File BAB BAB II TINJAUAN PUSTAKA A Tinjauan Teori Lochia

Document Sample
File BAB BAB II TINJAUAN PUSTAKA A Tinjauan Teori  Lochia Powered By Docstoc
					                                    BAB II

                           TINJAUAN PUSTAKA



A. Tinjauan Teori

   1. Masa nifas

      a. Pengertian

              Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari

         persalinan selesai sampai alat – alat kandungan kembali seperti

         pra – hamil. Lama masa nifas ini yaitu 6 – 8 minggu (Mochtar, 2002).

              Masa nifas atau masa puerperium adalah masa dimulai setelah

         partus selesai, dan berakhir setelah kira – kira 6 minggu

         (Wiknjosastro, 2005).

               Masa nifas (puerperium) adalah masa dimulai setelah kelahiran

         plasenta dan berakhir ketika alat – alat kandungan kembali seperti

         keadaan sebelum hamil selama 6 minggu (Saifudin, A.B 2002).

      b. Periode nifas

         Menurut Rustam Mochtar nifas dibagi menjadi 3 periode :

         1) Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan

             berdiri dan berjalan – jalan,

         2) Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat – alat

             genetalia yang lama 6 – 8 minggu,

         3) Remote puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan

             sehat sempurna terutama         bila   selama hamil   atau waktu




                                       5
      persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna

      bisa berminggu – minggu, bulanan atau tahunan.

c. Perubahan – perubahan

   1) Perubahan fisik

           Terjadi pada uterus yaitu uterus-uterus secara berangsur –

      angsur menjadi kecil (involusi) sehingga akhirnya kembali seperti

      sebelum hamil.

           Tinggi fundus uterus dan berat uterus menurut masa involusi.

                                        Tabel 2.1

              Involusi                  TFU                Berat uterus

            Bayi lahir      Setinggi pusat                 1000 gram

            Uri lahir       2 jari bawah pusat             750 gram

            1 minggu        Pertengahan pusat simfisis     500 gram

            2 minggu        Tidak teraba diatas simfisis   350 gram

            6 minggu        Bertambah kecil                50 gram

            8 minggu        Sebesar normal                 30 gram



           Bekas Implantasi uri yaitu placenta mengecil karena

      kontraksi dan menonjol kekavum uteri dengan diameter 7,5 cm.

      Sesudah 2 minggu menjadi 3,5 cm, pada minggu ke enam 2,4 cm

      dan akhirnya pulih.

           Luka – luka yaitu Luka pada jalan lahir bila tidak disertai

      infeksi akan sembuh dalam 6 – 7 hari.




                                 6
      Rasa sakit ini disebut after pains, disebabkan kontraksi

rahim. Biasanya rasa sakit ini berlangsung 2 – 4 hari pasca

persalinan.

      Lochia adalah cairan sekret yang berasal dari kavum uteri dan

vagina dalam masa nifas. Ada beberapa tahap atau proses lochia

yaitu :

a) Lochia Rubra yaitu berisi darah segar dan sisa – sisa selaput

    ketuban. Sel – sel desidua, verniks kaseosa, lanugo dan

    mekonium, selama 2 hari pasca persalinan.

b) Lochia sanguinolenta yaitu berwarna merah kuning berisi darah

    dan lendir. Lochia ini terjadi keluar pada hari ke 3 – 7 pasca

    persalinan.

c) Lochia Serosa yaitu berwarna kuning, cairan tidak berdarah

    lagi. Terjadi pada hari ke 7 – 14 pasca persalinan.

d) Lochia alba yaitu cairan putih, terjadi setelah 2 minggu pasca

    persalinan.

e) Lochia purulenta yaitu terjadi infeksi keluar cairan seperti

    nanah berbau busuk.

      Servik terjadi perubahan setelah persalinan bentuk servik

agak menganga seperti corong berwarna merah kehitaman,

konsistensinya lunak. Kadang – kadang terdapat perlukaan,

perlukaan kecil. Setelah bayi lahir, tangan masih bisa masuk




                          7
          rongga rahim, setelah 2 jam dapat dilalui oleh 2 – 3 jari dan setelah

          7 hari hanya dapat dilalui 1 jari.

                Ligamen, fasia dan diafragma pelvis yang meregang pada

          waktu persalinan, setelah bayi lahir secara berangsur – angsur

          menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus ke

          belakang dan menjadi retrofleksi, karena ligamentum rotundum

          menjadi kendor.

      2) Perubahan Psikologi

                Gangguan psikologis yang sering terjadi pada masa nifas

          meliputi :

          a) Post      partum   blues       adalah   merupakan   kesedihan   atau

              kemurungan setelah melahirkan, biasanya hanya muncul

              sementara waktu yakni sekitar dua hari hingga dua minggu

              sejak kelahiran bayi ditandai dengan cemas tanpa sebab,

              menangis tanpa sebab, tidak percaya diri, sensitif, mudah

              tersinggung dan merasa kurang menyayangi bayinya.

          b) Post partum syndrome (pps) adalah merupakan kesedihan dan

              kemurungan yang biasa bertahan dua sampai satu tahun,

              Depresi post partum adalah ibu yang merasakan kesedihan

              kebebasan, interaksi sosial, dan kemandiriannya berkurang.

2. Perawatan Pasca Persalinan

        Menurut Rustam Mochtar (2002) perawatan masa nifas meliputi

   berbagai hal yaitu :




                                        8
a. Mobilisasi karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat,

   tidur terlentang selama 8 jam pasca persalinan. Kemudian boleh

   miring – miring ke kanan dan ke kiri untuk mencegah terjadinya

   trombosis dan tromboemboli.Pada hari ke 2 diperbolehkan duduk, hari

   ke 3 jalan – jalan, hari ke 4 atau ke 5 sudah diperbolehkan pulang.

   Mobilisasi diatas mempunyai variasi, bergantung pada komplikasi

   persalinan, nifas dan sembuhnya luka – luka.

b. Diet makanan harus bermutu, bergizi dan cukup kalori. Sebaiknya

   makan – makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur –

   sayuran dan buah – buahan.

c. Miksi hendaknya kencing dapat dilakukan sendiri secepatnya.

   Kadang – kadang wanita mengalami sulit kencing, karena sfingter

   uretra ditekan oleh kepala janin dan spasme oleh iritasi muskulus

   sfingter ani selama persalinan, juga oleh karena adanya edema

   kandung kemih yang terjadi selama persalinan. Kandung kemih penuh

   dan wanita sulit kencing, sebaiknya dilakukan katererisasi.

d. Defekasi buang air besar harus dilakukan 3 – 4 hari pasca persalinan.

   Bila masih sulit buang air besar dan terjadi obstipasi apalagi berak

   keras dapat diberikan obat laksons per oral atau per rektal. Jika masih

   belum bisa dilakukan klisma.

e. Perawatan payudara (mammae) telah dimulai sejak wanita hamil

   supaya punting susu lemas, tidak keras dan kering, sebagai persiapan

   untuk menyusui bayinya. Bila bayi meninggal laktasi harus dihentikan




                                  9
      dengan cara pembalutan mammae sampai tertekan. Pemberian obat

      esterogen seperti tablet lynoral. Dianjurkan sekali supaya ibu

      menyusukan bayinya karena sangat baik untuk kesehatan bayinya.

   f. Laktasi untuk menghadapi masa laktasi (menyusukan) sejak dari

      kehamilan telah terjadi perubahan – perubahan pada kelenjar mammae

      yaitu proliferasi jaringan pada kelenjar – kelenjar, alveoli dan jaringan

      lemak bertambah,keluar cairan susu jolong dari duktus laktiferus

      disebut kolostrum bewarna kuning – kuning susu, hipervasularisasi

      pada permukaan dan bagian dalam dimana vena – vena berdilatasi

      sehingga tampak jelas

   g. Perawatan luka perineum.

      Perawatan luka persalinan selengkapnya akan dijelaskan lebih lanjut

      pada penjelasan

3. Luka Perineum

   a. Pengertian

         Luka perineum adalah luka pada perineum karena adanya robekan

      jalan lahir baik maupun karena episiotomi pada waktu melahirkan

      janin (Wiknjosastro, 2005). Ruptura perineum adalah robekan yang

      terjadi pada perineum sewaktu persalinan (Mochtar, 2002). Robekan

      jalan lahir adalah luka atau robekan jaringan yang tidak teratur

      (Depkes RI 2004).




                                   10
b. Bentuk Luka Perineum

   Bentuk luka perineum setelah melahirkan ada 2 macam yaitu :

   1) Rupture

             Rupture adalah luka pada perineum yang diakibatkan oleh

      rusaknya jaringan secara alamiah karena proses desakan kepala

      janin atau bahu pada saat proses persalinan. Bentuk rupture

      biasanya tidak teratur sehingga jaringan yang robek sulit dilakukan

      penjahitan (Hamilton, 2002).

   2) Episotomi

             Episiotomi adalah sebuah irisan bedah pada perineum

      untuk memperbesar muara vagina yang dilakukan tepat sebelum

      keluarnya kepala bayi (Eisenberg, A., 2003).

             Episiotomi, suatu tindakan yang disengaja pada perineum

      dan vagina yang sedang dalam keadaan meregang. Tindakan ini

      dilakukan jika perineum diperkirakan akan robek teregang oleh

      kepala janin, harus dilakukan infiltrasi perineum dengan anestasi

      lokal, kecuali bila pasien sudah diberi anestasi epiderual. Insisi

      episiotomi dapat dilakukan di garis tengah atau mediolateral. Insisi

      garis tengah mempunyai keuntungan karena tidak banyak

      pembuluh darah besar dijumpai disini dan daerah ini lebih mudah

      diperbaiki (Jones Derek, 2002).




                               11
c. Etiologi

   1) Penyebab Maternal

       a) Partus presipitatus yang tidak dikendalikan dan tidak ditolong,

       b) Pasien tidak mampu berhenti mengejan,

       c) Partus diselesaikan secara tergesa-gesa dengan dorongan

          fundus yang berlebihan,

       d) Edema dan kerapuhan pada perineum.

   2) Faktor Janin

       a) Bayi besar,

       b) Posisi kepala yang abnormal,

       c) Kelahiran bokong,

       d) Ekstraksi forcep yang sukar

       e) Distosia bahu.

d. Klasifikasi laserasi perineum menurut Wiknjosastro, (2005).

   1) Robekan derajat 1

              Meliputi mukosa vagina, kulit perineum tepat dibawahnya.

       Umumnya robekan tingkat 1 dapat sembuh sendiri penjahitan tidak

       diperlukan jika tidak perdarahan dan menyatu dengan baik.

   2) Robekan derajat 2

              Meliputi mucosa vagina, kulit perineum dan otot perineum.

       Perbaikan luka dilakukan setelah diberi anestesi lokal kemudian

       otot-otot diafragma urogenitalis dihubungkan di garis tengah




                               12
      dengan jahitan dan kemudian luka pada vagina dan kulit perineum

      ditutupi dengan mengikut sertakan jaringan – jaringan dibawahnya.

   3) Robekan derajat 3

               Meliputi mucosa vagina, kulit perineum, otot perineum dan

      otot spingterani eksternal. Pada robekan partialis denyut ketiga

      yang robek hanyalah spingter pada robekan yang total spingter

      recti terpotong dan laserasi meluas sehingga dinding anterior

      rectum dengan jarak yang bervariasi. Keadaan ini disebut dengan

      robekan derajat keempat.

               Perbaikan pada robekan tingkat tiga harus dilakukan

      dengan teliti mula-mula dinding depan rektum yang robek dijahit

      kemudian pada muskulus spingter ani eksternus yang robek dijahit.

      Selanjutnya dilakukan penutupan robekan seperti diuraikan untuk

      robekan perineum derajat dua. Untuk mendapatkan hasil yang baik

      harus diberikan terapi pada robekan perineum total dan perlu

      diadakan penanganan pasca pembedahan yang sempurna.

e. Perawatan luka perineum

            Perawatan luka perineum adalah membersihkan daerah vulva

   dan perineum pada ibu yang telah melahirkan sampai 42 hari pasca

   salin dan masih menjalani rawat inap di rumah sakit (Wiknjosastro,

   2005).

            Menurut Halminton perawatan perineum adalah pemenuhan

   kebutuhan untuk menyehatkan daerah antara paha yang dibatasi vulva




                               13
   dan anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran placenta sampai

   dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil

   (Setiady, 2006).

f. Lingkup Perawatan

          Menurut Feerer lingkup perawatan perineum ditujukan untuk

   pencegahan infeksi organ-organ reproduksi yang disebabkan oleh

   masuknya mikroorganisme yang masuk melalui vulva yang terbuka

   atau akibat dari perkembangbiakan bakteri pada peralatan penampung

   (pembalut) lochea (Setiady, 2006).

          Sedangkan menurut Hamilton, lingkup perawatan perineum

   adalah Mencegah kontaminasi dari rektum, menangani dengan lembut

   pada jaringan yang terkena trauma, bersihkan semua keluaran yang

   menjadi sumber bakteri dan bau (Setiady, 2006).

g. Waktu Perawatan

   Menurut Feerer waktu perawatan perineum adalah

   1) Saat mandi

              Pada saat mandi ibu post partum pasti melepas pembalut

      setelah terbuka maka ada kemungkinan terjadi kontaminasi bakteri

      pada cairan yang tertampung pada pembalut untuk itu maka perlu

      dilakukan penggantian pembalut demikian pula pada perineum ibu

      untuk itu diperlukan pembersihan perineum.




                              14
   2) Setelah buang air kecil

               Pada saat buang air kecil pada saat buang air kecil

      kemungkinan besar terjadi kontaminasi air seni pada rektum

      akibatnya dapat memicu pertumbuhan bakteri pada perineum untuk

      itu diperlukan pembersihan perineum.

   3) Setelah buang air besar.

      Pada saat buang air besar diperlukan pembersihan sisa-sisa kotoran

      disekitar anus untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri dari

      anus ke perineum yang letaknya bersebelahan maka diperlukan

      proses pembersihan anus dan perineum secara keseluruhan.

h. Tujuan perawatan luka perineum

   1) Mencegah iritasi dan infeksi

   2) Meningkatkan rasa nyaman ibu

   3) Mengurangi rasa nyeri.

i. Alat-alat yang digunakan untuk perawatan luka perineum

   1) Kapas.

   2) Air Dekonstaminasi Tingkat Tinggi

   3) Betadine

   4) Kassa steril

   5) Pembalut bersih

   6) Celana dalam yang bersih

   7) Air cebok dan septik / rebusan daun sirih.




                                 15
j. Cara kerja

   1) Melakukan cuci tangan.

   2) Mengatur posisi ibu yang nyaman jika di tempat tidur posisi semi

      fowler / fowler, lutut ditekuk.

   3) Membuka baju bagian bawah.

   4) Membersihkan paha bagian atas dan keringkan (kiri dan kanan).

   5) Bersihkan lipatan bagian atas (labia mayora) dengan tangan kiri

      menarik lipatan ke atas, tangan kanan membersihkan dengan hati-

      hati lipatan vulva. Usap dari perineum ke arah atas, ulangi pada sisi

      yang berlawanan.

   6) Regangkan lipatan bagian atas (labia mayora) dengan tangan kiri.

      Tangan kanan yang lain membersihkan dari area bagian atas

      lipatan (pubis) ke lubang tempat buang air besar (anus) dengan satu

      kali usapan gunakan kapas yang berbeda. Area yang dibersihkan

      yaitu lipatan bagian dalam (labia minora, kriteria dan oripicium

      vagina).

   7) Tuangkan air hangat ke area perineum dan keringkan.

   8) Merubah posisi dengan posisi miring.

   9) Bersihkan area anus dari kotoran dan feses jika ada bersihkan dari

      arah depan (vagina) ke belakang (anus) dengan satu ucapan ulangi

      dengan kapas yang berbeda sampai bersih.

   10) Keringkan dengan handuk. Pasang pembalut pada celana dalam..




                                16
     11) Celupkan pada kasa steril ke dalam larutan betadine, peras dan

        tempelkan di daerah perineum (bila ada jahitan) atau bila ada salep

        dioleskan.

     12) Pasang celana dalam yang sudah dipasang pembalut, kemudian

        dirapikan.

     13) Pakai pakaian dalam.

     14) Cuci tangan.

k.   Hal-hal yang harus diperhatikan dalam perawatan luka perineum

     1) Untuk mengurangi rasa sakit saat buang air besar yaitu ibu

        dianjurkan banyak mengkonsumsi serat seperti buah-buahan dan

        sayur

     2) Dengan kondisi robekan yang terlalu luas pada anus hindarkan

        banyak bergerak pada minggu pertama karena bisa merusak otot-

        otot perineum, ibu harus banyak duduk dan berbaring. Hindari

        berjalan karena akan membuat otot perineum tergeser

     3) Hindari penggunaan obat – obat tradisional pada perineum

     4) Cuci perineum dengan sabun dan air bersih yang mengalir 3-4 kali

        perhari.

     5) Kembali dalam seminggu untuk memeriksa penyembuhan. Ibu

        harus kembali lebih awal jika gejala-gejala seperti demam

        mengeluarkan cairan yang berbau busuk dari daerah lukanya atau

        jika daerah luka menjadi nyeri.




                                17
   6) Menasehati pasien untuk membersihkan daerah perineum setiap

      hari. Periksa daerah jahitan untuk tanda-tanda perdagangan atau

      pembengkakan, bila resiko infeksi besar (misalnya pada robekan

      tingkat 3 dan 4 atau penjahitan tidak sepenuhnya steril), berikan

      amoksilin 3 x 500 mg/hari (Depkes RI, 1999).

   7) Memberikan antibiotika (ampisilin 2 gram dan metranidazol 1

      gram peroral). Terapi penuh antibiotika hanya diberikan apabila

      luka tampak kotor atau dibubuhi ramuan tradisional atau terdapat

      tanda-tanda infeksi yang jelas (Saifudin,A.B, 2002).

l. Faktor yang Mempengaruhi Perawatan Perineum

   1) Faktor gizi terutama protein akan sangat mempengaruhi terhadap

      proses penyembuhan luka pada perineum karena penggantian

      jaringan sangat membutuhkan protein.

   2) Obat-obatan yaitu steroid dapat menyamarkan adanya infeksi

      dengan menggangu respon inflamasi normal, antikoagulan dapat

      menyebabkan hemoragi, antibiotik spektrum luas / spesifik efektif

      bila diberikan segera sebelum pembedahan untuk patolagi spesifik

      atau kontaminasi bakteri. Jika diberikan setelah luka ditutup, tidak

      efektif karena koagulasi intrvaskular.

   3) Keturunan     sifat   genetik   seseorang   akan       mempengaruhi

      kemampuan dirinya dalam penyembuhan luka. Salah satu sifat

      genetik yang mempengaruhi adalah kemampuan dalam sekresi




                               18
      insulin dapat dihambat sehingga menyebabkan glukosa darah

      meningkat. Dapat terjadi penipisan protein-kalori.

   4) Sarana prasarana merupakan kemampuan ibu dalam menyediakan

      sarana dan prasarana dalam perawatan perineum akan sangat

      mempengaruhi penyembuhan perineum misalnya kemampuan ibu

      dalam menyediakan antiseptik.

   5) Budaya dan Keyakinan akan mempengaruhi penyembuhan

      perineum misalnya kebiasaan makan telur, ikan dan daging ayam

      akan   mempengaruhi      asupan   gizi   ibu   yang   akan   sangat

      mempengaruhi penyembuhan luka.

m. Dampak Dari Perawatan Luka Perinium

          Perawatan perineum yang dilakukan dengan baik dapat

   menghindarkan hal berikut ini :

          Infeksi merupakan kondisi perineum yang terkena lokia dan

   lembab akan sangat menunjang perkembangbiakan bakteri yang dapat

   menyebabkan timbulnya infeksi pada perineum.

          Komplikasi merupakan munculnya infeksi pada perineum

   dapat merambat pada saluran kandung kemih ataupun pada jalan lahir

   yang dapat berakibat pada munculnya komplikasi infeksi kandung

   kemih maupun infeksi pada jalan lahir.

          Menurut Suwiyoga kematian ibu post partum apabila

   penanganan komplikasi yang lambat dapat menyebabkan terjadinya




                               19
      kematian pada ibu post partum mengingat kondisi fisik ibu post partum

      masih lemah (Setiady, 2006).

   n. Infeksi luka perineum

             Infeksi bisa terjadi karena ibu kurang telaten melakukan

      perawatan pasca persalinan. Ibu takut menyentuh luka yang ada

      diperineum sehingga memilih tidak membersihkannya padahal dalam

      keadaan luka perineum rentang didatangi kuman dan bakteri sehingga

      mudah terinfeksi. Gejala – gejala infeksi yang dapat diamati adalah :

      1) Suhu tubuh tinggi melebihi 37,50C.

      2) Menggigil, pusing dan mual.

      3) Keputihan.

      4) Keluar cairan seperti nanah dari vagina.

      5) Cairan yang keluar disertai bau yang menyengat.

      6) Keluarnya cairan disertai dengan rasa nyeri.

      7) Terasa nyeri diperut.

      8) Perdarahan kembali banyak padahal sebelumnya sudah sedikit.

          Misalnya    seminggu    sesudah   melahirkan    perdarahan    mulai

          berkurang tiba-tiba darah kembali keluar banyak sekali.

4. Pengetahuan

   a. Pengertian

             Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi

      setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

      (Notoatmodjo, 2007). Penginderaan terjadi melalui panca indera




                                  20
   manusia, yakni : indera pengelihatan, pendengaran, penciuman, rasa

   dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata

   dan telinga. (Notoatmodjo, 2007)

b. Pentingnya Pengetahuan (Notoatmodjo, 2007)

         Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat

    penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Over Behaviour).

    Dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh

    pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak

    didasari oleh pengetahuan. Sebelum orang mengadopsi perilaku baru

    (berperilaku baru didalam diri seseorang terjadi proses yang berurutan

    yakni:

    1) Awareness (kesadaran) dimana orang tersebut menyadari dalam

       arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).

    2) Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut.

       Disini sikap subjek sudah mulai timbul

    3) Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya

       stimulus tersebut bagi dirinya.

    4) Trial, sikap dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu

       sesuai dengan apa yang kehendaki oleh stimulus.

    5) Adaption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan

       pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.

        Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui

   proses seperti ini, dimana didasari oleh pengetahuan, kesadaran




                               21
   dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng

   (long lasting). Sebaliknya, apabila perilaku itu tidak didasari oleh

   pengetahuan dan kesadaran akan tidak berlangsung lama. Jadi,

   pentingnya pengetahuan disini adalah dapat menjadi dasar dalam

   merubah perilaku sehingga perilaku itu langgeng. (Notoatmodjo, 2007)

c. Tingkat Pengetahuan

          Pengetahuan     yang     dicakup     didalam    domain       kognitif

   mempunyai 6 tingkatan (Notoatmodjo, 2007), yaitu :

   1) Tahu (Know)

      Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah

      dipelajari sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini

      adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik,

      dan seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah

      diterima. Oleh sebab itu, "tahu" ini adalah merupakan tingkat

      pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur

      bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain :

      menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan

      sebagainya.

      Contoh : dapat menyebutkan tanda-tanda kanker leher rahim.

   2) Memahami (Comprehension)

      Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan

      secara   benar    tentang    objek     yang   diketahui,   dan     dapat

      menginterpretasi materi tersebut secara benar. Orang yang telah




                                  22
   paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,

   menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramaikan dan sebagainya

   terhadap objek yang telah dipelajari. Misalnya dapat menjelaskan

   mengapa harus makan makanan yang bergizi.

3) Aplikasi (Application)

   Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi

   yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang riil

   (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau

   penggunaan     hukum-hukum,       rumus,   metode,   prinsip     dan

   sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat

   menggunakan rumus statistik dalam Penghitungan-penghitungan

   hasil   penelitian, dapat     menggunakan prinsip-prinsip      siklus

   pemecahan masalah (problem solving cycle) didalam pemecahan

   masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.

4) Analisis (Analysis)

   Analisis adalah suatu kemampuan untuk Menjabarkan materi atau

   objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam suatu

   struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama

   lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan

   kata-kata kerja : dapat menggambarkan (membuat bagan),

   membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.




                            23
   5) Sintesis (Syntesis)

      Sintesis Menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan

      atau   menghubungkan          bagian-bagian      didalam   suatu   bentuk

      keseluruhan yang baru. Dengan kata lain, sintesis itu suatu

      kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-

      formulasi     yang     ada.        Misalnya   dapat   menyusun,      dapat

      merencanakan,        dapat    meringkas,      dapat   menyesuaikan    dan

      sebagainya.

   6) Evaluasi (Evaluation)

      Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

      justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.

      Penilaian-penilaian ini berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan

      sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

          Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara

   atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari

   subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin

   kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-

   tingkatan diatas. (Notoatmodjo, 2007)

d. Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku

          Perilaku merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme

   yang bersangkutan. Perilaku manusia adalah suatu aktivitas daripada

   manusia itu sendiri. Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu

   respon seseorang (organisme) terhadap stimulasi yang berkaitan




                                    24
   dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan serta

   lingkungan.     Blum    (1986)      menyatakan     ada     4    faktor      yang

   mempengaruhi derajat kesehatan pada manusia yaitu genetik

   (hereditas),    lingkungan,    pelayanan      kesehatan,       dan    perilaku.

   (Notoatmodjo, 2007)

          Menurut teori Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2007) ada

   3 faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku individu maupun

   kelompok sebagai berikut:

   1) Faktor yang mempermudah (Predisposing factor) yang mencakup

      pengetahuan, sikap, kepercayaan, norma sosial, dan unsur lain

      yang terdapat dalam diri individu maupun masyarakat.

   2) Faktor pendukung (Enabling factor) antara lain umur, status sosial

      ekonomi, pendidikan, dan sumber daya manusia.

   3) Faktor pendorong         (Reinforcing    factor)   yaitu     faktor      yang

      memperkuat perubahan perilaku seseorang yang dikarenakan

      adanya sikap suami, orang tua, tokoh masyarakat atau petugas

      kesehatan.

e. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan

   1) Pengalaman

      Pengetahuan      dapat     diperoleh    dari   pengalaman         baik   dari

      pengalaman pribadi maupun dari pengalaman orang lain.

      Pengalaman ini merupakan suatu cara untuk memperoleh

      kebenaran suatu pengetahuan.




                                  25
2) Ekonomi (pendapatan)

   Dalam memenuhi kebutuhan pokok (primer) maupun kebutuhan

   sekunder, keluarga dengan status ekonomi baik akan lebih lebih

   tercukupi bila dibandingkan keluarga dengan status ekonomi

   rendah. Hal ini akan mempengaruhi pemenuhan kebutuhan akan

   informasi pendidikan yang termasuk kedalam kebutuhan sekunder.

3) Lingkungan sosial ekonomi

   Manusia adalah makhluk sosial dimana didalam kehidupan saling

    berinteraksi satu dengan yang lainnya. Individu yang dapat

    berinteraksi lebih banyak dan baik, maka akan lebih besar ia

    terpapar informasi.

4) Pendidikan

   Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam pemberian

   respon terhadap sesuatu yang datangnya dari luar. Orang yang

   berpendidikan tinggi akan memberikan respon yang lebih rasional

   terhadap informasi yang datang dan akan berpikir sejauh mana

   keuntungan yang akan mereka dapatkan.

5) Paparan media massa atau informasi

   Melalui berbagai media, baik cetak maupun elektronik berbagai

   informasi dapat diterima oleh masyarakat sehingga seseorang

   yang lebih sering terpapar media massa (TV, radio, majalah, dan

   lain- lain) akan memperoleh informasi yang lebih banyak




                          26
         dibandingkan dengan orang yang tidak pernah terpapar informasi

         media massa.

      6) Akses layanan kesehatan atau fasilitas kesehatan

         Mudah atau sulitnya dalam mengakses kesehatan tentunya akan

         berpengaruh terhadap pengetahuan khususnya dalam hal kesehatan.

             Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara

      atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari

      subyek penelitian atau responden (Notoatmodjo, 2007).

5. Penyuluhan

   a. Pengertian

            Menurut Azrul Azwar dalam (Effendy, 1998) penyuluhan

      kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara

      menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat

      tidak saja sadar, tahu atau mengerti, tetapi juga mau dan bisa

      melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan.

            Menurut Wood (dalam Effendy, 1998) pendidikan kesehatan

      adalah sejumlah pengalaman yang berpengaruh secara menguntungkan

      terhadap kebiasaan, sikap dan pengetahuan yang ada hubungannya

      dengan kesehatan seseorang, masyarakat dan bangsa. Dari pengertian

      tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa penyuluhan kesehatan adalah

      kegiatan menyebarkan pesan atau pengetahaan sehingga masyarakat

      menjadi lebih tahu dan mengerti serta mau dan bisa melakukan anjuran

      yang ada hubungannya dengan kesehatan.




                                 27
b. Tujuan Penyuluhan Kesehatan

   Menurut Effendy (1998) tujuan penyuluhan kesehatan yaitu :

   1) Tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat

      dalam membina dan memelihara perilaku sehat dan lingkungan

      sehat, serta berperan aktif dalam upaya mewujudkan derajat

      kesehatan yang optimal.

   2) Terbentuknya perilaku sehat pada individu, keluarga, kelompok

      dan masyarakat yang sesuai dengan konsep hidup sehat baik fisik,

      mental dan sosial sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan

      kematian.

   3) Menurut WHO adalah untuk merubah perilaku perseoranganan

      atau masyarakat dalam bidang kesehatan.

c. Proses Pendidikan Kesehatan

         Menurut Effendy (1998) di dalam kegiatan belajar terdapat tiga

   persoalan pokok, yakni:

   1) Masukan (input)

      Persoalan masuk menyangkut subjek atau sasaran belajar itu

      sendiri dengan berbagai latar belakangnya.

   2) Proses

      Persediaan proses adalah mekanisme atau proses terjadinya

      perubahan kemampuan pada diri subjek belajar. Di dalam proses

      ini terjadi pengaruh timbal balik antara berbagai faktor, antara lain




                                28
      subjek belajar, pengajar atau fasilitator belajar, metode yang

      digunakan, alat bantu belajar dan materi atau bahan yang dipelajari.

   3) Keluaran (output)

      Keluaran merupakan hasil belajar itu sendiri, yang terdiri dari

      kemampuan baru atau perubahan baru pada diri subjek belajar.

d. Sasaran Penyuluhan Kesehatan

         Menurut   Effendy    (1998)    sasaran   penyuluhan   kesehatan

   mencakup individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.

   1) Individu

      Individu yang mempunyai masalah keperawatan dan kesehatan,

      yang dapat dilakukan di rumah sakit, klinik, puskesmas, rumah

      bersalin, posyandu, keluarga binaan dan masyarakat binaan.

   2) Keluarga

      Keluarga binaan yang mempunyai masalah kesehatan dan

      keperawatan yang tergolong dalam keluarga risiko tinggi,

      diantaranya adalah :

      a) Anggota keluarga yang menderita penyakit menular

      b) Keluarga-keluarga     dengan   kondisi   sosial   ekonomi    dan

         pendidikan yang rendah.

      c) Keluarga-keluarga dengan masalah sanitasi lingkungan yang

         buruk.

      d) Keluarga-keluarga dengan keadaan gizi yang buruk.




                               29
      e) Keluarga-keluarga dengan jumlah anggota keluarga yang

            banyak di luar kemampuan kapasitas keluarga.

   3) Kelompok

      Kelompok khusus yang menjadi sasaran dalam penyuluhan

      kesehatan masyarakat, salah satunya adalah kelompok ibu nifas.

   4) Masyarakat

      a) Masyarakat binaan puskesmas

      b) Masyarakat nelayan

      c) Masyarakat pedesaan

      d) Masyarakat yang datang ke institusi pelayanan kesehatan

            seperti puskesmas, posyandu yang diberikan penyuluhan

            kesehatan secara massal.

      e) Masyarakat luas yang terkena masalah kesehatan seperti wabah

            DHF, muntah berak dan sebagainya.

e. Materi

        Menurut Effendy (1998) pesan yang akan disampaikan kepada

   masyarakat hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan kesehatan dan

   keperawatan dari individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.

   Sehingga materi yang disampaikan dapat dirasakan langsung

   manfaatnya.

        Materi yang disampaikan sebaiknya :

   1) Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti masyarakat dalam

      bahasa kesehariannya.




                                30
   2) Materi yang disampaikan tidak terlalu sulit untuk dimengerti oleh

      sasaran.

   3) Dalam penyampaian materi sebaiknya menggunakan alat peraga

      untuk mempermudah pemahaman dan untuk menarik perhatian

      sasaran.

   4) Materi atau pesan yang disampaikan merupakan kebutuhan sasaran

      dalam masalah kesehatan dan keperawatan yang mereka hadapi.

f. Metode penyuluhan kesehatan.

         Metode yang dipakai dalam penyuluhan kesehatan hendaknya

   metode yang dapat mengembangkan komunikasi dua arah antara yang

   memberikan penyuluhan terhadap sasaran, sehingga diharapkan tingkat

   pemahaman sasaran terhadap pesan yang disampaikan akan lebih jelas

   dan mudah dipahami.

         Metode yang dapat digunakan dalam penyuluhan kesehatan

   masyarakat dapat dikelompokkan dalam dua macam metode, yaitu :

   1) Metode Didaktik

      Pada metode didaktik yang aktif adalah orang yang melakukan

      penyuluhan kesehatan, sedangkan sasaran bersifat pasif dan tidak

      diberikan   kesempatan        untuk   ikut   serta   mengemukakan

      pendapatnya atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan apapun.

      Proses penyuluhan yang terjadi bersifat satu arah (one way

      method), yang termasuk dalam metode ini adalah :

       a) Secara langsung : ceramah




                               31
    b) Secara tidak langsung : poster, media cetak (majalah, buletin,

       surat kabar), media elektronik (radio, televisi)

2) Metode Sokratik

   Menurut Effendy (1998) pada metode ini sasaran diberikan

   kesempatan mengemukakan pendapat, sehingga mereka ikut aktif

   dalam proses belajar mengajar, dengan demikian terbinalah

   komunikasi dua arah antara yang menyampaikan pesan disatu

   pihak dengan yang menerima pesan di lain pihak (two way metod).

   Yang termasuk dalam metode ini adalah :

   a) Langsung: diskusi, curah pendapat, demonstrasi, simulasi,

       bermain peran (role playing), sosiodrama, simposium, seminar,

       studi kasus, dan sebagainya.

   b) Tidak langsung: penyuluhan kesehatan melalui telepon, satelit

       komunikasi (Effendy, 1998).

 Sedangkan menurut Notoatmodjo           (2003) metode pendidikan

 kesehatan dikelompokkan menjadi 3, yaitu :

1) Metode Pendidikan Individual (Perorangan)

   Metode ini digunakan untuk membina perilaku baru, atau membina

   seseorang yang mulai tertarik kepda suatu perubahan-perubahan

   perilaku atau inovasi.

2) Metode Pendidikan Kelompok

   Dalam memilih metode pendidikan kelompok, harus diingat

   besarnya kelompok sasaran serta tingkat pendidikan formal dari




                            32
      sasaran. Untuk kelompok yang besar metodenya akan lain dengan

      kelompok yang lebih kecil. Efektivitas suatu metode akan

      tergantung pula pada besarnya sasaran pendidiakan.

   3) Metode Pendidikan Massa

      Metode       pendidikan   (pendekatan)    massa       cocok   untuk

      mengkomunikasikan pesan-pesan kesehatan yang ditujukan kepada

      masyarakat. Oleh karena sasaran pendidikan ini bersifat umum,

      dalam arti tidak membedakan golongan umur, jenis kelamin,

      pekerjaan, status sosial       ekonomi, tingkat      pendidikan dan

      sebagainya, maka pesan-pesan kesehatan yang akan disampaikan

      harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat ditangkap oleh

      massa tersebut.

g. Alat Bantu Penyuluhan Kesehatan

   1) Pengertian

      Alat bantu pendidikan adalah alat-alat yang digunakan oleh

      pendidik dalam menyampaikan bahan pendidikan/pengajaran. Alat

      bantu ini sering disebut sebagai alat peraga karena berfungsi untuk

      membantu      dan   memperagakan      sesuatu   di    dalam   proses

      pendidikan/pengajaran.

   2) Manfaat

      a) Menimbulkan minat sasaran pendidikan

      b) Mencapai sasaran yang lebih banyak




                                33
   c) Membantu       dan    mengatasi      banyak     hambatan     dalam

      pemahaman.

   d) Merangsang sasaran pendidikan untuk meneruskan pesan-

      pesan yang diterima pada orang lain.

   e) Mempermudah penyampaian bahan pendidikan/informasi oleh

      para pendidik/pelaku pendidikan.

   f) Mempermudah penerimaan informasi oleh sasaran pendidikan.

   g) Mendorong keinginan orang untuk mengetahui, kemudian lebih

      mendalami, dan akhirnya medapat pengertian yang lebih baik.

   h) Membantu menegakkan pengertian yang diperoleh.

3) Macam-macam alat bantu pendidikan

   Menurut Notoatmodjo (2003) pada garis besar hanya ada tiga

   macam alat bantu pendidikan (alat peraga) yaitu :

   a) Alat bantu lihat (visual aids) yaitu alat yang dapat membantu

      untuk menstimulasi indera mata (penglihatan) pada waktu

      terjadinya proses pendidikan.

   b) Alat-alat bantu dengar (audio aids) yaitu alat yang dapat

      membantu untuk menstimulasikan indera pendengar pada

      waktu proses penyampaian bahan pendidikan/pengajaran.

      Misalnya : piring hitam, radio, pita suara, dan sebagainya.

   c) Alat bantu lihat dengar, seperti televisi, radio cassette. Alat-alat

      bantu pendidikan ini lebih dikenal dengan Audio Visual Aids

      (AVA).




                             34
   Disamping pembagian tersebut, alat peraga juga dapat dibedakan

   menjadi dua macam menurut pembuatannya dan penggunaannya,

   yaitu:

   a) Alat peraga yang complicated (rumit) seperti film-film strip

       slide dan sebagainya yang memerlukan listrik dan proyektor.

   b) Alat peraga yang sederhana, yang mudah dibuat sendiri,

       dengan bahan-bahan setempat yang mudah diperoleh seperti

       bambu, karton, kaleng bekas, bekas koran dan sebagainya.

4) Sasaran yang dicapai alat bantu pendidikan

   a) Yang perlu diketahui tentang sasaran, antara lain :

      (1). Individu atau kelompok.

      (2). Kategori-kategori        sasaran   seperti   kelompok   umur,

            pendidikan, pekerjaan dan sebagainya.

      (3). Bahasa yang mereka gunakan.

      (4). Adat istiadat serta kebiasaan.

      (5). Minat dan perhatian.

      (6). Pengetahuan dan pengalaman mereka tentang pesan yang

            akan diterima.

 b) Tempat memasang (menggunakan) alat-alat bantu/peraga :

      (1). Di dalam keluarga, antara lain di dalam kesempatan

            kunjungan rumah, waktu menolong persalinan dan merawat

            bayi, atau menolong orang sakit, dan sebagainya.

      (2). Di masyarakat misalnya pada waktu perayaan hari-hari




                               35
             besar, arisan-arisan, pengajian dan sebagainya serta juga

             dipasang di tempat-tempat umum yang strategis.

         (3). Di instansi-instansi, antara lain puskesmas, rumah sakit,

             kantor-kantor, sekolah-sekolah dan sebagainya.

     c) Alat-alat   bantu/peraga      tersebut   sedapat   mungkin   dapat

        dipergunakan oleh:

         (1). Petugas-petugas puskesmas/kesehatan.

         (2). Kader kesehatan.

         (3). Guru-guru sekolah dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya.

         (4). Pamong desa.

h. Faktor-faktor yang Mempengaruhi dalam Penyuluhan

         Menurut Effendy (1998) banyak faktor yang mempengaruhi

   keberhasilan suatu penyuluhan kesehatan masyarakat, apakah itu dari

   penyuluh, sasaran atau dalam proses penyuluhan itu sendiri.

   1) Faktor penyuluh

      a) Kurang persiapan

      b) Kurang menguasai materi yang akan dijelaskan

      c) Penampilan kurang meyakinkan sasaran

      d) Bahasa yang digunakan kurang dapat dimengerti oleh sasaran

          karena terlalu banyak menggunakan istilah-istilah asing.

      e) Suara terlalu kecil dan kurang dapat didengar.

      f) Penyampaian materi penyuluhan terlalu monoton sehingga

          membosankan.




                                 36
2) Faktor Sasaran

   a) Tingkat pendidikan terlalu rendah sehingga sulit mencerna

      pesan yang disampaikan.

   b) Tingkat sosial ekonomi terlalu rendah

   c) Kepercayaan dan adat kebiasaan yang telah tertanam sehingga

      sulit untuk mengubah.

   d) Kondisi lingkungan tempat tinggal sasaran yang tidak mungkin

      terjadi perubahan perilaku.

3) Faktor Proses dalam Penyuluhan

   a) Waktu penyuluhan tidak sesuai dengan waktu yang diinginkan

      sasaran.

   b) Tempat penyuluhan dilakukan dekat dengan tempat keramaian.

   c) Jumlah sasaran yang mendengarkan penyuluhan terlalu banyak

      sehingga sulit untuk menarik perhatian dalam memberikan

      penyuluhan.

   d) Alat peraga dalam memberikan penyuluhan kurang dapat

      mempermudah pemahaman sasaran.

   e) Metode yang digunakan kurang tepat.

   f) Bahasa yang dipergunakan kurang dimengerti oleh sasaran.




                           37
B. Kerangka Teori


 Paparan informasi
      petugas



    Interverensi
pendidikan kesehatan,
     penyuluhan                              Proses terjadinya
                                             pengetahuan :
                                             1. Kesadaran
                                Media        2. Merasa tertarik           Pengetahuan
                                             3. Menimbang –
Paparan info keluarga                           nimbang
                                             4. Mencoba
                                             5. Melakukan

   Latar belakang
    pendidikan



  Sumber info lain




Gambar 2.1 Kerangka Teori penelitian pengetahuan ibu nifas tentang perawatan

             luka perineum.

Sumber :: Notoatmodjo, 2003




                                    38
C. Kerangka Konsep


         Penyuluhan                                    Pengetahuan


      Variabel Independen                             Variabel Dependent



   Gambar 2.2 Kerangka konsep penelitian perbedaan pengetahuan ibu nifas

                 tentang perawatan luka perineum sebelum dan sesudah

                 penyuluhan



D. Hipotesis

          Ada perbedaan pengetahuan ibu nifas tentang perawatan luka

   perineum sebelum dan sesudah diberi penyuluhan .




                                     39

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:6983
posted:8/8/2010
language:Indonesian
pages:35
Description: File BAB BAB II TINJAUAN PUSTAKA A Tinjauan Teori Lochia