Docstoc

tutor sebaya

Document Sample
tutor sebaya Powered By Docstoc
					                                     BAB I

                              PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah

          Di era pembangunan yang berbasis ekonomi dan globalisasi sekarang

   ini, generasi muda Indonesia harus memiliki pengetahuan dan keberagaman

   keterampilan sehingga mampu menyesuaikan dan memberdayakan diri

   terhadap berbagai perubahan-perubahan yang disebabkan oleh perkembangan

   ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, generasi muda Indonesia

   perlu dibekali keterampilan hidup yang diperlukan untuk berperan serta secara

   efektif di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

          Untuk mewujudkan hal tersebut, harus ada kesadaran bersama dari

   pemerintah dan masyarakat bahwa peningkatan mutu pendidikan merupakan

   komitmen untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia, baik sebagai

   pribadi-pribadi maupun sebagai modal dasar pembangunan bangsa dan upaya

   perluasan serta pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan, sehingga

   tujuan pendidikan nasional dapat tercapai.

          Sebagaimana dinyatakan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun

   2003 tentang Fungsi dan Tujuan Pendidikan Nasional Bahwa Pendidikan

   Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta

   peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan

   bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi

   manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,

   berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga


                                       1
                                                                          2



negara yang demokratis serta tanggung jawab.

       Dengan demikian, pendidikan perlu dikembalikan kepada prinsip

dasarnya, yaitu sebagai upaya untuk memanusiakan manusia. Artinya

pendidikan harus dapat mengembangkan potensi dasar manusia, agar dapat

menghadapi permasalahan-permasalahan yang sedang dan akan dihadapi pada

masa yang akan datang. Pendidikan juga harus dapat mendorong manusia

untuk memelihara diri sendiri, sambil meningkatkan hubungan dengan Tuhan

Yang Maha Esa, masyarakat dan lingkungan. Dari uraian tersebut, jelaslah

bahwa pendidikan perlu dirancang dengan sengaja untuk membekali manusia

dengan kecakapan hidup dan kehidupan yang meliputi pengetahuan,

keterampilan dan sikap.

       Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003

tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa yang dimaksud dengan pendidikan

adalah usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses

pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya

untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,

kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,

masyarakat, bangsa dan negara.

       Kata pembelajaran pada rumusan di atas merupakan bentuk kegiatan

yang mengandung hubungan interaksi dalam proses belajar-mengajar antara

guru dan siswa serta antara siswa dan siswa yang lainnya.

       Mengajar merupakan proses membimbing dalam kegiatan belajar.

Oleh karenanya unsur proses belajar memegang peranan yang sangat penting

dalam proses pengajaran atau lebih tepatnya proses pembelajaran. Menurut
                                                                                     3



Suherman dkk. (2001: 254-255), bahwa kendatipun antara kata pengajaran dan

pembelajaran bermakna sama, namun esensinya relatif berbeda. Bila dalam

pengajaran, guru lebih banyak menyampaikan sejumlah ide atau gagasan-

gagasan dan siswa bertindak pasif. Sementara dalam pembelajaran siswa

mendapat porsi lebih banyak dibandingkan dengan guru, bahkan mereka harus

dominan dan bertindak aktif dalam kegiatan belajar-mengajar.

           Dari pernyataan di atas, jelaslah bahwa siswa hanya akan berhasil

dalam belajarnya setelah siswa itu berusaha dengan sungguh-sungguh

mengolah atau mencerna informasi dari guru. Dengan demikian, seorang guru

harus dapat mengoptimalkan penggunaan dan pemanfaatan teknik, metode dan

pendekatan pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan karakteristik topik

yang akan diajarkan, sehingga proses belajar-mengajar menjadi efektif dan

efisien.

           Sehubungan dengan hal itu Surya (Syah, 2002: 247) mengatakan,

                Baik buruknya situasi proses belajar mengajar dan tingkat
                pencapaian hasil proses instruksional itu pada umumnya
                tergantung pada faktor-faktor yang meliputi: 1) karakteristik
                siswa; 2) karakteristik guru; 3) interaksi dan metode; 4)
                karakteristik kelompok; 5) fasilitas fisik; 6) mata pelajaran; dan
                7) lingkungan alam sekitar.

           Sedangkan menurut Ruseffendi (1991: 41), bahwa guru efektif adalah

guru yang mengajarnya berhasil; tujuan pembelajarannya tercapai. Adapun

yang dimaksud guru yang efektif ialah guru yang memiliki sebongkah

kompetensi (competency based) dan mampu menerapkannya (performance

based). Sebongkah kompetensi yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Memiliki sifat keguruan dan menguasai bidang studi.
                                                                          4



2. Mengetahui     hakekat   siswa   dan   mampu     menerapkannya     dalam

   pembelajaran bidang studi.

3. Mampu membuat strategi pembelajaran yang tepat.

4. Mampu menerapkan berbagai metode dan teknik pembelajaran yang

   efektif dan tepat.

5. Mampu menyampaikan materi secara terstruktur dan jelas.

       Dari uraian di atas dapat diambil suatu simpulan bahwa keberhasilan

suatu proses belajar dan pembelajaran itu tidak disebabkan oleh satu macam

sumber daya, tetapi disebabkan oleh perpaduan antara berbagai sumber daya

yang saling mendukung. Oleh karenanya seorang guru selain harus memiliki

kompetensi dan mampu menerapkannya juga mampu mengembangkan segala

potensi yang ada di sekolah. Potensi yang ada di sekolah yaitu segala sumber

daya yang dapat mempengaruhi proses belajar dan memotivasi siswa dalam

proses belajar dan pembelajaran.

       Salah satu potensi atau sumber daya yang dapat menunjang

keberhasilan dalam proses belajar dan pembelajaran adalah siswa. Sudirman

(Suherman dkk, 2001: 233) menyatakan,

         Siswa adalah unsur pokok dalam pembelajaran maka siswalah
         yang harus menerima dan mencapai berbagai informasi
         pembelajaran yang pada akhirnya dapat mengubah tingkah lakunya
         sesuai dengan yang diharapkan. Untuk itu maka siswa harus
         dijadikan sebagai pertimbangan di dalam pemilihan sumber
         belajar.


       Dengan pertimbangan tersebut maka pemanfaatan siswa yang memiliki

kemampuan akademis tinggi atau siswa yang pandai sebagai sumber belajar

selain guru dalam kegiatan belajar dan pembelajaran diharapkan dapat
                                                                               5



   memberikan bantuan belajar bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam

   memahami bahan pelajaran yang akan dan sedang dipelajarinya.

          Suherman, dkk. (2001: 232) mengatakan “Sumber belajar selain guru,

   yaitu teman sebaya yang lebih pandai memberikan bantuan belajar kepada

   teman-teman sekelasnya di sekolah disebut tutor sebaya.” Jadi pemanfaatan

   tutor sebaya sebagai sumber belajar dalam proses belajar-mengajar hendaknya

   dipilih dari seorang atau beberapa orang siswa yang mampu membimbing

   teman-temannya dan menguasai materi yang akan disampaikan dalam

   kegiatan belajar-mengajar.

          Bantuan belajar oleh tutor sebaya kepada teman-temannya dapat

   menghilangkan rasa kecanggungan, karena selain bahasanya mudah dipahami

   oleh teman-temannya juga tidak ada rasa rendah diri atau malu bagi teman-

   temannya untuk meminta bantuan dalam belajar. Dengan demikian, siswa

   akan termotivasi dalam belajar dengan baik, siap dengan tugasnya serta penuh

   perhatian   selama   jam     pelajaran   berlangsung,   sehingga   keefektifan

   pembelajaran dapat tercapai.

           Berdasar pada pemikiran di atas, penulis tertarik untuk meneliti

   keefektifan pembelajaran ekonomi dengan Pendekatan tutor sebaya sebagai

   sumber belajar di Kelas x sma Muhammadiyah Cirebon.



B. Identifikasi Masalah

           Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka
    penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut:
   1. Perbedaan hasil belajar siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan

      pendekatan tutor sebaya dibandingkan dengan siswa yang mendapatkan
                                                                                 6



        pembelajaran konvensional.

  2. Keefektifan pembelajaraan dengan pendekatan tutor sebaya dibanding

        proses pembelajaran konvensional.

  3. Respon siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan pendekatan tutor

        sebaya.


C. Pembatasan Masalah

            Agar dalam pelaksanaan penelitian, penulis tidak mendapatkan kesulitan,

   terhindar dari kekeliruan dan tercapainya keefektifan dan efisiensi hasil yang

   diperoleh, maka diperlukan adanya suatu batasan masalah. Seperti yang

   dikemukakan Surakhmad (Maharani, 2002: 6),

                  Pembatasan masalah diperlukan bukan saja untuk memudahkan
                  atau menyederhanakan masalah pendidikan tetapi untuk dapat
                  menetapkan lebih dahulu segala yang diperlukan untuk
                  pemecahannya, tenaga, waktu, biaya dan lain-lain yang timbul
                  dari rencana tersebut.

            Adapun batasan yang penulis kemukakan adalah sebagai berikut:

   1.    Penelitian hanya dilakukan terhadap siswa-siswi SMA Muhammadiyyah

         Tahun Ajaran 2009-2010.

   2.    Penelitian dilaksanakan pada semester genap Tahun Pelajaran 2009-

         2010.

   3.    Penelitian dilaksanakan terhadap proses pelaksanaan KBM dan perolehan

         nilai postes.

   4.    Hasil belajar yang diukur hanya terhadap nilai postes.


C. Perumusan Masalah

            Berdasarkan latar belakang masalah, maka permasalahan yang dapat
                                                                                  7



    dikemukakan adalah sebagai berikut:

    1.    Apakah prestasi belajar siswa yang mendapat pembelajaran Ekonomi

          dengan pendekatan tutor sebaya sebagai sumber belajar lebih baik

          daripada        siswa   yang   mendapat   pembelajaran   Ekonomi    dengan

          pendekatan tradisional/konvensional/biasa?

    2.    Bagaimanakah sikap siswa terhadap proses pembelajaran Ekonomi yang

          menggunakan pendekatan tutor sebaya sebagai sumber belajar?


D. Definisi Operasional Variabel

              Agar menjaga jangan sampai terjadi salah penafsiran mengenai judul

    skripsi yang akan diajukan penulis, maka dibawah ini didefinisikan beberapa

    variabel sebagai berikut:

    1. Keefektifan Pembelajaran

                Pembelajaran efektif selain berpusat kepada keaktifan siswa, juga

         bergantung atau dapat dipengaruhi oleh guru efektif dan cara penyajian

         materi serta ketetapan waktu yang digunakan.

                Menurut Ruseffendi (1991: 43) bahwa guru efektif itu ialah:

                     1.     Guru yang berorientasi kepada tugas yang pengajarannya
                            diarahkan kepada pencapaian hasil belajar siswa.
                     2.     Guru yang memberi kesempatan kepada siswa untuk
                            mempelajari apa yang harus dikuasainya; siswa belajar
                            dengan pengarahan itu.
                     3.     Guru yang mengajarnya bervariasi, seperti menggunakan
                            alat bantu, strategi belajar-mengajar yang berbeda-beda,
                            dan macam-macam kegiatan.
                     4.     Guru yang antusias, seperti giat, berminat, merangsang,
                            terlibat, dan dalam mengajar ia menguasai.
                     5.     Guru yang menerangkan pelajaran dengan jelas.

                Nasution (Hesty, 1997: 11) menyatakan, “Hasil belajar akan lebih
                                                                           8



  baik, apabila pada anak ada hasrat atau tekad untuk mempelajari sesuatu.”

2. Tutor Sebaya

       Harsunarko (Suherman dkk, 2001: 233) mengatakan,

             Dalam arti luas sumber belajar tidak harus selalu guru. Sumber
             belajar dapat orang lain selain guru, melainkan teman dari kelas
             yang lebih tinggi, teman sekelas atau keluarganya di rumah.
             Sumber belajar bukan guru dan berasal dari orang lain yang
             lebih pandai disebut Tutor. Ada dua macam tutor, yaitu tutor
             sebaya dan tutor kakak. Tutor sebaya adalah teman sebaya yang
             lebih pandai.

       Tutor sebaya merupakan gabungan dari dua buah kata, yaitu tutor

  dan sebaya. Wojowasito dan Poerwadarminta (Amanah, 1995: 33)

  mengatakan,

      “Kata tutor berasal dari bahasa Inggris yang berarti guru….”
      Sedangkan kata sebaya berarti sama umur atau sesuai. Dalam
      pengertian lain Supriyadi (Suherman dkk, 2001: 233) mengemukakan,
      bahwa “Tutor sebaya adalah seorang atau beberapa orang siswa yang
      ditunjuk dan ditugaskan untuk membantu siswa yang mengalami
      kesulitan belajar. Tutor tersebut diambil dari kelompok yang
      prestasinya lebih tinggi.”


       Judul penelitian ini menunjukan bahwa penelitian menggunakan dua

  variabel yang berperan yaitu:

  1. Variabel Independen, yaitu variabel yang keberadaanya tidak

     dipengaruhi oleh variabel lain dan merupakan faktor penyebab yang

     akan mempunyai pengaruh atau akibat dari variabel lainnya. Yang

     termasuk dalam variabel independen ini yaitu, pendekatan tutor

     sebaya. Dikatakan sebagai variabel independen karena pendekatan

     tutor    sebaya   dapat      mempengaruhi   meningkatnya    keefektifan

     pembelajaran.
                                                                             9



      2. Variabel Dependen, yaitu variabel tidak bebas yang keberadaannya

         dipengaruhi oleh variabel lainnya yang termasuk dalam variabel ini

         yaitu meningkatkan keefektifan pembelajaran, dikatakan sebagai

         variabel dependen karena tercapainya rentabilitas suatu perusahaan

         dipengaruhi oleh pendekatan tutor sebaya.


E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

         Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:

   1. Apakah Hasil belajar siswa yang mendapat pembelajaran ekonimi dengan

      pendekatan tutor sebaya sebagai sumber belajar lebih baik dari pada siswa

      yang    mendapat      pembelajaran    ekonomi       dengan    pendekatan

      tradisional/konvensional/biasa.

   2. Bagaimanakah sikap siswa terhadap proses pembelajaran Ekonomi yang

      menggunakan pendekatan tutor sebaya sebagai sumber belajar.

         Adapun kegunaan dari penelitian adalah sebagai berikut:

   1. Keefektifan pembelajaran ekonomi dan tutor sebaya sebagai sumber

      belajar merupakan masukan bagi penulis untuk dijadikan sebagai acuan

      dalam pelaksanaan pembelajaran ekonomi.

   2. Hasil penelitian diharapkan dapat menumbuhkan perhatian dan kesadaran

      dari para guru, khususnya guru ekonomi untuk meningkatkan keefektifan

      pembelajaran. Dalam hal ini adalah pendekatan tutor sebaya sebagai salah

      satu alternatif pendekatan pembelajaran yang dapat meningkatkan

      keefektifan pembelajaran ekonomi.

   3. Merupakan upaya meningkatkan hasil belajar siswa Kelas X SMA
                                                                            10



      Muhammadiyyah dalam pelajaran ekonomi.


F. Kerangka Berfikir

                               Gambar 1.1
                     Hubungan antara variable penelitian

   Variabel Independen                           Variabel Dependen

                                                Hasil Belajar Siswa Pada
Pendekatan tutor sebaya                         Pelajaran Ekonomi



          Tujuan dari pendidikan menurut Idris dan jamal (1992:29) ialah

   memberikan bantuan terhadap perkembangan anak, yaitu siswa seutuhnya.

   Dalam arti, supaya dapat mengembangkan potensi fisik, emosi, sikap, moral,

   pengetahuan, dan keterampilan semaksimal mungkin agar menjadi manusia

   dewasa. Sehubungan dengan hal tersebut, pendidikan merupakan hal

   terpenting bagi anak atau siswa untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan.

   Disini peran guru adalah memberikan pelajaran dan pengajaran yang baik

   pada siswa.

            Terkadang seorang siswa merasa canggung dan takut jika harus

   bertanya kepada guru, hal ini berbeda jika harus bertanya kepada teman. Oleh

   karena itu, alternatifnya agar pembelajaran menjadi efektif adalah dengan

   pendekatan tutor sebaya.


G. Asumsi dan Hipotesis

   1. Asumsi

            Asumsi merupakan persyaratan hipotesis, yaitu sebagai dasar untuk
                                                                             11



   mempertegas variabel-variabel. Menurut komarudin (1994:22),

               Asumsi adalah suatu yang dianggap tidak mempengaruhi atau
               dianggap konstan. Asumsi menetapkan faktor-faktor yang
               dievaluasi. Asumsi berhubungan dengan syarat-sayarat kondisi
               dan tujuan. Asumsi memberikan hakikat dan arah argumentasi.

         Maka dari itu asumsi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

   a.   Setiap siswa memperoleh materi pelajaran yang sama dengan metode

        yang berbeda sesuai dengan kelompoknya.

   b.   Hal-hal yang berhubungan erat dengan hasil belajar siswa selain

        pendekatan tutor sebaya dianggap konstan.

2. Hipotesis

         Hipotesis lazim untuk dikemukakan setelah seorang peneliti

   mempunyai asumsi yang meyakinkan untuk dilakukan suatu penelitian.

         Hipotesis    merupakan   jawaban    sementara    yang   memerlukan

   pembukuan lebih lanjut.

         Hal ini sesuai dengan pendapat Sugiyono yaitu : ”Hipotesis adalah

   jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian dimana rumusan

   masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan”.

   (Sugiyono :2006).

         Atas dasar pengertian hipotesis di atas maka untuk penelitian ini

   penulis mengemukakan hipotesis sebagai berikut :

   ”Jika menggunakan pendekatan tutor sebaya maka pembeljaran

   ekonomi akan menjadi lebih efektif”.
                                                                             12



                                   BAB II

                           LANDASAN TEORITIS



A. Belajar dan Pembelajaran

   1. Belajar

             Belajar menurut Hilgard dan Marquis (Sagala, 2004: 13),

      merupakan proses mencari ilmu yang terjadi dalam diri seseorang melalui

      latihan, pembelajaran, dan sebagainya sehinnga terjadi perubahan diri.

      Pengertian belajar (Pidarta, 2000: 197), mengemukakan:

                   “Bahwa belajar adalah perubahan perilaku yang relative
                   permanen sebagai hasil pengalaman (bukan hasil
                   perkembangan, pengaruh obat, atau kecelakaan) dan bisa
                   melaksanakannya pada pengetahuan lain serta mampu
                   mengkomunikasikannya kepada orang lain.”

             Perubahan tingkah laku tidak muncul begitu saja, tetapi melalui

      kegiatan belajar. Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan

      pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui

      interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan

      sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar (BSNP,

      2006: 16).

             Sedangkan menurut Sadiman,dkk (Warsita, 2008: 62) pengertian

      “belajar (learning) adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada

      semua orang dan berlangsung seumur hidup, sejak ia masih bayi sampai ke

      liang lahat”.

             Belajar pada dasarnya dapat terjadi kapan saja, dari siapa saja dan

      dimana saja (Baik itu dirumah, disekolah, di masyarakat). Sehingga para
                                                                              13



   peserta didik seharusnya tidak selalu bergantung pada guru dalam belajar,

   tetapi dapat pula belajar dari berbagai sumber belajar yang ada. Pada

   hakikatnya, proses belajar itu sendiri terjadi dalam diri peserta didik sesuai

   dengan perkembangannya dan lingkungannya. Karena belajar merupakan

   tindakan dan perilaku siswa yang kompleks, sebagai tindakan belajar

   hanya dialami oleh siswa itu sendiri. Dimyati dan Mudjiono (2006: 7)

   mengemukakan siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya

   proses belajar.

             Salah satu tanda seseorang telah mengalami proses belajar adalah

   adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya sebagai akibat interaksi

   peserta didik dengan berbagai sumber belajar yang ada disekitarnya.

   Perubahan tingkah laku meliputi perubahan pengetahuan (kognitif),

   keterampilan (psikomotor), dan nilai sikap (afektif). Dengan demikian,

   belajar     adalah   proses   orang   memperoleh      berbagai    kecakapan,

   keterampilan, dan sikap Gredler (Warsita, 2008:62).

2. Pengajaran

             Dalam proses pembelajaran ada satu hal yang cukup penting yaitu

   proses pengajaran adapun pengertian pengajaran menurut Jones (Majid,

   2005:16) adalah „suatu cara bagaimana mempersiapkan pengalaman

   belajar bagi peserta didik‟. Dari pendapat tersebut maka dapat kita ambil

   kesimpulan bahwa pengajaran adalah sebagai suatu proses yang dilakukan

   oleh pendidik dalam membimbing, membantu, dan mengarahkan peserta

   didik untuk memiliki dan memperoleh pengalaman belajar.
                                                                             14



3. Pembelajaran

          Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 1 Ayat 20,

   tentang pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan

   pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (Depdiknas,

   2003: 7). Pembelajaran merupakan proses komunikasi yang terjadi dua

   arah, guru sebagai pendidik bertugas mengajarkan kepada peserta didik,

   sedangkan peserta didik yang melakukan kegiata belajar.

          Oleh karena itu,, ada lima jenis interaksi yang dapat berlangsung

   dalam proses pembelajaran, yaitu:

             interaksi antara pendidik dengan peserta didik;, 2) interaksi
             antar sesama peserta didik atau sejawat; 3) interaksi peserta
             didik dengan narasumber; 4) interaksi peserta didik
             bersama pendidik dengan sumber belajar yang sengaja
             dikembangkan; dan 5) interaksi peserta didik bersama
             pendidik dengan lingkungan sosisl dan alam(Miarso,
             2008:3)


          Pembelajaran    disebut   juga   kegiatan   belajar   (intruksional)

   (Miarso, 2004: 528) adalah “usaha mengelola lingkungan dengan sengaja

   agar seseorang membentuk diri secara positif dalam kondisi tertentu”.

   Pembelajaran menurut Dimyati dan Mudjiono (2006: 297) adalah

   ”kegiatan guru secara terprogram dalam desain intruksional, untuk

   membuat siswa belajar secara aktif yang menekankan pada penyediaan

   sumber belajar”.

          Modal utama dalam penyampaian bahan ajar dan indikator

   kesuksesan pelaksanaan pembelajaran adalah kesiapan guru dalam

   mengenal karakteristik siswa. Dengan mengenal karakteristik dan
                                                                      15



kemampuan siswa, secara tepat guru dapat memilih metode belajar,

pendekatan belajar yang bervariasi serta media pembelajaran yang dapat

mendukung berjalannya kegiatan pembelajaran secara efektif. Peranan

guru semata-mata bukan hanya memberikan informasi, melainkan juga

bertindak mengarahkan peserta didik dan memberi fasilitas belajar agar

proses belajar lebih memadai.

       Pengertian pembelajaran (instruction) adalah suatu usaha untuk

membuat peserta didik belajar atau kegiatan untuk membelajarkan peserta

didik (Warsita, 2008: 85). Dalam pengertian lain, pembelajaran adalah

usaha-usaha yang terencana dalam memanipulasi sumber-sumber belajar

agar terjadi proses dalam diri peserta didik Sadiman, dkk (Warsita, 2008:

85).

       Dari proses pembelajaran siswa memperoleh pengalaman dan hasil

belajar yang merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar. Dari

tindak belajar itulah siswa mengalami proses untuk meningkatkan

kemampuan mentalnya dan perkembangan jiwa, sedangkan tindak

mengajar yang dilakukan guru adalah membelajarkan siswa.

       Adapun pembelajaran       menurut   Sagala (2006:     61) adalah

membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar

merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pendapat ini sejalan

dengan Jerome Bruner (Sagala, 2006: 63) mengatakan bahwa perlu adanya

teori pembelajaran yang akan menjelaskan asas-asas untuk merancang

pembelajaran efektif didalam kelas.

       Guru sebagai pendidik dalam membelajarkan siswa harus membuat
                                                                        16



   rancangan pembelajaran berdasarkan kurikulum yang berlaku. Yang

   didalamnya terdapat kegiatan memilih,menetapkan, dan mengembangkan

   metode yang tepat untuk diterapkan kepada peserta didik agar siswa

   mampu belajar secara aktif yang tentunya didasarkan pada kondisi

   pembelajaran yang ada.

4. Metode Pembelajaran

          Dalam kegiatan belajar mengajar guru harus memiliki strategi

   yang harus digunakan dalam menyampaikan materi agar materi yang

   disampaikan dapat terarah dan sesuai dengan tujuan yang diharapkan, hal

   ini sesuai dengan pendapat     Roestiyah ( Bahri Djamarah dan Zain,

   2006:74),

               “Guru harus memiliki strategi agar anak didik dapat belajar
               secara efektif dan efisien, mengenai pada tujuan yang
               diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu
               adalah harus menguasai teknik-teknik penyajian atau biasanya
               disebut metode mengajar”.

          Adapun Metode pembelajaran menurut Tardif (Muhibin Syah,

   2004:201), adalah “Cara yang berisi prosedur buku untuk melaksanakan

   kegiatan kependidikan, khususnya kegiatan penyajian materi pelajaran

   kepada siswa”.

          Sedangkan menurut Djamarah dan Zain (2006:74), “Metode

   mengajar adalah strategi pengajaran sebagai alat untuk mencapai tujuan

   yang diharapkan”.

          Berdasarkan ketiga pendapat di atas, maka dapat disimpulkan

   bahwa metode pembelajaran adalah cara atau alat yang digunakan untuk

   menyajikan materi pelajaran kepada peserta didik agar tujuan yang
                                                                             17



   diharapkan dapat tercapai.

5. Macam-Macam Metode Pembelajaran

          Setelah kita mengetahui pengertian metode pembelajaran dan

   pentingnya sebuah metode dalam proses pembelajaran, maka kita harus

   memilih atau menentukan metode apa yang harus kita gunakan dalam

   penyampaian materi. Sebelum menentukan metode yang kita gunakan

   alangkah lebih bainya jika kita mengetahui macam-macam metode

   pembelajaran, adapun macam-macam metode pembelajaran tersebut

   adalah sebagai berikut:

          1).   Metode Eksperimen (Experimental Method)
          2).   Metode Tugas dan Resitasi (Recitation Method)
          3).   Metode Diskusi (discussion Method)
          4).   Metode Problem Solving
          5).   Metode Tanya Jawab
          6).   Metode Latihan
          7).   Metode Ceramah (Preaching Method)
          8).   Metode cooperative learning adalah suatu model pembelajaran
                dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok
                kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 sampai 6
                orang, dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.
                                            (Bahri Djamarah dan Zain (2006:82)

6. Pendekatan Pembelajaran

          “Pendekatan dapat diartikan sebagai pola umum yang dilakukan

   dalam mengelola kelas atau menciptakan suasana disiplin dalam

   pembelajaran” (Khaerudin, 2001: 37).

          Menurut Ruseffendi (1991: 240),

                Pendekatan adalah suatu jalan, cara atau kebijaksanaan
                yang ditempuh oleh guru atau siswa dalam pencapaian
                tujuan pengajaran dilihat dari sudut bagaimana proses
                pengajaran atau materi pengajaran itu, umum atau khusus
                dikelola sekolah.
                                                                               18



              Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa pendekatan dalam

      pembelajaran adalah suatu cara atau jalan yang di tempuh dalam

      mengelola kelas oleh seorang guru untuk menyajikan konsep dalam proses

      pembelajaran. Pendekatan pembelajaran merupakan aktivitas guru dalam

      memilih kegiatan pembelajaran, apakah guru akan menjelaskan suatu

      pengajaran dengan materi bidang studi yang sudah tersusun dalam urutan

      tertentu, ataukah dengan menggunakan materi yang terkait satu dengan

      yang lainnya dalam tingkat kedalaman yang berbeda, atau bahkan

      merupakan materi yang terintegrasi dalam satu kesatuan multi disiplin

      ilmu. Jadi, pendekatan pembelajaran ini sebagai penjelas untuk

      mempermudah bagi para guru memberikan pelayanan belajar dan juga

      mempermudah siswa untuk memahami materi ajar yang disampaikan guru,

      dengan memilih suasana pembelajaran yang menyenangkan. Dalam hal ini

      pendekatan yang penulis teliti adalah pendekatan tutor sebaya.


B. Evaluasi Hasil Belajar

          Salah   satu   tugas   guru   setelah   selesai    melaksanakan   proses

   pembelajaran adalah mengadakan evaluasi terhadap kemampuan siswa dalam

   menyerap informasi yang telah disampaikan.

          Menurut Hamalik (2003:80) mengklasifikasikan hasil belajar ke dalam

   tiga domain (ranah) yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.

          Bloom (Hamalik, 2003:80) membagi masing-masing ranah tersebut

   kedalam tingkatan-tingkatan kategori. Ketiga ranah yang dimaksudkan oleh

   Bloom tersebut, dapat penulis jelaskan sebagai berikut:
                                                                   19



1. Ranah Kognitif.
   Ranah Kognitif menitik beratkan pada proses intelektual dalam
   berbagai tingkatan, yaitu:
   a. Pengetahuan
       Pengetahuan merupakan pengingatan bahan-bahan yang telah
       dipelajari, mulai dari fakta sampai ke teori, yang menyangkut
       informasi yang bermanfaat, seperti: istilah umum, fakta-fakta
       khusus, metode dan prosedur, konsep dan prinsip.
   b. Pemahaman
       Pemahaman adalah kemampuan untuk memahami arti.
       Pemahaman tampak pada ahli bahan satu kebentuk lainnya,
       penafsiran, memperkirakan. Contoh: memahami fakta dan
       prinsip, menafsirkan bahan lisan, menafsirkan bagan dan lain-
       lain.
   c. Penerapan
       Penerapan adalah kemampuan untuk menggunakan bahan
       yang telah dipelajari kedalam situasi baru yang nyata, meliputi
       aturan, metode konsep, prinsip, hukum, teori. Contoh:
       melaksanakan konsep dan prinsip ke situasi baru/
   d. Analisis (pengkajian)
       Analisis adalah kemampuan untuk merinci bahan menjadi
       bagian-bagian supaya struktur organisasi mudah dipahami,
       meliputi identifikasi bagian-bagian, mengkaji hubungan antara
       bagian-bagian. Contoh membedakan fakta
   e. Sintesis
       Sintesis adalah kemampuan mengkombinasikan bagian-bagian
       menjadi suatu keseluruhan baru, yang menitik beratkan pada
       tingkah laku kreatif dengan cara memformulasikan pola dan
       strutur baru. Contoh: menulis cerita pendek yang kreatif,
       menyusun rencana eksperimen.
   f. Evaluasi
       Evaluasi adalah kemampuan untuk mempertimbangkan nilai
       bahan untuk maksud tertentu berdasarkan criteria internal dan
       criteria eksternal. Contoh nilai suatu pekerjaan berdasarkan
       criteria internal dan/atau eksternal.
2. Ranah Afektif.
   Rabah afektif adalah sikap, perasaan, emosi, dan karakteristik
   moral, yang merupakan aspek-aspek penting perkembangan
   1siswa. Krathwool (Hamalik, 2003:81) mengembangkan kedalam
   lima kategori, yaitu:
   a. Penerimaan (Receiving)
       Adalah suatu keadaan sadar, kemauan menerima, perhatian,
       terpilih. Contohnya: siswa mempertunjukan memauan untuk
       mendengarkan rekaman musik rock, tetapi mengekspresikan
       perasaan yang lemah terhadap musik tersebut.
   b. Sambutan (Responding)
                                                                20



        Adalah suatu sikap terbuka kearah sambutan; kemauan untuk
        merespons; kepuasan yang timbul karena sambutan. Misalnya;
        siswa memutuskan untuk merespon pada lagu yang disajikan
        dan mengalami kesenangan/kepuasan karenanya.
   c. Menilai (Valuing)
        Adalah penerimaan nilai-nilai, preferensi terhadap nilai,
        membuat kesepakatan sehubungan dengan nilai. Contoh: siswa
        menerima nilai musik dangdut, menghubungkannya dengan
        sistem nilainya sendiri, dan membentuk suatu kesepakatan
        sehubungan dengan pentingnya musik tersebut.
   d. Organisasi (Organization)
        Adalah suatu konseptualisasi tentang suatu nilai, suatu
        organisasi dari suatu sistem nilai. Contoh: menyatukan
        apresiasinya yang baru menjadi atau kedalam sistem nilainya
        sendiri mengenai musik atau kultur lainnya.
   e. Karakterisasi dengan suatu komplek nilai.
        Adalah suatu formasi mengenai perangkat umum, suatu
        manifestasi daripada komplek nilai. Contoh: sistem
        menyatukan nilai musik kedalam kehidupan pribadi dan
        menerapkan konsep tersebut pada hobi pribadinya, atau minat,
        atau kariernya
3. Ranah Psikomotor.
   Ranah psikomotorik adalah kategori ketiga tujuan pendidikan
   yang menunjuk pada gerakan-gerakanjasmaniah dan control
   (jasmaniah) (Hamalik, 2003:82) membagikan dalam ilmu
   kategori:
   a. Imitation (Penurunan).
        Imitasi adalah kemampuan yang dimulai dengan mengamati
        suatu gerakan atau perlakuan kemudian siswa memberikan
        respon serupa dengan yang diamatinya.
   b. Manipulation (Manipulasi)
        Manipulasi adalah kemampuan mengikuti suatu pengarahan
        dari sumber apapun, penampilan dan gerakan-gerakan pilihan
        yang menetapkan suatu penampilan.
   c. Precision (Ketepatan)
        Ketepatan adalah kemampuan yang lebih menekankan pada
        kecermatan siswa, proporsi dan kepastian yang lebih tinggi.
   d. Articulation (Artikulasi)
        Artikulasi adalah kemampuan koordinasi suatu rangkaian
        gerakan dengan membuat urutan yang tepat dan mencapai
        yang diharapkan atau konsisten internal diantara gerakan-
        gerakan yang berbeda. Misalnya siswa dapat membuat kertas
        kerja dengan rapi, jelas dan tepat.
   e. Naturalization (Pengalamiahan)
       Pengalamiahan adalah kemampuan yang lebih tinggi secara
       alami, sehingga gerakan yang dilakukan dapat secara rutin dan
       tidak memerlukan pemikiran terlebih dahulu.
                                                                                21



C. Keefetifan Pembelajaran

        Menurut Eggen dan Kauchak (Fauzi:2002) mengemukakan bahwa:

              ”Pembelajaran yang efektif apabila siswa secara aktif dilibatkan
              dalam      pengorganisasian  dan     penentuna   informasi     (
              pengetahuan).Siswa tidak hanya pasif menerima pengetahuan yang
              diberikan guru.hasil belajar ini tidak hanya meningkatkan
              pemahaman siswa saja, tetapi juga meningkatkan keterampilan
              berfikir siswa”.

        Keefektifan pembelajaran yang dimaksud di sini adalah sejauh mana

   sebuah    pembelajaran     berhasil   menjadikan     siswa    mencapai    tujuan

   pembelajaran yang dapat dilihat dari ketuntasan belajar.

        Menurut Suryosubroto (1997:33) agar pelaksanaan pengajaran yang

   efektif yang perlu diperhatikan adalah :

            1. Konsistensi kegiatan belajar dengan kurikulum dilihat dari aspek:
               a) Tujuan pembelajaran
               b) Bahan pengajaran
               c) Alat pengajaran yang digunakan
               d) Strategi evaluasi
            2. Keterlaksanaan kegiatan belajar mengajar meliputi :
               a) Menyajikan alat, sumber dan perlengkapan belajar
               b) Mengkondisikan kegitan belajar mengajar
               c) Menggunakan waktu yang tersedia untuk kegiatan belajar
                  mengajarsecara efektif.
               d) Motivasi belajar siswa
               e) Menguasai bahan pelajaran yang akan di sampaikan
               f) Mengaktifkan siswa dalam kegiatan belajar mengajar
               g) Melaksanakan komunikasi interaktif kepada siswa
               h) Melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar.

        Untuk melihat keberhasilan guru dalam mengajar suryosubroto

   (1997:36) mengemukakan bahwa: ”efektifitas guru mengajar nyata dapat

   dilihat dari keberhasilan siswa dalam menguasai apa yang diajarkan guru itu”.

        Adapun indikator yang dapat dilihatuntuk menentukan apakah

   pembelajaran itu berhasil atau tidak dapat dilihat dari dua segi yaitu:
                                                                           22



     1. Mengajar guru, menyangkut sejau mana tujuan pembelajaran yang

          direncanakan tercapai.

     2. Belajar murid, mengungkapkan sejauh mana tujuan pembelajaran

          yang ingin tercapai melalui kegiatan belajar mengajar atau yang

          sering disebut dengan ketuntasan belajar dilakukan dengan tes

          evaluasi

     Dari uraian di atas dan keterbatasan peneliti maka yang menjadi

indikator keefektifan pembelajaran pada penelitian ini hanya ditinjau dari

aspek:

1. Ketuntasan Belajar Siswa

         Berdasarkan petunjuk pelaksanaan proses belajar mengajar Depdikbud

   ( 1994:39) terdapat kriteria ketuntasan belajar perorangan dan klasikal

   yaitu:

   a. Seorang siswa dikatakan telah tuntas belajar jika siswa tersebut telah

         mencapai skor 65% atau nilai 65

   b. Suatu kelas dikatakan belajar siswa jika terdapat 85% yang telah

         mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan 65%

         Jadi dalam penelitian inidikatakan tuntas apabila siswa mencapai skor

   65% ke atas dan tuntas secara klasikal 85% ke atas.

2. Ketercapaian Tujuan Pembelajaran khusus (TPK)

         Usman dan Setiawati ( 1993:43) memberi acuan tingkat keberhasilan

   belajar siswa terhadap proses belajar yang dilihat dari TPK adalah sebagai

   berikut:

            a) Istimewa / maksimal    : Apabila seluruh bahan pelajaran yang
                                                                             23



                                        di ajarkan itu dapat dikuasai siswa.
           b) Baik sekali / optimal   : Apabila sebagian besar 85% s/d 94%
                                        bahan pelajaran yang diajarkan itu
                                        dapat dikuasai siswa
           c) Baik / minimal          : Apabila bahan yang diajarkan hanya
                                        75% s/d 84% dikuasai siswa
           d) Kurang                  : Apabila      bahan     pelajaran    yang
                                        diajarkan kurang dari 75 % dikuasai
                                        siswa.

       Secara keseluruhan pencapaian TPK dianggap tuntas apabila 80% dari

   seluruh TPK sudah tuntas dicapai oleh siswa.

3. hubungan timbal balik antara guru dan siswa

       Hubungan timbal balik berlangsung dalam situasi edukatif dapat

   dilihat dari ciri-ciri guru yang efektif dalam mencuiptakan kondisi belajar

   mengajar yang efektif.

       Menurut Suryosubroto (1997:15) mengatakan bahwa:‟ terdapat ciri-ciri

   guru yang efektif yaitu:

             1. Memulai dan mengakhiri pelajaratepat waktu
             2. Mengemukakan tujuan pembelajaran pada permulaan
                pembelajaran
             3. Menyajikan pelajaran langkah demi langkah
             4. Memberikan latihan praktis yang mengaktifkan semua siswa
             5. Mengajukan banyak pertanyaan dan berusaha memperoleh
                jawaban sebanyak-banyaknya.
             6. Mengerjakan kembali apa yang belum dipahami siswa
             7. Mengadakan evaluasi

       Berdasarkan pendapat di atas, maka peneliti dapat menyimpulkan

   beberapa indikator untuk melihat hubungan timbal balik antara guru dan

   siswa.dala proses pembelajaran yang dilampirkan pada lembar observasi

   yang terdiri :

                     Lembar observasi pengelolaan pembelajaran

                     Lembar observasi aktivitas siswa dala pembelajaran.
                                                                              24



         Observasi dilakukan oleh guru dikelas penelitian. Hasil observasi

      dianalisis secara deskriptif dan proses pembelajaran dikatakan efektif jika

      pelaksanaanya dapat disimpulkan berjalan dengan baik.

         Adapun kriteria rata-rata penilaian menurut Fauzi (2002) adalah:

                          1,00 – 1,79 : Sangat kurang
                          1,80 – 2,79 : Kurang
                          3,80 – 3,39 : Cukup
                          3,40 – 4,19 : Baik
                          4,20 – 5,00 : Sangat baik

         Dari uraian di atas dan keterbatasan peneliti maka yang menjadi

      indikator keefektifan pembelajaran pada penelitian ini hanya ditinjau dari

      empat aspek:

      1. Ketuntasan belajar siswa

      2. Ketercapaian tujuan pembelajaran khusus (TPK)

      3. Keefektifan kemampuan guru dalam mengelolah pembelajaran

      4. Keefektifan aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran.


D. Pendekatan Tutor Sebaya

   1. Pendekatan dalam Pembelajaran

             Dalam setiap pembelajaran mestinya ada suatu tujuan yang hendak

      dicapai. Dan tujuan pembelajaran itu mencakup tujuan nasional, tujuan

      institusional, tujuan kurikuler dan tujuan instruksional. Untuk mencapai

      tujuan itu kita membelajarkan topik-topik tertentu. Bagaimana konsep-

      konsep yang ada dalam topik-topik itu harus disampaikan.

             Dari uraian di atas, jelaslah bahwa seorang guru sebelum

      melaksanakan suatu kegiatan pembelajaran di kelas, hendaknya memilih
                                                                         25



sebuah strategi tertentu agar pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan di

kelas berjalan lancar dan hasil yang optimal.

       Rencana     pembelajaran     merupakan    strategi     guru    dalam

melaksanakan pembelajaran untuk satu kali tatap muka. Penyusunan

rencana pembelajaran berkenaan dengan satu atau beberapa sub pokok

bahasan   (konsep),     di   mana   pemilihan-pemilihan     teknik,   model,

pendekatan, metode pembelajaran yang digunakan dijabarkan secara rinci

dan fungsional dalam bentuk skenario pembelajaran.

       Dalam hal ini, yang akan bahas adalah tentang pemilihan suatu

pendekatan dalam pembelajaran.

       Ruseffendi (1991: 240) mengatakan,

           Pendekatan adalah suatu jalan, cara atau kebijaksanaan yang
           ditempuh guna guru atau siswa dalam pencapaian tujuan
           pengajaran dilihat dari sudut bagaimana proses pengajaran atau
           materi pengajaran itu, umum atau khusus dikelola.

       Sedangkan menurut Kusumah (2004: 1), “Pendekatan dalam

pembelajaran matematika diartikan sebagai jalan atau cara pelaksanaan

pembelajaran untuk menyajikan konsep.”

       Sejalan dengan pengertian pendekatan di atas, Suherman dkk.

(2001: 7) mengatakan,

           Pendekatan pembelajaran matematika adalah cara yang
           ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran agar
           konsep yang disajikan siswa beradaptasi dengan siswa.
           Ada dua macam pendekatan pembelajaran matematika,
           yaitu…
           Pendekatan metodologik berkenaan dengan cara siswa
           mengadaptasi konsep yang disajikan ke dalam struktur
           kognitifnya, yang sejalan dengan cara guru menyajikan
           bahan tersebut.
                                                                         26



             …
             Pendekatan material yaitu pendekatan pembelajaran
             matematika di mana dalam menyajikan konsep matematika
             melalui konsep matematika lain yang telah dimiliki siswa.

          Berdasarkan pengertian pendekatan yang telah dipaparkan, dapat

   diambil suatu simpulan bahwa pendekatan pembelajaran khususnya

   pendekatan pembelajaran matematika merupakan suatu kebijaksanaan

   yang ditempuh oleh seorang guru dalam pelaksanaan pembelajaran dengan

   mempertimbangkan tujuan, kemampuan, wawasan yang dimiliki siswa

   dan kesiapan siswa dalam belajar.

          Dalam pembelajaran matematika, pendekatan yang lebih tepat

   untuk digunakan adalah pendekatan tutor sebaya sebagai sumber belajar,

   karena siswa sudah memiliki dan menguasai konsep matematika yang

   menunjang pokok bahasan tersebut.

2. Pengertian Pendekatan Tutor Sebaya

          Sekolah memiliki banyak potensi yang dapat dimanfaatkan untuk

   menunjang keberhasilan suatu program pembelajaran. Potensi yang ada di

   sekolah, yaitu semua sumber-sumber daya (sumber-sumber belajar) yang

   dapat mempengaruhi hasil dari proses belajar dan pembelajaran.

          Menurut Roestiyah (1986: 53) “Sumber belajar adalah segala

   sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat atau asal untuk belajar

   seseorang.” Sumber belajar banyak ragamnya, salah satunya adalah

   manusia. Manusia merupakan sumber belajar yang sangat kompleks,

   karena setiap manusia memiliki kemampuan yang berbeda-beda.

          Salah satu sumber belajar manusia yang ada di sekolah selain guru
                                                                       27



adalah siswa. Siswa memiliki potensi yang dapat dimanfaatkan dalam

proses pembelajaran.

       Harsunarko (Suherman dkk, 2001: 233) mengatakan,

          Dalam arti luas sumber belajar tidak harus selalu guru. Sumber
          belajar dapat orang lain selain guru, melainkan teman dari kelas
          yang lebih tinggi, teman sekelas atau keluarganya di rumah.
          Sumber belajar bukan guru dan berasal dari orang lain yang
          lebih pandai disebut Tutor. Ada dua macam tutor, yaitu tutor
          sebaya dan tutor kakak. Tutor sebaya adalah teman sebaya
          yang lebih pandai.

       Dengan     demikian,    pemanfaatan    siswa    yang    mempunyai

kemampuan akademis tinggi atau pandai sebagai tutor sebaya diharapkan

dapat membantu teman-temannya yang mengalami kesulitan dalam belajar

sehingga keefektifan pembelajaran matematika dapat tercapai.

       Tutor sebaya merupakan gabungan dari dua buah kata, yaitu tutor

dan sebaya. Wojowasito dan Poerwadarminta (dalam Amanah, 1995: 33)

mengatakan,

              “Kata tutor berasal dari bahasa Inggris yang berarti guru….”
              Sedangkan kata sebaya berarti sama umur atau sesuai. Dalam
              pengertian lain Supriyadi (dalam Suherman dkk, 2001: 233)
              mengemukakan, bahwa “Tutor sebaya adalah seorang atau
              beberapa orang siswa yang ditunjuk dan ditugaskan untuk
              membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar. Tutor
              tersebut diambil dari kelompok yang prestasinya lebih
              tinggi.”

       Sehubungan dengan hal itu, ada beberapa pendapat mengenai tutor

sebaya di antaranya dikemukakan oleh Ischak dan Warji (Suherman dkk,

2001: 233) bahwa: “Tutor sebaya adalah sekelompok siswa yang telah

tuntas terhadap bahan pelajaran, dalam memahami bahan pelajaran yang

dipelajarinya.” Sedangkan Semiawan (Suherman dkk, 2001: 233)
                                                                        28



mengatakan bahwa “Tutor sebaya itu adalah yang pandai dapat

memberikan bantuan belajar kepada siswa yang kurang pandai.”

     Tutor sebaya merupakan gabungan dari dua buah kata, yaitu tutor

dan sebaya. Wojowasito dan Poerwadarminta (Amanah, 1995: 33)

mengatakan,

              “Kata tutor berasal dari bahasa Inggris yang berarti
              guru….” Sedangkan kata sebaya berarti sama umur atau
              sesuai. Dalam pengertian lain Supriyadi (Suherman dkk,
              2001: 233) mengemukakan, bahwa “Tutor sebaya adalah
              seorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk dan
              ditugaskan untuk membantu siswa yang mengalami
              kesulitan belajar. Tutor tersebut diambil dari kelompok
              yang prestasinya lebih tinggi.”

     Seperti dikemukakan      Arikunto (Nurhayati, 2008), tutor sebaya

adalah seseorang atau beberapa orang siswa yang di tunjuk oleh guru

sebagai pembantu guru dalam melakukan bimbingan terhadap kawan

sekelas. Dengan sistem pembelajaran menggunakan tutor sebaya akan

membantu siswa yang nilainya dibawah KKM atau kurang cepat

menerima pelajaran dari guru diantaranya mata pelajaran.

       Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa tutor sebaya

adalah sumber belajar selain guru, yaitu teman sebaya yang lebih pandai,

yang pemanfaatannya diharapkan dapat memberikan bantuan belajar

kepada teman-temannya yang mengalami kesulitan dalam belajar.

       Tutor sebaya harus dipilih dari siswa atau sekelompok siswa yang

lebih pandai dibandingkan teman-temannya, sehingga dalam proses

pembelajaran ia dapat memberikan pengayaan atau membimbing teman-

temannya dan ia sudah menguasai bahan yang akan disampaikan kepada

teman-teman lainnya.
                                                                      29



       Jadi dalam pembelajaran dengan pendekatan tutor sebaya sebagai

sumber belajar, yang bertindak sebagai tutor adalah siswa, sementara guru

hanya sebagai pengarah dan pembimbing apabila tutor sebaya mengalami

kesulitan dalam pelaksanaannya.

       Untuk menanggulangi hal tersebut, guru hendaknya memberikan

bimbingan atau semacam les terhadap kelompok siswa yang ditunjukan

sebagai tutor sebelum pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan. Dengan

demikian, proses pembelajaran akan berjalan secara efektif dan efisien,

tanpa melimpahkan tugasnya sebagai pembelajar dan pendidik.

       Penerapan pendekatan tutor sebaya, juga dapat membantu guru

dalam menganalisa kesulitan belajar siswanya, karena setiap siswa

memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Tidak hanya itu, dalam proses

pembelajaran, ada beberapa siswa yang enggan atau malu untuk bertanya

terhadap guru.

       Oleh karenanya pembelajaran dengan pendekatan tutor sebaya

sebagai sumber belajar akan sangat menunjang keberhasilan pembelajaran.

Karena tidak akan merasa enggan, rendah diri, malu dan sebagainya untuk

bertanya dan meminta bantuan belajar kepada tutor sebaya. Dengan kata

lain, komunikasinya terasa lebih dilihat dan akrab, jika dibandingkan

antara siswa dengan guru.

       Dankmeyer (dalam Suherman dkk, 2001: 234) mengatakan,

          Tugas sebagai tutor merupakan kegiatan yang kaya akan
          pengalaman yang justru sebenarnya merupakan kebutuhan anak
          itu sendiri. Dalam persiapan ini antara lain mereka berusaha
          mendapatkan hubungan dan pergaulan baru yang mantap
          dengan teman sebaya, mencari peranannya sendiri,
          mengembangkan kecakapan intelektual dan konsep-konsep
                                                                           30



                yang penting, mendapatkan tingkah-laku yang bertanggung
                jawab secara sosial.


             Dengan demikian, beban yang diberikan mereka yang ditunjuk

   sebagai     tutor akan memberikan kesempatan untuk          mendapatkan

   peranannya, bergaul dengan orang-orang lain, dan bahkan mendapatkan

   pengetahuan dan pengalaman.

             Menurut Muntasir (dalam Amanah, 1995: 42),

                Pengajaran dengan tutor sebaya… dapat menjadi alat bantu
                untuk menimbulkan motivasi dan pengajaran yang bermutu.
                Tutor itu akan mendapatkan keuntungan berupa nilai pelajaran
                yang bertambah baik, sama mereka yang ditutori, terutama
                kalau fokusnya pada kemampuan kognitif.


             Jadi jelaslah bahwa keterlibatan tutor sebaya dalam proses

   pembelajaran matematika dapat meningkatkan keefektifan pembelajaran

   matematika

3. Model Pembelajaran Tutor Sebaya

             Adapun menurut Branley (Tim MKPBM, 2001: 234) ada tiga

   model dasar dalam menyelenggarakan proses belajar dengan tutor,yaitu:

                  a. Student to student

                  b. Group to tutor

                  c. Student to student

             Dalam menyelenggarakan proses belajar dengan tutor, maka

   sebaiknya dilakukan dengan membentuk kelompok kecil dari (4–5 orang)

   agar berjalan lebih efektif dan focus pada masing-masing anggota. Model

   dasar penyelenggaraan tutor sebaya dengan student to student adalah siswa
                                                                           31



   yang berperan sebagai tutor. Dengan satu tutor memberi pemahaman

   terhadap temannya yang memerlukan bimbingan secara bergantian satu

   persatu. Sedangkan group to tutor satu tutor memberikan bimbingan

   pelajaran   kepada   kelompok     kecil   teman-teman   sekelasnya   yang

   memerlukan bantuan belajar.

4. Kriteria Pemilihan Tutor

          Pemilihan siswa tutor ini berdasarkan beberapa kriteria yang

   dikemukakan oleh Surya dan Amin (Cahye, 2006: 35):

               Dalam memilih tutor diantaranya memiliki kemampuan
               dalam penguasaan materi pelajaran, kemampuan membantu
               orang lain baik secara individu maupun kelompok, prestasi
               belajar yang tergolong baik, hubungan social yang baik
               dengan teman-temannya, memiliki kemampuan dalam
               memimpin kegiatan kelompok, disenangi dan diterima oleh
               teman-temannya terutama kelompok rendah.

           Guru dapat menunjuk dan menugaskan siswa yang pandai untuk

   memberikan penjelasan juga berbagi pengetahuan yang dia punya dengan

   siswa yang kurang pandai. Karena hanya gurulah yang mengetahui jenis

   kelemahan siswa, sedangkan tutor hanya membantu melaksanakan

   perbaikan bukan mendiagnosis (Djamarah dan Zain, 2006:26). Demikian

   juga, siswa yang merasa kurang dalam pelajaran dianjurkan untuk

   bertanya kepada teman sebayanya yang lebih pandai. Tutor sebaya

   melibatkan siswa belajar satu sama lain dengan cara berbagi pengetahuan,

   ide dan pengalaman antara peserta didik. Hal ini menanamkan bahwa

   belajar tidak harus dengan guru disekolah yang mengakibatkan siswa

   menjadi tergantung dengan guru.
                                                                            32



            Sejalan dengan itu Arikunto (Nurhayati, 2008) mengemukaan

   dalam memilih tutor perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

        1. Tutor dapat diterima (disetujui) oleh siswa yang mendapat
           pogram perbaikan sehingga siswa tidak mempunyai rasa
           takut atau enggan bertanya kepadanya.
        2. Tutor dapat menerangkan bahan perbaikan yang dibutuhkan
           oleh siswa yang menerima program perbaikan.
        3. Tutor tidak tinggi hati, kejam atau keras hati terhadap sosial
           kawan.
        4. Tutor mempunyai daya kreatifitas yang cukup untuk
           memberikan bimbingan, yaitu dapat menerangkan pelajaran
           kepada kawannya.

            Menurut Ornstein (Jawahir, A,2003) ada tiga tipe pemasangan

   siswa: (1) siswa mungkin mengajar siswa lainnya dalam kelas yang sama:

   (2) siswa yang lebih tua mengajar siswa yang tingkat kelasnya lebih

   rendah: (3) dua siswa bekerjasama dan membantu yang lainnya sama

   halnya    dengan   aktivitas   belajar   biasa.      Menurut   Winataputra

   (Aunurrahman, 2009:149), dalam pembelajaran dengan tutor sebaya ini

   siswa yang memperoleh lengkap suatu pelajaran dan telah memahami

   materi pelajaran dipasangkan dengan siswa yang membutuhkan bantuan

   dalam belajarnya. Hasilnya cukup meyakinkan, ternyata belajar bersama

   dapat membantu siswa mengembangkan berbagai dimensi kemampuannya

   yang sangat dibutuhkan dalam proses belajar.

5. Langkah-langkah Pendekatan Tutor Sebaya

            Menurut   Hamalik     (Nurhayati,   2008)   tahap-tahap   kegiatan

   pembelajaran di kelas dengan menggunakan pendekatan tutor sebaya

   adalah sebagai berikut:
                                                                     33



1) Tahap persiapan
   1. Guru membuat program pengajaran satu pokok bahasan yang
      dirancang dalam bentuk penggalan-penggalan sub pokok bahasan.
      Setiap penggalan satu pertemuan yang didalamnya mencakup judul
      penggalan tujuan pembelajaran, khususnya petunjuk pelaksanaan
      tugas-tugas yang harus diselesaikan.
   2. Menentukan beberapa orang siswa yang memenuhi kriteria sebagai
      tutor sebaya. Jumlah tutor sebaya yang di tunjuk disesuaikan
      dengan jumlah kelompok yang dibentuk.
   3. Mengadakan latihan bagi para tutor. Dalam pelaksanaan tutorial
      atau bimbingan ini, siswa yang menjadi tutor bertindak sebagai
      guru. Sehingga latihan yang diadakan oleh guru merupakan
      semacam pendidikan guru atau siswa itu. Latihan di adakan dengan
      dua cara yaitu melalui latihan kelompok kecil dimana dalam hal ini
      yang mendapatkan latihan hanya siswa yang akan menjadi tutor,
      dan melalui latihan klasikal, dimana siswa seluruh kelas dilatih
      bagaimana proses pembimbingan ini berlangsung.
   4. Pengelompokan siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang yang
      terdiri atas 4-6 orang. Kelompok ini disusun berdasarkan variasi
      tingkat kecerdasan siswa. Kemudian tutor sebaya yang telah
      ditunjuk di sebar pada masing-masing kelompok yang telah
      ditentukan.
2) Tahap pelaksanaan
   1. Setiap pertemuan guru memberikan penjelasan terlebih dahulu
      tentang materi yang di ajarkan.
   2. Siswa belajar dalam kelompoknya sendiri. Tutor sebaya menanyai
      anggota kelompoknya secara bergantian akan hal-hal yang belum
      dimengerti, demikian pula halnya dengan menyelesaikan tugas.
      Jika ada masalah yang tidak diselesaikan barulah tutor meminta
      bantuan guru.
   3. Guru mengawasi jalannya proses belajar, guru berpindah-pindah
      dari satu kelompok ke kelompok yang lain untuk memberikan
      bantuan jika ada masalah yang tidak dapat diselesaikan dalam
      kelompoknya.
3) Tahap evaluasi
   1. Sebelum kegiatan pembelajaran berakhir, guru memberikan soal-
      soal latihan kepada anggota kelompok (selain tutor) untuk
      mengetahui apakah tutor sudah menjelaskan tugasnya atau belum.
   2. Mengingatkan siswa untuk mempelajari sub pokok bahasan
      sebelumnya di rumah.
      Peran guru dalam pembelajaran tutor sebaya adalah hanyalah

sebagai fasilitator dan pembimbing terbatas. Artinya, guru hanya

melakukan intervensi ketika betul-betul diperlukan oleh siswa. Serta
                                                                           34



   mengawasi kelancaran pelaksanaan pembelajaran ini dengan memberikan

   pengarahan dan bantuan jika siswa mengalami kesulitan dalam belajar.

          Tutor sebaya merupakan salah satu pembelajaran untuk memenuhi

   kebutuhan peserta didik. Ketika mereka belajar dengan tutor sebaya,

   peserta didik juga mengembangkan kemampuan yang lebih baik untuk

   mendengarkan, berkonsentrasi, dan memahami apa yang dipelajari dengan

   cara yang bermakna. Tutor pun akan bangga atas perannya dan dapat

   belajar dari pengalaman. Dengan diterapkannya pembelajaran tutor

   sebaya, siswa yang kurang aktif menjadi aktif karena tidak perlu merasa

   canggung dan malu lagi untuk bertanya dan mengeluarkan pendapatnya

   secara bebas. Juga rasa saling menghargai dan mengerti dibina antara

   peserta didik yang bekerja sama.

6. Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Tutor Sebaya

          Pendekatan    tutor   sebaya        lebih   memungkinkan    berhasil

   dibandingkan guru. Dikarenakan peserta didik melihat masalah dengan

   cara yang berbeda dibandingkan orang dewasa dan menggunakan bahasa

   yang lebih akrab dan santai. Sejalan dengan itu, Natawidjaya dalam zucri

   (Setiawati, 2008:11) bantuan belajar oleh tutor sebaya pada umumnya

   memberikan hasil yang cukup baik, hubungan antara siswa yang satu

   dengan siswa yang lain pada umumnya terasa lebih dekat dibandingkan

   dengan guru karena adakalanya seorang siswa lebih mudah menerima

   keterangan yang diberikan oleh temannya karena tidak adanya rasa enggan

   atau malu untuk bertanya.

          Srategi   pembelajaran      tutor      sebaya   dilakukan   dengan
                                                                       35



memberdayakan kemampuan siswa yang memiliki daya serap tinggi,

siswa tersebut mengajarkan materi/latihan kepada teman-temannya yang

belum memahami materi pelajaran. Daripada itu, bahwa siswa adalah

unsur pokok dalam pengajaran maka siswa perlu mengetahui berbagai

informasi pengajaran yang pada akhirnya dapat merubah tingkah laku

sesuai yang diharapkan. Untuk itu salah satu kelebihan tutor sebaya adalah

bantuan belajar dengan teman-teman sekelasnya dapat dilakukan di luar

sekolah (Tim MKPBM, 2001).

       Penerapan pendekatan tutor sebaya ini banyak sekali manfaatnya

baik dari sisi siswa yang berperan sebagai tutor maupun bagi siswa yang

diajarkan. Bagi tutor dengan membimbing temannya dan mengajarkan

suatu konsep/topic, maka pengertian terhadap bahan materi pun akan

lebih mendalam dan kesempatan mendapat pengalaman. Hal ini

memperkuat daya pemahaman apa yang telah dipelajarinya dan belajar

bertanggung jawab atas apa yang dibebankan kepadanya. Sedangkan bagi

siswa yang dibimbing akan lebih mengerti karena tidak canggung dalam

bertanya atau meminta bantuan. Dan seorang siswa biasanya dapat

menjelaskan suatu konsep dalam bahasa dimana siswa lainnya dapat

memahami Ornstein (Jawahir, A., 2003:16). Siswa dapat memberikan

suatu sumber motivasi dan informasi dalam suatu bahasa yang cocok

dengan struktur kognitif siswa lainnya. Selain itu, Forman dan Cazden

(Pardjono, 2002: 176) mengemukakan bahwa siswa dapat memberikan

scaffolding bagi siswa lainnya secara sangat efektif dalam situasi

pengajaran teman sebaya.
                                                                    36



       Sejalan dengan itu(Djamarah, 2006:26)mengemukakan beberapa

manfaat dari kegiatan tutoring,adalah sebagai berikut:

           1. Adakalanya hasilnya lebih baik bagi beberapa anak yang
              mempunyai perasaan takut atau enggan kepada guru.
           2. Bagi tutor, pekerjaan tutoring akan mempunyai akibat
              memperkuat konsep yang sedang dibahas . Dengan
              memberitahukan kepada anak lain,maka seolah-olah ia
              menelaah setra menghafalkan kembali.
           3. Bagi tutor merupakan kesempatan untuk melatih diri
              memegang tanggung jawab dalan mengemban suatu tugas.
           4. Mempererat hubungan antara sesama siswa sehingga
              mempertebal perasaan social.

       Sebagaimana yang dikemukakan Oleh Dinkmeyer (Tim MKPBM,

2001:234) dalam persiapan tugas sebagai tutor, antara lain mereka

berusaha mendapatkan hubungan dan pergaulan baru yang mantap dengan

teman sebaya, mencari perannya sendiri,mengembangkan kecakapan

intelektual dan konsep-konsep yang penting, mendapatkan tingkah laku

dan bertanggung jawab secara social. Serta keuntungan bagi tutor sebaya

dari berhubungan dengan temannya,yaitu pemahaman mereka diperkuat

dengan menjelaskan ide atau masalah dan kecakapan social mereka

dipertinggi Ornstein (Jawahir, A ,2003:16). Dengan diberikannya tugas

sebagai tutor,mereka mendapatkan pengetahuan dan pengalaman serta

hubungan social antara siswapun akan semakin terbina tanpa adanya

perasaan egois didalam diri mereka masing-masing.

       Disamping kelebihan yang diberikan oleh tutor sebaya, maka

adapun kesulitan dalam pelaksanaan pembelajaran dengan tutor sebaya.

Seperti yang dikemukakan oleh (Djamarah dan Zain, 2006:27) kesulitan

dalam melaksanakan pekerjaan tutoring, dikarenakan:
                                                                              37



               1. Siswa yang dibantu kadang sering belajar kurang serius,
                  karena hanya berhadapan dengan temannya, sehingga
                  hasilnya kurang memuaskan.
               2. Ada beberapa anak yang menjadi malu bertanya, karena
                  takut rahasianya diketahui temannya.
               3. pada kelas-kelas tertentu pekerjaan tutoring sukar
                  dilaksanakan, karena perbedaan kelamin antara tutor
                  dengan siswa yang diberi program perbaikan.
               4. Bagi guru sukar untuk menentukan seorang tutor yang
                  tepat bagi seorang atau beberapa siswa yang harus
                  dibimbing.
               5. Tidak semua siswa yang pandai atau cepat waktu
                  belajarnya dapat mengerjakannya kembali kepada teman-
                  temannya.


D. Model Pembelajaran Konvensional

             Pembelajaran biasa yang sering disebut dengan pembelajaran

      konvensional, yang di dalamnya biasanya menggunakan pendekatan

      ekspositori. Di mana guru menyampaikan informasi berupa materi

      pelajaran secara lisan, yang dikenal dengan istilah kuliah atau ceramah.

      Komunikasi yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar yaitu

      komunikasi satu arah atau komunikasi sebagai aksi.

             Sudjana (2002: 153) menjelaskan mengenai pendekatan ekspositori

      atau model informasi sebagai berikut:

                 Pendekatan ini bertolak dari pandangan, bahwa tingkah
                 laku kelas dan penyebaran pengetahuan dikontrol dan
                 ditentukan oleh guru atau pengajar. Hakekat mengajarnya
                 yaitu menyampaikan materi atau ilmu pengetahuan kepada
                 siswa, di mana siswa dipandang sebagai objek yang
                 menerima apa yang diberikan guru. Guru menyampaikan
                 materi secara lisan (ceramah) dan hanya terjadi komunikasi
                 satu arah yaitu antara guru dan siswa.

             Menurut     Rooijokkers    (2003:73),    “Bentuk     pembelajaran

      konvensional terbagi menjadi tiga kategori, yaitu pengajaran memberi
                                                                       38



tahu, pengajar mengadakan kontak dengan para murid, dan pengajar

memberi tugas”. Dengan pembelajaran biasa atau konvensional, maka

guru dituntut untuk selalu mencari ilmu atau informasi yang akan

diberikan kepada siswa, karena setiap siswa hanya mendengarkan dan

menerima informasi apa saja yang diberikan oleh guru tanpa adanya

timbal balik dari setiap siswa itu sendiri.

Ruseffendi (1991: 290) berpendapat,

           Metode ekspositori adalah metode yang sering disamakan
           dengan metode ceramah hanya pada metode ekspositori
           dominasi guru banyak berkurang. Pada metode ini, setelah
           guru beberapa saat memberikan informasi guru mulai
           dengan menerangkan suatu konsep, mendemonstrasikan
           keterampilannya mengenai pola/aturan/dalil tentang
           konsep, siswa bertanya, guru memeriksa apakah mengerti
           atau belum. Kegiatan selanjutnya ialah guru memberikan
           contoh-contoh soal aplikasi konsep itu, selanjutnya
           meminta murid untuk menyelesaikan soal-soal di papan
           tulis atau di mejanya.


       Langkah-langkah       pembelajaran     biasa   dalam   pembelajaran

matematika adalah sebagai berikut:

1. Guru menerangkan materi di dalam kelas, sedangkan siswa

   mendengarkan dan mencatat penjelasan yang disampaikan guru.

2. Setelah guru selesai menjelaskan, siswa diberi kesempatan untuk

   bertanya.

3. Siswa mengerjakan latihan soal yang ada dalam buku paket.

4. Siswa bekerja secara individual atau bekerjasama dengan teman

   sebangku.

5. Guru memberi kesempatan kepada siswa yang sudah selesai
                                                                             39



         mengerjakan tugas untuk mengerjakan latihan tersebut di papan tulis.


E. Ekonomi

         Menurut Warsita (2008: 181), mengemukakan bahwa:

                “Kata "ekonomi" sendiri berasal dari kata Yunani οἶκος
                (oikos) yang berarti "keluarga, rumah tangga" dan νόμος
                (nomos), atau "peraturan, aturan, hukum," dan secara garis
                besar diartikan sebagai "aturan rumah tangga" atau
                "manajemen rumah tangga." Sementara yang dimaksud
                dengan ahli ekonomi atau ekonom adalah orang
                menggunakan konsep ekonomi dan data dalam bekerja.”

         Ilmu yang mempelajari ekonomi disebut sebagai ilmu ekonomi.

  Ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan

  menciptakan    kemakmuran.     Inti   masalah    ekonomi    adalah    adanya

  ketidakseimbangan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan alat

  pemuas kebutuhan yang jumlahnya terbatas. Permasalahan itu kemudian

  menyebabkan            timbulnya          kelangkaan           (http://info.g-

  excess.com/id/info/EkonomiPengertian.info)

         Teori ekonomi dibedakan menjadi dua bagian yaitu teori ekonomi

  mikro dan teori ekonomi makro. Teori ekonomi mikro membahas perilaku

  agen ekonomi yang kecil yaitu, konsomen individual atau sebuah perusahaan,

  sekolah atau satuan pendidikan, dan keluarga. Sedangkan teori ekonomi

  makro variable yang di bahas adalah pendapatan nasional, kesempatan kerja,

  inflasi, anggaran pemerintah,dll. Perkembangan ekonomi makro berpengaruh

  pula dalam bidang pendidikan. Selain itu, terlaksananya sistem ganda dalam

  pendidikan (link and match) adalah bentuk kerja sama antara sekolah dengan

  dunia usaha dalam usaha pembelajan peserta didik.
                                                                           40



1. Latar Belakang Pembelajaran Ekonomi

            Peranan ekonomi dalam dunia pendidikan cukup menentukan,

   walaupun bukan faktor utama menjadi penentu maju mundurnya

   pendidikan dalam suatu Negara. Namun tidak dipungkiri tanpa ekonomi

   yang memadai dunia pendidikan tidak akan bisa berjalan dengan baik dan

   lancar (Pidarta, 2000: 261). Sedangkan faktor yang menentukan kemajuan

   pendidikan adalah keahlian, dedikasi dan keterampilan para pengelola

   pendidikan.

2. Tujuan Pembelajaran Akuntansi

            Tujuan yang harus dicapai oleh siswa SMK Budi Bhakti

   Mandirancan dalam pembelajaran Akuntansi, yaitu siswa harus dapat

   mendefinisikan,     mendeskripsikan,      menjelaskan,    mengidentifikasi,

   mengklasifikasikan, serta menyusun. Adapun tujuan tersebut disesuaikan

   dengan     materi   yang   dipelajari.   Serta   dalam   pembelajaran   ini

   mengharapkan agar siswa dapat mengimplikasikan keahliannya dalam

   dunia usaha yang akan mereka hadapi.

3. Kontribusi Ekonomi dalam Pendidikan

            Ekonomi pendidikan atau ‘education economic’ atau ‘economic of

   education’ tumbuh dan berkembang pesat secara mandiri dengan

   memusatkan perhatian pada investasi Sumber Daya Manusia (SDM).

   Objek kajian ilmu ekonomi adalah perilaku manusia atau kelompok

   manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

            Maka Warsita (2008:184)merumuskan subjek pengamatan atau

   kajian ekonomi pendidikan terdiri dari dua hal yang berbeda,namun saling
                                                                       41



berhubungan,yaitu:

       1. Analisis atas nilai ekonomis pendidikan, berkepentingan
          dengan mengkaji dampak pendidikan terhadap pertumbuhan
          ekonomi, terutama dalam hal produktivitas tenaga kerja,
          mobilitas penempatan kerja dan pemerataan pendapatan.
          Selain itu juga mengkaji seberapa besar nilai tambah yang
          dihasilkan oleh pendidikan atau pertambahan ilmu terhadap
          pendapatan.
       2. Analisia atas Aspek ekonomis institusi pendidikan, lebih
          berkepentingan mengkaji efisiensi internal institusi
          pendidikan dan implikasi financial dari biaya yang digunakan
          untuk pengelolaan pendidikan, serta efektivitas pengelolaan
          sumber daya intitusi pendidikan sebagai bagian dari
          manajemen.

       Ekonomi merupakan salah satu komponen sumber daya pendidikan

yang membuat peserta didik mampu mengembangkan potensinya, baik

pengetahuan, keterampilan dan sikapnya. Dengan ekonomi yang memadai,

kegiatan pembelajaran dapat dilaksanakan secara intensif karena segala

sarana dan prasarana yang menunjang seperti media, alat pendidikan, dan

berbagai kebutuhan yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran dapat

dipenuhi. Sedangkan fungsi ekonomi dalam dunia pendidikan adalah

untuk menunjang kelancaran proses pendidikan.

       Adapun      dukungan   atau   kontribusi   pendidikan   terhadap

pertumbuhan ekonomi menurut Warsita (2008: 185) dapat dilakukan

melalui dua cara, yaitu:

     1. Pendidikan menciptakan dan menghasilkan pengetahuan baru
        yang membawa pengaruh terhadap proses produksi.
        Pendekatan ini mengandaikan, pertumbuhan ekonomi itu
        didorong oleh akumulasi modal manusia. Modal manusia,
        yang diperankan kaum profesional, para ahli, teknisi dan
        pekerja, merupakan penggerak utama kemajuan ekonomi.
     2. Pendidikan menjadi sarana dalam proses difusi dan transmisi
        pengetahuan, teknologi, dan informasi yang dapat mengubah
        pola berpikir,bertindak dan kultur bekerja. Oleh karena itu,
                                                       42



unsur pengetahuan, teknologi dan informasi merupakan
kekuatan transformative yang dapat memacu akselerasi
pertumbuhan ekonomi.
                                    BAB III

                        METODOLOGI PENELITIAN



A. Populasi dan Sampel

          Untuk sampai kepada pemecahan masalah diperlukan data mentah

   yang dikumpulkan dari objek penelitian. Dengan demikian dalam suatu

   penelitian itu diperlukan populasi untuk memperoleh data tersebut.

          “Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian, sedangkan sampel

   adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti” (Arikunto, 2002: 130).

   Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa yang memiliki

   kemampuan kognitif dalam tahap formal, atau paling kurang sampai pada

   tahap konkrit. Oleh karena itu, populasi dalam penelitian ini adalah seluruh

   siswa kelas X SMK Budi Bhakti Mandirancan Kabupaten Kuningan sebanyak

   lima kelas (kelas X.AP 1, X.AP 2, X.AK 1, X.AK 2, X.TB) yang terdiri dari

   197 orang siswa pada tahun pelajaran 2008/2009.

          Pengambilan sampel dalam penelitian ini diambil secara acak. Hal ini

   dilakukan karena kemampuan semua kelas diasumsikan sama atau homogen.

   Pengambilan sampel ini dilaksanakan untuk mendapatkan kelompok

   eksperimen dan kelompok kontrol. Setelah dilakukan pengambilan sampel

   secara acak maka kelas yang terpilih adalah kelas X.AK 1 sebagai kelas

   eksperimen (terdiri dari 40 orang siswa) dan X.AK 2 sebagai kelas kontrol

   (terdiri dari 40 orang siswa).


B. Metode Penelitian

          Menurut Arikunto (2002: 136), “Metode penelitian adalah cara yang


                                      43
                                                                               44



   digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitian”. Metode

   penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen.

          Penelitian bersifat eksperimen, yaitu dengan sengaja mengusahakan

   tumbuhnya variabel-variabel dan selanjutnya dikontrol untuk dilihat

   pengaruhnya terhadap hasil belajar akuntansi siswa melalui pretest dan

   posttest. Sedangkan metode pendekatan yang digunakan penulis dalam

   penelitian adalah metode pendekatan eksperimen atau komparatif, karena

   disini penulis ingin membandingkan antara dua kelas yang menggunakan

   Pendekatan Tutor Sebaya dan pembelajaran konvensional serta apakah

   pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa.


C. Desain Penelitian

       Desain merupakan kerangka, pola yang menggambarkan alur dan arah

   penelitian. Desain penelitian yang digunakan adalah sesuai dengan pendapat

   Arikunto (1998 : 145) yang dijelaskan dalam suatu bagan sebagai berikut :

   E = O1 X1 O2

   K = O3 X2 O4

   Keterangan ;

   E = Kelas eksperimen.

   K = Kelas Kontrol.

   X1 = Pembelajaran dengan menggunakan Pendekatan Tutor Sebaya kelompok

        eksperimen.

   X2 = Pembelajaran    dengan    menggunakan     metode   konvensional    pada

        kelompok kontrol.
                                                                             45



       O1 = O3 = Pretest

       O2 = O4 = Posttest


D. Instrumen Penelitian

             Arikunto (2002: 136) mengatakan bahwa, “Instrumen penelitian adalah

   alat atau fasilitas yang digunakan untuk peneliti dalam mengumpulkan data

   agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih

   cermat, lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah”.

             Untuk memperoleh data yang diperlukan pada penelitian ini, maka

   diperlukan instrumen penelitian. Adapun instrumen dalam penelitian ini

   adalah:

   1. Seperangkat Soal

                Instrumen penelitian merupakan alat bantu pengumpulan data

      dan pengolahan data tentang variabel-variabel yang diteliti. Adapun

      alat untuk instrumen yang penulis pergunakan pada penelitian ini

      adalah; observasi, tes tertulis, dan angket respon siswa terhadap

      kegiatan Pendekatan Tutor Sebaya.

                Uraian lebih rinci mengenai instrumen penelitian tersebut adalah

      sebagai berikut :

      a. Observasi

             Alat pengumpulan data melalui observasi ini dilakukan dengan cara

             mengamati dan melihat secara langsung dari perilaku siswa pada saat

             kegiatan belajar-mengajar berlangsung, maupun keaktifitasannya

             selama berada di lingkungan sekolah. Adapun prilaku siswa itu dapat
                                                                       46



   berupa kelakuan serta sikap siswa dalam belajar, misalnya : keseriusan

   dalam belajar, ikut berpendapat dalam memecahkan masalah;

   memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain; motivasi dalam

   belajar serta mengerjakan setiap tugas yang diberikan.

b. Tes Tertulis

   Tes tertulis digunakan untuk mengukur hasil siswa dalam pokok

   bahasan yang diajarkan. Tes tertulis disusun berdasarkan rumusan pada

   tujuan pembelajaran yang diberikan pada awal dan akhir pokok

   bahasan. Soal tes di uji cobakan terlebih dahulu untuk menjamin

   keabsahan hasil penelitian, setelah itu penulis menentukan validitas,

   reabilitas, indeks kesukaran dan daya pembeda dari soal tersebut

   dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

   a. Menentukan Validitas Soal

       “Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat

       kevalidan atau kesahihan suatu instrumen” (Arikunto, 2002: 144).

       Uji validitas dilakukan untuk mengetahui apakah item-item yang

       tersaji dalam soal tes benar-benar mampu mengungkapkan dengan

       pasti apa yang akan diteliti. Untuk menghitung validitas butir soal

       essay (uraian) digunakan rumus koefisien korelasi Product

       Moment dengan angka kasar, yaitu:

                          N   XY   X  Y
       rxy 
               N   X   2
                                          
                                X  N   Y 2   Y 
                                      2                 2
                                                            
       Keterangan:

       rxy     = koefisien korelasi antara variabel X dan Y
                                                                                 47



   N         = banyaknya siswa yang mengikuti tes

   X         = nilai hasil uji coba

   Y         = skor total

                            Tabel 3.1
                 Klasifikasi Koefisien Validitas
  No.                Nilai rxy             Interpretasi
   1.            0,80 < rxy  1,00             Sangat Tinggi
   2.            0,60 < rxy  0,80                  Tinggi
   3.            0,40 < rxy  0,60                  Sedang
   4.            0,20 < rxy  0,40                 Rendah
   5.            0,00 < rxy  0,20            Sangat Rendah
   6.                 rxy  0,00        Tidak Valid
             Sumber: Suherman dan Sukjaya (1990: 147)

   Kemudian untuk menguji keberartian validitas (koefisien korelasi)

   soal essay digunakan statistik uji t yang dikemukakan oleh Sudjana

   (Praja, 2001: 38) yaitu:

               n2
   t  rxy
              1  rxy
                    2




   Keterangan: t = daya beda.

   Bila t hitung  t tabel maka soal sahih tetapi jika t hitung  t tabel , maka soal

   tersebut tidak sahih dan tidak digunakan untuk instrumen

   penelitian.

b. Menentukan Reliabilitas Soal

   Uji reliabilitas dimaksudkan untuk mengetahui adanya konsistensi

   (ajeg) alat ukur dalam penggunaannya. Dengan kata lain, alat ukur

   tersebut mempunyai hasil yang konsisten apabila digunakan

   berkali-kali pada waktu yang berbeda. Untuk uji reliabilitas ini

   digunakan teknik Alpha Cronbach, di mana suatu instrumen dapat
                                                                 48



dikatakan handal (reliabel) bila memiliki koefisien keandalan atau

alpha sebesar 0,4 atau lebih.

Menurut Arikunto (Praja, 2001: 40) untuk menentukan reliabilitas

soal berbentuk essay (uraian) digunakan rumus sebagai berikut.

       n  si 
                      2
r11         1  2 
       n  1 
                   st 

Keterangan:

r11      = koefisien reliabilitas instrumen

n        = banyaknya butir soal

si2     = jumlah varians skor tiap butir soal

st2      = varians skor total

Sedangkan untuk menghitung varians skor digunakan rumus:

             x
          N
                        2
                    i
         xi2
si2 
               N

Keterangan:

N        = banyaknya sampel/peserta test

xi       = skor butir soal ke-i

i        = nomor soal

                           Tabel 3.2
               Klasifikasi Koefisien Reliabilitas
 No.            Nilai r11             Interpretasi
  1       0,80 < r11  1,00          Sangat Tinggi
  2       0,60 < r11  0,80              Tinggi
  3       0,40 < r11  0,60             Sedang
  4       0,20 < r11  0,40             Rendah
  5              r11  0,20         Sangat Rendah
Sumber: Suherman dan Sukjaya (1990: 177)
                                                                        49



c. Menentukan Daya Pembeda (Discriminating Power) Soal

   Daya Pembeda (DP) dari sebuah butir soal menyatakan seberapa

   jauh kemampuan butir soal tersebut mampu membedakan antara

   testi yang mengetahui jawabannya dengan benar dengan testi yang

   tidak dapat menjawab soal tersebut (testi yang menjawab salah).

   Untuk menghitung daya pembeda uraian digunakan rumus menurut

   Kurikulum 1994 (Praja, 2001: 42) yaitu:

           SA  SB
   DP 
           N  Maks
             1
             2
   Keterangan:

   DP            = daya pembeda

   SA            = jumlah skor yang dicapai siswa kelompok atas

   SB            = jumlah skor yang dicapai siswa kelompok bawah

   N             = jumlah siswa dari kelompok atas dan kelompok bawah

   Maks = skor maksimal

                              Tabel 3.3
                 Klasifikasi Koefisien Daya Pembeda
                  Nilai Daya Pembeda
       No.                                  Interpretasi
                          (DP)
        1                  DP  0,00       Sangat Jelek
        2           0,00 < DP  0,20           Jelek
        3           0,20 < DP  0,40          Sedang
        4           0,40 < DP  0,70           Baik
     5      0,70 < DP  1,00       Sangat Baik
   Sumber: Suherman dan Sukjaya (1990: 202)


d. Menentukan Indeks Kesukaran (Difficulty Index) Soal

   Untuk menghitung indeks kesukaran soal yang berbentuk uraian

   berdasarkan Kurikulum 1994 (Praja, 2001: 41) digunakan rumus:
                                                                  50



          SA  SB
IK 
          N  Maks

Keterangan:

IK         = indeks kesukaran tiap butir soal

SA         = jumlah skor yang dicapai siswa kelompok atas

SB         = jumlah skor yang dicapai siswa kelompok bawah

N          = jumlah siswa dari kelompok atas dan kelompok bawah

Maks = skor maksimal
                            Tabel 3.4
             Klasifikasi Koefisien Indeks Kesukaran
             Nilai Indeks Kesukaran
    No.                                     Interpretasi
                       (IK)
     1                IK = 0,00             Sangat Sukar
     2         0,00 < IK  0,30                 Sukar
     3         0,30 < IK  0,70                 Sedang
     4         0,70 < IK < 1,00                 Mudah
  5           IK = 1,00          Sangat Mudah
Sumber: Suherman dan Sukjaya (1990: 213)
        Adapun hasil perhitungan instrumen disajikan pada Tabel 3.5 sebagai berikut:

                                                                              Tabel 3.5
                                                               Hasil Analisis Instrumen Tes Uji Coba
 No.             Validitas                         Kesahihan                        Reliabilitas           Daya Pembeda          Indeks Kesukaran
 Soal   Indeks      Interpretasi   thitung         ttabel        Interpretasi   Indeks   Interpretasi   Indeks   Interpretasi   Indeks   Interpretasi
  1      0.54         Sedang        4.01                            Shahih       2.55       Tinggi       0.26      Sedang        0.78       Mudah
  2      0.69          Tinggi       5.88                            Shahih                               0.40      Sedang        0.31      Sedang
  3      0.85      Sangat Tinggi    9.86                            Shahih                               0.72    Sangat Baik     0.52      Sedang
  4      0.56         Sedang        4.13     = 1% dan dk =        Shahih                               0.42        Baik        0.62      Sedang
  5      0.76          Tinggi       7.26           38              Shahih                               0.24      Sedang        0.75       Mudah
  6      0.44         Sedang        3.05       t0,995 = 2,71        Shahih                               0.18        Jelek       0.85       Mudah
  7      0.18      Sangat Rendah    1.13                         Tidak Sahih                             0.13        Jelek       0.66      Sedang
  8      0.45         Sedang        3.10                            Shahih                               0.46        Baik        0.28       Sukar
  9      0.67          Tinggi       5.53                            Shahih                               0.63        Baik        0.37      Sedang
  10     0.83      Sangat Tinggi    9.15                            Shahih                               0.65        Baik        0.52      Sedang


Dari uji validitas 10 butir soal ternyata 1 soal tidak memenuhi kriteria untuk dipakai dalam penelitian yaitu nomor 7. Untuk

soal tes awal dan tes akhir penulis mengambil lima soal, yaitu nomor 4, 7, 8, 12, dan 13.
                                                                           52



   2. Angket

               Menurut Ruseffendi (1991: 107),

                    Angket adalah sekumpulan pertanyaan atau
                    pernyataan yang harus dilengkapi oleh responden
                    dengan memilih jawaban atau menjawab pertanyaan
                    melalui jawaban yang sudah disediakan atau
                    melengkapi kalimat dengan jalan mengisinya.

               Angket ini bertujuan untuk mengetahui respon siswa terhadap

      pembelajaran       pembelajaran   kooperatif   teknik   jigsaw   dengan

      menggunakan pembelajaran Kooperatif teknik jigsaw. Angket yang

      dipilih model skala Likert yang terdiri dari pertanyaan-pertanyaan

      positif dan negatif. Untuk setiap pertanyaan positif disediakan empat

      pilihan jawaban yang skornya berturut-turut adalah sebagai berikut:

      empat untuk Sangat Setuju (SS), tiga untuk Setuju (S), dua untuk

      Tidak Setuju (ST), dan satu untuk Sangat Tidak Setuju (STS).

               Untuk setiap pertanyaan negatif skornya sebagai berikut : satu

      untuk Sangat Setuju (SS), dua untuk Setuju (S), tiga untuk Tidak

      Setuju (TS), dan empat untuk Sangat Tidak Setuju (STS). Pilihan

      jawaban Netral (N) tidak digunakan. Hal ini dilakukan untuk

      mendorong       siswa   melakukan     keberpihakan      jawaban,   dan

      menghindari jawaban aman.


E. Prosedur Penelitian

          Untuk mempermudah pelaksanaan penelitian, maka perlu dirancang

   suatu prosedur penelitian yang berstruktur. Prosedur tersebut merupakan

   arahan dalam pelaksanaan penelitian dari awal sampai akhir, dengan harapan
                                                                    53



penelitian akan sesuai dengan yang telah direncanakan sebelumnya. Dalam

penelitian ini prosedur penelitian dibagi dalam tiga tahap, yaitu tahap

persiapan, pelaksanaan, dan penyelesaian penelitian.


1. Persiapan Penelitian

           Dalam melaksanakan penelitian ini ditempuh melalui langkah-

   langkah sebagai berikut.

   a. Studi literatur, telaah kurikulum/GBPP dan survey pendahuluan.

   b. Membuat proposal.

   c. Merancang instrumen penelitian.

   d. Bersamaan dengan penyusunan instrumen, penulis mengajukan

       surat untuk permohonan izin penelitian di sekolah.

   e. Menyusun jadual kegiatan penelitian.

   f. Menguji reliabilitas, validitas, daya pembeda serta indeks

       kesukaran instrumen uji coba, kemudian melakukan revisi.

   g. Pelaksanaan penelitian.

2. Pelaksanaan Penelitian

           Langkah-langkah yang dilakukan pada pelaksanaan penelitian

   adalah:

   a. Memilih sampel sebanyak dua kelas dari seluruh siswa kelas X

       SMK Budi Bhakti Mandirancan Kabupaten Kuningan secara

       acak kelas.

   b. Memberikan lembar soal tes awal yang sama kepada kedua

       kelompok sampel kelas tersebut.
                                                                         54



      c. Proses pembelajaran pada kelas eksperimen dengan model

          pembelajaran kooperatif teknik jigsaw dan kelas kontrol dengan

          pembelajaran konvensional dimana penulis berperan sebagai

          pengajarnya.

      d. Setelah proses pembelajaran berakhir, dilakukan tes akhir untuk

          kedua kelompok yang diteliti.

      e. Diadakan penilaian hasil tes awal dan tes akhir pada kedua

          kelompok kelas tersebut.

      f. Pengambilan data angket respon siswa dan hasil tes awal-tes akhir

          dari kedua kelompok yang diteliti untuk selanjutnya dianalisis

          atau dilakukan perhitungan guna memperoleh hasil belajar siswa.

   3. Penyelesaian Penelitian

      a. Menganalisis data hasil tes awal dan tes akhir dari kelompok

          eksperimen dan kelompok kontrol.

      b. Meminta surat keterangan telah melaksanakan penelitian dari

          sekolah tempat penelitian dilaksanakan.

      c. Mengucapkan terima kasih kepada pihak sekolah yang telah

          membantu penulis dalam melaksanakan penelitian.

      d. Penyusunan skripsi


F. Teknik Pengumpulan Data

          Pengumpulan data dilakukan pada setiap aktivitas siswa dan situasi

   yang berkaitan dengan tindakan penelitian yang dilakukan, yaitu tes dan
                                                                                    55



   angket. Secara garis besar teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dapat

   disajikan dalam tabel sebagai berikut:



                                   Tabel 3.6
                           Teknik Pengumpulan Data
No.                      Jenis Data                        Teknik Pengumpulan
 1.   Hasil belajar siswa dengan melihat tingkat          Tes
      prestasi ekonomi siswa
 2.   Respon siswa terhadap pembelajaran                  Angket siswa
      kooperatif teknik jigsaw dengan model
      pembelajaran Konvensional

G. Teknik Pengolahan Data

          Pengolahan data yang dilakukan dalam penelitian ini terdiri dari dua

   jenis data, yaitu data yang bersifat kualitatif dan data yang bersifat kuantitatif.

   1. Pengolahan Data Kuantitatif

              Data kuantitatif diperoleh dari hasil tes awal dan tes akhir.

      Dari hasil pengalaman data kuantitatif inilah dapat ditentukan

      pengaruh pembelajaran model pembelajaran teknik jigsaw terhadap

      hasil belajar akuntansi siswa.

              Adapun langkah-langkah dalam mengolah data dari hasil tes

      awal dan tes akhir adalah sebagai berikut.

      a. Membuat daftar distribusi frekuensi untuk kelas eksperimen dan

          kelas kontrol menurut Sudjana (2002: 47-48).

          1) Menentukan rentang (r)

               r = data terbesar – data terkecil

          2) Menentukan banyak kelas interval (k) dengan aturan Sturges

               k = 1 + 3,3 log n
                                                                       56



       Keterangan:

       n  banyaknya data, hasil akhir dibulatkan.

   3) Menentukan panjang kelas interval (p)

            r
       p
            k
   4) Menentukan ujung bawah kelas interval pertama

      Ujung bawah kelas interval pertama yang diambil adalah data

      terkecil atau nilai data yang lebih kecil dari data terkecil tetapi

      selisihnya harus kurang dari panjang kelas yang telah didapat.

   5) Menentukan kelas interval pertama dengan cara menjumlahkan

      ujung bawah kelas dengan p dikurangi 1. Demikian seterusnya.

   6) Membuat tabel distribusi frekuensi

                  TABEL 3.7
       FORMAT TABEL DISTRIBUSI FREKUENSI

            Nilai             Tabulasi        Frekuensi




b. Uji Normalitas

          Pengujian normalitas data digunakan untuk menguji apakah

   data kontinu berdistribusi normal sehingga analisis dengan uji t dapat

   dilaksanakan. Pengujian normalitas data dilakukan dengan langkah-

   langkah sebagai berikut.

   1) Perumusan hipotesis
                                                                           57



   H0 : Data dari dua kelas sampel yang diperoleh berasal dari

         populasi yang sama diduga berdistribusi normal.

   H1 : Data dari dua kelas sampel yang diperoleh berasal dari

         populasi yang sama diduga berdistribusi tidak normal.

2) Besaran-besaran yang diperlukan

   a) Mencari rata-rata ( x ) dan simpangan baku (s)

                     TABEL 3.8
      FORMAT TABEL PENOLONG MENCARI x DAN S
     Nilai        fi              xi        x i2   f i xi        f i xi2


  Jumlah

       (1)   Mencari rata-rata


             x
                  fx  i i

                  f    i


             Keterangan:

             xi   = tanda kelas interval

             fi   = frekuensi yang sesuai dengan tanda kelas xi

             (Sudjana, 2002: 70)

       (2)   Mencari simpangan baku (s)

                  n f i xi   f i xi 
                              2         2

             s
                             n(n  1)
             (Sudjana, 2002: 95)

             Keterangan:

             s    = simpangan baku
                                                                             58



                  xi   = tanda kelas

                  fi   = frekuensi yang sesuai tanda kelas xi

                  n    = jumlah fi

   b) Menghitung batas kelas (bk), transformasi normal standar dari

       batas kelas (z), luas kelas interval (L), frekuensi yang

       diharapkan (E), dan frekuensi hasil pengamatan O.

                      TABEL 3.9
        FORMAT TABEL PENOLONG UJI NORMALITAS
     Nilai             bk             zi          Li          Ei        Oi




   Jumlah

       (1) Menghitung batas kelas (bk) setiap kelas interval

                                     bk  x
       (2) Menghitung zi                   , untuk i = 1, 2, 3, …, n
                                       s

             Keterangan:

             bk        = batas kelas

             x         = rata-rata

             s         = simpangan baku

             zi        = transformasi normal standar dari batas kelas

       (3) Menghitung luas kelas interval (L) tiap daerah dengan

             menggunakan daftar Z (luas di bawah lengkung kurva

             normal standar dari 0 ke z).

       (4) Menghitung frekuensi yang diharapkan (Ei)

             Ei = n  Li

3) Uji Statistik
                                                                            59



             k
                 (Oi  Ei ) 2
       2  
            i 1     Ei

      Keterangan:

        2 = chi-kuadrat hitung

      Oi = frekuensi hasil pengamatan (frekuensi observasi) ke-i

      Ei = frekuensi yang diharapkan (frekuensi ekspektasi) ke-i

      (Sudjana, 2002: 273)

   4) Kriteria pengujian hipotesis

      Dengan mengambil taraf nyata   1% atau   5%, maka tolak H0

      jika  hitung ≥  (2  )(dk ) dan terima H0 untuk harga  hitung lainnya
             2
                         1
                                                                 2



      dengan dk = k – 3.

      (Sudjana, 2002: 273)

   5) Kesimpulan

      Penafsiran dari H0 diterima dan ditolak. Jika hasil pengujian data

      sampel menunjukkan data sampel yang diperoleh berasal dari

      populasi berdistribusi normal, maka selanjutnya dilakukan

      pengujian homogenitas varians. Jika hasil pengujian menunjukkan

      data sampel yang diperoleh berasal dari data populasi berdistribusi

      tidak normal, maka selanjutnya digunakan uji Mann Whitney.

c. Uji kesamaan dua varians (homogenitas)

          Uji kesamaan dua varians digunakan untuk menguji apakah

   kedua data homogen yaitu dengan membandingkan kedua variansnya.

   Jika kedua varians sama besarnya, maka uji homogenitas tidak perlu

   dilakukan lagi karena datanya sudah dapat dianggap homogen. Namun
                                                                             60



untuk varians yang tidak sama besarnya, perlu diadakan uji pengujian

homogenitas melalui uji kesamaan dua varians.

        Persyaratan agar pengujian homogenitas dapat dilakukan ialah

apabila kedua datanya telah terbukti berdistribusi normal. Untuk

melakukan pengujian homogenitas dilakukan dengan langkah-langkah

sebagai berikut.

1) Perumusan hipotesis

   Hipotesis yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut.

   H0     :  12   2
                     2
                             tidak terdapat perbedaan varians antara kelas

            eksperimen dengan kelas kontrol

   H1     :  12   2
                     2
                             terdapat perbedaan varians antara kelas

            eksperimen dengan kelas kontrol

2) Besaran-besaran yang diperlukan

   Menghitung varians untuk masing-masing kelompok

3) Statistik uji

                Varians terbesar
    Fhitung 
                Varians terkecil

   (Sudjana, 2002: 250)

4) Kriteria pengujian

   Dengan mengambil taraf nyata   1% atau   5%, maka tolak H0

   jika Fhitung  F1 ( dk1 ,dk2 ) dan terima H0 untuk harga Fhitung lainnya. Di
                     2
                                                                         61



       mana F1 ( dk ,dk ) adalah nilai yang diperoleh dari daftar F dengan
                2   1   2




       dk pem bilang = dk1 = n1 – 1 dan = dkpeny ebut = dk2 = n2 – 1.

       (Sudjana, 2002: 250)

   5) Kesimpulan

       Penafsiran dari H0 diterima atau ditolak. Apabila hasil pengujian

       menunjukkan bahwa kedua populasi mempunyai varians yang

       sama, maka selanjutnya digunakan uji t. Apabila hasil pengujian

       menunjukkan varians yang tidak sama, maka selanjutnya

       digunakan uji t.

d. Uji kesamaan dua rata-rata

          Uji kesamaan dua rata-rata digunakan untuk mengetahui ada

   atau tidak adanya perbedaan (kesamaan) antara dua buah kelompok.

   Salah satu teknik analisis statistik untuk menguji kesamaan dua rata-

   rata adalah uji t (t-test) karena rumus yang digunakan disebut rumus t.

   Rumus t sendiri banyak ragamnya dan pemakaiannya disesuaikan

   dengan karakteristik kedua data yang akan dibedakan.

          Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebelum uji t

   dilakukan. Persyaratannya yaitu masing-masing data dipilih secara

   acak, berdistribusi normal, dan homogen. Untuk melakukan pengujian

   tentang perbedaan dua rata-rata diperlukan langkah sebagai berikut.

   1) Perumusan hipotesis
                                                                                         62



   H0: 1 = 2               rata-rata kelas eksperimen sama dengan kelas

                 kontrol

   H1: 1  2               rata-rata kelas eksperimen tidak sama dengan kelas

                 kontrol

2) Besaran-besaran yang diperlukan

   a) Menghitung rata-rata sampel untuk kedua kelompok

   b) Menghitung varians untuk kedua kelompok

   c) Menghitung simpangan baku gabungan (sgab)

                 (n1  1) s12  (n2  1) s2
                                          2
        sgab   
                       n1  n2  2

3) Statistik uji

   a)             x1  x2
        th 
                       1 1
               sgab      
                       n1 n2


   b) t   x1  x2
        h
              2     2
                 s1 s2
                   
                 n1 n2

        (Sudjana, 2002: 239-241)

4) Kriteria pengujian

   a) Dengan mengambil taraf nyata   1% atau   5% Terima H0

        jika  t(1 1  )(dk )  t h  t(1 1  )(dk ) , di mana t(1 1  )(dk ) didapat dari
                         2                2                         2




        daftar distribusi t dengan dk = n1 + n2 – 2 dan peluang 1 1   .
                                                                    2


        Untuk harga-harga t lainnya H0 ditolak.

   b) Dengan mengambil taraf nyata   1% atau   5% Terima H0

                      w1t1  w2 t 2       w t  w2 t 2
        jika                          
                                     th  1 1
                       w1  w2             w1  w2
                                                                                                       63



                               s12   ; w  s2 ; t1  t1 1  ;( n 1) dan t 2  t1 1  ;( n 1)
                                              2
          Dengan:       w1             2                 2        1                   2        2
                               n1            n2


          t, m didapat dari daftar distribusi Students dengan peluang 

          dan dk  m. Untuk harga-harga t lainnya, H0 ditolak.

          (Sudjana, 2002: 241)

   5) Kesimpulan

      Penafsiran dari H0 diterima dan ditolak

e. Uji jumlah peringkat Mann Whitney

   U-test digunakan untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel

   independen bila datanya berbentuk ordinal. Bila dalam suatu

   pengamatan data berbentuk interval, maka perlu dirubah dulu ke dalam

   data ordinal (hal ini ranking atau peringkat).

   1) Perumusan hipotesis

      H0: 1 = 2       rata-rata kelas eksperimen sama dengan kelas

              kontrol.

      H1: 1  2       rata-rata kelas eksperimen tidak sama dengan kelas

              control

   2) Besaran-besaran yang diperlukan

      a) Gabungan data untuk kedua kelompok

      b) Berikan ranking (peringkat) pada gabungan nilai data tersebut,

          dengan ketentuan untuk nilai data yang terkecil diberi ranking
                                                                     64



       1, untuk nilai data terkecil berikutnya diberi ranking 2 dan

       seterusnya.

   c) Jumlahkan ranking untuk masing-masing kelompok (R1 dan

       R2).

3) Statistik uji

    U  min(U1 , U 2 )

   Di mana:

                   n1 n1  1                      n n  1
    U1  n1n2                  R1 dan U 2  n1n2  2 2       R2
                        2                               2

   Keterangan:

   n1  jumlah sampel 1

   n2  jumlah sampel 2

   R1  jumlah peringkat 1

   R2  jumlah peringkat 2

   U1 = Jumlah ranking pada sampel 1

   U2 = Jumlah ranking pada sampel 2

   Kriteria pengujian

   Dengan mengambil taraf signifikan   1% atau   5%, maka H0

   diterima jika U  U  dan H0 ditolak untuk keadaan lainnya.

   Dengan R adalah nilai yang diperoleh dari daftar nilai kritis uji

   dua sampel Mann Whitney dengan taraf signifikan   1% atau  

   5%.

4) Kesimpulan
                                                                               65



           Penafsiran dari H0 diterima atau ditolak.

           Untuk n1 dan n2 keduanya lebih dari 8, maka digunakan pendekatan
           berdistribusi        normal,   sehingga    statistik   ujinya   menjadi
                  U  U
           Z0             .
                    U

                           n1n2         n n n  n2  1
           dengan:            dan   1 2 1
                            2                 12

           Kriteria pengujian: Dengan mengambil taraf signifikan   1%

           atau   5%, maka H0 ditolak jika Z 0  Z dan H0 diterima untuk

           keadaan lainnya.


2. Pengolahan Data Kualitatif

           Data yang dianalisis secara kualitatif adalah data yang

   diperoleh angket. Angket minat siswa dihitung dengan menggunakan

   rumus sebagai berikut:

         f
    p      100%
         n

   Keterangan:

   p       = persentase alternatif jawaban

   f       = jumlah yang mengisi alternatif jawaban

   n       = jumlah sampel


           Setelah dihitung respon siswa yang berasal dari angket

   dianalisis dengan menggunakan kriteria Koentjaraningrat (Mustika,

   2005: 29) sebagai berikut:

         0%                    = tidak ada
         1% – 25%              = sebagian kecil
         26% – 49%             = hampir setengahnya
                               66



50%         = setengahnya
51% – 75%   = sebagian besar
76% – 99%   = pada umumnya
100%        = seluruhnnya
                                                                                 67



                                     BAB IV

     DESKRIPSI, ANALISIS, DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN




       Bab ini memuat uraian tentang hasil penelitian serta pembahasan dari

temuan-temuan pada seluruh kegiatan penelitian yang telah dilaksanakan yang

meliputi: deskripsi hasil penelitian, analisis data hasil penelitian, dan pembahasan

hasil penelitian.


A. Deskripsi Perbedaan Hasil Belajar Akuntansi antara Siswa yang

     Mendapatkan Pembelajaran Kooperatif Teknik Jigsaw dengan yang

     mendapatkan Pembelajaran Konvensional

       Data hasil penelitian ini diperoleh melalui kegiatan tes awal (pretes), tes

akhir (postes), dan angket. Data tersebut diperoleh dari kelas yang mendapat

pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif teknik jigsaw

(kelas eksperimen) dan kelas yang tidak mendapat pembelajaran dengan

menggunakan model pembelajaran konvensional (kelas kontrol). Berikut ini akan

disajikan satu persatu mengenai data-data tersebut.


1.   Tes Awal (Pretes)

a.   Hasil Penelitian Data Tes Awal (Pretes)

       Dari data pada lampiran H hasil tes awal untuk kedua kelas sampel

diperoleh data sebagai berikut:
                                                            68




                    Tabel 4.1
        Data Hasil Tes awal dan Tes akhir
           Eksperimen                     Kontrol
No.
      Tes awal     Tes akhir       Tes awal     Tes akhir
1       40             75             50           60
2       20             60             10           20
3        0             40             40           50
4       40             75             40           40
5       40             90             20           40
6       20             40             20           30
7       45             60             10           10
8       60             90             20           40
9       40             70             40           50
10      20             60             30           30
11      20             50             20           30
12      45             80             40           50
13      20             50             20           30
14      30             60              0           40
15      20             50             40           40
16      30             60             30           50
17      30             75             30           40
18      45             80             0            20
19      40             85             60           80
20       0             40             20           40
21      30             75             60           70
22      30             75             45           60
23       0             20             40           80
24      30             75             30           60
25       0             40             50           50
26      30             75             20           50
27       0             30             20           50
                                                                            69




       28              30             50              20             30
       29              40             75              60             75
       30              75            100              20             60
       31              30             60              40             75
       32              20             60              30             50
       33              50             90              30             30
       34              30             75               0             30
       35              30             60              20             50
       36              60             90              20             20
       37              30             50              20             50
       38              40             60              30             60
       39              30             50              45             45
       40              50             80              50             75
       41              40             75              10             10
       42              50             80              30             30
       43              20             50              0              20
       44              30             60              75             85
       45                  0          50              75             85



b. Menghitung Rata-rata dan Simpangan Baku

       Untuk mengetahui rata-rata dan simpangan baku kelas eksperimen dan

kelas kontrol diperlukan daftar distribusi frekuensi kelas eksperimen dan kelas

kontrol sebagai berikut:
                                                                                    70



                                 Tabel 4.2
        Daftar Distribusi Frekuensi Nilai Tes Awal Kelas Eksperimen
Nilai Tes Awal       fi           xi           x i2         f i xi        f i xi2
    0 – 10           6            5            25            30           150
   11 – 21           8           16           256           128          2048
   22 – 32           14          27           729           378          10206
   33 – 43           8           38           1444          304          11552
   44 – 54           6           49           2401          294          14406
   55 – 65           2           60           3600          120          7200
   66 – 76           1           71           5041           71          5041
   Jumlah            45                                  1325          50603



                                    Tabel 4.3
             Daftar Distribusi Frekuensi Nilai Tes Awal Kelas Kontrol
Nilai Tes Awal       fi           xi           x i2         f i xi        f i xi2

    0 - 10           7            5            25            35           175
   11 - 21           13          16           256           208          3328
   22 - 32           8           27           729           216          5832
   33 - 43           7           38          1444           266          10108
   44 - 54           5           49          2401           245          12005
   55 - 65           3           60          3600           180          10800
   66 - 76           2           71          5041           142          10082
   Jumlah            45                                  1292          52330


       Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran H.

       Berdasarkan hasil perhitungan statistik yang terdapat dari daftar distribusi

frekuensi kelas eksperimen (Tabel 4.4) dan daftar distribusi frekuensi kelas

kontrol (Tabel 4.5), diperoleh hasil tes awal (pretes) kelas eksperimen dan kelas

kontrol sebagai berikut,
                                                                                     71



                                     Tabel 4.4
                 Data Hasil Tes Awal Kelas Eksperimen dan Kontrol
                                                               Kelas
     No.                Statistik
                                                Eksperimen                Kontrol
     1.     Jumlah siswa                             45                      45
     2.     Skor tertinggi                           75                      75
     3.     Skor terendah                             0                          0
     4.     Rata-rata                               29,44                  28,71
     5.     Simpangan baku                          16,23                  18,61



c.     Menguji Normalitas

           Berdasarkan hasil perhitungan di atas, selanjutnya penulis melakukan

analisis untuk menentukan apakah data-data yang didapat dari masing-masing

kelas sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak.

           Langkah-langkah yang diambil dalam menentukan apakah data di atas

berdistribusi normal atau tidak adalah sebagai berikut:

1) Hipotesis

       H0 : Data kelas sampel tes awal yang diperoleh berasal dari populasi yang

             sama diduga berdistribusi normal.

       H1 : Data kelas sampel tes awal yang diperoleh berasal dari populasi yang

             sama diduga berdistribusi tidak normal.

2) Kriteria

       Tolak H0 jika  hitung   tabel dan terima H0 untuk kondisi yang lain.
                       2          2



3) Statistik Uji
                                                                                     72



                                     Tabel 4.5
                        Data Hasil Uji Normalitas Tes Awal
                          Kelas Eksperimen dan Kontrol
              Subjek               hitung
                                    2
                                               0,99;4
                                                2
                                                         Perbandingan    Kesimpulan

     Tes awal Eksperimen          2,56        13,27      2,56 < 13,27       Normal
     Tes awal Kontrol             6,57        13,27      6,57 < 13,27       Normal

4) Kesimpulan

    Ternyata data dari kedua kelas tersebut berasal dari populasi yang

    berdistribusi normal karena       hitung   tabel , maka H0 diterima. Oleh karena
                                       2          2



    pada kedua kelas tersebut berdistribusi normal, maka dilanjutkan pada uji

    homogenitas.


d. Menguji Homogenitas

       Setelah menguji normalitas kedua sampel, selanjutnya menguji kesamaan

dua varians kelas sampel. Langkah-langkah yang diambil dalam menentukan

apakah kedua sampel di atas homogen atau tidak adalah sebagai berikut:

1) Hipotesis

    H0 :  12   2
                  2
                         Tidak terdapat perbedaan varians antara kelas eksperimen

                         dengan kelas kontrol

    H1 :  12   2
                  2
                         Terdapat perbedaan varians antara kelas eksperimen

                         dengan kelas kontrol

2) Kriteria

    Tolak H0 jika Fhitung > Ftabel dan terima H0 untuk kondisi yang lain.

3) Statistik Uji
                                                                                               73



                                      Tabel 4.6
                        Data Hasil Uji Homogenitas Tes Awal
                           Kelas Eksperimen dan Kontrol

         Kelas            s2           Fhitung     F0,005(44|44)   Perbandingan Keterangan

      Eksperimen        263,39         1,31           2,21         Fhitung < Ftabel   Homogen
         Kontrol        346,26         1,31           2,21         Fhitung < Ftabel   Homogen

     Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran H.

4) Kesimpulan

     Berdasarkan data hasil uji homogenitas tes awal kelas eksperimen dan kelas

     kontrol terlihat bahwa Fhitung < Ftabel, sehingga dapat disimpulkan bahwa skor

     tes awal (pretes) kedua kelas adalah homogen.


e.   Uji Kesamaan Dua Rata-rata (Uji t)

        Untuk mengetahui kesetaraan kemampuan awal antara kelas yang dalam

pembelajarannya menggunakan model pembelajaran kooperatif teknik jigsaw

dengan yang tidak menggunakan model pembelajaran kooperatif teknik jigsaw,

digunakan uji signifikan dengan menggunakan rumus uji t.

        Langkah-langkah yang diambil dalam menentukan pengujian kesamaan

dua rata-rata (uji t) adalah sebagai berikut:

1) Hipotesis

     H0 :  1   2 Rata-rata kelas eksperimen sama dengan kelas kontrol

     H1 :  1  2    Rata-rata kelas eksperimen tidak sama dengan kelas kontrol

2) Kriteria

     H0 diterima jika  t1 1  ( dk )  t hitung  t1 1  ( dk ) dan H0 ditolak untuk kondisi
                             2                             2



     lain.

3) Statistik Uji
                                                                                    74



                                    Tabel 4.7
                       Data Hasil Uji Signifikansi Tes Awal
                       Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
            thitung            t0,995(88)      Perbandingan          Taraf Signifikan
             0,21                 2,63            thitung < ttabel         1%


     Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran H.

4) Kesimpulan

     Dari hasil perhitungan pada Tabel 4.8, ternyata thitung terletak di dalam daerah

     2,63 < 0,21 < 2,63. Hal ini menunjukkan bahwa H0 diterima, sehingga tidak

     terdapat perbedaan rata-rata skor tes awal yang signifikan antara kelas

     eksperimen dan kelas kontrol. Artinya bahwa pada saat kedua kelas sampel

     belum diberi perlakuan, keduanya mempunyai kemampuan awal yang sama.


2.   Tes Akhir (Postes)

a.   Hasil Penelitian Data Tes Akhir (Postes)

       Dari data pada lampiran H hasil tes akhir untuk kedua kelas sampel

diperoleh data sebagai berikut:


                                  Tabel 4.8
        Hasil Perhitungan Statistik untuk Daftar Distribusi Frekuensi
                                                        Kelas
          Statistik
                                     Eksperimen                      Kontrol
         Rentang                         80                            75
       Banyak kelas                       7                             7
       Panjang kelas                     12                            11


b. Menghitung Rata-rata dan Simpangan Baku

       Untuk mengetahui rata-rata dan simpangan baku kelas eksperimen dan
                                                                                 75



kelas kontrol diperlukan daftar distribusi frekuensi kelas eksperimen dan kelas

kontrol sebagai berikut:

                                  Tabel 4.9
        Daftar Distribusi Frekuensi Nilai Tes Akhir Kelas Eksperimen

 Nilai Tes Akhir      fi         xi             x i2      f i xi       f i xi2
    20 – 31           2         25,5           650,25        51,0    1300,50
    32 – 43           4         37,5          1406,25      150,0      5625,00
    44 – 55           8         49,5          2450,25      396,0     19602,00
    56 – 67          10         61,5          3782,25      615,0     37822,50
    68 – 79          11         73,5          5402,25      808,5     59424,75
    80 – 91           9         85,5          7310,25      769,5     65792,25
    92 – 103          1         97,5          9506,25        97,5     9506,25
    Jumlah           45                                2887,5     199073,25



                                  Tabel 4.10
          Daftar Distribusi Frekuensi Nilai Tes Akhir Kelas Kontrol

 Nilai Tes Akhir      fi         xi             x i2      f i xi       f i xi2
     10 - 20          6          15            225        90           1350
     21 - 31          8          26            676        208          5408
     32 - 42          7          37            1369       259          9583
     43 - 53          11         48            2304       528         25344
     54 - 64          5          59            3481       295         17405
     65 - 75          4          70            4900       280         19600
     76 - 86          4          81            6561       324         26244
    Jumlah            45                               1984         104934

       Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran H.
                                                                                    76



           Dari daftar distribusi frekuensi kelas eksperimen (Tabel 4.12) dan daftar

distribusi frekuensi kelas kontrol (Tabel 4.13), didapat data hasil tes akhir (postes)

kelas eksperimen dan kelas kontrol.

                                    Tabel 4.11
                Data Hasil Tes Akhir Kelas Eksperimen dan Kontrol
                                                               Kelas
     No.                Statistik
                                                Eksperimen                Kontrol
     1.     Jumlah siswa                             45                      45
     2.     Skor tertinggi                           100                     85
     3.     Skor terendah                            20                      10
     4.     Rata-rata                               64,17                  44,09
     5.     Simpangan baku                          17,70                  19,92

c.     Menguji Normalitas

           Berdasarkan hasil perhitungan di atas, selanjutnya penulis melakukan

analisis untuk menentukan apakah data-data yang didapat dari masing-masing

kelas sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak.

           Langkah-langkah yang diambil dalam menentukan apakah data di atas

berdistribusi normal atau tidak adalah sebagai berikut:

1) Hipotesis

       H0 : Data kelas sampel tes akhir yang diperoleh berasal dari populasi yang

             sama diduga berdistribusi normal.

       H1 : Data kelas sampel tes akhir yang diperoleh berasal dari populasi yang

             sama diduga berdistribusi tidak normal.

2) Kriteria

       Tolak H0 jika  hitung   tabel dan terima H0 untuk kondisi yang lain.
                       2          2
                                                                                         77



3) Statistik Uji


                                   Tabel 4.12
                       Data Hasil Uji Normalitas Tes Akhir
                         Kelas Eksperimen dan Kontrol
              Subjek                hitung
                                     2
                                                   0,99;4
                                                    2
                                                             Perbandingan    Kesimpulan

     Tes akhir Eksperimen           3,25          13,27      3,25 < 13,27       Normal

     Tes akhir Kontrol              6,26          13,27      6,26 < 13,27       Normal


4) Kesimpulan

    Ternyata data dari kedua kelas tersebut berasal dari populasi yang

    berdistribusi normal karena           hitung   tabel , maka H0 diterima. Oleh karena
                                           2          2



    pada kedua kelas tersebut berdistribusi normal, maka dilanjutkan pada uji

    homogenitas.

d. Menguji Homogenitas

       Setelah menguji normalitas kedua sampel, selanjutnya menguji kesamaan

dua varians kelas sampel. Langkah-langkah yang diambil dalam menentukan

apakah kedua sampel di atas homogen atau tidak adalah sebagai berikut:

1) Hipotesis

    H0 :  12   2
                  2
                         Tidak terdapat perbedaan varians antara kelas eksperimen

                         dengan kelas kontrol

    H1 :  12   2
                  2
                         Terdapat perbedaan varians antara kelas eksperimen dengan

                         kelas kontrol

2) Kriteria

    Tolak H0 jika Fhitung > Ftabel dan terima H0 untuk kondisi yang lain.

3) Statistik Uji
                                                                                         78



                                    Tabel 4.13
                      Data Hasil Uji Homogenitas Tes Akhir
                         Kelas Eksperimen dan Kontrol
         Kelas          s2        Fhitung       F0,005(44|44)   Perbandingan Keterangan

      Eksperimen      313,45       1,27            2,21         Fhitung < Ftabel   Homogen

        Kontrol       376,86       1,27            2,21         Fhitung < Ftabel   Homogen


     Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran H.

4) Kesimpulan

     Berdasarkan data hasil uji homogenitas tes akhir kelas eksperimen dan kelas

     kontrol terlihat bahwa Fhitung < Ftabel, sehingga dapat disimpulkan bahwa skor

     tes akhir (postes) kedua kelas adalah homogen.

e.   Uji Kesamaan Dua Rata-rata (Uji t)

        Untuk mengetahui kesetaraan kemampuan akhir antara kelas yang dalam

pembelajarannya menggunakan model pembelajaran kooperatif teknik jigsaw

dengan yang tidak menggunakan model pembelajaran kooperatif teknik jigsaw,

digunakan uji signifikansi dengan menggunakan rumus uji t.

        Langkah-langkah yang diambil dalam menentukan pengujian kesamaan

dua rata-rata (uji t) adalah sebagai berikut:

1) Hipotesis

     H0 :  1   2 Rata-rata tes akhir kelas eksperimen sama dengan kelas kontrol

     H1 :  1  2   Rata-rata tes akhir kelas eksperimen tidak sama dengan kelas

                     kontrol

2) Kriteria
                                                                                               79



     H0 diterima jika  t1 1  ( dk )  t hitung  t1 1  ( dk ) dan H0 ditolak untuk kondisi
                             2                             2




     lain.

3) Statistik Uji

                                      Tabel 4.14
                         Data Hasil Uji Signifikansi Tes Akhir
                         Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
             thitung                t0,995(88)         Perbandingan             Taraf Signifikan

               5,33                  2,28                thitung < ttabel             1%


     Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran H.

4) Kesimpulan

        Dari hasil perhitungan pada Tabel 4.8, ternyata thitung terletak di dalam

daerah 5,33 > 2,28. Hal ini menunjukkan bahwa H0 ditolak, sehingga terdapat

perbedaan rata-rata skor tes akhir yang signifikan antara kelas eksperimen dan

kelas kontrol. Artinya setelah kedua sampel diberi perlakuan, keduanya

mempunyai kemampuan akhir yang berbeda.


3.   Pembahasan

     1) Pembelajaran dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif

        Teknik Jigsaw Berpengaruh Terhadap Hasil Belajar Akuntansi Siswa

                 Pembelajaran        dengan       menggunakan               model   pembelajaran

        kooperatif teknik jigsaw sangat berpengaruh terhadap hasil belajar

        akuntansi berdasarkan hasil belajar siswa.

                 Yang dimaksud dengan tes hasil belajar adalah tes awal (pretes)

        dan tes akhir (postes) pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif
                                                                             80



   teknik jigsaw. Nilai rata-rata tes awal dan tes akhir siswa setelah diberikan

   pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif teknik jigsaw. Nilai

   rata-rata tes awal dan tes akhir siswa setelah diberikan pembelajaran

   dengan model pembelajaran kooperatif teknik jigsaw yaitu 29,44 dan

   64,73 sehingga dari rata-rata tes awal dan tes akhir terdapat kenaikan

   sebesar 34,73. Dengan demikian, model pembelajaran kooperatif teknik

   jigsaw mengalami perubahan, artinya pembelajaran tersebut berpengaruh

   terhadap peningkatan hasil belajar akuntansi.


2) Pembelajaran       dengan      Pembelajaran        Biasa    (Konvensional)

  Berpengaruh Terhadap Hasil Belajar Akuntansi Siswa

          Hasil belajar dengan pembelajaran biasa (konvensional) dapat

   dilihat berdasarkan tes awal (pretes) dan tes akhir (postes). Nilai rata-rata

   tes awal dan tes akhir siswa setelah diberikan pembelajaran biasa

   (konvensional) yaitu 28,71 dan 44,09 sehingga dari rata-rata tes awal dan

   tes akhir terdapat kenaikan sebesar 15,38. Dengan demikian, pembelajaran

   biasa (konvensional) mengalami perubahan, artinya pembelajaran tersebut

   berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar akuntansi.


3) Terdapat     Perbedaan      Pengaruh      Antara     Pembelajaran      yang

  Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Jigsaw

  dengan Pembelajaran Biasa (konvensional) Terhadap Hasil Belajar

  Akuntansi Siswa

          Dari hasil tes awal diketahui bahwa nilai rata-rata kelompok

   eksperimen yaitu 29,44 dan kelompok kontrol yaitu 28,71. Hasil ini
                                                                             81



setelah diolah dengan pengujian hipotesis pada taraf signifikan 1%

ternyata ttabel  thitung  ttabel yaitu 2,63  0,21  2,63, maka H0 diterima.

Artinya tidak terdapat perbedaan rata-rata tes awal antara kelompok

eksperimen dan kontrol.

          Selanjutnya dari hasil tes akhir diketahui nilai rata-rata kelompok

eksperimen yaitu 64,17 dan kelompok kontrol yaitu 44,09 dengan taraf

signifikan 1% ternyata thitung > ttabel yaitu 5,33 > 2,63, maka H0 ditolak atau

H1 diterima. Artinya terdapat perbedaan rata-rata tes akhir kelompok

eksperimen dan kontrol. Karena kedua model pembelajaran tersebut model

pembelajaran      kooperatif   teknik   jigsaw    dan    pembelajaran     biasa

(konvensional) sudah berbeda pada taraf signifikansi  1%, tidak usah

diperiksa lagi pada taraf signifikansi   5%, sebab jika sudah terletak di

luar interval t0,995, maka pasti terletak pula di luar interval t0,975

(Nurgana,1985: 26).

          Berdasarkan hasil analisis tersebut, maka hipotesis yang diajukan

penulis yaitu “Terdapat perbedaan yang signifikan antara pembelajaran

Kooperatif teknik jigsaw dengan pembelajaran konvensional terhadap

hasil belajar akuntansi siswa kelas X SMK Budi Bhakti Mandirancan”

dapat diterima. Untuk mengetahui manakah yang lebih baik dalam

pencapaian hasil belajar siswa dari kedua pembelajaran tersebut, menurut

Nurgana (1985: 26), “Yang lebih baik adalah yang rata-ratanya lebih

besar”.

          Hal ini berarti kedua pembelajaran sama-sama mempengaruhi hasil

belajar akuntansi siswa. Namun demikian, model pembelajaran kooperatif

teknik jigsaw memberikan kontribusi yang lebih baik dari pembelajaran
                                                                                     82



           biasa (konvensional).


B. Respon Siswa terhadap Pembelajaran Kooperatif Teknik Jigsaw dalam

       Pembelajaran Akuntansi

           Untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran koopeatif teknik

Jigsaw maka siswa pada kelas eksperimen diberikan angket.

1.     Angket

           Angket diberikan pada siswa setelah pelaksanaan tes akhir berakhir.

Angket ini dimaksudkan untuk memperoleh respon siswa terhadap pembelajaran

Kooperatif Teknik Jigsaw.

           Hasil angket siswa tersebut disajikan ke dalam bentuk tabel sebagai

berikut:


                                    Tabel 4.15
                  Hasil Angket Respon Siswa Setelah Pembelajaran
                                           Alternatif
     No.                Item                            f     %           Kriteria
                                           Jawaban
     1.    Pembelajaran dengan cara           SS        14   31,11 Hampir Setengahnya
           seperti ini, membuat saya
                                               S        26   57,78 Sebagian besar
           merasa senang dan tertarik
           terhadap pelajaran akuntansi.     TS          5   11,11 Sebagian kecil
                                             STS         0     0 Tak seorangpun
                        Jumlah                          45    100

                                       Alternatif
     No.                Item                            f     %           Kriteria
                                       Jawaban
     2.    Saya mengalami kesulitan        SS            0     0     Tak seorangpun
           dalam Mengerjakan persamaan
                                           S             3    6,67   Sebagian kecil
           dasar akuntansi dengan
           pembelajaran seperti ini.      TS            29   64,44   Sebagian besar
                                          STS           13   28,89   Hampir Setengahnya
                        Jumlah                          45   100
                                                                                  83



                                       Alternatif
No.                Item                             f     %           Kriteria
                                       Jawaban
3.    Pembelajaran dengan seperti          SS       11   46,67   Hampir setengahnya
      ini, dapat membuat saya lebih        S        22   48,89   Hampir setengahnya
      memahami konsep akuntansi.
                                          TS         2    4,44   Sebagian kecil
                                          STS        0     0     Tak seorangpun
                   Jumlah                           45    100

                                       Alternatif
No.                Item                             f     %           Kriteria
                                       Jawaban
4.    Saya merasa bosan belajar            SS        0     0     Tak seorangpun
      akuntansi dengan cara seperti        S         0     0     Tak seorangpun
      ini.                                TS        33   73,33   Pada umumnya
                                          STS       12   26,67   Hampir Setengahnya
                   Jumlah                           45    100


                                       Alternatif
No.                Item                             f     %           Kriteria
                                       Jawaban
5.    Pembelajaran dengan cara            SS        30   66,67 Sebagian besar
      seperti ini, dapat memperkaya        S        15   33,33 Hampir Setengahnya
      wawasan saya mengenai               TS         0     0 Tak seorangpun
      manfaat akuntansi dalam
      kehidupan sehari-hari.             STS        0     0      Tak seorangpun
                     Jumlah                         45   100

                                       Alternatif
No.                Item                             f     %           Kriteria
                                       Jawaban
6.    Pembelajaran seperti ini tidak       SS        0     0     Tak seorangpun
      ada bedanya dengan                   S        10   22,22   Sebagian kecil
      pembelajaran yang lain.             TS        32   71,11   Sebagian besar
                                          STS        3    6,67   Sebagian kecil
                   Jumlah                           45    100

                                       Alternatif
No.                Item                             f     %           Kriteria
                                       Jawaban
7.    Guru selalu memonitor dan            SS       13   28,89   Hampir Setengahnya
      membimbing kami dalam                S        25   55,56   Sebagian besar
      proses pembelajaran seperti         TS         7   15,56   Sebagian kecil
      ini.                                STS        0     0     Tak seorangpun
                   Jumlah                           45    100
                                                                                   84




                                   Alternatif
No.                Item                              f     %            Kriteria
                                   Jawaban
8.    Guru tidak pernah memberikan     SS             0     0     Tak seorangpun
      bimbingan kepada kami jika       S              5   11,12   Sebagian kecil
      kami mengalami kesulitan        TS             20   44,44   Hampir setengahnya
      dalam proses pembelajaran.      STS            20   44,44   Hampir setengahnya
                   Jumlah                            45    100

                                        Alternatif
No.                Item                              f     %            Kriteria
                                        Jawaban
9.    Saya merasa optimis nilai             SS       10   22,22   Sebagian kecil
      akuntansi saya meningkat              S        27    60     Sebagian besar
      setelah mengikuti                    TS         8   17,78   Sebagian kecil
      pembelajaran ini.                    STS        0     0     Tak seorangpun
                   Jumlah                            45    100

                                        Alternatif
No.                Item                              f     %            Kriteria
                                        Jawaban
10.   Saya tidak bisa merasakan             SS        0     0     Tak seorangpun
      manfaat dari pembelajaran             S         2    4,44   Sebagian kecil
      seperti ini.                         TS        31   68,89   Sebagian besar
                                           STS       12   26,67   Hampir Setengahnya
                    Jumlah                           45    100


                                        Alternatif
No.                Item                              f     %            Kriteria
                                        Jawaban
11.   Saya harap agar topik lain           SS        9     20     Sebagian kecil
      diajarkan dengan model
      pembelajaran ini.                     S        27    60     Sebagian besar
                                           TS        9     20     Sebagian kecil
                                          STS        0     0      Tak seorangpun
                    Jumlah                           45   100

                                        Alternatif
No.                Item                              f     %            Kriteria
                                        Jawaban
12.   Dengan model pembelajaran            SS        16   35,56 Hampir setengahnya
      ini, saya diajak untuk berpikir
      keras dan kreatif.                    S        20   44,44 Hampir setengahnya
                                           TS        9     20     Sebagian kecil
                                          STS        0     0      Tak seorangpun
                    Jumlah                           45   100
                                                                                     85



                                            Alternatif
     No.               Item                              f     %          Kriteria
                                            Jawaban
     13.   Permasalahan yang diberikan         SS        15   33,33 Hampir setengahnya
           menuntut saya untuk berpikir
                                                S        27    60   Sebagian besar
           lebih keras dengan
           pengetahuan saya.                   TS        3    6,67 Sebagian Kecil
                                              STS        0     0    Tak Seorangpun
                        Jumlah                           45   100

                                            Alternatif
     No.               Item                              f     %          Kriteria
                                            Jawaban
     14.   Bagi saya, belajar akuntansi        SS        0     0    Tak seorangpun
           dengan model pembelajaran
           kooperatif teknik jigsaw hanya       S        6    13,34 Sebagian kecil
           menghamburkan waktu saja            TS        28   62,22 Sebagian besar
           dan membuat saya menjadi
           lebih bingung.                     STS        11   24,44 Sebagian kecil
                         Jumlah                          45   100

                                            Alternatif
     No.               Item                              f     %          Kriteria
                                            Jawaban
     15.   Pembelajaran seperti ini            SS        19   42,22 Hampir setengahnya
           melatih saya untuk
           menyelesaikan persoalan              S        22   48,89 Hampir setengahnya
           akuntansi yang diberikan            TS        4    8,89 Sebagian kecil
           dengan berbagai pengetahuan
           akuntansi yang saya miliki.        STS        0     0    Tak seorangpun
                        Jumlah                           45   100


2.     Pembahasan Respon Siswa Terhadap Pembelajaran Akuntansi dengan

       Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Teknik Jigsaw

           Gambaran mengenai respon siswa terhadap pembelajaran akuntansi

dengan model pembelajaran kooperatif teknik jigsaw dapat dilihat dari hasil

angket yang diperoleh sebagai berikut:

a.     Respon siswa terhadap pembelajaran menggunakan model pebelajaran

       kooperatif teknik jigsaw

      1) Siswa merasa lebih senang mendapatkan model pembelajaran kooperatif
                                                                           86



   teknik jigsaw dibandingkan pembelajaran biasa (konvensional) menjawab

   89% atau 40 orang siswa.

2) Siswa yang merasa mengalami kesulitan dalam memahami materi

   mengerjakan persamaan dasar akuntansi dengan model pembelajaran

   kooperatif teknik jigsaw menjawab sebesar 93% atau 42 siswa.

3) Siswa    dapat    memahami       konsep   akuntansi   dengan   pembelajaran

   menggunakan model pembelajaran kooperatif teknik jigsaw menjawab

   sebesar 96% atau 43 orang siswa.

4) Siswa yang merasa bosan belajar akuntansi dengan menggunakan model

   pembelajaran kooperatif teknik jigsaw tak seorang pun atau 0%.

5) Siswa dapat memperoleh manfaat dalam kehidupan sehari-hari menjawab

   sebesar 100% atau seluruh siswa.

6) Siswa merasa model pembelajaran kooperatif teknik jigsaw tidak ada

   bedanya dengan pembelajaran biasa (konvensional) menjawab sebesar

   22% atau 10 orang siswa.

9) Siswa merasa optimis nilai akuntansi setelah mengikuti pembelajaran ini

   menjadi lebih baik menjawab sebesar 82% atau 37 orang siswa.

10) Siswa   merasa    tidak   ada    manfaat   dengan    menggunakan    model

   pembelajaran kooperatif teknik jigsaw menjawab sebesar 96% atau 43

   orang siswa.

11) Siswa mengharapkan model pembelajaran kooperatif teknik jigsaw dapat

   diterapkan pada mata pelajaran lain menjawab sebesar 80% atau 36 orang

   siswa.
                                                                            87



     12) Siswa diajak untuk berpikir keras dan kreatif dengan pembelajaran

          menggunakan model pembelajaran kooperatif teknik jigsaw menjawab

          sebesar 80% atau 36 orang siswa.

     13) Siswa dapat mengetahui permasalahan dan mau berpikir lebih keras

          dengan pengetahuan yang dimiliki menjawab sebesar 93% atau 42 orang

          siswa.

     14) Siswa merasa menyita waktu mereka dan membuat bingung dalam

          memahami pelajaran akuntansi menjawab sebesar 86% atau 39 orang

          siswa.

     15) Siswa dapat menyelesaikan permasalahan akuntansi dengan menggunakan

          model pembelajaran kooperatif teknik jigsaw menjawab sebesar 90% atau

          41 orang siswa.


b.   Respon siswa terhadap cara guru dalam mengelola kelas menggunakan

     model pembelajaran kooperatif teknik jigsaw

     7)    Siswa mendapatkan bimbingan guru di dalam proses pembelajaran

           menjawab sebesar 84% atau 38 orang siswa.

     8)    Siswa merasakan guru tidak pernah memberikan bimbingan jika

           mengalami kesulitan menjawab sebesar 88% atau 40 orang siswa.


c.   Kesimpulan

          Berdasarkan hasil angket di atas, menunjukkan bahwa hampir seluruh

siswa merasakan adanya manfaat dalam pembelajaran akuntansi dengan
                                                                      88



menggunakan model pembelajaran teknik jigsaw, artinya respon siswa secara

keseluruhan terhadap pembelajaran teknik jigsaw bersikap positif.
                                                                                    89



                                       BAB V

                            SIMPULAN DAN SARAN




A. Simpulan

        Berdasarkan hasil pembahasan yang telah diperoleh, maka penulis dapat

menarik simpulan sebagai berikut:

1.   Untuk melihat perbedaan antara pembelajaran Kooperatif teknik jigsaw (kelas

     eksperimen) dengan pembelajaran konvensional (kelas kontrol) terhadap hasil

     belajar akuntansi siswa kelas X SMK Budi Bhakti Mandirancan dapat dilihat

     dari perubahan (peningkatan) rata-rata nilai tes awal ke tes akhir. Adapun

     nilai yang diperoleh kelas eksperimen yaitu tes awal sebesar 29,44 dan tes

     akhir sebesar 64,17 dengan kenaikan sebesar 34,73. Sedangkan nilai yang

     diperoleh kelas kontrol yaitu tes awal sebesar 28,71 dan tes akhir sebesar

     44,09 dengan kenaikan sebesar 15,38. Dengan melihat perbedaan

     (peningkatan) hasil belajar siswa kelas X SMK Budi Bhakti Mandirancan dari

     tes awal dan tes akhir yang diberikan kepada kelas eksperimen dan kelas

     control, terbukti bahwa hasil belajar akuntansi kelas eksperimen lebih besar

     dari pada kelas kontrol. Selain dilihat dari nilai rata-rata hal ini didukung pula

     oleh hasil analisis data uji t dengan taraf signifikan   1% bahwa nilai thitung

     > ttabel yaitu 5,33 > 2,63, sehingga dapat disimpulkan kedua model

     pembelajaran sama-sama mempengaruhi hasil belajar akuntansi siswa.

     Namun demikian, pendekatan teknik jigsaw memberikan kontribusi yang

     lebih baik daripada pembelajaran biasa (konvensional) oleh karena itu,
                                                                            90



     Berdasarkan hasil analisis tersebut, maka hipotesis yang diajukan penulis

     yaitu “Terdapat perbedaan yang signifikan antara model pembelajaran

     Kooperatif teknik jigsaw dengan pembelajaran konvensional terhadap hasil

     belajar akuntansi siswa kelas X SMK Budi Bhakti Mandirancan” dapat

     diterima.

2.   Respon siswa kelas X SMK Budi Bhakti Mandirancan Kabupaten Kuningan

     terhadap pembelajaran akuntansi dengan menggunakan model pembelajaran

     teknik jigsaw yang diterapkan pada sub pokok bahasan Mengerjakan

     persamaan dasar akuntansi sangat positif. Hal ini bisa dilihat dari data

     rekapitulasi hasil jawaban angket (Tabel 4.19).


B. Saran

       Berdasarkan simpulan di atas, maka dalam penelitian ini saran yang dapat

penulis kemukakan, adalah sebagai berikut:

1.   Untuk Kepala Sekolah agar memberikan pengarahan kepada para guru

     mengurangi pembelajaran konvensional dan beralih kepada jenis pelajaran

     lain yang dapat lebih menjadikan siswa lebih aktif, dan sebagai salah satu

     alternatifnya adalah model pembelajaran yang penulis teliti yaitu model

     pembelajaran kooperatif teknik jigsaw.

2.   Untuk Wali Kelas agar lebih sering bertukar pikiran dengan siswanya untuk

     mengetahui kesilitan serta mencari penyelesainaanya kususnya dalam proses

     belajar mengajar untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

3.   Untuk Guru Bidang Studi agar lebih memvariasikan model pembelajarannya
                                                                            91



     dengan mengurangi pengajaran yang menggunakan model pembelajaran

     konvensional agar siswa tidak merasa jenuh. Dan salah satu alternatif dari

     berbagai model pembelajaran tersebut adalah model pembelajaran yang

     penulis teliti yaitu model pembelajaran kooperatif teknik jigsaw.

4.   Untuk Guru BP agar lebih sering melakukan konseling dengan siswa untuk

     mencari kesulitan siswa dalam proses pembelajaran dalam meningkatkan

     hasil belajar dan mencari solusinya.
                                                                               92




                             DAFTAR PUSTAKA




Ahmadi, A. (1989). Pengantar Metode Didaktif. Bandung: Armico

Arikunto, S. (1998). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:
       Rineka Cipta

Armen. Dasar Akuntansi. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Akuntansi (10
      Juni 2007)

Godam. Pengertian dan Penjelasan Dasar Akuntansi – Definisi, Arti, Fungsi dan
     Kegunaan - Belajar Ilmu Akuntansi/Accounting. Tersedia:
     http://organisasi.org (04 Mei 2006)

Gunardi, A.G. (2006). Penerapan Pendekatan Problem-Centered Learning (PCL)
      dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa SMP (Studi
      Eksperimen di Salah Satu SMP Negeri Kadugede Kabupaten Kuningan).
      Skripsi pada FKIP Unswagati Cirebon: Tidak diterbitkan.

Hamalik, O. (2001). Kurikulum dan pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara

Lie, A. (2007). Cooperative Leraning. Jakarta: Grasindo

Nashar. (2004). Peranan Motivasi dan Kemampuan Awal dalam Kegiatan
       Pembelajaran. Jakarta: Delia Press.

Nurgana, Endi. (1985). Statistika untuk Penelitian. Bandung: Permadi.

Nurindriyanto dan Supomo, B. (1999). Metode Penelitian Bisnis. Yogyakarta:
          BPFE

Riyanto, Y. (2001). Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya:SIC

Ruseffendi, E.T. (1998). Dasar-dasar Matematika Moden untuk Guru.
          Bandung:IKIP

_________. (1991). Pengantar kepada Pembantu Guru Mengembangkan
      Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika dalam Pengajaran
      Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito

Rusnanto, A. (1999). Kemampuan Siswa dalam Membuktikan Identitas
      Trigonometri. Skripsi pada FKIP UNY Yogyakarta: Tidak diterbitkan.
                                                                             93




Sagala. (2006). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alpabeta

Sudjana, N. (1991). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru

_________. (2004). Metoda Statistika. Bandung: Tarsito.

Suherman, E. dan Sukjaya, Y. (1990). Petunjuk Praktis untuk Melaksanakan
      Evaluasi Pendidikan Matematika. Bandung. Wijayakusumah.

Sukmadinata, N.S. (2004). Kurikulum dan Pembelajaran Kompetensi. Bandung:
     Kusuma Karya.

Sugiyono, (2007), Statistik Untuk Penelitian, Bandung: Alfabeta.

___________. (2008). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alpabeta.

Praja, E. (2002). Pembelajaran Keterampilan Proses Matematika Melalui Model
        Pembelajaran Kooperatif untuk Siswa Sekolah Dasar. Tesis pada Program
        Pascasarjana UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Rusnanto, A. (1999). Kemampuan Siswa dalam Membuktikan Identitas
      Trigonometri. Skripsi pada FKIP UNY Yogyakarta: Tidak diterbitkan.

Wardhani, S. (2005). Penilaian Hasil Belajar Matematika. Yogyakarta:
      Depdiknas P3G.

Wildaman, F. (2006). Lima Mitos Sesat Seputar Matematika. Publik Profil dalam
      Pikiran Rakyat. 10 Agustus. Hal. 5.

Wiradinata, D.R., (2005). Dasar-dasar Akuntansi. Cirebon: Universitas Swadaya
      Gunung Jati

Zain. dan Djamarah, B. (2006). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:6450
posted:8/8/2010
language:Indonesian
pages:93