    dengan laporan pertanggungjawaban panitia.


3. Konsep/petunjuk hidup apa yang perlu digali?
  Konsep/petunjuk/ajaran yang perlu digali antara lain :
  a) Konsep ber-Ketuhanan atau konsep ibadah-vertikal
     (hubungan antara manusia dengan Tuhan).
     Konsep ber-Ketuhanan YME atau konsep "tauhid"
     ini penting selalu dipahami, karena :
     - inilah misi/risalah setiap Rasul Allah di dalam
      menghadapi pemikiran "jahiliyah";
                                                           12
- tidak mustahil pemikiran jahiliyah tetap ada pada
 setiap masa (termasuk di zaman modern seperti
 saat ini).
Catatan :
Patut direnungi,          mengapa Allah memberikan
tuntunan/petunjuk/konsep               Ketuhanan          (konsep
"tauhid") kepada manusia? Kajian dan argumen-
tasi mengenai hal ini dapat ditinjau dari berbagai
sudut. Salah satu alasannya ialah :
- bahwa manusia menurut fitrahnya selalu mencari
  Tuhan       atau      selalu      mengakui/mempercayai
  adanya "kekuatan/kekuasaan supranatural yang
  lebih besar di luar dirinya" (ini terbukti di dalam
  sejarah manusia), sehingga diutuslah Rasul
  Allah     kepada      setiap      umat      untuk      memberi
  tahu/petunjuk bahwa hanya Allah sajalah yang
  sepatutnya disembah. Hal ini disebutkan di
  dalam Q.S. An-Nahl (16): 36:




  "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat
  (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah
  Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi
  petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah
                                                                   13
     pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan
     perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan
     (rasul-rasul)".


    Diutusnya nabi Nuh, nabi Huud (kepada kaum
    "Aad), nabi Sholeh (kepada kaum Tsamud), nabi
    Syu'aib (kepada penduduk Madyan/'Aikah), nabi
    Luth, nabi Musa, nabi Ibrohim dan nabi 'Isa pada
    hakikatnya membawa              misi yang sama, yaitu
    mereka semua menyerukan :




    "Hai kaumku, sembahlah Allah; sekali-kali tidak
    ada bagimu Tuhan, selain Dia". (Lihat antara lain
    surat Huud: 25-26, 50, 61 dan 84).


b) Konsep hubungan sosial (berkehidupan sosial/
  bermasyarakat) atau konsep ibadah-horizontal,
  termasuk hubungan antar pribadi, di dalam kelu-
  arga, di dalam bertetangga, bermasyarakat dan
  bernegara.
  Sebagian besar isi Al-Qur'an memuat petunjuk
  mengenai hal ini, antara lain :
  1. Q.S. 17 (Al-Isro): 23 s/d 38 :



                                                                14
  - jangan durhaka, berbuat tidak baik, memben-
     tak/mengucapkan          kata-kata   menyakitkan
     kepada orang tua;
  - beramallah (jangan tidak memberikan hak)
     kepada keluarga terdekat, fakir miskin dan
     orang yang dalam perjalanan;
  - jangan boros;
  - jangan terlalu kikir/terlalu pemurah;
  - jangan membunuh anak karena takut kemis-
     kinan;
  - jangan berzinah, jangan membunuh;
  - jangan makan harta anak yatim;
  - jangan ingkar janji dan tidak menyempurnakan
     timbangan/takaran.
2. Q.S. 26 (Asy-Syu’aro): 183 :
  - jangan merugikan manusia akan hak-haknya;
  - jangan membuat kerusakan di bumi.
3. Q.S. 16 (An-Nahl): 16 :
     orang yang mendapat kelebihan rizki agar
     memberikan kepada budak-budak (karyawan/
     buruh);

4. Q.S. 4 (An-Nisaa’): 32 :
     jangan iri hati terhadap kelebihan (rizki) orang
     lain;


                                                   15
5. Dll. Konsep/ajaran yang sangat penting bagi
  kehidupan, a.l.:
  - konsep sabar (tahan uji/pengendalian diri);
  - jihad (bersungguh-sungguh/tekun);
  - amanah (jujur/dapat dipercaya);
  - pemurah/pemaaf (menolak kejahatan dengan
    kebaikan).


                     --




                                                  16
                      Ceramah Ramadhan III
            PUASA : SARANA MELATIH SABAR*)


A.Pengantar :
        Pemilihan judul/thema ini sangat tepat, karena puasa
     (shaum) pada hakikatnya mengandung makna "mena-
     han diri". Jadi erat hubungannya dengan "sabar".
        Kalau Allah mewajibkan kita berpuasa, maka pada
     hakikatnya kita diperintah atau diharapkan menjadi
     orang yang dapat "menahan diri" (sabar). Setidak-
     tidaknya dengan berpuasa, kita dilatih untuk menjadi
     orang yang sabar.
        Timbul pertanyaan, mengapa kita diperintah untuk
     menjadi orang yang sabar? Mengapa pula sabar itu
     perlu dilatih?


B.Kedudukan "sabar" dalam Al Qur'an :
     - Secara doktrinal, pertanyaan di atas dapat dijawab
      secara singkat : "karena banyak firman Allah di dalam
      Al-Qur'an yang      memerintahkan kita untuk berlaku
      sabar". Di dalam Al-Qur'an, kurang lebih ada 90 ayat
      yang menyebut-nyebut masalah sabar ini. Hal ini
      menunjukkan betapa pentingnya kedudukan "sabar"

*)
  Disajikan pada TARLING (Tarawih Keliling) FH UNDIP, 1987 M
(1407 H)
                                                         17
 menurut Al-Qur'an (menurut Allah). Selanjutnya berarti
 pula,     bahwa   sabar    itu   penting   bagi   kebaikan/
 kehidupan manusia itu sendiri.
- Betapa pentingnya kedudukan sabar menurut Al-
 Qur'an terlihat pula dengan disejajarkan/dideretkan-
 nya masalah sabar ini dengan          firman-firman   Allah
 yang berhubungan       dengan "iman, shalat, taqwa dan
 jihad".
 1. Disejajarkan dengan "iman dan shalat", misalnya :
 a. Al-Baqoroh (2) :153 :




  "Hai orang-orang beriman, jadikan sabar dan shalat sebagai
  penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang
  sabar".

 b. Q.S. Thaahaa (20): 132 :




    "Perintahkan keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah
    kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki
    kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat
    (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. ".
                                                          18
c. Q.S.. Ar-Ra'd (13): 22 :




   "Orang-orang yang mendapat tempat kesudahan yang baik
   ialah :
  (a) orang-orang yang sabar karena mencari keridhoan Allah;
  (b) yang mendirikan shalat;
  (c) yang menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan
       kepada mereka secara sembunyi atau terang-terangan,
       serta
  (d) menolak kejahatan dengan kebaikan".

d. Q.S.. Al-'Ashr (103): 3 :




  "Manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali :
  a. orang-orang yang beriman;
  b. beramal sholeh, dan
  c. berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran".

2. Disejajarkan/dideretkan dengan "jihad"
   Surat Ali-Imron (3): 142




                                                         19
         "Apakah kamu mengira, bahwa kamu akan masuk surga
         padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad
         diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar?".

    Jadi menurut ayat di atas, orang yang masuk surga
    ialah orang-orang yang berjihad dan yang sabar.


- Dari     kutipan    ayat-ayat   di   atas   terlihat,   bahwa
 kesukaan Allah kepada orang yang sabar, sama
 halnya atau          disejajarkan dengan kesukaan Allah
 kepada orang yang             beriman, yang taqwa, yang
 melakukan shalat dan yang berjihad.
- Kesukaan Allah itu diwujudkan dengan janji-janji Allah
 kepada orang yang sabar, yaitu :.
 a. akan mendapat "pertolongan" (lihat Q.S. Al-Baqoroh
    : 153 di atas);.
 b. akan mendapat : (1) "shalawat" (keberkatan yang
    sempurna), (2) "rahmat" (kasih sayang) dan (3)
    "hidayah"        (menjadi orang yang "muhtadiin", yaitu
    orang yang dituntun dengan hidayah/ petunjuk
    Allah); lihat Q.S. Al-Baqoroh: 155 jo. 157;
 c. akan mendapat "ampunan dan pahala yang besar" :
    - Q.S. Al-Qoshash (28): 80




                                                              20
    "Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan
  yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi
  orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak
  diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar."

  - Q.S. Az-Zumar (39): 10 :




    "Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. Bertak-
    walah kepada Tuhanmu." Orang-orang yang berbuat baik di
    dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah
    luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah
    yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas ".

  Jadi    hanya     dengan      kesabaran,      kita   dapat
  memperoleh       manfaat     (pahala) dari bumi Allah
  yang maha luas ini.


d. akan mendapat "surga dan tempat kesudahan yang
  baik"
  - lihat Q.S.. Ar-Ra'd:22 di atas;
  - Q.S. Ali-Imron: 142;
                                                           21
    - Q.S. An-Naazi'aat (79): 40-41 :




        “40. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran
       Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,
       41. maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)”.

 e. Allah akan memberikan "sifat-sifat yang baik" :
    - Q.S.. Al-Fushilat (41) : 35 :




        "Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan
       kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan
       melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan
       yang besar".

Kesimpulan :
 "Sabar" mempunyai kedudukan yang sangat penting
 dan     sangat     diperlukan     dalam kehidupan         dan
 pembangunan nasional.
 Di dalam "kesabaran" (kehalusan/kelembutan hati)
 terkandung "kekuatan maha besar".
 Oleh karena itu perlu dilatih dan diraih di dalam bulan
 Ramadhan ini.



                                                             22
C.Bagaimana melatih dan meraih "sabar"?
 - Allahlah yang menciptakan manusia beserta hawa
   nafsunya, oleh      karena itu Allah pulalah yang maha
   tahu bagaimana melatih /mengendalikan hawa nafsu
   manusia itu, yaitu lewat sarana / metode puasa.
 - Banyak aspek latihan pengendalian hawa nafsu di
   dalam puasa, antara lain :
   a. latihan pengendalian nafsu perut (makan/minum) :
     - menahan makan/minum nampaknya sederhana,
       tetapi sebenarnya mengandung ajaran akhlak
       yang mulia dan sangat luas jangkauannya, karena
       yang dilatih adalah pengendalian nafsu terhadap
       sumber kehidupan dan kekuatan;
     - Makan/minum merupakan sumber kehidupan dan
       kekuatan; jadi merupakan kebutuhan primer.
       Makhluk      apapun    membutuhkan    makan   dan
       minum.
       Nafsu untuk memenuhi kebutuhan primer ini perlu
       dikendalikan, karena terkadang manusia lupa diri :
          tidak tahu mana yang halal dan haram;
          mengutamakan perut/kepentingannya sendiri,
           sehingga rela mengorbankan/merugikan orang
           lain dsb.



                                                         23
       bahwa, diisi apapun perut tidak akan penuh-
        penuh;        artinya tuntutan perut tidak akan
        habis-habisnya.
  - Hawa nafsu terhadap tuntutan perut inilah yang
    perlu    dikendalikan, karena dari sinilah dapat
    timbul tuntutan dan cinta yang berkelebihan
    terhadap      materi    (Catatan:     -   tuntutan   perut
    merupakan simbol dari             tuntutan yang bersifat
    materialistik).
    Tuntutan      perut      yang      berkelebihan/     tidak
    terkendali,    dapat menjadi sumber kejahatan &
    mala petaka, a.l. membunuh, merampok, korupsi,
    menipu dsb. Bahkan peperangan antara bangsa
    dapat terjadi karena tuntutan perut/materi. Perang
    dagang pada hakikatnya perang perut.


b. melatih kepatuhan pada perintah/kemauan Allah
  (menekan kemauan/ nafsu pribadi).
  Latihan menundukkan diri sendiri di dalam puasa,
  a.l. terlihat dari hal-hal sbb. :
  - di malam hari disuruh shalat malam/tarawih;
  - disuruh bangun sahur, walaupun hanya minum
    seteguk air; dan disuruh mempercepat ber-"buka"
    apabila saatnya telah tiba, walaupun masih terasa
    kenyang; Jadi,         yang dipentingkan bukan nilai
                                                           24
 sahur/ bukanya (yaitu disuruh makan/minum) atau
 nilai fisik/materielnya, tetapi yang dipentingkan di
 sini   ialah   nilai    "didikan   batiniah"-nya,   yaitu
 "menundukkan            nafsu-nafsu     pribadi"     (a.l.
 sebetulnya ingin tetap tidur, tetapi disuruh bangun
 sahur; sebetulnya tidak lapar/haus, tetapi disuruh
 makan/minum;           sebetulnya ingin makan/minum,
 tetapi tidak boleh walaupun barang itu miliknya
 sendiri dan halal; dsb.).
 Jadi, nilai kepatuhan dan kesabaran menjalankan
 perintah Allah inilah yang dilatih di dalam puasa.
- di siang hari selama menjalankan puasa, juga
 dilatih menahan diri dari emosi/nafsu amarah,
 berdusta, menggunjing/ngrasani dan perbuatan-
 perbuatan tercela lainnya; yang dilatih berpuasa/
 menahan diri       tidak hanya perut, tetapi semua
 panca indera lainnya;
- selama bulan puasa sangat dianjurkan banyak
 membaca atau mempelajari Al-Qur'an, beramal,
 berinfaq/ shodaqoh dsb.


                        -o0o-




                                                       25
                  Ceramah Ramadhan IV *)
      AGAMA DAN KEHIDUPAN MANUSIA MODERN


1. Dalam mengisi acara pengajian tarawih ini,               Panitia
     Ramadhan Masjid Diponegoro meminta kepada saya
     untuk membicarakan masalah "agama dan kehidupan
     manusia modern". Sebenarnya agama tidak mem-
     persoalkan    atau    membedakan        antara     kehidupan
     manusia itu modern atau tradisional (tidak          modern),
     karena pada hakikatnya agama (yang diturunkan Allah
     lewat Nabi) diperuntukkan sebagai pedoman/tuntunan
     bagi manusia dalam segala bentuk kehidupannya, baik
     dalam kehidupan modern maupun tidak modern. Jadi
     secara dogmatis seolah-olah memang dapat dikatakan,
     bahwa agama (tuntunan             Allah/dari "atas") yang
     diturunkan lewat nabi terakhir, diperuntukkan bagi
     kehidupan manusia segala zaman. Namun demikian
     kehidupan manusia yang selalu tumbuh berkembang
     dan    berubah-ubah memang dapat menimbulkan
     permasalahan dalam "membumikan dan mengapli-
     kasikan" ajaran-ajaran agama. Oleh karena itu saya
     dapat memaklumi permintaan panitia            untuk    dalam
     kesempatan ini membicarakan masalah "agama dalam

*)
  Ceramah Ramadhan di Masjid Diponegoro Semarang, 13 Ramadhan 1414 H
(24 Pebruari 1994 H)
                                                                 26
kehidupan manusia modern"; walaupun dengan catatan
bahwa masalah ini sebenarnya bukan masalah baru.
Saya katakan demikian, karena makna dari istilah
"kehidupan modern" itu sendiri sebenarnya sangat
relatif. Kalau kehidupan masa kini dikatakan sebagai
"kehidupan modern", itu karena dibandingkan dengan
kehidupan masa lalu (beberapa puluh/ ratus tahun
yang lalu). Dalam beberapa puluh/ratus tahun yang
akan datang, mungkin kehidupan sekarang yang
dikatakan "modern" ini tidak lagi dinyatakan sebagai
"modern" karena sudah ketinggalan zaman sehingga
dinyatakan sebagai       "kehidupan   yang     tertinggal".
Dengan demikian, kalau makna            atau       kriteria
kehidupan modern hanya dikaitkan/diorientasikan pada
adanya perubahan dan perkembangan kehidupan
masyarakat secara lahiriah, maka sebenarnya pada
setiap   perubahan      zaman    dapat dikatakan       ada
"kehidupan modern". Tetapi apabila makna dan kriteria
"modern" diorientasikan pada ada/tidaknya perubahan
pandangan dan sikap hidup, maka belum tentu
kehidupan masa kini dikatakan sebagai "kehidupan
modern".    Banyak hal dalam kehidupan masyarakat
modern     saat   ini   yang    sebenarnya   merupakan
pandangan dan sikap hidup yang bersifat "jahiliyah".


                                                        27
2. Apabila   makna   dan    kriteria   "kehidupan   modern"
   diidentikkan   dengan     adanya      "perubahan     dan
   pembaharuan konsep/pemikiran” , maka         kedatangan
   Islam (dengan Al Qur'an nya) sejak awalnya telah
   membawa konsep/polapandang modern dibandingkan
   dengan masa-masa sebelumnya (yang sering disebut
   masa "jahiliyah"). Pembaharuan         konsep/pola-pikir/
   pola-pandang yang dibawa Islam (Al Qur'an) itu antara
   lain :
  a. Konsep KeTuhanan :
    Konsep ketuhanan di dalam Islam (yaitu konsep
    tauhid/mengesakan Tuhan) jelas merupakan konsep
    pembaharuan,     karena sebelumnya berpandangan
    bahwa tuhan itu banyak atau bisa lebih dari satu dan
    yang dijadikan tuhan itu bukannya Allah sebagai
    "chaliq" (pencipta) tetapi "machluq" (ciptaan Allah)
    yang dijadikan tuhan.
  b. Konsep Dosa/Kesalahan :
    Islam mengajarkan, bahwa manusia dilahirkan suci
    dan tidak mengenal "dosa warisan". Hal ini terlihat di
    dalam tuntunan sbb. :




                                                         28
1. Al Qur'an :
   a. Q.S.. An-Najm : 38 (Q.S.. Al-Isro' : 15) :




     "bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul
     dosa orang lain".
   b. Q.S.. An-Najm : 39 :




   "bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa
   yang telah diusahakannya".


   c. Q.S. Al-Mudatsir : 38 :



     "tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah
     diperbuatnya".
2. Hadits :
   a. "Sesungguhnya       anak   yang   lahir   itu   tidak
     dilahirkan kecuali dalam kesucian, maka kedua
     orang tuanyalah yang membuat anak itu menjadi
     Yahudi, Nasrani atau Majusi".
   b. "Seseorang tidak dihukum (bertanggung jawab)
     atas perbuatan ayahnya atau saudaranya".


                                                           29
        c. "Setiap orang adalah pemimpin, maka akan
          dimintai pertanggungjawaban atas apa yang
          dipimpin".


c. Konsep Persamaan Hak :
         Islam mengajarkan, semua orang berkedudukan
  sama;       tidak membedakan jenis kelaminnya    (laki-
  laki/wanita),     bangsa, suku/ras, warna kulit, asal
  keturunan, pangkat maupun kedudukannya. Yang
  membedakan tinggi rendahnya kedudukan manusia
  di mata Allah hanyalah taqwanya (lihat Q.S. Al-
  Hujurat ayat 13). Di dalam hadits pun dinyatakan,
  bahwa tidak berbeda antara orang Ajam           (budak
  belian yang hitam) dengan orang Arab.


d. Konsep Keilmuan dan Kebebasan Berpikir (Rasio-
  nalitas):
         Terlalu banyak ajaran Islam yang      memberi
  tempat sangat tinggi pada kedudukan ilmu/akal. Hal
  ini    jelas   sangat sesuai dengan salah satu karak-
  teristik kehidupan modern yang antara lain meng-
  utamakan akal/rasionalitas.
  Beberapa catatan :



                                                      30
- Wahyu      pertama    saja   dimulai   dengan    "Iqro'"
   (bacalah); yang      berarti mengutamakan budaya
   "membaca" sebagai ciri dari budaya keilmuan;
- Al Qur'an itu diturunkan dengan ilmu Allah (Q.S.
   Hud : 14) :




   "Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu
(ajakanmu) itu maka ketahuilah, sesungguhnya Al Quran itu
diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasanya tidak ada
Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada
Allah)? ".
- Al Qur'an ini disebut sendiri oleh Allah sebagai "Al
   Qur'anul Karim" ("bacaan yang mulia"/ dapat
   diartikan sebagai "ilmu/bacaan yang tinggi"); lihat
   Al-Waqiah : 77 :



                 "Innahuu laquraanul kariim"
   (sesungguhnya Al Qur'an itu adalah "bacaan yang
   sangat mulia").




                                                        31
- Dalam Al-Qur'an disebutkan kata "Afala Ta'qilun"
  (apakah    kamu     tidak     menggunakan             akalmu?)
  sebanyak 24 kali; kata "Afala Ya'qilun" (apakah
  mereka tidak menggunakan akalnya?) sebanyak 22
  kali; kata "Afala Ta'lamun" (apakah engkau tidak
  mengetahui?)    sebanyak        36    kali;     kata    "Afala
  Ya'lamun" (apakah mereka tidak mengetahui?)
  sebanyak 91 kali; kata "Afala Tatafakkarun" (apakah
  engkau tidak berpikir?) sebanyak 3 kai; kata "Afala
  yatafakkarun"     apakah       mereka         tidak    berpikir
  sebanyak 91 kali; kata "Afala Tadrusun" (apakah
  engkau tidak belajar) sebanyak 2. kali. Kata seruan
  untuk mengerti atau menggunakan akal dalam Al-
  Qur'an kurang lebih 189 kali.
- Keputusan/kebijakan         Allah    tidak     semata-mata
  didasarkan pada argumentasi kekuasaan absolut,
  tetapi didasarkan pada demokratisasi dan argu-
  mentasi keilmuan.
  Misal :
  - Sewaktu Allah menciptakan manusia                    pertama
    (Adam)   sebagai khalifah di bumi terjadi dialog
    antara malaikat dengan Allah. Dalam dialog ini
    ada argumentasi     keilmuan. Secara halus Allah
    menyatakan kepada para malaikat :


                                                              32
            "Innii a'lamu ma laa ta'lamuun"
  (Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu
  ketahui). Lihat Al-Baqoroh : 30 s/d 33.
- Setelah Allah mengemukakan berbagai kebaikan/
 kemuliaan Al-Qur'an (sebagai petunjuk pembawa
 kebenaran, sebagai penawar dan rahmat, penuh
 hikmah dan pelajaran, sebagai bacaan yang
 teramat mulia, dan          tidak   untuk    membuat
 kesusahan       manusia),      secara   halus    Allah
 berdialog (mengajak berpikir) dengan manusia :
 - "Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al-Qur'an
   ini?"




   (Al-Waqiah :81).
 - "Dan sesungguhnya telah      Kami mudahkan Al-Qur'an
   untuk pelajaran, maka adakah orang yg. mau mengambil
   pelajaran"?



    (Al-Qomar: 17,22,32,40)


                                                    33
      - "Sesungguhnya telah Kami turunkan kepadamu sebuah
        Kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan
        bagimu. Maka apakah kamu tidak memahaminya"?



        (Al-Anbiya': 10).


e. Konsep Keadilan :
  Terlalu banyak ayat-ayat di dalam Al-Qur'an tentang
  keadilan. Beberapa di antaranya ialah :
  - An-Nisaa' : 58




    "apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu
    menetapkan dengan adil".

  - An-Nisaa' : 135




    "Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang
    benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi Karena Allah
    biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum
    kerabatmu.




                                                          34
  Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin
  menyimpang dari kebenaran/keadilan dan jika kamu memutar
  balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka
  Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa
  yang kamu kerjakan.

- Al-Maidah : 8




      "Hai orang-orang beriman, hendaklah kamu jadi orang-
  orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah,
  menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali
  kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk
  berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat
  kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya
  Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan".

Memperhatikan tiga ayat di atas saja sudah jelas
betapa tingginya konsep Islam mengenai keadilan,
yaitu :
1. Keadilan dan kebenaran harus ditegakkan kepada
   siapa saja dengan tidak berpihak dan tanpa
                                                               35
     pandang bulu, baik terhadap dirinya sendiri mau-
     pun terhadap keluarganya (ibu/bapaknya), kerabat-
     nya maupun kaum/golongannya;.
  2. Keadilan dan kebenaran harus ditegakkan secara
     objektif dengan menghindari hal-hal yang bersifat
     subjektif, antara lain :      jangan mengikuti hawa
     nafsu (misal menerima suap) dan rasa kebencian
     untuk berlaku tidak adil.
  Konsep baru/modern tentang keadilan yang diajarkan
  Islam hampir 15 abad yang lalu itu, jelas bersifat
  universal, dan di abad modern sekarang ini justru
  terlihat semakin melemah atau mengalami erosi.


f. Konsep (Orientasi) Masa Depan :
  Salah satu ciri "modernisme" adalah sikap mental
  yang berorientasi ke masa depan. Hal ini jelas terlihat
  di dalam ajaran Islam yang menyatakan :
  - bahwa kehidupan/kesenangan akhir (at) lebih baik
    dari kehidupan/kesenangan awal (di dunia); lihat
    Q.S. Ali Imron : 14, Q.S. Al-Mu'min : 39, Q.S. Adh-
    dhuha : 4;
  - "jangan menghambur-hamburkan hartamu secara
    boros" (Q.S. Al-Isro' : 26);
  - "janganlah    kamu     merajalela di bumi    dengan
    membuat kerusakan" (Q.S. Asy-Syu'aro : 183);
                                                      36
  Demikianlah beberapa butir konsep Al-Qur'an yang
  dapat dikatakan "modern" pada zamannya, dan saat
  inipun masih dapat diuji ke-"modern"-annya. Masih
  banyak lagi konsep Al-Qur'an yang relevan dengan ciri-
  ciri sikap mental yang diperlukan dalam kehidupan
  modern,      seperti   menghargai      waktu       atau     dapat
  memanfaatkan peluang sebaik-baiknya, tekun, rajin dan
  bersungguh-sungguh         (berjihad), sederhana dan tidak
  boros dsb.


3. Di sisi lain kehidupan modern itu sendiri memang
 memerlukan agama, walaupun memang harus diakui
 pelaksanaan       nilai-nilai   dan    kaidah-kaidah        agama
 menghadapi "tantangan" yang cukup berat dalam kehi-
 dupan modern saat ini.
 Telah sama dimaklumi, bahwa kehidupan modern saat
 ini ditandai oleh semakin meningkatnya kehidupan yang
 lebih   berorientasi        pada      nilai-nilai     materialistik,
 individualistik dan      semakin berkembangnya pengaruh
 globalisasi di          bidang informasi, komunikasi dan
 teknologi. Tidak jarang persaingan hidup yang sangat
 materialistik dan individualistik, menyebabkan orang
 mengalami "stress",         tekanan kejiwaan yang sangat
 berat, melakukan perbuatan-perbuatan nekad                     atau
                                                                  37
menempuh jalan-jalan pintas ("budaya menerabas")
untuk      mencapai tujuan. Jelas di sini diperlukan
pendekatan/tuntunan        agama.      Mengenai      "tuntunan
agama" ini dapat dikemukakan antara lain hal-hal sbb. :
a. Dalam     kehidupan    yang     serba    materialistik   dan
  individualistik mudah sekali berkembang penyakit
  "cemburu/irihati/berprasangka buruk". Dapat diba-
  yangkan betapa         fatal dan runyamnya akibat yang
  ditimbulkan oleh sifat iri/cemburu/prasangka buruk
  seseorang terhadap         "kelebihan"     orang lain. Oleh
  karena itulah agama memberikan tuntunan, antara
  lain di dalam Al-Qur'an, surat An-Nisaa': 32 :




  "Dan janganlah kamu irihati terhadap apa yang ditetapkan/
  dilebihkan/dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih dari
  sebagian yang lain, (karena) bagi orang laki-laki/perempuan ada
  bagian dari apa yang mereka usahakan".

  Dalam ayat di atas digunakan kata-kata "fadhdho-
  lallaah"   (yang    ditetapkan/dilebihkan      Allah).    Kata
  "fadhola" atau "afdhol" secara harfiah dapat berarti
  "ditetapkan" (to remain) atau "lebih baik" (better than).
  Apa "yang ditetapkan" atau "dilebihkan" Allah itu
                                                              38
  dapat    berupa "rizki harta atau kekayaan, derajat/
  pangkat/kedudukan,        ilmu/gelar,     kecantikan/ketam-
  panan dsb.". Jadi menurut firman Allah di atas, kita
  janganlah iri hati terhadap kelebihan-kelebihan yang
  diberikan Allah kepada orang lain itu.
  Dengan memahami tuntunan agama yang demikian
  itu, diharapkan orang tidak akan mengalami "stress"
  dalam menghadapi kehidupan modern saat ini yang
  cenderung lebih materialistik dan individualistik.
b. Sebaliknya    bagi orang yang mendapat "kelebihan
  rizki" dari Allah itu, agama juga memberikan banyak
  tuntunan agar memberikan/meratakan rizkinya itu
  kepada orang lain. Perhatikan beberapa firman Allah
  sbb. :
  - An-Nahl: 71 :




    "Dan Allah "melebihkan" sebagian kamu dari yg. lain dalam hal
    rizki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rizkinya) itu tidak
    mau memberikan kpd. budak-budak yang mereka miliki agar
    mereka sama (merasakan) rizki itu. Mengapa mereka
    mengingkari nikmat Allah?"



                                                               39
    - Banyak firman di dalam Al-Qur'an yang menyuruh
      kita   menyedekahkan sebagian harta/rizki kepada
      ibu/bapa, keluarga/kerabat dekat, anak yatim, fakir
      miskin, musafir (orang yang membutuhkan perto-
      longan) dsb. dan menyedekahkan sebagian harta
      berfungsi membersihkan harta kita serta itulah harta
      hakiki yang kita miliki. Lihat a.l. surat Al-Baqoroh:
      177, 215; Q.S. Ar-Rum: 38, Q.S. Attaubah 103 :
      "ambillah sebagian dari hartanya (orang yang mampu) sebagai
      sedekah yang dapat membersihkan hartanya dan menyucikan
      hartanya".
4. Aspek lain dari "kehidupan modern" saat ini ialah
 derasnya arus/gelombang informasi seiring dengan
 semakin canggihnya sarana komunikasi dan teknologi.
 Dalam kondisi yang demikian, nilai-nilai agama dan
 keimanan seseorang benar-benar mendapat ujian dan
 tantangan yang cukup berat/serius. Memang di satu
 pihak, pesatnya perkembangan informasi, komunikasi
 dan teknologi mempunyai pengaruh positif;               namun
 harus diakui pula bahwa peluang dampak negatifnya
 juga cukup besar. Dengan semakin canggihnya sarana
 informasi/komunikasi dan teknologi saat ini, gelombang
 informasi    yang dapat      membawa pengaruh negatif,
 merusak dan       menyesatkan, dapat merupakan virus
 berbahaya yang mengancam kepribadian               Islami dan
                                                              40
bahkan       mengancam     kehidupan    rumah      tangga,
kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Betapa tidak,
karena       informasi yang semula dianggap tabu dan
sangat tercela     atau   setidak-tidaknya    informasi itu
"belum saatnya diketahui" (a.l.: bacaan/ film-film cabul/
porno atau setidak-tidaknya adegan-adegan yang tidak
susila dan merangsang; serta adegan-adegan           keke-
rasan dan sadis/brutal), sekarang dengan mudah dapat
diperoleh.
Seberapa jauh jumlah dan pengaruh informasi negatif
berada di sekitar kita memang perlu penelitian akurat,
misalnya jumlah dan pengaruh adegan-adegan film lewat
TV. Pernah pada tahun 1993, Data Informasi Anak -
Yayasan Kesejahteraan       Anak Indonesia (DIA-YKAI)
bekerja sama dengan Litbang Departemen Penerangan
melakukan penelitian terhadap film-film yang ditujukan
untuk anak-anak, dan yang ditayangkan oleh 4 stasiun
televisi (TVRI, TVRI Program 2,        RCTI     dan TPI).
Hasilnya a.l. :
a. Dari 195 episode film yang diteliti, ternyata jumlah
  adegan yang bersifat "anti-sosial" (ada 2063 adegan)
  lebih banyak daripada yang bersifat "prososial" (ada
  1904 adegan);
b. Dari 4 stasiun TV yang diteliti, 3 stasiun (yaitu TVRI
  Program 2, RCTI dan TPI) menyajikan film untuk
                                                        41
   anak yang isinya lebih banyak bersifat antisosial
   (walaupun selisihnya tidak begitu banyak, yaitu sekitar
   1 % lebih         banyak dibandingkan adegan yang
   "prososial").
c. Film-film untuk anak yang paling banyak mengandung
   adegan "antisosial"nya ialah film yang berasal dari
   Amerika Serikat (yaitu 11,37 % bersifat antisosial, dan
   9,60 % bersifat prososial).


Pernah pula seorang Dosen wanita dari Surabaya yang
mengambil program S2 di UI Jakarta, dalam thesisnya
(mengenai tindak pidana pornografi) menyajikan data
penelitian, bahwa acara-acara yang disajikan lewat
stasiun TV (TVRI, TPI, dan SCTV) sebagian besar (85
%) dinilai "tidak sopan/tidak susila" menurut pandangan
masyarakat         tempat   lokasi   penelitian   dilakukan
(Bangkalan, Madura).
Menghadapi era informasi yang demikian itu, jelas
diperlukan peningkatan kematangan kejiwaan/rohaniah,
kematangan emosional dan kematangan "pengendalian
diri"   sebagai penangkal utamanya. Di sinilah arti
pentingnya peranan nilai-nilai keagamaan dalam kehi-
dupan modern, terutama lewat pemusatan pengendalian
diri di bulan puasa Ramadhan. Marilah kita jadikan bulan
Ramadhan ini sebagai sarana proses pemadatan dan
                                                        42
peningkatan kembali energi kematangan        kejiwaan/
rohani (kematangan iman dan taqwa), di samping
kematangan    ilmu   dan    kematangan    sosial/amal,
sebagaimana tersimpul dari tuntunan Al-Qur'an surat Al
Fathir: 29.


                       -o0o-




                                                   43
                    Ceramah Ramadhan V
            MEMAHAMI MAKNA KEIMANAN
         DALAM MENGHADAPI ERA INFORMASI *)


1. Judul      asli yang ditetapkan Panitia untuk ceramah
     tarawih kali ini ialah : "Memahami Makna Keimanan
     Yang       Berdimensi Luas Dalam Menghadapi Era
     Informasi".
     Memahami makna keimanan dalam dimensi luas, dapat
     diartikan melakukan "pengkajian terhadap nilai-nilai
     keagamaan/keimanan        yang bertolak       dari ajaran-
     ajaran/konsep-konsep Al-Qur'an",      karena salah satu
     aspek keimanan adalah         iman terhadap       Kitabullah.
     Sehubungan dengan judul yang          ditetapkan panitia,
     maka    pengkajian/pemahaman        nilai-nilai   keimanan
     terhadap      konsep/ajaran    Al-Qur'an    ini    tentunya
     difokuskan pada hal-hal yang berhubungan dengan
     beberapa masalah/aspek yang ada di dalam era
     informasi saat ini.




*)
    Ceramah Ramadhan pada putaran TARLING B.A.I (Badan Amalan
Islam), di Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jl. Pemuda Semarang, 24
Ramadhan 1414 H
(7 Maret 1994 M).
                                                               44
2. Pengkajian/pemahaman        terhadap    informasi-informasi
    tuntunan yang terdapat di dalam Al-Qur'an, memang
    sewajarnya dilakukan,        karena berbagai alasan :
    a. Di bulan Ramadhan memang sangat dianjurkan
      banyak       membaca/mempelajari/menelaah               Al-
      Qur'an, karena di bulan Ramadhan inilah Al-Qur'an
      pertama kali diturunkan;
    b. Banyak firman Allah di dalam Al-Qur'an yang
      secara halus menegur kita untuk mempelajari Al-
      Qur'an, a.l. :
      - Al-Waqiah:81:




    "Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al-Qur'an ini?"
    - Al-Qomar: 17,22,32,40 :




    "Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk
    pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?"

     - Al-Anbiya':10 :




                                                              45
  "Sesungguhnya telah Kami turunkan kepadamu sebuah Kitab
  yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka
  apakah kamu tidak memahaminya?"

  - Dan di dalam Q.S. Al-Fathir:29 Allah sendiri menya-
  takan bahwa "yatluuna Kitabullah" (membaca/mem-
  pelajari/melakukan      telaah     terhadap     Kitabullah/Al-
  Qur'an) merupakan salah satu "bentuk                kegiatan/
  perniagaan yang tidak akan merugi".

c. Di dalam era informasi yang canggih saat ini,
  menggali dan memahami informasi Al-Qur'an sangat
  penting untuk mengimbangi gelombang informasi
  global (yang bersifat duniawi). Informasi duniawi yang
  tidak    diimbangi      dengan      informasi     imani/ilahi,
  dikhawatirkan    bukan        membawa         kebaikan    dan
  kesejahteraan,       tetapi    justru   dapat      membawa
  kehancuran.

d. Informasi Al-Qur'an yang mengandung berbagai
  petunjuk     hidup merupakan bagian dari keleng-
  kapan/kebutuhan hidup            yang diberikan/disediakan
  Allah kepada manusia. Di dalam surat Ar-Rum: 40
  dinyatakan, bahwa Allah tidak hanya "menciptakan"
  manusia ("kholaqokum"), tetapi juga "memberinya
  rizki"   ("rozaqokum"),       kemudian    "mematikannya"
                                                             46
("yumiitukum")   dan   kemudian    "menghidupkannya
kembali" ("yuhyiikum") untuk dimintai pertanggung-
jawaban.
Jadi Allah tidak hanya sekedar mencipta manusia,
tetapi juga memberinya rizki atau "memberi dukungan"
(karena kata "rozaqo" dapat berarti "to support") atau
juga "memberi sarana/keperluan hidup" (karena kata
rizki   atau "rizqun" dapat juga mengandung arti
"means of living"). Dukungan atau keperluan hidup
yang    diberikan Allah kepada manusia, tidak hanya
yang bersifat materi (bumi/alam semesta dan segala
isinya) tetapi juga    yang bersifat immaterial yaitu
berupa konsep/tuntunan hidup.
Oleh karena itu, manusia tidak hanya dituntut untuk
"memahami/menggali bumi, alam semesta dan segala
isinya", tetapi juga perlu "memahami dan menggali
nilai-nilai konsep kehidupan/petunjuk hidup yang ada
di dalam Kitabullah (Al-Qur'an)". Dengan perkataan
lain, informasi yang perlu digali dan dipahami tidak
hanya informasi tentang dunia dan alam semesta
(informasi global dan planetal), tidak hanya informasi
duniawi mengenai situasi politik, ekonomi/bisnis,
perkembangan teknologi dsb., tetapi juga perlu di-
gali dan dipahami informasi tentang konsep kehidupan
(pedoman/petunjuk hidup).
                                                   47
3.     Sehubungan dengan judul ceramah, masalahnya ialah
       informasi tentang konsep kehidupan (pedoman/petun-
       juk hidup) atau informasi tentang nilai-nilai keimanan/
       keagamaan apakah yang perlu dikaji dan dipahami
       dalam menghadapi "era informasi"? Untuk mengkaji
       masalah ini, perlu kiranya terlebih dahulu dikaji dan
       dipahami beberapa aspek            atau     masalah yang
       berhubungan dengan "era informasi" ini.
     a. Telah    sama      dimaklumi,   bahwa      era   informasi
       merupakan salah satu karakteristik dari era masa kini
       yang      berkembang      sangat pesat seiring dengan
       berkembang          pesatnya bidang komunikasi dan
       teknologi.       Perkembangannya          sedemikian    rupa
       sehingga informasi merupakan salah satu sumber
       "kekuatan/kekuasaan" ("power") tersendiri.         Mereka
       yang tidak mengikuti dan menguasai informasi akan
       selalu tertinggal atau bahkan mudah tersisihkan dalam
       persaingan dan pergumulan hidup. Tidak jarang pula
       suatu strategi dan policy dengan mudah dihancurkan/
       diporak-perandakan       lewat   perang     informasi   dan
       sistem komunikasi yang canggih. Demikian gambaran
       umum mengenai pengaruh kekuatan informasi.
     b. Dengan      semakin    pesatnya     kemajuan      alat-alat
       teknologi     dan      sistem    komunikasi,      kekuatan
                                                                48
  penyebaran         informasi     saat      ini    sangat       luas
  jangkauannya, bersifat transnasional                 (melampaui
  batas-batas negara), sangat               cepat      dan sangat
  bervariasi bentuk dan macamnya. Hal                   ini     jelas
  mengandung aspek positif dan juga aspek negatif.


Memperhatikan kondisi era informasi yang demikian
itu, mungkin tidak mudah lagi membendung gelombang
informasi    global.     Yang     perlu     diwaspadai        adalah
informasi    yang      dapat    membawa        dampak         negatif.
Dengan      semakin      berkembang         pesatnya     teknologi
informasi dan komunikasi lewat teknologi satelit global,
radar parabola, telepon genggam dan alat-alat lain nya
yang   sangat       canggih,     dapatlah     dikatakan       bahwa
informasi negatif atau yang tidak benar dan menyesat-
kan dapat merupakan            gelombang virus yang sangat
berbahaya bagi kehidupan pribadi dan keluarga, bahkan
bagi   kehidupan        bermasyarakat,         berbangsa         dan
bernegara. Betapa tidak, karena informasi yang semula
dianggap tabu dan sangat             tercela,       atau setidak-
tidaknya bersifat rahasia dan "belum saatnya diketahui"
(a.l. bacaan/ film-film cabul, porno, adegan tidak sopan/
tidak susila dan merangsang, serta adegan-adegan
kekerasan,       sadis/brutal      dan      bersifat    antisosial),
sekarang dengan mudah informasi itu dapat diperoleh.
                                                                   49
Seberapa jauh jumlah dan pengaruh informasi negatif
itu      berada       di sekitar kita memang memerlukan
penelitian akurat. Namun beberapa informasi mengenai
hal ini dapat diungkapkan sbb. :
a. Penelitian        yang pernah dilakukan oleh          DIA-YKAI
      (Data Informasi Anak – Yayasan Kesejahteraan Anak
      Indonesia),     bekerja     sama dengan LITBANG Dep.
      Penerangan, mengenai film-film untuk anak yang
      ditayangkan lewat 4 (empat) stasiun TV (TVRI, TVRI
      Program        2,   RCTI       dan    TPI),     antara     lain
      mengungkapkan data bahwa (disarikan dari media
      Informasi Tentang ANAK, terbitan DIA-YKAI Jakarta,
      edisi No. 20, Oktober 1993, halaman 10 dan 15):
      1. Dari 195 episode film yang diteliti (Pebruari 1993),
         ternyata adegan yang bersifat "antisosial" (ada
         2063 adegan)        lebih    banyak daripada          yang
         bersifat "prososial" (ada 1904 adegan);
      2. Dari 4 stasiun TV yang diteliti, 3 stasiun (yaitu
         TVRI Program 2, RCTI dan TPI) menyajikan film
         untuk anak       yang isinya lebih ba-nyak          bersifat
         antisosial (walaupun selisihnya hanya sekitar 1 %
         dibandingkan adegan yang "prososial");
      3. Film-film        untuk   anak     yang     paling   banyak
         mengandung         adegan    "anti-sosial"    ialah   yang


                                                                  50
     berasal dari Amerika Serikat (yaitu 11,37 % ber-
     sifat antisosial dan 9,60 % bersifat prososial).


b. Pernah pula seorang Dosen wanita dari Surabaya
  (UNAIR) yang mengambil program S2 di UI Jakarta,
  dalam     thesisnya mengenai "Tindak Pidana Porno-
  grafi" menyajikan data penelitian,          bahwa     acara-
  acara yang disajikan lewat TVRI, TPI dan SCTV,
  sebagian besar (85 %) dinilai "tidak sopan/ tidak
  susila"    menurut       pandangan       masyarakat       di
  tempat/lokasi     penelitian        dilakukan   (Bangkalan,
  Madura);


c. Seminar mengenai "Fungsi dan Tanggungjawab
  Sosial     Pemberitaan      Kejahatan      di Media Masa"
  pada tgl. 4-5 Maret 1991 antara lain merangkum hal-
  hal sbb.    (disarikan dari "Kriminalitas Dalam Surat
  Kabar", Penerbit Antar Kota, 1991, hal. 117 dst.) :
  1. Meskipun      studi     lapangan      tentang    manfaat
     positif maupun dampak negatif dari pemberitaan
     kejahatan      oleh media massa terhadap ma-
     syarakat secara        relatif   amat jarang dilakukan,
     para pakar berpendapat            bahwa terdapat    lebih
     banyak dampak         negatifnya     ketimbang manfaat
     positifnya;
                                                           51
  2. Di antara dampak negatifnya a.l. dapat membe-
     rikan dorongan melakukan kejahatan dan menim-
     bulkan kekebalan pembaca sehingga tidak lagi
     memiliki kepekaan sosial;
  3. Pemberitaan tentang kejahatan, seks dan keke-
     rasan merupakan menu utama yang mewarnai
     pemberitaan kejahatan di media cetak;
  4. Pemberitaan kejahatan dalam pers lebih banyak
     melaksanakan fungsi "to inform" (memberi infor-
     masi)    dan "to entertain" (menghibur) daripada
     tugas    "to    educate"    (mendidik),       "to    activate"
     (menggerakkan)       dan     "to   protect"     (melindungi
     korban/saksi);
  5. Dalam        pemberitaan     kejahatan,       pers     masih
     dianggap sebagai "problem makers" ketimbang
     "problem solvers".


d. Kemajuan       teknologi informasi dan      telekomunikasi
  juga nampaknya berpengaruh pada perkembangan
  dunia kejahatan saat ini. Mudah dan cepatnya
  informasi/komunikasi saat ini sangat menunjang
  lajunya    perekonomian        dunia.    Keterjalinan        dan
  ketergantungan tata sosial ekonomi nasional dengan
  tata   sosial     ekonomi     dunia/internasional,       sangat
  mempengaruhi kecenderungan terjadinya interna-
                                                                52
sionalisasi kejahatan. Ruang lingkup operasional dan
dimensi kejahatan saat ini, terutama kejahatan
ekonomi     (economic crime) dan kejahatan yang
menggunakan kemajuan teknologi (Hitech crime),
sudah bersifat "transnasional", melampaui batas-
batas negara. Keprihatinan terhadap perkembangan
yang demikian selalu diungkapkan dalam Kongres-
kongres PBB mengenai "The Prevention of Crime
and the Treatment of Offenders". Misal dalam salah
satu pertimbangan putusan Kongres ke-7 th. 1985
(khususnya putusan mengenai "Guiding Principles
for Crime   Prevention and Criminal Justice in the
Context of Development and a New International
Economic Order"), antara lain ditegaskan :
..... that the international and national economic and
social orders are closely related and are becoming
more and more interdependent and that, as a
growing      sociopolitical   problem,   crime     may
transcend national boundaries.


Mengenai kejahatan yang berhubungan              dengan
teknologi komputer, Kongres PBB ke-8 (1990) antara
lain menyatakan :
 “pertumbuhan pemanfaatan teknologi komputer dan
 jaringan telekomunikasi dan komputer yang sangat
                                                     53
  luas sebagai bagian integral dari operasi/kegiatan-
  kegiatan di bidang keuangan dan perbankan secara
  internasional saat ini, dapat juga menciptakan
  kondisi-kondisi yang menunjang aktivitas kejahatan
  di dalam maupun di antara berbagai negara;
  ("the growing utilization of computer technology
  and world-wide computer and telecomunication
  networks as an integral part of contemporary
  international financial and banking operations can
  also create conditions that greatly facilitate criminal
  operations within and between countries").

Sehubungan dengan kebutuhan serba cepat dan
praktis, dunia perekonomian saat ini memanfaatkan
teknologi komputer    dan elektronik yang dikenal de-
ngan EFTS      ("Electronic Funds Transfer System").
Menurut August Bequai, EFTS ialah "pengiriman data
yang berhubungan dengan pemindahan dana melalui
jaringan   komunikasi"   ("the    transmission   of   data
regarding fund transfer over communication network").
Adanya EFTS ini, menurut August Bequai, juga
membantu semakin berkembangnya internasionalisasi
kejahatan (August Bequai,        White-collar    Crime: A
20th- Century Crisis, 1978, hal. 164 dan 169).
Jadi secara singkat dapat dikatakan, bahwa perkem-
bangan     kemajuan   informasi     bisnis/ekonomi    dan
informasi teknologi yang bersifat global/transnasional,
                                                       54
   juga dapat mempunyai dampak pada perkembangan
   kejahatan ekonomi dan kejahatan teknologi yang juga
   bersifat transnasional/internasional.


4. Memperhatikan berbagai fenomena dampak negatif dari
  era informasi dan komunikasi seperti diungkapkan di
  atas,   dapat dibayangkan betapa beratnya tantangan
  nilai-nilai keimanan (kematangan kejiwaan/emosional
  dan     kematangan     "pengendalian      diri")   saat    ini.
  Menghadapi era informasi yang             nampaknya sulit
  dibendung itu, jelas diperlukan peningkatan           kema-
  tangan kejiwaan/rohaniah, kematangan emosional dan
  kematangan "pengendalian diri" sebagai penangkal
  utamanya.   Tepatlah    apabila   bulan     Ramadhan        ini
  dijadikan sebagai sarana dan sekaligus pusat proses
  pemadatan dan peningkatan kembali energi kematangan
  kejiwaan/rohani (kematangan iman dan taqwa)               yang
  akan membuahkan kematangan             "pengendalian diri".
  Tepat pulalah tema kajian yang ditetapkan panitia untuk
  malam ini, yaitu "memahami makna keimanan dalam
  menghadapi era informasi". Apabila kita tidak memahami
  dengan baik (dalam arti menghayati dan memperteguh)
  nilai-nilai keimanan, tidak mustahil kita terbawa hanyut
  dan terjerumus ke dalam sisi-sisi dampak negatif dari


                                                              55
era informasi      yang antara lain telah dikemukakan di
atas. Misalnya :
a. Dengan sarana informasi/komunikasi yang canggih
  saat ini, seseorang yang kadar imannya lemah
  mungkin       saja   menyampaikan      informasi-informasi
  negatif    antara     lain   "ngrasani",   membicarakan/
  menyebar aib orang, menyebarkan            kedustaan dan
  fitnah dsb. Hal demikian tidak seharusnya dilakukan
  bagi orang yang kadar imannya cukup kuat, karena
  Al-Qur'an menyatakan :
   Al-Hujurot: 12 :




  - Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari
   prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu
   adalah dosa,
  - dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan (aib/
   rahasia) orang lain,
  - dan     janganlah     sebagian    kamu     menggunjing
   sebagian yang lain;

  Al-Baqoroh: 191 :
                                                         56
                ”wal fitnatu asyaddu minal qatl”
  (dan fitnah itu lebih besar (bahayanya) dari pembunuhan);

  Al-Baqoroh: 217 :




          ”wal fitnatu akbaru minal qatl”
  (Fitnah itu lebih besar (dosanya) dari pembunuhan);

  Fitnah dikatakan lebih besar/lebih keji dari pembu-
  nuhan karena melakukan fitnah itu dalam Al-Qur'an
  diidentikkan juga dengan "kafir" (Al-Anfal:39) dan
  "syirik" (An-Nisaa': 91). Di samping itu, korban fitnah
  dapat lebih banyak dan lebih luas daripada korban
  pembunuhan.


b. Kehidupan modern dengan berbagai informasi bisnis
  dan     teknologi (lewat iklan), cenderung mengarah
  pada terbentuknya pola hidup yang berorientasi pada
  nilai-nilai materialistik, individualistik dan konsume-
  risme. Menghadapi kondisi kehidupan yang demikian,
  tidak mustahil bagi yang lemah imannya terjangkit

                                                              57
penyakit "cemburu/iri-hati/berprasangka buruk" ter-
hadap kelebihan materi/rizki orang lain; mengalami
tekanan kejiwaan atau "stress" yang sangat berat;
atau       melakukan perbuatan-perbuatan nekad, me-
nempuh jalan pintas ("budaya menerabas") untuk
mencapai tujuan tertentu.
Dampak negatif demikian dapat kiranya ditangkal,
sekiranya       kita memahami dan menghayati nilai
keimanan        yang terkandung dalam tuntunan Al-
Qur'an, surat An-Nisaa': 32 :




Dan janganlah kamu irihati terhadap apa yang dikaruniakan/
ditetapkan Allah kepada sebagian kamu lebih dari sebagian yang
lain, (karena) bagi orang laki-laki dan perempuan ada bagian dari
apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah
sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu ".

Dalam ayat di atas digunakan kata-kata "fadhdho-
lallaah"    (yang    ditetapkan/dilebihkan       Allah).   Kata
"fadhola" atau "afdhol" secara harfiah dapat berarti
"ditetapkan" (to remain) atau "lebih baik" (better than).
Apa "yang ditetapkan" atau "dilebihkan" Allah itu dapat


                                                              58
berupa "rizki harta/kekayaan, pangkat/kedudukan,
ilmu/gelar, kecantikan/ ketampanan dsb.".
Jadi    ajaran keimanan menuntun kita untuk                tidak
perlu iri terhadap kelebihan orang lain; dan oleh
karena     itu tidak     perlu    stress dan tidak        perlu
mengambil jalan pintas dengan melakukan perbuatan
tidak terpuji.
Sebaliknya, bagi orang yang mendapat                "kelebihan
rizki" dari Allah, agama juga memberikan tuntunan
untuk    tidak terlalu individualistik, tetapi harus juga
memberikan/meratakan rizkinya kepada orang lain
yang berhak. Perhatikan misalnya tuntunan di dalam
Q.S. An-Nahl: 71:




"Dan Allah "melebihkan" sebagian kamu dari yg. lain dalam hal
rizki, tetapi orang-orang yg. dilebihkan (rizkinya) itu tidak mau
memberikan kepada budak-budak yang mereka miliki (bisa
dibaca: "karyawan", pen.) agar mereka sama (merasakan) rizki itu.
Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?".

Di samping itu, banyak firman Allah di dalam Al-Qur'an
(lihat a.l. Al-Baqoroh: 177, Ar-Rum: 38, Al-Isro":26)

                                                              59
    yang menyuruh kita menginfakkan sebagian harta/rizki
    kepada:
   - orang tua (ibu-bapak), keluarga/kerabat dekat, anak
     yatim, fakir miskin, musafir (orang yang membutuh-
     kan pertolongan) dsb.; dan
   - jangan menghambur-hamburkan harta (boros).

  c. Dunia informasi saat ini tidak dapat lepas dari
     perkembangan globalisasi ekonomi, persaingan
     meraih pasaran/peminat/keuntungan sebesar-besar-
     nya. Tanpa landasan iman yang kuat, tidak mustahil
     untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya
     itu, orang lalu memberikan informasi (lewat iklan)
     yang berlebih-lebihan,     melakukan      persaingan
     curang, atau memproduksi        barang-barang yang
     dapat merugikan/merusak/membahayakan           orang
     lain dsb.
  d. Dengan berbagai informasi yang dapat merangsang
     emosi-emosi negatif di bidang seksualitas, tindakan
     a-susila dan tindakan brutal/sadis, dapat saja orang
     yang lemah imannya terhanyut ke arah perbuatan-
     perbuatan negatif itu.

5. Akhirnya, marilah kita manfaatkan benar-benar bulan
   Ramadhan ini sebagai sarana dan pusat pemantapan/
   pemadatan kembali nilai-nilai keimanan dan "pengen-
   dalian diri", dengan penuh kesungguhan dan perhi-
   tungan ("imanan wahtisaaban") serta dengan penuh

                                                       60
"kesabaran dalam mencari ridho Allah". Karena Iman
yang berada dalam hati merupakan kunci atau modal
utama seseorang untuk menjadi manusia sejati. Baik
buruk perilaku kita tergantung seberapa besar iman kita
kepada Allah. Maha Besar Allah yang telah menjadikan
bulan Ramadhan sebagai salah satu sub-sistem yang
integral dari keseluruhan sistem/konsep Allah dalam
memelihara kualitas kemanusiaan, kualitas hidup dan
kehidupan,     atau    kualitas kemasyarakatan     dan
lingkungan hidup yang sehat dan bermakna.
Allahlah yang maha tahu bahwa kualitas kemanusiaan
dan kemasyarakatan itu memang dapat "melemah/
memudar", oleh karena itulah diadakan Ramadhan
(kewajiban puasa) sebagai suatu proses/mekanisme
"Recycling/Rejuvenation/Regeneration/Re-inforcement/
Reconstruction/Reinjection/Re-formation"; bahkan seba-
gai sarana reformasi total.
                            




                                                     61
                     Ceramah Ramadhan VI *)
           RAMADHAN: BULAN PENINGKATAN
        KUALITAS MUSLIM DAN LINGKUNGAN HIDUP


1. Dari hari kehari, minggu ke minggu, bulan ke bulan
      sampai tahun demi tahun, terdapat kemajuan yang
      mencengangkan dalam bidang ilmu/kepandaian. Misal
      semakin canggih dalam teknologi, semakin terbebas dari
      buta aksara dan sebagainya. Akan tetapi kemajuan
      dalam beberapa bidang kehidupan manusia tersebut
      tidak mengurangi kemerosotan lingkungan alam maupun
      kemerosotan lingkungan alam maupun sosial bahkan
      terus bertambah.


2. Kemerosotan tersebut, telah disiarkan atau diberitakan
      di berbagai media informasi; dan realita      menunjukkan
      adanya     "kemerosotan/penurunan kualitas kehidupan
      dan lingkungan sosial/alam”, antara lain :
        - berkembangnya cara hidup yang semakin indivi-
          dualistik, materialistik, hedonis tidak mau mengerti
          persoalan atau kekurangan orang lain;
        - menurunnya kualitas moral dengan berbagai bentuk
          pelecehan seksual dan pelanggaran kesusilaan;
*)
      Ceramah Ramadhan pada TARLING FH UNDIP, 3 Januari 1998; dan
     pada KULTUM Masjid Istiqomah, Banyumanik, Semarang, 6 Januari
     1998.
                                                                62
   - adanya kesenjangan material yang sangat menyo-
     lok;
   - semakin meningkatnya perusakan dan pencemaran
     lingkungan;
   - merebaknya berbagai tindak kejahatan; penyalah-
     gunaan kekuasaan (termasuk kekuasaan ekonomi),
     korupsi, penyalahgunaan narkoba; dan
   - menurunnya     kualitas   penegakan    hukum     dan
     keadilan.


3. Sebagai seorang muslim, selayaknya kita melakukan
  introspeksi terhadap keislaman kita. Apakah kita masih
  layak dianggap seorang muslim kalau kita ikut andil
  merusak lingkungan alam maupun sosial? Apakah kita
  masih berhak menyandang gelar kholifah fil Ardhi
  (Pemimpin di muka bumi)? Apakah kita masih berhak
  mengemban amanah agama Islam kalau kita mengebiri
  nilai-nilai Islam yakni perlindungan terhadap sesama dan
  alam semesta?


4. Upaya peningkatan kualitas manusia dan lingkungan
  hidup inilah yang selalu menjadi masalah sentral dan
  menjadi   pusat perhatian para nabi/rasul, para ulama/
  ilmuwan/cendekiawan dan para penyelenggara negara/
  pemerintahan (pemegang kekuasaan). Para nabi/rosul
                                                        63
  diutus Allah untuk memperbaiki kerusakan ummat dan
  meningkatkan kualitas kehidupan dengan memberikan
  tuntunan/ pedoman hidup dan kehidupan. sebagaimana
  disebutkan dalam QS. Al Anbiya' ayat 107



  "Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi)
  rahmat bagi semesta alam".


5. Para ulama/ilmuwan/cendekiawan juga pada hakikatnya
  merupakan pewaris nabi dan rosul. Peran ulama/
  ilmuwan/cendekiawan berupaya untuk mengatasi ber-
  bagai masalah yang berhubungan dengan kualitas
  kehidupan/lingkungan masyarakat sekitarnya. Demikian
  pula disusunnya GBHN oleh wakil-wakil rakyat dan
  penyelenggara negara,         pada hakikatnya bermaksud
  membangun        masyarakat/lingkungan hidup yang ber-
  kualitas, baik kualitas fisik/materiel maupun kualitas non-
  fisik/immateriel.


6. Merosotnya     kualitas     lingkungan   itu   tidak   dapat
  dilepaskan    dari    menurunnya     kualitas   kematangan
  kejiwaan/emosi pengendalian diri, menurunnya kualitas
  kematangan ilmu/tuntunan/ konsep-konsep kehidupan,
  dan    menurunnya       kualitas   kematangan     kepekaan/
                                                             64
  kepedulian sosial. Dengan kata lain, disebabkan oleh
  menurunnya kualitas keimanan/ketaqwaan,          kualitas
  ilmu, dan kualitas amal.


7. Maha   besar Allah yang sangat mengetahui segala
  persoalan manusia      ciptaan-Nya (termasuk masalah
  kualitas kehidupan manusia ini). Dan maha besar Allah
  yang juga mengetahui bagaimana mengatasi kemero-
  sotan kualitas lingkungan     itu. Salah   satu konsep/
  sistem Allah untuk memelihara     kualitas manusia dan
  lingkungan hidup ini ialah dengan          diwajibkannya
  "puasa" selama bulan Ramadhan. Kegiatan dalam bulan
  Ramadhan sarat dengan kurikulum/silabi untuk menga-
  tasi lingkungan itu, yaitu kurikulum untuk meningkatkan
  IMTAQ, ILMU, dan AMAL. Ketiga karakteristik "trilogi" ini
  sangat melekat dalam kegiatan bulan Ramadhan, yang
  apabila diamalkan dengan baik, Allah menjamin di dalam
  Q.S. Al-Fathir:29, kita mendapatkan "perniagaan yang
  tidak akan merugi" (dengan istilah ekologi berarti Allah
  menjamin "kualitas manusia dan lingkungannya tidak
  akan merugi/mengalami kemerosotan").


8. Resume :
  Bulan Ramadhan merupakan :


                                                         65
a. sub sistem/bagian integral dari sistem/ konsepsi Allah
  yang berhubungan dengan proses PEMELIHARAAN:
   "Kualitas Kemanusiaan Muslim";
   "Kualitas Hidup Dan Kehidupan"; dan
   "Kualitas Kemasyarakatan/ Lingkungan Hidup".


b. PROSES/mekanisme "daur ulang" :
  - "penyucian/pembersihan kembali" semua               daki/
    karat/kotoran/lumpur yang melekat 11 bulan yl.;
  - "memperkuat     kembali"       kematangan      kejiwaan/
    emosional dan kematangan/kepekaan sosial yang
    melemah/memudar;
  - "proses ketaqwaan", "proses pemadatan kembali
    energi kejiwaan/kematangan rokhani"; (lihat Q.S.Al-
    Baqoroh: 183, bahwa            tujuan      puasa adalah
    "la'allakum tattaquun").
  - "proses    recycling,      rejuvenation,    regeneration,
    reinforcement, reconstruction, reinjection, reforma-
    tion".


Maha   Suci   dan   Maha       Besar   Allah    yang   sangat
mengetahui, bahwa sifat/kualitas manusia yang dicipta-
kan-Nya adalah      makhluk yang sangat lemah/dhoif.
Melalui Ramadhan ini, marilah kita gunakan kesempatan
ini untuk menegaskan kembali nilai-nilai muslim kita.
                                                           66
Dengan kita menjadi seorang muslim yang kaffah insya
Allah kualitas lingkungan hidup akan terjaga dengan baik.


                         --




                                                      67
                       Ceramah Ramadhan VII
                 SYUKUR KEPADA ALLAH *)
            (Ramadhan: Bulan Yang Patut Disyukuri)


1. Jamaah qiyamur ramadhan yang berbahagia. Marilah
       pertama-tama kita panjatkan puji syukur ke hadirat
       Allah swt, bahwa hari ini kita masih dapat menjalani
       ibadah puasa dan ibadah shalat tarawih berjamaah.
       Ajakan syukur ini bertepatan           dengan topik ceramah
       ramadhan yang ditetapkan panitia kepada saya, yaitu
       "Bersyukur kepada Allah swt.".


2. Terlalu        banyak nikmat Allah kepada kita,             sehingga
       tidak mungkin kita menghitungnya. Allah menyatakan
       dalam Al Qur'an (Q.S.. Ibrohim : 34 ) :




      34. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala
      apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung
      nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguh-
      nya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).




*)
      Ceramah Ramadhan (KULTUM) di Masjid Istiqomah, Banyumanik,
     Semarang, 6 Ramadhan 1420 H (14 De-sember 1999 H).
                                                                       68
  Karena demikian banyaknya nikmat Allah itu, maka Allah
  mengingatkan (sekaligus          "menantang") kita berulang
  kali dalam Q.S. Ar-rakhman ayat 13 dst. (31 kali) :




  "Dan nikmat Allah manakah yang engkau dustakan?"


3. Salah satu ni'mat Allah yang sepatutnya kita syukuri
  ialah datangnya bulan Ramadhan, karena berbagai
  alasan :
  a. Pertama, karena Ramadhan menguji keimanan kita.
    Dengan kita dapat menjalani puasa dan melaksa-
    nakan jamaah       tarawih     sampai malam ini, menan-
    dakan bahwa Allah masih memberikan nikmat yang
    terbesar kepada kita, yaitu nikmat "iman dan islam"; di
    samping tentunya nikmat kesehatan dsb. Tanpa iman
    dan      kesehatan,    tidak     mungkin     kita   mampu
    melaksanakan ibadah puasa dan shalat dengan baik.
    Masih terpeliharanya kualitas "iman dan islam" kita
    sampai hari ini sepatutnya disyukuri, karena ada
    orang lain yang hatinya/imannya tetap membeku atau
    tidak teruji    kualitasnya, sehingga ia tidak mampu
    melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan ini.
  b. Kedua,     kita patut bersyukur karena Ramadhan
    merupakan "sistem daur ulang (recycling)" atau
                                                           69
  "proses peremajaan kembali (rejuvenation)", proses
  "penyuntikan kembali (reinjection)", proses "pengu-
  atan kembali (reinforcement)", proses "kebangkitan/
  kelahiran kembali (regeneration)", proses "pemben-
  tukan kembali (reconstruction)" dan proses "pemba-
  haruan kembali (reformation)" yang dibuat Allah untuk
  memelihara dan meningkatkan :
  - kualitas "Imtaq, ilmu, dan amal" ;
  - kualitas "kematangan jiwa, kematangan ilmu, dan
   kematangan kepekaan/kepedulian sosial";
  - kualitas   kemanusiaan      dan      kemasyarakatan /
   lingkungan hidup; atau
  - kualitas hidup dan kehidupan.


c. Ketiga, karena puasa itu sendiri sarat dengan
  berbagai kenikmatan, a.l. :
   "ni'mat berbuka" : nikmat         yang paling utama
   adalah nikmat pada saat berbuka, yang tidak dapat
   dirasakan oleh orang yang tidak melakukan puasa;
   "ni'mat bertemu dengan Tuhannya disebabkan
   puasanya"      berdasarkan     hadist     ”lis   Shooimi
   Farhatani yafrohu-huma : idza afthoro fariha bifitrihi
   wa idza laqiya robbahu fariha bishoimihi”. Selain itu,
   pahala puasa Ramadhan hanya Allah yang akan
   membalasnya (berdasarkan hadist “kullu 'amalibni

                                                         70
 adama lahu, illas shouma fainnahu li wa ana ajzi
 bihi”).
 “ni'mat kenyang/berkecukupan" : selama menja-
 lani puasa, kita bisa benar-benar merasakan betapa
 nikmatnya "kenyang" (bisa        makan-minum atau
 "berkecukupan") dibandingkan        dengan    "lapar"
 (serba kekurangan); betapa nikmatnya "sehat"
 dibandingkan dengan "sakit";
 "ni'mat   ibadah" yang beraspek ganda (vertikal/
 horizontal) : selama Ramadhan ada kenikmatan
 berupa kemudahan/keringanan         dalam menjalan-
 kan ibadah shalat (bangun shubuh biasanya sulit;
 apalagi shalattul lail), ada kemudahan membaca Al-
 Qur'an atau mendalami/ memperoleh ilmu agama
 lewat berbagai media (jadi ada "ni'mat ilmu"); ada
 "ni'mat    amal/sosial"   (keringanan untuk memberi/
 menerima infak dan ibadah sosial lainnya; ada
 "ni'mat silaturrahmi" (minimal lewat    shalat berja-
 maah);
 "ni'mat barokah/pahala/ganjaran" : - dalam bulan
 Ramadhan (sebagai         "syahrun mubarok"), Allah
 melipatgandakan pahala, a.l. dalam hadits disebut-
 kan, bahwa :
 1. satu langkah mendatangi majlis ilmu = 1 tahun
    ibadah;
                                                    71
      2. tiap rakaat shalat jamaah = 1 kota kenikmatan;
      3. taat pada orang tua  mendapat kasih sayang
           Allah dan Nabi menanggung dalam surga;
      4. istri mencari keridhoaan suami, pahalanya seperti
           Siti A'isyah dan Siti Maryam;
      5. mencukupi       kebutuhan    saudaranya,        akan
           dicukupi 1000 kebutuhannya di hari qiyamat;
      6. tidurnya = ibadah ("naumu shoim 'ibadah");
      7. diamnya = tasbih ("washumtuhu tasbih");
      8.    amalnya, dilipatgandakan ("wa'amaluhu mudho
            'afah");
      9.    doanya, dikabulkan ("wa du'auhu mustajabun");
      10. dosanya, diampuni ("wa dzambuhu maghfur").


   "ni'mat maghfiroh" : - Berdasarkan hadits "man
   shoma romadhona imanan wahtisaaban ghufirolahu
   maa taqoddamu min dzambih", maka bulan Rama-
   dhan jelas merupakan "bulan pengampunan/amnesti
   besar-besaran" dari Allah. Mendapat pengampunan
   jelas suatu kenikmatan, terlebih secara tidak kita sadari
   mungkin terlalu banyak dosa yang kita lakukan selama
   11 bulan yang lalu.
4. Terhadap banyaknya nikmat (pemberian) Allah itu, Allah
  tidak minta     "imbalan" apa-apa kepada kita,    kecuali
  hanya meminta kita "bersyukur" dan "ingat" kepada-Nya.
                                                           72
  a. Allah berfirman dalam Q.S. An-Nahl : 114:



  "wasykuruu ni’matallahi in kuntum iyyahu ta’buduun”
  (Dan syukurilah ni'mat Allah, jika hanya kepadaNya kamu menyem-
  bah).
  b. Q.S. Al-Baqoroh : 152 :


  "Ingatlah kepada-KU, niscaya AKU ingat kepadamu. Bersyukurlah
  kepada-KU, dan jangan kamu mengingkari (nikmat)-KU".
  c. Q.S.. Ibrohim : 7 :




  “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguh-
  nya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat)
  kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka
  sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".


5. Bersyukur atas nikmat Allah, tentunya per-tama-tama
  harus "ingat" kepada pemberi nikmat (Allah). "Ingat"
  (dzikir) kepada Allah mengandung makna yang sangat
  luas.    Intinya ialah : "ingat akan segala perintah dan
                                                              73
  larangannya". Adapun bentuk/perwujudannya dapat
  bermacam-macam :
  - syukur bil-lisan; syukur bil-arkan; syukur bil-qolbi;
  - syukur bil-arkan a.l. melaksanakan shalat, puasa,
    zakat/berinfak/shodaqoh/menolong penderitaan orang
    lain, dsb.


Semoga       kita   semua   termasuk   orang   yang    pandai
bersyukur.




                                                            74
                          Ramadhan VIII
             RAMADHAN : BULAN PENINGKATAN
              KUALITAS KAJIAN AL-QUR'AN *)


1. TURUNNYA AL-QUR'AN:
      a. Diturunkan di bulan Ramadhan (Al-Baqarah: 185) :




        ”syahru romadhonal ladzi unzila fiihil quran, hudal
        linnaas wa bayyinatim minal hudaa wal furqon”
        "Bulan Ramadhan, bulan yg. dalamnya diturunkan Al-
        Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan
        mengenai petunjuk-petunjuk itu dan pembeda (antara
        yang hak dan bathil)".


      b. Diturunkan    oleh Allah, Tuhan semesta alam         dan
        dibawa oleh     Ruh Al-Amin/Jibril, bukan oleh setan
        (Q.S.. Asy-Syu'ara) :
        - ayat 192 :




*)
      Ceramah Nuzulul Quran di Masjid Al-Jannah, Kanfer Utara III,
     Banyumanik, Semarang, 20 Maret 1992.
                                                               75
       "Dan sesungguhnya Al-Qur'an ini benar-benar diturunkan
       oleh Tuhan Semesta Alam".
  - ayat 193 :



       "Dia dibawa turun oleh Ar- Ruh Al-Amin (Jibril)".
  - ayat 210 :



       "Dan Al Qur'an itu bukanlah dibawa oleh syaitan-syaitan".
  - ayat 211 :



       "Dan tidaklah patut mereka (setan) membawa Al Qur'an itu
       dan tidak akan kuasa".


c. Diturunkan dengan ILMU ALLAH (Q.S. Hud:14) :




  Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu
  (ajakanmu) itu maka ketahuilah, sesungguhnya Al Quran itu
  diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasanya tidak ada
  Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada
  Allah)?

                                                               76
2. Al Qur'an MERUPAKAN "ANUGERAH TER-MULIA" :


 a. Sebagai "rahmat" (Al-Qoshosh:86):




 b.
      Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al Quran diturunkan
      kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang
      besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu
      menjadi penolong bagi orang-orang kafir.

 c. Di dalam Al-Qur'an terdapat "rahmat dan pelajaran"
      (Al- Ankabut: 51) :




      Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah
      menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) sedang dia dibacakan
      kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Quran) itu terdapat
      rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang
      beriman.

 d. Al-Qur'an merupakan "penawar/obat dan rahmat" (Al-
      Isro':82):




                                                               77
  Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar
  dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu
  tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain
  kerugian.

d. Al-Qur'an mengandung "hikmat, petunjuk dan rahmat"
  (Luqman:1-3) :




  "(1) Alif laam miim; (2) Inilah ayat-ayat Al-Qur'an yang mengan-
  dung hikmah; (3) menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang
  yang berbuat kebaikan".


e. Al-Qur'an memberi "petunjuk ke jalan yang lurus" (Al-
  Isro': 9) dan membawa "kebenaran" (Al-Isro':105) :
  - (Ayat 9) :




  Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada
  (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada
  orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi
  mereka ada pahala yang besar.
                                                               78
  - (Ayat 105) :



  Dan Kami turunkan (Al Quran) itu dengan sebenar-benarnya dan
  Al Quran itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan
  Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita
  gembira dan pemberi peringatan.

f. Al-Qur'an      diturunkan   "tidak   untuk    kesusahan"
  (Thoha:2) :



  "Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu agar kamu
  mendapat kesusahan".


g. Al-Qur'an "mudah untuk pelajaran" (Al-Qomar: 17, 22,
  32, 40) :



  "Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk
  pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?"


h. Al-Qur'an membawa "kemuliaan dan berkah" (Al-
  Anbiya') :
  - (Ayat 10) :



                                                            79
    "Sesungguhnya telah Kami turunkan kepadamu sebuah Kitab
    yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu;
    maka apakah kamu tidak memahaminya?"
        - (Ayat 50) :



    "Dan Al-Qur'an ini adalah suatu Kitab (peringat-an) yang
    mempunyai berkah yang telah Kami turunkan; maka mengapa
    kamu mengingkari-nya?".

i. Al-Qur'an : "tidak ada keraguan" dan "pe-tunjuk" (Al-
  Baqoroh ayat 2) :



    "Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk
    bagi mereka yang bertaqwa".

j. Al-Qur'an : "bacaan yang mulia" (Al-Waqiah) :
  Allah bersumpah (ay. 75), dengan sumpah yang besar
  (ay.), bahwa :
  - "Sesungguhnya Al-Qur'an itu, BACAAN YANG SANGAT
    MULIA" (ayat 77);



  "Diturunkan dari TuhanSemesta Alam" (ay.80)


                                                            80
                            .
   - "Maka apakah kamu menganggap REMEH saja Al-Qur'an ini?"
     (ayat 81).




 k. Al-Qur'an     diturunkan    "bukan     main-main"      (At-
   Thoriq:14) :



   "Dan sekali-kali bukanlah dia (Al-Qur'an) senda gurau (bukan
   main-main)".



3. AL-QUR'AN HARUS DIPELAJARI (JANGAN DIREMEH-
 KAN/DILUPAKAN) :
  Di dalam Q.S. Thoha:126, Allah menegaskan, bahwa
   "barang siapa      meremehkan/ melupakan Al-Qur'an,
   maka pada hari akhir nanti Allah-pun akan melupa-
   kannya/tidak-peduli" :




  Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat
  Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini
  kamupun dilupakan."
                                                             81
  Pengertian "meremehkan" dapat mengandung arti :
   a. melalaikan "Kitab-Nya" :
     - tidak memiliki Al-Qur'an (sedang buku-buku lain
        punya);
     - memiliki Al-Qur'an tetapi hanya hiasan/ dipajang
        dan     tidak dibaca (sedang buku lain dibaca/
        dipelajari);
   b. melalaikan "ISI-nya", a.l. :
     - menghindari/tidak menghadiri pengajian;
     - hadir dalam pengajian, tetapi ngantuk, ngobrol
        sendiri, pacaran dsb.;
     - tidak melaksanakan isi Al-Qur'an.

4. RAMADHAN : BULAN MEMPELAJARI AL-QUR'AN
     (BUKAN SEKEDAR "MEMPERI-NGATI" AL-QUR'AN)

  Berbagai nama lain Al Qur'an menunjukkan fungsi Al-
   Qur'an bagi kehidupan manusia. Apakah sebagai
   petunjuk, sebagai pemberi kabar terhadap segala
   keterbatasan manusia, sebagai pembeda terhadap
   apa yang baik dan tidak baik bagi manusia, sebagai
   pemberi peringatan terhadap tingkahlaku manusia,
   sebagai sumber ilmu pengetahuan sampai berfungsi
   sebagai pengobat hati dan fisik manusia.


                                                     82
 Turunnya    Al-Qur'an di bulan Ramadhan, bukan
 sekedar untuk diperingati, tetapi untuk dipelajari dan
 diamalkan. Jadi, Ramadhan           bukan sekedar bulan
 memperingati Al-Qur'an,         tetapi bulan yang setiap
 harinya Al-Qur'an memberi peringatan (petunjuk)
 kepada kita. Tidak mungkin Al-Qur'an menjadi "huda"
 (petunjuk/pedoman) kalau tidak pernah dipelajari.
 Di dalam Q.S. Al-Fathir:29, Allah mendahulukan/
 mengutamakan        "yatluuna    Kitaballah"    ("membaca/
 mempelajari Al-Qur'an" atau identik dengan "menuntut
 ILMU") dari pada "aqomush sholah" (simbol "IMTAQ")
 dan "anfaquu mimma rozaqnaahum" (berinfak, simbol
 "AMAL"). Namun ditegaskan, bahwa               ketiga-tiganya
 (ILMU, IMTAQ, AMAL) merupakan "perniagaan yang
 tidak akan merugi".
 Lengkapnya firman Allah itu berbunyi sbb.:




  "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah
 dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami
 anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-
 terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan
 merugi".

                                                            83
                       Ceramah Ramadhan IX
        AL-QUR'AN DAN CINTA ILMU PENGETAHUAN*)

1. Topik        ceramah Ramadhan yang ditetapkan panitia
      malam ini ialah "Al-Qur'an dan ajakan untuk mencintai
      pengetahuan". Membicarakan masalah Al-Qur'an dalam
      bulan Ramadhan memang merupakan hal yang wajar
      dan bahkan seharusnya, karena karakteristik Ramadhan
      tidak hanya masalah "puasa". Sebagaimana disebut
      dalam Q.S.. Al-Baqoroh ayat 183; tetapi karakteristik
      Ramadhan ialah bulan turunnya Al-Qur'an                  sebagai-
      mana      disebutkan dalam Q.S. Al-Baqoroh ayat 185,
      bahwa :
          "Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an
          sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai
          petunjuk itu dan pembeda (antara haq dan bathil)".
      Jadi karakteristik Ramadhan terfokus pada dua hal :
      a. bulan diwajibkannya kita berpuasa; dan
      b. bulan turunnya Al-Qur'an untuk dipelajari.


2. Karakteristik Ramadhan itu (kewajiban puasa dan
      kewajiban mempelajari Al-Qur'an), pada hakikatnya

*)
      Ceramah Ramadhan (KULTUM) di Masjid Al-Azhar, Keruing Raya,
     Banyumanik, Semarang, 24 Desember 1999 M (16 Ramadhan 1420 H).
                                                                    84
  merupakan "metode Allah" untuk memelihara dan
  meningkatkan kualitas manusia dan kehidupan. Maha
  Besar Allah yang sangat mengetahui kualitas manusia
  yang   diciptakannya,       yaitu   sebagai   makhluk   yang
  "dhoif"/lemah     ("wa khuliqol insaanu dhoifaan"; Q.S..
  An-Ni-saa':28).    Oleh karena itu, Maha Besar Allah
  pulalah yang       mengetahui cara/metode bagaimana
  untuk meningkatkan kualitas manusia yang lemah itu.
  Caranya yaitu dengan menjadikan bulan Ramadhan
  sebagai bulan untuk proses daur ulang           ("recycling")
  dalam rangka meningkatkan kembali kualitasnya. Jadi
  Ramadhan        dijadikan      bulan    untuk    melakukan
  "rejuvenation", "reinjection", "regeneration", "reinforce-
  ment", "renovation",    dan "reformation" kualitas kema-
  nusiaan dan sekaligus kualitas kehidupan/kemasya-
  rakatan.


3. Apa yang perlu di-"daur-ulang", diperbaiki dan ditingkat-
  kan kualitasnya? Maha Besar Allah yang menciptakan
  manusia terdiri dari struktur/organ fisik berupa ”kepala”
  dan ”perut” serta organ non-fisik "akal"         dan "hati".
  Kedua organ itu sangat fital. Oleh karena itu kedua
  organ itulah yang paling penting untuk diproses daur-
  ulang selama bulan Ramadhan, yaitu dengan cara :


                                                            85
     a. "perut" (sebagai simbul nafsu materi/simbul keta-
        makan,      dan    simbul     kesejahteraan)     didaur-ulang
        dengan disuruh "puasa". Dengan "puasa perut"
        diharapkan dapat didaur-ulang kualitas "hati/Imtaq"*)
        sehingga diharapkan dapat mengendalikan nafsu
        perut (karena dapat menjadi sumber segala keru-
        sakan, baik rusak akal, badan dan jiwa), dan sekaligus
        menuntun nafsu perut itu ke arah yang positif, yaitu
        kualitas kematangan/ kepedulian/ kepekaan sosial;
     b. "kepala" (sebagai simbul ”akal"/ilmu/pengetahuan/
        konsep/nalar) didaur-ulang dengan disuruh mempela-
        jari   "Al-Quran";     Sasarannya       adalah   peningkatan
        kualitas      kematangan        konseptual/tuntunan      dan
        keilmuan dalam berkehidupan.


4. Mengapa dikatakan, bahwa Al-Qur'an dapat mening-
      katkan kualitas kematangan konseptual dan keilmuan
      dalam berbagai          bidang kehidupan? Karena Allah
      sendiri menyatakan (dengan SUMPAH YANG BESAR,
      Q.S. Al-Waqiah:75-76), bahwa Al-Qur'an merupakan
      "BACAAN/KITAB/ILMU yang SANGAT MULIA" ("innahu
      laquraanun kariim", Q.S. Al-Waqiah:77) dan diturunkan
      dengan "ilmu Allah" ("annamaa unzila bi 'ilmillaah; Q.S.
      Hud:14), yang di dalamnya mengandung sumber-
*)
     tujuan puasa adalah ”taqwa” (Al-Baqoroh 183).
                                                                   86
  sumber      "petunjuk/pedoman/konsep/wawasan"             dan
  "pelajaran/ilmu pengetahuan" (di bidang : sejarah,
  sosial, politik, ekonomi, hukum, etika, biologi, pengeta-
  huan alam, informasi/komunikasi dsb).


5. Kalau Al-Qur'an dinyatakan sebagai "Bacaan/ kitab/ilmu
  yang sangat mulia", maka sewajarnyalah ummat Islam
  mempelajari/mendalaminya dan tidak meremehkannya
  begitu saja. Allah berfirman di dalam Al-Qur'an :
  a. Al-Waqiah : 81 :



    "Maka apakah kamu menganggap REMEH saja Al-Qur'an ini?"

  b. Dalam Q.S. Thoha: 126 Allah menegaskan, bahwa
    barangsiapa       meremehkan/melupakan           Al-Qur'an,
    maka pada hari akhir nanti Allah pun akan melupa-
    kannya/tidak mempedulikan.
  c. Selanjutnya Allah berfirman pula dalam Al-Qomar:17,
    22, 32, 40 :



     "Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk
    pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?"


  d. Al-Fathir:29 :
                                                              87
    "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca/mempelajari
    Kitab Allah (Al-Qur'an) dan mendirikan shalat, dan menafkahkan
    sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan
    diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan
    perniagaan yang tidak akan merugi".

6. Marilah kita jadikan bulan Ramadhan sebagai bulan
 mempelajari dan meningkatkan kualitas ILMU (Al-
 Qur'an), kualitas IMTAQ dan kualitas AMAL.
                              --




                                                               88
                      Ceramah Ramadhan X
      AL-QUR'AN DAN UPAYA PENEGAKAN/KEADILAN
                      HUKUM *)

1. Ada        dua   karakteristik   menonjol   dari   bulan   suci
      Ramadhan sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Al-
      Baqoroh, yaitu :
      a. Ramadhan sebagai bulan puasa (Al-Baqoroh:183);
        dan
      b. Ramadhan sebagai bulan diturunkannya Al Qur'an
        (Al-Baqoroh:185).


2. Mengingat dua karakteristik yang demikian, maka wajar
      dalam kajian/ceramah ramadhan, tidak hanya dibahas
      hal-hal yang terkait dengan masalah “puasa”, tetapi juga
      yang terkait dengan kajian mengenai isi/tuntunan Al
      Qur'an itu sendiri. Salah satu kajian tentang Al Qur'an
      yang ditetapkan panitia untuk ceramah Ramadhan kali
      ini, berjudul “Al Qur'an dan Upaya Penegakan Hukum”.


3. Pembahasan masalah Al Qur'an dan Penegakan Hukum
      merupakan masalah yang cukup luas dan tidak dapat
      dibahas dalam waktu yang relatif sangat singkat

*)
      Ceramah Ramadhan di Masjid Istiqomah 5 Ramadhan 1421 (1
     Desember 2000) dan Masjid Al-Azhar, Banyuma-nik, Semarang, 13
     Ramadhan 1421 (9 Desember 2000).
                                                                89
(khususnya dalam ceramah KULTUM). Oleh karena itu,
dalam kesempatan ini hanya ingin diungkapkan prinsip-
prinsip penegakan hukum menurut tuntunan Al Qur'an,
antara lain sbb. :
a. Q.S. An-Nisaa’: 58
  “Apabila kamu menghukum (menetapkan hukum) di antara
  manusia, maka hukumlah dengan adil”.
  Ayat ini mengandung prinsip persamaan/tidak diskri-
  minatif (“equality/indiskriminatif”).


b. Q.S. An-Nisaa’: 135
   “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang
  benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah
  biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum
  kerabatmu".
  Ayat ini mengandung prinsip “tidak pilih kasih” (“non-
  favoritisme dan anti nepotisme”) dan prinsip “tidak
  berpihak” (“fairness/ impartial”);


c. Q.S. An-Nisaa’:135
  "Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin
  menyimpang dari kebenaran/keadilan".
   (Dengan istilah lain : “Janganlah karena mengikuti
  hawa nafsumu, kamu menyimpang dari kebenaran/
  keadilan”).
                                                         90
  d. Q.S. Al-Maidah:8
    "Janganlah kebencianmu kepada suatu kaum (golongan), mendo-
    rong/menyebabkan kamu berlaku tidak adil”.

    Prinsip yang terkandung dalam sub c dan d di atas
    adalah, prinsip objektivitas (tidak subjektif).

4. Berbuat adil merupakan hal yang sangat rahasia dalam
  benak penegak keadilan. oleh karena itu keadilan
  tersebut bersumber dari pribadi penegak keadilan itu
  sendiri. Allah telah mengingatkan bahwa keadilan itu
  tergantung ketaqwaan seseorang. Dan hanya Allah yang
  mengetahui terhadap apa yang kita lakukan. Adilkah
  yang kita lakukan atau tidak adilkah yang kita lakukan.
  Sebagaimana dalam firman Allah dalam Q.S. Almaidah
  ayat 8 :




   "Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan
   bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui
   apa yang kamu kerjakan".

Kesimpulan :
a. Hukum (kebenaran/keadilan) harus ditegakkan kepada
  siapa saja dengan tidak berpihak dan tanpa pandang
  bulu, baik terhadap diri sendiri maupun keluarga

                                                               91
  (ibu/bapak; atasan), karib kerabat maupun kaum/
  golongannya;

b. Hukum (kebenaran/keadilan) harus ditegak-kan secara
  objektif dengan menghindari/ menjauhi subjektivitas,
  baik karena hawa nafsu maupun rasa kebencian.

c. Keadilan   dipengaruhi   kadar   ketaqwaan   seseorang
  kepada Allah.

                            --




                                                       92
                    Ceramah Ramadhan XI
     AL-QUR'AN : SUMBER HUKUM, SUMBER “HUDA”,
     SUMBER “BAYAN” DAN SUMBER “MAW’IDHOH”*)

1. Telah sama dimaklumi, bahwa ada 2 (dua) karakteristik
     yang menonjol dari bulan Ramadhan, yaitu :
     a. sebagai bulan diwajibkannya orang beriman untuk
        “puasa” (Al-Baqoroh: 183); dan
     b. sebagai bulan diturunkannya “Al Qur’an” sebagai
        “petunjuk dan pembeda” (Al-Baqoroh: 185); 
        “Syahru romadhonal ladzii unzila fiihil qur’anu, hudal
        linnaasi wa bayyinaatim minal hudaa wal furqon”;
     Oleh karena itu wajar dalam kajian ramadhan selalu
     dibahas hal-hal yang terkait dengan masalah “puasa”
     dan kajian tentang “Al Qur’an”.


     Kedua karakteristik itu seyogyanya menyadarkan kita,
     bahwa ada 2 (dua) sasaran utama dari proses daur
     ulang di bulan Ramadhan ini, yaitu mendaur-ulang
     kualitas “perut” dan kualitas “kepala” kita; kualitas ”hati”
     (imtaq) dan ”akal”. Maha Besar Allah yang Maha
     Mengetahui, bahwa organ utama/fital manusia sebagai
     makhluk ciptaan-Nya adalah “kepala” dan “perut”, dan


*)
  Naskah KULTUM di Masjid Istiqomah, Banyumanik, 24 Nopember
2001
                                                              93
  oleh karena itu kedua organ fital itu perlu dipelihara
  kualitasnya (lihat uraian di atas).


2. Tema kajian yang ditetapkan panitia malam ini adalah
  “Al     Quran dan Hadits sebagai Sumber Hukum”.
  Penetapan judul demikian, mungkin dikaitkan dengan
  profesi saya sebagai orang yang berkecimpung di dunia
  hukum. Namun sebenarnya, dalam konteks dan jiwa
  Ramadhan, pembicaraan tentang Al Quran dan Al
  Hadits seyogyanya tidak sekedar sebagai “sumber
  hukum”, tetapi lebih dari itu, yaitu :
  - sebagai “sumber petunjuk/tuntunan” dalam berkehi-
   dupan, seperti ditegaskan sendiri oleh Allah dalam
   surat       Al    Baqoroh:      185,    yaitu    sebagai      “HUDAL
   LINNAAS”, dan dalam Q.S. Ali Imron:138 dinyatakan
   sebagai “BAYANUL LINNAAS” (penerang/penjelas
   bagi manusia), sebagai “HUDAL LIL-MUTTAQIIN” dan
   sebagai “MAW’IDHOTUL LIL-MUTTAQIIN” (pelajaran
   bagi orang-orang yang bertaqwa).



        (Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk
    serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Ali Imron:138)




                                                                         94
 Jadi singkatnya, Al Q merupakan sumber “hudaa”
 (petunjuk), sumber “bayaan” (penerang), dan sumber
 “maw’idhoh” (pelajaran).

3. Al-Qur'an sebagai “hudal linnaas” (petunjuk bagi
  manusia) mengandung makna yang sangat luas, yaitu
  sebagai sumber “hudaa” (petunjuk/pedoman/tuntunan)
  dalam seluruh bidang kehidupan, baik di bidang hukum
  maupun dalam bidang kehidupan lainnya (bidang politik,
  sosial, ekonomi, kehidupan pribadi, kehidupan rumah
  tangga,   kehidupan/pergaulan      bermasyarakat      dan
  bernegara, bahkan pergaulan/hubungan internasional
  dan hubungan dengan alam/lingkungan sekitar).

4. Oleh karena Al-Qur'an seyogyanya menjadi sumber
  hukum, sumber petunjuk, sumber penerang, dan sumber
  pelajaran dalam berbagai bidang kehidupan, maka
  sepan-tasnya kita mempelajari dan mendalami (melaku-
  kan telaah) terus menerus isi Al-Qur'an dan sumber-
  sumber lainnya (Al Hadits), terutama di bulan Ramadhan
  ini. Tidaklah mungkin Al-Qur'an dan Al-Hadits dapat
  menjadi sumber petunjuk apabila kita sendiri tidak
  pernah    membaca     dan   mempelajari/mendalaminya,
  bahkan    meremehkannya.       Padahal    Allah    sendiri
  berfirman di dalam Al-Qur'an antara lain dalam :

                                                         95
a. Al-Waqiah :
   Setelah Allah menyatakan “dengan SUMPAH yang
   BESAR” bahwa Al-Qur'an merupakan “bacaan/kitab/
   ilmu yang sangat mulia” (ayat 75-77), selanjutnya
   Allah berfirman di dalam ayat 81 :



   (afabihadzal hadiitsi antum mudhinuun).
   “Maka apakah kamu menganggap REMEH saja Al Qur'an ini?”

b. Dalam surat Thoha: 126 Allah menegaskan, bahwa
  barangsiapa        meremehkan/melupakan          Al-Qur'an,
  maka pada hari akhir nanti Allah pun akan melupa-
  kannya/tidak mempedulikan.


c. Al Qomar: 17, 22, 32, 40 :




   “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk
  pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”


d. Al-Fathir: 29 :




                                                             96
    “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca/mempelajari
    Kitab Allah (Al-Qur'an) dan mendirikan shalat, dan menafkahkan
    secara diam-diam dan terang-terangan sebagian rizki yang Kami
    anuge-rahkan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak
    akan merugi”.
5. Semoga di bulan Ramadhan ini kita diberi kemudahan
  oleh Allah untuk mempelajari Al-Qur'an sehingga dapat
  menjadi sumber hukum, sumber “hudaa”, sumber
  “bayaan”, dan sumber “maw’idhoh” dalam kehidupan
  sehari-hari. Amien.


                              --




                                                               97
                   Ceramah Ramadhan XII
     MANFAAT RAMADHAN BAGI UPAYA TEGAKNYA
                  KEADILAN *)

1. Topik yang ditetapkan panitia kepada saya untuk
     KULTUM Ramadhan kali ini berjudul “Manfaat Tegaknya
     Keadilan”. Judul demikian terkesan terlalu umum atau
     seperti topik untuk ceramah umum di bidang hukum,
     sehingga tidak terkesan kaitannya dengan karakteristik
     Ramadhan yang biasanya berkisar pada kajian masalah
     “puasa” dan kajian masalah “Al Quran”. Oleh karena itu,
     agar terkesan ada kaitannya dengan tema Ramadhan,
     maka judul yang ditetapkan panitia itu saya ubah sedikit,
     menjadi   “MANFAAT       RAMADHAN        BAGI    UPAYA
     TEGAKNYA KEADILAN”.


2. Manfaat tegaknya keadilan bagi manusia dan kehi-
     dupan, sudah jelas, karena keadilan merupakan salah
     satu kebutuhan manusia. MAHA BESAR ALLAH yang
     Maha Mengetahui kebutuhan manusia akan keadilan itu,
     sehingga banyak ayat di dalam Al Qur'an yang
     memerintahkan manusia berlaku adil dalam segala hal,


*)
  Naskah KULTUM di Masjid Al-Azhar, Kruing, Banyumanik,
Semarang, 28 Nopember 2001.
                                                            98
walaupun akan merugikan diri sendiri. Di antara ayat-
ayat itu, antara lain :


a. QS. 16 (An-Nahl): 90




  “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat
  kebajikan, memberi kepada Kaum kerabat, dan melarang
  perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi
  pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”

b. QS.4 (An-Nisaa’): 58




  Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat
  kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila
  menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu
  menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi
  pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah
  adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

c. QS.4 (An-Nisaa’): 135




                                                           99
Intinya :
 a. “Jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan,
    menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri,
    ibu bapamu, dan kaum kerabatmu”;
 b. “Janganlah kamu mengikuti hawa nafsumu karena ingin
    menyimpang dari kebenaran/keadilan”.


d. QS. Al-Maidah: 8




 “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang
 yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi
 dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap
 suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku
 adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah
 kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang
 kamu kerjakan.”.

                                                               100
e. QS.42 (Asy-Syuura): 15




 Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah
 sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti
 hawa nafsu mereka dan katakanlah: "Aku beriman kepada semua
 Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya
 berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan
 kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu.
 Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah
 mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)."

 Dari ayat di atas, khususnya yang berbunyi:
   “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan
   aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah lah
   Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami, dan
   bagi kamu amal-amal kamu. ......”,
 jelas terlihat bahwa perlakuan adil wajib ditegakkan
 terhadap siapa saja, kendati terhadap orang yang tidak
 seagama (berlainan agama).




                                                              101
3. Manusia tidak hanya butuh sesuatu yang bersifat
  materiel, tetapi juga yang bersifat immateriel (non
  bendawi). Manusia tidak hanya butuh kesejahteraan
  lahiriah (materiel), tetapi juga butuh kesejahteraan
  batiniah (immateriel). Oleh karena itulah sering dinya-
  takan, bahwa pembangunan nasional tidak hanya
  bertujuan meningkatkan kualitas masyarakat (lingkungan
  hidup dan kehidupan) secara materiel, tetapi juga secara
  immateriel.    Kehidupan    makmur    dan    berkecukupan
  secara   materiel   bukanlah      jaminan   untuk   adanya
  lingkungan kehidupan yang berkualitas dan menyenang-
  kan. Apabila di dalam masyarakat tidak ada rasa aman
  akan perlindungan hak-hak asasinya, tidak ada jaminan
  perlakuan yang adil, tidak ada saling kepercayaan dan
  kasih sayang antar sesama, banyak ketidakjujuran,
  ketidakbenaran, dan penyalahgunaan kekuasaan di
  berbagai bidang kehidupan (politik, sosial, ekonomi,
  dsb.), maka kondisi masyarakat demikian jelas bukan
  kondisi masyarakat yang berkualitas/menyenangkan.


4. Beberapa aspek immateriel yang dikemukakan di atas,
  merupakan kebutuhan rokhani dan sosial budaya
  manusia yang sangat mendasar. Kebutuhan rokhani
  dan   sosial   budaya      yang   mendasar    itulah   yang
  seyogyanya      menjadi    sasaran    pembangunan      dan
                                                          102
  penegakan hukum, karena sangat diperlukan untuk
  menjamin adanya kualitas lingkungan hidup yang sehat
  dan bermakna. Apabila kebutuhan sosial budaya
  yang sangat fundamental itu tidak terjamin atau tidak
  terpenuhi, maka akan timbul frustasi, kecemasan
  dan keresahan dalam kehidupan masyarakat yang
  pada      gilirannya   dapat      membawa      kehancuran
  eksistensi manusia dan keutuhan masyarakat itu
  sendiri. Dengan kata lain, tidak terpenuhinya kebutuhan
  rokhani     dan   sosial-budaya    yang   fundamental     itu
  merupakan “sumber polusi” yang dapat menimbukan
  pencemaran sosial dan budaya yang merupakan bagian
  dari pencemaran lingkungan.


5. Uraian di atas ingin menegaskan, bahwa pembangunan
  dan penegakan hukum dan keadilan pada hakikatnya
  merupakan bagian integral dari upaya membangun dan
  meningkatkan kualitas lingkungan hidup yang lebih
  berbudaya dan lebih bermakna. Oleh karena itu, apabila
  saat ini penegakan hukum dan keadilan dirasakan
  sedang      mengalami     penurunan       kualitas   (berarti
  kebutuhan immateriel itu tidak terpenuhi), maka wajar
  dirasakan     adanya    penurunan/kemerosotan        kualitas
  lingkungan hidup bermasyarakat, antara lain “hilang/
  menurunnya nilai keepercayaan, munculnya keresahan/

                                                            103
  kecemburuan sosial, kebencian, anarkhi, perbuatan
  main hakim sendiri” dsb.


6. Namun memang harus diakui, bahwa kebutuhan imma-
  teriel yang berupa keadilan ini, dalam kenyataannya
  tidak mudah diwujudkan (dipenuhi). Oleh karena itu
  sering muncul ungkapan ironis, bahwa cukup banyak
  lembaga/badan peradilan di Indonesia (bahkan di dunia),
  tetapi tidak banyak keadilan yang dijumpai/ditegakkan.
  Bahkan ketidakadilan terdapat dimana-mana, tidak
  hanya di bidang hukum (peradilan), tetapi juga di semua
  bidang kehidupan. Ada ketidakadilan politik, ketidak-
  adilan sosial, ketidakadilan ekonomi, ketidak-adilan di
  bidang pendidikan, di bidang kesempatan kerja, di
  bidang pemerataan penghasilan/upah, di bidang rumah
  tangga dsb.

7. Jadi masalahnya bukan terletak pada apa “manfaat
  tegaknya keadilan”, tetapi pada “bagaimana keadilan itu
  ditegakkan”. Dalam konteks Ramadhan, masalahnya
  adalah “SEJAUH MANA RAMADHAN MAMPU MEM-
  BERIKAN       MANFAAT/SUMBANGAN        BAGI    UPAYA
  TEGAKNYA       KEADILAN”?    atau   “SEJAUH     MANA
  PERANAN        RAMADHAN       DALAM      MENUNJANG
  TEGAKNYA HUKUM DAN KEADILAN”?


                                                      104
     Dengan terus menerus melakukan kajian Al-Quran
selama Ramadhan, termasuk memahami dan mengha-
yati tuntunan Tuhan tentang keadilan sebagaimana
dikemukakan di atas, jelas diharapkan dapat menunjang
tegaknya “Keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa” (seperti ditegaskan dalam Pasal 4 UU Kekuasaan
Kehakiman No. 14/1970 jo. No. 35/1999, yang saat ini
telah diganti dengan UU No. 4/2004). Terlebih apabila
selama Ramadhan dapat diraih nilai-nilai kejujuran, ke-
imanan, dan ketaqwaan yang menjadi inti tujuan dan
hakikat   puasa.    Dengan     kejujuran,   keimanan,    dan
ketaqwaanlah, keadilan berdasarkan tuntunan Tuhan di
atas itu baru dapat dilaksanakan.
     Dalam tuntutan Allah di atas antara lain dinyatakan :
“tegakkan keadilan walaupun terhadap dirimu sendiri, ibu
bapakmu dan kaum kerabatmu” (An-Nisaa’:135). Ini
berarti harus ada “kejujuran” dalam menegakkan ke-
adilan. Insya Allah nilai/sikap jujur ini dapat diraih melalui
puasa, karena orang berpuasa dilatih untuk selalu jujur
di hadapan Allah bahwa dirinya berpuasa (tidak makan/
tidak minum dsb.) pada hari itu, walaupun sebenarnya
bisa saja dia berlaku tidak jujur dalam berpuasa.

                           --


                                                           105

								
To top