mendaur ulang kota tambang sawahlunto

Document Sample
mendaur ulang kota tambang sawahlunto Powered By Docstoc
					                                        Mendaur Ulang Kota Tambang Sawahlunto1
                                  Beberapa Catatan tentang pendekatan Konservasi dalam Revitalisasi

                                                       Dr.-Ing. Ir. Widjaja Martokusumo
                                                  Kelompok Keahlian Perancangan Arsitektur
                                       Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB
                                                            Email: wmart@ar.itb.ac.id


Abstrak:
Sebagai sebuah manifestasi dari berbagai proses pengambilan keputusan yang kompleks dalam suatu kurun waktu,
pembangunan kota merupakan respons terhadap perubahan/dinamika sosial-budaya dan kekuatan hegemoni
ekonomi/politik. Perubahan kebijakan tentang pengelolaan tambang batu bara di Sawahlunto dan maraknya isu
lingkungan telah mendorong dikembangkan kegiatan pengembangan Wisata Tambang. Upaya yang dituangkan
kedalam visi Sawahlunto 2020, merupakan strategi dalam memanfaatkan keunggulan dan potensi kota Sawahlunto.
Upaya tersebut dikemas dalam berbagai kegiatan revitalisasi dengan pendekatan konservasi dan pemanfataan
kembali artefak bersejarah kota dan sisa peninggalan dan kegiatan pertambangan batubara.
Proses perubahan dan transformasi yang terjadi memerlukan pemahaman kritis tentang makna kota daripada
sekedar me-museum-kan artefak bersejarah beserta kehidupannya. Makalah ini mengindikasikan perlunya
pemahaman kritis tentang pendekatan konservasi dalam upaya mendaur ulang kota. Sebagai bagian dari aset
perkotaan, bangunan dan lingkungan bersejarah memiliki daya tarik tersendiri dan kontribusi penting. Dalam
kaitan ini, upaya pelestarian dipahami sebagai upaya pemberian makna baru (interpretasi). Persoalannya adalah
upaya tersebut hanya bisa dilakukan dengan kemauan politik yang kuat, mengingat adanya relasi yang amat kuat
antara pelaku/sebagai penghuni dengan bentukan lingkungan binaan. Kasus Sawahlunto juga memberikan catatan
tentang relasi antara kegiatan intervensi fisik, rehabilitasi aktifitas ekonomi dan persoalan kelembagaan yang
acapkali terabaikan.
Kata Kunci: Sawahlunto, Wisata Tambang, Revitalisasi dan Konservasi


[1]           Latar Belakang

       Sejarah panjang Kota Sawahlunto dimulai, ketika para ahli Geologi Belanda menemukan
cadangan batubara dalam jumlah besar pada akhir abad 19.2 Sawahlunto mulai menjadi mukiman
pekerja Tambang pada tahun 1887, yakni ketika uang sejumlah 5,5 juta Gulden diinvestasikan
oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda untuk pembangunan fasilitas pengusahaan tambang
batubara Ombilin. Tahun 1894 Sawahlunto telah terhubung dengan kota Padang oleh jalur kereta
api, sehingga hal ini juga turut mempercepat perkembangan Sawahlunto. Penemuan dan
penggalian tambang batubara telah mengantarkan kota tersebut hingga masa kejayaan pada tahun
                                                            
1
  Makalah ini disusun dan dikembangkan dari bahan kajian mata kuliah pilihan RK 7112 Topik Khusus dalam
Perancangan Kota pada Program Magister Rancang Kota (RK) Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan
Kebijakan (SAPPK) ITB pada semester I 2007/2008 yang diampu oleh penulis. Berkaitan dengan tema kajian
Revitalisasi Kota Tambang Sawahlunto, penulis bersama mahasiswa melakukan observasi/survai lapangan pada
tanggal 29 November - 2 Desember 2007.
2
  W.H. de Greve seorang geolog muda Belanda ditugaskan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1867
untuk melakukan ekspedisi di pedalaman Minangkabau. Temuan de Greeve dilaporkan pada tahun 1871 dengan
judul Het Ombilien-kolenveld in de Padangsche Bovenlanden en het transportstelsel op Sumatra’s Westkust. Setelah
de Greve meninggal tahun 1872, ekspedisi dilakukan oleh RDM Verbeek tahun 1875. Penelitian tersebut
mengindikasikan adanya deposit batubara sebesar ca. 205 juta ton di kawasan Sungai Durian, Sigakut, Lapangan
Sugar, Tanah Hitam dan Perambahan serta daerah sekitar Sawahlunto yang dapat ditambang selama 200 tahun
(Miko, 2006).

                                                                     1

 
1930an. Saat itu jumlah penduduk kota yang terletak di daerah dataran tinggi (250-650 m dpl.)
pada bagian tengah Bukit Barisan, Sumatera Barat, sudah melebihi angka 40.000, termasuk
sekitar 550 populasi orang Belanda (Eropa).3 Tidak mengherankan bila Sawahlunto, yang hari
jadinya ditetapkan pada tahun 1888, juga dikenal dengan sebutan kota Arang, merupakan kota
tambang batubara terbesar dan sekaligus tertua di Indonesia. Meskipun demikian tidak banyak
masyarakat Indonesia yang mengenal bahwa kota ini kaya akan artefak dan peristiwa bersejarah.
Sejarah kotanya tidak dapat dilepaskan dari aktifitas pertambangan batu bara di tanah Sumatera.
Meski umur kegiatan pertambangan relatif jauh lebih muda dibandingkan di Eropa Barat, namun
jejak revolusi Industri melalui aktifitas pertambangan dapat dikenali melalui artefak-artefak
bersejarah kotanya.




                                                               Gbr. 1: Struktur pemanfaatan ruang kota Sawahlunto tahun 1921
                                                                     Sumber: Bahan presentasi Walikota Sawahlunto, Juli 2005

        Sejak berakhirnya kegiatan tambang yang dikelola oleh PTBA-UPO (Perusahaan
Tambang Bukit Asam-Unit Produksi Ombilin) pada penghujung tahun 2002, kota Sawahlunto
telah berupaya keras melakukan terobosan-terobosan untuk tetap bertahan dari romantisme
sosial-budaya, kerusakan ekologi, hambatan dan konflik ekonomi. Upaya tersebut secara
institusional dilakukan dengan cara pengalihan visi Kota Sawahlunto pada 24 Desember 2002
dari ekonomi dan usaha tambang menjadi usaha pariwisata (dituangkan kedalam Perda 6 tahun
2003). Meskipun penyelenggaraan pertambangan batubara masih mengalami re-orientasi oleh


                                                            
3
    Asoka et al., 2005
                                                                    2

 
berkembangannya semangat otonomi daerah/desentralisasi, pemerintah dan masyarakat
Sawahlunto tetap bertekad menjadikan Sawahlunto sebagai kota wisata berbasis pertambangan.
        Dengan segala keterbatasan telah melakukan proses perubahan sedikit demi sedikit,
meskipun belum seluruhnya mencapai target yang telah ditentukan dalam visi kota 2020. Sejak
awal tahun 2000an dilakukan berbagai proses penataan fisik yang cukup signifikan, paling tidak
dalam kegiatan pelestarian lingkungan tua dan artefak bersejarahnya. Proses penataan
lingkungan berbasis pelestarian/konservasi tersebut merupakan bagian dari upaya mendaur ulang
(revitalisasi) kota Sawahlunto yang hingga saat kini memiliki sisa-sisa peninggalan kegiatan
tambang.
        Bangunan dan lingkungan bersejarah, sebagai bagian dari aset perkotaan, memiliki daya
tarik tersendiri dan memiliki kontribusi penting dalam pengakayaan kualitas kota. Dalam kaitan
ini, upaya pelestarian pun dapat dilakukan dengan pemanfaatan kembali, yaitu memberikan
makna baru (interpretasi) dan fungsi baru yang disesuaikan dengan kebutuhan masa kini. Proses
perubahan dan transformasi yang terjadi memerlukan pemahaman kritis tentang makna kota
daripada sekedar me-museum-kan artefak bersejarah beserta kehidupannya. Makalah ini
menggugat perlunya pemahaman kritis tentang pendekatan konservasi dalam upaya mendaur
ulang kota. Persoalannya adalah upaya tersebut hanya bisa dilakukan dengan kemauan politik
yang kuat, karena bagaimana pun terdapat relasi yang amat kuat antara manusia -sebagai
penghuni- dengan bentukan lingkungan binaan, arsitektur. Meminjam pendapat Saliya (2003)
tanpa disadari sebenarnya ujud arsitektur (kota) sampai dengan perilaku manusia sebenarnya
merupakan sebuah kontinum, sebuah simpul yang saling menentukan dan menghidupi.


[2]           Proses Transformasi dan Kebijakan Pembangunan

        Semenjak berkurangnya produksi batubara di Sawahlunto, terdapat beberapa persoalan
yang mendorong terjadi transformasi, yakni:
        Diawali dengan penurunan proses dan aktifitas pertambangan batubara Ombilin, maka
instalasi pemrosesan dan pengangkutan tambang yang telah menjadi besar dirasakan sudah tidak
lagi sepadan dengan produk dan nilai batubara yang dihasilkan. Meskipun menurut beberapa
kajian, masih terdapat lebih dari 100 juta ton cadangan batubara dalam, namun hingga kini tetap
belum dapat dipastikan pengolahannya mengingat sangat tergantung kepada investasi yang tidak
sedikit.4
        Kerusakan lingkungan diperparah dengan adanya aktifitas tambang rakyat, yang justru
sangat membahayakan penambang dan penduduk sekitar.5 Sementara itu kota Sawahlunto

                                                            
4
  Menurut situs resmi Pemkot Sawahlunto, selama 100 tahun eksploitasi tambang telah menyedot sekitar 30 juta ton
batu bara tambang dangkal, sedangkan sejumlah 100 juta ton tambang dalam belum dimanfaatkan, mengingat biaya
operasional yang sangat tinggi. Penurunan produksi tambang hingga hanya puluhan ribu ton sudah dimulai sejak
periode tahun 1940 hingga tahun 1970, namun dengan penambahan fasilitas usaha pertambangan angka tersebut
meningkat kembali di tahun 1980an, dan bahkan pada akhir tahun 1900an hingga mencapai angka produksi 1 juta
ton pertahun.
5
  Ketika tambang batu bara dangkal Sawahlunto semakin menipis, munculah berbagai persoalan Dampak ekologis
akibat eksploitasi penambangan dangkal baru dirasakan beberapa tahun terakhir. Ditambah lagi dengan adanya
penambangan liar (tanpa izin) yang semakin marak beberapa tahun terakhir justru semakin merusak, dan lubang-
lubang bekas tambang yang ditinggalkan beresiko runtuh (Asoka et al., 2005 dan Miko, 2006).

                                                               3

 
sendiri karena lokasi dan kondisi bentang alamnya, tidak dapat mengembangkan diri sebagai
kota yang dinamis. Beberapa fasilitas dan pelayanan kota memang tumbuh dan berkembang,
namun hanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat yang sangat terbatas. Kota lama
Sawahlunto sendiri cenderung terlantar, dan terjebak hanya menjadi museum peninggalan
kejayaan pertambangan batubara Ombilin masa lalu, tanpa melibatkan dinamika yang
seharusnya dimiliki sebuah kota. Kondisi ini juga diperburuk dengan merosotnya komponen fisik
kota, dan fasilitas serta pelayanan kota yang tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan. Banyak
perumahan peninggalan masa lalu merosot kualitasnya tanpa mengalami perbaikan atau bahkan
perawatan. Bahkan, sungai Batang Ombilin yang seharusnya dapat menjadi tengaran kota yang
menarik, kini telah mengalami penyempitan, pendangkalan dan penurunan debit air. Sementara
kerusakan lingkungan perbukitan di sekitar kota Sawahlunto, disebabkan oleh munculnya hunian
penduduk yang justru mengganggu keseimbangan ekologis.
        Sejak Sawahlunto didirikan, proses urbanisasi atau proses menjadi kota memang tidak
terjadi dengan baik. Sawahlunto lebih berupa company town yang tidak memiliki resource
sebagaimana layaknya sebuah kota. Ketika Sawahlunto masih aktif dengan aktifitas tambangnya,
segala perlengkapan kota tersedia dengan cukup baik, dan hal ini tidak terjadi ketika aktifitas
pertambangan berhenti/menurun. Berbagai upaya memang telah dilakukan. Wilayah administrasi
Sawahlunto pada tahun 1990 diperluas dari hanya 779 ha menjadi 27,344 ha yang membawa
konsekuensi jumlah penduduknya meningkat. Berdasarkan hasil survai penduduk antar sensus
1995, tercatat penduduk Sawahlunto menjadi 55.000 jiwa. Perluasan ini tidak langsung otomatis
Sawahlunto menjadi kota yang lebih besar. Akibat kondisi bentang alamnya, pemekaran kota
Sawahlunto menjadikannya semacam federasi beberapa “kota kecil” dan mukiman perdesaan.
Pada tahun 2000 hasil sensus penduduk hanya mencatat angka 50.688 jiwa, artinya terjadi
penurunan selama lima tahun terakhir.6 Salah satu penyebabnya adalah dipindahkannya sebagian
perumahan pegawai Unit Pertambangan Ombilin (UPO) keluar daerah kota Sawahlunto. Hal ini
memperlihatkan ada kaitan yang jelas antar aktifitas pertambangan batubara Ombilin dan
dinamika kota Sawahlunto.
        Dengan ditetapkan Visi “Sawahlunto tahun 2020 menjadi Kota Wisata Tambang yang
Berbudaya”, harus dipahami bahwa yang akan dikembangkan adalah kota Sawahlunto, dan
bukan hanya kepariwisataannya. Artinya, tujuan dari kebijakan pengembangan ini adalah
peningkatan kualitas kota, sehingga selain sangat bermanfaat bagi warga kota juga dapat menjadi
daya tarik khusus bagi para pengunjung/wisatawan. Jika demikian adanya, maka daya tarik dan
daya pikat tersebut dapat menahan pengunjung untuk tinggal lebih lama di kota Sawahlunto.
Dasar pemikiran ini berangkat dari pertanyaan bagaimana sebuah kota akan bisa mendatangkan
pengunjung, bila kota tersebut tidak memiliki kualitas yang baik dan layak bagi warganya.
Singkatnya, kualitas kota Sawahlunto akan dijadikan daya tarik, dengan cara meningkatkan
kemampuan/daya dukung dan daya pikat kota untuk mendukung target visi tahun 2020.

                                                            
6
  Berbeda dengan kondisi kota-kota di Indonesia lainya, yang mengalami ekskalasi jumlah penduduk (urbanisasi),
keadaan di Sawahlunto justru terjadi sebaliknya, yang dikenal sebagai de-urbanisasi atau desanisasi. Umumnya
kota-kota menghadapi permasalahan yang kompleks, seperti peningkatan jumlah penduduk secara eksponensial,
diskrepansi sosial-ekonomi yang semakin melebar, peningkatan angka penduduk miskin, kemampuan pengendalian
yang sangat terbatas. Sawahlunto sendiri setelah kegiatan tambang berakhir secara sosiologis dan ekonomis,
cenderung menjadi pusat perdesaan. Upaya menjadikan Sawahlunto sebagai kota terhambat justru oleh berbagai
program pembangunan yang lebih mengarah ke pengembangan ekonomi perdesaan dengan hasil yang spekulatif
akibat kondisi bentang alamnya (lih. Laporan Rencana Kota Wisata Tambang Sawahlunto, 2001).
                                                               4

 
        Sebagaimana yang termaktub dalam Buku Laporan Rencana Kota Wisata Tambang
Sawahlunto (2001), fokus rencana pengembangan akan difokuskan pada bagian kota (lama)
Sawahlunto, mengingat daerah kota lama tersebut memiliki modal/potensi yang dinilai cukup
kuat untuk meningkatkan daya tarik dan daya pikat pengunjung. Meski kini mulai terdesak oleh
kegiatan penataan yang dilakukan selam ini, kota Sawalunto masih memiliki situs pertambangan,
instalasi pemrosesan dan pengolahan batubara, sarana dan stasiun pengangkutan dan bangunan
peninggalan zaman kolonial, serta fasilitas kelengkapan kegiatan pertambangan lainnya,
misalnya gedung societeit, kantor PTBA-UPO, permukiman pekerja tambang, Gudang Ransoem
dll.. Pemanfaatan artefak tersebut dijadikan bagian dari dari strategi pengembangan kegiatan
wisata sejarah dan wisata budaya.
        Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tranformasi dan/atau perubahan yang
dilakukan didasari oleh pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:7
     1. mengantisipasi secepatnya ketertinggalan pembangunan kota, akibat merosotnya
        produksi batubara PTBA-UPO. Kegiatan wisata sebagai pengganti usaha ekonomi dari
        pertambangan dianggap memiliki alasan yang kuat.
     2. adanya sejumlah besar peninggalan bangunan-bangunan tua yang ditinjau dari segi
        historis-budaya sangat berpotensi (berdasarkan data dari Dinas Pariwisata Kota
        Sawahlunto ada sekitar 100 bangunan).
     3. potensi kekayaan akan keindahan lanskap yang dapat dinikmati dari berbagai sudut
        pinggiran kota, karena kondisi geografis kota Sawahlunto yang berbentuk kuali.

[3]           Wisata Tambang Kota Sawahlunto

       Tambang dipilih untuk digarap sebagai daya tarik wisata karena merupakan keunikan dan
keunggulan Sawahlunto di kawasan Sumatera Barat. Pemilihan pertambangan sebagai basis
kegiatan wisata diperkuat oleh argumnen sebagai berikut:8 Pertama, sebagai tambang dalam
yang pertama dan sekaligus kota tambang batubara tertua di Indonesia, belum banyak
masyarakat yang mengenalnya. Tambang Ombilin ini telah menyimpan riwayat yang
mengenaskan, ketika sejak tahun 1892 kekayaan tambang batubara dieksploitasi dengan
pengerahan tenaga kerja paksa. Sejak saat itu pula mukiman para pekerja/buruh tambang yang
terbentuk kemudian dikembangkan dengan model kota Barat, sehingga Sawahlunto menjadi
sebuah “kota” di antara permukiman tradisional di tanah Minang. Hingga kini, sisa-sisa masa
kemakmuran hidup para pengelola dan administrator Belanda di Sawahlunto masih dapat
dikenali. Kedua, dari keunikan kegiatan pertambangan dapat dikembangkan pusat latihan
pertambangan dan penelitian batubara dengan memanfaatkan pengalaman serta peninggalan
tambang batubara yang ada/tersisa. Upaya ini telah dilakukan Pemerintah melalui Departemen
Pertambangan dan Energi, yang dengan dukungan Pemerintah lokal dan masyarakat, akan dapat
mendatangkan pengunjung/wisatawan budaya. Ketiga, kegiatan pertambangan telah mewariskan
berbagai instalasi dan fasilitas yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan wisata, dan
sekaligus menjadi objek wisata per se. Adapun instalasi/fasilitas tersebut adalah jaringan jalan,
jaringan rel dan stasiun KA, telekomunikasi, pelayanan kesehatan (RS Sawahlunto), instalasi air
bersih (yang pada awalnya dibangun untuk mendukung operasional kegiatan tambang) dapat
dikembangkan dan dialihfungsikan untuk keperluan pariwisata. Keempat, meski secara tidak
                                                            
7
    Kuswartojo, 2001 dan Asoka dkk., 2005.
8
    Laporan Rencana Kota Wisata Tambang Sawahlunto, 2001
                                                               5

 
langsung berhubungan, telah muncul beberapa tokoh perjuangan dan peristiwa bersejarah di
Sawahlunto yang juga dikenal oleh masyarakat internasional, misalnya M. Yamin, Soedjatmoko,
Adinegoro dll.9
        Wisata Tambang yang direncanakan adalah wisata dalam rangka menelusuri dan
merekonstruksi masa lampau, membangun imajinasi masa lampau untuk menumbuhkan inspirasi
bagi masa depan. Jadi, semua peninggalan kegiatan pertambangan harus dipandang sebagai
pelajaran signifikan yang memberikan kearifan bagi kehidupan masa kini dan masa datang.
Singkatnya, wisata tambang adalah wisata sejarah dan budaya. Oleh karenanya hal-hal yang
perlu dikemas dan disajikan di Sawahlunto, tentunya harus didasarkan kepada upaya
merekonstruksi masa lampau untuk membangkitkan dan meningkatkan rasa kemanusian para
pengunjung/wisatawan. Dengan demikian, keputusan untuk melestarikan peninggalan
pertambangan Sawahlunto adalah hal yang tepat.
        Wisata Tambang merupakan hal yang baru di Indonesia, dan jenis wisata ini bukan jenis
wisata rekreatif dan massal. Wisata Tambang lebih berupa kegiatan wisata yang menonjolkan
sisi edukatif dan pengembangan pribadi, yang hingga saat kini relatif sedikit peminatnya. Tidak
mengherankan bila di Indonesia belum dikenal dan belum dipandang sebagai potensi. Dalam
rumusan visi Sawahlunto 2020, visi wisata tambang sendiri adalah sebuah upaya perintisan dan
inovasi untuk memperkaya khasanah pariwisata Indonesia. Adapun sisa-sisa aktifitas/kegiatan
penambangan yang difokuskan dan akan dikemas sebagai atraksi wisata adalah10:
     1. Tapak atau situs penambangan dangkal/terbuka dan situs tambang dalam. Situs tambang
        dalam berupa lubang dan lorong bawah tanah dengan berbagai instalasinya kini sedang
        digarap. Situs terbuka direncanakan akan menjadi danau buatan, termasuk lubang-lubang
        bekas galian tambang, dan pada masa datang dijadikan taman tambang dan kawasan
        rekreasi,
     2. Instalasi pemrosesan atau pengolahan hasil tambang, yaitu instalasi pencucian dan
        pemecahan (sizing) batubara,
     3. Prasarana dan sarana pengangkutan hasil tambang, berkaitan dengan cara pemuatan,
        gerbong kereta khusus dan jalur angkutan kereta api beserta terowongan sepanjang ca.
        875 m yang menghubungan Sawahlunto dengan Muaro Kalaban (6 km), dan
     4. Produk sosial budaya yang terbentuk dari aktifitas tambang, peralatan dan perlengkapan
        kehidupan yang berkaitan dengan aktifitas tambang, seperti misalnya Goedang Ransoem,
        tempat tinggal orang rantau, bangunan societeit (GPM), dan sebagainya11.

       Upaya-upaya perintisan kegiatan wisata dan pelestarian peninggalan tersebut di atas
dapat dipahami sebagai upaya untuk memaknai kembali berbagai keunikan dan keunggulan yang
ada di Sawahlunto.12 Dalam kajian teoritik tentang makna dan arsitektur Norberg-Schulz (1984)
                                                            
9
  Asoka et al., 2005
10
   Laporan Rencana Kota Wisata Tambang Sawahlunto, 2001
11
   Tatanan permukiman dan gedung dengan langgam arsitektur yang dirancang dengan mengikuti nilai dan selera
pengelola tambang. Industri kerajinan yang tumbuh dalam kaitannya dengan tambang dan batubara dan juga
berbagai kesenian yang muncul dan masih bertahan oleh keanekaan asal-usul/latar belakang pekerja tambang
batubara. Sejarah kehidupan buruh tambang sendiri, termasuk upaya untuk menggerakan perlawanan terhadap
pemerintah Belanda/sejarah perjuangan buruh tambang dlsb..
12
   Bandingkan juga dengan apa yang dilakukan oleh IBA terhadap kawasan Emscher Park, kawasan industri Ruhr
(Ruhrgebiet) di Negara bagian North-Rhein Westphalia, Jerman, yang mencoba untuk mengangkat makna dari
industrial heritages dan identitas kultural sebuah kawasan industri berkenaan dengan perkembangan teknik dan
                                                               6

 
mengatakan bahwa tujuan hakiki dari penciptaan arsitektur (lingkungan binaan) adalah
mengubah lingkungan atau lahan (space) menjadi tempat (place) dengan makna. Tempat inilah
yang melahirkan jati diri, ciri tempat ataupun tempat yang memiliki “roh”. Masalahnya adalah
bagaimana mempertahankan ciri (warisan sejarah arsitektur), sementara berbagai perubahan
berlangsung. Sampai batas-batas tertentu, kembali menurut Norberg-Schulz (1984), arsitektur
dan desain urban mampu menghadapi gelombang perubahan itu, namun bukannya tanpa batas.
        Dalam kaitan ini Lewis Mumford, seperti yang diungkapkan Saliya (2003), pernah
menyatakan bahwa kota itu bagaikan pita rekaman peradaban manusia yang paling lengkap.
Artinya, dengan melihat dengan menghayati kota, maka kita berhadapan dengan budaya
penghuninya, sekaligus kita berkenalan dengan “roh” lingkungannya (Geist des Ortes). Jadi,
tidak mengherankan bila hingga saat inipun para ahli dan budayawan mulai mengungkit-ungkit
peran dan sumbangan pemahaman sejarah bagi kelangsungan berbagai proses perubahan. Dalam
kaitan ini pulalah, pemeliharaan, perawatan, pelestarian benda-benda budaya/purbakala menjadi
sangat relevan.
        Setiap kota memperlihatkan karakteristiknya sendiri, baik oleh unsur-unsur alami atau
pun binaan manusia. Relasi ritualistik antar manusia dengan alam lingkungannya, akan
memperlihatkan struktur atau pola tertentu. Dalam perkembangan peradaban manusia
selanjutnya, pengertian “lingkungan” itu pun mencakup segala sesuatu yang telah berdiri sendiri,
seperti halnya dengan pranata atau kelembagaan, yakni yang secara popular dinamakan tradisi.
Keadaan dipersulit bahwa masyarakat kita tidak memiliki tradisi administrasi yang memadai
untuk menjalankan roda pemerintahan kota pada saat itu. Oleh karena itulah dalam sarana untuk
mencapai tujuan kepariwisataan di Sawahlunto secara eksplisit peningkatan kapasitas institusi
menjadi penting, selain juga kerjasama antar daerah, kualitas (ruang) kota serta produk dan
kawasan wisata.

[4]           Revitalisasi dan Pelestarian/Konservasi

        Berbagai preseden pemanfaatan kawasan (bangunan dan lahan) industri menjadi bagian
dari fasilitas kekinian dapat dipelajari pada kasus-kasus kawasan konurbasi industri Ruhr di
Jerman ataupun kawasan Westergasfabriek (pabrik gas) di kota Amsterdam. Ketika fungsi awal
yang direncanakan sudah tidak teruskan, maka sejumlah besar instalasi industri/pabrik tidak lagi
berfungsi dan ditinggalkan. Selain terdapat supply bangunan dan lahan yang terkontaminasi
akibat limbah industri sejak Revolusi Industri, pertimbangan tentang pemanfaatan kembali (daur
ulang) menjadi dasar utama pengembangan bekas kawasan industri tersebut. Perubahan
kebijakan politik tentang dampak industri dan isu (pencemaran) lingkungan telah melahirkan
gagasan rehabilitasi kawasan industri dengan cara mengaitkannya dengan kebutuhan masa kini
(keberlanjutan ruang hidup manusia).
        Kawasan industri Ruhr di Jerman telah dijadikan eksperimen selama kurun waktu 1990-
2000, dimana sejumlah proyek arsitektur dan rancang kota berskala internasional diinisiasi
secara bertahap (Ward, 2002). Hal yang menarik pada kegiatan peremajaan tersebut adalah
pemanfaatan kembali artefak industri (industrial heritages) untuk kebutuhan masa kini. Alasan
untuk melestarikan artefak tersebut adalah artefak industri tersebut memiliki ciri khas dalam hal
                                                                                                                                                                                               
                                                                                                                                                                                               
industri (revolusi industry). Lihat Internationale Bauausstellung (IBA) Emscher-Park, Werkstatt für die Zukunt alter
Industriegebiete, Der Minister für Stadtentwicklung. Wohnen und Verkehr des Landes Nordrhein-Westfalen,
Düsseldorf 1993.
                                                                                             7

 
seni bangunan dan sejarah sosial-budaya dan Revolusi Industri di Eropa. Alasan lain adalah,
secara ekonomis membongkar instalasi industri tersebut akan menelan biaya yang sangat besar,
sehingga sebagian besar artefak dilestarikan dan dialihfungsikan untuk menampung kebutuhan
baru.13 Tentu saja kegiatan revitalisasi kawasan industri ini tidak selesai dalam 1-2 tahun
berproses. Proses pembangunan fisik memang bisa singkat, namun tidak demikian halnya
dengan perubahan sosial ekonomi dan penyiapan pengembangan kepranataannya.




                                            Gbr. 2: Kawasan Duisburg Landscape-Park, di kota Duisburg, sebuah kasus pemanfaatan
                                            artefak industri di kawasan Ruhr, Emscher Park, Jerman. Kawasan Emscher-Park, juga
                                            menjadi rujukan dalam pengembangan kawasan Westergasfabriek, Amsterdam, yang
                                            dimanfaatkan dari bekas pabrik gas, menjadi pusat kegiatan budaya bertaraf
                                            internasional.
                                            Sumber: Brosur Internationale Bauausstellung Emscher Park, Memorandum zu Inhalt
                                            und Organisation, Ministerium für Stadtentwicklung, Wohnen und Verkehr des Landes
                                            Nordrhein-Westfallen, 1993 (kiri); Dokumentasi ekslusif W. Martokusumo, 1995 (kanan)

         Sejalan dengan paradigma kerberlanjutan (sustainability) pemanfataan aset perkotaan
secara bijaksana mampu mengurangi beban lingkungan terhadap daya dukungnya (Eichstaedt,
1996). Secara konseptual, revitalisasi merupakan usaha meningkatkan vitalitas kawasan kota
melalui peningkatan kualitas lingkungan, dengan mempertimbangkan aspek sosial budaya dan
karakteristik/kekhususan kawasan. Fokus dari revitalisasi sendiri adalah upaya untuk
menumbuhkan pengembangan ekonomi kawasan, sehingga upaya memberdayakan, merawat dan
memperkuat karakater kawasan dapat berlangsung dengan baik. Hal ini dapat berarti
menghidupkan kembali aktifitas/kegiatan yang pernah ada atau secara lebih kompleks
merestrukturisasi aktifitas ekonomi kawasan (Tiesdell et al., 1996). Oleh karenanya, kegiatan
revitalisasi harus mampu mengenali dan memanfaatkan potensi lingkungan (sejarah, lokalitas,
tradisi, makna dan citra tempat).
         Proses revitalisasi sebuah kawasan atau bagian kota mencakup perbaikan aspek fisik,
aspek sosial/budaya serta aspek ekonomi dari bangunan maupun ruang kota (urban space).
Revitalisasi fisik merupakan strategi jangka pendek yang dimaksudkan untuk menciptakan
keadaan yang kondusif untuk mendorong terjadinya peningkatan kegiatan ekonomi jangka
panjang. Rehabilitasi ekonomi yang merujuk kepada aspek sosial-budaya serta pertimbangan
                                                            
13
  Internationale Bauausstellung Emscher-Park, Werkstatt für die Zukunt alter Industriegebiete, Der Minister für
Stadtentwicklung. Wohnen und Verkehr des Landes Nordrhein-Westfalen, Düsseldorf 1993

                                                                        8

 
lingkungan (environmental concerns) mutlak diperlukan, karena hanya dengan melalui
pemanfaatan produktif, maka terwujudlah sebuah bentuk mekanisme ‘perawatan’ dan kontrol
terhadap kelangsungan fasilitas dan infrastruktur kota. Artinya pemanfaatan produktif dari aset
perkotaan secara tidak langsung akan menjadi sumber daya bagi upaya pemeliharaan dari aset
publik tersebut.
        Keberadaan sejumlah aset sejarah di kota Sawahlunto hingga kini masih dapat dinikmati,
misalnya museum gudang ransoem, cerobong asap dari bangunan centraal electrich (gedung
pembangkit listrik) yang kini menjadi menara masjid, tangsi pekerja tambang, bangunan
peninggalan pejabat kolonial dengan langgam arsitektur khas. Selain itu terdapat pula instalasi
pertambangan yang tersisa seperti sizing plant, power plant, lubang-lubang tambang, sebagai
sisa-sisa peninggalan kejayaan Sawahlunto. Sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan upaya
pelestarian aset bersejarah kota juga telah dilakukan, misalnya pada tahun 2002 dilakukan
inventarisasi bangunan bersejarah. Hal ini kemudian dilanjutkan dengan dukungan Pemerintah
melalui kegiatan Bantuan Teknik (Bantek) Revitalisasi pada tahun 2005 dan 2006.14
        Pendekatan konservasi dalam revitalisasi dilakukan dengan memanfaatkan dan
menyertakan artefak/lingkungan bersejarah di kota lama Sawahlunto dalam upaya
menghidupkan kembali kota (peningkatan kualitas kota). Konservasi atau pelestarian berkaitan
dengan upaya perlindungan terhadap bangunan lama sehubungan dengan tuntutan perkembangan
zaman kiwari (baru/modern).
        Fenomena “baru/modern” diindikasikan dengan munculnya kebutuhan dan/atau
bangunan/struktur baru sedangkan fenomena lama diwakili oleh keberadaan bangunan/kawasan
lama. Dalam wacana tentang Aufklärung (entlightment) dari Theodor Adorno dan Max
Horkheimer (1995) modernitas (baru) dan tradisi (lama) bukan sekadar dualisme belaka, namun
berada dalam sebuah dialektika (diskursus). Pertentangan antar nilai-nilai baru dan lama menjadi
dasar upaya penafsiran dalam pembentukan urbanisme kontemporer, yang terbuka terhadap
keragaman, diversitas dan ambivalensi. Karya seni bangunan dengan kandungan budayanya
semestinya dipandang sebagai rujukan untuk membuka serta memperluas sumber pembangunan
peradaban sekarang dan mendatang. Dengan konsep kekinian, yang perlu dilestarikan bukan
sekedar bangunan belaka, namun hubungan antar bangunan dan kehidupan komunitas/manusia.
Hal ini dipertegas oleh Michael Thomas dalam Punter/Carmona (1997): … the conservation of
the built environment can assist in the maintenance of traditions of urban life and urban culture
by keeping the physical structure of an urban society intact, (…).
        Merujuk kepada konsep keterkaitan, konservasi/pelestarian lebih dari sekedar pekerjaan
teknis seni bangunan atau seni binakota belaka, tapi menjadi upaya manusia membuat penafsiran
secara kontinu terhadap karya-karya yang telah dibuatnya. Tegasnya, hakikat gerakan pelestarian
budaya bangsa bertujuan kepada apresiasi dan pembukaan wawasan intelektual (A.
Wiryomartono, 1995). Bila hal ini dikaitkan dengan kegiatan pelestarian, maka pemanfaatan
bangunan tua/kawasan lama untuk mengakomodasi kebutuhan baru yang relevan -melalui alih
fungsi- dapat dipahami sebagai upaya interpretasi baru terhadap artefak/warisan budaya
      Mengacu kepada pemikiran di atas, pemanfaatan bangunan tua/kawasan lama sebagai
upaya pelestarian menjadi penting. Pemanfataan tersebut sekaligus juga merupakan bentuk
upaya penafsiran baru terhadap produk spasial urban. Bentukan arsitektur dan struktur spasial
pada kawasan lama/bersejarah bukan sekedar sebuah lembaran kertas putih yang siap ditulis. Hal
                                                            
14
  Periksa Laporan Revitalisasi Kota Lama Sawahlunto, Ditjen Kotdes Wilayah Barat, Departemen Kimpraswil, Juli
2005
                                                               9

 
juga sampaikan oleh Tiesdell et al. (1996): Architectural and urban space design in historic
urban quarters is not -by definition- design on a green field or where there is -or can be- a
tabula rasa. Kawasan bersejarah dengan karya bangunannya yang telah terbina sesungguhnya
memiliki jejaring sosial yang unik. Bahkan, kekuatan budaya yang dikandungnya dengan segala
kompleksitasnya sulit diukur oleh satuan waktu. Oleh karenanya, pembangunan baru pada
kawasan bersejarah kota tidak saja perlu menghargai, tetapi harus tanggap (responsif) terhadap
kualitas estetik kawasan, baik kualitas ruang maupun arsitektural.
       Menghadirkan kembali tapak sejarah melalui pemanfaatan kawasan bersejarah dan
bangunan tuanya serta mengintegrasikannya dengan kebutuhan masa kini (konservasi), harus
dilihat sebagai upaya memperkaya budaya membangun (seni bangunan dan seni binakota)
bangsa. Upaya tersebut tidak saja terbatas kepada kajian sejarah tentang arsitektur kolonial,
namun diharapkan juga membuka apresiasi terhadap keragaman arsitektur Nusantara.
Penelurusan dan eksplorasi yang dilakukan sekaligus sebagai sebuah upaya dalam pencarian jati
diri.
         Dari kegiatan observasi lapangan di Sawahlunto, sejumlah catatan tentang upaya
revitalisasi kota melalui kegiatan penataan fisik yang dilakukan dapat diuraikan sebagai berikut:
    1. Pelestarian Bangunan/Lingkungan Tua
Kota Sawahlunto memiliki artefak bangunan tua/bersejarah, tidak hanya berupa bangunan kantor
dan instalasi pertambangan, tetapi juga berupa kelompok bangunan (ensembles) serta tapak
dengan nilai signifikansi kultural yang tinggi. Upaya pelestarian selama ini masih dalam lingkup
terbatas, namun telah didukung oleh mekanisme insentif berupa penyediaan sejumlah bantuan
dana terbatas untuk perbaikan fisik bangunan.15 Memang upaya ini masih terbatas pada
perbaikan fasad bangunan (surface rehabilitation). Sebagai sebuah awal yang baik, ke depan
masih tetap perlu dipikirkan bagaimana mekanisme tersebut bisa mencakup perlindungan
menyeluruh terhadap bangunan yang dinilai bermakna. Untuk itu perlu dikaji kembali berbagai
mekanisme pembiayaan terhadap bangunan yang akan dilestarikan.
Berkaitan hal ini perlu diperhatikan juga agar kegiatan perbaikan fisik tidak mengurangi
signifikansi bangunan yang dilestarikan. Untuk itu penelusuran data bangunan menjadi hal
mutlak dilakukan yang sebelum perbaikan fisik bangunan bersejarah dimulai. Hingga kini telah
terdapat upaya signifikan dalam hal pelestarian/pemugaran bangunan bersejarah, seperti yang
terjadi pada bangunan Societeit (Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto) dan museum Goedang
Ransoem. Termasuk juga isu dan aspek pengendalian yang belum tergarap dengan baik pada
rehabilitasi koridor komersial di Jl. Achmad Yani. Bila dikaitkan dengan rencana Pemkot
Sawahlunto tentang kebijakan pengembangan Kota Sawahlunto sebagai Kota Tambang
Berbudaya, dan dengan pengembangan Wisata Budaya, memang pelestarian bangunan
bersejarah perlu lebih eksplisit terintegrasi dengan kebijakan pariwisata makro, misalnya
penentuan destinasi perjalanan wisata, penyediaan fasilitas, penginapan (homestay), restoran,
fasilitas hiburan dll..
    2. Tata Bangunan
Kota lama Sawahlunto pernah mengalami perkembangan signifikan pada awal tahun 1980an,
yakni ketika perusahaan tambang merehabilitasi dan meningkatan kapasitas berbagai prasarana
dan fasilitas penambangan (silo penyimpanan dan pemuatan batubara). Pembangunan tersebut
diikuti oleh perubahan fasad bangunan pertokoan, pembangunan pasar, terminal dan ruko/kios di
pinggiran sungai. Revitalisasi ini sedikit banyaknya telah merubah citra kota sebagai bekas kota
                                                            
15
     Wawancara dengan Kepala Divisi Pelestarian Dinas Pariwisata Pemkot Sawahlunto, Agustus 2007
                                                               10

 
kolonial Belanda. Ciri-ciri kedaerahan/lokal -secara dipaksakan- telah dicoba dikembangkan di
kota untuk memberikan citra sebagai kota di tanah Minang, misalanya pada Wisma Ombilin,
ataupun pada bangunan pasar. Selain itu pertokoan berlanggam arsitektur pecinan juga telah
direkayasa -dengan harapan- untuk memberikan kesan ‘modern’. Upaya tersebut tidak dapat
dikatakan berhasil, karena yang pasti kondisi fisik yang ada justru semakin memburuk.
Selama ini pengembangan/penataan fisik (sarana-prasarana) kota, justru mengganggu elemen
fisik kota lainnya, seperti keberadaan bangunan komersial (ruko) yang sebagian lantainya
menutupi tepi sungai. Hal ini justru mengurangi peran sungai sebagai daerah muka. Selanjutnya
dapat dipastikan kondisi yang tidak terpelihara di sepanjang sungai, yang menjadikan sungai
sebagai tempat sampah besar. Kedua sungai (Batang Lunto dan Batang Sumpahan) yang
melintas di tengah kota Sawahlunto dalam konteks sejarah kota menjadi unik, karena berfungsi
ganda. Selain berfungsi untuk mengairi sawah-sawah penduduk, kondisi dasar sungai yang
dibuat bertangga-tangga merupakan upaya untuk mengatur aliran sungai. Bahkan pada zaman
kolonial, aliran air sungai dikelola secara khusus sebagai penggerak turbin listrik. Instalasi
pembangkit listrik tersebut kini sudah tidak berfungsi lagi, karena selain debit air berkurang
signifikan, bangunan pembangkit listrik sudah dimanfaatkan sebagai Masjid Agung dan
cerobong pembuangan asap berbentuk segi delapan, setinggi 70 m telah dimanfaatkan sebagai
minaret masjid tersebut. Diduga kerusakan ekologi akibat pembukaan lahan untuk hunian, dan
pembangunan yang tidak terah menjadi penyebab berkurangnya debit air.




                         Gbr. 3: Bangunan kantor pertambangan PT BA-UPO, Sawahlunto, dibangun pada
                         tahun 1916 sebagai kantor pertambangan batubara Ombilin.
                         Dokumentasi: W. Martokusumo, November 2007




                                 Gbr. 4: Bangunan hunian (barak) bagi para pekerja tambang, Sawahlunto.
                                 Kawasan hunian pekerja tambang ini merupakan salah satu bukti
                                 perjalanan sejarah perkembangan kota Sawahlunto yang cukup unik,
                                 sehingga meski kondisinya semakin tergerus usia, perlumendapatkan
                                 perhatian khusus dalam rencana kegiatan revitalisasi kawasan kota lama
                                 Sawahlunto.
                                 Dokumentasi: W. Martokusumo, Agustus 2007

   3. Pengolahan Ruang Terbuka Hijau dan Lingkungan.
Wacana RTH kini semakin mencuat sehubungan dengan kasus-kasus bencana lingkungan dan
wacana perubahan iklim. Pemerintah Pusat sudah menetapkan UU no. 26 tahun 2007 tentang
pengaturan luas RTH ideal sebesar 30% dari luas wilayah kota. Usaha perlindungan terhadap

                                               11

 
ruang terbuka tidak dapat ditunda lagi, mengingat terdapat peningkatan kebutuhan akan lahan
untuk pembangunan fasilitas baru. Hal ini juga terjadi di Sawahlunto, dimana lereng-lereng terjal
yang mengelilingi kota kini sedikit demi sedikit sudah mulai dirambah untuk permukiman.
Selain dikuatirkan beresiko longsor, pembuatan perumahan di daerah lereng bukit akan
mengurangi luasan ruang hijau. Dipastikan bila keadaan ini dibiarkan maka, ciri perbukitan yang
mencirikan keunikan bentang alam Sawahlunto akan tergerus oleh pembangunan.
Berbicara mengenai RTH, maka tidak lepas dari persoalan penanaman vegetasi. Sayang sekali
pohon-pohon asem yang pernah menaungi di sepanjang koridor Jl. Ahmad Yani, yang juga
banyak digunakan pada masa kolonial sebagai pohon peneduh di banyak kota di Indonesia, telah
hilang. Padahal signifikansi kesejarahan tidak terbatas pada bentuk dan langgam/gaya bangunan,
namun juga dapat diwujudkan oleh bentukan ruang terbuka/hijau, dan/ataupun melalui
keberadaan tanaman/vegetasi tertentu.
    4. Penataan Ruang Publik dan Jalur Pedestrian
Sebagaimana yang diindikasikan dalam Indikator Pembangunan Rencana Pengembangan Kota
Wisata Tambang Sawahlunto, khususnya tentang kondisi ruang publik, perbaikan jalur
pedestrian juga merupakan bagian dari program revitalisasi di Sawahlunto.16 Upaya perbaikan ini
memang diperlukan untuk memfasilitasi kebutuhan pejalan. Dengan mempertimbangkan kondisi
jarak yang relatif dekat pencapaian dengan berjalan merupakan suatu upaya yang ideal, bebas
polusi dan menyehatkan. Peningkatan jalur pedestrian pada beberapa tempat menjadi bukti
kepedulian pihak Pemkot untuk memperbaiki fasilitas ruang publik. Dengan kata lain, jika ruang
publik terpelihara baik, maka hal ini mengindikasikan pemahaman masyarakat akan barang
kepemilikan (property) kota dan kemampuan pemerintah dalam melaksanakan tata pamong
(good governance). Alangkah lebih baik, bila dalam perencanaan perbaikan jalur pedestrian
tersebut juga dapat merujuk KepMen PU no. 468/KPTS/tahun 1998 tentang Persyaratan Teknis
Aksesibilitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan. Meski terkesan sederhana, namun
penerapan ini memiliki tujuan mulia, yakni memberikan kemudahan aksesibilitas semua
pengguna, baik itu orang sehat, orang tua dan bahkan anak-anak. Lebih lanjut, penyediaan
fasilitas in memacu orang untuk berjalan dan menjadi sehat! Penyediaan fasilitas taman publik
(Taman Segitiga) di muka bangunan kantor PTBA-UPO merupakan suatu contoh pemanfaatan
ruang kota yang sangat baik.
    5. Strategi Pengembangan Kepariwisataan.
Globalisasi dan perkembangan modern tentang kegiatan wisata mengharuskan adanya pemikiran
komprehensif tentang pemanfaatan aset bersejarah kota Sawahlunto. Dalam konteks pariwisata,
keunggulan kompetitif dalam era globalisasi justru terletak kepada keunikan-keunikan alam dan
budaya lokal.17 Pemanfaatan budaya tercakup upaya-upaya mengunakan hasil-hasil budaya
untuk berbagai keperluan, antar lain untuk menekankan citra identitas suatu bangsa, pendidikan
kesadaran budaya (internalisasi dan apresiasi multikultural), dijadikan muatan industri budaya
dan dijadikan daya tarik wisata.18 Sawahlunto dengan segala keunikannya memberikan
kemungkinan-kemungkinan pengembangan kegiatan wisata budaya. Upaya pembukaan fasilitas
hiburan/rekreasi seperti water boom di Muaro Kalaban, merupakan strategi jangka pendek, dan
tidak boleh hanya berhenti sampai di sana. Artinya, Pemkot harus tetap memikirkan bagaimana
prospek kegiatan Wisata Budaya, berupa apresiasi terhadap peninggalan artefak bersejarah,
                                                            
16
   Lih. juga Rencana Kota Wisata Tambang Sawahlunto, 2001
17
   Jakob Oetama, Politik Kepariwisataan dalam Pariwisata Indonesia, P3K ITB, 2004
18
   Edi Sedyawati, Pariwisata dan Pengembangan Budaya dalam Pariwisata Indonesia, P3K ITB, 2004
                                                               12

 
misalnya bangunan/lingkungan, termasuk juga intangible heritage dapat dilestarikan agar tetap
dapat dikenali oleh generasi mendatang. Hal ini memang merupakan tugas bersama yang tidak
mudah, namun demikian bukanlah hal yang mustahil.

[5]     Catatan Akhir

        Makalah ini membahas upaya pemanfaatkan kembali potensi dan keunggulan kota
tambang Sawahlunto; dari kota yang berbasis usaha ekonomi/kegiatan pertambangan kepada
kegiatan pengembangan pariwisata (wisata budaya). Berbagai upaya penataan fisik telah
dilakukan untuk pencapaian dan target visi 2020, melalui upaya pelestarian sisa-sisa peninggalan
aktifitas pernambangan, termasuk kota lama Sawahlunto. Kegiatan tersebut dikemas dalam
program revitalisasi kota dengan pendekatan konservasi/pelestarian. Pelestarian lebih dari
sekedar upaya pemanfaatan kembali, namun juga upaya memberikan makna baru (interpretasi).
Proses transformasi yang terjadi memerlukan pemahaman kritis tentang makna kota daripada
sekedar me-museum-kan artefak bersejarah beserta kehidupannya. Oleh karenanya, diperlukan
suatu pemahaman kritis tentang pendekatan konservasi dalam upaya mendaur ulang kota.
        Dari uraian di atas, maka disimpulkan beberapa catatan bahwa kegiatan revitalisasi
sejatinya terdiri dari tiga aspek:
    1. Intervensi fisik, sebagai sebuah strategi jangka pendek diperlukan untuk membentuk
        kondisi yang kondusif untuk mewadahi aktifitas dan kegiatan baru.
    2. Pengembangan ekonomi lokal, merupakan mekanisme tindak lanjut untuk mendukung
        hasil-hasil yang diperoleh melalui intervensi fisik. Oleh karenanya pengembangan
        ekonomi lokal ini diperlukan dan sekaligus berperan sebagai penjamin keberlangsungan
        aktifitas yang direncanakan
    3. Rehabilitasi sosial dan pengembangan kepranataan/kelembagaan, sejalan dengan
        pengembangan ekonomi lokal, diharapkan dapat terwujud adanya perbaikan tingkat
        sosial struktur lokal yang ada, serta sekaligus merupakan bahan bagi pembentukan sistem
        kelembagaan yang natinya akan menjamin keberlangsung kegiatan revitalisasi ini.

       Kota Sawahlunto melalui upaya-upaya kegiatan perbaikan fisik telah berupaya keras
untuk mencapai kondisi optimal. Meski masih terdapat kekurangan dan banyak pekerjaan rumah
yang harus dibenahi, namun apa yang sudah dicapai selama ini patut mendapat apresiasi yang
baik. Paling tidak, Sawahlunto yang baru saja merayakan hari jadinya yang ke-119 pada bulan
November 2007, telah berupaya untuk mencoba berbagai terobosan, meskipun tidak selalu
mendapatkan hasil yang seperti diharapkan. Lesson learned berharga ini memang tidak saja
memerlukan keberanian para stakeholder-nya, tetapi juga komitmen bersama dalam
merealisasikan visi sebagai Kota Tambang yang Berbudaya.

[6]     Pustaka
Asoka, Andi et al., Sawahlunto, Dulu, Kini dan Esok. Menyongsong Kota Wisata Tambang yang Berbudaya, Pusat
        Studi Humaniora (PSH) Universitas Andalas dan Kantor Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Sawahlunto,
        Sumatera Barat, Padang 2005
Durth, Werner/Winfried Nerdinger, Architektur und Städtebau der 30er/40er Jahre, Schriftenreihe des Deutschen,
        Nationallkomitees für Denkmalschutz, Band 46, Bonn (?)
Eichstaedt, Gerd-Schmidt, Stadtökologie, Lebensraum Groβstadt, Mannheim 1996
Föhl, Axel, Bauten der Industrie und Technik, Schriftenreihe des Deutschen Nationallkomitees für Denkmalschutz,
        Band 47, Bonn (?)
                                                      13

 
Gauzin-Müller, Dominique, Nachhaltigkeit in Architektur und Städtebau, Konzepte, Technologien, Beispiele,
          Birkhäuser-Verlag für Architektur, Basel, 2002
Horkheimer, Max and Adorno, T. W., Dialektik der Aufklärung, Fischer Wissenschaft, Frankfurt am Main, 1995
Ipsen, Detlev, Die Modernisierung der Gesellschaft und die Rolle des Denkmalschutzes, Kassel, 1998
Kuswartojo, Tjuk, Sawahlunto 2020, Agenda mewujudkan Kota Wisata Tambang yang Berbudaya, Pemerintah
          Kota Sawahlunto, LPM ITB, Bandung 2001
Martokusumo, Widjaja: Revitalisasi dan Rancang Kota: Beberapa Catatan dan Konsep Penataan Kawasan Kota
       Berkelanjutan, Jurnal Peencanan Wilayah dan Kota Vo. 17, No. 3 Desember 2006
Moughtin, Cliff, Urban Design, Green Dimensions, Elsevier, Oxford, second edition, 2005
Miko, Alfan (ed.), Dinamika Kota Tambang Sawahlunto, dari Ekonomi Kapitalis ke Ekonomi Rakyat, Andalas
          University Press, Padang 2006
Newman, Peter/Kenworthy, Jeffrey, Sustainability and Cities, Overcoming, Automobile Dependence, Island press,
          Washington DC, 1999
Norberg-Schulz, Christian, Genius Loci: Towards a Phenomenology of Architecture, New York 1984.
Oetama, Jakob, Politik Kepariwisataan dalam Pariwisata Indonesia, P3K ITB, 2004
Punter, John/Carmona, Matthew, The Design Dimension of Planning. Theory, Content and Best Practice for Design
         Policies, New York, 1997
Roseland, Mark, Toward Sustainable Communities. A Resource Book for Municipal and Local Governments,
          National Round Table on the Environment and the Economy, Ontario, 1992.
Saliya, Yuswadi, Perjalanan Malam Hari, IAI Jawa Barat-Departemen Arsitektur ITB, Bandung 2003
Schittich, Christian, Building in existing fabric: Refurbishment, extensions and new design, Birkhäuser, Bassel,
          2003
Sedyawati, Edi, Pariwisata dan Pengembangan Budaya dalam Pariwisata Indonesia, P3K ITB, 2004
Thomas, Michael J.: 1996, Conservation of the urban: issues and politics, Working paper no. 168, Oxford Brookes
         University, School of Planning.
Tiesdell, Steven et al., Revitalizing Historic Urban Quarters, Oxford 1996
Ward, Stephen V., Planning the Twentieth-Century City, the advanced capitalist world, Chicheser, West Sussex,
         2002
Wiryomartono, A. Bagoes P., Seni Bangunan dan Seni Binakota di Indonesia, Jakarta 1995.
Zubir, Zaiyardam, Pertempuran nan tak Kunjung Usai, Eksploitasi Buruh Tambang Batubara Ombilin oleh Kolonial
         Belanda 1891-1927, Andalas University Press, Padang 2006



______________: Internationale Bauausstellung Emscher-Park, Werkstatt für die Zukunt alter Industriegebiete, Der
       Minister für Stadtentwicklung. Wohnen und Verkehr des Landes Nordrhein-Westfalen, Düsseldorf 1993
______________: Internationale Bauausstellung Emscher-Park, Katalog zum Stand der Projekte, Frühjahr 1993,
       Gelsenkirchen 1993
______________: Sawahlunto, Kota Wisata Tambang yang Berbudaya, Pemda Kota Sawahlunto 2005
______________: Menapak Jejak Tambang di Sawahlunto. Kumpulan Tulisan Kegiatan Revitalisasi Kota Tambang
       Sawahlunto, tugas mata kuliah RK 7112 Topik Khusus dalam Rancang Kota semester I 2007/2008,
       Program Studi Rancang Kota SAPPK ITB, Bandung 2008
______________: Rencana Kota Wisata Tambang Sawahlunto, Pemerintah Daerah Kota Sawahlunto bekerjasama
       dengan LPM ITB, November 2001
______________: Laporan Revitalisasi Kota Lama Sawahlunto, Ditjen Kotdes Wilayah Barat, Departemen
Kimpraswil, Juli 2005




                                                      14

 

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Stats:
views:521
posted:8/9/2010
language:Indonesian
pages:14