Docstoc

pendaharan pad ibu hamil

Document Sample
pendaharan pad ibu hamil Powered By Docstoc
					PEMERIKSAAN PENUNJANG PADA PERDARAHAN
    Disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Fisika Kesehatan




                            Oleh kelompok:
                            Ayuk Fitryawati
                             Arnis Marcella
                               Bernadeta
                              Devi Alfiani
                            Dina Rifan Dina
                             Etika Citra R.P
                             Fanny Rahayu
                            Khoirul Habibah
                             Maria Susanti
                              Nurul Fitriah
                              Susi Saputri



             PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN

   SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN “MAHARANI "

                          MALANG, 2010
                           LEMBAR PENGESAHAN

       Makalah Anatomi Fisiologi yang berjudul “PEMERIKSAAN PENUNJANG PADA
PERDARAHAN” ini telah disusun oleh:

   1. Ayuk Fitryawati

   2. Arnis Marcella

   3. Bernadeta

   4. Devi Alfiani

   5. Dina Rifan Dina

   6. Etika Citra R.P

   7. Fanny Rahayu

   8. Khoirul Habibah

   9. Maria Susanti

   10. Nurul Fitriah

   11. Susi Saputri




Dan telah disahkan oleh:



  Dosen Pembimbing                                  Kaprodi DIII Kebidanan




 dr. David Rubiyaktho                               Sumiatun Amd.Keb,SST
                                 KATA PENGANTAR



       Ucapan rasa syukur penyusun panjatkan kehadiran Allah SWT yang melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik serta
tepat waktu sesuai dengan apa yang diharapkan. Makalah yang berjudul “PEMERIKSAAN
PENUNJANG PADA PERDARAHAN” disusun sebagai tugas kelompok mata kuliah Fisika
Kesehatan.

       Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa tanpa adanya bantuan, kerjasama, pengarahan
dan dorongan dari beberapa pihak, mustahil makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Oleh
karena itu, pada kesempatan ini penyusun menyampaikan ucapan terima kasih pada:

    1. Bapak dr.David Rubiyaktho selaku Penanggungjawab Mata Kuliah Fisika Kesehatan

    2. Ibu Lailatin N,M.Si selaku Dosen mata kuliah Fisika Kesehatan

    3. Ibu Iswarin selaku Dosen mata kuliah Fisika Kesehatan

    4. Orang tua selaku pendukung secara spiritual dan material

    5. Teman-teman yang sudah berpartisipasi menbuat makalah ini.

       Namun karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan penyusun, maka disadari
bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangan. Oleh karena itu,
penyusun mengharapkan kritik dan saran dari semua pembaca makalah ini.




                                                                    Malang, April 2010




                                                                         Penyusun
                                     DAFTAR ISI

Halaman judul

Lembar Pengesahan            ………………………….…………………………………....i

Kata Pengantar               …...…………………………….………………...…………..ii

Daftar Isi                   ………..………………………………..…………….……...iii

BAB I PENDAHULUAN

       1.Latar Belakang      ………………………………………………….…………...1

       2.Rumusan Masalah ………………………………………………………….…...1

       3.Tujuan              …………………………………………………..…………..2

       4.Manfaat             …………………………………………………...………….2

BAB II TINJAUAN TEORI

             2.1 Definisi perdarahan pospartum         …………………………...
             2.2 Etiologi dan patogenesis perdarahan   ………………………………
             2.3 Diagnosis                             ................................................
             2.4 Penanganan perdarahan                 .................................................
BAB V PEMBAHASAN

BAB VI PENUTUP

             A. Kesimpulan                ……………………………………...

             B. Saran                     ……………………………………...

DAFTAR PUSTAKA
                                              BAB I

                                      PENDAHULUAN



I.1 Latar Belakang

       Perdarahan peripartum merupakan salah satu penyebab utama ibu, sehinnga penting
untuk memahami berbagai opsi untuk mengendalikan perdarahan. David C. Mayer, MD
mengatakan bahwa sayangnya, selama puluhan tahun, perdarahan belum pernah pindah dari tiga
penyebab utama kematiani ibu.

Resusitasi adalah tujuan utama dalam pengelolaan perdarahan peripartum (PPH). Pastikan ada
cukup banyak infus dan mempertahankan volume yang memadai dengan menggunakan
kristaloid, koloid, dikemas dalam sel darah merah, yang diperlukan. Dapatkan tes darah
laboratium dasar, termasuk koagulasi, dan memonitor kadar gas darah arteri dan output urin.
Pemantaun invasif dengan garis garis vena pusat arteri atau mungkin diperlukan, karena
mungkin diperlukan. Karena mungkin konsultasi dengan ahli.

Ada pilihan untuk mengontrol pendarahan: farmakologi (seperti prostagladin), autologus
transfusi darah, dan embolisasi arteri selektif, terapi farmakologis meliputi oxytocics, alkohol
ergot, prostaglandin, dan diaktifkan fektor VII.di ketahui hampir semua studi tentang terapi
farmokologis didasarkan pada bagian rutin sesar.




I.2 Rumusan Masalah




I.3 Tujuan

 Tujuan umum dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengenal, mengetahui, dan
 memperoleh gambaran tentang pemeriksaan penunjang pada perdarahan saat kehamilan.
I.4 Manfaat

   1. Bagi Penulis
         Untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang pemeriksaan penunjang pada
         perdarahan selama kehamilan.

   2. Bagi Ibu Hamil
         Untuk menambah wawasan dan pengetahuan kepada ibu hamil khususnya tentang
         pemeriksaan penunjang pada perdarahan saat hamil.

   3. Bagi pendidikan
         Sebagai bahan masukan bagi mahasiswa dalam megembangakan pengetahuan dan
         dapat di jadikan    sebagai referensi atau sumber informasi untuk melakukan
         pembelajaran dan bahan bacaan bagi mahasiswa pada umumnya
                                           BAB II

                                  TINJAUAN TEORI



2.1 Definisi

       Perdarahan Postpartum adalah kehilangan darah 500 ml atau lebih setelah kala III
persalinan tetap bertahan.(Hughes, 1972)

       Perdarahan post partum adalah perdarahan dalam kala IV yang lebih dari 500-600 cc
dalam 24 jam setelah anak dan plasenta lahir.(Rustam Mochtar, 1998)

       Perdarahan post partum adalah perdarahan 500 cc atau lebih setelah kala III selesai atau
setelah plasenta lahir.(Bedah Kebidanan, 2000)

       Perdarahan pervaginam yang jumlahnya melebihi 600 cc dan terjadi dalam waktu 24 jam
pertama setelah janin lahir.




2.2 Etiologi dan Patogenesis Perdarahan Peripartum

       1. Atony Uterus, pentebab utama dari perdarahan peripartum .

       2. Kelainan Plasenta, seperti Plasenta Previa dan masalah Detasemen Plasenta.

       3. Trauma Cedera Kelahiran, seperti Luka Leher Rahim, Luka Vagina, atau Rahim
           Pecah.

       4. Gangguan Koagulasi, akibat Emboli Cairan Ketuban dan Cairan Koagulopati
           Konsumsi.

                       Darah kehilangan > 1500 ml mungkin mempercepat untuk syok
           hemoragik. Perfusi dari semua organ dapat menyebabkan syok yang cepat kedalam
           kegagalan multiorgan, seperti ginjal, system saraf pusat, jantung, paru-paru, dan hati.
              Perfusi dari plasenta yang terkait dengan perdarahan pasca melahirkan yang parah
              dapat beresiko tinggi pada kematian janin intrauterine, terutama abruption plasenta
              premature .




2.3 Diagnosis


    Gejala dan tanda yang selalu ada         Gejala dan tanda           Diagnosis kemungkinan
                                           yang kadang-kadang
                                                       ada

 Uterus tidak berkontraksi dan  Syok                                  Atonia Uteri
     lembek

 Perdarahan segera setelah anak
     lahir (Perdarahan Pascapersalinan
     Primer atau P3)

 Perdarahan segera (P3)                   Pucat                       Robekan jalan lahir


 Darah segar yang mengalir segera  Lemah
     setelah bayi lahir (P3)
                                           Menggigil
 Uterus kontraksi baik

 Plasenta lengkap

    Plasenta belum lahir setelah 30  Tali            pusat   putus Retensio plasenta
     menit                                    akibat           traksi
                                              berlebihan
    Perdarahan segera (P3)

    Uterus kontraksi baik
                                           Inversio uteri akibat
                                              tarikan
                                             Perdarahan lanjutan

 Plasenta atau sebagian selaput  Uterus berkontraksi Tertinggalnya                  sebagian
    (mengandung         pembuluh   darah)      tetapi tinggi fundus plasenta
    tidak lengkap                              tidak berkurang

 Perdarahan segera (P3)

   Uterus tidak teraba                      Syok neurogenik       Inversio uteri

   Lumen vagina terisi massa                Pucat dan limbung
   Tampak tali pusat (jika plasenta
    belum lahir)

   Perdarahan segera (P3)

   Nyeri sedikit atau berat

 Sub-involusi uterus                        Anemia                Perdarahan terlambat


 Nyeri tekan perut bawah                    Demam                 Endometritis     atau   sisa
                                                                    plasenta (terinfeksi atau
 Perdarahan > 24 jam setelah                                       tidak)
    persalinan. Perdarahan sekunder
    atau PS2. Perdarahan bervariasi
    (ringan atau berat, terus-menerus
    atau tidak teratur) dan berbau (jika
    disertai infeksi)

 Perdarahan             segera     (P3)  Syok                     Robekan            dinding
    (Perdarahan intraabdominal dan                                  uterus(Ruptura uteri)
                                             Nyeri tekan perut
    atau vaginum)

                                             Denyut nadi ibu
 Nyeri perut berat(kurangi dengan
  ruptur)                                     cepat

      a.) Perdarahan sedikit apabila bekuan darah pada serviks atau posisi telentang
            menghambat aliran darah keluar.

      b.) Inversi komplit mungkin tidak menimbulkan perdarahan




2.4 Penanganan Umum

  Mintalah bantuan. Segera mobilisasi seluruh tenaga yang ada dan siapkan fasilitas tindakan
  gawat darurat.

  Lakukan pemeriksaan secara cepat keadaan umum ibu termasuk tanda vital (nadi, tekanan
  darah, pernafasan dan suhu tubuh).

  Jika dicurigai adanya syok, segera lakukan tindakan. Jika tanda-tanda syok tidak terlihat,
  ingatlah saat anda melakukan evaluasi lanjut karena status wanita tersebut dapat memburuk
  dengan cepat. Jika terjadi syok, segera mulai penanganan syok.

  Pastikan bahwa kontraksi uterus baik:

       Lakukan pijatan uterus untuk mengeluarkan bekuan darah. Bekuan darah yang
            terperangkap di uterus akan menghalangi kontraksi uterus yang efektif.

       Berikan 10 unit oksitosin I.M.

  Pasang infus cairan IV

  Lakukan kateterisasi, dan pantau cairan keluar masuk

  Periksa kelengkapan plasenta

  Periksa kemungkinan robekan serviks, vagina dan perineum

  Jika perdarahan terus berlangsung, lakukan uji beku darah

  Setelah perdarahan teratasi (24 jam setelah perdarahan berhenti), periksa kadar hemoglobin:
    Jika Hb kurang dari 7 g/dl atau Hematokrit kurang dari 20% (Anemia berat):

   o Berikan sulfas ferrosus 600 mg atau ferous fumarat 120 mg ditambah asam folat 400
   mcg/oral sehari selama 6 bulan;

    Jika Hb 7-11 g/dl: beri sulfas ferrosus 600 mg atau ferous fumarat 60 mg ditambah asam
   folat 400 mcg/oral sekali sehari selama 6 bulan;

    Pada daerah endemik cacing gelang (prevalensi sama atau lebih dari 20%): berikan
   terapi:

   o Albendasol 400 mg/oral sekali;

   o Atau Mebendasol 500 mg/oral sekali atau 100 mg 2 kali sehari selama 3 hari.

    Pada daerah endemik tinggi cacing gelang (prevalensi sama atau lebih dari 50%), berikan
   terapi dosis tersebut selama 12 minggu setelah dosis pertama.




2.5 Penanganan Khusus

   Atonia Uteri

      Pada atonia uteri uterus gagal berkontraksi dengan baik setelah persalinan.

            Teruskan pemijatan uterus

            Oksitosin dapat diberikan bersamaan atau berurutan
      Jenis Uterotonika dan Cara Pemberiannya

         JENIS DAN             OKSITOSIN                ERGOMETRIN             MISOPROSTOL
              CARA

      Dosis    dan     cara I.V. : Infus 20 unit I.M. atau I.V. (secara Oral 600 mcg atau
      pemberian awal               dalam 1 liter perlahan): 0,2 mg            rektal 400 mcg
                                   larutan garam
                                   fisiologis
                                   dengan        60
                                   tetesan       per
                                   menit

                            I.M. : 10 unit




      Dosis lanjutan        I.V. : Infus 20 unit Ulangi 0,2 mg I.M. 400 mcg 2-4 jam
                                   dalam 1 liter setelah        15   menit. setelah dosis awal
                                   larutan garam Jika                masih
                                   fisiologis          diperlukan,     beri
                                   dengan        40 I.M./I.V. setiap 2-4
                                   tetes/menit         jam

      Dosis maximal per Tidak lebih dari 3 Total 1 mg atau 5 Total 1200 mcg atau
      hari                  liter larutan dengan dosis                        3 dosis
                            oksitosin

      Kontra      Indikasi Tidak             boleh Preeklampsia, vitium Nyeri            kontraksi
      atau hati-hati        memberi I.V. secara kordis, hipertensi            Asma
                            cepat atau bolus




”Prostaglandin sebaiknya tidak diberikan secara intravena karena dapat berakibat fatal”
 Kenali dan tegakkan diagnosis kerja atonia uteri

 Antisipasi dini akan kebutuhan darah dan lakukan tranfusi sesuai kebutuhan

 Jika perdarahan terus berlangsung:

            Pastikan plasenta lahir lengkap

            Jika terdapat tanda-tanda sisa plasenta (tidak adanya bagian permukaan maternal
     atau robeknya membran dengan pembuluh darahnya), keluarkan sisa plasenta tersebut.

           Lakukan uji pembekuan darah sederhana. Kegagalan terbentuknya pembekuan
    setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak yang dapat pecah dengan mudah menunjukkan
    adanya koagulopati.

     Jika perdarahan terus berlangsung dan semua tindakan di atas telah dilakukan, lakukan:

               Kompresi bimanual internal

               Kompresi aorta abdominalis

     Jika perdarahan terus berlangsung setelah dilakukan kompresi:

               Lakukan ligasi arteri uterina dan ovarika

               Lakukan histerektomi jika terjadi perdarahan yang mengancam jiwa setelah ligasi

Robekan Serviks,Vagina,dan Perineum

Robekan        jalan   lahir   merupakan     penyebab       kedua   tersering     dari   perdarahan
pascapersalinan.Robekan        dapat   terjadi   bersamaan     dengan    atonia     uteri.perdarahan
pascapersalinan dengan uterus yang berkontraksi baik biasanya disebabkan oleh robekan serviks
atau vagina.

     Periksalah dengan sesama dan perbaiki robekan pada serviks atau vagina dan perineum.

     Lakukan uji pembekuan darah sederhana jika perdarahan terus berlangsung,Kegagalan
terbentuknya pembekuan setelah 7 menit atau adanya pembekuan lunak yang dapat pecah
dengan mudah menunjukkan adanya koagulopati
Retensio Plasenta

Plasenta atau bagian-bagiannya dapat tetap berada dalam uterus setelah bayi lahi.

     Jika plasenta terlihat dalam vagina,mintalah ibu untuk mengedan.Jika Anda dapat
merasakan plasenta dalam vagina,keluarkan plasenta tersebut.

     Pastikan kandung kemih sudah kosong.Jika perlukan, lakukan kateterisasi kandung
kemih.

     Jika plasenta belum keluar,berikan oksitosin 10 unit I.M.jika belum dilakukan pada
penanganan aktif kala tiga.

     Jika plasenta belum dilahirkan setelah 30 menit pemberian oksitosin dan uterus
terasa berkontraksi, lakukan penarikan tali pusat terkendali. Catatan: Hindari penarikan tali
pusat dan penekanan fundus yang terlalu kuat karena dapat menyebabkan inversi uterus.

        Jika traksi tali pusat terkendali belum berhasil,cobalah untuk melakukan pengeluaran
plasenta secara manual.Catatan:Plasenta yang melekat dengan kuat mungkin merupakan
plasenta akreta.Usaha untuk melepaskan plasenta yang melekat kuat dapat mengakibatkan
perdarahan berat atau perforasi uterus,yang biasanya membutuhkan tindakan histerektomi.

     Jika perdarahan terus berlangsung, lakukan uji pembekuan darah sederhana.Kegagalan
terbentuknya pembekuan setelah 7 menit atau adanya bekuan lunak yang dapat pecah dengan
mudah menunjukkan adanya koagulopati.

Jika terdapat tanda-tanda infeksi (demam,sekret vagina yang berbau),berikan antibiotika
untuk metritis.

Sisa Plasenta

Sewaktu suatu bagian dari plasenta –satu atau lebih lobus-tertinggal,maka uterus tidak dapat
berkontraksi secara efektif.
     Raba bagian dalam uterus untuk mencari sisa plasenta.Eksplorasi manual uterus
menggunakan teknik yang serupa dengan teknik yang digunakan untuk mengeluarkan plasenta
yang tidak keluar.

     Keluarkan sisa plasenta dengan tangan,cunam ovum,atau kuret besar.Catatan:Jaringan
yang melekat dengan kuat,mungkin merupakan plasenta akreta.Usaha untuk melepaskan
plasenta yang melekat kuat dapat mengakibatkan perdarahan berat atau perforasi uterus,yang
biasanya membutuhkan tindakan histerktomi.

     Jika perdarahan berlanjut,lakukan uji pembekuan darah dengan menggunakan uji
pembekuan darah sederhana.Kegagalan terbentuknya pembekuan darah setelah 7 menit atau
terbentuknya pembekuan darah yang lunak yang mudah hancur menunjukkan adanya
kemungkinan koagulopati.

Inversi uterus

Uterus dikatakan mengalami inversi jika bagian dalam menjadi di luar saat melahirkan
plasenta.Reposisi sebaiknya dilakukan segera.Dengan berjalannya waktu,lingkaran kontriksi
sekitar uterus yang terinversi akan mengecil dan uterus akan terisi darah.

     Jika ibu sangat kesakitan,berikan petidin 1 mg/kg BB (tetapi jangan lebih dari 100 mg)
I.M. atau I.V secara perlahan atau berikan morfin 0,1mg/kg BB I.M.Catatan:Jangan berikan
oksitosin sampai inversi telah direposisi.

     Jika perdarahan berlanjut,lakukan uji pembekuan darah dengan menggunakan uji
pembekuan darah sederhana.Kegagalan terbentuknya bekuan darah setelah 7 menit atau
terbentuknya bekuan darah yang lunak yang mudah hancur menunjukkan adanya kemungkinan
koagulopati.

     Berikan antibiotika profilaksis dosis tunggal setelah mereposisi uterus

-Ampisillin 2g I.V. DITAMBAH metronidazol 500 mgI.V.

-ATAU sefazolin 1g I.V.DITAMBAH metronidazol 500 mg I.V.
     Jika terdapat tanda-tanda infeksi (demam,sekret vagina yang berbau), berikan.
antibiotika untuk metritis.

     Jika dicurigai terjadi nekrosis,lakukan histerektomi vaginal.Hal ini mungkin
membutuhkan rujukan kepusat pelayanan kesehatan tersier.

Perdarahan Pascapersalinan Tertunda (skunder)

     Jika terjadi anemia berat (hemoglobin kurang dari 8g/dl atau hematokrit kurang dari
20%),siapkan transfusi dan berikan tablet besi oral dan asam folat

     Jika terdapat tanda-tanda infeksi (demam,sekret vagina yang berbau),berikan
antibiotika untuk metritis.

     Berikan oksitosin.

     Jika serviks masih berdilatasi,lakukan eksplorasi dengan tangan untuk mengeluarkan
bekuan-bekuan besar dan sisa plasenta. Eksplorasi manual uterus menggunakan teknik yang
serupa dengan teknik yang digunakkan untuk mengeluarkan plasenta yang tidak kluar.

     Jika serviks tidak berdilatasi,evakuasi uterus untuk mengeluarkan sisa plasenta.

     Pada kasus yang lebih jarang,jika perdarahan terus berlanjut,pikirkan kemungkinan
melakukan ligasi arteri urterina dan utero-ovariaka atau histerektomi.

     Lakukan pemeriksaan histologi dari jaringan hasil kuret atau histerektomi,jika
memungkinkan,untuk menyingkirkan penyakit trofoblas ganas.

				
DOCUMENT INFO
Description: Kehamilan adalah keadaan fisiologis pada suaktu waktu tapi hal ini memerlukan perhatian khusus karena pada saat hamil terjadi perubahan fisiologis.Proses kehamilan merupakan mata rantai yang berkesinambungan, pada manusia terdapat 46 kromosom dengan rincian 44 dalam bentuk “autosom “ sedangkan yang lain sebagai pembawa tanda seks. Wanita selalu resesip dengan tanda “kromosom X”, sedangkan laki-laki dengan dua bentuk kromosom yaitu “kromosom X dan Y”. Bila spermatozoa kromosom X bertemu maka terjadi kehamilan wanita, sedang bila kromosom Y maka terjadi kehamilan laki-laki.