Docstoc

Pengaruh Kemasan Terhadap Kesan Kualitas

Document Sample
Pengaruh Kemasan Terhadap Kesan Kualitas Powered By Docstoc
					    st
The 1 PPM National Conference on Management Research “ Manajemen di Era Globalisasi”
Sekolah Tinggi Manajemen PPM, 7 November 2007



                  Pengaruh Kemasan Terhadap Kesan Kualitas
                (Studi Kasus Produk Sampo Di Indonesia Dengan
                   Menggunakan Metode Penelitian Kualitatif)
                              Rizka Miladiah Ervianty, Herry Hudrasyah
                           Kelompok Keahlian Strategi Bisnis dan Marketing
                                   Sekolah Bisnis dan Manajemen
                                     Institut Teknologi Bandung
                                       Jl Ganesha 10, Bandung
                                 Email: rizka.miladiah@sbm.itb.ac.id

                                             ABSTRAK
Kemasan mempunyai peranan yang sangat penting dalam pemasaran. Selain ia harus
berfungsi sebagai wadah dan pelindung isi produk, kemasan harus mampu pula menarik
perhatian konsumen. Kemasan yang mampu menarik perhatian konsumen merupakan
kemasan yang dapat memberikan gambaran awal mengenai kualitas dan nilai produk yang
ditawarkan kepada konsumen. Gambaran awal mengenai keseluruhan kualitas suatu produk
yang diharapkan oleh konsumen untuk memenuhi kebutuhannya dinamakan kesan kualitas.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan bertujuan untuk mengetahui
pengaruh kemasan terhadap kesan kualitas pada produk sampo di Indonesia. Peneliti
memilih produk sampo sebagai salah satu objek penelitian karena industri produk sampo
merupakan salah satu industri consumer goods yang mempunyai persaingan ketat di
Indonesia.

Kata kunci: Kemasan sampo, kesan kualitas, metode kualitatif

Pendahuluan

        Jumlah iklan sampo yang semakin banyak di berbagai media massa, terutama
media televisi, menandakan ketatnya persaingan antar produsen sampo di Indonesia. Hal
ini menandakan bahwa strategi pemasaran melalui iklan di televisi dilakukan oleh
beberapa produsen sampo di Indonesia untuk meningkatkan volume penjualannya. Hal
tersebut menunjukkan tidak adanya diferensiasi strategi untuk menarik perhatian
konsumen terhadap produk yang dijual oleh produsen. Oleh karena itu diperlukan strategi
alternatif untuk menarik perhatian konsumen terhadap produk yang dijual oleh produsen
secara langsung. Salah satu strategi tersebut adalah strategi diferensiasi produk melalui
diferensiasi desain kemasan.
       Kemasan harus mampu menarik perhatian konsumen. Mendapatkan perhatian
konsumen sangat penting, karena apabila sebuah produk tidak mendapat perhatian
konsumen (consumer attention), maka konsumen tidak mempunyai gambaran mengenai
produk tersebut (Hine,1995). Kemasan dapat memberi gambaran awal mengenai suatu
produk, baik itu dari segi kualitas maupun nilai produk yang ditawarkan oleh produsen.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana seharusnya kemasan itu didesain sehingga bisa
diasosiasikan dengan produk berkualitas tinggi menurut pandangan (persepsi) konsumen
(Lorgen dan Witell, 2005).
       Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, secara empiris
dapat dikatakan bahwa kemasan (packaging) mempunyai hubungan yang positif terhadap
perilaku konsumen terutama pada penciptaan kualitas yang menarik (attractive quality)
dari sebuah produk (Lorgen dan Witell, 2005), keputusan pembelian (purchase decision)
(Andriani, 2005), serta niat membeli (purchase intention) (Silayoi & Speece, 2004).
Secara umum kemasan dapat dihubungkan berbagai segi perilaku konsumen sehingga
kesempatan meneliti pada ruang lilngkup ini masih terbuka lebar. Dengan menggunakan
metode penelitian kualitatif, penelitian ini diharapkan menghasilkan teori dan informasi
yang lebih mendalam mengenai konsep kemasan dan perilaku konsumen, terutama pada
kesan kualitas (perceived quality) konsumen pada suatu produk.
        Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan bertujuan untuk
mengetahui pengaruh kemasan (packaging) terhadap kesan kualitas (perceived quality)
pada produk sampo di Indonesia. Peneliti memilih produk sampo sebagai salah satu objek
penelitian karena industri produk sampo merupakan salah satu industri consumer goods
yang mempunyai persaingan ketat di Indonesia. Sampel penelitian ini adalah para
konsumen wanita produk sampo dan bertempat tinggal di wilayah Indonesia.
    Penelitian ini dilakukan untuk menjawab beberapa pertanyaan, di antaranya apakah
kemasan (packaging) berpengaruh terhadap kesan kualitas (perceived quality) of product
dan unsur-unsur apa dari kemasan (packaging) yang mempengaruhi kesan kualitas
(perceived quality) of product.
        Pada paper ini akan dibahas konsep-konsep yang berkaitan dengan topik penelitian
saja. Berdasar pada luasnya topik penelitian dan keterbatasan sumber daya yang tersedia
untuk melakukan penelitian, maka dilakukan pembatasan masalah penelitian seperti:
Penelitian ini tidak akan membahas bentuk kemasan yang ideal dilihat dari sudut pandang
teknik pembuatan kemasan tersebut. Selain itu, konsep-konsep manajemen pemasaran
yang akan dikembangkan pada penelitian ini berdasar pada: Konsep kemasan (packaging)
yang dikembangkan oleh Kotler (2003, p.430) dan Keller (1998) serta kemampuan
akademik peneliti; serta konsep kesan kualitas (perceived quality) yang dikembangkan
oleh Chueh dan Kao (2004), Umar (2003, p.426), Aaker (1991), serta kemampuan
akademik peneliti.

Definisi Konsep
Definisi Konseptual
1. Kemasan (packaging): aktivitas atau kegiatan dalam merancang dan
   memproduksi wadah atau bungkus suatu produk (Kotler, 2004; Keller, 1998).
2. Kesan kualitas (perceived quality): persepsi pelanggan atas keseluruhan mutu atau
   keunggulan suatu produk atau servis berkenaan dengan tujuan yang diharapkan oleh
   pelanggan, berhubungan dengan alternatif-alternatif (Aaker, 1991).

       Konsumen biasanya memahami kemasan dengan berbagai tingkatan. Pada tingkat
pertama, ketika melihat suatu kemasan maka konsumen biasanya akan merespon dengan


                                                                                      2
pertanyaan “apa ini?”. Lalu pada tingkat selanjutnya konsumen akan berusaha memahami
informasi tertentu mengenai atribut produk dan disesuaikan dengan fungsinya. Kemudian
pada level yang lebih dalam lagi, kemasan akan merangsang konsumen untuk memproses
produk dari sisi psikososial, kebutuhan dasar dan nilai dari suatu produk (Hine, 1995).
        Kemasan merupakan salah satu faktor penting dalam proses pembuatan keputusan
karena kemasan mampu berkomunikasi dengan konsumen. Niat untuk membeli suatu
produk tergantung dari tingkat bahwa suatu produk mampu memuaskan konsumen ketika
mengkonsumsi produk (Kupiec, 2001). Elemen-elemen pada kemasan dapat menekankan
keunikan dan keaslian mengenai suatu produk. Menurut Silayoi dan Speece (2004)
elemen-elemen kemasan tersebut adalah elemen visual yang terdiri dari graphics, dan
size/shape (ukuran/bentuk) serta elemen informasi yaitu informasi mengenai produk
tersebut dan teknologi. Penilaian mengenai kualitas biasanya dipengaruhi oleh
karakteristik produk yang dicerminkan melalui kemasan. Apabila kemasan memiliki kesan
kualitas tinggi, maka konsumen akan mengasumsikan bahwa produk yang terdapat di
dalamnya juga memiliki kualitas yang tinggi. Tetapi apabila kemasan terkesan mempunyai
kualitas rendah maka konsumen akan mengasumsikan bahwa produk yang terdapat di
dalam kemasan memiliki kualitas yang rendah pula (Silayoi dan Speece, 2004).
Metodologi
        Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Malhotra (2004) mendefinisikan
penelitian kualitatif sebagai “unstructured, exploratory research methodology based one
small sample that provides small insights and understanding of the problem setting.”
Menurut Denzin dan Lincoln (1994, p.10), penelitian kualitatif menekankan pada “the
socially constructed nature of reality, the intimate relationship between the researcher
and what it studied, and the situational constraints that shape inquiry.” Secara singkat
dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang menganalisa data-
data kualitatif, data-data yang lebih menitikberatkan pada arti (meanings) daripada data
angka (numbers) ( Dey, 1993, p.10).
        Pada penelitian kualitatif ini, dipilih teknik penelitian eksploratori dengan metode
studi kasus. Studi kasus dianggap tepat digunakan dalam penelitian ini karena pertanyaan
yang digunakan dalam penelitian ini berkenaan dengan how atau why dan peneliti sedikit
memiliki peluang untuk mengontrol peristiwa yang akan diselidiki serta fokus
penelitiannya terletak pada fenomena kontemporer (masa kini) di dalam konteks
kehidupan nyata (Yin, 2003, p.1).
       Analisis yang bersifat eksploratorik, yaitu analisis yang hanya mengeksplorasi data
yang bersifat deskriptif digunakan dalam penelitian ini; dan dirancang untuk mengetahui
pengaruh packaging (kemasan) terhadap perceived quality. Penelitian ini menggunakan
in-depth interview sejumlah lima orang informan wanita pemakai produk sampo. Peneliti
menggunakan in-depth interview dalam pengumpulan data karena penelitian ini bertujuan
mendapatkan informasi yang lebih mendalam mengenai konsep kemasan (packaging)
yang dihubungkan dengan kesan kualitas (perceived quality) dari sebuah produk.



                                                                                          3
        Pendekatan teori yang digunakan pada penelitian kualitatif ini adalah Grounded
Theory karena penelitian ini bertujuan membentuk konsep dan kepekaan teoritis yang
lebih mendalam mengenai kemasan (packaging) dan kesan kualitas (perceived quality).
Grounded theory diciptakan oleh Barney G. Glaser dan Anselm L. Strauss pada tahun
1967 (Denzin dan Lincoln, 1994, p.507). Menurut Charmaz (Denzin dan Lincoln, 1994,
p.507), metode grounded theory adalah “a set of flexible analytic guidelines that enable
researchers to focus their data collection and to build inductive middle-range theories
through successive levels of data analysis and conceptual development.” Whiteley (2004)
menambahkan bahwa grounded theory adalah sebuah pendekatan teoritikal dalam
penelitian kualitatif yang menyediakan sebuah prosedur penelitian yang sistematik untuk
data naratif. Hal ini berarti “a research practice of developing theory from respondents’
ideas would allow (some) data to emerge and tell respondents’ stories”. Metode grounded
theory menawarkan protokol analisa isi (content analysis) dari pengkategorisasian,
pembentukan konsep, dan kepekaan teoritis. Whiteley (2004) juga menambahkan bahwa
“theory is to be generated from emergent data. The data is speaking for itself and the
researcher is helping this process by way of systematically analysing, comparing,
questioning, and allowing concepts to emerge”.
      Secara detail Whiteley (2002) dalam Thoha et.al. (2006) menjelaskan mengenai
grounded theory sebagai berikut:
“Grounded Theory (Glaser & Strauss, 1967) is a field of research method that seeks to
discover respondents’ versions of social phenomena through the act of emergence. It can
use quantitative or qualitative data but concepts and theories that emerge are not arrived
at by statistical methods. Basically data analysis in grounded theory is qualitative. For
example, an examination of timesheets could show a severe level of lateness in a
department. This quantitative data need to be interpreted by the people involved. They
need to give the researcher their ‘theories’ about what is happening. These theories are
qualitative in nature and they need to be analysed qualitatively.”
        Seiring dengan tujuan penelitian kualitatif di atas, maka hal terpenting dalam
prosedur mengambilan sampel pada penelitian kualitatif adalah bagaimana menentukan
dan menemukan informan kunci (key informan) serta informan biasa (ordinary informan),
atau situasi sosial tertentu yang sarat informasi sesuai dengan topik penelitian. Dalam
proses pemilihan dan pengambilan sampel pada penelitian kualitatif lebih tepat bila
dilakukan secara sengaja dan bertujuan (purpose sampling). Jika dalam proses
pengumpulan data sudah tidak lagi ditemukan variasi informasi (saturated), maka peneliti
tidak perlu lagi menentukan dan menemukan informan baru sehingga dapat dikatakan
proses pengumpulan data dalam penelitian ini dianggap telah selesai. Dari penjelasan
tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian kualitatif tidak dipersoalkan jumlah
sampel. Penentuan jumlah sampel (informan) penelitian sepenuhnya merupakan hak
peneliti. Dengan kata lain, jumlah sampel (informan) penelitian bisa sedikit, tetapi tidak
menutup kemungkinan dalam jumlah banyak, tergantung pada pertimbangan peneliti




                                                                                        4
dalam melihat ketepatan pemilihan informan kunci dan informan biasa serta kompleksitas
dan keragaman fenomena sosial yang diteliti.
       Langkah awal dalam proses pengambilan sampel pada penelitian ini adalah
menentukan informan kunci (key informan) dan informan biasa (ordiary informan).
Informan kunci adalah para pakar akademisi maupun praktisi yang ahli di bidangnya dan
memahami konsep-konsep terkait (relevan) dengan topik yang dibahas dalam penelitian
ini. Penelitian ini menentukan praktisi bagian kemasan (packaging), praktisi desain
produk, pakar lingkungan hidup, serta pakar sosiologi sebagai informan kunci agar
mendapat informasi (data) yang lebih mendalam dan komprehensif. Sedangkan informan
biasa pada penelitian ini adalah para konsumen pengguna produk sampo yang ketika
dalam proses observasi yang dilakukan oleh peneliti di toko ritel modern tengah terlihat
berhenti dan memperhatikan produk sampo yang dipajang pada rak-rak di toko ritel
tersebut. Adapun jumlah informan (sampel) yang dibutuhkan merupakan hak peneliti,
tergantung pada ketepatan pemilihan informan serta kompleksitas dan keragaman
fenomena sosial yang diteliti.
        Rigour merupakan kriteria goodness/validity pada penelitian kualitatif. Agar rigour
dapat tercapai, maka selama melakukan penelitian kualitatif, peneliti melakukan langkah-
langkah yang dianggap dapat menjaga rigour tersebut, seperti penentuan responden yang
sesuai dengan tema penelitian; pembuatan pertanyaan wawancara (interview) yang baik
secara tata bahasa maupun intonasi nada/suara ketika peneliti menanyakan pertanyaan
tersebut kepada responden. Selain itu, pertanyaan wawancara tidak mengarahkan (leading)
responden kepada suatu jawaban yang diinginkan oleh peneliti dan pertanyaan tersebut
dapat mengungkapkan opini/ide original responden mengenai topik yang ditanyakan oleh
peneliti. Terakhir, jumlah sampel penelitian telah mewakili seluruh populasi objek
penelitian.
        Pada saat wawancara (interview), informan akan ditanya beberapa pertanyaan yang
terkait dengan pengaruh kemasan terhadap perceived quality of product untuk produk
sampo dan pertanyaan-pertanyaan yang bertujuan untuk mengetahui unsur-unsur kemasan
produk sampo yang paling berpengaruh terhadap perceived quality secara lebih dalam.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut telah disiapkan terlebih dahulu oleh peneliti sebelum
melakukan wawancara kepada informan. Daftar pertanyaan tersebut terkategori sebagai
Semi Structured Qualitative Interview, yang berarti pada saat wawancara, peneliti fokus
pada daftar pertanyaan utama yang telah dibuat sebelumnya dan tidak menutup
kemungkinan adanya pertanyaan-pertanyaan baru yang dapat memperkaya dan
memperdalam informasi yang didapatkan ketika wawancara berlangsung. Pendekatan ini
memungkinkan peneliti untuk bertanya dengan open-ended questions dan
memperbolehkan peneliti untuk lebih bebas menggali informasi yang terkait dengan topik
penelitian (May, 1997 dalam Thoha, 2006). Format ini memberikan responden
kesempatan untuk menceritakan cerita mereka berdasar pengalaman mereka sendiri,
karena pendekatan ini mengikuti tradisi ‘giving voice’ kepada informan (Charmaz, 2000
dalam Thoha, 2006).


                                                                                         5
        Data yang telah diperoleh selanjutnya akan diproses dan dianalisa. Hal pertama
yang dilakukan dalam tahap ini adalah mengubah hasil wawancara ke dalam bentuk
transkrip yang akan berguna pada saat manajemen pengkodingan (coding) data dengan
menggunakan software NVivo 7.
        Langkah selanjutnya adalah memprosesan data. Pada langkah ini data hasil
pengkodingan (coding) data dikelompokkan berdasar pada kategori, tema atau pola yang
berhubungan dengan topik penelitian. Hal ini dilakukan agar peneliti mendapat gambaran
yang lengkap dan komprehensif (findings) mengenai objek penelitian.
        Hasil temuan selanjutnya diinterpretasikan oleh peneliti. Pada tahap ini, peneliti
juga menggunakan studi literatur dan data sekunder sebagai bahan pertimbangan ketika
menginterpretasikan data yang telah diperoleh, membahasnya (diskusi), dan terakhir
menyimpulkan. Hal ini dilakukan agar temuan yang dihasilkan dari penelitian ini akurat
dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dalam bentuk laporan penelitian ilmiah.




                                                                                        6
Hasil Temuan Awal (Findings)




                               7
        Berdasar pada gambar hasil temuan sementara di atas dapat diketahui bahwa
pertama, produk sampo yang berkualitas menurut konsumen adalah produk sampo yang
cocok dengan jenis rambut, membuat rambut tidak pecah-pecah, esuai dengan tujuannya,
menyebabkan konsumen setia memakai produk tersebut, produk sampo itu tidak berefek
samping setelah pemakaian, tidak merusak rambut, dan wanginya enak
        Selanjutnya, kemasan (packaging) produk sampo berpengaruh terhadap kesan
kualitas (perceived quality) produk. Pengaruh tersebut selanjutnya dapat mendorong
konsumen untuk membeli dan menggunakan produk sampo Sunsilk. Hasil penelitian ini
menjawab pertanyaan penelitian (research questions) yang pertama mengenai pengaruh
kemasan (packaging) produk sampo terhadap kesan kualitas (perceived quality) produk.
        Kemasan produk sampo yang mempengaruhi kesan kualitas konsumen terhadap
produk sampo tersebut adalah kemasan yang mengandung keterangan/informasi mengenai
komposisi dan merek produk sampo tersebut. Selain itu, dari segi bahan, bahan kemasan
produk sampo tersebut tidak transparan dan berbau. Dari segi bentuk, kemasan produk
sampo harus menarik dan mudah dipegang oleh tangan. Produk sampo juga harus
mempunyai wangi tertentu (khas) dan warna kemasan yang menarik. Pada kategori ini
dipengaruhi juga oleh evaluasi konsumen terhadap produk sampo dengan mencoba produk
terlebih dahulu (trial) dan iklan produk sampo Sunsilk di media massa
        Selanjutnya, berdasar gambar di atas juga diketahui bahwa unsur-unsur kemasan
produk sampo yang paling mempengaruhi kesan kualitas konsumen terhadap produk
sampo, yaitu: komposisi (bahan sampo harus tertulis dengan jelas), tulisan (informasi pada
kemasan harus jelas baik dari segi jenis, ukuran, dan warna huruf), warna kemasan (warna
yang mencolok), bentuk kemasan produk yang menarik dan mudah dipegang, merek
produk sampo, dan wangi produk sampo yang khas. Hasil temuan ini menjawab
pertanyaan penelitian (research questions) yang kedua, yaitu mengenai unsur-unsur apa
dari kemasan (packaging) yang mempengaruhi kesan kualitas (perceived quality) of
product sampo.
       Terakhir, responden penelitian ini menilai bahwa kemasan produk sampo yang
mereka gunakan telah mempengaruhi kesan kualitas mereka terhadap produk sampo
tersebut bahwa produk sampo yang mereka gunakan mempunyai kualitas yang bagus.

Kesimpulan
        Berdasar hasil temuan awal penelitian ini, kemasan (packaging) produk sampo
berpengaruh terhadap kesan kualitas (perceived quality) produk. Pengaruh tersebut
selanjutnya dapat mendorong konsumen untuk membeli dan menggunakan produk sampo.
Hasil penelitian ini menjawab pertanyaan penelitian (research questions) yang pertama
mengenai pengaruh kemasan (packaging) produk sampo terhadap kesan kualitas
(perceived quality) produk.
        Selanjutnya, diketahui pula kombinasi unsur-unsur kemasan produk sampo yang
paling mempengaruhi kesan kualitas konsumen terhadap produk sampo, yaitu: komposisi
(bahan sampo harus tertulis dengan jelas), tulisan (informasi pada kemasan harus jelas



                                                                                        8
baik dari segi jenis, ukuran, dan warna huruf), warna kemasan (warna yang mencolok),
bentuk kemasan produk yang menarik dan mudah dipegang, merek produk sampo, dan
wangi produk sampo yang khas. Hasil temuan ini menjawab pertanyaan penelitian
(research questions) yang kedua, yaitu mengenai unsur-unsur apa dari kemasan
(packaging) yang mempengaruhi kesan kualitas (perceived quality) of product sampo.
       Secara umum, hasil penelitian ini menambah konsep baru pada dunia keilmuan
manajemen pemasaran mengenai adanya pengaruh kemasan (packaging) produk sampo
terhadap kesan kualitas (perceived quality) produk serta memberi masukan bagi produsen,
terutama produsen produk sampo, mengenai pengaruh kemasan terhadap perceived quality
produk tersebut; elemen-elemen kemasan yang paling diperhatikan oleh konsumen pada
produk sampo; dan kombinasi dari kemasan produk sampo yang paling diinginkan
konsumen yang dapat mempengaruhi perceived quality mereka atas produk tersebut.




                                                                                     9
DAFTAR PUSTAKA
Aaker, David A. 1991. Managing Brand Equity: Capitalizing on The Value of A Brand
   Name. Alih bahasa: Aris Ananda. 1997. Jakarta. Penerbit Mitra Utama

Andriani, Dian W. 2005. Analisis Tingkat Kepentingan Unsur-unsur Kemasan dan
   Implikasinya terhadap Keputusan Pembelian Jus buah dalam Kemasan oleh
   Konsumen. FE Universitas Airlangga. Surabaya
Assael, Henry. 1998. Consumer Behavior 6th edition. Cincinnati, Ohio. South-Western
   College Publishing
Berger, Kenneth R. and B. Welt. 2002. A Brief History of Packaging. The Agricultural
   and Biological Engineering Department, Florida Cooperative Extension Service,
   Institute of Food and Agricultural Sciences, University of Florida.
Chueh, Ting-Yu dan Danny T. Kao. 2004. The Moderating Effects of Consumer
   Perception to the Impact of Country-of-design on Perceived Quality. Journal of
   American Academy of Business
Churchill, Gilbert A. and Dawn Iacobucci. 2005. Marketing Research: Methodological
   Foundations, 9th edition. Ohio. South-Western Thomson Corporation
Denzin, N. K. & Lincoln, Y. S. 1994. Handbook of Qualitative Research. Sage
   Publications. Thousand Oaks.
Dey, Ian. 1993. Qualitative data analysis. Routledge. New York
De Run, Ernest Cyril and Chin Sien Fah. 2006. LANGUAGE USE IN PACKAGING:
   THE REACTION OF MALAY AND CHINESE CONSUMERS IN MALAYSIA.
   Sunway Academic Journal 3, 133–145
Hiam, Alexander dan Charles D. Schewe. 1993. The Portable MBA in Marketing. John
   Killey & sons,Inc
Hine, Thomas. 1995. The Total Packaging. Boston. Little Brown Company
Keller, Kevin L. 1998. Strategic Brand Management. New Jersey. Prentice Hall
Kotler, Philip. 2003. Marketing Management 11th edition. New Jersey. Pearson Education
Kotler, Philip dan Garry Armstrong. 1990. Principle of Marketing, 5th edition. New Jersey.
   Prentice-Hall International, Inc.
Kupiec, B. Revell. 2001. Measuring Consumer Quality Judgements. British Food Journal.
   Vol. 103 No. 1:7-22
Lofgren, Martin dan Lars Witell. 2005. Kano’s Theory of Attractive Quality and
   Packaging. The Quality Management Journal. p. 7
Lee, S.G., and S.W. Lye. 2003. Design for Manual Packaging. International Journal of
   Physical Distribution & Logistics Management. Vol. 33, No. 2
Malhotra, Naresh. 2004. Marketing Research 4th edition. New Jersey. Pearson Education
McDaniel, Carl and R.C. Baker. 1977. Convenience Food Packaging and the Perception of
   Product Quality. Journal of Marketing




                                                                                       10
Moleong, Lexy J. 2007. Metode penelitian kualitatif. Edisi revisi. PT Remaja Rosdakarya.
    Bandung
Prendergast, P.G. dan N.E. Marr. 1997.Packaging, marketing, logistic and the
    enviromentare there trade-off?. International Journal of Physical Distribution and
    Logistics Management.Vol.26. No.6.60-72
Putriyanti, Ayi Intan. 2005. Identifikasi tahapan usaha pengusaha founder dan non
    founder. Tesis. Program Studi Teknik dan Manajemen Industri, Institut Teknologi
    Bandung. (tidak dipublikasikan)
Rettie, Ruth dan Carol Brewer. 2000. The Verbal and Visual Components of Package
    Design. The Journal of Product and Brand Management. Vol. 9, Iss.1
Rust, Roland, J.Inman, Jianmin Jia, and Anthony Zahorik. 1999. What You Don’t Know
    About Customer-Perceived Quality: The Role of Customer Expectation Distribution.
    Marketing Science. Vol. 18, No.1
Sanders, Robert T. dan Kent C. Green. 1989. Proper Packaging Enhances Productivity and
    Quality. Industrial Engineering. p. 51
Schiffman, Leon G. dan Leslie L. Kanuk. 2000. Consumer Behavior 7th edition. New
    Jersey. Prentice Hall
Shimp, A. Terence. 2003. Periklanan Promosi Aspek Tambahan Komunikasi Pemasaran
    terpadu. Edisi kelima. Jakarta. Penerbit Erlangga
Silayoi, Pinya dan Mark Speece. 2004. Packaging and Purchase Decision. An exploratory
    study on the impact of involvement level and time pressure. British Food Journal. Vol.
    106, No. 8.607-628
Suryani, Tatik. 1998. NILAI STRATEGIK KESETIAAN PELANGGAN: Perkembangan
    Konsep dan Implikasi Manajemen. USAHAWAN NO. 09 TH XXVII SEPTEMBER
    1998
Thoha, Nurianna, Maureen Bickley dan Alma Whiteley. 2006. HRM Transition in
    Indonesian Companies: Linear and Non-Linear Approaches. International Review of
    Business Research Papers. Vol 2. No. 1 May pp. 1 -15
Thogersen, John. 1999. The Ethical Consumer. Moral Norms and Packaging. Journal of
    Consumer Policy; 22, 4; ABI/INFORM Global pg. 439
Underwood, L. Robert dan Julie L.Ozanne. 2001. Is Your Package An Effecive
    Communicator? A Normative Framework for increasing the Communicative
    Competence of Packaging. Journal of marketing communication. p. 207-20
Underwood, Robert L. 2003. The communicative power of product packaging: Creating
    brand identity via lived and mediated experience. Journal of Marketing Theory and
    Practice; Vol.11, Iss. 1; pg. 62, 15 pgs; ABI/INFORM Global
Umar, Husein. 2003. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Jakarta. PT Gramedia
    Pustaka Utama
Vranesevic, Tihomir, and Ranko Stancec. 2003. The Effect of the Brand on Perceived
    Quality of Food Products. British Food Journal. Vol. 105, No. 11




                                                                                       11
Yin, Robert K. 2003. Case Study Research. Sage Publications. Thousand Oaks.
Yunita H., Devianti. 2005. Profil koordinasi pada kantor akuntan public x di Bandung.
   Tesis. Program Studi Teknik dan Manajemen Industri, Institut Teknologi Bandung.
   (tidak dipublikasikan)
Young, Scott. 2002. Packaging Design, Consumer Research, and Business Strategy: The
   March toward Accountability. Design Management Journal
Whiteley, A. M. 2004. 'Grounded research: A modified grounded theory for the business
   setting'. Qualitative Research Journal. vol. 4, no. 1, pp. 27-46.




                                                                                  12

				
DOCUMENT INFO
Description: Marketing Management journal from The 1st PPM National Conference on Management Research “ Manajemen di Era Globalisasi”